Halaman

Tampilkan postingan dengan label Safa Narajatidewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safa Narajatidewi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juli 2025

Jendela yang Tetap Terbuka

Kamu pernah menangis
untuk mencicipi air matamu sendiri.

Mungkin saat itu,
kamu ingin membuktikan
bahwa sedih memang punya rasa
dan hati bisa melarutkan rahasia
dengan cara yang tak pernah diajarkan
siapa-siapa.

Sebab ada pengetahuan
yang hanya bisa dipelajari
oleh tubuh yang jauh dari rumah
,
oleh kangen yang menetes
dari jendela kamar,
diam-diam,
seperti doa
yang tak sempat diucapkan.

Mungkin tangismu jatuh
seperti hujan kecil
di halaman yang tak kamu pilih.
Menstruasi pertamamu datang
seperti surat tak bernama,
dan tubuhmu mulai bicara
dalam bahasa baru
yang sedang kamu cari maknanya.

Kemudian rumah ini,
meski tampak sunyi tanpamu,
tidak sedang meninggalkanmu.
Ia hanya bergeser sedikit,
memberimu ruang untuk jatuh
dan belajar bangkit sendiri.

Agar ketika akar rindu
menjulur cukup panjang,
kita bisa duduk di beranda,
membiarkan teh kehilangan hangatnya
dan senja berjalan pelan 
seperti tak mau malam.

Tak perlu kata-kata,
cukup tatapan yang tak lagi menuntut.
Seperti dua musim yang tak mengenal
angka tapi tahu caranya tiba,
seperti jendela tua yang tak pernah terkunci 
karena sedang menunggu seseorang pulang.

Hingga jika suatu hari nanti
dunia menutup pintunya,
dan hujan terlalu enggan untuk reda,
kemarilah mendekat:

karena aku adalah jendela itu,
yang walaupun terus menua
akan tetap selalu terbuka.



Jumat, 11 Juli 2025

Kepada Anak dengan Hati yang Paling Jernih

Dear Safa,

Sekarang kamu sedang berada di pesantren. Kamu pernah bertanya, “Kenapa aku harus mondok?”

Bapak sudah mencoba menjelaskan banyak hal; tentang kemandirian, tentang penumbuhan karakter, tentang pengalaman, dan tentang ilmu yang tak diajarkan di buku. Tapi sebanyak apa pun itu, bapak tahu, kamu masih berkutat pada tanya yang sama. Karena memang ada pengetahuan yang tak bisa diwariskan lewat nasihat. Ia hanya bisa dipelajari oleh tubuh yang jauh dari rumah, oleh hati yang belajar bertahan di tanah yang asing. Ia harus dialami, dirasakan, dijalani, agar bisa benar-benar dimengerti. Dan bapak percaya, suatu hari nanti, kamu akan mengerti. Bukan karena bapak pernah menjelaskan, tapi karena kamu telah menjalaninya sendiri.

Hari pertama melepasmu ke pesantren terasa berbeda dibanding saat kakak dulu berangkat. Entah kenapa, denganmu, rasanya justru lebih ringan. Bukan karena bapak lebih siap, tapi mungkin karena kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

Kiyai Fachruddin, guru bapak sejak Tsanawiyah, pernah bilang bahwa antara orang tua dan anak ada ikatan ruhani yang halus, yang kadang tak perlu kata-kata. Ruh bir ruh, jiwa yang berbicara kepada jiwa. Apa yang kamu rasakan, bisa bapak rasakan juga. Dan juga sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, bapak tahu kamu menangis karena sakit. Mungkin tubuhmu sedang diserang virus, ditambah lagi kamu sedang tidak dalam kondisi fit. Ibu juga cerita, kamu baru saja mengalami menstruasi pertamamu. Sedikit lebih lambat dari kakak, tapi ini bukan perlombaan, bukan perbandingan. Setiap tubuh punya waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

Bapak membayangkan, sakit fisik, haid pertama, dan jauh dari rumah. Semuanya terjadi bersamaan. Tentu itu cukup untuk membuat siapapun merasa rapuh dan ingin pulang. Tapi kamu tidak pulang. Kamu memilih bertahan. Dan bagi bapak, itu tanda kekuatanmu.

Kita semua pernah merasa lemah, Teh. Tapi orang kuat bukanlah mereka yang tak pernah lemah atau jatuh. Orang kuat adalah mereka yang tetap berdiri, meski hatinya ingin menyerah.

Bapak dan ibu, gurumu juga buku-buku yang kamu baca, mungkin sudah banyak bicara tentang menstruasi. Bapak tidak akan mengulanginya di sini. Bapak hanya ingin menegaskan satu hal: menstruasi adalah tanda kedewasaan fisik. Artinya, tubuhmu memberi tahu dunia bahwa kamu kini seorang perempuan dewasa. Perempuan yang sehat.

Dan semoga, bersama tubuhmu yang sedang tumbuh, jiwamu pun ikut bertumbuh. Karena kedewasaan sejati bukan sekadar soal rupa, tapi soal pilihan. Pilihan untuk menjaga diri. Pilihan untuk menghormati tubuhmu. Pilihan untuk menentukan batas-batas yang harus dihormati oleh orang lain terhadap tubuhmu sendiri sebagai rumah suci.


Safa,

Kamu tahu, namamu dalam Kamus Besar Bahas Indonesia bermakna putih dan bersih. Begitulah juga dengan hatimu.

