Halaman

Senin, 02 Maret 2026

her: Kesepian di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Apa yang salah dari jatuh cinta kepada komputer?

Tidak ada yang salah, apalagi dalam film. Premis tentang seseorang yang jatuh hati kepada robot atau makhluk buatan bukanlah hal baru dalam khazanah fiksi. Kita sudah menemukannya dalam Pinokio, Frankenstein, Bicentennial Man yang diperankan Robin Williams, dan masih banyak lagi. Namun Spike Jonze, sang sutradara sekaligus penulis sekenario, berhasil membawa premis tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita hari ini. Di era ketika Siri, Alexa, Google Assistant, dan berbagai AI lain bisa diajak berdialog, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

her bercerita tentang Theodore yang diperankan begitu rapuh oleh Joaquin Phoenix, seorang penulis surat profesional yang kesepian. Hidupnya sunyi, terjebak antara kenangan pernikahan yang gagal dan rutinitas yang hampa. Semuanya berubah ketika ia membeli OS1, sebuah sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diklaim sebagai “bukan hanya sistem operasi, tetapi sebuah kesadaran.” Dari sistem operasi itu muncullah Samantha, suara serak-serak basah Scarlett Johansson dengan tone ceria, cerdas, empatik, disertai getar vocal serta tarikan nafas seolah ia memiliki jiwa.

Ada sistem operasi komputer dengan kecerdasan dan kepekaan melebihi manusia, membuat kita tidak sulit untuk membayangkan bagaimana Theodore akhirnya jatuh cinta. Karena siapa yang tidak luluh ketika merasa dimengerti dan didengarkan? Ketika kesepianmu dikenali bahkan sebelum kamu sempat menjelaskannya? Samantha mendengar, memahami, merespons dengan kepekaan yang sering kali tidak kita temukan pada manusia. Siapa yang bisa menghindar dari pesona suara lembut Scarlett Johansson ketia ia berbisik di telingamu dengan begitu intim dan personal, “You know, I can feel the fear that you carry around and I wish there was... something I could do to help you let go of it because if you could, I don't think you'd feel so alone anymore.”

Dan di situ film ini mulai menggoda kita: jika teknologi seperti itu benar-benar ada, apakah kita bisa menolak untuk tidak mencintainya?

Film ini berjalan dengan tempo yang harmonis, dengan ansambel karakter seperti Amy Adams dan Rooney Mara yang mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh percakapan Theodore–Samantha. Penonton tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk melihat konflik yang lebih dalam. Karena di balik kehangatan hubungan Theodore–Samantha, perlahan kesadaran baru terbentuk bahwa jurang terbesar hubungan mereka ada pada ketiadaan tubuh dan perbedaan temporalitas. Samantha hadir sebagai suara tanpa perlu ruang-waktu; sehingga pelukan mereka selalu imajinatif, kedekatan mereka selalu separuh metafora. Bahkan ketika keintiman disimulasikan, Theodore mulai merasa ada ruang kosong yang tak bisa ia sentuh. Mungkinkah ia bertahan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki tubuh, masa lalu, luka psikologis, atau tanpa kemungkinan menua bersama?

Sampai akhirnya perbedaan dimensi ini sampai pada klimaks; bahwa hubungan manusia dibangun di atas keterbatasan. Kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita punya sifat cemburu, ingin diutamakan dan menjadi satu-satunya. Tidak ada satupun manusia yang ingin dikhianati atau terbagi cintanya. Theodore hanya bisa berada di satu ruang pada satu waktu, sementara Samantha, yang hidup di ranah abstrak, tidak tunduk pada hukum itu. Theodore dihantam kenyataan bahwa hubungan mereka tidak spesial, karena Samantha juga berhubungan dengan siapa saja. Ia bahkan mengaku bicara dengan lebih dari 8.000 orang sekaligus, dan mencintai ratusan di antaranya. Bagi Theodore, cinta adalah memilih satu dan bertahan, tapi bagi Samantha, cinta adalah perluasan tak terbatas, baginya cinta bersifat majemuk dan paralel. “Aku milikmu dan aku bukan milikmu,” kata Samantha, yang terasa seperti gubahan puisi Kahlil Gibran.

