Rabu, 21 Oktober 2020

The Devil All the Time; Ironi Pada Agama dan Religiusitas

Kritik tajam terhadap agama dan religiusitas mistis dalam film drama thriller begitu unik. Menjadi variasi dan warna lain yang membedakan film ini dari film-film dengan kritik pada religiusitas ekstrimis ala terroris yang semakin klise.

Mengambil sisi penceritaan omniscient yang yang tahu segala hal, yang saya duga juga diambil dari penuturan asli novel, membuat ia semakin dekat dengan kritik pada kepercayaan manusia kepada Tuhan yang juga tahu segala hal. Tentu ia tidak mengajak untuk menolak agama, namun menyajikan ironi pada pemahaman para karakter terhadap kitab suci dan religiusitas yang membabi buta tanpa pikiran jernih.

Dibalut nuansa gelap dan depresif khas film triller, film ini menampilkan agama dari sisi tergelap sampai hal yang paling tulus, jernih dan baik. Pada kepercayaan yang total, ketulusan yang murni, sampai memunculkan agnotisme dalam perlawanan.

Akting seluruh pemerannya hampir tanpa cela. Bahkan keberhasilan akting Pattinson membuat istri saya jijik. Logat, gaya dan suara sengau dengan dialek Selatan Amerika yang mengingatkan saya pada Trump, membuat ia mudah dibenci —sejak Trump jadi presiden, para aktor seperti punya acuan pasti untuk menjadi orang yang menyebalkan. Saya berharap Pattinson nanti bisa memerankan Batman dengan lebih bagus, walaupun mungkin dibenak istri saya, sebagus apapun Batman versi Pattinson nanti, ia dalam film ini sudah melekat bahkan mengalahkan perannya menjadi Vampir pucat.





Jumat, 16 Oktober 2020

Blame Bernice, Uncle Fucka!



Adalah Bernice yang merekomendasikan saya untuk menonton South Park. Ia tidak menyarankan apapun dalam chatting, selain kata-kata andalan, “Southpark wae”. Sialnya, yang saya tonton adalah versi filmnya, South Park: Bigger, Longer & Uncut (1999), yang lebih kasar, vulgar dan sadis, yang belakangan saya ketahui bahwa pada tahun rilisnya, film itu dilarang tayang di 16 negara, termasuk Saudi Arabia, Vatikan dan tentu negara-paska-reformasi kita tercinta.

Melihat tahun produksinya saja saya sudah gentar. 1999, tahun dimana saya masih unyu-unyu, sisiran belah tengah, dan masih bercita-cita menjadi Brama Kumbara atau Arya Kamandanu. Menonton film kartun musikal berdurasi 81 menit ini membuat saya bernostalgia ke era dimana masih ada TPI, Programa Dua, dan Barry Prima masih gondrong dan suka telanjang dada. Tanpa persiapan atau ekpektasi apapun, dengan polos saya menonton film yang menurut catatan IMDb terdapat 399 umpatan kasar. Itu artinya, dalam 1 menit ada 5 kali makian kotor yang kita dengar. Menurut saya, kebrutalan humornya setara dengan Borat atau Jendral Aladeen dalam The Dictator.

Mengambil sumber dari serial televisi South Park —yang juga tidak pernah saya tonton, film ini seperti punya landasan solid untuk membangun premis melalui karakter-karakter yang sudah lekat dengan penggemar. Walau tanpa itu, penonton pemula yang baik hati dan hapal Pancasila seperti saya, yang tidak pernah diperingatkan akan efek psikisnya, juga masih bisa menikmati.

Film ini berkisah tentang empat anak (Stan Marsh, Kyle Broflovski, Eric Cartman, dan Kenny McCormick) yang menyusup ke dalam penayangan film khusus dewasa. Terrance dan Phillip dua aktor Kanada dalam film tersebut terus menerus mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat empat sekawan itu meniru. Pada akhirnya, ibu mereka meminta kepada pemerintah Amerika untuk menyatakan perang melawan Kanada karena dianggap telah merusak moral anak-anak mereka. Perang hanya karena film itu ibarat ibu-ibu jambak-jambakan di Indomaret hanya gara-gara rebutan Tuperware diskonan. Tidak berguna, tapi videonya bisa viral bahkan sampai ditonton alien di planet Namex.

Saya kira South Park bukan hanya animasi yang mengajarkan anak-anak untuk memaki, lebih dari itu film ini seperti sebuah protes artistik kepada para orang tua kolot dengan pemikiran usang. Film ini berhasil menunjukan kritik dengan satir, gelap dan hiperbolis terhadap kebebasan berpendapat dan sensor, juga sindiran tentang isu-isu sosial dan politik.

