Halaman

Minggu, 17 Mei 2026

Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (4)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.


Bagian Keempat

Sekarang kita masuk ke bagian yang menurut saya paling menyenangkan dalam menulis: majas.

Di Annida kalian juga sebenarnya belajar tentang ini, meskipun mungkin namanya berbeda. Dalam pelajaran Balaghah ada tiga hal besar yang dipelajari:
  1. Ma’ani (معاني) → bagaimana menyampaikan sesuatu dengan tepat
  2. Bayan (بيان) → bagaimana menyampaikan sesuatu dengan variatif dan penuh gambaran
  3. Badi’ (بديع) → bagaimana membuat bahasa menjadi indah
Majas yang akan kita bahas hari ini masuk ke wilayah Bayan dan Badi’.

Sederhananya, majas adalah cara menyampaikan sesuatu tidak secara langsung. Bisa menggunakan perbandingan, simbol, sindiran, penggambaran yang membuat kalimat terasa lebih hidup. Makanya majas sering dipakai di puisi. Tapi sebenarnya bukan cuma puisi. Orang sehari-hari juga sering memakai majas tanpa sadar.

Contoh sederhana, kita mengatakan Polisi Tidur untuk menyebut Bumper yang ada di tengah jalan. Padahal tidak ada satupun polisi yang tidur di tengah jalan. Begitulah majas; bilang begini, tapi maksudnya begitu.

Ada banyak jenis majas, kali ini saya akan jelaskan beberapa yang sering dipakai oleh penulis.


METAFORA

Metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung supaya maknanya terasa lebih kuat. Menariknya, metafora banyak sekali dipakai dalam Al-Qur'an.

Contohnya tentang gibah yang diserupakan seperti memakan bangkai manusia:

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا

“Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)


Dalam syair pujian kepada Rasulullah Saw., kita sering mendengar:


أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ أَنْتَ نُورٌ فَوْقَ نُورِ

“Engkau adalah matahari, engkau adalah bulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya.”


Bukan berarti Nabi Muhammad benar-benar berubah menjadi benda langit. Tetapi keindahan, kemuliaan, dan cahaya akhlaknya dibandingkan dengan sesuatu yang bercahaya dan indah.

ALEGORI

Kalau metafora membandingkan sesuatu secara langsung, alegori lebih besar lagi. Alegori adalah cerita simbolik. Artinya, cerita yang tampak di permukaan sebenarnya menyimpan makna lain di bawahnya.

Contohnya:

Animal Farm — George Orwell

Di permukaan, itu cerita tentang hewan-hewan di peternakan, tapi sebenarnya itu kritik terhadap kekuasaan dan revolusi politik.

The Metamorphosis — Franz Kafka.

Tentang seseorang yang bangun tidur lalu berubah menjadi serangga. Tapi sebenarnya novel itu bicara tentang keterasingan manusia, tekanan hidup, dan rasa tidak diterima oleh keluarga maupun masyarakat.


Contoh yang mungkin dekat dengan kalian adalah video TikTok yang viral tentang beberapa bit stand up comedy dari Alwi Kuli:

“Baru 2 tahun jadi kuli, masih muda banget, pengalaman minim, tiba-tiba mau jadi mandor. Maksud saya, kerja dulu kuli!”

Orang yang tahu konteks politik Indonesia ketika joke itu dilempar pasti mengerti bahwa Alwi tidak sedang bercerita tentang kuli, tapi kejadian politik saat itu.

Jadi alegori membuat cerita terasa lebih dalam. Karena pembaca atau pendengar sadar: “Oh, ternyata ini bukan cuma soal itu.”


SINISME

Kalau alegori halus dan simbolik, sinisme biasanya lebih tajam dan menggunakan kata atau kalimat yang bertentangan dengan yang dimaksud. 

Contohnya sederhana:

Anak pulang main terlalu malam. Ibunya buka pintu kemudian bilang, “Main terus aja sana. Gak usah pulang sekalian.”

Padahal ibunya jelas menyuruh pulang, tapi disampaikan lewat sindiran.


Menariknya, banyak karya terkadang menggabungkan beberapa jenis majas. Contohnya lagu Bento - Iwan Fals.

Tokoh “Bento” di lagu itu bukan cuma satu orang. Ia simbol mafia kaya dan berkuasa yang arogan.
  • Alegori → Bento sebagai simbol kekuasaan
  • Sinisme → sindiran tajam terhadap perilaku orang-orang seperti itu


PERSONIFIKASI

Personifikasi adalah memberi sifat manusia kepada benda atau sesuatu yang bukan manusia.

Contoh:
  • Angin berbisik pelan di telingaku.
  • Hujan mengetuk jendela.
  • Malam memeluk kota kecil itu.
Padahal angin tidak benar-benar berbisik. Hujan tidak punya tangan untuk mengetuk. Malam tidak bisa memeluk. Tapi dengan cara itu, suasana jadi terasa hidup.


HIPERBOLA

Kalau hiperbola lebih sederhana lagi. Dari katanya saja sudah kelihatan: hyper → berlebihan. Artinya sesuatu dibesar-besarkan untuk memberi efek kuat.

Contoh: “Aku menunggumu sejuta tahun.”

Padahal kalau benar sejuta tahun, tentu ia sudah jadi fosil. 

Hiperbola membuat emosi terasa lebih besar. Namun hati-hati, jangan terlalu klise. Misalnya: “suaranya menggelegar” “nyiur melambai” “hatiku hancur berkeping-keping” Boleh dipakai, tapi karena terlalu sering digunakan, kadang efeknya jadi biasa saja. Cobalah mencari gambaran yang lebih segar.


Untuk latihan membuat majas, coba kalian membuat 3 buah kalimat biasa yang saling berkaitan. Contoh:

Siang itu aku lapar. Aku pergi ke warung makan. Di sana aku memesan segelas jus dan semangkuk sop ayam.

Kita bisa mengubah kalimat itu menjadi majas dengan mengubah kata-kata konkrit di dalamnya menjadi abstrak. Contohnya, kita akan mengubah lapar akan makanan menjadi lapar akan kenangan. Kita bisa "memindahkan" warung makan yang konkrit ke dalam pikiran yang abstrak, mengubah jus menjadi rindu dan sop ayam menjadi masa lalu.