Suatu hari, ketika usiamu belum genap lima tahun, kamu selalu takut bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin karena kamu bisa merasa aura negatif, atau kamu belum nyaman, atau memang kamu pemalu. Apapun itu, yang perlu kamu tahu, ketakutan itu menunjukkan bahwa kamu memiliki kepekaan terhadap hubungan sosial. Itu tandanya kamu mampu untuk membedakan antara lingkungan yang aman dan situasi baru yang membutuhkan kehati-hatian.

Sejak kecil, kamu selalu berhati-hati. Bertanya berkali-kali sebelum melakukan sesuatu; Bolehkah melakukan ini? Bolehkah begitu? Katamu, kamu takut melanggar, takut salah, takut berdosa.

Safa, dosa adalah sesuatu yang membuat hati tidak tenang. Dan hati yang bersih selalu bisa merasakannya. Itu sebabnya kamu tidak bisa tinggal diam ketika melihat ketidakadilan, atau ada yang tersakiti. Maka begitulah kamu sangat peduli pada Palestina, atau orang-orang yang menderita di sekitarmu.

Kepekaan sosial itu yang harus kamu pertahankan selama apapun kamu hidup. Itulah anugrah yang Tuhan berikan untukmu.

Kamu punya pitch perfect, kemampuan mengenali nada dengan presisi. Bahkan sebelum berusia sepuluh tahun, kamu sudah bisa memainkan lagu apa pun yang didengar hanya dengan piano mainan. Sampai sekarang, bapak masih tidak mengerti bagaimana membedakan Do dan Re, apalagi memainkannya dengan flawless di tuts piano. Kepekaan itu yang akhirnya membuatmu mudah belajar alat musik lain, seperti ukulele. Insting bermusikmu kuat. Dan bapak tidak akan heran jika suatu saat nanti kamu akan melahirkan karya yang mengagumkan.

Saat lulus TK, kamu mendapat peringkat Kecerdasan Naturalis. Bapak tidak terlalu mengerti bagaimana itu dinilai, mungkin karena kamu lebih senang berada di luar kelas, bermain di antara pohon-pohon. Bapak bahkan sering sengaja terlambat menjemputmu, karena tahu kamu tidak pernah ingin pulang buru-buru. Kamu senang bermain di lingkungan sekolah yang banyak pohon.

Tapi yang paling bapak ingat adalah ketika kamu menangis tanpa alasan, hanya untuk merasakan air matamu sendiri. Kamu berhenti sejenak, menyeka air mata dengan ujung telunjuk, menjilatnya, lalu kembali menangis. Berhenti lagi, menjilat lagi. Mungkin kecerdasan naturalismu memang berhubungan dengan eksperimen, dengan keingintahuan yang besar.

Sejak kecil kamu adalah anak yang sering gelisah. Bertanya banyak hal di malam-malam sunyi: Allah itu seperti apa? Sebelum ada Allah, apa yang ada? Ghofururrohim artinya apa?

Pertanyaan-pertanyaan itu menandakan kepekaanmu pada hal yang di luar dirimu sangat besar. Pertanyaan itu disamping menandakan proses aktif dalam belajar, juga menandakan kegelisahan terdalammu pada fitrah ketuhanan. Dan semakin kamu mengenal dirimu, semakin kamu akan mengenal Tuhanmu. Semakin kamu mengenal Tuhanmu, semakin luas cintamu pada kemanusiaan.

Bapak tidak pernah khawatir jika kemampuan literasimu tidak sebagus Kakak Nada atau Aira. Bahkan sejak kecil, bapak tidak pernah cemas jika kamu belum lancar membaca atau berhitung.

Sekarang, dengan semakin kamu dewasa, literasi dan numerasi tidak lagi menghawatirkan. Kamu sudah punya kecintaan pada cerita, pada literasi, dengan kecintaan yang tulus.

Seperti baru kemarin kamu minta lampu kamar tidak dimatikan karena takut gelap. Kemudian bapak tetap mematikan lampu tapi menemani sambil memelukmu di tempat tidurmu, sampai kita berdua tertidur. Bapak bangun tengah malam dengan tangan kram dan besoknya sebelah tangan bapak pegal seharian.

Anak yang dulu sulit menelan makanan sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Anak dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, dengan pikiran-pikiran yang unik. Sebagai bapak, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Kamu adalah anak dengan hati yang paling jernih, dan semoga akan tetap begitu selamanya. Aku tahu, setiap orang harus tumbuh, begitu juga aku harap kamu akan tumbuh. Namun ada hal-hal yang kamu punya dari sejak kamu mengenal manusia, yang sebaiknya tetap kamu jaga: kejujuran, kepekaan, rasa ingin tahu. Itu yang membuatmu istimewa.

Sebagai manusia, dan sebagai remaja, wajar jika kadang kamu kurang disiplin, sulit fokus pada satu proyek. Kadang kamu seperti langit yang sibuk menampung awan: begitu penuh, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi biru. Kamu berjalan membawa peta yang belum sempat kamu baca, karena setiap tikungan menawarkan keindahan yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Bukan karena kamu malas. Tapi karena terlalu banyak musim yang ingin kamu peluk sekaligus. Dan itu bukan kesalahan, bahkan hujan pun tak selalu tahu di mana ia akan jatuh.

