Halaman

Minggu, 17 Mei 2026

Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (4)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.


Bagian Keempat

Sekarang kita masuk ke bagian yang menurut saya paling menyenangkan dalam menulis: majas.

Di Annida kalian juga sebenarnya mempelajari hal ini, meskipun dengan istilah yang berbeda. Dalam pelajaran Balaghah ada tiga hal besar yang dipelajari:
  1. Ma’ani (معاني) → bagaimana menyampaikan sesuatu dengan tepat
  2. Bayan (بيان) → bagaimana menyampaikan sesuatu dengan variatif dan penuh gambaran
  3. Badi’ (بديع) → bagaimana membuat bahasa menjadi indah
Majas yang akan kita bahas hari ini masuk ke wilayah Bayan dan Badi’.

Sederhananya, majas adalah cara menyampaikan sesuatu secara tidak langsung, atau dalam istilah guru menulis saya, "Bilang begini, maksudnya begitu." 

Majas bisa disampaikan menggunakan perbandingan, simbol, sindiran, penggambaran yang membuat kalimat terasa lebih hidup. Karena itu, majas sering digunakan dalam puisi. Namun sebenarnya bukan hanya dalam puisi. Dalam kata-kata sehari-hari pun kita sering menggunakan majas tanpa sadar.

Contoh sederhana, kita mengatakan polisi tidur untuk menyebut bumper yang ada di tengah jalan. Padahal tidak ada satu pun polisi yang benar-benar tidur di sana. Kecuali memang ada polisi yang sedang cosplay menjadi orang gila. Begitulah majas; bilang begini, tapi maksudnya begitu.

Ada banyak jenis majas. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan beberapa di antaranya yang paling sering digunakan oleh penulis.


METAFORA

Metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung supaya maknanya terasa lebih kuat. Menariknya, metafora banyak digunakan dalam Al-Qur'an.

Contohnya tentang gibah yang diserupakan seperti memakan bangkai manusia:

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا

“Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)


Dalam syair pujian kepada Rasulullah Saw., kita sering mendengar:


أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ أَنْتَ نُورٌ فَوْقَ نُورِ

“Engkau adalah matahari, engkau adalah bulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya.”


Tentu saja ini buka berarti Nabi Muhammad benar-benar berubah menjadi benda langit. Namun keindahan, kemuliaan, dan cahaya akhlaknya dibandingkan dengan sesuatu yang bercahaya dan indah.

ALEGORI

Jika metafora membandingkan sesuatu secara langsung, alegori memiliki cakupan yang lebih luas. Alegori adalah cerita simbolik, yaitu cerita yang tampak di permukaan, tapi sebenarnya menyimpan makna lain di baliknya.

Contoh:

Animal Farm — George Orwell

Di permukaan, itu cerita tentang hewan-hewan di peternakan, tapi sebenarnya itu kritik terhadap kekuasaan dan revolusi politik.

The Metamorphosis — Franz Kafka.

Tentang seseorang yang bangun tidur lalu berubah menjadi serangga, tapi sebenarnya novel itu bicara tentang keterasingan manusia, tekanan hidup, dan rasa tidak diterima oleh keluarga maupun masyarakat.


Contoh yang lebih dekat dengan keseharian kalian bisa dilihat dari video TikTok yang sempat viral, yaitu potongan stand-up comedy dari Alwi Kuli. Ia bilang:

“Baru 2 tahun jadi kuli, masih muda banget, pengalaman minim, tiba-tiba mau jadi mandor. Maksud saya, kerja dulu kuli!”

Orang yang memahami konteks politik Indonesia saat joke itu disampaikan akan menyadari bahwa Alwi sebenarnya tidak sedang membahas pekerjaan kuli, melainkan menyindir situasi politik saat itu.

Jadi, alegori membuat sebuah cerita terasa lebih dalam. Karena pembaca atau pendengar menyadari: “Oh, ternyata ini bukan cuma soal itu.”


SINISME

Jika alegori disampaikan secara halus dan simbolik, sinisme cenderung lebih tajam dan menyindir. Dalam sinisme, seseorang sering memakai kata-kata yang maknanya berlawanan dengan maksud sebenarnya untuk menegaskan rasa kecewa, kesal, atau kritik.

Contoh sederhana:

Seorang anak pulang bermain terlalu malam. Ibunya membukakan pintu lalu berkata, “Main terus aja sana! Nggak usah pulang sekalian!”

