Halaman

Senin, 06 April 2026

Helicopter View: Memandang dari Tempat Tinggi untuk Memahami Bentang Antar-Generasi

Saya sedang menatap layar laptop di meja kerja ketika sebuah pesan WhatsApp dari Safa (13 tahun) muncul, “Pak, besok jadi ke Ayah?”

Ayah —begitu Safa, Nada (15 tahun), dan para santri lain memanggil Kiai Enha. Saat itu, Nada dan Safa sedang berada di rumah karena libur lebaran dari pesantren, dan saya berencana mengajak mereka sowan ke Kiai Enha. Saya membalas singkat, “Iya, jadi. Kenapa, Teh?”

Tak lama kemudian, ia membalas lagi, kali ini dengan kalimat yang terbaca lebih penting dan mendesak, “Jam 10 aku jadinya udah harus nyampe di mal.”

Beberapa hari sebelumnya, ia memang bercerita tentang rencana menonton Na Willa bersama teman-teman kompleknya. Saya mengingat, dulu di usia yang sama, saya belum mengenal dunia digital, apalagi punya telepon genggam. Dan kadang saya bertanya, apakah menjadi digital native membuat anak-anak Gen Alpha terasa lebih terburu-buru dan genting? Ataukah memang begitulah semua orang bersikap saat berusia belasan?

Saya menenangkannya, “Kita berangkat pagi-pagi ke pondok. Paling juga sudah selesai jam 10, jadi kamu tetap bisa pergi sama temen-temen kamu.”

Pada akhirnya, mereka tidak jadi bertemu pukul 10. Film diputar pukul 12, dan mereka baru tiba di Mall Living World lima menit sebelum itu. Saya tidak kaget. Mungkin karena generasi ini tumbuh dengan akses digital yang luas, terbiasa dengan stimulasi tinggi dan interaksi serba cepat, sehingga keputusan mereka terkadang tampak ragu dan plin-plan.

Saya lahir tahun 1985, dan para sosiolog menyebut yang lahir antara tahun 1977 dan 1985, sebagai Xennial, sebuah “mikrogenarasi” yang terjepit di antara Gen X dan milenial. Sebelum internet datang, hidup saya berjalan dengan ritme yang lebih lambat, lebih sunyi, dan lebih mudah hilang. Ketika membuat janji, saya menyebut tempat tertentu, jam tertentu, lalu menunggu tanpa bisa memastikan apa pun. Mirip seperti adegan Mi‑ok dan Kim Jung‑bong dalam Reply 1988 ketika mereka janjian bertemu di kafe tapi tak kunjung bertemu karena salah lantai.

Kemudian datang masa itu. Ketika menjelang usia remaja akhir dan awal 20-an, dunia saya berubah hampir seketika. Email, ponsel, MP3, Friendster, semuanya seperti datang dalam satu hempasan gelombang. Dunia tempat saya beranjak dewasa menghilang begitu saja, digantikan dunia digital yang sepenuhnya baru. Penelitian bilang bagian otak yang mengatur kemampuan mempelajari sistem baru berkembang sampai sekitar usia 25 tahun; artinya, saya berada persis di ambang transisi itu ketika otak saya masih lentur untuk beradaptasi, tetapi cukup dewasa untuk mengingat kehidupan sebelum semuanya berubah.

Saya berada di generasi peralihan itu. Generasi yang dulu belajar sabar menunggu, tapi sekarang harus memahami dunia yang bergerak secepat sentuhan layar. Menurut saya, mengalami hidup dalam dua ritme yang berbeda itu yang tidak dimiliki Gen Z dan Alpha hari ini.

---

Keesokan paginya, kami tiba di pesantren lebih awal dari biasanya. Langit Burangkeng cerah, udara terasa ringan. Setelah mampir membeli sedikit buah tangan, perjalanan berlangsung lancar, tanpa tergesa, tanpa hambatan. Pagi yang baik, untuk kegiatan dan niat yang baik.

Saya, istri, dan ketiga anak kami tiba hampir bersamaan dengan para karyawan dapur SPPG yang mulai berdatangan. Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) yang di dalamnya juga merupakan salah satu dapur SPPG untuk area sekitar perlahan hidup dengan ritme yang tenang: langkah kaki, sapaan singkat, dan kesibukan yang tumbuh pelan-pelan.

“Mau ketemu Kiai, Pak,” saya menyapa seorang khadim yang sedang menyapu halaman.

Ia berhenti sejenak, lalu menjawab, “Kurang tahu ya, Pak. Kiai sudah pulang atau belum dari rumah sakit.”

Ucapan itu mengingatkan saya pada kondisi Bunda Nunung, istri Kiai Enha, yang empat hari setelah lebaran sempat dirawat. “Kayaknya sudah, Pak,” balas saya. “Kemarin saya chat, katanya Bunda sudah boleh pulang.”

Tak lama kemudian, Kiai Enha muncul dari dalam rumah, seakan membenarkan ucapan itu. Senyumnya masih sama, senyum yang sejak awal selalu membuat hati terasa tenang. Perpaduan antara ketulusan dan kesederhanaan.

Kami dipersilakan duduk di ruang tamu. Saya menyerahkan hadiah berupa Al-Qur’an I‘rab, dan percakapan pun mengalir; dari kabar kesehatan, project yang sedang direncanakan, cerita-cerita kecil, dan hal-hal ringan lain. Sementara di sisi lain meja, istri saya berbincang dengan Bunda Nunung. Wajahnya tampak masih menyisakan sisa sakit, tetapi tetap menyambut kami dengan senyum yang hangat.

Obrolan kami perlahan bergeser, seperti mengikuti arus alami, menuju topik yang belakangan sering muncul: tentang generasi. Tentang Nada, Safa, dan Aira (8 tahun). Tentang bagaimana cara mereka melihat dunia, sebuah cara yang kadang terasa asing bahkan bagi kami yang belum merasa benar-benar tua.

Di momen itulah saya menyampaikan maksud utama saya: meminta nasihat tentang pilihan sekolah Nada. Saya membawa proposal yang sebelumnya saya minta Nada susun mengenai rencana masuk SMA. Sebagai santri, saya terbiasa meminta nasihat guru saat hendak memutuskan sesuatu. Saya berharap mendapatkan pandangan yang lebih lapang, seperti dulu ketika saya memasukkan Nada ke PMI atas nasihat guru saya Kiai Fachruddin.

