Beberapa bagian dalam tulisan ini tidak sama persis dengan yang saya sampaikan saat acara. Ada beberapa bagian yang saya hilangkan, terutama candaan-candaan yang sangat personal dan, demi keselamatan saya sendiri, sebaiknya tetap disimpan di panggung. 😄
Saya masih ingat, orang yang mengospek saya saat itu adalah Umar. Kalau tidak salah, ia termasuk salah satu mahasiswa angkatan awal STIBA IEC Jakarta. Motor yang saya gunakan untuk pergi ke kampus adalah Astrea tahun 1985. Lampu belakangnya berbentuk kotak dan gigi persnelingnya hanya tiga.
Dari Bekasi, saya biasanya melewati jalan sepanjang Kalimalang untuk menuju kampus. Waktu itu Kalimalang masih satu jalur. Tol Becakayu masih berupa deretan tiang-tiang beton yang belum selesai dibangun. Pohon-pohon besar masih cukup banyak berdiri di sepanjang jalan.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa hampir dua puluh tahun kemudian saya akan kembali mengingat perjalanan itu dengan cara yang berbeda. Banyak yang berubah. Jalannya berubah. Gedung-gedung di sekelilingnya berubah. Kota berubah. Transportasi berubah. Dan, sadar ataupun tidak, saya juga berubah.
Tidak lama setelah menjadi mahasiswa, saya bergabung dengan IEC. Saya masih ingat pertama kali datang ke kantor IEC Bekasi 01 dan bertemu Pak Slamet. Waktu itu saya datang menawarkan diri. Saya berharap diperbolehkan bergabung dengan IEC. Beliau kemudian menawarkan pekerjaan sebagai receptionist di IEC Bekasi 10.
Dari sanalah perjalanan itu dimulai. Saya menjadi receptionist, kemudian assistant teacher, lalu teacher. Saya belajar banyak hal yang mungkin tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali datang sebagai mahasiswa. Saya belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan menghadapi berbagai macam manusia. Kemampuan bahasa Inggris saya berkembang. Namun yang lebih penting, saya belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dan seperti kebanyakan orang, saya juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat. Saya merasakan putus cinta dan belajar memahami orang lain. Mungkin memang begitulah cara manusia belajar. Sebagian pelajaran datang dari ruang kelas dan buku-buku yang kita baca. Sebagian besar lainnya datang melalui pengalaman. Dan ada pelajaran tertentu yang baru terasa maknanya setelah bertahun-tahun kemudian.
Ketika memasuki semester lima atau enam, saya membuat keputusan besar: menikah. Istri saya, yang sampai hari ini masih menjadi dosen STIBA IEC, ikut menjadi bagian dari perjalanan itu. Ketika akhirnya saya lulus dan mengikuti wisuda, saya bahkan sudah menjadi seorang ayah.
Jika hari ini saya mencoba menghitung kembali apa yang saya dapatkan dari STIBA IEC, jawabannya jauh lebih banyak daripada sekadar ijazah. Saya mendapatkan pekerjaan, pengalaman, sahabat-sahabat yang kini sudah saya anggap seperti keluarga, dan berbagai kesempatan yang mungkin tidak akan saya peroleh jika tidak pernah menjadi bagian dari kampus ini.
Dan pengalaman itu bukan hanya milik saya. Ada sekitar seribu orang yang pernah menempuh perjalanan serupa sebagai Alumni STIBA IEC. Masing-masing memiliki cerita, perjuangan, kegagalan, dan keberhasilannya masing-masing.
Kalau saya mencoba mencari satu gambaran yang paling tepat untuk menjelaskan perubahan itu, saya selalu teringat Kalimalang.
Kalimalang yang sering kita lewati sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih ada sampai sekarang. Ia tetap berada di tempat yang sama. Walaupun segala hal di sekitarnya telah berubah, kita masih menyebutnya Kalimalang. Bentuknya kurang lebih masih sama. Namun air yang mengalir di dalamnya tidak pernah sama. Setiap hari airnya berganti. Setiap detik airnya berubah.
Mungkin hidup juga seperti itu. Tanpa kita sadari, kita berubah setiap hari, walaupun tetap menggunakan nama yang sama untuk menyebut diri kita. Kampus berubah. Lembaga berubah. Nama berubah. Kita semua berubah. Tetapi kita tetaplah diri kita sendiri.
Perubahan adalah keniscayaan. Dan semoga perubahan berupa penggabungan STIBA IEC ke Universitas Mayapada serta bergabungnya mahasiswa ke Universitas Pertiwi menjadi perubahan yang membawa kebaikan bagi semua pihak.
Kepada mahasiswa yang masih aktif, semoga perubahan ini menjadi jalan menuju hal-hal yang lebih baik dan lebih berkah. Bagaimanapun, sebuah lembaga, seperti manusia, tidak pernah benar-benar hidup dalam satu bentuk selamanya. Yang bisa dilakukan adalah menjaga agar hal-hal baik dari masa lalu tidak hilang begitu saja ketika bentuknya berubah.
Selama menjadi manusia, kita akan selalu terikat pada waktu dan ruang. Ada tempat-tempat yang hanya kita lewati. Ada tempat-tempat yang kita tinggali. Dan ada tempat-tempat yang, tanpa kita sadari, ikut membentuk diri kita. STIBA IEC mungkin adalah salah satunya.
Saya teringat pada beberapa baris dari In My Life, lagu John Lennon dan Paul McCartney:
There are places I remember
All my life, though some have changed
Some forever, not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends, I still can recall
Some are dead and some are living
In my life, I've loved them all
Mungkin memang begitu cara kenangan bekerja. Kita tidak selalu mengingat sebuah tempat karena tempat itu masih sama, justru karena ia sudah berubah.









