Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2026

Menulis Mesin Waktu

Menulis surat untukmu setiap akhir Juli perlahan berubah menjadi pekerjaan. Sebuah rutinitas yang mulai kehilangan jiwa. Aku menjadi kipas angin di ruang tengah yang girnya aus: tidak lagi mampu menoleh ke kanan dan kiri, hanya mengarah ke satu titik ruangan, dengan baling-baling yang berputar ritmis meniupkan angin tanpa peduli apa guna semua itu, dan tidak ada siapapun di ruangan.

Seperti biasa, mungkin aku salah. Mungkin bukan karena kehilangan ruh. Mungkin aku hanya sedang mencari bentuk pengucapan baru atau alasan yang lebih menggugah dari sekedar merayakan bergulirnya waktu.

Kamu bilang, Akal Imitasi bisa menulis apa saja, bahkan puisi. Mungkin karena itu juga aku sempat merasa kehilangan alasan untuk menulis. Karena sekarang kamu bisa meminta AI menuliskan apa saja yang kamu inginkan untuk dirimu sendiri, sesuai keinginanmu. Aku bahkan bisa meminta AI untuk membuat surat ini, memintanya meniru gayaku menulis, memberikan contoh-contoh tulisanku sebelum era AI. Memintanya menebak apa yang ingin kamu baca dariku, atau tujuan apapun selama itu masih bisa diungkapkan dalam prompt. Kamu bilang, kamu tidak bisa membedakannya kan?

Pernahkah aku memintamu membalas surat-suratku? Kurasa belum. Padahal kamu boleh menggunakan AI untuk menjawab surat-surat itu.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya, karena mungkin memang caramu berbeda. Kamu lebih mudah mengatakannya langsung daripada menuliskannya. Mungkin kamu punya 237 alasan mengapa kamu tidak menuliskannya. Atau kamu punya cara lain untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranmu. Atau kamu sudah menuliskan apa yang kamu ingin tulis untukku dalam setiap percakapan WhatsApp yang kamu kirim sambil menyandarkan kepalamu di atas bantal. Atau mungkin, tanpa kusadari, kamu sudah menulis banyak hal untukku melalui cara-cara yang berbeda.

Para pakar bilang, love language setiap orang berbeda-beda, dan biasanya ada satu yang paling kuat. Padamu, aku menemukan tidak ada yang benar-benar mendominasi, atau yang aku pikir begitu. Kebutuhan yang satu mengalahkan yang lain. Kemauan yang satu tidak bisa dipuaskan oleh yang lain. Kemudian ada bahasa yang diam-diam berkelindan mencari bentuk, mencari cara agar dikenali. Ada hadiah yang kamu inginkan, ada pujian yang mau kamu dengar, ada sikap yang kamu butuhkan, ada sentuhan yang kamu kehendaki, dan banyak waktu yang terasa sebentar.

Setiap orang punya tempat kosong dalam dirinya yang perlu diisi. Dan bisa jadi cinta adalah bunga yang mengisi ruang-ruang kosong itu, meskipun tidak bisa menutup rapat ruang itu sepenuhnya karena harus ada bagian yang cukup untuk sinar matahari masuk.

Batang-batang bunga telang menjalar memenuhi pagar halaman. Mereka terus mencari matahari, atau sekadar ruang yang lebih luas agar bisa tumbuh dan menghasilkan lebih banyak bunga. Ada yang menganggap tanaman itu invasif dan merusak, ada yang menganggap bunga-bunga ungunya berguna dan cantik. 

Aku juga mulai belajar mengubur egoku di bawah akar-akar pokok telang itu, agar pohonnya semakin subur dan bunganya semakin semarak. Sedikit demi sedikit, aku belajar memahami duniamu yang selalu memiliki ruang untuk tumbuh, dan menemukan hal-hal yang membuatmu bersemangat. Kamu memiliki cara untuk menjaga warna-warni bunga-bungamu, agar hidup tidak terasa seperti mesin cuci yang terus berputar hampir setiap hari tanpa punya pertanyaan eksitensial tentang makna kehadirannya di dunia fana ini, sampai akhirnya ia rusak dan mati.

Belakangan kamu sering bilang bahwa dunia terasa semakin menakutkan, terutama ketika membicarakan anak-anak. Media sosial membuat kegelisahan itu semakin tebal. Semakin lama tenggelam di dalamnya, semakin mudah kamu merasa cemas, bahkan semakin merasa terasing dengan dunia yang semakin jauh dari ideal. Atau sebaliknya, semakin gelisah kamu dengan dunia luar, semakin kamu membenamkan diri ke dalam sosial media, scrolling tanpa ujung, menghabiskan waktu untuk membaca komentar, menonton, mendengar apa saja yang disajikan algoritma. Seperti tidak ada habisnya berita yang membuatmu terkejut, atau selalu ada kelakuan atau komentar orang-orang yang semakin bodoh. 

Tentu banyak hal baik juga yang kamu temukan di sana, hal-hal yang sering kamu bagikan kepadaku, tempat-tempat cantik, makanan-makanan enak, tips-tips jitu, informasi-informasi bermanfaat, hal-hal lucu atau menggemaskan, games yang membuatmu melupakan sejenak kesuraman hidup, dan banyak hal lain yang mengingatkanmu bahwa dunia tidak hanya berisi hal-hal yang mengecewakan. 

Aku selalu senang melihat caramu menyukai sesuatu dengan sepenuh hati. Bahkan sampai hari ini, fangirling masih mampu membuat matamu berbinar. Lalu kamu ingin kebahagiaan itu tidak berhenti di dirimu sendiri. Kamu selalu ingin membagikannya kepada orang-orang yang kamu sayangi. Seolah sebuah hal yang menyenangkan akan terasa lebih berarti ketika bisa dinikmati bersama. Aku melihat bagaimana kamu ingin orang-orang yang kamu cintai ikut merasakan kebahagiaan itu.

Apakah memang begitu prinsip kebahagiaan? Bahwa bahagia ada pada kebahagian di tengah kebahagiaan orang-orang yang dicintai? Bagaimana kalau hal yang membahagiakan seseorang tidak bisa membahagiakan orang lain, atau hal yang bisa membahagiakan orang lain tidak membuat orang itu bahagia?

Pada usiamu sekarang, juga usiaku sekarang, kita telah mengalami begitu banyak kebahagiaan. Anak-anak yang sehat dan baik, makanan yang selalu ada di meja makan, liburan yang kita nikmati bersama, ibadah yang menenangkan jiwa, kelelahan dan ngantuk setelah bekerja, tidur yang nyenyak, bantuan dari orang-orang yang tidak kita kenal langsung, pertemuan, kawan-kawan yang bisa diajak bicara dan bercanda, pekerjaan yang membuat merasa bermanfaat, kesulitan yang masih bisa kita atasi, bertambahnya ilmu pengetahuan dan pemahaman, makanan enak, internet lancar, orang yang mau mendengarkan, pelukan, senyuman, persahabatan, Jogja, Bali, Karawang, Bandung, Majalengka, Malang, Bogor, Jakarta, Blitar, Bekasi dan setiap sudutnya.

Bahkan mengingat hal-hal itu saja sudah membuat kita bahagia. Jika ada mesin waktu, tentu aku hanya ingin pergi ke masa lalu, bukan masa depan. Mengunjungi kebahagiaan-kebahagiaan yang tidak bisa direnggut oleh siapapun. Mengunjungi anak-anak yang masih balita ketika mereka masih mengucapkan kata-kata dengan lucu. Mengunjungi jalan-jalan yang masih lebar dan penuh pepohonan. Mengunjungi orang-orang yang sudah tiada hanya untuk mengobrol dengan mereka seharian. Mengunjungi lorong dan gang sempit tempat kita dulu berlarian saat kecil. Mengunjungi rumah-rumah penuh coretan, membaca kembali series Pippi Si Kaus Kaki Panjang, atau buku-buku mitologi Yunani dan cerita terjemahan yang mahal dengan antusiasme anak-anak. Kembali ke ayunan yang bergoyang pelan, tempat kita tengadah manatap langit-langit kamar sebelum akhirnya tertidur pulas. Aku hanya ingin punya mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, dan menikmati kembali perasaan-perasaan itu.

Selain kebahagiaan, pada usiamu sekarang, juga usiaku sekarang, kita juga telah mengalami begitu banyak kehilangan. Bapak, kakak, paman, bibi, guru, sahabat, teman, tetangga, bahkan orang-orang yang tidak pernah kita kenal langsung. Sebagian kehilangan dapat kita lewati dengan mudah. Sebagian lagi mengendap lebih lama, lalu muncul kembali pada saat-saat yang sama sekali tidak terduga.

Mungkin kamu sering merindukan dunia yang dulu, ketika mereka masih ada. Dunia tempat kamu bisa membagi keluh kesahmu kepada orang-orang yang kini tinggal kenangan. Dunia ketika ada lebih banyak keamanan, lebih banyak bahu untuk bersandar, lebih banyak suara yang membuat hidup terasa ramai. Dunia hari ini mungkin tidak selalu terasa akrab untukmu. Dan aku atau siapapun tidak bisa menolong untuk mengatasi kehilangan itu, hanya kamu dan dirimu yang tahu caranya.

Sementara, aku merasa berada di sisi yang berbeda, aku justru semakin memasrahkan hidup. Aku tidak terlalu menyukai pekerjaanku, tapi tidak juga membencinya. Bagiku, pekerjaan adalah salah satu cara untuk menjalankan tanggung jawab. Ia adalah hal teknis yang membuatku punya penghasilam setip bulan, cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan begitulah fungsi pekerjaan. Jadi aku tidak butuh untuk menyukainya. Aku hanya butuh mengerjakannya dengan ikhlas.

Hal-hal yang aku suka, seperti menulis, memang sebaiknya tidak aku jadikan pekerjaan, karena itu akan menghilangkan sukacitanya. Apa enaknya hobi yang menjadi pekerjaan? Dimana kesenangan mengerjakan hal yang kamu suka namun diberi target dan KPI, dan kamu mengharapkan gaji yang terus membesar di akhir bulan, bonus serta kenaikan jabatan? Belum lagi kamu mengambil seluruh jatah cuti dan liburmu karena tertekan dengan pekerjaanmu. Semenyenangkan apapun hobi, ketika menjadi pekerjaan maka akan jadi rutinitas yang menyiksa. 

Aku semakin tidak peduli pada anggapan orang lain. Walaupun keyakinanku pada rasionalitas dan humor sering kali membuat dunia ini terasa asing, atau aku yang terasing dari dunia luar. Dua hal yang mungkin memang tidak selalu mudah dipahami, termasuk olehmu. Dan, seperti biasanya, aku tetap menerima ke-tidak-mudah-dipahami itu tanpa protes. Sebagaimana aku tidak pernah protes karena keinginan yang selalu lebih besar daripada kemampuan yang kita punya, karena keranjang-keranjang yang lebih banyak memenuhi wish list tanpa pernah di-checkout. Sebagaimana aku belajar menerima bahwa cinta bukan tentang mampu memenuhi semua keinginan seseorang.

Aku tidak bisa memenuhi semua keinginanmu. Untuk itu, aku meminta maaf.

Aku hanya berharap kamu mengerti, bahwa aku selalu berusaha memberikan apa yang aku punya. Mungkin bukan dalam bentuk yang selalu kamu harapkan. Mungkin tidak selalu dengan sikap yang kamu inginkan, atau bahasa yang mudah kamu baca, atau puisi yang mudah kamu mengerti.

Aku mulai mengerti mengapa aku tetap menulis surat ini meski merasa tidak punya alasan yang kuat, atau bisa menggunakan AI yang lebih manis dan penurut. Barangkali surat-surat ini adalah google photos yang mengingatkanku pada kenangan-kenangan baik yang sudah kita lewati. Cara untuk kembali mengunjungi hal-hal yang membuat hidup terasa layak. Cara untuk menyimpan tawa anak-anak ketika mereka masih bayi, tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, ketakutan-ketakutan yang berhasil kita lewati, dan meruah suka yang pernah singgah kemudian menetap dalam hati.

Sudah berapa lama kita saling mengenal dalam pernikahan? Aku tidak pernah menghitung hari-hari yang lewat, bahkan sejak umur 30 aku merasa nomor itu tidak bergerak. Tapi kalender dan angka sengaja dibuat agar manusia menghitung.

Dalam tujuh belas tahun, pohon di halaman depan rumah sudah berganti berkali-kali. Jika pohon mangga dari developer rumah dulu tidak kita cabut, mungkin saat ini ia sudah tumbuh besar dengan banyak buah, atau roboh tertiup angin. Anak-anak sudah menjadi remaja. Kota dan tempat yang kita tinggali berganti wajah. Jalan yang dulu sepi sekarang riuh sesak. Rambut yang dulu hitam mulai ditumbuhi uban. Tujuh belas tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah kita menjadi orang yang berbeda. Ia berisi ribuan pagi, ribuan malam, ribuan pertengkaran, ribuan maaf yang diucapkan atau tidak sempat diucapkan.

