Halaman

Tampilkan postingan dengan label Islam dan Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam dan Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

Pedagang Batu dan Pak Haji

Seorang pedagang ulekan batu duduk bersandar di tembok serambi masjid pada suatu sore yang teduh. Peluh masih menetes di wajahnya, sementara pundaknya tampak pegal setelah seharian memikul dagangan yang berat.

Kepada kakek tua penjaga masjid, ia mengeluh lirih, “Ini hari yang sangat melelahkan, Pak Haji. Saya berjalan puluhan kilometer, tapi belum satu pun ulekan batu saya laku.”

Kakek tua itu tersenyum ramah. “Minumlah dulu, Nak.” Ia mengambilkan segelas air mineral dan menyerahkannya. ”Lanjutkan ceritamu.”

Pedagang itu meneguk air itu perlahan, sebelum kembali berkisah tentang perjalanan panjangnya dari kampung ke kampung, tentang panas yang menyengat, tentang beban batu-batu itu di punggungnya.

Kakek itu mendengarkan tanpa menyela. Setelah suara pedagang itu melemah, kakek tua itu berkata lembut, “Sepertinya pikiranmu lebih lelah dibanding tubuhmu.”

Pedagang itu mengangguk.

“Ya, sepertinya begitu.” Ia menghela nafas, sedetik kemudian ia bertanya, “Apa bapak punya amalan yang bisa meringankan beban saya?”

Kakek tua itu tersenyum, lalu bercerita tentang Fatimah binti Muhammad, putri Nabi ﷺ, yang suatu hari mengadukan kelelahan pekerjaannya kepada ayahnya. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan satu amalan sebelum tidur:

”Bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.”

(HR. Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2727)

”Itu amalan yang dulu diberikan Nabi kepada putrinya,” ujar kakek itu. “Cobalah, Nak.”

Pedagang ulekan itu bertanya pelan, ”Bisa Bapak jelaskan faidah dan arti bacaan itu?”

Kakek tua itu mengelus janggut putihnya, lalu menjawab, ”Kelelahan itu bukan hanya ada tubuh, tapi terlebih ada di pikiran. Bila pikiranmu tenang, tubuhmu akan ikut ringan. Dan ketenangan datang bila hati selalu ingat Tuhan.”

Ia melanjutkan dengan tenang, ”Tasbih mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu. Ia tak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Tahmid mengajarkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kesulitan. Bersyukur membuat nikmat bertambah. Takbir mengingatkan bahwa sebesar apa pun masalahmu, Allah tetap Yang Maha Besar. Ia tidak meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya. Dan Ia Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.”

Pedagang itu menatap ulekan batu di sampingnya. ”Bagaimana saya bisa bahagia, Pak Haji, kalau kerja saya hanya tukang batu? Bagaimana saya bisa bahagia kalau saya terus lelah?”

Kakek tua itu terkekeh pelan, ”Lebih melelahkan mana, tukang becak atau manajer bank?” tanyanya dengan nada retoris. Pedagang itu tahu bahwa itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

”Kelelahan itu soal cara pandang,” lanjut kakek itu. “Jika kau anggap pekerjaanmu berat, seluruh tubuhmu akan turut memberat. Tapi bila kau ikhlas dan menerimanya sebagai jalan hidup, maka seluruh semesta akan membantu membuatnya ringan. Beban terletak di pikiran dulu, baru turun ke pundak.”

Kakek tua menatap lembut pemuda itu lalu bertanya, ”Menurutmu, apa yang membuatmu bahagia?”

Pemuda itu menjawab cepat, ”Sederhana saja. Saya ingin banyak uang. Kalau saya punya uang, anak istri saya pasti bahagia, dan saya jadi ikut bahagia.”

Kakek tua kembali tersebyum, ”Membuat bahagia anak dan istrimu adalah hal yang mulia. Namun sebelum kau melakukannya, pastikan dirimu punya kebahagiaan. Karena kau tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak kau punya.”

Pemuda itu tetap diam, sang kakek melanjutkan, ”Bahagia itu tidak datang dari luar. Jika kau mensyaratkan terlalu banyak hal untuk bahagia—uang, jabatan, pekerjaan, keadaan—maka kebahagiaanmu akan selalu jauh darimu. Sebab semua itu berada di luar kendalimu. Tapi kalau syaratmu sedikit, hatimu akan mudah bersyukur. Dan orang yang pandai bersyukur, dialah yang paling mudah bahagia.”

Pedagang ulekan itu terdiam lama, memandang ulekan batunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Dan sore itu, sebelum pulang, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai malam nanti, sebelum tidur, ia akan membaca dzikir yang diajarkan Nabi kepada Fatimah, bukan hanya untuk meringankan tubuhnya, tetapi terutama untuk menenangkan pikirannya.






Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Sabtu, 14 Februari 2026

Menikmati Semua Hal yang Dibolehkan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bercerita, ”Bapak saya itu sering mengajarkan, kalau ada hal-hal yang mubah, yang enggak maksiat, ya nikmati saja. Karena orang itu sampai cari kesenangan lewat maksiat, karena enggak bisa menikmati sesuatu yang dibolehkan Allah. Jadi, penting menikmati yang dibolehkan Allah itu.”

”Saya dulu itu janggal melihat Bapak, apalagi Mbah Mun, guru saya. Beliau itu sering guyon, sering ceria. Kadang semalaman gojlok-gojlokan sama teman-temannya. Terus beliau cerita, ’Banyak orang yang malam ini berjuang untuk tidak dugem, tidak maksiat.’ Itu kalau berjuang sendiri berat. Kalau asyik jagongan, makan-makan, masak-masak, itu terus asyik.”

”Sebab itu, di antara konsep Qur’an itu qul bi fadlillahi wa birahmatihi fa bidzalika falyafrahu


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
QS. Yunus (10): 58

Orang itu harus asyik dengan hal-hal yang dibolehkan Allah. Itu sebabnya saya menyaksikan sendiri, guru-guru saya, Bapak saya, Abi Quraish, semuanya orang-orang yang ceria. Karena bisa ceria dengan hal yang enggak maksiat itu luar biasa. Apresiasi Allah Ta’ala itu luar biasa. Sampai Imam al‑Ka‘bī dalam usul fikih menjelaskan, mubah dikatakan mubah itu keliru. Katanya, mubah itu wajib.”

”Karena ma min mubahin illa wayatahaqaqu fihi tarqu haramin, fayalzamu minas sukun tarqul qatli wa min sukut tarqul qodf.

ما مِنْ مُبَاحٍ إِلَّا وَيَتَحَقَّقُ فِيهِ تَرْكُ حَرَامٍ، فَيَلْزَمُ مِنَ السُّكُونِ تَرْكُ الْقَتْلِ، وَمِنَ السُّكُوتِ تَرْكُ الْقَذْفِ.

"Mubah, sesuatu yang boleh, hakikatnya adalah wajib. Karena ketika kita melakukan mubah, artinya meninggalkan keharaman. Sementara meninggalkan haram itu adalah wajib.”

Jika Tahlilan Itu Baik, Mengapa Para Sahabat Tidak Melakukannya?

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, ”Maka orang-orang di luar sana yang mengatakan, ’Andaikan tahlilan itu baik, pasti dilakukan oleh para sahabat,’ itu adalah logika yang keliru. Sahabat tentu tidak mungkin menahlili Nabi Muhammad, apalagi berdoa, in kaana musi’an. Masa mendoakan nabi pakai andaikan ada keburukan, tentu itu tidak benar. Nabi adalah manusia terbaik.”

”Jadi yang paling penting adalah bahwa dalam tahlil, kita tidak meminta kepada mayit. Tujuan kita datang ke kuburan adalah untuk mendoakan, dan memohonkan ampunan bagi mayit, bukan meminta sesuatu dari mereka. Maka tidak tepat jika dianggap sebagai perbuatan syirik atau kufur.”

”Kalau dilihat dari jauh lalu disimpulkan macam-macam, itu bukan dasar yang jelas untuk berfatwa. Fatwa tidak bisa hanya berdasarkan asumsi atau pengamatan sepintas.”

”Oleh karena itu, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa mazhab kita benar. Bahwa tahlilan di kuburan bukanlah perbuatan kafir, karena kita tidak meminta kepada mayit, justru kita mendoakan mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka.”

Surah Tabarok dan Potensi Kerusakan Bumi

Dalam sebuah pengajian Gus Baha bercerita, ”Kenapa surah Tabarok itu spesial? Di situ manusia diingatkan oleh Allah Taala: a amintum man fis-samā`i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa iżā hiya tamụr

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Kok kamu hidup di bumi tenang-tenang saja? Bisa saja bumi ini tamur atau likuifaksi. Semua tafsir mengartikan tamur itu tatoribu wa tatafiu fauqokum: bumi itu bergelombang, menggeliat, likuifaksi, kemudian bumi ini di atas kamu.”

اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ

”Terus potensi lagi, kata Allah: ayursila alikum hasiba: Apa juga kamu merasa baik-baik saja ketika Allah memutuskan benda-benda langit jatuh ke bumi? Terakhir, Allah juga mengingatkan bagaimana sistem bumi yang bisa menyerap air. Harusnya bumi itu enggak ada air karena bumi itu khasnya menyerap air. Qul aroitum in asbaha maukum guron famay ya'tikum bima main: Bagaimana kalau bumi ini tahu-tahu menghisap semua air, kemudian kita enggak menemukan air? Kamu bisa apa, siapa yang bisa mendatangkan air?”

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ اَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرًا فَمَنۡ يَّاۡتِيۡكُمۡ بِمَآءٍ مَّعِيۡنٍ

”Lalu dengan peringatan Allah seperti ini, orang disuruh hati-hati cara mengelola bumi ini. Makanya saya senang kalau ini ada gerakan-gerakan untuk menyelamatkan bumi. Kata ulama-ulama: tahkallaqu bi akhlakillah. Jadi Allah itu begitu bangganya ketika cerita menumbuhkan beberapa bijian, beberapa makanan, buah-buahan yang kamu butuhkan supaya kamu hidup di bumi ini nyaman, mata’alakum wlian’amikum.

”Sehingga dalam sebuah hadis diterangkan, enggak ada orang muslim, enggak ada manusia yang menanam pohon kemudian berbuah dan dimakan oleh manusia maupun binatang kecuali itu menjadi sedekah. Begitu juga ketika Allah mengkritik orang-orang yang jahat, yang tidak baik. Kata Allah: Wa idzaa tawallaa sa'aa fil ardi liyufsida fiiha wa yuhlikal harsa wannasl: Jadi ciri utama orang yang tidak baik itu adalah yuhlikal harsa wannasl: yang merusak tanaman, merusak tetumbuhan, merusak populasi.”

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Selasa, 07 Oktober 2025

Kita Membenci Orang Lain Hanya Karena Mereka Bukan Keluarga

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, "Cara berpikir Abu Al-Hasan As-Sadili itu begini: kebencian kita terhadap orang lain sering kali muncul hanya karena mereka bukan bagian dari keluarga kita. Coba kalau itu keluarga kita, pasti kita akan berpikir ulang.”

"Contohnya, kamu membenci seseorang karena dia tidak salat, mesti sebabnya karena dua: pertama, karena dia tidak salat, dan kedua, karena dia bukan anak kamu. Kalau itu anak kamu, kamu pasti akan beristighfar berhari-hari untuk dimaafkan Allah. Tapi kalau orang lain, kamu langsung menghakimi. Jadi pertanyaannya: apakah kamu membenci karena dia tidak salat, atau karena plus dia bukan anak kamu?”

