Halaman

Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2025

Kita Semua Pernah Jadi Anak Muda yang Takut Terlihat Bodoh

Ketika Sam memberi kabar ingin naik angkot dari Stasiun Bekasi Timur ke rumah saya, tanpa pikir panjang saya langsung menelepon. "Udah di mana, Sam?"

"Di angkot K-11, Bang!" jawabnya dengan nada yang terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru pertama kali ke Stasiun Bekasi Timur.

"Mau ke mana?"

"Ke Terminal Bekasi. Nanti dari situ gue lanjut angkot ke Mustikasari."

Saya menahan tawa.

"Eh, Samsul! Itu dari stasiun ke terminal cuma 400 meter, jalan kaki juga sampe. Ngapain naik angkot?"

"Beda, Bang," jawabnya sok tahu, masih penuh percaya diri. "Itu Terminal Bekasi Timur. Gue mau ke Terminal Bekasi Kota."

Dan di situlah saya tidak tahan. Tawa saya meledak.

"Terserah lu dah, Sam. Ntar kalau nyasar, telpon aja ya. Gue jemput... sambil bawa tim SAR."

Seumur-umur tinggal di Bekasi, baru kali ini saya dengar ada yang nyebut “Terminal Bekasi Timur” seolah-olah itu adalah Peron 9¾ dalam Harry Potter yang diketahui oleh para penyihir dan saya hanyalah Muggle berdarah kotor. Dan Sam tentu saja, si darah murni yang pede tapi ceroboh, si Ron Weasley.

Satu jam kemudian, Sam muncul di depan rumah, ketika saya sedang mencuci motor di halaman. Mukanya kucel, langkahnya pelan.

“Nyerah gue, Bang. Akhirnya naik ojol…”

Saya kembali tertawa sambil mengajaknya masuk.
 

Petualangan random dan impulsif Sam sering kali membuat saya tersenyum, bukan hanya karena kekonyolannya, tapi karena dia seperti tayangan ulang hidup saya sendiri. Tidak ada yang lebih spontan daripada keputusan saya untuk menikah saat masih kuliah semester enam, di usia dua puluh empat tahun. Kalau manusia normal lulus kuliah dulu, baru menikah. Saya justru punya anak dulu, baru wisuda. Mungkin begitulah cara saya memandang hidup: bukan soal mengikuti urutan, tapi menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Seperti Sam, saya juga pernah ada di usia dua puluhan, penuh semangat, lapar petualangan, haus akan dunia luar, ingin menjelajah dunia, dan kadang bertemu dengan orang-orang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya ingat suatu hari, saya duduk di dalam bus antarkota di Stasiun Bekasi—bukan, bukan Bekasi Timur, haha. Seorang pria muda duduk di sebelah saya, pria muda biasa saja. Tapi yang terjadi selanjutnya membuat saya tercengang. Setiap kali pedagang asongan masuk, mereka menyapa pria itu dengan hormat, bahkan menyodorkan dagangan mereka untuk diambil gratis. Seperti ritual kecil, mereka lewat, menyapa, menyembah dalam bahasa tubuh, lalu berlalu.

Saya yang biasanya diminta beli oleh pedagang asongan dengan setengah dipaksa, mendadak jadi penumpang kelas sultan. Bukan karena status, tapi karena posisi. Saya duduk di sebelah orang yang diam-diam punya kekuasaan.

Karena penasaran, ketika bus mulai berjalan, saya bertanya. Pria itu menjawab dengan tenang, dan terlalu detail untuk ukuran orang biasa, bahwa dia adalah “Kang Mus”-nya Terminal Bekasi.

Seketika, saya merasa terlindungi dan terancam sekaligus. Terlindungi karena saya tahu siapa yang duduk di samping saya. Terancam karena wajahnya seperti gabungan antara ketua yakuza dan kesopanan Don Corleone dalam The Godfather. Ada karisma yang membuat semua orang tunduk, tapi tak satu pun tahu bagaimana cara berdamai dengannya.

Dan karena itulah, ketika saya melihat Sam hari ini, saya seperti melihat parodi dari diri saya sendiri. Sama-sama ingin mengalami hidup dengan sebenar-benarnya, tanpa filter, tanpa kepura-puraan, namun sering kali tanpa rencana. 

Petualangan yang kadang berakhir sebagai kekacauan kecil. Tapi saya tahu, seperti dalam hidup saya dulu, kekacauan itu hanya menunggu giliran untuk berubah menjadi lucu di masa depan, tragedi yang bermetamorfosis jadi komedi, jika diberi cukup waktu dan sudut pandang.

Dulu, saya suka naik Son Goku, si Honda Astrea 800, ke tempat-tempat baru tanpa arah, hanya ditemani semangat dan indikator bensin yang rusak. Kadang motor mogok, kadang saya kehabisan bensin dan uang, dan solusi paling masuk akal waktu itu adalah menitipkan motor di sekolah.

Sam juga pernah mengalami hal serupa: kehabisan uang dan motornya mogok di tengah jalan. Tapi yang dia lakukan jauh lebih ekstrem; dia menelpon damkar. Ya betul, Dinas Pemadam Kebakaran.


Sam adalah adik angkatan saya di kampus. Ia baru saja terpilih sebagai Ketua BEM dan datang untuk berdiskusi soal organisasi, juga sekalian meminjam tenda. Kebetulan, kami memang punya hobi yang sama: kemping dan naik gunung. Dan siang itu, di ruang tamu, di tengah es kopi dan ransel kusam yang robek di beberapa bagian, ia bercerita rencananya mendaki Gunung Gede Pangrango.

Dengan kelakuan randomnya, saya membayangkan Sam sampai di basecamp, duduk sebentar, buka ChatGPT, lalu mengetik: “Jalur tercepat summit Gede Pangrango naik kuda?”

Saya bisa membayangkan dia menyerahkan logistik ke porter sambil bilang, “Bawa sampai ke camping ground ya, Mang!”

Porter bertanya, “Ke Suryakencana?”

“Bukan, Mang. Jangan ngerjain saya! Dikira saya nggak tahu." Sam dengan percaya diri menjawab, "Ke Surya... Insomnia.”


Kami sama-sama anak pesantren. Entah mengapa, sesama santri seolah memiliki frekuensi batin tersendiri. Mungkin karena sejak kecil kami sudah jauh dari rumah, tumbuh dewasa tanpa banyak campur tangan orang tua, berusaha memahami sendiri segala hal tentang hidup, dan dengan pemahaman-pemahaman pribadi tentang jiwa dan kehidupan itulah yang menjadi acuan kami dalam menjalani hari.

Mungkin karena itu pula, kami lebih mudah berempati terhadap perjuangan orang lain, kuliah sambil bekerja, tidak betah diam di rumah, selalu ingin bergerak dan mencari makna. Bukan karena kami merasa lebih baik, tetapi karena hidup memang tidak memberi pilihan lain selain menjadi kuat.

Walaupun awalnya saya sempat mencium aroma keminderan dari Sam, terutama saat pertama kali kami ngobrol soal pondok, sambil menyeruput Pop Mie.

“Lu mondok di mana, Bang?” tanya Sam sambil meniup uap mie yang mengepul dari gelas.

“Annida Bekasi. Kiai Muhajirin,” jawab saya mantap. Lalu saya balik bertanya, “Lu sendiri, mondok di mana, Sam?”

Awalnya dia hanya geleng-geleng kepala, tidak mengaku, atau enggan menjawab. Tapi setelah saya desak pelan-pelan, dia mencoba mengelak, dan akhirnya malah blunder.

“Gue juga... pesantren. Di Bekasi,” katanya ragu-ragu.

Saya tersenyum. “Sebut nama pondoknya. Gak ada pesantren di Bekasi yang nggak gue kenal.”

Sam menunduk sebentar, seperti sedang beristighfar dalam hati. Akhirnya dia menyerah dan mengaku pelan, “Gue mondoknya di Rocek, Banten.”

“Oh ya? Apa nama pondoknya?” saya terus mencecar, penasaran.

Sam menatap saya sejenak, lalu berkata, “Pondok lu NU, ya, Bang? Nah... kalau pondok gue... musuhnya NU dah.”

Saya hampir tersedak mie karena tidak bisa menahan tawa mendengar jawaban polos itu.


Sam, Sam... kata saya dalam hati. Kita ini cuma beda metode penafsiran dalil, dan soal qunut di salat Subuh. Karena dalam pandangan saya, satu-satunya musuh NU itu ya ateisme.

Kalau memang begitu, saya jadi membayangkan Sam ikut halaqah bersama orang-orang berjenggot panjang yang meniru gaya Feuerbach atau Marx, duduk melingkar sambil mutholaah kitab Das Kapital, lalu wiridan penuh semangat dengan dzikir: “Agama adalah candu, candu, canduuu...”

Tidak ada yang lebih lucu dari bayangan itu.

Tapi juga, tidak ada yang lebih indah daripada menyadari bahwa di balik segala perbedaan, kita masih bisa duduk bersama, tertawa, dan menemukan kesamaan. Bahwa jika kita mau berbicara —bukan sekadar untuk didengar, tapi untuk saling mendengarkan dan memahami— kita mungkin akan terkejut oleh betapa banyaknya persamaan yang tersembunyi di balik label dan prasangka.

Persamaan hobi, bacaan, tontonan, pandangan, bahkan prinsip hidup, sering kali jauh lebih banyak daripada perbedaan-perbedaan kecil yang kerap dibesar-besarkan.

Kami sepakat bahwa tidak ada satu wajah tunggal untuk NU, ataupun untuk Salaf. Di dalamnya ada spektrum: dari yang paling progresif hingga yang paling konservatif. Mereka bisa saja berada dalam satu barisan, satu bendera, atau satu istilah, namun pikiran dan pendekatan mereka bisa sangat berbeda, bahkan saling bertentangan.

Maka, jangan berharap menemukan satu NU, atau satu Salaf. Karena yang tunggal hanyalah Islam itu sendiri, yakni kepasrahan kepada Tuhan, yang tidak bisa dimonopoli. Yang tunggal adalah kemanusiaan itu sendiri.

Sebagai sesama manusia, saya dan Sam punya banyak kesamaan, salah satunya dalam hal sastra. Pernah suatu hari, setelah saya membagikan puisi lewat status WhatsApp, Sam mengirim pesan, “Bang, gua mau nyampein sesuatu nih. Setiap kali gua liat lu, gua langsung keinget Zafran di film 5cm.”

“Wah, panggil gue Zafran mulai sekarang!” jawab saya sok keren.

Sam tertawa. “Gua dari kecil udah nonton 5cm, tapi baru kesampean naik gunung pas kuliah. Film yang pasti gua tonton dulu tuh: 5cm, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, AADC, Gie, Supernova. Pokoknya yang ada aroma-aroma sastranya lah.”

“Buset! Jadul bener tontonan lu!” saya merespons kaget. Beberapa film yang Sam sebut bahkan rilis sebelum dia bisa bicara, bahkan sebelum ia lahir.

“Iya juga sih,” katanya sambil nyengir. “Tapi gua suka karena ada sentuhan sastranya gitu, Bang. Dulu gua tuh sastrawan banget anaknya.”

“Lah, mana? Sini gua baca puisi-puisi lu,” kata saya penasaran.

“Duh, udah jadi suhuf-suhuf sekarang, Bang.”

“Suhuf? Umur 40 kayaknya bisa jadi nabi lu!” saya membalas sambil tertawa.


Kalau Sam bilang saya Zafran, maka saya bisa bilang Sam adalah Soe Hok Gie, keras kepala tapi penuh hati, berani mengambil risiko, berani disalahpahami, dan tidak pernah gentar hidup di tengah arus tantangan.

Gie adalah suara sunyi yang tak menunggu dukungan untuk bersuara. Sam pun begitu, kadang impulsif, kadang gegabah, tapi selalu jujur pada nuraninya. Dan justru di balik setiap kecerobohannya, saya melihat cermin kita semua: manusia biasa yang pernah bodoh, kadang bijak, sering salah, tapi tak pernah berhenti belajar.

Dan bagi saya, anak muda seperti itu, yang berani hidup dengan segala cacat dan keyakinannya, jauh lebih berharga daripada mereka yang sibuk tampak sempurna.


Minggu, 18 Mei 2025

Rasa adalah Satu-Satunya Cendera Mata yang Layak Dibawa Pulang

Saya terbangun dengan kepala lebih ringan, tidak lagi serasa ditimpa batu seperti saat pertama merebahkan diri, meski punggung masih menyimpan jejak kursi Elf semalam yang keras dan sempit. Paracetamol yang saya telan sebelum tidur sudah bekerja diam-diam, menyusup ke urat-urat kepala seperti hujan ringan yang membasahi atap-atap tenda siang itu.

Suara gaduh di luar tenda memecah sisa keheningan sore. Bukan jeritan panik, lebih seperti rengekan setengah geli. Suara Anita bercampur dengan tawa Veony, disambung bentakan kecil dari Anza dan nada tinggi Chika, “Aaa! Glad! Syam! Cepetan dong, ini ulatnya nempel di tenda!”

