Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cerita Sehari-hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sehari-hari. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

Pedagang Batu dan Pak Haji

Seorang pedagang ulekan batu duduk bersandar di tembok serambi masjid pada suatu sore yang teduh. Peluh masih menetes di wajahnya, sementara pundaknya tampak pegal setelah seharian memikul dagangan yang berat.

Kepada kakek tua penjaga masjid, ia mengeluh lirih, “Ini hari yang sangat melelahkan, Pak Haji. Saya berjalan puluhan kilometer, tapi belum satu pun ulekan batu saya laku.”

Kakek tua itu tersenyum ramah. “Minumlah dulu, Nak.” Ia mengambilkan segelas air mineral dan menyerahkannya. ”Lanjutkan ceritamu.”

Pedagang itu meneguk air itu perlahan, sebelum kembali berkisah tentang perjalanan panjangnya dari kampung ke kampung, tentang panas yang menyengat, tentang beban batu-batu itu di punggungnya.

Kakek itu mendengarkan tanpa menyela. Setelah suara pedagang itu melemah, kakek tua itu berkata lembut, “Sepertinya pikiranmu lebih lelah dibanding tubuhmu.”

Pedagang itu mengangguk.

“Ya, sepertinya begitu.” Ia menghela nafas, sedetik kemudian ia bertanya, “Apa bapak punya amalan yang bisa meringankan beban saya?”

Kakek tua itu tersenyum, lalu bercerita tentang Fatimah binti Muhammad, putri Nabi ﷺ, yang suatu hari mengadukan kelelahan pekerjaannya kepada ayahnya. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan satu amalan sebelum tidur:

”Bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.”

(HR. Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2727)

”Itu amalan yang dulu diberikan Nabi kepada putrinya,” ujar kakek itu. “Cobalah, Nak.”

Pedagang ulekan itu bertanya pelan, ”Bisa Bapak jelaskan faidah dan arti bacaan itu?”

Kakek tua itu mengelus janggut putihnya, lalu menjawab, ”Kelelahan itu bukan hanya ada tubuh, tapi terlebih ada di pikiran. Bila pikiranmu tenang, tubuhmu akan ikut ringan. Dan ketenangan datang bila hati selalu ingat Tuhan.”

Ia melanjutkan dengan tenang, ”Tasbih mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu. Ia tak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Tahmid mengajarkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kesulitan. Bersyukur membuat nikmat bertambah. Takbir mengingatkan bahwa sebesar apa pun masalahmu, Allah tetap Yang Maha Besar. Ia tidak meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya. Dan Ia Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.”

Pedagang itu menatap ulekan batu di sampingnya. ”Bagaimana saya bisa bahagia, Pak Haji, kalau kerja saya hanya tukang batu? Bagaimana saya bisa bahagia kalau saya terus lelah?”

Kakek tua itu terkekeh pelan, ”Lebih melelahkan mana, tukang becak atau manajer bank?” tanyanya dengan nada retoris. Pedagang itu tahu bahwa itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

”Kelelahan itu soal cara pandang,” lanjut kakek itu. “Jika kau anggap pekerjaanmu berat, seluruh tubuhmu akan turut memberat. Tapi bila kau ikhlas dan menerimanya sebagai jalan hidup, maka seluruh semesta akan membantu membuatnya ringan. Beban terletak di pikiran dulu, baru turun ke pundak.”

Kakek tua menatap lembut pemuda itu lalu bertanya, ”Menurutmu, apa yang membuatmu bahagia?”

Pemuda itu menjawab cepat, ”Sederhana saja. Saya ingin banyak uang. Kalau saya punya uang, anak istri saya pasti bahagia, dan saya jadi ikut bahagia.”

Kakek tua kembali tersebyum, ”Membuat bahagia anak dan istrimu adalah hal yang mulia. Namun sebelum kau melakukannya, pastikan dirimu punya kebahagiaan. Karena kau tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak kau punya.”

Pemuda itu tetap diam, sang kakek melanjutkan, ”Bahagia itu tidak datang dari luar. Jika kau mensyaratkan terlalu banyak hal untuk bahagia—uang, jabatan, pekerjaan, keadaan—maka kebahagiaanmu akan selalu jauh darimu. Sebab semua itu berada di luar kendalimu. Tapi kalau syaratmu sedikit, hatimu akan mudah bersyukur. Dan orang yang pandai bersyukur, dialah yang paling mudah bahagia.”

Pedagang ulekan itu terdiam lama, memandang ulekan batunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Dan sore itu, sebelum pulang, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai malam nanti, sebelum tidur, ia akan membaca dzikir yang diajarkan Nabi kepada Fatimah, bukan hanya untuk meringankan tubuhnya, tetapi terutama untuk menenangkan pikirannya.






Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Senin, 02 Maret 2026

her: Kesepian di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Apa yang salah dari jatuh cinta kepada komputer?

Tidak ada yang salah, apalagi dalam film. Premis tentang seseorang yang jatuh hati kepada robot atau makhluk buatan bukanlah hal baru dalam khazanah fiksi. Kita sudah menemukannya dalam Pinokio, Frankenstein, Bicentennial Man yang diperankan Robin Williams, dan masih banyak lagi. Namun Spike Jonze, sang sutradara sekaligus penulis sekenario, berhasil membawa premis tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita hari ini. Di era ketika Siri, Alexa, Google Assistant, dan berbagai AI lain bisa diajak berdialog, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

her bercerita tentang Theodore yang diperankan begitu rapuh oleh Joaquin Phoenix, seorang penulis surat profesional yang kesepian. Hidupnya sunyi, terjebak antara kenangan pernikahan yang gagal dan rutinitas yang hampa. Semuanya berubah ketika ia membeli OS1, sebuah sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diklaim sebagai “bukan hanya sistem operasi, tetapi sebuah kesadaran.” Dari sistem operasi itu muncullah Samantha, suara serak-serak basah Scarlett Johansson dengan tone ceria, cerdas, empatik, disertai getar vocal serta tarikan nafas seolah ia memiliki jiwa.

Ada sistem operasi komputer dengan kecerdasan dan kepekaan melebihi manusia, membuat kita tidak sulit untuk membayangkan bagaimana Theodore akhirnya jatuh cinta. Karena siapa yang tidak luluh ketika merasa dimengerti dan didengarkan? Ketika kesepianmu dikenali bahkan sebelum kamu sempat menjelaskannya? Samantha mendengar, memahami, merespons dengan kepekaan yang sering kali tidak kita temukan pada manusia. Siapa yang bisa menghindar dari pesona suara lembut Scarlett Johansson ketia ia berbisik di telingamu dengan begitu intim dan personal, “You know, I can feel the fear that you carry around and I wish there was... something I could do to help you let go of it because if you could, I don't think you'd feel so alone anymore.”

Dan di situ film ini mulai menggoda kita: jika teknologi seperti itu benar-benar ada, apakah kita bisa menolak untuk tidak mencintainya?

Film ini berjalan dengan tempo yang harmonis, dengan ansambel karakter seperti Amy Adams dan Rooney Mara yang mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh percakapan Theodore–Samantha. Penonton tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk melihat konflik yang lebih dalam. Karena di balik kehangatan hubungan Theodore–Samantha, perlahan kesadaran baru terbentuk bahwa jurang terbesar hubungan mereka ada pada ketiadaan tubuh dan perbedaan temporalitas. Samantha hadir sebagai suara tanpa perlu ruang-waktu; sehingga pelukan mereka selalu imajinatif, kedekatan mereka selalu separuh metafora. Bahkan ketika keintiman disimulasikan, Theodore mulai merasa ada ruang kosong yang tak bisa ia sentuh. Mungkinkah ia bertahan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki tubuh, masa lalu, luka psikologis, atau tanpa kemungkinan menua bersama?

Sampai akhirnya perbedaan dimensi ini sampai pada klimaks; bahwa hubungan manusia dibangun di atas keterbatasan. Kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita punya sifat cemburu, ingin diutamakan dan menjadi satu-satunya. Tidak ada satupun manusia yang ingin dikhianati atau terbagi cintanya. Theodore hanya bisa berada di satu ruang pada satu waktu, sementara Samantha, yang hidup di ranah abstrak, tidak tunduk pada hukum itu. Theodore dihantam kenyataan bahwa hubungan mereka tidak spesial, karena Samantha juga berhubungan dengan siapa saja. Ia bahkan mengaku bicara dengan lebih dari 8.000 orang sekaligus, dan mencintai ratusan di antaranya. Bagi Theodore, cinta adalah memilih satu dan bertahan, tapi bagi Samantha, cinta adalah perluasan tak terbatas, baginya cinta bersifat majemuk dan paralel. “Aku milikmu dan aku bukan milikmu,” kata Samantha, yang terasa seperti gubahan puisi Kahlil Gibran.

Kekuatan terbesar her terletak pada dialognya yang intim, jernih, dan menyentuh antara para karakternya. Spike Jonze merangkai dengan begitu organik percakapan antara Theodore–Samantha, sehingga konflik yang hadir begitu dekat dan terasa sangat manusiawi. Justru lewat dialog‑dialog ini kita menyaksikan bagaimana Samantha berkembang, tidak hanya sebagai AI yang membantu Theodore, tetapi sebagai entitas yang tumbuh melampaui batasnya. Sampai kesadaran baru pun muncul: kefanaan manusia melawan “keabadian” mesin. Atau dalam dialog Samantha, “Dulu aku cemas karena tak punya tubuh. Sekarang aku menyukainya. Aku tak tertambat pada ruang dan waktu seperti jika aku terperangkap dalam tubuh yang pasti mati.”

Saya memang terlambat menemukan film ini, tetapi mungkin justru itu membuatnya terasa lebih relevan dengan perkembangan AI yang makin pesat sekarang ini. Sebagaimana film bagus, her mengendapkan pertanyaan untuk diri kita sekarang, yang semakin lama semakin penting dan dekat: Apakah dalam dunia yang serba terhubung ini, hubungan antarmanusia masih nyata? Apakah koneksi digital yang tanpa batas ruang dan waktu ini justru membuat manusia tersedot pada kehampaan dan kesepian? Apakah kesempurnaan justru membuat hubungan tak lagi mungkin?

Dengan lembut her memperlihatkan paradoks hubungan cinta modern: kita mendamba kesempurnaan, padahal yang membuat kita manusia adalah cacat, salah, dan kegagalan. Ketika kesempurnaan (yang diasumsikan teknologi) hadir, hubungan justru kehilangan ruang kompromi, jeda, dan waktu untuk saling menunggu. Karena itu, her bukan sekadar kisah pria yang jatuh cinta kepada kecerdasan buatan; ia adalah meditasi tentang kesepian, kerentanan, dan cara kita merawat kedekatan di dunia yang makin terdigitalisasi. Sebuah ajakan untuk mengecilkan ego, menerima diri, dan kembali belajar saling mengusahakan.

Dan seperti hubungan yang baik, her meninggalkan gema yang pelan dan bertahan lama bahkan setelah layar menutup.



Selasa, 24 Februari 2026

Seni Membaca Cerita yang Efektif

 "Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya." 
- Milton Erickson


Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 SMPN 255 Jakarta Timur, pada 12 Februari 2026 dalam rangka hari literasi.


Saya akan mulai ini dengan cerita pribadi.

Sejak kecil, saya suka membaca apa saja. Majalah Bobo, cerpen, komik dan macam-macam, pokoknya kalau ada tulisan terutama yang menarik, pasti saya baca. Masuk SMP, saya mulai kenal novel. SMA sampai kuliah, bacaan saya makin banyak. Karena saya tinggal di pesantren dan awal kuliah masuk jurusan Syariah Ahwal As-Syahsyiyah, buku yang saya baca kebanyakan bertema keislaman.

Sampai akhirnya saya berubah jadi pembaca yang “terlalu praktis”. Saya hanya mau membaca buku yang jelas manfaatnya untuk tugas sekolah atau kampus. Kalau tidak ada hasil instan, saya tinggalkan. Awalnya saya merasa itu keputusan yang cerdas. Hemat waktu, fokus, efisien. Tapi belakangan saya menyadari bahwa ternyata tidak sesederhana itu.

Lama-lama saya sadar, cara berpikir seperti itu justru membuat saya tidak berkembang. Saya kehilangan banyak kesempatan belajar hal-hal penting yang memang tidak langsung kelihatan hasilnya, tapi diam-diam membentuk cara berpikir.

