Halaman

Jumat, 31 Juli 2026

Menulis Mesin Waktu

Menulis surat untukmu setiap akhir Juli perlahan berubah menjadi pekerjaan. Sebuah rutinitas yang mulai kehilangan jiwa. Aku menjadi kipas angin di ruang tengah yang girnya aus: tidak lagi mampu menoleh ke kanan dan kiri, hanya mengarah ke satu titik ruangan, dengan baling-baling yang berputar ritmis meniupkan angin tanpa peduli apa guna semua itu, dan tidak ada siapapun di ruangan.

Seperti biasa, mungkin aku salah. Mungkin bukan karena kehilangan ruh. Mungkin aku hanya sedang mencari bentuk pengucapan baru atau alasan yang lebih menggugah dari sekedar merayakan bergulirnya waktu.

Kamu bilang, Akal Imitasi bisa menulis apa saja, bahkan puisi. Mungkin karena itu juga aku sempat merasa kehilangan alasan untuk menulis. Karena sekarang kamu bisa meminta AI menuliskan apa saja yang kamu inginkan untuk dirimu sendiri, sesuai keinginanmu. Aku bahkan bisa meminta AI untuk membuat surat ini, memintanya meniru gayaku menulis, memberikan contoh-contoh tulisanku sebelum era AI. Memintanya menebak apa yang ingin kamu baca dariku, atau tujuan apapun selama itu masih bisa diungkapkan dalam prompt. Kamu bilang, kamu tidak bisa membedakannya kan?

Pernahkah aku memintamu membalas surat-suratku? Kurasa belum. Padahal kamu boleh menggunakan AI untuk menjawab surat-surat itu.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya, karena mungkin memang caramu berbeda. Kamu lebih mudah mengatakannya langsung daripada menuliskannya. Mungkin kamu punya 237 alasan mengapa kamu tidak menuliskannya. Atau kamu punya cara lain untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranmu. Atau kamu sudah menuliskan apa yang kamu ingin tulis untukku dalam setiap percakapan WhatsApp yang kamu kirim sambil menyandarkan kepalamu di atas bantal. Atau mungkin, tanpa kusadari, kamu sudah menulis banyak hal untukku melalui cara-cara yang berbeda.

Para pakar bilang, love language setiap orang berbeda-beda, dan biasanya ada satu yang paling kuat. Padamu, aku menemukan tidak ada yang benar-benar mendominasi, atau yang aku pikir begitu. Kebutuhan yang satu mengalahkan yang lain. Kemauan yang satu tidak bisa dipuaskan oleh yang lain. Kemudian ada bahasa yang diam-diam berkelindan mencari bentuk, mencari cara agar dikenali. Ada hadiah yang kamu inginkan, ada pujian yang mau kamu dengar, ada sikap yang kamu butuhkan, ada sentuhan yang kamu kehendaki, dan banyak waktu yang terasa sebentar.

Setiap orang punya tempat kosong dalam dirinya yang perlu diisi. Dan bisa jadi cinta adalah bunga yang mengisi ruang-ruang kosong itu, meskipun tidak bisa menutup rapat ruang itu sepenuhnya karena harus ada bagian yang cukup untuk sinar matahari masuk.

Batang-batang bunga telang menjalar memenuhi pagar halaman. Mereka terus mencari matahari, atau sekadar ruang yang lebih luas agar bisa tumbuh dan menghasilkan lebih banyak bunga. Ada yang menganggap tanaman itu invasif dan merusak, ada yang menganggap bunga-bunga ungunya berguna dan cantik. 

Aku juga mulai belajar mengubur egoku di bawah akar-akar pokok telang itu, agar pohonnya semakin subur dan bunganya semakin semarak. Sedikit demi sedikit, aku belajar memahami duniamu yang selalu memiliki ruang untuk tumbuh, dan menemukan hal-hal yang membuatmu bersemangat. Kamu memiliki cara untuk menjaga warna-warni bunga-bungamu, agar hidup tidak terasa seperti mesin cuci yang terus berputar hampir setiap hari tanpa punya pertanyaan eksitensial tentang makna kehadirannya di dunia fana ini, sampai akhirnya ia rusak dan mati.

Belakangan kamu sering bilang bahwa dunia terasa semakin menakutkan, terutama ketika membicarakan anak-anak. Media sosial membuat kegelisahan itu semakin tebal. Semakin lama tenggelam di dalamnya, semakin mudah kamu merasa cemas, bahkan semakin merasa terasing dengan dunia yang semakin jauh dari ideal. Atau sebaliknya, semakin gelisah kamu dengan dunia luar, semakin kamu membenamkan diri ke dalam sosial media, scrolling tanpa ujung, menghabiskan waktu untuk membaca komentar, menonton, mendengar apa saja yang disajikan algoritma. Seperti tidak ada habisnya berita yang membuatmu terkejut, atau selalu ada kelakuan atau komentar orang-orang yang semakin bodoh. 