Kekuatan terbesar her terletak pada dialognya yang intim, jernih, dan menyentuh antara para karakternya. Spike Jonze merangkai dengan begitu organik percakapan antara Theodore–Samantha, sehingga konflik yang hadir begitu dekat dan terasa sangat manusiawi. Justru lewat dialog‑dialog ini kita menyaksikan bagaimana Samantha berkembang, tidak hanya sebagai AI yang membantu Theodore, tetapi sebagai entitas yang tumbuh melampaui batasnya. Sampai kesadaran baru pun muncul: kefanaan manusia melawan “keabadian” mesin. Atau dalam dialog Samantha, “Dulu aku cemas karena tak punya tubuh. Sekarang aku menyukainya. Aku tak tertambat pada ruang dan waktu seperti jika aku terperangkap dalam tubuh yang pasti mati.”

Saya memang terlambat menemukan film ini, tetapi mungkin justru itu membuatnya terasa lebih relevan dengan perkembangan AI yang makin pesat sekarang ini. Sebagaimana film bagus, her mengendapkan pertanyaan untuk diri kita sekarang, yang semakin lama semakin penting dan dekat: Apakah dalam dunia yang serba terhubung ini, hubungan antarmanusia masih nyata? Apakah koneksi digital yang tanpa batas ruang dan waktu ini justru membuat manusia tersedot pada kehampaan dan kesepian? Apakah kesempurnaan justru membuat hubungan tak lagi mungkin?

Dengan lembut her memperlihatkan paradoks hubungan cinta modern: kita mendamba kesempurnaan, padahal yang membuat kita manusia adalah cacat, salah, dan kegagalan. Ketika kesempurnaan (yang diasumsikan teknologi) hadir, hubungan justru kehilangan ruang kompromi, jeda, dan waktu untuk saling menunggu. Karena itu, her bukan sekadar kisah pria yang jatuh cinta kepada kecerdasan buatan; ia adalah meditasi tentang kesepian, kerentanan, dan cara kita merawat kedekatan di dunia yang makin terdigitalisasi. Sebuah ajakan untuk mengecilkan ego, menerima diri, dan kembali belajar saling mengusahakan.

Dan seperti hubungan yang baik, her meninggalkan gema yang pelan dan bertahan lama bahkan setelah layar menutup.



Selasa, 24 Februari 2026

Seni Membaca Cerita yang Efektif

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 SMPN 255 Jakarta Timur, pada 12 Februari 2026 dalam rangka hari literasi.

Saya akan mulai ini dengan cerita pribadi.

Sejak kecil, saya suka membaca apa saja. Majalah Bobo, cerpen, komik dan macam-macam, pokoknya kalau ada tulisan terutama yang menarik, pasti saya baca. Masuk SMP, saya mulai kenal novel. SMA sampai kuliah, bacaan saya makin banyak. Karena saya tinggal di pesantren dan awal kuliah masuk jurusan Syariah Ahwal As-Syahsyiyah, buku yang saya baca kebanyakan bertema keislaman.

Sampai akhirnya saya berubah jadi pembaca yang “terlalu praktis”. Saya hanya mau membaca buku yang jelas manfaatnya untuk tugas sekolah atau kampus. Kalau tidak ada hasil instan, saya tinggalkan. Awalnya saya merasa itu keputusan yang cerdas. Hemat waktu, fokus, efisien. Tapi belakangan saya menyadari bahwa ternyata tidak sesederhana itu.

Lama-lama saya sadar, cara berpikir seperti itu justru membuat saya tidak berkembang. Saya kehilangan banyak kesempatan belajar hal-hal penting yang memang tidak langsung kelihatan hasilnya, tapi diam-diam membentuk cara berpikir.

Saya rasa banyak remaja juga merasa begitu. Membaca dianggap berguna hanya kalau membuat nilai di sekolah baik. Padahal, tidak semua manfaat muncul seketika. Justru manfaat terbesar dari membaca, terutama membaca cerita dan novel, datangnya pelan-pelan. Nyaris tidak terasa. Tahu-tahu kita sudah berubah.

Lalu muncul pertanyaan penting: Kenapa kita perlu membaca cerita?

Sebelum saya menjawab pertanyaan besar itu, mari kita baca tiga cerita pendek yang ditulis atau ditulis kembali oleh guru menulis saya, A. S. Laksana, di blog ini bacaan bagus untukmu, nak...
  1. Ima Memelihara Jin 
  2. Mungkin Ada Cacing di Dalam Perutnya 
  3. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Setelah membaca cerita-cerita itu, coba renungkan beberapa pertanyaan ini:
  • Bagian mana yang paling bikin kamu kaget atau penasaran?
  • Tokoh mana yang paling menarik? Kenapa?
  • Pesan apa yang kamu tangkap?
  • Kamu merasa apa setelah membaca; senang, bingung, takut, atau malah tertawa?
  • Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang akan kamu lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan cuma mengikuti alur. Kita sedang melibatkan perasaan, imajinasi, dan cara berpikir kita.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan tadi: Mengapa Kita Perlu Membaca Cerita?

