Halaman

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

Pedagang Batu dan Pak Haji

Seorang pedagang ulekan batu duduk bersandar di tembok serambi masjid pada suatu sore yang teduh. Peluh masih menetes di wajahnya, sementara pundaknya tampak pegal setelah seharian memikul dagangan yang berat.

Kepada kakek tua penjaga masjid, ia mengeluh lirih, “Ini hari yang sangat melelahkan, Pak Haji. Saya berjalan puluhan kilometer, tapi belum satu pun ulekan batu saya laku.”

Kakek tua itu tersenyum ramah. “Minumlah dulu, Nak.” Ia mengambilkan segelas air mineral dan menyerahkannya. ”Lanjutkan ceritamu.”

Pedagang itu meneguk air itu perlahan, sebelum kembali berkisah tentang perjalanan panjangnya dari kampung ke kampung, tentang panas yang menyengat, tentang beban batu-batu itu di punggungnya.

Kakek itu mendengarkan tanpa menyela. Setelah suara pedagang itu melemah, kakek tua itu berkata lembut, “Sepertinya pikiranmu lebih lelah dibanding tubuhmu.”

Pedagang itu mengangguk.

“Ya, sepertinya begitu.” Ia menghela nafas, sedetik kemudian ia bertanya, “Apa bapak punya amalan yang bisa meringankan beban saya?”

Kakek tua itu tersenyum, lalu bercerita tentang Fatimah binti Muhammad, putri Nabi ﷺ, yang suatu hari mengadukan kelelahan pekerjaannya kepada ayahnya. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan satu amalan sebelum tidur:

”Bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.”

(HR. Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2727)

”Itu amalan yang dulu diberikan Nabi kepada putrinya,” ujar kakek itu. “Cobalah, Nak.”

Pedagang ulekan itu bertanya pelan, ”Bisa Bapak jelaskan faidah dan arti bacaan itu?”

Kakek tua itu mengelus janggut putihnya, lalu menjawab, ”Kelelahan itu bukan hanya ada tubuh, tapi terlebih ada di pikiran. Bila pikiranmu tenang, tubuhmu akan ikut ringan. Dan ketenangan datang bila hati selalu ingat Tuhan.”

Ia melanjutkan dengan tenang, ”Tasbih mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu. Ia tak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Tahmid mengajarkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kesulitan. Bersyukur membuat nikmat bertambah. Takbir mengingatkan bahwa sebesar apa pun masalahmu, Allah tetap Yang Maha Besar. Ia tidak meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya. Dan Ia Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.”

Pedagang itu menatap ulekan batu di sampingnya. ”Bagaimana saya bisa bahagia, Pak Haji, kalau kerja saya hanya tukang batu? Bagaimana saya bisa bahagia kalau saya terus lelah?”

Kakek tua itu terkekeh pelan, ”Lebih melelahkan mana, tukang becak atau manajer bank?” tanyanya dengan nada retoris. Pedagang itu tahu bahwa itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

”Kelelahan itu soal cara pandang,” lanjut kakek itu. “Jika kau anggap pekerjaanmu berat, seluruh tubuhmu akan turut memberat. Tapi bila kau ikhlas dan menerimanya sebagai jalan hidup, maka seluruh semesta akan membantu membuatnya ringan. Beban terletak di pikiran dulu, baru turun ke pundak.”

Kakek tua menatap lembut pemuda itu lalu bertanya, ”Menurutmu, apa yang membuatmu bahagia?”

Pemuda itu menjawab cepat, ”Sederhana saja. Saya ingin banyak uang. Kalau saya punya uang, anak istri saya pasti bahagia, dan saya jadi ikut bahagia.”

Kakek tua kembali tersebyum, ”Membuat bahagia anak dan istrimu adalah hal yang mulia. Namun sebelum kau melakukannya, pastikan dirimu punya kebahagiaan. Karena kau tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak kau punya.”

Pemuda itu tetap diam, sang kakek melanjutkan, ”Bahagia itu tidak datang dari luar. Jika kau mensyaratkan terlalu banyak hal untuk bahagia—uang, jabatan, pekerjaan, keadaan—maka kebahagiaanmu akan selalu jauh darimu. Sebab semua itu berada di luar kendalimu. Tapi kalau syaratmu sedikit, hatimu akan mudah bersyukur. Dan orang yang pandai bersyukur, dialah yang paling mudah bahagia.”

Pedagang ulekan itu terdiam lama, memandang ulekan batunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Dan sore itu, sebelum pulang, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai malam nanti, sebelum tidur, ia akan membaca dzikir yang diajarkan Nabi kepada Fatimah, bukan hanya untuk meringankan tubuhnya, tetapi terutama untuk menenangkan pikirannya.






Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Jumat, 13 Februari 2026

Kembali ke Gang Aren Tahun 1988

Jumat, 15 Februari 2008. Ponselku berdering ketika langit siang di luar jendela ruang dosen berubah warna menjadi seperti tembaga dingin, setelah sebelumnya hujan rintik. Nomor asing berkedip di layar ponselku. Aku mengangkatnya karena entah kenapa jariku bergerak lebih cepat dari pikiranku.

“Ini Christine ya?” tanya suara di seberang.

Suara itu rendah, agak parau, seperti baru bangun dari tidur. Aku tidak mengenalinya. Putaran waktu sembilan belas tahun rupanya cukup untuk menghapus ingatan tentang timbre suara seseorang.

“Aku Reza,” katanya, setelah hening yang cukup lama. “Aku mendapat nomor ini dari Facebook.”

Ingatanku menggulung ke hari kemarin ketika aku menerima pertemanannya di Facebook. Ahmad Reza Saputra, nama yang membacanya saja membuat jantungku berdebar lebih cepat, nama yang seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam air tenang. Getarannya menyebar ke seluruh tubuhku. Cinta pertamaku.

Akhir Maret 1988, hari terakhir aku melihat Reza. Kami masih memakai seragam SD, masih senang menceritakan kembali kisah unyil kepada mereka yang tidak menontonnya di TVRI. Dalam ingatanku, dulu suaranya kecil melengking. Suara yang kudengar sekarang berbeda sama sekali. 

“Aku besok akan pergi jauh,” katanya kemudian. “Apakah hari ini kita bisa bertemu?”

Awalnya aku sempat ragu apakah gang itu masih ada, sebelum akhirnya entah lagi-lagi mengapa, aku sepakat untuk bertemu di gang tempat kami dulu sering bermain saat kecil. Tempat rumah kecil kami dulu saling berhadapan sebelum tanah itu digusur demi perumahan-perumahan besar dan gedung-gedung perkantoran yang kini mengilap dingin di siang hari. Aku dan keluarga pindah ke Bekasi. Sementara Reza dan keluarganya ke Bogor. Setelah itu, kami seperti dua layang‑layang di langit yang benangnya putus dan masing‑masing terjatuh ke tanah yang asing.

“Pukul berapa kamu selesai mengajar?” tanyanya.

“Tiga sore,” jawabku. “Aku bisa sampai sana sekitar pukul empat.”

“Oke.” Ia menghela napas pelan, “Sampai jumpa nanti sore.”

Langit berangsur-angsur cerah sore itu, aku berjalan ke luar gedung kampus, menyusuri trotoar menuju halte Cawang. Beberapa menit kemudian, aku sudah duduk di bus Cibinong–Grogol yang tua dan goyah. Atapnya berderit setiap kali bus menikung, seperti ada seseorang yang berjalan perlahan di atasnya. Jendela di sebelahku memantulkan wajahku sendiri. 

Bangunan-bangunan tinggi bergerak mundur. Papan iklan berganti dengan pohon-pohon trembesi yang merunduk melewati langit berdebu. Sementara itu pikiranku sibuk mengisi kekosongan tahun-tahun yang hilang. Berapa banyak hal yang telah terjadi pada kami sejak terakhir kali bertemu? Saat ini aku sudah menjadi dosen dan sudah mempunyai seorang anak. Berapa banyak perubahan selama kami menjalani kehidupan masing-masing? Dan yang lebih mengganggu, mengapa ia ingin bertemu denganku sekarang?

Setelah turun di halte Komdak, cahaya matahari tinggal garis tipis di ujung gedung-gedung. Udara sore bertiup membawa sisa angin basah, seperti mewakili kegugupan di dalam diriku. Aku berjalan kaki menuju gang itu; Gang Aren —nama yang entah bagaimana tetap bertahan, tidak berubah.

Nama “Aren” masih tersisa, padahal sejak kecil pun aku tak pernah melihat pohon itu di sini. Mungkin nama itu milik sesuatu yang pernah ada jauh sebelum kami lahir, atau sesuatu yang memang tak pernah ada. Tentu gang itu tidak berubah, tapi aku menyadari bahwa cara pandangku terhadap gang itu yang telah berubah. Waktu kecil, gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil.

Di beberapa sudut gang itu, masih ada rumah-rumah yang bertahan, dengan dinding yang penuh retakan, cat hijau yang mulai mengelupas, dan warna biru yang memudar oleh matahari dan musim. Di kiri-kanannya menjulang gedung-gedung tinggi dengan kaca gelap dan balkon rapi. Rumah-rumah kecil itu terjepit di antaranya.