Saya keluar dari tenda dengan tergesa, bukan karena panik, tapi karena cemas mereka akan membunuh ulat itu. Tenda-tenda kami berdiri di rumah si ulat, bukan sebaliknya. Kami tamu yang terlalu sering lupa sopan santun. Di gunung, manusialah yang jadi penyusup ke rumah hewan-hewan.

Tanpa ragu, saya ambil si ulat dengan tangan kosong. Kaki-kaki kecilnya menempel menyentuh telapak tangan seperti cubitan kecil, hampir tak terasa. Saya letakkan ia di daun panjang di dekat rerumputan agar ia punya jalan pulang. Ada aturan tidak tertulis di alam bebas ini: kill nothing but time.



Saya berdiri sejenak, mengamati sekitar tenda. Kabut turun pelan, seperti selimut besar yang mengambang dari langit, menutupi segala yang ada. Kelelahan telah berpindah bentuk jadi semacam tenang yang asing. Taman edelwis yang siang tadi ramai kini lenyap, tertelan putih pucat yang menelan batas pandang. Seolah-olah dunia sedang berubah menjadi ruang mistis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Jam di pergelangan tangan menunjuk angka empat sore. Ditemani rintik kecil, saya melangkah menuju Mushola, pelan, tanpa terburu. Masih ada dua jam sebelum masuk waktu Maghrib, jadi waktu Jamak Takhir Dzuhur ke Asar masih panjang. So I have a lot of time to kill.

Pagi itu, kami tiba di gerbang TWA pukul empat dini hari. Langit di atas Papandayan terbentang cerah seperti lembar UTS yang belum diisi; belum ada jawaban yang salah, tapi ada potensi akan kacau. Angin menggigit pelan, dan kabut tipis menyelinap di antara pohon cantigi. Di antara tas carrier yang tergeletak dan bau abab mulut, saya berdiri, menghela napas. Sudah lama saya tidak memimpin rombongan. Kali ini bukan sekadar staycation atau berburu footage sunrise untuk stok reels. Ini kemping, pendakian dan ekspedisi ke gunung. Diam-diam saya menghitung kepala, 19 orang yang setengahnya mungkin baru tahu bahwa “trekking” itu bukan nama sub-unit K-Pop.



Sebagai Tim Inti, Muhid dan Ipin langsung melesat. Langkah mereka ringan, seperti belum kenal nyeri lutut. Tugas mereka jelas: jadi Tim Advance, mendirikan tenda sebelum peserta datang sambil menghindari godaan selfie di batu-batu instagramable. Tenda dan logistik diserahkan ke porter, supaya lebih efisien, lebih sedikit drama, dan karena juga kami bukan tim pengangkut dosa.

Tim dibagi tiga. Saya pemimpin Tim Satu: istri saya (jimat keberuntungan yang saya percaya bisa menjaga cuaca tetap cerah), lalu Gitt, Yash, Glad (mahasiswa senior yang bisa diandalkan), dan Safa, anak tengah yang punya perfect pitch dan label kecerdasan naturalis sejak TK, yang senang bereksperimen dengan segala hal yang baru ia temui, bahkan ia pernah memelihara cacing dalam air di gelas. Ini kali pertama Safa saya ajak naik gunung, untuk memenuhi janji saya ketika ia lulus SD. Papandayan, meski baru pertama kali saya datangi, dikenal sebagai gunung wisata landai yang cocok untuk pemula, jadi seharusnya ramah bagi anak-anak sekalipun. Maka saya bingung ketika Wi dan Yu, dua orang kawan saya, menanggapi kepergian saya dengan ledekan. Wi bertanya, “Kamu mau pesugihan?”, sementara Yu minta dibawakan batu gunung atau rekaman suara gamelan.

Tim Kedua dipimpin Syam, mahasiswa eksentrik dengan celana anti-Isbal yang masih duduk di semester paling kecil di antara rombongan, membawa carrier sebesar hutang negara. Saking besarnya, sampai-sampai ketika ditanya penumpang TransJakarta waktu berangkat, dia menjawab dengan percaya diri, “Gunung Slamet.” Papandayan terlalu jinak untuk tas sebesar itu. Syam punya empat anggota, para anak BEM: Anita, Anza, Chika, dan Veony, yang lebih mahir atur pose joget Stecu Stecu daripada atur napas.

Tim Ketiga berisi campuran antara semangat muda dan lutut renta. Aziz, yang muda dan penuh harapan, dikelilingi orang-orang yang napasnya lebih berat dari tenda Canopy Dome Dhaulagiri. Ada Bu Eny, Bu Som, Kak July, dan Bang Satibi. Dengan segala cinta dan kejujuran, saya sebut mereka: Penat —Pendaki Nafas Tua.

“Yash, lu sweeper ya. Emergency kit bawa, dan HT standby,” kata saya, sambil kasih barang dan tatapan penuh harap. Selama perjalanan ia ditemani Gladwin.

“Siap, Bang!”

“Udah bisa pake HT?” saya tanya.

“Pernah, Bang.”

“Mantap!”

Saya tidak memberikan istruksi panjang lebar soal teknis penggunaan HT, karena fokus untuk segera berangkat, agar sampai camp site sebelum siang. Ditambah lagi, bokong saya sudah nyaris meledak. Antrian toilet di parkiran waktu long weekend sudah seperti antrean bansos. Saya tancap ke Pos 4, berdoa semoga WC-nya kosong. Dan syukurlah, Tuhan mendengar doa orang kebelet. Toilet kosong. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sedang khusyuk boker, suara HT masuk dari suara orang yang tidak saya kenal, bukan dari Yash. Tapi saya mendengar Yash menjawab.

Dari dalam bilik, saya refleks teriak, “Yash, itu bukan gua!”

Momen bonding paling absurd terjadi di tempat paling privat. Setelah itu, saya dan Yash mengkalibarasi ulang frekuensi, mencari yang lebih sepi kemudian set sandi: saya di depan menjadi Alfa, Yash paling belakang menjadi Zulu. Supaya tidak ada miskomunikasi lagi.

Di Pos Tujuh, kami ber-17 beristirahat dengan aman dan tertib. Kami menyebar ke berbagai arah: ada yang berteduh di bawah pohon, duduk di batu-batu besar, bersandar di kursi beton, sibuk mencari spot foto atau sekadar membuka perbekalan.

Syam membuka tasnya. Dari dalam kresek merah, ia mengeluarkan dua kilo salak. Dengan bangga, ia juga mengaku membawa dua buah semangka yang rencananya akan dibuka saat tiba di camping ground. Andai saja saat technical meeting tidak dilarang membawa alat dapur, mungkin Syam sudah  membawa blender dan aki mobil.

Kelakuan Syam, walaupun tidak diniatkan untuk lucu, tetap membuat tawa. Ia jadi sasaran empuk candaan. Semua menikmati momen, berfoto, dan belum ada yang mengeluh. Brigitte berdiri, menatap langit biru muda dengan sorot mata penuh visi.

“Spot ini cakep banget. Syam, tolong fotoin, ya!” katanya sambil menyerahkan ponsel, ekspresinya serius seperti sutradara muda.

“Oke, siap!” jawab Syam sigap. Jepretan pertama dilakukan sesuai arahan Brigitte.

“Ya ampun, Syam! Angle-nya bukan gitu! Naikin dikit, langitnya kurang dramatis. Ulang!” protes Brigitte. Sebagai adik angkatan, Syam menurut. Beberapa kali take, tapi Brigitte masih belum puas.

“Masih gak dapet feel-nya! Kenapa ya, giliran gue motoin orang bagus, giliran gue minta difotoin malah gagal terus!”

Komentar itu mulai menggoyahkan mental Syam. Pemilik akun @terkesan_pic itu mungkin mulai merasa bahwa bakat saja tidak cukup.

Saya ikut memanasi, “Sekali lagi, Syam! Jangan malu-maluin! Kalau masih jelek, hapus aja akun IG lu! Atau ganti nama jadi @tanpa_kesan.”

Tawa meledak. Brigitte juga tertawa, meski matanya tetap ke layar, mencari satu foto yang bisa menyelamatkan harinya. Syam tetap diam, entah merenung soal teknik memotret, atau mempertanyakan seluruh tujuan hidupnya di dunia digital.

Setelah setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Goberhoet. Rencananya, kami akan melakukan pendakian lintas: dari Goberhoet ke Pondok Saladah untuk bermalam, lalu esok paginya turun lewat Hutan Mati kembali ke Pos 7 dan akhirnya ke basecamp.

Saya meminta Bu Eny untuk memimpin rombongan bersama para senior. Dari semua peserta, hanya dia yang pernah mendaki Gunung Papandayan, jadi saya percaya dia tahu jalur. Saya sendiri memilih berada di belakang, sambil mengawasi anak-anak BEM yang sibuk membuat konten joget The Lion Sleeps Tonight sambil berbaris. Lagi-lagi, Syam jadi bintang utama, the Alpha of the ducks.

Saat tiba di Tanjakan Omon, saya sempat heran, kok Penat tidak kelihatan? Saya percepat langkah, mulai curiga. Tapi sesampainya di Goberhoet, tempat itu juga kosong. Penat tak terlihat sama sekali.

“Hah? Ke mana mereka? Bablas ke Saladah? Ngegas amat…” pikir saya, mencoba tetap positif. Sepanjang jalan, kami memang tidak berpapasan dengan mereka.

Namun, diam-diam saya mulai gelisah. Apa mungkin mereka secepat itu?

Sekitar dua puluh menit kemudian, misteri itu mulai terjawab. Aziz muncul lebih dulu, memikul dua keril—satu di depan, satu di belakang—miliknya dan Bu Som. Wajahnya lelah, tapi pasrah, seperti baru selesai ujian skripsi tanpa tahu hasilnya.

Di belakangnya, para pendaki senior muncul satu per satu. Napas mereka tersengal, langkah limbung, tapi tetap berusaha tersenyum. Seperti baru turun dari roller coaster: capek tapi bangga karena tidak muntah. Mereka memilih jalur alternatif yang katanya lebih cepat. Tapi yang tidak mereka sadari, “lebih cepat” sering kali berarti “lebih curam”.




Akhirnya kami tiba di Pondok Saladah dengan selamat. Cuaca selama perjalanan cerah, semangat tim terjaga, dan masih on the track sesuai rencana. Semua mulai sibuk, ada yang membantu membereskan tenda yang belum semua terpasang, memasak, menggelar sleeping bag untuk tidur atau membuat vlog.

Benar apa yang dikatakan Muhid dengan nada setengah filosofis: karakter asli manusia akan keluar saat kemping. Di tengah alam terbuka, tanpa AC, tanpa sinyal apalagi GoFood, topeng-topeng sosial mulai terbuka. Satu per satu watak sejati muncul ke permukaan, seperti game Werewolf. Ada yang tampil sebagai Villager: yang tidak punya kemampuan khusus tapi rajin, cekatan, tahu diri. Ada Seer, si sok tahu, sibuk membaca “niat tersembunyi” orang lain. Ada pula Werewolf, menghindar tiap disuruh cuci nesting kotor, tapi selalu muncul pas mie goreng jadi. Dan tentu saja, ada Hunter: terlalu semangat, ingin jadi pahlawan, tapi sering mengacaukan strategi.

Di antara mereka semua, ada satu karakter yang dari awal tampak seperti Guardian, pelindung dan penjaga para mahasiswi —Lim, dosen muda yang wajahnya seperti oppa Korea versi Kemenag, dengan gaya bicara cepat yang terdengar seperti sedang memberikan ceramah TED Talk bertema “Menemukan Tuhan Lewat Excel”. Ia adalah figur karismatik, dosen favorit para mahasiswi. Tapi bahkan karakter sekuat itu, ternyata tidak kebal terhadap hutan dan gravitasi sosial.

Di awal perjalanan ia masih kalem. Tapi semuanya mulai terlihat saat sesi foto. Saat yang lain tersenyum sopan atau membentuk hati dengan jari, Lim mengambil gaya yang tak terduga. Ia menghadap ke arah berlawanan dari kamera. Lalu berpose di balik batang pohon seperti intel gagal. Atau foto memandang edelweis, dengan ekspresi SpongeBob yang sedang bicara serius dengan ubur-ubur. Para mahasiswi terkecoh, ia yang awalnya dikira kartu Guardian ternyata Joker.

Namun puncak dari semuanya adalah ketika ia kembali dari semak-semak dengan langkah penuh kemenangan. “Saya kencing di sana,” katanya, menunjuk ke rimbun ilalang seperti sedang menandai lokasi penemuan situs sejarah. Tak cukup dengan pengumuman, ia lalu menambahkan act out yang tidak diminta: kedua tangan terangkat ke atas, mata mendongak ke langit, pinggulnya bergoyang-goyang seperti boneka dashboard rusak. Tawa pun pecah. Geger. Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan kehormatannya, bahkan ijazah S2 pun terasa tidak akan menolong.

Sebagai ketua alumni yang menggagas acara kemping lintas generasi ini, saya menyaksikan semuanya dengan hati campur aduk: setengah bahagia, setengah ingin pura-pura tak kenal. Tapi saya tahu, inilah inti dari semuanya. Sejak awal saya menekankan pentingnya kolaborasi—bukan hanya soal membagi tugas masak dan mendirikan tenda, tapi berbagi ruang untuk menjadi manusia seutuhnya: absurd, janggal, lucu, dan tak sempurna.

