Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.
Bagian Kedua
Saya yakin hampir tidak ada yang benar-benar berpikir membaca itu tidak berguna. Pertanyaan itu sebenarnya mirip seperti, “Makan itu berguna gak?” Ya jelas berguna. Semua orang tahu itu penting.
Pertanyaan yang lebih dalam adalah: Apakah ada di antara kita yang sebenarnya tidak suka membaca?
Ya, kita semua tahu membaca itu penting, tapi tidak semua orang bisa menikmati prosesnya. Sekarang kita coba pikirkan bersama. Apa sebenarnya manfaat membaca?
Biasanya orang jawab: “Biar pintar.” “Biar nambah ilmu.” “Biar nilai bagus.” “Biar banyak tahu.” Dan semua itu benar. Namun menurut saya, paling tidak ada dua manfaat membaca yang sulit digantikan oleh hal lain, bahkan oleh menonton atau mendengarkan sekalipun.
- Manfaat yang pertama: membaca itu melatih otak. Tubuh perlu olahraga supaya sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, kemampuan memahami informasi, bahkan melatih kita untuk berpikir lebih dalam. Memang tidak terlihat langsung seperti push up atau angkat beban, tapi efeknya nyata.
- Manfaat yang kedua: membaca membuat kita lebih percaya diri saat berbicara. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak kata yang kita tahu. Semakin luas cara kita memahami sesuatu. Jadi ketika berbicara, presentasi, atau menyampaikan pendapat, kita tidak mudah kehabisan kata. Maka orang yang banyak membaca biasanya lebih mudah menjelaskan isi pikirannya.
Tentu masih banyak manfaat lain: nilai rapor bisa naik, pengetahuan bertambah, portofolio berkembang, bahkan bisa membuka peluang pekerjaan. Itu nilai tambah kerena otak kita sudah terlatih berpikir.
Kalau membaca buku nonfiksi kita dapat ilmu, informasi, dan pengetahuan. Sekarang mari kita membuat pertanyaan yang lebih spesifik: kalau membaca cerita? Membaca novel? Membaca dongeng? Apa gunanya?
Menariknya, Einstein pernah berkata: “If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” - “Kalau kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Kalau ingin mereka lebih cerdas lagi, bacakan lebih banyak dongeng.”
Seorang ilmuwan besar itu justru menyarankan anak untuk membaca cerita guna menambah kecerdasan.
Fun fact juga: sekitar sepertiga isi Al Quran berisi kisah. Ada Qashasul Anbiya, cerita nabi-nabi, orang-orang saleh, orang-orang sombong, kerajaan yang hancur, manusia yang tersesat, manusia yang bertobat dan lain sebagainya. Bayangkan, Tuhan saja menggunakan medium cerita untuk menyampaikah hikmah kepada manusia. Jadi jika ada yang mengira bahwa membaca cerita atau sastra itu buang-buang waktu dan tidak berguna, maka coba pikirkan kembali.
Karena manusia memang belajar lewat cerita. Paling tidak, ada dua manfaat besar membaca fiksi atau cerita:
- Manfaat membaca fiksi yang pertama: imajinasi kita jadi lebih kuat. Saat membaca cerita, otak kita seperti membuat film sendiri di dalam kepala. Kita membayangkan wajah tokoh, suasana tempat, suara hujan, rasa takut, rasa kehilangan. Dan orang yang imajinasinya terlatih biasanya lebih kreatif. Lebih mudah menemukan ide. Lebih mudah mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah.
- Manfaat membaca fiksi yang kedua: kita jadi lebih peka terhadap perasaan. Cerita membuat kita ikut sedih, ikut senang, ikut marah, ikut kecewa. Kita belajar melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Tanpa sadar, membaca cerita melatih empati. Dan menurut saya, dunia hari ini bukan cuma kekurangan orang pintar. Dunia juga kekurangan orang yang bisa memahami perasaan orang lain.