Tentu banyak hal baik juga yang kamu temukan di sana, hal-hal yang sering kamu bagikan kepadaku, tempat-tempat cantik, makanan-makanan enak, tips-tips jitu, informasi-informasi bermanfaat, hal-hal lucu atau menggemaskan, games yang membuatmu melupakan sejenak kesuraman hidup, dan banyak hal lain yang mengingatkanmu bahwa dunia tidak hanya berisi hal-hal yang mengecewakan. 

Aku selalu senang melihat caramu menyukai sesuatu dengan sepenuh hati. Bahkan sampai hari ini, fangirling masih mampu membuat matamu berbinar. Lalu kamu ingin kebahagiaan itu tidak berhenti di dirimu sendiri. Kamu selalu ingin membagikannya kepada orang-orang yang kamu sayangi. Seolah sebuah hal yang menyenangkan akan terasa lebih berarti ketika bisa dinikmati bersama. Aku melihat bagaimana kamu ingin orang-orang yang kamu cintai ikut merasakan kebahagiaan itu.

Apakah memang begitu prinsip kebahagiaan? Bahwa bahagia ada pada kebahagian di tengah kebahagiaan orang-orang yang dicintai? Bagaimana kalau hal yang membahagiakan seseorang tidak bisa membahagiakan orang lain, atau hal yang bisa membahagiakan orang lain tidak membuat orang itu bahagia?

Pada usiamu sekarang, juga usiaku sekarang, kita telah mengalami begitu banyak kebahagiaan. Anak-anak yang sehat dan baik, makanan yang selalu ada di meja makan, liburan yang kita nikmati bersama, ibadah yang menenangkan jiwa, kelelahan dan ngantuk setelah bekerja, tidur yang nyenyak, bantuan dari orang-orang yang tidak kita kenal langsung, pertemuan, kawan-kawan yang bisa diajak bicara dan bercanda, pekerjaan yang membuat merasa bermanfaat, kesulitan yang masih bisa kita atasi, bertambahnya ilmu pengetahuan dan pemahaman, makanan enak, internet lancar, orang yang mau mendengarkan, pelukan, senyuman, persahabatan, Jogja, Bali, Karawang, Bandung, Majalengka, Malang, Bogor, Jakarta, Blitar, Bekasi dan setiap sudutnya.

Bahkan mengingat hal-hal itu saja sudah membuat kita bahagia. Jika ada mesin waktu, tentu aku hanya ingin pergi ke masa lalu, bukan masa depan. Mengunjungi kebahagiaan-kebahagiaan yang tidak bisa direnggut oleh siapapun. Mengunjungi anak-anak yang masih balita ketika mereka masih mengucapkan kata-kata dengan lucu. Mengunjungi jalan-jalan yang masih lebar dan penuh pepohonan. Mengunjungi orang-orang yang sudah tiada hanya untuk mengobrol dengan mereka seharian. Mengunjungi lorong dan gang sempit tempat kita dulu berlarian saat kecil. Mengunjungi rumah-rumah penuh coretan, membaca kembali series Pippi Si Kaus Kaki Panjang, atau buku-buku mitologi Yunani dan cerita terjemahan yang mahal dengan antusiasme anak-anak. Kembali ke ayunan yang bergoyang pelan, tempat kita tengadah manatap langit-langit kamar sebelum akhirnya tertidur pulas. Aku hanya ingin punya mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, dan menikmati kembali perasaan-perasaan itu.

Selain kebahagiaan, pada usiamu sekarang, juga usiaku sekarang, kita juga telah mengalami begitu banyak kehilangan. Bapak, kakak, paman, bibi, guru, sahabat, teman, tetangga, bahkan orang-orang yang tidak pernah kita kenal langsung. Sebagian kehilangan dapat kita lewati dengan mudah. Sebagian lagi mengendap lebih lama, lalu muncul kembali pada saat-saat yang sama sekali tidak terduga.

Mungkin kamu sering merindukan dunia yang dulu, ketika mereka masih ada. Dunia tempat kamu bisa membagi keluh kesahmu kepada orang-orang yang kini tinggal kenangan. Dunia ketika ada lebih banyak keamanan, lebih banyak bahu untuk bersandar, lebih banyak suara yang membuat hidup terasa ramai. Dunia hari ini mungkin tidak selalu terasa akrab untukmu. Dan aku atau siapapun tidak bisa menolong untuk mengatasi kehilangan itu, hanya kamu dan dirimu yang tahu caranya.