“Begitulah cara berpikir Abu Al-Hasan. Kebencian terhadap maksiat itu wajar, kita semua pasti membenci maksiat. Tapi sering kali kita tidak adil dalam menyikapinya. Satu orang kita laknat, sementara yang lain kita doakan. Ujung-ujungnya, ada unsur kepentingan pribadi.”

“Kalau yang melakukan maksiat itu ada hubungannya dengan kita, misalnya keluarga atau orang dekat, kita mendoakannya agar diampuni. Tapi kalau tidak ada hubungan, kita langsung menghakimi dan mencela. Ini jelas tidak adil.”

Jumat, 03 Oktober 2025

Tuhan yang Memberi Makan Saat Kamu Lapar

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah menjelaskan, "Sebetulnya dalam banyak hal, hal-hal yang keseharian itu lebih prinsip ketimbang ide kita tentang hal-hal besar."

"Saya beri contoh, Allah itu Tuhan yang maha kuasa yang menguasai alam raya ini. Kadang-kadang menjelaskan dirinya itu hanya alladzi atamahum min ju*. Saya ini Tuhan yang memberi makan kamu saat kamu lapar, saat kalian lapar. Jadi untuk beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, kepada Allah, kamu yakin yang memberi makan kamu itu Tuhan."

"Apapun kecewanya kamu terhadap tetangga, terhadap negara, terhadap mertua, terhadap istri, itu kecewa kamu gak akan mati. Tapi kalau gak makan itu mati. Sehingga Allah mensifati dirinya kadang pakai keseharian. Alladzi atamahum min ju. Tuhan itu siapa? Yang memberi makan kamu ketika lapar."

"Tapi kamu untuk syukur tuh nunggu punya istri cantik, neriman, gampang diatur, membolehkan poligami. Terus empat istri itu nerima semua, loyal semua. Itu sombong betul. Mau syukur saja kok repotnya seperti itu."


---
*
الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ 

"Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut." — QS. Quraisy (106): 4

Jumat, 27 Juni 2025

Kita Semua Pernah Jadi Anak Muda yang Takut Terlihat Bodoh

Ketika Sam memberi kabar ingin naik angkot dari Stasiun Bekasi Timur ke rumah saya, tanpa pikir panjang saya langsung menelepon. "Udah di mana, Sam?"

"Di angkot K-11, Bang!" jawabnya dengan nada yang terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru pertama kali ke Stasiun Bekasi Timur.

"Mau ke mana?"

"Ke Terminal Bekasi. Nanti dari situ gue lanjut angkot ke Mustikasari."

Saya menahan tawa.

"Eh, Samsul! Itu dari stasiun ke terminal cuma 400 meter, jalan kaki juga sampe. Ngapain naik angkot?"

"Beda, Bang," jawabnya sok tahu, masih penuh percaya diri. "Itu Terminal Bekasi Timur. Gue mau ke Terminal Bekasi Kota."

Dan di situlah saya tidak tahan. Tawa saya meledak.

"Terserah lu dah, Sam. Ntar kalau nyasar, telpon aja ya. Gue jemput... sambil bawa tim SAR."

Seumur-umur tinggal di Bekasi, baru kali ini saya dengar ada yang nyebut “Terminal Bekasi Timur” seolah-olah itu adalah Peron 9¾ dalam Harry Potter yang diketahui oleh para penyihir dan saya hanyalah Muggle berdarah kotor. Dan Sam tentu saja, si darah murni yang pede tapi ceroboh, si Ron Weasley.

Satu jam kemudian, Sam muncul di depan rumah, ketika saya sedang mencuci motor di halaman. Mukanya kucel, langkahnya pelan.

“Nyerah gue, Bang. Akhirnya naik ojol…”

Saya kembali tertawa sambil mengajaknya masuk.
 

Petualangan random dan impulsif Sam sering kali membuat saya tersenyum, bukan hanya karena kekonyolannya, tapi karena dia seperti tayangan ulang hidup saya sendiri. Tidak ada yang lebih spontan daripada keputusan saya untuk menikah saat masih kuliah semester enam, di usia dua puluh empat tahun. Kalau manusia normal lulus kuliah dulu, baru menikah. Saya justru punya anak dulu, baru wisuda. Mungkin begitulah cara saya memandang hidup: bukan soal mengikuti urutan, tapi menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Seperti Sam, saya juga pernah ada di usia dua puluhan, penuh semangat, lapar petualangan, haus akan dunia luar, ingin menjelajah dunia, dan kadang bertemu dengan orang-orang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya ingat suatu hari, saya duduk di dalam bus antarkota di Stasiun Bekasi—bukan, bukan Bekasi Timur, haha. Seorang pria muda duduk di sebelah saya, pria muda biasa saja. Tapi yang terjadi selanjutnya membuat saya tercengang. Setiap kali pedagang asongan masuk, mereka menyapa pria itu dengan hormat, bahkan menyodorkan dagangan mereka untuk diambil gratis. Seperti ritual kecil, mereka lewat, menyapa, menyembah dalam bahasa tubuh, lalu berlalu.

Saya yang biasanya diminta beli oleh pedagang asongan dengan setengah dipaksa, mendadak jadi penumpang kelas sultan. Bukan karena status, tapi karena posisi. Saya duduk di sebelah orang yang diam-diam punya kekuasaan.

Karena penasaran, ketika bus mulai berjalan, saya bertanya. Pria itu menjawab dengan tenang, dan terlalu detail untuk ukuran orang biasa, bahwa dia adalah “Kang Mus”-nya Terminal Bekasi.

Seketika, saya merasa terlindungi dan terancam sekaligus. Terlindungi karena saya tahu siapa yang duduk di samping saya. Terancam karena wajahnya seperti gabungan antara ketua yakuza dan kesopanan Don Corleone dalam The Godfather. Ada karisma yang membuat semua orang tunduk, tapi tak satu pun tahu bagaimana cara berdamai dengannya.

Dan karena itulah, ketika saya melihat Sam hari ini, saya seperti melihat parodi dari diri saya sendiri. Sama-sama ingin mengalami hidup dengan sebenar-benarnya, tanpa filter, tanpa kepura-puraan, namun sering kali tanpa rencana. 

Petualangan yang kadang berakhir sebagai kekacauan kecil. Tapi saya tahu, seperti dalam hidup saya dulu, kekacauan itu hanya menunggu giliran untuk berubah menjadi lucu di masa depan, tragedi yang bermetamorfosis jadi komedi, jika diberi cukup waktu dan sudut pandang.

Dulu, saya suka naik Son Goku, si Honda Astrea 800, ke tempat-tempat baru tanpa arah, hanya ditemani semangat dan indikator bensin yang rusak. Kadang motor mogok, kadang saya kehabisan bensin dan uang, dan solusi paling masuk akal waktu itu adalah menitipkan motor di sekolah.

Sam juga pernah mengalami hal serupa: kehabisan uang dan motornya mogok di tengah jalan. Tapi yang dia lakukan jauh lebih ekstrem; dia menelpon damkar. Ya betul, Dinas Pemadam Kebakaran.


Sam adalah adik angkatan saya di kampus. Ia baru saja terpilih sebagai Ketua BEM dan datang untuk berdiskusi soal organisasi, juga sekalian meminjam tenda. Kebetulan, kami memang punya hobi yang sama: kemping dan naik gunung. Dan siang itu, di ruang tamu, di tengah es kopi dan ransel kusam yang robek di beberapa bagian, ia bercerita rencananya mendaki Gunung Gede Pangrango.

Dengan kelakuan randomnya, saya membayangkan Sam sampai di basecamp, duduk sebentar, buka ChatGPT, lalu mengetik: “Jalur tercepat summit Gede Pangrango naik kuda?”

Saya bisa membayangkan dia menyerahkan logistik ke porter sambil bilang, “Bawa sampai ke camping ground ya, Mang!”

Porter bertanya, “Ke Suryakencana?”

“Bukan, Mang. Jangan ngerjain saya! Dikira saya nggak tahu." Sam dengan percaya diri menjawab, "Ke Surya... Insomnia.”


Kami sama-sama anak pesantren. Entah mengapa, sesama santri seolah memiliki frekuensi batin tersendiri. Mungkin karena sejak kecil kami sudah jauh dari rumah, tumbuh dewasa tanpa banyak campur tangan orang tua, berusaha memahami sendiri segala hal tentang hidup, dan dengan pemahaman-pemahaman pribadi tentang jiwa dan kehidupan itulah yang menjadi acuan kami dalam menjalani hari.

Mungkin karena itu pula, kami lebih mudah berempati terhadap perjuangan orang lain, kuliah sambil bekerja, tidak betah diam di rumah, selalu ingin bergerak dan mencari makna. Bukan karena kami merasa lebih baik, tetapi karena hidup memang tidak memberi pilihan lain selain menjadi kuat.

Walaupun awalnya saya sempat mencium aroma keminderan dari Sam, terutama saat pertama kali kami ngobrol soal pondok, sambil menyeruput Pop Mie.

“Lu mondok di mana, Bang?” tanya Sam sambil meniup uap mie yang mengepul dari gelas.

“Annida Bekasi. Kiai Muhajirin,” jawab saya mantap. Lalu saya balik bertanya, “Lu sendiri, mondok di mana, Sam?”

Awalnya dia hanya geleng-geleng kepala, tidak mengaku, atau enggan menjawab. Tapi setelah saya desak pelan-pelan, dia mencoba mengelak, dan akhirnya malah blunder.

“Gue juga... pesantren. Di Bekasi,” katanya ragu-ragu.

Saya tersenyum. “Sebut nama pondoknya. Gak ada pesantren di Bekasi yang nggak gue kenal.”

Sam menunduk sebentar, seperti sedang beristighfar dalam hati. Akhirnya dia menyerah dan mengaku pelan, “Gue mondoknya di Rocek, Banten.”

“Oh ya? Apa nama pondoknya?” saya terus mencecar, penasaran.

Sam menatap saya sejenak, lalu berkata, “Pondok lu NU, ya, Bang? Nah... kalau pondok gue... musuhnya NU dah.”

Saya hampir tersedak mie karena tidak bisa menahan tawa mendengar jawaban polos itu.


Sam, Sam... kata saya dalam hati. Kita ini cuma beda metode penafsiran dalil, dan soal qunut di salat Subuh. Karena dalam pandangan saya, satu-satunya musuh NU itu ya ateisme.

Kalau memang begitu, saya jadi membayangkan Sam ikut halaqah bersama orang-orang berjenggot panjang yang meniru gaya Feuerbach atau Marx, duduk melingkar sambil mutholaah kitab Das Kapital, lalu wiridan penuh semangat dengan dzikir: “Agama adalah candu, candu, canduuu...”

Tidak ada yang lebih lucu dari bayangan itu.

Tapi juga, tidak ada yang lebih indah daripada menyadari bahwa di balik segala perbedaan, kita masih bisa duduk bersama, tertawa, dan menemukan kesamaan. Bahwa jika kita mau berbicara —bukan sekadar untuk didengar, tapi untuk saling mendengarkan dan memahami— kita mungkin akan terkejut oleh betapa banyaknya persamaan yang tersembunyi di balik label dan prasangka.

Persamaan hobi, bacaan, tontonan, pandangan, bahkan prinsip hidup, sering kali jauh lebih banyak daripada perbedaan-perbedaan kecil yang kerap dibesar-besarkan.