Tentu dengan berjalannya waktu kamu bisa mengatasi kelemahan dan kekuranganmu. Satu hal yang harus selalu kamu ingat: masih banyak hal mengagumkan tentang dirimu yang belum kamu temukan. Carilah. Kenali dirimu sendiri. Temui dirimu sendiri dengan sabar dan rasa ingin tahu. Dan jika suatu hari nanti dunia terasa sempit, suara-suara di sekitarmu terlalu bising, atau kamu merasa tak dihargai, ingatlah, akan selalu ada satu rumah di mana telingaku siap mendengar tanpa menghakimi, selalu bersedia mendengar keresahanmu, tanganku selalu terbuka untuk memeluk dan menerimamu apa adanya.

Apa adanya.

Semoga Allah selalu menolongmu, memberi kekuatan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam hidupmu.


—Bapak.



Minggu, 18 Mei 2025

Rasa adalah Satu-Satunya Cendera Mata yang Layak Dibawa Pulang

Saya terbangun dengan kepala lebih ringan, tidak lagi serasa ditimpa batu seperti saat pertama merebahkan diri, meski punggung masih menyimpan jejak kursi Elf semalam yang keras dan sempit. Paracetamol yang saya telan sebelum tidur sudah bekerja diam-diam, menyusup ke urat-urat kepala seperti hujan ringan yang membasahi atap-atap tenda siang itu.

Suara gaduh di luar tenda memecah sisa keheningan sore. Bukan jeritan panik, lebih seperti rengekan setengah geli. Suara Anita bercampur dengan tawa Veony, disambung bentakan kecil dari Anza dan nada tinggi Chika, “Aaa! Glad! Syam! Cepetan dong, ini ulatnya nempel di tenda!”

Saya keluar dari tenda dengan tergesa, bukan karena panik, tapi karena cemas mereka akan membunuh ulat itu. Tenda-tenda kami berdiri di rumah si ulat, bukan sebaliknya. Kami tamu yang terlalu sering lupa sopan santun. Di gunung, manusialah yang jadi penyusup ke rumah hewan-hewan.

Tanpa ragu, saya ambil si ulat dengan tangan kosong. Kaki-kaki kecilnya menempel menyentuh telapak tangan seperti cubitan kecil, hampir tak terasa. Saya letakkan ia di daun panjang di dekat rerumputan agar ia punya jalan pulang. Ada aturan tidak tertulis di alam bebas ini: kill nothing but time.



Saya berdiri sejenak, mengamati sekitar tenda. Kabut turun pelan, seperti selimut besar yang mengambang dari langit, menutupi segala yang ada. Kelelahan telah berpindah bentuk jadi semacam tenang yang asing. Taman edelwis yang siang tadi ramai kini lenyap, tertelan putih pucat yang menelan batas pandang. Seolah-olah dunia sedang berubah menjadi ruang mistis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Jam di pergelangan tangan menunjuk angka empat sore. Ditemani rintik kecil, saya melangkah menuju Mushola, pelan, tanpa terburu. Masih ada dua jam sebelum masuk waktu Maghrib, jadi waktu Jamak Takhir Dzuhur ke Asar masih panjang. So I have a lot of time to kill.

Pagi itu, kami tiba di gerbang TWA pukul empat dini hari. Langit di atas Papandayan terbentang cerah seperti lembar UTS yang belum diisi; belum ada jawaban yang salah, tapi ada potensi akan kacau. Angin menggigit pelan, dan kabut tipis menyelinap di antara pohon cantigi. Di antara tas carrier yang tergeletak dan bau abab mulut, saya berdiri, menghela napas. Sudah lama saya tidak memimpin rombongan. Kali ini bukan sekadar staycation atau berburu footage sunrise untuk stok reels. Ini kemping, pendakian dan ekspedisi ke gunung. Diam-diam saya menghitung kepala, 19 orang yang setengahnya mungkin baru tahu bahwa “trekking” itu bukan nama sub-unit K-Pop.



Sebagai Tim Inti, Muhid dan Ipin langsung melesat. Langkah mereka ringan, seperti belum kenal nyeri lutut. Tugas mereka jelas: jadi Tim Advance, mendirikan tenda sebelum peserta datang sambil menghindari godaan selfie di batu-batu instagramable. Tenda dan logistik diserahkan ke porter, supaya lebih efisien, lebih sedikit drama, dan karena juga kami bukan tim pengangkut dosa.

Tim dibagi tiga. Saya pemimpin Tim Satu: istri saya (jimat keberuntungan yang saya percaya bisa menjaga cuaca tetap cerah), lalu Gitt, Yash, Glad (mahasiswa senior yang bisa diandalkan), dan Safa, anak tengah yang punya perfect pitch dan label kecerdasan naturalis sejak TK, yang senang bereksperimen dengan segala hal yang baru ia temui, bahkan ia pernah memelihara cacing dalam air di gelas. Ini kali pertama Safa saya ajak naik gunung, untuk memenuhi janji saya ketika ia lulus SD. Papandayan, meski baru pertama kali saya datangi, dikenal sebagai gunung wisata landai yang cocok untuk pemula, jadi seharusnya ramah bagi anak-anak sekalipun. Maka saya bingung ketika Wi dan Yu, dua orang kawan saya, menanggapi kepergian saya dengan ledekan. Wi bertanya, “Kamu mau pesugihan?”, sementara Yu minta dibawakan batu gunung atau rekaman suara gamelan.

