Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.
Bagian Keempat
Di Annida kalian juga sebenarnya belajar tentang ini, meskipun mungkin namanya berbeda. Dalam pelajaran Balaghah ada tiga hal besar yang dipelajari:
- Ma’ani (معاني) → bagaimana menyampaikan sesuatu dengan tepat
- Bayan (بيان) → bagaimana menyampaikan sesuatu dengan variatif dan penuh gambaran
- Badi’ (بديع) → bagaimana membuat bahasa menjadi indah
Sederhananya, majas adalah cara menyampaikan sesuatu tidak secara langsung. Bisa menggunakan perbandingan, simbol, sindiran, penggambaran yang membuat kalimat terasa lebih hidup. Makanya majas sering dipakai di puisi. Tapi sebenarnya bukan cuma puisi. Orang sehari-hari juga sering memakai majas tanpa sadar.
Contoh sederhana, kita mengatakan Polisi Tidur untuk menyebut Bumper yang ada di tengah jalan. Padahal tidak ada satupun polisi yang tidur di tengah jalan. Begitulah majas; bilang begini, tapi maksudnya begitu.
Ada banyak jenis majas, kali ini saya akan jelaskan beberapa yang sering dipakai oleh penulis.
METAFORA
Contohnya tentang gibah yang diserupakan seperti memakan bangkai manusia:
(QS. Al-Hujurat: 12)
Dalam syair pujian kepada Rasulullah Saw., kita sering mendengar:
“Engkau adalah matahari, engkau adalah bulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya.”
Bukan berarti Nabi Muhammad benar-benar berubah menjadi benda langit. Tetapi keindahan, kemuliaan, dan cahaya akhlaknya dibandingkan dengan sesuatu yang bercahaya dan indah.
ALEGORI
Kalau metafora membandingkan sesuatu secara langsung, alegori lebih besar lagi. Alegori adalah cerita simbolik. Artinya, cerita yang tampak di permukaan sebenarnya menyimpan makna lain di bawahnya.
Contohnya:
Animal Farm — George Orwell
Di permukaan, itu cerita tentang hewan-hewan di peternakan, tapi sebenarnya itu kritik terhadap kekuasaan dan revolusi politik.
The Metamorphosis — Franz Kafka.
Tentang seseorang yang bangun tidur lalu berubah menjadi serangga. Tapi sebenarnya novel itu bicara tentang keterasingan manusia, tekanan hidup, dan rasa tidak diterima oleh keluarga maupun masyarakat.
“Baru 2 tahun jadi kuli, masih muda banget, pengalaman minim, tiba-tiba mau jadi mandor. Maksud saya, kerja dulu kuli!”
Orang yang tahu konteks politik Indonesia ketika joke itu dilempar pasti mengerti bahwa Alwi tidak sedang bercerita tentang kuli, tapi kejadian politik saat itu.
SINISME
Kalau alegori halus dan simbolik, sinisme biasanya lebih tajam dan menggunakan kata atau kalimat yang bertentangan dengan yang dimaksud.
Contohnya sederhana:
Anak pulang main terlalu malam. Ibunya buka pintu kemudian bilang, “Main terus aja sana. Gak usah pulang sekalian.”
Padahal ibunya jelas menyuruh pulang, tapi disampaikan lewat sindiran.
Menariknya, banyak karya terkadang menggabungkan beberapa jenis majas. Contohnya lagu Bento - Iwan Fals.
Tokoh “Bento” di lagu itu bukan cuma satu orang. Ia simbol mafia kaya dan berkuasa yang arogan.
- Alegori → Bento sebagai simbol kekuasaan
- Sinisme → sindiran tajam terhadap perilaku orang-orang seperti itu
PERSONIFIKASI
Personifikasi adalah memberi sifat manusia kepada benda atau sesuatu yang bukan manusia.
Contoh:
- Angin berbisik pelan di telingaku.
- Hujan mengetuk jendela.
- Malam memeluk kota kecil itu.
HIPERBOLA
Kalau hiperbola lebih sederhana lagi. Dari katanya saja sudah kelihatan: hyper → berlebihan. Artinya sesuatu dibesar-besarkan untuk memberi efek kuat.
Contoh: “Aku menunggumu sejuta tahun.”
Padahal kalau benar sejuta tahun, tentu ia sudah jadi fosil.
Untuk latihan membuat majas, coba kalian membuat 3 buah kalimat biasa yang saling berkaitan. Contoh:
Siang itu aku lapar. Aku pergi ke warung makan. Di sana aku memesan segelas jus dan semangkuk sop ayam.