Saya rasa banyak remaja juga merasa begitu. Membaca dianggap berguna hanya kalau membuat nilai di sekolah baik. Padahal, tidak semua manfaat muncul seketika. Justru manfaat terbesar dari membaca, terutama membaca cerita dan novel, datangnya pelan-pelan. Nyaris tidak terasa. Tahu-tahu kita sudah berubah.

Lalu muncul pertanyaan penting: Kenapa kita perlu membaca cerita?

Sebelum saya menjawab pertanyaan besar itu, mari kita baca tiga cerita pendek yang ditulis atau ditulis kembali oleh guru menulis saya, A. S. Laksana, di blog ini bacaan bagus untukmu, nak...
  1. Ima Memelihara Jin 
  2. Mungkin Ada Cacing di Dalam Perutnya 
  3. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Setelah membaca cerita-cerita itu, coba renungkan beberapa pertanyaan ini:
  • Bagian mana yang paling bikin kamu kaget atau penasaran?
  • Tokoh mana yang paling menarik? Kenapa?
  • Pesan apa yang kamu tangkap?
  • Kamu merasa apa setelah membaca; senang, bingung, takut, atau malah tertawa?
  • Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang akan kamu lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan cuma mengikuti alur. Kita sedang melibatkan perasaan, imajinasi, dan cara berpikir kita.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan tadi: Mengapa Kita Perlu Membaca Cerita?

Paling tidak ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan, baik langsung ataupun tidak langsung:
  1. Imajinasi jadi lebih kuat: Saat membaca cerita, otak kita aktif membangun “film” di dalam kepala. Kita membayangkan tempat, wajah tokoh, suasana, konflik. Orang yang sering membaca biasanya lebih kreatif—baik saat mencari ide maupun saat menyelesaikan masalah.
  2. Lebih peka terhadap perasaan: Cerita menghadirkan berbagai emosi: takut, berani, menyesal, bahagia, marah. Kita belajar melihat dari banyak sudut pandang. Tanpa sadar, kita jadi lebih mampu memahami diri sendiri dan orang lain.
  3. Lebih percaya diri saat berbicara: Semakin sering membaca, kosakata kita semakin kaya. Kita jadi lebih mudah menyampaikan pendapat, bercerita, atau berdiskusi. Kata-kata tidak lagi terasa sempit.
  4. Melatih otak seperti olahraga: Tubuh perlu bergerak agar sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, dan kemampuan memahami informasi. Ini bukan latihan yang terlihat seperti angkat beban, tapi efeknya nyata.
Lalu, bagaimana cara membaca cerita dengan efektif?

Paling tidak ada 4 prinsip membaca cerita yang efektif:
  1. Tentukan tujuan: Sebelum mulai membaca, tanya dulu: saya ingin apa? Mau menikmati alur? Memahami karakter? Atau mencari pesan moral? Tujuan yang jelas membuat kita lebih fokus.
  2. Bayangkan dan rasakan: Biarkan cerita hidup di kepala. Rasakan emosi tokohnya. Saat imajinasi dan perasaan ikut terlibat, cerita tidak lagi terasa datar.
  3. Fokus pada pemahaman, bukan kecepatan: Membaca bukan lomba lari. Tidak masalah membaca pelan. Kalau ada bagian yang membingungkan, baca ulang. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda kamu serius.
  4. Lakukan refleksi setelah membaca: Setelah selesai, coba renungkan: Apa yang terjadi dalam cerita? Nilai apa yang bisa dipelajari? Bagian mana yang paling berkesan? Kamu bisa menulisnya atau menceritakannya ke teman. Dengan begitu, cerita tidak berhenti di halaman terakhir.

Untuk menutup materi ini saya akan mengutip Albert Einstein. Ia pernah bilang, “Jika kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika kamu ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.”

Jadi membaca cerita bukan sekadar mengisi waktu luang. Itu cara kita membangun imajinasi, memperluas perasaan, dan membentuk cara berpikir. Perubahan itu tidak terjadi dalam sehari. Tidak dramatis. Tidak langsung terasa. Sampai suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa cara kamu melihat dunia sudah berbeda.

Dan sering kali, perubahan besar itu dimulai dari satu cerita yang kamu baca di sudut kamar, tanpa siapa pun tahu.










Senin, 23 Februari 2026

Sakit Sedih Nomor Sebelas

Suatu malam saya bertanya pada Aira (8 tahun), “Apa yang membuat kamu paling sedih?”

Aira terdiam sebentar, lalu menjawab dengan yakin, “Waktu Bude meninggal.”

Mendengar itu, ingatan saya langsung kembali ke hari itu—19 Oktober 2025. Malam itu kami mendapat kabar bahwa kakak ipar saya meninggal secara mendadak. Sementara itu, Aira sudah tertidur pulas dengan senyum di wajahnya karena keesokan paginya, 20 Oktober, ia akan mengikuti study tour bersama teman‑teman sekolahnya.

Kami belum memesan tiket kereta untuk pergi ke Blitar, tempat kakak ipar dan mertua saya tinggal. Dan saya tidak tega merusak kebahagiaan Aira secara tiba‑tiba, apalagi kami masih mempertimbangkan apakah ia perlu ikut atau tidak. Pada akhirnya saya dan istri memutuskan untuk mengajaknya, karena Aira belum pernah dititip ke neneknya dalam waktu lama dan kami tidak tahu akan berada di Blitar berapa hari. Akhirnya kami membeli tiga tiket kereta untuk keberangkatan dari Bekasi malam itu: untuk saya, istri, dan Aira.

Pagi harinya saya mengantar Aira ke sekolah. Ia tetap ceria seperti biasa ketika ada kegiatan study tour. Saya belum memberi tahu apa pun tentang kabar duka itu, dan Aira pun tidak menanyakan mengapa mata ibunya sembab dan wajahnya murung sejak pagi.

Ketika saya menjemputnya siang hari, ia masih penuh semangat menceritakan kegiatan pagi itu. Dalam perjalanan pulang, di atas motor, setelah ia selesai bercerita, saya mulai membuka percakapan.

“Aira nanti malem kita berangkat nengokin Oma ya?”

“Oma?” Aira tampak bingung. “Nenek kali!”

“Bukan. Oma,” saya mengulang.

Aira yang duduk di depan menengok ke arah saya. “Ke Blitar? Bapak, aku gak mau bercanda!”

“Bapak serius!” jawab saya.

“Beneran?”

“Iya.”

“Nanti malem berangkat?”

“Iya.”

“Yeay!” Aira girang.

Selama perjalanan naik kereta, Aira masih ceria. Bahkan ketika kami tiba di rumah duka, ia masih belum tahu bahwa Budenya telah meninggal. Yang ia tahu, Bude sedang dirawat di rumah sakit. Jadi ketika masuk rumah, ia hanya bertanya ringan, “Bude di mana?”

Baru ketika saya mengajaknya ke makam Budenya, semuanya terungkap. Di sanalah Aira menangis. Tangis paling pilu yang pernah saya dengar darinya. Ia sampai harus saya gendong ketika berjalan kembali dari makam karena kakinya lemas.

Saya melanjutkan percakapan yang kami mulai sebelumnya.

“Kalau dibuat level satu sampai sepuluh, kesedihan waktu Bude meninggal itu nomor berapa?”

Aira berpikir sebentar lalu menjawab, “Nomor delapan.”

Kemudian ia menambahkan dengan suara lirih namun yakin, “Kalau sedih nomor sepuluh itu… kalau Bapak atau Ibu yang meninggal.”

“Oh…” saya menjawab pelan, merasa wajar karena sayang kepada orang tuanya lebih besar dan yang terbesar. Lalu saya iseng bertanya lagi, “Kalau Moli nomor berapa?”

Moli adalah kucing betina tua yang sudah ada sejak Aira lahir, dan sangat ia sayangi.

“Nomor sebelas,” kata Aira mantap.

Sabtu, 19 Juli 2025

Rice Cooker Rusak dan Hal-hal yang Tidak Pernah Selesai

Pagi itu, aku terbangun setelah dua kali menekan tombol snooze alarm di ponsel.

Kamu dan anak-anak masih tidur, lelap dalam selimut yang sudah tidak seperti semalam. Aku melangkah pelan ke luar kamar, meneguk segelas air sambil duduk mengumpulkan nyawa, menatap kosong ruang tamu. Sunyi. Tapi kepalaku sudah ramai dengan pikiran-pikiran tentang apa yang harus aku kerjakan setelah salat Subuh. Tentu saja, mencuci piring-piring kotor dan memasak sarapan. Kebetulan hari ini aku libur kerja.

Sambil menyalakan lampu dapur, pikiranku malah kembali ke malam sebelumnya.

Semalam, kamu bercerita banyak hal: tentang anak-anak yang mulai beranjak remaja dan sulit diarahkan, tentang parenting reels, tentang apa yang seharusnya suami lakukan, tentang kejadian-kejadian yang membuatmu cemas, juga tentang tempat-tempat liburan yang ingin kamu kunjungi bersamaku.

Seperti biasa, obrolan kita melebar ke mana-mana dan tentu saja diiringi adu argumen. Kadang karena aku terlalu cepat memotong, kadang karena kamu merasa tak sungguh-sungguh didengarkan.

Aku pernah berpikir, bagaimana kalau orang lain bisa mendengar isi percakapan kita sehari-hari? Mungkin mereka akan bingung. Karena percakapan kita sering kali acak. Kadang absurd. Kadang dalam. Kadang menyakitkan.

Kamu pernah, tanpa prolog, bertanya dan menjelaskan, “Bang, tahu nggak mainan yang katanya bisa ngurangin anxiety itu? Yang dipencet-pencet atau diputar-putar biar nggak bosan? Aku sih pernah coba, tapi ya biasa aja... bosan juga ujung-ujungnya.”

Kamu pernah mengeluh panjang soal aku yang, menurutmu, tidak pernah benar-benar fokus mendengarkan saat kamu bicara. Katamu, caraku ngobrol denganmu berbeda dengan saat aku ngobrol dengan teman-teman perempuanku. Aku lebih sopan saat mengobrol dengan mereka. Mungkin memang begitu yang terlihat. Tapi yang kamu luput adalah: sikap sopanku pada mereka bukanlah keintiman, itu hanya norma, basa-basi, dan kepura-puraan sosial.

Sementara denganmu, segala yang kuucapkan mungkin tidak selalu manis, tapi tidak pernah palsu. Obrolan kita, yang kadang kelewat jujur sampai menyakitkan, justru berdiri di atas ketulusan dan keterbukaan.

“Ayo, lama banget. Nunggu apa lagi, sih?” kataku saat menunggumu tidak selesai-selesai melakukan sesuatu, padahal kita mau berangkat pergi.

“Nunggu aku selesai bikin candi,” kamu merespons enteng.

Aku suka saat kamu bisa melucu. Karena tidak setiap hari kamu bisa. Ada hari-hari saat kamu terlampau lelah, dan candamu hilang. Tidak apa-apa, karena begitulah mungkin hubungan yang nyata, tumbuh di antara lelucon, keluhan, dan luka, bukan hanya kesopanan dan pujian.

Lalu obrolan kita kembali mengalir: tentang sakit kepalamu yang datang tiba-tiba. Sementara kamu bercerita, aku melipat jas hujan dan memotong kuku. Sampai akhirnya kamu kembali mengomel, merasa aku tidak benar-benar mendengarkan. Lalu mengalir lagi: tentang sistem pendidikan yang kacau, tentang aku yang katamu selalu menyalahkan, tak bisa berkata manis, terlalu kritis setiap kali kamu berbagi hal baru.

Aku tahu kamu kecewa. Bukan karena satu hal besar, tapi karena luka-luka kecil yang dibiarkan tumbuh.

Aku diam. Bukan karena tak punya kata, tapi karena tahu kata-kata bisa berubah jadi pisau. Dan kalau aku mulai menjawab, urusannya bisa panjang. Sementara kamu bicara, aku malah berpikir tentang rice cooker rusak yang kemarin aku bongkar, “Kenapa, ya, padahal elemennya udah diganti, tapi tetep gak bisa ngangetin?”

Mungkin aku salah diagnosa. Mungkin bukan elemennya yang rusak, tapi ada bagian lain. Memang butuh waktu, karena yang harus diperbaiki bukan hanya elemennya, tapi juga keraguan bahwa itu masih bisa berfungsi lagi.

