Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.
Bagian Ketiga
Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya: menulis.
Jika sebelumnya kita bicara tentang membaca sebagai cara mengisi kepala, maka menulis adalah cara mengeluarkan isi kepala itu supaya lebih rapi. Dan saya akan mulai dari satu hal penting: Menulis itu bukan bakat. Menulis adalah keterampilan.
Artinya kemampuan menulis itu sama seperti keterampilan lain di dunia ini. Sama seperti sepak bola, basket, futsal, badminton, bahkan main gitar. Semua hal itu membutuhkan keterampilan untuk menguasai skill dan dilatih agar menjadi semakin baik. Jadi jika ada orang bilang: “Kalau mau jadi penulis yang bagus ya udah, nulis aja terus.", maka menurut saya, pendapat itu setengah benar.
Latihan memang penting, tapi latihan tanpa tahu teknik akan membuat kita berputar di tempat yang sama. Sekarang coba kalian bayangkan, ada orang yang main sepak bola setiap hari, tapi tidak pernah diajari passing, positioning, atau cara menendang yang benar. Mungkin dia akan lebih kuat larinya, tapi permainannya belum tentu berkembang. Menulis juga begitu. Semakin sering menulis memang semakin baik, tapi kalau ditambah teknik, perkembangannya bisa jauh lebih cepat.
Dan kalau boleh jujur, saya termasuk yang setuju dan berharap pelajaran menulis itu diajarkan lebih serius di sekolah. Karena kemampuan menulis sebenarnya bukan cuma soal bikin cerpen atau puisi. Menulis adalah latihan berpikir. Saat menulis, otak kita dipaksa bekerja penuh. Kita mengingat informasi, memilih kata, menyusun argumen, menganalisa, menarik kesimpulan. Semua proses berpikir dipakai sekaligus. Jadi menulis itu baik untuk melatih otak, karena sebenarnya kita sedang “angkat beban” menggunakan pikiran. Otak itu mirip otot. Kalau otot kaki tidak pernah dipakai berjalan, lama-lama akan lemah. Orang yang bertahun-tahun tidak menggunakan kakinya bahkan bisa kesulitan berjalan lagi. Pikiran juga begitu.
Menurut saya, jadi apapun kalian nanti, kemampuan menulis akan tetap berguna. Dokter yang bisa menulis akan menjadi dokter yang lebih baik. Guru yang bisa menulis akan menjadi guru yang lebih baik dari guru yang tidak menulis, karena ia lebih mampu menyampaikan pelajaran dengan jelas dan efektif. Bahkan content creator, YouTuber, podcaster—semuanya tetap butuh menulis. Karena sebelum video dibuat, biasanya ada ide yang ditulis dulu. Sebelum film dibuat, ada skenario.
Hari ini kita akan belajar dua teknik dasar menulis yang sederhana.
PREMIS
Premis yang dimaksud di sini bukan premis dalam pelajaran logika atau kalau di Annida dikenal dengan pelajaran Mantiq. Bukan premis mayor (Mukodimah Kubro), premis minor (Mukodimah Sugro), lalu kesimpulan (Natijah/Conclusion). Bukan itu, tapi yang dimaksud di sini adalah premis cerita.
Secara sederhana, premis bisa disebut fondasi cerita. Semua cerita punya premis, baik cerpen, novel, film, komik atau anime. Bahkan sinetron azab yang pemerannya disambar petir CGI juga punya premis.
Premis biasanya terdiri dari tiga hal:
Seorang anak perempuan kelas 3 SMP ingin pergi ke sekolah untuk menghadiri acara kelulusan, tapi bajunya terciprat lumpur di jalan dan ia harus mencari cara supaya tidak terlambat.
Dan menariknya, hampir semua cerita besar di dunia dibangun dengan pola sederhana seperti itu. Berikut adalah contoh premis dari beberapa cerita yang mungkin sudah kalian kenal:
Novel Bumi - Tere Liye
Film Agak Laen
Novel Laskar Pelangi - Andrea Hirata
Nah, sekarang pertanyaannya: kenapa premis penting?
Karena premis membantu kita memahami inti cerita. Premis itu seperti pondasi rumah. Kalau pondasinya jelas dan kokoh, bangunannya lebih mudah dibuat. Selain itu, premis membantu kita menjelaskan ide ke orang lain dengan cepat. Kadang orang punya ide cerita bagus di kepala, tapi bingung menjelaskannya. Begitu dibuat premis, ceritanya langsung terasa lebih jelas.