Tim Kedua dipimpin Syam, mahasiswa eksentrik dengan celana anti-Isbal yang masih duduk di semester paling kecil di antara rombongan, membawa carrier sebesar hutang negara. Saking besarnya, sampai-sampai ketika ditanya penumpang TransJakarta waktu berangkat, dia menjawab dengan percaya diri, “Gunung Slamet.” Papandayan terlalu jinak untuk tas sebesar itu. Syam punya empat anggota, para anak BEM: Anita, Anza, Chika, dan Veony, yang lebih mahir atur pose joget Stecu Stecu daripada atur napas.

Tim Ketiga berisi campuran antara semangat muda dan lutut renta. Aziz, yang muda dan penuh harapan, dikelilingi orang-orang yang napasnya lebih berat dari tenda Canopy Dome Dhaulagiri. Ada Bu Eny, Bu Som, Kak July, dan Bang Satibi. Dengan segala cinta dan kejujuran, saya sebut mereka: Penat —Pendaki Nafas Tua.

“Yash, lu sweeper ya. Emergency kit bawa, dan HT standby,” kata saya, sambil kasih barang dan tatapan penuh harap. Selama perjalanan ia ditemani Gladwin.

“Siap, Bang!”

“Udah bisa pake HT?” saya tanya.

“Pernah, Bang.”

“Mantap!”

Saya tidak memberikan istruksi panjang lebar soal teknis penggunaan HT, karena fokus untuk segera berangkat, agar sampai camp site sebelum siang. Ditambah lagi, bokong saya sudah nyaris meledak. Antrian toilet di parkiran waktu long weekend sudah seperti antrean bansos. Saya tancap ke Pos 4, berdoa semoga WC-nya kosong. Dan syukurlah, Tuhan mendengar doa orang kebelet. Toilet kosong. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sedang khusyuk boker, suara HT masuk dari suara orang yang tidak saya kenal, bukan dari Yash. Tapi saya mendengar Yash menjawab.

Dari dalam bilik, saya refleks teriak, “Yash, itu bukan gua!”

Momen bonding paling absurd terjadi di tempat paling privat. Setelah itu, saya dan Yash mengkalibarasi ulang frekuensi, mencari yang lebih sepi kemudian set sandi: saya di depan menjadi Alfa, Yash paling belakang menjadi Zulu. Supaya tidak ada miskomunikasi lagi.

Di Pos Tujuh, kami ber-17 beristirahat dengan aman dan tertib. Kami menyebar ke berbagai arah: ada yang berteduh di bawah pohon, duduk di batu-batu besar, bersandar di kursi beton, sibuk mencari spot foto atau sekadar membuka perbekalan.

Syam membuka tasnya. Dari dalam kresek merah, ia mengeluarkan dua kilo salak. Dengan bangga, ia juga mengaku membawa dua buah semangka yang rencananya akan dibuka saat tiba di camping ground. Andai saja saat technical meeting tidak dilarang membawa alat dapur, mungkin Syam sudah  membawa blender dan aki mobil.

Kelakuan Syam, walaupun tidak diniatkan untuk lucu, tetap membuat tawa. Ia jadi sasaran empuk candaan. Semua menikmati momen, berfoto, dan belum ada yang mengeluh. Brigitte berdiri, menatap langit biru muda dengan sorot mata penuh visi.

“Spot ini cakep banget. Syam, tolong fotoin, ya!” katanya sambil menyerahkan ponsel, ekspresinya serius seperti sutradara muda.

“Oke, siap!” jawab Syam sigap. Jepretan pertama dilakukan sesuai arahan Brigitte.

“Ya ampun, Syam! Angle-nya bukan gitu! Naikin dikit, langitnya kurang dramatis. Ulang!” protes Brigitte. Sebagai adik angkatan, Syam menurut. Beberapa kali take, tapi Brigitte masih belum puas.

“Masih gak dapet feel-nya! Kenapa ya, giliran gue motoin orang bagus, giliran gue minta difotoin malah gagal terus!”

Komentar itu mulai menggoyahkan mental Syam. Pemilik akun @terkesan_pic itu mungkin mulai merasa bahwa bakat saja tidak cukup.

Saya ikut memanasi, “Sekali lagi, Syam! Jangan malu-maluin! Kalau masih jelek, hapus aja akun IG lu! Atau ganti nama jadi @tanpa_kesan.”

Tawa meledak. Brigitte juga tertawa, meski matanya tetap ke layar, mencari satu foto yang bisa menyelamatkan harinya. Syam tetap diam, entah merenung soal teknik memotret, atau mempertanyakan seluruh tujuan hidupnya di dunia digital.

Setelah setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Goberhoet. Rencananya, kami akan melakukan pendakian lintas: dari Goberhoet ke Pondok Saladah untuk bermalam, lalu esok paginya turun lewat Hutan Mati kembali ke Pos 7 dan akhirnya ke basecamp.

Saya meminta Bu Eny untuk memimpin rombongan bersama para senior. Dari semua peserta, hanya dia yang pernah mendaki Gunung Papandayan, jadi saya percaya dia tahu jalur. Saya sendiri memilih berada di belakang, sambil mengawasi anak-anak BEM yang sibuk membuat konten joget The Lion Sleeps Tonight sambil berbaris. Lagi-lagi, Syam jadi bintang utama, the Alpha of the ducks.

Saat tiba di Tanjakan Omon, saya sempat heran, kok Penat tidak kelihatan? Saya percepat langkah, mulai curiga. Tapi sesampainya di Goberhoet, tempat itu juga kosong. Penat tak terlihat sama sekali.