Kami sepakat bahwa tidak ada satu wajah tunggal untuk NU, ataupun untuk Salaf. Di dalamnya ada spektrum: dari yang paling progresif hingga yang paling konservatif. Mereka bisa saja berada dalam satu barisan, satu bendera, atau satu istilah, namun pikiran dan pendekatan mereka bisa sangat berbeda, bahkan saling bertentangan.

Maka, jangan berharap menemukan satu NU, atau satu Salaf. Karena yang tunggal hanyalah Islam itu sendiri, yakni kepasrahan kepada Tuhan, yang tidak bisa dimonopoli. Yang tunggal adalah kemanusiaan itu sendiri.

Sebagai sesama manusia, saya dan Sam punya banyak kesamaan, salah satunya dalam hal sastra. Pernah suatu hari, setelah saya membagikan puisi lewat status WhatsApp, Sam mengirim pesan, “Bang, gua mau nyampein sesuatu nih. Setiap kali gua liat lu, gua langsung keinget Zafran di film 5cm.”

“Wah, panggil gue Zafran mulai sekarang!” jawab saya sok keren.

Sam tertawa. “Gua dari kecil udah nonton 5cm, tapi baru kesampean naik gunung pas kuliah. Film yang pasti gua tonton dulu tuh: 5cm, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, AADC, Gie, Supernova. Pokoknya yang ada aroma-aroma sastranya lah.”

“Buset! Jadul bener tontonan lu!” saya merespons kaget. Beberapa film yang Sam sebut bahkan rilis sebelum dia bisa bicara, bahkan sebelum ia lahir.

“Iya juga sih,” katanya sambil nyengir. “Tapi gua suka karena ada sentuhan sastranya gitu, Bang. Dulu gua tuh sastrawan banget anaknya.”

“Lah, mana? Sini gua baca puisi-puisi lu,” kata saya penasaran.

“Duh, udah jadi suhuf-suhuf sekarang, Bang.”

“Suhuf? Umur 40 kayaknya bisa jadi nabi lu!” saya membalas sambil tertawa.


Kalau Sam bilang saya Zafran, maka saya bisa bilang Sam adalah Soe Hok Gie, keras kepala tapi penuh hati, berani mengambil risiko, berani disalahpahami, dan tidak pernah gentar hidup di tengah arus tantangan.

Gie adalah suara sunyi yang tak menunggu dukungan untuk bersuara. Sam pun begitu, kadang impulsif, kadang gegabah, tapi selalu jujur pada nuraninya. Dan justru di balik setiap kecerobohannya, saya melihat cermin kita semua: manusia biasa yang pernah bodoh, kadang bijak, sering salah, tapi tak pernah berhenti belajar.

Dan bagi saya, anak muda seperti itu, yang berani hidup dengan segala cacat dan keyakinannya, jauh lebih berharga daripada mereka yang sibuk tampak sempurna.


Kamis, 15 Mei 2025

Membaca & Menulis adalah Thoriqoh Guru Kita *

Assalamu’alaikum, generasi swipe up!

Perkenalkan, saya abang kelas kalian: Nailal Fahmi. Biasa dipanggil Nailal, atau Fahmi, atau kadang, “Bang, numpang WiFi, Bang!”.

Lulusan Annida tahun 2003, waktu gak ada satupun siswa yang punya hape. Dan kalau kalian pernah liat foto zaman dulu dan mikir, “Kok orang dulu bisa hidup tanpa kamera depan ya?”

Ya, kita emang sekuat itu.

Beberapa waktu lalu, Bang Fachri, Operator Sekolah multi talenta yang bisa ngerjain segala hal itu, tiba-tiba ngontak saya buat ngisi materi di acara Hari Buku Nasional. Saya seneng banget! Tapi apalah daya, abang kalian ini lagi kayak notifikasi yang gak bisa dibuka—ada, tapi gak bisa hadir. Jadi izinkan saya titipkan pikiran dalam bentuk tulisan ini. Baca pelan-pelan ya, ini bukan caption IG, bukan juga twitwar.

Meski abang gak bisa hadir secara fisik, semoga materi ini bisa bikin adik-adik semua makin cinta baca buku. Soalnya, Kiyai Fakhrudin pernah bilang, ”Thoriqoh-nya Syaikhuna, Kiyai Jirin, itu ya ngaji dan nulis.

Artinya, buat anak-anak Annida, membaca dan menulis bukan ritual akademik, tapi spiritual. Ini cara kita nyambung ke guru, bukan sekadar ngejar nilai. Ini jalan sunyi untuk meng-upgrade karakter dan spiritualitas.

Materi yang abang tulis ini adalah satu bentuk kesadaran bahwa Annida sangat peduli terhadap literasi siswa. Meningkatkan pemahaman terhadap literasi, terhadap buku bacaan, juga terhadap bahasa.

Literasi itu bukan cuma tentang bisa ngeja, tapi bisa menangkap makna. Bisa bedain mana opini, mana fakta. Mana kata-kata, mana manipulasi. Bisa nangkep maksud, bukan cuma makna literal.

Banyak orang bisa baca, tapi belum tentu bisa paham. Bisa ngelihat huruf, tapi otaknya loading terus. Kayak liat chat gebetan yang isinya “hehe”, dan langsung overthinking tiga hari tiga malam.

Jadi, apa sih tujuan abang nulis materi ini?

Simple aja, abang pengen kalian megang dua skill penting yang bakal bikin kalian gak kaget pas ketemu soal-soal yang mengetes kemampuan literasi atau kemampuan kognitif.
  1. Analogi (Qiyas)
  2. Penalaran Logis (Mantiq)
Kenapa Qiyas dan Mantiq, Bang?

Karena Qiyas ngajarin kita nyambungin konsep, cara pikir perbandingan. Dan Mantiq ngajarin kita mikir lurus, bikin kesimpulan yang sahih. Dua-duanya ibarat alat survival di hutan literasi digital.

Kenapa cuma dua ini? 

Karena abang gak akan sempat ngajarin semuanya, dan otak kalian udah penuh sama tugas, reels, dan drama kehidupan remaja. Tapi dua hal ini, percaya deh, punya akar kuat banget sama dunia kalian sebagai murid MTs Annida.

Kita tuh gak asing sama Qiyas. Itu diajari waktu ngaji Ushul Fiqh. Itu lho, cara nyari hukum lewat perbandingan. Qiyas itu bukan cuma cara nyari hukum. Itu cara berpikir. Cara nyambungin satu hal ke hal lain. Kayak pas kita belajar: “Khamr haram karena memabukkan. Maka segala yang memabukkan itu haram.”

Dan di soal literasi, analogi itu ya... Qiyas versi non-fikih. Kita nyambungin konsep satu ke yang lain, bukan buat ngeluarin hukum, tapi buat nangkep makna. Nah, soal analogi di soal bacaan itu kayak Qiyas versi sekuler. Tapi tetap pakai otak dan logika yang sama. Bedanya, bukan buat nyari halal-haram, tapi nyari jawaban A, B, C, atau D. Gak ada kitab, tapi tetap butuh ijtihad.

Lalu, Mantiq.

Ah, si Mantiq ini kadang dipandang sebelah mata. Padahal tanpa dia, banyak yang nyasar dalam berpikir. Abang inget dulu, waktu belajar Qawaid Mantiqiyah, ada satu pernyataan yang bikin kita garuk-garuk kepala: “Ta’arudh al-Muqaddimat wa fasad al-Tarakkub.”, bahwa cacat logis dalam suatu argumen dikarenakan adanya kontradiksi antara premis-premisnya, bisa menyebabkan argumen tersebut tidak sah atau tidak valid.

Mantiq atau Ilmu Logika yang kadang dianggap “berat” itu sebenernya alat yang sangat berguna. Alat buat mikir jernih. Biar gak gampang kecele. Biar otak kalian gak kayak motor mogok: banyak suara, tapi gak jalan.

Jadi simpelnya, kenapa dua ini yang abang pilih adalah karena: Qiyas ngajarin kalian berpikir dengan pola. Sementara Mantiq ngajarin kalian berpikir dengan logika.

Waktunya terbatas, otak kalian mahal, jadi abang kasih dua yang paling esensial. Yang bisa dipake di kelas, di ujian, bahkan di kehidupan.

Supaya kalian…
  • Gak bengong waktu lihat soal bacaan di ujian
  • Bisa bedain antara “bisa baca” dan “bisa ngerti”
  • Naik level dari sekadar “ngebaca kata” ke “nangkep makna”
  • Biar kemampuan literasi kita meningkat dan Bang Fachri bisa tidur lebih nyenyak

Jadi ayo kita mulai...


Skill Pertama: Analogi (Qiyas)

Apa itu Analogi/Qiyas?

Analogi itu seni menemukan hubungan. Jadi Qiyas atau analogy itu bukan cuma buat fiqih. Ini cara kerja otak yang nyambungin pola. Kayak sendok dan makanan, pena dan tulisan. Alat dan fungsi.

Contoh: Ikan : Air = Manusia : …?

Jawaban: Udara

Karena manusia butuh udara seperti ikan butuh air. Simple. Tapi logis.

Nah, di soal analogi, kita disuruh cari dua kata yang hubungannya mirip dengan dua kata lainnya. Intinya: “Kalau A berhubungan dengan B, maka C berhubungan dengan apa?”

Tips Biar Gak Salah:
  • Lihat dua kata pertama. Apa hubungannya?
  • Buat kalimat. Misal: “Pisau digunakan untuk ___.”
  • Cocokin hubungan itu dengan pilihan jawaban.
  • Singkirin jawaban yang ngaco. Jangan sampai kejebak pilihan jebakan betmen!
Contoh Soal (yang kadang bikin puyeng):

Gigi : Ompong = Pakaian : …
A. Telanjang
B. Celana
C. Badan
D. Penjahit
E. Malu

✅ Jawaban: A

Kalau gak punya gigi = ompong.
Kalau gak punya pakaian = telanjang (jangan dicoba di jalan pulang sekolah, ya!)

Retina : Mata = Pori-pori : …
A. Lubang
B. Bulu
C. Udara
D. Keringat
E. Kulit

✅ Jawaban: E

Retina itu bagian dari mata.
Pori-pori itu bagian dari kulit.

Skill Kedua: Penalaran Logis (Logika/Mantiq)

Apa Itu Penalaran Logis?


Ini kemampuan buat narik kesimpulan dari pernyataan, atau kemampuan buat narik kesimpulan sah (Natijah/Conclusion) dari dua premis (Mukodimah Sugro dan Mukodimah Kubro).

Ini bukan soal perasaan. Ini soal logika! Kalian dikasih beberapa pernyataan. Lalu disuruh narik kesimpulan yang paling masuk akal.

Contoh:

Semua siswa suka bakso.
Si Zaid adalah siswa.


Kesimpulan?

Si Zaid suka bakso.

Gak perlu feeling. Gak perlu tebak-tebakan. Ini logika, bukan horoskop.

Contoh lagi:

Semua kucing suka ikan.
Si Buntel adalah kucing.


Kesimpulan logis?

Si Buntel suka ikan.

Kalau kamu jawab: “Si Buntel suka rebahan sambil maen hape sampe jam 2 pagi” itu bukan logika, itu pengalaman pribadi 😅

Tips Mengerjakan:
  • Pahami isi tiap pernyataan. Baca pernyataan dengan hati yang tenang
  • Jangan ngarang! Semua kesimpulan harus sesuai isi teks. Hanya gunakan informasi yang diberikan
  • Hati-hati sama jawaban yang “hampir benar tapi bukan.”
  • Jangan bawa perasaan, bawa logika
  • Hindari asumsi “kayaknya” atau “feeling gue sih…”

Contoh Soal:


Tidak ada aktivis kampus yang lulus cepat.
Beberapa mahasiswi bukanlah aktivis kampus.