Menggunakan majas, kalimat itu bisa kita ubah menjadi:

Malam ini hatiku lapar akan kenangan. Di kepalaku ada warung makan. Aku memesan segelas rindu dan semangkuk masa lalu.

Nah, sekarang kalimatnya tidak lagi sekadar tentang makan. Ia berubah menjadi tentang kehilangan, kenangan, mungkin juga kesepian. 


Dari latihan kecil tadi sebenarnya kita sudah belajar beberapa hal penting tentang menulis.
  • Menulis tidak harus menunggu ide datang
Karena sering kali ide justru muncul ketika kita mulai menulis, bukan sebelumnya. Kadang kita berpikir: “Nanti aja nulis kalau sudah dapat ide bagus." Padahal ide itu seperti membuat api menggunakan kayu. Api akan muncul ketika kayu mulai digesek.
  • Izinkan diri kalian untuk menulis cepat dan buruk
Saya menyarankan itu dengan serius. Menulis cepat dan buruk itu jauh lebih baik daripada terlalu lama menunggu tulisan sempurna. Karena tulisan buruk masih bisa diperbaiki, sementara kertas kosong tidak bisa diedit apa-apa. Bahkan Ernest Hemingway, penulis pemenang nobel itupun, membuat banyak draft sebelum menghasilkan tulisan terbaiknya. 

Jadi jangan menulis sambil mengedit. Karena itu dua proses yang berbeda. Menulis adalah mengeluarkan isi kepala, sementara mengedit adalah merapikan dan menghapus yang tidak sesuai. Saya sering mengibaratkan menulis dan mengedit itu seperti makan dan buang kotoran. Kalian tidak mungkin melakukan keduanya dalam waktu bersamaan kan?



PENUTUP

Sebelum workshop ini selesai, saya mau kita merenungkan satu hal. Menurut kalian, sejak dulu, apa yang paling dikenal dari Annida?

Kalau orang luar mendengar nama Annida, biasanya mereka ingat dua hal:
  1. Murid-muridnya banyak yang juara baca kitab kuning
  2. Kiyainya banyak menulis kitab
Artinya tradisi membaca dan menulis sebenarnya sudah lama hidup di tempat ini. Jadi membaca dan menulis bukan cuma soal nilai bagus. Bukan cuma soal lomba. Bukan cuma soal melatih pikiran. Lebih dalam dari itu. Membaca dan menulis adalah cara kita tetap tersambung kepada guru-guru kita. Kepada ilmu. Kepada tradisi. Kepada orang-orang yang sudah lebih dulu berjalan sebelum kita.

Karena itu, bagi kita, membaca dan menulis bukan sekadar kegiatan akademis. Ia adalah thoriqoh atau jalan spiritual. Mengutip guru saya Kiyai Fachruddin, "Thoriqoh syaikhuna adalah ngaji dan menulis." Jadi membaca dan menulis adalah cara kita menjaga pikiran tetap hidup. Cara menjaga hati tetap peka. Cara agar kita terus belajar, berkarakter, bahkan ketika usia terus bertambah. Dan perjalanan itu tidak pernah selesai. Kita akan terus membaca. Terus menulis. Terus belajar memahami manusia dan kehidupan. Sebab selama seseorang masih mau membaca dan menulis, sebenarnya ia sedang menjaga dirinya agar tidak benar-benar mati.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد المختار

 صلاة ترفع بها درجات شيخنا محمد مهاجرين أمسار

وعلى آله وأزواجه وذرياته وأهل بيته وأصحابه الأخيار


Wallahu 'alam bissawab.



Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (3)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.

Bagian Ketiga

Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya: menulis.

Jika sebelumnya kita bicara tentang membaca sebagai cara mengisi kepala, maka menulis adalah cara mengeluarkan isi kepala itu supaya lebih rapi. Dan saya akan mulai dari satu hal penting: Menulis itu bukan bakat. Menulis adalah keterampilan.

Artinya kemampuan menulis itu sama seperti keterampilan lain di dunia ini. Sama seperti sepak bola, basket, futsal, badminton, bahkan main gitar. Semua hal itu membutuhkan keterampilan untuk menguasai skill dan dilatih agar menjadi semakin baik. Jadi jika ada orang bilang: “Kalau mau jadi penulis yang bagus ya udah, nulis aja terus.", maka menurut saya, pendapat itu setengah benar.

Latihan memang penting, tapi latihan tanpa tahu teknik akan membuat kita berputar di tempat yang sama. Sekarang coba kalian bayangkan, ada orang yang main sepak bola setiap hari, tapi tidak pernah diajari passing, positioning, atau cara menendang yang benar. Mungkin dia akan lebih kuat larinya, tapi permainannya belum tentu berkembang. Menulis juga begitu. Semakin sering menulis memang semakin baik, tapi kalau ditambah teknik, perkembangannya bisa jauh lebih cepat. 

Dan kalau boleh jujur, saya termasuk yang setuju dan berharap pelajaran menulis itu diajarkan lebih serius di sekolah. Karena kemampuan menulis sebenarnya bukan cuma soal bikin cerpen atau puisi. Menulis adalah latihan berpikir. Saat menulis, otak kita dipaksa bekerja penuh. Kita mengingat informasi, memilih kata, menyusun argumen, menganalisa, menarik kesimpulan. Semua proses berpikir dipakai sekaligus. Jadi menulis itu baik untuk melatih otak, karena sebenarnya kita sedang “angkat beban” menggunakan pikiran. Otak itu mirip otot. Kalau otot kaki tidak pernah dipakai berjalan, lama-lama akan lemah. Orang yang bertahun-tahun tidak menggunakan kakinya bahkan bisa kesulitan berjalan lagi. Pikiran juga begitu. 

Ini sekaligus menjawab pertanyaan Fahri di awal: “Apa manfaat menulis? Dan prospeknya ke depan bagaimana?”

Menurut saya, jadi apapun kalian nanti, kemampuan menulis akan tetap berguna. Dokter yang bisa menulis akan menjadi dokter yang lebih baik. Guru yang bisa menulis akan menjadi guru yang lebih baik dari guru yang tidak menulis, karena ia lebih mampu menyampaikan pelajaran dengan jelas dan efektif. Bahkan content creator, YouTuber, podcaster—semuanya tetap butuh menulis. Karena sebelum video dibuat, biasanya ada ide yang ditulis dulu. Sebelum film dibuat, ada skenario.

