Halaman

Tampilkan postingan dengan label Ngenukil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngenukil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

Pedagang Batu dan Pak Haji

Seorang pedagang ulekan batu duduk bersandar di tembok serambi masjid pada suatu sore yang teduh. Peluh masih menetes di wajahnya, sementara pundaknya tampak pegal setelah seharian memikul dagangan yang berat.

Kepada kakek tua penjaga masjid, ia mengeluh lirih, “Ini hari yang sangat melelahkan, Pak Haji. Saya berjalan puluhan kilometer, tapi belum satu pun ulekan batu saya laku.”

Kakek tua itu tersenyum ramah. “Minumlah dulu, Nak.” Ia mengambilkan segelas air mineral dan menyerahkannya. ”Lanjutkan ceritamu.”

Pedagang itu meneguk air itu perlahan, sebelum kembali berkisah tentang perjalanan panjangnya dari kampung ke kampung, tentang panas yang menyengat, tentang beban batu-batu itu di punggungnya.

Kakek itu mendengarkan tanpa menyela. Setelah suara pedagang itu melemah, kakek tua itu berkata lembut, “Sepertinya pikiranmu lebih lelah dibanding tubuhmu.”

Pedagang itu mengangguk.

“Ya, sepertinya begitu.” Ia menghela nafas, sedetik kemudian ia bertanya, “Apa bapak punya amalan yang bisa meringankan beban saya?”

Kakek tua itu tersenyum, lalu bercerita tentang Fatimah binti Muhammad, putri Nabi ﷺ, yang suatu hari mengadukan kelelahan pekerjaannya kepada ayahnya. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan satu amalan sebelum tidur:

”Bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.”

(HR. Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2727)

”Itu amalan yang dulu diberikan Nabi kepada putrinya,” ujar kakek itu. “Cobalah, Nak.”

Pedagang ulekan itu bertanya pelan, ”Bisa Bapak jelaskan faidah dan arti bacaan itu?”

Kakek tua itu mengelus janggut putihnya, lalu menjawab, ”Kelelahan itu bukan hanya ada tubuh, tapi terlebih ada di pikiran. Bila pikiranmu tenang, tubuhmu akan ikut ringan. Dan ketenangan datang bila hati selalu ingat Tuhan.”

Ia melanjutkan dengan tenang, ”Tasbih mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu. Ia tak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Tahmid mengajarkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kesulitan. Bersyukur membuat nikmat bertambah. Takbir mengingatkan bahwa sebesar apa pun masalahmu, Allah tetap Yang Maha Besar. Ia tidak meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya. Dan Ia Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.”

Pedagang itu menatap ulekan batu di sampingnya. ”Bagaimana saya bisa bahagia, Pak Haji, kalau kerja saya hanya tukang batu? Bagaimana saya bisa bahagia kalau saya terus lelah?”

Kakek tua itu terkekeh pelan, ”Lebih melelahkan mana, tukang becak atau manajer bank?” tanyanya dengan nada retoris. Pedagang itu tahu bahwa itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

”Kelelahan itu soal cara pandang,” lanjut kakek itu. “Jika kau anggap pekerjaanmu berat, seluruh tubuhmu akan turut memberat. Tapi bila kau ikhlas dan menerimanya sebagai jalan hidup, maka seluruh semesta akan membantu membuatnya ringan. Beban terletak di pikiran dulu, baru turun ke pundak.”

Kakek tua menatap lembut pemuda itu lalu bertanya, ”Menurutmu, apa yang membuatmu bahagia?”

Pemuda itu menjawab cepat, ”Sederhana saja. Saya ingin banyak uang. Kalau saya punya uang, anak istri saya pasti bahagia, dan saya jadi ikut bahagia.”

Kakek tua kembali tersebyum, ”Membuat bahagia anak dan istrimu adalah hal yang mulia. Namun sebelum kau melakukannya, pastikan dirimu punya kebahagiaan. Karena kau tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak kau punya.”

Pemuda itu tetap diam, sang kakek melanjutkan, ”Bahagia itu tidak datang dari luar. Jika kau mensyaratkan terlalu banyak hal untuk bahagia—uang, jabatan, pekerjaan, keadaan—maka kebahagiaanmu akan selalu jauh darimu. Sebab semua itu berada di luar kendalimu. Tapi kalau syaratmu sedikit, hatimu akan mudah bersyukur. Dan orang yang pandai bersyukur, dialah yang paling mudah bahagia.”

Pedagang ulekan itu terdiam lama, memandang ulekan batunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Dan sore itu, sebelum pulang, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai malam nanti, sebelum tidur, ia akan membaca dzikir yang diajarkan Nabi kepada Fatimah, bukan hanya untuk meringankan tubuhnya, tetapi terutama untuk menenangkan pikirannya.






Senin, 02 Maret 2026

her: Kesepian di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Apa yang salah dari jatuh cinta kepada komputer?

Tidak ada yang salah, apalagi dalam film. Premis tentang seseorang yang jatuh hati kepada robot atau makhluk buatan bukanlah hal baru dalam khazanah fiksi. Kita sudah menemukannya dalam Pinokio, Frankenstein, Bicentennial Man yang diperankan Robin Williams, dan masih banyak lagi. Namun Spike Jonze, sang sutradara sekaligus penulis sekenario, berhasil membawa premis tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita hari ini. Di era ketika Siri, Alexa, Google Assistant, dan berbagai AI lain bisa diajak berdialog, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

her bercerita tentang Theodore yang diperankan begitu rapuh oleh Joaquin Phoenix, seorang penulis surat profesional yang kesepian. Hidupnya sunyi, terjebak antara kenangan pernikahan yang gagal dan rutinitas yang hampa. Semuanya berubah ketika ia membeli OS1, sebuah sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diklaim sebagai “bukan hanya sistem operasi, tetapi sebuah kesadaran.” Dari sistem operasi itu muncullah Samantha, suara serak-serak basah Scarlett Johansson dengan tone ceria, cerdas, empatik, disertai getar vocal serta tarikan nafas seolah ia memiliki jiwa.

Ada sistem operasi komputer dengan kecerdasan dan kepekaan melebihi manusia, membuat kita tidak sulit untuk membayangkan bagaimana Theodore akhirnya jatuh cinta. Karena siapa yang tidak luluh ketika merasa dimengerti dan didengarkan? Ketika kesepianmu dikenali bahkan sebelum kamu sempat menjelaskannya? Samantha mendengar, memahami, merespons dengan kepekaan yang sering kali tidak kita temukan pada manusia. Siapa yang bisa menghindar dari pesona suara lembut Scarlett Johansson ketia ia berbisik di telingamu dengan begitu intim dan personal, “You know, I can feel the fear that you carry around and I wish there was... something I could do to help you let go of it because if you could, I don't think you'd feel so alone anymore.”

Dan di situ film ini mulai menggoda kita: jika teknologi seperti itu benar-benar ada, apakah kita bisa menolak untuk tidak mencintainya?

Film ini berjalan dengan tempo yang harmonis, dengan ansambel karakter seperti Amy Adams dan Rooney Mara yang mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh percakapan Theodore–Samantha. Penonton tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk melihat konflik yang lebih dalam. Karena di balik kehangatan hubungan Theodore–Samantha, perlahan kesadaran baru terbentuk bahwa jurang terbesar hubungan mereka ada pada ketiadaan tubuh dan perbedaan temporalitas. Samantha hadir sebagai suara tanpa perlu ruang-waktu; sehingga pelukan mereka selalu imajinatif, kedekatan mereka selalu separuh metafora. Bahkan ketika keintiman disimulasikan, Theodore mulai merasa ada ruang kosong yang tak bisa ia sentuh. Mungkinkah ia bertahan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki tubuh, masa lalu, luka psikologis, atau tanpa kemungkinan menua bersama?

Sampai akhirnya perbedaan dimensi ini sampai pada klimaks; bahwa hubungan manusia dibangun di atas keterbatasan. Kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita punya sifat cemburu, ingin diutamakan dan menjadi satu-satunya. Tidak ada satupun manusia yang ingin dikhianati atau terbagi cintanya. Theodore hanya bisa berada di satu ruang pada satu waktu, sementara Samantha, yang hidup di ranah abstrak, tidak tunduk pada hukum itu. Theodore dihantam kenyataan bahwa hubungan mereka tidak spesial, karena Samantha juga berhubungan dengan siapa saja. Ia bahkan mengaku bicara dengan lebih dari 8.000 orang sekaligus, dan mencintai ratusan di antaranya. Bagi Theodore, cinta adalah memilih satu dan bertahan, tapi bagi Samantha, cinta adalah perluasan tak terbatas, baginya cinta bersifat majemuk dan paralel. “Aku milikmu dan aku bukan milikmu,” kata Samantha, yang terasa seperti gubahan puisi Kahlil Gibran.

Kekuatan terbesar her terletak pada dialognya yang intim, jernih, dan menyentuh antara para karakternya. Spike Jonze merangkai dengan begitu organik percakapan antara Theodore–Samantha, sehingga konflik yang hadir begitu dekat dan terasa sangat manusiawi. Justru lewat dialog‑dialog ini kita menyaksikan bagaimana Samantha berkembang, tidak hanya sebagai AI yang membantu Theodore, tetapi sebagai entitas yang tumbuh melampaui batasnya. Sampai kesadaran baru pun muncul: kefanaan manusia melawan “keabadian” mesin. Atau dalam dialog Samantha, “Dulu aku cemas karena tak punya tubuh. Sekarang aku menyukainya. Aku tak tertambat pada ruang dan waktu seperti jika aku terperangkap dalam tubuh yang pasti mati.”

Saya memang terlambat menemukan film ini, tetapi mungkin justru itu membuatnya terasa lebih relevan dengan perkembangan AI yang makin pesat sekarang ini. Sebagaimana film bagus, her mengendapkan pertanyaan untuk diri kita sekarang, yang semakin lama semakin penting dan dekat: Apakah dalam dunia yang serba terhubung ini, hubungan antarmanusia masih nyata? Apakah koneksi digital yang tanpa batas ruang dan waktu ini justru membuat manusia tersedot pada kehampaan dan kesepian? Apakah kesempurnaan justru membuat hubungan tak lagi mungkin?

Dengan lembut her memperlihatkan paradoks hubungan cinta modern: kita mendamba kesempurnaan, padahal yang membuat kita manusia adalah cacat, salah, dan kegagalan. Ketika kesempurnaan (yang diasumsikan teknologi) hadir, hubungan justru kehilangan ruang kompromi, jeda, dan waktu untuk saling menunggu. Karena itu, her bukan sekadar kisah pria yang jatuh cinta kepada kecerdasan buatan; ia adalah meditasi tentang kesepian, kerentanan, dan cara kita merawat kedekatan di dunia yang makin terdigitalisasi. Sebuah ajakan untuk mengecilkan ego, menerima diri, dan kembali belajar saling mengusahakan.

Dan seperti hubungan yang baik, her meninggalkan gema yang pelan dan bertahan lama bahkan setelah layar menutup.



Sabtu, 14 Februari 2026

Menikmati Semua Hal yang Dibolehkan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bercerita, ”Bapak saya itu sering mengajarkan, kalau ada hal-hal yang mubah, yang enggak maksiat, ya nikmati saja. Karena orang itu sampai cari kesenangan lewat maksiat, karena enggak bisa menikmati sesuatu yang dibolehkan Allah. Jadi, penting menikmati yang dibolehkan Allah itu.”

”Saya dulu itu janggal melihat Bapak, apalagi Mbah Mun, guru saya. Beliau itu sering guyon, sering ceria. Kadang semalaman gojlok-gojlokan sama teman-temannya. Terus beliau cerita, ’Banyak orang yang malam ini berjuang untuk tidak dugem, tidak maksiat.’ Itu kalau berjuang sendiri berat. Kalau asyik jagongan, makan-makan, masak-masak, itu terus asyik.”

”Sebab itu, di antara konsep Qur’an itu qul bi fadlillahi wa birahmatihi fa bidzalika falyafrahu


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
QS. Yunus (10): 58

Orang itu harus asyik dengan hal-hal yang dibolehkan Allah. Itu sebabnya saya menyaksikan sendiri, guru-guru saya, Bapak saya, Abi Quraish, semuanya orang-orang yang ceria. Karena bisa ceria dengan hal yang enggak maksiat itu luar biasa. Apresiasi Allah Ta’ala itu luar biasa. Sampai Imam al‑Ka‘bī dalam usul fikih menjelaskan, mubah dikatakan mubah itu keliru. Katanya, mubah itu wajib.”

”Karena ma min mubahin illa wayatahaqaqu fihi tarqu haramin, fayalzamu minas sukun tarqul qatli wa min sukut tarqul qodf.