Dari konteksnya, kita tentu memahami bahwa sang ibu sebenarnya tidak benar-benar menyuruh anaknya pergi bermain lagi. Kalimat itu justru merupakan bentuk sindiran karena anaknya pulang terlalu larut. Karena itulah, hampir tidak mungkin seorang anak yang masih waras menanggapinya secara harfiah dengan merespon, “Oke, Bu. Aku main lagi ya!”

Menariknya, banyak karya sastra maupun lagu memadukan beberapa jenis majas sekaligus. Salah satu contohnya adalah lagu Bento karya Iwan Fals.

  • Alegori: Di permukaan, lagu ini menceritakan seorang mafia kaya yang berkuasa, serakah, dan arogan. Namun, tokoh Bento dapat dipahami sebagai alegori bagi para elite korup: orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kedekatan dengan pejabat, lalu menggunakan pengaruhnya demi kepentingan pribadi, terutama dalam konteks sosial-politik masa Orde Baru atau bahkan masih relevan sampai sekarang.
  • Sinisme: Lirik "Aksi tipu-tipu, lobi dan upeti, woo jagonya / Maling kelas teri, bandit kelas coro, itu kantong sampah / Siapa yang mau berguru, datang padaku, sebut 3 kali namaku..." Tentu saja, lirik tersebut bukan ajakan untuk berbuat jahat, melainkan kritik tajam atau sinisme terhadap perilaku para penguasa dan orang-orang yang merasa kebal hukum.

PERSONIFIKASI

Personifikasi adalah memberikan sifat, tindakan, atau perasaan manusia kepada benda mati, alam, atau sesuatu yang bukan manusia.

Contoh:
  • Angin berbisik pelan di telingaku.
  • Hujan mengetuk jendela.
  • Malam memeluk kota kecil itu.

Tentu saja, angin tidak benar-benar bisa berbisik, hujan tidak memiliki tangan untuk mengetuk, dan malam tidak dapat memeluk. Namun, dengan cara itu, suasana terasa lebih hidup dan imajinatif. Pembaca seolah dapat merasakan kedekatan emosional dengan apa yang digambarkan penulis.


HIPERBOLA

Kalau hiperbola lebih sederhana lagi. Dari katanya saja sudah kelihatan: hyper - berlebihan. Artinya melebih-lebihkan sesuatu untuk memberi kesan kuat, dramatis, atau emosional. 

Contoh: “Aku menunggumu sejak zaman fir'aun masih memakai popok.”

Padahal kalau benar dipahami secara harfiah, tentu ia adalah mumi yang kembali hidup atau vampir. 

Di situlah letak hiperbola: membesarkan sesuatu agar perasaan yang ingin disampaikan terasa lebih kuat. Walaupun begitu, penggunaannya tetap perlu diperhatikan. Ungkapan seperti “suaranya menggelegar,” atau “hatiku hancur berkeping-keping” memang masih boleh digunakan, tetapi karena terlalu sering dipakai, kesannya bisa terasa klise dan kurang segar.

Sebagai penulis, cobalah mencari ungkapan yang lebih personal dan unik. Contohnya daripada kalian menulis: Suaranya menggelegar memekakan telinga. Kalian bisa menulis: Suaranya seratus kali lebih mengagetkan dari video TikTok yang tiba-tiba autoplay volume penuh jam dua pagi.

Ungkapan seperti ini terasa lebih dekat dengan budaya dan pengalaman sehari-hari kalian, sehingga gambaran yang muncul jadi lebih hidup dan mudah dibayangkan.


Untuk latihan membuat majas, cobalah membuat tiga kalimat sederhana yang saling berkaitan. Contoh:

Siang itu aku lapar. Aku pergi ke warung makan. Di sana aku memesan segelas jus dan semangkuk sop ayam.

Kita bisa mengubah kalimat itu menjadi majas dengan mengubah kata-kata konkret di dalamnya menjadi abstrak. Misalnya, kita mengubah lapar akan makanan menjadi lapar akan kenangan. Kita juga bisa "memindahkan" warung makan yang konkrit ke dalam pikiran yang abstrak, lalu mengubah jus menjadi rindu dan sop ayam menjadi masa lalu.

Menggunakan majas, kalimat itu bisa kita ubah menjadi:

Malam ini hatiku lapar akan kenangan. Di kepalaku ada warung makan. Aku memesan segelas rindu dan semangkuk masa lalu.