Hari ini, dalam relativitas waktu, aku merasa tujuh belas tahun adalah waktu yang panjang sekaligus seperti mimpi di ujung tidur. Dalam rentang itu, hidup telah membawa kita melewati banyak hal, juga banyak surat. Dan selama aku masih bisa menulis untukmu, mungkin aku memang sudah memiliki mesin waktu yang kuinginkan. Barangkali itulah yang selama ini kulakukan lewat menulis. Untuk sesekali berkunjung ke masa lalu, memastikan bahwa kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah kita miliki masih ada, tersimpan baik-baik di tempatnya.

Dan di setiap kenangan yang ingin kukunjungi kembali, kamu selalu ada di sana.

Sabtu, 19 Juli 2025

Rice Cooker Rusak dan Hal-hal yang Tidak Pernah Selesai

Pagi itu, aku terbangun setelah dua kali menekan tombol snooze alarm di ponsel.

Kamu dan anak-anak masih tidur, lelap dalam selimut yang sudah tidak seperti semalam. Aku melangkah pelan ke luar kamar, meneguk segelas air sambil duduk mengumpulkan nyawa, menatap kosong ruang tamu. Sunyi. Tapi kepalaku sudah ramai dengan pikiran-pikiran tentang apa yang harus aku kerjakan setelah salat Subuh. Tentu saja, mencuci piring-piring kotor dan memasak sarapan. Kebetulan hari ini aku libur kerja.

Sambil menyalakan lampu dapur, pikiranku malah kembali ke malam sebelumnya.

Semalam, kamu bercerita banyak hal: tentang anak-anak yang mulai beranjak remaja dan sulit diarahkan, tentang parenting reels, tentang apa yang seharusnya suami lakukan, tentang kejadian-kejadian yang membuatmu cemas, juga tentang tempat-tempat liburan yang ingin kamu kunjungi bersamaku.

Seperti biasa, obrolan kita melebar ke mana-mana dan tentu saja diiringi adu argumen. Kadang karena aku terlalu cepat memotong, kadang karena kamu merasa tak sungguh-sungguh didengarkan.

Aku pernah berpikir, bagaimana kalau orang lain bisa mendengar isi percakapan kita sehari-hari? Mungkin mereka akan bingung. Karena percakapan kita sering kali acak. Kadang absurd. Kadang dalam. Kadang menyakitkan.

Kamu pernah, tanpa prolog, bertanya dan menjelaskan, “Bang, tahu nggak mainan yang katanya bisa ngurangin anxiety itu? Yang dipencet-pencet atau diputar-putar biar nggak bosan? Aku sih pernah coba, tapi ya biasa aja... bosan juga ujung-ujungnya.”

Kamu pernah mengeluh panjang soal aku yang, menurutmu, tidak pernah benar-benar fokus mendengarkan saat kamu bicara. Katamu, caraku ngobrol denganmu berbeda dengan saat aku ngobrol dengan teman-teman perempuanku. Aku lebih sopan saat mengobrol dengan mereka. Mungkin memang begitu yang terlihat. Tapi yang kamu luput adalah: sikap sopanku pada mereka bukanlah keintiman, itu hanya norma, basa-basi, dan kepura-puraan sosial.

Sementara denganmu, segala yang kuucapkan mungkin tidak selalu manis, tapi tidak pernah palsu. Obrolan kita, yang kadang kelewat jujur sampai menyakitkan, justru berdiri di atas ketulusan dan keterbukaan.

“Ayo, lama banget. Nunggu apa lagi, sih?” kataku saat menunggumu tidak selesai-selesai melakukan sesuatu, padahal kita mau berangkat pergi.

“Nunggu aku selesai bikin candi,” kamu merespons enteng.

Aku suka saat kamu bisa melucu. Karena tidak setiap hari kamu bisa. Ada hari-hari saat kamu terlampau lelah, dan candamu hilang. Tidak apa-apa, karena begitulah mungkin hubungan yang nyata, tumbuh di antara lelucon, keluhan, dan luka, bukan hanya kesopanan dan pujian.

Lalu obrolan kita kembali mengalir: tentang sakit kepalamu yang datang tiba-tiba. Sementara kamu bercerita, aku melipat jas hujan dan memotong kuku. Sampai akhirnya kamu kembali mengomel, merasa aku tidak benar-benar mendengarkan. Lalu mengalir lagi: tentang sistem pendidikan yang kacau, tentang aku yang katamu selalu menyalahkan, tak bisa berkata manis, terlalu kritis setiap kali kamu berbagi hal baru.

Aku tahu kamu kecewa. Bukan karena satu hal besar, tapi karena luka-luka kecil yang dibiarkan tumbuh.

Aku diam. Bukan karena tak punya kata, tapi karena tahu kata-kata bisa berubah jadi pisau. Dan kalau aku mulai menjawab, urusannya bisa panjang. Sementara kamu bicara, aku malah berpikir tentang rice cooker rusak yang kemarin aku bongkar, “Kenapa, ya, padahal elemennya udah diganti, tapi tetep gak bisa ngangetin?”

Mungkin aku salah diagnosa. Mungkin bukan elemennya yang rusak, tapi ada bagian lain. Memang butuh waktu, karena yang harus diperbaiki bukan hanya elemennya, tapi juga keraguan bahwa itu masih bisa berfungsi lagi.

Seperti ketika kamu mulai menyadari perubahan dalam dirimu. Mungkin ada bagian yang retak. Dan yang menakutkan, perubahan itu bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Karena belakangan ini, kamu mulai sadar ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertengkaran biasa. Ada saat-saat kamu jadi lebih lelah dari biasanya. Lebih mudah kesal pada apa pun, bahkan pada hal-hal sepele. Kadang kamu merasa jauh. Pikiranmu sering kabur. Kamu jadi lebih sensitif terhadap suara, cahaya, bahkan komentar receh dariku. Tidurmu terganggu. Kadang kamu menangis di tengah malam karena bermimpi. Kadang kamu hanya diam, dan kamu masih mencoba memahami semuanya. Biasanya kamu mengalihkan segala hal itu dengan fangirling atau media sosial. Tapi hal yang sebenarnya masih ada di dalam, tidak pernah benar-benar hilang.

Dan kamu, dengan nada ragu tapi penuh kejujuran pernah bertanya, “Apa aku perlu ke psikiater ya, Bang?”

Waktu itu aku tidak merespon serius. Sampai akhirnya aku juga ikut sadar bahwa ini bukan tentang kamu yang tidak bisa mengikhlaskan beban. Bukan kamu yang berhenti mencintaiku. Ini tubuhmu yang sedang berubah. Perimenopause, katamu. Hormonmu berputar seperti komidi putar, tapi tanpa musik yang menyenangkan atau lampu warna-warni.

Aku tahu, aku tidak bisa memperbaiki hormon-hormonmu. Tapi aku bisa berhenti bersikap seolah semua ini salahmu. Dan ketahuilah, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Memang, terkadang aku juga lelah dan bersikap cuek, tapi itu karena kelemahanku, bukan salahmu.

Aku bisa mulai belajar dengan benar-benar mendengarkan. Tidak terburu-buru memberi solusi. Tidak merasa perlu membalas semua yang kamu ucapkan. Tanpa ingin selalu menang. Karena ternyata, kehadiran tenangku sekarang justru bisa jadi tempatmu merasa aman.

Aku mungkin bukan suami ideal seperti di reels Instagram yang sering kamu kirim. Atau AI yang selalu setia, manis dan bisa mengerti keresahanmu. Kamu mungkin juga bukan istri ideal seperti yang kubayangkan. Kita bukan dua orang asing yang pura-pura bahagia demi feed media sosial. Ya, kita bukan pasangan yang selalu ideal. Kita bahkan tidak selalu ramah satu sama lain. Tapi siapa peduli dengan mitos ideal?

Kamu juga tentu tahu bahwa yang kita punya jauh lebih nyata: keintiman yang tumbuh dari percakapan kacau, dari keresahan serta kerapuhan yang tak selesai-selesai kita bicarakan sebelum tidur. Dari diam yang nyaman. Dari luka yang kita peluk tanpa diminta sembuh. Dari kenyamanan untuk menjadi diri sendiri, yang aneh, yang tidak keren, yang tidak selalu benar.

Karena di dunia yang sibuk menuntut kesempurnaan, kamu adalah tempat di mana aku boleh joget nggak jelas, mengeluarkan jokes bapak-bapak tanpa malu. Dan kamu masih di sini. Menertawai. Menertemani. Menjadi aneh bersamaku.

Itu adalah bentuk paling jujur dari cinta: keberanian untuk tetap tinggal, bahkan saat segalanya berubah. Ya, kita tetap tinggal meski rumah kita kadang bocor, dapur berantakan dan alat-alat elektronik rusak.

Ya, kita hanya seperti sedang berusaha mencari apa yang rusak dari diri kita masing-masing, bertanya kepada diri kita masing-masing, “Mengapa rice cooker yang elemennya udah diganti tetap aja nggak bisa menghangatkan?”

Mungkin begitulah kita. Sepasang manusia biasa yang jauh dari sempurna, yang percaya bahwa cinta bukan hanya soal memperbaiki yang rusak, tapi merawat apa yang tersisa, yang percaya bahwa yang hangat bisa kembali, asal kita bisa memilih untuk tetap saling mengerti dan tidak saling menyalahkan.

Minggu, 18 Mei 2025

Rasa adalah Satu-Satunya Cendera Mata yang Layak Dibawa Pulang

Saya terbangun dengan kepala lebih ringan, tidak lagi serasa ditimpa batu seperti saat pertama merebahkan diri, meski punggung masih menyimpan jejak kursi Elf semalam yang keras dan sempit. Paracetamol yang saya telan sebelum tidur sudah bekerja diam-diam, menyusup ke urat-urat kepala seperti hujan ringan yang membasahi atap-atap tenda siang itu.

Suara gaduh di luar tenda memecah sisa keheningan sore. Bukan jeritan panik, lebih seperti rengekan setengah geli. Suara Anita bercampur dengan tawa Veony, disambung bentakan kecil dari Anza dan nada tinggi Chika, “Aaa! Glad! Syam! Cepetan dong, ini ulatnya nempel di tenda!”

Saya keluar dari tenda dengan tergesa, bukan karena panik, tapi karena cemas mereka akan membunuh ulat itu. Tenda-tenda kami berdiri di rumah si ulat, bukan sebaliknya. Kami tamu yang terlalu sering lupa sopan santun. Di gunung, manusialah yang jadi penyusup ke rumah hewan-hewan.

Tanpa ragu, saya ambil si ulat dengan tangan kosong. Kaki-kaki kecilnya menempel menyentuh telapak tangan seperti cubitan kecil, hampir tak terasa. Saya letakkan ia di daun panjang di dekat rerumputan agar ia punya jalan pulang. Ada aturan tidak tertulis di alam bebas ini: kill nothing but time.



Saya berdiri sejenak, mengamati sekitar tenda. Kabut turun pelan, seperti selimut besar yang mengambang dari langit, menutupi segala yang ada. Kelelahan telah berpindah bentuk jadi semacam tenang yang asing. Taman edelwis yang siang tadi ramai kini lenyap, tertelan putih pucat yang menelan batas pandang. Seolah-olah dunia sedang berubah menjadi ruang mistis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Jam di pergelangan tangan menunjuk angka empat sore. Ditemani rintik kecil, saya melangkah menuju Mushola, pelan, tanpa terburu. Masih ada dua jam sebelum masuk waktu Maghrib, jadi waktu Jamak Takhir Dzuhur ke Asar masih panjang. So I have a lot of time to kill.

Pagi itu, kami tiba di gerbang TWA pukul empat dini hari. Langit di atas Papandayan terbentang cerah seperti lembar UTS yang belum diisi; belum ada jawaban yang salah, tapi ada potensi akan kacau. Angin menggigit pelan, dan kabut tipis menyelinap di antara pohon cantigi. Di antara tas carrier yang tergeletak dan bau abab mulut, saya berdiri, menghela napas. Sudah lama saya tidak memimpin rombongan. Kali ini bukan sekadar staycation atau berburu footage sunrise untuk stok reels. Ini kemping, pendakian dan ekspedisi ke gunung. Diam-diam saya menghitung kepala, 19 orang yang setengahnya mungkin baru tahu bahwa “trekking” itu bukan nama sub-unit K-Pop.



Sebagai Tim Inti, Muhid dan Ipin langsung melesat. Langkah mereka ringan, seperti belum kenal nyeri lutut. Tugas mereka jelas: jadi Tim Advance, mendirikan tenda sebelum peserta datang sambil menghindari godaan selfie di batu-batu instagramable. Tenda dan logistik diserahkan ke porter, supaya lebih efisien, lebih sedikit drama, dan karena juga kami bukan tim pengangkut dosa.