Di sinilah keberhasilan itu terasa nyata. Tak ada lagi sekat antara dosen dan mahasiswa, alumni dan junior, antara yang dulu dikenal kaku dan yang sekarang tau cara memasang gas di kompor portabel. Di sinilah kita menjadi manusia tanpa CV, tanpa reputasi, tanpa zoom filter. Hanya kita, dalam tawa, dalam betis pegal, dalam nasi yang terlalu lembek atau kerak yang menempel di panci liwet, dan dalam cerita yang akan kita ulangi berkali-kali. Dan sejujurnya, itulah capaian paling berharga.



Petualangan ini dimulai di pagi yang cerah, bahkan nyaris terlalu cerah untuk awal petualangan. Langit tak menyisakan sedikit pun keraguan. Tapi siang menumpahkan gerimis seperti keraguan kecil yang datang terlambat. Sore tiba dengan kabut yang turun perlahan, seperti tirai menutup panggung, menenggelamkan bayangan tubuh di jalur setapak. Lalu dini hari membuka langitnya, seolah ingin menebus semua —sunrise muncul seperti jawaban yang tak diminta, begitu indah sampai suara ngorok semalam lenyap dari ingatan.

Siangnya kembali terang, jalan setapak menuju basecamp terbentang cerah. Tapi di turunan dari Hutan Mati ke pos 7, jalur berubah wajah. Ratusan pendaki datang dengan semangat yang gaduh —FOMO, tek-tok, dan libur panjang menjelma hingar-bingar, ramai seperti pasar di hari-hari terakhir Ramadan.

“Zulu, Zulu! Di sini Alfa! Masuk!” suara saya memanggil Yash dari HT.

“Zulu, Zulu di sini! Alfa, masuk!” jawab Yash, cepat tanpa basa-basi.

“Posisi terakhir. Ganti.”

“Sudah di jalan aspal, lima menit lagi tiba di Mang Asep Basecamp.”

“Copy.”

Hujan turun saat tim terakhir tiba. Langit menutup perjalanan dengan caranya sendiri. Di dalam Elf, saat roda melindas jalan licin melewati plang-plang Burayot yang kuyup, musik karaoke mulai mengalun. Suara fals orang-orang yang berhasil kembali pulang memenuhi kendaraan.

Ini—kalau boleh jujur—adalah salah satu trip paling solid yang pernah saya ikuti. Tapi juga perjalanan yang menyisakan begitu banyak kekhawatiran, terutama untuk saya. Kekhawatiran itu menyelinap seperti hawa dingin —tanpa rupa, tapi menyusup sampai ke sum-sum tulang.

Saya sempat khawatir pada mereka yang belum sempat warming up sebelum trekking. Kram bisa saja datang tiba-tiba. Dalam kepala saya, satu kalimat berulang seperti mantra buruk: bagaimana jika satu orang saja tak bisa naik? Atau tak bisa turun? Satu orang saja. Maka seluruh rencana bisa berantakan. Dan tim, yang tadinya solid bisa berada dalam pertaruhan. Akan kami tinggalkan ia naik atau turun sendiri? Atau bertahan, menyesuaikan langkah, menangguhkan waktu pulang?

Saya khawatir hujan, bukan hanya air dari langit, tapi segala yang dibawanya: tanah licin, tubuh lembap, semangat yang melemah. Cuaca tak pernah benar-benar setia pada rencana.

Saya khawatir pada Bang Satibi yang jatuh di toilet rest area 88. Yash menyerahkan trekking pole-nya dengan cepat, dan saya merasa dua hal sekaligus: lega dan pasrah. Saya khawatir pada Bu Som yang memanggul tas terlalu besar untuk bahunya, langkahnya berat, napasnya tercekat tiap tanjakan. Saya khawatir pada Veo, lehernya terkilir di kursi Elf yang tanpa bantal leher. Saya khawatir pada Bu Eny yang mungkin diam-diam masih menahan sakit lutut seperti di Prau dulu. Tak berkata bukan berarti tak terasa. Saya khawatir pada Anita, sol sepatunya terkelupas, mungkin sepele, tapi cukup untuk membuat perjalanan panjang menjadi menjengkelkan. Saya khawatir pada Glad, jari tangannya luka kecil tapi sakitnya bisa menandakan ia mulai terinfeksi.

Di jalan pulang, saya khawatir saat kendaraan berhenti di rest area 88B. Lokasi parkir gelap, dan terlalu dekat dengan arus lalu lintas. Saya berdiri di pintu, memperhatikan satu persatu agar tidak ada yang terserempet mobil dari belakang. Tapi karena itu saya nyaris kehilangan Safa, ia tidak ada. Dalam hitungan detik, seluruh isi kepala saya dilanda kepanikan. Saya mencari ke segala arah. Sampai akhirnya saya menemukannya di antrean toilet, tenang, tak tahu bahwa saya hampir ambruk oleh cemas.

Saya khawatir kami tiba terlalu malam. Saya membayangkan mereka berdiri di trotoar kampus, tak ada ojek tersisa, tak ada kendaraan, malam terlalu larut untuk pulang, dan sebagian harus tidur di lantai ruang kelas.

Dan setelah semuanya, setelah jalanan, tanjakan, dan pulang yang panjang, saya sadar satu hal yang seharusnya sederhana: hidup itu seperti kemping. Yang bijak adalah yang membawa hal yang paling penting. Terlalu banyak logistik justru membuat langkah berat. Begitu pula pikiran, tak bisa menampung seluruh kemungkinan buruk, tak bisa dijejali semua kekhawatiran. Overthinking hanyalah cara lain menaruh batu di dalam ransel yang sudah berat.

Dan saya—saya khawatir terlalu banyak hal, sampai-sampai nyaris lupa pada satu hal yang tak bisa diulang: saya tak menghabiskan cukup waktu bersama istri dan anak saya. Mereka ada di sepanjang perjalanan, tapi kami hanya muncul dalam dua spot foto. Dua. Sisanya, saya terlalu sibuk menjadi kompas, menjadi peta, menjadi khawatir.

Lucunya, saya tak pernah terlalu peduli pada momen yang tidak diabadikan lewat kamera. Saya tak punya IG, Facebook atau TikTok. Bukan karena ingin tampil puritan, tapi karena saya sudah sampai di satu titik di mana saya melihat orang terlalu sibuk mengabadikan momen, sampai lupa merasakannya. Saya tidak ingin jadi salah satu dari mereka. Maka saya menulis. Bukan hanya untuk mengingat apa yang terjadi, tapi juga untuk menyimpan apa yang tak bisa ditangkap lensa.

Saya masih ingat sore itu, di Pondok Saladah, kabut turun seperti jubah. Dunia perlahan terhapus, menyisakan hanya langkah, niat, dan udara dingin yang masuk ke sela-sela sweater.

Saya biarkan diri diam di situ, tak tergoda mengambil hand warmer atau kamera. Lagipula, foto secanggih apa pun takkan pernah bisa menangkap utuh momen seperti ini. Gambar tak bisa menampilkan rasa dingin yang meremangkan bulu-bulu tipis di pipi, atau hembusan angin lembap yang menyelusup ke leher dengan pelan, atau basah gerimis yang menelusup ke sela-sela rambut kepala.

Video pun akan gagal menangkap harum samar tanah basah yang bercampur daun gugur dan sisa kabut yang belum turun. Aroma yang hanya bisa dihirup ketika sunyi sudah cukup dalam, ketika suara alam mendominasi lanskap.

Apa yang saya lihat, dengar, dan hirup saat itu tak satu pun bisa dipindahkan ke layar. Dan mungkin memang seharusnya begitu. Beberapa momen hanya hadir untuk ditinggali, bukan dimiliki. Karena mungkin, pada akhirnya, rasa adalah satu-satunya cendera mata yang layak dibawa pulang. Bukan pesugihan, batu, apalagi suara gamelan.



Minggu, 28 Januari 2024

Tanah Suci, Wanita Suci dan Usia yang Tepat untuk Menjadi Nabi

Nath akan berusia 40 tahun itu, dan satu-satunya yang ia khawatirkan adalah ia tertarik meniru orang-orang untuk ikut kontestasi menjadi nabi.

Ia tinggal di Depok, Lia Eden berasal dari sana, begitu juga Ahmad Musadeq. Saya tertawa ketika ia mengatakan fakta itu. Andai saja ia punya orang dalam MK, tentu ia tidak perlu menunggu usia 40.

Kami sudah lama tidak bertemu, namun ia masih hangat menyambut ketika saya datang seakan-akan kita adalah kawan yang sering bertemu. Percakapan dengannya mudah. Ia masih seperti dulu ketika saya pertama kali mengenalnya; supel, berbadan tinggi tegap, dan berkulit gelap. Memang terdengar seperti deskripsi tiang listrik.

Hari itu ia meminta saya mengisi workshop tentang kepenulisan di sekolah tempatnya bekerja. Ia tidak mengatakan bahwa ia adalah kepala sekolah di SMP itu, sampai saya selesai memberi materi.

"Pantesan tadi gua bawain materi joke tentang lu gak ada yang ketawa." Kata saya setelah turun panggung, "Bukanya gak lucu berarti, emang mereka sungkan aja."

Saat ini hampir setiap bulan ia ke luar negeri, membawa jamaah Umroh. Ya, selain kepala sekolah, ia juga adalah salah satu "Mutowwif" pada travel agency yang sering wara-wiri ke Tanah Suci.

Muslim Indonesia adalah salah satu yang paling banyak pergi ke Arab Saudi, baik ketika Haji apalagi Umroh. Sehingga tidak heran di sana banyak pedagang arab menawarkan dagangan mereka menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan menerima "Uang Jokowi". Maksudnya mata uang Rupiah, bukan Bansos. 

Nath pernah misuh ketika pertama kali menawar dagangan menggunakan Bahasa Arab fasih tapi dijawab oleh si pedagang Arab dengan Bahasa Tanahabang, "Tau gitu ngapain gua latihan Muhadatsah! Mending part time jadi penjaga toko Blok M!"

Beberapa bulan yang lalu, Wi —salah satu kawan yang kebetulan juga kepala sekolah, juga melaksanakan Umroh. Ia Wanita Suci. Bukan seperti Sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa dengan tanpa ayah. Bukan. Tapi karena ia tidak bisa lagi menstruasi, atau hamil, atau sarapan nasi uduk di bulan Ramadhan, karena ia sudah tidak punya rahim.

Sebelum operasi pengangkatan rahim, ia pergi Umroh. Mungkin untuk meminta petunjuk, atau ketenangan, atau semacam pertaubatan kalau-kalau ia mati di meja operasi sementara ia masih suka memaki ketua yayasan.

Saya selalu senang mendengar pengalaman kawan-kawan ketika mereka berkunjung ke Masjid al-Haram.

"Aku baru sadar," Wi menjelaskan, "ternyata di sana karakter, kebiasaan, kesukaan kita benar-benar diperlihatkan."

Kemudian ia bercerita tentang pengalamannya dengan berapi-api, seperti biasanya. Tentang bagaimana orang-orang yang tinggi besar tidak mau mengalah sehingga ia tidak bisa mendekati Ka'bah, bagaimana kesabarannya diuji dengan seorang wanita gemuk yang tiba-tiba duduk menghalangi tempatnya sujud. Karena tidak bisa diajak bicara dengan baik, Wi membentak, "MA'AM, PLEASE MOVE! MOVE!! OR I'LL CUT YOU IN A HALF!!!"

Bercanda. Kalimat terakhir hanya dramatisasi, walaupun kalau saat itu Wi membawa Katana, mungkin bisa kejadian.

"Aku kan di sini suka foto-foto, ya." Wi meneruskan cerita, "di sana gak tau kenapa, sering banget aku diminta untuk fotoin orang yang gak aku kenal. Padahal waktu minta foto, ada orang yang jaraknya lebih deket dengan dia loh. Ngapain dia harus bela-belain berjalan memutar hanya untuk minta aku fotoin? Bener-bener gak bisa dinalar."

Di hari berikutnya, ia datang agak terlambat untuk salat subuh di Masjid Nabawi. Ia terjebak di tengah kerumunan orang yang sudah bersiap untuk salat. Semuanya sudah berdiri di shaf masing-masing kecuali dia. Ia tidak menemukan shaf kosong, sementara terlalu jauh jika ia mundur ke shaf paling belakang. Ia bersandar di pojok salah satu tiang masjid dan tidak berani meminta melonggarkan barisan kepada orang-orang di dekatnya agar dia bisa masuk. Tentu ada alasan kenapa dia enggan, karena beberapa hari sebelumnya, ia pernah sengaja tidak melonggarkan shaf untuk orang yang tidak mendapat shaf. Sekarang kejadiannya berbalik. Qisas instan.

Saya tersenyum mendengar cerita Wi. Sejak pertama kali saya mengenalnya, ia tetaplah Alfa Female yang tidak mau kalah dan perfeksionis, jadi ketika ia bilang di Kota Suci karakter seseorang akan sangat ditampakkan, saya sudah bisa membayangkan ia bertengkar dengan orang-orang Afrika yang besar dan bau terasi. Untungnya itu tidak terjadi, yang terjadi adalah ia bertengkar dengan tukang perhiasan di pasar Suwaiqah karena menawar emas terlalu rendah.

