Halaman

Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Senin, 02 Maret 2026

her: Kesepian di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Apa yang salah dari jatuh cinta kepada komputer?

Tidak ada yang salah, apalagi dalam film. Premis tentang seseorang yang jatuh hati kepada robot atau makhluk buatan bukanlah hal baru dalam khazanah fiksi. Kita sudah menemukannya dalam Pinokio, Frankenstein, Bicentennial Man yang diperankan Robin Williams, dan masih banyak lagi. Namun Spike Jonze, sang sutradara sekaligus penulis sekenario, berhasil membawa premis tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita hari ini. Di era ketika Siri, Alexa, Google Assistant, dan berbagai AI lain bisa diajak berdialog, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

her bercerita tentang Theodore yang diperankan begitu rapuh oleh Joaquin Phoenix, seorang penulis surat profesional yang kesepian. Hidupnya sunyi, terjebak antara kenangan pernikahan yang gagal dan rutinitas yang hampa. Semuanya berubah ketika ia membeli OS1, sebuah sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diklaim sebagai “bukan hanya sistem operasi, tetapi sebuah kesadaran.” Dari sistem operasi itu muncullah Samantha, suara serak-serak basah Scarlett Johansson dengan tone ceria, cerdas, empatik, disertai getar vocal serta tarikan nafas seolah ia memiliki jiwa.

Ada sistem operasi komputer dengan kecerdasan dan kepekaan melebihi manusia, membuat kita tidak sulit untuk membayangkan bagaimana Theodore akhirnya jatuh cinta. Karena siapa yang tidak luluh ketika merasa dimengerti dan didengarkan? Ketika kesepianmu dikenali bahkan sebelum kamu sempat menjelaskannya? Samantha mendengar, memahami, merespons dengan kepekaan yang sering kali tidak kita temukan pada manusia. Siapa yang bisa menghindar dari pesona suara lembut Scarlett Johansson ketia ia berbisik di telingamu dengan begitu intim dan personal, “You know, I can feel the fear that you carry around and I wish there was... something I could do to help you let go of it because if you could, I don't think you'd feel so alone anymore.”

Dan di situ film ini mulai menggoda kita: jika teknologi seperti itu benar-benar ada, apakah kita bisa menolak untuk tidak mencintainya?

Film ini berjalan dengan tempo yang harmonis, dengan ansambel karakter seperti Amy Adams dan Rooney Mara yang mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh percakapan Theodore–Samantha. Penonton tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk melihat konflik yang lebih dalam. Karena di balik kehangatan hubungan Theodore–Samantha, perlahan kesadaran baru terbentuk bahwa jurang terbesar hubungan mereka ada pada ketiadaan tubuh dan perbedaan temporalitas. Samantha hadir sebagai suara tanpa perlu ruang-waktu; sehingga pelukan mereka selalu imajinatif, kedekatan mereka selalu separuh metafora. Bahkan ketika keintiman disimulasikan, Theodore mulai merasa ada ruang kosong yang tak bisa ia sentuh. Mungkinkah ia bertahan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki tubuh, masa lalu, luka psikologis, atau tanpa kemungkinan menua bersama?

Sampai akhirnya perbedaan dimensi ini sampai pada klimaks; bahwa hubungan manusia dibangun di atas keterbatasan. Kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita punya sifat cemburu, ingin diutamakan dan menjadi satu-satunya. Tidak ada satupun manusia yang ingin dikhianati atau terbagi cintanya. Theodore hanya bisa berada di satu ruang pada satu waktu, sementara Samantha, yang hidup di ranah abstrak, tidak tunduk pada hukum itu. Theodore dihantam kenyataan bahwa hubungan mereka tidak spesial, karena Samantha juga berhubungan dengan siapa saja. Ia bahkan mengaku bicara dengan lebih dari 8.000 orang sekaligus, dan mencintai ratusan di antaranya. Bagi Theodore, cinta adalah memilih satu dan bertahan, tapi bagi Samantha, cinta adalah perluasan tak terbatas, baginya cinta bersifat majemuk dan paralel. “Aku milikmu dan aku bukan milikmu,” kata Samantha, yang terasa seperti gubahan puisi Kahlil Gibran.

