Halaman

Selasa, 24 Februari 2026

Seni Membaca Cerita yang Efektif

 "Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya." 
- Milton Erickson


Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 SMPN 255 Jakarta Timur, pada 12 Februari 2026 dalam rangka hari literasi.


Saya akan mulai ini dengan cerita pribadi.

Sejak kecil, saya suka membaca apa saja. Majalah Bobo, cerpen, komik dan macam-macam, pokoknya kalau ada tulisan terutama yang menarik, pasti saya baca. Masuk MTs, saya mulai kenal novel. MA sampai kuliah, bacaan saya makin banyak. Karena saya tinggal di pesantren dan awal kuliah masuk jurusan Syariah Ahwal As-Syahsyiyah, buku yang saya baca kebanyakan bertema keislaman.

Sampai akhirnya saya berubah jadi pembaca yang “terlalu praktis”. Saya hanya mau membaca buku yang jelas manfaatnya untuk tugas sekolah atau kampus. Kalau tidak ada hasil instan, saya tinggalkan. Awalnya saya merasa itu keputusan yang cerdas. Hemat waktu, fokus, efisien. Tapi belakangan saya menyadari bahwa ternyata tidak sesederhana itu.

Lama-lama saya sadar, cara berpikir seperti itu justru membuat saya tidak berkembang. Saya kehilangan banyak kesempatan belajar hal-hal penting yang memang tidak langsung kelihatan hasilnya, tapi diam-diam membentuk cara berpikir.

Saya rasa banyak remaja juga merasa begitu. Membaca dianggap berguna hanya kalau membuat nilai di sekolah baik. Padahal, tidak semua manfaat muncul seketika. Justru manfaat terbesar dari membaca, terutama membaca cerita dan novel, datangnya pelan-pelan. Nyaris tidak terasa. Tahu-tahu kita sudah berubah.

Lalu muncul pertanyaan penting: Kenapa kita perlu membaca cerita?

Sebelum saya menjawab pertanyaan besar itu, mari kita baca tiga cerita pendek yang ditulis atau ditulis kembali oleh guru menulis saya, A. S. Laksana, di blog ini bacaan bagus untukmu, nak...
  1. Ima Memelihara Jin 
  2. Mungkin Ada Cacing di Dalam Perutnya 
  3. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Setelah membaca cerita-cerita itu, coba renungkan beberapa pertanyaan ini:
  • Bagian mana yang paling bikin kamu kaget atau penasaran?
  • Tokoh mana yang paling menarik? Kenapa?
  • Pesan apa yang kamu tangkap?
  • Kamu merasa apa setelah membaca; senang, bingung, takut, atau malah tertawa?
  • Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang akan kamu lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan cuma mengikuti alur. Kita sedang melibatkan perasaan, imajinasi, dan cara berpikir kita.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan tadi: Mengapa Kita Perlu Membaca Cerita?

Paling tidak ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan, baik langsung ataupun tidak langsung:
  1. Imajinasi jadi lebih kuat: Saat membaca cerita, otak kita aktif membangun “film” di dalam kepala. Kita membayangkan tempat, wajah tokoh, suasana, konflik. Orang yang sering membaca biasanya lebih kreatif—baik saat mencari ide maupun saat menyelesaikan masalah.
  2. Lebih peka terhadap perasaan: Cerita menghadirkan berbagai emosi: takut, berani, menyesal, bahagia, marah. Kita belajar melihat dari banyak sudut pandang. Tanpa sadar, kita jadi lebih mampu memahami diri sendiri dan orang lain.
  3. Lebih percaya diri saat berbicara: Semakin sering membaca, kosakata kita semakin kaya. Kita jadi lebih mudah menyampaikan pendapat, bercerita, atau berdiskusi. Kata-kata tidak lagi terasa sempit.
  4. Melatih otak seperti olahraga: Tubuh perlu bergerak agar sehat. Otak juga begitu. Membaca melatih fokus, daya ingat, dan kemampuan memahami informasi. Ini bukan latihan yang terlihat seperti angkat beban, tapi efeknya nyata.
Lalu, bagaimana cara membaca cerita dengan efektif?

