Suatu malam saya bertanya pada Aira (8 tahun), “Apa yang membuat kamu paling sedih?”
Aira terdiam sebentar, lalu menjawab dengan yakin, “Waktu Bude meninggal.”
Mendengar itu, ingatan saya langsung kembali ke hari itu—19 Oktober 2025. Malam itu kami mendapat kabar bahwa kakak ipar saya meninggal secara mendadak. Sementara itu, Aira sudah tertidur pulas dengan senyum di wajahnya karena keesokan paginya, 20 Oktober, ia akan mengikuti study tour bersama teman‑teman sekolahnya.
Kami belum memesan tiket kereta untuk pergi ke Blitar, tempat kakak ipar dan mertua saya tinggal. Dan saya tidak tega merusak kebahagiaan Aira secara tiba‑tiba, apalagi kami masih mempertimbangkan apakah ia perlu ikut atau tidak. Pada akhirnya saya dan istri memutuskan untuk mengajaknya, karena Aira belum pernah dititip ke neneknya dalam waktu lama dan kami tidak tahu akan berada di Blitar berapa hari. Akhirnya kami membeli tiga tiket kereta untuk keberangkatan dari Bekasi malam itu: untuk saya, istri, dan Aira.
Pagi harinya saya mengantar Aira ke sekolah. Ia tetap ceria seperti biasa ketika ada kegiatan study tour. Saya belum memberi tahu apa pun tentang kabar duka itu, dan Aira pun tidak menanyakan mengapa mata ibunya sembab dan wajahnya murung sejak pagi.
Ketika saya menjemputnya siang hari, ia masih penuh semangat menceritakan kegiatan pagi itu. Dalam perjalanan pulang, di atas motor, setelah ia selesai bercerita, saya mulai membuka percakapan.
“Aira nanti malem kita berangkat nengokin Oma ya?”
“Oma?” Aira tampak bingung. “Nenek kali!”
“Bukan. Oma,” saya mengulang.
Aira yang duduk di depan menengok ke arah saya. “Ke Blitar? Bapak, aku gak mau bercanda!”
“Bapak serius!” jawab saya.
“Beneran?”
“Iya.”
“Nanti malem berangkat?”
“Iya.”
“Yeay!” Aira girang.
Selama perjalanan naik kereta, Aira masih ceria. Bahkan ketika kami tiba di rumah duka, ia masih belum tahu bahwa Budenya telah meninggal. Yang ia tahu, Bude sedang dirawat di rumah sakit. Jadi ketika masuk rumah, ia hanya bertanya ringan, “Bude di mana?”
Baru ketika saya mengajaknya ke makam Budenya, semuanya terungkap. Di sanalah Aira menangis. Tangis paling pilu yang pernah saya dengar darinya. Ia sampai harus saya gendong ketika berjalan kembali dari makam karena kakinya lemas.
Saya melanjutkan percakapan yang kami mulai sebelumnya.
“Kalau dibuat level satu sampai sepuluh, kesedihan waktu Bude meninggal itu nomor berapa?”
Aira berpikir sebentar lalu menjawab, “Nomor delapan.”
Kemudian ia menambahkan dengan suara lirih namun yakin, “Kalau sedih nomor sepuluh itu… kalau Bapak atau Ibu yang meninggal.”
“Oh…” saya menjawab pelan, merasa wajar karena sayang kepada orang tuanya lebih besar dan yang terbesar. Lalu saya iseng bertanya lagi, “Kalau Moli nomor berapa?”
Moli adalah kucing betina tua yang sudah ada sejak Aira lahir, dan sangat ia sayangi.
“Nomor sebelas,” kata Aira mantap.
-:(الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك وتعالي/ ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء):-
Tampilkan postingan dengan label Aira Fatimatuzzahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aira Fatimatuzzahra. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Februari 2026
Rabu, 09 Maret 2022
Rara
Untuk AF
Aku merindu sedetik setelah kepergianmu
Suara tawa dan merajuk memenuhi ruang tidur
Aku tidak ingin tumbuh dewasa dan
menyaksikan kaki dan tangan bicara sendiri-sendiri
Aku masih ingin mendengar buku-buku bercerita,
bernyanyi, berbohong, bermain teka-teki
Aku masih ingin membuat cerita bergambar,
menganggu kakak dan cemburu
Aku ingin tetap jadi anak-anak,
jatuh cinta dan kembali merindu
Aku tertidur dalam pelukmu dan
mendengar sebuah suara ketika mata setengah terjaga,
"Rara adalah udara. Aku mencintaimu sampai akhir usia."
Aku merindu sedetik setelah kepergianmu
Suara tawa dan merajuk memenuhi ruang tidur
Aku tidak ingin tumbuh dewasa dan
menyaksikan kaki dan tangan bicara sendiri-sendiri
Aku masih ingin mendengar buku-buku bercerita,
bernyanyi, berbohong, bermain teka-teki
Aku masih ingin membuat cerita bergambar,
menganggu kakak dan cemburu
Aku ingin tetap jadi anak-anak,
jatuh cinta dan kembali merindu
Aku tertidur dalam pelukmu dan
mendengar sebuah suara ketika mata setengah terjaga,
"Rara adalah udara. Aku mencintaimu sampai akhir usia."