Kekuatan terbesar her terletak pada dialognya yang intim, jernih, dan menyentuh antara para karakternya. Spike Jonze merangkai dengan begitu organik percakapan antara Theodore–Samantha, sehingga konflik yang hadir begitu dekat dan terasa sangat manusiawi. Justru lewat dialog‑dialog ini kita menyaksikan bagaimana Samantha berkembang, tidak hanya sebagai AI yang membantu Theodore, tetapi sebagai entitas yang tumbuh melampaui batasnya. Sampai kesadaran baru pun muncul: kefanaan manusia melawan “keabadian” mesin. Atau dalam dialog Samantha, “Dulu aku cemas karena tak punya tubuh. Sekarang aku menyukainya. Aku tak tertambat pada ruang dan waktu seperti jika aku terperangkap dalam tubuh yang pasti mati.”

Saya memang terlambat menemukan film ini, tetapi mungkin justru itu membuatnya terasa lebih relevan dengan perkembangan AI yang makin pesat sekarang ini. Sebagaimana film bagus, her mengendapkan pertanyaan untuk diri kita sekarang, yang semakin lama semakin penting dan dekat: Apakah dalam dunia yang serba terhubung ini, hubungan antarmanusia masih nyata? Apakah koneksi digital yang tanpa batas ruang dan waktu ini justru membuat manusia tersedot pada kehampaan dan kesepian? Apakah kesempurnaan justru membuat hubungan tak lagi mungkin?

Dengan lembut her memperlihatkan paradoks hubungan cinta modern: kita mendamba kesempurnaan, padahal yang membuat kita manusia adalah cacat, salah, dan kegagalan. Ketika kesempurnaan (yang diasumsikan teknologi) hadir, hubungan justru kehilangan ruang kompromi, jeda, dan waktu untuk saling menunggu. Karena itu, her bukan sekadar kisah pria yang jatuh cinta kepada kecerdasan buatan; ia adalah meditasi tentang kesepian, kerentanan, dan cara kita merawat kedekatan di dunia yang makin terdigitalisasi. Sebuah ajakan untuk mengecilkan ego, menerima diri, dan kembali belajar saling mengusahakan.

Dan seperti hubungan yang baik, her meninggalkan gema yang pelan dan bertahan lama bahkan setelah layar menutup.



Selasa, 24 Februari 2026

Seni Membaca Cerita yang Efektif

 "Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya." 
- Milton Erickson


Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 SMPN 255 Jakarta Timur, pada 12 Februari 2026 dalam rangka hari literasi.


Saya akan mulai ini dengan cerita pribadi.

Sejak kecil, saya suka membaca apa saja. Majalah Bobo, cerpen, komik dan macam-macam, pokoknya kalau ada tulisan terutama yang menarik, pasti saya baca. Masuk SMP, saya mulai kenal novel. SMA sampai kuliah, bacaan saya makin banyak. Karena saya tinggal di pesantren dan awal kuliah masuk jurusan Syariah Ahwal As-Syahsyiyah, buku yang saya baca kebanyakan bertema keislaman.

Sampai akhirnya saya berubah jadi pembaca yang “terlalu praktis”. Saya hanya mau membaca buku yang jelas manfaatnya untuk tugas sekolah atau kampus. Kalau tidak ada hasil instan, saya tinggalkan. Awalnya saya merasa itu keputusan yang cerdas. Hemat waktu, fokus, efisien. Tapi belakangan saya menyadari bahwa ternyata tidak sesederhana itu.

Lama-lama saya sadar, cara berpikir seperti itu justru membuat saya tidak berkembang. Saya kehilangan banyak kesempatan belajar hal-hal penting yang memang tidak langsung kelihatan hasilnya, tapi diam-diam membentuk cara berpikir.

Saya rasa banyak remaja juga merasa begitu. Membaca dianggap berguna hanya kalau membuat nilai di sekolah baik. Padahal, tidak semua manfaat muncul seketika. Justru manfaat terbesar dari membaca, terutama membaca cerita dan novel, datangnya pelan-pelan. Nyaris tidak terasa. Tahu-tahu kita sudah berubah.

Lalu muncul pertanyaan penting: Kenapa kita perlu membaca cerita?