Tidak semua lucu. Karena kebanyakan joke sangat erat dengan kondisi dan peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun tersebut, maka ada beberapa komedi yang sudah terlalu lawas. Ia tidak lucu bukan karena materinya tidak bagus, tapi tidak menemukan relevansi dan momentum. Tentu ada pengecualian, seperti perseteruan pembuat film ini dengan lembaga sensor Amerika MPAA, walaupun sudah lama berlalu tapi masih lucu. Sinisme dalam dialog Sheila Broflovski, Ibu dari Kyle, masih bermakna sampai sekarang, “Remember what the MPAA says; Horrific, Deplorable violence is okay, as long as people don't say any naughty words! That's what this war is all about!”

Di Indonesia, selama perjuangan mengemukakan pendapat masih dibungkam atau diatur dan dipilah-pilih berdasarkan siapa yang berkuasa, selama yang memakai lelucon Gusdur tentang polisi dipolisikan, maka film ini akan terus relevan.

Walaupun butuh kedewasaan untuk mencerna komedi dunia-akhirat di film ini. Saddam Hussein yang saat itu masih hidup diceritakan sudah meninggal dan ada di neraka bersama setan. Penggambaran Saddam dengan humor gelap sebagai setan yang homoseksual bisa jadi tidak memancing tawa dan sangat menyakitkan terutama bagi orang-orang yang tidak bisa membedakan Arab, Islam, dan kesalehan.

Kita tahu akan selalu ada korban dalam komedi, selalu ada ketersinggungan, simplifikasi, hiperbola dan stereotype. Tidak ada komedi yang bersih. Pilihan dan keputusan ada di tangan penonton, ingin menganggap film ini sampah atau bernilai seni. Apakah meneruskan menonton atau membuangnya ke tempat sampah. Di masa yang akan datang, akan lebih sulit menyensor segala macam tontonan. Keberhasilan sensor dan segala hiruk-pikuknya akan kembali kepada diri sendiri.

Akhirnya, walaupun banyak premis minor tentang berbagai isu yang diangkat, premis utama film ini sangat jelas, yaitu satire tentang menyalahkan orang lain terhadap apa yang terjadi pada kita. “Blame Canada” menjadi lagu yang bukan hanya menyindir orang yang tidak mau introspeksi dan segera menyalahkan pihak lain ketika sesuatu yang jelek terjadi pada mereka, namun juga sindiran terhadap arogansi Amerika.

Menarik karena walaupun dengan gaya yang kasar, film ini diisi deretan lagu-lagu sarat parodi lucu  yang easy listening. Sayangnya, bukan "Blame Canada" yang mendapat nominasi Academy Award yang mengganggu telinga saya sampai sekarang; adalah alegori “Uncle Fucka”. Saya tidak akan menyalahkan Kanada atau para pembuat film ini atas lagu umpatan yang tidak bisa saya nyanyikan kepada atasan saya di kantor karena alasan kesopanan tapi terus mengiang-ngiang dalam telinga, bukan karena saya tidak mau tapi terlalu jauh untuk menyalahkan mereka, yang dekat dan terjangkau adalah orang yang merekomendasikan film ini.

Yes, it will be easier to blame Bernice! Blame Bernice, Uncle Fucka!

Sabtu, 01 Agustus 2020

Pernikahan, Ilham dan Detik-Detik yang Menghancurkan

“Nuhun pisan, Bang!” katanya ketika saya ingin menyalami dan menyelamati di pelaminan.

“Bangsat lu, Ga!” respon saya sambil memeluknya.

Kami tertawa bersama.

Itu hari pernikahan kawan saya Rangga. Dalam usia yang belum menginjak 30, ia sudah menikah dua kali. Tentu tidak ada yang pantas dibanggakan akan perkara itu, kecuali anda Vicky Prasetyo.

Seminggu sebelum itu, saya main ke rumahnya, kunjungan pertama kali ke sana. Sore itu cerah dengan langit biru yang jernih, saya tiba di depan rumahnya ketika ia sedang siap-siap mengayak pasir. Di atas pintu depan rumah tertera plat bertuliskan KPR-BTN, tanpa nomor RT/RW.

“Sambil ngaduk ya, Bang,” Ia sedang merenovasi rumah bagian belakang. Saya duduk di kursi kecil, menemaninya mengaduk pasir dan semen sambil bercerita banyak hal. Terakhir kami bertemu sekitar 3 tahun yang lalu, banyak cerita yang terlewat.

Ia bercerita kalau setelah kegagalan pernikahannya yang pertama, sempat trauma dan enggan menikah lagi. Status duda membuatnya minder menjalin hubungan yang serius.

“Lu pernah bilang trauma, trus apa yang buat lu yakin sekarang?” tanya saya sambil menyeruput kopi dingin. Ia memutuskan untuk menikah lagi kali ini, dengan wanita yang baru dikenalnya, bahkan belum setahun.