Nah karena ini workshop, kita tidak hanya akan membicarakan teori. Kita akan langsung praktik. Saya sudah menyiapkan dua cerita:
Tapi sebelum mulai membaca, saya akan memberikan tiga teknik sederhana supaya membaca cerita jadi lebih efektif. Agar mudah diingat, saya singkat menjadi: BARAKUDA.
BA — Bayangkan
RA — Rasakan
KUDA — Kuasai dan Dapatkan
- Bayangkan.
Membaca itu sebenarnya seperti membuat pertunjukan di dalam kepala, theater of the mind. Kalau saya bilang “BUKU”, apa yang muncul di kepala kalian?
Pasti langsung kebayang benda persegi, ada halaman, ada tulisan. Padahal “B-U-K-U” itu cuma huruf. Tapi otak kita mengubah simbol menjadi gambaran. Nah ketika membaca cerita, lakukan itu terus. Bayangkan tempatnya. Bayangkan wajah tokohnya. Bayangkan suara langkahnya. Bayangkan hujannya. Bayangkan kesunyiannya.
Jangan sekali-kali meneruskan kalimat yang kalian baca, sebelum kalian bisa membayangkan kalimat tersebut dalam kepala. Karen itu akan membuat bacaan kalian pada kalimat selanjutnya akan sia-sia.
- Rasakan.
Libatkan emosi kalian. Kalau tokohnya sedih, coba rasakan kesedihannya. Kalau tokohnya takut, coba ikut tegang. Kalau tokohnya lapar, kadang kita juga jadi lapar. Cerita memang dibuat untuk menggerakkan perasaan manusia. Karena itu jangan takut terbawa suasana. Justru itu tanda kalian menikmati cerita.
- Kuasai dan Dapatkan.
Setelah selesai membaca atau bisa juga ketika sedang membaca, coba kalian renungkan: “Cerita ini sebenarnya tentang apa?” “Pesan apa yang saya dapat?” “Bagian mana yang paling berkesan?” “Kalau saya jadi tokohnya, apa yang akan saya lakukan?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan sekadar mengikuti alur. Kita sedang melatih imajinasi, perasaan, dan cara berpikir kita sekaligus. Karena membaca yang baik bukan hanya tentang siapa yang lebih cepat selesai membaca sampai halaman akhir, tapi ada hal yang kalian kuasai atau dapatkan setelahnya.
Namun semua teknik tadi ada syaratnya, attention span kalian harus baik.
Apa itu attention span?
Sederhananya: kemampuan kita untuk fokus pada satu hal tanpa terus-menerus terdistraksi.
Kalau mau jujur, musuh terbesar membaca hari ini bukan buku yang tebal, tapi notifikasi. Baru baca dua paragraf, tiba-tiba buka TikTok. Baca satu halaman, pindah Instagram. Lima menit kemudian lupa apa yang sebelumnya dibaca.
Jadi kalau kalian benar-benar mau membaca dengan baik, coba sesekali matikan handphone. Bukan cuma di-silent atau diletakan jauh. Karena buku dan cerita butuh perhatian, dan perhatian adalah bentuk penghormatan paling sederhana yang bisa kita berikan kepada sebuah buku.
Sederhananya: kemampuan kita untuk fokus pada satu hal tanpa terus-menerus terdistraksi.
Kalau mau jujur, musuh terbesar membaca hari ini bukan buku yang tebal, tapi notifikasi. Baru baca dua paragraf, tiba-tiba buka TikTok. Baca satu halaman, pindah Instagram. Lima menit kemudian lupa apa yang sebelumnya dibaca.
Jadi kalau kalian benar-benar mau membaca dengan baik, coba sesekali matikan handphone. Bukan cuma di-silent atau diletakan jauh. Karena buku dan cerita butuh perhatian, dan perhatian adalah bentuk penghormatan paling sederhana yang bisa kita berikan kepada sebuah buku.
