Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Selasa, 24 Februari 2026

Seni Membaca Cerita yang Efektif

 "Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya." 
- Milton Erickson


Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 SMPN 255 Jakarta Timur, pada 12 Februari 2026 dalam rangka hari literasi.


Saya akan mulai ini dengan cerita pribadi.

Sejak kecil, saya suka membaca apa saja. Majalah Bobo, cerpen, komik dan macam-macam, pokoknya kalau ada tulisan terutama yang menarik, pasti saya baca. Masuk SMP, saya mulai kenal novel. SMA sampai kuliah, bacaan saya makin banyak. Karena saya tinggal di pesantren dan awal kuliah masuk jurusan Syariah Ahwal As-Syahsyiyah, buku yang saya baca kebanyakan bertema keislaman.

Sampai akhirnya saya berubah jadi pembaca yang “terlalu praktis”. Saya hanya mau membaca buku yang jelas manfaatnya untuk tugas sekolah atau kampus. Kalau tidak ada hasil instan, saya tinggalkan. Awalnya saya merasa itu keputusan yang cerdas. Hemat waktu, fokus, efisien. Tapi belakangan saya menyadari bahwa ternyata tidak sesederhana itu.

Lama-lama saya sadar, cara berpikir seperti itu justru membuat saya tidak berkembang. Saya kehilangan banyak kesempatan belajar hal-hal penting yang memang tidak langsung kelihatan hasilnya, tapi diam-diam membentuk cara berpikir.

Saya rasa banyak remaja juga merasa begitu. Membaca dianggap berguna hanya kalau membuat nilai di sekolah baik. Padahal, tidak semua manfaat muncul seketika. Justru manfaat terbesar dari membaca, terutama membaca cerita dan novel, datangnya pelan-pelan. Nyaris tidak terasa. Tahu-tahu kita sudah berubah.

Lalu muncul pertanyaan penting: Kenapa kita perlu membaca cerita?

Sebelum saya menjawab pertanyaan besar itu, mari kita baca tiga cerita pendek yang ditulis atau ditulis kembali oleh guru menulis saya, A. S. Laksana, di blog ini bacaan bagus untukmu, nak...
  1. Ima Memelihara Jin 
  2. Mungkin Ada Cacing di Dalam Perutnya 
  3. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Setelah membaca cerita-cerita itu, coba renungkan beberapa pertanyaan ini:
  • Bagian mana yang paling bikin kamu kaget atau penasaran?
  • Tokoh mana yang paling menarik? Kenapa?
  • Pesan apa yang kamu tangkap?
  • Kamu merasa apa setelah membaca; senang, bingung, takut, atau malah tertawa?
  • Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang akan kamu lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan cuma mengikuti alur. Kita sedang melibatkan perasaan, imajinasi, dan cara berpikir kita.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan tadi: Mengapa Kita Perlu Membaca Cerita?

Paling tidak ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan, baik langsung ataupun tidak langsung:
  1. Imajinasi jadi lebih kuat: Saat membaca cerita, otak kita aktif membangun “film” di dalam kepala. Kita membayangkan tempat, wajah tokoh, suasana, konflik. Orang yang sering membaca biasanya lebih kreatif—baik saat mencari ide maupun saat menyelesaikan masalah.
  2. Lebih peka terhadap perasaan: Cerita menghadirkan berbagai emosi: takut, berani, menyesal, bahagia, marah. Kita belajar melihat dari banyak sudut pandang. Tanpa sadar, kita jadi lebih mampu memahami diri sendiri dan orang lain.
  3. Lebih percaya diri saat berbicara: Semakin sering membaca, kosakata kita semakin kaya. Kita jadi lebih mudah menyampaikan pendapat, bercerita, atau berdiskusi. Kata-kata tidak lagi terasa sempit.
  4. Melatih otak seperti olahraga: Tubuh perlu bergerak agar sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, dan kemampuan memahami informasi. Ini bukan latihan yang terlihat seperti angkat beban, tapi efeknya nyata.
Lalu, bagaimana cara membaca cerita dengan efektif?

Paling tidak ada 4 prinsip membaca cerita yang efektif:
  1. Tentukan tujuan: Sebelum mulai membaca, tanya dulu: saya ingin apa? Mau menikmati alur? Memahami karakter? Atau mencari pesan moral? Tujuan yang jelas membuat kita lebih fokus.
  2. Bayangkan dan rasakan: Biarkan cerita hidup di kepala. Rasakan emosi tokohnya. Saat imajinasi dan perasaan ikut terlibat, cerita tidak lagi terasa datar.
  3. Fokus pada pemahaman, bukan kecepatan: Membaca bukan lomba lari. Tidak masalah membaca pelan. Kalau ada bagian yang membingungkan, baca ulang. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda kamu serius.
  4. Lakukan refleksi setelah membaca: Setelah selesai, coba renungkan: Apa yang terjadi dalam cerita? Nilai apa yang bisa dipelajari? Bagian mana yang paling berkesan? Kamu bisa menulisnya atau menceritakannya ke teman. Dengan begitu, cerita tidak berhenti di halaman terakhir.

Untuk menutup materi ini saya akan mengutip Albert Einstein. Ia pernah bilang, “Jika kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika kamu ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.”

Jadi membaca cerita bukan sekadar mengisi waktu luang. Itu cara kita membangun imajinasi, memperluas perasaan, dan membentuk cara berpikir. Perubahan itu tidak terjadi dalam sehari. Tidak dramatis. Tidak langsung terasa. Sampai suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa cara kamu melihat dunia sudah berbeda.

Dan sering kali, perubahan besar itu dimulai dari satu cerita yang kamu baca di sudut kamar, tanpa siapa pun tahu.










Jumat, 11 Juli 2025

Kepada Anak dengan Hati yang Paling Jernih

Dear Safa,

Sekarang kamu sedang berada di pesantren. Kamu pernah bertanya, “Kenapa aku harus mondok?”

Bapak sudah mencoba menjelaskan banyak hal; tentang kemandirian, tentang penumbuhan karakter, tentang pengalaman, dan tentang ilmu yang tak diajarkan di buku. Tapi sebanyak apa pun itu, bapak tahu, kamu masih berkutat pada tanya yang sama. Karena memang ada pengetahuan yang tak bisa diwariskan lewat nasihat. Ia hanya bisa dipelajari oleh tubuh yang jauh dari rumah, oleh hati yang belajar bertahan di tanah yang asing. Ia harus dialami, dirasakan, dijalani, agar bisa benar-benar dimengerti. Dan bapak percaya, suatu hari nanti, kamu akan mengerti. Bukan karena bapak pernah menjelaskan, tapi karena kamu telah menjalaninya sendiri.

Hari pertama melepasmu ke pesantren terasa berbeda dibanding saat kakak dulu berangkat. Entah kenapa, denganmu, rasanya justru lebih ringan. Bukan karena bapak lebih siap, tapi mungkin karena kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

Kiyai Fachruddin, guru bapak sejak Tsanawiyah, pernah bilang bahwa antara orang tua dan anak ada ikatan ruhani yang halus, yang kadang tak perlu kata-kata. Ruh bir ruh, jiwa yang berbicara kepada jiwa. Apa yang kamu rasakan, bisa bapak rasakan juga. Dan juga sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, bapak tahu kamu menangis karena sakit. Mungkin tubuhmu sedang diserang virus, ditambah lagi kamu sedang tidak dalam kondisi fit. Ibu juga cerita, kamu baru saja mengalami menstruasi pertamamu. Sedikit lebih lambat dari kakak, tapi ini bukan perlombaan, bukan perbandingan. Setiap tubuh punya waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

Bapak membayangkan, sakit fisik, haid pertama, dan jauh dari rumah. Semuanya terjadi bersamaan. Tentu itu cukup untuk membuat siapapun merasa rapuh dan ingin pulang. Tapi kamu tidak pulang. Kamu memilih bertahan. Dan bagi bapak, itu tanda kekuatanmu.

Kita semua pernah merasa lemah, Teh. Tapi orang kuat bukanlah mereka yang tak pernah lemah atau jatuh. Orang kuat adalah mereka yang tetap berdiri, meski hatinya ingin menyerah.

Bapak dan ibu, gurumu juga buku-buku yang kamu baca, mungkin sudah banyak bicara tentang menstruasi. Bapak tidak akan mengulanginya di sini. Bapak hanya ingin menegaskan satu hal: menstruasi adalah tanda kedewasaan fisik. Artinya, tubuhmu memberi tahu dunia bahwa kamu kini seorang perempuan dewasa. Perempuan yang sehat.

Dan semoga, bersama tubuhmu yang sedang tumbuh, jiwamu pun ikut bertumbuh. Karena kedewasaan sejati bukan sekadar soal rupa, tapi soal pilihan. Pilihan untuk menjaga diri. Pilihan untuk menghormati tubuhmu. Pilihan untuk menentukan batas-batas yang harus dihormati oleh orang lain terhadap tubuhmu sendiri sebagai rumah suci.


Safa,

Kamu tahu, namamu dalam Kamus Besar Bahas Indonesia bermakna putih dan bersih. Begitulah juga dengan hatimu.

Suatu hari, ketika usiamu belum genap lima tahun, kamu selalu takut bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin karena kamu bisa merasa aura negatif, atau kamu belum nyaman, atau memang kamu pemalu. Apapun itu, yang perlu kamu tahu, ketakutan itu menunjukkan bahwa kamu memiliki kepekaan terhadap hubungan sosial. Itu tandanya kamu mampu untuk membedakan antara lingkungan yang aman dan situasi baru yang membutuhkan kehati-hatian.

Sejak kecil, kamu selalu berhati-hati. Bertanya berkali-kali sebelum melakukan sesuatu; Bolehkah melakukan ini? Bolehkah begitu? Katamu, kamu takut melanggar, takut salah, takut berdosa.

Safa, dosa adalah sesuatu yang membuat hati tidak tenang. Dan hati yang bersih selalu bisa merasakannya. Itu sebabnya kamu tidak bisa tinggal diam ketika melihat ketidakadilan, atau ada yang tersakiti. Maka begitulah kamu sangat peduli pada Palestina, atau orang-orang yang menderita di sekitarmu.

Kepekaan sosial itu yang harus kamu pertahankan selama apapun kamu hidup. Itulah anugrah yang Tuhan berikan untukmu.

Kamu punya pitch perfect, kemampuan mengenali nada dengan presisi. Bahkan sebelum berusia sepuluh tahun, kamu sudah bisa memainkan lagu apa pun yang didengar hanya dengan piano mainan. Sampai sekarang, bapak masih tidak mengerti bagaimana membedakan Do dan Re, apalagi memainkannya dengan flawless di tuts piano. Kepekaan itu yang akhirnya membuatmu mudah belajar alat musik lain, seperti ukulele. Insting bermusikmu kuat. Dan bapak tidak akan heran jika suatu saat nanti kamu akan melahirkan karya yang mengagumkan.

Saat lulus TK, kamu mendapat peringkat Kecerdasan Naturalis. Bapak tidak terlalu mengerti bagaimana itu dinilai, mungkin karena kamu lebih senang berada di luar kelas, bermain di antara pohon-pohon. Bapak bahkan sering sengaja terlambat menjemputmu, karena tahu kamu tidak pernah ingin pulang buru-buru. Kamu senang bermain di lingkungan sekolah yang banyak pohon.