Setelah punya premis, kemudian bagaimana?
Ini sekaligus menjawab pertanyaan Fahri di awal: “Apa manfaat menulis? Dan prospeknya ke depan bagaimana?”
Menurut saya, jadi apapun kalian nanti, kemampuan menulis akan tetap berguna. Dokter yang bisa menulis akan menjadi dokter yang lebih baik. Guru yang bisa menulis akan menjadi guru yang lebih baik dari guru yang tidak menulis, karena ia lebih mampu menyampaikan pelajaran dengan jelas dan efektif. Bahkan content creator, YouTuber, podcaster—semuanya tetap butuh menulis. Karena sebelum video dibuat, biasanya ada ide yang ditulis dulu. Sebelum film dibuat, ada skenario.
Hari ini kita akan belajar dua teknik dasar menulis yang sederhana.
- Teknik membuat premis.
- Teknik membuat majas atau gaya bahasa.
PREMIS
Premis yang dimaksud di sini bukan premis dalam pelajaran logika atau kalau di Annida dikenal dengan pelajaran Mantiq. Bukan premis mayor (Mukodimah Kubro), premis minor (Mukodimah Sugro), lalu kesimpulan (Natijah/Conclusion). Bukan itu, tapi yang dimaksud di sini adalah premis cerita.
Secara sederhana, premis bisa disebut fondasi cerita. Semua cerita punya premis, baik cerpen, novel, film, komik atau anime. Bahkan sinetron azab yang pemerannya disambar petir CGI juga punya premis.
Premis biasanya terdiri dari tiga hal:
Karakter + Tujuan + Rintangan
- Karakter = siapa tokohnya.
- Tujuan = apa yang dia inginkan.
- Rintangan = apa yang menghalangi dia.
Seorang anak perempuan kelas 3 SMP ingin pergi ke sekolah untuk menghadiri acara kelulusan, tapi bajunya terciprat lumpur di jalan dan ia harus mencari cara supaya tidak terlambat.
Dan menariknya, hampir semua cerita besar di dunia dibangun dengan pola sederhana seperti itu. Berikut adalah contoh premis dari beberapa cerita yang mungkin sudah kalian kenal:
Novel Bumi - Tere Liye
Raib, anak perempuan yang punya kemampuan menghilang, ingin mengetahui jati dirinya. Tapi ia dimanfaatkan oleh Tamus, makhluk dari dunia lain yang punya rencana jahat.
Film Agak Laen
Empat sahabat ingin mencari uang lewat bisnis rumah hantu, tapi tanpa sengaja malah menyebabkan kematian seorang politisi.
Novel Laskar Pelangi - Andrea Hirata
Anak-anak dari keluarga miskin di Belitung ingin mendapatkan pendidikan yang layak, tapi mereka menghadapi kemiskinan, diskriminasi, dan keterbatasan fasilitas.
Nah, sekarang pertanyaannya: kenapa premis penting?
Karena premis membantu kita memahami inti cerita. Premis itu seperti pondasi rumah. Kalau pondasinya jelas dan kokoh, bangunannya lebih mudah dibuat. Selain itu, premis membantu kita menjelaskan ide ke orang lain dengan cepat. Kadang orang punya ide cerita bagus di kepala, tapi bingung menjelaskannya. Begitu dibuat premis, ceritanya langsung terasa lebih jelas.
Bisa dilanjutkan dengan membuat plot atau alur.
Kalau premis tadi kita ibaratkan sebagai fondasi rumah, maka plot adalah blueprint atau gambar bangunannya. Dengan plot, kita jadi tahu: cerita ini dimulai dari mana, konfliknya naik bagaimana, puncaknya di mana, dan akhirnya akan dibawa ke mana. Bangunan yang punya blueprint akan lebih mudah dibangun. Walaupun nanti di tengah jalan ada perubahan, itu tidak masalah.
Kadang saat menulis kita menemukan ide baru. Kadang ada adegan yang ternyata tidak efektif. Kadang ada tokoh yang ternyata lebih menarik daripada yang direncanakan. Itu wajar. Sama seperti tukang bangunan yang kadang mengubah letak jendela atau memperlebar dapur ketika proses pembangunan berlangsung. Selama blueprint utamanya masih jelas, bangunannya tetap bisa berdiri dengan baik.