“Gak tau, Bang.” Katanya sambil menyendok adukan ke dalam ember. Ia berhenti sebentar, duduk kemudia meneruskan, “Hidayah, mungkin.”

“Sama yang dulu juga lu bilang gitu,” saya tertawa.

“Iya, ya?” ia menggaruk kepala dan ikut tertawa, “ya pokoknya gitu lah, Bang.”

Walaupun tidak lengkap, ia pernah bercerita tentang kisah cintanya dari semenjak kuliah. Hubungannya dengan teman kuliah yang ia pacari beberapa tahun, yang masing-masing keluarga sudah pernah bertemu, akhirnya gagal dan putus. Tentu ia tidak menyerah, ia mencari pengganti dan memilih satu dari dua mantan, yang kemudian berlanjut pada pernikahan. Sayang pernikahan itu tidak berlangsung lama. Ia bercerai. Terpuruk. Sampai kemudian ia menjalin hubungan dengan yang berbeda agama, yang akhirnya juga kandas. Dan sekarang, ia menikah untuk yang kedua kali.

Pernikahan dilaksanakan tanggal 19 Juli. Karena masih masa pandemi, maka acara dilangsungkan dengan sederhana. Tanpa pesta mewah atau tamu undangan, hanya dirayakan dua keluarga mempelai. Tanggal 18 Juli, sehari sebelum hari pernikahan, saya menelponnya. Meminta alamat lokasi acara.

“Besok jadi jubir ya, Bang.” ia meminta dari seberang telpon. Sebelumnya memang ia sudah meminta, tapi belum pasti dan akan dikabari lagi, tentu bukan sehari sebelum hari H.

“Serius, Ga? Lah gua kira gak jadi. Emang gak ada keluarga yang bisa?” tanya saya.

“Gak ada, Bang. RT di sini juga baru, jadi gak mau.”

Dan begitulah saya, menjadi juru bicara mempelai pria dengan pemberitahuan yang sangat mendadak. Itu pengalaman pertama saya sebagai jubir pengantin. Di dalam kendaraan menuju lokasi, saya berkali-kali mengusap-usap tangan karena gugup, sementara Rangga yang menjadi calon mempelai kelihatan sangat santai. Maka “bangsat” adalah kata yang sangat cocok untuk menggambarkan keadaan itu. Seingat saya, ketika menikah saya tidak senervous itu.

Singkat cerita, alhamdulillah acara pernikahan berlangsung lancar sampai akhir. Peran yang diberikan juga bisa saya lakukan dengan baik, walau tidak istimewa. Saya senang bukan hanya karena tidak ada kendala tapi juga karena akhirnya kawan saya bisa move on dan menemukan keberanian untuk berumah tangga kembali.

Ia bilang pernikahan ini terjadi karena Hidayah, atau mungkin lebih tepat kalau saya sebut Ilham, atau Petunjuk Allah yang timbul di hati. Petunjuk ini bisa bermacam-macam, bisa melalui mimpi, bisikan di hati, tanda, isyarat dan hal-hal lain. Namun Petunjuk Tuhan pada sebuah pilihan adalah satu hal, dan mempertahankan pilihan itu adalah hal lain. Manusia tidak bisa mempersalahkan petunjuk yang ia anggap dari Tuhan atas sebuah pilihan, jika dikemudian hari pilihan itu diketahui menjadi pilihan yang buruk. Karena bersandar dan pasrah hanya pada “Petunjuk Tuhan” saja tidak cukup. Manusia juga diberikan tanggungjawab untuk berusaha dan belajar, ditimpa cobaan dan musibah untuk menguji keimanan. Maka seperti banyak orang katakan, memulai itu mudah, yang sulit adalah mempertahankan.

Saya mengenal Rangga sebagai anak yang baik, mudah bergaul, senang membantu, asik diajak bercanda, dan banyak hal baik lain. Ia bilang saya adalah orang yang rajin belajar, tapi sejujurnya saya banyak belajar dari perjalanan hidupnya. Darinya saya belajar bahwa butuh bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan, dan hanya butuh beberapa detik untuk menghancurkannya.

Kenangan seindah atau seburuk apapun pada akhirnya hanya ada dalam ingatan. Terhadap pengalaman yang buruk kita menyesal, bertanya mengapa hal itu bisa terjadi, mengapa kita bisa melakukan hal seburuk itu. Pada pengalaman yang baik kita menjaga, terkadang mengenangnya, walau tidak sempurna. Bahkan kenangan-kenangan baik bisa hilang tak bermakna. Orang-orang yang pernah dekat, sekarang bisa menjadi sangat jauh atau dibenci, yang nomor telpon, social media dihapus, bahkan namanya tidak ingin didengar. Perasaan yang tidak dikendalikan pikiran, bisa membuat orang bertindak kejam. Sekejam melupakan dan menganggap seseorang tidak pernah ada. Semua sikap itu tentu pilihan. Sebagaimana kemampuan memaafkan dan merelakan juga sebuah pilihan.