Nath belum pernah bercerita tentang pengalaman spiritual apapun ke saya sepanjang perjalanan berkali-kali ke Tanah Haram. Mungkin saja ia pernah bertemu malaikat di dekat Gua Hira, atau bertemu Nabi Khidir di parit bekas Perang Khandaq atau dicium bapak-bapak berjenggot karena dikira Hajar Aswad.

Wi punya pengalaman yang lebih ajaib. Jam tangan kesukaannya diminta oleh seseorang yang tidak ia kenal. Awalnya ia sempat ragu, namun akhirnya ia ikhlas memberikan. Mungkin Allah punya rencana, batinnya. Ketika ia menceritakan kejadian itu, seorang ibu tua yang satu grup dengannya berkata enteng, "Akan ada gantinya nanti, Wi. Jangankan jam, mobil juga bisa kamu beli."

Tidak beberapa lama setelah Wi pulang Umroh, ia membeli mobil.

Super sekali, Pak Mario.

Nath, Wi dan banyak kawan-kawan saya yang lain punya beragam alasan dan keinginan untuk pergi ke Tanah Suci; ada yang karena kewajiban, pekerjaan, penasaran, kebutuhan, meminta ampunan, memohon rizki, keselamatan, kesembuhan, ketenangan hati, petunjuk dan lain-lain. Harapan-harapan itu ada yang Allah kabulkan langsung, ada yang ditunda, ada yang diganti dengan yang lebih baik.

Alhamdulilah, 8 jam Histerektomi Wi oleh dua dokter spesialis berjalan lancar, walaupun di tengah operasi sempat terjadi kondisi menegangkan. Sementara Nath sampai saat ini masih mencari dukungan ormas besar untuk memenuhi 20 persen ambang batas Nabiyatul Threshold.

Semoga Allah yang Maha Mengatur mengundang dan memanggil kita untuk berkunjung ke Baitullah. Bukan hanya untuk yang belum pernah, namun juga untuk yang sudah pernah, karena selalu ada kerinduan untuk kembali berziarah ke makam Rasulullah yang mulia.


Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wasahbihi ajmain.

Rabu, 31 Mei 2023

Dua Kisah Patah Hati dalam Satu Malam

Shel tidak tahu bagaimana cara melupakan Hans.

Slam tidak tahu bagaimana cara memutuskan Reyf.

Ini adalah dua kisah patah hati yang rumit, bukan karena semata-mata kondisinya sulit, namun karena ada dua pasang hati yang rentan remuk.

Setelah rencana pernikahannya gagal --yang sudah saya prediksi dalam tulisan ini--, Shel sadar mulai menyukai Hans, seseorang yang sudah bertunangan.

"Emang lu gak ada kandidat lain?" saya merespon sambil tertawa.

"Gak ada, A Nelal," Shel menjawab.

"Masa?" saya sangsi, karena dengan kemampuan dan track record Shel, saya percaya dia bisa menghubungi salah satu dari puluhan mantan dan menjalin hubungan kembali, atau mencari yang lain yang benar-benar baru.

"Beneran. Hans itu tulus banget," Shel memberikan alasan mengapa saat ini ia benar-benar yakin. Shel memberikan beberapa contoh, ia mengatakan Hans berbeda dari semua laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya. Menurut Shel, he is the one. Masalahnya hanya satu, Hans sudah bertunangan dengan seseorang yang saat ini sedang tinggal jauh, dan merasa berat untuk memutuskan pertunangan itu.

Dari cerita Shel, saya mengerti Hans juga menyukai Shel, sementara Shel merasa Hans seharusnya tidak menikah dengan tunangan karena hubungan Hans dan tunangan adalah hubungan yang transaksional, tidak ada cinta yang tulus. Hans mempertahankan pertunangan semata-mata karena dua keluarga sudah saling mengenal dan Hans tidak mau merusak semua.

Di hari yang sama, Slam menghubungi saya bercerita tentang hubungan dengan Reyf yang seperti tanpa ujung. Mereka sudah menjalin hubungan selama 10 tahun dan tidak sekalipun Slam dikenalkan secara resmi sebagai pacar oleh Reyf kepada orang tua Reyf. Bahkan Slam menjemput Reyf untuk pergi bukan di rumahnya, tapi jauh dari gang rumah, sehingga tetangga atau orang tuanya tidak tahu. Menurut Reyf, belum saatnya Slam dikenalkan kepada orang tuanya karena Slam belum mapan. Awalnya Slam pikir itu alasan yang masuk akal, namun ia sadar kemudian bahwa kemapanan tidak bisa diukur dan ia akan merasa pada kondisi tidak pernah mapan. Slam merasa Reyf tidak punya kemandirian dan keberanian, ia merasa orangtua Reyf masih menganggap Reyf anak kecil. Sementara Slam sudah berumur 27 dan ia sudah merasa cukup dengan hubungan seperti itu dan ingin mengakhirinya.

"Saya mo ke Semarang, mau mutusin langsung Reyf." Dalam 4 tahun terakhir ini mereka menjalani LDR, Slam di Bekasi sementara Reyf kuliah di Semarang. Sebagai gantle man Slam merasa harus mengatakan keputusan itu langsung.

"Jadi alasannya karena Reyf gak punya independensi dalam hubungan ini?" saya bertanya.

"Bukan cuma itu sih. Saya ngerasa hubungan ini makin lama makin toxic." Slam memperlihatkan 274 pesan WhatsApp yang belum dibaca Slam dari Reyf, "Ada saran, Sir?"

"Gua netral. Gak mendukung lu untuk terus mempertahankan hubungan ini atau putus. Semua pertimbangan dan keputusan ada di lu.” Saya memberi saran, “Gua prediksi Reyf gak mau putus, tapi gua mendukung lu mengatakan langsung apa yang jadi ganjalan selama ini, alasan mengapa mau putus. Selanjutnya biar waktu yang akan menentukan."

"Oke, sir. Gua udah susun argumen yang akan gua omongin nanti,"

Sudah beberapa bulan berlalu setelah percakapan-percakapan itu.

Shel bercerita bahwa ada Orang Pintar yang mengatakan bahwa Hans telah diguna-guna oleh tunangannya, sehingga walaupun mereka LDR selama beberapa tahun ini dan banyak masalah yang terjadi, Hans masih tidak mau memutuskan tunangan.

Sejujurnya saya tidak bisa menanggapi hal yang tidak bisa diverifikasi. Bagi saya, sebelum ada bukti, itu hanya akan menjadi omong kosong. Bukan berarti saya menafikan ada hal gaib, mungkin saja apa yang diungkap Orang Pintar itu benar, tapi menelan begitu saja keterangan seseorang tanpa ada pikiran kritis dengan kesimpulan logis, hanya karena semata-mata itu adalah hal gaib yang tidak bisa dipikirkan, adalah tindakan yang bodoh. Itu alasan mengapa masih ada saja orang, bahkan yang berpendidikan tinggi, yang masih tertipu dengan dukun pengganda uang. Karena mereka tidak meletakan pikiran yang kritis terhadap hal-hal yang gaib atau spiritual.

Dalam kasus Shel, pikiran kritis itu bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana, apa yang membuat Shel percaya pada Orang Pintar itu? Apa alasan ia bisa dipercaya? Apakah ada bukti ia mengetahui hal yang hanya diketahui Shel dan Hans? Apakah Orang Pintar itu punya motif ingin dianggap sakti, uang, atau ada motif lain? Dan yang terakhir, jika ia menafsirkan sesuatu, apakah yang diungkapkan adalah sepesifik, sebagian atau umum? Pikiran kritis seperti itu yang harus selalu ada, terlebih ketika orang itu mengatasnamakan agama dan syariat. Ayu Utami menyebut itu spiritualisme kritis, keterbukaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.

Saya berkesimpulan, masalah yang terjadi pada Shel adalah karena ia salah berpikir. Ia terlalu banyak menyalahkan orang atau hal lain yang di luar dirinya. Jika ia tidak mengubah cara berpikirnya, masalah yang sama akan kembali terualang. Siapapun kita, ada hukum yang tidak tertulis berbunyi masalah yang kita hadapi akan terus berulang sampai kita belajar sesuatu darinya. Itu terjadi pada saya, Shel, Slam atau siapa saja.

Dalam kasus Slam, ia sempat bingung dengan perasaan yang ada saat ini, karena ia merasa sudah tidak merasakan hal yang sama ketika dulu ia pertama kali mengenal Reyf. Apakah ini love, lust atau care? Ia bertanya.

“Definisi cinta pada tiap orang itu berubah-ubah.” kata saya, “Lu tanya ke gua 10 tahun yang lalu, sekarang, dan 10 tahun yang akan datang akan beda jawabannya. Karena perasaan memang berubah, bisa berkembang juga layu.”

Ya, saya mengerti bahwa seberapa mesra dan menggebu suatu hubungan di awal, gairahnya akan memudar dan sebaiknya ada perasaan lain untuk menggantikan. Begitulah faktanya. Itu sama dengan fakta bahwa kita tidak perlu berganti teman jika kita sadar bahwa teman memang berubah.



HARI ini saya tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan Shel dan Hans. Terakhir kali bicara dengan Shel ia minta didoakan semoga ia jadi dengan Hans. Saya berdoa semoga ia sehat dan bahagia dengan apapun rencan Tuhan. Ia bersikeras mau didoakan supaya jadian dan menikah dengan Hans. Saya tetap mendoakan semoga ia sehat dan bahagia.

Sementara dugaan saya benar, Reyf tidak bersedia putus dengan Slam dan setelah Slam mempertimbangkan beberapa kondisi, akhirnya ia ingin mempertahankan hubungan dengan Reyf.

“Tapi sekarang Reyf jadi insecure. Saya harus yakinin dia lebih dari sebelumnya.” Slam menjelaskan. Saya kira itu adalah hal yang akan ia temui berulang-ulang dalam hubungan apapun.

Saya selalu pada kondisi tidak mengerti dan selalu belajar tentang perasaan, juga patah hati. Patah hati tidak pernah mudah. Semua orang sadar bahwa pada suatu waktu, cepat atau lambat, mereka akan tiba pada kenyataan bahwa mereka akan mengalami patah hati. Kesadaran seperti itu harusnya membuat kita tidak terlalu marah atau emosional. Jika kamu siap menghadapi, memang itu tidak akan membuatmu marah. Hanya akan membuatmu merasa sakit. Sangat sakit. Mungkin kamu berpikir bisa membayangkan sakitnya, tapi kamu salah. 

Ya, bagaimanapun sakit hati adalah sebuah keniscayaan. Wanita bisa menyakiti laki-laki dan juga sebaliknya. Setiap orang, baik yang kamu kenal ataupun tidak, bisa saja menyakitimu, kamu hanya perlu mencari orang yang benar-benar layak untuk menyakitimu. 

Sampai sekarang saya masih belajar untuk mencintai, untuk mencari dan menemukan arti cinta. Elizabeth Gilbert yang berkeliling dunia, mencari penghiburan setelah perceraian yang sulit itu menulis dalam memoar Eat, Pray, Love, “Orang-orang berpikir Soul Mate adalah pasangan yang sempurna, dan itulah yang diinginkan semua orang. Tapi Soul Mate sejati adalah sebuah cermin yang menunjukkan segala hal yang menghambatmu, orang yang membawa ke dalam dirimu sendiri hingga membuatmu mengubah hidupmu sendiri.”

“Soul Mate sejati mungkin adalah orang paling penting yang pernah kamu temui, karena mereka meruntuhkan pertahanan jiwamu dan membuatmu terbangun. Tapi untuk hidup dengan Soul Mate selamanya? Jangan. Terlalu menyakitkan. Soul Mate, mereka datang ke dalam hidup hanya untuk mengungkapkan lapisan lain dari dirimu, dan kemudian pergi.”

“Tujuan Soul Mate adalah untuk mengguncangmu, merobek sedikit egomu, menunjukkan kesulitan dan obsesimu, membuka hatimu sehingga cahaya baru bisa masuk, membuatmu begitu putus asa dan lepas kendali sehingga kamu harus mengubah hidupmu, lalu memperkenalkanmu dengan guru spiritualmu...”

Pengalaman seseorang dengan perasaan adalah pengalaman pribadi yang sangat intens, siapapun tidak bisa ikut campur. Karena kehilangan, sebagaimana cinta dan patah hati, memang tidak pernah sederhana.

Jumat, 26 Agustus 2022

Dua Film Thailand dan Satu Serial yang Hampir Thailand

Slamet merekomendasikan dua buah film thailand (Fast & Feel Love dan Happy Old Year) ketika di saat yang hampir bersamaan Kucey meminta saya menonton serial drama Korea berjudul Voice.

Fast & Feel Love dan Happy Old Year adalah dua film thailand yang disutradarai oleh Nawapol Thamrongrattanarit (jangan minta saya membaca apalagi menghapal nama itu), yang mengangkat isu hubungan cinta yang kandas.

"Lu emang suka film drama kayak gitu?" Tanya saya ke Slamet.

