Halaman

Minggu, 28 Januari 2024

Tanah Suci, Wanita Suci dan Usia yang Tepat untuk Menjadi Nabi

Nath akan berusia 40 tahun itu, dan satu-satunya yang ia khawatirkan adalah ia tertarik meniru orang-orang untuk ikut kontestasi menjadi nabi.

Ia tinggal di Depok, Lia Eden berasal dari sana, begitu juga Ahmad Musadeq. Saya tertawa ketika ia mengatakan fakta itu. Andai saja ia punya orang dalam MK, tentu ia tidak perlu menunggu usia 40.

Kami sudah lama tidak bertemu, namun ia masih hangat menyambut ketika saya datang seakan-akan kita adalah kawan yang sering bertemu. Percakapan dengannya mudah. Ia masih seperti dulu ketika saya pertama kali mengenalnya; supel, berbadan tinggi tegap, dan berkulit gelap. Memang terdengar seperti deskripsi tiang listrik.

Hari itu ia meminta saya mengisi workshop tentang kepenulisan di sekolah tempatnya bekerja. Ia tidak mengatakan bahwa ia adalah kepala sekolah di SMP itu, sampai saya selesai memberi materi.

"Pantesan tadi gua bawain materi joke tentang lu gak ada yang ketawa." Kata saya setelah turun panggung, "Bukanya gak lucu berarti, emang mereka sungkan aja."

Saat ini hampir setiap bulan ia ke luar negeri, membawa jamaah Umroh. Ya, selain kepala sekolah, ia juga adalah salah satu "Mutowwif" pada travel agency yang sering wara-wiri ke Tanah Suci.

Muslim Indonesia adalah salah satu yang paling banyak pergi ke Arab Saudi, baik ketika Haji apalagi Umroh. Sehingga tidak heran di sana banyak pedagang arab menawarkan dagangan mereka menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan menerima "Uang Jokowi". Maksudnya mata uang Rupiah, bukan Bansos. 

Nath pernah misuh ketika pertama kali menawar dagangan menggunakan Bahasa Arab fasih tapi dijawab oleh si pedagang Arab dengan Bahasa Tanahabang, "Tau gitu ngapain gua latihan Muhadatsah! Mending part time jadi penjaga toko Blok M!"

Beberapa bulan yang lalu, Wi —salah satu kawan yang kebetulan juga kepala sekolah, juga melaksanakan Umroh. Ia Wanita Suci. Bukan seperti Sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa dengan tanpa ayah. Bukan. Tapi karena ia tidak bisa lagi menstruasi, atau hamil, atau sarapan nasi uduk di bulan Ramadhan, karena ia sudah tidak punya rahim.

Sebelum operasi pengangkatan rahim, ia pergi Umroh. Mungkin untuk meminta petunjuk, atau ketenangan, atau semacam pertaubatan kalau-kalau ia mati di meja operasi sementara ia masih suka memaki ketua yayasan.

Saya selalu senang mendengar pengalaman kawan-kawan ketika mereka berkunjung ke Masjid al-Haram.

"Aku baru sadar," Wi menjelaskan, "ternyata di sana karakter, kebiasaan, kesukaan kita benar-benar diperlihatkan."

Kemudian ia bercerita tentang pengalamannya dengan berapi-api, seperti biasanya. Tentang bagaimana orang-orang yang tinggi besar tidak mau mengalah sehingga ia tidak bisa mendekati Ka'bah, bagaimana kesabarannya diuji dengan seorang wanita gemuk yang tiba-tiba duduk menghalangi tempatnya sujud. Karena tidak bisa diajak bicara dengan baik, Wi membentak, "MA'AM, PLEASE MOVE! MOVE!! OR I'LL CUT YOU IN A HALF!!!"

Bercanda. Kalimat terakhir hanya dramatisasi, walaupun kalau saat itu Wi membawa Katana, mungkin bisa kejadian.

"Aku kan di sini suka foto-foto, ya." Wi meneruskan cerita, "di sana gak tau kenapa, sering banget aku diminta untuk fotoin orang yang gak aku kenal. Padahal waktu minta foto, ada orang yang jaraknya lebih deket dengan dia loh. Ngapain dia harus bela-belain berjalan memutar hanya untuk minta aku fotoin? Bener-bener gak bisa dinalar."

Di hari berikutnya, ia datang agak terlambat untuk salat subuh di Masjid Nabawi. Ia terjebak di tengah kerumunan orang yang sudah bersiap untuk salat. Semuanya sudah berdiri di shaf masing-masing kecuali dia. Ia tidak menemukan shaf kosong, sementara terlalu jauh jika ia mundur ke shaf paling belakang. Ia bersandar di pojok salah satu tiang masjid dan tidak berani meminta melonggarkan barisan kepada orang-orang di dekatnya agar dia bisa masuk. Tentu ada alasan kenapa dia enggan, karena beberapa hari sebelumnya, ia pernah sengaja tidak melonggarkan shaf untuk orang yang tidak mendapat shaf. Sekarang kejadiannya berbalik. Qisas instan.

Saya tersenyum mendengar cerita Wi. Sejak pertama kali saya mengenalnya, ia tetaplah Alfa Female yang tidak mau kalah dan perfeksionis, jadi ketika ia bilang di Kota Suci karakter seseorang akan sangat ditampakkan, saya sudah bisa membayangkan ia bertengkar dengan orang-orang Afrika yang besar dan bau terasi. Untungnya itu tidak terjadi, yang terjadi adalah ia bertengkar dengan tukang perhiasan di pasar Suwaiqah karena menawar emas terlalu rendah.

Nath belum pernah bercerita tentang pengalaman spiritual apapun ke saya sepanjang perjalanan berkali-kali ke Tanah Haram. Mungkin saja ia pernah bertemu malaikat di dekat Gua Hira, atau bertemu Nabi Khidir di parit bekas Perang Khandaq atau dicium bapak-bapak berjenggot karena dikira Hajar Aswad.

Wi punya pengalaman yang lebih ajaib. Jam tangan kesukaannya diminta oleh seseorang yang tidak ia kenal. Awalnya ia sempat ragu, namun akhirnya ia ikhlas memberikan. Mungkin Allah punya rencana, batinnya. Ketika ia menceritakan kejadian itu, seorang ibu tua yang satu grup dengannya berkata enteng, "Akan ada gantinya nanti, Wi. Jangankan jam, mobil juga bisa kamu beli."

Tidak beberapa lama setelah Wi pulang Umroh, ia membeli mobil.

Super sekali, Pak Mario.

Nath, Wi dan banyak kawan-kawan saya yang lain punya beragam alasan dan keinginan untuk pergi ke Tanah Suci; ada yang karena kewajiban, pekerjaan, penasaran, kebutuhan, meminta ampunan, memohon rizki, keselamatan, kesembuhan, ketenangan hati, petunjuk dan lain-lain. Harapan-harapan itu ada yang Allah kabulkan langsung, ada yang ditunda, ada yang diganti dengan yang lebih baik.

Alhamdulilah, 8 jam Histerektomi Wi oleh dua dokter spesialis berjalan lancar, walaupun di tengah operasi sempat terjadi kondisi menegangkan. Sementara Nath sampai saat ini masih mencari dukungan ormas besar untuk memenuhi 20 persen ambang batas Nabiyatul Threshold.

Semoga Allah yang Maha Mengatur mengundang dan memanggil kita untuk berkunjung ke Baitullah. Bukan hanya untuk yang belum pernah, namun juga untuk yang sudah pernah, karena selalu ada kerinduan untuk kembali berziarah ke makam Rasulullah yang mulia.


Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wasahbihi ajmain.