2022
Aku Takut Meninggal
"Aku takut meninggal kalo udah besar." Aira menangis mengadu mendekati saya yang malam itu tidur di kasur yang berbeda. Sebelumnya ia bertengkar dengan kakaknya Safa, meminta lampu kamar tidak dimatikan. Safa kesal karena ia tidak bisa tidur dengan lampu menyala, sementara Aira menangis mendekati saya.
Saya memeluk Aira. Sambil mengusap-usap kepalanya saya mencoba mencari tahu, "Meninggal itu apa?"
"Meninggal itu..." Aira terbata menjelaskan masih sambil menangis. Anak umur 4 tahun mungkin tidak punya cukup kosakata yang bisa menjelaskan kematian.
"Kamu pernah melihat orang meninggal?" Saya mengganti pertanyaan dengan yang lebih sederhana.
"Pernah." Aira menjawab cepat. Masih sambil terisak.
"Dimana?"
"Di cerita aku."
"Oh," saya terus bertanya, "Kenapa Aira takut meninggal?"
"Aku takut hilang." Aira menjawab sederhana, disusul tangis yang makin pilu. Saya mengusap-usap punggunggnya pelan, dan memikirkan beberapa penjelasan.
"Aira," Kata saya meminta perhatian, "Takut itu baik."
Aira memelankan tangis mencoba mendengarkan.
"Manusia itu memang wajar takut." Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah, "Kamu takut setrum kan?"
Tangisnya sedikit mereda ketika menjawab, "He eh,"
"Karena dulu pernah kesetrum waktu mainan colokan," saya meneruskan.
"Iya, waktu umurku dua," dia mencoba mengingat yang sering ibunya ceritakan.
"Karena itu kamu takut main listrik lagi. Jadi takut itu bagus. Supaya kamu terhindar dari kesetrum."
"Aku takut meninggal kalau sudah besar. Aku gak mau meninggal." Aira mengulang, meneruskan tangis. Seperti tidak menangkap apa yang ingin saya jelaskan.
"Kamu tahu, kancil juga takut," kata saya mencoba menarik perhatiannya lagi dengan cerita. Untuk Aira, cerita tidak pernah gagal menarik perhatian. Bahkan disaat yang paling absurd.
"Kancil itu takut api karena dulu ia pernah melihat hutan terbakar, rasanya panas dan itu mengerikan. Bayangkan kalau ia tidak punya rasa takut, ia mendekati api dan akhirnya ikut terbakar. Jadi takut itu baik kan?"
Aira berhenti menangis. Namun tidak lama ia menangis kembali, mengulang kata-kata tentang ketakutan yang sama.
Saya mengerti sepertinya malam itu bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan lebih panjang. Mungkin Aira belum mengerti. Mungkin ketakutannya saat ini lebih kuat. Maka saya hanya terus memeluknya, mengusap-usap punggungnya. Karena itu yang ia butuhkan saat ini. Sampai akhirnya ia tertidur di pelukan saya.
Mungkin suatu saat nanti, ketika waktunya cukup, ia akan membaca tulisan ini. Mungkin saya masih hidup ketika itu terjadi, mungkin juga sudah mati.
"Bapak ingin meneruskan penjelasan untuk Aira, bahwa ketakutan akan kematian itu bagus untuk mengingatkan bahwa kamu harus menghargai hidupmu, juga orang-orang yang meyayangimu. Karena suatu saat, siapapun akan meninggal."
"Kamu tidak perlu khawatir terhadap orang-orang yang membencimu, fokuskan perhatian pada orang-orang yang menyayangimu. Ketakutan akan kematian seharusnya membawa kamu pada kesadaran bahwa orang-orang yang ada di dekatmu suatu saat akan tidak ada, begitu juga kamu, sehingga kamu sadar untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh cinta. Bukan kamu mengharapkan cinta dari orang lain, tapi yang terpenting kamu menyayangi orang lain, mencintai kemanusiaan, dengan sepenuh-penuhnya. Sehingga ketika kematian datang, baik kepada bapak atau kepada kamu, kamu tidak akan menyesal."
"Kamu bilang kamu takut meninggal nanti jika sudah besar. Banyak orang-orang dewasa saat ini yang sudah tidak takut dengan kematian, Aira. Bukan mereka menjadi lebih berani karena sudah siap, tapi mereka sudah tidak lagi peduli. Orang-orang dewasa mengganti ketakutan mereka akan kematian menjadi ketakutan akan tidak punya uang. Sehingga mereka rela melakukan segala cara untuk tidak menjadi takut. Saat kecil kamu pasti menganggap mereka aneh. Masih akan banyak keanehan lain yang akan Aira temui nanti ketika sudah dewasa. Orang-orang yang menuhankan uang, jabatan, juga pengetahuan. Mereka orang-orang sombong yang terkadang melakukan itu tanpa sadar. Itulah dosa terbesar umat manusia yang menyebabkan banyak kerusakan. Musyrik dalam bahasa yang lebih sederhana."