Tapi yang paling bapak ingat adalah ketika kamu menangis tanpa alasan, hanya untuk merasakan air matamu sendiri. Kamu berhenti sejenak, menyeka air mata dengan ujung telunjuk, menjilatnya, lalu kembali menangis. Berhenti lagi, menjilat lagi. Mungkin kecerdasan naturalismu memang berhubungan dengan eksperimen, dengan keingintahuan yang besar.

Sejak kecil kamu adalah anak yang sering gelisah. Bertanya banyak hal di malam-malam sunyi: Allah itu seperti apa? Sebelum ada Allah, apa yang ada? Ghofururrohim artinya apa?

Pertanyaan-pertanyaan itu menandakan kepekaanmu pada hal yang di luar dirimu sangat besar. Pertanyaan itu disamping menandakan proses aktif dalam belajar, juga menandakan kegelisahan terdalammu pada fitrah ketuhanan. Dan semakin kamu mengenal dirimu, semakin kamu akan mengenal Tuhanmu. Semakin kamu mengenal Tuhanmu, semakin luas cintamu pada kemanusiaan.

Bapak tidak pernah khawatir jika kemampuan literasimu tidak sebagus Kakak Nada atau Aira. Bahkan sejak kecil, bapak tidak pernah cemas jika kamu belum lancar membaca atau berhitung.

Sekarang, dengan semakin kamu dewasa, literasi dan numerasi tidak lagi menghawatirkan. Kamu sudah punya kecintaan pada cerita, pada literasi, dengan kecintaan yang tulus.

Seperti baru kemarin kamu minta lampu kamar tidak dimatikan karena takut gelap. Kemudian bapak tetap mematikan lampu tapi menemani sambil memelukmu di tempat tidurmu, sampai kita berdua tertidur. Bapak bangun tengah malam dengan tangan kram dan besoknya sebelah tangan bapak pegal seharian.

Anak yang dulu sulit menelan makanan sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Anak dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, dengan pikiran-pikiran yang unik. Sebagai bapak, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Kamu adalah anak dengan hati yang paling jernih, dan semoga akan tetap begitu selamanya. Aku tahu, setiap orang harus tumbuh, begitu juga aku harap kamu akan tumbuh. Namun ada hal-hal yang kamu punya dari sejak kamu mengenal manusia, yang sebaiknya tetap kamu jaga: kejujuran, kepekaan, rasa ingin tahu. Itu yang membuatmu istimewa.

Sebagai manusia, dan sebagai remaja, wajar jika kadang kamu kurang disiplin, sulit fokus pada satu proyek. Kadang kamu seperti langit yang sibuk menampung awan: begitu penuh, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi biru. Kamu berjalan membawa peta yang belum sempat kamu baca, karena setiap tikungan menawarkan keindahan yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Bukan karena kamu malas. Tapi karena terlalu banyak musim yang ingin kamu peluk sekaligus. Dan itu bukan kesalahan, bahkan hujan pun tak selalu tahu di mana ia akan jatuh.

Tentu dengan berjalannya waktu kamu bisa mengatasi kelemahan dan kekuranganmu. Satu hal yang harus selalu kamu ingat: masih banyak hal mengagumkan tentang dirimu yang belum kamu temukan. Carilah. Kenali dirimu sendiri. Temui dirimu sendiri dengan sabar dan rasa ingin tahu. Dan jika suatu hari nanti dunia terasa sempit, suara-suara di sekitarmu terlalu bising, atau kamu merasa tak dihargai, ingatlah, akan selalu ada satu rumah di mana telingaku siap mendengar tanpa menghakimi, selalu bersedia mendengar keresahanmu, tanganku selalu terbuka untuk memeluk dan menerimamu apa adanya.

Apa adanya.

Semoga Allah selalu menolongmu, memberi kekuatan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam hidupmu.


—Bapak.



Kamis, 15 Mei 2025

Membaca & Menulis adalah Thoriqoh Guru Kita *

Assalamu’alaikum, generasi swipe up!

Perkenalkan, saya abang kelas kalian: Nailal Fahmi. Biasa dipanggil Nailal, atau Fahmi, atau kadang, “Bang, numpang WiFi, Bang!”.

Lulusan Annida tahun 2003, waktu gak ada satupun siswa yang punya hape. Dan kalau kalian pernah liat foto zaman dulu dan mikir, “Kok orang dulu bisa hidup tanpa kamera depan ya?”

Ya, kita emang sekuat itu.

Beberapa waktu lalu, Bang Fachri, Operator Sekolah multi talenta yang bisa ngerjain segala hal itu, tiba-tiba ngontak saya buat ngisi materi di acara Hari Buku Nasional. Saya seneng banget! Tapi apalah daya, abang kalian ini lagi kayak notifikasi yang gak bisa dibuka—ada, tapi gak bisa hadir. Jadi izinkan saya titipkan pikiran dalam bentuk tulisan ini. Baca pelan-pelan ya, ini bukan caption IG, bukan juga twitwar.

Meski abang gak bisa hadir secara fisik, semoga materi ini bisa bikin adik-adik semua makin cinta baca buku. Soalnya, Kiyai Fakhrudin pernah bilang, ”Thoriqoh-nya Syaikhuna, Kiyai Jirin, itu ya ngaji dan nulis.

Artinya, buat anak-anak Annida, membaca dan menulis bukan ritual akademik, tapi spiritual. Ini cara kita nyambung ke guru, bukan sekadar ngejar nilai. Ini jalan sunyi untuk meng-upgrade karakter dan spiritualitas.

Materi yang abang tulis ini adalah satu bentuk kesadaran bahwa Annida sangat peduli terhadap literasi siswa. Meningkatkan pemahaman terhadap literasi, terhadap buku bacaan, juga terhadap bahasa.

Literasi itu bukan cuma tentang bisa ngeja, tapi bisa menangkap makna. Bisa bedain mana opini, mana fakta. Mana kata-kata, mana manipulasi. Bisa nangkep maksud, bukan cuma makna literal.

Banyak orang bisa baca, tapi belum tentu bisa paham. Bisa ngelihat huruf, tapi otaknya loading terus. Kayak liat chat gebetan yang isinya “hehe”, dan langsung overthinking tiga hari tiga malam.

Jadi, apa sih tujuan abang nulis materi ini?

Simple aja, abang pengen kalian megang dua skill penting yang bakal bikin kalian gak kaget pas ketemu soal-soal yang mengetes kemampuan literasi atau kemampuan kognitif.
  1. Analogi (Qiyas)
  2. Penalaran Logis (Mantiq)
Kenapa Qiyas dan Mantiq, Bang?

Karena Qiyas ngajarin kita nyambungin konsep, cara pikir perbandingan. Dan Mantiq ngajarin kita mikir lurus, bikin kesimpulan yang sahih. Dua-duanya ibarat alat survival di hutan literasi digital.

Kenapa cuma dua ini? 

Karena abang gak akan sempat ngajarin semuanya, dan otak kalian udah penuh sama tugas, reels, dan drama kehidupan remaja. Tapi dua hal ini, percaya deh, punya akar kuat banget sama dunia kalian sebagai murid MTs Annida.

Kita tuh gak asing sama Qiyas. Itu diajari waktu ngaji Ushul Fiqh. Itu lho, cara nyari hukum lewat perbandingan. Qiyas itu bukan cuma cara nyari hukum. Itu cara berpikir. Cara nyambungin satu hal ke hal lain. Kayak pas kita belajar: “Khamr haram karena memabukkan. Maka segala yang memabukkan itu haram.”

Dan di soal literasi, analogi itu ya... Qiyas versi non-fikih. Kita nyambungin konsep satu ke yang lain, bukan buat ngeluarin hukum, tapi buat nangkep makna. Nah, soal analogi di soal bacaan itu kayak Qiyas versi sekuler. Tapi tetap pakai otak dan logika yang sama. Bedanya, bukan buat nyari halal-haram, tapi nyari jawaban A, B, C, atau D. Gak ada kitab, tapi tetap butuh ijtihad.

Lalu, Mantiq.

Ah, si Mantiq ini kadang dipandang sebelah mata. Padahal tanpa dia, banyak yang nyasar dalam berpikir. Abang inget dulu, waktu belajar Qawaid Mantiqiyah, ada satu pernyataan yang bikin kita garuk-garuk kepala: “Ta’arudh al-Muqaddimat wa fasad al-Tarakkub.”, bahwa cacat logis dalam suatu argumen dikarenakan adanya kontradiksi antara premis-premisnya, bisa menyebabkan argumen tersebut tidak sah atau tidak valid.

Mantiq atau Ilmu Logika yang kadang dianggap “berat” itu sebenernya alat yang sangat berguna. Alat buat mikir jernih. Biar gak gampang kecele. Biar otak kalian gak kayak motor mogok: banyak suara, tapi gak jalan.

Jadi simpelnya, kenapa dua ini yang abang pilih adalah karena: Qiyas ngajarin kalian berpikir dengan pola. Sementara Mantiq ngajarin kalian berpikir dengan logika.

Waktunya terbatas, otak kalian mahal, jadi abang kasih dua yang paling esensial. Yang bisa dipake di kelas, di ujian, bahkan di kehidupan.

Supaya kalian…
  • Gak bengong waktu lihat soal bacaan di ujian
  • Bisa bedain antara “bisa baca” dan “bisa ngerti”
  • Naik level dari sekadar “ngebaca kata” ke “nangkep makna”
  • Biar kemampuan literasi kita meningkat dan Bang Fachri bisa tidur lebih nyenyak

Jadi ayo kita mulai...


Skill Pertama: Analogi (Qiyas)

Apa itu Analogi/Qiyas?

Analogi itu seni menemukan hubungan. Jadi Qiyas atau analogy itu bukan cuma buat fiqih. Ini cara kerja otak yang nyambungin pola. Kayak sendok dan makanan, pena dan tulisan. Alat dan fungsi.

Contoh: Ikan : Air = Manusia : …?

Jawaban: Udara

Karena manusia butuh udara seperti ikan butuh air. Simple. Tapi logis.

Nah, di soal analogi, kita disuruh cari dua kata yang hubungannya mirip dengan dua kata lainnya. Intinya: “Kalau A berhubungan dengan B, maka C berhubungan dengan apa?”

Tips Biar Gak Salah:
  • Lihat dua kata pertama. Apa hubungannya?
  • Buat kalimat. Misal: “Pisau digunakan untuk ___.”
  • Cocokin hubungan itu dengan pilihan jawaban.
  • Singkirin jawaban yang ngaco. Jangan sampai kejebak pilihan jebakan betmen!
Contoh Soal (yang kadang bikin puyeng):

Gigi : Ompong = Pakaian : …
A. Telanjang
B. Celana
C. Badan
D. Penjahit
E. Malu

✅ Jawaban: A

Kalau gak punya gigi = ompong.
Kalau gak punya pakaian = telanjang (jangan dicoba di jalan pulang sekolah, ya!)

Retina : Mata = Pori-pori : …
A. Lubang
B. Bulu
C. Udara
D. Keringat
E. Kulit

✅ Jawaban: E

Retina itu bagian dari mata.
Pori-pori itu bagian dari kulit.

Skill Kedua: Penalaran Logis (Logika/Mantiq)

Apa Itu Penalaran Logis?


Ini kemampuan buat narik kesimpulan dari pernyataan, atau kemampuan buat narik kesimpulan sah (Natijah/Conclusion) dari dua premis (Mukodimah Sugro dan Mukodimah Kubro).