“Hah? Ke mana mereka? Bablas ke Saladah? Ngegas amat…” pikir saya, mencoba tetap positif. Sepanjang jalan, kami memang tidak berpapasan dengan mereka.

Namun, diam-diam saya mulai gelisah. Apa mungkin mereka secepat itu?

Sekitar dua puluh menit kemudian, misteri itu mulai terjawab. Aziz muncul lebih dulu, memikul dua keril—satu di depan, satu di belakang—miliknya dan Bu Som. Wajahnya lelah, tapi pasrah, seperti baru selesai ujian skripsi tanpa tahu hasilnya.

Di belakangnya, para pendaki senior muncul satu per satu. Napas mereka tersengal, langkah limbung, tapi tetap berusaha tersenyum. Seperti baru turun dari roller coaster: capek tapi bangga karena tidak muntah. Mereka memilih jalur alternatif yang katanya lebih cepat. Tapi yang tidak mereka sadari, “lebih cepat” sering kali berarti “lebih curam”.




Akhirnya kami tiba di Pondok Saladah dengan selamat. Cuaca selama perjalanan cerah, semangat tim terjaga, dan masih on the track sesuai rencana. Semua mulai sibuk, ada yang membantu membereskan tenda yang belum semua terpasang, memasak, menggelar sleeping bag untuk tidur atau membuat vlog.

Benar apa yang dikatakan Muhid dengan nada setengah filosofis: karakter asli manusia akan keluar saat kemping. Di tengah alam terbuka, tanpa AC, tanpa sinyal apalagi GoFood, topeng-topeng sosial mulai terbuka. Satu per satu watak sejati muncul ke permukaan, seperti game Werewolf. Ada yang tampil sebagai Villager: yang tidak punya kemampuan khusus tapi rajin, cekatan, tahu diri. Ada Seer, si sok tahu, sibuk membaca “niat tersembunyi” orang lain. Ada pula Werewolf, menghindar tiap disuruh cuci nesting kotor, tapi selalu muncul pas mie goreng jadi. Dan tentu saja, ada Hunter: terlalu semangat, ingin jadi pahlawan, tapi sering mengacaukan strategi.

Di antara mereka semua, ada satu karakter yang dari awal tampak seperti Guardian, pelindung dan penjaga para mahasiswi —Lim, dosen muda yang wajahnya seperti oppa Korea versi Kemenag, dengan gaya bicara cepat yang terdengar seperti sedang memberikan ceramah TED Talk bertema “Menemukan Tuhan Lewat Excel”. Ia adalah figur karismatik, dosen favorit para mahasiswi. Tapi bahkan karakter sekuat itu, ternyata tidak kebal terhadap hutan dan gravitasi sosial.

Di awal perjalanan ia masih kalem. Tapi semuanya mulai terlihat saat sesi foto. Saat yang lain tersenyum sopan atau membentuk hati dengan jari, Lim mengambil gaya yang tak terduga. Ia menghadap ke arah berlawanan dari kamera. Lalu berpose di balik batang pohon seperti intel gagal. Atau foto memandang edelweis, dengan ekspresi SpongeBob yang sedang bicara serius dengan ubur-ubur. Para mahasiswi terkecoh, ia yang awalnya dikira kartu Guardian ternyata Joker.

Namun puncak dari semuanya adalah ketika ia kembali dari semak-semak dengan langkah penuh kemenangan. “Saya kencing di sana,” katanya, menunjuk ke rimbun ilalang seperti sedang menandai lokasi penemuan situs sejarah. Tak cukup dengan pengumuman, ia lalu menambahkan act out yang tidak diminta: kedua tangan terangkat ke atas, mata mendongak ke langit, pinggulnya bergoyang-goyang seperti boneka dashboard rusak. Tawa pun pecah. Geger. Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan kehormatannya, bahkan ijazah S2 pun terasa tidak akan menolong.

Sebagai ketua alumni yang menggagas acara kemping lintas generasi ini, saya menyaksikan semuanya dengan hati campur aduk: setengah bahagia, setengah ingin pura-pura tak kenal. Tapi saya tahu, inilah inti dari semuanya. Sejak awal saya menekankan pentingnya kolaborasi—bukan hanya soal membagi tugas masak dan mendirikan tenda, tapi berbagi ruang untuk menjadi manusia seutuhnya: absurd, janggal, lucu, dan tak sempurna.

Di sinilah keberhasilan itu terasa nyata. Tak ada lagi sekat antara dosen dan mahasiswa, alumni dan junior, antara yang dulu dikenal kaku dan yang sekarang tau cara memasang gas di kompor portabel. Di sinilah kita menjadi manusia tanpa CV, tanpa reputasi, tanpa zoom filter. Hanya kita, dalam tawa, dalam betis pegal, dalam nasi yang terlalu lembek atau kerak yang menempel di panci liwet, dan dalam cerita yang akan kita ulangi berkali-kali. Dan sejujurnya, itulah capaian paling berharga.



Petualangan ini dimulai di pagi yang cerah, bahkan nyaris terlalu cerah untuk awal petualangan. Langit tak menyisakan sedikit pun keraguan. Tapi siang menumpahkan gerimis seperti keraguan kecil yang datang terlambat. Sore tiba dengan kabut yang turun perlahan, seperti tirai menutup panggung, menenggelamkan bayangan tubuh di jalur setapak. Lalu dini hari membuka langitnya, seolah ingin menebus semua —sunrise muncul seperti jawaban yang tak diminta, begitu indah sampai suara ngorok semalam lenyap dari ingatan.