Hari ini kita akan belajar dua teknik dasar menulis yang sederhana.
  1. Teknik membuat premis.
  2. Teknik membuat majas atau gaya bahasa.

PREMIS

Premis yang dimaksud di sini bukan premis dalam pelajaran logika atau kalau di Annida dikenal dengan pelajaran Mantiq. Bukan premis mayor (Mukodimah Kubro), premis minor (Mukodimah Sugro), lalu kesimpulan (Natijah/Conclusion). Bukan itu, tapi yang dimaksud di sini adalah premis cerita.

Secara sederhana, premis bisa disebut fondasi cerita. Semua cerita punya premis, baik cerpen, novel, film, komik atau anime. Bahkan sinetron azab yang pemerannya disambar petir CGI juga punya premis.

Premis biasanya terdiri dari tiga hal:
Karakter + Tujuan + Rintangan
  • Karakter = siapa tokohnya.
  • Tujuan = apa yang dia inginkan.
  • Rintangan = apa yang menghalangi dia.
Contoh:

Seorang anak perempuan kelas 3 SMP ingin pergi ke sekolah untuk menghadiri acara kelulusan, tapi bajunya terciprat lumpur di jalan dan ia harus mencari cara supaya tidak terlambat.


Dan menariknya, hampir semua cerita besar di dunia dibangun dengan pola sederhana seperti itu. Berikut adalah contoh premis dari beberapa cerita yang mungkin sudah kalian kenal:

Novel Bumi - Tere Liye

Raib, anak perempuan yang punya kemampuan menghilang, ingin mengetahui jati dirinya. Tapi ia dimanfaatkan oleh Tamus, makhluk dari dunia lain yang punya rencana jahat.

Film Agak Laen

Empat sahabat ingin mencari uang lewat bisnis rumah hantu, tapi tanpa sengaja malah menyebabkan kematian seorang politisi.

Novel Laskar Pelangi - Andrea Hirata

Anak-anak dari keluarga miskin di Belitung ingin mendapatkan pendidikan yang layak, tapi mereka menghadapi kemiskinan, diskriminasi, dan keterbatasan fasilitas.


Nah, sekarang pertanyaannya: kenapa premis penting?

Karena premis membantu kita memahami inti cerita. Premis itu seperti pondasi rumah. Kalau pondasinya jelas dan kokoh, bangunannya lebih mudah dibuat. Selain itu, premis membantu kita menjelaskan ide ke orang lain dengan cepat. Kadang orang punya ide cerita bagus di kepala, tapi bingung menjelaskannya. Begitu dibuat premis, ceritanya langsung terasa lebih jelas.

Setelah punya premis, kemudian bagaimana? 

Bisa dilanjutkan dengan membuat plot atau alur.

Kalau premis tadi kita ibaratkan sebagai fondasi rumah, maka plot adalah blueprint atau gambar bangunannya. Dengan plot, kita jadi tahu: cerita ini dimulai dari mana, konfliknya naik bagaimana, puncaknya di mana, dan akhirnya akan dibawa ke mana. Bangunan yang punya blueprint akan lebih mudah dibangun. Walaupun nanti di tengah jalan ada perubahan, itu tidak masalah.

Kadang saat menulis kita menemukan ide baru. Kadang ada adegan yang ternyata tidak efektif. Kadang ada tokoh yang ternyata lebih menarik daripada yang direncanakan. Itu wajar. Sama seperti tukang bangunan yang kadang mengubah letak jendela atau memperlebar dapur ketika proses pembangunan berlangsung. Selama blueprint utamanya masih jelas, bangunannya tetap bisa berdiri dengan baik.

Plot paling sederhana biasanya terdiri dari beberapa bagian: pembukaan, muncul masalah, konflik makin besar, puncak konflik, lalu penyelesaian.

Tentu dalam dunia menulis ada banyak teknik lain yang sebenarnya menarik sekali untuk dipelajari. Misalnya Show, Don’t Tell, yaitu teknik memperlihatkan emosi atau keadaan tanpa menjelaskannya secara langsung.

Daripada menulis: Dia sedih.

Kita bisa menulis: Ia terus mengaduk teh yang sudah dingin sejak satu jam lalu.

Pembaca jadi ikut merasakan kesedihannya tanpa perlu diberi tahu secara langsung.

Ada juga teknik membangun dialog yang natural, membuat karakter yang hidup, foreshadowing atau memberi petunjuk tersembunyi, pacing atau mengatur tempo cerita, sudut pandang, simbolisme, membangun konflik, hingga cara menulis ending yang memuaskan.

Sayangnya semua itu tidak mungkin dibahas tuntas dalam workshop singkat hari ini. Karena belajar menulis itu mirip belajar memainkan alat musik. Workshop bisa menunjukkan nadanya, tapi keahlian sebenarnya lahir dari skill yang ditingkatkan dan latihan yang terus diulang.

Jadi setelah pulang dari sini, jangan tunggu jadi hebat dulu baru menulis. Menulislah dulu. Karena kadang tulisan pertama memang buruk. Tulisan kedua masih aneh. Tulisan ketiga mulai lumayan. Dan tanpa sadar, beberapa tahun kemudian, kalian membaca tulisan lama sambil bilang, "Wah, ternyata kemampuan menulisku sekarang sudah jauh berkembang.”

Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.




Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (2)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.

Bagian Kedua

Apakah ada di antara kita yang menganggap membaca itu tidak berguna?

Saya yakin hampir tidak ada yang benar-benar berpikir membaca itu tidak berguna. Pertanyaan itu sebenarnya mirip seperti, “Makan itu berguna gak?” Ya jelas berguna. Semua orang tahu itu penting.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah: Apakah ada di antara kita yang sebenarnya tidak suka membaca?

Ya, kita semua tahu membaca itu penting, tapi tidak semua orang bisa menikmati prosesnya. Sekarang kita coba pikirkan bersama. Apa sebenarnya manfaat membaca?

Biasanya orang jawab: “Biar pintar.” “Biar nambah ilmu.” “Biar nilai bagus.” “Biar banyak tahu.” Dan semua itu benar. Namun menurut saya, paling tidak ada dua manfaat membaca yang sulit digantikan oleh hal lain, bahkan oleh menonton atau mendengarkan sekalipun.