Umur Rangga memang di bawah umur saya, namun saya percaya bahwa kedewasaan itu adalah tentang pelajaran yang kita dapat dari pengalaman, bukan tentang seberapa banyak ulang tahun yang dirayakan. Einstein pernah bilang, “Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.” 

Saya tidak mengatakan kawan yang paling tahu apalagi mengerti Rangga. Walaupun begitu, sebagai kawan, saya senang jika bisa membantu. Saya senang bisa menjadi bagian dari pernikahannya. 

Sambil menunduk, saya mengangkat tangan mengamini doa yang dipimpin oleh penghulu.

“Allahumma alif baynahuma, kama allafta bayna adam wa hawa, wa allif baynahuma kama allafta bayna Yusuf wa zulaykha, wa allif baynahuma kama allafta bayna ‘ali ibni abi Talib wa fatimatazahra, wa allif baynahuma kama allafta bayna sayyidina Muhammad wa khadijatalkubra,”

“Ya Allah, satukan, lembutkan hati mereka berdua seperti Engkau menyatukan Adam dan Hawa, seperti Yusuf dan Zulaikha, seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, seperti Sayyidina Muhammad dan Sayyidah Khadijah al-Kubro.”

Saya mengamini dan dengan sepenuh hati menambahkan, “Baarakallahu lakuma wa baarakaa alaikuma wa jamaa bainakumaa fii khoir. Mudah-mudahan Allah memberkahi kalian berdua, dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan.”

Allahumma aamiin.

Selasa, 28 Juli 2020

Perasaan Ini Tidak Pernah Bisa Sederhana

Aroma garam pada siang yang cerah berganti suara ombak dihembus angin selatan yang tenang. Langit berpendar bulan separuh tertutup kabut dan mendung, sebuah bintang bersinar tangguh namun akhirnya kalah, redup dan menyerah. Di kamar ini hanya ada kita, dan aku masih menatap anak-anak yang tertidur pulas karena letih bermain air seharian, sebagian seprai yang mereka tiduri basah karena ompol.

Tadi sore udara dingin bertiup menerbangkan raksi pokok kayu, menggigilkan kulit dingin sehabis terbasuh air. Cericit burung di dahan-dahan yang tinggi beriringan dengan derau jeram aliran sungai yang beriak karena tangan-tangan kecil menghangatkan suasana. Kecipak air dan tawa mereka menggema seperti suara peri di pucuk-pucuk daun-daun hutan.

Sinar mentari pagi merambat, menyapa embun di puncak pohon pinus, kabut di jalan mulai naik ke atas bukit kemudian hilang ditelan langit. Aku membuka jendela lebih lebar mempersilahkan udara masuk, mengamati anak-anak yang bermain di bawah naungan atap tingkap. Kamu sudah terjaga, memeluk selimut putih yang kusut penuh ruas, menemani Aira yang masih belum mau beranjak dari kasur.
Dalam seluruh kesadaran itu, aku menghayati waktu yang berjalan perlahan.

Pada kenangan di hamparan masa yang terus terbentang, kita hanya sebutir pasir. Dari sejak kita pergi ke Majalengka 11 tahun yang lalu, waktu seperti bergegas cepat, menacapkan tapal sejarah dan terus melaju. Walaupun ia selalu berada di belakang dan tidak pernah berhasil mengejar kita yang sekarang. Kita melihatnya sesekali dalam album kenangan berwarna lusuh penuh corak kekuningan pada ingatan yang semakin rapuh.

Apa yang kamu rasakan saat-saat itu? Dan apa yang kamu rasakan saat ini ketika mengenangnya?

Bahasa tidak akan punya cukup ungkapan dan selalu miskin untuk menggambarkan emosi. Karena tidak sama duka ketika kamu kehilangan dan kesakitan. Berbeda pilu ketika usiamu 5 dan 23 bahkan terhadap sesuatu yang sama. Tidak persis lara yang kamu rasa dengan seekor rusa yang kehilangan anaknya. Lain kecewa yang kamu alami hari ini, kemarin, atau lusa. Ada jarak antara murammu di sini dan di tengah tempat antah berantah. Tambahkan perasaan lain dan kamu tidak akan menemukan nama dan kosakata untuk merangkumnya.