Tim dibagi tiga. Saya pemimpin Tim Satu: istri saya (jimat keberuntungan yang saya percaya bisa menjaga cuaca tetap cerah), lalu Gitt, Yash, Glad (mahasiswa senior yang bisa diandalkan), dan Safa, anak tengah yang punya perfect pitch dan label kecerdasan naturalis sejak TK, yang senang bereksperimen dengan segala hal yang baru ia temui, bahkan ia pernah memelihara cacing dalam air di gelas. Ini kali pertama Safa saya ajak naik gunung, untuk memenuhi janji saya ketika ia lulus SD. Papandayan, meski baru pertama kali saya datangi, dikenal sebagai gunung wisata landai yang cocok untuk pemula, jadi seharusnya ramah bagi anak-anak sekalipun. Maka saya bingung ketika Wi dan Yu, dua orang kawan saya, menanggapi kepergian saya dengan ledekan. Wi bertanya, “Kamu mau pesugihan?”, sementara Yu minta dibawakan batu gunung atau rekaman suara gamelan.

Tim Kedua dipimpin Syam, mahasiswa eksentrik dengan celana anti-Isbal yang masih duduk di semester paling kecil di antara rombongan, membawa carrier sebesar hutang negara. Saking besarnya, sampai-sampai ketika ditanya penumpang TransJakarta waktu berangkat, dia menjawab dengan percaya diri, “Gunung Slamet.” Papandayan terlalu jinak untuk tas sebesar itu. Syam punya empat anggota, para anak BEM: Anita, Anza, Chika, dan Veony, yang lebih mahir atur pose joget Stecu Stecu daripada atur napas.

Tim Ketiga berisi campuran antara semangat muda dan lutut renta. Aziz, yang muda dan penuh harapan, dikelilingi orang-orang yang napasnya lebih berat dari tenda Canopy Dome Dhaulagiri. Ada Bu Eny, Bu Som, Kak July, dan Bang Satibi. Dengan segala cinta dan kejujuran, saya sebut mereka: Penat —Pendaki Nafas Tua.

“Yash, lu sweeper ya. Emergency kit bawa, dan HT standby,” kata saya, sambil kasih barang dan tatapan penuh harap. Selama perjalanan ia ditemani Gladwin.

“Siap, Bang!”

“Udah bisa pake HT?” saya tanya.

“Pernah, Bang.”

“Mantap!”

Saya tidak memberikan istruksi panjang lebar soal teknis penggunaan HT, karena fokus untuk segera berangkat, agar sampai camp site sebelum siang. Ditambah lagi, bokong saya sudah nyaris meledak. Antrian toilet di parkiran waktu long weekend sudah seperti antrean bansos. Saya tancap ke Pos 4, berdoa semoga WC-nya kosong. Dan syukurlah, Tuhan mendengar doa orang kebelet. Toilet kosong. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sedang khusyuk boker, suara HT masuk dari suara orang yang tidak saya kenal, bukan dari Yash. Tapi saya mendengar Yash menjawab.

Dari dalam bilik, saya refleks teriak, “Yash, itu bukan gua!”

Momen bonding paling absurd terjadi di tempat paling privat. Setelah itu, saya dan Yash mengkalibarasi ulang frekuensi, mencari yang lebih sepi kemudian set sandi: saya di depan menjadi Alfa, Yash paling belakang menjadi Zulu. Supaya tidak ada miskomunikasi lagi.

Di Pos Tujuh, kami ber-17 beristirahat dengan aman dan tertib. Kami menyebar ke berbagai arah: ada yang berteduh di bawah pohon, duduk di batu-batu besar, bersandar di kursi beton, sibuk mencari spot foto atau sekadar membuka perbekalan.

Syam membuka tasnya. Dari dalam kresek merah, ia mengeluarkan dua kilo salak. Dengan bangga, ia juga mengaku membawa dua buah semangka yang rencananya akan dibuka saat tiba di camping ground. Andai saja saat technical meeting tidak dilarang membawa alat dapur, mungkin Syam sudah  membawa blender dan aki mobil.

Kelakuan Syam, walaupun tidak diniatkan untuk lucu, tetap membuat tawa. Ia jadi sasaran empuk candaan. Semua menikmati momen, berfoto, dan belum ada yang mengeluh. Brigitte berdiri, menatap langit biru muda dengan sorot mata penuh visi.

“Spot ini cakep banget. Syam, tolong fotoin, ya!” katanya sambil menyerahkan ponsel, ekspresinya serius seperti sutradara muda.

“Oke, siap!” jawab Syam sigap. Jepretan pertama dilakukan sesuai arahan Brigitte.

“Ya ampun, Syam! Angle-nya bukan gitu! Naikin dikit, langitnya kurang dramatis. Ulang!” protes Brigitte. Sebagai adik angkatan, Syam menurut. Beberapa kali take, tapi Brigitte masih belum puas.

“Masih gak dapet feel-nya! Kenapa ya, giliran gue motoin orang bagus, giliran gue minta difotoin malah gagal terus!”

Komentar itu mulai menggoyahkan mental Syam. Pemilik akun @terkesan_pic itu mungkin mulai merasa bahwa bakat saja tidak cukup.

Saya ikut memanasi, “Sekali lagi, Syam! Jangan malu-maluin! Kalau masih jelek, hapus aja akun IG lu! Atau ganti nama jadi @tanpa_kesan.”

Tawa meledak. Brigitte juga tertawa, meski matanya tetap ke layar, mencari satu foto yang bisa menyelamatkan harinya. Syam tetap diam, entah merenung soal teknik memotret, atau mempertanyakan seluruh tujuan hidupnya di dunia digital.

Setelah setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Goberhoet. Rencananya, kami akan melakukan pendakian lintas: dari Goberhoet ke Pondok Saladah untuk bermalam, lalu esok paginya turun lewat Hutan Mati kembali ke Pos 7 dan akhirnya ke basecamp.

Saya meminta Bu Eny untuk memimpin rombongan bersama para senior. Dari semua peserta, hanya dia yang pernah mendaki Gunung Papandayan, jadi saya percaya dia tahu jalur. Saya sendiri memilih berada di belakang, sambil mengawasi anak-anak BEM yang sibuk membuat konten joget The Lion Sleeps Tonight sambil berbaris. Lagi-lagi, Syam jadi bintang utama, the Alpha of the ducks.

Saat tiba di Tanjakan Omon, saya sempat heran, kok Penat tidak kelihatan? Saya percepat langkah, mulai curiga. Tapi sesampainya di Goberhoet, tempat itu juga kosong. Penat tak terlihat sama sekali.

“Hah? Ke mana mereka? Bablas ke Saladah? Ngegas amat…” pikir saya, mencoba tetap positif. Sepanjang jalan, kami memang tidak berpapasan dengan mereka.

Namun, diam-diam saya mulai gelisah. Apa mungkin mereka secepat itu?

Sekitar dua puluh menit kemudian, misteri itu mulai terjawab. Aziz muncul lebih dulu, memikul dua keril—satu di depan, satu di belakang—miliknya dan Bu Som. Wajahnya lelah, tapi pasrah, seperti baru selesai ujian skripsi tanpa tahu hasilnya.

Di belakangnya, para pendaki senior muncul satu per satu. Napas mereka tersengal, langkah limbung, tapi tetap berusaha tersenyum. Seperti baru turun dari roller coaster: capek tapi bangga karena tidak muntah. Mereka memilih jalur alternatif yang katanya lebih cepat. Tapi yang tidak mereka sadari, “lebih cepat” sering kali berarti “lebih curam”.




Akhirnya kami tiba di Pondok Saladah dengan selamat. Cuaca selama perjalanan cerah, semangat tim terjaga, dan masih on the track sesuai rencana. Semua mulai sibuk, ada yang membantu membereskan tenda yang belum semua terpasang, memasak, menggelar sleeping bag untuk tidur atau membuat vlog.

Benar apa yang dikatakan Muhid dengan nada setengah filosofis: karakter asli manusia akan keluar saat kemping. Di tengah alam terbuka, tanpa AC, tanpa sinyal apalagi GoFood, topeng-topeng sosial mulai terbuka. Satu per satu watak sejati muncul ke permukaan, seperti game Werewolf. Ada yang tampil sebagai Villager: yang tidak punya kemampuan khusus tapi rajin, cekatan, tahu diri. Ada Seer, si sok tahu, sibuk membaca “niat tersembunyi” orang lain. Ada pula Werewolf, menghindar tiap disuruh cuci nesting kotor, tapi selalu muncul pas mie goreng jadi. Dan tentu saja, ada Hunter: terlalu semangat, ingin jadi pahlawan, tapi sering mengacaukan strategi.

Di antara mereka semua, ada satu karakter yang dari awal tampak seperti Guardian, pelindung dan penjaga para mahasiswi —Lim, dosen muda yang wajahnya seperti oppa Korea versi Kemenag, dengan gaya bicara cepat yang terdengar seperti sedang memberikan ceramah TED Talk bertema “Menemukan Tuhan Lewat Excel”. Ia adalah figur karismatik, dosen favorit para mahasiswi. Tapi bahkan karakter sekuat itu, ternyata tidak kebal terhadap hutan dan gravitasi sosial.

Di awal perjalanan ia masih kalem. Tapi semuanya mulai terlihat saat sesi foto. Saat yang lain tersenyum sopan atau membentuk hati dengan jari, Lim mengambil gaya yang tak terduga. Ia menghadap ke arah berlawanan dari kamera. Lalu berpose di balik batang pohon seperti intel gagal. Atau foto memandang edelweis, dengan ekspresi SpongeBob yang sedang bicara serius dengan ubur-ubur. Para mahasiswi terkecoh, ia yang awalnya dikira kartu Guardian ternyata Joker.

Namun puncak dari semuanya adalah ketika ia kembali dari semak-semak dengan langkah penuh kemenangan. “Saya kencing di sana,” katanya, menunjuk ke rimbun ilalang seperti sedang menandai lokasi penemuan situs sejarah. Tak cukup dengan pengumuman, ia lalu menambahkan act out yang tidak diminta: kedua tangan terangkat ke atas, mata mendongak ke langit, pinggulnya bergoyang-goyang seperti boneka dashboard rusak. Tawa pun pecah. Geger. Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan kehormatannya, bahkan ijazah S2 pun terasa tidak akan menolong.

Sebagai ketua alumni yang menggagas acara kemping lintas generasi ini, saya menyaksikan semuanya dengan hati campur aduk: setengah bahagia, setengah ingin pura-pura tak kenal. Tapi saya tahu, inilah inti dari semuanya. Sejak awal saya menekankan pentingnya kolaborasi—bukan hanya soal membagi tugas masak dan mendirikan tenda, tapi berbagi ruang untuk menjadi manusia seutuhnya: absurd, janggal, lucu, dan tak sempurna.

Di sinilah keberhasilan itu terasa nyata. Tak ada lagi sekat antara dosen dan mahasiswa, alumni dan junior, antara yang dulu dikenal kaku dan yang sekarang tau cara memasang gas di kompor portabel. Di sinilah kita menjadi manusia tanpa CV, tanpa reputasi, tanpa zoom filter. Hanya kita, dalam tawa, dalam betis pegal, dalam nasi yang terlalu lembek atau kerak yang menempel di panci liwet, dan dalam cerita yang akan kita ulangi berkali-kali. Dan sejujurnya, itulah capaian paling berharga.



Petualangan ini dimulai di pagi yang cerah, bahkan nyaris terlalu cerah untuk awal petualangan. Langit tak menyisakan sedikit pun keraguan. Tapi siang menumpahkan gerimis seperti keraguan kecil yang datang terlambat. Sore tiba dengan kabut yang turun perlahan, seperti tirai menutup panggung, menenggelamkan bayangan tubuh di jalur setapak. Lalu dini hari membuka langitnya, seolah ingin menebus semua —sunrise muncul seperti jawaban yang tak diminta, begitu indah sampai suara ngorok semalam lenyap dari ingatan.

Siangnya kembali terang, jalan setapak menuju basecamp terbentang cerah. Tapi di turunan dari Hutan Mati ke pos 7, jalur berubah wajah. Ratusan pendaki datang dengan semangat yang gaduh —FOMO, tek-tok, dan libur panjang menjelma hingar-bingar, ramai seperti pasar di hari-hari terakhir Ramadan.

“Zulu, Zulu! Di sini Alfa! Masuk!” suara saya memanggil Yash dari HT.

“Zulu, Zulu di sini! Alfa, masuk!” jawab Yash, cepat tanpa basa-basi.

“Posisi terakhir. Ganti.”

“Sudah di jalan aspal, lima menit lagi tiba di Mang Asep Basecamp.”

“Copy.”