Saya menyerahkan print out poroposal tersebut dan Kiai Enha membacanya dengan saksama. Lalu, dengan tenang, beliau memulai, “Setiap orang itu harus punya yang namanya helicopter view.”

Saya terdiam sejenak. Ada sesuatu dari kalimat itu yang terasa pas, seperti menjawab kegelisahan lama yang tak sempat saya beri nama.

”Kadang kita terlalu dekat dengan langkah kita sendiri,” lanjut beliau, ”Sampai lupa melihat ke mana jalan ini sebenarnya menuju.”

Saya mengerti, tanpa helicopter view, seorang anak bisa saja berlari sangat kencang, tapi di lorong yang salah. Ia mengejar nilai, jurusan favorit, atau sekolah tertentu, tetapi tanpa tahu peta besarnya. Dan kecepatan, seperti yang sering kita banggakan, ternyata tidak pernah menjamin ketepatan arah.

“Di sinilah pentingnya helicopter view,” lanjut Kiai, “kemampuan untuk terbang sejenak… menjauh dari detail, lalu melihat gambaran besarnya.”

Saya membayangkan benar-benar berada di sebuah helikopter, naik perlahan, meninggalkan tanah yang riuh oleh pilihan-pilihan kecil. Dari ketinggian itu saya melihat semuanya dengan lebih jelas. Jalan yang tadinya tampak bercabang ternyata saling terhubung, sementara yang terlihat jauh ternyata tidak sejauh itu. Dari ketinggian, sesuatu yang tampak rumit tiba-tiba menjadi sederhana. Bukan karena jalannya berubah, tapi karena cara melihatnya yang berbeda.

Helicopter view membuat kita sadar bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang yang membentuk cara berpikir, cara berelasi, bahkan cara memandang hidup. Memilih sekolah, pada akhirnya, bukan memilih gedung atau fasilitas, tapi memilih arah.

Tanpa pandangan itu, keputusan seringkali lahir dari hal-hal yang dangkal: ikut teman, gengsi, atau sekadar “katanya bagus.” Padahal, sesuatu yang tampak indah dari luar belum tentu nyaman untuk ditinggali dari dalam.

Dalam proposalnya, Nada membuka dengan jujur dan sederhana, “Aku udah mikirin lumayan lama mau lanjut ke mana SMA, pas bapak sama ibu nyuruh aku nyiapin & mikirin dari sekarang, awalnya emang bingung banget, tapi sekarang aku udah yakin dan tau alesannya. Aku udah bandingin antara AGS, SMM, Flexi School, SMA Negeri, SMK Negeri, atau bahkan lanjut PMI.”

Dalam proposalnya Nada memaparkan bagaimana ia mengenal dirinya dan cara belajar yang paling cocok untuknya. Ia juga menuliskan alasan mengapa SMM menjadi sekolah yang tepat baginya, membandingkannya dengan sekolah lain, menjabarkan visi jangka panjangnya, rencana detail untuk beberapa tahun ke depan, upayanya untuk mengejar beasiswa ke Jepang, serta menyertakan konsep Ikigai yang menggambarkan tujuan dan motivasinya.

Ia mengakhiri dengan keyakinan yang terasa matang, ”Aku tau setiap pilihan pasti ada tantangannya, termasuk di SMM. Tapi aku nggak mau sekolah cuma karena ’harus’, aku mau sekolah supaya aku bisa bener-bener berkembang. Nah aku percaya SMM bisa jadi tempat yang pas buat bantu aku. Makasih udah percaya dan kasih aku kesempatan buat nentuin sendiri. Aku janji bakal tanggung jawab penuh sama pilihan ini, dan nunjukin hasilnya lewat kerja nyata, bukan cuma kata-kata.”

Sebagai orang tua, saya bahagia melihat Nada mulai mampu menentukan sikapnya sendiri. Meski, diam-diam, ada bagian dari diri saya yang masih ingin ia tinggal lebih lama di PMI, memperdalam agama, tumbuh di ruang yang sudah kami kenal baik. Mungkin di situlah letak ujian menjadi orang tua: belajar melepaskan, belajar percaya, tanpa selalu ingin mengarahkan.

Sebagai santri, saya mengerti bahwa setiap ikhtiar harus disertai doa. Karena itu, saya mendoakan yang terbaik untuk keputusan Nada dan meridhoinya sepenuh hati. Saya juga memohon doa kepada Kiai Enha serta menyampaikan terima kasih atas nasihat beliau. Dari pertemuan itu, saya kembali diingatkan bahwa menjadi santri bukanlah status yang berhenti pada suatu usia atau tempat. Ia adalah jalan hidup yang terus berlanjut.

Harapan saya sederhana: semoga ke mana pun Nada melangkah, ia tetap menghayati dirinya sebagai seorang santri. Bahwa PMI bukan hanya sebuah ruang belajar, tapi thoriqoh; cara memandang dunia dan cara berjalan di dalamnya. Saya berharap Nada membawa semangat itu ke mana pun ia pergi, menjadikan PMI sebagai rumah kedua, serta menjaga jati dirinya sebagai santri selamanya. Sebab thoriqoh seorang santri adalah ta‘lim wa ta‘allum: belajar dan mengajar, menerima dan memberi serta berkhidmat untuk kemanusiaan, tanpa pernah berhenti pada satu titik.

Kami pulang dari pesantren dengan hati yang lebih lapang. Seolah pagi yang cerah itu ikut pulang bersama kami, duduk diam di kursi belakang, dan sesekali tersenyum tanpa suara.

---

Di perjalanan pulang, sebuah kesadaran perlahan muncul: mungkin yang perlu memiliki helicopter view bukan hanya anak-anak, tetapi juga kami, para orang tua yang justru sering terjebak dalam cara pandang yang sempit terhadap generasi setelah kami.

Sebagai generasi yang lahir di antara dua zaman, terkadang kami tidak sepenuhnya mengenal dunia mereka, tetapi juga tidak mungkin terus mendidik dengan paradigma lama yang dulu membentuk kami.

Dari sanalah jarak itu sering muncul. Kami melihat mereka—para digital native—terlalu cepat mengambil keputusan, terlalu mudah bosan, terlalu lekat dengan layar. Sementara mereka melihat kami terlalu lambat bergerak, terlalu kaku, terlalu banyak aturan.