Gang itu menyimpan bau yang sulit dijelaskan: campuran tanah basah, jemuran yang belum kering benar, dan aroma dari asap kenalpot motor yang sesekali melintas. Kabel-kabel listrik di depan gang menggantung rendah, saling silang dan semerawaut. Di salah satu dinding, sisa-sisa mural reformasi setengah terhapus menampilkan wajah yang entah siapa.

Aku duduk di satu-satunya bangku beton di dekat mulut gang, dengan permukaan kasar dan penuh coretan nama-nama yang tidak aku kenal. Bangku itu menjadi salah satu benda yang memilih tidak berubah. Ia hanya diam, menjadi saksi semua perubahan di sekelilingnya tanpa pernah dimintai pendapat. Dari sana, aku bisa melihat cahaya sore merayap di antara sela bangunan, membelah gang menjadi garis terang dan gelap. 

Tak jauh dari sana berdiri pos kamling. Cat merahnya memudar, kursi plastik di dalamnya tinggal satu, kaki kirinya sedikit pincang. Di dinding, papan jadwal ronda masih tergantung, nama-nama tertulis dengan spidol yang nyaris hilang.

Taman kecil di seberangnya dulu memiliki dua ayunan dan satu jungkat-jungkit. Sekarang hanya tersisa rangka besi yang berkarat, bergerak pelan setiap kali angin lewat. Rumput tumbuh tak merata, sebagian terinjak menjadi tanah keras, sebagian lain liar dan tak terurus.

Warung di tikungan gang sudah tidak ada. Dindingnya ditelan pagar bangunan baru, yang kokoh dan tinggi. Padahal dulu, aku ingat dari sana selalu tercium aroma kopi yang baru diseduh dan minyak panas, serta suara radio yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.

Cahaya jatuh di antara gedung-gedung tinggi. Untuk sesaat, gang itu sunyi, ayunan berkarat berhenti bergerak. Di antara rumah-rumah yang menolak berubah, pos kamling yang kesepian, taman kecil yang setengah hilang, dan warung yang telah menjadi pagar perumahan, aku menyadari bahwa yang paling sulit berubah bukanlah tempat, tapi cara kita mengingatnya.

Aku sedang memperhatikan bayanganku sendiri ketika langkah kecil terdengar dari ujung gang. Seseorang berlari kecil ke arahku. Napasnya terdengar lebih dulu sebelum wajahnya terlihat. Ia berhenti beberapa langkah dariku, membungkuk sebentar untuk mengatur napas.

Aku hampir tak mengenalinya. Reza kini bertubuh tegap, bahunya lebar, rambutnya dipotong pendek dan sedikit berantakan. Ia mengenakan baju lengan panjang putih yang digulung, dipadukan dengan celana hitam dan tas slempang berwarna karung goni. Ada garis samar di rahangnya, namun ada satu hal yang masih sama, matanya: gelap, dalam, seakan menyimpan mendung yang sayu.

“Maaf buat janji mendadak gini,” katanya, sambil tersenyum. Senyum yang aku kagumi sejak dulu.

Kami duduk bersisian di bangku beton. Bangku yang dulu sering kami gunakan untuk menunggu kucing liar lewat atau melihat orang dewasa membicarakan hal yang tidak kami pahami. Angin sore membawa sisa kehangatan siang yang penuh polusi, bercampur aroma feromonik dari parfum dan keringat laki-laki yang seperti tidak pernah pergi dari kepalaku.

Retakan beton di bawah sepatu Reza dipenuhi pasir halus. Ia menggosoknya dengan ujung sol, seperti sedang mencoba menghapus sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa dihapus. Bertahun-tahun berlalu, aku sendiri tidak sanggup menghapus ingatan itu.

Aku memandangi tangannya. Tangan yang dulu kecil itu kini terlihat kokoh dipenuhi beberapa urat biru namun dengan jari-jari yang masih lentik seperti yang aku kenal bertahun-tahun lalu. Itu adalah tangan yang dulu menarikku menjauh dari lingkaran anak-anak laki-laki berseragam putih-merah yang mengitariku di sudut lapangan sepulang sekolah.

Siang itu, matahari menggantung tepat di atas tiang bendera. Aku berdiri kaku sambil memeluk buku tulis bergambar kelinci. Seorang anak lelaki menarik kepangku.

“Eh, lihat nih, orang Cina!” katanya sambil tertawa. Tangannya mendorong pundakku, tidak terlalu keras, tapi cukup membuatku mundur dua langkah.

“Orang Kristen dia!” sahut yang lain. Tawa mereka pecah seperti petasan kecil.

Aku menunduk. Ujung sepatu hitamku berdebu. Salah satu dari mereka menyenggol buku tulisku hingga jatuh. Sampulnya terlipat. Aku ingin mengambilnya, tapi sepatu mereka lebih dulu menginjak sudutnya.

Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan gerombolan anak itu.

“Balikin!” Suara Reza kecil tapi tegas. Ia berdiri di sampingku, napasnya memburu. Pipi kirinya masih berbekas kapur karena hari itu ia jadi petugas piket.

Anak yang paling besar menoleh. “Ngapain lo belain dia?”

Reza tidak menjawab. Ia membungkuk, mengambil bukuku, meniup debu di sampulnya, lalu menyerahkannya kembali padaku. Tangannya gemetar sedikit, tapi matanya tidak berpaling.

“Nanti gua laporin Bu Siti lo!” katanya.

Kalimat itu terdengar aneh keluar dari mulut anak kelas tiga yang kurus dan sering lupa membawa penggaris. Tapi tidak ada yang tertawa. Mereka hanya saling pandang, lalu bubar pelan-pelan.

Sejak hari itu, ia selalu berjalan di sisi kiriku ketika bel pulang berbunyi.

Seharusnya, memulai kehangatan itu lagi sekarang bukan hal yang sulit, namun semakin dewasa kita semakin pintar menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Kita menjadi mengerti bahwa tidak semua perasaan bisa diungkapkan dengan bebas. Kami mengobrol sebentar. Awalnya canggung, tetapi kemudian perlahan-lahan semua kenangan masa kecil itu muncul kembali seperti potongan puzzle yang menemukan tempatnya. 

Di gang itu, kami mengingat masa ketika masih anak-anak: bermain kejar-kejaran di antara pot bunga, melihat kupu-kupu beterbangan di atas rumpun pandan, atau sekadar duduk di tepi got sambil membicarakan hal-hal yang terlalu besar untuk kami pahami waktu itu. Dulu, ia pernah bilang kalau suatu hari nanti kita bisa mewujudkan semua mimpi kita, dan menjadikan dunia menjadi lebih baik.

“Aku dapat beasiswa ke Australia. Besok berangkat,” katanya sambil menatap garis-garis retak di lantai beton. “Mungkin lama.”

Aku menunggu ia menjelaskan lebih jauh, tapi ia tidak. Ia tidak pernah suka menjelaskan sesuatu terlalu panjang. Seperti dulu, ia lebih suka membiarkan kalimatnya menggantung, memberi ruang bagi dunia untuk mengisinya sendiri.

Kami berbicara selama dua jam. Tentang pekerjaanku, tentang pekerjaannya, tentang anakku yang sedang belajar piano, sedikit tentang suamiku, juga tentang perjalanan-perjalanan kecil yang ia lakukan sendiri setiap akhir pekan. Kadang ia tertawa, kadang ia diam lama sebelum menjawab. Dalam diam itu, aku merasa seperti sedang duduk di samping seseorang yang sudah mengalami terlalu banyak hal sendirian. Kematian ibunya, kegagalan asmara, dan sekarang kepergiannya ke tempat yang jauh.

Lampu-lampu rumah satu per satu menyala. Bayangan benda-benda memanjang di tanah.

Aku menyebut nama suamiku, dan bilang sebentar lagi ia akan menjemput. Kalimat itu keluar dengan wajar, seperti fakta sehari-hari yang tidak perlu penjelasan. Reza mengangguk, tidak ada yang patah di wajahnya, hanya sesuatu yang mengendap.

Ketika waktunya pulang, ia berdiri lebih dulu. Tangannya merapikan tali tas selempang yang sebenarnya sudah rapi. Ia menatapku lama sambil tersenyumnya tipis. Seperti seseorang yang sedang memastikan bahwa momen ini benar-benar ada, bukan sekadar mimpi sewaktu tidur siang.

“Kalau aku kembali,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara motor yang melintas, “aku ingin bertemu lagi.”

Ia berjalan menyusuri gang dengan langkah yang mantap, seperti dulu ketika ia berdiri di depanku di lapangan sekolah. Bahunya tetap tegak. Ia tidak menoleh. Lampu-lampu gang menyala redup, satu per satu, dan tubuhnya perlahan menyatu dengan bayangan tembok yang lembap. Aku tidak memanggilnya.

Aku berdiri sendirian di ujung gang itu. Udara malam turun pelan-pelan, membawa bau tanah basah dan aroma gorengan dari ujung jalan. Untuk sesaat, waktu seperti terlipat. Entah karena usia, atau karena ada bagian dalam diriku yang tetap tinggal di tahun 1988 dan menolak tumbuh. Aku melihat dua anak kecil berdiri berhadapan di gang yang sama. Mereka belum tahu tentang pindah rumah, tentang kota-kota baru, tentang perbedaan keyakinan, tentang orang-orang lain yang kelak akan dipanggil “suami” dan “istri.”

