Kamis, 09 Juli 2020

HARI KEBERUNTUNGAN SUSAN

Oleh: Nada Narendradhitta

Pada suatu pagi, Susan Si Tupai sedang mencari makan. Hari itu sangat gelap walau masih pagi, Susan mendongak, ia melihat sesuatu di langit, “Oh, itu seperti meteor bentuk hati yang diceritakan nenek.” ujarnya kepada diri sendiri. Meteor itu menyala seperti api, berwarna pink, ekornya seperti buntut rubah, melayang dari barat ke timur, ke arah matahari yang tertutup awan. Matahari yang tertutup awan membuat meteor itu lebih kelihatan.

Tiba-tiba Lily Si Kelinci datang, “Hai Susan kamu sedang apa!?”

“Oh! Lily kau membuatku kaget!” Susan yang sedang bengong memandagi langit berseru sebal.

“Hehehe, maaf Susan” jawab Lily sambil tertawa, tawanya terdengar lembut.

“Ngomang-ngomong...” kata Susan.

“…Langit gelap sekali ya,” Lily melanjutkan.

“He-eh. Kamu lihat meteor bentuk hati gak?” tanya Susan agak tidak sabar.

“Mmm kurasa aku tidak melihatnya” jawab Lily.

“Haloo kalian sedang apa?” tanya Peter Si Kura-Kura.

“Kakek lihat meteor bentuk hati gak?” tanya Susan.

“Oh ya! Jam berapa? Katanya binatang yang melihat itu akan beruntung,” kata kakek Peter.

“Iya aku tadi pagi melihatnya, baru saja Kek!” kata Susan.

“Wow kau beruntung, Sus” kata Lily mulai mengerti.

Susan mengangguk tak acuh, ia mendongak matanya tertuju pada buah kenari besar di pohon.

Malam harinya Susan tersentak bangun karena ia haus. Dia pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat, lalu ia melihat sesuatu, terang benderang di hutan. Dari rumah pohon yang besar, ia melihat melewati jendela dapur yang besar. Susan penasaran Lalu ia keluar mencari sumber terang itu, dia memanjat dari pohon ke pohon, dan apa yang Susan lihat?

Yang dia lihat adalah… Bintang!!

“Apa yang terjadi kenapa kamu di sini?!” tanya Susan penasaran.

“Aku jatuh.” Kata bintang itu, “Aku ingin kembali ke angkasa.”

“Mmm sepertinya aku bisa bantu kamu” kata Susan sambil berpikir, “Eh kamu tungu di sini dulu ya,” kata Susan lalu pergi.

Lima menit kemudian Susan kembali lagi membawa sesuatu yang cukup besar, “Ini adalah balon udara buatanku sendiri” kata Susan, “Kamu akan bisa terbang menggunakan ini…”

“Ooh kamu baik sekali!” seru sang bintang, “Ini hadiah untukmu.”

Si Bintang mengubah Susan menjadi… Ratu!! Ratu Bintang, sejak saat itu Susan tinggal di atas awan, dan saat Susan ingin bermain dengan temannya dia akan turun lagi ke hutan, dan kembali ke awan sesudah bermain.

Sabtu, 13 Juni 2020

Emma, Abby dan Tentang Cerita-cerita Cinta

Saya dan Abby ada dalam satu ruangan, masing-masing duduk di kursi dengan sebuah meja memisahkan kami. AC dan Kipas Hexos menyala. Abby meletakan hanphone dan rokok di atas meja, kemudian mulai bercerita. Cerita tentang kisah cintanya. Ia bilang saya adalah orang terakhir yang diceritakan diantara kawan-kawan kami yang lain.

“Jadi apa saran lu buat gua?” Abby bertanya setelah selesai menceritakan proses mulai dekat dengan Emma —yang juga kawan saya— sampai akhirnya menyatakan perasaan kepada wanita itu.

“Gentar gua kalo nyuruh ngasih saran,” saya menjawab cepat.

“Hampir semua orang yang gua minta saran, bilang supaya jangan nyakitin dia. Gak ada satupun yang nyaranin dia, buat gak nyakitin gua. Dikira gua gak punya hati kali.”

Dan kami tertawa bersama.