Siangnya kembali terang, jalan setapak menuju basecamp terbentang cerah. Tapi di turunan dari Hutan Mati ke pos 7, jalur berubah wajah. Ratusan pendaki datang dengan semangat yang gaduh —FOMO, tek-tok, dan libur panjang menjelma hingar-bingar, ramai seperti pasar di hari-hari terakhir Ramadan.

“Zulu, Zulu! Di sini Alfa! Masuk!” suara saya memanggil Yash dari HT.

“Zulu, Zulu di sini! Alfa, masuk!” jawab Yash, cepat tanpa basa-basi.

“Posisi terakhir. Ganti.”

“Sudah di jalan aspal, lima menit lagi tiba di Mang Asep Basecamp.”

“Copy.”

Hujan turun saat tim terakhir tiba. Langit menutup perjalanan dengan caranya sendiri. Di dalam Elf, saat roda melindas jalan licin melewati plang-plang Burayot yang kuyup, musik karaoke mulai mengalun. Suara fals orang-orang yang berhasil kembali pulang memenuhi kendaraan.

Ini—kalau boleh jujur—adalah salah satu trip paling solid yang pernah saya ikuti. Tapi juga perjalanan yang menyisakan begitu banyak kekhawatiran, terutama untuk saya. Kekhawatiran itu menyelinap seperti hawa dingin —tanpa rupa, tapi menyusup sampai ke sum-sum tulang.

Saya sempat khawatir pada mereka yang belum sempat warming up sebelum trekking. Kram bisa saja datang tiba-tiba. Dalam kepala saya, satu kalimat berulang seperti mantra buruk: bagaimana jika satu orang saja tak bisa naik? Atau tak bisa turun? Satu orang saja. Maka seluruh rencana bisa berantakan. Dan tim, yang tadinya solid bisa berada dalam pertaruhan. Akan kami tinggalkan ia naik atau turun sendiri? Atau bertahan, menyesuaikan langkah, menangguhkan waktu pulang?

Saya khawatir hujan, bukan hanya air dari langit, tapi segala yang dibawanya: tanah licin, tubuh lembap, semangat yang melemah. Cuaca tak pernah benar-benar setia pada rencana.

Saya khawatir pada Bang Satibi yang jatuh di toilet rest area 88. Yash menyerahkan trekking pole-nya dengan cepat, dan saya merasa dua hal sekaligus: lega dan pasrah. Saya khawatir pada Bu Som yang memanggul tas terlalu besar untuk bahunya, langkahnya berat, napasnya tercekat tiap tanjakan. Saya khawatir pada Veo, lehernya terkilir di kursi Elf yang tanpa bantal leher. Saya khawatir pada Bu Eny yang mungkin diam-diam masih menahan sakit lutut seperti di Prau dulu. Tak berkata bukan berarti tak terasa. Saya khawatir pada Anita, sol sepatunya terkelupas, mungkin sepele, tapi cukup untuk membuat perjalanan panjang menjadi menjengkelkan. Saya khawatir pada Glad, jari tangannya luka kecil tapi sakitnya bisa menandakan ia mulai terinfeksi.

Di jalan pulang, saya khawatir saat kendaraan berhenti di rest area 88B. Lokasi parkir gelap, dan terlalu dekat dengan arus lalu lintas. Saya berdiri di pintu, memperhatikan satu persatu agar tidak ada yang terserempet mobil dari belakang. Tapi karena itu saya nyaris kehilangan Safa, ia tidak ada. Dalam hitungan detik, seluruh isi kepala saya dilanda kepanikan. Saya mencari ke segala arah. Sampai akhirnya saya menemukannya di antrean toilet, tenang, tak tahu bahwa saya hampir ambruk oleh cemas.

Saya khawatir kami tiba terlalu malam. Saya membayangkan mereka berdiri di trotoar kampus, tak ada ojek tersisa, tak ada kendaraan, malam terlalu larut untuk pulang, dan sebagian harus tidur di lantai ruang kelas.

Dan setelah semuanya, setelah jalanan, tanjakan, dan pulang yang panjang, saya sadar satu hal yang seharusnya sederhana: hidup itu seperti kemping. Yang bijak adalah yang membawa hal yang paling penting. Terlalu banyak logistik justru membuat langkah berat. Begitu pula pikiran, tak bisa menampung seluruh kemungkinan buruk, tak bisa dijejali semua kekhawatiran. Overthinking hanyalah cara lain menaruh batu di dalam ransel yang sudah berat.

Dan saya—saya khawatir terlalu banyak hal, sampai-sampai nyaris lupa pada satu hal yang tak bisa diulang: saya tak menghabiskan cukup waktu bersama istri dan anak saya. Mereka ada di sepanjang perjalanan, tapi kami hanya muncul dalam dua spot foto. Dua. Sisanya, saya terlalu sibuk menjadi kompas, menjadi peta, menjadi khawatir.

Lucunya, saya tak pernah terlalu peduli pada momen yang tidak diabadikan lewat kamera. Saya tak punya IG, Facebook atau TikTok. Bukan karena ingin tampil puritan, tapi karena saya sudah sampai di satu titik di mana saya melihat orang terlalu sibuk mengabadikan momen, sampai lupa merasakannya. Saya tidak ingin jadi salah satu dari mereka. Maka saya menulis. Bukan hanya untuk mengingat apa yang terjadi, tapi juga untuk menyimpan apa yang tak bisa ditangkap lensa.