Ini bukan soal perasaan. Ini soal logika! Kalian dikasih beberapa pernyataan. Lalu disuruh narik kesimpulan yang paling masuk akal.

Contoh:

Semua siswa suka bakso.
Si Zaid adalah siswa.


Kesimpulan?

Si Zaid suka bakso.

Gak perlu feeling. Gak perlu tebak-tebakan. Ini logika, bukan horoskop.

Contoh lagi:

Semua kucing suka ikan.
Si Buntel adalah kucing.


Kesimpulan logis?

Si Buntel suka ikan.

Kalau kamu jawab: “Si Buntel suka rebahan sambil maen hape sampe jam 2 pagi” itu bukan logika, itu pengalaman pribadi 😅

Tips Mengerjakan:
  • Pahami isi tiap pernyataan. Baca pernyataan dengan hati yang tenang
  • Jangan ngarang! Semua kesimpulan harus sesuai isi teks. Hanya gunakan informasi yang diberikan
  • Hati-hati sama jawaban yang “hampir benar tapi bukan.”
  • Jangan bawa perasaan, bawa logika
  • Hindari asumsi “kayaknya” atau “feeling gue sih…”

Contoh Soal:


Tidak ada aktivis kampus yang lulus cepat.
Beberapa mahasiswi bukanlah aktivis kampus.


Berdasarkan dua pernyataan di atas, kesimpulan yang paling benar adalah …

A. Beberapa aktivis kampus tidak bisa lulus cepat.
B. Beberapa mahasiswi bisa lulus cepat.
C. Tidak ada mahasiswi yang lulus cepat.
D. Beberapa aktivis kampus bukan mahasiswi.
E. Tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Pembahasan Pilihan Jawaban:

A. Salah.
Ini hanya mengulang sebagian dari pernyataan pertama, tapi nggak menghubungkan dengan pernyataan kedua. Soal minta kita menghubungkan dua informasi.

B. Salah.
Ini kesimpulan di luar konteks. Pernyataan tadi bilang beberapa mahasiswi bukan aktivis, tapi nggak ada info apa-apa soal apakah mereka lulus cepat atau tidak.

C. Salah.
Lagi-lagi, ini asumsi sendiri, karena soal tidak menyebut semua mahasiswi dan tidak menyebut soal kelulusan mereka.

D. Salah.
Ini juga nggak ada hubungan langsung dari kedua pernyataan. Kita nggak tahu dari mana asal info ini.

E. Benar!
Kita tahu bahwa:
  • Semua aktivis kampus tidak lulus cepat (pernyataan pertama).
  • Beberapa mahasiswi bukan aktivis kampus → berarti ada sisanya yang aktivis kampus.
  • Nah, yang jadi aktivis kampus (mahasiswi atau mahasiswa), otomatis tidak lulus cepat.
Jadi, benar: tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Kesimpulan:

Untuk soal logika kayak gini, kita harus nyambungin dua pernyataan, kayak kabel charger. Kalau cuma satu ujung yang dicolok tapi yang satu nggak, HP-nya gak akan ngisi. 😆


Pesan Terakhir dari Abang
  • Baca dan nulis bukan cuma buat dapet nilai. Ini buat paham hidup. Buat ngerti dunia. Buat bisa nulis caption yang gak cringe.
  • Membaca adalah cara kita ngobrol sama orang yang udah wafat. Sementara menulis adalah cara kita bicara pada generasi yang belum lahir.
  • Kalau kalian baca buku, kalian minum dari mata air ilmu. Kalau kalian nulis, kalian ninggalin jejak.
  • Membaca itu ibadah, bagian dari thoriqoh Kiyai kita. Kayak Syaikhuna, yang tulisan-tulisannya masih jadi pelita sampai sekarang.

Jadi yuk:

  • Mulai dari 15 menit baca per hari
  • Gak harus buku berat, mulai dari bacaan ringan: komik, artikel, bahkan thread TikTok yang isinya beneran ilmu
  • Sering diskusiin isi bacaan bareng temen
  • Tulis apa yang kalian pahami, bukan apa yang kalian hafal

Kalau kalian rajin baca dan nulis, abang doain:

  • Otak makin encer
  • Ujian makin lancar
  • Hidup makin mudah
  • Bang Fachri bisa mikirin kerjaan lain yang masih banyak

Kalau kalian suka materi ini, jangan lupa baca lagi. Kalau gak suka, baca dua kali. Mungkin otaknya belum nyambung di percobaan pertama.






Materi ini ditulis untuk memperingati Hari Buku Nasional, 15 Mei 2025 di MTs Annida Al Islamy Bekasi

Minggu, 05 Januari 2025

Mengapa Pendidik Perlu Menulis?

Menjawab pertanyaan mengapa pendidik perlu menulis sebenarnya sangat mudah. Bahkan, jika pertanyaan ini diajukan kepada profesi lain, jawabannya juga sama mudahnya. Namun, saya ingin menunda jawaban tersebut hingga akhir tulisan. Sebab, pada awal ini, saya lebih tertarik membahas alasan-alasan yang sering saya dengar mengapa banyak pendidik tidak menulis.

Salah satu keluhan yang kerap muncul di kelas menulis adalah: “Mengapa saya tidak punya ide untuk menulis?” Sejujurnya, saya sulit menjawab pertanyaan ini karena menurut saya, pertanyaan tersebut tidak logis. Setiap orang yang mampu berpikir pasti memiliki ide, apalagi seorang pendidik yang setiap hari menghadapi berbagai situasi di kelas. Jika ide dipahami sebagai gagasan, keresahan, atau sesuatu yang ingin dibagikan, maka sulit membayangkan seorang pendidik tidak memilikinya. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Bagaimana cara memilih ide yang tepat untuk dituliskan?”

Cara yang sering saya lakukan adalah brainstorming. Tulis semua ide yang muncul di kepala tanpa menyaringnya. Proses ini bisa dilakukan sendiri, bersama rekan, atau bahkan dengan bantuan AI. Jangan takut jika ide tersebut terasa terlalu besar, terlalu kecil, mentah, atau belum sempurna. Kuncinya adalah membebaskan diri dari tekanan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna sejak awal. Setelah itu, pilihlah ide yang paling menarik atau paling relevan dengan kebutuhan. Fokus pada topik yang dekat dengan pengalaman atau minat pribadi. Menulis dari hati tentang sesuatu yang kita kuasai akan membuat prosesnya lebih menyenangkan.

Sebaliknya, beberapa pendidik mengeluhkan, “Saya punya banyak ide, tapi kenapa sulit untuk menuangkan ke dalam tulisan?” Solusinya sederhana: menulis buruklah! Bukan, ini bukan sinisme. Menulis buruk berarti membebaskan diri dari rasa takut salah. Kesulitan menuangkan ide dalam tulisan sering terjadi karena ketakutan kita akan menulis buruk, typo, tidak terstruktur dan lain-lain. Jangan takut menulis buruk, karena kita masih punya waktu untuk memoles tulisan itu menjadi lebih baik. Jangan takut menulis buruk, karena penulis yang tidak pernah menulis buruk biasanya tidak pernah menghasilkan apa-apa. Menulislah buruk dan cepat, karena itu akan menyelamatkan kita pada dua hal yang tidak perlu; membuang waktu dan mood yang jelek.

Beberapa guru yang sadar akan pentingnya menulis kemudian bertanya, “Sebagai pendidik, apa yang sebaiknya saya tulis?”

Sebagai pendidik, salah satu sumber tulisan terbaik adalah pengalaman di kelas. Kisah-kisah tentang menghadapi siswa yang sulit, strategi mengatasi anak pemalu, atau keberhasilan siswa yang menginspirasi adalah contoh topik yang sangat bernilai. Selain itu, pendidik dapat menulis tentang metode pengajaran yang inovatif, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, atau hasil penelitian pendidikan.

Tulisan-tulisan ini tidak hanya bermanfaat bagi guru lain, tetapi juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi siswa, orang tua, dan bahkan pembuat kebijakan. Kita hidup dalam ekosistem pendidikan, di mana pengambil keputusan sering tidak memahami dinamika di dalam kelas, tulisan pendidik bisa menjadi jembatan penting untuk menjelaskan tantangan dan peluang yang nyata.

Saya mengerti bahwa pendidikan merupakan bidang yang kompleks, sehingga sulit dirangkum dalam penjelasan singkat dalam tulisan. Tidak heran jika sebagian pendidik merasa ragu atau kurang percaya diri untuk menulis. Namun, setiap guru sejatinya telah menulis, baik dalam bentuk rencana pembelajaran (lesson plan), catatan evaluasi, maupun komunikasi dengan siswa dan orang tua. Oleh karena itu, suka atau tidak, kita harus sama-sama mengakui bahwa semua pendidik adalah penulis.

"Tapi sebagai guru yang sibuk dengan kegiatan mengajar, bagaimana cara efektif mengatur waktu agar tetap bisa menulis?"

Ya, secara pribadi saya mengenal beberapa kawan guru yang sangat sibuk. Saya juga mengerti bahwa mendidik adalah profesi yang menuntut banyak waktu, sehingga menemukan waktu untuk menulis bisa menjadi tantangan, tetapi bukan hal yang mustahil. Kata kuncinya adalah menjadikan menulis menjadi prioritas. Kita sering menjadikan menulis sebagai iseng-iseng atau hobi waktu senggang, sehingga mengerjakannya tidak menjadi prioritas. Anggap saja menulis itu sebagai hal yang wajib seperti salat. Sehingga ketika ada hal yang kita pikirkan, ide mengajar, keresahan dan lain sebagainya, kita akan lebih fokus dan merasa wajib untuk menulisnya.

Menjadikan menulis sebagai kebiasaan harian, seperti menyisihkan 10 menit untuk membuat jurnal, bisa menjadi langkah awal yang sederhana. Kesibukan setiap orang berbeda-beda, sehingga waktu yang sesuai untuk menulis pada setiap orang juga berbeda-beda. Bereksperimenlah dengan waktu-waktu berbeda untuk melihat saat paling produktif dan kreatif. Teknik seperti Pomodoro, di mana kita menulis selama 25 menit lalu beristirahat selama 5 menit, juga bisa membantu meningkatkan fokus dan produktivitas. Hal yang utama adalah menemukan waktu yang paling cocok dan membuatnya menjadi bagian dari rutinitas harian.

"Ya, saya mulai terpacu untuk menulis dan sejujurnya saya ingin menjadi penulis buku, tapi saya merasa tidak berbakat dalam menulis."

Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia tidak berbakat dalam menulis? Karena sejak kecil ia tidak suka menulis? Atau karena baginya menulis itu membosankan dan sama sekali tidak menyenangkan? Atau karena ia penah mencoba beberapa kali membuat tulisan tapi ternyata tidak bagus atau gagal? 

Karena alasan-alasan itu kemudian seseorang menyimpulkan bahwa ia tidak berbakat menulis.