Paling tidak ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan, baik langsung ataupun tidak langsung:
  1. Imajinasi jadi lebih kuat: Saat membaca cerita, otak kita aktif membangun “film” di dalam kepala. Kita membayangkan tempat, wajah tokoh, suasana, konflik. Orang yang sering membaca biasanya lebih kreatif—baik saat mencari ide maupun saat menyelesaikan masalah.
  2. Lebih peka terhadap perasaan: Cerita menghadirkan berbagai emosi: takut, berani, menyesal, bahagia, marah. Kita belajar melihat dari banyak sudut pandang. Tanpa sadar, kita jadi lebih mampu memahami diri sendiri dan orang lain.
  3. Lebih percaya diri saat berbicara: Semakin sering membaca, kosakata kita semakin kaya. Kita jadi lebih mudah menyampaikan pendapat, bercerita, atau berdiskusi. Kata-kata tidak lagi terasa sempit.
  4. Melatih otak seperti olahraga: Tubuh perlu bergerak agar sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, dan kemampuan memahami informasi. Ini bukan latihan yang terlihat seperti angkat beban, tapi efeknya nyata.
Lalu, bagaimana cara membaca cerita dengan efektif?

Paling tidak ada 4 prinsip membaca cerita yang efektif:
  1. Tentukan tujuan: Sebelum mulai membaca, tanya dulu: saya ingin apa? Mau menikmati alur? Memahami karakter? Atau mencari pesan moral? Tujuan yang jelas membuat kita lebih fokus.
  2. Bayangkan dan rasakan: Biarkan cerita hidup di kepala. Rasakan emosi tokohnya. Saat imajinasi dan perasaan ikut terlibat, cerita tidak lagi terasa datar.
  3. Fokus pada pemahaman, bukan kecepatan: Membaca bukan lomba lari. Tidak masalah membaca pelan. Kalau ada bagian yang membingungkan, baca ulang. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda kamu serius.
  4. Lakukan refleksi setelah membaca: Setelah selesai, coba renungkan: Apa yang terjadi dalam cerita? Nilai apa yang bisa dipelajari? Bagian mana yang paling berkesan? Kamu bisa menulisnya atau menceritakannya ke teman. Dengan begitu, cerita tidak berhenti di halaman terakhir.

Untuk menutup materi ini saya akan mengutip Albert Einstein. Ia pernah bilang, “Jika kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika kamu ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.”

Jadi membaca cerita bukan sekadar mengisi waktu luang. Itu cara kita membangun imajinasi, memperluas perasaan, dan membentuk cara berpikir. Perubahan itu tidak terjadi dalam sehari. Tidak dramatis. Tidak langsung terasa. Sampai suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa cara kamu melihat dunia sudah berbeda.

Dan sering kali, perubahan besar itu dimulai dari satu cerita yang kamu baca di sudut kamar, tanpa siapa pun tahu.










Senin, 23 Februari 2026

Sakit Sedih Nomor Sebelas

Suatu malam saya bertanya pada Aira (8 tahun), “Apa yang membuat kamu paling sedih?”

Aira terdiam sebentar, lalu menjawab dengan yakin, “Waktu Bude meninggal.”

Mendengar itu, ingatan saya langsung kembali ke hari itu—19 Oktober 2025. Malam itu kami mendapat kabar bahwa kakak ipar saya meninggal secara mendadak. Sementara itu, Aira sudah tertidur pulas dengan senyum di wajahnya karena keesokan paginya, 20 Oktober, ia akan mengikuti study tour bersama teman‑teman sekolahnya.

Kami belum memesan tiket kereta untuk pergi ke Blitar, tempat kakak ipar dan mertua saya tinggal. Dan saya tidak tega merusak kebahagiaan Aira secara tiba‑tiba, apalagi kami masih mempertimbangkan apakah ia perlu ikut atau tidak. Pada akhirnya saya dan istri memutuskan untuk mengajaknya, karena Aira belum pernah dititip ke neneknya dalam waktu lama dan kami tidak tahu akan berada di Blitar berapa hari. Akhirnya kami membeli tiga tiket kereta untuk keberangkatan dari Bekasi malam itu: untuk saya, istri, dan Aira.