"Musyrik kepada Tuhan punya dua sisi koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan, sisi pertama tidak mengakui keberadaan Tuhan, sisi kedua menjadikan hal lain sebagai tuhan-tuhan. Mereka yang menuhankan selain Tuhan tidak takut dan peduli lagi akan kematian. Jadi Aira, sampai dewasa nanti tetaplah takut akan kematian, agar kamu bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, sehingga kamu dalam keadaan tenang ketika kematian itu datang."
"Aira sayang, tahukah kamu bahwa setelah kematian akan ada kehidupan akhirat yang lebih bermakna. Kita semua adalah ruh yang terperangkap dalam jasad. Kematian akan membebaskan ruh. Sementara kehidupan di dunia ini senda gurau, main-main dan hanya seperti mimpi. Kematian adalah waktu dimana orang-orang terjaga. Di akhirat nanti kita akan bersama orang-orang yang kita cintai lagi."
Allah berfirman, "Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan pemeliharamu dengan hati yang rela, lagi diridhai. Maka karena itu masuklah ke dalam golongan para hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku."
Wallahu 'alam
Saya memeluk Aira. Sambil mengusap-usap kepalanya saya mencoba mencari tahu, "Meninggal itu apa?"
"Meninggal itu..." Aira terbata menjelaskan masih sambil menangis. Anak umur 4 tahun mungkin tidak punya cukup kosakata yang bisa menjelaskan kematian.
"Kamu pernah melihat orang meninggal?" Saya mengganti pertanyaan dengan yang lebih sederhana.
"Pernah." Aira menjawab cepat. Masih sambil terisak.
"Dimana?"
"Di cerita aku."
"Oh," saya terus bertanya, "Kenapa Aira takut meninggal?"
"Aku takut hilang." Aira menjawab sederhana, disusul tangis yang makin pilu. Saya mengusap-usap punggunggnya pelan, dan memikirkan beberapa penjelasan.
"Aira," Kata saya meminta perhatian, "Takut itu baik."
Aira memelankan tangis mencoba mendengarkan.
"Manusia itu memang wajar takut." Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah, "Kamu takut setrum kan?"
Tangisnya sedikit mereda ketika menjawab, "He eh,"
"Karena dulu pernah kesetrum waktu mainan colokan," saya meneruskan.
"Iya, waktu umurku dua," dia mencoba mengingat yang sering ibunya ceritakan.
"Karena itu kamu takut main listrik lagi. Jadi takut itu bagus. Supaya kamu terhindar dari kesetrum."
"Aku takut meninggal kalau sudah besar. Aku gak mau meninggal." Aira mengulang, meneruskan tangis. Seperti tidak menangkap apa yang ingin saya jelaskan.
"Kamu tahu, kancil juga takut," kata saya mencoba menarik perhatiannya lagi dengan cerita. Untuk Aira, cerita tidak pernah gagal menarik perhatian. Bahkan disaat yang paling absurd.
"Kancil itu takut api karena dulu ia pernah melihat hutan terbakar, rasanya panas dan itu mengerikan. Bayangkan kalau ia tidak punya rasa takut, ia mendekati api dan akhirnya ikut terbakar. Jadi takut itu baik kan?"
Aira berhenti menangis. Namun tidak lama ia menangis kembali, mengulang kata-kata tentang ketakutan yang sama.
Saya mengerti sepertinya malam itu bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan lebih panjang. Mungkin Aira belum mengerti. Mungkin ketakutannya saat ini lebih kuat. Maka saya hanya terus memeluknya, mengusap-usap punggungnya. Karena itu yang ia butuhkan saat ini. Sampai akhirnya ia tertidur di pelukan saya.
Mungkin suatu saat nanti, ketika waktunya cukup, ia akan membaca tulisan ini. Mungkin saya masih hidup ketika itu terjadi, mungkin juga sudah mati.
"Bapak ingin meneruskan penjelasan untuk Aira, bahwa ketakutan akan kematian itu bagus untuk mengingatkan bahwa kamu harus menghargai hidupmu, juga orang-orang yang meyayangimu. Karena suatu saat, siapapun akan meninggal."
"Kamu tidak perlu khawatir terhadap orang-orang yang membencimu, fokuskan perhatian pada orang-orang yang menyayangimu. Ketakutan akan kematian seharusnya membawa kamu pada kesadaran bahwa orang-orang yang ada di dekatmu suatu saat akan tidak ada, begitu juga kamu, sehingga kamu sadar untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh cinta. Bukan kamu mengharapkan cinta dari orang lain, tapi yang terpenting kamu menyayangi orang lain, mencintai kemanusiaan, dengan sepenuh-penuhnya. Sehingga ketika kematian datang, baik kepada bapak atau kepada kamu, kamu tidak akan menyesal."
