B —anggap saja begitu saya memanggilnya— adalah salah satu dari sedikit rekan kerja yang tak pernah saya temui secara langsung. Kami tidak pernah berbagi meja, tidak pernah saling menyapa di lorong kantor. Namun anehnya, suaranya terasa lebih akrab dibandingkan orang-orang yang duduk hanya beberapa meter dari saya setiap hari.
Ia bekerja di kota yang berbeda dengan saya. Kami dipertemukan oleh pekerjaan, oleh kewajiban yang pada awalnya terasa formal dan kaku. Tetapi seperti banyak hal lain di dunia, sesuatu yang sering diulang perlahan kehilangan formalitasnya. Kadang obrolan kami panjang, mengalir seperti seseorang yang akhirnya menemukan telinga yang mau mendengar. Kadang hanya sepotong kalimat yang mengendap, namun selalu ada sesuatu di dalamnya, semacam kesamaan perasaan, kejujuran yang tidak dibuat‑buat, dan spontanitas yang hanya muncul ketika seseorang merasa cukup aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Beberapa kali B datang ke kota tempat saya bekerja. Kesempatan untuk bertemu itu selalu ada, tetapi tidak pernah terjadi. Ia selalu terlalu sibuk, atau mungkin waktu memang sengaja menjaga jarak kami tetap seperti itu: cukup dekat untuk saling mengenal, cukup jauh untuk tidak pernah benar-benar bertemu.
Dan mungkin justru karena itu saya mengingatnya dengan lebih jelas. Saya ingat nada suaranya ketika kesal; tidak meledak, tapi cukup untuk membuat kata-katanya terasa lebih tajam. Saya ingat tawa pendeknya, yang sering muncul setelah keluhan setengah serius. Saya bahkan ingat cara ia mengeluh seolah dunia ini tidak adil, tapi ia masih punya cukup tenaga untuk menertawakannya.
Waktu berjalan. Setelah beberapa tahun berpindah departemen, B akhirnya berhenti bekerja. Ia tidak pernah menjelaskan alasannya, dan saya tidak mendesak untuk tahu. Dalam hubungan tanpa tatap muka seperti kami, kadang diam justru menjadi penutup terbaik. Tapi tetap saja ada momen‑momen kecil yang tak hilang begitu saja.
Saya masih ingat satu kejadian kecil, sebuah keisengan yang, jika dipikir sekarang, terdengar agak kejam. Saya pernah mengirimkan surat resign palsu saya dan menaruh emailnya dalam Bcc, hanya ke emailnya saja. Sebuah lelucon yang saya tahu akan membuatnya panik.
Dan benar saja. Ia menanyakan kepada beberapa orang di departemen kami, memastikan apakah itu sungguhan. Beberapa rekan bahkan menghubungi saya karena merasa tidak menerima surat farewell tersebut, dan saya menanggapi semuanya dengan santai, sampai akhirnya ia sendiri menghubungi saya. Nada suaranya kesal.
Saya meminta maaf sambil tertawa. Ia menggerutu, menganggapnya tidak lucu, memperingatkan saya agar tidak mengulanginya lagi. Saya setuju, meskipun dalam hati, saya tahu bukan karena saya menyesal sepenuhnya, tapi karena lelucon yang sama tidak akan pernah berhasil dua kali. Haha.
Ada hal-hal yang hanya berhasil sekali, lalu menjadi kenangan. Ada orang yang memilih meninggalkan cerita tanpa penutup, dan saya menghormati pilihan itu. Namun sebagai seorang penulis, saya terbiasa mengenang hal‑hal yang tak tertangkap oleh lensa; barangkali itulah cara saya memaknai kehadiran orang lain dalam hidup saya. Bukan melalui pertemuan fisik atau kedekatan ruang, tetapi melalui kata‑kata yang sempat melintas dan kemudian melekat tanpa diminta.
B mungkin sudah melupakannya, tapi saya masih ingat percakapan itu. Pada suatu sore ketika pekerjaan menumpuk, jam pulang semakin dekat, dan rekan kerja justru menambah beban batinnya:
B: Maksudnya ikut campurnya bukan bantuin, tapi membuat seakan‑akan yang saya lakuin tuh salah, padahal enggak. Dan seakan‑akan saya bodoh. Padahal kalau mau sombong, bisa liat report investigasi terbagus dibanding mereka‑mereka tuh siaapaa. Kesel banget gue.
Saya: Berasa sih keselnya.
B: Rasanya pingin ngatain, cuma gatau kata‑kata yang tepat apa. Apa ya yang cocok? Mungkin kalau KY jadi manager saya, either saya harus dipindah atau segera resign. Wkwkwkwk.
S: Hahaha, kemungkinan besar emang?