  • Manfaat yang pertama: membaca itu melatih otak. Tubuh perlu olahraga supaya sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, kemampuan memahami informasi, bahkan melatih kita untuk berpikir lebih dalam. Memang tidak terlihat langsung seperti push up atau angkat beban, tapi efeknya nyata.
  • Manfaat yang kedua: membaca membuat kita lebih percaya diri saat berbicara. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak kata yang kita tahu. Semakin luas cara kita memahami sesuatu. Jadi ketika berbicara, presentasi, atau menyampaikan pendapat, kita tidak mudah kehabisan kata. Maka orang yang banyak membaca biasanya lebih mudah menjelaskan isi pikirannya. 

Tentu masih banyak manfaat lain: nilai rapor bisa naik, pengetahuan bertambah, portofolio berkembang, bahkan bisa membuka peluang pekerjaan. Itu nilai tambah kerena otak kita sudah terlatih berpikir.

Kalau membaca buku nonfiksi kita dapat ilmu, informasi, dan pengetahuan. Sekarang mari kita membuat pertanyaan yang lebih spesifik: kalau membaca cerita? Membaca novel? Membaca dongeng? Apa gunanya?

Menariknya, Einstein pernah berkata: “If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” - “Kalau kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Kalau ingin mereka lebih cerdas lagi, bacakan lebih banyak dongeng.”

Seorang ilmuwan besar itu justru menyarankan anak untuk membaca cerita guna menambah kecerdasan. 

Fun fact juga: sekitar sepertiga isi Al Quran berisi kisah. Ada Qashasul Anbiya, cerita nabi-nabi, orang-orang saleh, orang-orang sombong, kerajaan yang hancur, manusia yang tersesat, manusia yang bertobat dan lain sebagainya. Bayangkan, Tuhan saja menggunakan medium cerita untuk menyampaikah hikmah kepada manusia. Jadi jika ada yang mengira bahwa membaca cerita atau sastra itu buang-buang waktu dan tidak berguna, maka coba pikirkan kembali. 

Karena manusia memang belajar lewat cerita. Paling tidak, ada dua manfaat besar membaca fiksi atau cerita:
  • Manfaat membaca fiksi yang pertama: imajinasi kita jadi lebih kuat. Saat membaca cerita, otak kita seperti membuat film sendiri di dalam kepala. Kita membayangkan wajah tokoh, suasana tempat, suara hujan, rasa takut, rasa kehilangan. Dan orang yang imajinasinya terlatih biasanya lebih kreatif. Lebih mudah menemukan ide. Lebih mudah mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah.
  • Manfaat membaca fiksi yang kedua: kita jadi lebih peka terhadap perasaan. Cerita membuat kita ikut sedih, ikut senang, ikut marah, ikut kecewa. Kita belajar melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Tanpa sadar, membaca cerita melatih empati. Dan menurut saya, dunia hari ini bukan cuma kekurangan orang pintar. Dunia juga kekurangan orang yang bisa memahami perasaan orang lain.

Nah karena ini workshop, kita tidak hanya akan membicarakan teori. Kita akan langsung praktik. Saya sudah menyiapkan dua cerita:
  1. Ima Memelihara Jin
  2. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Tapi sebelum mulai membaca, saya akan memberikan tiga teknik sederhana supaya membaca cerita jadi lebih efektif. Agar mudah diingat, saya singkat menjadi: BARAKUDA.

BA — Bayangkan
RA — Rasakan
KUDA — Kuasai dan Dapatkan

  • Bayangkan.
Membaca itu sebenarnya seperti membuat pertunjukan di dalam kepala, theater of the mind. Kalau saya bilang “BUKU”, apa yang muncul di kepala kalian?

Pasti langsung kebayang benda persegi, ada halaman, ada tulisan. Padahal “B-U-K-U” itu cuma huruf. Tapi otak kita mengubah simbol menjadi gambaran. Nah ketika membaca cerita, lakukan itu terus. Bayangkan tempatnya. Bayangkan wajah tokohnya. Bayangkan suara langkahnya. Bayangkan hujannya. Bayangkan kesunyiannya.

Jangan sekali-kali meneruskan kalimat yang kalian baca, sebelum kalian bisa membayangkan kalimat tersebut dalam kepala. Karen itu akan membuat bacaan kalian pada kalimat selanjutnya akan sia-sia.

 

  • Rasakan.
Libatkan emosi kalian. Kalau tokohnya sedih, coba rasakan kesedihannya. Kalau tokohnya takut, coba ikut tegang. Kalau tokohnya lapar, kadang kita juga jadi lapar. Cerita memang dibuat untuk menggerakkan perasaan manusia. Karena itu jangan takut terbawa suasana. Justru itu tanda kalian menikmati cerita.

 

  • Kuasai dan Dapatkan.
Setelah selesai membaca atau bisa juga ketika sedang membaca, coba kalian renungkan: “Cerita ini sebenarnya tentang apa?” “Pesan apa yang saya dapat?” “Bagian mana yang paling berkesan?” “Kalau saya jadi tokohnya, apa yang akan saya lakukan?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan sekadar mengikuti alur. Kita sedang melatih imajinasi, perasaan, dan cara berpikir kita sekaligus. Karena membaca yang baik bukan hanya tentang siapa yang lebih cepat selesai membaca sampai halaman akhir, tapi ada hal yang kalian kuasai atau dapatkan setelahnya.


Namun semua teknik tadi ada syaratnya, attention span kalian harus baik. 

Apa itu attention span?

Sederhananya: kemampuan kita untuk fokus pada satu hal tanpa terus-menerus terdistraksi.

Kalau mau jujur, musuh terbesar membaca hari ini bukan buku yang tebal, tapi notifikasi. Baru baca dua paragraf, tiba-tiba buka TikTok. Baca satu halaman, pindah Instagram. Lima menit kemudian lupa apa yang sebelumnya dibaca.

Jadi kalau kalian benar-benar mau membaca dengan baik, coba sesekali matikan handphone. Bukan cuma di-silent atau diletakan jauh. Karena buku dan cerita butuh perhatian, dan perhatian adalah bentuk penghormatan paling sederhana yang bisa kita berikan kepada sebuah buku.

Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.



Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (1)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian.