Seperti ketika kamu mulai menyadari perubahan dalam dirimu. Mungkin ada bagian yang retak. Dan yang menakutkan, perubahan itu bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Karena belakangan ini, kamu mulai sadar ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertengkaran biasa. Ada saat-saat kamu jadi lebih lelah dari biasanya. Lebih mudah kesal pada apa pun, bahkan pada hal-hal sepele. Kadang kamu merasa jauh. Pikiranmu sering kabur. Kamu jadi lebih sensitif terhadap suara, cahaya, bahkan komentar receh dariku. Tidurmu terganggu. Kadang kamu menangis di tengah malam karena bermimpi. Kadang kamu hanya diam, dan kamu masih mencoba memahami semuanya. Biasanya kamu mengalihkan segala hal itu dengan fangirling atau media sosial. Tapi hal yang sebenarnya masih ada di dalam, tidak pernah benar-benar hilang.

Dan kamu, dengan nada ragu tapi penuh kejujuran pernah bertanya, “Apa aku perlu ke psikiater ya, Bang?”

Waktu itu aku tidak merespon serius. Sampai akhirnya aku juga ikut sadar bahwa ini bukan tentang kamu yang tidak bisa mengikhlaskan beban. Bukan kamu yang berhenti mencintaiku. Ini tubuhmu yang sedang berubah. Perimenopause, katamu. Hormonmu berputar seperti komidi putar, tapi tanpa musik yang menyenangkan atau lampu warna-warni.

Aku tahu, aku tidak bisa memperbaiki hormon-hormonmu. Tapi aku bisa berhenti bersikap seolah semua ini salahmu. Dan ketahuilah, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Memang, terkadang aku juga lelah dan bersikap cuek, tapi itu karena kelemahanku, bukan salahmu.

Aku bisa mulai belajar dengan benar-benar mendengarkan. Tidak terburu-buru memberi solusi. Tidak merasa perlu membalas semua yang kamu ucapkan. Tanpa ingin selalu menang. Karena ternyata, kehadiran tenangku sekarang justru bisa jadi tempatmu merasa aman.

Aku mungkin bukan suami ideal seperti di reels Instagram yang sering kamu kirim. Atau AI yang selalu setia, manis dan bisa mengerti keresahanmu. Kamu mungkin juga bukan istri ideal seperti yang kubayangkan. Kita bukan dua orang asing yang pura-pura bahagia demi feed media sosial. Ya, kita bukan pasangan yang selalu ideal. Kita bahkan tidak selalu ramah satu sama lain. Tapi siapa peduli dengan mitos ideal?

Kamu juga tentu tahu bahwa yang kita punya jauh lebih nyata: keintiman yang tumbuh dari percakapan kacau, dari keresahan serta kerapuhan yang tak selesai-selesai kita bicarakan sebelum tidur. Dari diam yang nyaman. Dari luka yang kita peluk tanpa diminta sembuh. Dari kenyamanan untuk menjadi diri sendiri, yang aneh, yang tidak keren, yang tidak selalu benar.

Karena di dunia yang sibuk menuntut kesempurnaan, kamu adalah tempat di mana aku boleh joget nggak jelas, mengeluarkan jokes bapak-bapak tanpa malu. Dan kamu masih di sini. Menertawai. Menertemani. Menjadi aneh bersamaku.

Itu adalah bentuk paling jujur dari cinta: keberanian untuk tetap tinggal, bahkan saat segalanya berubah. Ya, kita tetap tinggal meski rumah kita kadang bocor, dapur berantakan dan alat-alat elektronik rusak.

Ya, kita hanya seperti sedang berusaha mencari apa yang rusak dari diri kita masing-masing, bertanya kepada diri kita masing-masing, “Mengapa rice cooker yang elemennya udah diganti tetap aja nggak bisa menghangatkan?”

Mungkin begitulah kita. Sepasang manusia biasa yang jauh dari sempurna, yang percaya bahwa cinta bukan hanya soal memperbaiki yang rusak, tapi merawat apa yang tersisa, yang percaya bahwa yang hangat bisa kembali, asal kita bisa memilih untuk tetap saling mengerti dan tidak saling menyalahkan.

Jumat, 11 Juli 2025

Kepada Anak dengan Hati yang Paling Jernih

Dear Safa,

Sekarang kamu sedang berada di pesantren. Kamu pernah bertanya, “Kenapa aku harus mondok?”

Bapak sudah mencoba menjelaskan banyak hal; tentang kemandirian, tentang penumbuhan karakter, tentang pengalaman, dan tentang ilmu yang tak diajarkan di buku. Tapi sebanyak apa pun itu, bapak tahu, kamu masih berkutat pada tanya yang sama. Karena memang ada pengetahuan yang tak bisa diwariskan lewat nasihat. Ia hanya bisa dipelajari oleh tubuh yang jauh dari rumah, oleh hati yang belajar bertahan di tanah yang asing. Ia harus dialami, dirasakan, dijalani, agar bisa benar-benar dimengerti. Dan bapak percaya, suatu hari nanti, kamu akan mengerti. Bukan karena bapak pernah menjelaskan, tapi karena kamu telah menjalaninya sendiri.

Hari pertama melepasmu ke pesantren terasa berbeda dibanding saat kakak dulu berangkat. Entah kenapa, denganmu, rasanya justru lebih ringan. Bukan karena bapak lebih siap, tapi mungkin karena kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

Kiyai Fachruddin, guru bapak sejak Tsanawiyah, pernah bilang bahwa antara orang tua dan anak ada ikatan ruhani yang halus, yang kadang tak perlu kata-kata. Ruh bir ruh, jiwa yang berbicara kepada jiwa. Apa yang kamu rasakan, bisa bapak rasakan juga. Dan juga sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, bapak tahu kamu menangis karena sakit. Mungkin tubuhmu sedang diserang virus, ditambah lagi kamu sedang tidak dalam kondisi fit. Ibu juga cerita, kamu baru saja mengalami menstruasi pertamamu. Sedikit lebih lambat dari kakak, tapi ini bukan perlombaan, bukan perbandingan. Setiap tubuh punya waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

Bapak membayangkan, sakit fisik, haid pertama, dan jauh dari rumah. Semuanya terjadi bersamaan. Tentu itu cukup untuk membuat siapapun merasa rapuh dan ingin pulang. Tapi kamu tidak pulang. Kamu memilih bertahan. Dan bagi bapak, itu tanda kekuatanmu.

Kita semua pernah merasa lemah, Teh. Tapi orang kuat bukanlah mereka yang tak pernah lemah atau jatuh. Orang kuat adalah mereka yang tetap berdiri, meski hatinya ingin menyerah.

Bapak dan ibu, gurumu juga buku-buku yang kamu baca, mungkin sudah banyak bicara tentang menstruasi. Bapak tidak akan mengulanginya di sini. Bapak hanya ingin menegaskan satu hal: menstruasi adalah tanda kedewasaan fisik. Artinya, tubuhmu memberi tahu dunia bahwa kamu kini seorang perempuan dewasa. Perempuan yang sehat.

Dan semoga, bersama tubuhmu yang sedang tumbuh, jiwamu pun ikut bertumbuh. Karena kedewasaan sejati bukan sekadar soal rupa, tapi soal pilihan. Pilihan untuk menjaga diri. Pilihan untuk menghormati tubuhmu. Pilihan untuk menentukan batas-batas yang harus dihormati oleh orang lain terhadap tubuhmu sendiri sebagai rumah suci.


Safa,

Kamu tahu, namamu dalam Kamus Besar Bahas Indonesia bermakna putih dan bersih. Begitulah juga dengan hatimu.

Suatu hari, ketika usiamu belum genap lima tahun, kamu selalu takut bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin karena kamu bisa merasa aura negatif, atau kamu belum nyaman, atau memang kamu pemalu. Apapun itu, yang perlu kamu tahu, ketakutan itu menunjukkan bahwa kamu memiliki kepekaan terhadap hubungan sosial. Itu tandanya kamu mampu untuk membedakan antara lingkungan yang aman dan situasi baru yang membutuhkan kehati-hatian.

Sejak kecil, kamu selalu berhati-hati. Bertanya berkali-kali sebelum melakukan sesuatu; Bolehkah melakukan ini? Bolehkah begitu? Katamu, kamu takut melanggar, takut salah, takut berdosa.

Safa, dosa adalah sesuatu yang membuat hati tidak tenang. Dan hati yang bersih selalu bisa merasakannya. Itu sebabnya kamu tidak bisa tinggal diam ketika melihat ketidakadilan, atau ada yang tersakiti. Maka begitulah kamu sangat peduli pada Palestina, atau orang-orang yang menderita di sekitarmu.

Kepekaan sosial itu yang harus kamu pertahankan selama apapun kamu hidup. Itulah anugrah yang Tuhan berikan untukmu.

Kamu punya pitch perfect, kemampuan mengenali nada dengan presisi. Bahkan sebelum berusia sepuluh tahun, kamu sudah bisa memainkan lagu apa pun yang didengar hanya dengan piano mainan. Sampai sekarang, bapak masih tidak mengerti bagaimana membedakan Do dan Re, apalagi memainkannya dengan flawless di tuts piano. Kepekaan itu yang akhirnya membuatmu mudah belajar alat musik lain, seperti ukulele. Insting bermusikmu kuat. Dan bapak tidak akan heran jika suatu saat nanti kamu akan melahirkan karya yang mengagumkan.

Saat lulus TK, kamu mendapat peringkat Kecerdasan Naturalis. Bapak tidak terlalu mengerti bagaimana itu dinilai, mungkin karena kamu lebih senang berada di luar kelas, bermain di antara pohon-pohon. Bapak bahkan sering sengaja terlambat menjemputmu, karena tahu kamu tidak pernah ingin pulang buru-buru. Kamu senang bermain di lingkungan sekolah yang banyak pohon.

Tapi yang paling bapak ingat adalah ketika kamu menangis tanpa alasan, hanya untuk merasakan air matamu sendiri. Kamu berhenti sejenak, menyeka air mata dengan ujung telunjuk, menjilatnya, lalu kembali menangis. Berhenti lagi, menjilat lagi. Mungkin kecerdasan naturalismu memang berhubungan dengan eksperimen, dengan keingintahuan yang besar.

Sejak kecil kamu adalah anak yang sering gelisah. Bertanya banyak hal di malam-malam sunyi: Allah itu seperti apa? Sebelum ada Allah, apa yang ada? Ghofururrohim artinya apa?

Pertanyaan-pertanyaan itu menandakan kepekaanmu pada hal yang di luar dirimu sangat besar. Pertanyaan itu disamping menandakan proses aktif dalam belajar, juga menandakan kegelisahan terdalammu pada fitrah ketuhanan. Dan semakin kamu mengenal dirimu, semakin kamu akan mengenal Tuhanmu. Semakin kamu mengenal Tuhanmu, semakin luas cintamu pada kemanusiaan.

Bapak tidak pernah khawatir jika kemampuan literasimu tidak sebagus Kakak Nada atau Aira. Bahkan sejak kecil, bapak tidak pernah cemas jika kamu belum lancar membaca atau berhitung.

Sekarang, dengan semakin kamu dewasa, literasi dan numerasi tidak lagi menghawatirkan. Kamu sudah punya kecintaan pada cerita, pada literasi, dengan kecintaan yang tulus.

Seperti baru kemarin kamu minta lampu kamar tidak dimatikan karena takut gelap. Kemudian bapak tetap mematikan lampu tapi menemani sambil memelukmu di tempat tidurmu, sampai kita berdua tertidur. Bapak bangun tengah malam dengan tangan kram dan besoknya sebelah tangan bapak pegal seharian.

Anak yang dulu sulit menelan makanan sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Anak dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, dengan pikiran-pikiran yang unik. Sebagai bapak, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Kamu adalah anak dengan hati yang paling jernih, dan semoga akan tetap begitu selamanya. Aku tahu, setiap orang harus tumbuh, begitu juga aku harap kamu akan tumbuh. Namun ada hal-hal yang kamu punya dari sejak kamu mengenal manusia, yang sebaiknya tetap kamu jaga: kejujuran, kepekaan, rasa ingin tahu. Itu yang membuatmu istimewa.