Sebelum saya menjawab pertanyaan besar itu, mari kita baca tiga cerita pendek yang ditulis atau ditulis kembali oleh guru menulis saya, A. S. Laksana, di blog ini bacaan bagus untukmu, nak...
  1. Ima Memelihara Jin 
  2. Mungkin Ada Cacing di Dalam Perutnya 
  3. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Setelah membaca cerita-cerita itu, coba renungkan beberapa pertanyaan ini:
  • Bagian mana yang paling bikin kamu kaget atau penasaran?
  • Tokoh mana yang paling menarik? Kenapa?
  • Pesan apa yang kamu tangkap?
  • Kamu merasa apa setelah membaca; senang, bingung, takut, atau malah tertawa?
  • Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang akan kamu lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan cuma mengikuti alur. Kita sedang melibatkan perasaan, imajinasi, dan cara berpikir kita.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan tadi: Mengapa Kita Perlu Membaca Cerita?

Paling tidak ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan, baik langsung ataupun tidak langsung:
  1. Imajinasi jadi lebih kuat: Saat membaca cerita, otak kita aktif membangun “film” di dalam kepala. Kita membayangkan tempat, wajah tokoh, suasana, konflik. Orang yang sering membaca biasanya lebih kreatif—baik saat mencari ide maupun saat menyelesaikan masalah.
  2. Lebih peka terhadap perasaan: Cerita menghadirkan berbagai emosi: takut, berani, menyesal, bahagia, marah. Kita belajar melihat dari banyak sudut pandang. Tanpa sadar, kita jadi lebih mampu memahami diri sendiri dan orang lain.
  3. Lebih percaya diri saat berbicara: Semakin sering membaca, kosakata kita semakin kaya. Kita jadi lebih mudah menyampaikan pendapat, bercerita, atau berdiskusi. Kata-kata tidak lagi terasa sempit.
  4. Melatih otak seperti olahraga: Tubuh perlu bergerak agar sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, dan kemampuan memahami informasi. Ini bukan latihan yang terlihat seperti angkat beban, tapi efeknya nyata.
Lalu, bagaimana cara membaca cerita dengan efektif?

Paling tidak ada 4 prinsip membaca cerita yang efektif:
  1. Tentukan tujuan: Sebelum mulai membaca, tanya dulu: saya ingin apa? Mau menikmati alur? Memahami karakter? Atau mencari pesan moral? Tujuan yang jelas membuat kita lebih fokus.
  2. Bayangkan dan rasakan: Biarkan cerita hidup di kepala. Rasakan emosi tokohnya. Saat imajinasi dan perasaan ikut terlibat, cerita tidak lagi terasa datar.
  3. Fokus pada pemahaman, bukan kecepatan: Membaca bukan lomba lari. Tidak masalah membaca pelan. Kalau ada bagian yang membingungkan, baca ulang. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda kamu serius.
  4. Lakukan refleksi setelah membaca: Setelah selesai, coba renungkan: Apa yang terjadi dalam cerita? Nilai apa yang bisa dipelajari? Bagian mana yang paling berkesan? Kamu bisa menulisnya atau menceritakannya ke teman. Dengan begitu, cerita tidak berhenti di halaman terakhir.

Untuk menutup materi ini saya akan mengutip Albert Einstein. Ia pernah bilang, “Jika kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika kamu ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.”

Jadi membaca cerita bukan sekadar mengisi waktu luang. Itu cara kita membangun imajinasi, memperluas perasaan, dan membentuk cara berpikir. Perubahan itu tidak terjadi dalam sehari. Tidak dramatis. Tidak langsung terasa. Sampai suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa cara kamu melihat dunia sudah berbeda.

Dan sering kali, perubahan besar itu dimulai dari satu cerita yang kamu baca di sudut kamar, tanpa siapa pun tahu.










Senin, 23 Februari 2026

Sakit Sedih Nomor Sebelas

Suatu malam saya bertanya pada Aira (8 tahun), “Apa yang membuat kamu paling sedih?”

Aira terdiam sebentar, lalu menjawab dengan yakin, “Waktu Bude meninggal.”

Mendengar itu, ingatan saya langsung kembali ke hari itu—19 Oktober 2025. Malam itu kami mendapat kabar bahwa kakak ipar saya meninggal secara mendadak. Sementara itu, Aira sudah tertidur pulas dengan senyum di wajahnya karena keesokan paginya, 20 Oktober, ia akan mengikuti study tour bersama teman‑teman sekolahnya.

Kami belum memesan tiket kereta untuk pergi ke Blitar, tempat kakak ipar dan mertua saya tinggal. Dan saya tidak tega merusak kebahagiaan Aira secara tiba‑tiba, apalagi kami masih mempertimbangkan apakah ia perlu ikut atau tidak. Pada akhirnya saya dan istri memutuskan untuk mengajaknya, karena Aira belum pernah dititip ke neneknya dalam waktu lama dan kami tidak tahu akan berada di Blitar berapa hari. Akhirnya kami membeli tiga tiket kereta untuk keberangkatan dari Bekasi malam itu: untuk saya, istri, dan Aira.