Emma dan Abby baru beberapa minggu jadian. Seperti layaknya orang yang sedang jatuh cinta, Abby menceritakan betapa spesialnya Emma, betapa unik, baik dan manisnya dia. Sementara Emma juga menceritakan hal yang sama tentang Abby. Ia menceritakan betapa sayang Abby kepadanya, betapa baik dan banyak kesamaan mereka; film, warna, selera makanan, tangan yang memakai jam dan banyak lagi.

“Gua ngerasa beda banget pacaran sama dia,” Emma bercerita suatu waktu, “Kayak, asik aja gitu,”

“Asiknya gimana?” Saya penasaran.

“Gak tahu. Kayaknya emang gua lebih cocok sama orang yang lebih tua deh.”

"Yang lebih dewasa maksud lu," Saya menafsirkan.

Emma dan Abby merasa cocok satu sama lain dan ingin hubungan yang serius. Hal-hal yang mereka ceritakan adalah hal yang biasa terjadi ketika awal-awal pacaran. Bagi saya kisah mereka seperti kebanyakan cerita cinta yang saya tahu. Saya pernah mengalaminya, dan sering menyaksikan terjadi pada kawan-kawan saya, atau menghayatinya lewat “Ada Apa dengan Cinta?”

Bukan saya meremehkan kisah mereka, justru saya menghargai dan seperti bisa merasakan kembali rasa itu. Tentang kegugupan ketika mengatakan cinta untuk pertama kali, tentang pengakuan diam-diam, debar di dada, kupu-kupu dalam perut, lagu-lagu cinta yang kembali jadi punya arti, perasaan senang dan senyum yang tak henti-henti, menjaga dan memperlihatkan hal-hal baik, menyembunyikan hal-hal buruk, melakukan kebohongan-kebohongan kecil serta hal-hal yang menyenangkan lain.

“Gua belum ngerasa pantes ngasih saran. Hidup sendiri aja belom bener,” kata saya ke Abby.

“Gua gak minta saran yang macem-macem. Kasaih saran yang normal aja.” sambil menghembuskan asap rokok, Abby masih meminta.

Saya kagum dengan kerendahhatiannya. Secara umur, ia lebih tua, secara pengalaman dan pergaulan tentu ia punya lebih banyak, jadi saya tidak tahu saran apa yang sebenarnya diharapkan.

Saya berpikir sejenak.

Menyarankan untuk tidak menyakiti pasangan membuat saya gentar, karena secara langsung nasihat itu menohok diri sendiri. Lagipula, tidak menyakiti adalah pesan yang abstrak, karena ukurannya tidak jelas. Apa yang dimaksud “menyakiti”? Dan apakah manusia bisa tidak menyakiti manusia lain selama-lamanya? Pesan itu mengingatkan saya pada janji Watanabe untuk tidak pernah melupakan Naoko dalam Norwegian Wood – Haruki Murakami.

Saya mengenal Emma lebih lama daripada saya mengenal Abby. Saya ikut menyaksikan ketika Emma jatuh ke jurang cinta yang paling dalam, saya ada di sana ketika akhirnya ia patah hati yang paling remuk, saya mendengarnya menangis, memahami gugatan dan pemberontakannya untuk melepas jilbab. Namun pada akhirnya, —karena segala sesuatu pasti punya akhir— sekuat tenaga ia bangkit, dan sekarang ia jatuh cinta lagi. Saya kira Abby juga punya kepahitan yang sama. Ia adalah duda beranak satu.

Mereka adalah orang-orang yang dipertemukan trauma. Patah hati memang meninggalkan trauma, sekecil atau setipis apapun. Bisa berwujud kecemasan atau ketakutan. Tidak jarang membuat pandangan hidup menjadi buram. Satu hal yang mereka pahami, bahwa mereka tidak merencanakan hal-hal buruk terjadi kepada mereka sebelumnya. Tentu, tidak ada orang yang merencanakan apalagi mengharapkan hal itu akan terjadi lagi. Saya pribadi berharap hubungan mereka bisa berlangsung panjang.