Baian Pertama

Suatu malam, ada sebuah pesan masuk dari Fahri, adik kelas saya di Annida. Ia membuka pesannya dengan sopan, “Maaf ganggu istirahatnya, Bang,” lalu mengundang saya untuk menjadi narasumber di acara Hari Buku Nasional tanggal 16 Mei 2026 di almamater saya itu.

Ketika saya tanya tentang materi apa yang ingin saya bawakan, Fahri kemudian menjelaskan keresahannya. Katanya, ia ingin anak-anak suka membaca dan suka menulis. Karena menurutnya, dunia hari ini dan mungkin dunia beberapa tahun ke depan semakin dibangun oleh tulisan. Konten dimulai dari naskah. Film dimulai dari ide yang ditulis. Jadi supaya anak-anak tahu manfaat membaca dan menulis, dan tahu juga ke depannya kemampuan itu bisa jadi apa.

Dan saya pikir, itu permintaan yang menarik.

Jika diringkas, ada dua hal yang ia minta: pertama, bagaimana membuat seseorang suka membaca dan menulis.

Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jujur saja, jawaban singkat saya: saya tidak tahu. Karena kesukaan manusia itu aneh dan berbeda-beda. Saya suka makan durian misalnya, mungkin orang lain langsung menyerah hanya dari baunya. Ada yang tidak bisa memulai hari tanpa kopi, ada juga yang minum kopi sedikit waktu malam kemudian matanya melek sampai subuh sambil menyesal.

Begitu juga dengan membaca dan menulis. Tidak semua orang langsung menyukainya. Lagipula suka dan tidak suka adalah masalah rasa, sehingga ada hal-hal yang kita sukai padahal itu buruk untuk kita. Sebaliknya, banyak hal yang tidak kita sukai, padahal itu baik untuk kita. Jadi pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah membaca dan menulis berguna atau tidak? Bukankah olahraga melelahkan? Belajar kadang membosankan? Membaca bisa membuat ngantuk? 

Hari ini bisa saja saya memaparkan kebaikan, manfaat serta banyak hal positif lain dari membaca dan menulis, tapi hal itu tidak lantas menjadikan semua orang akan langsung jatuh cinta pada buku atau mendadak ingin menjadi penulis. Dunia tidak bekerja seajaib itu.

Saya tidak bisa mengatur kesukaan seseorang. Tapi jika pertanyaannya diubah menjadi: “Bagaimana cara membaca yang efektif?” atau “Bagaimana teknik menulis yang baik?”

Nah, itu bisa kita pelajari bersama. Bahkan beberapa di antaranya bisa langsung kita praktikkan hari ini juga. Jika setelah mengetahui dan praktek kalian jadi tergerak dan kemudian suka menulis, itu menjadi bonus.

Sementara untuk pertanyaan kedua—tentang manfaat membaca dan menulis, tentang profesi, peluang kerja, dan bagaimana kemampuan ini akan berguna di masa depan—itu akan kita bahas pelan-pelan sambil berjalan.

Sebelum masuk lebih jauh, saya ingin mulai dari hal yang paling dasar dulu, bahwa membaca adalah salah satu keterampilan dasar dalam berbahasa. Dalam bahasa, ada dua kemampuan yang sifatnya menerima yaitu mendengarkan dan membaca. Ada juga dua kemampuan yang sifatnya menghasilkan yaitu berbicara dan menulis.

Jadi, mari kita mulai dari yang pertama terlebih dahulu: Teknik membaca yang efektif.

Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.



Rabu, 15 April 2026

Manusia: Bahkan Ketika Dalam Keadaan Baik Saja Masih Membawa Keburukan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah menjelaskan hakikat manusia dengan mengutip Kitab Al-Hikam. Menurut beliau, kitab tersebut menerangkan bahwa manusia adalah makhluk yang bahkan ketika berada dalam kondisi baik sekalipun, masih membawa unsur keburukan—apalagi saat sedang berada dalam keadaan buruk.

Untuk menjelaskan hal itu, Gus Baha memberi contoh sederhana, “Misalnya, jenengan punya toko yang laris manis. Itu prestasi atau bukan?” tanya beliau kepada hadirin.

“Prestasi,” jawab hadirin serempak.

Gus Baha lalu melanjutkan, “Sekarang coba tanyakan ke toko sebelah.”

Hadirin pun tertawa. Gus Baha ikut tersenyum, lalu menambahkan, “Atau ketika Anda naik pangkat, itu memang baik. Tapi coba tanyakan kepada orang yang Anda langkahi.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa dalam ilmu sosial, hampir selalu ada masalah yang menyertai setiap capaian. Tidak ada kebaikan sosial yang benar-benar bersih tanpa konsekuensi.

Gus Baha lalu berkisah, “Pernah ada orang bertanya kepada saya, ‘Gus, doakan saya supaya jadi orang kaya raya. Nanti saya akan merawat seribu anak yatim.’ Saya jawab, ‘Dasar orang kaya bodoh.’”

“Kok bisa, Gus?” Gus Baha menirukan pertanyaan orang tersebut, “Karena kalau Allah mengabulkan doa itu, berarti harus ada seribu bapak yang meninggal terlebih dahulu agar anak-anak itu menjadi yatim.”

Hadirin pun tertawa, mencerna logika yang disampaikan. Gus Baha tersenyum, lalu melanjutkan, “Begitu juga orang yang berdoa, ‘Ya Allah, jadikan saya kaya supaya bisa merawat seratus miliar orang miskin.’ Itu sama saja dengan mendoakan agar ada seratus miliar orang dimiskinkan terlebih dahulu. Ada unsur buruknya atau tidak?”

“Ada,” jawab hadirin serempak.

Gus Baha pun menutup dengan penegasan yang dalam, “Maka asal urusan sosial itu, pasti memiliki sisi gelap yang menyertainya. Karena itu, semua amal sosial semata tidak mungkin cukup untuk membawa kita ke surga. Yang benar-benar bisa mengantarkan kita ke surga abadi hanyalah fadhl—karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Selasa, 07 April 2026

Hal Yang Saya Rekam dalam Ingatan dan Bukan Video Saat Mengingat Aira

Ada satu hal yang diam-diam membuat saya sering merasa berada di luar lingkaran para digital native: karakter mereka untuk merekam hampir segalanya. Momen kecil, momen besar, bahkan momen apapun, seperti harus disimpan, kalau bisa, dalam bentuk video.