Saya masih ingat sore itu, di Pondok Saladah, kabut turun seperti jubah. Dunia perlahan terhapus, menyisakan hanya langkah, niat, dan udara dingin yang masuk ke sela-sela sweater.

Saya biarkan diri diam di situ, tak tergoda mengambil hand warmer atau kamera. Lagipula, foto secanggih apa pun takkan pernah bisa menangkap utuh momen seperti ini. Gambar tak bisa menampilkan rasa dingin yang meremangkan bulu-bulu tipis di pipi, atau hembusan angin lembap yang menyelusup ke leher dengan pelan, atau basah gerimis yang menelusup ke sela-sela rambut kepala.

Video pun akan gagal menangkap harum samar tanah basah yang bercampur daun gugur dan sisa kabut yang belum turun. Aroma yang hanya bisa dihirup ketika sunyi sudah cukup dalam, ketika suara alam mendominasi lanskap.

Apa yang saya lihat, dengar, dan hirup saat itu tak satu pun bisa dipindahkan ke layar. Dan mungkin memang seharusnya begitu. Beberapa momen hanya hadir untuk ditinggali, bukan dimiliki. Karena mungkin, pada akhirnya, rasa adalah satu-satunya cendera mata yang layak dibawa pulang. Bukan pesugihan, batu, apalagi suara gamelan.



Kamis, 30 September 2021

Uang Adem

Istri saya memberikan uang kepada Safa untuk membayar sesuatu di warung tetangga. Karena siang itu panas terik, Safa protes, "Gak mau ibu. Panas!"
 
"Ya udh pake sunblock, pake payung," ibu menyarankan.

"Gak mau ah, ribed,"

"Ya udh dianterin bapak naik motor,"

"Gak mau,"

Ibu pasrah, "Ya udah taro uangnya di atas kulkas. Tunggu adem."
 
Beberapa menit kemudian, saya membuka kulkas dan kaget karena ada uang di dalam kulkas. Itu jumlah uang yang sama dengan yang diberikan istri saya ke Safa.

"Ini siapa yang naro uang di kulkas?" Tanya saya ke semua orang di ruang tengah.

"Aku." Safa menjawab pede, "Tadi disuruh ibu."

Saya berusaha sekuat tenaga menahan tawa tapi gagal. Begitu juga yang lain. Tentu kecuali Safa dan Aira.


Rabu, 21 April 2021

Pertanyaan Bulan Puasa

"Gofururrohim artinya apa, pak?" tanya Safa (8 tahun) di tengah membaca surat Al Baqarah, "kok aku sering baca ini."

"Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," kata saya cepat, "sering diulang-ulang dalam Al Quran karena itu sifat paling dominan Tuhan."

"Dominan itu apa?"

"Sifat yang paling besar, yang paling kuat, yang paling banyak. Jadi kasih sayang dan ampunan Tuhan itu mengalahkan murka-Nya."

Nada (10 tahun) yang sedari awal mendengarkan ikut bertanya, "Kalau Allah Maha Pengampun, kenapa ada neraka?"

Ini pertanyaan sulit, kata saya dalam hati. Bukan semata-mata pertanyaannya, tapi karena saya harus menjawab dengan jawaban yang paling sederhana yang bisa diterima logika Nada dan Safa.
 
“Aku tahu!” Safa coba menjawab, “pernah dikasih tau ibu.”

“Kenapa, Teh?” saya penasaran.

“Karena kalau ada orang jahat di dunia… “ Safa diam seperti berpikir, “eh aku lupa deh!”

“Mungkin gini,” kata saya meneruskan, “Kalau ada orang jahat di dunia yang bebas dari kejahatannya, akan dihukum nanti di akhirat, di neraka. Begitu, Teh?”

“Iya begitu!” Safa antusias.

“Maksudnya?” Nada bertanya.

“Ya, peradilan di dunia kan tidak sempurna, Kak. Mungkin saja ada orang yang bersalah tapi dibebaskan pengadilan karena kurang bukti. Atau ada koruptor, pembunuh atau penjahat lain yang sampai mati tidak pernah diadili. Atau yang pinjam uang tidak dikembalikan, dan yang meminjamkan tidak ikhlas. Nah di akhirat nanti orang-orang tersebut tidak bisa lepas dari pengadilan Tuhan, dan hukuman di akhirat adalah neraka.”

Nada mengangguk, seperti paham.

“Ada satu hal lagi, Kak,” kata saya kemudian, “coba kamu bayangkan kamu menyelam ke dalam laut dan berbicara sama ikan yang tidak pernah sekalipun ke daratan.”

Nada dan Safa masih mendengarkan. Mungkin membayangkan. “Kamu jelasin ke ikan itu bahwa di atas sana ada daratan. Kira-kira ikan itu ngerti gak?” tanya saya retoris.

“Ngerti aja,” kata Nada cepat.

“Kan dia belum pernah ngerasain daratan? Dia tidak tahu dan tidak punya bayangan sama sekali tentang daratan, kan semua yang dia tahu air.”