Pagi harinya saya mengantar Aira ke sekolah. Ia tetap ceria seperti biasa ketika ada kegiatan study tour. Saya belum memberi tahu apa pun tentang kabar duka itu, dan Aira pun tidak menanyakan mengapa mata ibunya sembab dan wajahnya murung sejak pagi.

Ketika saya menjemputnya siang hari, ia masih penuh semangat menceritakan kegiatan pagi itu. Dalam perjalanan pulang, di atas motor, setelah ia selesai bercerita, saya mulai membuka percakapan.

“Aira nanti malem kita berangkat nengokin Oma ya?”

“Oma?” Aira tampak bingung. “Nenek kali!”

“Bukan. Oma,” saya mengulang.

Aira yang duduk di depan menengok ke arah saya. “Ke Blitar? Bapak, aku gak mau bercanda!”

“Bapak serius!” jawab saya.

“Beneran?”

“Iya.”

“Nanti malem berangkat?”

“Iya.”

“Yeay!” Aira girang.

Selama perjalanan naik kereta, Aira masih ceria. Bahkan ketika kami tiba di rumah duka, ia masih belum tahu bahwa Budenya telah meninggal. Yang ia tahu, Bude sedang dirawat di rumah sakit. Jadi ketika masuk rumah, ia hanya bertanya ringan, “Bude di mana?”

Baru ketika saya mengajaknya ke makam Budenya, semuanya terungkap. Di sanalah Aira menangis. Tangis paling pilu yang pernah saya dengar darinya. Ia sampai harus saya gendong ketika berjalan kembali dari makam karena kakinya lemas.

Saya melanjutkan percakapan yang kami mulai sebelumnya.

“Kalau dibuat level satu sampai sepuluh, kesedihan waktu Bude meninggal itu nomor berapa?”

Aira berpikir sebentar lalu menjawab, “Nomor delapan.”

Kemudian ia menambahkan dengan suara lirih namun yakin, “Kalau sedih nomor sepuluh itu… kalau Bapak atau Ibu yang meninggal.”

“Oh…” saya menjawab pelan, merasa wajar karena sayang kepada orang tuanya lebih besar dan yang terbesar. Lalu saya iseng bertanya lagi, “Kalau Moli nomor berapa?”

Moli adalah kucing betina tua yang sudah ada sejak Aira lahir, dan sangat ia sayangi.

“Nomor sebelas,” kata Aira mantap.

Sabtu, 14 Februari 2026

Menikmati Semua Hal yang Dibolehkan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bercerita, ”Bapak saya itu sering mengajarkan, kalau ada hal-hal yang mubah, yang enggak maksiat, ya nikmati saja. Karena orang itu sampai cari kesenangan lewat maksiat, karena enggak bisa menikmati sesuatu yang dibolehkan Allah. Jadi, penting menikmati yang dibolehkan Allah itu.”

”Saya dulu itu janggal melihat Bapak, apalagi Mbah Mun, guru saya. Beliau itu sering guyon, sering ceria. Kadang semalaman gojlok-gojlokan sama teman-temannya. Terus beliau cerita, ’Banyak orang yang malam ini berjuang untuk tidak dugem, tidak maksiat.’ Itu kalau berjuang sendiri berat. Kalau asyik jagongan, makan-makan, masak-masak, itu terus asyik.”

”Sebab itu, di antara konsep Qur’an itu qul bi fadlillahi wa birahmatihi fa bidzalika falyafrahu


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
QS. Yunus (10): 58

Orang itu harus asyik dengan hal-hal yang dibolehkan Allah. Itu sebabnya saya menyaksikan sendiri, guru-guru saya, Bapak saya, Abi Quraish, semuanya orang-orang yang ceria. Karena bisa ceria dengan hal yang enggak maksiat itu luar biasa. Apresiasi Allah Ta’ala itu luar biasa. Sampai Imam al‑Ka‘bī dalam usul fikih menjelaskan, mubah dikatakan mubah itu keliru. Katanya, mubah itu wajib.”

”Karena ma min mubahin illa wayatahaqaqu fihi tarqu haramin, fayalzamu minas sukun tarqul qatli wa min sukut tarqul qodf.

ما مِنْ مُبَاحٍ إِلَّا وَيَتَحَقَّقُ فِيهِ تَرْكُ حَرَامٍ، فَيَلْزَمُ مِنَ السُّكُونِ تَرْكُ الْقَتْلِ، وَمِنَ السُّكُوتِ تَرْكُ الْقَذْفِ.

"Mubah, sesuatu yang boleh, hakikatnya adalah wajib. Karena ketika kita melakukan mubah, artinya meninggalkan keharaman. Sementara meninggalkan haram itu adalah wajib.”