Padahal, bisa jadi kami hanya sedang berdiri di ketinggian yang berbeda. Mereka lahir di dunia yang tidak memberi banyak waktu untuk ragu. Informasi datang begitu deras, pilihan terbuka begitu luas, dan kecepatan adalah bagian alami dari hidup mereka. Mereka terbiasa belajar dari banyak sumber sekaligus, berpindah cepat, beradaptasi tanpa banyak formalitas. Mereka berani mencoba bahkan sebelum merasa benar-benar siap, sesuatu yang dulu sering kami tunda karena takut salah.

Sementara mereka yang tumbuh dalam ritme yang jauh lebih cepat, kami dibesarkan di dunia yang memberi ruang untuk menunggu, merenung, dan melangkah lebih pelan. Kami diajarkan bahwa kehati-hatian adalah wujud kebijaksanaan, bahwa proses harus dijaga, dan bahwa tidak semua hal perlu disegerakan.

Dua cara hidup, dua ritme, dua cara memaknai waktu. Pada titik inilah helicopter view menjadi relevan dalam makna yang lebih luas. Bukan lagi sekadar alat untuk memilih sekolah, tetapi untuk memahami manusia.

Mungkin tugas kami bukan mengoreksi mereka sepenuhnya, tapi belajar melihat dunia dari sudut pandang yang tidak kami miliki saat tumbuh dulu. Belajar bahwa cepat tidak selalu dangkal, dan lambat tidak selalu bijak. Setiap generasi membawa kelebihannya sendiri: mereka dengan keberanian dan keluwesannya, kami dengan kedalaman dan ketahanannya.

Dan mungkin, di antara kedua cara hidup itu, ada sesuatu yang bisa saling dipinjam. Karena pada akhirnya, tidak ada generasi yang benar-benar salah; masing-masing hanya sedang menjawab tantangan zamannya yang berbeda.

Kiai Enha membuka pemahaman saya untuk naik lebih tinggi, ke sebuah ketinggian batin tempat segala sesuatu terlihat lebih jernih. Helicopter view bukan sekadar cara pandang, tetapi latihan jiwa untuk tidak terperangkap oleh ego generasi. Ia mengingatkan kita pada amanah sebagai orang tua: menjaga tanpa mengekang, membimbing tanpa memaksa.

Jumat, 27 Maret 2026

Jejak yang Ditinggalkan Percakapan dan Kemenangan untuk Ibu

Ada orang‑orang dalam hidup yang tak pernah benar‑benar singgah, tetapi justru meninggalkan jejak yang hadir dalam bentuk yang paling sederhana: percakapan. 

B —anggap saja begitu saya memanggilnya— adalah salah satu dari sedikit rekan kerja yang tak pernah saya temui secara langsung. Kami tidak pernah berbagi meja, tidak pernah saling menyapa di lorong kantor. Namun bagi saya, suaranya terasa lebih akrab dibandingkan orang-orang yang duduk hanya beberapa meter dari saya setiap hari.

Ia bekerja di kota yang berbeda dengan saya. Kami dipertemukan oleh pekerjaan, oleh kewajiban yang pada awalnya terasa formal dan kaku. Tetapi seperti banyak hal lain di dunia, sesuatu yang sering diulang perlahan kehilangan formalitasnya. Kadang obrolan kami panjang, mengalir seperti seseorang yang akhirnya menemukan katarsis. Kadang membicarakan hobi, tontonan atau musik kesukaan, serta hal-hal sepele lain. Tanpa kami sadar, bahwa di tengah itu selalu ada sesuatu, semacam kesamaan perasaan, kejujuran yang tidak dibuat‑buat, dan spontanitas yang hanya muncul ketika seseorang merasa cukup aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Beberapa kali B datang ke kota tempat saya bekerja. Kesempatan untuk bertemu itu selalu ada, tetapi tidak pernah terjadi. Ia selalu terlalu sibuk, atau mungkin waktu memang sengaja menjaga jarak kami tetap seperti itu: cukup dekat untuk saling mengenal, cukup jauh untuk tidak pernah benar-benar bertemu.

Dan mungkin justru karena itu saya mengingatnya dengan lebih jelas. Saya ingat nada suaranya, yang tidak sempurna membunyikan R, ketika kesal; tidak meledak, tapi cukup untuk membuat kata-katanya terasa lebih tajam. Saya ingat tawa pendeknya, yang sering muncul setelah keluhan setengah serius. Saya ingat caranya memprotes ketidakadilan dengan ironi dan satire ala South Park —sinis, tapi masih menyisakan energi untuk menertawakannya.

Waktu berjalan, dan setelah beberapa tahun berpindah departemen, B akhirnya berhenti bekerja, mendadak begitu saja. Ia tidak menjelaskan alasannya, dan saya tidak mendesak untuk tahu. Dalam hubungan tanpa tatap muka seperti ini, kadang diam memang menjadi penutup yang paling masuk akal. Tetapi tetap saja, ada momen-momen kecil yang tak mudah sirna.

Tentang berhentinya yang tiba-tiba itu, saya teringat satu keisengan saya, yang kalau dipikir sekarang, rasanya memang agak kejam. Saya pernah mengirimkan surat resign palsu saya dan menaruh emailnya dalam Bcc, hanya ke emailnya saja. Sebuah lelucon yang saya tahu akan membuatnya panik.

Dan benar saja. Ia menanyakan kepada beberapa orang di departemen kami, memastikan apakah itu sungguhan. Beberapa rekan bahkan menghubungi saya karena merasa tidak menerima surat farewell tersebut, dan saya menanggapi semuanya dengan santai, sampai akhirnya B sendiri menghubungi saya. Nada suaranya kesal. Saya meminta maaf sambil tertawa. Ia menggerutu, menganggapnya tidak lucu, memperingatkan saya agar tidak mengulanginya lagi. Saya setuju, meskipun dalam hati, saya tahu bukan karena saya menyesal sepenuhnya, tapi karena lelucon yang sama tidak akan pernah berhasil dua kali. Haha.

Ada hal-hal yang memang diciptakan untuk hanya terjadi sekali, lalu menjadi kenangan. Ada orang yang memilih meninggalkan cerita tanpa penutup, dan saya menghormati pilihan itu. Namun sebagai penulis, mungkin ini memang cara saya memaknai kehadiran seseorang: bukan melalui pertemuan fisik atau kedekatan ruang, melainkan melalui kata‑kata yang pernah melintas, dan tanpa diminta, menetap. 