Oke, sekarang bayangkan jika logika yang sama diterapkan pada membaca. Apakah sebagai guru, ketika kita melihat anak yang kesulitan membaca, yang mengatakan bahwa membaca tidak menyenangkan, bahwa ia pernah mencoba beberapa kali membaca dan tidak menyukainya, kita akan menyerah? Kemudian kita katakan kepadanya ia bukan anak yang berbakat membaca. Kemudian kita tidak memotivasinya, tidak pernah mencoba mencari cara agar membaca lebih menyenangkan, menyingkirkan semua buku serta tugas membaca yang menantang selama-lamanya karena kita telah melabeli bahwa ia tidak berbakat membaca. Sebagai orang tua atau guru, tentu kita tidak akan melakukan itu kan? Lalu mengapa terkadang kita melabeli bahkan pada diri kita sendiri hal yang sama dalam hal menulis?

Menulis sering dianggap sebagai bakat langka yang diwariskan, padahal tidak demikian. Merasa tidak berbakat menulis adalah hal yang biasa, tetapi keterampilan ini dapat diasah. Beberapa waktu lalu saya kembali membaca tulisan-tulisan dalam diary yang saya tulis bertahun-tahun yang lalu, dan saya menyimpulkan bahawa tulisan saya buruk dan saya tidak berbakat menulis. Untungnya, dulu guru saya tidak pernah bilang itu, melainkan ia bilang kalau saya adalah pencerita yang baik, sehingga saya percaya saja bahwa saya pandai bercerita, bahwa saya pandai menulis. Sekarang saya sudah menulis belasan buku, dan saya selalu ingat apa yang pernah dikatakan Ernest Hemingway, “It's none of their business that you have to learn how to write. Let them think you were born that way.”

"Lalu bagaimana cara menulis dengan baik?"

Ada empat langkah untuk memandu proses menulis dengan baik: percaya, memahami, membuatnya menyenangkan, dan berlatih dengan efektif.

Percayalah menulis itu keterampilan yang bisa dipelajari sebagaimana keterampilan lain seperti membaca dan bicara. Keyakinan seorang bahwa ia bisa menulis dapat mengubah mentalnya. Keyakinan menciptakan reaksi berantai: keberanian, usaha ekstra, dan kesuksesan. Semua kita mungkin pernah dan akan menghadapi kesulitan menulis pada suatu saat, tetapi keyakinan membantu kita bertahan.

Pahami bahwa menulis bukanlah beban. Menulis adalah sarana untuk membantu pendidik mengasah kemampuan refleksi, meningkatkan pemahaman diri, serta memperkuat keterampilan kognitif dan sosial-emosional. Aktivitas ini juga meningkatkan empati, karena pendidik dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi oleh siswa.

Pahami topik yang akan ditulis dengan baik, pahami juga struktur tulisan, lakukan penelitian mendalam, dan buat kerangka tulisan yang sesuai. Setelah menyelesaikan draf pertama, baca kembali tulisan itu kemudian perbaiki kesalahan tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat. Pastikan argumen jelas dan didukung dengan fakta. Jangan ragu untuk merevisi dan mengedit tulisan agar lebih baik.

Menulis adalah aktivitas yang menenangkan di tengah kesibukan dan ketidakteraturan dalam pekerjaan serta kehidupan. Bagi saya, waktu menulis adalah saat yang paling menyenangkan dan tenang di hari yang penuh dengan berbagai tugas. Sayangnya, banyak dari kita yang sejak kecil mengalami menulis sebagai sesuatu yang menegangkan, akibat proses pendidikan yang memaksa dan tidak membebaskan. Ubahlah mindset dari menulis adalah beban tugas yang harus diselesaikan, menjadi menulis sebagai sarana untuk berekspresi dan mengendalikan diri.

Latihan yang menarik dan menyenangkan sangat penting untuk menjaga motivasi. Latihan dan ketekunan adalah kunci untuk menulis dengan baik, bukan bakat yang tinggi. Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan ditingkatkan dengan latihan.

Mulailah dari hal kecil seperti menulis catatan harian atau refleksi singkat. Baca lebih banyak buku untuk memperkaya kosa kata dan gaya menulis. Minta umpan balik dari teman sejawat atau bergabung dengan komunitas menulis. Yang terpenting, nikmati prosesnya dan jangan takut melakukan kesalahan—kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Percayalah! Dengan tekad dan latihan, siapapun bisa mengembangkan keterampilan menulis dan mencapai impian menjadi penulis buku.

Jadi kembali ke pertanyaan awal, “Mengapa pendidik perlu menulis?”

Karena menulis adalah salah satu keterampilan utama yang dibutuhkan di masa depan, dan karena itu semua siswa didik perlu menguasainya. Cara yang paling efisien untuk menekankan keterampilan ini adalah pendidik meneladankan pentingnya menulis kepada siswa didik. Guru yang menulis bersama muridnya mengajarkan bahwa menulis adalah bagian penting dari pembelajaran dan kehidupan.

Karena tulisan pendidik, baik berupa refleksi, laporan, atau rencana aksi, dapat menjadi rujukan berharga dalam kolaborasi dengan rekan guru, orang tua, dan pihak lain. Kritik, diskusi, dan inkuiri yang muncul dari tulisan guru membuka peluang untuk merancang langkah bersama yang lebih efektif.

Ayo jadikan menulis sebagai bagian dari identitas pendidik. Adagium arab menyatakan bahwa konsistensi lebih berharga dari seribu karomah, sementara guru saya pernah bilang, “Jika kamu tidak tahu, maka belajar. Jika kamu tahu, maka ajarkan.” Hal itulah yang harus dilakukan secara konsisten sepanjang hidup; belajar dan mengajar. 

Sebaik-baiknya pelajar sepanjang hayat adalah juga penulis sepanjang hayat. Dengan menulis, pendidik tidak hanya meneladankan nilai belajar tanpa henti, tetapi juga membuka pintu bagi perbaikan yang lebih luas demi kepentingan siswa dan masa depan pendidikan.

Wallahu 'Alam Bissawab

Selasa, 31 Desember 2024

Kapan Memutuskan untuk Menulis, Om?

--Sebuah Jawaban untuk Isabel

“Om, sejak kapan memutuskan untuk menulis buku?” Isabel bertanya sambil membolak-balik beberapa jilid novel yang baru saja dibelinya di lapak buku bekas di Blok M. Suaranya lirih, tetapi tetap terdengar jelas di dalam kereta MRT menuju Stasiun Sudirman.

Isabel, teman anak saya, Nada, baru berusia 14 tahun. Namun, minatnya terhadap dunia literasi sungguh luar biasa. Ia pernah menerbitkan cerita bergambar dan kini tengah merencanakan untuk mengikuti beberapa lomba menulis. Koleksi bacaannya, mulai dari bahasa Indonesia hingga Inggris, mencerminkan kedewasaan selera yang jarang dimiliki remaja seusianya.

Saya terdiam sejenak, berpikir. “Ya, sejak Om ngirim naskah ke penerbit,” jawab saya akhirnya.

Namun, segera setelah kata-kata itu keluar, saya merasa ragu. Apakah itu benar-benar jawaban yang diinginkannya? Mungkin ia bertanya tentang momen spesifik yang membuat saya yakin untuk menulis, tentang proses menemukan ide, atau sekadar awal mula kecintaan saya pada dunia kepenulisan.

Jika yang Isabel tanyakan adalah momen-momen penting itu, maka jawabannya tidak sederhana. Karena sesungguhnya, keputusan untuk menulis bukanlah hasil dari satu peristiwa tunggal, melainkan perjalanan panjang yang penuh dengan fragmen cerita.
 

*

Perjalanan itu dimulai saat saya di pesantren, sekitar tahun 2000, ketika saya masih kelas satu Aliyah. Di sana, saya bertemu Ahmad Rifai, teman sekelas sekaligus sekamar. Dialah orang pertama yang mengenalkan saya pada dunia tulisan. Rifai menulis dengan deskripsi yang hidup, menyuarakan pemikiran yang menentang kemapanan. Terinspirasi olehnya, saya mulai menulis diary—menuangkan berbagai pikiran dan perasaan ke dalam lembaran-lembaran kosong.

Kebiasaan ini berlanjut hingga masa kuliah di Pekalongan pada 2003. Di sana, saya berkenalan dengan Hoeda Manis, penulis produktif yang tulisannya sering muncul di koran lokal maupun nasional. Gayanya lugas, berani, dan menyentuh, menjadi salah satu referensi penting bagi saya. Namun, pada semester tiga, saya memutuskan untuk drop out dan kembali ke Bekasi, meninggalkan banyak hal, termasuk Hoeda.

Meski demikian, saya tetap menulis. Artikel, cerpen, puisi—meskipun tidak ada satupun yang diterbitkan. Hingga suatu hari, saya memberanikan diri mengirimkan naskah sebagai syarat mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan oleh Gagas Media dan Rotary. Keberuntungan pemula berpihak pada saya: tulisan itu diterima, dan saya pun ikut workshop tersebut. Di sana, saya bertemu dengan Raditya Dika, yang saat itu baru saja menerbitkan Cinta Brontosaurus.

Workshop itu menyadarkan saya bahwa meskipun banyak peserta lebih berbakat, saya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua orang: ketekunan dan keberanian untuk mencoba. Beberapa bulan kemudian, pada 2008, saya mengirimkan naskah ke penerbit Bukune, tempat Raditya Dika menjabat sebagai Pimpinan Redaksi. Lagi-lagi keberuntungan berpihak: naskah saya diterima, meskipun harus melalui proses revisi yang panjang. Setahun kemudian, novel pertama saya, Badung Kesarung, diterbitkan.

Novel itu sederhana, sebuah komedi tentang kehidupan pesantren. Namun, kekuatannya ada pada sudut pandangnya: sebagai santri, saya tahu bahwa di balik kesan serius pesantren, tersimpan banyak humor dan cerita ringan yang akrab dengan keseharian. Itulah yang saya coba tuangkan ke dalam tulisan.

Sejak saat itu, menulis menjadi jalan hidup saya. Dua tahun kemudian, pada 2012, buku kedua saya, Pintar Bahasa Inggris via Media Sehari-hari, diterbitkan. Saya percaya pada adagium: sesuatu yang terjadi sekali tidak akan terjadi dua kali, tapi sesuatu yang terjadi dua kali akan terjadi untuk ketiga kali. Kini, pada akhir 2024, saya telah menerbitkan 14 buku, baik melalui penerbit mayor maupun indie.

*


Jadi, Isabel, apakah ada satu momen spesifik yang membuat Om memutuskan untuk menulis buku? Mungkin tidak. Keputusan itu adalah hasil dari serangkaian peristiwa: pertemuan dengan Ahmad Rifai, kekaguman pada Hoeda Manis, dan dukungan dari teman-teman yang membaca karya awal. Semua itu membentuk fondasi perjalanan kepenulisan.

Semoga ini menjawab rasa ingin tahumu. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, mungkin giliranmu yang duduk di workshop kepenulisan sebagai pembicara, menjawab pertanyaan yang sama dari penulis muda lainnya: “Kak Isabel, sejak kapan memutuskan untuk menulis buku?”

Dan saat itu tiba, aku yakin kamu akan menjawab dengan penuh percaya diri—jauh lebih tenang dibanding saat kamu pertama kali menjadi narasumber beberapa waktu lalu. 😊

Children Of Heaven, Kisah Tentang Anak-Anak Masa Depan

Dari awal bertemu di Stasiun Bekasi, suasana sudah penuh kehangatan. Saya menggoda Alvaro, teman anak saya, Nada, “Cie yang mau ke Jepang!”

Saya sengaja meninggikan suara, memastikan semua orang di sekitar mendengar. Alvaro hanya terkekeh kecil. Rambutnya yang berantakan mengingatkan saya pada karakter Ali dari novel serial Bumi - Tere Liye.

