-----------------------------------------------------
Sewaktu SMA, saya pernah membaca novel karya Paulo Coelho yang berjudul The Alchemist. Dari novel itu, saya mengenal satu istilah: beginner's luck atau keberuntungan pemula, yaitu keberuntungan untuk mereka yang baru pertama kali melakukan sesuatu.
Saya ingat, keberuntungan pemula saya terjadi pada tahun 2008. Saya masih kuliah semester 3. Waktu itu, naskah yang pertama kali saya kirimkan ke penerbit langsung diterima. Nama penerbitnya Bukune, dan saat itu Raditya Dika menjadi Pemimpin Redaksi di sana. Itulah satu-satunya naskah yang sekali kirim ke penerbit langsung diterima.
Sampai sekarang, setelah saya menerbitkan belasan buku, tidak ada satu pun naskah saya yang seberuntung naskah pertama itu. Itulah mengapa saya menyebutnya keberuntungan pemula.
Tapi, apakah keberuntungan adalah sesuatu yang kebetulan dan datang tanpa usaha?
Dulu saya berpikir begitu. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, dan setelah menemukan sebuah penelitian oleh Profesor Richard Wiseman, pandangan saya berubah. Ternyata, untuk menjadi beruntung itu ada ilmunya dan bisa dipelajari.
Beberapa bulan sebelum saya mengirimkan naskah pertama, saya pernah mengikuti sebuah pelatihan pengembangan diri. Ada satu sesi di mana tiap peserta diminta maju ke depan untuk menyampaikan harapan positif di masa depan. Saya ingat, waktu itu saya bilang, “Suatu hari nanti, buku saya akan ada di rak toko-toko buku Gramedia.”
Sejujurnya, saat itu saya belum punya naskah ataupun rencana mau menulis apa. Namun, saya tetap mengucapkannya dengan semangat positif dan tanpa beban.
Hampir bersamaan dengan itu, seorang kawan kuliah mengenalkan saya pada buku dan tulisan-tulisan Raditya Dika. Suatu hari, saya mendapat peluang untuk mengikuti workshop kepenulisan yang salah satu pembicaranya adalah Radit.
Waktu itu, intuisi saya mengatakan bahwa ini adalah salah satu peluang untuk mengenal dan belajar tentang dunia kepenulisan.
Workshop itu diadakan selama dua hari secara gratis dengan syarat mengirimkan sebuah tulisan. Singkat cerita, saya mengirim sebuah tulisan dan terpilih sebagai salah satu peserta.
Setelah workshop selesai, saya kembali beraktivitas seperti biasa: kuliah, bekerja, dan menulis cerita. Sampai akhirnya, iseng-iseng, saya mengirimkan naskah pertama ke penerbit, dan naskah itu dipertimbangkan untuk diterbitkan.
Tapi, dan ini bagian buruknya, bukan naskah asli saya yang akan diterbitkan. Penerbit meminta naskah itu dirombak total, dan sialnya, saya diminta menulis ulang dari nol dengan tenggat waktu dua bulan.
Untuk penulis pemula seperti saya waktu itu, hal tersebut sangat sulit. Namun entah mengapa, saya melihat kesulitan itu secara positif. Saya menulis ulang novel tersebut dari nol, hingga akhirnya, setahun kemudian, naskah itu dicetak menjadi buku dan benar-benar ada di rak toko-toko buku Gramedia.
Itulah refleksi terhadap keberuntungan saya, ketika saya membaca penelitian Prof. Richard.
Jadi, Prof. Richard meneliti 400 pria dan wanita berusia antara 18 hingga 84 tahun dari berbagai latar belakang. Dalam salah satu eksperimennya, baik orang yang merasa beruntung maupun yang merasa tidak beruntung diberi sebuah koran dan diminta menghitung jumlah foto di dalamnya.
Rata-rata, orang yang merasa tidak beruntung membutuhkan waktu sekitar dua menit untuk menghitung foto-foto tersebut, sedangkan orang yang merasa beruntung hanya membutuhkan beberapa detik. Mengapa?
Karena di halaman kedua koran itu, dengan huruf besar, tertulis pesan: “Berhenti menghitung, ada 43 foto di koran ini.”
Sebagai tambahan, Profesor Wiseman juga menaruh pesan besar kedua di tengah koran yang berbunyi: “Berhenti menghitung, beri tahu peneliti bahwa Anda telah melihat ini dan menangkan $250.”
Orang-orang yang tidak beruntung melewatkan kesempatan ini karena mereka terlalu sibuk mencari foto.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberuntungan bukanlah kemampuan magis atau hasil dari kebetulan semata. Orang tidak dilahirkan beruntung atau tidak beruntung. Sebaliknya, pikiran dan perilaku kitalah yang sangat menentukan keberuntungan atau kemalangan yang kita alami.
Penelitian ini membuktikan bahwa keberuntungan lebih banyak dipengaruhi oleh pola pikir kita sendiri daripada faktor eksternal.
Sekarang silakan bertanya kepada diri masing-masing: apakah masuk ke STIBA IEC adalah keberuntungan? Apakah lahir dari orang tua kita yang sekarang adalah keberuntungan? Apakah dipertemukan dengan mentor yang baik adalah keberuntungan?
Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Dan semua itu ada pada pola pikir kita sendiri, bukan pada faktor eksternal lainnya.
Orang yang beruntung menciptakan keberuntungan mereka sendiri melalui empat prinsip dasar:
- Berpikir Positif tentang Masa Depan - Orang yang merasa beruntung biasanya yakin bahwa hal-hal baik akan terjadi. Pikiran positif ini membuat mereka tetap semangat meski gagal, terus mencoba, dan berani mengambil lebih banyak peluang.
- Mengikuti Intuisi - Mereka sering membuat keputusan berdasarkan firasat atau perasaan. Bahkan, ada yang melatih diri agar lebih peka terhadap intuisi.
- Menciptakan dan Menangkap Peluang - Orang yang beruntung aktif mencari dan memanfaatkan momen-momen tak terduga. Caranya bisa dengan memperluas pergaulan, mencoba hal baru, dan tetap santai agar tidak melewatkan kesempatan karena stres atau takut.
- Mengubah Kesialan Menjadi Peluang - Saat mengalami hal buruk, mereka tidak larut dalam kesedihan. Sebaliknya, mereka mencoba melihat sisi positif, belajar dari kesalahan, dan mencari cara untuk memperbaiki keadaan.
Bayangkan kita berada dalam penelitian Prof. Richard. Bayangkan, pada lembaran kedua kehidupan kita, ada kesempatan yang datang. Bayangkan jika pada semester ketiga ada kesempatan untuk bekerja atau memperluas jaringan. Bayangkan kita terus membuka peluang dengan berkenalan dengan orang baru, mengungkapkan ide yang kita miliki, dan tidak menyerah ketika gagal. Bayangkan semua itu.
Jadi, menurut Prof. Richard Wiseman, keberuntungan bukan cuma soal nasib. Keberuntungan bisa muncul dari cara kita berpikir, sifat kita, dan kebiasaan sehari-hari. Jika kita mau mengubah pola pikir dan mulai membiasakan diri dengan hal-hal positif, peluang untuk menjadi “beruntung” dalam hidup pun bisa meningkat.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip Paulo Coelho dalam The Alchemist:
“Jika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan ikut membantu kamu untuk mewujudkannya.”
"Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran 200)