Pagi harinya saya mengantar Aira ke sekolah. Ia tetap ceria seperti biasa ketika ada kegiatan study tour. Saya belum memberi tahu apa pun tentang kabar duka itu, dan Aira pun tidak menanyakan mengapa mata ibunya sembab dan wajahnya murung sejak pagi.

Ketika saya menjemputnya siang hari, ia masih penuh semangat menceritakan kegiatan pagi itu. Dalam perjalanan pulang, di atas motor, setelah ia selesai bercerita, saya mulai membuka percakapan.

“Aira nanti malem kita berangkat nengokin Oma ya?”

“Oma?” Aira tampak bingung. “Nenek kali!”

“Bukan. Oma,” saya mengulang.

Aira yang duduk di depan menengok ke arah saya. “Ke Blitar? Bapak, aku gak mau bercanda!”

“Bapak serius!” jawab saya.

“Beneran?”

“Iya.”

“Nanti malem berangkat?”

“Iya.”

“Yeay!” Aira girang.

Selama perjalanan naik kereta, Aira masih ceria. Bahkan ketika kami tiba di rumah duka, ia masih belum tahu bahwa Budenya telah meninggal. Yang ia tahu, Bude sedang dirawat di rumah sakit. Jadi ketika masuk rumah, ia hanya bertanya ringan, “Bude di mana?”

Baru ketika saya mengajaknya ke makam Budenya, semuanya terungkap. Di sanalah Aira menangis. Tangis paling pilu yang pernah saya dengar darinya. Ia sampai harus saya gendong ketika berjalan kembali dari makam karena kakinya lemas.

Saya melanjutkan percakapan yang kami mulai sebelumnya.

“Kalau dibuat level satu sampai sepuluh, kesedihan waktu Bude meninggal itu nomor berapa?”

Aira berpikir sebentar lalu menjawab, “Nomor delapan.”

Kemudian ia menambahkan dengan suara lirih namun yakin, “Kalau sedih nomor sepuluh itu… kalau Bapak atau Ibu yang meninggal.”

“Oh…” saya menjawab pelan, merasa wajar karena sayang kepada orang tuanya lebih besar dan yang terbesar. Lalu saya iseng bertanya lagi, “Kalau Moli nomor berapa?”

Moli adalah kucing betina tua yang sudah ada sejak Aira lahir, dan sangat ia sayangi.

“Nomor sebelas,” kata Aira mantap.

Sabtu, 14 Februari 2026

Menikmati Semua Hal yang Dibolehkan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bercerita, ”Bapak saya itu sering mengajarkan, kalau ada hal-hal yang mubah, yang enggak maksiat, ya nikmati saja. Karena orang itu sampai cari kesenangan lewat maksiat, karena enggak bisa menikmati sesuatu yang dibolehkan Allah. Jadi, penting menikmati yang dibolehkan Allah itu.”

”Saya dulu itu janggal melihat Bapak, apalagi Mbah Mun, guru saya. Beliau itu sering guyon, sering ceria. Kadang semalaman gojlok-gojlokan sama teman-temannya. Terus beliau cerita, ’Banyak orang yang malam ini berjuang untuk tidak dugem, tidak maksiat.’ Itu kalau berjuang sendiri berat. Kalau asyik jagongan, makan-makan, masak-masak, itu terus asyik.”

”Sebab itu, di antara konsep Qur’an itu qul bi fadlillahi wa birahmatihi fa bidzalika falyafrahu


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
QS. Yunus (10): 58

Orang itu harus asyik dengan hal-hal yang dibolehkan Allah. Itu sebabnya saya menyaksikan sendiri, guru-guru saya, Bapak saya, Abi Quraish, semuanya orang-orang yang ceria. Karena bisa ceria dengan hal yang enggak maksiat itu luar biasa. Apresiasi Allah Ta’ala itu luar biasa. Sampai Imam al‑Ka‘bī dalam usul fikih menjelaskan, mubah dikatakan mubah itu keliru. Katanya, mubah itu wajib.”

”Karena ma min mubahin illa wayatahaqaqu fihi tarqu haramin, fayalzamu minas sukun tarqul qatli wa min sukut tarqul qodf.