Hujan turun saat tim terakhir tiba. Langit menutup perjalanan dengan caranya sendiri. Di dalam Elf, saat roda melindas jalan licin melewati plang-plang Burayot yang kuyup, musik karaoke mulai mengalun. Suara fals orang-orang yang berhasil kembali pulang memenuhi kendaraan.

Ini—kalau boleh jujur—adalah salah satu trip paling solid yang pernah saya ikuti. Tapi juga perjalanan yang menyisakan begitu banyak kekhawatiran, terutama untuk saya. Kekhawatiran itu menyelinap seperti hawa dingin —tanpa rupa, tapi menyusup sampai ke sum-sum tulang.

Saya sempat khawatir pada mereka yang belum sempat warming up sebelum trekking. Kram bisa saja datang tiba-tiba. Dalam kepala saya, satu kalimat berulang seperti mantra buruk: bagaimana jika satu orang saja tak bisa naik? Atau tak bisa turun? Satu orang saja. Maka seluruh rencana bisa berantakan. Dan tim, yang tadinya solid bisa berada dalam pertaruhan. Akan kami tinggalkan ia naik atau turun sendiri? Atau bertahan, menyesuaikan langkah, menangguhkan waktu pulang?

Saya khawatir hujan, bukan hanya air dari langit, tapi segala yang dibawanya: tanah licin, tubuh lembap, semangat yang melemah. Cuaca tak pernah benar-benar setia pada rencana.

Saya khawatir pada Bang Satibi yang jatuh di toilet rest area 88. Yash menyerahkan trekking pole-nya dengan cepat, dan saya merasa dua hal sekaligus: lega dan pasrah. Saya khawatir pada Bu Som yang memanggul tas terlalu besar untuk bahunya, langkahnya berat, napasnya tercekat tiap tanjakan. Saya khawatir pada Veo, lehernya terkilir di kursi Elf yang tanpa bantal leher. Saya khawatir pada Bu Eny yang mungkin diam-diam masih menahan sakit lutut seperti di Prau dulu. Tak berkata bukan berarti tak terasa. Saya khawatir pada Anita, sol sepatunya terkelupas, mungkin sepele, tapi cukup untuk membuat perjalanan panjang menjadi menjengkelkan. Saya khawatir pada Glad, jari tangannya luka kecil tapi sakitnya bisa menandakan ia mulai terinfeksi.

Di jalan pulang, saya khawatir saat kendaraan berhenti di rest area 88B. Lokasi parkir gelap, dan terlalu dekat dengan arus lalu lintas. Saya berdiri di pintu, memperhatikan satu persatu agar tidak ada yang terserempet mobil dari belakang. Tapi karena itu saya nyaris kehilangan Safa, ia tidak ada. Dalam hitungan detik, seluruh isi kepala saya dilanda kepanikan. Saya mencari ke segala arah. Sampai akhirnya saya menemukannya di antrean toilet, tenang, tak tahu bahwa saya hampir ambruk oleh cemas.

Saya khawatir kami tiba terlalu malam. Saya membayangkan mereka berdiri di trotoar kampus, tak ada ojek tersisa, tak ada kendaraan, malam terlalu larut untuk pulang, dan sebagian harus tidur di lantai ruang kelas.

Dan setelah semuanya, setelah jalanan, tanjakan, dan pulang yang panjang, saya sadar satu hal yang seharusnya sederhana: hidup itu seperti kemping. Yang bijak adalah yang membawa hal yang paling penting. Terlalu banyak logistik justru membuat langkah berat. Begitu pula pikiran, tak bisa menampung seluruh kemungkinan buruk, tak bisa dijejali semua kekhawatiran. Overthinking hanyalah cara lain menaruh batu di dalam ransel yang sudah berat.

Dan saya—saya khawatir terlalu banyak hal, sampai-sampai nyaris lupa pada satu hal yang tak bisa diulang: saya tak menghabiskan cukup waktu bersama istri dan anak saya. Mereka ada di sepanjang perjalanan, tapi kami hanya muncul dalam dua spot foto. Dua. Sisanya, saya terlalu sibuk menjadi kompas, menjadi peta, menjadi khawatir.

Lucunya, saya tak pernah terlalu peduli pada momen yang tidak diabadikan lewat kamera. Saya tak punya IG, Facebook atau TikTok. Bukan karena ingin tampil puritan, tapi karena saya sudah sampai di satu titik di mana saya melihat orang terlalu sibuk mengabadikan momen, sampai lupa merasakannya. Saya tidak ingin jadi salah satu dari mereka. Maka saya menulis. Bukan hanya untuk mengingat apa yang terjadi, tapi juga untuk menyimpan apa yang tak bisa ditangkap lensa.

Saya masih ingat sore itu, di Pondok Saladah, kabut turun seperti jubah. Dunia perlahan terhapus, menyisakan hanya langkah, niat, dan udara dingin yang masuk ke sela-sela sweater.

Saya biarkan diri diam di situ, tak tergoda mengambil hand warmer atau kamera. Lagipula, foto secanggih apa pun takkan pernah bisa menangkap utuh momen seperti ini. Gambar tak bisa menampilkan rasa dingin yang meremangkan bulu-bulu tipis di pipi, atau hembusan angin lembap yang menyelusup ke leher dengan pelan, atau basah gerimis yang menelusup ke sela-sela rambut kepala.

Video pun akan gagal menangkap harum samar tanah basah yang bercampur daun gugur dan sisa kabut yang belum turun. Aroma yang hanya bisa dihirup ketika sunyi sudah cukup dalam, ketika suara alam mendominasi lanskap.

Apa yang saya lihat, dengar, dan hirup saat itu tak satu pun bisa dipindahkan ke layar. Dan mungkin memang seharusnya begitu. Beberapa momen hanya hadir untuk ditinggali, bukan dimiliki. Karena mungkin, pada akhirnya, rasa adalah satu-satunya cendera mata yang layak dibawa pulang. Bukan pesugihan, batu, apalagi suara gamelan.



Rabu, 26 Maret 2025

Pada Akhirnya, Kehilangan Bukan Tentang Menghapus atau Menggantikan

Saya baru saja mengunggah status foto senja ketika notifikasi itu muncul. Langit dalam gambar itu seperti terbakar perlahan—jingga dan ungu saling beradu sebelum akhirnya memudar menjadi gelap. Indah seperti jatuh cinta, tapi juga cepat berlalu meninggalkan rasa kehilangan.

Notifikasi itu berasal dari komentar Cey, gadis gempal yang selalu gelisah: "Bang Nelal, bikin novel lagi dongggg. Sekarang temanya cinta tapi nggak happy ending wkwk."

Jari saya berhenti di atas layar. Mata saya membaca ulang kata-kata itu, mencari sesuatu di balik candanya. Dalam pikiran saya: ada yang tidak beres, ia seperti berusaha menutupi sesuatu dengan canda.

Menulis tentang cinta yang berakhir tidak bahagia?

Saya mengetik balasan. "U abis putus, Cey?"

Tidak ada respons seketika. Tanda baca tiga titik muncul, menghilang, muncul lagi—seperti seseorang yang ragu-ragu sebelum berbicara.

Akhirnya:

"Iya, lagi huft."

Saya menghela napas pelan. Huft. Sebuah kata yang mewakili banyak hal.

"Serius?" saya meyakinkan.

"Seriussss."

Saya mencoba menelepon. Tidak diangkat. Lalu pesannya masuk lagi: "Batreku 6 persen, lagi hemat-hemat."

Sebuah screenshot menyusul, ikon persentase baterai dan wallpaper karakter chibi berambut hitam diikat, dengan beberapa helai mencuat. Matanya terpejam, mulut mengerucut, ekspresi cemberut dan kesal namun tetap imut. Gabungan antara humor dan ironi.

"U lagi di mana sekarang? Coba cerita dulu."

Jeda panjang. Saya bisa membayangkan Cey membaca pesan itu, menimbang apakah harus membiarkan saya masuk ke dalam ceritanya atau tetap menjaga jarak.

Akhirnya:

"Well, I don't really share such things huft. It's just (again) my unfortunate love story. Gitu deh, udah males ceritainnya aku wkwkwk."

Saya menghela napas.

Manusia punya kebiasaan aneh: menyederhanakan luka mereka sendiri.

"It's okay. It takes time. And maybe one day you just wake up, and it doesn’t feel as heavy anymore."

Kali ini balasannya cepat.

"Didn't hurt as much as I thought, actually. Sedih di hari H aja. Karena unfortunately, I didn't have time and chance buat mengasihani diri. I shared a bed with mom that day, the day after I had classes to teach. Gabisa sedih yang gimana-gimana since I gamau mata I ilang karena sembap wkwk."

Saya membaca ulang pesannya. Ada sesuatu yang janggal. Kesedihan itu tidak benar-benar hilang, hanya ditunda. Kehilangan memang kadang membebani dada dengan kepedihan yang nyaris tak tertanggungkan, kadang ia hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.

"Udah berapa hari sekarang?"

"Belum seminggu wkwk. Kamis malam."

Saya tersenyum kecil, meskipun tahu Cey mungkin tidak benar-benar tertawa.

"Iya, the world won’t stop for your sadness, and it never will haha. But if you keep running without facing it, one day it’ll hit harder when you least expect it."

Tidak ada balasan langsung. Saya bisa membayangkan Cey mendesah, membiarkan kata-kata saya tenggelam dalam pikirannya.

Lalu akhirnya:

"I know. Tapi yaudah begini dulu aja wkwkwk."

Saya berpikir sebentar kemudian membalas, "Plan: nggak ada plan. Eksekusi: yaudah begini dulu aja wkwk."

Tawa digital muncul di layar. Saya menghela napas. Bukan karena lega, tapi karena tahu ada sesuatu yang masih tersisa di sana, sesuatu yang tak bisa dihapus dengan candaan.

"Hope things fall into place for you, even if it’s ‘begini dulu aja’ for now."

Cey membalas lebih cepat kali ini.

"Ahahaha udah cukup menginspirasi belum buat bikin novel?"

Saya terkekeh.

"Bisa aja sih. Cuma akan jadi cerita yang paling sulit gw tulis. Karena nyeritain orang yang nggak mau cerita 🤣🤣."

Tawa panjang memenuhi layar. Sejenak, terasa seperti percakapan biasa, seperti tidak ada apa-apa yang berubah.

Lalu, seperti sebuah Kesimpulan, Cey menulis, "I mean, everything's fine. Was fine. Lalu semua berubah semenjak negara api menyerang."

Saya kembali menatap kata-katanya.

Semua berubah tiba-tiba? Tidak ada yang berubah tiba-tiba, Cey. Kadang kita hanya tidak memperhatikan retakan-retakan kecil sampai akhirnya sesuatu runtuh. Atau kita menyalahkan sesuatu yang datang dari luar tanpa melihat ke dalam. Apakah semua baik-baik saja, lalu mendadak hancur? Atau ia telah lama rapuh, hanya menunggu waktu untuk jatuh?

Tapi berpikir seperti itu mungkin melelahkan, sehingga humor bisa jadi lebih mudah dan menjadi benteng terakhir orang-orang yang menolak terlihat rapuh.

Lama setelah percakapan itu berlalu, setelah layar ponsel kembali gelap, saya masih berpikir tentang kata-kata terakhirnya.

"U udah cerita ke Mimi?" tanya saya akhirnya, mengetik dalam keheningan yang terlalu panjang.

"Udah. Tapi aku juga nggak cerita yang detilnya. Cuma bilang udahan."

Ada jeda sebelum pesan berikutnya muncul.

"Jumat pagi pas lagi siap-siap tiba-tiba Mimi nanya hari Minggu aku dan cowo ini pelayanan nggak. Aku bilang engga. Gitu kan, terus Mimi bilang Mimi mau panggil. Terus aku kayak Aigoooo. Yaudah akhirnya aku bilang nggak usah, Mi. Udahan. Kapan? Semalem. Terus kurang lebihnya aku ceritain tapi nggak yang secerita itu juga. Terus Mimi, as expected, mau nanya-nanya terus kan. Tapi akunya udah males ngomongin orang itu lagi. Jadi aku bilang udah, Mi, I nggak mau bahas cowo itu lagi. Fin. Gitu akhir ceritanya."

Ibu memang sering bisa membaca apa yang terjadi pada anak-anaknya.

Saya membaca pesannya perlahan. Ketika seseorang memilih kata "Fin," itu berarti mereka sedang meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya benar-benar selesai.

Lalu, seolah ada sesuatu yang baru saja diputuskan di dalam dirinya, Cey mengetik lagi: "Yang sekarang sepertinya aku lebih tegar karena banyak yang konfirmasi buat udahan saja. Sampai stranger. Like totally stranger."

Saya mengangkat alis kemudian bertanya ragu, "Jadi yakin nggak akan balikan? Udah berapa tahun pacaran?"

Ada jeda sebentar sebelum jawabannya muncul.