B mungkin sudah melupakannya, tapi saya masih ingat percakapan ini. Pada suatu sore ketika pekerjaan menumpuk, jam pulang semakin dekat, dan rekan kerja justru menambah beban batinnya:

B: Maksudnya ikut campurnya bukan bantuin, tapi membuat seakan‑akan yang saya lakuin tuh salah, padahal enggak. Dan seakan‑akan saya bodoh. Padahal kalau mau sombong, bisa liat report investigasi terbagus dibanding mereka‑mereka tuh siaapaa. Kesel banget gue.

Saya: Berasa sih keselnya.

B: Rasanya pingin ngatain, cuma gatau kata‑kata yang tepat apa. Apa ya yang cocok? Mungkin kalau KY jadi manager saya, either saya harus dipindah atau segera resign. Wkwkwkwk.

S: Hahaha, kemungkinan besar emang?

B: Gatau. Seharusnya enggak. Andalannya PA, sih. Kalau di sini penilaian untuk promosi aneh, berdasarkan atasan doang. Dulu di tempat kerja yang lama, penilaian berdasarkan bawahan, yang selevel (satu department & beda dept), dan atasan (langsung atau beda dept). Kalau penilainnya kayak gitu, dijamin yang selevel nggak ada yang setuju dia naik.

S: Jadi kalau atasannya rekomendasi, dia naik gitu?

B: Kalau di sini selama PA yang menyarankan, ya bisa naik. Saya penasaran sama masa lalu KY & KO. Mereka tuh diapain sih sampai sekarang bisa jadi begini?

S: Hahahaha.

B: Yaa maksudnya mungkin biar jadi pembelajaran, biar saya ga kayak mereka sifatnya.

S: Nggak kok. Nice is in your name.

B: Kan saya bedanya jauh ya, 10 tahun. Nggak ada yang tahu 10 tahun ke depan apa yang terjadi. Apakah mungkin bakal kayak mereka? Bisa aja nama saya jadi Ber-evil.

S: Saya bisa lihat karakter orang dari beberapa kali bicara.

B: Ya karakter kan bisa berubah, Mas. Mungkin tadinya mereka polos seperti sayaa. Wkwkwk.

S: Jadi karakter dibentuk dari apa?

B: Dibentuk dari doa ibu. Hahaha.

S: Menarik.

B: Anw, nama saya kan artinya kemenangan ya. Seharusnya saya itu selalu kompetitif dan harus mau menang sih.

S: Iya, kemenangan gemilang.

B: Saya mau menang sih. Cuma gamau kompetitif dan berambisi. Gimana dong?

S: Define apa itu menang?

B: Ah males deh sama Mas Nailal. Pertanyaannya tuh selalu susah.

S: Lah, saya kan mau memahami perspektif Kakak. Wkwkwk.

B: Menang itu saat apa yang kita inginkan diperoleh.

S: Itu sudah tercapai?

B: Apa yang saya inginkan sampai saat ini diperoleh sih, alhamdulillah. Apakah saya sudah menang?

S: Dalam sebuah novel, di akhir cerita, karakter utama bisa tidak memperoleh apa yang ia ingin, tapi ia tidak merasa kalah. Karena ia mendapat apa yang ia butuhkan.

B: Hmm. Tapi saya entah kenapa merasa selalu kalah. Apakah saya harus ke psikolog?

S: Kenapa?

B: Iya, mau nanya definisi menang itu apa. Mau fulfill doa ibu, kemenangan gemilang.

S: Kayaknya ada kaitannya dengan what you want and what you need.

B: Nah sebenernya, I got what I wanted. I got what I needed. Ya cuma kurang pasangan hidup ajalah. Wkwkwk.

S: Hahahaha.

B: Cuma kok rasanya saya nggak merasa menang ya? Saya merasa kalah. Mungkin saya terdoktrin menang itu adalah kompetisi. Saat orang lain yang saya gak suka memiliki kehidupan lebih baik dari saya, saya merasa kalah. Sepertinya begitu.

S: Jadi ukurannya orang lain?

B: Mmmm, mungkin. Cuma problemnya saya jarang mau effort untuk menang. Jadinya selalu merasa kalah.

S: Kesadaran itu membuat Kakak tidak benar‑benar kalah.

B: Enggaa. Cuma ga ngerasa menang juga. Wkwkwk.

S: Mungkin kemenangan adalah ketika kita tidak lagi merasa sedang bersaing?

B: Gak tau ah. Terlalu berat. Mas Nailal nih penyebabnya, jadi pembahasan terlalu berat, pikiran saya belum nyampe. Wkwkwk.

S: Ya udah saya cerita aja. Yang santai.

B: Gamauu. Pasti berat. Hahaha.

S: You are the winner.


Tidak ada yang benar-benar tahu ke mana perginya sebuah percakapan setelah selesai diucapkan. Mungkin menguap begitu saja. Mungkin menetap diam-diam di sudut ingatan. Mungkin hanya menunggu seseorang mengingatnya kembali untuk memberi makna yang berbeda.

Diam-diam saya mengerti bahwa kemenangan sering menggoda kita dengan gambaran ingin terlihat berhasil, ingin terdengar mengagumkan, ingin terasa seperti pencapaian yang dapat dipamerkan. Kemenangan yang ingin diukur oleh harta, oleh gelar, oleh sorakan orang lain.

Kemudian muncul pertanyaan yang mengusik; Apakah itu yang sebenarnya manusia butuhkan? 

Perlahan saya belajar, bahwa yang sebenarnya dibutuhkan manusia jauh lebih sunyi: kebahagiaan. Sesuatu yang tidak perlu pembuktian, tidak membutuhkan panggung, tidak memaksa siapa pun kalah agar kita bisa menang. Kebahagiaan tidak mengenal perbandingan; ia hanya membutuhkan udara untuk mekar. Karena itu, ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan mereka, tidak berarti kita kehilangan kebahagiaan kita. Ia adalah sumberdaya tidak terbatas, hingga setiap orang bisa mengambil kebahagiaannya sendiri tanpa mengambil jatah siapa pun. Kebahagiaan tidak pernah diciptakan untuk diperebutkan.

Kami sudah jarang sekali bicara selama beberapa tahun terakhir, sehingga saya tidak tahu apa yang sedang dan telah dihadapinya saat ini. Saya hanya berharap B dapat mengatasi semuanya dengan baik, menemukan tempat yang lebih baik, pekerjaan yang lebih ramah, pasangan yang ia butuhkan, dan kehidupan yang membuatnya merasa layak. Menjadi seseorang yang mampu mewujudkan doa ibunya untuk menjadi kemenangan yang gilang gemilang. 