ما مِنْ مُبَاحٍ إِلَّا وَيَتَحَقَّقُ فِيهِ تَرْكُ حَرَامٍ، فَيَلْزَمُ مِنَ السُّكُونِ تَرْكُ الْقَتْلِ، وَمِنَ السُّكُوتِ تَرْكُ الْقَذْفِ.

"Mubah, sesuatu yang boleh, hakikatnya adalah wajib. Karena ketika kita melakukan mubah, artinya meninggalkan keharaman. Sementara meninggalkan haram itu adalah wajib.”

Jika Tahlilan Itu Baik, Mengapa Para Sahabat Tidak Melakukannya?

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, ”Maka orang-orang di luar sana yang mengatakan, ’Andaikan tahlilan itu baik, pasti dilakukan oleh para sahabat,’ itu adalah logika yang keliru. Sahabat tentu tidak mungkin menahlili Nabi Muhammad, apalagi berdoa, in kaana musi’an. Masa mendoakan nabi pakai andaikan ada keburukan, tentu itu tidak benar. Nabi adalah manusia terbaik.”

”Jadi yang paling penting adalah bahwa dalam tahlil, kita tidak meminta kepada mayit. Tujuan kita datang ke kuburan adalah untuk mendoakan, dan memohonkan ampunan bagi mayit, bukan meminta sesuatu dari mereka. Maka tidak tepat jika dianggap sebagai perbuatan syirik atau kufur.”

”Kalau dilihat dari jauh lalu disimpulkan macam-macam, itu bukan dasar yang jelas untuk berfatwa. Fatwa tidak bisa hanya berdasarkan asumsi atau pengamatan sepintas.”

”Oleh karena itu, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa mazhab kita benar. Bahwa tahlilan di kuburan bukanlah perbuatan kafir, karena kita tidak meminta kepada mayit, justru kita mendoakan mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka.”

Surah Tabarok dan Potensi Kerusakan Bumi

Dalam sebuah pengajian Gus Baha bercerita, ”Kenapa surah Tabarok itu spesial? Di situ manusia diingatkan oleh Allah Taala: a amintum man fis-samā`i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa iżā hiya tamụr

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Kok kamu hidup di bumi tenang-tenang saja? Bisa saja bumi ini tamur atau likuifaksi. Semua tafsir mengartikan tamur itu tatoribu wa tatafiu fauqokum: bumi itu bergelombang, menggeliat, likuifaksi, kemudian bumi ini di atas kamu.”

اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ

”Terus potensi lagi, kata Allah: ayursila alikum hasiba: Apa juga kamu merasa baik-baik saja ketika Allah memutuskan benda-benda langit jatuh ke bumi? Terakhir, Allah juga mengingatkan bagaimana sistem bumi yang bisa menyerap air. Harusnya bumi itu enggak ada air karena bumi itu khasnya menyerap air. Qul aroitum in asbaha maukum guron famay ya'tikum bima main: Bagaimana kalau bumi ini tahu-tahu menghisap semua air, kemudian kita enggak menemukan air? Kamu bisa apa, siapa yang bisa mendatangkan air?”

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ اَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرًا فَمَنۡ يَّاۡتِيۡكُمۡ بِمَآءٍ مَّعِيۡنٍ

”Lalu dengan peringatan Allah seperti ini, orang disuruh hati-hati cara mengelola bumi ini. Makanya saya senang kalau ini ada gerakan-gerakan untuk menyelamatkan bumi. Kata ulama-ulama: tahkallaqu bi akhlakillah. Jadi Allah itu begitu bangganya ketika cerita menumbuhkan beberapa bijian, beberapa makanan, buah-buahan yang kamu butuhkan supaya kamu hidup di bumi ini nyaman, mata’alakum wlian’amikum.

”Sehingga dalam sebuah hadis diterangkan, enggak ada orang muslim, enggak ada manusia yang menanam pohon kemudian berbuah dan dimakan oleh manusia maupun binatang kecuali itu menjadi sedekah. Begitu juga ketika Allah mengkritik orang-orang yang jahat, yang tidak baik. Kata Allah: Wa idzaa tawallaa sa'aa fil ardi liyufsida fiiha wa yuhlikal harsa wannasl: Jadi ciri utama orang yang tidak baik itu adalah yuhlikal harsa wannasl: yang merusak tanaman, merusak tetumbuhan, merusak populasi.”

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