Kemudian apakah kamera bisa menangkap rasa? Bagaimanapun, video atau foto, tidak mungkin utuh mencakup dan menerjemahkan perasaan bahagia ketika kamu melihat pantulan senja jingga di air kolam bersama suara tawa anak-anak yang bermain air, atau perasaan tenang ketika kita berpelukan meringkuk di bawah selimut yang tebal sementara di luar kemah suara gemircik air dan udara dingin menusuk tulang, atau perasaan damai karena kebersamaan di rumah yang nyaman pada sebuah sore yang hujan ditemani kudapan hangat. Alat penangkap gambar itu memberi batas yang tentu lebih kecil dari sebuah realitas yang senyatanya, lebih kecil dari apa yang kita rasa di hati.

Bahwa rasa ini tidak bernama bukan karena ia tak bermakna, tapi karena kata tidak akan pernah bisa dan selalu gagal merangkum kemudian memberi istilah padanya. Bahagia, tenang, damai dan cinta tidak pernah sederhana.

Aku tahu, tidak ada cinta yang sempurna sebagaimana tidak ada penderitaan dan keputusasaan yang sempurna. Pada perasan-perasan yang berjalin dan berkelindan, kita menguji diri untuk saling menerima kekecewaan, merelakan kelalaian-kelalaian kecil, perdebatan-perdebatan kecil, kehawatiran dan kecemasan yang sesaat dibandingkan dengan langkah kita yang masih panjang. Kita saling membaca dan menekuni lika-liku dan keruwetan masing-masing. 

Terimakasih untuk sinisme, humor, perhatian, dan wangimu. Terimakasih untuk penghargaan, hadiah-hadiah, persahabatan, dan meruah rasa. Maka perasaanku padamu berubah, mencari ukuran yang tidak akan pernah cukup. Maka kerinduanku padamu berbunga menuju sesuatu yang tidak sempat sempurna. Renjana ini tidak akan menemukan wadah serasi dan terus mencari bentuk yang utuh sampai setiap degup jantung hening.

Apakah orang lain perlu tahu tentang gembira-rindu-puas-damai-baik-beruntung-cerah-sendu-hitam-biru-ungu tumpang tindih rasa ini? Jika kamu menghayatinya dalam hati, seperti kesadaranku saat ini, maka untukku sudah cukup. Anggapan orang lain menjadi tidak penting.

Hari ini, di hadapan perasaan dan kenangan itu, mari kita bersyukur sejenak, karena kita masih di sini, berpegang tangan dalam kesadaran.

Kamis, 23 Juli 2020

puisi untuk sapardi

ia meletakan sekuntum bunga di jantung puisi
di dalam sana ruh kita saling menyapa
pada usia yang setara

tak ada yang lebih duka
dari fana waktu

tak ada lagi cinta kayu kepada api
tak ada hari nanti atau hari ini

“hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu” *

aku menjadi ricik
karna mencintaimu
dan kau menjadi puisi
dalam wajah rembulan

-------------------------
* bait dalam puisi Hanya - SDD

Kamis, 09 Juli 2020

HARI KEBERUNTUNGAN SUSAN

Oleh: Nada Narendradhitta

Pada suatu pagi, Susan Si Tupai sedang mencari makan. Hari itu sangat gelap walau masih pagi, Susan mendongak, ia melihat sesuatu di langit, “Oh, itu seperti meteor bentuk hati yang diceritakan nenek.” ujarnya kepada diri sendiri. Meteor itu menyala seperti api, berwarna pink, ekornya seperti buntut rubah, melayang dari barat ke timur, ke arah matahari yang tertutup awan. Matahari yang tertutup awan membuat meteor itu lebih kelihatan.

Tiba-tiba Lily Si Kelinci datang, “Hai Susan kamu sedang apa!?”

“Oh! Lily kau membuatku kaget!” Susan yang sedang bengong memandagi langit berseru sebal.

“Hehehe, maaf Susan” jawab Lily sambil tertawa, tawanya terdengar lembut.

“Ngomang-ngomong...” kata Susan.

“…Langit gelap sekali ya,” Lily melanjutkan.

“He-eh. Kamu lihat meteor bentuk hati gak?” tanya Susan agak tidak sabar.

“Mmm kurasa aku tidak melihatnya” jawab Lily.

“Haloo kalian sedang apa?” tanya Peter Si Kura-Kura.

“Kakek lihat meteor bentuk hati gak?” tanya Susan.

“Oh ya! Jam berapa? Katanya binatang yang melihat itu akan beruntung,” kata kakek Peter.

“Iya aku tadi pagi melihatnya, baru saja Kek!” kata Susan.

“Wow kau beruntung, Sus” kata Lily mulai mengerti.

Susan mengangguk tak acuh, ia mendongak matanya tertuju pada buah kenari besar di pohon.