Plot paling sederhana biasanya terdiri dari beberapa bagian: pembukaan, muncul masalah, konflik makin besar, puncak konflik, lalu penyelesaian.
Tentu dalam dunia menulis ada banyak teknik lain yang sebenarnya menarik sekali untuk dipelajari. Misalnya Show, Don’t Tell, yaitu teknik memperlihatkan emosi atau keadaan tanpa menjelaskannya secara langsung.
Daripada menulis: Dia sedih.
Kita bisa menulis: Ia terus mengaduk teh yang sudah dingin sejak satu jam lalu.
Pembaca jadi ikut merasakan kesedihannya tanpa perlu diberi tahu secara langsung.
Ada juga teknik membangun dialog yang natural, membuat karakter yang hidup, foreshadowing atau memberi petunjuk tersembunyi, pacing atau mengatur tempo cerita, sudut pandang, simbolisme, membangun konflik, hingga cara menulis ending yang memuaskan.
Sayangnya semua itu tidak mungkin dibahas tuntas dalam workshop singkat hari ini. Karena belajar menulis itu mirip belajar memainkan alat musik. Workshop bisa menunjukkan nadanya, tapi keahlian sebenarnya lahir dari skill yang ditingkatkan dan latihan yang terus diulang.
Jadi setelah pulang dari sini, jangan tunggu jadi hebat dulu baru menulis. Menulislah dulu. Karena kadang tulisan pertama memang buruk. Tulisan kedua masih aneh. Tulisan ketiga mulai lumayan. Dan tanpa sadar, beberapa tahun kemudian, kalian membaca tulisan lama sambil bilang, "Wah, ternyata kemampuan menulisku sekarang sudah jauh berkembang.”
Kalau premis tadi kita ibaratkan sebagai fondasi rumah, maka plot adalah blueprint atau gambar bangunannya. Dengan plot, kita jadi tahu: cerita ini dimulai dari mana, konfliknya naik bagaimana, puncaknya di mana, dan akhirnya akan dibawa ke mana. Bangunan yang punya blueprint akan lebih mudah dibangun. Walaupun nanti di tengah jalan ada perubahan, itu tidak masalah.
Kadang saat menulis kita menemukan ide baru. Kadang ada adegan yang ternyata tidak efektif. Kadang ada tokoh yang ternyata lebih menarik daripada yang direncanakan. Itu wajar. Sama seperti tukang bangunan yang kadang mengubah letak jendela atau memperlebar dapur ketika proses pembangunan berlangsung. Selama blueprint utamanya masih jelas, bangunannya tetap bisa berdiri dengan baik.
Plot paling sederhana biasanya terdiri dari beberapa bagian: pembukaan, muncul masalah, konflik makin besar, puncak konflik, lalu penyelesaian.
Tentu dalam dunia menulis ada banyak teknik lain yang sebenarnya menarik sekali untuk dipelajari. Misalnya Show, Don’t Tell, yaitu teknik memperlihatkan emosi atau keadaan tanpa menjelaskannya secara langsung.
Daripada menulis: Dia sedih.
Kita bisa menulis: Ia terus mengaduk teh yang sudah dingin sejak satu jam lalu.
Pembaca jadi ikut merasakan kesedihannya tanpa perlu diberi tahu secara langsung.
Ada juga teknik membangun dialog yang natural, membuat karakter yang hidup, foreshadowing atau memberi petunjuk tersembunyi, pacing atau mengatur tempo cerita, sudut pandang, simbolisme, membangun konflik, hingga cara menulis ending yang memuaskan.
Sayangnya semua itu tidak mungkin dibahas tuntas dalam workshop singkat hari ini. Karena belajar menulis itu mirip belajar memainkan alat musik. Workshop bisa menunjukkan nadanya, tapi keahlian sebenarnya lahir dari skill yang ditingkatkan dan latihan yang terus diulang.
Jadi setelah pulang dari sini, jangan tunggu jadi hebat dulu baru menulis. Menulislah dulu. Karena kadang tulisan pertama memang buruk. Tulisan kedua masih aneh. Tulisan ketiga mulai lumayan. Dan tanpa sadar, beberapa tahun kemudian, kalian membaca tulisan lama sambil bilang, "Wah, ternyata kemampuan menulisku sekarang sudah jauh berkembang.”