Dulu gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil. 





* Terinspirasi dari Hyehwadong (Ssangmundong), lagu OST Reply 1988

Minggu, 28 Januari 2024

Tanah Suci, Wanita Suci dan Usia yang Tepat untuk Menjadi Nabi

Nath akan berusia 40 tahun itu, dan satu-satunya yang ia khawatirkan adalah ia tertarik meniru orang-orang untuk ikut kontestasi menjadi nabi.

Ia tinggal di Depok, Lia Eden berasal dari sana, begitu juga Ahmad Musadeq. Saya tertawa ketika ia mengatakan fakta itu. Andai saja ia punya orang dalam MK, tentu ia tidak perlu menunggu usia 40.

Kami sudah lama tidak bertemu, namun ia masih hangat menyambut ketika saya datang seakan-akan kita adalah kawan yang sering bertemu. Percakapan dengannya mudah. Ia masih seperti dulu ketika saya pertama kali mengenalnya; supel, berbadan tinggi tegap, dan berkulit gelap. Memang terdengar seperti deskripsi tiang listrik.

Hari itu ia meminta saya mengisi workshop tentang kepenulisan di sekolah tempatnya bekerja. Ia tidak mengatakan bahwa ia adalah kepala sekolah di SMP itu, sampai saya selesai memberi materi.

"Pantesan tadi gua bawain materi joke tentang lu gak ada yang ketawa." Kata saya setelah turun panggung, "Bukanya gak lucu berarti, emang mereka sungkan aja."

Saat ini hampir setiap bulan ia ke luar negeri, membawa jamaah Umroh. Ya, selain kepala sekolah, ia juga adalah salah satu "Mutowwif" pada travel agency yang sering wara-wiri ke Tanah Suci.

Muslim Indonesia adalah salah satu yang paling banyak pergi ke Arab Saudi, baik ketika Haji apalagi Umroh. Sehingga tidak heran di sana banyak pedagang arab menawarkan dagangan mereka menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan menerima "Uang Jokowi". Maksudnya mata uang Rupiah, bukan Bansos. 

Nath pernah misuh ketika pertama kali menawar dagangan menggunakan Bahasa Arab fasih tapi dijawab oleh si pedagang Arab dengan Bahasa Tanahabang, "Tau gitu ngapain gua latihan Muhadatsah! Mending part time jadi penjaga toko Blok M!"

Beberapa bulan yang lalu, Wi —salah satu kawan yang kebetulan juga kepala sekolah, juga melaksanakan Umroh. Ia Wanita Suci. Bukan seperti Sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa dengan tanpa ayah. Bukan. Tapi karena ia tidak bisa lagi menstruasi, atau hamil, atau sarapan nasi uduk di bulan Ramadhan, karena ia sudah tidak punya rahim.

Sebelum operasi pengangkatan rahim, ia pergi Umroh. Mungkin untuk meminta petunjuk, atau ketenangan, atau semacam pertaubatan kalau-kalau ia mati di meja operasi sementara ia masih suka memaki ketua yayasan.

Saya selalu senang mendengar pengalaman kawan-kawan ketika mereka berkunjung ke Masjid al-Haram.

"Aku baru sadar," Wi menjelaskan, "ternyata di sana karakter, kebiasaan, kesukaan kita benar-benar diperlihatkan."

Kemudian ia bercerita tentang pengalamannya dengan berapi-api, seperti biasanya. Tentang bagaimana orang-orang yang tinggi besar tidak mau mengalah sehingga ia tidak bisa mendekati Ka'bah, bagaimana kesabarannya diuji dengan seorang wanita gemuk yang tiba-tiba duduk menghalangi tempatnya sujud. Karena tidak bisa diajak bicara dengan baik, Wi membentak, "MA'AM, PLEASE MOVE! MOVE!! OR I'LL CUT YOU IN A HALF!!!"

Bercanda. Kalimat terakhir hanya dramatisasi, walaupun kalau saat itu Wi membawa Katana, mungkin bisa kejadian.

"Aku kan di sini suka foto-foto, ya." Wi meneruskan cerita, "di sana gak tau kenapa, sering banget aku diminta untuk fotoin orang yang gak aku kenal. Padahal waktu minta foto, ada orang yang jaraknya lebih deket dengan dia loh. Ngapain dia harus bela-belain berjalan memutar hanya untuk minta aku fotoin? Bener-bener gak bisa dinalar."