Sekarang, kalimatnya tidak lagi sekadar tentang makan. Ia berubah menjadi cerita tentang kehilangan, kenangan, mungkin juga kesepian.

Dari latihan kecil tadi, sebenarnya kita sudah belajar beberapa hal penting tentang menulis:

  • Menulis tidak harus menunggu ide datang
Karena sering kali ide justru muncul ketika kita mulai menulis, bukan sebelumnya. Kadang kita berpikir: “Nanti aja nulis kalau sudah dapat ide bagus." Padahal ide itu seperti membuat api menggunakan kayu. Api akan muncul ketika kayu mulai digesek. Kuncinya hanya satu: paksakan!
  • Izinkan diri kalian untuk menulis cepat dan buruk
Ini bukan sinisme. Saya menyarankannya dengan serius. Menulis cepat dan buruk itu jauh lebih baik daripada terlalu lama menunggu tulisan sempurna. Karena tulisan buruk masih bisa diperbaiki, sementara kertas kosong tidak bisa diedit sama sekali. Bahkan Ernest Hemingway, penulis pemenang nobel itu, membuat puluhan draft sebelum menghasilkan tulisan terbaiknya. 

Maksud saya, jangan menulis sambil mengedit. Karena itu dua proses yang berbeda. Menulis adalah mengeluarkan isi kepala, sementara mengedit adalah merapikan dan menghapus yang tidak diperlukan. Saya sering mengibaratkan menulis dan mengedit itu seperti makan dan buang kotoran. Kalian tidak mungkin melakukan keduanya dalam waktu bersamaan kan?



PENUTUP

Sebelum workshop ini selesai, saya ingin kita merenungkan satu hal: sejak dulu, apa yang paling dikenal dari Annida?

Kalau orang luar mendengar nama Annida, biasanya mereka langsung teringat pada dua hal. 

  1. Murid-muridnya banyak yang juara baca kitab kuning
  2. Kiyainya banyak menulis kitab

Karena itu, membaca dalam bahasa apa pun, baik Arab, Inggris, maupun Indonesia, dan juga menulis, seharusnya menjadi identitas anak-anak Annida.


Di tempat ini, kita tidak hanya diajarkan mengejar nilai bagus, memenangkan lomba, atau membawa pulang piala. Semua itu mungkin membanggakan, tetapi bukan tujuan yang paling utama.


Membaca dan menulis, mengaji dan mengarang, pada akhirnya adalah cara kita menjaga hubungan dengan guru-guru kita: dengan ilmu yang mereka titipkan, dengan adab yang mereka tanamkan, dan dengan doa-doa yang diam-diam mereka langitkan untuk murid-muridnya. Sebab sering kali seseorang tetap hidup melalui kalimat-kalimat yang pernah ia ajarkan. 


Guru saya, Kiai Fachruddin, pernah bercerita bahwa Saikhuna Kiai Muhajirin di masa-masa akhir hidup beliau pernah mengatakan, “Gua kalo ngarang kitab sekarang (maksudnya Misbahu Dzulam), mungkin bisa lebih tebel dari itu.” Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa bagi seorang alim, proses belajar, membaca, dan menulis tidak pernah benar-benar selesai. Semakin bertambah usia dan pengalaman ruhani seseorang, semakin luas pula kedalaman ilmu yang bisa dituangkan.


Karena itu, bagi kita, membaca dan menulis seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan akademis semata. Ia adalah sebuah jalan (thariqoh) spiritual; jalan untuk tetap terhubung dengan ilmu, dengan guru, dengan diri kita sendiri, bahkan dengan Tuhan. Dan karena ini adalah jalan spiritual, maka membaca dan menulis tidak selesai ketika kita lulus sekolah. Selama kita masih hidup, selama itu pula kita perlu terus membaca dan menulis, sebagaimana manusia terus bernapas.


Mungkin akan ada masa dalam hidup ketika kita merasa lelah, kehilangan motivasi, atau bahkan bosan. Itu wajar dan sangat manusiawi. Namun, justru di titik-titik seperti itulah kesungguhan kita diuji. Sebab membaca dan menulis adalah aktivitas sunyi, dan justru dalam kesunyian itulah ia paling dekat dengan keikhlasan. Maka teruslah membaca dan menulis, meski tanpa pujian, tanpa hadiah, dan tanpa sorak sorai. Sebab pada akhirnya, yang kita jaga bukanlah pandangan orang lain, melainkan apa yang tetap hidup di dalam diri kita: ilmu, adab, dan pesan-pesan yang diwariskan kepada kita. Di dalam proses itu, kita sedang dilatih untuk tetap rendah hati, teguh, dan ikhlas —sebagaimana yang telah diteladankan oleh guru-guru kita.