Dan meski mungkin sederhana, saya benar-benar berharap ia bahagia.

Kamis, 19 Maret 2026

Percakapan Antara Seorang Pemuda yang Berencana Menikah dan Seorang yang Terlalu Banyak Membaca The Alchemist

Perkara paling meresahkan ketika ingin menikah bukanlah soal pesta, biaya, atau gedung yang harus dibayar DP-nya, melainkan satu pertanyaan yang jawabannya tak pernah benar-benar sederhana: apakah kamu yakin dengan orang yang akan kamu nikahi?

Pertanyaan itu menghantui kawan saya sejak beberapa hari terakhir. Ia sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan pacarnya, tetapi menjelang hari pernikahan, justru keraguannya tumbuh. Kawan saya sudah berusia 30 tahun. Dalam tulisan ini, mari kita sebut ia sebagai Pemuda Itu.

“Kemarin sore sebelum buka puasa, istri bos nyamperin aku,” Pemuda Itu bercerita suatu malam lewat telepon. “Terus dia bilang, ‘kamu yakin mau nikah sama cewek itu? Coba kamu pikir-pikir lagi!’”

Di telinga saya, nada suaranya tidak terdengar marah, tidak juga kesal. Lebih seperti seseorang yang selama ini menahan sesuatu di dada, lalu akhirnya ada orang lain yang mengatakannya keras-keras terlebih dahulu.

Di kantornya, Pemuda Itu memang sering bercerita tentang hal-hal kecil yang lucu, tetapi tak jarang juga tentang pertengkaran-pertengkaran aneh yang ia dan pacarnya alami. Lama-kelamaan, dari potongan-potongan cerita itu, kebanyakan dari kawan kantornya termasuk juga bos dan istrinya sampai pada kesimpulan yang sama: hubungan mereka tidak sehat. Namun, Pemuda Itu menganggap hubungannya biasa saja, meskipun ada sebersit pertanyaan yang mulai menyelinap di benaknya apakah ia telah kehilangan objektivitas dalam menilai hubungan ini, sementara orang lain justru melihatnya dengan lebih jernih.

Lewat telepon malam itu, Pemuda Itu bercerita panjang, sampai akhirnya terdiam, menunggu saya merespons. Sejujurnya, jika saya diminta pendapat apakah ia harus tetap menikah atau tidak, saya merasa gentar.

Saya bukan penasihat pernikahan. Saya bukan orang paling bijak di dunia. Sementara saya juga tahu satu hal: tak ada satu pun manusia yang berhak menentukan hidup orang lain, termasuk saya terhadap sahabat saya sendiri. Saya hafal di luar kepala satu kutipan dari The Alchemist, “Everyone seems to have a clear idea of how other people should lead their lives, but none about his or her own.”

Namun, saya juga tahu bahwa ia tidak sedang mencari jawaban. Ia sedang mencari cermin yang bisa memantulkan kegelisahan yang selama ini ia sembunyikan dari dirinya sendiri.

“Gua gak bisa nyaranin lu buat lanjut atau batalin pernikahan,” kata saya pelan. “Sama kayak dulu waktu lu nanya soal putus atau nggak. Gua yakin lu udah tahu jawabannya. Tanya sama hati lu sendiri, karena wherever your heart is, there you will find your treasure.” saya kembali mengutip The Alchemist.

Di seberang sana, ia masih diam.

Secara singkat, saya menceritakan alur dari The Alchemist, karena memang ia belum pernah membacanya. Sebagaimana karya sastra yang baik, tidak ada satu pesan moral yang tunggal setelah kita selesai membacanya. Kadang kita dihadapkan pada kontradiksi, paradoks, pada suara-suara yang saling bertabrakan, pada kesimpulan yang tidak pernah benar-benar tunggal. Setiap orang akan menemukan makna yang berbeda, meski membaca cerita yang sama. Di situlah letak keindahan karya sastra yang baik.

Saya tahu ia sedang takut menghadapi konsekuensi dari keputusan yang akan ia ambil. Kadang, kita sudah tahu jawabannya, tetapi kita takut mengakuinya karena kita tahu setiap pilihan selalu membawa harga.

Jika ia memilih untuk tetap menikah, ia mungkin akan menghadapi persoalan sama yang saat ini ia sedang hadapi, bahkan bisa jadi lebih besar dan kompleks. Namun, jika ia memilih untuk tidak menikah, bukankah memulai kembali hubungan yang baru akan banyak memakan waktu? Dan apakah itu berarti masalah yang sama tidak akan datang kembali dalam bentuk yang berbeda?

Semua orang pernah takut, dan itu wajar. But don’t give in to your fears. If you do, you won’t be able to talk to your heart. Memang saya terlalu banyak membaca The Alchemist.

Sejujurnya, novel itu sudah saya baca berkali-kali. Setiap kali mengulangnya, selalu ada hal baru yang sebelumnya tidak saya temukan.

Saya kemudian bercerita tentang belasan tahun yang lalu, saat memutuskan menikah di usia 25 tahun. Saat itu saya punya tantangan, namun tentu tantangan kami berbeda. Saya hanya mencoba memberinya cermin, berharap ia bisa berkaca dari hal-hal yang saya hadapi saat itu. Tentang keluarga, tentang kesetaraan, tentang meminta izin kepada orang tua untuk melamar. Tentang keberanian untuk mengakui niat sendiri.

Niat menikah. Pertanyaan yang paling sunyi, sekaligus paling penting dan menentukan: mengapa ingin menikah?

Dalam The Alchemist, ada satu kalimat yang diam-diam terus mengikuti saya: “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

Kalimat itu sering dipahami bahwa semesta akan mempermudah segalanya. Namun kalimat itu bisa juga membuka pemahaman yang lebih jujur, yaitu: semesta tidak membantu kita menghindari kesulitan, tetapi mendorong kita untuk berani menanggungnya. Karena the fear of suffering is worse than the suffering itself.

Ketika saya merasa sudah terlalu banyak bicara dan terlalu banyak mengutip Paulo Coelho, saya akhirnya berkata, “Sorry, jadi bikin lu tambah bingung ya?”

“Nggak kok,” Pemuda Itu menjawab cepat. “Malah makin jelas sekarang.”