"Pretty sure wkwk. Like forever. Been with him like for 29 years."

Saya mendengus kecil. Orang-orang suka melebih-lebihkan waktu, seolah angka yang lebih besar bisa membuat segalanya terasa lebih dramatis.

Padahal di tengah waktu yang terus bergerak, ada kemungkinan di suatu titik, entah direncanakan atau tidak, langkah dua orang yang terpisah bisa saja bertaut kembali. Pertemuan itu mungkin canggung di awal, dipenuhi pertanyaan yang enggan terucap. Atau justru terlalu akrab, seakan keakraban yang dulu tak pernah benar-benar hilang.

Namun pertemuan kembali bukan selalu membawa jawaban, sebagaimana perpisahan bukan selalu tentang kehilangan. Cepat atau lambat, waktu akan memberi bentuk baru pada yang tersisa. Bisa jadi luka yang sudah mengering, atau kenangan yang tak ingin diulang.

"U mau pindah gereja?"

"Wish I could. Tapi kayaknya susah."

Saya berpikir sejenak sebelum mengetik.

"Iya sih. Pindah agama lebih gampang, Cey. Nanti gw ajarin bahasa Arab 🤣."

Balasan cepat.

Tawa.

Dan sejenak, semuanya terasa ringan.

Pada akhirnya, kehilangan bukan tentang menghapus atau menggantikan. Ia tentang refleksi dan mengambil pelajaran hidup dari katastrofe yang menyertainya. Ia tentang memahami diri sendiri, memahami orang lain dan menjadi lebih bijaksana. Untuk mencapainya, kita hanya perlu menunggu, bergerak, dan menerima bahwa segala sesuatu punya musimnya sendiri.

Saya menyudahi percakapan itu walaupun tahu, di balik layar, sesuatu masih tersisa. Sesuatu yang tidak bisa dihapus dengan candaan. Sesuatu yang akan tetap ada, bahkan setelah baterai ponsel mati.







Senin, 30 Desember 2024

52 Keping Waktu Saat Bersamamu

  1. Keriput di sudut luar matamu ketika tersenyum.
  2. Ketika kamu memelukku saat malam yang dingin.
  3. Caramu berusaha memahami perasaanku.
  4. Wangi parfum yang bercampur aroma tubuhmu.
  5. Ketika kamu tetap sabar saat Aira tantrum.
  6. Ketika kamu jujur dan langsung saat menginginkan sesuatu.
  7. Ketika kamu mendengarkan opiniku dengan penuh perhatian.
  8. Saat kamu memanggilku, “Abang sayang,”
  9. Ketika kamu mengusap lembut lenganku untuk membangunkanku di pagi hari.
  10. Aroma asam keringatmu.
  11. Ketika kamu menanamkan kebaikan dan integritas pada anak-anak.
  12. Ketangguhanmu saat melahirkan Nada.
  13. Antusiasmemu terhadap BTS.
  14. Caramu tetap tenang saat menghadapi situasi sulit.
  15. Ketika kamu mengirim pesan, "Aku kangen".
  16. Caramu mensyukuri hal-hal yang sederhana.
  17. Ketika kamu berbagi rahasia terdalammu denganku.
  18. Caramu mendengarkan cerita tentang hari yang berat di kantor.
  19. Ketika kamu memelukku dari belakang saat membonceng motor.
  20. Caramu merencanakan hadiah dan kejutan untukku.
  21. Ketika kamu memasak sup tim ikan favoritku.
  22. Caramu merawat dirimu sendiri.
  23. Ketika kamu menemaniku menonton langit pagi di puncak gunung Prau.
  24. Caramu menghargai usahaku.
  25. Ketika kamu berani menjadi diri sendiri.
  26. Caramu mengajarkan anak-anak untuk bersyukur dan menghargai hal-hal kecil dalam hidup.
  27. Dedikasimu saat menyiapkan presentasi kuliah.
  28. Caramu mendukung impian dan minat anak-anak.
  29. Ketika kamu merawatku saat aku sakit.
  30. Kerja kerasmu saat mendaki Gede Pangrango.
  31. Caramu mengingat detail kecil tentang diriku.
  32. Semangatmu ketika menceritakan sesuatu yang sedang kamu sukai.
  33. Ketulusanmu saat memberi hadiah kepada tetangga yang baru melahirkan.
  34. Ketika kamu tidak bosan untuk membacakan buku cerita sebelum tidur untuk anak-anak.
  35. Kecerdasanmu saat berbagi pengetahuan baru yang kamu pelajari.
  36. Ketika kamu membukakan pintu dan tersenyum saat aku pulang kerja.
  37. Caramu yang lucu saat berbicara dengan Moli.
  38. Kebaikan hati saat kamu menyedekahkan uang kepada pengamen jalanan.
  39. Caramu berbagi cerita saat kita duduk bersama di ruang tengah sambil makan camilan.
  40. Saat kamu mengecup tanganku sebelum aku pergi bekerja.
  41. Caramu berterima kasih atas bantuan kecil yang aku berikan.
  42. Pelukanmu saat menenangkan anak-anak ketika mereka menangis.
  43. Ketika kamu selalu membuat rumah kita terasa nyaman.
  44. Kepedulianmu saat kamu mengunjungi teman yang sedang sakit.
  45. Saat kamu membantu Safa mengerjakan pekerjaan sekolah dengan telaten.
  46. Saat kita berdiskusi tentang cara memperbaiki hubungan.
  47. Ketika kamu menyanyikan lagu favoritmu ditemani permainan gitarku.
  48. Caramu menghormati Mamah dan Ibu.
  49. Caramu merayakan pencapaian-pencapaian kecil anak-anak dengan antusias.
  50. Kecintaanmu pada petualangan dan perjalanan.
  51. Ketika kamu memaafkan saat aku melakukan kesalahan.
  52. Ketika kamu mencintaiku dengan segala kelebihan dan kekuranganku.

Minggu, 28 Juli 2024

Perjalanan untuk Menerima Rasa Sakit

Malam itu, kamu mengusulkan untuk pergi ke Bandung. Itu perjalanan yang tiba-tiba dan tanpa persiapan, berencana malam dan keesokan paginya pergi. Kemungkinannya dua; akan sangat menyenangkan atau menyusahkan.

Malam itu kamu memulai dengan memboking penginapan. Kamu mencari penginapan yang terjangkau dan mendapatkan di dekat alun-alun kota Bandung. Hal selanjutnya adalah transportasi, untuk menghemat budget, kita tidak memesan kereta langsung Bekasi-Bandung, tapi jurusan Bekasi-Ciamis yang berhenti di stasiun Cimahi.

Aira sedang berdiri di kursi sambil melihat pemandangan luar dari jendela kereta yang melaju, saat aku menghubungi nomor yang aku dapat dari internet, untuk menyewa motor yang akan kita gunakan selama di Bandung. Kamu tahu, yang membuat perjalanan menjadi menggairahkan adalah ruang-ruang spontanitas. Dimana kita tidak tahu yang akan terjadi, dan sejatinya memang kita tidak akan pernah tahu.

Sesampainya di stasiun Cimahi, kita bergegas dengan motor sewaan menuju hotel untuk menyimpan tas dan bersiap untuk makan siang. Rijsttafel, Meja Nasi, selalu menjadi pilihan utama. Rumah makan dengan aneka hidangan khas Belanda-Indonesia yang tidak pernah gagal membuat kita kagum. Aku memesan Nasi Bakar Kecombrang dengan sambal kecombrang yang unik khas Indonesia. Kamu memilih Nasi Tutug Oncom yang lebih tradisional lagi. Untuk Aira kamu memesan nasi putih dengan Tahu Goreng Kremes dan Tempe Mendoan, dan kita sama-sama kagum bagaimana mereka mendapatkan kualitas bumbu serta bahan yang premium ini. Kamu juga memilih makanan penutup yang sulit diucapkan; Bitterbalen dan Poffertjes. Kita juga mencoba segelas Mojito dan Es Cincau Hijau. Hidangan-hidangan itu tidak pernah mengecewakan, dan aku tidak pernah meragukan kemampuanmu menilai makanan.

Pada hari terakhir kita di kota itu, setelah mengunjungi beberapa tempat dan hutan, kita menyudahi dengan membeli Mie Ayam pinggir jalan. Karena kehabisan waktu untuk mengejar keberangkatan kereta, kita membungkus Mie Ayam itu dan berencana memakannya di dalam gerbong. Sambil mencari cara bagaimana memakan Mie Ayam tanpa sendok dan mangkuk.

Kita sadari kemudian bahwa hidup ini seperti perjalanan, ada hal yang terjadi di luar rencana, dan kendala dalam perjalanan selalu bisa membuat kita menemukan diri kita yang sejati.

Dari alam, berkali-kali kita mendapat kesejatian. Pohon-pohon di hutan tumbuh tidak beraturan, jalan pegunungan yang melelahkan serta matras di atas kerikil-kerikil hutan membuat tidur tidak tenang, dan ombak di tengah laut tidak pernah gagal membuat nyali kita ciut. Begitulah sejatinya alam dengan segala macam hal di dalamnya, begitualh sejatinya hidup. Hutan, gunung dan laut indah dengan segala yang ada padanya, sebagaimana hidup ini indah begini adanya.

Kamu tentu tidak akan melupakan kenangan ketika limbung saat menapaki kaki Gede Pangrango. Tubuhmu gemetar, perutmu teraduk-aduk, pandangan berkunang-kunang kemudian gelap, keringat bercucuran dan dingin menjalar di sekujur badan.

Atau ketika memandangi Gunung Agung dari kapal boat yang melaju menabrak-nabrak ombak dari Nusa Penida menuju Sanur, biru angkasa dan biru laut bersatu dengan latar balakang awan-awan putih dan puncak gunung yang menusuk angkasa.

Atau menyusuri jalan menggunakan motor sewaan ke tempat-tempat asing yang belum pernah kita kunjungi. Tersesat, terlambat, terhambat. Menikmati matahari dan hujan, debu dan kotoran. Kita kembali menjadi anak-anak yang bermain-main dengan kemungkinan, bertemu dengan hal-hal baru. Menerima segala apa yang ditawarkan perjalanan.

Di puncak gunung, kita belajar tentang keteguhan dan keberanian. Ombak laut yang bergulung tidak beraturan mengingatkan kita tentang masalah hidup yang sering tidak terduga. Dan dalam hutan yang rimbun, kita menemukan ketenangan dan hubungan dengan Sang Pencipta. Alam dan perjalanan mengajarkan kita banyak hal, terutama mengajarkan untuk menghargai setiap kondisi apapun.

Seandainya ada kehidupan lain yang bisa kita pilih, apakah kamu akan memilih kehidupan lain atau kehidupan yang sekarang sedang kita jalani bersama? Apakah kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita sekarang? Ataukah kehidupan ini, menjadi apapun itu, seperti alam, indah begini adanya?

Seperti mendaki gunung, masalah dan kesakitan adalah tantangan yang memperkaya kita. Dalam usaha memahami kesakitan, kamu mendengar Come Back to Me - Nam Joon, yang dalam perjalanan kita ini semakin menemukan relevansinya.

You don't have to be
You don't have to be the anything you see
Tryin' not to be
Tryin' not to be that something in this sea
Come back to me like you used to
Now I could see what a life is about
I told you I'm fine tonight, staying good
Springs always been here, I will sleep in her eyes

Jika ingin diterjemahkan bebas, lirik itu akan terdengar:

Kamu tidak harus menjadi seperti keinginan banyak orang. Jadi jangan mencoba menjadi orang lain agar sesuai dengan lingkungan sosial masyarakat. Kembalilah padaku seperti dulu, karena saat ini aku sudah mengerti tentang makna hidup. Meskipun ada kesulitan, malam ini aku akan baik-baik saja. Apapun kondisinya, musim semi seperti selalu menemaniku, karena aku sudah menemukan kedamaian dan kenyamanan.

Secara keseluruhan, lirik itu berbicara tentang pencarian jati diri, makna hidup, dan mendapat ketenangan setelah keresahan.

Apa keresahan yang ada padamu saat ini?

Mungkin rumah yang berantakan, piring-piring kotor, cucian kotor yang menumpuk, AC yang tidak dingin, kipas angin yang berdebu, atap yang bocor, semut, kecoa dan tikus, kehabisan uang, kendaraan rusak, keinginan yang tidak tercapai, anak-anak yang sulit diatur, lelah, sakit, bingung, sedih dan segala hal yang tidak sesuai ekspektasi, termasuk aku dan manusia-manusia di sekitarmu.

Hidup ini adalah perjalanan, bukan liburan. Dalam perjalanan, kita dihadapkan pada persoalan yang meresahkan, namun juga menemukan pelajaran. Proses dalam perjalanan menjadi lebih penting daripada tujuan, walaupun di saat yang sama, kita tidak perlu terlalu khawatir tentang akomodasi perjalanan, karena bisa sampai ke tempat tujuan dengan perasaan bahagia adalah juga utama.