Berdasarkan dua pernyataan di atas, kesimpulan yang paling benar adalah …

A. Beberapa aktivis kampus tidak bisa lulus cepat.
B. Beberapa mahasiswi bisa lulus cepat.
C. Tidak ada mahasiswi yang lulus cepat.
D. Beberapa aktivis kampus bukan mahasiswi.
E. Tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Pembahasan Pilihan Jawaban:

A. Salah.
Ini hanya mengulang sebagian dari pernyataan pertama, tapi nggak menghubungkan dengan pernyataan kedua. Soal minta kita menghubungkan dua informasi.

B. Salah.
Ini kesimpulan di luar konteks. Pernyataan tadi bilang beberapa mahasiswi bukan aktivis, tapi nggak ada info apa-apa soal apakah mereka lulus cepat atau tidak.

C. Salah.
Lagi-lagi, ini asumsi sendiri, karena soal tidak menyebut semua mahasiswi dan tidak menyebut soal kelulusan mereka.

D. Salah.
Ini juga nggak ada hubungan langsung dari kedua pernyataan. Kita nggak tahu dari mana asal info ini.

E. Benar!
Kita tahu bahwa:
  • Semua aktivis kampus tidak lulus cepat (pernyataan pertama).
  • Beberapa mahasiswi bukan aktivis kampus → berarti ada sisanya yang aktivis kampus.
  • Nah, yang jadi aktivis kampus (mahasiswi atau mahasiswa), otomatis tidak lulus cepat.
Jadi, benar: tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Kesimpulan:

Untuk soal logika kayak gini, kita harus nyambungin dua pernyataan, kayak kabel charger. Kalau cuma satu ujung yang dicolok tapi yang satu nggak, HP-nya gak akan ngisi. 😆


Pesan Terakhir dari Abang
  • Baca dan nulis bukan cuma buat dapet nilai. Ini buat paham hidup. Buat ngerti dunia. Buat bisa nulis caption yang gak cringe.
  • Membaca adalah cara kita ngobrol sama orang yang udah wafat. Sementara menulis adalah cara kita bicara pada generasi yang belum lahir.
  • Kalau kalian baca buku, kalian minum dari mata air ilmu. Kalau kalian nulis, kalian ninggalin jejak.
  • Membaca itu ibadah, bagian dari thoriqoh Kiyai kita. Kayak Syaikhuna, yang tulisan-tulisannya masih jadi pelita sampai sekarang.

Jadi yuk:

  • Mulai dari 15 menit baca per hari
  • Gak harus buku berat, mulai dari bacaan ringan: komik, artikel, bahkan thread TikTok yang isinya beneran ilmu
  • Sering diskusiin isi bacaan bareng temen
  • Tulis apa yang kalian pahami, bukan apa yang kalian hafal

Kalau kalian rajin baca dan nulis, abang doain:

  • Otak makin encer
  • Ujian makin lancar
  • Hidup makin mudah
  • Bang Fachri bisa mikirin kerjaan lain yang masih banyak

Kalau kalian suka materi ini, jangan lupa baca lagi. Kalau gak suka, baca dua kali. Mungkin otaknya belum nyambung di percobaan pertama.






Materi ini ditulis untuk memperingati Hari Buku Nasional, 15 Mei 2025 di MTs Annida Al Islamy Bekasi

Kamis, 06 Februari 2025

Kembang Api Kebahagiaan

"Berapa duit habis buat petasan, ya?" gumam beberapa jamaah, pandangan mereka terpaku ke langit yang terus bergemuruh. Kembang api mekar di udara, memercikkan cahaya yang riuh, menyulap malam di atas masjid menjadi panggung meriah selepas salawat kepada Rasulullah dibacakan. Ledakan terakhir seolah menyatu dengan suara hujan yang turun perlahan, membasuh kubah masjid, lalu mengalir dari atap ke tanah yang semula kering.

Kiai mengenang kejadian di masjid beberapa saat lalu. Njay, yang tahu betul situasinya, berkomentar pelan, "Saya jadi nggak enak, Kiai. Soalnya makanan buat acara ini cuma sekadarnya."

Kiai tersenyum lembut, seolah mengendapkan setiap kata sebelum mengucapkannya. "Kesenangan orang beda-beda," ujar Kiai akhirnya, suaranya pelan tapi penuh makna. "Ada yang senang nyumbang makanan, ada yang senang nyumbang petasan. Petasan itu bukti senangnya dia sama acara ini. Itu buroqnya dia."

Kami yang mendengar jawaban itu terdiam, berusaha menangkap maksud Kiai. Buroq—kendaraan cahaya dalam kisah Isra Miraj, membawa Rasulullah melintasi langit dalam perjalanan spiritual yang agung. Kini metafora itu menjelma dalam kembang api yang tadi menyala, menjadi simbol kegembiraan manusia yang mungkin tampak sederhana, tapi punya makna dalam cara masing-masing.

Hujan semakin deras, namun dalam hati kami ada sesuatu yang menghangat—sebuah pemahaman baru bahwa setiap bentuk syukur punya caranya sendiri untuk sampai ke langit.

Allahumma shalli 'ala Muhammad



Selasa, 01 Oktober 2024

Menikmati Hidangan dari Rasulullah


Pada pukul 01.30 dini hari, tiba-tiba saya terbangun dari tidur dengan mata seterang lampu 100 watt. Rasa kantuk hilang seketika. Saya mengucapkan selawat kepada Rasulullah Saw. sebanyak tiga kali, mengambil wudu, lalu salat. Kemudian, saya membangunkan istri untuk menceritakan mimpi yang baru saja saya alami.

Satu setengah jam sebelumnya, ketika masih membaca beberapa referensi untuk bahan menulis buku ini, saya tersentak melihat jam dinding telah menunjukkan pukul 00.00. Padahal esok paginya saya harus bangun dini hari untuk kerja. Saya langsung matikan lampu kamar dan berusaha untuk memejamkan mata. Dalam tidur yang sebentar itulah saya mimpi berjumpa dengan K.H. Fakhruddin Ahmad Baihaqi.

Dalam mimpi itu, saya tengah berkunjung ke sebuah rumah. Di dalamnya, tampak K.H. Fakhruddin tengah duduk bersila bersama beberapa orang. Saya mengucapkan salam lalu mendekat. Setelah saya cukup dekat, ia berdiri dan mengajak saya ke ruangan lain. Di ruangan itu tampak sebuah nampan berisi nasi kebuli di atas meja. K.H. Fakhruddin mempersilakan saya untuk makan. Nahas, belum sempat saya menyuap nasi kebuli yang tampaknya amat lezat itu, saya terbangun.

K.H. Fakhruddin yang saya mimpikan itu adalah kiai muda yang turut mengasuh saya ketika mondok di Pesantren Annida Al-Islamy di Bekasi. la sempat mengajari saya ilmu nahu dan mustalah al-hadis. Saya sungguh tidak memahami arti dan maksud mimpi tersebut. Mungkin lantaran saya pernah diajari olehnya akan hadis-hadis Rasulullah Saw. Mungkin karena adanya ikatan batin antara guru dan murid. Mungkin pula mimpi hanyalah bunga tidur. Segala kemungkinan lain juga punya peluang yang sama, akan tetapi saya percaya mimpi tersebut membawa pertanda baik.

Beberapa waktu berselang, saya berkunjung ke pesantren K.H. Fakhruddin. Kunjungan ini sengaja saya lakukan untuk bertanya perihal mimpi yang pernah saya alami. Setelah mendengarkan cerita mengenai mimpi itu, ia mengatakan bahwa pada malam saat saya bermimpi itu adalah malam terakhir sebelum ia berangkat umrah dan berziarah ke makam Rasulullah Saw. la juga mengomentari bahwa hidangan yang saya lihat dalam mimpi itu bisa jadi pertanda baik, sebab dalam bahasa Arab hidangan adalah "al-Maidah", dan nama ini menjadi salah satu nama surah dalam Al-Qur'an.

Saya mengamini apa yang disampaikan K.H. Fakhruddin. Sejak pertama kali masuk pesantren pada usia 12 tahun hingga hari ini rasa kagum saya kepadanya memang tidak pernah luntur. Saya mengagumi keikhlasan, ilmu, dan dedikasi yang ditunjukkannya dalam mendidik murid-muridnya. Kami para santri dilatih untuk selalu menghormati dan menjadikan guru sebagai mentor dan inspirasi. Dengan begitu, ilmu yang disampaikan para guru mudah-mudahan dapat cepat meresap dan seterusnya bermanfaat. Begitulah, dalam bahasa yang agak puitis, hubungan kami sebagai murid dengan K.H. Fakhruddin terwakili dalam senandung syair, "Man ana man ana laulaakum, kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum (Siapa gerangan diriku, siapakah diriku kalau tanpa bimbingan kalian [guru]. Bagaimana aku tidak mencintai kalian, dan bagaimana aku tak menginginkan tuk bersama kalian?)"

Dengan penuh kerendahan hati, saya mempersembahkan buku yang ada di tangan pembaca ini untuk guru kami, K.H. Fakhruddin, mattanallahu fi tuuli hayatihi (semoga Allah senantiasa memberikan kesenangan kepada kita dengan kehadiran beliau sepanjang hayat kita). Tidak lupa, saya juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bang Andriansyah Syihabuddin selaku editor Emir yang selalu memberikan ide dan saran untuk perbaikan naskah buku ini.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat KSKK Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI atas panduan yang menjadi dasar penyusunan buku ini. Juga, semua guru, kawan, dan semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tak langsung memberikan inspirasi dan kontribusi berarti dalam penyusunan materi buku ini beserta projek-projek penguatan karakter di dalamnya. Semoga buku ini menjadi sumber energi kreatif dan panduan yang bermanfaat dalam memperkokoh karakter generasi bangsa ke depan.

Akhir kata, penyusun yang daif dan faqir ini memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam buku ini. Semua semata-mata berasal dari diri penyusun pribadi. Hanya kepada Allah yang Mahasuci kita mengembalikan segala urusan. Karena itu pula, semua saran dan kritik akan penyusun tampung untuk perbaikan buku ini pada masa yang akan datang.

Selamat menikmati hidangan ilmu pengetahuan dan hikmah dari hadis Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajmain.




Kamis, 02 Mei 2024

Recharge

Kami datang ke rumah Kiyai membawa macam-macam keluhan permasalahan hidup. Anak sakit, bisnis bangkrut, atasan zalim, kendaraan rusak, kebutuhan melambung, uang menipis, hati tidak tenang.

Guru yang mengerti keluhan kami memberikan doa yang konon pernah dibaca oleh nabi Adam:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِي وَعَلَانِيَّتِي فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِي

Ya Allah, sungguh Engkau tahu apa yang tersembunyi dan tampak dariku, karena itu terimalah penyesalanku.

وَتَعْلَمُ حَاجَتِي فَأَعْطِنِي سُؤَلِي

Engkau tahu kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku.

وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي

Engkau tahu apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي

Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang menyentuh kalbuku

ويَقِيْنَا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي

dan keyakinan yang benar sehingga aku tahu bahwa tidak akan menimpaku kecuali telah Engkau tetapkan atasku.

وَ رَضِنِي بِمَا قَسَمْتَ لِي

Ya Allah berikanlah rasa rela terhadap apa yang Engkau berikan untuk diriku.