Malam harinya Susan tersentak bangun karena ia haus. Dia pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat, lalu ia melihat sesuatu, terang benderang di hutan. Dari rumah pohon yang besar, ia melihat melewati jendela dapur yang besar. Susan penasaran Lalu ia keluar mencari sumber terang itu, dia memanjat dari pohon ke pohon, dan apa yang Susan lihat?

Yang dia lihat adalah… Bintang!!

“Apa yang terjadi kenapa kamu di sini?!” tanya Susan penasaran.

“Aku jatuh.” Kata bintang itu, “Aku ingin kembali ke angkasa.”

“Mmm sepertinya aku bisa bantu kamu” kata Susan sambil berpikir, “Eh kamu tungu di sini dulu ya,” kata Susan lalu pergi.

Lima menit kemudian Susan kembali lagi membawa sesuatu yang cukup besar, “Ini adalah balon udara buatanku sendiri” kata Susan, “Kamu akan bisa terbang menggunakan ini…”

“Ooh kamu baik sekali!” seru sang bintang, “Ini hadiah untukmu.”

Si Bintang mengubah Susan menjadi… Ratu!! Ratu Bintang, sejak saat itu Susan tinggal di atas awan, dan saat Susan ingin bermain dengan temannya dia akan turun lagi ke hutan, dan kembali ke awan sesudah bermain.

Sabtu, 13 Juni 2020

Emma, Abby dan Tentang Cerita-cerita Cinta

Saya dan Abby ada dalam satu ruangan, masing-masing duduk di kursi dengan sebuah meja memisahkan kami. AC dan Kipas Hexos menyala. Abby meletakan hanphone dan rokok di atas meja, kemudian mulai bercerita. Cerita tentang kisah cintanya. Ia bilang saya adalah orang terakhir yang diceritakan diantara kawan-kawan kami yang lain.

“Jadi apa saran lu buat gua?” Abby bertanya setelah selesai menceritakan proses mulai dekat dengan Emma —yang juga kawan saya— sampai akhirnya menyatakan perasaan kepada wanita itu.

“Gentar gua kalo nyuruh ngasih saran,” saya menjawab cepat.

“Hampir semua orang yang gua minta saran, bilang supaya jangan nyakitin dia. Gak ada satupun yang nyaranin dia, buat gak nyakitin gua. Dikira gua gak punya hati kali.”

Dan kami tertawa bersama.

Emma dan Abby baru beberapa minggu jadian. Seperti layaknya orang yang sedang jatuh cinta, Abby menceritakan betapa spesialnya Emma, betapa unik, baik dan manisnya dia. Sementara Emma juga menceritakan hal yang sama tentang Abby. Ia menceritakan betapa sayang Abby kepadanya, betapa baik dan banyak kesamaan mereka; film, warna, selera makanan, tangan yang memakai jam dan banyak lagi.

“Gua ngerasa beda banget pacaran sama dia,” Emma bercerita suatu waktu, “Kayak, asik aja gitu,”

“Asiknya gimana?” Saya penasaran.

“Gak tahu. Kayaknya emang gua lebih cocok sama orang yang lebih tua deh.”

"Yang lebih dewasa maksud lu," Saya menafsirkan.

Emma dan Abby merasa cocok satu sama lain dan ingin hubungan yang serius. Hal-hal yang mereka ceritakan adalah hal yang biasa terjadi ketika awal-awal pacaran. Bagi saya kisah mereka seperti kebanyakan cerita cinta yang saya tahu. Saya pernah mengalaminya, dan sering menyaksikan terjadi pada kawan-kawan saya, atau menghayatinya lewat “Ada Apa dengan Cinta?”

Bukan saya meremehkan kisah mereka, justru saya menghargai dan seperti bisa merasakan kembali rasa itu. Tentang kegugupan ketika mengatakan cinta untuk pertama kali, tentang pengakuan diam-diam, debar di dada, kupu-kupu dalam perut, lagu-lagu cinta yang kembali jadi punya arti, perasaan senang dan senyum yang tak henti-henti, menjaga dan memperlihatkan hal-hal baik, menyembunyikan hal-hal buruk, melakukan kebohongan-kebohongan kecil serta hal-hal yang menyenangkan lain.

“Gua belum ngerasa pantes ngasih saran. Hidup sendiri aja belom bener,” kata saya ke Abby.

“Gua gak minta saran yang macem-macem. Kasaih saran yang normal aja.” sambil menghembuskan asap rokok, Abby masih meminta.

Saya kagum dengan kerendahhatiannya. Secara umur, ia lebih tua, secara pengalaman dan pergaulan tentu ia punya lebih banyak, jadi saya tidak tahu saran apa yang sebenarnya diharapkan.

Saya berpikir sejenak.