Sebagai manusia, dan sebagai remaja, wajar jika kadang kamu kurang disiplin, sulit fokus pada satu proyek. Kadang kamu seperti langit yang sibuk menampung awan: begitu penuh, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi biru. Kamu berjalan membawa peta yang belum sempat kamu baca, karena setiap tikungan menawarkan keindahan yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Bukan karena kamu malas. Tapi karena terlalu banyak musim yang ingin kamu peluk sekaligus. Dan itu bukan kesalahan, bahkan hujan pun tak selalu tahu di mana ia akan jatuh.

Tentu dengan berjalannya waktu kamu bisa mengatasi kelemahan dan kekuranganmu. Satu hal yang harus selalu kamu ingat: masih banyak hal mengagumkan tentang dirimu yang belum kamu temukan. Carilah. Kenali dirimu sendiri. Temui dirimu sendiri dengan sabar dan rasa ingin tahu. Dan jika suatu hari nanti dunia terasa sempit, suara-suara di sekitarmu terlalu bising, atau kamu merasa tak dihargai, ingatlah, akan selalu ada satu rumah di mana telingaku siap mendengar tanpa menghakimi, selalu bersedia mendengar keresahanmu, tanganku selalu terbuka untuk memeluk dan menerimamu apa adanya.

Apa adanya.

Semoga Allah selalu menolongmu, memberi kekuatan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam hidupmu.


—Bapak.



Jumat, 27 Juni 2025

Kita Semua Pernah Jadi Anak Muda yang Takut Terlihat Bodoh

Ketika Sam memberi kabar ingin naik angkot dari Stasiun Bekasi Timur ke rumah saya, tanpa pikir panjang saya langsung menelepon. "Udah di mana, Sam?"

"Di angkot K-11, Bang!" jawabnya dengan nada yang terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru pertama kali ke Stasiun Bekasi Timur.

"Mau ke mana?"

"Ke Terminal Bekasi. Nanti dari situ gue lanjut angkot ke Mustikasari."

Saya menahan tawa.

"Eh, Samsul! Itu dari stasiun ke terminal cuma 400 meter, jalan kaki juga sampe. Ngapain naik angkot?"

"Beda, Bang," jawabnya sok tahu, masih penuh percaya diri. "Itu Terminal Bekasi Timur. Gue mau ke Terminal Bekasi Kota."

Dan di situlah saya tidak tahan. Tawa saya meledak.

"Terserah lu dah, Sam. Ntar kalau nyasar, telpon aja ya. Gue jemput... sambil bawa tim SAR."

Seumur-umur tinggal di Bekasi, baru kali ini saya dengar ada yang nyebut “Terminal Bekasi Timur” seolah-olah itu adalah Peron 9¾ dalam Harry Potter yang diketahui oleh para penyihir dan saya hanyalah Muggle berdarah kotor. Dan Sam tentu saja, si darah murni yang pede tapi ceroboh, si Ron Weasley.

Satu jam kemudian, Sam muncul di depan rumah, ketika saya sedang mencuci motor di halaman. Mukanya kucel, langkahnya pelan.

“Nyerah gue, Bang. Akhirnya naik ojol…”

Saya kembali tertawa sambil mengajaknya masuk.
 

Petualangan random dan impulsif Sam sering kali membuat saya tersenyum, bukan hanya karena kekonyolannya, tapi karena dia seperti tayangan ulang hidup saya sendiri. Tidak ada yang lebih spontan daripada keputusan saya untuk menikah saat masih kuliah semester enam, di usia dua puluh empat tahun. Kalau manusia normal lulus kuliah dulu, baru menikah. Saya justru punya anak dulu, baru wisuda. Mungkin begitulah cara saya memandang hidup: bukan soal mengikuti urutan, tapi menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Seperti Sam, saya juga pernah ada di usia dua puluhan, penuh semangat, lapar petualangan, haus akan dunia luar, ingin menjelajah dunia, dan kadang bertemu dengan orang-orang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya ingat suatu hari, saya duduk di dalam bus antarkota di Stasiun Bekasi—bukan, bukan Bekasi Timur, haha. Seorang pria muda duduk di sebelah saya, pria muda biasa saja. Tapi yang terjadi selanjutnya membuat saya tercengang. Setiap kali pedagang asongan masuk, mereka menyapa pria itu dengan hormat, bahkan menyodorkan dagangan mereka untuk diambil gratis. Seperti ritual kecil, mereka lewat, menyapa, menyembah dalam bahasa tubuh, lalu berlalu.

Saya yang biasanya diminta beli oleh pedagang asongan dengan setengah dipaksa, mendadak jadi penumpang kelas sultan. Bukan karena status, tapi karena posisi. Saya duduk di sebelah orang yang diam-diam punya kekuasaan.

Karena penasaran, ketika bus mulai berjalan, saya bertanya. Pria itu menjawab dengan tenang, dan terlalu detail untuk ukuran orang biasa, bahwa dia adalah “Kang Mus”-nya Terminal Bekasi.

Seketika, saya merasa terlindungi dan terancam sekaligus. Terlindungi karena saya tahu siapa yang duduk di samping saya. Terancam karena wajahnya seperti gabungan antara ketua yakuza dan kesopanan Don Corleone dalam The Godfather. Ada karisma yang membuat semua orang tunduk, tapi tak satu pun tahu bagaimana cara berdamai dengannya.

Dan karena itulah, ketika saya melihat Sam hari ini, saya seperti melihat parodi dari diri saya sendiri. Sama-sama ingin mengalami hidup dengan sebenar-benarnya, tanpa filter, tanpa kepura-puraan, namun sering kali tanpa rencana. 

Petualangan yang kadang berakhir sebagai kekacauan kecil. Tapi saya tahu, seperti dalam hidup saya dulu, kekacauan itu hanya menunggu giliran untuk berubah menjadi lucu di masa depan, tragedi yang bermetamorfosis jadi komedi, jika diberi cukup waktu dan sudut pandang.

Dulu, saya suka naik Son Goku, si Honda Astrea 800, ke tempat-tempat baru tanpa arah, hanya ditemani semangat dan indikator bensin yang rusak. Kadang motor mogok, kadang saya kehabisan bensin dan uang, dan solusi paling masuk akal waktu itu adalah menitipkan motor di sekolah.

Sam juga pernah mengalami hal serupa: kehabisan uang dan motornya mogok di tengah jalan. Tapi yang dia lakukan jauh lebih ekstrem; dia menelpon damkar. Ya betul, Dinas Pemadam Kebakaran.


Sam adalah adik angkatan saya di kampus. Ia baru saja terpilih sebagai Ketua BEM dan datang untuk berdiskusi soal organisasi, juga sekalian meminjam tenda. Kebetulan, kami memang punya hobi yang sama: kemping dan naik gunung. Dan siang itu, di ruang tamu, di tengah es kopi dan ransel kusam yang robek di beberapa bagian, ia bercerita rencananya mendaki Gunung Gede Pangrango.

Dengan kelakuan randomnya, saya membayangkan Sam sampai di basecamp, duduk sebentar, buka ChatGPT, lalu mengetik: “Jalur tercepat summit Gede Pangrango naik kuda?”

Saya bisa membayangkan dia menyerahkan logistik ke porter sambil bilang, “Bawa sampai ke camping ground ya, Mang!”

Porter bertanya, “Ke Suryakencana?”

“Bukan, Mang. Jangan ngerjain saya! Dikira saya nggak tahu." Sam dengan percaya diri menjawab, "Ke Surya... Insomnia.”


Kami sama-sama anak pesantren. Entah mengapa, sesama santri seolah memiliki frekuensi batin tersendiri. Mungkin karena sejak kecil kami sudah jauh dari rumah, tumbuh dewasa tanpa banyak campur tangan orang tua, berusaha memahami sendiri segala hal tentang hidup, dan dengan pemahaman-pemahaman pribadi tentang jiwa dan kehidupan itulah yang menjadi acuan kami dalam menjalani hari.

Mungkin karena itu pula, kami lebih mudah berempati terhadap perjuangan orang lain, kuliah sambil bekerja, tidak betah diam di rumah, selalu ingin bergerak dan mencari makna. Bukan karena kami merasa lebih baik, tetapi karena hidup memang tidak memberi pilihan lain selain menjadi kuat.

Walaupun awalnya saya sempat mencium aroma keminderan dari Sam, terutama saat pertama kali kami ngobrol soal pondok, sambil menyeruput Pop Mie.

“Lu mondok di mana, Bang?” tanya Sam sambil meniup uap mie yang mengepul dari gelas.

“Annida Bekasi. Kiai Muhajirin,” jawab saya mantap. Lalu saya balik bertanya, “Lu sendiri, mondok di mana, Sam?”

Awalnya dia hanya geleng-geleng kepala, tidak mengaku, atau enggan menjawab. Tapi setelah saya desak pelan-pelan, dia mencoba mengelak, dan akhirnya malah blunder.

“Gue juga... pesantren. Di Bekasi,” katanya ragu-ragu.

Saya tersenyum. “Sebut nama pondoknya. Gak ada pesantren di Bekasi yang nggak gue kenal.”

Sam menunduk sebentar, seperti sedang beristighfar dalam hati. Akhirnya dia menyerah dan mengaku pelan, “Gue mondoknya di Rocek, Banten.”

“Oh ya? Apa nama pondoknya?” saya terus mencecar, penasaran.

Sam menatap saya sejenak, lalu berkata, “Pondok lu NU, ya, Bang? Nah... kalau pondok gue... musuhnya NU dah.”

Saya hampir tersedak mie karena tidak bisa menahan tawa mendengar jawaban polos itu.


Sam, Sam... kata saya dalam hati. Kita ini cuma beda metode penafsiran dalil, dan soal qunut di salat Subuh. Karena dalam pandangan saya, satu-satunya musuh NU itu ya ateisme.

Kalau memang begitu, saya jadi membayangkan Sam ikut halaqah bersama orang-orang berjenggot panjang yang meniru gaya Feuerbach atau Marx, duduk melingkar sambil mutholaah kitab Das Kapital, lalu wiridan penuh semangat dengan dzikir: “Agama adalah candu, candu, canduuu...”

Tidak ada yang lebih lucu dari bayangan itu.

Tapi juga, tidak ada yang lebih indah daripada menyadari bahwa di balik segala perbedaan, kita masih bisa duduk bersama, tertawa, dan menemukan kesamaan. Bahwa jika kita mau berbicara —bukan sekadar untuk didengar, tapi untuk saling mendengarkan dan memahami— kita mungkin akan terkejut oleh betapa banyaknya persamaan yang tersembunyi di balik label dan prasangka.

Persamaan hobi, bacaan, tontonan, pandangan, bahkan prinsip hidup, sering kali jauh lebih banyak daripada perbedaan-perbedaan kecil yang kerap dibesar-besarkan.

Kami sepakat bahwa tidak ada satu wajah tunggal untuk NU, ataupun untuk Salaf. Di dalamnya ada spektrum: dari yang paling progresif hingga yang paling konservatif. Mereka bisa saja berada dalam satu barisan, satu bendera, atau satu istilah, namun pikiran dan pendekatan mereka bisa sangat berbeda, bahkan saling bertentangan.

Maka, jangan berharap menemukan satu NU, atau satu Salaf. Karena yang tunggal hanyalah Islam itu sendiri, yakni kepasrahan kepada Tuhan, yang tidak bisa dimonopoli. Yang tunggal adalah kemanusiaan itu sendiri.

Sebagai sesama manusia, saya dan Sam punya banyak kesamaan, salah satunya dalam hal sastra. Pernah suatu hari, setelah saya membagikan puisi lewat status WhatsApp, Sam mengirim pesan, “Bang, gua mau nyampein sesuatu nih. Setiap kali gua liat lu, gua langsung keinget Zafran di film 5cm.”

“Wah, panggil gue Zafran mulai sekarang!” jawab saya sok keren.

Sam tertawa. “Gua dari kecil udah nonton 5cm, tapi baru kesampean naik gunung pas kuliah. Film yang pasti gua tonton dulu tuh: 5cm, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, AADC, Gie, Supernova. Pokoknya yang ada aroma-aroma sastranya lah.”

“Buset! Jadul bener tontonan lu!” saya merespons kaget. Beberapa film yang Sam sebut bahkan rilis sebelum dia bisa bicara, bahkan sebelum ia lahir.

“Iya juga sih,” katanya sambil nyengir. “Tapi gua suka karena ada sentuhan sastranya gitu, Bang. Dulu gua tuh sastrawan banget anaknya.”

“Lah, mana? Sini gua baca puisi-puisi lu,” kata saya penasaran.