Pada waktu yang baik ini, mari kita menundukkan hati sejenak, mendoakan guru-guru kita. Semoga mereka yang masih membersamai kita senantiasa diberi kesehatan, keberkahan, dan kebaikan yang berlipat. Adapun guru-guru kita yang telah lebih dahulu berpulang, terutama kepada Allah Yarham Syaikhuna Muhammad Muhajirin Amsar, semoga Allah melapangkan kuburnya, menerangi alam barzaknya, menerima seluruh amal jariyahnya, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga ilmu yang mereka ajarkan terus mengalir sebagai pahala yang tidak terputus.


Untuk kita semua, mari kita berdoa agar senantiasa diberi petunjuk, didekatkan kepada orang-orang yang baik, dipertemukan dengan motivasi yang baru, serta dimudahkan langkah kita dalam menapaki jalan ilmu. Semoga kita tetap menjadi manusia yang bermanfaat, sekaligus meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


Alfatihah...


اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد المختار

 صلاة ترفع بها درجات شيخنا محمد مهاجرين أمسار

وعلى آله وأزواجه وذرياته وأهل بيته وأصحابه الأخيار


Wallahu 'alam bissawab.



Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (3)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.

Bagian Ketiga

Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya: menulis.

Jika sebelumnya kita bicara tentang membaca sebagai cara mengisi kepala, maka menulis adalah cara mengeluarkan isi kepala itu supaya lebih rapi. Dan saya akan mulai dari satu hal penting: Menulis itu bukan bakat. Menulis adalah keterampilan.

Artinya, kemampuan menulis sama seperti keterampilan lain di dunia ini; sama seperti sepak bola, basket, futsal, badminton, bahkan bermain gitar. Semua hal itu membutuhkan proses latihan untuk menguasai keterampilannya, dan terus diasah agar menjadi semakin baik. Jadi, jika ada yang bilang, “Kalau mau jadi penulis yang bagus, ya udah, nulis aja terus,” menurut saya, pendapat itu setengah benar.

Latihan memang penting, tapi latihan tanpa tahu teknik akan membuat kita berkutat di tempat yang sama. Sekarang coba kalian bayangkan, ada orang yang main sepak bola setiap hari, tapi tidak pernah diajari passing, positioning, atau cara menendang yang benar. Mungkin dia akan lebih kuat larinya, tapi permainannya belum tentu berkembang. Menulis juga begitu. Semakin sering menulis memang semakin baik, tapi kalau ditambah teknik, perkembangannya bisa jauh lebih cepat. 

Dan kalau boleh jujur, saya termasuk yang setuju dan berharap pelajaran menulis itu diajarkan lebih serius di sekolah. Karena kemampuan menulis sebenarnya bukan hanya tentang membuat cerpen atau puisi. Menulis adalah latihan berpikir. Saat menulis, otak kita dipaksa bekerja secara menyeluruh: mengingat informasi, memilih kata, menyusun argumen, menganalisa, dan menarik kesimpulan. Semua proses berpikir digunakan sekaligus. Jadi, menulis itu sangat baik untuk melatih otak, karena saat menulis kita sebenarnya sedang “mengangkat beban” menggunakan pikiran. Otak bekerja seperti otot, semakin sering dilatih, semakin kuat dan terampil. Seperti otot kaki yang menjadi lebih kuat karena rutin digunakan untuk berjalan atau berlari, pikiran juga akan semakin tajam, kreatif, dan terlatih ketika kita membiasakan diri menulis.

Ini sekaligus menjawab pertanyaan Fahri di awal: “Apa manfaat menulis? Dan prospeknya ke depan bagaimana?”

Menurut saya, jadi apapun kalian nanti, kemampuan menulis akan tetap berguna. Dokter yang menulis akan menjadi dokter yang lebih baik. Guru yang menulis akan menjadi guru yang lebih baik dari guru yang tidak menulis, karena ia lebih mampu menyampaikan pelajaran dengan jelas dan efektif. Bahkan content creator, YouTuber, podcaster—semuanya tetap butuh menulis. Karena sebelum video dibuat, biasanya ada ide yang ditulis dulu. Sebelum film dibuat, ada skenario.