B: Gatau. Seharusnya enggak. Andalannya PA, sih. Kalau di sini penilaian untuk promosi aneh, berdasarkan atasan doang. Dulu di tempat kerja yang lama, penilaian berdasarkan bawahan, yang selevel (satu department & beda dept), dan atasan (langsung atau beda dept). Kalau penilainnya kayak gitu, dijamin yang selevel nggak ada yang setuju dia naik.
S: Jadi kalau atasannya rekomendasi, dia naik gitu?
B: Kalau di sini selama PA yang menyarankan, ya bisa naik. Saya penasaran sama masa lalu KY & KO. Mereka tuh diapain sih sampai sekarang bisa jadi begini?
S: Hahahaha.
B: Yaa maksudnya mungkin biar jadi pembelajaran, biar saya ga kayak mereka sifatnya.
S: Nggak kok. Nice is in your name.
B: Kan saya bedanya jauh ya, 10 tahun. Nggak ada yang tahu 10 tahun ke depan apa yang terjadi. Apakah mungkin bakal kayak mereka? Bisa aja nama saya jadi Ber-evil.
S: Saya bisa lihat karakter orang dari beberapa kali bicara.
B: Ya karakter kan bisa berubah, Mas. Mungkin tadinya mereka polos seperti sayaa. Wkwkwk.
S: Jadi karakter dibentuk dari apa?
B: Dibentuk dari doa ibu. Hahaha.
S: Menarik.
B: Anw, nama saya kan artinya kemenangan ya. Seharusnya saya itu selalu kompetitif dan harus mau menang sih.
S: Iya, kemenangan gemilang.
B: Saya mau menang sih. Cuma gamau kompetitif dan berambisi. Gimana dong?
S: Define apa itu menang?
B: Ah males deh sama Mas Nailal. Pertanyaannya tuh selalu susah.
S: Lah, saya kan mau memahami perspektif Kakak. Wkwkwk.
B: Menang itu saat apa yang kita inginkan diperoleh.
S: Itu sudah tercapai?
B: Apa yang saya inginkan sampai saat ini diperoleh sih, alhamdulillah. Apakah saya sudah menang?
S: Dalam sebuah novel, di akhir cerita, karakter utama bisa tidak memperoleh apa yang ia ingin, tapi ia tidak merasa kalah.
B: Hmm. Tapi saya entah kenapa merasa selalu kalah. Apakah saya harus ke psikolog?
S: Kenapa?
B: Iya, mau nanya definisi menang itu apa. Mau fulfill doa ibu, kemenangan gemilang.
S: Kayaknya ada kaitannya dengan what you want and what you need.
B: Nah sebenernya, I got what I wanted. I got what I needed. Ya cuma kurang pasangan hidup ajalah. Wkwkwk.
S: Hahahaha.
B: Cuma kok rasanya saya nggak merasa menang ya? Saya merasa kalah. Mungkin saya terdoktrin menang itu adalah kompetisi. Saat orang lain yang saya gak suka memiliki kehidupan lebih baik dari saya, saya merasa kalah. Sepertinya begitu.
S: Jadi ukurannya orang lain?
B: Mmmm, mungkin. Cuma problemnya saya jarang mau effort untuk menang. Jadinya selalu merasa kalah.
S: Kesadaran itu membuat Kakak tidak benar‑benar kalah.
B: Enggaa. Cuma ga ngerasa menang juga. Wkwkwk.
S: Mungkin kemenangan adalah ketika kita tidak lagi merasa sedang bersaing?
B: Gak tau ah. Terlalu berat. Mas Nailal nih penyebabnya, jadi pembahasan terlalu berat, pikiran saya belum nyampe. Wkwkwk.
S: Ya udah saya cerita aja. Yang santai.
B: Gamauu. Pasti berat. Hahaha.
S: You are the winner.
Tidak ada yang benar-benar tahu ke mana perginya sebuah percakapan setelah selesai diucapkan. Mungkin menguap begitu saja. Mungkin menetap diam-diam di sudut ingatan. Mungkin hanya menunggu seseorang mengingatnya kembali untuk memberi makna yang berbeda.
Sebenarnya dulu diam-diam saya percaya bahwa kemenangan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita kenali. Kadang ia tidak tampak seperti pencapaian. Tidak terdengar seperti tepuk tangan. Tidak terasa seperti mengalahkan siapa pun. Kadang kemenangan hanya berupa satu hal sederhana: tetap menjadi diri sendiri, di dunia yang berkali-kali mencoba mengubah karaktermu menjadi sesuatu yang bukan kamu.
Saya hanya berharap B menemukan tempat yang lebih baik, pekerjaan yang lebih ramah, dan kehidupan yang membuatnya merasa layak. Bukan hanya sebagai pemenang, tapi juga sebagai seseorang yang memenuhi doa ibunya untuk menjadi kemenangan yang gilang gemilang.
Dan meski mungkin sederhana, saya benar-benar berharap ia bahagia.