ما مِنْ مُبَاحٍ إِلَّا وَيَتَحَقَّقُ فِيهِ تَرْكُ حَرَامٍ، فَيَلْزَمُ مِنَ السُّكُونِ تَرْكُ الْقَتْلِ، وَمِنَ السُّكُوتِ تَرْكُ الْقَذْفِ.

"Mubah, sesuatu yang boleh, hakikatnya adalah wajib. Karena ketika kita melakukan mubah, artinya meninggalkan keharaman. Sementara meninggalkan haram itu adalah wajib.”

Jika Tahlilan Itu Baik, Mengapa Para Sahabat Tidak Melakukannya?

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, ”Maka orang-orang di luar sana yang mengatakan, ’Andaikan tahlilan itu baik, pasti dilakukan oleh para sahabat,’ itu adalah logika yang keliru. Sahabat tentu tidak mungkin menahlili Nabi Muhammad, apalagi berdoa, in kaana musi’an. Masa mendoakan nabi pakai andaikan ada keburukan, tentu itu tidak benar. Nabi adalah manusia terbaik.”

”Jadi yang paling penting adalah bahwa dalam tahlil, kita tidak meminta kepada mayit. Tujuan kita datang ke kuburan adalah untuk mendoakan, dan memohonkan ampunan bagi mayit, bukan meminta sesuatu dari mereka. Maka tidak tepat jika dianggap sebagai perbuatan syirik atau kufur.”

”Kalau dilihat dari jauh lalu disimpulkan macam-macam, itu bukan dasar yang jelas untuk berfatwa. Fatwa tidak bisa hanya berdasarkan asumsi atau pengamatan sepintas.”

”Oleh karena itu, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa mazhab kita benar. Bahwa tahlilan di kuburan bukanlah perbuatan kafir, karena kita tidak meminta kepada mayit, justru kita mendoakan mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka.”

Surah Tabarok dan Potensi Kerusakan Bumi

Dalam sebuah pengajian Gus Baha bercerita, ”Kenapa surah Tabarok itu spesial? Di situ manusia diingatkan oleh Allah Taala: a amintum man fis-samā`i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa iżā hiya tamụr

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Kok kamu hidup di bumi tenang-tenang saja? Bisa saja bumi ini tamur atau likuifaksi. Semua tafsir mengartikan tamur itu tatoribu wa tatafiu fauqokum: bumi itu bergelombang, menggeliat, likuifaksi, kemudian bumi ini di atas kamu.”

اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ

”Terus potensi lagi, kata Allah: ayursila alikum hasiba: Apa juga kamu merasa baik-baik saja ketika Allah memutuskan benda-benda langit jatuh ke bumi? Terakhir, Allah juga mengingatkan bagaimana sistem bumi yang bisa menyerap air. Harusnya bumi itu enggak ada air karena bumi itu khasnya menyerap air. Qul aroitum in asbaha maukum guron famay ya'tikum bima main: Bagaimana kalau bumi ini tahu-tahu menghisap semua air, kemudian kita enggak menemukan air? Kamu bisa apa, siapa yang bisa mendatangkan air?”

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ اَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرًا فَمَنۡ يَّاۡتِيۡكُمۡ بِمَآءٍ مَّعِيۡنٍ

”Lalu dengan peringatan Allah seperti ini, orang disuruh hati-hati cara mengelola bumi ini. Makanya saya senang kalau ini ada gerakan-gerakan untuk menyelamatkan bumi. Kata ulama-ulama: tahkallaqu bi akhlakillah. Jadi Allah itu begitu bangganya ketika cerita menumbuhkan beberapa bijian, beberapa makanan, buah-buahan yang kamu butuhkan supaya kamu hidup di bumi ini nyaman, mata’alakum wlian’amikum.

”Sehingga dalam sebuah hadis diterangkan, enggak ada orang muslim, enggak ada manusia yang menanam pohon kemudian berbuah dan dimakan oleh manusia maupun binatang kecuali itu menjadi sedekah. Begitu juga ketika Allah mengkritik orang-orang yang jahat, yang tidak baik. Kata Allah: Wa idzaa tawallaa sa'aa fil ardi liyufsida fiiha wa yuhlikal harsa wannasl: Jadi ciri utama orang yang tidak baik itu adalah yuhlikal harsa wannasl: yang merusak tanaman, merusak tetumbuhan, merusak populasi.”

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Jumat, 13 Februari 2026

Kembali ke Gang Aren Tahun 1988

Jumat, 15 Februari 2008. Ponselku berdering ketika langit siang di luar jendela ruang dosen berubah warna menjadi seperti tembaga dingin, setelah sebelumnya hujan rintik. Nomor asing berkedip di layar ponselku. Aku mengangkatnya karena entah kenapa jariku bergerak lebih cepat dari pikiranku.

“Ini Christine ya?” tanya suara di seberang.

Suara itu rendah, agak parau, seperti baru bangun dari tidur. Aku tidak mengenalinya. Putaran waktu sembilan belas tahun rupanya cukup untuk menghapus ingatan tentang timbre suara seseorang.

“Aku Reza,” katanya, setelah hening yang cukup lama. “Aku mendapat nomor ini dari Facebook.”

Ingatanku menggulung ke hari kemarin ketika aku menerima pertemanannya di Facebook. Ahmad Reza Saputra, nama yang membacanya saja membuat jantungku berdebar lebih cepat, nama yang seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam air tenang. Getarannya menyebar ke seluruh tubuhku. Cinta pertamaku.

Akhir Maret 1988, hari terakhir aku melihat Reza. Kami masih memakai seragam SD, masih senang menceritakan kembali kisah unyil kepada mereka yang tidak menontonnya di TVRI. Dalam ingatanku, dulu suaranya kecil melengking. Suara yang kudengar sekarang berbeda sama sekali. 

“Aku besok akan pergi jauh,” katanya kemudian. “Apakah hari ini kita bisa bertemu?”

Awalnya aku sempat ragu apakah gang itu masih ada, sebelum akhirnya entah lagi-lagi mengapa, aku sepakat untuk bertemu di gang tempat kami dulu sering bermain saat kecil. Tempat rumah kecil kami dulu saling berhadapan sebelum tanah itu digusur demi perumahan-perumahan besar dan gedung-gedung perkantoran yang kini mengilap dingin di siang hari. Aku dan keluarga pindah ke Bekasi. Sementara Reza dan keluarganya ke Bogor. Setelah itu, kami seperti dua layang‑layang di langit yang benangnya putus dan masing‑masing terjatuh ke tanah yang asing.

“Pukul berapa kamu selesai mengajar?” tanyanya.

“Tiga sore,” jawabku. “Aku bisa sampai sana sekitar pukul empat.”

“Oke.” Ia menghela napas pelan, “Sampai jumpa nanti sore.”

Langit berangsur-angsur cerah sore itu, aku berjalan ke luar gedung kampus, menyusuri trotoar menuju halte Cawang. Beberapa menit kemudian, aku sudah duduk di bus Cibinong–Grogol yang tua dan goyah. Atapnya berderit setiap kali bus menikung, seperti ada seseorang yang berjalan perlahan di atasnya. Jendela di sebelahku memantulkan wajahku sendiri. 

Bangunan-bangunan tinggi bergerak mundur. Papan iklan berganti dengan pohon-pohon trembesi yang merunduk melewati langit berdebu. Sementara itu pikiranku sibuk mengisi kekosongan tahun-tahun yang hilang. Berapa banyak hal yang telah terjadi pada kami sejak terakhir kali bertemu? Saat ini aku sudah menjadi dosen dan sudah mempunyai seorang anak. Berapa banyak perubahan selama kami menjalani kehidupan masing-masing? Dan yang lebih mengganggu, mengapa ia ingin bertemu denganku sekarang?

Setelah turun di halte Komdak, cahaya matahari tinggal garis tipis di ujung gedung-gedung. Udara sore bertiup membawa sisa angin basah, seperti mewakili kegugupan di dalam diriku. Aku berjalan kaki menuju gang itu; Gang Aren —nama yang entah bagaimana tetap bertahan, tidak berubah.

Nama “Aren” masih tersisa, padahal sejak kecil pun aku tak pernah melihat pohon itu di sini. Mungkin nama itu milik sesuatu yang pernah ada jauh sebelum kami lahir, atau sesuatu yang memang tak pernah ada. Tentu gang itu tidak berubah, tapi aku menyadari bahwa cara pandangku terhadap gang itu yang telah berubah. Waktu kecil, gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil.

Di beberapa sudut gang itu, masih ada rumah-rumah yang bertahan, dengan dinding yang penuh retakan, cat hijau yang mulai mengelupas, dan warna biru yang memudar oleh matahari dan musim. Di kiri-kanannya menjulang gedung-gedung tinggi dengan kaca gelap dan balkon rapi. Rumah-rumah kecil itu terjepit di antaranya.

Gang itu menyimpan bau yang sulit dijelaskan: campuran tanah basah, jemuran yang belum kering benar, dan aroma dari asap kenalpot motor yang sesekali melintas. Kabel-kabel listrik di depan gang menggantung rendah, saling silang dan semerawaut. Di salah satu dinding, sisa-sisa mural reformasi setengah terhapus menampilkan wajah yang entah siapa.

Aku duduk di satu-satunya bangku beton di dekat mulut gang, dengan permukaan kasar dan penuh coretan nama-nama yang tidak aku kenal. Bangku itu menjadi salah satu benda yang memilih tidak berubah. Ia hanya diam, menjadi saksi semua perubahan di sekelilingnya tanpa pernah dimintai pendapat. Dari sana, aku bisa melihat cahaya sore merayap di antara sela bangunan, membelah gang menjadi garis terang dan gelap. 

Tak jauh dari sana berdiri pos kamling. Cat merahnya memudar, kursi plastik di dalamnya tinggal satu, kaki kirinya sedikit pincang. Di dinding, papan jadwal ronda masih tergantung, nama-nama tertulis dengan spidol yang nyaris hilang.

Taman kecil di seberangnya dulu memiliki dua ayunan dan satu jungkat-jungkit. Sekarang hanya tersisa rangka besi yang berkarat, bergerak pelan setiap kali angin lewat. Rumput tumbuh tak merata, sebagian terinjak menjadi tanah keras, sebagian lain liar dan tak terurus.

Warung di tikungan gang sudah tidak ada. Dindingnya ditelan pagar bangunan baru, yang kokoh dan tinggi. Padahal dulu, aku ingat dari sana selalu tercium aroma kopi yang baru diseduh dan minyak panas, serta suara radio yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.

Cahaya jatuh di antara gedung-gedung tinggi. Untuk sesaat, gang itu sunyi, ayunan berkarat berhenti bergerak. Di antara rumah-rumah yang menolak berubah, pos kamling yang kesepian, taman kecil yang setengah hilang, dan warung yang telah menjadi pagar perumahan, aku menyadari bahwa yang paling sulit berubah bukanlah tempat, tapi cara kita mengingatnya.

Aku sedang memperhatikan bayanganku sendiri ketika langkah kecil terdengar dari ujung gang. Seseorang berlari kecil ke arahku. Napasnya terdengar lebih dulu sebelum wajahnya terlihat. Ia berhenti beberapa langkah dariku, membungkuk sebentar untuk mengatur napas.

Aku hampir tak mengenalinya. Reza kini bertubuh tegap, bahunya lebar, rambutnya dipotong pendek dan sedikit berantakan. Ia mengenakan baju lengan panjang putih yang digulung, dipadukan dengan celana hitam dan tas slempang berwarna karung goni. Ada garis samar di rahangnya, namun ada satu hal yang masih sama, matanya: gelap, dalam, seakan menyimpan mendung yang sayu.

“Maaf buat janji mendadak gini,” katanya, sambil tersenyum. Senyum yang aku kagumi sejak dulu.

Kami duduk bersisian di bangku beton. Bangku yang dulu sering kami gunakan untuk menunggu kucing liar lewat atau melihat orang dewasa membicarakan hal yang tidak kami pahami. Angin sore membawa sisa kehangatan siang yang penuh polusi, bercampur aroma feromonik dari parfum dan keringat laki-laki yang seperti tidak pernah pergi dari kepalaku.

Retakan beton di bawah sepatu Reza dipenuhi pasir halus. Ia menggosoknya dengan ujung sol, seperti sedang mencoba menghapus sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa dihapus. Bertahun-tahun berlalu, aku sendiri tidak sanggup menghapus ingatan itu.

Aku memandangi tangannya. Tangan yang dulu kecil itu kini terlihat kokoh dipenuhi beberapa urat biru namun dengan jari-jari yang masih lentik seperti yang aku kenal bertahun-tahun lalu. Itu adalah tangan yang dulu menarikku menjauh dari lingkaran anak-anak laki-laki berseragam putih-merah yang mengitariku di sudut lapangan sepulang sekolah.

Siang itu, matahari menggantung tepat di atas tiang bendera. Aku berdiri kaku sambil memeluk buku tulis bergambar kelinci. Seorang anak lelaki menarik kepangku.

