Pertanyaan itu menghantui kawan saya sejak beberapa hari terakhir. Ia sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan pacarnya, tetapi menjelang hari pernikahan, justru keraguannya tumbuh. Kawan saya sudah berusia 30 tahun. Dalam tulisan ini, mari kita sebut ia sebagai Pemuda Itu.
“Kemarin sore sebelum buka puasa, istri bos nyamperin aku,” Pemuda Itu bercerita suatu malam lewat telepon. “Terus dia bilang, ‘kamu yakin mau nikah sama cewek itu? Coba kamu pikir-pikir lagi!’”
Di telinga saya, nada suaranya tidak terdengar marah, tidak juga kesal. Lebih seperti seseorang yang selama ini menahan sesuatu di dada, lalu akhirnya ada orang lain yang mengatakannya keras-keras terlebih dahulu.
Di kantornya, Pemuda Itu memang sering bercerita tentang hal-hal kecil yang lucu, tetapi tak jarang juga tentang pertengkaran-pertengkaran aneh yang ia dan pacarnya alami. Lama-kelamaan, dari potongan-potongan cerita itu, kebanyakan dari kawan kantornya termasuk juga bos dan istrinya sampai pada kesimpulan yang sama: hubungan mereka tidak sehat. Namun, Pemuda Itu menganggap hubungannya biasa saja, meskipun ada sebersit pertanyaan yang mulai menyelinap di benaknya apakah ia telah kehilangan objektivitas dalam menilai hubungan ini, sementara orang lain justru melihatnya dengan lebih jernih.
Lewat telepon malam itu, Pemuda Itu bercerita panjang, sampai akhirnya terdiam, menunggu saya merespons. Sejujurnya, jika saya diminta pendapat apakah ia harus tetap menikah atau tidak, saya merasa gentar.
Saya bukan penasihat pernikahan. Saya bukan orang paling bijak di dunia. Sementara saya juga tahu satu hal: tak ada satu pun manusia yang berhak menentukan hidup orang lain, termasuk saya terhadap sahabat saya sendiri. Saya hafal di luar kepala satu kutipan dari The Alchemist, “Everyone seems to have a clear idea of how other people should lead their lives, but none about his or her own.”
Namun, saya juga tahu bahwa ia tidak sedang mencari jawaban. Ia sedang mencari cermin yang bisa memantulkan kegelisahan yang selama ini ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
“Gua gak bisa nyaranin lu buat lanjut atau batalin pernikahan,” kata saya pelan. “Sama kayak dulu waktu lu nanya soal putus atau nggak. Gua yakin lu udah tahu jawabannya. Tanya sama hati lu sendiri, karena wherever your heart is, there you will find your treasure.” saya kembali mengutip The Alchemist.
Di seberang sana, ia masih diam.
Secara singkat, saya menceritakan alur dari The Alchemist, karena memang ia belum pernah membacanya. Sebagaimana karya sastra yang baik, tidak ada satu pesan moral yang tunggal setelah kita selesai membacanya. Kadang kita dihadapkan pada kontradiksi, paradoks, pada suara-suara yang saling bertabrakan, pada kesimpulan yang tidak pernah benar-benar tunggal. Setiap orang akan menemukan makna yang berbeda, meski membaca cerita yang sama. Di situlah letak keindahan karya sastra yang baik.
Saya tahu ia sedang takut menghadapi konsekuensi dari keputusan yang akan ia ambil. Kadang, kita sudah tahu jawabannya, tetapi kita takut mengakuinya karena kita tahu setiap pilihan selalu membawa harga.
Jika ia memilih untuk tetap menikah, ia mungkin akan menghadapi persoalan sama yang saat ini ia sedang hadapi, bahkan bisa jadi lebih besar dan kompleks. Namun, jika ia memilih untuk tidak menikah, bukankah memulai kembali hubungan yang baru akan banyak memakan waktu? Dan apakah itu berarti masalah yang sama tidak akan datang kembali dalam bentuk yang berbeda?
