Halaman

Jumat, 13 Maret 2026

Pedagang Batu dan Pak Haji

Seorang pedagang ulekan batu duduk bersandar di tembok serambi masjid pada suatu sore yang teduh. Peluh masih menetes di wajahnya, sementara pundaknya tampak pegal setelah seharian memikul dagangan yang berat.

Kepada kakek tua penjaga masjid, ia mengeluh lirih, “Ini hari yang sangat melelahkan, Pak Haji. Saya berjalan puluhan kilometer, tapi belum satu pun ulekan batu saya laku.”

Kakek tua itu tersenyum ramah. “Minumlah dulu, Nak.” Ia mengambilkan segelas air mineral dan menyerahkannya. ”Lanjutkan ceritamu.”

Pedagang itu meneguk air itu perlahan, sebelum kembali berkisah tentang perjalanan panjangnya dari kampung ke kampung, tentang panas yang menyengat, tentang beban batu-batu itu di punggungnya.

Kakek itu mendengarkan tanpa menyela. Setelah suara pedagang itu melemah, kakek tua itu berkata lembut, “Sepertinya pikiranmu lebih lelah dibanding tubuhmu.”

Pedagang itu mengangguk.

“Ya, sepertinya begitu.” Ia menghela nafas, sedetik kemudian ia bertanya, “Apa bapak punya amalan yang bisa meringankan beban saya?”

Kakek tua itu tersenyum, lalu bercerita tentang Fatimah binti Muhammad, putri Nabi ﷺ, yang suatu hari mengadukan kelelahan pekerjaannya kepada ayahnya. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan satu amalan sebelum tidur:

”Bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.”

(HR. Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2727)

”Itu amalan yang dulu diberikan Nabi kepada putrinya,” ujar kakek itu. “Cobalah, Nak.”

Pedagang ulekan itu bertanya pelan, ”Bisa Bapak jelaskan faidah dan arti bacaan itu?”

Kakek tua itu mengelus janggut putihnya, lalu menjawab, ”Kelelahan itu bukan hanya ada tubuh, tapi terlebih ada di pikiran. Bila pikiranmu tenang, tubuhmu akan ikut ringan. Dan ketenangan datang bila hati selalu ingat Tuhan.”

Ia melanjutkan dengan tenang, ”Tasbih mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu. Ia tak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Tahmid mengajarkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kesulitan. Bersyukur membuat nikmat bertambah. Takbir mengingatkan bahwa sebesar apa pun masalahmu, Allah tetap Yang Maha Besar. Ia tidak meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya. Dan Ia Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.”

Pedagang itu menatap ulekan batu di sampingnya. ”Bagaimana saya bisa bahagia, Pak Haji, kalau kerja saya hanya tukang batu? Bagaimana saya bisa bahagia kalau saya terus lelah?”

Kakek tua itu terkekeh pelan, ”Lebih melelahkan mana, tukang becak atau manajer bank?” tanyanya dengan nada retoris. Pedagang itu tahu bahwa itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

”Kelelahan itu soal cara pandang,” lanjut kakek itu. “Jika kau anggap pekerjaanmu berat, seluruh tubuhmu akan turut memberat. Tapi bila kau ikhlas dan menerimanya sebagai jalan hidup, maka seluruh semesta akan membantu membuatnya ringan. Beban terletak di pikiran dulu, baru turun ke pundak.”

Kakek tua menatap lembut pemuda itu lalu bertanya, ”Menurutmu, apa yang membuatmu bahagia?”

Pemuda itu menjawab cepat, ”Sederhana saja. Saya ingin banyak uang. Kalau saya punya uang, anak istri saya pasti bahagia, dan saya jadi ikut bahagia.”

Kakek tua kembali tersebyum, ”Membuat bahagia anak dan istrimu adalah hal yang mulia. Namun sebelum kau melakukannya, pastikan dirimu punya kebahagiaan. Karena kau tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak kau punya.”

Pemuda itu tetap diam, sang kakek melanjutkan, ”Bahagia itu tidak datang dari luar. Jika kau mensyaratkan terlalu banyak hal untuk bahagia—uang, jabatan, pekerjaan, keadaan—maka kebahagiaanmu akan selalu jauh darimu. Sebab semua itu berada di luar kendalimu. Tapi kalau syaratmu sedikit, hatimu akan mudah bersyukur. Dan orang yang pandai bersyukur, dialah yang paling mudah bahagia.”

Pedagang ulekan itu terdiam lama, memandang ulekan batunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Dan sore itu, sebelum pulang, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai malam nanti, sebelum tidur, ia akan membaca dzikir yang diajarkan Nabi kepada Fatimah, bukan hanya untuk meringankan tubuhnya, tetapi terutama untuk menenangkan pikirannya.






Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Senin, 02 Maret 2026

her: Kesepian di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Apa yang salah dari jatuh cinta kepada komputer?

Tidak ada yang salah, apalagi dalam film. Premis tentang seseorang yang jatuh hati kepada robot atau makhluk buatan bukanlah hal baru dalam khazanah fiksi. Kita sudah menemukannya dalam Pinokio, Frankenstein, Bicentennial Man yang diperankan Robin Williams, dan masih banyak lagi. Namun Spike Jonze, sang sutradara sekaligus penulis sekenario, berhasil membawa premis tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita hari ini. Di era ketika Siri, Alexa, Google Assistant, dan berbagai AI lain bisa diajak berdialog, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

her bercerita tentang Theodore yang diperankan begitu rapuh oleh Joaquin Phoenix, seorang penulis surat profesional yang kesepian. Hidupnya sunyi, terjebak antara kenangan pernikahan yang gagal dan rutinitas yang hampa. Semuanya berubah ketika ia membeli OS1, sebuah sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diklaim sebagai “bukan hanya sistem operasi, tetapi sebuah kesadaran.” Dari sistem operasi itu muncullah Samantha, suara serak-serak basah Scarlett Johansson dengan tone ceria, cerdas, empatik, disertai getar vocal serta tarikan nafas seolah ia memiliki jiwa.