Ilmu pengetahuan berkembang, begitu juga ilmu pengetahuan tentang bagaimana menjalin hubungan. Gottman, peneliti dan direktur eksekutif dari Relationship Research Institute, mengklaim bahwa hanya 3 jam dengan pasangan sudah cukup baginya untuk memprediksi apakah mereka akan tetap bersama di masa depan (3-5 tahun) dengan akurasi lebih dari 90%. Saya membaca Gottman dan saran-saran untuk memperkuat hubungan, namun saya tidak bisa memprediksi apapun di masa depan karena manusia adalah mahluk yang kompleks. Di luar para peneliti dan para relationship expert itu, saya juga belajar banyak dari kawan-kawan.

Saya punya beberapa kawan yang dengan tulus menceritakan kisah cinta mereka, dengan segala romansa dan masalah-masalahnya. Sebagai penikmat cerita, saya selalu senang mendengarkan. Cerita mereka bahkan sering menjadi inspirasi tulisan. Karena sejatinya mengamati manusia adalah pekerjaan penulis. Hemingway, penulis peraih Nobel itu bilang, "I like to listen. I have learned a great deal from listening carefully. Most people never listen." Walaupun sebagai orang yang tidak terlalu punya banyak teman, belakangan saya juga kaget sendiri tentang beragam cerita-cerita mereka.

Tentu tidak semua cerita cinta yang saya dengarkan berisi baik-baik saja. Beberapa kawan bercerita tentang masalah-masalah; sex before married, perselingkuhan, tidak ada restu orang tua, perceraian, kematian pasangan, perbedaan agama, perasaan yang hilang dan hal-hal yang tidak selesai.

Dari pengalaman dan pengetahuan mereka saya belajar bahwa seberapa mesra dan menggebu suatu hubungan di awal, gairahnya akan memudar dan sebaiknya ada perasaan lain untuk menggantikan.

Saya tidak ingin menyajikan pandangan yang muram tentang cinta, namun kita semua tahu bahwa cinta bukan sesuatu yang diam. Ia bergerak, tumbuh bahkan bisa mati. Pada jalur positifnya, cinta bisa menjadi energi yang menggerakkan, ia membuat seorang menjadi pribadi yang lebih baik.

Menutup tulisan ini, saya akan kembali mengutip Murakami.

Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu delapan belas tahun; dan gadis itu enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu tampan, dan gadis itu tidak terlalu cantik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti pada umumnya cenderung kesepian. Namun mereka percaya sepenuh hati bahwa di dunia ini ada pasangan hidup yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya pada mukjizat. Dan bahwa mukjizat bukanlah hal yang mustahil.

Suatu hari, si pemuda dan gadis itu tak sengaja berjumpa di ujung jalan.

“Luar biasa,” ujar si pemuda. “Aku sudah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak mempercayai ini, tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

“Dan kau,” balas gadis itu. “Kau adalah pemuda yang 100% sempurna untukku, persis seperti pemuda yang kubayangkan selama ini. Seperti mimpi rasanya.”

Mereka duduk di atas kursi taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah hidup mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tidak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan masing-masing yang 100% sempurna untuk mereka. Betapa indahnya menemukan dan ditemukan oleh pasangan yang 100% sempurna untuk kita. Sebuah mukjizat, sebuah pertanda.

Namun, saat mereka duduk dan berbincang, masih ada sedikit rasa ragu yang menggantung di dada: apa mungkin impian seseorang terkabul begitu saja dengan mudahnya?

Maka, ketika keduanya terdiam, si pemuda mengambil kesempatan untuk berkata kepada gadis itu: “Mari kita uji diri kita—sekali ini saja. Jika kita memang pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka di suatu saat, di suatu hari, kita pasti berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka kita akan menikah saat itu juga. Bagaimana?”

“Ya,” kata si gadis. “Itu yang harus kita lakukan.”

Kemudian mereka berpisah. Si gadis melangkah ke arah timur, sementara si pemuda ke arah barat.

Meski begitu, proses uji itu sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, karena mereka memang benar pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain—dan pertemuan awal mereka adalah sebuah mukjizat. Tapi mereka tak mungkin mengetahui semua ini di usia belia. Gelombang takdir yang dingin dan tak pandang bulu terus membuat mereka terombang-ambing tanpa akhir.

Pada suatu musim dingin, si pemuda dan si gadis menderita sakit flu yang terjangkit di mana-mana. Setelah dua minggu terkapar tanpa daya, mereka pun lupa terhadap tahun-tahun remaja mereka. Ketika mereka tersadar, ingatan mereka sama kosongnya seperti celengan baru.