"Kamu bilang kamu takut meninggal nanti jika sudah besar. Banyak orang-orang dewasa saat ini yang sudah tidak takut dengan kematian, Aira. Bukan mereka menjadi lebih berani karena sudah siap, tapi mereka sudah tidak lagi peduli. Orang-orang dewasa mengganti ketakutan mereka akan kematian menjadi ketakutan akan tidak punya uang. Sehingga mereka rela melakukan segala cara untuk tidak menjadi takut. Saat kecil kamu pasti menganggap mereka aneh. Masih akan banyak keanehan lain yang akan Aira temui nanti ketika sudah dewasa. Orang-orang yang menuhankan uang, jabatan, juga pengetahuan. Mereka orang-orang sombong yang terkadang melakukan itu tanpa sadar. Itulah dosa terbesar umat manusia yang menyebabkan banyak kerusakan. Musyrik dalam bahasa yang lebih sederhana."
"Musyrik kepada Tuhan punya dua sisi koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan, sisi pertama tidak mengakui keberadaan Tuhan, sisi kedua menjadikan hal lain sebagai tuhan-tuhan. Mereka yang menuhankan selain Tuhan tidak takut dan peduli lagi akan kematian. Jadi Aira, sampai dewasa nanti tetaplah takut akan kematian, agar kamu bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, sehingga kamu dalam keadaan tenang ketika kematian itu datang."
"Aira sayang, tahukah kamu bahwa setelah kematian akan ada kehidupan akhirat yang lebih bermakna. Kita semua adalah ruh yang terperangkap dalam jasad. Kematian akan membebaskan ruh. Sementara kehidupan di dunia ini senda gurau, main-main dan hanya seperti mimpi. Kematian adalah waktu dimana orang-orang terjaga. Di akhirat nanti kita akan bersama orang-orang yang kita cintai lagi."
Allah berfirman, "Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan pemeliharamu dengan hati yang rela, lagi diridhai. Maka karena itu masuklah ke dalam golongan para hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku."
Wallahu 'alam
Rabu, 21 April 2021
Why so serious?
Sore hari. Ibu mengupas buah.
Aira (3 tahun): aku mau!
Ibu: kamu gak puasa?
Aira: puasa apa?
Ibu: gak makan dan minum.
Aira: aku gak puasa.
Azan maghrib. Orang-orang di rumah bersiap menyantap hidangan buka puasa.
Aira: aku mau!
Ibu: ini untuk orang yang puasa, dek.
Aira: aku juga puasa.
Semua yang mendengar tertawa. Kecuali Aira.
Aira (3 tahun): aku mau!
Ibu: kamu gak puasa?
Aira: puasa apa?
Ibu: gak makan dan minum.
Aira: aku gak puasa.
Azan maghrib. Orang-orang di rumah bersiap menyantap hidangan buka puasa.
Aira: aku mau!
Ibu: ini untuk orang yang puasa, dek.
Aira: aku juga puasa.
Semua yang mendengar tertawa. Kecuali Aira.
Sabtu, 30 Januari 2021
Membaca dan Pelajaran Bahasa Ibu
Saya percaya bahwa tidak ada anak yang tidak suka membaca. Jika ada anak yang dianggap tidak suka membaca, atau orang tuanya mengatakan, “Ah memang bukan itu kesenangannya,” mari perhatikan kembali, mungkin ada sesuatu yang kurang tepat.
Apa yang biasa dilakukan orangtua untuk mengajari anak membaca? Memberikan pelajaran-pelajaran membaca huruf dan kalimat melalui metode-metode yang bermacam-macam. Bahkan seringkali memaksa anak dalam umur tertentu (biasanya 7 tahun) untuk harus bisa membaca.
Apakah cara itu salah? Bisa ya, bisa tidak. Satu hal yang pasti, memaksa anak untuk mempelajari yang tidak ia suka atau ia butuhkan adalah tindakan percuma. Ada dua alasan seseorang mau belajar secara sukarela. Pertama, ia membutuhkannya. Kedua, ia menyukainya. Jika dua hal itu tidak ada, maka pembelajaran akan terasa kosong, bahkan bisa jadi tidak berguna. Mengajari anak membaca kalimat-kalimat adalah hal yang mudah. Tapi tujuannya bukan hanya membaca, melainkan menyukai membaca.
Hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah membuat anak senang dengan cerita. Jika anak sudah menyukai cerita, dan pasti menyukainya, maka itu akan jadi pupuk untuk mereka menyukai membaca. Bahkan sebelum mereka benar-benar bisa membaca. Jadi bukan pelajaran membacanya yang ditekankan terlebih dulu, tapi kesenangan pada bacaan.
Jadi ketika Safa (7 tahun) belum bisa membaca dengan lancar, saya sama sekali tidak khawatir. Apalagi membandingkan dengan Nada yang dulu pada usia Safa perkembangan membacanya sangat pesat. Karena memang tujuan utamanya bukan pada bisa membaca, tapi kesenangan pada membaca. Dengan tujuan itu, menekan anak untuk bisa membaca malah bisa menyebabkan ia jadi benci membaca. Itu akan jadi tindakan yang kontra produktif. Anak akan sendirinya membaca jika ia sudah suka dengan bacaan, dalam hal ini ditumbuhkan dengan membacakan cerita.