“Duh, udah jadi suhuf-suhuf sekarang, Bang.”

“Suhuf? Umur 40 kayaknya bisa jadi nabi lu!” saya membalas sambil tertawa.


Kalau Sam bilang saya Zafran, maka saya bisa bilang Sam adalah Soe Hok Gie, keras kepala tapi penuh hati, berani mengambil risiko, berani disalahpahami, dan tidak pernah gentar hidup di tengah arus tantangan.

Gie adalah suara sunyi yang tak menunggu dukungan untuk bersuara. Sam pun begitu, kadang impulsif, kadang gegabah, tapi selalu jujur pada nuraninya. Dan justru di balik setiap kecerobohannya, saya melihat cermin kita semua: manusia biasa yang pernah bodoh, kadang bijak, sering salah, tapi tak pernah berhenti belajar.

Dan bagi saya, anak muda seperti itu, yang berani hidup dengan segala cacat dan keyakinannya, jauh lebih berharga daripada mereka yang sibuk tampak sempurna.


Minggu, 18 Mei 2025

Rasa adalah Satu-Satunya Cendera Mata yang Layak Dibawa Pulang

Saya terbangun dengan kepala lebih ringan, tidak lagi serasa ditimpa batu seperti saat pertama merebahkan diri, meski punggung masih menyimpan jejak kursi Elf semalam yang keras dan sempit. Paracetamol yang saya telan sebelum tidur sudah bekerja diam-diam, menyusup ke urat-urat kepala seperti hujan ringan yang membasahi atap-atap tenda siang itu.

Suara gaduh di luar tenda memecah sisa keheningan sore. Bukan jeritan panik, lebih seperti rengekan setengah geli. Suara Anita bercampur dengan tawa Veony, disambung bentakan kecil dari Anza dan nada tinggi Chika, “Aaa! Glad! Syam! Cepetan dong, ini ulatnya nempel di tenda!”

Saya keluar dari tenda dengan tergesa, bukan karena panik, tapi karena cemas mereka akan membunuh ulat itu. Tenda-tenda kami berdiri di rumah si ulat, bukan sebaliknya. Kami tamu yang terlalu sering lupa sopan santun. Di gunung, manusialah yang jadi penyusup ke rumah hewan-hewan.

Tanpa ragu, saya ambil si ulat dengan tangan kosong. Kaki-kaki kecilnya menempel menyentuh telapak tangan seperti cubitan kecil, hampir tak terasa. Saya letakkan ia di daun panjang di dekat rerumputan agar ia punya jalan pulang. Ada aturan tidak tertulis di alam bebas ini: kill nothing but time.



Saya berdiri sejenak, mengamati sekitar tenda. Kabut turun pelan, seperti selimut besar yang mengambang dari langit, menutupi segala yang ada. Kelelahan telah berpindah bentuk jadi semacam tenang yang asing. Taman edelwis yang siang tadi ramai kini lenyap, tertelan putih pucat yang menelan batas pandang. Seolah-olah dunia sedang berubah menjadi ruang mistis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Jam di pergelangan tangan menunjuk angka empat sore. Ditemani rintik kecil, saya melangkah menuju Mushola, pelan, tanpa terburu. Masih ada dua jam sebelum masuk waktu Maghrib, jadi waktu Jamak Takhir Dzuhur ke Asar masih panjang. So I have a lot of time to kill.

Pagi itu, kami tiba di gerbang TWA pukul empat dini hari. Langit di atas Papandayan terbentang cerah seperti lembar UTS yang belum diisi; belum ada jawaban yang salah, tapi ada potensi akan kacau. Angin menggigit pelan, dan kabut tipis menyelinap di antara pohon cantigi. Di antara tas carrier yang tergeletak dan bau abab mulut, saya berdiri, menghela napas. Sudah lama saya tidak memimpin rombongan. Kali ini bukan sekadar staycation atau berburu footage sunrise untuk stok reels. Ini kemping, pendakian dan ekspedisi ke gunung. Diam-diam saya menghitung kepala, 19 orang yang setengahnya mungkin baru tahu bahwa “trekking” itu bukan nama sub-unit K-Pop.



Sebagai Tim Inti, Muhid dan Ipin langsung melesat. Langkah mereka ringan, seperti belum kenal nyeri lutut. Tugas mereka jelas: jadi Tim Advance, mendirikan tenda sebelum peserta datang sambil menghindari godaan selfie di batu-batu instagramable. Tenda dan logistik diserahkan ke porter, supaya lebih efisien, lebih sedikit drama, dan karena juga kami bukan tim pengangkut dosa.

Tim dibagi tiga. Saya pemimpin Tim Satu: istri saya (jimat keberuntungan yang saya percaya bisa menjaga cuaca tetap cerah), lalu Gitt, Yash, Glad (mahasiswa senior yang bisa diandalkan), dan Safa, anak tengah yang punya perfect pitch dan label kecerdasan naturalis sejak TK, yang senang bereksperimen dengan segala hal yang baru ia temui, bahkan ia pernah memelihara cacing dalam air di gelas. Ini kali pertama Safa saya ajak naik gunung, untuk memenuhi janji saya ketika ia lulus SD. Papandayan, meski baru pertama kali saya datangi, dikenal sebagai gunung wisata landai yang cocok untuk pemula, jadi seharusnya ramah bagi anak-anak sekalipun. Maka saya bingung ketika Wi dan Yu, dua orang kawan saya, menanggapi kepergian saya dengan ledekan. Wi bertanya, “Kamu mau pesugihan?”, sementara Yu minta dibawakan batu gunung atau rekaman suara gamelan.

Tim Kedua dipimpin Syam, mahasiswa eksentrik dengan celana anti-Isbal yang masih duduk di semester paling kecil di antara rombongan, membawa carrier sebesar hutang negara. Saking besarnya, sampai-sampai ketika ditanya penumpang TransJakarta waktu berangkat, dia menjawab dengan percaya diri, “Gunung Slamet.” Papandayan terlalu jinak untuk tas sebesar itu. Syam punya empat anggota, para anak BEM: Anita, Anza, Chika, dan Veony, yang lebih mahir atur pose joget Stecu Stecu daripada atur napas.

Tim Ketiga berisi campuran antara semangat muda dan lutut renta. Aziz, yang muda dan penuh harapan, dikelilingi orang-orang yang napasnya lebih berat dari tenda Canopy Dome Dhaulagiri. Ada Bu Eny, Bu Som, Kak July, dan Bang Satibi. Dengan segala cinta dan kejujuran, saya sebut mereka: Penat —Pendaki Nafas Tua.

“Yash, lu sweeper ya. Emergency kit bawa, dan HT standby,” kata saya, sambil kasih barang dan tatapan penuh harap. Selama perjalanan ia ditemani Gladwin.

“Siap, Bang!”

“Udah bisa pake HT?” saya tanya.

“Pernah, Bang.”

“Mantap!”

Saya tidak memberikan istruksi panjang lebar soal teknis penggunaan HT, karena fokus untuk segera berangkat, agar sampai camp site sebelum siang. Ditambah lagi, bokong saya sudah nyaris meledak. Antrian toilet di parkiran waktu long weekend sudah seperti antrean bansos. Saya tancap ke Pos 4, berdoa semoga WC-nya kosong. Dan syukurlah, Tuhan mendengar doa orang kebelet. Toilet kosong. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sedang khusyuk boker, suara HT masuk dari suara orang yang tidak saya kenal, bukan dari Yash. Tapi saya mendengar Yash menjawab.

Dari dalam bilik, saya refleks teriak, “Yash, itu bukan gua!”

Momen bonding paling absurd terjadi di tempat paling privat. Setelah itu, saya dan Yash mengkalibarasi ulang frekuensi, mencari yang lebih sepi kemudian set sandi: saya di depan menjadi Alfa, Yash paling belakang menjadi Zulu. Supaya tidak ada miskomunikasi lagi.

Di Pos Tujuh, kami ber-17 beristirahat dengan aman dan tertib. Kami menyebar ke berbagai arah: ada yang berteduh di bawah pohon, duduk di batu-batu besar, bersandar di kursi beton, sibuk mencari spot foto atau sekadar membuka perbekalan.

Syam membuka tasnya. Dari dalam kresek merah, ia mengeluarkan dua kilo salak. Dengan bangga, ia juga mengaku membawa dua buah semangka yang rencananya akan dibuka saat tiba di camping ground. Andai saja saat technical meeting tidak dilarang membawa alat dapur, mungkin Syam sudah  membawa blender dan aki mobil.

Kelakuan Syam, walaupun tidak diniatkan untuk lucu, tetap membuat tawa. Ia jadi sasaran empuk candaan. Semua menikmati momen, berfoto, dan belum ada yang mengeluh. Brigitte berdiri, menatap langit biru muda dengan sorot mata penuh visi.

“Spot ini cakep banget. Syam, tolong fotoin, ya!” katanya sambil menyerahkan ponsel, ekspresinya serius seperti sutradara muda.

“Oke, siap!” jawab Syam sigap. Jepretan pertama dilakukan sesuai arahan Brigitte.

“Ya ampun, Syam! Angle-nya bukan gitu! Naikin dikit, langitnya kurang dramatis. Ulang!” protes Brigitte. Sebagai adik angkatan, Syam menurut. Beberapa kali take, tapi Brigitte masih belum puas.

“Masih gak dapet feel-nya! Kenapa ya, giliran gue motoin orang bagus, giliran gue minta difotoin malah gagal terus!”

Komentar itu mulai menggoyahkan mental Syam. Pemilik akun @terkesan_pic itu mungkin mulai merasa bahwa bakat saja tidak cukup.

Saya ikut memanasi, “Sekali lagi, Syam! Jangan malu-maluin! Kalau masih jelek, hapus aja akun IG lu! Atau ganti nama jadi @tanpa_kesan.”

Tawa meledak. Brigitte juga tertawa, meski matanya tetap ke layar, mencari satu foto yang bisa menyelamatkan harinya. Syam tetap diam, entah merenung soal teknik memotret, atau mempertanyakan seluruh tujuan hidupnya di dunia digital.

Setelah setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Goberhoet. Rencananya, kami akan melakukan pendakian lintas: dari Goberhoet ke Pondok Saladah untuk bermalam, lalu esok paginya turun lewat Hutan Mati kembali ke Pos 7 dan akhirnya ke basecamp.

Saya meminta Bu Eny untuk memimpin rombongan bersama para senior. Dari semua peserta, hanya dia yang pernah mendaki Gunung Papandayan, jadi saya percaya dia tahu jalur. Saya sendiri memilih berada di belakang, sambil mengawasi anak-anak BEM yang sibuk membuat konten joget The Lion Sleeps Tonight sambil berbaris. Lagi-lagi, Syam jadi bintang utama, the Alpha of the ducks.

Saat tiba di Tanjakan Omon, saya sempat heran, kok Penat tidak kelihatan? Saya percepat langkah, mulai curiga. Tapi sesampainya di Goberhoet, tempat itu juga kosong. Penat tak terlihat sama sekali.

“Hah? Ke mana mereka? Bablas ke Saladah? Ngegas amat…” pikir saya, mencoba tetap positif. Sepanjang jalan, kami memang tidak berpapasan dengan mereka.

Namun, diam-diam saya mulai gelisah. Apa mungkin mereka secepat itu?

Sekitar dua puluh menit kemudian, misteri itu mulai terjawab. Aziz muncul lebih dulu, memikul dua keril—satu di depan, satu di belakang—miliknya dan Bu Som. Wajahnya lelah, tapi pasrah, seperti baru selesai ujian skripsi tanpa tahu hasilnya.

Di belakangnya, para pendaki senior muncul satu per satu. Napas mereka tersengal, langkah limbung, tapi tetap berusaha tersenyum. Seperti baru turun dari roller coaster: capek tapi bangga karena tidak muntah. Mereka memilih jalur alternatif yang katanya lebih cepat. Tapi yang tidak mereka sadari, “lebih cepat” sering kali berarti “lebih curam”.




Akhirnya kami tiba di Pondok Saladah dengan selamat. Cuaca selama perjalanan cerah, semangat tim terjaga, dan masih on the track sesuai rencana. Semua mulai sibuk, ada yang membantu membereskan tenda yang belum semua terpasang, memasak, menggelar sleeping bag untuk tidur atau membuat vlog.