Alvaro Danish Sutanto bukan anak biasa. Dia baru saja memenangkan juara pertama kategori Roblox dalam National Coding Competition 2024, sebuah ajang bergengsi untuk siswa Indonesia berusia 8 hingga 16 tahun yang diadakan oleh Koding Next. Dengan usia yang baru 14 tahun, Alvaro berhasil menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Hadiahnya? Sebuah perjalanan edutrip ke Jepang, pengalaman yang bagi banyak orang adalah mimpi yang menjadi nyata.

Namun, ada nada ragu dalam ucapannya, “Belum tahu nih, Om. Jadi atau nggak.”

Mama Alvaro, yang berdiri di samping Alvaro, dengan cepat menjelaskan, “Soalnya Al belum pernah pergi sendirian, apalagi sampai ke luar negeri. Kalau orang tua mau nemenin, biayanya juga nggak sedikit.”

Hadiah perjalanan itu memang hanya untuk pemenang, tanpa mencakup biaya pendamping. Saya mendengar sekilas ada getaran kekhawatiran yang terasa di suaranya. Ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang keberanian melepas anak ke dunia yang jauh lebih besar, dunia yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya.

Alvaro tersenyum kecil, “Padahal aku berharapnya juara dua aja, Om. Dapat laptop, selesai urusan.” Kata-katanya terdengar sederhana, namun mengandung kejujuran yang menyentuh. Laptop itu akan diberikan untuk adik perempuannya, Alisha.

Adegan itu mengingatkan saya pada film Children of Heaven karya Majid Majidi, sebuah cerita menyentuh tentang Ali dan adiknya, Zahra, di tengah keterbatasan hidup mereka di Tehran, Iran. Suatu hari, Ali secara tidak sengaja kehilangan sepatu Zahra. Karena mereka tidak mampu membeli sepatu baru, mereka memutuskan untuk berbagi sepatu Ali. Mereka bergantian memakainya untuk pergi ke sekolah.

Ali kemudian mengetahui tentang sebuah lomba lari di sekolahnya yang menawarkan hadiah sepatu untuk juara ketiga. Dia memutuskan untuk ikut lomba tersebut dengan harapan bisa memenangkan sepatu baru untuk Zahra. Ali berlatih keras dan bertekad untuk mencapai tujuannya. Pada hari perlombaan, Ali berlari dengan sekuat tenaga. Namun, dia menghadapi dilema karena harus memastikan ia finis di posisi ketiga, bukan pertama atau kedua, untuk mendapatkan hadiah sepatu. Meskipun Ali berusaha keras untuk juara 3, dia akhirnya tetap finis di posisi pertama. Kemenangan yang manis sekaligus getir.

Sebagai orang tua, saya melihat kesamaan antara Alvaro dan Nada, anak saya. Mereka lahir dari keluarga sederhana, di mana setiap keberhasilan terasa seperti kemenangan besar, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keluarga. Terkadang saya bertanya-tanya, bagaimana jika saya memiliki uang satu triliun rupiah? Apakah segalanya akan menjadi lebih mudah? Namun, saya tahu uang tidak selalu menjamin kebahagiaan. Berita di televisi akhir-akhir ini mengajarkan kita bahwa keserakahan hanya membawa seseorang ke dalam lubang kesengsaraan yang lebih dalam. Itu menjadi pengingat nyata bahwa nilai-nilai yang sesungguhnya seperti pengorbanan, kejujuran, ketekunan juga kerja keras tidak bisa dibeli.

Sampai hari ini saya masih percaya bahwa bahwa anak-anak yang tumbuh dalam kesederhanaan akan memiliki karakter yang lebih kuat dan tangguh. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini belajar untuk menghargai apa yang mereka miliki, berjuang untuk apa yang mereka inginkan, dan tetap rendah hati ketika mereka mencapai puncak. Mereka belajar bahwa kebahagiaan bukanlah tentang memiliki segalanya, tetapi tentang berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain.

Dalam langkah Alvaro menuju Jepang, meski ragu dan penuh tantangan, saya melihat seorang anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh kasih dan bijaksana. Ia adalah pengingat bahwa anak-anak seperti dia adalah harapan untuk masa depan. Harapan yang akan membawa nilai-nilai terbaik dalam perjalanan mereka meraih mimpi yang bahkan mungkin tak terjangkau oleh imajinasi kita, para orang tua.

Sabtu, 20 Juli 2024

Bagaimana Mendapat Ide dan Inspirasi Saat Buntu?

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

---------------------------

Bagaimana cara mendapatkan ide lagi jika lagi buntu ide?

Gloria Erfrans - STIBA IEC JAKARTA

----------------------------

bagaimana solusinya jika kita kehabisan ide untuk menulis?

Anza Mafiratika - STIBA IEC Jakarta

---------------------------  

Bagaimana cara memulai menulis dalam menentukan ide?

Adjeng Nurul Rahma - STIBA-IEC JAKARTA

----------------------------

bagaimana cara mudah mendapatkan inspirasi untuk menulis fiksi?

Chika Nur Nazra - STIBA IEC Jakarta

----------------------------  

Bagaimana cara membangun minat dalam menulis agar selalu terjaga mood dalam menulis?

Asri Jannah Wati - UNINDRA

----------------------------  

cara nya mengembangkan kreatifitas dalam menulis?

AFIFAH APRIYANTI HASANAH - SMK NURUL ISLAM


Halo, Kawan-kawan. Salam kenal! Karena pertanyaan-pertanyaan di atas relatif sama, maka saya akan menjawab secara gabungan.

Asumsi saya dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah penulis belum memiliki ide sama sekali saat ingin menulis, bukan karena mengalami writer’s block di tengah-tengah menulis cerita.

Saya pribadi menulis karena dua hal: pertama, ketika diminta menulis dengan tema yang sudah ditentukan; dan kedua, ketika mendapat ide dari pengalaman dan keresahan.

Pada kondisi pertama, biasanya saya melakukan penelitian dan membaca banyak referensi yang berkaitan dengan tema atau genre yang akan saya tulis. Saya juga melakukan brainstorming dengan menuliskan semua ide yang muncul di kepala, tanpa menyaring atau menghakimi.

Sementara pada kondisi kedua, saya sering mendapatkan ide yang masih sangat mentah dan belum solid. Misalnya, saya hanya punya pesan yang ingin saya sampaikan (moral of the story), atau tokoh dengan karakter yang kuat, sebuah adegan, atau dialog. Ide semacam ini bisa muncul ketika menonton, membaca, berinteraksi dengan teman, mendengarkan lirik lagu, dan sebagainya. Setelah ide muncul, saya biasanya langsung menulis, meskipun belum tahu apakah itu akan menjadi puisi, cerpen, novel, atau hanya tetap tersimpan.

Menurut saya, hal-hal tersebut juga bisa dilakukan ketika kita sama sekali tidak punya ide. Kegiatan-kegiatan ini dapat memicu kreativitas dan memunculkan ide untuk cerita. Kata kuncinya adalah paksakan. Ide dan kreativitas akan datang jika kita memaksa diri dan disiplin untuk mencarinya. Misalnya, dengan menulis bebas, menuliskan apa saja yang muncul di pikiran selama beberapa menit tanpa berhenti. Ini bisa membantu memunculkan ide yang tidak terduga. Selain itu, bertanya pada diri sendiri seperti, “Apa yang ingin saya sampaikan?”, “Apa yang saya pedulikan?”, atau “Apa yang membuat saya penasaran?” juga bisa membantu.

Intinya, tetap memaksa untuk menulis! Menulis bahwa kita sedang tidak punya ide lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Dengan memaksa jari kita untuk menulis, otak kita akan mencari cara agar mendapatkan ide. Terkadang ide itu tidak datang seketika saat kita menulis, tapi datang saat kita sedang beristirahat, menjauh dari aktivitas menulis. Tapi itu terjadi karena kita memancing ide dengan cara memaksakan untuk menulis.

Jadi, paksakanlah untuk menulis! Luangkan waktu untuk menulis apa pun sebebas-bebasnya. Setelah pemaksaan itu, lakukan kegiatan lain seperti bepergian, mencoba hobi baru, atau bertemu orang baru. Pada akhirnya, otak akan kembali memunculkan ide untuk menulis.

Sekali lagi paksakan untuk menulis!

Semoga ini menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Menulis Dengan Bantuan AI (Artificial Intelligent)

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

--------------------------

Berikut beberapa pertanyaan yang bisa diajukan dalam kegiatan webinar menulis, disesuaikan dengan topik dan target audiens: *Untuk webinar umum tentang menulis:* * *Apa saja kiat-kiat untuk memulai menulis dan mengatasi rasa takut untuk menulis?* * *Bagaimana cara menemukan ide menulis yang menarik dan orisinal?* * *Teknik apa yang bisa digunakan untuk membuat tulisan lebih menarik dan mudah dipahami?* * *Bagaimana cara menyusun struktur tulisan yang baik dan efektif?* * *Strategi apa yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas tulisan?* * *Bagaimana cara mengatasi kesulitan dalam menulis, seperti kesulitan menemukan kata yang tepat atau kesulitan merangkai kalimat?* * *Bagaimana cara mempromosikan tulisan dan mendapatkan pembaca?* * *Bagaimana cara menulis untuk berbagai platform, seperti blog, media sosial, dan website?* * *Apa saja sumber referensi yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis?* * *Bagaimana cara menulis dengan gaya yang khas dan mudah dikenali?* *Untuk webinar khusus tentang jenis tulisan tertentu:* * *Bagaimana cara menulis artikel opini yang persuasif?* * *Teknik apa yang bisa digunakan untuk menulis cerpen yang menarik dan penuh konflik?* * *Bagaimana cara menulis puisi yang bermakna dan menyentuh hati?* * *Strategi apa yang bisa digunakan untuk menulis novel yang memikat dan penuh alur?* * *Bagaimana cara menulis skenario film yang menarik dan dramatis?* * *Bagaimana cara menulis esai yang argumentatif dan kritis?* * *Bagaimana cara menulis laporan ilmiah yang akurat dan mudah dipahami?* * *Teknik apa yang bisa digunakan untuk menulis pidato yang inspiratif dan memotivasi?* *Untuk webinar yang fokus pada aspek tertentu dari menulis:* * *Bagaimana cara menggunakan bahasa yang efektif dan tepat sasaran dalam menulis?* * *Bagaimana cara menulis dengan gaya yang formal dan profesional?* * **BagaiApakah ada kesalahan umum yang sering dilakukan oleh penulis pemula?

Wildatul Aluf Barokah - STIBA IEC JAKARTA

Halo Wilda, salam kenal!

Meski kamu menggunakan AI secara sembarangan, saya tetap senang karena pertanyaanmu memberi saya bahan tulisan.

Sejatinya AI, mesin atau aplikasi apapun dirancang untuk memudahkan manusia. Alat-alat seperti sempoa, kalkulator, komputer sampai AI adalah mesin yang bisa digunakan untuk menunjang segala kegiatan atau profesi kita sehari-hari, termasuk juga dalam hal menulis.