“Eh, lihat nih, orang Cina!” katanya sambil tertawa. Tangannya mendorong pundakku, tidak terlalu keras, tapi cukup membuatku mundur dua langkah.

“Orang Kristen dia!” sahut yang lain. Tawa mereka pecah seperti petasan kecil.

Aku menunduk. Ujung sepatu hitamku berdebu. Salah satu dari mereka menyenggol buku tulisku hingga jatuh. Sampulnya terlipat. Aku ingin mengambilnya, tapi sepatu mereka lebih dulu menginjak sudutnya.

Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan gerombolan anak itu.

“Balikin!” Suara Reza kecil tapi tegas. Ia berdiri di sampingku, napasnya memburu. Pipi kirinya masih berbekas kapur karena hari itu ia jadi petugas piket.

Anak yang paling besar menoleh. “Ngapain lo belain dia?”

Reza tidak menjawab. Ia membungkuk, mengambil bukuku, meniup debu di sampulnya, lalu menyerahkannya kembali padaku. Tangannya gemetar sedikit, tapi matanya tidak berpaling.

“Nanti gua laporin Bu Siti lo!” katanya.

Kalimat itu terdengar aneh keluar dari mulut anak kelas tiga yang kurus dan sering lupa membawa penggaris. Tapi tidak ada yang tertawa. Mereka hanya saling pandang, lalu bubar pelan-pelan.

Sejak hari itu, ia selalu berjalan di sisi kiriku ketika bel pulang berbunyi.

Seharusnya, memulai kehangatan itu lagi sekarang bukan hal yang sulit, namun semakin dewasa kita semakin pintar menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Kita menjadi mengerti bahwa tidak semua perasaan bisa diungkapkan dengan bebas. Kami mengobrol sebentar. Awalnya canggung, tetapi kemudian perlahan-lahan semua kenangan masa kecil itu muncul kembali seperti potongan puzzle yang menemukan tempatnya. 

Di gang itu, kami mengingat masa ketika masih anak-anak: bermain kejar-kejaran di antara pot bunga, melihat kupu-kupu beterbangan di atas rumpun pandan, atau sekadar duduk di tepi got sambil membicarakan hal-hal yang terlalu besar untuk kami pahami waktu itu. Dulu, ia pernah bilang kalau suatu hari nanti kita bisa mewujudkan semua mimpi kita, dan menjadikan dunia menjadi lebih baik.

“Aku dapat beasiswa ke Australia. Besok berangkat,” katanya sambil menatap garis-garis retak di lantai beton. “Mungkin lama.”

Aku menunggu ia menjelaskan lebih jauh, tapi ia tidak. Ia tidak pernah suka menjelaskan sesuatu terlalu panjang. Seperti dulu, ia lebih suka membiarkan kalimatnya menggantung, memberi ruang bagi dunia untuk mengisinya sendiri.

Kami berbicara selama dua jam. Tentang pekerjaanku, tentang pekerjaannya, tentang anakku yang sedang belajar piano, sedikit tentang suamiku, juga tentang perjalanan-perjalanan kecil yang ia lakukan sendiri setiap akhir pekan. Kadang ia tertawa, kadang ia diam lama sebelum menjawab. Dalam diam itu, aku merasa seperti sedang duduk di samping seseorang yang sudah mengalami terlalu banyak hal sendirian. Kematian ibunya, kegagalan asmara, dan sekarang kepergiannya ke tempat yang jauh.

Lampu-lampu rumah satu per satu menyala. Bayangan benda-benda memanjang di tanah.

Aku menyebut nama suamiku, dan bilang sebentar lagi ia akan menjemput. Kalimat itu keluar dengan wajar, seperti fakta sehari-hari yang tidak perlu penjelasan. Reza mengangguk, tidak ada yang patah di wajahnya, hanya sesuatu yang mengendap.

Ketika waktunya pulang, ia berdiri lebih dulu. Tangannya merapikan tali tas selempang yang sebenarnya sudah rapi. Ia menatapku lama sambil tersenyumnya tipis. Seperti seseorang yang sedang memastikan bahwa momen ini benar-benar ada, bukan sekadar mimpi sewaktu tidur siang.

“Kalau aku kembali,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara motor yang melintas, “aku ingin bertemu lagi.”

Ia berjalan menyusuri gang dengan langkah yang mantap, seperti dulu ketika ia berdiri di depanku di lapangan sekolah. Bahunya tetap tegak. Ia tidak menoleh. Lampu-lampu gang menyala redup, satu per satu, dan tubuhnya perlahan menyatu dengan bayangan tembok yang lembap. Aku tidak memanggilnya.

Aku berdiri sendirian di ujung gang itu. Udara malam turun pelan-pelan, membawa bau tanah basah dan aroma gorengan dari ujung jalan. Untuk sesaat, waktu seperti terlipat. Entah karena usia, atau karena ada bagian dalam diriku yang tetap tinggal di tahun 1988 dan menolak tumbuh. Aku melihat dua anak kecil berdiri berhadapan di gang yang sama. Mereka belum tahu tentang pindah rumah, tentang kota-kota baru, tentang perbedaan keyakinan, tentang orang-orang lain yang kelak akan dipanggil “suami” dan “istri.”

Dulu gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil. 





* Terinspirasi dari Hyehwadong (Ssangmundong), lagu OST Reply 1988

Selasa, 07 Oktober 2025

Kita Membenci Orang Lain Hanya Karena Mereka Bukan Keluarga

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, "Cara berpikir Abu Al-Hasan As-Sadili itu begini: kebencian kita terhadap orang lain sering kali muncul hanya karena mereka bukan bagian dari keluarga kita. Coba kalau itu keluarga kita, pasti kita akan berpikir ulang.”

"Contohnya, kamu membenci seseorang karena dia tidak salat, mesti sebabnya karena dua: pertama, karena dia tidak salat, dan kedua, karena dia bukan anak kamu. Kalau itu anak kamu, kamu pasti akan beristighfar berhari-hari untuk dimaafkan Allah. Tapi kalau orang lain, kamu langsung menghakimi. Jadi pertanyaannya: apakah kamu membenci karena dia tidak salat, atau karena plus dia bukan anak kamu?”

“Begitulah cara berpikir Abu Al-Hasan. Kebencian terhadap maksiat itu wajar, kita semua pasti membenci maksiat. Tapi sering kali kita tidak adil dalam menyikapinya. Satu orang kita laknat, sementara yang lain kita doakan. Ujung-ujungnya, ada unsur kepentingan pribadi.”

“Kalau yang melakukan maksiat itu ada hubungannya dengan kita, misalnya keluarga atau orang dekat, kita mendoakannya agar diampuni. Tapi kalau tidak ada hubungan, kita langsung menghakimi dan mencela. Ini jelas tidak adil.”

Jumat, 03 Oktober 2025

Tuhan yang Memberi Makan Saat Kamu Lapar

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah menjelaskan, "Sebetulnya dalam banyak hal, hal-hal yang keseharian itu lebih prinsip ketimbang ide kita tentang hal-hal besar."

"Saya beri contoh, Allah itu Tuhan yang maha kuasa yang menguasai alam raya ini. Kadang-kadang menjelaskan dirinya itu hanya alladzi atamahum min ju*. Saya ini Tuhan yang memberi makan kamu saat kamu lapar, saat kalian lapar. Jadi untuk beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, kepada Allah, kamu yakin yang memberi makan kamu itu Tuhan."

"Apapun kecewanya kamu terhadap tetangga, terhadap negara, terhadap mertua, terhadap istri, itu kecewa kamu gak akan mati. Tapi kalau gak makan itu mati. Sehingga Allah mensifati dirinya kadang pakai keseharian. Alladzi atamahum min ju. Tuhan itu siapa? Yang memberi makan kamu ketika lapar."

"Tapi kamu untuk syukur tuh nunggu punya istri cantik, neriman, gampang diatur, membolehkan poligami. Terus empat istri itu nerima semua, loyal semua. Itu sombong betul. Mau syukur saja kok repotnya seperti itu."


---
*
الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ 

"Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut." — QS. Quraisy (106): 4

Jumat, 11 Juli 2025

Kepada Anak dengan Hati yang Paling Jernih

Dear Safa,

Sekarang kamu sedang berada di pesantren. Kamu pernah bertanya, “Kenapa aku harus mondok?”

Bapak sudah mencoba menjelaskan banyak hal; tentang kemandirian, tentang penumbuhan karakter, tentang pengalaman, dan tentang ilmu yang tak diajarkan di buku. Tapi sebanyak apa pun itu, bapak tahu, kamu masih berkutat pada tanya yang sama. Karena memang ada pengetahuan yang tak bisa diwariskan lewat nasihat. Ia hanya bisa dipelajari oleh tubuh yang jauh dari rumah, oleh hati yang belajar bertahan di tanah yang asing. Ia harus dialami, dirasakan, dijalani, agar bisa benar-benar dimengerti. Dan bapak percaya, suatu hari nanti, kamu akan mengerti. Bukan karena bapak pernah menjelaskan, tapi karena kamu telah menjalaninya sendiri.

Hari pertama melepasmu ke pesantren terasa berbeda dibanding saat kakak dulu berangkat. Entah kenapa, denganmu, rasanya justru lebih ringan. Bukan karena bapak lebih siap, tapi mungkin karena kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

Kiyai Fachruddin, guru bapak sejak Tsanawiyah, pernah bilang bahwa antara orang tua dan anak ada ikatan ruhani yang halus, yang kadang tak perlu kata-kata. Ruh bir ruh, jiwa yang berbicara kepada jiwa. Apa yang kamu rasakan, bisa bapak rasakan juga. Dan juga sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, bapak tahu kamu menangis karena sakit. Mungkin tubuhmu sedang diserang virus, ditambah lagi kamu sedang tidak dalam kondisi fit. Ibu juga cerita, kamu baru saja mengalami menstruasi pertamamu. Sedikit lebih lambat dari kakak, tapi ini bukan perlombaan, bukan perbandingan. Setiap tubuh punya waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

Bapak membayangkan, sakit fisik, haid pertama, dan jauh dari rumah. Semuanya terjadi bersamaan. Tentu itu cukup untuk membuat siapapun merasa rapuh dan ingin pulang. Tapi kamu tidak pulang. Kamu memilih bertahan. Dan bagi bapak, itu tanda kekuatanmu.

Kita semua pernah merasa lemah, Teh. Tapi orang kuat bukanlah mereka yang tak pernah lemah atau jatuh. Orang kuat adalah mereka yang tetap berdiri, meski hatinya ingin menyerah.

Bapak dan ibu, gurumu juga buku-buku yang kamu baca, mungkin sudah banyak bicara tentang menstruasi. Bapak tidak akan mengulanginya di sini. Bapak hanya ingin menegaskan satu hal: menstruasi adalah tanda kedewasaan fisik. Artinya, tubuhmu memberi tahu dunia bahwa kamu kini seorang perempuan dewasa. Perempuan yang sehat.

Dan semoga, bersama tubuhmu yang sedang tumbuh, jiwamu pun ikut bertumbuh. Karena kedewasaan sejati bukan sekadar soal rupa, tapi soal pilihan. Pilihan untuk menjaga diri. Pilihan untuk menghormati tubuhmu. Pilihan untuk menentukan batas-batas yang harus dihormati oleh orang lain terhadap tubuhmu sendiri sebagai rumah suci.


Safa,

Kamu tahu, namamu dalam Kamus Besar Bahas Indonesia bermakna putih dan bersih. Begitulah juga dengan hatimu.

Suatu hari, ketika usiamu belum genap lima tahun, kamu selalu takut bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin karena kamu bisa merasa aura negatif, atau kamu belum nyaman, atau memang kamu pemalu. Apapun itu, yang perlu kamu tahu, ketakutan itu menunjukkan bahwa kamu memiliki kepekaan terhadap hubungan sosial. Itu tandanya kamu mampu untuk membedakan antara lingkungan yang aman dan situasi baru yang membutuhkan kehati-hatian.

Sejak kecil, kamu selalu berhati-hati. Bertanya berkali-kali sebelum melakukan sesuatu; Bolehkah melakukan ini? Bolehkah begitu? Katamu, kamu takut melanggar, takut salah, takut berdosa.

Safa, dosa adalah sesuatu yang membuat hati tidak tenang. Dan hati yang bersih selalu bisa merasakannya. Itu sebabnya kamu tidak bisa tinggal diam ketika melihat ketidakadilan, atau ada yang tersakiti. Maka begitulah kamu sangat peduli pada Palestina, atau orang-orang yang menderita di sekitarmu.

Kepekaan sosial itu yang harus kamu pertahankan selama apapun kamu hidup. Itulah anugrah yang Tuhan berikan untukmu.