Sebelum naik ke gerbong kereta, kita membeli Pop Mie di Alfamart di Stasiun Cimahi. Bukan untuk dimakan, tapi digunakan wadahnya untuk tempat Mie Ayam. Masalah selesai. Tentu kita punya banyak waktu untuk berdebat, emosional dan mencari siapa yang salah, meributkan hal-hal kecil, namun itu tidak kita lakukan. Kita mengikhlaskan beban.

Apakah ada kebahagiaan dalam perjalanan ini?

Ini tentang cara pandang, sayang. Karena mudah saja seseorang bahagia pada hal-hal yang tercukupi dan sesuai keinginan, namun apakah kita bisa tetap bahagia ketika menemui masalah dan kesulitan?

Pada kesulitan dan tekanan hidup itulah kita dapat menemukan kebahagiaan yang sejati. Kita bisa lihat contoh yang nyata pada senyum dan mata yang tenang dari seorang anak di Gaza, yang senyumnya makin terkembang hanya karena ditawari makanan kesukaannya. Padahal seluruh keluarganya mati terbunuh. Apalah arti masalah hidup kita di mata anak itu?

Apapun atau siapapun dapat menyebabkan rasa sakit, namun pada saat yang sama, perasaan sakit itu sakral. Karena itu menjadi pengalaman berharga yang memperkaya jiwa. Dalam dualitas tersebut —sakit dan makna yang menyertainya, kita tumbuh. Meskipun rasa sakit itu tidak kita inginkan, tapi perubahan yang ditimbulkan luar biasa, suci, Ilahi, divine.

You are my pain, divine, divine
Get, get, get to the
Divine, divine, so fine
I see you come back to me

Pada akhirnya, perjalanan ini ada demi mengajarkan kita untuk bekerja sama dan mengikhlaskan rasa sakit.



Jumat, 28 Juli 2023

Kamu Adalah Mata, Aku Airmatamu

Kita berjalan menuju rak buku-buku puisi. Kamu terpaku pada sebuah buku kemudian bertanya, "Ini maksudnya apa, Bang?"

Kamu memegang sebuah buku Joko Pinurbo berjudul "Malam ini aku akan tidur di matamu: sehimpun puisi pilihan". Aku mengamatimu dan tersenyum, mencari tanda di wajahmu untuk tahu apakah pertanyaan itu bercanda atau serius.

Kamu memberi pertanyaan lebih spesifik, "Kenapa mata? Maksudnya apa?"

Setelah menangkap rona serius di wajahmu, aku menjawab, "Mata adalah metafora dari jiwa manusia, kebijaksanaan, juga rahasia. Maka dari itu kita sering mendengar orang bilang mata tidak pernah berdusta. Jokpin pernah menulis puisi berjudul Kepada Puisi. Hanya ada satu bait, 'Kau adalah mata, aku airmatamu'. Mata juga menggambarkan sumber, inti atau pusat, makanya ada istilah mata pencarian, mata air, mata batin, mata pedang."

"Terus kenapa tidur?" Kamu bertanya lagi.

"Ya karena tidur itu nyaman. Tidur itu analogi dari kenyamanan. Aku akan Tidur di Matamu, Maksudnya si Aku-lirik nyaman dan ingin bersatu jiwanya dengan sumber, rahasia, ketulusan 'mu'."

Kamu diam. Sekali lagi aku melirik wajahmu, mencoba menangkap respon yang tidak kamu ucapkan. "Kalau kenapa malam, ya karena malam itu cocok dengan kata tidur, dan malam itu menggambarkan kesyahduan."

Kamu masih diam. Sepertinya puas dengan jawaban yang kamu dengar kemudian melihat buku-buku lain. Aku juga diam terpaku memandangi buku-buku puisi yang ditulis bahkan ratusan tahun yang lalu.

Puisi bagi manusia adalah keseharian. Seperti bernafas, ia adalah salah satu hal paling alami yang ada dalam kehidupan manusia, sebuah takdir karena manusia bisa bicara. Mau tidak mau, sadar atau tidak, naluri alami manusia adalah berpuisi. Mengungkap atau menyatakan sesuatu dengan perumpamaan, perbandingan, diksi yang kuat, irama dan lain-lain. Sehingga, segala konotasi dalam puisi diupayakan bukan untuk membuat bingung atau berteka-teki, tapi lebih dari itu adalah supaya bisa memberi kita makna dan kesadaran lebih dalam. Untuk mecipta hal tersebut, penyair harus menggali kesadaran dalam dirinya sendiri. Melongok dan mengunjungi jiwanya sendiri. Manusia sejatinya adalah jiwa. Kita adalah jiwa tanpa fisik.

Kamu tahu, aku selalu ingat Pablo Neruda dalam pengantar 100 Soneta Cinta, ketika menulis puisi untukmu. Ketika menuliskan puisi-puisi itu, aku sebenarnya menderita karena harus melepas jiwaku dari penjara fisik ini. Percayalah itu tindakan yang membuat nelangsa, mendukakan, menikam dan melukai tanpa henti, seperti kamu mengupas kulit sendiri untuk menampakkan daging merah dengan urat yang berdenyut dan darah yang bercucuran. Namun kamu tahu, kesenangan setelah mengungkapkan, menuliskan kemudian mempersembahkan padamu sungguh lebih tinggi dari langit.

Suatu waktu aku mengunjungi diriku kemudian menghadapi kesakitan. Mendapati semua yang kulihat adalah cermin, aku tidak bisa bersembunyi. Kejujuran datang dan aku tidak bisa menghilang. Aku mencari hal yang paling kurasa sakit. Ketika aku berhasil menyakitimu, aku kira itu akan melegakan, ternyata sakitnya kembali padaku berkali-kali. Aku sakit ketika menyakitimu.

Dalam Perbandingan, aku menulis:

//Aku memandang dunia dari balik rupamu. Aku tidak ingin derita, tapi kamu adalah mata dan aku air matamu. Aku tidak ingin perih, tapi aku adalah darah dari luka goresmu. Aku tidak ingin murka, tapi kamu adalah api dan aku adalah nyala. Bagaimana cara memisahkan diriku dari dirimu?//

Sering aku tidak menemukan diksi yang tepat, atau kesulitan mencari imaji atau irama. Kadang ada bait yang kutulis cepat, ada yang butuh berbulan-bulan bahkan tahunan. Kebanyakan tidak bisa kukendalikan. Ini seperti ilham atau wahyu, yang datang semaunya.

Pada satu waktu, setelah tahunan dan puluhan kali membaca Sapardi, aku teringat Aku Ingin, kemudian ada yang menelusup masuk:

//aku mencintaimu dengan sederhana/seperti kamu mencintai langit ketika sore tiba///

Setelah itu bait-bait yang lain meluncur begitu saja seperti datang dari alam bawah sadar. Kejadiannya begitu singkat dan terngiang di kepala, seperti:

//Meminta cinta kepada peluk adalah sesuatu yang fatal akibatnya, karena ia tidak tahu cara untuk berdusta.//

Atau, 

//Embun yang jatuh ke bumi/tak pernah marah kepada langit/karena ia tahu kepadanya/ia akan kembali.///

Aku tahu tidak akan bisa sehebat Pablo, membuat soneta-soneta dari kayu kemudian memberi mereka bunyi dari benda yang kusam dan murni itu. Berjalan di hutan atau di pantai, di tepi telaga yang tersembunyi, di keluasan bersalut abu, mengumpulkan potongan-potongan kulit pohon, potongan-potongan kayu yang takluk pada air dan cuaca buruk. Kemudian, dari bilah-bilah yang telah aus, kapak, parang, dan pisau, ia memancangkan tiang-tiang kayu cinta, dan dengan empat belas papan masing-masing ia bangun rumah-rumah kecil, tempat mata istri yang ia puja dan kepadanya ia bernyanyi, bisa hidup di sana. Aku hanya ingin melakukan hal yang serupa, tapi tentu tidak bisa disandingkan. 

Aku tahu terkadang kamu bertarung dengan pikiranmu sendiri, mencoba mencari cara agar orang lain dapat mengerti yang ada di dalam, sementara bahasa tidak dapat sepenuhnya diandalkan. Aku juga menghadapi hal yang sama, namun aku beruntung karena ditolong puisi, yang tidak terikat dengan aturan-aturan bahasa bahkan terkadang mengejek mereka. Bayangkan bahasa tanpa pusi, ia akan menjadi kering dan miskin. Dengan puisi aku berharap bisa mengerti apa yang ada dalam dirimu dan juga sebaliknya, kamu memahami apa yang ada dalam jiwaku. Seperti puisi Jokpin, aku ingin jiwaku bersatu dengan jiwamu. Aku yang tertidur dalam matamu. 

Aku berharap puisi-puisiku dapat mewakili yang tidak dapat diutarakan kata, walau tidak sempurna. Terima kasih telah menugaskan puisi untuk masuk ke dalamku, memberinya kehidupan, yang kemudian lahir semata karena kamu memberinya nyawa.

Rabu, 31 Mei 2023

Dua Kisah Patah Hati dalam Satu Malam

Shel tidak tahu bagaimana cara melupakan Hans.

Slam tidak tahu bagaimana cara memutuskan Reyf.

Ini adalah dua kisah patah hati yang rumit, bukan karena semata-mata kondisinya sulit, namun karena ada dua pasang hati yang rentan remuk.

Setelah rencana pernikahannya gagal --yang sudah saya prediksi dalam tulisan ini--, Shel sadar mulai menyukai Hans, seseorang yang sudah bertunangan.

"Emang lu gak ada kandidat lain?" saya merespon sambil tertawa.

"Gak ada, A Nelal," Shel menjawab.

"Masa?" saya sangsi, karena dengan kemampuan dan track record Shel, saya percaya dia bisa menghubungi salah satu dari puluhan mantan dan menjalin hubungan kembali, atau mencari yang lain yang benar-benar baru.

"Beneran. Hans itu tulus banget," Shel memberikan alasan mengapa saat ini ia benar-benar yakin. Shel memberikan beberapa contoh, ia mengatakan Hans berbeda dari semua laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya. Menurut Shel, he is the one. Masalahnya hanya satu, Hans sudah bertunangan dengan seseorang yang saat ini sedang tinggal jauh, dan merasa berat untuk memutuskan pertunangan itu.

Dari cerita Shel, saya mengerti Hans juga menyukai Shel, sementara Shel merasa Hans seharusnya tidak menikah dengan tunangan karena hubungan Hans dan tunangan adalah hubungan yang transaksional, tidak ada cinta yang tulus. Hans mempertahankan pertunangan semata-mata karena dua keluarga sudah saling mengenal dan Hans tidak mau merusak semua.

Di hari yang sama, Slam menghubungi saya bercerita tentang hubungan dengan Reyf yang seperti tanpa ujung. Mereka sudah menjalin hubungan selama 10 tahun dan tidak sekalipun Slam dikenalkan secara resmi sebagai pacar oleh Reyf kepada orang tua Reyf. Bahkan Slam menjemput Reyf untuk pergi bukan di rumahnya, tapi jauh dari gang rumah, sehingga tetangga atau orang tuanya tidak tahu. Menurut Reyf, belum saatnya Slam dikenalkan kepada orang tuanya karena Slam belum mapan. Awalnya Slam pikir itu alasan yang masuk akal, namun ia sadar kemudian bahwa kemapanan tidak bisa diukur dan ia akan merasa pada kondisi tidak pernah mapan. Slam merasa Reyf tidak punya kemandirian dan keberanian, ia merasa orangtua Reyf masih menganggap Reyf anak kecil. Sementara Slam sudah berumur 27 dan ia sudah merasa cukup dengan hubungan seperti itu dan ingin mengakhirinya.

"Saya mo ke Semarang, mau mutusin langsung Reyf." Dalam 4 tahun terakhir ini mereka menjalani LDR, Slam di Bekasi sementara Reyf kuliah di Semarang. Sebagai gantle man Slam merasa harus mengatakan keputusan itu langsung.

"Jadi alasannya karena Reyf gak punya independensi dalam hubungan ini?" saya bertanya.

"Bukan cuma itu sih. Saya ngerasa hubungan ini makin lama makin toxic." Slam memperlihatkan 274 pesan WhatsApp yang belum dibaca Slam dari Reyf, "Ada saran, Sir?"

"Gua netral. Gak mendukung lu untuk terus mempertahankan hubungan ini atau putus. Semua pertimbangan dan keputusan ada di lu.” Saya memberi saran, “Gua prediksi Reyf gak mau putus, tapi gua mendukung lu mengatakan langsung apa yang jadi ganjalan selama ini, alasan mengapa mau putus. Selanjutnya biar waktu yang akan menentukan."