Sebagai penulis saya tidak khawatir dengan keberadaan AI, bahkan bisa memanfaatkannya dengan baik. Apakah AI bisa diberi perintah untuk membuat premis cerita? Tentu bisa. Membuat kerangka karangan, bahkan sampai membuat seluruh novel juga bisa. Namun, jika kamu menggunakannya secara ceroboh seperti cara kamu memberi pertanyaan di atas, maka AI sama sekali tidak berguna. Sama tidak bergunanya seperti komputer yang diberikan kepada Lemur Madagaskar.

Saya pribadi menggunakan AI untuk brainstorming, mengembangkan ide dan plot, mengedit tulisan, melakukan penelitian, atau sekedar bertanya tentang banyak hal. AI buat saya tidak ubahnya kawan yang tidak pernah rewel dan selalu menjawab apapun pertanyaan dan permintaan saya. Oleh karena itu, saya tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu di atas, karena tentu AI akan mudah sekali memberi jawaban yang kamu cari.

Salam.

Baca atulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Buku Anak, Copywriting, Cover Buku Sampai Fanfiksi

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

--------------------------

Fiksi yang cocok utk anak usia dini?

Siti Chusnul Chotimah, S.Pd - TKIT Al Muqorrobin
 
Hallo, Unun. Sudah lama ya, kita gak ketemu. Semoga sehat-sehat ya.

Saya pribadi biasanya melihat ulasan dan rekomendasi dari orang lain sebelum memilih bahan bacaan untuk anak. Dan ini yang paling penting, saya sudah membaca buku tersebut sebelum memberikannya atau membacakannya kepada anak saya. Tingkat kesulitan bacaan juga penting diperhatikan, karena setiap anak berbeda dalam kecerdasan literasi, yang tidak selalu berkaitan dengan usia. Oleh karena itu, orang tua harus jeli melihat kemampuan anak dalam membaca dan memahami cerita.

Selain itu, saya juga mempertimbangkan ilustrasi. Buku dengan ilustrasi menarik bisa membantu menjaga perhatian anak, terutama untuk anak yang lebih kecil.

Berikut rekomendasi buku-buku yang disukai anak-anak saya:
  • Winnie the Pooh
  • Serial Camille oleh Aline de Petingne dan Nancy Delvaux
  • Serial Tini oleh Marcel Marlier
  • My First Qur'an Story oleh Tasaro GK
  • Serial Bumi oleh Tere Liye
Anak-anak saya juga suka membaca dari Room to Read (literacycloud.org) yang menyediakan cerita dalam berbagai bahasa dan tingkatan.

--------------------------

Would you share about copy writing?
Arlina Yuaninta - CIMB Niaga

Hai, Lin. Serius nanya ini nih? Hahaha
 
Saya pribadi belum pernah menjadi Copywriter jadi saya tidak tahu bagaimana mekanisme dan cara kerjanya, tapi saya akan coba menjawab sesuai pengetahuan saya.

Copywriting adalah istilah untuk sebuah pekerjaan menulis yang bertujuan untuk mempromosikan dan menjual produk atau layanan. Dalam dunia pemasaran, kata “Copy” merujuk pada teks yang digunakan untuk mempromosikan/menjual produk atau layanan. Sementara orang yang melakukannya disebut Copywriter, atau jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi Penulis Naskah Iklan.

Dalam dunia perbankan mungkin juga ada pekerjaan menjadi Copywriter ini, tapi sekali lagi saya tidak tahu bagaimana mekanisme pekerjaan ini dan ada di departemen apa. Kemungkinan salah satu tugasnya adalah membuat tulisan dalam berbagai bentuk media seperti iklan, brosur, situs web, email, dan media sosial. Tentu Copywriter tidak hanya sekadar menulis teks yang kaku, tetapi juga harus memahami audiens, memenuhi aspek-aspek persuasi, dan mengetahui tentang produk atau layanan yang ditawarkan.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.

-----------------------------

Bagaimana tips membuat sampul buku untuk pemula?

Azora Ainuni - STIBA-IEC

Halo Azora, salam kenal!

Wah, jika pertanyaanmu tentang cover buku, saya berasumsi kamu sudah punya naskah yang siap diterbitkan. Keren!

Saya pernah menerbitkan buku baik secara mandiri melalui Penerbit Indie atau juga secara profesional melalui Penerbit Mayor. Jika naskahmu diterima oleh Penerbit Mayor, tidak perlu khawatir soal cover buku karena tim penerbit yang akan mengurusnya. Namun, jika kamu menerbitkan melalui Penerbit Indie, ada beberapa pilihan: bisa dibuatkan oleh pihak penerbit atau membuatnya sendiri.

Saya pribadi memilih membuat cover buku sendiri saat menerbitkan melalui Penerbit Indie, agar lebih bebas berekspresi. Aplikasi yang biasa saya gunakan untuk membuat cover buku adalah Canva. Aplikasi ini cocok untuk pemula yang ingin berkreasi membuat cover buku sendiri karena mudah digunakan dan menawarkan banyak pilihan serta contoh.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.

----------------------------------

Mungkin pertanyaan ini bukan mengenai menulis fiksi, namun masih berkaitan dengan fiksi. Di dalam fiksi ada fanfiksi, di mana karya fiksi tersebut ditulis oleh penggemar dengan menggunakan karakter yang sudah terkenal sebagai karakter di karya fanfiksi tersebut. Sekarang ini banyak sekali fanfiksi, walau sebenarnya dari sepuluh tahun lalupun sudah ada. Namun, sekarang ini tidak sedikit author-author fanfiksi yang mempublish fanfiksinya sebagai buku, bahkan tidak sedikit juga yang mengadaptasi fanfiksi tersebut menjadi sebuah film atau series. Pertanyaan saya adalah, apakah legal untuk mempublish sebuah karya fanfiksi bahkan mengkomersilkan karya tersebut? Bagaimana soal copyright dari karakter terkenal yang dipakai?
Dinda Cherril Julian Rahim - STIBA-IEC Jakarta

Halo Dinda, salam kenal!

Ya, mempublikasikan karya fanfiksi apalagi sampai mengkomersilkannya punya akibat hukum yang signifikan, karena ini terkait dengan hak cipta. Artinya, menggunakan tokoh dalam karya fiksi (karakter dalam buku, film, atau komik) dalam karya fanfiksi tanpa izin pemilik hak cipta dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta yang bisa dikenakan denda, atau bahkan tuntutan pidana.

Benar apa yang kamu ceritakan bahwa sejak beberapa tahun belakangan ini, ada beberapa karya fanfiksi yang dipublikasikan baik melalui media tulisan atau video. Ada yang legal tapi tidak sedikit juga yang ilegal. Jika kamu ingin melakukan hal serupa, saya sarankan untuk melihat lisensi fanwork yang ada pada karya tersebut. Beberapa pemilik hak cipta, seperti penulis atau penerbit, mungkin mengizinkan pembuatan dan distribusi karya fanfiksi selama tidak dikomersilkan. Mereka mungkin memberikan panduan atau batasan spesifik terkait penggunaan karya mereka dalam fanfiksi. Kamu bisa mencari izin eksplisit dari pemilik hak cipta atau memilih untuk mendistribusikan karya mereka secara gratis di platform yang mengizinkan karya fanfiksi, seperti Archive of Our Own (AO3) atau Wattpad.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Tentang Teknik Menulis

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

------------------------------------

apakah para penulis menggunakan teknik agar para pembaca mempunyai ketertarikan tersendiri dari buku tersebut?

Ahmad Ruslan - STIBA-IEC JAKARTA

Hallo Ruslan, salam kenal!

Ya, tentu saja para penulis sering menggunakan berbagai teknik untuk menarik dan mempertahankan minat pembaca. Seperti dalam olah raga, teknik perlu diasah agar semakin mahir. Dan sebagaimana olah raga, teknik bisa dipelajari dan ditingkatkan. Ini adalah bagian penting dari keterampilan menulis.

Beberapa penulis seperti Pidi Baiq bahkan membuat teknik dan style tersendiri dalam tulisannya. Dilan contohnya, secara premis novel itu sederhana, namun dalam teknik penulisan, Pidi menitikberatkan pada pengembangan karakter yang kuat dan unik dengan dialog yang lucu dan romantis. Karakter Dilan, anak remaja usia belasan yang sudah punya idealisme dan mental tidak seperti kebanyakan anak muda di usianya tentu membuat pembaca tertarik. Teknik penulisan yang unik tersebut juga dilakukan Pidi ketika menulis seri Drunken Monster. Kalimatnya ringan dan diselingi dengan bahasa lisan, membuat karyanya menarik perhatian pembaca.

Dewi Lestari, dengan plot dan dialog yang memikat dalam Perahu Kertas, Madre, dan Filosofi Kopi, menciptakan kejutan, konflik, dan ketegangan yang membuat ceritanya hidup dan menarik. Sementara deskripsi dalam novel-novel Haruki Murakami juga membuat pembaca membayangkan setting dan kejadian dalam cerita, sehingga mereka merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut.

Ayu Utami juga punya teknik membuka cerita dengan kalimat atau paragraf pembuka yang kuat dan menarik. Saya kutipkan kalimat pembuka dari Bilangan Fu, “Taruhan. Kau pasti enggan percaya jika kubilang padaku ada sebuah toples selai berisi sepotong ruas kelingking.”

Semua teknik yang digunakan oleh penulis-penulis yang saya sebutkan di atas bertujuan untuk membuat cerita lebih hidup dan menarik bagi pembaca. Ada beberapa teknik lain seperti Show, Don't Tell, atau kebalikannya Tell, Don’t Show, teknik membangun Suspense, Flashback, In Medias Res (Memulai cerita di tengah aksi), Cliffhanger (Mengakhiri bab atau cerita dengan situasi yang menggantung) dan lain sebagainya. Menggabungkan teknik-teknik ini dapat menambah kedalaman dan kompleksitas pada ceritamu, membuatnya lebih menarik bagi pembaca.

Seperti seorang pemain sepak bola yang mempelajari berbagai teknik, penulis juga perlu mengasah keterampilan dalam menulis. Seperti pemain yang tahu kapan harus mengoper, dribbling, berlari, atau melakukan tackle, penulis juga harus memahami kapan menggunakan teknik ‘tell don’t show’ atau ‘show don’t tell’, serta bagaimana menempatkan dialog, kapan ia deskriptif, kapan ia harus mendramatisir cerita. Semua ini dapat diperoleh melalui latihan, intuisi, dan membaca karya-karya lain.

Teknik bisa dipelajari, tetapi tanpa praktek akan percuma. Pengetahuan tentang teknik menulis tanpa praktik itu sama saja dengan belajar teknik berenang dari buku atau video tanpa pernah berlatih di kolam renang. Kunci utamanya adalah praktek. Jika penulis terbiasa menggunakan berbagai teknik, dengan waktu, ia akan mengembangkan gaya penulisan yang unik dan bahkan menciptakan tekniknya sendiri.

Semoga itu menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Tentang Pemilihan Kata

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

----------------------------

Bagaimana cara mudah dalam pemilihan kata dalam cerita fiksi atau non fiksi, supaya pembaca lebih mudah paham tetapi tetap memilik bobot pada kalimat?

Wendy Aulia Vita Sary - STIE Indonesia Jakarta


Halo Wendy, salam kenal!

Saya sering menggunakan kamus sinonim untuk mencari kata atau diksi yang sesuai. Situs web yang sering saya gunakan adalah persamaankata.com. Penggunaan sinonim sangat berguna agar kata yang digunakan lebih bervariasi, sehingga pembaca tidak bosan. Namun, perlu diperhatikan bahwa sinonim harus sesuai dengan konteks, mudah dipahami, dan tidak mengubah makna keseluruhan kalimat.