Benar apa yang dikatakan Muhid dengan nada setengah filosofis: karakter asli manusia akan keluar saat kemping. Di tengah alam terbuka, tanpa AC, tanpa sinyal apalagi GoFood, topeng-topeng sosial mulai terbuka. Satu per satu watak sejati muncul ke permukaan, seperti game Werewolf. Ada yang tampil sebagai Villager: yang tidak punya kemampuan khusus tapi rajin, cekatan, tahu diri. Ada Seer, si sok tahu, sibuk membaca “niat tersembunyi” orang lain. Ada pula Werewolf, menghindar tiap disuruh cuci nesting kotor, tapi selalu muncul pas mie goreng jadi. Dan tentu saja, ada Hunter: terlalu semangat, ingin jadi pahlawan, tapi sering mengacaukan strategi.

Di antara mereka semua, ada satu karakter yang dari awal tampak seperti Guardian, pelindung dan penjaga para mahasiswi —Lim, dosen muda yang wajahnya seperti oppa Korea versi Kemenag, dengan gaya bicara cepat yang terdengar seperti sedang memberikan ceramah TED Talk bertema “Menemukan Tuhan Lewat Excel”. Ia adalah figur karismatik, dosen favorit para mahasiswi. Tapi bahkan karakter sekuat itu, ternyata tidak kebal terhadap hutan dan gravitasi sosial.

Di awal perjalanan ia masih kalem. Tapi semuanya mulai terlihat saat sesi foto. Saat yang lain tersenyum sopan atau membentuk hati dengan jari, Lim mengambil gaya yang tak terduga. Ia menghadap ke arah berlawanan dari kamera. Lalu berpose di balik batang pohon seperti intel gagal. Atau foto memandang edelweis, dengan ekspresi SpongeBob yang sedang bicara serius dengan ubur-ubur. Para mahasiswi terkecoh, ia yang awalnya dikira kartu Guardian ternyata Joker.

Namun puncak dari semuanya adalah ketika ia kembali dari semak-semak dengan langkah penuh kemenangan. “Saya kencing di sana,” katanya, menunjuk ke rimbun ilalang seperti sedang menandai lokasi penemuan situs sejarah. Tak cukup dengan pengumuman, ia lalu menambahkan act out yang tidak diminta: kedua tangan terangkat ke atas, mata mendongak ke langit, pinggulnya bergoyang-goyang seperti boneka dashboard rusak. Tawa pun pecah. Geger. Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan kehormatannya, bahkan ijazah S2 pun terasa tidak akan menolong.

Sebagai ketua alumni yang menggagas acara kemping lintas generasi ini, saya menyaksikan semuanya dengan hati campur aduk: setengah bahagia, setengah ingin pura-pura tak kenal. Tapi saya tahu, inilah inti dari semuanya. Sejak awal saya menekankan pentingnya kolaborasi—bukan hanya soal membagi tugas masak dan mendirikan tenda, tapi berbagi ruang untuk menjadi manusia seutuhnya: absurd, janggal, lucu, dan tak sempurna.

Di sinilah keberhasilan itu terasa nyata. Tak ada lagi sekat antara dosen dan mahasiswa, alumni dan junior, antara yang dulu dikenal kaku dan yang sekarang tau cara memasang gas di kompor portabel. Di sinilah kita menjadi manusia tanpa CV, tanpa reputasi, tanpa zoom filter. Hanya kita, dalam tawa, dalam betis pegal, dalam nasi yang terlalu lembek atau kerak yang menempel di panci liwet, dan dalam cerita yang akan kita ulangi berkali-kali. Dan sejujurnya, itulah capaian paling berharga.



Petualangan ini dimulai di pagi yang cerah, bahkan nyaris terlalu cerah untuk awal petualangan. Langit tak menyisakan sedikit pun keraguan. Tapi siang menumpahkan gerimis seperti keraguan kecil yang datang terlambat. Sore tiba dengan kabut yang turun perlahan, seperti tirai menutup panggung, menenggelamkan bayangan tubuh di jalur setapak. Lalu dini hari membuka langitnya, seolah ingin menebus semua —sunrise muncul seperti jawaban yang tak diminta, begitu indah sampai suara ngorok semalam lenyap dari ingatan.

Siangnya kembali terang, jalan setapak menuju basecamp terbentang cerah. Tapi di turunan dari Hutan Mati ke pos 7, jalur berubah wajah. Ratusan pendaki datang dengan semangat yang gaduh —FOMO, tek-tok, dan libur panjang menjelma hingar-bingar, ramai seperti pasar di hari-hari terakhir Ramadan.

“Zulu, Zulu! Di sini Alfa! Masuk!” suara saya memanggil Yash dari HT.

“Zulu, Zulu di sini! Alfa, masuk!” jawab Yash, cepat tanpa basa-basi.

“Posisi terakhir. Ganti.”

“Sudah di jalan aspal, lima menit lagi tiba di Mang Asep Basecamp.”

“Copy.”

Hujan turun saat tim terakhir tiba. Langit menutup perjalanan dengan caranya sendiri. Di dalam Elf, saat roda melindas jalan licin melewati plang-plang Burayot yang kuyup, musik karaoke mulai mengalun. Suara fals orang-orang yang berhasil kembali pulang memenuhi kendaraan.

Ini—kalau boleh jujur—adalah salah satu trip paling solid yang pernah saya ikuti. Tapi juga perjalanan yang menyisakan begitu banyak kekhawatiran, terutama untuk saya. Kekhawatiran itu menyelinap seperti hawa dingin —tanpa rupa, tapi menyusup sampai ke sum-sum tulang.

Saya sempat khawatir pada mereka yang belum sempat warming up sebelum trekking. Kram bisa saja datang tiba-tiba. Dalam kepala saya, satu kalimat berulang seperti mantra buruk: bagaimana jika satu orang saja tak bisa naik? Atau tak bisa turun? Satu orang saja. Maka seluruh rencana bisa berantakan. Dan tim, yang tadinya solid bisa berada dalam pertaruhan. Akan kami tinggalkan ia naik atau turun sendiri? Atau bertahan, menyesuaikan langkah, menangguhkan waktu pulang?

Saya khawatir hujan, bukan hanya air dari langit, tapi segala yang dibawanya: tanah licin, tubuh lembap, semangat yang melemah. Cuaca tak pernah benar-benar setia pada rencana.

Saya khawatir pada Bang Satibi yang jatuh di toilet rest area 88. Yash menyerahkan trekking pole-nya dengan cepat, dan saya merasa dua hal sekaligus: lega dan pasrah. Saya khawatir pada Bu Som yang memanggul tas terlalu besar untuk bahunya, langkahnya berat, napasnya tercekat tiap tanjakan. Saya khawatir pada Veo, lehernya terkilir di kursi Elf yang tanpa bantal leher. Saya khawatir pada Bu Eny yang mungkin diam-diam masih menahan sakit lutut seperti di Prau dulu. Tak berkata bukan berarti tak terasa. Saya khawatir pada Anita, sol sepatunya terkelupas, mungkin sepele, tapi cukup untuk membuat perjalanan panjang menjadi menjengkelkan. Saya khawatir pada Glad, jari tangannya luka kecil tapi sakitnya bisa menandakan ia mulai terinfeksi.

Di jalan pulang, saya khawatir saat kendaraan berhenti di rest area 88B. Lokasi parkir gelap, dan terlalu dekat dengan arus lalu lintas. Saya berdiri di pintu, memperhatikan satu persatu agar tidak ada yang terserempet mobil dari belakang. Tapi karena itu saya nyaris kehilangan Safa, ia tidak ada. Dalam hitungan detik, seluruh isi kepala saya dilanda kepanikan. Saya mencari ke segala arah. Sampai akhirnya saya menemukannya di antrean toilet, tenang, tak tahu bahwa saya hampir ambruk oleh cemas.

Saya khawatir kami tiba terlalu malam. Saya membayangkan mereka berdiri di trotoar kampus, tak ada ojek tersisa, tak ada kendaraan, malam terlalu larut untuk pulang, dan sebagian harus tidur di lantai ruang kelas.

Dan setelah semuanya, setelah jalanan, tanjakan, dan pulang yang panjang, saya sadar satu hal yang seharusnya sederhana: hidup itu seperti kemping. Yang bijak adalah yang membawa hal yang paling penting. Terlalu banyak logistik justru membuat langkah berat. Begitu pula pikiran, tak bisa menampung seluruh kemungkinan buruk, tak bisa dijejali semua kekhawatiran. Overthinking hanyalah cara lain menaruh batu di dalam ransel yang sudah berat.

Dan saya—saya khawatir terlalu banyak hal, sampai-sampai nyaris lupa pada satu hal yang tak bisa diulang: saya tak menghabiskan cukup waktu bersama istri dan anak saya. Mereka ada di sepanjang perjalanan, tapi kami hanya muncul dalam dua spot foto. Dua. Sisanya, saya terlalu sibuk menjadi kompas, menjadi peta, menjadi khawatir.

Lucunya, saya tak pernah terlalu peduli pada momen yang tidak diabadikan lewat kamera. Saya tak punya IG, Facebook atau TikTok. Bukan karena ingin tampil puritan, tapi karena saya sudah sampai di satu titik di mana saya melihat orang terlalu sibuk mengabadikan momen, sampai lupa merasakannya. Saya tidak ingin jadi salah satu dari mereka. Maka saya menulis. Bukan hanya untuk mengingat apa yang terjadi, tapi juga untuk menyimpan apa yang tak bisa ditangkap lensa.

Saya masih ingat sore itu, di Pondok Saladah, kabut turun seperti jubah. Dunia perlahan terhapus, menyisakan hanya langkah, niat, dan udara dingin yang masuk ke sela-sela sweater.

Saya biarkan diri diam di situ, tak tergoda mengambil hand warmer atau kamera. Lagipula, foto secanggih apa pun takkan pernah bisa menangkap utuh momen seperti ini. Gambar tak bisa menampilkan rasa dingin yang meremangkan bulu-bulu tipis di pipi, atau hembusan angin lembap yang menyelusup ke leher dengan pelan, atau basah gerimis yang menelusup ke sela-sela rambut kepala.

Video pun akan gagal menangkap harum samar tanah basah yang bercampur daun gugur dan sisa kabut yang belum turun. Aroma yang hanya bisa dihirup ketika sunyi sudah cukup dalam, ketika suara alam mendominasi lanskap.

Apa yang saya lihat, dengar, dan hirup saat itu tak satu pun bisa dipindahkan ke layar. Dan mungkin memang seharusnya begitu. Beberapa momen hanya hadir untuk ditinggali, bukan dimiliki. Karena mungkin, pada akhirnya, rasa adalah satu-satunya cendera mata yang layak dibawa pulang. Bukan pesugihan, batu, apalagi suara gamelan.



Kamis, 15 Mei 2025

Membaca & Menulis adalah Thoriqoh Guru Kita *

Assalamu’alaikum, generasi swipe up!

Perkenalkan, saya abang kelas kalian: Nailal Fahmi. Biasa dipanggil Nailal, atau Fahmi, atau kadang, “Bang, numpang WiFi, Bang!”.

Lulusan Annida tahun 2003, waktu gak ada satupun siswa yang punya hape. Dan kalau kalian pernah liat foto zaman dulu dan mikir, “Kok orang dulu bisa hidup tanpa kamera depan ya?”

Ya, kita emang sekuat itu.

Beberapa waktu lalu, Bang Fachri, Operator Sekolah multi talenta yang bisa ngerjain segala hal itu, tiba-tiba ngontak saya buat ngisi materi di acara Hari Buku Nasional. Saya seneng banget! Tapi apalah daya, abang kalian ini lagi kayak notifikasi yang gak bisa dibuka—ada, tapi gak bisa hadir. Jadi izinkan saya titipkan pikiran dalam bentuk tulisan ini. Baca pelan-pelan ya, ini bukan caption IG, bukan juga twitwar.

Meski abang gak bisa hadir secara fisik, semoga materi ini bisa bikin adik-adik semua makin cinta baca buku. Soalnya, Kiyai Fakhrudin pernah bilang, ”Thoriqoh-nya Syaikhuna, Kiyai Jirin, itu ya ngaji dan nulis.

Artinya, buat anak-anak Annida, membaca dan menulis bukan ritual akademik, tapi spiritual. Ini cara kita nyambung ke guru, bukan sekadar ngejar nilai. Ini jalan sunyi untuk meng-upgrade karakter dan spiritualitas.