Keduanya adalah individu yang cerdas dan ambisius; dan dengan usaha keras mereka berhasil membangun hidup mereka hingga menjadi sosok terpandang di masyarakat. Syukurlah, mereka juga menjadi warga yang taat peraturan dan tahu caranya naik kereta bawah tanah tanpa tersesat; yang sanggup mengirimkan surat dengan status kilat di kantor pos. Dan mereka juga sanggup jatuh cinta, terkadang cinta itu mengisi hati mereka sampai 75% atau bahkan 80%.

Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga; mendadak si pemuda telah berusia 32 tahun dan si gadis 30 tahun.

Di suatu pagi yang cerah di bulan April, dalam perjalanan untuk membeli secangkir kopi, si pemuda melangkah dari arah barat ke timur, sementara si gadis, dalam perjalanan ke kantor pos, melangkah dari arah timur ke barat. Keduanya menelusuri pinggiran jalan yang memanjang di sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo yang bernama Harajuku. Mereka saling melewati satu sama lain tepat di tengah jalan. Ingatan mereka kembali samar-samar dan untuk sesaat hati mereka bergetar. Masing-masing merasakan gemuruh yang mendesak dada. Dan mereka tahu:

Dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku.

Dia adalah pemuda yang 100% sempurna untukku.

Namun, sayang, gema ingatan mereka terlalu lemah; dan pikiran mereka tak lagi jernih seperti empat belas tahun lalu saat pertama kali berjumpa. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, mereka melewati satu sama lain begitu saja, hilang di tengah keramaian. Selamanya.


(On Seeing the 100% Perfect Girl One Beatiful April Morning - Dikutip dari sini)


Seperti karya sastra yang baik, cerita itu punya banyak makna. Apa yang orang dapat dari sebuah karya terkadang berbeda satu sama lain. Murakami tidak menyuapi kita tentang norma-norma, tapi lebih dalam, ia menumbuhkan kesadaran dan membuat kita merenung kemudian bertanya kepada diri sendiri. Pada saya pertanyaan itu berupa; apakah ada jodoh yang 100% cocok? Jika itu ada, bagaimana kita tahu? Apakah kita berani untuk ambil segala resiko, atau malah terlalu gegabah dan sombong untuk pasti bisa bersamanya?

Itu pertanyaan-pertanyaan untuk saya. Bagi orang lain, pertanyaan-pertanyaan itu bisa berbeda tergantung latar belakang dan pengalaman hidup mereka. Maka saya selalu pada posisi tidak percaya diri jika diminta memberi saran, karena pengalaman dan latar belakang orang berbeda-beda. 

“Tawakal.” Saran saya ke Abby akhirnya. Apa boleh buat, ia sudah dua kali meminta.

“Apaan tuh?” Abby mengernyitkan dahi.

“Di Katolik mungkin juga ada konsep itu,” saya menjelaskan.

Sebagai seorang kawan, saya senang melihat mereka bahagia. Cara menjalin hubungan harmonis tidak diajarkan di sekolah. Oleh karenanya, butuh kerendahatian, bahkan waktu seumur hidup untuk belajar mengerti dan memahami satu sama lain.

Saya percaya cinta akan menuntun mereka.

Jumat, 29 Mei 2020

Norwegian Wood; Sebuah Review

Ketika sedang berjalan-jalan berdua di tepi hutan pinus di musim gugur, Naoko pernah meminta kepada Watanabe, “Aku ingin kau mengingatku. Maukah kau terus mengingatku bahwa aku ada dan pernah berada di sampingmu seperti ini?”

Dengan kepercayaan diri dan kesombongan khas anak muda yang sedang dimabuk cinta, Watanabe menjawab lantang, “Tentu saja! Aku akan terus mengingatnya,”

“Kau betul-betul tak akan melupakan aku selama-lamanya?” Naoko bertanya pelan seolah berbisik.

“Sampai kapanpun aku tak akan melupakanmu,” Watanabe masih dengan keyakinan, bahkan ia mengukuhkan janji, “Tak mungkin aku dapat melupakanmu.”