Saya datang dari generasi yang berbeda. Generasi yang tumbuh tanpa internet, tanpa smartphone, main di luar, nonton TV yang harus ditunggu jam tayangnya. Namun juga belajar pakai email, media sosial, dan teknologi saat sudah cukup dewasa untuk “mengerti perubahan”. Generasi yang lebih akrab dengan ingatan daripada rekaman. Para sosiolog menyebut kami Xennial (lahir antara 1977–1985). Karena sejak kecil, saya tidak pernah terbiasa mengabadikan hidup dengan kamera, maka mungkin kebiasaan itu tidak tumbuh menjadi karakter.

Suatu malam, sepulang kerja, saya membuka pintu rumah dengan tubuh yang masih lelah. Belum sempat saya melangkah masuk, suara Aira (8 tahun) meletup di depan saya.

Ia melompat kecil, menebarkan potongan-potongan kertas, yang sebelumnya ia potong sendiri, ke udara sambil tertawa riang. Kertas itu berjatuhan pelan, seperti hujan slow motion. Di wajahnya, senyum lebar yang nyaris tidak muat di pipinya sendiri.

“Selamat datang!” katanya, dengan suara yang dibuat sedikit lebih tinggi.

Di kepalanya, sebuah topi chef putih dari kertas —terlalu kecil untuk kepalanya— direkatkan di tengah kepala dengan solasi yang masih terlihat jelas di sisi-sisinya. Ia memegangi topi buatannya itu dengan gerakan cepat agar tidak jatuh, lalu membuka jalan kecil di depan pintu.

“Mau pesan apa?” tanyanya, sambil memegang notes kecil dan pensil, berperan seperti pelayan restoran.

Saya melangkah masuk. Di dinding dekat meja makan, ditempel huruf-huruf berwarna yang saya tahu ia gunting sendiri. Tulisan tangan yang belum rapi, tapi penuh kreatifitas: selamat datang.

Ruang tengah malam itu berubah menjadi panggung kecil tempat imajinasi seorang anak berakar dan mekar.

Saya berdiri sebentar, memperhatikan semuanya. Potongan kertas di lantai. Topi chef yang terlalu kecil. Mata yang menunggu respon. Dan anehnya, tidak ada satu detik pun dari kejadian itu yang saya pikirkan untuk direkam.

Tidak ada dorongan untuk mengambil ponsel. Tidak ada refleks untuk mengabadikan. Bahkan, keinginan itu tidak sempat lahir. Momen itu datang, tinggal, lalu menetap bukan di galeri, tapi di sesuatu yang lebih sunyi; hati.

Mungkin di situlah letak perbedaan yang sering tidak saya sadari. Bagi sebagian orang, kenangan terasa lebih nyata ketika bisa diputar ulang. Bagi saya, justru sebaliknya, ia menjadi lebih dalam ketika tidak bisa diulang.

Karena yang tidak direkam, sering kali tidak benar-benar hilang. Ia hanya memilih tempat tinggal yang berbeda. Dalam hal ini dalam ingatan dan tulisan saya.

Dan malam itu, saya tahu, kenangan itu tidak akan pernah saya tonton kembali, tapi juga tidak akan pernah selesai saya ingat.




Senin, 06 April 2026

Memandang dari Tempat Tinggi untuk Memahami Jalan Penghubung Antar-Generasi

Saya sedang menatap layar laptop di meja kerja ketika sebuah pesan WhatsApp dari anak saya Safa (13 tahun) muncul, “Pak, besok jadi ke Ayah?”

Ayah —begitu Safa, Nada (15 tahun), dan para santri lain memanggil Kiai Enha. Saat itu, Nada dan Safa sedang berada di rumah karena libur lebaran dari pesantren, dan saya berencana mengajak mereka sowan ke Kiai Enha. Saya membalas singkat, “Iya, jadi. Kenapa, Teh?”

Tak lama kemudian, ia membalas lagi, kali ini dengan kalimat yang terbaca lebih penting dan mendesak, “Jam 10 aku jadinya udah harus nyampe di mal.”

Beberapa hari sebelumnya, ia memang bercerita tentang rencana menonton Na Willa bersama teman-teman kompleknya. Saya mengingat, dulu di usia yang sama, saya belum mengenal dunia digital, apalagi punya telepon genggam. Dan kadang saya bertanya, apakah menjadi digital native membuat anak-anak Gen Alpha terasa lebih terburu-buru dan genting? Ataukah memang begitulah semua orang bersikap saat berusia belasan?

Saya menenangkannya, “Kita berangkat pagi-pagi ke pondok. Paling juga sudah selesai jam 10, jadi kamu tetap bisa pergi sama temen-temen kamu.”

Pada akhirnya, mereka tidak jadi bertemu pukul 10. Film diputar pukul 12, dan mereka baru tiba di Mall Living World lima menit sebelum itu. Saya tidak kaget. Mungkin karena generasi ini tumbuh dengan akses digital yang luas, terbiasa dengan stimulasi tinggi dan interaksi serba cepat, sehingga keputusan mereka terkadang tampak ragu dan plin-plan.

Saya lahir tahun 1985, dan para sosiolog menyebut yang lahir antara tahun 1977 dan 1985, sebagai Xennial, sebuah “mikrogenarasi” yang terjepit di antara Gen X dan milenial. Sebelum internet datang, hidup saya berjalan dengan ritme yang lebih lambat, sunyi, tanpa smartphone, main di luar, nonton TV yang harus ditunggu jam tayangnya. Ketika membuat janji, saya menyebut tempat tertentu, jam tertentu, lalu menunggu tanpa bisa memastikan apa pun. Mirip seperti adegan Mi‑ok dan Kim Jung‑bong dalam Reply 1988 ketika mereka janjian bertemu di kafe tapi tak kunjung bertemu karena salah lantai.

Kemudian datang masa itu. Ketika menjelang usia remaja akhir dan awal 20-an, dunia saya berubah hampir seketika. Email, ponsel, MP3, Friendster, semuanya seperti datang dalam satu hempasan gelombang. Dunia lama tempat saya beranjak dewasa menghilang begitu saja, digantikan dunia digital yang sepenuhnya baru. Penelitian bilang bagian otak yang mengatur kemampuan mempelajari sistem baru berkembang sampai sekitar usia 25 tahun; artinya, saya berada persis di ambang transisi itu ketika otak saya masih lentur untuk beradaptasi, tetapi cukup dewasa untuk mengingat kehidupan sebelum semuanya berubah.

Saya berada di generasi peralihan itu. Generasi yang dulu belajar sabar menunggu, tapi sekarang harus memahami dunia yang bergerak secepat sentuhan layar. Kami ada di ekosistem yang menjaga kata; berbicara dengan hati-hati karena setiap “iya” adalah komitmen, dan nilai seseorang bergantung padanya. Hidup di antara ritme lambat dan cepat membuat kami menghargai proses, tetapi juga dipaksa menguasai kecepatan; memahami jeda, sekaligus bertahan di dunia yang nyaris tak memberi ruang jeda. Pengalaman hidup dalam dua ritme yang berbeda itu yang tidak dimiliki Gen Z dan Alpha hari ini.

---

Keesokan paginya, kami tiba di pesantren lebih awal. Langit Burangkeng cerah, udara terasa ringan. Setelah mampir membeli sedikit buah tangan, perjalanan berlangsung lancar, tanpa tergesa, tanpa hambatan. Pagi yang baik, untuk kegiatan dan niat yang baik.

Saya, istri, dan ketiga anak kami tiba hampir bersamaan dengan para karyawan dapur SPPG yang mulai berdatangan. Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) yang di dalamnya juga merupakan salah satu dapur SPPG untuk area sekitar perlahan hidup dengan ritme yang tenang: langkah kaki, sapaan singkat, dan kesibukan yang tumbuh pelan-pelan.

“Mau ketemu Kiai, Pak,” saya menyapa seorang khadim yang sedang menyapu halaman.

Ia berhenti sejenak, lalu menjawab, “Kurang tahu ya, Pak. Kiai sudah pulang atau belum dari rumah sakit.”

Ucapan itu mengingatkan saya pada kondisi Bunda Nunung, istri Kiai Enha, yang empat hari setelah lebaran sempat dirawat. “Kayaknya sudah, Pak,” balas saya. “Kemarin saya chat Kiai, kata beliau Bunda sudah boleh pulang.”

Tak lama kemudian, Kiai Enha muncul dari dalam rumah, seakan membenarkan ucapan itu. Senyumnya masih sama, senyum yang sejak pertama kali saya kenal, selalu membuat hati terasa tenang. Perpaduan antara ketulusan dan kesederhanaan.

Kami dipersilakan duduk di ruang tamu. Saya menyerahkan hadiah berupa Al-Qur’an I‘rab, dan percakapan pun mengalir; dari kabar kesehatan, project yang sedang direncanakan, cerita-cerita kecil, dan hal-hal ringan lain. Sementara di sisi lain meja, istri saya berbincang dengan Bunda Nunung. Wajahnya tampak masih menyisakan sisa sakit, tetapi tetap menemani kami dengan senyum yang hangat.

Obrolan kami perlahan bergeser, seperti mengikuti arus alami, menuju topik yang belakangan sering muncul: tentang generasi. Tentang Nada, Safa, dan Aira (8 tahun). Tentang bagaimana cara mereka melihat dunia, sebuah cara yang kadang terasa asing bahkan bagi kami yang belum merasa benar-benar tua.

Di momen itulah saya menyampaikan maksud utama saya: meminta nasihat tentang pilihan sekolah Nada. Saya membawa proposal yang sebelumnya saya minta Nada susun mengenai rencana masuk SMA. Sebagai santri, saya terbiasa meminta nasihat guru saat hendak memutuskan sesuatu. Saya berharap mendapatkan pandangan yang lebih lapang, seperti dulu ketika saya memasukkan Nada ke PMI atas nasihat guru saya Kiai Fachruddin.

Saya menyerahkan print out poroposal tersebut dan Kiai Enha membacanya dengan saksama. Lalu, dengan tenang, beliau memulai, “Setiap orang itu harus punya yang namanya helicopter view.”

Saya terdiam sejenak. Ada sesuatu dari kalimat itu yang terasa pas, seperti menjawab kegelisahan lama yang tak sempat saya beri nama.

”Kadang kita terlalu dekat dengan langkah kita sendiri,” lanjut beliau, ”Sampai lupa melihat ke mana jalan ini sebenarnya menuju.”

Saya mengerti, tanpa helicopter view, seorang anak bisa saja berlari sangat kencang, tapi di lorong yang salah. Ia mengejar nilai, jurusan favorit, atau sekolah tertentu, tetapi tanpa tahu peta besarnya. Dan kecepatan, seperti yang sering kita banggakan, ternyata tidak pernah menjamin ketepatan arah.

“Di sinilah pentingnya helicopter view,” lanjut Kiai, “kemampuan untuk terbang sejenak… menjauh dari detail, lalu melihat gambaran besarnya.”

Helicopter view membuat kita sadar bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang yang membentuk cara berpikir, cara berelasi, bahkan cara memandang hidup. Memilih sekolah, pada akhirnya, bukan memilih gedung atau fasilitas, tapi memilih arah.

Tanpa pandangan itu, keputusan seringkali lahir dari hal-hal yang dangkal: ikut teman, gengsi, atau sekadar “katanya bagus.” Padahal, sesuatu yang tampak indah dari luar belum tentu nyaman untuk ditinggali dari dalam.

Dalam proposalnya, Nada membuka dengan jujur dan sederhana, “Aku udah mikirin lumayan lama mau lanjut ke mana SMA. Pas bapak sama ibu nyuruh aku nyiapin & mikirin dari sekarang, awalnya emang bingung banget, tapi sekarang aku udah yakin dan tau alesannya. Aku udah bandingin antara AGS, SMM, Flexi School, SMA Negeri, SMK Negeri, atau bahkan lanjut PMI.”

Dalam proposalnya Nada memaparkan bagaimana ia mengenal dirinya dan cara belajar yang paling cocok untuknya. Ia juga menuliskan alasan mengapa SMM menjadi sekolah yang tepat baginya, membandingkannya dengan sekolah lain, menjabarkan visi jangka panjangnya, rencana detail untuk beberapa tahun ke depan, upayanya untuk mengejar beasiswa ke Jepang, serta menyertakan konsep Ikigai yang menggambarkan tujuan dan motivasinya.