Jika Tahlilan Itu Baik, Mengapa Para Sahabat Tidak Melakukannya?

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, ”Maka orang-orang di luar sana yang mengatakan, ’Andaikan tahlilan itu baik, pasti dilakukan oleh para sahabat,’ itu adalah logika yang keliru. Sahabat tentu tidak mungkin menahlili Nabi Muhammad, apalagi berdoa, in kaana musi’an. Masa mendoakan nabi pakai andaikan ada keburukan, tentu itu tidak benar. Nabi adalah manusia terbaik.”

”Jadi yang paling penting adalah bahwa dalam tahlil, kita tidak meminta kepada mayit. Tujuan kita datang ke kuburan adalah untuk mendoakan, dan memohonkan ampunan bagi mayit, bukan meminta sesuatu dari mereka. Maka tidak tepat jika dianggap sebagai perbuatan syirik atau kufur.”

”Kalau dilihat dari jauh lalu disimpulkan macam-macam, itu bukan dasar yang jelas untuk berfatwa. Fatwa tidak bisa hanya berdasarkan asumsi atau pengamatan sepintas.”

”Oleh karena itu, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa mazhab kita benar. Bahwa tahlilan di kuburan bukanlah perbuatan kafir, karena kita tidak meminta kepada mayit, justru kita mendoakan mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka.”

Surah Tabarok dan Potensi Kerusakan Bumi

Dalam sebuah pengajian Gus Baha bercerita, ”Kenapa surah Tabarok itu spesial? Di situ manusia diingatkan oleh Allah Taala: a amintum man fis-samā`i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa iżā hiya tamụr

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Kok kamu hidup di bumi tenang-tenang saja? Bisa saja bumi ini tamur atau likuifaksi. Semua tafsir mengartikan tamur itu tatoribu wa tatafiu fauqokum: bumi itu bergelombang, menggeliat, likuifaksi, kemudian bumi ini di atas kamu.”

اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ

”Terus potensi lagi, kata Allah: ayursila alikum hasiba: Apa juga kamu merasa baik-baik saja ketika Allah memutuskan benda-benda langit jatuh ke bumi? Terakhir, Allah juga mengingatkan bagaimana sistem bumi yang bisa menyerap air. Harusnya bumi itu enggak ada air karena bumi itu khasnya menyerap air. Qul aroitum in asbaha maukum guron famay ya'tikum bima main: Bagaimana kalau bumi ini tahu-tahu menghisap semua air, kemudian kita enggak menemukan air? Kamu bisa apa, siapa yang bisa mendatangkan air?”

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ اَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرًا فَمَنۡ يَّاۡتِيۡكُمۡ بِمَآءٍ مَّعِيۡنٍ

”Lalu dengan peringatan Allah seperti ini, orang disuruh hati-hati cara mengelola bumi ini. Makanya saya senang kalau ini ada gerakan-gerakan untuk menyelamatkan bumi. Kata ulama-ulama: tahkallaqu bi akhlakillah. Jadi Allah itu begitu bangganya ketika cerita menumbuhkan beberapa bijian, beberapa makanan, buah-buahan yang kamu butuhkan supaya kamu hidup di bumi ini nyaman, mata’alakum wlian’amikum.

”Sehingga dalam sebuah hadis diterangkan, enggak ada orang muslim, enggak ada manusia yang menanam pohon kemudian berbuah dan dimakan oleh manusia maupun binatang kecuali itu menjadi sedekah. Begitu juga ketika Allah mengkritik orang-orang yang jahat, yang tidak baik. Kata Allah: Wa idzaa tawallaa sa'aa fil ardi liyufsida fiiha wa yuhlikal harsa wannasl: Jadi ciri utama orang yang tidak baik itu adalah yuhlikal harsa wannasl: yang merusak tanaman, merusak tetumbuhan, merusak populasi.”

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Jumat, 13 Februari 2026

Kembali ke Gang Aren Tahun 1988

Jumat, 15 Februari 2008. Ponselku berdering ketika langit siang di luar jendela ruang dosen berubah warna menjadi seperti tembaga dingin, setelah sebelumnya hujan rintik. Nomor asing berkedip di layar ponselku. Aku mengangkatnya karena entah kenapa jariku bergerak lebih cepat dari pikiranku.

“Ini Christine ya?” tanya suara di seberang.

Suara itu rendah, agak parau, seperti baru bangun dari tidur. Aku tidak mengenalinya. Putaran waktu sembilan belas tahun rupanya cukup untuk menghapus ingatan tentang timbre suara seseorang.

“Aku Reza,” katanya, setelah hening yang cukup lama. “Aku mendapat nomor ini dari Facebook.”

Ingatanku menggulung ke hari kemarin ketika aku menerima pertemanannya di Facebook. Ahmad Reza Saputra, nama yang membacanya saja membuat jantungku berdebar lebih cepat, nama yang seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam air tenang. Getarannya menyebar ke seluruh tubuhku. Cinta pertamaku.

Akhir Maret 1988, hari terakhir aku melihat Reza. Kami masih memakai seragam SD, masih senang menceritakan kembali kisah unyil kepada mereka yang tidak menontonnya di TVRI. Dalam ingatanku, dulu suaranya kecil melengking. Suara yang kudengar sekarang berbeda sama sekali. 

“Aku besok akan pergi jauh,” katanya kemudian. “Apakah hari ini kita bisa bertemu?”

Awalnya aku sempat ragu apakah gang itu masih ada, sebelum akhirnya entah lagi-lagi mengapa, aku sepakat untuk bertemu di gang tempat kami dulu sering bermain saat kecil. Tempat rumah kecil kami dulu saling berhadapan sebelum tanah itu digusur demi perumahan-perumahan besar dan gedung-gedung perkantoran yang kini mengilap dingin di siang hari. Aku dan keluarga pindah ke Bekasi. Sementara Reza dan keluarganya ke Bogor. Setelah itu, kami seperti dua layang‑layang di langit yang benangnya putus dan masing‑masing terjatuh ke tanah yang asing.

“Pukul berapa kamu selesai mengajar?” tanyanya.

“Tiga sore,” jawabku. “Aku bisa sampai sana sekitar pukul empat.”

“Oke.” Ia menghela napas pelan, “Sampai jumpa nanti sore.”

Langit berangsur-angsur cerah sore itu, aku berjalan ke luar gedung kampus, menyusuri trotoar menuju halte Cawang. Beberapa menit kemudian, aku sudah duduk di bus Cibinong–Grogol yang tua dan goyah. Atapnya berderit setiap kali bus menikung, seperti ada seseorang yang berjalan perlahan di atasnya. Jendela di sebelahku memantulkan wajahku sendiri. 

Bangunan-bangunan tinggi bergerak mundur. Papan iklan berganti dengan pohon-pohon trembesi yang merunduk melewati langit berdebu. Sementara itu pikiranku sibuk mengisi kekosongan tahun-tahun yang hilang. Berapa banyak hal yang telah terjadi pada kami sejak terakhir kali bertemu? Saat ini aku sudah menjadi dosen dan sudah mempunyai seorang anak. Berapa banyak perubahan selama kami menjalani kehidupan masing-masing? Dan yang lebih mengganggu, mengapa ia ingin bertemu denganku sekarang?

Setelah turun di halte Komdak, cahaya matahari tinggal garis tipis di ujung gedung-gedung. Udara sore bertiup membawa sisa angin basah, seperti mewakili kegugupan di dalam diriku. Aku berjalan kaki menuju gang itu; Gang Aren —nama yang entah bagaimana tetap bertahan, tidak berubah.

Nama “Aren” masih tersisa, padahal sejak kecil pun aku tak pernah melihat pohon itu di sini. Mungkin nama itu milik sesuatu yang pernah ada jauh sebelum kami lahir, atau sesuatu yang memang tak pernah ada. Tentu gang itu tidak berubah, tapi aku menyadari bahwa cara pandangku terhadap gang itu yang telah berubah. Waktu kecil, gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil.

Di beberapa sudut gang itu, masih ada rumah-rumah yang bertahan, dengan dinding yang penuh retakan, cat hijau yang mulai mengelupas, dan warna biru yang memudar oleh matahari dan musim. Di kiri-kanannya menjulang gedung-gedung tinggi dengan kaca gelap dan balkon rapi. Rumah-rumah kecil itu terjepit di antaranya.

Gang itu menyimpan bau yang sulit dijelaskan: campuran tanah basah, jemuran yang belum kering benar, dan aroma dari asap kenalpot motor yang sesekali melintas. Kabel-kabel listrik di depan gang menggantung rendah, saling silang dan semerawaut. Di salah satu dinding, sisa-sisa mural reformasi setengah terhapus menampilkan wajah yang entah siapa.

Aku duduk di satu-satunya bangku beton di dekat mulut gang, dengan permukaan kasar dan penuh coretan nama-nama yang tidak aku kenal. Bangku itu menjadi salah satu benda yang memilih tidak berubah. Ia hanya diam, menjadi saksi semua perubahan di sekelilingnya tanpa pernah dimintai pendapat. Dari sana, aku bisa melihat cahaya sore merayap di antara sela bangunan, membelah gang menjadi garis terang dan gelap. 

Tak jauh dari sana berdiri pos kamling. Cat merahnya memudar, kursi plastik di dalamnya tinggal satu, kaki kirinya sedikit pincang. Di dinding, papan jadwal ronda masih tergantung, nama-nama tertulis dengan spidol yang nyaris hilang.

Taman kecil di seberangnya dulu memiliki dua ayunan dan satu jungkat-jungkit. Sekarang hanya tersisa rangka besi yang berkarat, bergerak pelan setiap kali angin lewat. Rumput tumbuh tak merata, sebagian terinjak menjadi tanah keras, sebagian lain liar dan tak terurus.

Warung di tikungan gang sudah tidak ada. Dindingnya ditelan pagar bangunan baru, yang kokoh dan tinggi. Padahal dulu, aku ingat dari sana selalu tercium aroma kopi yang baru diseduh dan minyak panas, serta suara radio yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.

Cahaya jatuh di antara gedung-gedung tinggi. Untuk sesaat, gang itu sunyi, ayunan berkarat berhenti bergerak. Di antara rumah-rumah yang menolak berubah, pos kamling yang kesepian, taman kecil yang setengah hilang, dan warung yang telah menjadi pagar perumahan, aku menyadari bahwa yang paling sulit berubah bukanlah tempat, tapi cara kita mengingatnya.

Aku sedang memperhatikan bayanganku sendiri ketika langkah kecil terdengar dari ujung gang. Seseorang berlari kecil ke arahku. Napasnya terdengar lebih dulu sebelum wajahnya terlihat. Ia berhenti beberapa langkah dariku, membungkuk sebentar untuk mengatur napas.

Aku hampir tak mengenalinya. Reza kini bertubuh tegap, bahunya lebar, rambutnya dipotong pendek dan sedikit berantakan. Ia mengenakan baju lengan panjang putih yang digulung, dipadukan dengan celana hitam dan tas slempang berwarna karung goni. Ada garis samar di rahangnya, namun ada satu hal yang masih sama, matanya: gelap, dalam, seakan menyimpan mendung yang sayu.

“Maaf buat janji mendadak gini,” katanya, sambil tersenyum. Senyum yang aku kagumi sejak dulu.

Kami duduk bersisian di bangku beton. Bangku yang dulu sering kami gunakan untuk menunggu kucing liar lewat atau melihat orang dewasa membicarakan hal yang tidak kami pahami. Angin sore membawa sisa kehangatan siang yang penuh polusi, bercampur aroma feromonik dari parfum dan keringat laki-laki yang seperti tidak pernah pergi dari kepalaku.

Retakan beton di bawah sepatu Reza dipenuhi pasir halus. Ia menggosoknya dengan ujung sol, seperti sedang mencoba menghapus sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa dihapus. Bertahun-tahun berlalu, aku sendiri tidak sanggup menghapus ingatan itu.

Aku memandangi tangannya. Tangan yang dulu kecil itu kini terlihat kokoh dipenuhi beberapa urat biru namun dengan jari-jari yang masih lentik seperti yang aku kenal bertahun-tahun lalu. Itu adalah tangan yang dulu menarikku menjauh dari lingkaran anak-anak laki-laki berseragam putih-merah yang mengitariku di sudut lapangan sepulang sekolah.

Siang itu, matahari menggantung tepat di atas tiang bendera. Aku berdiri kaku sambil memeluk buku tulis bergambar kelinci. Seorang anak lelaki menarik kepangku.

“Eh, lihat nih, orang Cina!” katanya sambil tertawa. Tangannya mendorong pundakku, tidak terlalu keras, tapi cukup membuatku mundur dua langkah.

“Orang Kristen dia!” sahut yang lain. Tawa mereka pecah seperti petasan kecil.

Aku menunduk. Ujung sepatu hitamku berdebu. Salah satu dari mereka menyenggol buku tulisku hingga jatuh. Sampulnya terlipat. Aku ingin mengambilnya, tapi sepatu mereka lebih dulu menginjak sudutnya.

Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan gerombolan anak itu.

“Balikin!” Suara Reza kecil tapi tegas. Ia berdiri di sampingku, napasnya memburu. Pipi kirinya masih berbekas kapur karena hari itu ia jadi petugas piket.

Anak yang paling besar menoleh. “Ngapain lo belain dia?”

Reza tidak menjawab. Ia membungkuk, mengambil bukuku, meniup debu di sampulnya, lalu menyerahkannya kembali padaku. Tangannya gemetar sedikit, tapi matanya tidak berpaling.

“Nanti gua laporin Bu Siti lo!” katanya.

Kalimat itu terdengar aneh keluar dari mulut anak kelas tiga yang kurus dan sering lupa membawa penggaris. Tapi tidak ada yang tertawa. Mereka hanya saling pandang, lalu bubar pelan-pelan.

Sejak hari itu, ia selalu berjalan di sisi kiriku ketika bel pulang berbunyi.

Seharusnya, memulai kehangatan itu lagi sekarang bukan hal yang sulit, namun semakin dewasa kita semakin pintar menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Kita menjadi mengerti bahwa tidak semua perasaan bisa diungkapkan dengan bebas. Kami mengobrol sebentar. Awalnya canggung, tetapi kemudian perlahan-lahan semua kenangan masa kecil itu muncul kembali seperti potongan puzzle yang menemukan tempatnya. 

Di gang itu, kami mengingat masa ketika masih anak-anak: bermain kejar-kejaran di antara pot bunga, melihat kupu-kupu beterbangan di atas rumpun pandan, atau sekadar duduk di tepi got sambil membicarakan hal-hal yang terlalu besar untuk kami pahami waktu itu. Dulu, ia pernah bilang kalau suatu hari nanti kita bisa mewujudkan semua mimpi kita, dan menjadikan dunia menjadi lebih baik.

“Aku dapat beasiswa ke Australia. Besok berangkat,” katanya sambil menatap garis-garis retak di lantai beton. “Mungkin lama.”

Aku menunggu ia menjelaskan lebih jauh, tapi ia tidak. Ia tidak pernah suka menjelaskan sesuatu terlalu panjang. Seperti dulu, ia lebih suka membiarkan kalimatnya menggantung, memberi ruang bagi dunia untuk mengisinya sendiri.

Kami berbicara selama dua jam. Tentang pekerjaanku, tentang pekerjaannya, tentang anakku yang sedang belajar piano, sedikit tentang suamiku, juga tentang perjalanan-perjalanan kecil yang ia lakukan sendiri setiap akhir pekan. Kadang ia tertawa, kadang ia diam lama sebelum menjawab. Dalam diam itu, aku merasa seperti sedang duduk di samping seseorang yang sudah mengalami terlalu banyak hal sendirian. Kematian ibunya, kegagalan asmara, dan sekarang kepergiannya ke tempat yang jauh.

Lampu-lampu rumah satu per satu menyala. Bayangan benda-benda memanjang di tanah.

Aku menyebut nama suamiku, dan bilang sebentar lagi ia akan menjemput. Kalimat itu keluar dengan wajar, seperti fakta sehari-hari yang tidak perlu penjelasan. Reza mengangguk, tidak ada yang patah di wajahnya, hanya sesuatu yang mengendap.

Ketika waktunya pulang, ia berdiri lebih dulu. Tangannya merapikan tali tas selempang yang sebenarnya sudah rapi. Ia menatapku lama sambil tersenyumnya tipis. Seperti seseorang yang sedang memastikan bahwa momen ini benar-benar ada, bukan sekadar mimpi sewaktu tidur siang.

“Kalau aku kembali,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara motor yang melintas, “aku ingin bertemu lagi.”

Ia berjalan menyusuri gang dengan langkah yang mantap, seperti dulu ketika ia berdiri di depanku di lapangan sekolah. Bahunya tetap tegak. Ia tidak menoleh. Lampu-lampu gang menyala redup, satu per satu, dan tubuhnya perlahan menyatu dengan bayangan tembok yang lembap. Aku tidak memanggilnya.

Aku berdiri sendirian di ujung gang itu. Udara malam turun pelan-pelan, membawa bau tanah basah dan aroma gorengan dari ujung jalan. Untuk sesaat, waktu seperti terlipat. Entah karena usia, atau karena ada bagian dalam diriku yang tetap tinggal di tahun 1988 dan menolak tumbuh. Aku melihat dua anak kecil berdiri berhadapan di gang yang sama. Mereka belum tahu tentang pindah rumah, tentang kota-kota baru, tentang perbedaan keyakinan, tentang orang-orang lain yang kelak akan dipanggil “suami” dan “istri.”

Dulu gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil. 





* Terinspirasi dari Hyehwadong (Ssangmundong), lagu OST Reply 1988