Hari ini kita akan belajar dua teknik dasar menulis yang sederhana.
  1. Teknik membuat premis.
  2. Teknik membuat majas atau gaya bahasa.

PREMIS

Premis yang dimaksud di sini bukan premis dalam pelajaran logika atau kalau di Annida dikenal dengan pelajaran Mantiq. Bukan premis mayor (Mukodimah Kubro), premis minor (Mukodimah Sugro), lalu kesimpulan (Natijah/Conclusion). Bukan itu, tapi yang dimaksud di sini adalah premis cerita.

Secara sederhana, premis bisa disebut fondasi cerita. Semua cerita punya premis, baik cerpen, novel, film, komik atau anime. Bahkan sinetron azab Indosiar yang pemerannya mati disambar petir CGI juga punya premis.

Premis biasanya terdiri dari tiga hal:
Karakter + Tujuan + Rintangan
  • Karakter = siapa tokohnya.
  • Tujuan = apa yang dia inginkan.
  • Rintangan = apa yang menghalangi dia.
Contoh:

Seorang anak perempuan kelas 3 SMP ingin pergi ke sekolah untuk menghadiri acara kelulusan, tapi bajunya terciprat lumpur di jalan dan ia harus mencari cara supaya tidak terlambat.


Dan menariknya, hampir semua cerita besar di dunia dibangun dengan pola sederhana seperti itu. Berikut adalah contoh premis dari beberapa cerita yang mungkin sudah kalian kenal:

Novel Bumi - Tere Liye

Raib, anak perempuan yang punya kemampuan menghilang, ingin mengetahui jati dirinya. Tapi ia dimanfaatkan oleh Tamus, makhluk dari dunia lain yang punya rencana jahat.

One Piece - Eiichiro Oda

Monkey D. Luffy, seorang anak muda yang bercita-cita menjadi Raja Bajak Laut, ingin menemukan harta karun legendaris bernama One Piece. Tapi ia harus menghadapi lautan berbahaya, bajak laut kuat, dan Pemerintah Dunia yang menghalangi perjalanannya.

Film Agak Laen

Empat sahabat ingin mencari uang lewat bisnis rumah hantu, tapi tanpa sengaja malah menyebabkan kematian seorang politisi.

Nah, sekarang pertanyaannya: kenapa premis penting?

Karena premis membantu kita memahami inti cerita. Premis itu seperti pondasi rumah. Kalau pondasinya jelas dan kokoh, bangunannya lebih mudah dibuat. Selain itu, premis membantu kita menjelaskan ide ke orang lain dengan cepat. Kadang orang punya ide cerita bagus di kepala, tapi kesulitan menjelaskannya. Begitu diringkas menjadi premis, ceritanya langsung terasa lebih jelas.

Setelah punya premis, kemudian bagaimana? 

Bisa dilanjutkan dengan membuat plot atau alur.

Kalau premis tadi kita ibaratkan sebagai fondasi rumah, maka plot adalah blueprint atau gambar bangunannya. Dengan plot, kita menjadi tahu: cerita ini dimulai dari mana, bagaimana konflik berkembang, di mana puncaknya, dan akan dibawa ke mana pada akhirnya. Bangunan yang punya blueprint akan lebih mudah dibangun. Walaupun nanti di tengah jalan ada perubahan, itu tidak masalah.

Kadang saat menulis kita menemukan ide baru. Kadang ada adegan yang ternyata tidak efektif. Kadang ada tokoh yang ternyata lebih menarik daripada yang direncanakan. Itu wajar. Sama seperti tukang bangunan yang kadang mengubah letak jendela atau memperlebar dapur ketika proses pembangunan berlangsung. Selama blueprint utamanya masih jelas, bangunannya tetap bisa berdiri dengan baik.

Plot paling sederhana biasanya terdiri dari beberapa bagian: pembukaan, muncul masalah, konflik makin besar, puncak konflik, lalu penyelesaian.

Tentu dalam dunia menulis ada banyak teknik lain yang sebenarnya menarik sekali untuk dipelajari. Misalnya Show, Don’t Tell, yaitu teknik memperlihatkan emosi atau keadaan tanpa menjelaskannya secara langsung.