Saya selalu menulis dengan kalimat yang sederhana dan jelas. Jika ada dua kata yang sama maknanya, saya pasti memilih kata yang lebih sederhana. Mengapa? Karena saya memikirkan pembaca. Pembaca, pada usia berapapun, tentu menginginkan deskripsi yang jelas dan sederhana agar mereka dapat membayangkan adegan atau karakter dengan lebih baik. Saya juga selalu menghindari penggunaan kata-kata yang tidak perlu atau berlebihan. Hal ini membantu menjaga kalimat tetap padat. Kata kuncinya: jika bisa dibuat lebih sederhana dan jelas, mengapa dibuat rumit dan bertele-tele?

Dalam konteks dan nuansa tertentu, saya juga menggunakan gaya bahasa atau majas. Tujuannya tetap agar pembaca mudah mengerti namun dapat menambah kedalaman makna pada kalimat. Contoh, daripada menulis “gadis itu sangat sedih dengan kematian ibunya,” bisa diganti dengan simile atau metafora seperti “Ibu seperti sinar matahari dalam dunia gadis itu. Kematian ibu pada sore yang mendung, menjadikan duka bagai sumur gelap yang tidak sanggup ia pijak dasarnya.”

Hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan majas adalah memperhatikan ritme agar tidak membuat kalimat terasa canggung atau tersendat. Salah satu cara mengukur hal tersebut adalah dengan membacanya kembali dengan suara keras, atau meminta pendapat dari teman untuk mendapatkan masukan dan penilaian.

Semoga itu menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Tentang Konflik Cerita

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

----------------------------------------  

Bagaimana cara menentukan konflik utama yang akan menjadi pusat cerita?

Molldy Monia Milene - STIBA IEC

Hallo Molldy, salam kenal!

Untuk merekayasa konflik yang kompleks dan menarik, ada beberapa teknik yang bisa digunakan. Secara umum, konflik dapat dibagi menjadi dua: konflik internal dan konflik eksternal.

Konflik internal melibatkan pikiran dan perasaan karakter, termasuk konflik psikologis, moral, dan eksistensial. Sementara itu, konflik eksternal bisa berasal dari berbagai sumber seperti konflik dengan karakter lain, masyarakat, alam, teknologi, atau waktu.

Saya sering mencontohkan film Into the Wild untuk menggambarkan seluruh konflik itu. Dalam film tersebut, Christopher McCandless, seorang mahasiswa berprestasi lulusan Universitas Emory, menolak kehidupan konvensional dengan menghancurkan kartu kredit dan identitasnya. Ia melakukan perjalanan lintas negara, menumpang kendaraan orang lain, dan memperkenalkan dirinya sebagai Alexander Supertramp. Chris juga menyumbangkan hampir seluruh tabungannya kepada Oxfam, sementara ia tidak memberitahu keluarganya dan menolak berhubungan dengan mereka setelah pergi.

Chris kemudian mengarungi Sungai Colorado, mengabaikan peringatan penjaga taman, dan sampai di Meksiko. Ia juga menggunakan kereta barang menuju Los Angeles, tetapi merasa “rusak” oleh peradaban modern dan memutuskan untuk pergi lagi. Akhirnya, Chris terpaksa menumpang mobil setelah dipukuli oleh petugas stasiun kereta api.

Di Slab City, Chris bertemu Tracy Tatro, seorang gadis remaja yang tertarik padanya, meskipun Chris menolak karena Tracy masih di bawah umur. Kemudian, Chris berjalan sendirian ke daerah terpencil di Alaska. Di “The Magic Bus,” kehidupan Chris semakin sulit, dan ia mengambil keputusan yang buruk. Dalam keadaan putus asa, Chris bahkan harus mengumpulkan dan memakan akar tanaman. Akhirnya, Chris jatuh sakit dan perlahan-lahan sekarat karena kelaparan, hingga mayatnya ditemukan oleh para pemburu rusa.

Dalam film yang diambil dari kisah nyata itu, hampir seluruh konflik ada, dari mulai konflik dalam pikiran dan perasaan karakter tentang kehidupan matrealistis dan ketidakadilan, konflik eksistensial tentang pencarian jati diri dan tujuan hidup, konflik moral karena ia menyukai gadis yang masih di bawah umur, konflik dengan orangtua yang terlalu memaksa, dengan masyarakat yang ia anggap tidak ideal dan bobrok, dengan alam yang akhirnya menyebabkan kematiannya di dalam bis rongsok di lokasi yang jauh dari peradaban.

Secara keseluruhan konflik dalam cerita itu memang kompleks, namun konflik-konflik tersebut adalah tantangan dari tujuan utama karakter, yaitu pencarian jati diri sebagai manusia dan pencarian kebahagiaan. Di akhir cerita, Chris menemukan tujuan hidup dan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan saat berbagi dengan orang lain.

Begitulah membuat konflik yang bagus, konflik yang tidak hanya berfokus pada satu hal tapi menghadirkan berbagai tantangan yang menguji karakter baik dari dalam maupun luar. Cara membuat karakter menghadapi semua itu adalah dengan menjadikannya manusia, sebenar-benarnya manusia. Berikan karakter semua potensi yang ada pada manusia, dengan segala kerapuhan dan kelemahan, dengan begitu karakter akan menghadapi konflik yang realistis dan cukup membuatnya nelangsa.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.  

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Selasa, 16 Juli 2024

Tentang Kerangka Cerita

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

--------------------------

Apa tips dan trick agar karya kita bisa menarik tidak hanya untuk penulis tetapi juga untuk pembaca? Untuk penulis pemula apakah membuat kerangka tulisan itu penting atau menulis saja sesuai imaginasi yg ada, untuk menulis karya yang bisa diminati pembaca?

Handini Aprillia Ros - STIBA IEC Jakarta


Hallo Handini, salam kenal!

Untuk menarik pembaca, bayangkan kamu sedang menceritakan atau membacakan ceritamu di depan teman. Dengan begitu, kamu akan lebih peka terhadap hal-hal yang menghibur atau membosankan. Selanjutnya, bacalah kembali tulisan atau cerita yang menarik perhatianmu dan teliti mengapa cerita tersebut bisa membuatmu tertarik, kemudian tiru dan adaptasi sesuai dengan ceritamu.

Apakah kerangka cerita penting?

Tentu saja, kerangka cerita sangat penting karena penulis harus memiliki rencana yang dituangkan dalam kerangka. Namun, berdasarkan pengalaman saya, kerangka cerita bisa berkembang ke arah yang tidak terduga, dengan karakter seolah menemukan jalan mereka sendiri. George R.R. Martin, penulis novel fenomenal A Song of Ice and Fire, menjelaskan hal ini dengan baik: “Menurut saya, ada dua tipe penulis, arsitek dan tukang kebun. Arsitek merencanakan segalanya jauh-jauh hari, seperti seorang arsitek yang membangun rumah. Mereka tahu berapa banyak ruangan yang akan ada di dalam rumah, jenis atap apa yang akan dibangun, di mana kabel-kabel akan dipasang, dan jenis pipa yang digunakan. Mereka telah merancang dan mencetak semuanya bahkan sebelum mereka memasang batu pertama. Para tukang kebun menggali lubang, memasukkan benih, dan menyiraminya. Mereka tahu benih apa itu, apakah benih fantasi atau misteri. Namun saat tanaman tumbuh, mereka tidak tahu berapa banyak cabang yang akan dimilikinya. Mereka mengetahuinya seiring pertumbuhannya. Dan saya lebih merupakan seorang tukang kebun daripada seorang arsitek."

Pada dasarnya, kerangka tetap diperlukan untuk memberikan struktur cerita, namun dalam penerapannya bisa fleksibel. Masing-masing penulis punya kebiasaan masing-masing. Tanya pada dirimu sendiri; apakah kerangka cerita menggangu kelancaran menulis atau sebaliknya jika tidak ada kerangka kamu bingung karena tidak ada pedoman?
 
Masing-masing penulis punya kecenderungan, jika kamu tipe spontan, menulislah dulu tanpa berpikir tentang kerangka cerita atau struktur. Kemungkinan hasilnya akan berantakan. Tapi jangan khawatir, karena itu bisa dirapikan dengan struktur. Masukan ceritamu dalam kerangka cerita kemudian tambal lubang-lubang yang kurang.

Kamu juga bisa membaca tentang menulis dan mengedit lewat tulisan ini.

----------------------------

Proses kreatif seperti apa untuk membuat cerita panjang?
Rezki Andayan - STIBA-IEC
 
Halo Rezki, salam kenal!

Asumsi saya dari pertanyaan kamu adalah bahwa kamu sudah punya cerita pendek dan ingin mengembangkannya menjadi lebih panjang, mungkin dari cerpen atau novelette menjadi novel.

Ada beberapa hal yang bisa saya sarankan dan bisa dimulai dengan mengembangkan kerangka cerita. Kerangka cerita dapat membantumu melihat berbagai kemungkinan pengembangan cerita. Ajukan pertanyaan seperti, “Bagaimana jika karakter melakukan ini?” atau “Bagaimana kalau terjadi begitu?”

Dengan kerangka, kamu juga bisa menambahkan konflik. Perkenalkan lebih banyak konflik untuk karakter utama. Jika cerita hanya memiliki satu halangan, tambahkan lebih banyak. Perluas titik-titik penting seperti pencapaian dan kejatuhan karakter. Tambahkan latar belakang para karakter. Pikirkan tentang motivasi, tujuan, dan bagaimana mereka akan berkembang sepanjang cerita.

Kamu juga bisa menambahkan elemen faktual seperti sejarah, sosial atau fakta ilmu pengetahuan. Dan yang terakhir namun tidak kalah penting, lihat dan baca kembali buku atau film yang kamu sukai. Pelajari alur dan konflik yang ada di sana, lalu tiru dan adaptasi sesuai dengan ceritamu.

Untuk lebih detail tentang cara membuat kerangka cerita yang menarik, kamu bisa menyimak contoh dan panduan di sini.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Hal-Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum dan Ketika Menulis Fiksi

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

-------------------
Bagaimana dan harus mulai dari mana jika kita ingin memulai menulis? Karena saya merasa sedikit kesulitan saat ingin mencoba menulis padahal sudah memiliki alur cerita sendiri dikepala

Riyu Khaulah Effendi - STIBA IEC JAKARTA
--------------------
Bagaimana cara menulis cerita atau naskah film yang bagus?

Gabriel Arya Praba - STIBA IEC Jakarta
---------------------
Bagaimana memulai menulis dgn baik?

Diniawati Aliah - STTD Bekasi
----------------------
Bagaimana langkah menulis fiksi yg benar?

Esther Puspita Happy - STIBA IEC JAKARTA
----------------------
Bagaimana menulis buku fiksi yang baik dan benar?

Mohammad Ilham Rezeki - PT. Lestari
---------------------
Yang menjadi dasar pembuatan cerita fiksi itu apa?

Simbarwati - STIBA-IEC JAKARTA
---------------------
Apa yang penulis harus siapkan sebelum menulis buku fiksi?

Khorihah - STIBA-IEC Jakarta
---------------------
Cara menulis praktis?