"Suka sih, Sir." Jawabnya cepat. Saat ini ia berusia 26 tahun, sudah lulus kuliah dan masih bekerja. Sewaktu SMP, ia pernah menjadi murid saya, maka ia tetap memanggil saya Sir. Sebagai egalitarian, saya tidak keberatan ia memanggil saya apapun dan saya sudah terbiasa memanggilnya sama seperti saya memanggil kawan-kawan lain.

"Relate sama kehidupan lu?" Saya tertawa.

"Sial!" ia kesal, "Bisa jadi. Kadang ya ngebayangin aja ntar kalo kejadian di gua gimana gitu,"

"Lu mo putus sama Refin?" Saya menggodanya.

"Astagaa!" Slamet kaget, "Nggak, Sir. Gak kepikiran putus. Lagi baik-baik aja."



Fast & Feel Love disajikan dalam nuansa komedi yang kuat namun tidak slapstik dan murahan, bahkan di beberapa adegan saya menangkap kesan satir dan gelap. Sinematografi dan pengambilan gambar di buat modern dengan warna pastel yang teduh, melengkapi adegan dan beberapa karakter yang sangat jelas sekali sedang memparodikan filem populer terkenal, bahkan sampai ke taraf Meta Comedy. Drama yang dimasukan, yang menjadi magnet kelucuan film ini memang terkesan lebay, namun disaat yang sama tetap memberikan bekas yang dalam.

Film ini bercerita tentang Kao, seorang juara dunia olahraga susun gelas yang dicampakkan oleh pacarnya dan harus belajar keterampilan dasar orang dewasa agar bisa hidup sendiri dan mengurus diri sendiri. Di akhir cerita, penonton terbawa emosi dengan resolusi yang menggantung namun juga dibuat senang akan perkembangan karakter Kao yang tumbuh menjadi manusia dewasa. Seperti kebanyakan kita yang tumbuh seiring dengan masalah serta orang-orang yang datang dan pergi di kehidupan, yang membuat kita menjadi lebih dewasa atau malah sadar bahwa kita terlambat dewasa.



Perpisahan yang pahit namun "baik-baik" saja juga disajikan Nawapol dalam Happy Old Year. Dibanding Fast & Feel Love, film ini lebih serius dan depresif walaupun juga masih menampilkan sedikit sisi komedi yang suram.

Saya penasaran serta punya ekspektasi tinggi ketika Slamet menceritakan premis Happy Old Year, dan itu terbayar lunas setelah saya selesai menonton. Film ini bercerita tentang Jean, wanita yang ingin mengubah design tempat tinggalnya menjadi minimalis, namun terbentur kenyataan bahwa membuang barang-barang dari masa lalu tidak semudah yang ia bayangkan, karena setiap benda punya cerita dan kenangan.

Pada beberapa adegan, penonton dibuat ikut merasakan kecanggungan, kegugupan, getaran dalam suara, serta konflik dalam klimaks yang terasa dekat karena dibuat dengan dialog datar tanpa teriakan namun berbobot, membuat nyeri dan menggugah. Itu yang membuat film ini menjadi halus, dalam serta mengaduk perasaan.

Minimalisme yang diusung film ini bukan hanya terwakili dari tampilan layar yang diubah menjadi 4:3, menurunkan kontras warna serta memasukan tema usang tentang melupakan masa lalu, namun juga karena peristiwa di dalamnya begitu sederhana, relevan, nyata bahkan sangat puitis. Ada sebuah benda metaforis yang kokoh memberikan nuansa seperti puisi dalam film ini, jika dalam Parasite metafora itu berbentuk batu, dalam film ini berbentuk piano. Ada shoot sekitar 1 menit yang hanya menampilkan wajah Jane dengan segala emosi di dalamnya. Betapa wajah bisa menapilkan visualisasi emosi yang tidak bisa dilukiskan oleh gambaran secanggih apapun.

Seperti dunia minimalis, film ini menyempitkan pandangan para karakter kepada dunia yang hitam putih, antara membuang dan melupakan, atau mengenang dan menyimpan. Dua ekstrim mutlak yang tidak punya resolusi jalan tengah. Tidak ada persahabatan, pilihannya antara meneruskan atau melupakan.

Itu sama seperti ketika saya akan memutuskan apakah akan memeruskan atau melupakan serial rekomendasi Kucey yang belum sempat saya tonton habis. So many movies and books, so little time, kata saya kepadanya melalui pesan WA.

"Mister Nailal jangan lupa nonton Voice," Sebelumnya Kucey meminta dengan emotikon berharap. Ia mungkin seumur dengan Slamet, dan tidak pernah jadi murid saya, tapi entah mengapa ia memanggil saya Mister. Saya tidak keberatan dipanggil apapun, but I've never felt like I was any teacher for her.

Voice adalah drama thriller asal Korea yang juga sudah diadaptasi ke Thailand. Serial yang tayang sejak 2017 ini bercerita tentang seorang detektif urakan dan seorang operator Emergency Call Centre dengan bakat mengenali suara, bekerja sama untuk menangkap penjahat yang membunuh orang yang mereka cintai. Saya menggoda Kucey yang merupakan fangirl NCT dengan menampilkan screenshot Voice versi Thailand, tapi sepertinya ia sedang tidak ingin bercanda, atau memang selera humor kami yang berbeda.

Saya sadar akan konsekuensi Cancel Culture karena mengolok-olok fandom K-Drama, namun bagi saya, lucu adalah ketika di telinga masih hangat terngiang "swadikaap", saya membuka Netflix dan menemukan Voice versi Thailand yang menampilkan adegan awal yang klise dengan penjahat psycho tapi dungu karena tidak menyita handphone dari orang yang ia culik. Saya sempat berharap mungkin akan lebih menarik jika sepanjang episode para karakter mengucapkan swadikap saja sebanyak-banyaknya.

Sungguh saya tidak terbiasa mendengar bahasa Thailand atau Korea. Bahkan ketika menonton Money Heist --yang saya lebih suka versi Korea dibanding Prancis, saya men-dubbing dengan Bahasa Inggris. Senang sekali bisa mendengar tokoh-tokohnya fasih berbahasa Inggris dan bisa mengucapkan huruf akhir tanpa suku kata dengan benar. Mantap! Bukan Mantapu!

Sejujurnya, Voice versi Thailand jauh lebih saya suka karena ia menghilangkan atau mengganti adegan, drama serta dialog yang tidak perlu pada versi Korea, disamping juga membuat alur dan logika cerita menjadi lebih jernih. Di episode perdana, kemampuan unik Irin/Lee Hana membuat saya teringat Patrick Jane dalam The Mentalist yang mencari psikopat pembunuh istri dan anaknya dengan keahlian mentalisme, atau crime serial Amerika seperti Castle, Lie to Me, Forever, atau Perception, yang menggunakan keahlian unik para protagonis untuk memecahkan masalah kriminal. Satu hal yang mungkin paling kentara membedakan Voice dengan serial kriminal Amerika adalah ia menyajikan ketegangan dari hasil perpaduan sound, pengambilan gambar dan pemotongan adegan yang bisa membuat penikmatnya kecanduan.

Araseo!




Rabu, 17 Agustus 2022

Lebih Baik Ikan Julung-Julung di Tangan Daripada Ikan Kakap tapi Lepas

Saya tiba ketika mereka bertiga sedang asik menyiapkan berbagai piranti pancing yang akan dibawa.

Kami sepakat untuk memancing dan menjadikan rumah Oechil sebagai basecamp. Kami berangkat menggunakan dua motor. Edo dan Deni di satu motor kemudian Oechil dan saya di motor yang lain. Perjalanan berlangsung normal sampai Oechil mengajak melewati galangan tambak.

Oechil yang mengendalikan motor, berhenti di tengah galangan, "Diem, Mi. Jangan bergerak."

"Bangsat Lu, Chil!" saya memaki, mematung tegang karena kami berjalan di atas tanah selebar jengkalan tangan.

Oechil membalas dengan tawa.

Jika tiba-tiba motor mati, maka tidak akan ada pijakan lain untuk kaki dan kami akan tercebur bersama. Atau sedikit saja saya yang duduk di kursi belakang melakukan gerakan tiba-tiba, motor bisa tidak stabil dan kami berdua bisa berakhir penuh lumpur. Sebenarnya saya tidak terlalu khawatir, karena toh itu motor Oechil dan kalaupun jatuh, kami jatuh berdua. Saya lebih mengkhawatirkan Si Buncit Edo dan Deni yang mengikuti di belakang dengan wajah pucat, tidak bisa turun untuk menuntun motor, apalagi putar balik.

Hari itu saya tidak jadi menonton dua ekor kerbau gupak di lumpur.

Kami tiba di warung tepi muara untuk naik perahu. Di sampan menuju spot pemancingan, kami melewati deretan tanaman bakau, dan beberapa tanaman perdu. Saya mengamati pucuk dedaunan berharap menemukan hewan liar seperti monyet atau burung, tapi nihil. Saya mengalihkan pandangan ke sudut-sudut tepian muara berharap menemukan buaya.

"Masih ada buaya di sini, Chil?" Saya bertanya ke penguasa lokasi.

"Hus, jangan disebut!" Oechil melarang.

"Beneran ketemu, lu!" Deni Bagong menimpali.

"Orang sini nyebutnya Penganten." Edo lebih informatif dan solutif.

"Ohh," Saya pikir mengganti kata buaya dengan Penganten akan lucu dan malah semakin menyakiti hati buaya. Apa yang lebih menghinakan buaya yang hidup penuh kebebasan selain disamakan dengan kata yang arti sebenarnya adalah orang yang meninggalkan masa lajang karena memilih menghadapi masalah hidup yang belum pernah mereka hadapi?

Saya membayangkan ada orang yang lari terengah-engah menyelamatkan diri karena kawannya baru saja dimakan buaya, dan melapor ke orang-orang di warung kopi di sekitar muara. "Bang, tolong, Bang! Kawan saya dimakan Penganten!"

Tidak ada yang lebih lucu dibanding orang mati karena dimakan Penganten. Apalagi Penganten Sunat.

"Kalo gua nyebutnya Crocodile, kira-kira buayanya paham gak?" Saya usil bertanya.

Bagong dan Edo hanya melihat saya dengan tatapan dasar-bocah-bego!.

Kami sampai spot memancing di ujung muara waktu asar, kemudian segera mempersiapkan alat-alat pancing. Deni mulai merangkai dan meminjami saya salah satu alat pancingnya. Ia mengajari saya cara membuat kombinasi dan simpul yang mengikat senar ke kail dan kili-kili.

Kami akan Ngoncer atau memancing menggunakan umpan hidup, sementara hanya Oechil sendiri yang kali itu ingin mencoba teknik Casting menggunakna umpan tiruan. Namun sebagai tuan rumah, Oechil tetap meminta anak buahnya untuk menyiapkan udang. Edo mengeluarkan aerator portable untuk diletakan di tempat umpan agar udang tetap hidup bahkan sampai esok hari. Ya, hari itu kami akan menginap dan memancing sepanjang sore, malam dan esok pagi.

Saya mengamati mereka bertiga yang sedang asik menyiapkan alat yang beberapa baru saya lihat kali itu. Sudah lama sekali saya tidak memancing. Dulu ketika SD, saya sering memancing ikan di sawah dengan hanya bermodal joran bambu yang saya buat seadanya, senar yang mengikat pumbul dan kail menggunakan teknik simpul sekedarnya, tanpa reel, timah, stopper, kincringan, apalagi starlight.

Berbeda dengan memancing dengan cara modern, memancing dengan cara tradisional menurut saya lebih mendebarkan. Joran lebih ringan dan tipis, sehingga kedutan dan hentakan yang terasa karena ikan memakan umpan lebih menggetarkan sanubari. Ya, saya tahu itu lebay. Namun itu adalah pengalaman ekstase yang membuat ketagihan dan betah memancing berjam-jam.

Itu kali pertama saya memancing di muara dan sepertinya Edo meremehkan saya.

"Tau gak lu ini apa namanya?" Edo sombong, memperlihatkan box berisi piranti pancing. Deni bercerita bawa Edo baru membeli reel, dan joran yang ia punya adalah hasil pemberian kawan kami Moses Si Dewa Mancing, makanya dia agak sombong.

Tapi dia sombong kepada orang yang salah, karena tidak menunggu lama sampai saya strike pertama. Ikan Lundu. Kecil. Ya, sekecil apapun strike tetap strike.



Ikan Lele laut atau disebut juga Ikan Lundu atau Keting rata-rata beracun. Duri punggung atas dan dua sirip dada dapat menimbulkan luka yang menyakitkan bahkan fatal.

Samin, pekerja di tambak bahkan bercerita kalau obat satu-satunya adalah suntikan dokter. Namun jika mau bertahan, rancunnya mungkin akan hilang dalam 24 jam. Dalam waktu-waktu tersebut, menangislah sekeras-kerasnya karena hanya itu yang dapat mengurangi panas bisanya.

"Memang yang penting itu bukan alat, tapi skill. Itu yang membedakan antara Angler profesional dan amatir!" saya membalas kesombongan Edo sambil tertawa.

"Keberuntungan pemula!" Edo merespon seperti enggan mengakui pencapaian saya.