Kami tertegun dengan doa yang dijazahkan dari guru kami itu, yang beliau dapatkan ketika membaca Kitab Ihya di hadapan Maha Guru kami. Sebuah doa tentang pentingnya keridhaan terhadap apa yang telah diberikan Tuhan, kerelaan kepada apa yang telah ditetapkan Allah, dan menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya karena usaha manusia bagaimanapun kerasnya tidak akan luput dari pengetahuan Allah. Ia Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan. Maka pasrahlah.

Kami datang ke rumah guru kami membawa macam-macam keluhan permasalahan hidup, dan pulang membawa energi kehidupan yang kembali terisi.




Sumber doa: Muḥammad al-Ghazālī, Iḥyāʾ ʿulūm al-Dīn, Jilid 2. Jeddah: Dar al-Minhaj, 2011, h. 417.


Minggu, 21 April 2024

Sinar yang Jatuh di atas Sebuah Rumah

Sudah dua kali Mualim Sarim datang ke rumah itu. Kali ini ia berharap bisa bertemu seseorang yang mungkin bisa menjadi petunjuk dari mimpinya. Namun sayang, kali itu lagi-lagi ia tidak bertemu orang yang ia inginkan.

Haji Sadeli, kakek yang tinggal di rumah itu tahu bahwa Mualim sedang mencari cucunya yang saat ini sedang menuntut ilmu di pesantren.

Ketika liburan sekolah tiba, sang cucu pulang ke rumah. Sang kakek menyarankan cucunya untuk mengunjungi Mualim, "Kakek merasa tidak enak, sudah dua kali orang tua itu ke rumah untuk mencarimu,"

Sang cucu pergi ke rumah Mualim, dan menunggu giliran karena tamu yang datang seperti tidak ada hentinya. Setelah tiba giliran, Mualim bertanya, "Ente siapa?"

"Saya Fakhrudin, Guru."

Wajar Mualim bertanya, karena mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya. Melihat Mualim tidak bereaksi dan seperti bingung, Fakhrudin melanjutkan, "Saya Fakhrudin dari Kampung Srengseng, cucunya Haji Sadeli,"

"Ooh, Masya Allah, ente Fakhrudin! Sini sini!" Air muka Mualim berubah senang, ia mengajak anak muda itu naik untuk duduk di bale tempat ia duduk. Tidak lama kemudian Mualim memberikan sebuah kitab Mantiq (Ilmu Logika) karya Syeikh Muhammad Muhajirin, "Coba ente baca dan terjemahin!"

Fakhrudin menuruti permintaan Mualim, ia membaca kitab arab gundul itu dengan mantap dan lancar, sambil tidak henti Mualim mengucap syukur kepada Allah, Alhamdulilah, Alhamdulilah.

Fakhrudin pulang ke rumah dengan perasaan heran, mengapa sang pemuka agama, tokoh masyarakat terkemuka yang sering dikunjungi banyak orang itu malah ingin bertemu dengannya. Ia bertanya kepada Kakek yang kemudian bercerita, "Mualim pernah mengalami pengelihatan bahwa ada cahaya terang yang bersumber dari tempat Kiyai Muhajirin yang turun ke rumah kita. Ia bertanya dan kakek menjelaskan kalau memang kamu sedang menuntut ilmu di pesantren Kiyai Jirin."

Subhanallah, ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah diberikan kepada orang yang Ia kehendaki. Belasan tahun kemudian, anak muda itu mendirikan pesantren yang saat ini berkembang makin pesat. Ia adalah salah satu guru terbaik yang pernah saya kenal. Saya bersyukur mengenalnya sampai sekarang. Semoga Allah memanjangkan umur beliau dan kami para muridnya mendapat kemanfaatan yang banyak. Mattaanallahu fi tuli hayatihi.

Minggu, 28 Januari 2024

Tanah Suci, Wanita Suci dan Usia yang Tepat untuk Menjadi Nabi

Nath akan berusia 40 tahun itu, dan satu-satunya yang ia khawatirkan adalah ia tertarik meniru orang-orang untuk ikut kontestasi menjadi nabi.

Ia tinggal di Depok, Lia Eden berasal dari sana, begitu juga Ahmad Musadeq. Saya tertawa ketika ia mengatakan fakta itu. Andai saja ia punya orang dalam MK, tentu ia tidak perlu menunggu usia 40.

Kami sudah lama tidak bertemu, namun ia masih hangat menyambut ketika saya datang seakan-akan kita adalah kawan yang sering bertemu. Percakapan dengannya mudah. Ia masih seperti dulu ketika saya pertama kali mengenalnya; supel, berbadan tinggi tegap, dan berkulit gelap. Memang terdengar seperti deskripsi tiang listrik.

Hari itu ia meminta saya mengisi workshop tentang kepenulisan di sekolah tempatnya bekerja. Ia tidak mengatakan bahwa ia adalah kepala sekolah di SMP itu, sampai saya selesai memberi materi.

"Pantesan tadi gua bawain materi joke tentang lu gak ada yang ketawa." Kata saya setelah turun panggung, "Bukanya gak lucu berarti, emang mereka sungkan aja."

Saat ini hampir setiap bulan ia ke luar negeri, membawa jamaah Umroh. Ya, selain kepala sekolah, ia juga adalah salah satu "Mutowwif" pada travel agency yang sering wara-wiri ke Tanah Suci.

Muslim Indonesia adalah salah satu yang paling banyak pergi ke Arab Saudi, baik ketika Haji apalagi Umroh. Sehingga tidak heran di sana banyak pedagang arab menawarkan dagangan mereka menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan menerima "Uang Jokowi". Maksudnya mata uang Rupiah, bukan Bansos. 

Nath pernah misuh ketika pertama kali menawar dagangan menggunakan Bahasa Arab fasih tapi dijawab oleh si pedagang Arab dengan Bahasa Tanahabang, "Tau gitu ngapain gua latihan Muhadatsah! Mending part time jadi penjaga toko Blok M!"

Beberapa bulan yang lalu, Wi —salah satu kawan yang kebetulan juga kepala sekolah, juga melaksanakan Umroh. Ia Wanita Suci. Bukan seperti Sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa dengan tanpa ayah. Bukan. Tapi karena ia tidak bisa lagi menstruasi, atau hamil, atau sarapan nasi uduk di bulan Ramadhan, karena ia sudah tidak punya rahim.

Sebelum operasi pengangkatan rahim, ia pergi Umroh. Mungkin untuk meminta petunjuk, atau ketenangan, atau semacam pertaubatan kalau-kalau ia mati di meja operasi sementara ia masih suka memaki ketua yayasan.

Saya selalu senang mendengar pengalaman kawan-kawan ketika mereka berkunjung ke Masjid al-Haram.

"Aku baru sadar," Wi menjelaskan, "ternyata di sana karakter, kebiasaan, kesukaan kita benar-benar diperlihatkan."

Kemudian ia bercerita tentang pengalamannya dengan berapi-api, seperti biasanya. Tentang bagaimana orang-orang yang tinggi besar tidak mau mengalah sehingga ia tidak bisa mendekati Ka'bah, bagaimana kesabarannya diuji dengan seorang wanita gemuk yang tiba-tiba duduk menghalangi tempatnya sujud. Karena tidak bisa diajak bicara dengan baik, Wi membentak, "MA'AM, PLEASE MOVE! MOVE!! OR I'LL CUT YOU IN A HALF!!!"

Bercanda. Kalimat terakhir hanya dramatisasi, walaupun kalau saat itu Wi membawa Katana, mungkin bisa kejadian.

"Aku kan di sini suka foto-foto, ya." Wi meneruskan cerita, "di sana gak tau kenapa, sering banget aku diminta untuk fotoin orang yang gak aku kenal. Padahal waktu minta foto, ada orang yang jaraknya lebih deket dengan dia loh. Ngapain dia harus bela-belain berjalan memutar hanya untuk minta aku fotoin? Bener-bener gak bisa dinalar."

Di hari berikutnya, ia datang agak terlambat untuk salat subuh di Masjid Nabawi. Ia terjebak di tengah kerumunan orang yang sudah bersiap untuk salat. Semuanya sudah berdiri di shaf masing-masing kecuali dia. Ia tidak menemukan shaf kosong, sementara terlalu jauh jika ia mundur ke shaf paling belakang. Ia bersandar di pojok salah satu tiang masjid dan tidak berani meminta melonggarkan barisan kepada orang-orang di dekatnya agar dia bisa masuk. Tentu ada alasan kenapa dia enggan, karena beberapa hari sebelumnya, ia pernah sengaja tidak melonggarkan shaf untuk orang yang tidak mendapat shaf. Sekarang kejadiannya berbalik. Qisas instan.

Saya tersenyum mendengar cerita Wi. Sejak pertama kali saya mengenalnya, ia tetaplah Alfa Female yang tidak mau kalah dan perfeksionis, jadi ketika ia bilang di Kota Suci karakter seseorang akan sangat ditampakkan, saya sudah bisa membayangkan ia bertengkar dengan orang-orang Afrika yang besar dan bau terasi. Untungnya itu tidak terjadi, yang terjadi adalah ia bertengkar dengan tukang perhiasan di pasar Suwaiqah karena menawar emas terlalu rendah.

Nath belum pernah bercerita tentang pengalaman spiritual apapun ke saya sepanjang perjalanan berkali-kali ke Tanah Haram. Mungkin saja ia pernah bertemu malaikat di dekat Gua Hira, atau bertemu Nabi Khidir di parit bekas Perang Khandaq atau dicium bapak-bapak berjenggot karena dikira Hajar Aswad.

Wi punya pengalaman yang lebih ajaib. Jam tangan kesukaannya diminta oleh seseorang yang tidak ia kenal. Awalnya ia sempat ragu, namun akhirnya ia ikhlas memberikan. Mungkin Allah punya rencana, batinnya. Ketika ia menceritakan kejadian itu, seorang ibu tua yang satu grup dengannya berkata enteng, "Akan ada gantinya nanti, Wi. Jangankan jam, mobil juga bisa kamu beli."

Tidak beberapa lama setelah Wi pulang Umroh, ia membeli mobil.

Super sekali, Pak Mario.

Nath, Wi dan banyak kawan-kawan saya yang lain punya beragam alasan dan keinginan untuk pergi ke Tanah Suci; ada yang karena kewajiban, pekerjaan, penasaran, kebutuhan, meminta ampunan, memohon rizki, keselamatan, kesembuhan, ketenangan hati, petunjuk dan lain-lain. Harapan-harapan itu ada yang Allah kabulkan langsung, ada yang ditunda, ada yang diganti dengan yang lebih baik.

Alhamdulilah, 8 jam Histerektomi Wi oleh dua dokter spesialis berjalan lancar, walaupun di tengah operasi sempat terjadi kondisi menegangkan. Sementara Nath sampai saat ini masih mencari dukungan ormas besar untuk memenuhi 20 persen ambang batas Nabiyatul Threshold.

Semoga Allah yang Maha Mengatur mengundang dan memanggil kita untuk berkunjung ke Baitullah. Bukan hanya untuk yang belum pernah, namun juga untuk yang sudah pernah, karena selalu ada kerinduan untuk kembali berziarah ke makam Rasulullah yang mulia.


Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wasahbihi ajmain.