Sekar Ayu - STIBA IEC
-----------------------

Halo, Kawan-kawan. Salam kenal! Karena pertanyaan-pertanyaan di atas relatif sama, maka saya akan menjawab secara gabungan.

Pada dasarnya, tidak ada rumus yang baik dan benar tentang bagaimana memulai menulis. Banyak penulis memberikan panduan praktis yang dapat dikuti untuk mulai menulis. Saya pribadi merumuskan 5 langkah sederhana untuk bisa dijadikan panduan untuk memulai menulis fiksi. Lima langkah tersebut adalah:
  1. Buat premis cerita
  2. Tentukan pembaca
  3. Buat kerangka cerita
  4. Lakukan editing saat buku sudah selesai
  5. Tetapkan target

Penjelasan lengkap tentang lima langkah tersebut ada dalam video ini. Selain itu, ada dua poin tambahan yang saya tulis di sini:
Saja juga menulis tentang mengapa kita perlu menulis fiksi.
 
Saya bisa menjamin, dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, kawan-kawan bisa menulis dengan lebih terarah dan efektif.

Disiplin; Kunci Utama Keberhasilan Menulis Buku

Segala sesuatu kecuali Tuhan memiliki batas, termasuk menulis. Menentukan awal dan akhir dalam menulis adalah hal yang wajar dan diperlukan. Tanpa batas, segala kegiatan akan kacau, karena tidak mungkin kita makan selama tiga jam atau mandi selama dua hari.

Beberapa kawan pernah meminta saya menulis cerita hidup mereka atau dari premis yang mereka miliki. Saya katakan, yang paling berat dari menulis adalah disiplin untuk duduk, meluangkan waktu, dan setia pada target. Sementara inspirasi, ide cerita, premis, serta pengetahuan tidak serta merta menjadikan seseorang menyelesaikan tulisan, apalagi menulis dengan baik.

Ada yang bilang menulis itu mudah, dan saya setuju. Tantangan sesungguhnya ada pada mengedit dan menjaga disiplin. Menulis mungkin mudah, tetapi menyelesaikan tulisan hingga menjadi sebuah buku memerlukan kedisiplinan. Banyak penulis pemula berhenti di tengah jalan karena kurangnya strategi dan tekad yang kuat.

Menulis membutuhkan strategi dan rencana. Buat kerangka karangan dengan rinci, tetapkan target harian, mingguan dan bulanan, dan mulai menulis berdasarkan rencana tersebut. Komitmen pada niat dan pilih waktu yang sesuai. Katakan pada diri sendiri, “Saya akan menulis 1000 kata per hari sebelum tidur.” Berikan konsekuensi pada diri sendiri jika tidak mencapai target, serta hadiah jika berhasil mencapainya.

Percayalah! Dengan disiplin, inspirasi akan datang dengan sendirinya. Jangan buang waktu menunggu inspirasi, mulailah menulis setiap hari, dan inspirasi akan menemukanmu. Seperti yang diungkapkan oleh para penulis hebat, kamu tidak duduk menunggu dewi inspirasi menyelesaikan tulisanmu, tetapi kamu tetap menulis setiap hari sehingga ketika inspirasi datang, kamu siap menangkapnya. Menulis dan disiplin setiap hari membuatmu seperti magnet yang menarik semua ide dan inspirasi.

Jika pikiranmu buntu, tingkatkan pengetahuan tentang teknik menulis. Motivasi diri dan cari inspirasi dengan membaca, menonton, bertanya, dan meneliti. Dewi Lestari pernah bilang, “Ketabahan kita mendobrak writer’s block bisa jadi penentu apakah kita akan berhasil menjadi penulis atau sekadar orang yang berangan-angan menjadi penulis. You decide!”

Catatan: tulisan ini dibuat untuk melengkapi materi yang sebelumnya disampaikan di

Jumat, 12 Juli 2024

Menulis dan Mengedit: Dilarang Makan sambil Buang Kotoran

Jangan menulis sekaligus mengedit. Menulis dan mengedit adalah dua kegiatan yang tidak boleh disatukan. Saya mengibaratkan menulis seperti makan, sementara mengedit seperti buang kotoran. Sebagai orang waras, kita tentu tidak pernah melakukan keduanya secara bersamaan.

Ketika menulis, saran saya adalah menulislah dengan buruk dan cepat. Saya sdang tidak sinis ketika menyatakan itu. Saya sendiri sering kali menulis draft pertama dengan banyak kekurangan. Logika yang melompat-lompat, dialog yang tidak punya konteks dan miskin deskripsi, tanda baca yang diabaikan, dan paragraf yang tidak koheren bahkan saya menulis adegan apapun yang sedang saya pikirkan walaupun mungkin itu adalah adegan di tengah atau akhir cerita. Orang yang tidak pernah menulis buruk bisa jadi ia bukanlah penulis. Dan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa.

Menulislah cepat, secepat kita berbicara. Untuk apa berlama-lama menulis draft pertama? Jangan buang waktu menulis terlalu lama karena mungkin kamu harus menulis ulang atau bahkan membuang sebagian besar dari tulisan tersebut. Buatlah kesempatan menulis menjadi kesempatan untuk menuangkan segala ide yang ada di kepala, tanpa disibukkan dengan hal teknis. Keluarkan segala kreativitas dan jangan dulu berpikir tentang aturan.

Menulis membutuhkan aliran ide yang bebas dan kreatif, sedangkan mengedit memerlukan pemikiran kritis dan analitis. Menggabungkan kedua aktivitas ini secara bersamaan bisa menghambat proses kreatif menulis karena perhatian terpecah antara menghasilkan konten dan memperbaikinya. Dengan memisahkan tahap menulis dan mengedit, penulis dapat lebih fokus dan efektif dalam kedua tugas tersebut.

Setelah menulis dengan buruk dan cepat, lakukanlah editing dengan baik. Editing sebaiknya dilakukan setelah bukumu selesai ditulis. Karena menurut saya cerita yang baik adalah cerita yang selesai. Seelsaikan tulisan sesuai target, baru kemudian lakukan editing.

Setelah selesai menulis, kita sering kali terlalu dekat dengan karya kita untuk memiliki objektivitas. Langkah yang perlu dilakukan adalah mengendapkan tulisan tersebut, memberi waktu untuk diri kita menjadi lebih objektif dan tidak emosional, kemudian membaca kembali buku dari awal hingga akhir. Dengan cara ini, kita bisa mendapatkan perspektif baru, melihat lubang-lubang yang perlu diisi, bab yang perlu ditulis ulang, dan bagian yang harus dibuang sepenuhnya.

Ketika mengedit, di sinilah penulis mulai menerapkan pemikiran yang kritis. Ia harus memastikan bahwa alur cerita, karakter, dan detail lainnya konsisten dan koheren sepanjang tulisan. Memeriksa tata bahasa, ejaan, dan tanda baca, serta memastikan gaya penulisan sesuai dengan tujuan dan pembaca yang disasar. Menghapus kata-kata atau kalimat yang tidak perlu dan memastikan ide-ide disampaikan dengan jelas. Mengevaluasi struktur keseluruhan tulisan untuk memastikan logika dan kelancaran alur.

Menulislah dengan buruk dan cepat, kemudian lakukan editing dengan baik dan penuh kesungguhan, agar tulisanmu mencapai potensi terbaiknya.

Catatan: tulisan ini dibuat untuk melengkapi materi yang sebelumnya disampaikan di

Kamis, 11 Juli 2024

Mengapa Kita Perlu Menulis Fiksi?

Saya punya sebuah hipotesis yang menarik: seluruh sendi kehidupan manusia digerakkan oleh cerita.

Mari kita uji hipotesis ini.

Sejak kecil, kita sudah menyukai cerita. Kita pasti pernah melihat anak-anak yang anteng mendengarkan dongeng, membaca komik, atau menonton kartun di YouTube. Dari sini, terlihat bahwa cerita memiliki daya tarik yang kuat sejak usia dini.

Ketika kita tumbuh menjadi remaja dan dewasa, minat kita terhadap cerita tidak berkurang. Kita masih suka bercerita atau mendengarkan cerita, baik kepada teman, orang tua, pasangan, maupun anak. Sebagian besar percakapan kita terdiri dari cerita: cerita tentang kegiatan sehari-hari, pengalaman menyenangkan, menyedihkan, dikhianati, atau dilukai. Jadi, cerita tetap menjadi elemen penting dalam interaksi sosial kita.

Selain itu, sebagian besar hidup kita didominasi oleh cerita. Kita bisa menghabiskan berjam-jam memandangi ponsel untuk menonton film, serial, drama Korea, Netflix, atau YouTube. Ini menunjukkan betapa besar peran cerita dalam mengisi waktu dan memberikan hiburan untuk manusia.

Apa lagi yang menjadi penggerak utama kehidupan? Keyakinan atau Agama?

Mari kita buka kitab suci. Sebagian besar isinya adalah cerita. Baik Al-Quran, Alkitab, Weda, Mahabharata, maupun Tripitaka, semuanya mengandung kisah atau cerita yang mendominasi isi kandungannya. Dalam hal ini, cerita menjadi medium penting untuk menyampaikan nilai-nilai dan ajaran.

Fiksi sebagaimana kita tahu adalah cerita rekaan yang berasal dari imajinasi, bukan berdasarkan fakta ilmiah atau fakta sejarah yang ketat. Tapi mengapa cerita bisa sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan manusia?

Dalam konteks sastra, cerita fiksi adalah prosa naratif yang imajinatif namun masuk akal dan mengandung kebenaran. Jadi fiksi (fiction) dalam pembahasan ini, bukanlah lawan dari fakta (fact) atau kebenaran (truth). Karena dalam fiksi, kebenaran itu bersifat logis, berdasarkan sebab akibat, atau mengandung hikmah.

Saya teringat pada Tyrion Lannister dalam serial Game of Thrones. Dalam episode terakhir, setelah perang besar yang menelan banyak korban, dia bertanya secara retoris kepada semua perwakilan klan yang tersisa, “Apa yang dapat menyatukan manusia? Pasukan? Emas? Bendera?”

Tyrion menjawab pertanyaannya sendiri, “Stories. There's nothing in the world more powerful than a good story. Nothing can stop it.”

“Cerita. Di dunia ini tidak ada yang lebih kuat dari cerita yang bagus. Tidak ada yang bisa menghentikannya.”

Melihat betapa kuatnya pengaruh cerita, tidak heran jika pemerintah sejak zaman kerajaan, kolonialisme, hingga zaman sekarang menggunakan cerita untuk mempengaruhi masyarakat. Dahulu, dongeng seperti Roro Kidul, Roro Jonggrang, dan Malin Kundang diciptakan secara sadar agar masyarakat bertindak sesuai harapan. Bahkan cerita-cerita tersebut melintasi zaman dan abad yang panjang sehingga sampai hari ini, ia masih berpengaruh untuk menggerakan manusia.

Bahkan cerita dapat menumbuhkan kecerdasan dan kreativitas, terutama untuk anak-anak. Cerita dapat meningkatkan kemampuan berimajinasi dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh informasi faktual saja. Sementara tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, tapi imajinasi. Einstein pernah bilang, "Jika anda mau anak-anak anda cerdas, bacakan kepada mereka dongeng. Jika anda mau anak-anak anda lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng."

Kembali ke pertanyaan dalam judul tulisan ini: mengapa kita perlu menulis fiksi?

Karena seluruh sendi kehidupan manusia digerakkan oleh cerita.





Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis