"Innalilah.." jawab saya spontan.
"Kok innalilah sih?!" nada suaranya naik, antara sewot dan bingung.
"Loh iya ya? Kok gua bilang innalillah?" saya ikut kebingungan, menyadari kejanggalan respons sendiri. Entah bagaimana malah kalimat itu yang keluar.
Beberapa saat kemudian, saya teringat sebuah hadis riwayat Imam Muslim tentang seseorang yang salah mengucapkan kata-kata karena terlalu gembira.
Dikisahkan ada seorang lelaki yang kehilangan untanya di tengah padang pasir. Unta itu membawa seluruh bekalnya. Ia mencarinya sampai putus asa, lalu tertidur di bawah sebatang pohon. Ketika terbangun, ia mendapati untanya berdiri tepat di hadapannya.
Karena terlalu bahagia, ia memegang tali untanya sambil berseru:
“Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu.”
Ia keliru karena kegembiraan yang meluap. Mungkin begitu juga yang terjadi pada saya, sehingga yang seharusnya saya ucapkan alhamdulillah menjadi innalillah.
Saya mengenal kawan saya itu bahkan sebelum saya mengenal istri saya. Pada masa ketika hidup terasa masih berupa kemungkinan-kemungkinan.
Pertemuan pertama kami terjadi di meja resepsionis sebuah lembaga kursus bahasa Inggris tempat saya bekerja waktu itu sebagai Resepsionis. Perempuan mungil itu datang sebagai calon co-teacher dengan sebuah tas tangan besar yang, entah kenapa, langsung mengingatkan saya pada tas belanja ibu saya ketika pulang dari pasar.
Ia duduk di depan saya. Ada jeda yang cukup lama sampai saya melihat tasnya, kemudian berkomentar iseng, "Gede banget tasnya."
Kalau saja kami sudah akrab waktu itu, mungkin saya akan bertanya, "Ayam apa kambing isinya?"
Untungnya, saya masih punya cukup kendali diri untuk tidak bercanda berlebihan dengan orang yang baru dikenal, sehingga saya masih selamat karena bisa saja ia tersinggung dan melempar tas yang mungkin berisi barbel itu ke muka saya.
Saya tidak ingat apa respon pertamamnya, tapi komentar iseng itu membuat percakapan kami jadi lebih cair. Dan mulai hari itu, tanpa kami sadari, kami mulai menjadi bagian dari hidup satu sama lain.
Waktu bergerak dengan caranya yang tenang. Sampai suatu hari, hidup membawanya ke persimpangan yang sulit. Ada hubungan yang tidak bisa dipertahankan dengan teman sekantor kami, ada luka yang tidak bisa lagi disembunyikan, ada suasana yang membuat setiap hari terasa semakin sesak untuk ia jalani. Beberapa tahun setelah bekerja, ia akhirnya memilih meninggalkan pekerjaan yang pernah dicintainya. Di hari terakhirnya bekerja, saya bilang, "Semoga kita ketemu lagi di tempat dan waktu yang lebih baik."
Kalimat yang terdengar seperti basa-basi, yang biasanya menguap begitu saja setelah diucapkan, tapi ternyata punya cara sendiri untuk menjadi kenyataan. Karena beberapa waktu kemudian, kami bertemu lagi tanpa rencana.
Ya, setelah sempat bekerja sebagai wartawan infotainment, ia melamar pekerjaan di tempat lain yang sama dengan saya. Kami melamar bersamaan, dan diterima bersamaan. Memulai perjalanan baru hampir bersamaan. Di sanalah sebagian besar usia dewasa kami berlangsung. Tempat di mana umur tidak hanya bertambah, tetapi juga diuji dengan banyak hal yang terjadi.
Di sana, saya menyaksikan ia jatuh cinta lagi dengan sepenuh hati, dengan keyakinan yang membuat dunia terasa lebih terang. Lalu saya juga menyaksikan bagaimana cinta itu runtuh, meninggalkan puing-puing yang tidak mudah dirapikan. Saya menyaksikan bagaimana seseorang bisa tetap datang bekerja setiap hari sambil diam-diam membawa reruntuhan di dalam dadanya.
Sampai akhirnya —karena memang segala sesuatu pasti ada akhirnya, dengan susah payah ia bangkit, belajar mencintai lagi, belajar percaya lagi. Mungkin ini adalah salah satu hal terindah dari berteman cukup lama dengan seseorang. Kita bisa menjadi saksi bahwa manusia bisa hancur lalu pulih kembali. Bisa kehilangan arah lalu menemukan jalan pulang.
Dan ketika ia berhasil bangkit dan belajar mencintai lagi, ternyata hidup masih menyiapkan ujian berikutnya. Ia kembali datang dengan air mata, tapi kali ini lebih berat, seperti sesuatu yang tidak hanya melibatkan dua orang, tapi juga seluruh lingkaran yang mengelilinginya. Ia mencintai seseorang yang berbeda keyakinan.
Sampai suatu hari ia pernah bertanya kepada saya, "Kalau gua nikah di gereja, lu mau dateng?"
“Dateng kalau diundang,” jawab saya singkat. Mungkin terlalu singkat untuk sesuatu yang sebenarnya rumit.
Masalahnya memang tidak sederhana. Ada keluarga yang menolak, dan jarak yang tiba-tiba tercipta di antara orang-orang yang seharusnya paling dekat. Bahkan lebih dari itu, ia mulai dijauhkan, dianggap tidak ada. Orang-orang terdekatnya tidak lagi peduli, seolah hubungan darah bisa diputus begitu saja. Ia seperti harus membayar mahal untuk sesuatu yang baginya sederhana: mencintai dan ingin tinggal bersama orang yang dicintai.
Dulu saya mengira cinta adalah perasaan. Lalu saya melihat begitu banyak perasaan datang dan pergi. Saya melihat orang yang awalnya sangat mencintai lalu berpisah. Saya melihat orang yang awalnya ragu-ragu justru bertahan puluhan tahun. Semakin bertambah umur, saya mulai curiga bahwa cinta bukan terutama soal perasaan. Cinta adalah keberanian untuk memilih dan bertahan, bahkan ketika hidup tidak sedang mudah. Mungkin karena itu pernikahan selalu terasa sedikit mengharukan.
Ya, hari ini, setelah 6 tahun hubungan mereka, dengan segala hiruk-pikuk persoalan dan seluruh kesulitan yang dihadapi, ia akan menikah. Ketika ditanya alasan menikah, ia menjawab dengan mantap, "Karena lillahi ta'ala. Karena Allah Ta'ala."
Saya menyukai jawaban itu. Sederhana, tidak terdengar seperti orang yang sedang memenangkan sesuatu. Lebih seperti seseorang yang akhirnya berdamai dengan perjalanan panjangnya sendiri.
Ia bilang bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang disayangi. Padahal umurnya masih tiga puluh tujuh tahun, dan bagi saya itu umur yang masih muda, sisa waktu hidupnya mungkin masih panjang, masih penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Namun bagi sebagian orang, tiga puluh tujuh tahun juga adalah angka yang terlambat untuk memulai. Tapi terlambat dibanding siapa? Bukankah hidup bukan perlombaan lari dengan garis finis yang sama?
Hidup ini lebih mirip perjalanan menggunakan angkutan umum, di mana setiap orang punya haltenya masing-masing, yang mereka tidak ketahui. Ada yang turun di halte pada usia dua puluh lima. Ada yang menemukan rumah pada usia tiga puluh tujuh. Ada yang lebih lambat. Ada yang lebih cepat. Dan tidak ada yang salah dengan keduanya.
Bagi saya, 37 hanya angka yang menunjukkan seberapa jauh seseorang telah berjalan. Tidak ada yang terlambat bagi orang yang masih berani berharap setelah berkali-kali ditinggalkan. Dan tidak ada yang terlambat bagi orang yang masih percaya bahwa kebahagiaan layak diperjuangkan.
Saya tidak tahu apa yang akan menunggunya setelah Juni. Tidak ada dari kita yang benar-benar tahu tentang itu. Pernikahan bukan akhir cerita, ia hanya bab berikutnya. Tapi untuk hari ini, mari kita sama-sama ucapkan: Alhamdulillah. Segala pujian hanya milik Allah.
Sementara Innalillah sendiri bukanlah kalimat yang buruk. Itu adalah ungkapan kesadaran dimana kita yakin bahwa bagaimanapun kita semua berasal dari Tuhan, dan sejauh apapun kita melangkah, kita akan kembali kepada-Nya, kepada Allah. Semakin saya pikirkan, kalimat itu semakin membuka perspektif baru. Kalimat itu membuka kesadaran bahwa setiap kebahagiaan selalu ada di balik sesuatu yang ditinggalkan dan direlakan di belakang. Sebab ada banyak hal yang memang harus diakhiri sebelum seseorang bisa sampai pada kebahagiaannya. Ada ketakutan yang harus dilepaskan. Ada luka yang harus dimaafkan. Ada versi hidup yang harus diikhlaskan agar hidup yang sekarang bisa lahir. Ada usaha untuk meninggalkan dendam, beban, dan semua hal yang bisa mengaduk-aduk perut.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu memberi kita apa yang kita minta pada waktunya. Kadang ia memberi kita kehilangan terlebih dahulu. Kadang ia memberi kita kesepian. Kadang ia membiarkan kita berjalan cukup jauh sampai kita mulai meragukan tujuan perjalanan itu sendiri.