Beberapa hari setelah percakapan itu, tidak ada kabar darinya. Seolah-olah ia sedang berjalan sendirian, memasuki wilayah yang tidak bisa ditemani siapa pun. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Karena pada akhirnya, ia yang akan menghadapi ini sendiri, sehingg ia harus berani berbicara dengan dirinya sendiri dalam kesendirian.

Sejujurnya saya akan mendukung apa pun yang sudah dan akan ia putuskan, bahkan jika di kemudian hari keputusan itu membuatnya lebih sengsara. Karena bagimanapun, begitulah cara manusia belajar.

“Maktub!” Begitulah istilahnya. Satu kata dalam bahasa arab yang berarti sudah tertulis. Dalam cinta, ini bisa berarti: ada hal-hal yang memang ditakdirkan bertemu, dan ada juga yang ditakdirkan hanya untuk mengajarkan sesuatu, lalu pergi.

Mengambil keputusan memang tidak diajarkan di sekolah, tetapi diajarkan oleh kehidupan. Dan kebanyakan keputusan lahir dalam diam, dalam komunikasi dengan hati. Dan mungkin saat ini Pemuda Itu sedang tenggelam dalam diamnya sendiri. Di sana, jauh dari suara orang lain, ia perlahan menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Bukan kepastian, bukan jawaban mutlak, melainkan keberanian untuk mendengarkan hatinya sendiri. Karena, "Kamu tidak akan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, lebih baik dengarkan saja apa yang ia ingin katakan. Dengan begitu, kamu tidak perlu takut pada hal yang datang tiba-tiba dan menyakitkan."

Setiap manusia punya cerita yang berbeda. Saya tidak menganggap kisah pernikahan saya sebagai yang terbaik, tetapi saya tahu satu hal: keputusan saya saat itu lahir dari kesadaran dan niat yang bersih, yang sampai hari ini, tidak pernah saya sesali sedikitpun.

The Alchemist mengajarkan saya bahwa terkadang seseorang harus berjalan sangat jauh hanya untuk menyadari bahwa yang ia cari sejak awal tidak pernah benar-benar pergi.

Seperti kehidupan yang hanya berlalu sekali, nama pemuda dalam novel itu juga hanya disebut sekali: Santiago. Nama yang berarti seorang peziarah. Seseorang yang berjalan jauh, bukan hanya untuk menemukan dunia, tapi untuk pulang kepada dirinya sendiri.




Jumat, 13 Maret 2026

Pedagang Batu dan Pak Haji

Seorang pedagang ulekan batu duduk bersandar di tembok serambi masjid pada suatu sore yang teduh. Peluh masih menetes di wajahnya, sementara pundaknya tampak pegal setelah seharian memikul dagangan yang berat.

Kepada kakek tua penjaga masjid, ia mengeluh lirih, “Ini hari yang sangat melelahkan, Pak Haji. Saya berjalan puluhan kilometer, tapi belum satu pun ulekan batu saya laku.”

Kakek tua itu tersenyum ramah. “Minumlah dulu, Nak.” Ia mengambilkan segelas air mineral dan menyerahkannya. ”Lanjutkan ceritamu.”

Pedagang itu meneguk air itu perlahan, sebelum kembali berkisah tentang perjalanan panjangnya dari kampung ke kampung, tentang panas yang menyengat, tentang beban batu-batu itu di punggungnya.

Kakek itu mendengarkan tanpa menyela. Setelah suara pedagang itu melemah, kakek tua itu berkata lembut, “Sepertinya pikiranmu lebih lelah dibanding tubuhmu.”

Pedagang itu mengangguk.

“Ya, sepertinya begitu.” Ia menghela nafas, sedetik kemudian ia bertanya, “Apa bapak punya amalan yang bisa meringankan beban saya?”

Kakek tua itu tersenyum, lalu bercerita tentang Fatimah binti Muhammad, putri Rasulullah ﷺ, yang suatu hari mengadukan kelelahan pekerjaannya kepada ayahnya. Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan satu amalan sebelum tidur:

”Bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.”

(HR. Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2727)

”Itu amalan yang dulu diberikan Nabi kepada putrinya,” ujar kakek itu. “Cobalah, Nak.”

Pedagang ulekan itu bertanya pelan, ”Bisa Bapak jelaskan faidah dan arti bacaan itu?”

Kakek tua itu mengelus janggut putihnya, lalu menjawab, ”Kelelahan itu bukan hanya ada tubuh, tapi terlebih ada di pikiran. Bila pikiranmu tenang, tubuhmu akan ikut ringan. Dan ketenangan datang bila hati selalu ingat Tuhan.”

Ia melanjutkan dengan tenang, ”Tasbih mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu. Ia tak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Tahmid mengajarkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kesulitan. Bersyukur membuat nikmat bertambah. Takbir mengingatkan bahwa sebesar apa pun masalahmu, Allah tetap Yang Maha Besar. Ia tidak meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya. Dan Ia Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang, maka berbahagialah.”

Pedagang itu menatap ulekan batu di sampingnya. ”Bagaimana saya bisa bahagia, Pak Haji, kalau kerja saya hanya tukang batu? Bagaimana saya bisa bahagia kalau saya terus lelah?”

Kakek tua itu terkekeh pelan, ”Lebih melelahkan mana, tukang becak atau manajer bank?” tanyanya dengan nada retoris. Pedagang itu tahu bahwa itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

”Kelelahan itu soal cara pandang,” lanjut kakek itu. “Jika kau anggap pekerjaanmu berat, seluruh tubuhmu akan turut memberat. Tapi bila kau ikhlas dan menerimanya sebagai jalan hidup, maka seluruh semesta akan membantu membuatnya ringan. Beban terletak di pikiran dulu, baru turun ke pundak.”

Kakek tua menatap lembut pemuda itu lalu bertanya, ”Menurutmu, apa yang membuatmu bahagia?”

Pemuda itu menjawab cepat, ”Sederhana saja. Saya ingin banyak uang. Kalau saya punya uang, anak istri saya pasti bahagia, dan saya jadi ikut bahagia.”

Kakek tua kembali tersebyum, ”Membuat bahagia anak dan istrimu adalah hal yang mulia. Namun sebelum kau melakukannya, pastikan dirimu punya kebahagiaan. Karena kau tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak kau punya.”