"Oke, sir. Gua udah susun argumen yang akan gua omongin nanti,"

Sudah beberapa bulan berlalu setelah percakapan-percakapan itu.

Shel bercerita bahwa ada Orang Pintar yang mengatakan bahwa Hans telah diguna-guna oleh tunangannya, sehingga walaupun mereka LDR selama beberapa tahun ini dan banyak masalah yang terjadi, Hans masih tidak mau memutuskan tunangan.

Sejujurnya saya tidak bisa menanggapi hal yang tidak bisa diverifikasi. Bagi saya, sebelum ada bukti, itu hanya akan menjadi omong kosong. Bukan berarti saya menafikan ada hal gaib, mungkin saja apa yang diungkap Orang Pintar itu benar, tapi menelan begitu saja keterangan seseorang tanpa ada pikiran kritis dengan kesimpulan logis, hanya karena semata-mata itu adalah hal gaib yang tidak bisa dipikirkan, adalah tindakan yang bodoh. Itu alasan mengapa masih ada saja orang, bahkan yang berpendidikan tinggi, yang masih tertipu dengan dukun pengganda uang. Karena mereka tidak meletakan pikiran yang kritis terhadap hal-hal yang gaib atau spiritual.

Dalam kasus Shel, pikiran kritis itu bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana, apa yang membuat Shel percaya pada Orang Pintar itu? Apa alasan ia bisa dipercaya? Apakah ada bukti ia mengetahui hal yang hanya diketahui Shel dan Hans? Apakah Orang Pintar itu punya motif ingin dianggap sakti, uang, atau ada motif lain? Dan yang terakhir, jika ia menafsirkan sesuatu, apakah yang diungkapkan adalah sepesifik, sebagian atau umum? Pikiran kritis seperti itu yang harus selalu ada, terlebih ketika orang itu mengatasnamakan agama dan syariat. Ayu Utami menyebut itu spiritualisme kritis, keterbukaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.

Saya berkesimpulan, masalah yang terjadi pada Shel adalah karena ia salah berpikir. Ia terlalu banyak menyalahkan orang atau hal lain yang di luar dirinya. Jika ia tidak mengubah cara berpikirnya, masalah yang sama akan kembali terualang. Siapapun kita, ada hukum yang tidak tertulis berbunyi masalah yang kita hadapi akan terus berulang sampai kita belajar sesuatu darinya. Itu terjadi pada saya, Shel, Slam atau siapa saja.

Dalam kasus Slam, ia sempat bingung dengan perasaan yang ada saat ini, karena ia merasa sudah tidak merasakan hal yang sama ketika dulu ia pertama kali mengenal Reyf. Apakah ini love, lust atau care? Ia bertanya.

“Definisi cinta pada tiap orang itu berubah-ubah.” kata saya, “Lu tanya ke gua 10 tahun yang lalu, sekarang, dan 10 tahun yang akan datang akan beda jawabannya. Karena perasaan memang berubah, bisa berkembang juga layu.”

Ya, saya mengerti bahwa seberapa mesra dan menggebu suatu hubungan di awal, gairahnya akan memudar dan sebaiknya ada perasaan lain untuk menggantikan. Begitulah faktanya. Itu sama dengan fakta bahwa kita tidak perlu berganti teman jika kita sadar bahwa teman memang berubah.



HARI ini saya tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan Shel dan Hans. Terakhir kali bicara dengan Shel ia minta didoakan semoga ia jadi dengan Hans. Saya berdoa semoga ia sehat dan bahagia dengan apapun rencan Tuhan. Ia bersikeras mau didoakan supaya jadian dan menikah dengan Hans. Saya tetap mendoakan semoga ia sehat dan bahagia.

Sementara dugaan saya benar, Reyf tidak bersedia putus dengan Slam dan setelah Slam mempertimbangkan beberapa kondisi, akhirnya ia ingin mempertahankan hubungan dengan Reyf.

“Tapi sekarang Reyf jadi insecure. Saya harus yakinin dia lebih dari sebelumnya.” Slam menjelaskan. Saya kira itu adalah hal yang akan ia temui berulang-ulang dalam hubungan apapun.

Saya selalu pada kondisi tidak mengerti dan selalu belajar tentang perasaan, juga patah hati. Patah hati tidak pernah mudah. Semua orang sadar bahwa pada suatu waktu, cepat atau lambat, mereka akan tiba pada kenyataan bahwa mereka akan mengalami patah hati. Kesadaran seperti itu harusnya membuat kita tidak terlalu marah atau emosional. Jika kamu siap menghadapi, memang itu tidak akan membuatmu marah. Hanya akan membuatmu merasa sakit. Sangat sakit. Mungkin kamu berpikir bisa membayangkan sakitnya, tapi kamu salah. 

Ya, bagaimanapun sakit hati adalah sebuah keniscayaan. Wanita bisa menyakiti laki-laki dan juga sebaliknya. Setiap orang, baik yang kamu kenal ataupun tidak, bisa saja menyakitimu, kamu hanya perlu mencari orang yang benar-benar layak untuk menyakitimu. 

Sampai sekarang saya masih belajar untuk mencintai, untuk mencari dan menemukan arti cinta. Elizabeth Gilbert yang berkeliling dunia, mencari penghiburan setelah perceraian yang sulit itu menulis dalam memoar Eat, Pray, Love, “Orang-orang berpikir Soul Mate adalah pasangan yang sempurna, dan itulah yang diinginkan semua orang. Tapi Soul Mate sejati adalah sebuah cermin yang menunjukkan segala hal yang menghambatmu, orang yang membawa ke dalam dirimu sendiri hingga membuatmu mengubah hidupmu sendiri.”

“Soul Mate sejati mungkin adalah orang paling penting yang pernah kamu temui, karena mereka meruntuhkan pertahanan jiwamu dan membuatmu terbangun. Tapi untuk hidup dengan Soul Mate selamanya? Jangan. Terlalu menyakitkan. Soul Mate, mereka datang ke dalam hidup hanya untuk mengungkapkan lapisan lain dari dirimu, dan kemudian pergi.”

“Tujuan Soul Mate adalah untuk mengguncangmu, merobek sedikit egomu, menunjukkan kesulitan dan obsesimu, membuka hatimu sehingga cahaya baru bisa masuk, membuatmu begitu putus asa dan lepas kendali sehingga kamu harus mengubah hidupmu, lalu memperkenalkanmu dengan guru spiritualmu...”

Pengalaman seseorang dengan perasaan adalah pengalaman pribadi yang sangat intens, siapapun tidak bisa ikut campur. Karena kehilangan, sebagaimana cinta dan patah hati, memang tidak pernah sederhana.

Kamis, 28 Juli 2022

Aku Berharap Jalan Lebih Panjang Agar Kamu Tetap Memelukku di atas Kendaraan

Angin berhembus dari arah depan menggigilkan tanganku yang sedang mengendalikan stir, masuk ke ujung lengan jaket, sampai hawa dinginnya merembet ke lengan. Aku menaikan sleting jaket sampai ke leher dengan tangan kiri. Udara sejuk tetap merembet masuk menerobos rongga helem di bawah dagu dan membuat bulu halus di pipi meremang. Kamu semakin mendekatkan tubuh kemudian memasukan tangan ke kantong jaketku. Tiba-tiba aku ingat Ernest. Dia bilang, "Jangan pernah melakukan perjalanan dengan siapa pun yang tidak kamu cintai."

Kita tiba di sebuah kafe di atas bukit dengan pemandangan lembah ketika kabut mulai naik dan mendung menutup langit. Jauh di bawah kita bisa melihat air terjun dengan rimbun hutan hijau di bukit yang berundak. Pelayan mempersilahkan kita duduk di sebuah kursi kayu dengan meja dari potongan kayu besar yang dibiarkan seperti bentuk aslinya, dengan urat kayu puluhan tahun yang dipernis sewarna tanah.

Kamu ijin untuk ke toilet sambil sekalian salat setelah memesan semangkuk Mie Godok Jawa untukku dan Kelapa Lemon Selasih untukmu. Pesanan belum diantar dan kamu sudah menghilang di balik tembok sebuah bangunan. Aku memandangi lembah dan pegunungan, juga orang-orang yang sedang duduk di kafe terbuka itu. Tidak banyak yang datang karena mungkin masih ada pembatasan.

Musik mengalun dari pengeras suara, diawali suara petikan gitar kemudian suara --yang belakangan aku tahu milik Tami Aulia--- mengalun merdu. Ia menyanyikan Bertaut:


Bun, aku masih tak mengerti banyak hal
Semuanya berenang di kepala
Dan kau dan semua yang kau tahu tentangnya
Menjadi jawab saat ku bertanya

Sedikit kujelaskan tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu



Aku menarik selembar tisu di atas meja dan menuliskan beberapa hal yang terlintas di kepala. Itu pertama kalinya aku mendengar Akustik Tami. Sejak saat itu, setiap kali mendengar suaranya bernyanyi diiringi dengan petikan gitar, aku selalu ingat suasana itu. Aku ingat sejuk udara, angin yang sesekali berhembus meremangkan bulu tangan, kabut tipis yang menutupi air terjun di bawah lembah, meja kayu, suara orang bercakap-cakap dan aroma samar dedaunan pinus.

Kamu tahu, seperti ketika kamu mendengar sebuah lagu pada suatu waktu dan tanpa diminta suara itu membuncahkan sebuah gambaran peristiwa. Kadang membangkitkan ingatan yang menyakitkan, terkadang peristiwa yang menyenangkan. Begitulah sihir nada.

Begitulah ketika tiba-tiba aku mendengar Kamulah Satu Satunya - Dewa 19, aku seakan kembali menjadi anak kelas 1 Tsanawiyah dan mengalami nuansa ketika baru masuk pesantren. Atau Selepas Kau Pergi – Laluna yang tidak pernah gagal menggiring pada ingatan di sebuah kamar kecil dengan meja dan dipan seadanya ketika aku kuliah di Pekalongan. Atau ketika mendengar Saat Bahagia – Ungu dan Andien, aku selalu seperti dibawa ke dalam bis menuju Jogjakarta. Atau seperti Cinta ini Membunuhku – d’Masiv yang selalu mengingatkanmu akan saat-saat ketika kita baru kenalan.

Lirik di dalam lagu-lagu itu tidak selalu mewakili perasaan kita saat itu. Namun nada, suara, lantunan musik selalu membawa alam bawah sadar kita untuk mengingat dan mengenang. Seperti cinta, musik menyelinap diam-diam ke dalam jiwa kemudian tumbuh liar begitu saja bagai ilalang, menancapkan sugesti di bawah sadar, kemudian ketika kita mendengarnya kembali di waktu yang lebih sering tidak terduga, ia menceburkan kita ke dalam memori dengan segala hiruk-pikuknya. Kadang membuat tenang dan menghangatkan hati, kadang membuat kepala bergolak.

Pandemi menjebak kita pada kondisi yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Kamu tertekan dan mungkin stress. Sering mencemaskan banyak hal di masa depan. Mengkhawatirkan anak-anak. Bercerita tentang kelakuan banyak orang yang tidak masuk akal. Bercerita tentang mimpi-mimpi aneh, lucu atau mengerikan yang sebentar kemudian kamu lupakan setelah bangun tidur. 

Aku suka caramu melihat dunia, terkadang aku iseng mengujinya dan kamu kesal. Aku senang ada di sampingmu, melihat dunia dengan cara kamu melihat dunia. Dunia yang begitu-begitu saja dan membosankan. Mungkin saat bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja, akhirnya kamu menemukan kesenangan dan pelarian pada BTS. Pada lagu-lagu dan aktifitas mereka. Fangirling membuat hatimu senang dan bersemangat. Aku senang melihatmu senang.  

Sayang aku tidak punya keresahan yang sama. Aku sering bertanya pada diri sendiri tentang apa yang membuatku senang. Aku tidak bermain game, tidak berkumpul dengan komunitas sepeda atau otomotif, atau mengoleksi mainan, atau menggilai klub bola. Bahkan saat ini aku tidak punya sosial media. Bukan alergi, tapi pada akhirnya manusia akan sampai pada rasa cukup.

Jadi bisakah manusia bersenang-senang tanpa hobi?

Aku senang menulis; meletakan kesadaran pada setiap aktifitas yang aku lakukan. Memikirkan orang lain. Tidak masalah orang yang sedang aku pikirkan tidak memikirkanku. Mendengarkan dan membayangkan kehidupan lain. Belajar. Bertanya tentang apa saja walau lebih sering tidak menemukan jawaban. Kesenangan belajar dan berempati pada orang lain itu yang akhirnya banyak menjadi tulisan. Tidak semua, tapi sebagian besar tulisanku adalah tentang manusia.