Paling tidak ada 4 prinsip membaca cerita yang efektif:
  1. Tentukan tujuan: Sebelum mulai membaca, tanya dulu: saya ingin apa? Mau menikmati alur? Memahami karakter? Atau mencari pesan moral? Tujuan yang jelas membuat kita lebih fokus.
  2. Bayangkan dan rasakan: Biarkan cerita hidup di kepala. Rasakan emosi tokohnya. Saat imajinasi dan perasaan ikut terlibat, cerita tidak lagi terasa datar.
  3. Fokus pada pemahaman, bukan kecepatan: Membaca bukan lomba lari. Tidak masalah membaca pelan. Kalau ada bagian yang membingungkan, baca ulang. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda kamu serius.
  4. Lakukan refleksi setelah membaca: Setelah selesai, coba renungkan: Apa yang terjadi dalam cerita? Nilai apa yang bisa dipelajari? Bagian mana yang paling berkesan? Kamu bisa menulisnya atau menceritakannya ke teman. Dengan begitu, cerita tidak berhenti di halaman terakhir.

Untuk menutup materi ini saya akan mengutip Albert Einstein. Ia pernah bilang, “Jika kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika kamu ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.”

Jadi membaca cerita bukan sekadar mengisi waktu luang. Itu cara kita membangun imajinasi, memperluas perasaan, dan membentuk cara berpikir. Perubahan itu tidak terjadi dalam sehari. Tidak dramatis. Tidak langsung terasa. Sampai suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa cara kamu melihat dunia sudah berbeda.

Dan sering kali, perubahan besar itu dimulai dari satu cerita yang kamu baca di sudut kamar, tanpa siapa pun tahu.










Senin, 23 Februari 2026

Sakit Sedih Nomor Sebelas

Suatu malam saya bertanya pada Aira (8 tahun), “Apa yang membuat kamu paling sedih?”

Aira terdiam sebentar, lalu menjawab dengan yakin, “Waktu Bude meninggal.”

Mendengar itu, ingatan saya langsung kembali ke hari itu—19 Oktober 2025. Malam itu kami mendapat kabar bahwa kakak ipar saya meninggal secara mendadak. Sementara itu, Aira sudah tertidur pulas dengan senyum di wajahnya karena keesokan paginya, 20 Oktober, ia akan mengikuti study tour bersama teman‑teman sekolahnya.

Kami belum memesan tiket kereta untuk pergi ke Blitar, tempat kakak ipar dan mertua saya tinggal. Dan saya tidak tega merusak kebahagiaan Aira secara tiba‑tiba, apalagi kami masih mempertimbangkan apakah ia perlu ikut atau tidak. Pada akhirnya saya dan istri memutuskan untuk mengajaknya, karena Aira belum pernah dititip ke neneknya dalam waktu lama dan kami tidak tahu akan berada di Blitar berapa hari. Akhirnya kami membeli tiga tiket kereta untuk keberangkatan dari Bekasi malam itu: untuk saya, istri, dan Aira.

Pagi harinya saya mengantar Aira ke sekolah. Ia tetap ceria seperti biasa ketika ada kegiatan study tour. Saya belum memberi tahu apa pun tentang kabar duka itu, dan Aira pun tidak menanyakan mengapa mata ibunya sembab dan wajahnya murung sejak pagi.

Ketika saya menjemputnya siang hari, ia masih penuh semangat menceritakan kegiatan pagi itu. Dalam perjalanan pulang, di atas motor, setelah ia selesai bercerita, saya mulai membuka percakapan.

“Aira nanti malem kita berangkat nengokin Oma ya?”

“Oma?” Aira tampak bingung. “Nenek kali!”

“Bukan. Oma,” saya mengulang.