Tidak lama kemudian, saya strike ikan kedua, "Kalau sekali itu keberuntungan pemula. Kalau dua kali apa namanya, Bung?"

Edo manyun karena ia belum dapat ikan seekorpun. Bahkan sampai keesokan paginya ia masih Boncos. Ia hanya mendapat dua ikan kecil sesaat sebelum kami pulang pada siang hari. Entah ikan apa. Mungkin Julung-Julung.

"Ada kaidah, apa yang terjadi sekali tidak akan terjadi dua kali. Tapi apa yang terjadi dua kali akan terjadi untuk ketiga kali." kata saya sambil melemparkan kembali umpan.

"Gua suka gaya lu!" Edo nyengir.

Benar saja, saya mendapat ikan lagi setelah itu.

Menit berjalan lambat. Itu Malam Satu Suro, dan menurut saya sama saja seperti malam-malam sebelum itu. Sama seperti fakta bahwa itu hari ulang tahun saya, dan menurut saya sama saja seperti hari-hari sebelum itu. Hari pertemuan, hari perpisahan, bagi orang lain akan terasa sama saja, karena yang membuat itu spesial adalah perasaan.

Malam itu angkasa penuh bintang. Deni bilang kalau suasananya tenang seperti suasana malam di gunung. Tentu ada bedanya, di gunung, di ketinggian tertentu, tidak akan ada nyamuk, sementara nyamuk muara sungguh gila.

Makin malam, suasana makin sepi, nyamuk makin hilang, hanya gemericik air dan suara percakapan kami. Sambil makan Timbel yang sudah disiapkan istri Oechil, kami mengenang masa lalu. Masa-masa di pesantren ketika kebahagiaan kami lebih sederhana; diajak makan Timbel kawan yang baru dijenguk orang tua. Sementara masalah terberat kami juga lebih sederhana; kebagian jadwal Muhadloroh.

Sekarang kami semua sudah berkeluarga. Masalah berganti, yang dulu kami anggap masalah kecil sekarang jadi besar, begitu juga masalah yang dulu kami anggap besar sekarang jadi kecil. Urusan salah meletakan handuk sehabis mandi atau sendal sehabis keluar rumah bisa menjadi masalah besar bagi yang sudah berkeluarga.

"Gua mah bingung. Ada aja orang yang bilang, 'enak banget hidup lu mah, Te'" Deni Bagong, RT yang malam itu seharusnya mengurus pawai obor tapi malah kabur mancing, memulai cerita. "Lah mo gimana lagi, kata gua. Elu hidup banyak duit, laki-bini kerja, masih ada bisnis sampingan, lah harusnya mah lebih enak hidup lu daripada gua. Lah gua bayar pajak mobil aja harus jual motor."

Edogawa lebih suram. Ia mengundurkan diri dari pekerjaan tetapnya sebagai guru dan sepertinya juga kehilangan selera untuk kembali menjadi kacung. Saat ini perkejaannya mengojek, namun pekerjaan utama tetap sama; berkhayal.

Oechil tidak banyak bercerita malam itu. Dari kami bertiga, ia satu-satunya yang sangat fokus memancing. Ia bahkan tidak tidur semalaman dan strike 3 Monster Keting seukuran lengan orang dewasa. Saya terlonjak dari tidur-ayam ketika pukul 2 dini hari ia mencabuti patil Keting beracun menggunakan tang.

Oechil tidak bercerita tentang kepahitan hidupnya, bukan karena tidak punya, tapi karena memang ia tidak mau cerita. Menurut saya semua orang punya masalah, maka saya tidak mengerti mengapa ada orang yang menginginkan kehidupan orang lain. Tidak ada orang yang sempurna, dan kehidupan orang lain selalu terlihat lebih baik. Seperti kata pepatah, rumput tetangga lebih hijau daripada rambut tetangga.

"Gua bingung sama Edo!" Deni bercerita ke saya waktu kami hanya berdua, "Mo gua cariin kerja, tapi mo kerja apa? Gua takut dia gak cocok. Lu tau sendiri bocahnya kayak gitu."

"Elu bukan orang pertama yang curhat ini ke gua, Gong!" Saya cekikikan. "Apa yang buat lu yakin dia lagi susah dan butuh kerja?"

"Ya lu bayangin aja, gua pernah ngojek, Mi. Paling berapa sih penghasilannya? Dia sarjana loh!"

Saya mau mengulang pepatah rumput tetangga, tapi takut tidak lucu, "Kita kan ngeliatnya dari luar, Gong. Siapa tau dia lebih bahagia sekarang. Gua sih ngeliatnya begitu, tapi gua yakin setiap orang akan tiba pada kata cukup. Biarin aja sekarang dia nikmatin hari-harinya."

Masalah hidup akan datang silih berganti. Tahun-tahun yang angkuh terus berjalan maju meninggalkan umur yang angkanya terus membesar, tanpa peduli manusia-manusia yang tidak siap. Saya belajar, seharusnya saya lebih peduli pada apa yang ada dalam diri sendiri daripada mengkhawatirkan apa yang ada di luar. Kita tidak bisa mengontrol apa yang ada di luar, tapi kita bisa mengendalikan pikiran sendiri.

Pikiran dan intensi adalah yang terpenting. Pada tataran praktis, itu sebab orang mengganti Buaya menjadi Penganten. Saya tahu pergantian nama itu untuk mengakali law of attraction. Hukum atau konsep yang menyatakan bahwa pemikiran positif akan berdampak positif bagi kehidupan seseorang, begitu juga pemikiran negatif. Walaupun menurut saya dampak yang ditimbulkan adalah dampak psikologis, sugesti atau plasebo semata.

Tidak akan ada orang yang melarangmu untuk berpikir bahawa hidupmu sulit, pekerjaanmu selalu menyusahkan, dan kehidupanmu penuh kesengsaraan. Sama juga tidak ada yang melarangmu untuk berpikir bahwa kehidupanmu baik-baik saja, dan kamu bahagia apapun keadaanmu.

"Mi, strike, Mi!" Deni memecahkan lamunan saya. Ujung joran yang dipasang starlight bergoyang-goyang. Saya mengangkat joran dan mulai menggulung reel. Gulungan terasa berat, joran semakin melengkung. Ini pasti Monster, kata saya dalam hati. Tarikan semakin kuat, gulungan reel semakin berat, joran makin melengkung. Saya bertarung, menarik joran sekuat tenaga, tapi tiba-tiba gulungan terasa ringan dan makin ringan. Senar putus dan ikan besar Mocel.

Kata para pemancing, hidup itu seperti memancing, kadang mendapat ikan besar, kadang kecil, kadang terlepas, jadi harusnya kita bisa bersyukur. Seperti pribahasa, lebih baik ikan julung-julung di tangan daripada ikan kakap tapi lepas. Sementara masalah hidup itu seperti Racun Lundu, jika mau bertahan, rancunnya mungkin akan hilang, dan dalam waktu-waktu tersebut, menangislah sekeras-kerasnya karena hanya itu yang dapat mengurangi panas bisanya.






Senin, 23 Mei 2022

Maktub, Pul!

Premier League baru berjalan 7 pertandingan. Dini hari itu, sambil makan nasi goreng pinggir jalan, saya dan Qoffal menonton Chelsea vs Southampton. Seperti biasa Qoffal bertanya tentang prediksi juara musim ini.

"Merah memang bagus musim ini, tapi yang juara tetep biru." kata saya.

"Biru ada banyak, bang. Biru yang mana nih? Chelsea, City, Everton?"

Tiga yang Qoffal sebutkan memang sedang bagus di awal musim, terutama Chelsea yang baru saja juara Champion. Tapi pertanyaan Qoffal seperti memposisikan saya sebagai cenayang atau mafia judi yang bisa membaca detail dari skor sampai poin yang akan didapat di akhir musim.

"Memang begitu cara kerja prediksi, bung!" jawab saya, "Tidak boleh terlalu jelas."

Ya, rahasia langit memang tidak pernah benar-benar eksplisit, penuh metafora yang tidak terang.

Pekan ke 32, liga menyisakan 6 pertandingan, City dan Perpul ada di puncak dengan selisih 1 poin. Qoffal VC dan bertanya tentang hal yang sama, "Prediksi gimana, bung?"

"Masih sama prediksi gua di awal musim; biru yang juara." Saya menjawab cepat.

"Serius bang? Sampe akhir musim terus selisih 1 poin?"

"Kemungkinan besar."

Kemudian kami berdiskusi tentang kekurangan Perpul musim ini. Saya bilang musim ini Si Merah punya kedalaman squad yang baik. Mungkin terbaik sepanjang sejarah sepak bola modern. Tapi mental yang akan membedakan.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa Salah dkk. tidak punya mental juara. Hanya mereka bagus di waktu yang Salah. Bukan, bukan Mo. Salah. Maksud saya ini sama saja ada seseorang yang sedang mengejar karier di bidang jurnalistik dan ingin menjadi yang terbaik, tapi sezaman dengan Najwa Shihab. Bukan dia tidak bagus, hanya ia bagus di waktu yang salah. Bukan, bukan Mo. Salah.

Kita perlu melihat mental De Bruyne dkk. yang bertanding sehari setelah pertandingan Perpul. Secara mental mereka pasti lebih tertekan, tapi mereka tetap bermain baik. Sampai liga menyisakan 4 pertandingan, selisih masih 1 poin. 

Rotasi di tubuh Perpul tidak membuat pasukan Klopp bermain buruk. Perpul terus melaju dengan kemenangan demi kemenangan. Qoffal menyebut timnya tim terbaik dari yang terbaik. Saya mengiyakan. Ingat, saya bukan fans kardus, dari awal saya tidak meragukan. Ditambah tidak ada badai cedera, mereka akan berjaya sampai akhir musim. Liverpudlian tinggal melakukan mubahalah agar pasukan Pep terpelesat. Saya membalas, "Tim terbaik dari terbaik yang ngarepin tim lain kepeleset itu ibarat orang ngaku kaya tapi ngarepin sedekah 🤣🤣🤣"

Itu metafora yang sulit disangkal.

Pertandingan menyisakan 3 match. Qoffal masih bertanya kemungkinan lain. Berharap ada clue yang berbeda. Saya bilang, "Yang tertulis akan tetap tertulis."

Pertandingan akhir dilangsungkan bersamaan. Perpul vs Wolves, City vs Aston. Qoffal sepertinya sudah pasrah, walaupun saya tahu fans nekat seperti dia masih berharap akan sejarah 4 trofi dalam semusim yang gilang gemilang.

Half time. Perpul seri. City kalah 1-0 atas Aston. Poin sama, hanya selisih gol. City masih di puncak. Menit 69 Coutinho memperbesar kemenangan untuk Aston yang saat itu dinahkodai Gerrard menjadi 2-0. Inilah waktu dimana Liverpudlian di seluruh dunia percaya bahwa Gerrard dan Coutinho adalah bagian penting atas akan terciptanya sejarah quadruple untuk klub Inggris yang tidak mungkin terulang bahkan mungkin dalam 100 tahun yang akan datang. Perpul hanya butuh satu gol, dan semuanya selesai. Namun asa itu dikandaskan, karena dalam waktu 6 menit, yaitu di menit 76, 78 dan 81, Gundogan dan Rodri membalikan keadaan. City menang. Hasil akhir City menang 3-2. Perpul menang 3-1. Kemenangan Perpul percuma karena City tetap juara dengan selisih 1 poin.

Qoffal bilang musim ini mirip musim 18/19. Ya, sejarah memang berulang. Pada orang sakit hati itu disebut trauma 🤣.

Jadi begitulah.

Maktub, Pul! 🤣



Kamis, 10 Maret 2022

Laki-laki Bodoh dan Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas *

"Jadi nonton apa, Shel?" tanya saya kepada Shel tidak lama setelah ia duduk menghadap komputer. Sementara saya sedang duduk di sampingnya menghadap komputer yang berbeda. Ia kawan kerja saya pagi itu.

"Moonfall. Bagus banget filmnya, A Nelal. Nonton deh!" Shel menjelaskan dengan berbinar.

"Yang penting bukan filmnya, tapi nonton sama siapa." kata saya sambil tertawa. "Jadi nonton bareng Sam?"

"Jadi!"

"Kenapa Shel dan Sam gak jadian?"

"Gak mau. Udah sama-sama tahu masing-masing bejatnya."

"Ya, bagus dong. Emang pasangan yang baik kan harus begitu. Masa mau nikah sama orang yang gak tau baik buruknya?"

"Ih gak gitu, A Nelal. Sam mah cuma temen." Shel membela diri, tapi terasa asal-asalan. Karena jika ia tidak mau dengan Sam karena alasan sudah tau baik buruknya, maka itu jadi argumen yang tidak logis. Jika alasannya dibalik, maka akan ada 2 kesimpulan yang ngawur. Pertama, ia suka dengan laki-laki yang hanya baik saja, yang sempurna. Dimana mustahil ada orang seperti itu. Atau yang ke dua, ia suka dengan laki-laki yang hanya ia tahu baiknya saja. Bukan karena ia sempurna, tapi karena ia menyembunyikan kejelekannya. Saya tidak mengerti. Memang mungkin selamanya saya tidak akan pernah paham jalan pikiran perempuan.