Materi yang abang tulis ini adalah satu bentuk kesadaran bahwa Annida sangat peduli terhadap literasi siswa. Meningkatkan pemahaman terhadap literasi, terhadap buku bacaan, juga terhadap bahasa.

Literasi itu bukan cuma tentang bisa ngeja, tapi bisa menangkap makna. Bisa bedain mana opini, mana fakta. Mana kata-kata, mana manipulasi. Bisa nangkep maksud, bukan cuma makna literal.

Banyak orang bisa baca, tapi belum tentu bisa paham. Bisa ngelihat huruf, tapi otaknya loading terus. Kayak liat chat gebetan yang isinya “hehe”, dan langsung overthinking tiga hari tiga malam.

Jadi, apa sih tujuan abang nulis materi ini?

Simple aja, abang pengen kalian megang dua skill penting yang bakal bikin kalian gak kaget pas ketemu soal-soal yang mengetes kemampuan literasi atau kemampuan kognitif.
  1. Analogi (Qiyas)
  2. Penalaran Logis (Mantiq)
Kenapa Qiyas dan Mantiq, Bang?

Karena Qiyas ngajarin kita nyambungin konsep, cara pikir perbandingan. Dan Mantiq ngajarin kita mikir lurus, bikin kesimpulan yang sahih. Dua-duanya ibarat alat survival di hutan literasi digital.

Kenapa cuma dua ini? 

Karena abang gak akan sempat ngajarin semuanya, dan otak kalian udah penuh sama tugas, reels, dan drama kehidupan remaja. Tapi dua hal ini, percaya deh, punya akar kuat banget sama dunia kalian sebagai murid MTs Annida.

Kita tuh gak asing sama Qiyas. Itu diajari waktu ngaji Ushul Fiqh. Itu lho, cara nyari hukum lewat perbandingan. Qiyas itu bukan cuma cara nyari hukum. Itu cara berpikir. Cara nyambungin satu hal ke hal lain. Kayak pas kita belajar: “Khamr haram karena memabukkan. Maka segala yang memabukkan itu haram.”

Dan di soal literasi, analogi itu ya... Qiyas versi non-fikih. Kita nyambungin konsep satu ke yang lain, bukan buat ngeluarin hukum, tapi buat nangkep makna. Nah, soal analogi di soal bacaan itu kayak Qiyas versi sekuler. Tapi tetap pakai otak dan logika yang sama. Bedanya, bukan buat nyari halal-haram, tapi nyari jawaban A, B, C, atau D. Gak ada kitab, tapi tetap butuh ijtihad.

Lalu, Mantiq.

Ah, si Mantiq ini kadang dipandang sebelah mata. Padahal tanpa dia, banyak yang nyasar dalam berpikir. Abang inget dulu, waktu belajar Qawaid Mantiqiyah, ada satu pernyataan yang bikin kita garuk-garuk kepala: “Ta’arudh al-Muqaddimat wa fasad al-Tarakkub.”, bahwa cacat logis dalam suatu argumen dikarenakan adanya kontradiksi antara premis-premisnya, bisa menyebabkan argumen tersebut tidak sah atau tidak valid.

Mantiq atau Ilmu Logika yang kadang dianggap “berat” itu sebenernya alat yang sangat berguna. Alat buat mikir jernih. Biar gak gampang kecele. Biar otak kalian gak kayak motor mogok: banyak suara, tapi gak jalan.

Jadi simpelnya, kenapa dua ini yang abang pilih adalah karena: Qiyas ngajarin kalian berpikir dengan pola. Sementara Mantiq ngajarin kalian berpikir dengan logika.

Waktunya terbatas, otak kalian mahal, jadi abang kasih dua yang paling esensial. Yang bisa dipake di kelas, di ujian, bahkan di kehidupan.

Supaya kalian…
  • Gak bengong waktu lihat soal bacaan di ujian
  • Bisa bedain antara “bisa baca” dan “bisa ngerti”
  • Naik level dari sekadar “ngebaca kata” ke “nangkep makna”
  • Biar kemampuan literasi kita meningkat dan Bang Fachri bisa tidur lebih nyenyak

Jadi ayo kita mulai...


Skill Pertama: Analogi (Qiyas)

Apa itu Analogi/Qiyas?

Analogi itu seni menemukan hubungan. Jadi Qiyas atau analogy itu bukan cuma buat fiqih. Ini cara kerja otak yang nyambungin pola. Kayak sendok dan makanan, pena dan tulisan. Alat dan fungsi.

Contoh: Ikan : Air = Manusia : …?

Jawaban: Udara

Karena manusia butuh udara seperti ikan butuh air. Simple. Tapi logis.

Nah, di soal analogi, kita disuruh cari dua kata yang hubungannya mirip dengan dua kata lainnya. Intinya: “Kalau A berhubungan dengan B, maka C berhubungan dengan apa?”

Tips Biar Gak Salah:
  • Lihat dua kata pertama. Apa hubungannya?
  • Buat kalimat. Misal: “Pisau digunakan untuk ___.”
  • Cocokin hubungan itu dengan pilihan jawaban.
  • Singkirin jawaban yang ngaco. Jangan sampai kejebak pilihan jebakan betmen!
Contoh Soal (yang kadang bikin puyeng):

Gigi : Ompong = Pakaian : …
A. Telanjang
B. Celana
C. Badan
D. Penjahit
E. Malu

✅ Jawaban: A

Kalau gak punya gigi = ompong.
Kalau gak punya pakaian = telanjang (jangan dicoba di jalan pulang sekolah, ya!)

Retina : Mata = Pori-pori : …
A. Lubang
B. Bulu
C. Udara
D. Keringat
E. Kulit

✅ Jawaban: E

Retina itu bagian dari mata.
Pori-pori itu bagian dari kulit.

Skill Kedua: Penalaran Logis (Logika/Mantiq)

Apa Itu Penalaran Logis?


Ini kemampuan buat narik kesimpulan dari pernyataan, atau kemampuan buat narik kesimpulan sah (Natijah/Conclusion) dari dua premis (Mukodimah Sugro dan Mukodimah Kubro).

Ini bukan soal perasaan. Ini soal logika! Kalian dikasih beberapa pernyataan. Lalu disuruh narik kesimpulan yang paling masuk akal.

Contoh:

Semua siswa suka bakso.
Si Zaid adalah siswa.


Kesimpulan?

Si Zaid suka bakso.

Gak perlu feeling. Gak perlu tebak-tebakan. Ini logika, bukan horoskop.

Contoh lagi:

Semua kucing suka ikan.
Si Buntel adalah kucing.


Kesimpulan logis?

Si Buntel suka ikan.

Kalau kamu jawab: “Si Buntel suka rebahan sambil maen hape sampe jam 2 pagi” itu bukan logika, itu pengalaman pribadi 😅

Tips Mengerjakan:
  • Pahami isi tiap pernyataan. Baca pernyataan dengan hati yang tenang
  • Jangan ngarang! Semua kesimpulan harus sesuai isi teks. Hanya gunakan informasi yang diberikan
  • Hati-hati sama jawaban yang “hampir benar tapi bukan.”
  • Jangan bawa perasaan, bawa logika
  • Hindari asumsi “kayaknya” atau “feeling gue sih…”

Contoh Soal:


Tidak ada aktivis kampus yang lulus cepat.
Beberapa mahasiswi bukanlah aktivis kampus.


Berdasarkan dua pernyataan di atas, kesimpulan yang paling benar adalah …

A. Beberapa aktivis kampus tidak bisa lulus cepat.
B. Beberapa mahasiswi bisa lulus cepat.
C. Tidak ada mahasiswi yang lulus cepat.
D. Beberapa aktivis kampus bukan mahasiswi.
E. Tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Pembahasan Pilihan Jawaban:

A. Salah.
Ini hanya mengulang sebagian dari pernyataan pertama, tapi nggak menghubungkan dengan pernyataan kedua. Soal minta kita menghubungkan dua informasi.

B. Salah.
Ini kesimpulan di luar konteks. Pernyataan tadi bilang beberapa mahasiswi bukan aktivis, tapi nggak ada info apa-apa soal apakah mereka lulus cepat atau tidak.

C. Salah.
Lagi-lagi, ini asumsi sendiri, karena soal tidak menyebut semua mahasiswi dan tidak menyebut soal kelulusan mereka.

D. Salah.
Ini juga nggak ada hubungan langsung dari kedua pernyataan. Kita nggak tahu dari mana asal info ini.

E. Benar!
Kita tahu bahwa:
  • Semua aktivis kampus tidak lulus cepat (pernyataan pertama).
  • Beberapa mahasiswi bukan aktivis kampus → berarti ada sisanya yang aktivis kampus.
  • Nah, yang jadi aktivis kampus (mahasiswi atau mahasiswa), otomatis tidak lulus cepat.
Jadi, benar: tidak ada mahasiswi aktivis kampus yang lulus cepat.

Kesimpulan:

Untuk soal logika kayak gini, kita harus nyambungin dua pernyataan, kayak kabel charger. Kalau cuma satu ujung yang dicolok tapi yang satu nggak, HP-nya gak akan ngisi. 😆


Pesan Terakhir dari Abang
  • Baca dan nulis bukan cuma buat dapet nilai. Ini buat paham hidup. Buat ngerti dunia. Buat bisa nulis caption yang gak cringe.
  • Membaca adalah cara kita ngobrol sama orang yang udah wafat. Sementara menulis adalah cara kita bicara pada generasi yang belum lahir.
  • Kalau kalian baca buku, kalian minum dari mata air ilmu. Kalau kalian nulis, kalian ninggalin jejak.
  • Membaca itu ibadah, bagian dari thoriqoh Kiyai kita. Kayak Syaikhuna, yang tulisan-tulisannya masih jadi pelita sampai sekarang.

Jadi yuk:

  • Mulai dari 15 menit baca per hari
  • Gak harus buku berat, mulai dari bacaan ringan: komik, artikel, bahkan thread TikTok yang isinya beneran ilmu
  • Sering diskusiin isi bacaan bareng temen
  • Tulis apa yang kalian pahami, bukan apa yang kalian hafal

Kalau kalian rajin baca dan nulis, abang doain:

  • Otak makin encer
  • Ujian makin lancar
  • Hidup makin mudah
  • Bang Fachri bisa mikirin kerjaan lain yang masih banyak

Kalau kalian suka materi ini, jangan lupa baca lagi. Kalau gak suka, baca dua kali. Mungkin otaknya belum nyambung di percobaan pertama.






Materi ini ditulis untuk memperingati Hari Buku Nasional, 15 Mei 2025 di MTs Annida Al Islamy Bekasi

Kamis, 06 Februari 2025

Kembang Api Kebahagiaan

"Berapa duit habis buat petasan, ya?" gumam beberapa jamaah, pandangan mereka terpaku ke langit yang terus bergemuruh. Kembang api mekar di udara, memercikkan cahaya yang riuh, menyulap malam di atas masjid menjadi panggung meriah selepas salawat kepada Rasulullah dibacakan. Ledakan terakhir seolah menyatu dengan suara hujan yang turun perlahan, membasuh kubah masjid, lalu mengalir dari atap ke tanah yang semula kering.

Kiai mengenang kejadian di masjid beberapa saat lalu. Njay, yang tahu betul situasinya, berkomentar pelan, "Saya jadi nggak enak, Kiai. Soalnya makanan buat acara ini cuma sekadarnya."

Kiai tersenyum lembut, seolah mengendapkan setiap kata sebelum mengucapkannya. "Kesenangan orang beda-beda," ujar Kiai akhirnya, suaranya pelan tapi penuh makna. "Ada yang senang nyumbang makanan, ada yang senang nyumbang petasan. Petasan itu bukti senangnya dia sama acara ini. Itu buroqnya dia."

Kami yang mendengar jawaban itu terdiam, berusaha menangkap maksud Kiai. Buroq—kendaraan cahaya dalam kisah Isra Miraj, membawa Rasulullah melintasi langit dalam perjalanan spiritual yang agung. Kini metafora itu menjelma dalam kembang api yang tadi menyala, menjadi simbol kegembiraan manusia yang mungkin tampak sederhana, tapi punya makna dalam cara masing-masing.

Hujan semakin deras, namun dalam hati kami ada sesuatu yang menghangat—sebuah pemahaman baru bahwa setiap bentuk syukur punya caranya sendiri untuk sampai ke langit.