Kita bisa mengubah kalimat itu menjadi majas dengan mengubah kata-kata konkrit di dalamnya menjadi abstrak. Contohnya, kita akan mengubah lapar akan makanan menjadi lapar akan kenangan. Kita bisa "memindahkan" warung makan yang konkrit ke dalam pikiran yang abstrak, mengubah jus menjadi rindu dan sop ayam menjadi masa lalu.
Menggunakan majas, kalimat itu bisa kita ubah menjadi:
Malam ini hatiku lapar akan kenangan. Di kepalaku ada warung makan. Aku memesan segelas rindu dan semangkuk masa lalu.
Nah, sekarang kalimatnya tidak lagi sekadar tentang makan. Ia berubah menjadi tentang kehilangan, kenangan, mungkin juga kesepian.
- Menulis tidak harus menunggu ide datang.
Karena sering kali ide justru muncul ketika kita mulai menulis, bukan sebelumnya. Kadang kita berpikir: “Nanti aja nulis kalau sudah dapat ide bagus." Padahal ide itu seperti membuat api menggunakan kayu. Api akan muncul ketika kayu mulai digesek.
- Izinkan diri kalian untuk menulis cepat dan buruk.
Saya menyarankan itu dengan serius. Menulis cepat dan buruk itu jauh lebih baik daripada terlalu lama menunggu tulisan sempurna. Karena tulisan buruk masih bisa diperbaiki, sementara kertas kosong tidak bisa diedit apa-apa. Bahkan Ernest Hemingway, penulis pemenang nobel itupun, membuat banyak draft sebelum menghasilkan tulisan terbaiknya.
Jadi jangan menulis sambil mengedit. Karena itu dua proses yang berbeda. Menulis adalah mengeluarkan isi kepala, sementara mengedit adalah merapikan dan menghapus yang tidak sesuai. Saya sering mengibaratkan menulis dan mengedit itu seperti makan dan buang kotoran. Kalian tidak mungkin melakukan keduanya dalam waktu bersamaan kan?
PENUTUP
Sebelum workshop ini selesai, saya mau kita merenungkan satu hal. Menurut kalian, sejak dulu, apa yang paling dikenal dari Annida?
Kalau orang luar mendengar nama Annida, biasanya mereka ingat dua hal:
- Murid-muridnya banyak yang juara baca kitab kuning
- Kiyainya banyak menulis kitab
Jadi membaca—dalam bahasa apa pun itu, bahasa Arab, Inggris, ataupun Indonesia—dan juga menulis, seharusnya menjadi ciri anak-anak Annida.
Di tempat ini, kita tidak hanya diajarkan bagaimana mencari nilai bagus, memenangkan lomba, atau membawa pulang piala. Itu mungkin menyenangkan, tapi bukan tujuan utamanya.
Membaca dan menulis, mengaji dan mengarang, pada akhirnya adalah cara kita menjaga hubungan dengan guru-guru kita. Dengan ilmu yang mereka titipkan. Dengan adab yang mereka tanamkan. Dengan doa-doa yang diam-diam mereka langitkan untuk kita. Bahkan sering kali, seseorang tetap hidup lewat kalimat-kalimat yang pernah ia ajarkan. Guru saya, Kiyai Fachruddin, pernah bilang, "Thoriqoh saikhuna (Kiyai Muhajirin Amsar) itu membaca dan menulis."
Karena itu, bagi kita, membaca dan menulis seharusnya bukan hanya kegiatan akademis. Ia adalah jalan (Thoriqoh) spiritual. Jalan untuk tetap terhubung—kepada ilmu, kepada guru, kepada diri kita sendiri, bahkan kepada Tuhan.
Maka ketika kita membaca, sebenarnya kita sedang menyambung suara-suara guru-guru kita agar tidak hilang. Dan ketika kita menulis, kita sedang meneruskan cahaya kecil yang dulu diberikan kepada kita. Dan jalan seperti ini tidak akan pernah selesai.
Selama kita masih hidup, selama itu pula kita perlu membaca dan menulis. Sebagaimana manusia terus bernapas. Tidak ada titik di mana seseorang bisa berkata: “Aku sudah selesai belajar.”
Dengan membaca, pikiran kita tetap terasah. Dengan menulis, hati kita tetap hidup. Dengan ilmu, kita tetap tersambung. Dan dengan itu semua, semoga kita tetap menjadi manusia yang bermanfaat juga berbahagia di dunia dan akhirat.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد المختار
وعلى آله وأزواجه وذرياته وأهل بيته وأصحابه الأخيار