Saya akan melebarkan pembahasan membaca dan kesenangan membaca dengan pelajaran bahasa. Di Finlandia, siswa sekolah dasar kelas satu dan dua, tiap hari mengawali kelas dengan pelajaran Modersmål atau Bahasa Ibu. Sementara untuk kelas tiga sampai enam, Modersmål selalu ditempatkan pada jam pertama setiap Senin.
Apa yang dilakukan para guru dalam pelajaran itu? Membacakan cerita. Setelah mendengarkan cerita, murid-murid diminta melakukan aktifitas lanjutan seperti menggambar ilustrasi atau bahkan untuk anak kelas lima dan enam, anak-anak diminta membuat musik berdasarkan cerita yang dibacakan.
Jadi pelajaran Modersmål (Bahasa Indonesia jika di Indonesia) dengan penyampaian melalui cerita merupakan pelajaran paling penting bagi anak-anak. Bayangkan, dalam 5 hari sekolah, kelas satu dan dua belajar Bahasa selama 7 jam. Untuk kelas tiga dan empat 6 jam. Sementara untuk kelas enam 5 jam.
Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa Finalandia, negara dengan kualitas pendidikan
terbaik di dunia menekankan pentingnya pelajaran bahasa di usia sekolah dasar?
Sederhana, karena bahasa adalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kaitan bahasa dengan pelajaran-pelajaran lain sangat erat, bahkan tanpa kecakapan berbahasa, anak-anak akan kesulitan memahami matematika. Karena manusia berpikir dengan bahasa dan bahasa membentuk pikiran seseorang. Jika anak-anak cakap berbahasa, mereka akan mampu menata pikiran, menyampaikan gagasan dan berkomunikasi dengan baik. Tujuan akhirnya, kecakapan berbahasa akan membuat transfer pengetahuan atau kegiatan pembelajaran akan semakin baik.
Kelemahan dalam pelajaran bahasa ini, dengan segala aspeknya (seperti komunikasi lisan, membaca efektif, menulis kreatif, dan literasi media) yang akhirnya menyebabkan nilai PISA (metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat global) sangat rendah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 - 15 tahun terakhir.
Di Indonesia, usaha pemerintah melalui kementrian pendidikan untuk memperbaiki hal tersebut sudah ada sejak lama. Saat ini, Ujian Nasional SD ditiadakan dan UN untuk tingkat sekolah yang lebih tinggi diganti menjadi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang berguna untuk mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa, dua kompetensi inti yang menjadi fokus tes PISA, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Perbaikan ini tentu membutuhkan proses yang mungkin akan panjang.
Mengharapkan perubahan dari institusi yang tingkat korupsinya termasuk yang paling besar, memang membuat frustasi. Namun usaha mendidik bukanlah usaha pemerintah semata. Sebagai praktisi homeschooling yang membaca nilai PISA itu, saya tergerak untuk mengingatkan kembali terutama pada diri saya untuk lebih peduli pada literasi anak. Maka dengan rendah hati, saya mengajak orang-orang yang peduli pada pendidikan anak untuk memulai gerakan membaca cerita. Dimulai dari diri sendiri, dari rumah.
Saya bahkan masih membacakan cerita atau buku untuk Nada padahal waktu itu ia sudah lancar membaca. Walaupun pada akhirnya karena tidak sabaran dan penasaran, ia akhirnya membaca sendiri. Sekarang, tidak ada yang bisa menghentikan kesenangannya membaca. Pada umur 8 tahun ia telah menamatkan 7 jilid novel Harry Potter.
Selain menumbuhkan kesenangan pada bacaan, membuat anak-anak terbiasa paham dengan Bahasa dan segala seluk beluk Bahasa dari mulai majas, struktur, logika dan banyak hal lain tanpa harus membebani mereka dengan terori-teori kebahasaan, membacakan cerita juga bisa lebih mendekatkan anak dengan orang tua.
Lebih dari itu, pelajaran penting lain termasuk pengembangan karakter bisa dilakukan. Saya percaya, cerita adalah alat mendidik yang paling efektif karena menarik dan bisa mempengaruhi dengan halus, tanpa berteriak atau menceramahi. Saya mendongeng untuk mengatakan bahwa orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat buruk, tapi yang menyesali perbuatan buruk dan punya keinginan untuk berubah. Saya bercerita untuk mengganti kalimat, “Membalas boleh dilakukan, namun jangan berlebihan.” atau “Tidak ada yang ingin berteman dengan pembohong.”
Saya biasanya memakai cerita Buaya, Kancil dan Kerbau untuk menumbuhkan karakter jujur. Beberapa waktu lalu, Aira (3 tahun) mengulang cerita tersebut dengan lancar. Membaca cerita sungguh kegiatan yang mudah tapi berdampak besar untuk perkembangan anak. Lagipula, tidak ada orang yang bisa menolak cerita. Milton Erickson ahli hypnosis itu pernah bilang, “Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya."