Di hari berikutnya, ia datang agak terlambat untuk salat subuh di Masjid Nabawi. Ia terjebak di tengah kerumunan orang yang sudah bersiap untuk salat. Semuanya sudah berdiri di shaf masing-masing kecuali dia. Ia tidak menemukan shaf kosong, sementara terlalu jauh jika ia mundur ke shaf paling belakang. Ia bersandar di pojok salah satu tiang masjid dan tidak berani meminta melonggarkan barisan kepada orang-orang di dekatnya agar dia bisa masuk. Tentu ada alasan kenapa dia enggan, karena beberapa hari sebelumnya, ia pernah sengaja tidak melonggarkan shaf untuk orang yang tidak mendapat shaf. Sekarang kejadiannya berbalik. Qisas instan.

Saya tersenyum mendengar cerita Wi. Sejak pertama kali saya mengenalnya, ia tetaplah Alfa Female yang tidak mau kalah dan perfeksionis, jadi ketika ia bilang di Kota Suci karakter seseorang akan sangat ditampakkan, saya sudah bisa membayangkan ia bertengkar dengan orang-orang Afrika yang besar dan bau terasi. Untungnya itu tidak terjadi, yang terjadi adalah ia bertengkar dengan tukang perhiasan di pasar Suwaiqah karena menawar emas terlalu rendah.

Nath belum pernah bercerita tentang pengalaman spiritual apapun ke saya sepanjang perjalanan berkali-kali ke Tanah Haram. Mungkin saja ia pernah bertemu malaikat di dekat Gua Hira, atau bertemu Nabi Khidir di parit bekas Perang Khandaq atau dicium bapak-bapak berjenggot karena dikira Hajar Aswad.

Wi punya pengalaman yang lebih ajaib. Jam tangan kesukaannya diminta oleh seseorang yang tidak ia kenal. Awalnya ia sempat ragu, namun akhirnya ia ikhlas memberikan. Mungkin Allah punya rencana, batinnya. Ketika ia menceritakan kejadian itu, seorang ibu tua yang satu grup dengannya berkata enteng, "Akan ada gantinya nanti, Wi. Jangankan jam, mobil juga bisa kamu beli."

Tidak beberapa lama setelah Wi pulang Umroh, ia membeli mobil.

Super sekali, Pak Mario.

Nath, Wi dan banyak kawan-kawan saya yang lain punya beragam alasan dan keinginan untuk pergi ke Tanah Suci; ada yang karena kewajiban, pekerjaan, penasaran, kebutuhan, meminta ampunan, memohon rizki, keselamatan, kesembuhan, ketenangan hati, petunjuk dan lain-lain. Harapan-harapan itu ada yang Allah kabulkan langsung, ada yang ditunda, ada yang diganti dengan yang lebih baik.

Alhamdulilah, 8 jam Histerektomi Wi oleh dua dokter spesialis berjalan lancar, walaupun di tengah operasi sempat terjadi kondisi menegangkan. Sementara Nath sampai saat ini masih mencari dukungan ormas besar untuk memenuhi 20 persen ambang batas Nabiyatul Threshold.

Semoga Allah yang Maha Mengatur mengundang dan memanggil kita untuk berkunjung ke Baitullah. Bukan hanya untuk yang belum pernah, namun juga untuk yang sudah pernah, karena selalu ada kerinduan untuk kembali berziarah ke makam Rasulullah yang mulia.


Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wasahbihi ajmain.

Selasa, 01 Agustus 2023

Tertawalah, Maka Dunia Akan Tertawa Bersamamu

Dear Nada,

Tanggal 28 Juli kemarin, bapak menulis surat untuk ibu, seperti tahun-tahun sebelumnya bapak juga menulis untuk memperingati hari pernikahan. Jadi menulis surat biasa bapak lakukan kepada siapa saja, baik yang sering bertemu, jarang bertemu, bisa dihubungi di dunia nyata, ataupun yang sudah meninggal. Saat ini bapak menulis surat untukmu bukan karena bapak tidak bisa mengungkapkan langsung, tapi karena menulis lebih memperlihatkan kejernihan berpikir, juga menuntut seseorang untuk bisa menggunakan kalimat yang lebih efektif dan efisien, disamping juga ini sudah menjadi kebiasaan lama bahkan sejak bapak seusia kamu.

Dulu bapak menulis diary untuk mencurahkan perasaan agar bisa membantu melalui masa-masa sulit, pada saat sedih, kangen, merasa tidak dicintai, merasa tidak diakui, atau saat merasa bodoh, sementara tidak ada seorang pun yang bisa mendengarkan atau dipercaya untuk mendengarkan. Selain katarsis, menulis juga berkaitan dengan kenyamanan dan evaluasi diri. Sampai sekarang bapak masih menulis, kebiasaan yang dari dulu bapak lakukan sejak tinggal di pondok.