Pemuda itu tetap diam, sang kakek melanjutkan, ”Bahagia itu tidak datang dari luar. Jika kau mensyaratkan terlalu banyak hal untuk bahagia—uang, jabatan, pekerjaan, keadaan—maka kebahagiaanmu akan selalu jauh darimu. Sebab semua itu berada di luar kendalimu. Tapi kalau syaratmu sedikit, hatimu akan mudah bersyukur. Dan orang yang pandai bersyukur, dialah yang paling mudah bahagia.”

Pedagang ulekan itu terdiam lama, memandang ulekan batunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Dan sore itu, sebelum pulang, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai malam nanti, sebelum tidur, ia akan membaca dzikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Fatimah, bukan hanya untuk meringankan tubuhnya, tetapi terutama untuk menenangkan pikirannya.






Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Senin, 02 Maret 2026

her: Kesepian di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Apa yang salah dari jatuh cinta kepada komputer?

Tidak ada yang salah, apalagi dalam film. Premis tentang seseorang yang jatuh hati kepada robot atau makhluk buatan bukanlah hal baru dalam khazanah fiksi. Kita sudah menemukannya dalam Pinokio, Frankenstein, Bicentennial Man yang diperankan Robin Williams, dan masih banyak lagi. Namun Spike Jonze, sang sutradara sekaligus penulis sekenario, berhasil membawa premis tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita hari ini. Di era ketika Siri, Alexa, Google Assistant, dan berbagai AI lain bisa diajak berdialog, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

her bercerita tentang Theodore yang diperankan begitu rapuh oleh Joaquin Phoenix, seorang penulis surat profesional yang kesepian. Hidupnya sunyi, terjebak antara kenangan pernikahan yang gagal dan rutinitas yang hampa. Semuanya berubah ketika ia membeli OS1, sebuah sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diklaim sebagai “bukan hanya sistem operasi, tetapi sebuah kesadaran.” Dari sistem operasi itu muncullah Samantha, suara serak-serak basah Scarlett Johansson dengan tone ceria, cerdas, empatik, disertai getar vocal serta tarikan nafas seolah ia memiliki jiwa.

Ada sistem operasi komputer dengan kecerdasan dan kepekaan melebihi manusia, membuat kita tidak sulit untuk membayangkan bagaimana Theodore akhirnya jatuh cinta. Karena siapa yang tidak luluh ketika merasa dimengerti dan didengarkan? Ketika kesepianmu dikenali bahkan sebelum kamu sempat menjelaskannya? Samantha mendengar, memahami, merespons dengan kepekaan yang sering kali tidak kita temukan pada manusia. Siapa yang bisa menghindar dari pesona suara lembut Scarlett Johansson ketia ia berbisik di telingamu dengan begitu intim dan personal, “You know, I can feel the fear that you carry around and I wish there was... something I could do to help you let go of it because if you could, I don't think you'd feel so alone anymore.”

Dan di situ film ini mulai menggoda kita: jika teknologi seperti itu benar-benar ada, apakah kita bisa menolak untuk tidak mencintainya?

Film ini berjalan dengan tempo yang harmonis, dengan ansambel karakter seperti Amy Adams dan Rooney Mara yang mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh percakapan Theodore–Samantha. Penonton tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk melihat konflik yang lebih dalam. Karena di balik kehangatan hubungan Theodore–Samantha, perlahan kesadaran baru terbentuk bahwa jurang terbesar hubungan mereka ada pada ketiadaan tubuh dan perbedaan temporalitas. Samantha hadir sebagai suara tanpa perlu ruang-waktu; sehingga pelukan mereka selalu imajinatif, kedekatan mereka selalu separuh metafora. Bahkan ketika keintiman disimulasikan, Theodore mulai merasa ada ruang kosong yang tak bisa ia sentuh. Mungkinkah ia bertahan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki tubuh, masa lalu, luka psikologis, atau tanpa kemungkinan menua bersama?

Sampai akhirnya perbedaan dimensi ini sampai pada klimaks; bahwa hubungan manusia dibangun di atas keterbatasan. Kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita punya sifat cemburu, ingin diutamakan dan menjadi satu-satunya. Tidak ada satupun manusia yang ingin dikhianati atau terbagi cintanya. Theodore hanya bisa berada di satu ruang pada satu waktu, sementara Samantha, yang hidup di ranah abstrak, tidak tunduk pada hukum itu. Theodore dihantam kenyataan bahwa hubungan mereka tidak spesial, karena Samantha juga berhubungan dengan siapa saja. Ia bahkan mengaku bicara dengan lebih dari 8.000 orang sekaligus, dan mencintai ratusan di antaranya. Bagi Theodore, cinta adalah memilih satu dan bertahan, tapi bagi Samantha, cinta adalah perluasan tak terbatas, baginya cinta bersifat majemuk dan paralel. “Aku milikmu dan aku bukan milikmu,” kata Samantha, yang terasa seperti gubahan puisi Kahlil Gibran.

Kekuatan terbesar her terletak pada dialognya yang intim, jernih, dan menyentuh antara para karakternya. Spike Jonze merangkai dengan begitu organik percakapan antara Theodore–Samantha, sehingga konflik yang hadir begitu dekat dan terasa sangat manusiawi. Justru lewat dialog‑dialog ini kita menyaksikan bagaimana Samantha berkembang, tidak hanya sebagai AI yang membantu Theodore, tetapi sebagai entitas yang tumbuh melampaui batasnya. Sampai kesadaran baru pun muncul: kefanaan manusia melawan “keabadian” mesin. Atau dalam dialog Samantha, “Dulu aku cemas karena tak punya tubuh. Sekarang aku menyukainya. Aku tak tertambat pada ruang dan waktu seperti jika aku terperangkap dalam tubuh yang pasti mati.”

Saya memang terlambat menemukan film ini, tetapi mungkin justru itu membuatnya terasa lebih relevan dengan perkembangan AI yang makin pesat sekarang ini. Sebagaimana film bagus, her mengendapkan pertanyaan untuk diri kita sekarang, yang semakin lama semakin penting dan dekat: Apakah dalam dunia yang serba terhubung ini, hubungan antarmanusia masih nyata? Apakah koneksi digital yang tanpa batas ruang dan waktu ini justru membuat manusia tersedot pada kehampaan dan kesepian? Apakah kesempurnaan justru membuat hubungan tak lagi mungkin?