Aira yang duduk di depan menengok ke arah saya. “Ke Blitar? Bapak, aku gak mau bercanda!”

“Bapak serius!” jawab saya.

“Beneran?”

“Iya.”

“Nanti malem berangkat?”

“Iya.”

“Yeay!” Aira girang.

Selama perjalanan naik kereta, Aira masih ceria. Bahkan ketika kami tiba di rumah duka, ia masih belum tahu bahwa Budenya telah meninggal. Yang ia tahu, Bude sedang dirawat di rumah sakit. Jadi ketika masuk rumah, ia hanya bertanya ringan, “Bude di mana?”

Baru ketika saya mengajaknya ke makam Budenya, semuanya terungkap. Di sanalah Aira menangis. Tangis paling pilu yang pernah saya dengar darinya. Ia sampai harus saya gendong ketika berjalan kembali dari makam karena kakinya lemas.

Saya melanjutkan percakapan yang kami mulai sebelumnya.

“Kalau dibuat level satu sampai sepuluh, kesedihan waktu Bude meninggal itu nomor berapa?”

Aira berpikir sebentar lalu menjawab, “Nomor delapan.”

Kemudian ia menambahkan dengan suara lirih namun yakin, “Kalau sedih nomor sepuluh itu… kalau Bapak atau Ibu yang meninggal.”

“Oh…” saya menjawab pelan, merasa wajar karena sayang kepada orang tuanya lebih besar dan yang terbesar. Lalu saya iseng bertanya lagi, “Kalau Moli nomor berapa?”

Moli adalah kucing betina tua yang sudah ada sejak Aira lahir, dan sangat ia sayangi.

“Nomor sebelas,” kata Aira mantap.

Sabtu, 14 Februari 2026

Menikmati Semua Hal yang Dibolehkan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bercerita, ”Bapak saya itu sering mengajarkan, kalau ada hal-hal yang mubah, yang enggak maksiat, ya nikmati saja. Karena orang itu sampai cari kesenangan lewat maksiat, karena enggak bisa menikmati sesuatu yang dibolehkan Allah. Jadi, penting menikmati yang dibolehkan Allah itu.”

”Saya dulu itu janggal melihat Bapak, apalagi Mbah Mun, guru saya. Beliau itu sering guyon, sering ceria. Kadang semalaman gojlok-gojlokan sama teman-temannya. Terus beliau cerita, ’Banyak orang yang malam ini berjuang untuk tidak dugem, tidak maksiat.’ Itu kalau berjuang sendiri berat. Kalau asyik jagongan, makan-makan, masak-masak, itu terus asyik.”

”Sebab itu, di antara konsep Qur’an itu qul bi fadlillahi wa birahmatihi fa bidzalika falyafrahu


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
QS. Yunus (10): 58

Orang itu harus asyik dengan hal-hal yang dibolehkan Allah. Itu sebabnya saya menyaksikan sendiri, guru-guru saya, Bapak saya, Abi Quraish, semuanya orang-orang yang ceria. Karena bisa ceria dengan hal yang enggak maksiat itu luar biasa. Apresiasi Allah Ta’ala itu luar biasa. Sampai Imam al‑Ka‘bī dalam usul fikih menjelaskan, mubah dikatakan mubah itu keliru. Katanya, mubah itu wajib.”

”Karena ma min mubahin illa wayatahaqaqu fihi tarqu haramin, fayalzamu minas sukun tarqul qatli wa min sukut tarqul qodf.

ما مِنْ مُبَاحٍ إِلَّا وَيَتَحَقَّقُ فِيهِ تَرْكُ حَرَامٍ، فَيَلْزَمُ مِنَ السُّكُونِ تَرْكُ الْقَتْلِ، وَمِنَ السُّكُوتِ تَرْكُ الْقَذْفِ.

"Mubah, sesuatu yang boleh, hakikatnya adalah wajib. Karena ketika kita melakukan mubah, artinya meninggalkan keharaman. Sementara meninggalkan haram itu adalah wajib.”