Daripada menulis: Dia sangat bahagia.

Kita bisa menulis: Senyumnya tak berhenti, bahkan saat tidak ada siapa pun di sekitarnya.

Pembaca jadi ikut merasakan kebahagiannya tanpa perlu diberi tahu secara langsung. Bahkan tanpa menggunakan kata "bahagia" dalam kalimat itu.

Ada juga teknik membangun dialog yang natural, membuat karakter yang hidup, foreshadowing atau memberi petunjuk tersembunyi, pacing atau mengatur tempo cerita, sudut pandang, simbolisme, membangun konflik, hingga cara menulis akhir cerita yang memuaskan.

Sayangnya semua itu tidak mungkin dibahas tuntas dalam workshop singkat hari ini. Karena belajar menulis itu mirip belajar memainkan alat musik. Workshop bisa menunjukkan nadanya, tapi keahlian sesungguhnya lahir dari keterampilan yang terus diasah, dan latihan yang terus diulang.

Jadi, setelah pulang dari sini, jangan tunggu menjadi hebat terlebih dahulu untuk mulai menulis. Menulislah tanpa ragu. Karena tulisan pertama memang buruk. Tulisan kedua masih terasa aneh. Tulisan ketiga mulai membaik. Dan tanpa sadar, beberapa tahun kemudian, kalian akan membaca tulisan lama kalian sambil bilang, "Wah, ternyata kemampuan menulisku sekarang sudah jauh berkembang.”

Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.




Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (2)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.

Bagian Kedua

Apakah ada di antara kita yang menganggap membaca itu tidak berguna?

Saya yakin hampir tidak ada yang benar-benar berpikir membaca itu tidak berguna. Pertanyaan itu sebenarnya mirip seperti, “Makan itu berguna gak?” Ya jelas berguna. Semua orang tahu itu penting.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah ada di antara kita yang sebenarnya tidak suka membaca?

Ya, kita semua tahu membaca itu penting, tapi tidak semua orang bisa menikmati prosesnya. Sekarang kita coba pikirkan bersama. Apa sebenarnya manfaat membaca?

Biasanya orang akan menjawab, “Biar pintar,” “Biar nambah ilmu,” “Biar nilai bagus,” atau “Biar banyak tahu.” Dan semua itu benar. Namun menurut saya, paling tidak ada dua manfaat membaca yang sulit digantikan oleh hal lain, bahkan oleh menonton atau mendengarkan sekalipun.

  • Manfaat yang pertama: membaca itu melatih otak
Tubuh perlu olahraga supaya sehat, begitu juga otak. Membaca melatih fokus, daya ingat, kemampuan memahami informasi, bahkan melatih kita untuk berpikir lebih dalam. Memang tidak terlihat langsung seperti push up atau angkat beban, tapi efeknya nyata.
  • Manfaat yang kedua: membaca membuat kita lebih percaya diri saat berbicara
Semakin banyak kita membaca, semakin banyak kata yang kita tahu, juga semakin luas cara kita memahami sesuatu. Jadi ketika berbicara, presentasi, atau menyampaikan pendapat, kita tidak mudah kehabisan kata. Maka orang yang banyak membaca biasanya lebih mudah menjelaskan isi pikirannya. 

Tentu masih banyak manfaat lain: mudah memahami pelajaran, nilai rapor bisa naik, portofolio berkembang, bahkan bisa membuka peluang pekerjaan. Itu nilai tambah kerena otak kita sudah terlatih berpikir.

Jika membaca buku nonfiksi kita mendapat ilmu, informasi, dan pengetahuan. Sekarang mari kita membuat pertanyaan yang lebih spesifik: kalau membaca cerita? Membaca novel? Membaca dongeng? Apa gunanya?

Menariknya, Einstein pernah berkata: “If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” - “Jika kamu ingin anak-anakmu cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika kamu ingin mereka lebih cerdas lagi, bacakan lebih banyak dongeng.”

Seorang ilmuwan besar itu justru menyarankan anak-anak untuk mengkonsumsi cerita guna meningkatkan kecerdasan. 

Fakta menarik lainnya, sekitar sepertiga isi Al Quran berisi kisah. Ada Qashasul Anbiya (cerita para nabi), cerita orang-orang saleh, orang-orang sombong, kerajaan yang hancur, manusia yang tersesat, manusia yang bertobat dan lain sebagainya. Bayangkan, Tuhan saja menggunakan medium cerita untuk menyampaikah hikmah kepada manusia. Jadi, jika ada yang mengira bahwa membaca cerita atau sastra itu buang-buang waktu dan tidak berguna, maka coba pikirkan kembali. 