Saya tertawa tapi sambil tetap mencecar alasan yang menurut saya lebih masuk akal, "Jadi Shel gak mau sama Sam karena dia jelek?"

"Sam tuh ganteng, A Nelal!" Shel membuka handphone kemudian menunjukan sesuatu, "Nih liat fotonya."

Saya mengamati foto itu dengan seksama dan Shel kembali menjelaskan, "Sebenernya Shel pernah nembak dia dulu, tapi ditolak!"

"Ooh." respon saya cepat, "Coba liat isi chat sama Sam."

"Udah gak ada. Udh diapus."

"Kenapa?"

"Deyn mau dateng." Lagi saya tertawa. Shel seperti sedang menutupi sesuatu dari Deyn. Mereka baru berkenalan 6 bulan dan sehabis lebaran tahun ini berencana menikah.

"Kenapa sih, banyak banget orang yang nyuruh Shel jadian sama Sam?"

"Siapa yang nyuruh? Gua gak nyuruh." Siapa saya meminta hal yang bukan wewenang saya, "Gua cuma nanya alesan kenapa gak jadian sama dia."

"Ya karena dia cuma best friend. Temen curhat. Udah terlalu akrab kita tuh. Kemaren dia aja dateng-dateng langsung meluk. Shel udah tau jeleknya. Lagian Sam mah bodoh."

Tawa saya makin keras, "Semua laki-laki di seluruh dunia memang bodoh, Shel!"

"Termasuk, A Nailal!" Shel merespon cekikikan.

Saya berenti tertawa dan berpikir, "Kecuali gua!" dan kembali tertawa.

Survey membuktikan bahwa 2 dari 10 laki-laki takut menyatakan cinta, 1 berani menyatakan langsung, sementara 7 sisanya menunggu waktu yang tepat.

Jadi tidak heran saya mengenal banyak laki-laki bodoh tak bernyali seperti Sam, sebut saja Bams dan Ryo. Laki-laki yang suka dengan perempuan, tapi menunggu waktu tepat untuk mengungkapkan perasaan yang selamanya tidak pernah mereka temukan. Setelah semuanya terlambat, barulah mereka sadar akan kebodohan mereka. 

"Trus apa kata Sam waktu Shel cerita mau nikah?"

"Dia nanya, 'Yah, gua gak bisa maen sama lu lagi dong Shel?'"

"Shel jawab apa?"

"Ya udh lu dateng waktu suami gua gak ada aja."

Saya kembali merespon dengan tawa, "Jadi Shel gak bisa kalo gak temenan sama Sam?"

"Gak bisa lah!" Jawabnya cepat, "Orang waktu itu mantan Shel pernah nanya, kalo suruh milih lu pilih gua apa Sam, trus Shel jawab, 'ya pilih Sam lah!'"

"Bocah gila!" Saya geleng-geleng kepala, "Sekarang gimana kalo kita balik?"

"Maksudnya?" Shel minta penjelasan yang lebih panjang.

"Ya, Deyn punya temen cewe yang deket kayak Shel dan Sam. Shel cemburu ga?"

"Nggak." jawab Shel cepat.

"Gak usah buru-buru jawab, Panjul!" komentar saya disusul gelak tawa Shel.

 

Saya selalu tidak pernah menanggapi curhatan Shel dengan serius, karena kisah cintanya selalu terdengar bercanda. Ia pernah pacaran dengan beberapa laki-laki sekaligus. Apa ada yang lebih lucu dari itu? Karena seringkali adegannya seperti dalam sinetron indosiar; panik bersembunyi karena gebetan yang sedang jalan bersama ternyata lewat di depan rumah pacarnya yang lain.

Namun hari itu berbeda. Pagi itu Shel datang dengan mata sembab dan wajah pucat. Dia bilang Kalau Bosan-nya Lyodra yang ia dengar semalam berhasil membuatnya kembali mengenang masa lalu dan menangis.

"Bagus lah!" kata saya, "Berarti Shel masih punya hati."

Saya menggoda, mencari lagu yang ia sebutkan kemudian menyetelnya di komputer.

"A Nelal mah gak pernah serius!" Shel terdengar kesal.

Saya tertawa, "Ya mau gimana lagi?" kata saya mencoba sedikit serius, "Gak ada orang yang bisa mengendalikan perasaan. Shel hanya bisa mengendalikan tindakan. Kalau sekarang perasaannya lagi kangen, ya udah mau gimana lagi? Nikmatin aja."

"Shel gak kangen!" lagi-lagi Shel menjawab terlalu cepat.

"Jadi itu mantan yang paling mengganggu pikiran?" Saya bertanya.

Shel bercerita tentang Alf. Tentang rencana menikah yang tidak dipenuhi. Tentang keegoisan. Ketidakcocokan dengan keluarga. "Alf terlalu mikirin Tetehnya. Tetehnya juga kayak gak tau malu, minta tolong terus sama Alf. Gak pernah mikirin perasaan Shel."

Saya mendengarkan Shel bercerita, bertanya dan mencoba menangkap apa sebenarnya yang ia rasakan.

"Jadi Shel maunya gimana?" tanya saya di akhir cerita.

"Gak tau. Gak tau juga nih mau dikirimin undangan atau nggak." ia terlihat bingung, tapi sedetik kemudian ia seperti yakin, "Tapi kirimin aja ah. Biar dia dan keluarganya tau. Biar Alf nyesel dan berantem sama Tetehnya."

Saya ingin tertawa, tapi karena ia meminta saya untuk serius, maka saya merespon, "Jadi tujuan Shel ngasih undangan untuk menyakiti Alf?"

"Iya!" Shel meneruskan, "Ini Alf juga barusan ngeliat status Shel. Pasti Alf ngerasa tersindir."

Shel membacakan status yang ia buat untuk kawannya yang baru saja menikah. Kawan yang juga kawan Alf, yang tahu kisah cinta Shel dan Alf dari awal sampai mereka putus. Di akhir statusnya Shel menyindir, "Gak kayak gua yang kandas karena gak diperjuangkan."

Social Media memang membuat perkara melupakan atau masalah hubungan seremeh apapun semakin rumit.

"Shel gak benar-benar ingin menyakiti Alf." Saya berkomentar.

"Maksudnya?" Shel penasaran.

"Iya, Shel gak benar-benar ingin menyakiti Alf kan?"

"Beneran. Serius. Dia sering berantem sama Tetehnya gara-gara Shel. Kalo Alf tau Shel beneran nikah, pasti dia berantem lagi sama Tetehnya."

"Kalau Shel mau mencintai seseorang, cintai dengan sebenar-benarnya. Jika ingin membenci, bencilah dengan sesungguh-sungguhnya."

"Gimana cara membenci dengan sesungguhnya?"

"Jangan, kalo Shel gak bener-bener yakin," Saya melarang.

"Ih, beneran. Gimana caranya?" Shel setengah memaksa.

"Hal yang paling menyakitkan bagi seseorang adalah tidak dipedulikan. Kalo Shel masih nyimpen nomornya, berarti Shel masih peduli. Shel bahkan masih peduli karena tujuan membuat status salah satunya agar dibaca Alf, untuk menyindir. Tujuan memberi undangan supaya bikin Alf nyesel dan beranten sama Tetehnya. Itu artinya Shel masih peduli. Itu sama sekali tidak menyakitkan. Hal yang paling menyakitkan bagi seseorang adalah tidak dipedulikan. Dilupakan."

"Ya udah, Shel hapus sama blok aja nomornya," Shel membuka HP dan menghapus nama Alf.

Sedetik kemudian saya merasa bersalah karena menyarankan hal yang kejam. Tapi bagaimanpun itu sudah keputusan Shel. Keputusan apapun, baik dibuat dengan emosional dan terburu-buru atau penuh pertimbangan, pasti punya konsekuensi. Shel sudah cukup dewasa dan bisa bertanggungjawab atas sikapnya sendiri. Saya hanya berharap semoga ia belajar dan menjadi manusia yang lebih baik di atas keputusan-keputusan itu. 

Shel adalah pribadi yang baik, dan tuntunan agama menyatakan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, sementara laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk. Saya enggan berceramah panjang lebar, karena bisa jadi itu hanya informasi yang tidak bermakna. Einstein pernah bilang bahwa informasi bukanlah pengetahuan, pengetahuan yang sebenarnya adalah pengalaman. Semoga Shel belajar tentang kehidupan dari pengalaman hidupnya sendiri.

"Jadi tujuan Shel menikah untuk menyakiti Alf?" saya bertanya. Alf sebenarnya adalah mantan sebelum ia memutuskan menikah dengan Deyn.

"Ih, enggak! Ya ampun demi Allah enggak, A Nelal!" Shel menjawab. Masih dengan cepat.

Jawaban pertanyaan saya untuk Shel sungguh bukan untuk saya, tapi untuk Shel sendiri. Jadi pertanyaan-pertanyaan itu sejatinya tidak harus dijawab segera, karena saya tidak butuh. Shel yang lebih membutuhkan, karena bagaimanapun tidak ada manusia yang bisa berbohong pada hatinya sendiri.

------------------
* Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah Judul Novel karya Eka Kurniawan. Sudah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. 

Minggu, 31 Oktober 2021

Belok Kanan Planet Pluto

Dulu, basa-basi dari tuan rumah "Jangan kapok maen ke sini lagi ya!" dan "Udah nginep aja!" menurut saya hanya sekedar formalitas sopan-santun biasa, sampai saya tiba di Cabangbungin. Daerah yang konon kabarnya hanya berjarak setengah jam dari planet Pluto.

Cabangbungin memang bukan seperti Rengasdengklok yang terkenal dengan tempat penculikan proklamator. Ia lebih dikenal dengan istilah tempat penculikan anak dedemit.

"Lah banget jauh!" Tuan rumah berkomentar dengan bahasa yang lucu ketika kami masih di jalan, sekitar 35 kilo dari pusat peradaban terdekat. Lokasi yang ia share tidak membantu, karena ia memberi live location yang berubah-ubah. Memang aneh.

"Lurus aja, sampe ketemu desa, trus patokannya depot isi ulang," ia memberi arahan. Awalnya saya pikir, masih jauh dan lurus aja itu kalimat yang membingungkan. Karena bisa saja kami salah berbelok di jalan persimpangan entah dimana. Tapi instruksi itu benar. Di jalanan desa, kita tidak akan salah berbelok. Pilihannya adalah antara mengikuti jalan yang ada atau berbelok ke galangan sawah.

Saya tidak bertemu Robet sejak lulus Aliyah. Tentu Robet bukan nama sebenarnya, di kampung tidak ada orang tua yang mengambil resiko menamai anak dengan nama yang berpotensi menjadi penghuni neraka. Nama sebenarnya mengingatkan kita pada tokoh sufi wanita termasyhur; Rabi'ah al-Adawiyyah.

Itu kali pertama saya main ke rumahnya. Sehari sebelum kunjungan, grup WA kelas ramai karena Njay mengusulkan untuk berlebaran ke Kiyai Fachruddin dan mampir ke rumah Biah. Seperti biasa, beberapa orang menyetujui. Beberapa kawan memohon maaf karena tidak bisa ikut. Sisanya tidak berkomentar.
 
"Kita tunggu aja sampai jm 10. Kalo ga datang, ya kita tinggal." Kata saya ke Njay, ketika menunggu beberapa kawan lain yang bilang akan ikut.
 
Njay sepertinya selalu berpikir positif. Ia masih yakin Edo dan Erte akan datang. Ia tidak sadar sedang berhadapan dengan politisi tingkat akar rumput yang hobi ngerjain orang.
 
Pernah suatu hari, Deni Bagong si Erte mengerjai kawan kami Ihsan Sempak. Ketika Edo yang saat itu masih duda, akan melangsungkan pernikahan, Sempak berencana ikut. Kami berkumpul di rumah Edo dan berencana ikut rombongan besan.

"Lu bilang apa ke Sempak, Gong?" Tanya saya ke RT super sibuk itu.

"Gua suruh ke sini. Gua bilang kita tungguin."

"Lah kita bentar lagi mau berangkat, Lih!" Kata saya bingung.

"Biarin! Kita tinggal aja." Bagong nyengir, "kalo beneran dia sampe sini, baru kita share loc lokasi acara."

Memang niat Erte mau ngerjain. Karena bisa saja dia langsung share loc sehingga bisa langsung ke lokasi tanpa berjalan memutar. Benar saja. Sempak tiba di rumah Edo dan bersungut-sungut karena mendapati rumah telah sepi.
 
Kendaraan melewati depot isi ulang air minum yang menjadi patokan rumah Biah karena memang tidak terlihat di pinggir jalan. Biah menelpon meminta kami memutar balik. Entah bagaimana dia tau kendaraan sudah kebablasan? Apakah kendaraan kami satu-satunya yang lewat jalan itu, karena masyarakat masih menggunakan kuda dan pedati sebagai alat transportasi?

Kentung, sopir kami, memutar balik kendaraan di jalan yang saya pikir tidak akan ada ujungnya, akhirnya kami tiba di lokasi.
 
“Edo pernah kesini, Bi?” saya bertanya pada tuan rumah tidak beberapa lama setelah duduk di sofa.