Apa yang biasa dilakukan orangtua untuk mengajari anak membaca? Memberikan pelajaran-pelajaran membaca huruf dan kalimat melalui metode-metode yang bermacam-macam. Bahkan seringkali memaksa anak dalam umur tertentu (biasanya 7 tahun) untuk harus bisa membaca.
Apakah cara itu salah? Bisa ya, bisa tidak. Satu hal yang pasti, memaksa anak untuk mempelajari yang tidak ia suka atau ia butuhkan adalah tindakan percuma. Ada dua alasan seseorang mau belajar secara sukarela. Pertama, ia membutuhkannya. Kedua, ia menyukainya. Jika dua hal itu tidak ada, maka pembelajaran akan terasa kosong, bahkan bisa jadi tidak berguna. Mengajari anak membaca kalimat-kalimat adalah hal yang mudah. Tapi tujuannya bukan hanya membaca, melainkan menyukai membaca.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara menumbuhkan minat baca anak? Masing-masing anak punya tahap dan perjalannannya sendiri, yang sering tidak sama dengan anak-anak lain. Oleh karena itu, usaha untuk memupuk anak untuk suka membaca perlu dipelajari. Kuncinya di kesabaran pada proses. Metode, teknik, atau cara, menyusul dan berkembang sesuai dengan kemampuan anak.
Hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah membuat anak senang dengan cerita. Jika anak sudah menyukai cerita, dan pasti menyukainya, maka itu akan jadi pupuk untuk mereka menyukai membaca. Bahkan sebelum mereka benar-benar bisa membaca. Jadi bukan pelajaran membacanya yang ditekankan terlebih dulu, tapi kesenangan pada bacaan.
Jadi ketika Safa (7 tahun) belum bisa membaca dengan lancar, saya sama sekali tidak khawatir. Apalagi membandingkan dengan Nada yang dulu pada usia Safa perkembangan membacanya sangat pesat. Karena memang tujuan utamanya bukan pada bisa membaca, tapi kesenangan pada membaca. Dengan tujuan itu, menekan anak untuk bisa membaca malah bisa menyebabkan ia jadi benci membaca. Itu akan jadi tindakan yang kontra produktif. Anak akan sendirinya membaca jika ia sudah suka dengan bacaan, dalam hal ini ditumbuhkan dengan membacakan cerita.
Saya akan melebarkan pembahasan membaca dan kesenangan membaca dengan pelajaran bahasa. Di Finlandia, siswa sekolah dasar kelas satu dan dua, tiap hari mengawali kelas dengan pelajaran Modersmål atau Bahasa Ibu. Sementara untuk kelas tiga sampai enam, Modersmål selalu ditempatkan pada jam pertama setiap Senin.
Apa yang dilakukan para guru dalam pelajaran itu? Membacakan cerita. Setelah mendengarkan cerita, murid-murid diminta melakukan aktifitas lanjutan seperti menggambar ilustrasi atau bahkan untuk anak kelas lima dan enam, anak-anak diminta membuat musik berdasarkan cerita yang dibacakan.
Jadi pelajaran Modersmål (Bahasa Indonesia jika di Indonesia) dengan penyampaian melalui cerita merupakan pelajaran paling penting bagi anak-anak. Bayangkan, dalam 5 hari sekolah, kelas satu dan dua belajar Bahasa selama 7 jam. Untuk kelas tiga dan empat 6 jam. Sementara untuk kelas enam 5 jam.
Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa Finalandia, negara dengan kualitas pendidikan
terbaik di dunia menekankan pentingnya pelajaran bahasa di usia sekolah dasar?
Sederhana, karena bahasa adalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kaitan bahasa dengan pelajaran-pelajaran lain sangat erat, bahkan tanpa kecakapan berbahasa, anak-anak akan kesulitan memahami matematika. Karena manusia berpikir dengan bahasa dan bahasa membentuk pikiran seseorang. Jika anak-anak cakap berbahasa, mereka akan mampu menata pikiran, menyampaikan gagasan dan berkomunikasi dengan baik. Tujuan akhirnya, kecakapan berbahasa akan membuat transfer pengetahuan atau kegiatan pembelajaran akan semakin baik.
Kelemahan dalam pelajaran bahasa ini, dengan segala aspeknya (seperti komunikasi lisan, membaca efektif, menulis kreatif, dan literasi media) yang akhirnya menyebabkan nilai PISA (metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat global) sangat rendah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 - 15 tahun terakhir.
Di Indonesia, usaha pemerintah melalui kementrian pendidikan untuk memperbaiki hal tersebut sudah ada sejak lama. Saat ini, Ujian Nasional SD ditiadakan dan UN untuk tingkat sekolah yang lebih tinggi diganti menjadi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang berguna untuk mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa, dua kompetensi inti yang menjadi fokus tes PISA, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Perbaikan ini tentu membutuhkan proses yang mungkin akan panjang.