Sementara, aku merasa berada di sisi yang berbeda, aku justru semakin memasrahkan hidup. Aku tidak terlalu menyukai pekerjaanku, tapi tidak juga membencinya. Bagiku, pekerjaan adalah salah satu cara untuk menjalankan tanggung jawab. Ia adalah hal teknis yang membuatku punya penghasilam setip bulan, cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan begitulah fungsi pekerjaan. Jadi aku tidak butuh untuk menyukainya. Aku hanya butuh mengerjakannya dengan ikhlas.

Hal-hal yang aku suka, seperti menulis, memang sebaiknya tidak aku jadikan pekerjaan, karena itu akan menghilangkan sukacitanya. Apa enaknya hobi yang menjadi pekerjaan? Dimana kesenangan mengerjakan hal yang kamu suka namun diberi target dan KPI, dan kamu mengharapkan gaji yang terus membesar di akhir bulan, bonus serta kenaikan jabatan? Belum lagi kamu mengambil seluruh jatah cuti dan liburmu karena tertekan dengan pekerjaanmu. Semenyenangkan apapun hobi, ketika menjadi pekerjaan maka akan jadi rutinitas yang menyiksa. 

Aku semakin tidak peduli pada anggapan orang lain. Walaupun keyakinanku pada rasionalitas dan humor sering kali membuat dunia ini terasa asing, atau aku yang terasing dari dunia luar. Dua hal yang mungkin memang tidak selalu mudah dipahami, termasuk olehmu. Dan, seperti biasanya, aku tetap menerima ke-tidak-mudah-dipahami itu tanpa protes. Sebagaimana aku tidak pernah protes karena keinginan yang selalu lebih besar daripada kemampuan yang kita punya, karena keranjang-keranjang yang lebih banyak memenuhi wish list tanpa pernah di-checkout. Sebagaimana aku belajar menerima bahwa cinta bukan tentang mampu memenuhi semua keinginan seseorang.

Aku tidak bisa memenuhi semua keinginanmu. Untuk itu, aku meminta maaf.

Aku hanya berharap kamu mengerti, bahwa aku selalu berusaha memberikan apa yang aku punya. Mungkin bukan dalam bentuk yang selalu kamu harapkan. Mungkin tidak selalu dengan sikap yang kamu inginkan, atau bahasa yang mudah kamu baca, atau puisi yang mudah kamu mengerti.

Aku mulai mengerti mengapa aku tetap menulis surat ini meski merasa tidak punya alasan yang kuat, atau bisa menggunakan AI yang lebih manis dan penurut. Barangkali surat-surat ini adalah google photos yang mengingatkanku pada kenangan-kenangan baik yang sudah kita lewati. Cara untuk kembali mengunjungi hal-hal yang membuat hidup terasa layak. Cara untuk menyimpan tawa anak-anak ketika mereka masih bayi, tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, ketakutan-ketakutan yang berhasil kita lewati, dan meruah suka yang pernah singgah kemudian menetap dalam hati.

Sudah berapa lama kita saling mengenal dalam pernikahan? Aku tidak pernah menghitung hari-hari yang lewat, bahkan sejak umur 30 aku merasa nomor itu tidak bergerak. Tapi kalender dan angka sengaja dibuat agar manusia menghitung.

Dalam tujuh belas tahun, pohon di halaman depan rumah sudah berganti berkali-kali. Jika pohon mangga dari developer rumah dulu tidak kita cabut, mungkin saat ini ia sudah tumbuh besar dengan banyak buah, atau roboh tertiup angin. Anak-anak sudah menjadi remaja. Kota dan tempat yang kita tinggali berganti wajah. Jalan yang dulu sepi sekarang riuh sesak. Rambut yang dulu hitam mulai ditumbuhi uban. Tujuh belas tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah kita menjadi orang yang berbeda. Ia berisi ribuan pagi, ribuan malam, ribuan pertengkaran, ribuan maaf yang diucapkan atau tidak sempat diucapkan.

Hari ini, dalam relativitas waktu, aku merasa tujuh belas tahun adalah waktu yang panjang sekaligus seperti mimpi di ujung tidur. Dalam rentang itu, hidup telah membawa kita melewati banyak hal, juga banyak surat. Dan selama aku masih bisa menulis untukmu, mungkin aku memang sudah memiliki mesin waktu yang kuinginkan. Barangkali itulah yang selama ini kulakukan lewat menulis. Untuk sesekali berkunjung ke masa lalu, memastikan bahwa kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah kita miliki masih ada, tersimpan baik-baik di tempatnya.

Dan di setiap kenangan yang ingin kukunjungi kembali, kamu selalu ada di sana.