Semua orang pernah takut, dan itu wajar. But don’t give in to your fears. If you do, you won’t be able to talk to your heart. Memang saya terlalu banyak membaca The Alchemist.
Sejujurnya, novel itu sudah saya baca berkali-kali. Setiap kali mengulangnya, selalu ada hal baru yang sebelumnya tidak saya temukan.
Saya kemudian bercerita tentang belasan tahun yang lalu, saat memutuskan menikah di usia 25 tahun. Saat itu saya punya tantangan, namun tentu tantangan kami berbeda. Saya hanya mencoba memberinya cermin, berharap ia bisa berkaca dari hal-hal yang saya hadapi saat itu. Tentang keluarga, tentang kesetaraan, tentang meminta izin kepada orang tua untuk melamar. Tentang keberanian untuk mengakui niat sendiri.
Niat menikah. Pertanyaan yang paling sunyi, sekaligus paling penting dan menentukan: mengapa ingin menikah?
Dalam The Alchemist, ada satu kalimat yang diam-diam terus mengikuti saya: “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”
Kalimat itu sering dipahami bahwa semesta akan mempermudah segalanya. Namun kalimat itu bisa juga membuka pemahaman yang lebih jujur, yaitu: semesta tidak membantu kita menghindari kesulitan, tetapi mendorong kita untuk berani menanggungnya. Karena the fear of suffering is worse than the suffering itself.
Ketika saya merasa sudah terlalu banyak bicara dan terlalu banyak mengutip Paulo Coelho, saya akhirnya berkata, “Sorry, jadi bikin lu tambah bingung ya?”
“Nggak kok,” Pemuda Itu menjawab cepat. “Malah makin jelas sekarang.”
Beberapa hari setelah percakapan itu, tidak ada kabar darinya. Seolah-olah ia sedang berjalan sendirian, memasuki wilayah yang tidak bisa ditemani siapa pun. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Karena pada akhirnya, ia yang akan menghadapi ini sendiri, sehingg ia harus berani berbicara dengan dirinya sendiri dalam kesendirian.
Sejujurnya saya akan mendukung apa pun yang sudah dan akan ia putuskan, bahkan jika di kemudian hari keputusan itu membuatnya lebih sengsara. Karena bagimanapun, begitulah cara manusia belajar.
“Maktub!” Begitulah istilahnya. Satu kata dalam bahasa arab yang berarti sudah tertulis. Dalam cinta, ini bisa berarti: ada hal-hal yang memang ditakdirkan bertemu, dan ada juga yang ditakdirkan hanya untuk mengajarkan sesuatu, lalu pergi.
Mengambil keputusan memang tidak diajarkan di sekolah, tetapi diajarkan oleh kehidupan. Dan kebanyakan keputusan lahir dalam diam, dalam komunikasi dengan hati. Dan mungkin saat ini Pemuda Itu sedang tenggelam dalam diamnya sendiri. Di sana, jauh dari suara orang lain, ia perlahan menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Bukan kepastian, bukan jawaban mutlak, melainkan keberanian untuk mendengarkan hatinya sendiri. Karena, "Kamu tidak akan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, lebih baik dengarkan saja apa yang ia ingin katakan. Dengan begitu, kamu tidak perlu takut pada hal yang datang tiba-tiba dan menyakitkan."
Setiap manusia punya cerita yang berbeda. Saya tidak menganggap kisah pernikahan saya sebagai yang terbaik, tetapi saya tahu satu hal: keputusan saya saat itu lahir dari kesadaran dan niat yang bersih, yang sampai hari ini, tidak pernah saya sesali sedikitpun.
The Alchemist mengajarkan saya bahwa terkadang seseorang harus berjalan sangat jauh hanya untuk menyadari bahwa yang ia cari sejak awal tidak pernah benar-benar pergi.
Seperti kehidupan yang hanya berlalu sekali, nama pemuda dalam novel itu juga hanya disebut sekali: Santiago. Nama yang berarti seorang peziarah. Seseorang yang berjalan jauh, bukan hanya untuk menemukan dunia, tapi untuk pulang kepada dirinya sendiri.