Menyarankan untuk tidak menyakiti pasangan membuat saya gentar, karena secara langsung nasihat itu menohok diri sendiri. Lagipula, tidak menyakiti adalah pesan yang abstrak, karena ukurannya tidak jelas. Apa yang dimaksud “menyakiti”? Dan apakah manusia bisa tidak menyakiti manusia lain selama-lamanya? Pesan itu mengingatkan saya pada janji Watanabe untuk tidak pernah melupakan Naoko dalam Norwegian Wood – Haruki Murakami.

Saya mengenal Emma lebih lama daripada saya mengenal Abby. Saya ikut menyaksikan ketika Emma jatuh ke jurang cinta yang paling dalam, saya ada di sana ketika akhirnya ia patah hati yang paling remuk, saya mendengarnya menangis, memahami gugatan dan pemberontakannya untuk melepas jilbab. Namun pada akhirnya, —karena segala sesuatu pasti punya akhir— sekuat tenaga ia bangkit, dan sekarang ia jatuh cinta lagi. Saya kira Abby juga punya kepahitan yang sama. Ia adalah duda beranak satu.

Mereka adalah orang-orang yang dipertemukan trauma. Patah hati memang meninggalkan trauma, sekecil atau setipis apapun. Bisa berwujud kecemasan atau ketakutan. Tidak jarang membuat pandangan hidup menjadi buram. Satu hal yang mereka pahami, bahwa mereka tidak merencanakan hal-hal buruk terjadi kepada mereka sebelumnya. Tentu, tidak ada orang yang merencanakan apalagi mengharapkan hal itu akan terjadi lagi. Saya pribadi berharap hubungan mereka bisa berlangsung panjang.

Ilmu pengetahuan berkembang, begitu juga ilmu pengetahuan tentang bagaimana menjalin hubungan. Gottman, peneliti dan direktur eksekutif dari Relationship Research Institute, mengklaim bahwa hanya 3 jam dengan pasangan sudah cukup baginya untuk memprediksi apakah mereka akan tetap bersama di masa depan (3-5 tahun) dengan akurasi lebih dari 90%. Saya membaca Gottman dan saran-saran untuk memperkuat hubungan, namun saya tidak bisa memprediksi apapun di masa depan karena manusia adalah mahluk yang kompleks. Di luar para peneliti dan para relationship expert itu, saya juga belajar banyak dari kawan-kawan.

Saya punya beberapa kawan yang dengan tulus menceritakan kisah cinta mereka, dengan segala romansa dan masalah-masalahnya. Sebagai penikmat cerita, saya selalu senang mendengarkan. Cerita mereka bahkan sering menjadi inspirasi tulisan. Karena sejatinya mengamati manusia adalah pekerjaan penulis. Hemingway, penulis peraih Nobel itu bilang, "I like to listen. I have learned a great deal from listening carefully. Most people never listen." Walaupun sebagai orang yang tidak terlalu punya banyak teman, belakangan saya juga kaget sendiri tentang beragam cerita-cerita mereka.

Tentu tidak semua cerita cinta yang saya dengarkan berisi baik-baik saja. Beberapa kawan bercerita tentang masalah-masalah; sex before married, perselingkuhan, tidak ada restu orang tua, perceraian, kematian pasangan, perbedaan agama, perasaan yang hilang dan hal-hal yang tidak selesai.

Dari pengalaman dan pengetahuan mereka saya belajar bahwa seberapa mesra dan menggebu suatu hubungan di awal, gairahnya akan memudar dan sebaiknya ada perasaan lain untuk menggantikan.

Saya tidak ingin menyajikan pandangan yang muram tentang cinta, namun kita semua tahu bahwa cinta bukan sesuatu yang diam. Ia bergerak, tumbuh bahkan bisa mati. Pada jalur positifnya, cinta bisa menjadi energi yang menggerakkan, ia membuat seorang menjadi pribadi yang lebih baik.

Menutup tulisan ini, saya akan kembali mengutip Murakami.

Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu delapan belas tahun; dan gadis itu enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu tampan, dan gadis itu tidak terlalu cantik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti pada umumnya cenderung kesepian. Namun mereka percaya sepenuh hati bahwa di dunia ini ada pasangan hidup yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya pada mukjizat. Dan bahwa mukjizat bukanlah hal yang mustahil.

Suatu hari, si pemuda dan gadis itu tak sengaja berjumpa di ujung jalan.

“Luar biasa,” ujar si pemuda. “Aku sudah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak mempercayai ini, tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

“Dan kau,” balas gadis itu. “Kau adalah pemuda yang 100% sempurna untukku, persis seperti pemuda yang kubayangkan selama ini. Seperti mimpi rasanya.”