Kamu punya pitch perfect, kemampuan mengenali nada dengan presisi. Bahkan sebelum berusia sepuluh tahun, kamu sudah bisa memainkan lagu apa pun yang didengar hanya dengan piano mainan. Sampai sekarang, bapak masih tidak mengerti bagaimana membedakan Do dan Re, apalagi memainkannya dengan flawless di tuts piano. Kepekaan itu yang akhirnya membuatmu mudah belajar alat musik lain, seperti ukulele. Insting bermusikmu kuat. Dan bapak tidak akan heran jika suatu saat nanti kamu akan melahirkan karya yang mengagumkan.

Saat lulus TK, kamu mendapat peringkat Kecerdasan Naturalis. Bapak tidak terlalu mengerti bagaimana itu dinilai, mungkin karena kamu lebih senang berada di luar kelas, bermain di antara pohon-pohon. Bapak bahkan sering sengaja terlambat menjemputmu, karena tahu kamu tidak pernah ingin pulang buru-buru. Kamu senang bermain di lingkungan sekolah yang banyak pohon.

Tapi yang paling bapak ingat adalah ketika kamu menangis tanpa alasan, hanya untuk merasakan air matamu sendiri. Kamu berhenti sejenak, menyeka air mata dengan ujung telunjuk, menjilatnya, lalu kembali menangis. Berhenti lagi, menjilat lagi. Mungkin kecerdasan naturalismu memang berhubungan dengan eksperimen, dengan keingintahuan yang besar.

Sejak kecil kamu adalah anak yang sering gelisah. Bertanya banyak hal di malam-malam sunyi: Allah itu seperti apa? Sebelum ada Allah, apa yang ada? Ghofururrohim artinya apa?

Pertanyaan-pertanyaan itu menandakan kepekaanmu pada hal yang di luar dirimu sangat besar. Pertanyaan itu disamping menandakan proses aktif dalam belajar, juga menandakan kegelisahan terdalammu pada fitrah ketuhanan. Dan semakin kamu mengenal dirimu, semakin kamu akan mengenal Tuhanmu. Semakin kamu mengenal Tuhanmu, semakin luas cintamu pada kemanusiaan.

Bapak tidak pernah khawatir jika kemampuan literasimu tidak sebagus Kakak Nada atau Aira. Bahkan sejak kecil, bapak tidak pernah cemas jika kamu belum lancar membaca atau berhitung.

Sekarang, dengan semakin kamu dewasa, literasi dan numerasi tidak lagi menghawatirkan. Kamu sudah punya kecintaan pada cerita, pada literasi, dengan kecintaan yang tulus.

Seperti baru kemarin kamu minta lampu kamar tidak dimatikan karena takut gelap. Kemudian bapak tetap mematikan lampu tapi menemani sambil memelukmu di tempat tidurmu, sampai kita berdua tertidur. Bapak bangun tengah malam dengan tangan kram dan besoknya sebelah tangan bapak pegal seharian.

Anak yang dulu sulit menelan makanan sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Anak dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, dengan pikiran-pikiran yang unik. Sebagai bapak, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Kamu adalah anak dengan hati yang paling jernih, dan semoga akan tetap begitu selamanya. Aku tahu, setiap orang harus tumbuh, begitu juga aku harap kamu akan tumbuh. Namun ada hal-hal yang kamu punya dari sejak kamu mengenal manusia, yang sebaiknya tetap kamu jaga: kejujuran, kepekaan, rasa ingin tahu. Itu yang membuatmu istimewa.

Sebagai manusia, dan sebagai remaja, wajar jika kadang kamu kurang disiplin, sulit fokus pada satu proyek. Kadang kamu seperti langit yang sibuk menampung awan: begitu penuh, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi biru. Kamu berjalan membawa peta yang belum sempat kamu baca, karena setiap tikungan menawarkan keindahan yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Bukan karena kamu malas. Tapi karena terlalu banyak musim yang ingin kamu peluk sekaligus. Dan itu bukan kesalahan, bahkan hujan pun tak selalu tahu di mana ia akan jatuh.

Tentu dengan berjalannya waktu kamu bisa mengatasi kelemahan dan kekuranganmu. Satu hal yang harus selalu kamu ingat: masih banyak hal mengagumkan tentang dirimu yang belum kamu temukan. Carilah. Kenali dirimu sendiri. Temui dirimu sendiri dengan sabar dan rasa ingin tahu. Dan jika suatu hari nanti dunia terasa sempit, suara-suara di sekitarmu terlalu bising, atau kamu merasa tak dihargai, ingatlah, akan selalu ada satu rumah di mana telingaku siap mendengar tanpa menghakimi, selalu bersedia mendengar keresahanmu, tanganku selalu terbuka untuk memeluk dan menerimamu apa adanya.

Apa adanya.

Semoga Allah selalu menolongmu, memberi kekuatan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam hidupmu.


—Bapak.



Kamis, 15 Mei 2025

Membaca & Menulis adalah Thoriqoh Guru Kita *

Assalamu’alaikum, generasi swipe up!

Perkenalkan, saya abang kelas kalian: Nailal Fahmi. Biasa dipanggil Nailal, atau Fahmi, atau kadang, “Bang, numpang WiFi, Bang!”.

Lulusan Annida tahun 2003, waktu gak ada satupun siswa yang punya hape. Dan kalau kalian pernah liat foto zaman dulu dan mikir, “Kok orang dulu bisa hidup tanpa kamera depan ya?”

Ya, kita emang sekuat itu.

Beberapa waktu lalu, Bang Fachri, Operator Sekolah multi talenta yang bisa ngerjain segala hal itu, tiba-tiba ngontak saya buat ngisi materi di acara Hari Buku Nasional. Saya seneng banget! Tapi apalah daya, abang kalian ini lagi kayak notifikasi yang gak bisa dibuka—ada, tapi gak bisa hadir. Jadi izinkan saya titipkan pikiran dalam bentuk tulisan ini. Baca pelan-pelan ya, ini bukan caption IG, bukan juga twitwar.

Meski abang gak bisa hadir secara fisik, semoga materi ini bisa bikin adik-adik semua makin cinta baca buku. Soalnya, Kiyai Fakhrudin pernah bilang, ”Thoriqoh-nya Syaikhuna, Kiyai Jirin, itu ya ngaji dan nulis.

Artinya, buat anak-anak Annida, membaca dan menulis bukan ritual akademik, tapi spiritual. Ini cara kita nyambung ke guru, bukan sekadar ngejar nilai. Ini jalan sunyi untuk meng-upgrade karakter dan spiritualitas.

Materi yang abang tulis ini adalah satu bentuk kesadaran bahwa Annida sangat peduli terhadap literasi siswa. Meningkatkan pemahaman terhadap literasi, terhadap buku bacaan, juga terhadap bahasa.

Literasi itu bukan cuma tentang bisa ngeja, tapi bisa menangkap makna. Bisa bedain mana opini, mana fakta. Mana kata-kata, mana manipulasi. Bisa nangkep maksud, bukan cuma makna literal.

Banyak orang bisa baca, tapi belum tentu bisa paham. Bisa ngelihat huruf, tapi otaknya loading terus. Kayak liat chat gebetan yang isinya “hehe”, dan langsung overthinking tiga hari tiga malam.

Jadi, apa sih tujuan abang nulis materi ini?

Simple aja, abang pengen kalian megang dua skill penting yang bakal bikin kalian gak kaget pas ketemu soal-soal yang mengetes kemampuan literasi atau kemampuan kognitif.
  1. Analogi (Qiyas)
  2. Penalaran Logis (Mantiq)
Kenapa Qiyas dan Mantiq, Bang?

Karena Qiyas ngajarin kita nyambungin konsep, cara pikir perbandingan. Dan Mantiq ngajarin kita mikir lurus, bikin kesimpulan yang sahih. Dua-duanya ibarat alat survival di hutan literasi digital.

Kenapa cuma dua ini? 

Karena abang gak akan sempat ngajarin semuanya, dan otak kalian udah penuh sama tugas, reels, dan drama kehidupan remaja. Tapi dua hal ini, percaya deh, punya akar kuat banget sama dunia kalian sebagai murid MTs Annida.

Kita tuh gak asing sama Qiyas. Itu diajari waktu ngaji Ushul Fiqh. Itu lho, cara nyari hukum lewat perbandingan. Qiyas itu bukan cuma cara nyari hukum. Itu cara berpikir. Cara nyambungin satu hal ke hal lain. Kayak pas kita belajar: “Khamr haram karena memabukkan. Maka segala yang memabukkan itu haram.”

Dan di soal literasi, analogi itu ya... Qiyas versi non-fikih. Kita nyambungin konsep satu ke yang lain, bukan buat ngeluarin hukum, tapi buat nangkep makna. Nah, soal analogi di soal bacaan itu kayak Qiyas versi sekuler. Tapi tetap pakai otak dan logika yang sama. Bedanya, bukan buat nyari halal-haram, tapi nyari jawaban A, B, C, atau D. Gak ada kitab, tapi tetap butuh ijtihad.

Lalu, Mantiq.

Ah, si Mantiq ini kadang dipandang sebelah mata. Padahal tanpa dia, banyak yang nyasar dalam berpikir. Abang inget dulu, waktu belajar Qawaid Mantiqiyah, ada satu pernyataan yang bikin kita garuk-garuk kepala: “Ta’arudh al-Muqaddimat wa fasad al-Tarakkub.”, bahwa cacat logis dalam suatu argumen dikarenakan adanya kontradiksi antara premis-premisnya, bisa menyebabkan argumen tersebut tidak sah atau tidak valid.

Mantiq atau Ilmu Logika yang kadang dianggap “berat” itu sebenernya alat yang sangat berguna. Alat buat mikir jernih. Biar gak gampang kecele. Biar otak kalian gak kayak motor mogok: banyak suara, tapi gak jalan.

Jadi simpelnya, kenapa dua ini yang abang pilih adalah karena: Qiyas ngajarin kalian berpikir dengan pola. Sementara Mantiq ngajarin kalian berpikir dengan logika.

Waktunya terbatas, otak kalian mahal, jadi abang kasih dua yang paling esensial. Yang bisa dipake di kelas, di ujian, bahkan di kehidupan.

Supaya kalian…
  • Gak bengong waktu lihat soal bacaan di ujian
  • Bisa bedain antara “bisa baca” dan “bisa ngerti”
  • Naik level dari sekadar “ngebaca kata” ke “nangkep makna”
  • Biar kemampuan literasi kita meningkat dan Bang Fachri bisa tidur lebih nyenyak

Jadi ayo kita mulai...


Skill Pertama: Analogi (Qiyas)

Apa itu Analogi/Qiyas?

Analogi itu seni menemukan hubungan. Jadi Qiyas atau analogy itu bukan cuma buat fiqih. Ini cara kerja otak yang nyambungin pola. Kayak sendok dan makanan, pena dan tulisan. Alat dan fungsi.

Contoh: Ikan : Air = Manusia : …?

Jawaban: Udara

Karena manusia butuh udara seperti ikan butuh air. Simple. Tapi logis.

Nah, di soal analogi, kita disuruh cari dua kata yang hubungannya mirip dengan dua kata lainnya. Intinya: “Kalau A berhubungan dengan B, maka C berhubungan dengan apa?”

Tips Biar Gak Salah:
  • Lihat dua kata pertama. Apa hubungannya?
  • Buat kalimat. Misal: “Pisau digunakan untuk ___.”
  • Cocokin hubungan itu dengan pilihan jawaban.
  • Singkirin jawaban yang ngaco. Jangan sampai kejebak pilihan jebakan betmen!
Contoh Soal (yang kadang bikin puyeng):

Gigi : Ompong = Pakaian : …
A. Telanjang
B. Celana
C. Badan
D. Penjahit
E. Malu

✅ Jawaban: A

Kalau gak punya gigi = ompong.
Kalau gak punya pakaian = telanjang (jangan dicoba di jalan pulang sekolah, ya!)

Retina : Mata = Pori-pori : …
A. Lubang
B. Bulu
C. Udara
D. Keringat
E. Kulit

✅ Jawaban: E

Retina itu bagian dari mata.
Pori-pori itu bagian dari kulit.

Skill Kedua: Penalaran Logis (Logika/Mantiq)

Apa Itu Penalaran Logis?


Ini kemampuan buat narik kesimpulan dari pernyataan, atau kemampuan buat narik kesimpulan sah (Natijah/Conclusion) dari dua premis (Mukodimah Sugro dan Mukodimah Kubro).

Ini bukan soal perasaan. Ini soal logika! Kalian dikasih beberapa pernyataan. Lalu disuruh narik kesimpulan yang paling masuk akal.

Contoh:

Semua siswa suka bakso.
Si Zaid adalah siswa.


Kesimpulan?

Si Zaid suka bakso.

Gak perlu feeling. Gak perlu tebak-tebakan. Ini logika, bukan horoskop.

Contoh lagi:

Semua kucing suka ikan.
Si Buntel adalah kucing.


Kesimpulan logis?