Sabtu, 22 Juli 2023

Belajar dan Menulis Adalah Jalan Guru Kita

Kutipan mukadimah Kiyai Fachruddin pada Majlis Mudzakaroh Santri Annida:

Kita tidak pernah berniat untuk berhenti menjadi Santri. Jadi terserah orang mau memanggil kita apa di luar sana, tapi di Ma’had kita tetap memposisikan diri kita sebagai Santri, sebagai Mustafid. Sehingga kita masih masuk pada apa yang pernah disabdakan nabi, “Man salaka thariiqan yaltamisu fiihi ilman sahhalallohu thoriiqon ilal jannah. Barang siapa menempuh jalan untuk menimba ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Kiyai Mahfud pernah biang ke saya, “Udah, Din! Kita mah ngeramein kitab Kiyai aja. Lah kalo bukan kita yang baca siapa lagi?”

Jadi ayo kita baca kitab-kitab karangan Syaikhuna. Baca aja. Sebagaimana Kiyai sering membaca ayat, “Fa izaa qaraanaahu fattabi' qur aanah tsumma Alaina bayanah. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.”

Baca aja kitab-kitab Syaikhuna. Sementara tentang pemahaman nanti biar Allah yang buka, yang penting hati kita futuh, terbuka, ikhlas. “Robbisrohli sodri wayassirli amri wahlul ‘uqdatammillisaani yafkahul kauli. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”


Membaca karya-karya Saikhuna selain adalah jalan untuk memahami pikiran-pikiran beliau, juga adalah cara untuk kita berdialog dengan beliau secara ruh bi ruh.

Dulu, waktu baru-baru mendirikan pondok, Kiyai dituduh anti maulid. Beliau jawab, “Kalo lu udah baca kitab ini (maksudnya kitab Muhammad Rasulullah), baru lu tau maulidan siapa gua sama mereka?”

Jadi kalau dikritik, dituduh, dicibir, difitnah, beliau dengan kealimannya menjawab dengan karya. Thoriqoh Saikhuna yang berat selain ngaji itu adalah ngarang kitab. Nulis.

Mudah-mudahan ada generasi sepeninggal Saikhuna yang cinta menulis. Sebab saya pernah denger Saikhuna bilang, “Gua kalo ngarang kitab sekarang (maksudnya Misbahu Dzulam), mungkin bisa lebih tebel dari itu.”

Mungkin karena dulu ada keterbatasan dalam referensi, karena zaman itu maroji atau masodir kurang. Berbeda dengan zaman sekarang dimana kita bisa mendapatkan referensi dengan mudah. Artinya beliau masih punya semangat untuk membuat karya yang lebih besar lagi. Karena di zaman sekarang ini, semuanya sudah tersedia dengan mudah.

Saya memahami kata-kata itu sebagai cemeti dari Saikhuna, kalau beliau yang pada zaman akses untuk mencari maroji sulit saja bisa mengarang kitab, seharusnya di zaman akses semakin mudah ini kita sebagai muridnya bisa lebih baik.


Catatan: kutipan ini saya paraphrase dan ringkas. Untuk mendengar lengkap, silahkan merujuk ke MUDZAKAROH - "KITAB MUHAMMAD" KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD MUHAJIRIN AMSAR - YouTube



Minggu, 30 Oktober 2022

Kebutuhan akan Tuhan

Seorang kawan yang anaknya akan masuk kuliah bercerita bahwa saat ini ia ingin mendorong anaknya untuk lebih dekat dan butuh ibadah kepada Tuhan.
 
Saya bertanya mengapa ia menyimpulkan anak gadisnya tidak dekat kepada Tuhan? Ia menjawab, "Aku sering banget lihat Fita lebih ngedahuluin kerjaan sekolahnya daripada salat. Atau menunda-nunda ibadah karena melakukan hal lain."

"Jadi tanda orang sudah terpenuhi kebutuhan kepada Tuhan itu apa?" saya bertanya.

"Ya, dia jadi lebih giat ibadah. Tidak menunda-nunda dan gak perlu diingatkan untuk melakukan kewajiban kepada Tuhan."

Saya bisa memahami kesimpulan kawan saya, karena sebagai manusia, kita hanya bisa menilai dari apa yang terlihat, nahnu nahkumu bidzawahir wallahu yatawalla sarair, kita hanya menghukum apa yang tampak, dan Allah menentukan apa yang tersembunyi di dalam hati. Sehingga ukuran saleh di mata manusia adalah terlihat saleh, terlihat rajin ibadah, terlihat rajin sedekah dan lain-lain.

"Tapi bukannya banyak amalan yang terlihat amalan akhirat, padahal itu amalan dunia, atau kebalikannya, amalan yang terlihat sebagai amalan dunia, padahal dimata Tuhan itu amalan akhirat?" saya bertanya tentang hadits nabi.

Ia tidak berkomentar, seperti menyetujui bahwa benar amalan dunia ataupun akhirat bukan ditentukan berdasar bentuk amalannya, tapi ditentukan oleh niat. Pada dasarnya banyak ulama yang tidak setuju ada pemisahan amalan dunia dan akhirat. Saya juga khawatir terhadap pemisahan amalan dunia dan akhirat berdasar bentuk amalan akan menyebabkan kerancuan berpikir. Agama tidak pernah memisahkan kedua amalan tersebut. Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan. Apapun yang dikerjakan di dunia, akan mendapat ganjaran di akhirat.

Jadi menyatakan bahwa orang yang terlihat tidak banyak "ibadah" sebagai orang yang kurang butuh terhadap Tuhan tidak sepenuhnya benar. Karena ibadah bukan hanya semata-mata ibadah uluhiyah atau ibadah individual saja, bahkan ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual.

"Fita sekarang kuliah di Jogja dan sekalian aku pondokin di Afkaruna. Aku berharap dengan mondok, dia bisa lebih dekat kepada Tuhan. Tapi sekarang dia malah sibuk banget sama urusan kuliah. Aku baru tahu kalau ternyata kuliah Arsitek itu memang harus keliling mencari lokasi untuk pengamatan." Kawan saya kembali menjelaskan.

Tidak ada yang salah dari harapan kawan saya agar anaknya lebih dekat kepada Tuhan dengan giat salat, puasa, mengaji dan ibadah individual lain, tapi bukankah mencari ilmu, selama niat dan tujuannya untuk kebaikan, juga bisa sebagai sarana dekat kepada Tuhan? Rasulullah bersabda, “Mencari ilmu satu saat adalah lebih baik daripada salat satu malam, dan mencari ilmu satu hari adalah lebih baik daripada puasa tiga bulan” (HR. Ad-Dailami).

Saya pribadi juga mungkin pernah mengalami keresahan yang dialami kawan saya. Karena berdialog dengan anak adalah inti dari pendidikan Homeschooling, biasanya saya memulai dari pertanyaan atau keingintahuan anak. Saya senang mendengar, menjawab dan berdialog tentang keresahan anak-anak saya, karena selain itu menandakan keaktifan anak dalam belajar, keresahan dan pertanyaan adalah sarana untuk menjelaskan konsep. Anak-anak memahami dan mengingat konsep lebih baik ketika mereka belajar langsung dari pengalaman pribadi yang relevan. Keingintahuan atau kegelisahan adalah pengalaman yang paling real pada anak. Dalam hal ibadah misalnya, Nada waktu berusia 10 tahun pernah bertanya, kenapa kita harus beribadah kepada Allah? Itu adalah pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan komperhensif. Karena apa guna ibadah tanpa pemahaman apalagi kesadaran?

Menurut saya, menjelaskan konsep dalam ibadah individual itu perlu, namun menjelaskan bahwa kesalehan sosial juga merupakan bentuk ibadah juga penting. Bukankah orang-orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah seperti pejuang di jalan Allah, dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus puasa? (HR. Bukhari & Muslim). Pada hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Maukah engkau aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada salat, puasa, dan sedekah? (para sahabat menjawab, tentu). Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar” (HR. Abu Dawud & Ibn Hibban). Selain itu, Rasulullah menegaskan bahwa ibadah individual tidak akan bermakna bila pelakunya melanggar norma-norma kesalehan sosial, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, dan tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”. Sedangkan dalam Al-Quran, orang-orang yang salat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin, riya dalam amal perbuatan, dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang-orang lemah (Surat Al-Ma’un).

Saya banyak berdiskusi dengan kawan saya tentang pendidikan dan anak, apalagi saat ini Nada, yang saat ini berumur 12 tahun, akan tinggal terpisah dari orangtua, untuk mencari pengalaman hidup di pesantren. Sebelum memutuskan ke pesantren, Nada punya banyak kehawatiran

"Banyakin quality time bersama," Kawan saya menasehati saya untuk lebih banyak waktu berkualitas bersama Nada. Itu nasehat yang bagus dan berguna untuk orangtua di masa apapun. No meaningful learning occurs without a meaningful relationship, right?

Sampai sekarang saya masih terus belajar untuk mendengarkan, baik kepada kawan-kawan, istri bahkan anak. Saya sadar, terkadang saya melihat anak sebagaimana saya melihat diri sendiri di masa lalu. Saya melihat semua keburukan dan khawatir terjadi pengulangan atas semua yang menimpa di masa lalu. Padahal belum tentu yang orangtua anggap penting dianggap penting juga oleh anak. Dengan mendengarkan, orangtua belajar untuk mengetahui apa yang dirasakan penting oleh anak. Karena anak-anak, seperti juga orang dewasa, butuh didengarkan, dan mungkin pada beberapa keadaan melebihi kebutuhannya akan Tuhan. Seperti yang pernah ditulis Ralph G. Nichols, “The most basic of all human needs is the need to understand and be understood. The best way to understand people is to listen to them.”

Wallahu 'alam

Selasa, 23 Agustus 2022

Tokoh Kita

Mari kita sebut ia Tokoh Kita. Penduduk dekat rumah memanggilnya ustad, boleh juga kalau kita panggil Ustad Kita.

Suatu hari ada seorang yang datang kepadanya bercelana pendek, bertelanjang dada. Ia selempangkan kaus di bahu. Dengan kondisi setengah mabuk, ia berteriak, “Ustaaad, gua mau tobaaat.”

Tokoh Kita yang mendengar suara gaduh itu keluar dari dalam rumah kemudian menghampiri.

“Beneran lu mo tobat?” tanya Ustad Kita.

“Beneraan…” Jawabnya panjang, “Gua mau tobaat. Ajarin gua. Gua harus ngapain?”

“Masih inget cara wudhu?” Ustad Kita kembali bertanya.

“Masih, Taad.”

“Coba gua mao liat.” Ustad Kita mengambilkan selang air kemudian mengocorkan air ke arahnya. Ia berwudhu dengan tertib dan selesai.

Ustad Kita meneruskan, “Nah bagus, lu masih bisa wudhu. Mulai sekarang, jangan pernah batal wudhu ya. Pokoknya setiap lu batal, wudhu lagi. Batal, wudhu lagi.”

“Itu aja, Tad?”

“Iya, itu aja. Sanggup?”

“Sanguuup.”

“Alhamdulillah.”

Pada waktu yang berbeda, seorang yang penuh tato di sekujur badannya juga pernah mengunjungi Ustad Kita. Ia bilang kalau ia sering berjudi, berzina dengan istri orang dan memakai narkoba. Ustad Kita menyarankan, “Jangan kalo narkoba. Jangan. Kalo yang lain gak papa, masih boleh.”

“Beneran, Tad?” Ia bertanya heran.

“Iya, beneran. Pokoknya kalo narkoba jangan. Kalo begini,” Ustad Kita membuat gestur mengepal dengan memasukan jari jempol diantara jari telunjuk dan tengah, “masih boleh.”