Mengharapkan perubahan dari institusi yang tingkat korupsinya termasuk yang paling besar, memang membuat frustasi. Namun usaha mendidik bukanlah usaha pemerintah semata. Sebagai praktisi homeschooling yang membaca nilai PISA itu, saya tergerak untuk mengingatkan kembali terutama pada diri saya untuk lebih peduli pada literasi anak. Maka dengan rendah hati, saya mengajak orang-orang yang peduli pada pendidikan anak untuk memulai gerakan membaca cerita. Dimulai dari diri sendiri, dari rumah.
Saya bahkan masih membacakan cerita atau buku untuk Nada padahal waktu itu ia sudah lancar membaca. Walaupun pada akhirnya karena tidak sabaran dan penasaran, ia akhirnya membaca sendiri. Sekarang, tidak ada yang bisa menghentikan kesenangannya membaca. Pada umur 8 tahun ia telah menamatkan 7 jilid novel Harry Potter.
Selain menumbuhkan kesenangan pada bacaan, membuat anak-anak terbiasa paham dengan Bahasa dan segala seluk beluk Bahasa dari mulai majas, struktur, logika dan banyak hal lain tanpa harus membebani mereka dengan terori-teori kebahasaan, membacakan cerita juga bisa lebih mendekatkan anak dengan orang tua.
Lebih dari itu, pelajaran penting lain termasuk pengembangan karakter bisa dilakukan. Saya percaya, cerita adalah alat mendidik yang paling efektif karena menarik dan bisa mempengaruhi dengan halus, tanpa berteriak atau menceramahi. Saya mendongeng untuk mengatakan bahwa orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat buruk, tapi yang menyesali perbuatan buruk dan punya keinginan untuk berubah. Saya bercerita untuk mengganti kalimat, “Membalas boleh dilakukan, namun jangan berlebihan.” atau “Tidak ada yang ingin berteman dengan pembohong.”
Saya biasanya memakai cerita Buaya, Kancil dan Kerbau untuk menumbuhkan karakter jujur. Beberapa waktu lalu, Aira (3 tahun) mengulang cerita tersebut dengan lancar. Membaca cerita sungguh kegiatan yang mudah tapi berdampak besar untuk perkembangan anak. Lagipula, tidak ada orang yang bisa menolak cerita. Milton Erickson ahli hypnosis itu pernah bilang, “Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya."
Senin, 22 April 2019
Aira dan Kucing
Istri saya tidak suka kucing liar —sebagian kucing-kucing itu juga ada pemiliknya— yang ada di komplek perumahan kami, karena suka buang kotoran sembarangan.
Saya sebagai satu-satunya makhluk berjakun di rumah, yang dianggap tidak pernah mempunyai rasa takut, telah secara otomatis didaulat menjadi eksekutor pembersihan segala hewan menjijikan seperti kecoak, cicak, kelabang, tikus termasuk juga kotoran kucing.
Kucing-kucing itu beberapa kali buang kotoran di halaman, di bawah tanaman dan taman kami. Saking kesalnya, istri saya menyuruh untuk membeton semua halaman rumah sehingga tidak ada tanah, pasir atau tempat yang nyaman diberaki kucing.
“Terserah!” istri saya makin kesal dengan jawaban ngawur saya, sepertinya memang ia tidak bisa diajak bercanda untuk urusan yang satu itu, “dimana aja asal jangan di rumah kita,”
Saya kira permintaan orang yang sedang emosi tidak perlu ditanggapi, sehingga sampai sekarang kucing-kucing itu tetap buang kotoran di sekitar rumah kami, bahkan beberapa waktu lalu ada yang eek di dalam rumah. Ya, di dalam rumah di dekat mesin cuci.
Saya sebagai satu-satunya makhluk berjakun di rumah, yang dianggap tidak pernah mempunyai rasa takut, telah secara otomatis didaulat menjadi eksekutor pembersihan segala hewan menjijikan seperti kecoak, cicak, kelabang, tikus termasuk juga kotoran kucing.
Kucing-kucing itu beberapa kali buang kotoran di halaman, di bawah tanaman dan taman kami. Saking kesalnya, istri saya menyuruh untuk membeton semua halaman rumah sehingga tidak ada tanah, pasir atau tempat yang nyaman diberaki kucing.
“Loh jangan dong,” kata saya, “Kalau di beton semua, nanti kucing-kucing itu eek dimana?”
Saya kira permintaan orang yang sedang emosi tidak perlu ditanggapi, sehingga sampai sekarang kucing-kucing itu tetap buang kotoran di sekitar rumah kami, bahkan beberapa waktu lalu ada yang eek di dalam rumah. Ya, di dalam rumah di dekat mesin cuci.
Memang kalau benci tidak boleh berlebihan, karena akhirnya Aira, anak bontot kami, sepertinya menjadi sangat menyukai kucing.
Kamis, 27 Juli 2017
Aira Fatimatuzzahra; Sebuah Nama untuk Dua Orang Nenek
Saya hanya tertawa ketika Safa (4 th), menyebut cabang bayi dalam kandungan ibunya sebagai Anak Baru.