Karena manusia memang belajar lewat cerita. Paling tidak, ada dua manfaat besar membaca fiksi atau cerita:
  • Manfaat membaca fiksi yang pertama: imajinasi kita jadi lebih kuat. 
Saat membaca cerita, otak kita seperti membuat film sendiri di dalam kepala. Kita membayangkan wajah tokoh, suasana tempat, suara hujan, rasa takut, rasa kehilangan. Orang yang imajinasinya terlatih biasanya lebih kreatif, lebih mudah menemukan ide, lebih mudah mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah.
  • Manfaat membaca fiksi yang kedua: kita jadi lebih peka terhadap perasaan. 
Cerita membuat kita ikut sedih, ikut senang, ikut marah, ikut kecewa. Kita belajar melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Tanpa sadar, membaca cerita melatih empati. Dan menurut saya, dunia hari ini bukan cuma kekurangan orang pintar. Dunia juga kekurangan orang yang bisa memahami perasaan orang lain.

Karena ini workshop, kita tidak hanya akan membicarakan teori. Kita akan langsung praktik. Saya sudah menyiapkan dua cerita:
  1. Ima Memelihara Jin
  2. Bagaimana Si Tua Menundukkan Pendekar Pedang
Namun sebelum mulai membaca, saya akan memberikan tiga teknik sederhana supaya membaca cerita jadi lebih efektif. Supaya mudah diingat, saya singkat menjadi: BARAKUDA.

BA — Bayangkan
RA — Rasakan
KUDA — Kuasai dan Dapatkan

  • Bayangkan.
Membaca itu sebenarnya seperti membuat pertunjukan di dalam kepala, theater of the mind. Kalau saya bilang “BUKU”, apa yang muncul di kepala kalian?

Pasti langsung terbayang benda persegi, berisi kertas terjilid, ada halaman, ada tulisan. Padahal “B-U-K-U” itu cuma simbol atau huruf. Tapi otak kita mengubah simbol menjadi gambaran. Nah, ketika membaca cerita, lakukan itu terus. Bayangkan tempatnya. Bayangkan wajah tokohnya. Bayangkan suara langkahnya. Bayangkan hujannya. Bayangkan kesunyiannya.

Jika kalian membaca: "Budi sedang membaca buku di dalam kamarnya ketika ia mendengar suara petasan meledak di depan rumah." Bayangkan itu di kepala kalian. Bahkan jika perlu, pejamkan mata kalian untuk membayangkannya. Jangan sekali-kali melanjutkan kalimat yang kalian baca sebelum kalian mampu membayangkannya di dalam kepala. Karena jika tidak, kalimat berikutnya bisa jadi hanya akan lewat begitu saja tanpa makna.

 

  • Rasakan.
Libatkan emosi kalian. Kalau tokohnya sedih, coba rasakan kesedihannya. Kalau tokohnya takut, coba ikut tegang. Kalau tokohnya lapar, kadang kita juga jadi lapar. Cerita memang dibuat untuk menggerakkan perasaan manusia. Karena itu jangan takut terbawa suasana. Justru itu tanda kalian menikmati cerita, dan membuat kita merasakan semacam ekstase ketika membaca.

 

  • Kuasai dan Dapatkan.
Ketika selesai membaca atau bisa juga ketika sedang membaca, coba kalian renungkan: “Cerita ini sebenarnya tentang apa?” “Pesan apa yang saya dapat?” “Bagian mana yang paling berkesan?” “Kalau saya jadi tokohnya, apa yang akan saya lakukan?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu membuat kita sadar: membaca cerita bukan sekadar mengikuti alur. Kita sedang melatih imajinasi, perasaan, dan cara berpikir kita sekaligus. Karena membaca yang baik bukan tentang siapa yang lebih cepat selesai membaca sampai halaman akhir, tapi ada hal yang kalian kuasai atau dapatkan setelahnya.


Namun, semua teknik tadi ada syaratnya: attention span kalian harus baik. Atau sebaliknya, attention span kalian akan meningkat secara perlahan jika kalian menerapkan teknik ini saat membaca.

Apa itu attention span?