Meniru Gus Baha, aku senang melakukan hal-hal biasa dalam keseharian yang dibolehkan Tuhan. Ini adalah perkara perspektif. Kegiatan dan keadaan kita yang biasa saja, bisa jadi merupakan privilege bagi orang lain. Sementara hobi adalah kesenangan untuk melakukan kegiatan yang berlainan dari rutinitas. Beliau bilang, "Biasanya orang merasa tidak bahagia, karena standar atau ekspektasi yang terlalu tinggi, maka usahakan kita bahagia dengan standar yang paling sedikit, paling minimal."

Aku senang saat ini. Aku senang saat lelah dan pusing karena bekerja. Aku senang ketika bersujud. Aku senang merawat dan menemani anak-anak tumbuh. Aku senang menjalani kehidupan yang biasa saja; membantu pekerjaan rumah, memasak, mencuci piring, memperbaiki barang-barang, berkebun. Aku juga senang saat membawamu ke tempat yang belum pernah kita kunjungi dengan motor yang sudah 15 tahun terakhir ini menemani kehidupan kita.

Sebelum bangkit pulang, aku masih bisa mendengar Tami menyanyikan Melukis Senja:

Aku di sini walau letih coba lagi jangan berhenti
Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang menaklukankan hari-harimu yang tak indah
Biar ku menemanimu membasuh lelahmu

Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa

Biar ku lukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia



Senja perlahan-lahan ditelan gelap malam ketika kita kembali berada di jalan pulang. Waktu berjalan ke depan dan zaman terus berubah. Tidak ada satupun dari kita yang tetap sama seperti masa lalu, dan memang kita tidak bisa lagi menjadi diri kita di masa lalu. Aku dan kamu adalah musafir di jalan panjang bernama kehidupan. Sebuah jalan yang selalu mengarah ke sebuah pintu. Ditemani malam, dari atas kendaraan, aku merasa berada dalam lagu The Long and Winding Road – The Beatles.


The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I've seen that road before
It always leads me here
Lead me to you door

The wild and windy night
That the rain washed away
Has left a pool of tears
Crying for the day
Why leave me standing here?
Let me know the way

Many times I've been alone
And many times I've cried
Anyway, you'll never know
The many ways I've tried

And still they lead me back
To the long winding road
You left me standing here
A long, long time ago
Don't leave me waiting here
Lead me to your door







Kamis, 10 Maret 2022

Laki-laki Bodoh dan Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas *

"Jadi nonton apa, Shel?" tanya saya kepada Shel tidak lama setelah ia duduk menghadap komputer. Sementara saya sedang duduk di sampingnya menghadap komputer yang berbeda. Ia kawan kerja saya pagi itu.

"Moonfall. Bagus banget filmnya, A Nelal. Nonton deh!" Shel menjelaskan dengan berbinar.

"Yang penting bukan filmnya, tapi nonton sama siapa." kata saya sambil tertawa. "Jadi nonton bareng Sam?"

"Jadi!"

"Kenapa Shel dan Sam gak jadian?"

"Gak mau. Udah sama-sama tahu masing-masing bejatnya."

"Ya, bagus dong. Emang pasangan yang baik kan harus begitu. Masa mau nikah sama orang yang gak tau baik buruknya?"

"Ih gak gitu, A Nelal. Sam mah cuma temen." Shel membela diri, tapi terasa asal-asalan. Karena jika ia tidak mau dengan Sam karena alasan sudah tau baik buruknya, maka itu jadi argumen yang tidak logis. Jika alasannya dibalik, maka akan ada 2 kesimpulan yang ngawur. Pertama, ia suka dengan laki-laki yang hanya baik saja, yang sempurna. Dimana mustahil ada orang seperti itu. Atau yang ke dua, ia suka dengan laki-laki yang hanya ia tahu baiknya saja. Bukan karena ia sempurna, tapi karena ia menyembunyikan kejelekannya. Saya tidak mengerti. Memang mungkin selamanya saya tidak akan pernah paham jalan pikiran perempuan.

Saya tertawa tapi sambil tetap mencecar alasan yang menurut saya lebih masuk akal, "Jadi Shel gak mau sama Sam karena dia jelek?"

"Sam tuh ganteng, A Nelal!" Shel membuka handphone kemudian menunjukan sesuatu, "Nih liat fotonya."

Saya mengamati foto itu dengan seksama dan Shel kembali menjelaskan, "Sebenernya Shel pernah nembak dia dulu, tapi ditolak!"

"Ooh." respon saya cepat, "Coba liat isi chat sama Sam."

"Udah gak ada. Udh diapus."

"Kenapa?"

"Deyn mau dateng." Lagi saya tertawa. Shel seperti sedang menutupi sesuatu dari Deyn. Mereka baru berkenalan 6 bulan dan sehabis lebaran tahun ini berencana menikah.

"Kenapa sih, banyak banget orang yang nyuruh Shel jadian sama Sam?"

"Siapa yang nyuruh? Gua gak nyuruh." Siapa saya meminta hal yang bukan wewenang saya, "Gua cuma nanya alesan kenapa gak jadian sama dia."

"Ya karena dia cuma best friend. Temen curhat. Udah terlalu akrab kita tuh. Kemaren dia aja dateng-dateng langsung meluk. Shel udah tau jeleknya. Lagian Sam mah bodoh."

Tawa saya makin keras, "Semua laki-laki di seluruh dunia memang bodoh, Shel!"

"Termasuk, A Nailal!" Shel merespon cekikikan.

Saya berenti tertawa dan berpikir, "Kecuali gua!" dan kembali tertawa.

Survey membuktikan bahwa 2 dari 10 laki-laki takut menyatakan cinta, 1 berani menyatakan langsung, sementara 7 sisanya menunggu waktu yang tepat.

Jadi tidak heran saya mengenal banyak laki-laki bodoh tak bernyali seperti Sam, sebut saja Bams dan Ryo. Laki-laki yang suka dengan perempuan, tapi menunggu waktu tepat untuk mengungkapkan perasaan yang selamanya tidak pernah mereka temukan. Setelah semuanya terlambat, barulah mereka sadar akan kebodohan mereka. 

"Trus apa kata Sam waktu Shel cerita mau nikah?"

"Dia nanya, 'Yah, gua gak bisa maen sama lu lagi dong Shel?'"

"Shel jawab apa?"

"Ya udh lu dateng waktu suami gua gak ada aja."

Saya kembali merespon dengan tawa, "Jadi Shel gak bisa kalo gak temenan sama Sam?"

"Gak bisa lah!" Jawabnya cepat, "Orang waktu itu mantan Shel pernah nanya, kalo suruh milih lu pilih gua apa Sam, trus Shel jawab, 'ya pilih Sam lah!'"

"Bocah gila!" Saya geleng-geleng kepala, "Sekarang gimana kalo kita balik?"

"Maksudnya?" Shel minta penjelasan yang lebih panjang.

"Ya, Deyn punya temen cewe yang deket kayak Shel dan Sam. Shel cemburu ga?"

"Nggak." jawab Shel cepat.

"Gak usah buru-buru jawab, Panjul!" komentar saya disusul gelak tawa Shel.

 

Saya selalu tidak pernah menanggapi curhatan Shel dengan serius, karena kisah cintanya selalu terdengar bercanda. Ia pernah pacaran dengan beberapa laki-laki sekaligus. Apa ada yang lebih lucu dari itu? Karena seringkali adegannya seperti dalam sinetron indosiar; panik bersembunyi karena gebetan yang sedang jalan bersama ternyata lewat di depan rumah pacarnya yang lain.

Namun hari itu berbeda. Pagi itu Shel datang dengan mata sembab dan wajah pucat. Dia bilang Kalau Bosan-nya Lyodra yang ia dengar semalam berhasil membuatnya kembali mengenang masa lalu dan menangis.

"Bagus lah!" kata saya, "Berarti Shel masih punya hati."

Saya menggoda, mencari lagu yang ia sebutkan kemudian menyetelnya di komputer.

"A Nelal mah gak pernah serius!" Shel terdengar kesal.

Saya tertawa, "Ya mau gimana lagi?" kata saya mencoba sedikit serius, "Gak ada orang yang bisa mengendalikan perasaan. Shel hanya bisa mengendalikan tindakan. Kalau sekarang perasaannya lagi kangen, ya udah mau gimana lagi? Nikmatin aja."

"Shel gak kangen!" lagi-lagi Shel menjawab terlalu cepat.

"Jadi itu mantan yang paling mengganggu pikiran?" Saya bertanya.

Shel bercerita tentang Alf. Tentang rencana menikah yang tidak dipenuhi. Tentang keegoisan. Ketidakcocokan dengan keluarga. "Alf terlalu mikirin Tetehnya. Tetehnya juga kayak gak tau malu, minta tolong terus sama Alf. Gak pernah mikirin perasaan Shel."

Saya mendengarkan Shel bercerita, bertanya dan mencoba menangkap apa sebenarnya yang ia rasakan.

"Jadi Shel maunya gimana?" tanya saya di akhir cerita.

"Gak tau. Gak tau juga nih mau dikirimin undangan atau nggak." ia terlihat bingung, tapi sedetik kemudian ia seperti yakin, "Tapi kirimin aja ah. Biar dia dan keluarganya tau. Biar Alf nyesel dan berantem sama Tetehnya."

Saya ingin tertawa, tapi karena ia meminta saya untuk serius, maka saya merespon, "Jadi tujuan Shel ngasih undangan untuk menyakiti Alf?"

"Iya!" Shel meneruskan, "Ini Alf juga barusan ngeliat status Shel. Pasti Alf ngerasa tersindir."

Shel membacakan status yang ia buat untuk kawannya yang baru saja menikah. Kawan yang juga kawan Alf, yang tahu kisah cinta Shel dan Alf dari awal sampai mereka putus. Di akhir statusnya Shel menyindir, "Gak kayak gua yang kandas karena gak diperjuangkan."

Social Media memang membuat perkara melupakan atau masalah hubungan seremeh apapun semakin rumit.

"Shel gak benar-benar ingin menyakiti Alf." Saya berkomentar.

"Maksudnya?" Shel penasaran.

"Iya, Shel gak benar-benar ingin menyakiti Alf kan?"

"Beneran. Serius. Dia sering berantem sama Tetehnya gara-gara Shel. Kalo Alf tau Shel beneran nikah, pasti dia berantem lagi sama Tetehnya."

"Kalau Shel mau mencintai seseorang, cintai dengan sebenar-benarnya. Jika ingin membenci, bencilah dengan sesungguh-sungguhnya."

"Gimana cara membenci dengan sesungguhnya?"

"Jangan, kalo Shel gak bener-bener yakin," Saya melarang.

"Ih, beneran. Gimana caranya?" Shel setengah memaksa.

"Hal yang paling menyakitkan bagi seseorang adalah tidak dipedulikan. Kalo Shel masih nyimpen nomornya, berarti Shel masih peduli. Shel bahkan masih peduli karena tujuan membuat status salah satunya agar dibaca Alf, untuk menyindir. Tujuan memberi undangan supaya bikin Alf nyesel dan beranten sama Tetehnya. Itu artinya Shel masih peduli. Itu sama sekali tidak menyakitkan. Hal yang paling menyakitkan bagi seseorang adalah tidak dipedulikan. Dilupakan."

"Ya udah, Shel hapus sama blok aja nomornya," Shel membuka HP dan menghapus nama Alf.

Sedetik kemudian saya merasa bersalah karena menyarankan hal yang kejam. Tapi bagaimanpun itu sudah keputusan Shel. Keputusan apapun, baik dibuat dengan emosional dan terburu-buru atau penuh pertimbangan, pasti punya konsekuensi. Shel sudah cukup dewasa dan bisa bertanggungjawab atas sikapnya sendiri. Saya hanya berharap semoga ia belajar dan menjadi manusia yang lebih baik di atas keputusan-keputusan itu. 

Shel adalah pribadi yang baik, dan tuntunan agama menyatakan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, sementara laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk. Saya enggan berceramah panjang lebar, karena bisa jadi itu hanya informasi yang tidak bermakna. Einstein pernah bilang bahwa informasi bukanlah pengetahuan, pengetahuan yang sebenarnya adalah pengalaman. Semoga Shel belajar tentang kehidupan dari pengalaman hidupnya sendiri.

"Jadi tujuan Shel menikah untuk menyakiti Alf?" saya bertanya. Alf sebenarnya adalah mantan sebelum ia memutuskan menikah dengan Deyn.

"Ih, enggak! Ya ampun demi Allah enggak, A Nelal!" Shel menjawab. Masih dengan cepat.

Jawaban pertanyaan saya untuk Shel sungguh bukan untuk saya, tapi untuk Shel sendiri. Jadi pertanyaan-pertanyaan itu sejatinya tidak harus dijawab segera, karena saya tidak butuh. Shel yang lebih membutuhkan, karena bagaimanapun tidak ada manusia yang bisa berbohong pada hatinya sendiri.

------------------
* Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah Judul Novel karya Eka Kurniawan. Sudah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama.