Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian.
Baian Pertama
Suatu malam, ada sebuah pesan masuk dari Fahri, adik kelas saya di Annida. Ia membuka pesannya dengan sopan, “Maaf ganggu istirahatnya, Bang,” lalu mengundang saya untuk menjadi narasumber di acara Hari Buku Nasional tanggal 16 Mei 2026 di almamater saya itu.
Ketika saya tanya tentang materi apa yang ingin saya bawakan, Fahri kemudian menjelaskan keresahannya. Katanya, ia ingin anak-anak suka membaca dan suka menulis. Karena menurutnya, dunia hari ini dan mungkin dunia beberapa tahun ke depan semakin dibangun oleh tulisan. Konten dimulai dari naskah. Film dimulai dari ide yang ditulis. Jadi supaya anak-anak tahu manfaat membaca dan menulis, dan tahu juga ke depannya kemampuan itu bisa jadi apa.
Dan saya pikir, itu permintaan yang menarik.
Jika diringkas, ada dua hal yang ia minta: pertama, bagaimana membuat seseorang suka membaca dan menulis.
Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jujur saja, jawaban singkat saya: saya tidak tahu. Karena kesukaan manusia itu aneh dan berbeda-beda. Saya suka makan durian misalnya, mungkin orang lain langsung menyerah hanya dari baunya. Ada yang tidak bisa memulai hari tanpa kopi, ada juga yang minum kopi sedikit waktu malam kemudian matanya melek sampai subuh sambil menyesal.
Begitu juga dengan membaca dan menulis. Tidak semua orang langsung menyukainya. Lagipula suka dan tidak suka adalah masalah rasa, sehingga ada hal-hal yang kita sukai padahal itu buruk untuk kita. Sebaliknya, banyak hal yang tidak kita sukai, padahal itu baik untuk kita. Jadi pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah membaca dan menulis berguna atau tidak? Bukankah olahraga melelahkan? Belajar kadang membosankan? Membaca bisa membuat ngantuk?
Saya tidak bisa mengatur kesukaan seseorang. Tapi jika pertanyaannya diubah menjadi: “Bagaimana cara membaca yang efektif?” atau “Bagaimana teknik menulis yang baik?”
Nah, itu bisa kita pelajari bersama. Bahkan beberapa di antaranya bisa langsung kita praktikkan hari ini juga. Jika setelah mengetahui dan praktek kalian jadi tergerak dan kemudian suka menulis, itu menjadi bonus.
Sementara untuk pertanyaan kedua—tentang manfaat membaca dan menulis, tentang profesi, peluang kerja, dan bagaimana kemampuan ini akan berguna di masa depan—itu akan kita bahas pelan-pelan sambil berjalan.
Sebelum masuk lebih jauh, saya ingin mulai dari hal yang paling dasar dulu, bahwa membaca adalah salah satu keterampilan dasar dalam berbahasa. Dalam bahasa, ada dua kemampuan yang sifatnya menerima yaitu mendengarkan dan membaca. Ada juga dua kemampuan yang sifatnya menghasilkan yaitu berbicara dan menulis.
Jadi, mari kita mulai dari yang pertama terlebih dahulu: Teknik membaca yang efektif.
Baian Pertama
Suatu malam, ada sebuah pesan masuk dari Fahri, adik kelas saya di Annida. Ia membuka pesannya dengan sopan, “Maaf ganggu istirahatnya, Bang,” lalu mengundang saya untuk menjadi narasumber di acara Hari Buku Nasional tanggal 16 Mei 2026 di almamater saya itu.
Ketika saya tanya tentang materi apa yang ingin saya bawakan, Fahri kemudian menjelaskan keresahannya. Katanya, ia ingin anak-anak suka membaca dan suka menulis. Karena menurutnya, dunia hari ini dan mungkin dunia beberapa tahun ke depan semakin dibangun oleh tulisan. Konten dimulai dari naskah. Film dimulai dari ide yang ditulis. Jadi supaya anak-anak tahu manfaat membaca dan menulis, dan tahu juga ke depannya kemampuan itu bisa jadi apa.
Dan saya pikir, itu permintaan yang menarik.
Jika diringkas, ada dua hal yang ia minta: pertama, bagaimana membuat seseorang suka membaca dan menulis.
Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jujur saja, jawaban singkat saya: saya tidak tahu. Karena kesukaan manusia itu aneh dan berbeda-beda. Saya suka makan durian misalnya, mungkin orang lain langsung menyerah hanya dari baunya. Ada yang tidak bisa memulai hari tanpa kopi, ada juga yang minum kopi sedikit waktu malam kemudian matanya melek sampai subuh sambil menyesal.
Begitu juga dengan membaca dan menulis. Tidak semua orang langsung menyukainya. Lagipula suka dan tidak suka adalah masalah rasa, sehingga ada hal-hal yang kita sukai padahal itu buruk untuk kita. Sebaliknya, banyak hal yang tidak kita sukai, padahal itu baik untuk kita. Jadi pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah membaca dan menulis berguna atau tidak? Bukankah olahraga melelahkan? Belajar kadang membosankan? Membaca bisa membuat ngantuk?
Hari ini bisa saja saya memaparkan kebaikan, manfaat serta banyak hal positif lain dari membaca dan menulis, tapi hal itu tidak lantas menjadikan semua orang akan langsung jatuh cinta pada buku atau mendadak ingin menjadi penulis. Dunia tidak bekerja seajaib itu.
Saya tidak bisa mengatur kesukaan seseorang. Tapi jika pertanyaannya diubah menjadi: “Bagaimana cara membaca yang efektif?” atau “Bagaimana teknik menulis yang baik?”
Nah, itu bisa kita pelajari bersama. Bahkan beberapa di antaranya bisa langsung kita praktikkan hari ini juga. Jika setelah mengetahui dan praktek kalian jadi tergerak dan kemudian suka menulis, itu menjadi bonus.
Sementara untuk pertanyaan kedua—tentang manfaat membaca dan menulis, tentang profesi, peluang kerja, dan bagaimana kemampuan ini akan berguna di masa depan—itu akan kita bahas pelan-pelan sambil berjalan.
Sebelum masuk lebih jauh, saya ingin mulai dari hal yang paling dasar dulu, bahwa membaca adalah salah satu keterampilan dasar dalam berbahasa. Dalam bahasa, ada dua kemampuan yang sifatnya menerima yaitu mendengarkan dan membaca. Ada juga dua kemampuan yang sifatnya menghasilkan yaitu berbicara dan menulis.
Jadi, mari kita mulai dari yang pertama terlebih dahulu: Teknik membaca yang efektif.
Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.