Sederhananya, kemampuan kita untuk fokus pada satu hal tanpa terus-menerus terdistraksi.

Kalau mau jujur, musuh terbesar membaca hari ini bukan buku yang tebal, tapi notifikasi. Baru membaca dua paragraf, tiba-tiba membuka TikTok. Membaca satu halaman, berpindah ke Instagram. Lima menit kemudian, lupa apa yang sebelumnya dibaca.

Saran saya, jika kalian benar-benar ingin membaca dengan baik, coba sesekali matikan handphone. Bukan cuma di-silent atau diletakan jauh. Karena buku dan cerita (terutama cerita yang baik) butuh perhatian, dan perhatian adalah bentuk penghormatan paling sederhana yang bisa kita berikan kepada sebuah buku.

Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.



Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (1)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian.

Bagian Pertama

Suatu malam, ada sebuah pesan masuk ke ponsel saya dari Fahri, adik kelas saya di Annida. Ia memulai pesannya dengan sopan, “Maaf ganggu istirahatnya, Bang,” lalu mengundang saya untuk menjadi narasumber di acara Hari Buku Nasional tanggal 16 Mei 2026 di almamater saya itu.

Ketika saya tanya tentang materi apa yang ingin saya bawakan, Fahri kemudian menjelaskan keresahannya. Katanya, ia ingin anak-anak suka membaca dan suka menulis. Karena menurutnya, dunia hari ini dan mungkin dunia beberapa tahun ke depan semakin dibangun oleh tulisan. Konten dimulai dari naskah. Film dimulai dari ide yang ditulis. Jadi supaya anak-anak tahu manfaat membaca dan menulis, dan tahu juga ke depannya kemampuan itu bisa jadi apa.

Dan saya pikir, itu permintaan yang menarik.

Jika diringkas, ada dua hal yang ia minta: pertama, bagaimana membuat seseorang suka membaca dan menulis.

Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jujur saja, jawaban singkat saya: saya tidak tahu. Karena kesukaan manusia itu aneh dan berbeda-beda. Saya suka makan durian misalnya, mungkin orang lain langsung menyerah ketika mencium baunya. Ada yang tidak bisa memulai hari tanpa kopi, ada juga yang minum kopi sedikit waktu malam kemudian matanya melek sampai subuh sambil menyesal.

Begitu juga dengan membaca dan menulis. Tidak semua orang seketika menyukainya. Lagipula suka dan tidak suka adalah masalah rasa, sehingga ada hal-hal yang kita sukai padahal itu buruk untuk kita. Sebaliknya, banyak hal yang tidak kita sukai, padahal itu baik untuk kita. Jadi pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah membaca dan menulis berguna atau tidak? 

Hari ini, saya bisa saja memaparkan kebaikan, manfaat, serta berbagai hal positif dari membaca dan menulis, tapi hal itu tidak lantas menjadikan semua orang akan langsung jatuh cinta pada buku atau mendadak ingin menjadi penulis. Dunia tidak bekerja seajaib itu. Pengetahuan yang besar terhadap sesuatu yang baik terkadang tidak berbanding lurus dengan kemauan seseorang untuk melakukan hal baik tersebut.

Ya, saya tidak bisa mengatur kesukaan seseorang, tapi jika pertanyaannya diubah menjadi: “Bagaimana cara membaca yang efektif?” atau “Bagaimana teknik menulis yang baik?”

Nah, itu bisa kita pelajari bersama. Bahkan beberapa di antaranya bisa langsung kita praktikkan hari ini juga. Jika setelah mengetahui dan mempraktikkannya kalian jadi tergerak, lalu menyukai membaca dan menulis, itu menjadi bonus.

Sementara untuk permintaan kedua, yaitu tentang manfaat membaca dan menulis, tentang profesi, peluang kerja, dan bagaimana kemampuan ini akan berguna di masa depan, itu akan kita bahas pelan-pelan sambil berjalan.

Sebelum masuk lebih jauh, saya ingin mulai dari hal yang paling dasar dulu, bahwa membaca adalah salah satu keterampilan dasar dalam berbahasa. Dalam bahasa, ada dua kemampuan yang sifatnya menerima yaitu mendengarkan dan membaca. Ada juga dua kemampuan yang sifatnya menghasilkan yaitu berbicara dan menulis.

Jadi, mari kita mulai dari yang pertama terlebih dahulu: Teknik membaca yang efektif.

Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.