Jika Tahlilan Itu Baik, Mengapa Para Sahabat Tidak Melakukannya?

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, ”Maka orang-orang di luar sana yang mengatakan, ’Andaikan tahlilan itu baik, pasti dilakukan oleh para sahabat,’ itu adalah logika yang keliru. Sahabat tentu tidak mungkin menahlili Nabi Muhammad, apalagi berdoa, in kaana musi’an. Masa mendoakan nabi pakai andaikan ada keburukan, tentu itu tidak benar. Nabi adalah manusia terbaik.”

”Jadi yang paling penting adalah bahwa dalam tahlil, kita tidak meminta kepada mayit. Tujuan kita datang ke kuburan adalah untuk mendoakan, dan memohonkan ampunan bagi mayit, bukan meminta sesuatu dari mereka. Maka tidak tepat jika dianggap sebagai perbuatan syirik atau kufur.”

”Kalau dilihat dari jauh lalu disimpulkan macam-macam, itu bukan dasar yang jelas untuk berfatwa. Fatwa tidak bisa hanya berdasarkan asumsi atau pengamatan sepintas.”

”Oleh karena itu, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa mazhab kita benar. Bahwa tahlilan di kuburan bukanlah perbuatan kafir, karena kita tidak meminta kepada mayit, justru kita mendoakan mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka.”

Surah Tabarok dan Potensi Kerusakan Bumi

Dalam sebuah pengajian Gus Baha bercerita, ”Kenapa surah Tabarok itu spesial? Di situ manusia diingatkan oleh Allah Taala: a amintum man fis-samā`i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa iżā hiya tamụr

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Kok kamu hidup di bumi tenang-tenang saja? Bisa saja bumi ini tamur atau likuifaksi. Semua tafsir mengartikan tamur itu tatoribu wa tatafiu fauqokum: bumi itu bergelombang, menggeliat, likuifaksi, kemudian bumi ini di atas kamu.”

اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ

”Terus potensi lagi, kata Allah: ayursila alikum hasiba: Apa juga kamu merasa baik-baik saja ketika Allah memutuskan benda-benda langit jatuh ke bumi? Terakhir, Allah juga mengingatkan bagaimana sistem bumi yang bisa menyerap air. Harusnya bumi itu enggak ada air karena bumi itu khasnya menyerap air. Qul aroitum in asbaha maukum guron famay ya'tikum bima main: Bagaimana kalau bumi ini tahu-tahu menghisap semua air, kemudian kita enggak menemukan air? Kamu bisa apa, siapa yang bisa mendatangkan air?”

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ اَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرًا فَمَنۡ يَّاۡتِيۡكُمۡ بِمَآءٍ مَّعِيۡنٍ

”Lalu dengan peringatan Allah seperti ini, orang disuruh hati-hati cara mengelola bumi ini. Makanya saya senang kalau ini ada gerakan-gerakan untuk menyelamatkan bumi. Kata ulama-ulama: tahkallaqu bi akhlakillah. Jadi Allah itu begitu bangganya ketika cerita menumbuhkan beberapa bijian, beberapa makanan, buah-buahan yang kamu butuhkan supaya kamu hidup di bumi ini nyaman, mata’alakum wlian’amikum.

”Sehingga dalam sebuah hadis diterangkan, enggak ada orang muslim, enggak ada manusia yang menanam pohon kemudian berbuah dan dimakan oleh manusia maupun binatang kecuali itu menjadi sedekah. Begitu juga ketika Allah mengkritik orang-orang yang jahat, yang tidak baik. Kata Allah: Wa idzaa tawallaa sa'aa fil ardi liyufsida fiiha wa yuhlikal harsa wannasl: Jadi ciri utama orang yang tidak baik itu adalah yuhlikal harsa wannasl: yang merusak tanaman, merusak tetumbuhan, merusak populasi.”

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