Si Buntel suka ikan.

Kalau kamu jawab: “Si Buntel suka rebahan sambil maen hape sampe jam 2 pagi” itu bukan logika, itu pengalaman pribadi 😅

Tips Mengerjakan:
  • Pahami isi tiap pernyataan. Baca pernyataan dengan hati yang tenang
  • Jangan ngarang! Semua kesimpulan harus sesuai isi teks. Hanya gunakan informasi yang diberikan
  • Hati-hati sama jawaban yang “hampir benar tapi bukan.”
  • Jangan bawa perasaan, bawa logika
  • Hindari asumsi “kayaknya” atau “feeling gue sih…”

Contoh Soal:


Tidak ada aktivis kampus yang lulus cepat.
Beberapa mahasiswi bukanlah aktivis kampus.


Berdasarkan dua pernyataan di atas, kesimpulan yang paling benar adalah …

A. Beberapa aktivis kampus tidak bisa lulus cepat.
B. Beberapa mahasiswi bisa lulus cepat.
C. Tidak ada mahasiswi yang lulus cepat.
D. Beberapa aktivis kampus bukan mahasiswi.
E. Tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Pembahasan Pilihan Jawaban:

A. Salah.
Ini hanya mengulang sebagian dari pernyataan pertama, tapi nggak menghubungkan dengan pernyataan kedua. Soal minta kita menghubungkan dua informasi.

B. Salah.
Ini kesimpulan di luar konteks. Pernyataan tadi bilang beberapa mahasiswi bukan aktivis, tapi nggak ada info apa-apa soal apakah mereka lulus cepat atau tidak.

C. Salah.
Lagi-lagi, ini asumsi sendiri, karena soal tidak menyebut semua mahasiswi dan tidak menyebut soal kelulusan mereka.

D. Salah.
Ini juga nggak ada hubungan langsung dari kedua pernyataan. Kita nggak tahu dari mana asal info ini.

E. Benar!
Kita tahu bahwa:
  • Semua aktivis kampus tidak lulus cepat (pernyataan pertama).
  • Beberapa mahasiswi bukan aktivis kampus → berarti ada sisanya yang aktivis kampus.
  • Nah, yang jadi aktivis kampus (mahasiswi atau mahasiswa), otomatis tidak lulus cepat.
Jadi, benar: tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Kesimpulan:

Untuk soal logika kayak gini, kita harus nyambungin dua pernyataan, kayak kabel charger. Kalau cuma satu ujung yang dicolok tapi yang satu nggak, HP-nya gak akan ngisi. 😆


Pesan Terakhir dari Abang
  • Baca dan nulis bukan cuma buat dapet nilai. Ini buat paham hidup. Buat ngerti dunia. Buat bisa nulis caption yang gak cringe.
  • Membaca adalah cara kita ngobrol sama orang yang udah wafat. Sementara menulis adalah cara kita bicara pada generasi yang belum lahir.
  • Kalau kalian baca buku, kalian minum dari mata air ilmu. Kalau kalian nulis, kalian ninggalin jejak.
  • Membaca itu ibadah, bagian dari thoriqoh Kiyai kita. Kayak Syaikhuna, yang tulisan-tulisannya masih jadi pelita sampai sekarang.

Jadi yuk:

  • Mulai dari 15 menit baca per hari
  • Gak harus buku berat, mulai dari bacaan ringan: komik, artikel, bahkan thread TikTok yang isinya beneran ilmu
  • Sering diskusiin isi bacaan bareng temen
  • Tulis apa yang kalian pahami, bukan apa yang kalian hafal

Kalau kalian rajin baca dan nulis, abang doain:

  • Otak makin encer
  • Ujian makin lancar
  • Hidup makin mudah
  • Bang Fachri bisa mikirin kerjaan lain yang masih banyak

Kalau kalian suka materi ini, jangan lupa baca lagi. Kalau gak suka, baca dua kali. Mungkin otaknya belum nyambung di percobaan pertama.






Materi ini ditulis untuk memperingati Hari Buku Nasional, 15 Mei 2025 di MTs Annida Al Islamy Bekasi

Selasa, 16 Juli 2024

Disiplin; Kunci Utama Keberhasilan Menulis Buku

Segala sesuatu kecuali Tuhan memiliki batas, termasuk menulis. Menentukan awal dan akhir dalam menulis adalah hal yang wajar dan diperlukan. Tanpa batas, segala kegiatan akan kacau, karena tidak mungkin kita makan selama tiga jam atau mandi selama dua hari.

Beberapa kawan pernah meminta saya menulis cerita hidup mereka atau dari premis yang mereka miliki. Saya katakan, yang paling berat dari menulis adalah disiplin untuk duduk, meluangkan waktu, dan setia pada target. Sementara inspirasi, ide cerita, premis, serta pengetahuan tidak serta merta menjadikan seseorang menyelesaikan tulisan, apalagi menulis dengan baik.

Ada yang bilang menulis itu mudah, dan saya setuju. Tantangan sesungguhnya ada pada mengedit dan menjaga disiplin. Menulis mungkin mudah, tetapi menyelesaikan tulisan hingga menjadi sebuah buku memerlukan kedisiplinan. Banyak penulis pemula berhenti di tengah jalan karena kurangnya strategi dan tekad yang kuat.

Menulis membutuhkan strategi dan rencana. Buat kerangka karangan dengan rinci, tetapkan target harian, mingguan dan bulanan, dan mulai menulis berdasarkan rencana tersebut. Komitmen pada niat dan pilih waktu yang sesuai. Katakan pada diri sendiri, “Saya akan menulis 1000 kata per hari sebelum tidur.” Berikan konsekuensi pada diri sendiri jika tidak mencapai target, serta hadiah jika berhasil mencapainya.

Percayalah! Dengan disiplin, inspirasi akan datang dengan sendirinya. Jangan buang waktu menunggu inspirasi, mulailah menulis setiap hari, dan inspirasi akan menemukanmu. Seperti yang diungkapkan oleh para penulis hebat, kamu tidak duduk menunggu dewi inspirasi menyelesaikan tulisanmu, tetapi kamu tetap menulis setiap hari sehingga ketika inspirasi datang, kamu siap menangkapnya. Menulis dan disiplin setiap hari membuatmu seperti magnet yang menarik semua ide dan inspirasi.

Jika pikiranmu buntu, tingkatkan pengetahuan tentang teknik menulis. Motivasi diri dan cari inspirasi dengan membaca, menonton, bertanya, dan meneliti. Dewi Lestari pernah bilang, “Ketabahan kita mendobrak writer’s block bisa jadi penentu apakah kita akan berhasil menjadi penulis atau sekadar orang yang berangan-angan menjadi penulis. You decide!”

Catatan: tulisan ini dibuat untuk melengkapi materi yang sebelumnya disampaikan di

Selasa, 01 Agustus 2023

Tertawalah, Maka Dunia Akan Tertawa Bersamamu

Dear Nada,

Tanggal 28 Juli kemarin, bapak menulis surat untuk ibu, seperti tahun-tahun sebelumnya bapak juga menulis untuk memperingati hari pernikahan. Jadi menulis surat biasa bapak lakukan kepada siapa saja, baik yang sering bertemu, jarang bertemu, bisa dihubungi di dunia nyata, ataupun yang sudah meninggal. Saat ini bapak menulis surat untukmu bukan karena bapak tidak bisa mengungkapkan langsung, tapi karena menulis lebih memperlihatkan kejernihan berpikir, juga menuntut seseorang untuk bisa menggunakan kalimat yang lebih efektif dan efisien, disamping juga ini sudah menjadi kebiasaan lama bahkan sejak bapak seusia kamu.

Dulu bapak menulis diary untuk mencurahkan perasaan agar bisa membantu melalui masa-masa sulit, pada saat sedih, kangen, merasa tidak dicintai, merasa tidak diakui, atau saat merasa bodoh, sementara tidak ada seorang pun yang bisa mendengarkan atau dipercaya untuk mendengarkan. Selain katarsis, menulis juga berkaitan dengan kenyamanan dan evaluasi diri. Sampai sekarang bapak masih menulis, kebiasaan yang dari dulu bapak lakukan sejak tinggal di pondok.

Malam pertama saat kamu di pondok, bapak dan beberapa orang kawan berkunjung ke pesantren Kiyai Fachruddin, guru bapak semenjak Tsanawiyah. Bapak di sana semalaman dan baru pulang sampai rumah ketika azan subuh berkumandang. Bapak menghadiahkan Kiyai sebuah buku, juga membicarakan banyak hal, termasuk kamu. Apa kamu percaya, perasaan deg-degan yang kamu rasakan dalam perjalanan ke pondok pagi itu, juga bapak rasakan? Kiyai Fachru yang saat ini punya dua pesantren, memiliki pengalaman pribadi tentang kondisi psikologis santri dan orang tua. Beliau menyampaikan bahwa orang tua dan anak punya ikatan emosional yang kuat. Sehingga apa yang dirasakan anak, juga bisa dirasakan orang tua, begitu juga sebaliknya. Orang tua dan anak bisa berkomunikasi secara ruhiyah, ruh bir ruh. Sakit dan kesedihan yang dirasakan anak, bisa dirasakan orang tua.

Di rumah sakit, dokter biasa menanyakan peringkat kesakitan pasien dengan angka, dari tingkat satu untuk yang paling ringan, sampai sepuluh yang paling sakit. Hanya saja, tenaga medis biasanya menanyakan sakit fisik, sementara kondisi psikologis sebenarnya yang bisa membuat sakit makin menjadi. Kamu tahu hal paling sakit yang pernah bapak rasakan? Sakit pada peringkat 9. Sakit ketika bapak mengetahui Embah meninggal.

Minggu, 6 Desember 2015. Malam itu bapak pulang kerja dan sepanjang jalan turun hujan. Sampai di rumah tidak ada orang. Kamu, ibu dan Safa sedang menginap di rumah Oma. Di kamar bapak tidur ditemani diri sendiri, gelap dengan perasaan ditindih sepi. Malam itu ada firasat aneh yang tidak bisa bapak jelaskan dengan terang melalui tulisan. Semacam hubungan batin anak dan orang tua mungkin.

Pagi hari, selepas subuh, ibu menelpon dengan suara gemetar, meminta segera ke rumah Nenek, karena Embah sakit. Saat bapak tiba, Embah sudah tidak sadarkan diri dan 30 menit kemudian beliau meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Hari itu, selepas salat asar, jenazah dikuburkan. Itu salah satu hari tersingkat dalam hidup bapak. Beberapa tetangga bilang, "Baru kemarin sore saya lihat Pak haji lewat depan rumah."

Embah meninggal dengan tiba-tiba. Andai semua orang datang dan pulang beramai-ramai, mungkin tidak ada yang merasa ditinggalkan. Sayang, dunia ini bukan seperti rombongan tamasya menggunakan bis, yang beramai-ramai datang, beramai-ramai pulang. Kehidupan dunia ini seperti datang ke Pasar Malam, seorang-seorang datang, seorang-seorang pergi.

Kehilangan orang tercinta tidak pernah mudah, Kak. Dengan kehilangan semacam itu, kamu bisa terbangun tiba-tiba pada tengah malam dan menangis sendirian. Kamu merasakan dadamu terhimpit dalam isak, paru-parumu berderu dengan sedu yang menyesakkan, sampai kamu lupa bagaimana caranya bernafas.

Kamu mengingat kenangan-kenangan yang terlewat. Kamu merindukan pesan dan telponnya, kamu merindukan suaranya, kamu merindukan aroma tubuhnya, kamu merindukan hal-hal yang mengesalkanmu, kamu merindukan hal-hal kecil, segala sesuatu yang bahkan sangat sederhana seperti caranya bicara, memegang tangan atau mengucapkan namamu. Namun yang lebih menyesakkan dalam semua kerinduan itu adalah sesuatu yang belum sempat kamu lakukan untuk membalas jasanya.

Sampai saat ini, belum ada yang bisa mengalahkan sakit itu. Belum ada sakit peringkat ke 10. Bapak sengaja menyisakannya, entah untuk apa.

Beberapa waktu lalu, saat kamu bilang sakit sambil menangis, bapak tidak tahu berapa nilainya, tapi bapak mengerti itu bukan hanya sekedar kesakitan fisik. Kamu bisa saja menyembunyikan, tapi orang tua punya kemampuan untuk mengerti apa yang tidak diungkap anak mereka. Bapak percaya, kesulitan dan tantangan fisik yang kamu hadapi saat ini bisa dengan mudah kamu atasi, sebagaimana bapak dan ribuan orang sebelum kamu juga pernah melewati kesulitan yang sama. Namun untuk tantangan emosi, kamu hanya butuh waktu untuk bisa lebih belajar.

Di usia kamu, waktu SD, bapak pernah menyukai seseorang. Rika namanya. Sejak bapak masuk pondok sampai sekarang, kami tidak pernah lagi bertemu. Saat ini bapak tidak tahu bagaimana kabarnya. Bapak juga pernah kangen seseorang sampai menangis. Itu sebelum bapak bertemu ibu. Sampai akhirnya, waktu yang menyembuhkan. Manusia bisa belajar banyak hal dari pengalaman hidup mereka, dan untuk bapak, cara tercepat mempelajari hal itu adalah dengan menulis. Menulis untuk bapak adalah cara berteriak tanpa harus membangunkan orang-orang di sekitar, juga cara membentuk ketabahan untuk terus maju dan berkembang.

Kamu boleh menulis perasaan kamu kepada siapa saja. Tulisan itu bisa kamu kirim ke orang yang kamu mau, bisa juga disimpan sendiri untuk kamu baca kembali suatu waktu, agar menjadi pengingat kenangan atau pelajaran. Kamu juga bisa menitipkan surat untuk kawan-kawanmu di SMM, mereka tentu akan senang membaca tulisan-tulisanmu. Kamu bisa menulis untuk Ali, Ajeng, Kief, Kirana, Olatte atau siapapun. Titipkan tulisan itu ke bapak atau ibu, nanti dikirim ke teman-teman yang kamu mau. Bapak dan ibu tentu tidak akan membaca tulisan-tulisan itu, kecuali memang kamu mengijinkan atau mau supaya bapak atau ibu membacanya.

Beberapa kali membaca tulisan-tulisanmu, bapak bisa menilai kalau kamu punya kemampuan yang bagus untuk menyampaikan perasaan serta ide dengan diksi yang kuat dan kalimat yang efektif. Itu keterampilan yang diperlukan ketika menulis, dan kamu mempunyai bakat alami.

Kiyai Fachru adalah orang yang pertama kali memberi tahu tentang bakat bapak. Suatu malam dari atas podium, disaksikan seluruh santri yang sedang mengikuti Muhadhoroh, Kiyai bilang bahwa bapak berbakat dalam menyusun cerita yang bagus. Sebelumnya bapak naik podium untuk membawakan pidato dengan sebuah cerita yang memang bapak susun sendiri. Seandainya tidak mondok, bapak tidak akan mengenal dan dekat dengan Kiyai Fachru, dan mungkin juga bapak tidak bisa mengeksplorasi kemampuan bapak sebenarnya. Dalam istilah sufi, guru juga disebut Mursyid, Pembimbing atau Mentor. Dalam perjalanan hidup ini, kamu juga akan bertemu mentor yang akan mendukung dan membimbing kamu ke jalan kebaikan. Kamu juga akan bertemu orang-orang dengan berbagai macam latar belakang, berbeda usia dan bisa belajar dari mereka.

Beberapa hari lalu, Kak Faznah, guru yang mengajari kamu Bahasa Inggris di pondok memberi tahu bapak bahwa kamu keren karena sudah berani memperkenalkan diri di depan orang banyak. Sejak kamu kecil sampai sekarang, bapak masih yakin bahwa kamu adalah salah satu anak yang paling berani, berkeinginan kuat dan tegar yang pernah bapak temui. Mungkin penilaian ini bias, tapi biar waktu yang akan membuktikan ketika kamu berhasil melalui kesulitan-kesulitan yang kamu hadapi, seperti yang sudah kamu lakukan sebelumnya.

Tidak ada yang bilang hidup ini akan selau mudah, Kak. Namun percayalah, setelah satu kesulitan selalu akan datang dua kemudahan, dan kamu tidak perlu takut atau sedih karena sesungguhnya Allah bersama kita. La tahzan innallaha ma'ana.

Berbahagialah, karena itu perintah Tuhan. Orang-orang beriman hidup dengan penuh keikhlasan, syukur, tawakal, dan punya tujuan. Adakah orang yang tidak bahagia jika mampu menghayati semua itu? Jadi tertawalah, maka dunia akan tertawa bersamamu, tapi bersedihlah dan kamu akan bersedih sendirian. Louis Sachar, penulis dengan selera humor tinggi itu pernah bilang, "Kamu butuh sebuah alasan untuk sedih. Tapi kamu tidak butuh alasan untuk bahagia.”

Bapak mengerti butuh waktu untuk memahami semua ini, maka tetaplah percaya pada dirimu sendiri sampai kamu menemukan versi terbaik dari dirimu. Bapak akan selalu mendukung dan menunggu kamu sampai kamu berada di puncak kebaikanmu, dan selama menunggu itu, bapak akan tetap menulis. Karena apa yang diucapkan akan hilang, sementara yang tertulis akan tetap tertulis.

Semoga Allah selalu menolong, memberi kekuatan, keselamatan dan kebahagiaan dalam hidupmu.



With love and fervent prayers,

Bapak





Sabtu, 22 Juli 2023

Belajar dan Menulis Adalah Jalan Guru Kita

Kutipan mukadimah Kiyai Fachruddin pada Majlis Mudzakaroh Santri Annida:

Kita tidak pernah berniat untuk berhenti menjadi Santri. Jadi terserah orang mau memanggil kita apa di luar sana, tapi di Ma’had kita tetap memposisikan diri kita sebagai Santri, sebagai Mustafid. Sehingga kita masih masuk pada apa yang pernah disabdakan nabi, “Man salaka thariiqan yaltamisu fiihi ilman sahhalallohu thoriiqon ilal jannah. Barang siapa menempuh jalan untuk menimba ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Kiyai Mahfud pernah biang ke saya, “Udah, Din! Kita mah ngeramein kitab Kiyai aja. Lah kalo bukan kita yang baca siapa lagi?”

Jadi ayo kita baca kitab-kitab karangan Syaikhuna. Baca aja. Sebagaimana Kiyai sering membaca ayat, “Fa izaa qaraanaahu fattabi' qur aanah tsumma Alaina bayanah. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.”

Baca aja kitab-kitab Syaikhuna. Sementara tentang pemahaman nanti biar Allah yang buka, yang penting hati kita futuh, terbuka, ikhlas. “Robbisrohli sodri wayassirli amri wahlul ‘uqdatammillisaani yafkahul kauli. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”


Membaca karya-karya Saikhuna selain adalah jalan untuk memahami pikiran-pikiran beliau, juga adalah cara untuk kita berdialog dengan beliau secara ruh bi ruh.

Dulu, waktu baru-baru mendirikan pondok, Kiyai dituduh anti maulid. Beliau jawab, “Kalo lu udah baca kitab ini (maksudnya kitab Muhammad Rasulullah), baru lu tau maulidan siapa gua sama mereka?”

Jadi kalau dikritik, dituduh, dicibir, difitnah, beliau dengan kealimannya menjawab dengan karya. Thoriqoh Saikhuna yang berat selain ngaji itu adalah ngarang kitab. Nulis.

Mudah-mudahan ada generasi sepeninggal Saikhuna yang cinta menulis. Sebab saya pernah denger Saikhuna bilang, “Gua kalo ngarang kitab sekarang (maksudnya Misbahu Dzulam), mungkin bisa lebih tebel dari itu.”

Mungkin karena dulu ada keterbatasan dalam referensi, karena zaman itu maroji atau masodir kurang. Berbeda dengan zaman sekarang dimana kita bisa mendapatkan referensi dengan mudah. Artinya beliau masih punya semangat untuk membuat karya yang lebih besar lagi. Karena di zaman sekarang ini, semuanya sudah tersedia dengan mudah.

Saya memahami kata-kata itu sebagai cemeti dari Saikhuna, kalau beliau yang pada zaman akses untuk mencari maroji sulit saja bisa mengarang kitab, seharusnya di zaman akses semakin mudah ini kita sebagai muridnya bisa lebih baik.


Catatan: kutipan ini saya paraphrase dan ringkas. Untuk mendengar lengkap, silahkan merujuk ke MUDZAKAROH - "KITAB MUHAMMAD" KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD MUHAJIRIN AMSAR - YouTube



Jumat, 23 Desember 2022

Sekolah Murid Merdeka; Semua Murid, Semua Guru

Pada tahun 2019 --tahun pertama SMM dibuka, ketika mencari PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) untuk keperluan memperoleh ijasah SD Nada, kami menemukan SMM (Sekolah Murid Merdeka).
 
Salah satu alasan keluarga kami memutuskan Homeschooling adalah karena kami menganggap Sekolah Konvensional terlalu banyak memasukan mata pelajaran yang seringkali sudah tidak relevan dan kurang dibutuhkan anak. Di Sekolah Murid Merdeka, sebagaimana kita bisa tebak dari namanya, menerapkan Kurikulum Merdeka yang salah satu karakteristiknya adalah pengurangan cakupan materi dibanding kurikulum nasional sebelumnya.

Sering sekali saya menemukan ekspektasi yang tidak realistis baik dari orangtua atau siapapun tentang kemampuan murid dan juga kemampuan guru terkait konten pelajaran. Di era informasi sekarang ini, intensi untuk melengkapi pengetahuan murid dengan pelajaran yang “just in case diperlukan" memang semakin menjadi-jadi, namun desainer kurikulum yang baik, seharusnya bisa memilih relevansi bukan hanya pada zaman tapi juga pada keunikan, kondisi sosial anak atau personalisasi.

Sama dengan Homeschooling, kostumisasi atau personalisasi adalah hal yang seharusnya ada dalam sistem pendidikan kita. Pendidikan yang memberi ruang untuk keunikan anak sehingga potensi terbaik mereka bisa jauh lebih berkembang. Contoh paling sederhana dalam hal personalisasi di SMM adalah anak-anak dibebaskan untuk mengerjakan tugas menggunakan hal yang mereka kuasai dan senangi. Bisa melalui visual, gambar, atau video, bisa berbentuk tulisan atau karya sastra, musik atau yang lainnya. Di SMM perbedaan dan ide selalu dihargai.

Personalisasi hanya akan mungkin terjadi apabila isi kurikulum memberi ruang dan waktu yang cukup kepada murid untuk bereksplorasi, lewat pendekatan yang menempatkan murid sebagai pengendali proses belajarnya sendiri. SMM yang digagas oleh Najelaa Shihab memang dirancang untuk menjadi sekolah dengan kurikulum yang berpihak pada anak atau murid. Keberpihakan pada murid ini, selain lebih mengakomodir personalitas siswa juga lebih kontekstual dan relevan. Dalam sebuah artikel Najelaa menjelaskan bahwa ada dua pertanyaan yang lazim berulang dalam musyawarah Guru tentang cakupan kurikulum di SMM, yaitu:
  1. Di antara semua yang menarik untuk menjadi cakupan kurikulum, mana yang akan berguna bagi murid 5-10-20 tahun yang akan datang saat saya sebagai guru bertemu mereka di masa depan?
  2. Jika ini penting diajarkan, apakah sekarang, di periode usia/jenjang pendidikan ini adalah waktu tertepat berkaitan tingkat kesiapan anak untuk anak belajar?
Cakupan kurikulum memang selalu soal prioritas. Sehingga kurikulum yang baik adalah kurikulum yang kontekstual. Seringkali, ada topik yang sebenarnya bagian yang esensial untuk generasi Z, tapi terlewat dalam cakupan kurikulum, contohnya tentang pendidikan seksualitas atau spiritualitas, atau juga materi lintas jenjang seperti materi terkait demokrasi dan kebangsaan.

Salah satu hal yang juga perlu dipikirkan oleh perancang kurikulum adalah memilih materi yang paling berkait dengan bidang ilmu lain. Materi lintas jenjang dan lintas mata pelajaran ini penting dipikirkan agar semakin terjadinya kesinambungan dalam pembelajaran. Otonomi guru dalam kontekstualisasi kurikulum ini juga perlu dibarengi dengan adanya “tes relevansi” untuk setiap materi yang bukan hanya dilakukan satu tahun ajaran sekali, tetapi terus berefleksi guna memenuhi kebutuhan dan kondisi murid.

Usaha tersebut sedang dan terus dilakukan oleh SMM. Hasil karya berkait ini, menjadi inti asesmen yang juga berulang, diobservasi dan dinilai lintas tahun ajaran. Salah satu contohnya adalah menghasilkan paragraf esai. Karena kemampuan membuat pernyataan dan kesimpulan, menjelaskan latar belakang dan mendeskripsikan kompleksitas dengan pemilihan kata, kelancaran kalimat dan konvensi yang tepat adalah salah satu aspek kompetensi yang dibutuhkan lintas profesi.