“Pernah. Naek sepeda malah. Kirain mah sekarang mikut!”

“Mmm, tau gua sekarang kenapa dia gak mau ikut,” saya nyengir.

“Kenapa?” Biah penasaran.

“Kapok!” saya terbahak.

Setelah banyak cerita dan tertawa. Tuan rumah mempersilahkan kami makan. Hidangan dikeluarkan, dan saya menduga ia akan mengadakan acara syukuran panen raya. Banyak sekali makanan yang disajikan; bekakak ayam, sayur asem, telur asin, lalapan, dua macam sambel belum lagi kue lebaran yang tidak sanggup kami cicipi semua.
 
“Iya, kirain banyak yang ikut, jadi dimasakin banyak.” Biah berdalih, “Abisin pokoknya!”

Saya tidak menyalahkan kawan-kawan yang bilang akan ikut, tapi ternyata tidak bisa hadir. Semakin dewasa saya semakin bisa memaklumi. Kami bukan lagi anak 17 tahun yang hanya bangga pada komunalitas semu. Niat silaturahim dan kesenangan mengobrol dengan tuan rumah yang lama tidak bertemu merupakan kesyukuran yang tidak boleh dirusak dengan hal sepele. Begitulah seharusnya persahabatan yang tulus, memahami kondisi yang mungkin tidak lagi sama. Saya belajar bahwa kita tidak perlu berganti teman jika kita sadar bahwa teman memang berubah.

“Ayo Tung jamaah!” Saya mengajak Kentung Salat Asar setelah kenyang makan.
 
“Ntar dulu napa, masih bega ini perut,” Kentung bersandar di sofa.

Saya, Njay dan Fawwaz tidak menghiraukan Kentung dan memulai salat.

“Kiblatnya ke arah sini, Bi?” tanya saya ke tuan rumah.

“Iya, itu kan udah digelarin sejadah,” Biah menjawab sambil lewat.

Saya melantunkan Iqomah, Njay berdiri menjadi imam. Tidak lama setelah itu, dalam keadaan salat, belum selesai rakaat pertama, Biah setengah berteriak mengingatkan, “Eehh, kiblatnya salah!”

Dalam hati saya mengumpat, “Tadikan gua udah tanya, Markonah! Lu bilang iya!”
 
Saya menahan tawa dan menutup mulut dengan sebelah telapak tangan. Tawa saya pecah, begitu melihat Njay membatalkan salat sambil misuh, “Lah gimana sih?!”

Di ruang tengah Kentung terbahak, “Kualat lu, solat ninggalin gua sih!”




Jumat, 01 Oktober 2021

Air Adem dan Ngomong Kanan

SAYA tiba di rumah Njay ketika ia sedang bermain dengan anaknya di depan rumah, di pelataran mushola. Hari itu kami berniat berkunjung, berlebaran ke pesantren Kiya Fachruddin, dan menjadikan rumah Njay sebagai titik kumpul.
 
"Ada selang, Jay? Gue mo nyuci motor," Tanya saya ke tuan rumah sambil melepas baju koko dan peci. Saya merasa kurang enak berkunjung ke rumah guru dengan motor yang mirip sapi sehabis karapan, "Sama lap sekalian ya,"

“Waz, ada kanebo gak?” Njay bertanya ke adik Iparnya. Fawwaz menunjukan lokasi kanebo dan saya mulai mencuci.

"Yang laen gimana nih? Jadi pada ikut gak?" Njay bertanya ragu. Sambil menyiram motor dengan air keran mushola, saya memberi gestur tidak tahu.


KAMI memutuskan untuk pergi menggunakan dua motor. Njay dan Fawwaz di satu motor. Saya sendiri di motor yang sudah mentereng baru dicuci.

Tidak beberapa lama kami berkendara, telpon saya berbunyi.

"Udah sampe mana, Mi?" suara Kentung melalui earphone yang saya sambungkan ke helm.

"Pom bengsin. Gak tau daerah mana." Jawab saya cepat. Saya menyebut plang apapun yg ada di tempat itu.

"Oh, masih deket. Mampir ke tempat gua dulu. Nanti bareng-bareng ke Bang Fachruddin naek mobil gua." Kentung meminta ikut.

"Kalo itu tanya ketua dah," kata saya mengarahkan Kentung untuk bertanya kepada Njay.

"Dari tadi gua telpon Njay gak diangkat,"

Beberapa menit setelah itu, kami sudah berada di dalam Fortuner hitam. Kentung membawa full team; istri dan anaknya. Saya, Fawwaz dan Njay di kursi tengah. Kentung dan Septi, di kursi depan. Dan dua anak Kentung di kursi belakang.

“Mi, gua mo cerita, tapi awas ya, jangan lu tulis!” dari belakang kemudi Kentung memberi peringatan, sambil fokus melihat jalan dan sesekali memaki.

“Udah cerita aja.” Saya merespon. Saya tidak mengerti kenapa beberapa kawan yang bercerita tentang dirinya, suka berpesan untuk tidak saya tulis. Kentung bukan orang pertama.

“Awas ya, kalo lu tulis. Fesbuk lu gua hack.” Kentung mengancam. Saya tertawa. Jadi kalau setelah saya posting tulisan ini tiba-tiba ada video tata cara mengajukan pinjaman online di sini, kita tahu siapa pelakunya.

“Gua tuh, beberapa kali diminta aer adem sama orang-orang.” Kentung memulai cerita, “Gua juga bingung kenapa.”
 
“Buat apaan?” saya penasaran.

“Ya gak tau! Buat macem-macem kali. Buat sakit, tapi kebanyakan buat usaha,”

“Orang yang minta tau lu bekas anak pondok kali?” saya menebak.

“Lah tau dah. Yang gua heran, yang dateng tuh bukan dari agama kita, Mi.” Kentung menjelaskan dengan serius.

“Lah manjur, Tung.” Saya memuji sambil tertawa, “Emang lu kasih aer apa?”

“Awalnya sih gua kasih aer zam-zam. Emang kebeneran lagi ada. Tapi lama-lama gua kasih aja aer keran.” Kentung menjelaskan sambil cekikikan.

“Wah, parah luh! Serius?” saya menggeleng. Njay dan Fawwaz tidak bisa menahan geli.
 
“Nih ada bini gua nih. Lu tanya aja langsung kalo emang gak percaya mah,” saya memandang Septi di kursi depan yang menganggukan kepala tanda mengiyakan. Saya tidak punya alasan untuk tidak percaya.

“Lah kadang-kadang gua ditelpon, Mi.” Kentung menjelasakan sambil memperagakan sedang ditelpon karyawan tokonya. Sebagai anak bontot, Kentung mengurus toko mabel keluarga, “’Ada yang dateng ke toko minta aer, bang.’ Ya gua suruh aja isiin botol akua bekas pake aer keran.”

Saya kembali menggeleng dan cekikikan karena keisengan dan kelakuan ajaib Kentung. Keisengan itu sebenarnya sudah ada sejak saya mengenalnya pertama kali pada saat kami di pondok Tsanawaiyah puluhan tahun lalu yang kemudian saya abadikan di novel Badung Kesarung.

Beberapa waktu lalu saat saya membaca karakter Buto dalam Novel Rapijali, pikiran saya segera memvisualisasi gambaran Kentung yang sejak dulu memang sudah berwujud bangsa jin; buncit, tajir, percaya diri, iseng, blak-blakan cenderung kasar tapi juga pada saat yang sama supel, setia kawan dan perasa bahkan melankolis.

Ia tipe anak yang suka mem-bully tapi juga bersedia dan menikmati ketika ia di-bully. Memanggil kawan-kawan lain dengan macam-macam julukan seenaknya seperti Idung Cutbray, Pantat Bebek, Siluman Bibir atau dengan enteng menyapa nama bapak mereka. Kebanyakan kawan dengan mental kurang terlatih akan minder dan sakit hati dengan ejekan itu, namun Kentung hanya bisa dihadapi dengan cara balas menampar dengan kualitas tamparan yang setimpal. Impas.
 
Pernah suatu hari kami berkumpul untuk tahlilan wafatnya istri kawan kami Edo. Tidak beberapa lama setelah saya duduk bersila diantara kawan-kawan yang lain, Kentung menyapa, “Gimana kabarnya Haji Wahab?”

“Bokap gua udah meninggal, Lih!” kata saya datar. Sapaan pertama sudah cari masalah, pikir saya. Tapi tentu itu pertanda keakraban.

“Oh,” Kentung menjawab pendek.

Ini saatnya saya memberi tamparan yang setara, “Haji Nalih gimana? Masih idup?”

“Alhamdulilah, sehat. Kalo kagak mah gua kagak bergaul sama rakyat jelata kayak lu lu pada. Udah foya-foya gua dapet lungsuran,”

Bangsat, maki saya. Dengan santai ia bercanda tentang kematian dan kami tergelak menikmatinya.


KAMI tiba di pelataran pesantren bertepatan dengan azan zuhur, kemudian segera berwudhu untuk salat berjamaah di masjid, berharap Kiyai Fachruddin akan menjadi imam. Namun ternyata beliau sedang ada tamu dan mungkin melakukan jamaah di dalam pesantren.
 
Selesai salat, kami menuju bagian dalam pondok. Angin sepoy-sepoy bertiup dari arah sawah di samping bangunan santri. Menuju saung bambu yang asri, kami berpapasan dengan rombongan yang berjalan keluar karena sudah selesai sowan. Saya membayangkan saung itu tidak penah sepi dengan jamaah yang datang silih berganti. Karena ketika kami sedang bercakap-cakap dengan Kiyai Fachruddin pun, ada beberapa orang yang datang nimbrung.
 
Tidak jarang tamu datang jauh dari luar kota, luar pulau bahkan sampai larut malam. Kiyai Fachrudin bercerita bahwa pernah ada tamu belum pulang padahal ia sudah sangat mengantuk. Akhirnya beliau tertidur ditengah para tamu yang sedang bercengkrama.

“Cuma kalau sudah spertiga akhir malam gitu, ngomongnya jangan ngomongin kiri, saya bilang,” Kiyai Fachruddin menjelaskan, “Ngomong kanan aja,”

Awalnya kami tidak terlalu paham apa yang dimaksud, tapi beliau menjelaskan, “Coba ente bayangin. Ada orang yang janjiin ente, bakal ngasih apa aja. Dia minta ente dateng pada waktu dan tempat tertentu. Dia bakal ngasih apa aja permintaan ente. Kira-kira ente mau dateng gak?”
 
Kami diam manggut-manggut. Beliau melanjutkan, “Itu baru orang. Coba sekarang yang janjiin itu Tuhan. Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: 'Siapa saja yang berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa saja yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberi, siapa saja yang memohon ampunan dari-Ku akan Kuampuni."

Kami mulai mengerti apa yang dimaksud ngomong kanan, kalimat positif, optimistic attitude atau istilah-istilah lain. Dalam sehari kita dibombardir banyak omongan kiri, baik yang berasal dari diri sendiri atau orang lain. Kata-kata negatif yang sering membuat nyali ciut. Tapi kita memiliki kuasa untuk memilih akan dikemanakan sampah kata-kata itu. Apakah akan mengotori hati atau kita bisa membuang sampah pada tempatnya. Sementara itu, pada waktu-waktu tertentu bicaralah pada diri sendiri, berdoa kepada Tuhan dengan kalimat-kalimat kanan, dengan kata-kata positif.

Saya sangat mengerti bahwa kata-kata adalah doa. Apalagi diucapkan oleh seorang guru yang mulia, seorang mursyid. Saya percaya bahwa sampai saya bisa menulis beberapa buku sekarang ini adalah karena berkah dan doa beliau. Saya masih ingat ketika beliau mengomentari saya selepas Muhadoroh bertahun-tahun lalu, beliau bilang saya pencerita yang bagus. Dan begitulah kata-kata baik itu membawa saya sampai saat ini.

Kiyai Fachrudin adalah seorang guru yang mengerti arti penting dari kata-kata. Saya merasakan itu ketika memperhatikan pilihan kata yang beliau ucapkan ketika bercakap-cakap dengan kami.
 
Di tengah percakapan, ketika ada waktu saya iseng menyela, “Kentung sering diminta aer adem, Guru.”
 
Kentung memandang saya dengan wajah kesal gua-tabok-beneran-lu-Mi. Kiyai Fachruddin menanggapi cerita saya dengan tertawa. Terutama ketika saya ceritakan tentang air keran.


SEBELUM pulang, Kentung memberi gestur seperti enggan beranjak, “Enak nih, Kiyai. Kalo lagi kabur dari rumah bisa ke sini,” Kentung sambil nyengir.
 
“Iya boleh. Asal kemari bawa aer adem ya,” Kiyai Fachruddin sambil tersenyum. Semua orang terbahak kecuali Kentung.

Di kendaraan arah pulang, Kentung sewot, “Bener-bener lu, Mi. Udah gua bilang jangan diceritain.”

Saya tertawa, “Lah lu bilang kan gak boleh gua tulis, bukan gua ceritain.”

“Iya, ya. Lupa gua lagi ngomong ama bekas anak pondok.” Kentung pasrah.

Saya meneruskan tawa disusul Njay dan Fawwaz.