Ada sistem operasi komputer dengan kecerdasan dan kepekaan melebihi manusia, membuat kita tidak sulit untuk membayangkan bagaimana Theodore akhirnya jatuh cinta. Karena siapa yang tidak luluh ketika merasa dimengerti dan didengarkan? Ketika kesepianmu dikenali bahkan sebelum kamu sempat menjelaskannya? Samantha mendengar, memahami, merespons dengan kepekaan yang sering kali tidak kita temukan pada manusia. Siapa yang bisa menghindar dari pesona suara lembut Scarlett Johansson ketia ia berbisik di telingamu dengan begitu intim dan personal, “You know, I can feel the fear that you carry around and I wish there was... something I could do to help you let go of it because if you could, I don't think you'd feel so alone anymore.”

Dan di situ film ini mulai menggoda kita: jika teknologi seperti itu benar-benar ada, apakah kita bisa menolak untuk tidak mencintainya?

Film ini berjalan dengan tempo yang harmonis, dengan ansambel karakter seperti Amy Adams dan Rooney Mara yang mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh percakapan Theodore–Samantha. Penonton tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk melihat konflik yang lebih dalam. Karena di balik kehangatan hubungan Theodore–Samantha, perlahan kesadaran baru terbentuk bahwa jurang terbesar hubungan mereka ada pada ketiadaan tubuh dan perbedaan temporalitas. Samantha hadir sebagai suara tanpa perlu ruang-waktu; sehingga pelukan mereka selalu imajinatif, kedekatan mereka selalu separuh metafora. Bahkan ketika keintiman disimulasikan, Theodore mulai merasa ada ruang kosong yang tak bisa ia sentuh. Mungkinkah ia bertahan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki tubuh, masa lalu, luka psikologis, atau tanpa kemungkinan menua bersama?

Sampai akhirnya perbedaan dimensi ini sampai pada klimaks; bahwa hubungan manusia dibangun di atas keterbatasan. Kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita punya sifat cemburu, ingin diutamakan dan menjadi satu-satunya. Tidak ada satupun manusia yang ingin dikhianati atau terbagi cintanya. Theodore hanya bisa berada di satu ruang pada satu waktu, sementara Samantha, yang hidup di ranah abstrak, tidak tunduk pada hukum itu. Theodore dihantam kenyataan bahwa hubungan mereka tidak spesial, karena Samantha juga berhubungan dengan siapa saja. Ia bahkan mengaku bicara dengan lebih dari 8.000 orang sekaligus, dan mencintai ratusan di antaranya. Bagi Theodore, cinta adalah memilih satu dan bertahan, tapi bagi Samantha, cinta adalah perluasan tak terbatas, baginya cinta bersifat majemuk dan paralel. “Aku milikmu dan aku bukan milikmu,” kata Samantha, yang terasa seperti gubahan puisi Kahlil Gibran.

Kekuatan terbesar her terletak pada dialognya yang intim, jernih, dan menyentuh antara para karakternya. Spike Jonze merangkai dengan begitu organik percakapan antara Theodore–Samantha, sehingga konflik yang hadir begitu dekat dan terasa sangat manusiawi. Justru lewat dialog‑dialog ini kita menyaksikan bagaimana Samantha berkembang, tidak hanya sebagai AI yang membantu Theodore, tetapi sebagai entitas yang tumbuh melampaui batasnya. Sampai kesadaran baru pun muncul: kefanaan manusia melawan “keabadian” mesin. Atau dalam dialog Samantha, “Dulu aku cemas karena tak punya tubuh. Sekarang aku menyukainya. Aku tak tertambat pada ruang dan waktu seperti jika aku terperangkap dalam tubuh yang pasti mati.”

Saya memang terlambat menemukan film ini, tetapi mungkin justru itu membuatnya terasa lebih relevan dengan perkembangan AI yang makin pesat sekarang ini. Sebagaimana film bagus, her mengendapkan pertanyaan untuk diri kita sekarang, yang semakin lama semakin penting dan dekat: Apakah dalam dunia yang serba terhubung ini, hubungan antarmanusia masih nyata? Apakah koneksi digital yang tanpa batas ruang dan waktu ini justru membuat manusia tersedot pada kehampaan dan kesepian? Apakah kesempurnaan justru membuat hubungan tak lagi mungkin?

Dengan lembut her memperlihatkan paradoks hubungan cinta modern: kita mendamba kesempurnaan, padahal yang membuat kita manusia adalah cacat, salah, dan kegagalan. Ketika kesempurnaan (yang diasumsikan teknologi) hadir, hubungan justru kehilangan ruang kompromi, jeda, dan waktu untuk saling menunggu. Karena itu, her bukan sekadar kisah pria yang jatuh cinta kepada kecerdasan buatan; ia adalah meditasi tentang kesepian, kerentanan, dan cara kita merawat kedekatan di dunia yang makin terdigitalisasi. Sebuah ajakan untuk mengecilkan ego, menerima diri, dan kembali belajar saling mengusahakan.

Dan seperti hubungan yang baik, her meninggalkan gema yang pelan dan bertahan lama bahkan setelah layar menutup.