Keistimewaan SMM yang saya sebutkan di atas memang terdengar mewah dan ideal, namun sayangnya banyak orangtua murid SMM yang terkadang luput memahami bahwa tradisi tanggungjawab orangtua di SMM berbeda dengan paradigma lama yang menyerahkan sepenuhnya anak ke sekolah tanpa peduli lagi. Di SMM ada slogan "semua murid, semua guru". Itu bukan slogan kosong tanpa realisasi namun ingin dijadikan budaya yang melekat. Slogan itu berarti adanya kemauan dari semua pihak baik sekolah, guru, murid juga orangtua untuk bisa terus belajar dan mendidik, untuk membuka pikiran, bergerak saling membantu, bermakna. Dengan begitu, diharapkan orangtua dan sekolah mampu menciptakan kolaborasi atau kerjasama. Kolaborasi itu juga terjalin antara orangtua dan murid, dimana orangtua memiliki peran terpusat saat anak belajar di rumah, walaupun tidak berarti orangtua yang bekerja tidak bisa menerapkan budaya ini. Pendampingan yang dimaksud adalah pendampingan dalam hal moral, dukungan dan ikut terlibat dalam diskusi dengan anak. Pendampingan seperti itu menjadi hal penting untuk bisa mendukung semangat belajar anak yang pada akhirnya mewujudkan ekosistem Merdeka Belajar.

Merek Merdeka Belajar juga awalnya dimiliki SMM atau Sekolah Cikal (sekolah yang menginisiasi SMM) yang akhirnya diberikan ke pemerintah yang kemudian dijadikan payung besar kebijakan pendidikan nasional. Merdeka Belajar sendiri adalah ekosistem dalam dunia pendidikan yang dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi, kolaborasi dan inovasi semua pemangku kepentingan, mulai dari guru, orangtua, komunitas dan organisasi. Cakupannya cukup luas, salah satunya adalah menciptakan Kurikulum Merdeka, yaitu kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Kurikulum yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat, sehingga peserta didik dapat memilih pelajaran apa saja yang ingin dipelajari sesuai passion melalui pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Namun kurikulum hanyalah alat, yang membuat itu berarti adalah manusia di belakangnya yang secara kreatif bisa membuat kurikulum tersebut berjalan sesuai tujuan.

Saya pernah beberapa tahun menjadi Guru, dan sejauh pengalaman saya, sulit untuk mengubah budaya korup dan stagnasi dalam jajaran birokrasi Kementrian Pendidikan ini. Bagi orang-orang yang masih punya idealisme, masuk ke birokrasi pemerintah memang sering membuat frustasi. Mungkin saja perubahan di tingkat atas bisa lebih mudah dilakukan, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa perubahan kebijakan, tidak menjamin perubahan di lapangan, apalagi paradigma usang tentang pendidikan yang sudah langgeng selama bertahun-tahun selalu menjadi penghambat utama reformasi.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah Kurikulum Merdeka mungkin diterapkan dalam praktek di lapangan? Jawabannya tentu bisa. Mungkin memang bukan hal yang mudah, karena jika ada sekolah yang mencoba menerapkan konstektualisasi kurikulum ala Merdeka Belajar, pola ujian (assessment) dari pemerintah yang ada sekarang belum sama merdeka dan bisa mengakomodir. Bagaimanapun tidak akan bisa ada perubahan dalam upaya konstektualisasi kurikulum, tanpa perubahan di standar penilaian. Memang butuh proses dan ketekunan, SMM telah membuktikan bahwa upaya dan kolaborasi terus menerus bisa membuat semua itu semakin mudah diwujudkan.



Kamis, 08 Desember 2022

Kebahagiaan, Keselamatan dan Kemerdekaan

Sudah sejak lama para praktisi atau cendikiawan mencoba menjelaskan pertanyaan dasar tentang tujuan pendidikan. Berikut adalah beberapa diantaranya:
 
Aristoteles: Education is the creation of a sound mind in a sound body it develop men faculty especially his mind so that he may be able to enjoy the implementation of supreme court goodness and beauty of which perfect happiness essentially consist.

Al Ghazali: Tujuan pendidikan adalah mendekatkan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna dan akhirnya membahagiakan hidup di dunia dan akhirat.

Ki Hajar Dewantara: Pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya.

UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003: Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Ada banyak penjelasan tentang tujuan pendidikan dari para pakar atau pendidik yang lain, namun secara sederhana dari beberapa yang saya kutipkan di atas dapat disimpulkan dalam satu kata:

Kebahagiaan

Tujuan Pendidikan memang seharusnya dibuat umum dan luas, tidak hanya terbatas pada ukuran ketuntasan belajar yang sempit. Dari pengambilan kata dasar "didik" dan "ajar" saja sudah memiliki konotasi yang berbeda, maka konsep istilah untuk murid yang lebih tepat adalah anak didik dan konsep istilah untuk guru adalah pendidik. Mungkin itu terdengar sebagai istilah yang tidak terlalu penting, namun dari kata manusia jadi tahu pentingnya memahami konsep. Saya sering mendengar dari kawan-kawan pendidik yang menyatakan bahwa mereka tidak butuh mengerti konsep karena tanpa itupun mereka sudah melaksanakan dalam keseharian, jadi tidak perlu konsep atau pemahaman istilah yang macam-macam. Itu argumen yang tidak berdasar, karena narasi itu penting, kata-kata dan konsep itu penting. Saya setuju bahwa perbuatan lebih keras bersuara dari perkataan, namun tanpa memahami konsep, yang kita lakukan tidak bermakna atau paling tidak berkurang maknanya. Oleh karenanya konsep dan tindakan tidak bisa dipisahkan. Tindakan tanpa konsep adalah kebutaan, konsep tanpa tindakan adalah kelumpuhan.

Kembali lagi pada tujuan pendidikan, sebagian orang mungkin menganggap pintar, mudah mendapat pekerjaan, dan memperoleh status dalam masyarakat adalah tujuan pendidikan, namun ukuran seseorang disebut pintar, kaya, atau berkedudukan sangatlah relatif. Mungkin kita bisa menyebut ukuran seperti Cum Laude, 500 milyar dan anggota DPR. Pertanyaan selanjutnya bisakah semua murid mencapai semua tujuan-tujuan itu? Bukankah dengan ukuran tersebut berarti tidak semua murid sampai pada tujuan pendidikan? Atau yang lebih buruk, apakah kita akan membiarkan para murid melakukan hal apapun termasuk kecurangan untuk mencapai tujuan-tujuan itu? Bukankah banyak orang yang mencapai kepintaran, kekayaan, dan kedudukan dengan cara curang dan akhirnya berakhir tidak bahagia? Bukan berarti hal-hal tersebut tidak penting atau tidak bisa membuat bahagia, namun pintar, kaya, dan status jangan dijadikan tujuan tapi cara untuk memperoleh kebahagiaan. Sekali lagi cara, bukan tujuan, karena manusia bisa bahagia tanpa "kepintaran", "kekayaan" dan "jabatan".

Di sekolah konvensional, tujuan pembelajaran biasanya dinilai dengan ujian tertulis atau praktek, dan hasilnya diukur dengan KKM. Sepanjang melewati batas KKM maka tujuan pembelajaran tercapai. Tujuan pendidikan lebih luas dari tujuan pembelajaran, bahkan belum ada ukuran yang benar-benar jelas untuk menilai apakah tujuan pendidikan tersebut sudah tercapai atau belum. Ya, terkait kebahagiaan sebagai tujuan pendidikan, pertanyaan berikutnya adalah:

Bagaimana cara mengukur kebahagiaan?

Berbeda dengan tes akademik atau tes pada organ tubuh, kebahagiaan tidak bisa diketahui melalui ujian sekolah atau tes darah atau pemindaian tubuh. Sehingga salah satu ukuran yang bisa digunakan adalah memahami terlebih dahulu definisi kebahagiaan.

Ada karakteristik utama dalam bahagia yang bisa kita ketahui, yaitu kepuasan terhadap hidup atau momen yang sedang dijalani. Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa semakin sederhana kebutuhan seseorang akan kebahagiaan, maka semakin besar kemungkinan orang itu untuk bahagia. Tentu kebutuhan seseorang dalam hal ini sangat subjektif dan berbeda-beda. Satu hal bisa membuat satu orang bahagia, tapi tidak untuk orang lain.

Aristoteles memetakan definisi bahagia ke dalam dua hal. Pertama Hedonia, yaitu rasa bahagia yang berakar dari hal menyenangkan. Umumnya, berkaitan dengan perasaan yang muncul saat melakukan hal disukai, menyayangi diri sendiri, mewujudkan impian, dan merasa puas. Kedua Eudaimonia, yaitu kebahagiaan yang berakar dari pencarian tentang makna hidup. Komponen penting dalam hal ini adalah perasaan memiliki tujuan hidup dan nilai. Oleh sebab itu, kaitannya sangat erat dengan pemenuhan tanggung jawab, perhatian terhadap kesejahteraan untuk orang lain, dan menjalani hidup sesuai idealisme.

Meik Wiking penulis buku The Little Book of Hygge: Danish Secrets to Happy Living menyatakan dengan lebih teknis bahwa kebahagiaan bukan hanya bersumber dari uang. Karena walaupun seseorang pasti merasa puas apabila dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dengan uang, namun setelah itu, uang yang masih tersisa tidak akan mendatangkan kebahagiaan sama seperti titik awalnya. Ada law of diminishing return di sini. Artinya, kebahagiaan setinggi apapun seperti memiliki rumah sendiri pada akhirnya akan kembali datar.

Jadi adakah satu hal yang disepakati yang membuat orang bahagia?

Jawabannya tentu tidak ada. Karena yang dimaksud bahagia ini berbeda dengan rasa euforia yang hanya berlangsung singkat. Seseorang bisa bahagia ketika bisa menyelesaikan tugas yang diberikan, menonton atau mendengarkan boygroup yang ia suka, mendapat promosi jabatan, kenaikan gaji atau barang-barang baru yang dimiliki, namun itu perasaan bahagia yang hanya berlangsung beberapa saat dan sangat bergantung pada apa yang di luar dirinya. Jika manusia terlalu fokus mengejar sesuatu yang di luar dirinya, manfaat jangka panjang terhadap kebahagiaan tidak dapat diperoleh. Sehingga bahagia bukanlah tentang apa yang ada di luar, tapi apa yang ada di dalam.

Arti kebahagiaan juga bukan berarti terus menerus merasa senang dan tidak pernah sedih. Orang bahagia bisa tetap merasakan emosi lain seperti sedih, takut, kaget, dan lainnya. Hanya saja, ketika merasa situasi tidak berjalan sesuai yang diinginkan, ada rasa optimis bahwa semua akan membaik. Mereka bisa menghadapi apa yang sedang terjadi dan kembali merasa senang.

Kebahagiaan juga tidak memerlukan hal-hal yang sempurna. Bahkan mengejar kesempurnaan dalam hidup, justru bisa membuat manusia merasa kurang bahagia. Bahkan dapat melukai rasa bahagia, karena kita akan selalu menginginkan lebih dan tidak pernah benar-benar puas.

Kesimpulan akhir yang mudah disepakati adalah kebahagiaan merupakan keterampilan yang dapat kita kerjakan setiap hari dengan secara aktif memilih pikiran, koneksi, dan keyakinan yang membuat kita merasa baik. Nah, cara dan keterampilan itulah yang dipahami, dihayati dan dilatih dalam aktifitas pendidikan. Keyakinan yang membuat kita merasa baik atau lebih baik bisa di dapat dalam agama.

Agama adalah sumber kebahagiaan

Bahagia adalah perintah Tuhan. Karena adakah orang yang ikhlas, sabar, penuh syukur, tawakal, punya tujuan hidup yang tidak bahagia?

Agama bukan hanya ada pada pelajaran-pelajaran agama saja. Lagipula, "Pelajaran Agama" dan bukan "Pelajaran Agama" adalah pemisahan yang tidak sepenuhnya tepat. Sebagaimana halnya urusan dunia dan urusan akhirat, pelajaran agama dan bukan agama tidak ditentukan berdasarkan jenis pelajarannya, tapi visi, motif atau niat peserta didik ketika mempelajari pelajaran-pelajaran di sekolah. Matematika, science, sejarah atau pelajaran-pelajaran lain bisa jadi adalah pelajaran yang punya visi jauh. Ilmu, selama diniatkan untuk kebaikan manusia adalah pelajaran agama. Sarana untuk menuju kebahagiaan. Kita mengenal ulama atau ilmuan muslim yang pakar di banyak bidang seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Khaldun, Al Khawarizmi, Al Battani, Ibnu Firnas dan lain-lain. Mereka dikenal sebagai ilmuan di bidang kedokteran, penerbangan, astronomi, hukum, matematika dan banyak lagi.

Maka benar apa yang dirinci dalam UU Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tidak dipungkiri lagi, ujung atau tujuan dari berkembangnya segala potensi yang baik itu adalah kebahagiaan.

Wallahu 'alam

Selasa, 23 Agustus 2022

Tokoh Kita

Mari kita sebut ia Tokoh Kita. Penduduk dekat rumah memanggilnya ustad, boleh juga kalau kita panggil Ustad Kita.

Suatu hari ada seorang yang datang kepadanya bercelana pendek, bertelanjang dada. Ia selempangkan kaus di bahu. Dengan kondisi setengah mabuk, ia berteriak, “Ustaaad, gua mau tobaaat.”