Malam pertama saat kamu di pondok, bapak dan beberapa orang kawan berkunjung ke pesantren Kiyai Fachruddin, guru bapak semenjak Tsanawiyah. Bapak di sana semalaman dan baru pulang sampai rumah ketika azan subuh berkumandang. Bapak menghadiahkan Kiyai sebuah buku, juga membicarakan banyak hal, termasuk kamu. Apa kamu percaya, perasaan deg-degan yang kamu rasakan dalam perjalanan ke pondok pagi itu, juga bapak rasakan? Kiyai Fachru yang saat ini punya dua pesantren, memiliki pengalaman pribadi tentang kondisi psikologis santri dan orang tua. Beliau menyampaikan bahwa orang tua dan anak punya ikatan emosional yang kuat. Sehingga apa yang dirasakan anak, juga bisa dirasakan orang tua, begitu juga sebaliknya. Orang tua dan anak bisa berkomunikasi secara ruhiyah, ruh bir ruh. Sakit dan kesedihan yang dirasakan anak, bisa dirasakan orang tua.

Di rumah sakit, dokter biasa menanyakan peringkat kesakitan pasien dengan angka, dari tingkat satu untuk yang paling ringan, sampai sepuluh yang paling sakit. Hanya saja, tenaga medis biasanya menanyakan sakit fisik, sementara kondisi psikologis sebenarnya yang bisa membuat sakit makin menjadi. Kamu tahu hal paling sakit yang pernah bapak rasakan? Sakit pada peringkat 9. Sakit ketika bapak mengetahui Embah meninggal.

Minggu, 6 Desember 2015. Malam itu bapak pulang kerja dan sepanjang jalan turun hujan. Sampai di rumah tidak ada orang. Kamu, ibu dan Safa sedang menginap di rumah Oma. Di kamar bapak tidur ditemani diri sendiri, gelap dengan perasaan ditindih sepi. Malam itu ada firasat aneh yang tidak bisa bapak jelaskan dengan terang melalui tulisan. Semacam hubungan batin anak dan orang tua mungkin.

Pagi hari, selepas subuh, ibu menelpon dengan suara gemetar, meminta segera ke rumah Nenek, karena Embah sakit. Saat bapak tiba, Embah sudah tidak sadarkan diri dan 30 menit kemudian beliau meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Hari itu, selepas salat asar, jenazah dikuburkan. Itu salah satu hari tersingkat dalam hidup bapak. Beberapa tetangga bilang, "Baru kemarin sore saya lihat Pak haji lewat depan rumah."

Embah meninggal dengan tiba-tiba. Andai semua orang datang dan pulang beramai-ramai, mungkin tidak ada yang merasa ditinggalkan. Sayang, dunia ini bukan seperti rombongan tamasya menggunakan bis, yang beramai-ramai datang, beramai-ramai pulang. Kehidupan dunia ini seperti datang ke Pasar Malam, seorang-seorang datang, seorang-seorang pergi.

Kehilangan orang tercinta tidak pernah mudah, Kak. Dengan kehilangan semacam itu, kamu bisa terbangun tiba-tiba pada tengah malam dan menangis sendirian. Kamu merasakan dadamu terhimpit dalam isak, paru-parumu berderu dengan sedu yang menyesakkan, sampai kamu lupa bagaimana caranya bernafas.

Kamu mengingat kenangan-kenangan yang terlewat. Kamu merindukan pesan dan telponnya, kamu merindukan suaranya, kamu merindukan aroma tubuhnya, kamu merindukan hal-hal yang mengesalkanmu, kamu merindukan hal-hal kecil, segala sesuatu yang bahkan sangat sederhana seperti caranya bicara, memegang tangan atau mengucapkan namamu. Namun yang lebih menyesakkan dalam semua kerinduan itu adalah sesuatu yang belum sempat kamu lakukan untuk membalas jasanya.

Sampai saat ini, belum ada yang bisa mengalahkan sakit itu. Belum ada sakit peringkat ke 10. Bapak sengaja menyisakannya, entah untuk apa.

Beberapa waktu lalu, saat kamu bilang sakit sambil menangis, bapak tidak tahu berapa nilainya, tapi bapak mengerti itu bukan hanya sekedar kesakitan fisik. Kamu bisa saja menyembunyikan, tapi orang tua punya kemampuan untuk mengerti apa yang tidak diungkap anak mereka. Bapak percaya, kesulitan dan tantangan fisik yang kamu hadapi saat ini bisa dengan mudah kamu atasi, sebagaimana bapak dan ribuan orang sebelum kamu juga pernah melewati kesulitan yang sama. Namun untuk tantangan emosi, kamu hanya butuh waktu untuk bisa lebih belajar.