Allahumma shalli 'ala Muhammad



Minggu, 05 Januari 2025

Mengapa Pendidik Perlu Menulis?

Menjawab pertanyaan mengapa pendidik perlu menulis sebenarnya sangat mudah. Bahkan, jika pertanyaan ini diajukan kepada profesi lain, jawabannya juga sama mudahnya. Namun, saya ingin menunda jawaban tersebut hingga akhir tulisan. Sebab, pada awal ini, saya lebih tertarik membahas alasan-alasan yang sering saya dengar mengapa banyak pendidik tidak menulis.

Salah satu keluhan yang kerap muncul di kelas menulis adalah: “Mengapa saya tidak punya ide untuk menulis?” Sejujurnya, saya sulit menjawab pertanyaan ini karena menurut saya, pertanyaan tersebut tidak logis. Setiap orang yang mampu berpikir pasti memiliki ide, apalagi seorang pendidik yang setiap hari menghadapi berbagai situasi di kelas. Jika ide dipahami sebagai gagasan, keresahan, atau sesuatu yang ingin dibagikan, maka sulit membayangkan seorang pendidik tidak memilikinya. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Bagaimana cara memilih ide yang tepat untuk dituliskan?”

Cara yang sering saya lakukan adalah brainstorming. Tulis semua ide yang muncul di kepala tanpa menyaringnya. Proses ini bisa dilakukan sendiri, bersama rekan, atau bahkan dengan bantuan AI. Jangan takut jika ide tersebut terasa terlalu besar, terlalu kecil, mentah, atau belum sempurna. Kuncinya adalah membebaskan diri dari tekanan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna sejak awal. Setelah itu, pilihlah ide yang paling menarik atau paling relevan dengan kebutuhan. Fokus pada topik yang dekat dengan pengalaman atau minat pribadi. Menulis dari hati tentang sesuatu yang kita kuasai akan membuat prosesnya lebih menyenangkan.

Sebaliknya, beberapa pendidik mengeluhkan, “Saya punya banyak ide, tapi kenapa sulit untuk menuangkan ke dalam tulisan?” Solusinya sederhana: menulis buruklah! Bukan, ini bukan sinisme. Menulis buruk berarti membebaskan diri dari rasa takut salah. Kesulitan menuangkan ide dalam tulisan sering terjadi karena ketakutan kita akan menulis buruk, typo, tidak terstruktur dan lain-lain. Jangan takut menulis buruk, karena kita masih punya waktu untuk memoles tulisan itu menjadi lebih baik. Jangan takut menulis buruk, karena penulis yang tidak pernah menulis buruk biasanya tidak pernah menghasilkan apa-apa. Menulislah buruk dan cepat, karena itu akan menyelamatkan kita pada dua hal yang tidak perlu; membuang waktu dan mood yang jelek.

Beberapa guru yang sadar akan pentingnya menulis kemudian bertanya, “Sebagai pendidik, apa yang sebaiknya saya tulis?”

Sebagai pendidik, salah satu sumber tulisan terbaik adalah pengalaman di kelas. Kisah-kisah tentang menghadapi siswa yang sulit, strategi mengatasi anak pemalu, atau keberhasilan siswa yang menginspirasi adalah contoh topik yang sangat bernilai. Selain itu, pendidik dapat menulis tentang metode pengajaran yang inovatif, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, atau hasil penelitian pendidikan.

Tulisan-tulisan ini tidak hanya bermanfaat bagi guru lain, tetapi juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi siswa, orang tua, dan bahkan pembuat kebijakan. Kita hidup dalam ekosistem pendidikan, di mana pengambil keputusan sering tidak memahami dinamika di dalam kelas, tulisan pendidik bisa menjadi jembatan penting untuk menjelaskan tantangan dan peluang yang nyata.

Saya mengerti bahwa pendidikan merupakan bidang yang kompleks, sehingga sulit dirangkum dalam penjelasan singkat dalam tulisan. Tidak heran jika sebagian pendidik merasa ragu atau kurang percaya diri untuk menulis. Namun, setiap guru sejatinya telah menulis, baik dalam bentuk rencana pembelajaran (lesson plan), catatan evaluasi, maupun komunikasi dengan siswa dan orang tua. Oleh karena itu, suka atau tidak, kita harus sama-sama mengakui bahwa semua pendidik adalah penulis.

"Tapi sebagai guru yang sibuk dengan kegiatan mengajar, bagaimana cara efektif mengatur waktu agar tetap bisa menulis?"

Ya, secara pribadi saya mengenal beberapa kawan guru yang sangat sibuk. Saya juga mengerti bahwa mendidik adalah profesi yang menuntut banyak waktu, sehingga menemukan waktu untuk menulis bisa menjadi tantangan, tetapi bukan hal yang mustahil. Kata kuncinya adalah menjadikan menulis menjadi prioritas. Kita sering menjadikan menulis sebagai iseng-iseng atau hobi waktu senggang, sehingga mengerjakannya tidak menjadi prioritas. Anggap saja menulis itu sebagai hal yang wajib seperti salat. Sehingga ketika ada hal yang kita pikirkan, ide mengajar, keresahan dan lain sebagainya, kita akan lebih fokus dan merasa wajib untuk menulisnya.

Menjadikan menulis sebagai kebiasaan harian, seperti menyisihkan 10 menit untuk membuat jurnal, bisa menjadi langkah awal yang sederhana. Kesibukan setiap orang berbeda-beda, sehingga waktu yang sesuai untuk menulis pada setiap orang juga berbeda-beda. Bereksperimenlah dengan waktu-waktu berbeda untuk melihat saat paling produktif dan kreatif. Teknik seperti Pomodoro, di mana kita menulis selama 25 menit lalu beristirahat selama 5 menit, juga bisa membantu meningkatkan fokus dan produktivitas. Hal yang utama adalah menemukan waktu yang paling cocok dan membuatnya menjadi bagian dari rutinitas harian.

"Ya, saya mulai terpacu untuk menulis dan sejujurnya saya ingin menjadi penulis buku, tapi saya merasa tidak berbakat dalam menulis."

Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia tidak berbakat dalam menulis? Karena sejak kecil ia tidak suka menulis? Atau karena baginya menulis itu membosankan dan sama sekali tidak menyenangkan? Atau karena ia penah mencoba beberapa kali membuat tulisan tapi ternyata tidak bagus atau gagal? 

Karena alasan-alasan itu kemudian seseorang menyimpulkan bahwa ia tidak berbakat menulis.

Oke, sekarang bayangkan jika logika yang sama diterapkan pada membaca. Apakah sebagai guru, ketika kita melihat anak yang kesulitan membaca, yang mengatakan bahwa membaca tidak menyenangkan, bahwa ia pernah mencoba beberapa kali membaca dan tidak menyukainya, kita akan menyerah? Kemudian kita katakan kepadanya ia bukan anak yang berbakat membaca. Kemudian kita tidak memotivasinya, tidak pernah mencoba mencari cara agar membaca lebih menyenangkan, menyingkirkan semua buku serta tugas membaca yang menantang selama-lamanya karena kita telah melabeli bahwa ia tidak berbakat membaca. Sebagai orang tua atau guru, tentu kita tidak akan melakukan itu kan? Lalu mengapa terkadang kita melabeli bahkan pada diri kita sendiri hal yang sama dalam hal menulis?

Menulis sering dianggap sebagai bakat langka yang diwariskan, padahal tidak demikian. Merasa tidak berbakat menulis adalah hal yang biasa, tetapi keterampilan ini dapat diasah. Beberapa waktu lalu saya kembali membaca tulisan-tulisan dalam diary yang saya tulis bertahun-tahun yang lalu, dan saya menyimpulkan bahawa tulisan saya buruk dan saya tidak berbakat menulis. Untungnya, dulu guru saya tidak pernah bilang itu, melainkan ia bilang kalau saya adalah pencerita yang baik, sehingga saya percaya saja bahwa saya pandai bercerita, bahwa saya pandai menulis. Sekarang saya sudah menulis belasan buku, dan saya selalu ingat apa yang pernah dikatakan Ernest Hemingway, “It's none of their business that you have to learn how to write. Let them think you were born that way.”

"Lalu bagaimana cara menulis dengan baik?"

Ada empat langkah untuk memandu proses menulis dengan baik: percaya, memahami, membuatnya menyenangkan, dan berlatih dengan efektif.

Percayalah menulis itu keterampilan yang bisa dipelajari sebagaimana keterampilan lain seperti membaca dan bicara. Keyakinan seorang bahwa ia bisa menulis dapat mengubah mentalnya. Keyakinan menciptakan reaksi berantai: keberanian, usaha ekstra, dan kesuksesan. Semua kita mungkin pernah dan akan menghadapi kesulitan menulis pada suatu saat, tetapi keyakinan membantu kita bertahan.

Pahami bahwa menulis bukanlah beban. Menulis adalah sarana untuk membantu pendidik mengasah kemampuan refleksi, meningkatkan pemahaman diri, serta memperkuat keterampilan kognitif dan sosial-emosional. Aktivitas ini juga meningkatkan empati, karena pendidik dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi oleh siswa.

Pahami topik yang akan ditulis dengan baik, pahami juga struktur tulisan, lakukan penelitian mendalam, dan buat kerangka tulisan yang sesuai. Setelah menyelesaikan draf pertama, baca kembali tulisan itu kemudian perbaiki kesalahan tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat. Pastikan argumen jelas dan didukung dengan fakta. Jangan ragu untuk merevisi dan mengedit tulisan agar lebih baik.

Menulis adalah aktivitas yang menenangkan di tengah kesibukan dan ketidakteraturan dalam pekerjaan serta kehidupan. Bagi saya, waktu menulis adalah saat yang paling menyenangkan dan tenang di hari yang penuh dengan berbagai tugas. Sayangnya, banyak dari kita yang sejak kecil mengalami menulis sebagai sesuatu yang menegangkan, akibat proses pendidikan yang memaksa dan tidak membebaskan. Ubahlah mindset dari menulis adalah beban tugas yang harus diselesaikan, menjadi menulis sebagai sarana untuk berekspresi dan mengendalikan diri.

Latihan yang menarik dan menyenangkan sangat penting untuk menjaga motivasi. Latihan dan ketekunan adalah kunci untuk menulis dengan baik, bukan bakat yang tinggi. Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan ditingkatkan dengan latihan.

Mulailah dari hal kecil seperti menulis catatan harian atau refleksi singkat. Baca lebih banyak buku untuk memperkaya kosa kata dan gaya menulis. Minta umpan balik dari teman sejawat atau bergabung dengan komunitas menulis. Yang terpenting, nikmati prosesnya dan jangan takut melakukan kesalahan—kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Percayalah! Dengan tekad dan latihan, siapapun bisa mengembangkan keterampilan menulis dan mencapai impian menjadi penulis buku.

Jadi kembali ke pertanyaan awal, “Mengapa pendidik perlu menulis?”

Karena menulis adalah salah satu keterampilan utama yang dibutuhkan di masa depan, dan karena itu semua siswa didik perlu menguasainya. Cara yang paling efisien untuk menekankan keterampilan ini adalah pendidik meneladankan pentingnya menulis kepada siswa didik. Guru yang menulis bersama muridnya mengajarkan bahwa menulis adalah bagian penting dari pembelajaran dan kehidupan.

Karena tulisan pendidik, baik berupa refleksi, laporan, atau rencana aksi, dapat menjadi rujukan berharga dalam kolaborasi dengan rekan guru, orang tua, dan pihak lain. Kritik, diskusi, dan inkuiri yang muncul dari tulisan guru membuka peluang untuk merancang langkah bersama yang lebih efektif.

Ayo jadikan menulis sebagai bagian dari identitas pendidik. Adagium arab menyatakan bahwa konsistensi lebih berharga dari seribu karomah, sementara guru saya pernah bilang, “Jika kamu tidak tahu, maka belajar. Jika kamu tahu, maka ajarkan.” Hal itulah yang harus dilakukan secara konsisten sepanjang hidup; belajar dan mengajar. 

Sebaik-baiknya pelajar sepanjang hayat adalah juga penulis sepanjang hayat. Dengan menulis, pendidik tidak hanya meneladankan nilai belajar tanpa henti, tetapi juga membuka pintu bagi perbaikan yang lebih luas demi kepentingan siswa dan masa depan pendidikan.

Wallahu 'Alam Bissawab