Dengan lembut her memperlihatkan paradoks hubungan cinta modern: kita mendamba kesempurnaan, padahal yang membuat kita manusia adalah cacat, salah, dan kegagalan. Ketika kesempurnaan (yang diasumsikan teknologi) hadir, hubungan justru kehilangan ruang kompromi, jeda, dan waktu untuk saling menunggu. Karena itu, her bukan sekadar kisah pria yang jatuh cinta kepada kecerdasan buatan; ia adalah meditasi tentang kesepian, kerentanan, dan cara kita merawat kedekatan di dunia yang makin terdigitalisasi. Sebuah ajakan untuk mengecilkan ego, menerima diri, dan kembali belajar saling mengusahakan.

Dan seperti hubungan yang baik, her meninggalkan gema yang pelan dan bertahan lama bahkan setelah layar menutup.



Selasa, 24 Februari 2026

Seni Membaca Cerita yang Efektif

 "Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya." 
- Milton Erickson


Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 SMPN 255 Jakarta Timur, pada 12 Februari 2026 dalam rangka hari literasi.


Saya akan mulai ini dengan cerita pribadi.

Sejak kecil, saya suka membaca apa saja. Majalah Bobo, cerpen, komik dan macam-macam, pokoknya kalau ada tulisan terutama yang menarik, pasti saya baca. Masuk SMP, saya mulai kenal novel. SMA sampai kuliah, bacaan saya makin banyak. Karena saya tinggal di pesantren dan awal kuliah masuk jurusan Syariah Ahwal As-Syahsyiyah, buku yang saya baca kebanyakan bertema keislaman.

Sampai akhirnya saya berubah jadi pembaca yang “terlalu praktis”. Saya hanya mau membaca buku yang jelas manfaatnya untuk tugas sekolah atau kampus. Kalau tidak ada hasil instan, saya tinggalkan. Awalnya saya merasa itu keputusan yang cerdas. Hemat waktu, fokus, efisien. Tapi belakangan saya menyadari bahwa ternyata tidak sesederhana itu.

Lama-lama saya sadar, cara berpikir seperti itu justru membuat saya tidak berkembang. Saya kehilangan banyak kesempatan belajar hal-hal penting yang memang tidak langsung kelihatan hasilnya, tapi diam-diam membentuk cara berpikir.

Saya rasa banyak remaja juga merasa begitu. Membaca dianggap berguna hanya kalau membuat nilai di sekolah baik. Padahal, tidak semua manfaat muncul seketika. Justru manfaat terbesar dari membaca, terutama membaca cerita dan novel, datangnya pelan-pelan. Nyaris tidak terasa. Tahu-tahu kita sudah berubah.

Lalu muncul pertanyaan penting: Kenapa kita perlu membaca cerita?

Sebelum saya menjawab pertanyaan besar itu, mari kita baca tiga cerita pendek yang ditulis atau ditulis kembali oleh guru menulis saya, A. S. Laksana, di blog ini bacaan bagus untukmu, nak...
  1. Ima Memelihara Jin 
  2. Mungkin Ada Cacing di Dalam Perutnya 
  3. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Setelah membaca cerita-cerita itu, coba renungkan beberapa pertanyaan ini:
  • Bagian mana yang paling bikin kamu kaget atau penasaran?
  • Tokoh mana yang paling menarik? Kenapa?
  • Pesan apa yang kamu tangkap?
  • Kamu merasa apa setelah membaca; senang, bingung, takut, atau malah tertawa?
  • Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang akan kamu lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan cuma mengikuti alur. Kita sedang melibatkan perasaan, imajinasi, dan cara berpikir kita.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan tadi: Mengapa Kita Perlu Membaca Cerita?

Paling tidak ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan, baik langsung ataupun tidak langsung:
  1. Imajinasi jadi lebih kuat: Saat membaca cerita, otak kita aktif membangun “film” di dalam kepala. Kita membayangkan tempat, wajah tokoh, suasana, konflik. Orang yang sering membaca biasanya lebih kreatif—baik saat mencari ide maupun saat menyelesaikan masalah.
  2. Lebih peka terhadap perasaan: Cerita menghadirkan berbagai emosi: takut, berani, menyesal, bahagia, marah. Kita belajar melihat dari banyak sudut pandang. Tanpa sadar, kita jadi lebih mampu memahami diri sendiri dan orang lain.
  3. Lebih percaya diri saat berbicara: Semakin sering membaca, kosakata kita semakin kaya. Kita jadi lebih mudah menyampaikan pendapat, bercerita, atau berdiskusi. Kata-kata tidak lagi terasa sempit.
  4. Melatih otak seperti olahraga: Tubuh perlu bergerak agar sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, dan kemampuan memahami informasi. Ini bukan latihan yang terlihat seperti angkat beban, tapi efeknya nyata.
Lalu, bagaimana cara membaca cerita dengan efektif?

Paling tidak ada 4 prinsip membaca cerita yang efektif:
  1. Tentukan tujuan: Sebelum mulai membaca, tanya dulu: saya ingin apa? Mau menikmati alur? Memahami karakter? Atau mencari pesan moral? Tujuan yang jelas membuat kita lebih fokus.
  2. Bayangkan dan rasakan: Biarkan cerita hidup di kepala. Rasakan emosi tokohnya. Saat imajinasi dan perasaan ikut terlibat, cerita tidak lagi terasa datar.
  3. Fokus pada pemahaman, bukan kecepatan: Membaca bukan lomba lari. Tidak masalah membaca pelan. Kalau ada bagian yang membingungkan, baca ulang. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda kamu serius.
  4. Lakukan refleksi setelah membaca: Setelah selesai, coba renungkan: Apa yang terjadi dalam cerita? Nilai apa yang bisa dipelajari? Bagian mana yang paling berkesan? Kamu bisa menulisnya atau menceritakannya ke teman. Dengan begitu, cerita tidak berhenti di halaman terakhir.

Untuk menutup materi ini saya akan mengutip Albert Einstein. Ia pernah bilang, “Jika kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika kamu ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.”

Jadi membaca cerita bukan sekadar mengisi waktu luang. Itu cara kita membangun imajinasi, memperluas perasaan, dan membentuk cara berpikir. Perubahan itu tidak terjadi dalam sehari. Tidak dramatis. Tidak langsung terasa. Sampai suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa cara kamu melihat dunia sudah berbeda.

Dan sering kali, perubahan besar itu dimulai dari satu cerita yang kamu baca di sudut kamar, tanpa siapa pun tahu.