Duapuluh tahun kemudian, Watanabe menyadari keluguan dirinya ketika menjanjikan hal bodoh itu. Umurnya 37 tahun ketika menyadari itu, ia sedang duduk di dalam Boeing 747 yang mendarat di Hamburg. Orkestra yang memainkan Norwegian Wood mengalun elegan dari pengeras suara mengiringi penumpang yang mulai turun satu persatu. Watanabe masih terduduk di kursinya, membungkuk menutupi wajah dengan kedua tangan. Kepalanya bergolak seperti mau meledak. Pikirannya terbawa bersama alunan suara dari masa lalu, masa ketika Naoko masih hidup, ketika mereka berdua senang mendengar petikan gitar yang mengalunkan Norwegian Wood.

Dua puluh tahun yang lalu, tidak beberapa lama setelah Naoko meminta Watanabe berjanji, Naoko bunuh diri. Ia menggantung diri pada batang pohon di sebuah pagi yang masih sunyi. Mudah saja mengingat seseorang atau sesuatu ketika itu baru saja terjadi. Namun seiring berjalannya waktu, kenangan itu perlahan memudar, dan Watanabe terlalu banyak melupakan semuanya. Kenangan Naoko di benaknya bertahun-tahun yang lalu, perlahan tapi pasti melindap. Seiring mengaburnya ingatan itu, Watanabe menjadi lebih mengerti mengapa Naoko meminta untuk tidak pernah melupakannya. Mungkin Naoko tidak benar-benar mencintai Watanabe dan hanya ingin membuatnya nelangsa. Karena tidak ada yang lebih menyakitkan dari janji yang tidak bisa kamu lakukan kepada orang yang telah tiada. Manusia adalah mahluk lemah, menjanjikan untuk selalu mengingat sebuah kenangan selama-lamanya adalah sesuatu yang tidak realistis. Kecuali kamu ingin melanggar janji sendiri, atau ingin membuat dirimu nelangsa, sebaiknya jangan kamu ucapkan.

Itulah pesan yang saya dapat setelah membaca ulang Norwegian Wood. Adalah keahlian Murakami untuk menyajikan banyak makna, dan memang begitu karya sastra seharusnya. Apa yang orang dapat dari sebuah karya terkadang berbeda satu sama lain. Bahkan satu orang yang sama, berbeda apa yang didapat ketika ia membaca ulang sebuah karya. Begitulah yang terjadi kepada saya ketika membaca ulang Norewegian Wood.





Merawat Anak

Percakapan dengan kawan lama tidak pernah berlangsung sebentar, dan hujan di malam 31 Desember membuat percakapan selama apapun menjadi wajar, karena kami jadi punya alasan untuk tidak buru-buru pulang. Bahkan jika banjir melanda sebagian negara, kami akan meneruskan percakapan di atas bahtera Nabi Nuh.

“Bagi orang yang terlalu sering sakit hati, juara memang terdengar bercanda.” Kata saya ke Qoffal. Saya sudah memprediksi, bahkan dari sebelum peretengahan musim, bahwa Liverpool akan juara Liga Inggris. Saat itu Qoffal masih belum yakin, katanya semua hal masih bisa terjadi.

Benar saja. Kami bertiga yang malam itu berada di pelataran rumah sakit tidak ada yang menyangka bahwa saat itu, jauh di tempat lain, sebuah virus telah menjangkit dan akan menyebar untuk mengacaukan tatanan dunia, termasuk sepakbola. Jadi kemungkinan Liverpool juara bisa gagal atau paling tidak tertunda sampai waktu yang entah kapan.

“Liperpul emang lagi keren-kerennya sih.” Edo menimpali.

“Nanti saya baru yakin kalo sepertiga musim masih konsisten kayak gini, bang.” Qoffal sangsi.

Saya tidak punya keresahan sama sekali ketika Si Merah tidak menjuarai apapun musim ini, atau gagal secara dramatis di Champion saat melawan Atleti. Mungkin Liverpudlian bisa merasakan bagaimana sakitnya fans Barca dengan kekalahan yang sama pahitnya musim lalu, tapi bagi saya itu malam yang biasa saja. Saya tetap bangun selepas azan subuh dan dua kali menekan snooze alarm.