Ia mengakhiri dengan keyakinan yang terasa matang, ”Aku tau setiap pilihan pasti ada tantangannya, termasuk di SMM. Tapi aku nggak mau sekolah cuma karena ’harus’, aku mau sekolah supaya aku bisa bener-bener berkembang. Nah aku percaya SMM bisa jadi tempat yang pas buat bantu aku. Makasih udah percaya dan kasih aku kesempatan buat nentuin sendiri. Aku janji bakal tanggung jawab penuh sama pilihan ini, dan nunjukin hasilnya lewat kerja nyata, bukan cuma kata-kata.”

Sebagai orang tua, saya bahagia melihat Nada mulai mampu menentukan sikapnya sendiri. Meski, diam-diam, ada bagian dari diri saya yang masih ingin ia tinggal lebih lama di PMI, memperdalam agama, tumbuh di ruang yang sudah kami kenal baik.

Sebagai santri, saya mengerti bahwa setiap ikhtiar harus disertai doa. Karena itu, saya mendoakan yang terbaik untuk keputusan Nada dan meridhoinya sepenuh hati. Saya juga memohon doa kepada Kiai Enha serta menyampaikan terima kasih atas nasihat beliau. Dari pertemuan itu, saya kembali diingatkan bahwa menjadi santri bukanlah status yang berhenti pada suatu usia atau tempat. Ia adalah jalan hidup yang terus berlanjut.

Harapan saya untuk Nada juga seperti itu: semoga ke mana pun melangkah, ia tetap menghayati dirinya sebagai seorang santri. Bahwa PMI bukan hanya sebuah ruang belajar, tapi thoriqoh; cara memandang dunia dan cara berjalan di dalamnya. Saya berharap Nada membawa semangat itu ke mana pun ia pergi, menjadikan PMI sebagai rumah kedua, serta menjaga jati dirinya sebagai santri selamanya. Sebab thoriqoh seorang santri adalah ta‘lim wa ta‘allum: belajar dan mengajar, menerima dan memberi serta berkhidmat untuk kemanusiaan, tanpa pernah berhenti pada satu titik.

Kami pulang dari pesantren dengan hati yang lebih lapang. Seolah pagi yang cerah itu ikut pulang bersama kami, duduk diam di kursi belakang, dan sesekali tersenyum tanpa suara.

---

Di perjalanan pulang, sebuah kesadaran perlahan muncul: mungkin yang perlu memiliki helicopter view bukan hanya anak-anak, tetapi juga kami, orang tua yang sering tanpa sadar terjebak dalam cara pandang yang sempit terhadap generasi setelah kami.

Sebagai generasi yang lahir di antara dua zaman, terkadang saya tidak sepenuhnya mengenal dunia anak-anak saya. Saya melihat mereka —para digital native— terlalu cepat mengambil keputusan, terlalu mudah bosan, terlalu lekat dengan layar, dan tidak konsisten. Sementara mereka mungkin melihat kami terlalu lambat bergerak, terlalu kaku, terlalu banyak aturan.

Padahal, bisa jadi persoalannya bukan pada siapa yang benar atau salah, tapi pada perbedaan cara melihat. Mereka lahir di dunia yang tidak memberi banyak waktu untuk diam dan merenung. Informasi datang begitu deras, pilihan terbuka begitu luas, dan kecepatan adalah bagian alami dari hidup mereka. Mereka terbiasa belajar dari banyak sumber sekaligus, berpindah cepat, beradaptasi tanpa banyak formalitas. Mereka berani mencoba bahkan sebelum merasa benar-benar siap, sesuatu yang dulu sering kami tunda karena takut salah.

Sementara mereka yang tumbuh dalam ritme yang cepat, saya dibesarkan di dunia yang memberi ruang untuk menunggu, merenung, dan melangkah lebih pelan. Kami diajarkan bahwa kehati-hatian adalah wujud kebijaksanaan, bahwa proses harus dijaga, dan bahwa tidak semua hal perlu disegerakan.

Dari perbedaan inilah saya mulai memahami bahwa tugas kami sebagai orang tua bukan mengoreksi mereka sepenuhnya, tapi belajar melihat dunia dari sudut pandang yang dulu tidak kami miliki. Belajar memandang dari sudut pandang yang lebih positif, bahwa mereka bukan peragu tapi fleksibel, bahwa cepat tidak selalu dangkal, dan lambat tidak selalu bijak. Setiap generasi membawa kelebihannya sendiri: mereka dengan keberanian dan keluwesan, kami dengan kedalaman dan pengalaman. Dan mungkin, di antara kedua cara hidup itu, ada sesuatu yang bisa saling dipinjam. 

Pada akhirnya, dua ritme ini tidak harus saling meniadakan. Justru di titik pertemuannya, helicopter view menemukan maknanya yang lebih luas. Saya membayangkan benar-benar berada di sebuah helikopter, naik perlahan, meninggalkan riuhnya pilihan-pilihan kecil di bawah. Dari ketinggian itu, jalan yang semula tampak bercabang ternyata saling terhubung. Jalan antar generasi ini, pada akhirnya, bermuara di tujuan yang sama: jalan untuk mencari kebahagiaan dan keselamatan. Apa yang tampak rumit dari dekat, menjadi sederhana dari jauh. Bukan karena jalannya berubah, tetapi karena cara memandangnya yang berbeda. Sebab tidak ada generasi yang benar-benar sempurna; masing-masing hanya sedang menjawab tantangan zamannya.

Di situlah saya memahami nasihat Kiai Enha: naik lebih tinggi, ke sebuah ketinggian batin tempat segala sesuatu terlihat lebih jernih. Helicopter view bukan sekadar cara pandang, tetapi latihan jiwa, riyadhotun nafs untuk tidak terperangkap dalam ego generasi. Saya teringat gubahan On Children Kahlil Gibran dalam The Prophet, "Kau bisa memelihara tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka.//Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu. // Kau boleh berusaha menjadi seperti mereka, tetapi jangan menjadikan mereka seperti kamu.//Sebab, kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin."*

Secara halus Kiai Enha mengingatkan kita tentang amanah sebagai orang tua: menjaga tanpa mengekang, membimbing tanpa memaksa.

Wallahu a‘lam bishawab.



*


* Dikutip dari Kahlil Gibran, Almustafa (terj. Sapardi Djoko Damono; dari The Prophet), (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2017), hlm. 18–19.