Mereka duduk di atas kursi taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah hidup mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tidak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan masing-masing yang 100% sempurna untuk mereka. Betapa indahnya menemukan dan ditemukan oleh pasangan yang 100% sempurna untuk kita. Sebuah mukjizat, sebuah pertanda.

Namun, saat mereka duduk dan berbincang, masih ada sedikit rasa ragu yang menggantung di dada: apa mungkin impian seseorang terkabul begitu saja dengan mudahnya?

Maka, ketika keduanya terdiam, si pemuda mengambil kesempatan untuk berkata kepada gadis itu: “Mari kita uji diri kita—sekali ini saja. Jika kita memang pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka di suatu saat, di suatu hari, kita pasti berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka kita akan menikah saat itu juga. Bagaimana?”

“Ya,” kata si gadis. “Itu yang harus kita lakukan.”

Kemudian mereka berpisah. Si gadis melangkah ke arah timur, sementara si pemuda ke arah barat.

Meski begitu, proses uji itu sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, karena mereka memang benar pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain—dan pertemuan awal mereka adalah sebuah mukjizat. Tapi mereka tak mungkin mengetahui semua ini di usia belia. Gelombang takdir yang dingin dan tak pandang bulu terus membuat mereka terombang-ambing tanpa akhir.

Pada suatu musim dingin, si pemuda dan si gadis menderita sakit flu yang terjangkit di mana-mana. Setelah dua minggu terkapar tanpa daya, mereka pun lupa terhadap tahun-tahun remaja mereka. Ketika mereka tersadar, ingatan mereka sama kosongnya seperti celengan baru.

Keduanya adalah individu yang cerdas dan ambisius; dan dengan usaha keras mereka berhasil membangun hidup mereka hingga menjadi sosok terpandang di masyarakat. Syukurlah, mereka juga menjadi warga yang taat peraturan dan tahu caranya naik kereta bawah tanah tanpa tersesat; yang sanggup mengirimkan surat dengan status kilat di kantor pos. Dan mereka juga sanggup jatuh cinta, terkadang cinta itu mengisi hati mereka sampai 75% atau bahkan 80%.

Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga; mendadak si pemuda telah berusia 32 tahun dan si gadis 30 tahun.

Di suatu pagi yang cerah di bulan April, dalam perjalanan untuk membeli secangkir kopi, si pemuda melangkah dari arah barat ke timur, sementara si gadis, dalam perjalanan ke kantor pos, melangkah dari arah timur ke barat. Keduanya menelusuri pinggiran jalan yang memanjang di sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo yang bernama Harajuku. Mereka saling melewati satu sama lain tepat di tengah jalan. Ingatan mereka kembali samar-samar dan untuk sesaat hati mereka bergetar. Masing-masing merasakan gemuruh yang mendesak dada. Dan mereka tahu:

Dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku.

Dia adalah pemuda yang 100% sempurna untukku.

Namun, sayang, gema ingatan mereka terlalu lemah; dan pikiran mereka tak lagi jernih seperti empat belas tahun lalu saat pertama kali berjumpa. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, mereka melewati satu sama lain begitu saja, hilang di tengah keramaian. Selamanya.


(On Seeing the 100% Perfect Girl One Beatiful April Morning - Dikutip dari sini)


Seperti karya sastra yang baik, cerita itu punya banyak makna. Apa yang orang dapat dari sebuah karya terkadang berbeda satu sama lain. Murakami tidak menyuapi kita tentang norma-norma, tapi lebih dalam, ia menumbuhkan kesadaran dan membuat kita merenung kemudian bertanya kepada diri sendiri. Pada saya pertanyaan itu berupa; apakah ada jodoh yang 100% cocok? Jika itu ada, bagaimana kita tahu? Apakah kita berani untuk ambil segala resiko, atau malah terlalu gegabah dan sombong untuk pasti bisa bersamanya?

Itu pertanyaan-pertanyaan untuk saya. Bagi orang lain, pertanyaan-pertanyaan itu bisa berbeda tergantung latar belakang dan pengalaman hidup mereka. Maka saya selalu pada posisi tidak percaya diri jika diminta memberi saran, karena pengalaman dan latar belakang orang berbeda-beda. 

“Tawakal.” Saran saya ke Abby akhirnya. Apa boleh buat, ia sudah dua kali meminta.

“Apaan tuh?” Abby mengernyitkan dahi.

“Di Katolik mungkin juga ada konsep itu,” saya menjelaskan.

Sebagai seorang kawan, saya senang melihat mereka bahagia. Cara menjalin hubungan harmonis tidak diajarkan di sekolah. Oleh karenanya, butuh kerendahatian, bahkan waktu seumur hidup untuk belajar mengerti dan memahami satu sama lain.

Saya percaya cinta akan menuntun mereka.