Keresahan satu orang bisa menjadi keresahan orang lain tapi bisa juga tidak, maka malam itu kami lebih banyak mendiskusikan keresahan bersama. Kami punya banyak keresahan; tentang keimanan, praktek agama, pendidikan dan anak-anak.

Edo sedang meresahkan anaknya yang tahun ini lulus SD dan akan masuk pesantren. Saya meresahkan praktek agama dan keimanan yang arogan. Sementara Qoffal saat itu sedang resah karena Syatir, anaknya yang baru berumur beberapa Minggu, sedang berjuang melawan Serratia Marcescens di ruang ICU. Ia masih ragu dan menimbang tindakan Bronkoskopi. Di ruangan sebelah ICU tempat berkumpul keluarga pasien, ketika panggilan terdengar dari paging pengeras suara, para keluarga khawatir itu adalah panggilan pemberitahuan tentang kematian. Bagi seorang bapak, saya bisa merasakan beratnya beban itu. Bagi saya, yang selalu memindahkan saluran atau mematikan TV ketika ada berita tentang kekerasan pada anak, tidak bisa membayangkan akan kuat berada di posisi Qoffal saat itu.

Nada juga pernah bertarung melawan bakteri yang menyerang Bronkus-nya. Maka saya sedang tidak menyenangkan siapapun ketika bilang bisa merasakan apa yang dirasakan Qoffal. Keinginan setiap bapak ketika melihat anak dalam kepedihan pasti sama, berharap sakit itu bisa berpindah kepada dirinya. Namun sebagai manusia yang lemah, kita tidak bisa sombong. Kita hanya mampu berusaha, bersabar dan berdoa, pada akhirnya Allah yang punya rencana.

Mei tanggal 22, Qoffal menghubungi saya minta doa untuk Si Bontot, karena ngedrop dan tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya 26 Mei yang lalu, Syatir menghembuskan nafas terakhir. Alhamdulillah inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Saya belajar bahwa sekuat apapun kita mencoba melindungi anak kita, pada akhirnya mereka akan terluka juga, dan kita akan terluka dalam proses itu.

Ya Allah yang Maha Pengasih, jadikan dia sebagai pahala yang disegerakan, dan simpanan abadi, dan sumber pahala bagi orang tuanya.

Ya Allah yang Maha Pemurah, jadikan dia yang menunggu kedua orang tuanya, simpanan dan pemberi syafaat yang dikabulkan.

Alfatihah...

Selasa, 19 Mei 2020

Menolong Si Putih

Aku dan adikku Percy sedang berjalan-jalan di hutan belakang rumah ketika Percy melihat dua mata misterius menyala hijau seperti mata naga yang pernah aku lihat di filem fantasi.

“Kak,” kata Percy yang saat itu mengenakan mantel hijau. Ada nada ketakutan dalam suaranya.

“Iya ada apa?” tanyaku sambil menoleh ke arah Percy. Angin dingin musim semi bertiup menggugurkan daun-daun kering dan membuat telingaku dingin seperti ketika aku membuka kulkas. Aku manarik hoodie mantel merah yang aku pakai untuk menutupi kepala.

“I-it-u a-pa?” Percy menunjuk sesuatu yang bergerak di bawah gelap naungan pohon besar.

Hah apa ya itu? tanyaku dalam hati sambil mendekati dengan gugup. Awalnya aku mengira itu ular, tapi ternyata yang ada di sana adalah kucing putih. Sebelah kaki kucing itu lecet sampai kelihatan dagingnya. Kaki yang terluka diangkat, dan ia mengeong pelan.

Aku semakin mendekatinya dan pelan-pelan aku mengusap kepalanya. Kucing itu menyundul tanganku seperti minta diusap lagi. Aku tersenyum, mengendongnya kemudian membawanya sambil lari ke arah rumah. Karena mau cepat-cepat mengobati kucing itu, aku sampai lupa Percy tertinggal di belakangku.

Masih sambil berlari, aku berteriak ke adikku, “Ini hanya kucing, tidak usah takut.”

Percy berteriak panik sambil mengikutiku, “Kakak, tunggu aku!”

Belum sampai rumah, Ginny, anjing perempuanku yang berwarna coklat muda, menggonggong menyambut. Ketika ia melihat kucing yang aku gendong, gonggongannya menjadi semakin keras. Sepertinya ia cemburu dengan si kucing.