Tokoh Kita yang mendengar suara gaduh itu keluar dari dalam rumah kemudian menghampiri.

“Beneran lu mo tobat?” tanya Ustad Kita.

“Beneraan…” Jawabnya panjang, “Gua mau tobaat. Ajarin gua. Gua harus ngapain?”

“Masih inget cara wudhu?” Ustad Kita kembali bertanya.

“Masih, Taad.”

“Coba gua mao liat.” Ustad Kita mengambilkan selang air kemudian mengocorkan air ke arahnya. Ia berwudhu dengan tertib dan selesai.

Ustad Kita meneruskan, “Nah bagus, lu masih bisa wudhu. Mulai sekarang, jangan pernah batal wudhu ya. Pokoknya setiap lu batal, wudhu lagi. Batal, wudhu lagi.”

“Itu aja, Tad?”

“Iya, itu aja. Sanggup?”

“Sanguuup.”

“Alhamdulillah.”

Pada waktu yang berbeda, seorang yang penuh tato di sekujur badannya juga pernah mengunjungi Ustad Kita. Ia bilang kalau ia sering berjudi, berzina dengan istri orang dan memakai narkoba. Ustad Kita menyarankan, “Jangan kalo narkoba. Jangan. Kalo yang lain gak papa, masih boleh.”

“Beneran, Tad?” Ia bertanya heran.

“Iya, beneran. Pokoknya kalo narkoba jangan. Kalo begini,” Ustad Kita membuat gestur mengepal dengan memasukan jari jempol diantara jari telunjuk dan tengah, “masih boleh.”

Pria Bertato itu menjalankan nasihat Ustad Kita dan tidak lama kemudian ia juga meninggalkan judi dan zina yang sering ia lakukan, kemudian ikut mengaji kepada Ustad Kita. Begitu juga dengan Pria Telanjang Dada. Ia masih melakukan dosa-dosa lain ketika men-dawam-kan wudhu, namun perlahan-lahan hatinya mulai terketuk untuk melaksanakan salat dan meninggalkan maksiat.

Itu salah satu karomah dari Ustad Kita yang mungkin bagi kebanyakan orang yang terlalu kaku dengan penerapan syariat dianggap sesat. Tentang karomah, sebagai seorang muslim harusnya menganggap biasa saja, karena itu salah satu bukti keberadaan Tuhan disamping juga merupakan ujian. Memang terkadang keyakinan kita perlu pembuktian, dan kadang kepercayaan kita diuji dengan hal yang mengherankan. Nabi pernah bersabda, pertimbangkanlah firasat orang mukmin, karena mereka memandang dengan cahaya Tuhan. Maka jika kamu melihat seorang yang punya firasat yang sangat tepat sehingga seakan-akan bisa melihat masa depan, siapa yang akan kamu puji? Siapa yang harusnya kamu takuti?

Kembali pada penjelasan kelakuan "aneh" Ustad Kita, saya bisa menjelaskan alasan syar'i di balik tindakan-tindakan itu, tapi saya tidak bisa merubah pikiran orang-orang yang sudah terlanjur ignorance.

Orang-orang yang mempelajari Islam pasti paham bahwa penerapan syariat boleh bertahap. Ada kaidah Fiqh (hukum Islam) yang berbunyi, maa laa yudroku kulluhu la yutroku kulluhu, apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya. Maksudnya, jika seseorang tidak bisa melakukan suatu amalan secara sempurna, maka tidak mengapa melaksanakan sebagian saja sesuai dengan kemampuan.

Saya menduga itu alasan Ustad Kita meminta men-dawam-kan wudhu kepada si Telanjang Dada. Saran ini sangat terkait dengan psikologi manusia, Ustad Kita bisa menilai kemampuan seseorang sebelum ia membebankan hal yang lebih sulit. Saya membayangkan jika saat pemabuk itu datang, Ustad Kita mewajibkan untuk melakukan wudhu, salat, puasa, zakat dengan sempurna sebagai syarat taubat, mungkin saja dilaksanakan, namun tidak akan bertahan lama, selanjutnya ia akan semakin menjauh dari Ustad Kita.

Ada juga kaidah "Menghilangkan kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat". Maksudnya, seseorang diperbolehkan melakukan sesuatu yang sebelumnya dilarang untuk menghindari kerusakan yang lebih besar. Dalam hal ini, Ustad Kita dihadapkan pada orang yang melakukan 3 keburukan; zina, judi dan narkoba. Diantara 3 keburukan itu, narkoba adalah yang paling berbahaya karena ia merusak akal. Sementara hifdzul aqli atau menjaga akal adalah maqasidu syariah (tujuan penerapan syariat) yang utama.

Mengapa menjaga akal adalah tujuan syariat paling utama? Karena agama ada untuk orang-orang yang berakal. Islam adalah agama fitrah, kepercayaan kepada Tuhan adalah fitrah, maka selama seseorang menggunakan akal, suatu saat mungkin ia akan sampai pada hidayah. Itu sebabnya menjaga akal agar tidak rusak penting dalam agama. Tidak berarti zina dan judi bukan perbuatan buruk, namun diantara perbuatan-perbuatan buruk, mengkonsumsi narkoba adalah hal yang paling tinggi resikonya untuk menghilangkan akal. Ketika akal sudah tidak ada, maka keburukan atau kejahatan lain akan sangat mudah dilakukan. Sebaliknya jika akal pikiran manusia terjaga, ia akan sampai pada suatu titik dimana akhirnya ia sadar bahwa perbuatan buruk akan juga berdampak buruk bagi diri sendiri, karena tidak sesuai fitrah dalam nuraninya.

"Berapa lama sih orang akan bertahan untuk terus berjudi dan berzina selama dia punya akal yang waras?" Tanya Ustad Kita retoris.

Saya manggut tanpa menjawab. Saya mengerti hanya ustad kampung yang punya mental serta dekat dan punya pengalaman langsung dengan masyarakat yang bisa memahami ini. Perjuangan di tengah masyarakat tidak ada yang instan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membangun kepercayaan dan kecintaan mereka. Ustad di Menara Gading, terkadang luput memahami ini.

Ustad, kiyai, atau gus yg berjarak dan jauh dari masyarakat atau murid akan putus asa mengatasi pertanyaan sederhana; apa yang dilakukan kepada santri, murid atau masyarakat yang masih berbuat buruk?

Saya ingat Gus Baha ketika bercerita tentang santri yang badung. Ia bilang, “Saya dididik bapak, kalau ada santri nakal, saya biarkan."

Para kiyai atau gus bisa memilih, apakah menjauhi tidak mau mengurusi murid, santri atau masyarakat yang bermasalah, atau terjun, mendekat, memahami psikologi mereka seraya mendoakan dan memberi pencerahan. Di sini dibutuhkan kesabaran serta ketawadhuan dengan mengingat bahwa semua manusia sama dimata Tuhan, dan tidak ada yang tahu akhir hidup masing-masing.

Tokoh Kita memahami tabiat manusia. Kebaikan bisa dijalankan perlahan-lahan, syariat bisa diterapkan secara bertahap. Selama hal yang utama, yaitu pengharapan pada Tuhan terus dijaga, segala hal lain masih punya optimisme untuk bisa diperbaiki. Keyakinan yang lurus akan Tuhan adalah yang utama karena membuat semua perbuatan manusia punya arti. Lebih jauh, keyakinan dan cinta pada Tuhan dan Nabi bisa mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati.

Butuh keluasan hati akan cinta pada sesama untuk bisa melakukan itu. Dalam khazanah tasawuf, kita familiar dengan cerita para sufi yang melakukan kebaikan kepada orang lain bahkan pada taraf yang tidak masuk akal. Ya, tanda seseorang penuh mahabbah pada Tuhan tercermin melalui kecintaan kepada manusia. Dalam istilah Gus Mus; memanusiakan manusia. Sementara dalam istilah Gus Dur; humanis.

Itu sebabnya terkadang saya memanggil Ustad Kita habib, bukan karena ia punya silsilah sebagai dzurriyah nabi Muhammad, tapi karena ia bisa mencintai manusia apa adanya, sehingga cinta itu selalu kembali padanya.

Wallahu a'lam.

Kamis, 31 Maret 2022

Kebahagiaan yang Mudah

Suatu malam seorang kawan curhat tentang masalah rumah tangganya.

“Mi, boleh cerita ya,” ia memulai percakapan.

Setelah saya mengiyakan, ia bercerita panjang tentang ibu dan suaminya. Beberapa bulan belakangan ini ia tinggal di rumah ibunya yang sudah tua, sering sakit dan merasa kesepian. Namun karena itu ia jadi meninggalkan suami di rumah yang agak jauh. Jadwalnya adalah 5 hari di rumah ibu, 2 hari bersama suami. Kondisi ini berlangsung berbulan-bulan dan ia mulai merasa kelelahan karena perjalanan pulang-pergi yang cukup jauh. Sementara, baik ibu atau suaminya karena alasan masing-masing tidak ada yang mau mengalah untuk tinggal bersama.

Ia kawan saya sewaktu Aliyah. Saya pernah bertanya kepada istri saya tentang mengapa beberapa kawan, baik laki-laki atau perempuan, sering bertanya tentang masalah seperti itu kepada saya. Istri saya memberi spekulasi dan kemungkinan, tapi tidak ada yang benar-benar tahu alasan mereka yang pasti.

Sungguh saya selalu dalam kondisi tidak percaya diri ketika diminta untuk memberikan saran apalagi nasehat karena saya tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Saya khawatir akan terjerumus pada sikap judgemental. Sebagai penulis, saya cenderung ingin melihat dan mendengar dua sisi yang berbeda. Bagi saya setiap karakter punya suara polyphony, bukan tunggal, punya sisi manusiawi yang baik dan buruk. Itulah mengapa saya selalu mendengarkan dan banyak bertanya ketika bercakap-cakap.

Saya bertanya tentang banyak hal pada kawan saya sampai akhirnya tiba pada kesimpulan, "Fokusnya, supaya ibu dan suami sama-sama senang. Kalau terpaksa harus milih ya pilih suami, tapi kan gak bisa kaku juga. Paling omongin ke suami supaya suami juga ridho."

Kawan saya membalas, "Walaupun orang tua kita keadaannya seperti itu, Mi? Sendirian, suka sakit kepala, suka bilang, 'kalau malam sakit sendirian gak ada orang gimana?'"

Saya kembali tidak percaya diri.

"Sebenernya ini kan bukan pilihan yang hitam-putih ya." Saya merespon, "Masih bisa disiasati. Contohnya dengan dibagi hari dalam seminggu. Jadi tetep mengutamakan suami, dengan gak menyakiti perasaan ibu. Namanya orang tua, ya disabarin aja, nanti juga ada jalannya. Coba diskusi juga sama keluarga yang lain."

Kawan saya malah kemudian mengkhawatirkan hal lain. Ia bertanya tentang keluhan. Ia sering mengeluh kelelahan, baik mental atau juga kelelahan fisik, "Mi, emang kalau kita ngeluh, kita gak dapet pahala ya?"

"Mana gua tau, gua kan bukan Tuhan!" tapi tentu saya tidak menjawab itu. Saya jawab, "Yang gua tau sih karena tidak bersyukur,"

Ia kembali menangapi dengan cerita.

Saya kembali merespon, "Capek mah wajar. Gua juga kalo capek ngeluh, tapi itu bukan mengeluh karena gak bersyukur ke Tuhan."

Ada jeda sampai akhirnya saya meneruskan, "Gua biasanya fokus sama hal yang bikin bahagia. Karena hidup di dunia itu mudah."

Saya mengakhiri percakapan dengan mengirimkan nasihat dari Gus Baha agar hidup selalu senang. Saya ingat beliau pernah menjelasakan, "Usahakan sedikit sekali apa yang membuat kamu senang, maka akan sedikit sekali yang membuat kamu susah,"

Gus Baha memberi contoh waktu Nabi bertanya di pagi hari mengenai ada atau tidak sarapan. Ketika Aisyah menjawab tidak ada, maka Nabi memilih untuk berpuasa.

Biasanya orang merasa tidak bahagia, karena standar atau ekspektasi yang terlalu tinggi, maka usahakan kita bahagia dengan standar yang paling sedikit, paling minimal. Kita melihat anak tertawa, itu seharusnya bisa membuat bahagia. Masih memiliki pasangan untuk diajak bicara, harusnya bisa membuat bahagia. Kita masih bisa minum saat haus, harusnya bisa membuat bahagia. Bahkan kita bahagia atas hal-hal yang dibolehkan agama, maka seharusnya kita bahagia.

Kebahagiaan adalah udara yang kita hirup. Ia ada dimana-mana, hanya kita sering memilih untuk menahan nafas atau menyesakan dada dengan syarat yang banyak.

Wallahu 'alam