Pria Bertato itu menjalankan nasihat Ustad Kita dan tidak lama kemudian ia juga meninggalkan judi dan zina yang sering ia lakukan, kemudian ikut mengaji kepada Ustad Kita. Begitu juga dengan Pria Telanjang Dada. Ia masih melakukan dosa-dosa lain ketika men-dawam-kan wudhu, namun perlahan-lahan hatinya mulai terketuk untuk melaksanakan salat dan meninggalkan maksiat.

Itu salah satu karomah dari Ustad Kita yang mungkin bagi kebanyakan orang yang terlalu kaku dengan penerapan syariat dianggap sesat. Tentang karomah, sebagai seorang muslim harusnya menganggap biasa saja, karena itu salah satu bukti keberadaan Tuhan disamping juga merupakan ujian. Memang terkadang keyakinan kita perlu pembuktian, dan kadang kepercayaan kita diuji dengan hal yang mengherankan. Nabi pernah bersabda, pertimbangkanlah firasat orang mukmin, karena mereka memandang dengan cahaya Tuhan. Maka jika kamu melihat seorang yang punya firasat yang sangat tepat sehingga seakan-akan bisa melihat masa depan, siapa yang akan kamu puji? Siapa yang harusnya kamu takuti?

Kembali pada penjelasan kelakuan "aneh" Ustad Kita, saya bisa menjelaskan alasan syar'i di balik tindakan-tindakan itu, tapi saya tidak bisa merubah pikiran orang-orang yang sudah terlanjur ignorance.

Orang-orang yang mempelajari Islam pasti paham bahwa penerapan syariat boleh bertahap. Ada kaidah Fiqh (hukum Islam) yang berbunyi, maa laa yudroku kulluhu la yutroku kulluhu, apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya. Maksudnya, jika seseorang tidak bisa melakukan suatu amalan secara sempurna, maka tidak mengapa melaksanakan sebagian saja sesuai dengan kemampuan.

Saya menduga itu alasan Ustad Kita meminta men-dawam-kan wudhu kepada si Telanjang Dada. Saran ini sangat terkait dengan psikologi manusia, Ustad Kita bisa menilai kemampuan seseorang sebelum ia membebankan hal yang lebih sulit. Saya membayangkan jika saat pemabuk itu datang, Ustad Kita mewajibkan untuk melakukan wudhu, salat, puasa, zakat dengan sempurna sebagai syarat taubat, mungkin saja dilaksanakan, namun tidak akan bertahan lama, selanjutnya ia akan semakin menjauh dari Ustad Kita.

Ada juga kaidah "Menghilangkan kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat". Maksudnya, seseorang diperbolehkan melakukan sesuatu yang sebelumnya dilarang untuk menghindari kerusakan yang lebih besar. Dalam hal ini, Ustad Kita dihadapkan pada orang yang melakukan 3 keburukan; zina, judi dan narkoba. Diantara 3 keburukan itu, narkoba adalah yang paling berbahaya karena ia merusak akal. Sementara hifdzul aqli atau menjaga akal adalah maqasidu syariah (tujuan penerapan syariat) yang utama.

Mengapa menjaga akal adalah tujuan syariat paling utama? Karena agama ada untuk orang-orang yang berakal. Islam adalah agama fitrah, kepercayaan kepada Tuhan adalah fitrah, maka selama seseorang menggunakan akal, suatu saat mungkin ia akan sampai pada hidayah. Itu sebabnya menjaga akal agar tidak rusak penting dalam agama. Tidak berarti zina dan judi bukan perbuatan buruk, namun diantara perbuatan-perbuatan buruk, mengkonsumsi narkoba adalah hal yang paling tinggi resikonya untuk menghilangkan akal. Ketika akal sudah tidak ada, maka keburukan atau kejahatan lain akan sangat mudah dilakukan. Sebaliknya jika akal pikiran manusia terjaga, ia akan sampai pada suatu titik dimana akhirnya ia sadar bahwa perbuatan buruk akan juga berdampak buruk bagi diri sendiri, karena tidak sesuai fitrah dalam nuraninya.

"Berapa lama sih orang akan bertahan untuk terus berjudi dan berzina selama dia punya akal yang waras?" Tanya Ustad Kita retoris.

Saya manggut tanpa menjawab. Saya mengerti hanya ustad kampung yang punya mental serta dekat dan punya pengalaman langsung dengan masyarakat yang bisa memahami ini. Perjuangan di tengah masyarakat tidak ada yang instan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membangun kepercayaan dan kecintaan mereka. Ustad di Menara Gading, terkadang luput memahami ini.

Ustad, kiyai, atau gus yg berjarak dan jauh dari masyarakat atau murid akan putus asa mengatasi pertanyaan sederhana; apa yang dilakukan kepada santri, murid atau masyarakat yang masih berbuat buruk?

Saya ingat Gus Baha ketika bercerita tentang santri yang badung. Ia bilang, “Saya dididik bapak, kalau ada santri nakal, saya biarkan."

Para kiyai atau gus bisa memilih, apakah menjauhi tidak mau mengurusi murid, santri atau masyarakat yang bermasalah, atau terjun, mendekat, memahami psikologi mereka seraya mendoakan dan memberi pencerahan. Di sini dibutuhkan kesabaran serta ketawadhuan dengan mengingat bahwa semua manusia sama dimata Tuhan, dan tidak ada yang tahu akhir hidup masing-masing.

Tokoh Kita memahami tabiat manusia. Kebaikan bisa dijalankan perlahan-lahan, syariat bisa diterapkan secara bertahap. Selama hal yang utama, yaitu pengharapan pada Tuhan terus dijaga, segala hal lain masih punya optimisme untuk bisa diperbaiki. Keyakinan yang lurus akan Tuhan adalah yang utama karena membuat semua perbuatan manusia punya arti. Lebih jauh, keyakinan dan cinta pada Tuhan dan Nabi bisa mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati.

Butuh keluasan hati akan cinta pada sesama untuk bisa melakukan itu. Dalam khazanah tasawuf, kita familiar dengan cerita para sufi yang melakukan kebaikan kepada orang lain bahkan pada taraf yang tidak masuk akal. Ya, tanda seseorang penuh mahabbah pada Tuhan tercermin melalui kecintaan kepada manusia. Dalam istilah Gus Mus; memanusiakan manusia. Sementara dalam istilah Gus Dur; humanis.

Itu sebabnya terkadang saya memanggil Ustad Kita habib, bukan karena ia punya silsilah sebagai dzurriyah nabi Muhammad, tapi karena ia bisa mencintai manusia apa adanya, sehingga cinta itu selalu kembali padanya.

Wallahu a'lam.

Jumat, 01 Juli 2022

Tangisan pada Suatu Pagi

Pada suatu pagi, perempuan itu menangis di depan saya. Di tangannya ada sebuah naskah buku. Entah pada halaman atau paragraf berapa ia menutup buku itu kemudian terisak. Tubuhnya terguncang, ia melepas kaca mata, beberapa kali mengusap air mata dan menekan hidungnya yang mulai berair dengan tisu. Dari tempat duduknya, dengan suara bergetar ia bilang, "Kalau aja cewek, udah gua peluk lu dari tadi,"

Sebagai kawan, secara naluri saya ingin memeluk untuk meredakan tangisnya. Namun karena norma, itu tidak bisa saya lakukan. 

Naskah buku yang barusan ia baca adalah naskah buku yang saya tulis tentang dirinya. Mungkin dia baru saja membaca bagian yang mengingatkan kembali akan luka di hati. Tujuan saya menulis cerita tentangnya adalah untuk membantu melewati masa-masa yang tidak mudah. Masa penuh tangis dan trauma. Secara singkat buku itu menceritakan tentang patah hati, penghianatan, masalah-masalah percintaan dan tentu saja usaha untuk kembali bangkit dari masa-masa kelam itu.

Saat ini ia kembali menangis karena kembali menghadapi masa-masa yang gelap. Bahkan lebih berat dari yang sebelumnya. Ia sedang menjalani hubungan beda agama dan berencana menikah. Ia bertanya, "Kalo gua nikah di gereja, lu mau dateng?"

"Dateng kalau memang diundang." Saya menjawab cepat.

Keluarga besar melarang pernikahan itu. Orang tuanya tidak merestui. Juga yang paling menyesakan dada, keluarga terdekatnya sudah menganggapnya tidak ada; dikucilkan, tidak dipedulikan, tidak dihargai. Terkadang jika mengingat apa yang sudah ia berikan pada keluarga, ia merasa semakin nelangsa. Karena balasan dari apa yang sudah ia perjuangkan untuk keluarga adalah mereka tidak mau memikirkan perasaannya, bersikap keras, bahkan enggan untuk sekedar berkata yang tidak menyakiti hati. Sampai ada yang mengatakan bahwa Almarhumah ibunya meninggal karena terlalu memikirkannya. Itu tuduhan yang menyakitkan. Dan makin akan banyak tuduhan atau mungkin fitnah lain jika sesuatu yang buruk kembali terjadi padanya. 

"Gua sempet mikir, apa ini kutukan ya?" ia melanjutkan. Entah karena benar ia ingin tahu jawabannya, atau mungkin hanya mengungkap apa yang ada di kepala. 

Pertanyaan itu mengingatkan saya akan film-film Disney tentang putri, penyihir dan pangeran penyelamat. Sebagai orang yang logis saya menjawab, “Gak tau. Gak bisa diverifikasi juga,”

Mungkin kamu menganggap apa yang ia lakukan keterlaluan, mencari masalah, berlebihan dan emosional. Ya, sebagian besar orang yang ia kenal juga berpikiran sama. Semua orang bebas bicara dan berpendapat. Semua orang bisa mengatakan bahwa orang lain yang tidak sepemahaman dengan mereka adalah salah. Namun berkata kasar, mengancam, mengutuk, memfitnah, menyakiti hati adalah tindakan yang punya konsekuensi yang terkadang sangat merusak. Ia sempat berpikir untuk mati atau dimatikan.

Saya ingat apa yang selalu diulang-ulang Ustad Adi Hidayat dalam ceramah ketika bercerita tentang Allah yang memerintahakan Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun dan berkata padanya dengan lemah lembut, “Anda tidak sesaleh Nabi Musa dan Harun. Orang yang anda anggap salah juga tidak seburuk Firaun. Tapi anda berkata padanya dengan perkataan yang kasar. Anda ini mencontoh siapa?”

"Gua udah kehilangan support system. Keluarga paling deket udah nganggap gua gak ada," katanya suatu saat.

Saya sayang padanya tapi tidak bisa menjanjikan apapun. 

"Apa yang membuat lu bertahan dengan kondisi ini?" Saya bertanya.

"Karena gua tau masih ada yang lebih buruk kondisinya dari gua. Gua sering keliling jalan-jalan buat nenangin pikiran kalau lagi ada masalah. Gua liat orang-orang di jalan yang gak punya rumah, gua ngerasa masalah hidup gua bukan apa-apa. Gua merasa masalah gua kecil."

Sebagai manusia memang kita seharusnya merasa kecil dan lemah. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam yang akan datang. Kesombongan menjadikan manusia bertindak seakan-akan mereka adalah Tuhan yang mengetahui segalanya. Orang yang beragama dengan kesombongan sebenarnya sedang mematikan ruh religiusitas, menentang makna penghambaan pada Tuhan. Dalam penghambaan, kita kecil karena yang besar hanya Tuhan.