Sesampainya di dalam rumah aku bertanya ke ibu, “Ibu, di mana kotak obat?”

“Oh, Lucy, ada di atas lemari, memangnya kenapa? Percy jatuh ya?”

“Eh tidak sih cuma tadi aku nemu kucing,” aku menjawab cepat.

“Kak kenapa aku tadi ditinggal?!” Percy yang masuk menyusul ke dalam rumah terdengar kesal.

“Eh maaf Percy, tadi aku buru-buru,” aku meletakan si kucing putih di atas meja kemudian mengambil kursi untuk pijakan mengambil kotak obat di atas lemari.

Percy duduk cemberut tidak menjawab permintaan maafku.

“Nah sekarang bisak gak kamu tenangin Ginny yang terus menggonggong?” sambungku ke Percy.

“Gak mau ah! Aku masih kesel sama kakak!” kata Percy kemudian melengos pergi.

Sambil mengobati luka si kucing, Ginny tidak berhenti menggonggong. Membuat si kucing takut.

“Tidak usah cemburu Ginny. Ia tidak lama di sini kok.” Kataku sambil mengusap Ginny agar dia tenang. Ginny perlahan-lahan menjadi tenang. Kemudian aku mengambil biskuit anjing dan melemparkan kepada Ginny.

Beberapa saat setelah diobati, kucing itu berjalan tertatih ke hutan. Kalau saja ia tidak terluka, mungkin ia akan berlari. Aku, Percy, dan Ginny mengikuti perlahan sesuai langkah si kucing.

Percy bertanya pelan, “Kak,”

Aku segera meletakan jari telunjuk di depan bibir tanda menyuruh Percy tidak bicara. Sementara Ginny seperti mengerti untuk ikut diam. Kucing itu tidak sekalipun menoleh ke belakang, seperti tidak peduli kami ikuti. Ketika sampai di tepi sungai, ia tiba-tiba berhenti.

“Eeh dia sepertinya takut air,” kataku sambil memandang air itu.

“Baiklah aku akan menggendongnya,” kata Percy melangkah maju.

Tiba-tiba Ginnny kembali menggonggong. Persis di akhir gonggongannya, dia melompat dari batu ke batu di aliran sungai itu, seperti menemukan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang Ginny kejar.

Aku menyusulnya, dan di belakangku Percy bersama si kucing putih. Sesampainya di seberang, Ginny semakin keras menggonggong ke arah semak-semak.

“Sst Ginny” kata-ku sambil menenangkan.

Semak-semak itu bergerak-gerak kemudian ada suara eongan. Muncul dari balik semak kucing cantik berwarna putih sama seperti si kucing yang aku tolong.

Si putih yang digendong Percy meronta seperti ingin diturunkan. Ia turun kemudian berlari ke arah kucing yang lebih besar itu dan saling menjilat. Kami bertiga sangat senang, kucing itu berkumpul bersama keluarganya lagi. 

Penulis: Nada Narendradhitta

Jumat, 01 Mei 2020

Drama Korea dan Nama Artis yang Sulit Diingat

Saya tidak pernah suka menonton drama korea karena dua hal. Pertama karena Bahasa Korea. Kedua, karena nama-nama artis Korea. Satu-satunya nama korea yang saya hapal adalah Park Ji Sung, atau bolehlah juga dihitung Kim Jong Un.

Saya tidak bermaksud rasial, hanya ini soal kebiasaan saja. Saya tidak terbiasa mendengarkan Bahasa Korea. Ketika mendengarkannya kuping saya terasa dimasuki jangkrik. Dan nama-nama Korea itu? Oh ayolah, bagaimana saya membedakan nama laki-laki dan perempuan? Dan mengapa nama-nama mereka mirip dan membingungkan?

Saya kira keresahan ini juga dirasakan banyak orang. Management artis Korea juga sepertinya mulai mendengar keresahan orang-orang seperti saya. Maka mereka mencoba membantu para artis untuk belajar Bahasa Indonesia. Untuk mengucapkannya dengan benar, atau paling tidak menghapalkan kalimat atau kata-kata yang penting. Salah satu tujuannya adalah supaya orang-orang seperti saya enak mendengarnya. Walaupun Bahasa Indonesia mereka buruk, atau typo ketika mengetik “Sedaap”, saya masih bisa memakluminya, atau menertawakannya. Tentu dengan diam-diam. Saya malas berurusan dengan fans Kim Jong Un. Maaf kalau saya salah sebut nama. Saya kira tepat kalau mereka mau ganti nama jadi Agung atau Eko.