Di usia kamu, waktu SD, bapak pernah menyukai seseorang. Rika namanya. Sejak bapak masuk pondok sampai sekarang, kami tidak pernah lagi bertemu. Saat ini bapak tidak tahu bagaimana kabarnya. Bapak juga pernah kangen seseorang sampai menangis. Itu sebelum bapak bertemu ibu. Sampai akhirnya, waktu yang menyembuhkan. Manusia bisa belajar banyak hal dari pengalaman hidup mereka, dan untuk bapak, cara tercepat mempelajari hal itu adalah dengan menulis. Menulis untuk bapak adalah cara berteriak tanpa harus membangunkan orang-orang di sekitar, juga cara membentuk ketabahan untuk terus maju dan berkembang.

Kamu boleh menulis perasaan kamu kepada siapa saja. Tulisan itu bisa kamu kirim ke orang yang kamu mau, bisa juga disimpan sendiri untuk kamu baca kembali suatu waktu, agar menjadi pengingat kenangan atau pelajaran. Kamu juga bisa menitipkan surat untuk kawan-kawanmu di SMM, mereka tentu akan senang membaca tulisan-tulisanmu. Kamu bisa menulis untuk Ali, Ajeng, Kief, Kirana, Olatte atau siapapun. Titipkan tulisan itu ke bapak atau ibu, nanti dikirim ke teman-teman yang kamu mau. Bapak dan ibu tentu tidak akan membaca tulisan-tulisan itu, kecuali memang kamu mengijinkan atau mau supaya bapak atau ibu membacanya.

Beberapa kali membaca tulisan-tulisanmu, bapak bisa menilai kalau kamu punya kemampuan yang bagus untuk menyampaikan perasaan serta ide dengan diksi yang kuat dan kalimat yang efektif. Itu keterampilan yang diperlukan ketika menulis, dan kamu mempunyai bakat alami.

Kiyai Fachru adalah orang yang pertama kali memberi tahu tentang bakat bapak. Suatu malam dari atas podium, disaksikan seluruh santri yang sedang mengikuti Muhadhoroh, Kiyai bilang bahwa bapak berbakat dalam menyusun cerita yang bagus. Sebelumnya bapak naik podium untuk membawakan pidato dengan sebuah cerita yang memang bapak susun sendiri. Seandainya tidak mondok, bapak tidak akan mengenal dan dekat dengan Kiyai Fachru, dan mungkin juga bapak tidak bisa mengeksplorasi kemampuan bapak sebenarnya. Dalam istilah sufi, guru juga disebut Mursyid, Pembimbing atau Mentor. Dalam perjalanan hidup ini, kamu juga akan bertemu mentor yang akan mendukung dan membimbing kamu ke jalan kebaikan. Kamu juga akan bertemu orang-orang dengan berbagai macam latar belakang, berbeda usia dan bisa belajar dari mereka.

Beberapa hari lalu, Kak Faznah, guru yang mengajari kamu Bahasa Inggris di pondok memberi tahu bapak bahwa kamu keren karena sudah berani memperkenalkan diri di depan orang banyak. Sejak kamu kecil sampai sekarang, bapak masih yakin bahwa kamu adalah salah satu anak yang paling berani, berkeinginan kuat dan tegar yang pernah bapak temui. Mungkin penilaian ini bias, tapi biar waktu yang akan membuktikan ketika kamu berhasil melalui kesulitan-kesulitan yang kamu hadapi, seperti yang sudah kamu lakukan sebelumnya.

Tidak ada yang bilang hidup ini akan selau mudah, Kak. Namun percayalah, setelah satu kesulitan selalu akan datang dua kemudahan, dan kamu tidak perlu takut atau sedih karena sesungguhnya Allah bersama kita. La tahzan innallaha ma'ana.

Berbahagialah, karena itu perintah Tuhan. Orang-orang beriman hidup dengan penuh keikhlasan, syukur, tawakal, dan punya tujuan. Adakah orang yang tidak bahagia jika mampu menghayati semua itu? Jadi tertawalah, maka dunia akan tertawa bersamamu, tapi bersedihlah dan kamu akan bersedih sendirian. Louis Sachar, penulis dengan selera humor tinggi itu pernah bilang, "Kamu butuh sebuah alasan untuk sedih. Tapi kamu tidak butuh alasan untuk bahagia.”

Bapak mengerti butuh waktu untuk memahami semua ini, maka tetaplah percaya pada dirimu sendiri sampai kamu menemukan versi terbaik dari dirimu. Bapak akan selalu mendukung dan menunggu kamu sampai kamu berada di puncak kebaikanmu, dan selama menunggu itu, bapak akan tetap menulis. Karena apa yang diucapkan akan hilang, sementara yang tertulis akan tetap tertulis.

Semoga Allah selalu menolong, memberi kekuatan, keselamatan dan kebahagiaan dalam hidupmu.



With love and fervent prayers,

Bapak