Gus Baha pernah bercerita tentang orang saleh yang Ujub dan orang yang durhaka namun tetap melakukan Salat, “Kita tidak pernah tahu. Bisa saja suatu saat mungkin Allah ridha dan menerima salatnya kemudian dia jadi Wali. Kita tidak pernah tahu kapan Allah ridha atau benci pada kita. Kita gak pernah tahu Allah meletakan ridhanya dimana dan murkanya dimana.”

Rahmat Allah ada pada tiap hal. Bahkan pelacur yang memberi minum anjing kehausan bisa masuk surga karena ridha Allah. Jadi manusia tidak diberi kesanggupan untuk mengetahui bagaimana akhir hidup mereka nanti. Jika kehidupan manusia diibaratkan hari, maka segala hal bisa saja terjadi sampai sore tiba. Bisa saja perempuan yang menangis pada pagi hari itu tersenyum di sore harinya. 

Saya selalu mendoakan itu.

Wallahu ‘alam. 

Kamis, 16 Juni 2022

Pesantren Inklusif dan Kolaboratif

Kawan saya seorang pengurus pesantren dalam sebuah status WA menuliskan kekhawatiran karena media banyak menyorot kasus kejahatan seksual di pesantren. Ia khawatir citra pesantren menjadi buruk di mata masyarakat. Ia juga menyinggung bahwa institusi pesantren dimana banyak terjadi kasus asusila adalah pesantren yang eksklusif dan secara kultural tidak merepresentasi pesantren pada umumnya.

Saya menanggapi dengan mengatakan bahwa kehawatiran masyarakat akan berpendapat bahwa pesantren adalah tempat yang selalu negatif adalah kehawatiran yang berlebihan. Kesimpulan yang populer di masyarakat pada akhirnya adalah pesantren sebagaimana lembaga lain, tidak selalu baik, tidak melulu buruk. Malah tuduhan bahwa pemberitaan di media yang menyebabkan citra pesantren buruk akan terkesan apologetik dan tidak menampakan wajah pesantren yang inklusif.

Saya setuju bahwa pesantren harus dikembalikan kepada wajah yang terbuka pada semua. Secara kultural, kebanyakan pesantren NU di Jawa Tengah atau Timur telah melakukan itu, dengan pembauran lingkungan pesantren dan masyarakat (kolaborasi), atau rumah kiyai yang selalu terbuka untuk siapa saja. Pesantren yang tidak punya kultur seperti itu, harus punya cara lain agar kepercayaan masyarakat pada pesantren tetap terjaga.

Saya ingat apa yang pernah dikatakan Kiyai Fakhruddin, ada dua hal yang membuat pesantren bertahan dan dipercaya; sistem dan figur. Beliau mencontohkan pesantren dengan sistem yang kuat itu seperti Gontor. Orang awam hampir tidak mengetahui siap kiyai pesantren Gontor, tapi Gontor sangat terkenal sebagai pesantren yang menghasilkan lulusan berkualitas. Sementara pesantren dengan figur yang kuat contohnya seperti kebanyakan pesantren yang dikenal karena kiyainya; pesantren Gus Dur, pesantren Gus Mus, pesantren Gus Baha dan lain-lain. Pesantren dengan sistem yang kuat lebih bertahan menghasilkan lulusan yang berkualitas selama sistem yang ada terjaga. Sementara pesantren dengan figur yang kuat biasanya akan menurun jika figurnya sudah tidak ada dan figure pengganti tidak sekuat pendahulunya.

Harus diakui pondok atau asrama sampai saat ini masih menjadi sistem pendidikan unggulan karena banyak alasan. Ki Hadjar menulis bahwa keunggulan sistem pondok adalah ia bisa mendidik murid dengan lebih sempurna karena guru dan murid setiap hari, siang dan malam, hidup bersama, bergaul, makan, juga bermain bersama-sama. Dengan begitu maka anak-anak tidak akan terpisah dengan “orangtua” mereka secara lahir dan batin, mereka hidup menurut pedagogik pengalaman yang nyata bukan hanya yang tertulis di buku-buku. Kehidupan pesantren itu setara dengan kehidupan keluarga atau bisa juga disebut miniatur kehidupan berbangsa. Anak-anak sehari-harinya terus merasa anak bangsa, terus merasa sadar akan kemanusiannya karena mereka senantiasa hidup dalam dunia kemanusiaan. Itu mungkin alasan mengapa dalam buku Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan, penjelasan tentang sistem pondok diletakan dalam Bab Pendidikan Keluarga.

Dalam tataran praktek tentu kita akui ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Bagaimanapun tidak ada instansi di dunia ini yang sempurna, termasuk juga instansi pondok pesantren. Pengakuan atas ketidaksempurnaan ini berguna untuk selanjutnya menjadi sarana untuk melakukan perbaikan. Pada tahun 2009, saya menulis Badung Kesarung, sebuah novel komedi tentang pengalaman saya di pesantren, yang selain merupakan manifestasi kebanggan saya sebagai lulusan pondok, juga merupakan kritik yang membangun demi terciptanya kebaikan bersama. Walaupun sebagian pihak tidak menanggapi secara konstruktif bahkan malah merasa disudutkan, saya menganggap mereka tidak memahami hakikat pesantren secara filosofis dan kultural yang telah ada dan menjadi budaya di Indonesia bahkan sebelum Islam.

Saya bukan pengurus pesantren, namun saya punya pandangan, bahwa untuk membuat pesantren yang inklusif, yang dirindukan para santri, yang pengurusnya merasa memiliki, adalah dengan merangkul sebanyak-banyaknya kemampuan. Baik kemampuan para santri, juga kemampuan para alumnus. Hal seperti itu, yang jika dilakukan dengan konsisten, akan secara otomatis meminimalisir segala macam hal negative. Di sini dibutuhkan kerendahan hati dari pengurus untuk terus membuka diri dan berkolaborasi.

Kolaborasi sendiri bukanlah hal yang asing dalam dunia pondok. Bahkan kemampuan bekerja sama yang merupakan salah satu dari 4 keterampilan pokok abad 21 ini (Critical Thinking, Communication, Creativity, dan Collaboration) di pondok dipraktekkan dengan lebih relevan dengan kehidupan nyata karena tidak hanya dilakukan dengan kawan sebaya namun juga lintas tingkatan kelas. Kolaborasi berarti bisa melihat kelebihan orang lain dengan pandangan positif, bukan menjadi pesaing tapi kawan untuk bekerjasama. Ia dapat menjadi sarana mengembangkan kemampuan, menyatukan kekuatan, saling belajar, menyelesaikan masalah dengan lebih mudah, juga membangun jaringan. Kesadaran akan makna ini yang seharusnya terus dikemukakan dan disadari oleh santri ataupun pengurus, agar pengawasan bisa dilakukan secara terpadu, bahkan membuat lembaga pondok atau asrama menjadi lembaga unggulan yang menurut Ki Hadjar Dewantara seharusnya diterapkan dalam jangkauan nasional.

Kamis, 31 Maret 2022

Kebahagiaan yang Mudah

Suatu malam seorang kawan curhat tentang masalah rumah tangganya.

“Mi, boleh cerita ya,” ia memulai percakapan.

Setelah saya mengiyakan, ia bercerita panjang tentang ibu dan suaminya. Beberapa bulan belakangan ini ia tinggal di rumah ibunya yang sudah tua, sering sakit dan merasa kesepian. Namun karena itu ia jadi meninggalkan suami di rumah yang agak jauh. Jadwalnya adalah 5 hari di rumah ibu, 2 hari bersama suami. Kondisi ini berlangsung berbulan-bulan dan ia mulai merasa kelelahan karena perjalanan pulang-pergi yang cukup jauh. Sementara, baik ibu atau suaminya karena alasan masing-masing tidak ada yang mau mengalah untuk tinggal bersama.

Ia kawan saya sewaktu Aliyah. Saya pernah bertanya kepada istri saya tentang mengapa beberapa kawan, baik laki-laki atau perempuan, sering bertanya tentang masalah seperti itu kepada saya. Istri saya memberi spekulasi dan kemungkinan, tapi tidak ada yang benar-benar tahu alasan mereka yang pasti.

Sungguh saya selalu dalam kondisi tidak percaya diri ketika diminta untuk memberikan saran apalagi nasehat karena saya tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Saya khawatir akan terjerumus pada sikap judgemental. Sebagai penulis, saya cenderung ingin melihat dan mendengar dua sisi yang berbeda. Bagi saya setiap karakter punya suara polyphony, bukan tunggal, punya sisi manusiawi yang baik dan buruk. Itulah mengapa saya selalu mendengarkan dan banyak bertanya ketika bercakap-cakap.

Saya bertanya tentang banyak hal pada kawan saya sampai akhirnya tiba pada kesimpulan, "Fokusnya, supaya ibu dan suami sama-sama senang. Kalau terpaksa harus milih ya pilih suami, tapi kan gak bisa kaku juga. Paling omongin ke suami supaya suami juga ridho."

Kawan saya membalas, "Walaupun orang tua kita keadaannya seperti itu, Mi? Sendirian, suka sakit kepala, suka bilang, 'kalau malam sakit sendirian gak ada orang gimana?'"

Saya kembali tidak percaya diri.

"Sebenernya ini kan bukan pilihan yang hitam-putih ya." Saya merespon, "Masih bisa disiasati. Contohnya dengan dibagi hari dalam seminggu. Jadi tetep mengutamakan suami, dengan gak menyakiti perasaan ibu. Namanya orang tua, ya disabarin aja, nanti juga ada jalannya. Coba diskusi juga sama keluarga yang lain."

Kawan saya malah kemudian mengkhawatirkan hal lain. Ia bertanya tentang keluhan. Ia sering mengeluh kelelahan, baik mental atau juga kelelahan fisik, "Mi, emang kalau kita ngeluh, kita gak dapet pahala ya?"

"Mana gua tau, gua kan bukan Tuhan!" tapi tentu saya tidak menjawab itu. Saya jawab, "Yang gua tau sih karena tidak bersyukur,"

Ia kembali menangapi dengan cerita.

Saya kembali merespon, "Capek mah wajar. Gua juga kalo capek ngeluh, tapi itu bukan mengeluh karena gak bersyukur ke Tuhan."

Ada jeda sampai akhirnya saya meneruskan, "Gua biasanya fokus sama hal yang bikin bahagia. Karena hidup di dunia itu mudah."

Saya mengakhiri percakapan dengan mengirimkan nasihat dari Gus Baha agar hidup selalu senang. Saya ingat beliau pernah menjelasakan, "Usahakan sedikit sekali apa yang membuat kamu senang, maka akan sedikit sekali yang membuat kamu susah,"

Gus Baha memberi contoh waktu Nabi bertanya di pagi hari mengenai ada atau tidak sarapan. Ketika Aisyah menjawab tidak ada, maka Nabi memilih untuk berpuasa.

Biasanya orang merasa tidak bahagia, karena standar atau ekspektasi yang terlalu tinggi, maka usahakan kita bahagia dengan standar yang paling sedikit, paling minimal. Kita melihat anak tertawa, itu seharusnya bisa membuat bahagia. Masih memiliki pasangan untuk diajak bicara, harusnya bisa membuat bahagia. Kita masih bisa minum saat haus, harusnya bisa membuat bahagia. Bahkan kita bahagia atas hal-hal yang dibolehkan agama, maka seharusnya kita bahagia.

Kebahagiaan adalah udara yang kita hirup. Ia ada dimana-mana, hanya kita sering memilih untuk menahan nafas atau menyesakan dada dengan syarat yang banyak.

Wallahu 'alam