Saya membayangkan Safa jadi pemeran antagonis di sinetron ABG labil RCTI. Dengan tampang sengak, dia akan merundung si Anak Baru, “Oh, jadi elo anak baru dari perut ibu?! Jangan sok kecentilan loe ye. Pokoknya ibu itu cuma sayang sama gueh, eloh nyusu air tajin dan tidur di kotak bayi ajaah,”
Sadis.
Nada (6 th), ketika pertama kali diberitahu akan punya adik lagi juga bertingkah lucu. Malam itu, di dalam kamar sebelum tidur, dia merespon kabar itu dengan mata berbinar dan senyum lebar, “Beneran, Bu?”
“Iya,” ibunya menjawab singkat.
Nada diam sebentar. Seperti berpikir. Tersenyum. Sedetik kemudian dia bertanya lagi, “Beneran, Bu?”
Lagi-lagi ibunya menjawab ya.
“Bayinya sekarang dimana?” Nada bertanya.
“Ada di dalam perut ibu,”
Nada kembali diam, senyum, dan bertanya lagi, “Beneran, Bu?”
Pertanyaan itu diulang beberapa kali. Sambil senyumnya makin merekah.
Jika saja kejadian itu direkam dan diunggah ke medsos, pasti akan viral bahkan sampai ditonton para Lemur di pedalaman Madagaskar.
Saya juga masih ingat ketika Nada dan Safa lahir. Saya masih bisa merasakan debaran ketika menunggu mereka di ruang tunggu Rumah Sakit. Ketika melihat mereka untuk pertama kali, rasanya seperti bertemu seseorang pada first blind date, dan orang yang kamu temui melebihi segala ekspektasimu. Rasanya hyjtwxcvbghtszmlqwpxfghtr. Ya, seperti itu.
Nada lahir 7 tahun yang lalu di RSUD Bekasi, yang ceritanya saya abadikan dalam Di Bawah Bendera Sarung. Sementara Safa lahir 2 tahun setelahnya. Pagi itu pukul 9. Istri saya dibawa masuk ke ruang operasi untuk di-Cesar. Saya menunggu di ruang tunggu sambil memperhatikan seorang ibu yang menggendong bayi kembar. Di kakinya gelendotan seorang anak laki-laki yang mungkin usianya 4-5 tahun. Meminta perhatian lebih dari ibunya yang sedang kerepotan menggendong dua bayi.
“Iya, nanti kalau sudah sampai rumah ya,” kata ibu tiga balita itu, “Kalau di sini mana ada yang jual?”
Anak yang dibujuk tetap merengek. Ibunya tetap sabar.
Saya membayangkan berada di posisi ibu itu. Tiga anak. Masih kecil-kecil. Semuanya minta diperhatikan. Pasti repot sekali. Seketika nyali saya ciut.
“Kembar ya, bu?” saya berbasa-basi ketika rengekan anaknya mereda.
“Iya, kembar tiga,” sang ibu menjawab sambil senyum, “yang satu ditinggal di rumah sama neneknya,”
Saya semakin ciut.
Alhamdulillah, putri ke tiga saya telah lahir. Kelahiran ini —sebagaimana setiap kelahiran anak-anak sebelumnya, membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik.
Kami memanggilnya Aira Fatimatuzzahra, meminjam nama kedua neneknya dengan harapan nama itu membawa keberkahan dalam hidupnya. Karena rida dan kasih sayang mereka adalah hal yang selalu kami harapkan. Semoga Allah mengampuni dosa kedua orang tua kami dan selalu menjaga dan menyayangi mereka.
Akhirnya, hanya kepada Allah kami memohon pertolongan dan kekuatan. Meminta ampunan atas segala kesombongan dan keangkuhan.
Wahai Tuhan Maha Pemberi Petunjuk, Berikanlah pada hati kami kelapangan, keterbukaan untuk menerima segala kebaikan. Kuatkanlah kami untuk terus menemukan inspirasi untuk dapat mewujudkan segala keinginan kami.
Wahai Allah Yang Maha Sempurna, lengkapilah usaha kami yang selalu tidak pernah paripurna.
Wahai Allah yang Maha Pememberi Kesejahteraan, Anugrahkanlah kepada kami kemampuan untuk berbahagia dengan kebahagian orang lain. Jadikanlah kami jiwa-jiwa yang kaya dan berikanlah kami kemampuan menjadi kaya tanpa mengalahkan.
Wahai Allah Pemilik Masa Depan, cukupilah masa depan kami. Cukupilah kami yang tak punya penghasilan tetap, karena yang tetap hanya pemberian-Mu.
Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun, maafkanlah segala dosaku dan keluargaku, ampunilah segala kehilafan kami yang tak kunjung selesai.
Wahai Allah yang Maha Penyayang, Jadikanlah kami dan anak keturunan kami orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ilhamkan kepada kami untuk tetap mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugrahkan kepada kami dan kepada anak keturunan kami. Sungguh kami bertaubat kepada-Mu dan sungguh kami adalah termasuk golongan yang berserah diri.
Langganan:
Komentar (Atom)