Sabtu, 25 April 2020

SELENA & NEBULA; Klan Bulan, Akademi Bayangan Tingkat Tinggi, dan Orangtua Raib


Aku sangat suka buku atau film fantasi karena di sana aku menikmati kejadian yang tidak ada di dunia nyata. Selena dan Nebula adalah novel fantasi yang menceritakan hal yang tidak ada di dunia nyata seperti teleportasi, pukulan berdentum, teknik menghilang, tameng transparan, dan lain lain. Cerita fantasi membuatku menghayal. Andai aku bisa teleportasi aku dapat kemana saja dengan cepat. Kalau adiku bilang, "Kalo aku punya teknik teleportasi aku akan ke hutan bersih, hutan berbunga bunga, dan ingin tingal di sana menghirup bunga-bunga. Di sana tidak ada sampah plastik". Pukulan berdentum bisa membasmi penjahat kalau aku jadi polwan. Teknik menghillang berguna untuk bersembunyi, dan tameng transparan bisa melindungi kita dari segala macam hal, itu juga kalau tidak meletus😄.

Aku sangat menunggu Selena dan Nebula terbit. Saat sudah terbit aku langsung membelinya. Kedua novel itu selesai aku baca dalam sepuluh hari. Cerita dalam kedua novel itu terjadi bertahun tahun sebelum Raib lahir. Buku ini menceritakan masa lalu Miss Selena. Ada tiga sahabat yaitu Selena, Mata, dan Tazk. Mereka lahir di Klan Bulan, walaupun di distrik berbeda, Selena di Distrik Sabit Enam, Mata di Distrik Sungai Sungai Jauh, dan Tazk di Kota Tishri. Mereka terjebak dalam rencana jahat seseorang untuk pergi ke Klan Nebula, dan di sana semua berakhir sangat buruk. Ada karakter utama lain dalam novel itu, seperti Raf, Leh, Am, Im, Um, Em, Om, Aq, Bow, Maeh, Boh, Ev, Ox, Gill, Tamus, Lumpu, Kosong, Repot, Lambat, dan lain lain. Karakter yang paling aku suka adalah Mata, karena dia bisa bahasa semua dunia paralel, sahabat setia, dan ada sesuatu yang istimewa darinya.

Buku ini berbeda dari serial Bumi lainnya karena yang bercerita bukan Raib melainkan Miss Selena (kecuali ketika kembali ke masa sekarang, itu Raib yang bercerita). Ini juga menceritakan siapa sebenarnya orang tua Raib, ini bagian yang sudah kutunggu-tunggu, dan terjawab tuntas di buku ini. Selain itu, aku juga kagum akan teknolgi-teknologi maju Klan Bulan (walau tidak secangih Klan Bintang dan Komet Minor) contohnya mencuci baju, mencuci piring, pakaian, TV, Kasur, kamar mandi, dan sofa.

Aku juga sudah baca buku Tere Liye lainnya, yaitu Serial Anak Mamak, tapi itu bukan fantasi walaupun fiksi, jadi aku lebih suka serial Bumi. Jika membandingkan Selena dan Nebula, aku lebih suka Nebula, karena di sana semua rahasia terpecahkan dan juga menceritakan awal petualangan dunia paralel sekaligus akhir petualangan mereka. Di buku Nebula juga ada episode bonus judulnya Menonton Bersama.

Kalau buku Selena menceritakan perkenalan serta bagaimana Miss Selena bisa masuk Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT). Itu nama akademi terbesar di Klan Bulan. Di buku ini kalian juga sudah bisa menebak siapa orang tua Raib.

Aku beri nilai Selena dan Nebula 9 dari 10. Aku jadi tidak sabar menunggu terbitan selanjutnya yaitu LUMPU.


Penulis: Nada Narendradhitta (9 tahun)
#LombaResensiTereLiye2020
@bukugpu @fiksigpu

Kalau kamu ingin baca resensi serial Bumi dari bapakku, klik link ini.