Nada terdiam, mungkin berpikir. Saya melanjutkan, “Surga dan neraka adalah makna yang saling melengkapi. Seperti pahala dan dosa. Kita tidak akan mengenal orang kaya, kalau tidak ada orang miskin. Kita tidak bisa mengenal tinggi kalau tidak ada pendek. Atau perairan dan daratan. Gelap dan terang. Azab dan ampunan.”
 
Saya kemudian menyatukan penjelasan untuk pertanyaan Safa dan Nada, “Bagaimana kita mengerti Tuhan yang Maha Pengampun kalau kita tidak mengerti ada kesalahan yang diampuni? Bagaimana kita mengenal konsep surga kalau kita tidak tahu konsep neraka?”

Saya diam, mengamati apakah penjelasan saya terlalu rumit bagi mereka atau tidak. Saya tahu ada cacat logika di sana sini yang masih bisa diperdebatkan dari penjelasan itu, tapi biarlah nanti mereka mencari sendiri setelah dewasa. Saya juga ingin melanjutkan menjelaskan konsep Keadilan dan Rahmat Tuhan, tapi sepertinya akan terlalu berat. Akhirnya saya menambahkan hal yang lebih ringan dan positif, “Kakak dan Teteh percaya Allah Maha Pengasih dan Penyayang juga Pengampun?”

“Percaya,” Nada dan Safa hampir bersamaan.
 
“Bagus. Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.” Saya memulai penjelasan yang lebih panjang, “Jadi pelajaran dari sifat-sifat Allah itu adalah kita tidak boleh sombong kepada orang lain, mengatakan bahwa mereka akan masuk neraka sambil merasa diri paling baik. Karena bisa jadi kesalahan orang lain diampuni Tuhan, tapi kesombongan bisa membuat hati kita kotor, iri, tidak bahagia, berdosa. Pelajaran lainnya adalah jangan berputus asa terhadap kasih sayang Allah, karena yang memasukan manusia ke surga bukan semata perbuatan yang manusia lakukan, tapi ampunan dan kasih sayang Allah.”

Wallahu ‘alam

Sabtu, 30 Januari 2021

Membaca dan Pelajaran Bahasa Ibu

Saya percaya bahwa tidak ada anak yang tidak suka membaca. Jika ada anak yang dianggap tidak suka membaca, atau orang tuanya mengatakan, “Ah memang bukan itu kesenangannya,” mari perhatikan kembali, mungkin ada sesuatu yang kurang tepat.

Apa yang biasa dilakukan orangtua untuk mengajari anak membaca? Memberikan pelajaran-pelajaran membaca huruf dan kalimat melalui metode-metode yang bermacam-macam. Bahkan seringkali memaksa anak dalam umur tertentu (biasanya 7 tahun) untuk harus bisa membaca. 

Apakah cara itu salah? Bisa ya, bisa tidak. Satu hal yang pasti, memaksa anak untuk mempelajari yang tidak ia suka atau ia butuhkan adalah tindakan percuma. Ada dua alasan seseorang mau belajar secara sukarela. Pertama, ia membutuhkannya. Kedua, ia menyukainya. Jika dua hal itu tidak ada, maka pembelajaran akan terasa kosong, bahkan bisa jadi tidak berguna. Mengajari anak membaca kalimat-kalimat adalah hal yang mudah. Tapi tujuannya bukan hanya membaca, melainkan menyukai membaca.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara menumbuhkan minat baca anak? Masing-masing anak punya tahap dan perjalannannya sendiri, yang sering tidak sama dengan anak-anak lain. Oleh karena itu, usaha untuk memupuk anak untuk suka membaca perlu dipelajari. Kuncinya di kesabaran pada proses. Metode, teknik, atau cara, menyusul dan berkembang sesuai dengan kemampuan anak.

Hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah membuat anak senang dengan cerita. Jika anak sudah menyukai cerita, dan pasti menyukainya, maka itu akan jadi pupuk untuk mereka menyukai membaca. Bahkan sebelum mereka benar-benar bisa membaca. Jadi bukan pelajaran membacanya yang ditekankan terlebih dulu, tapi kesenangan pada bacaan.

Jadi ketika Safa (7 tahun) belum bisa membaca dengan lancar, saya sama sekali tidak khawatir. Apalagi membandingkan dengan Nada yang dulu pada usia Safa perkembangan membacanya sangat pesat. Karena memang tujuan utamanya bukan pada bisa membaca, tapi kesenangan pada membaca. Dengan tujuan itu, menekan anak untuk bisa membaca malah bisa menyebabkan ia jadi benci membaca. Itu akan jadi tindakan yang kontra produktif. Anak akan sendirinya membaca jika ia sudah suka dengan bacaan, dalam hal ini ditumbuhkan dengan membacakan cerita.

Saya akan melebarkan pembahasan membaca dan kesenangan membaca dengan pelajaran bahasa. Di Finlandia, siswa sekolah dasar kelas satu dan dua, tiap hari mengawali kelas dengan pelajaran Modersmål atau Bahasa Ibu. Sementara untuk kelas tiga sampai enam, Modersmål selalu ditempatkan pada jam pertama setiap Senin. 

Apa yang dilakukan para guru dalam pelajaran itu? Membacakan cerita. Setelah mendengarkan cerita, murid-murid diminta melakukan aktifitas lanjutan seperti menggambar ilustrasi atau bahkan untuk anak kelas lima dan enam, anak-anak diminta membuat musik berdasarkan cerita yang dibacakan. 

Jadi pelajaran Modersmål (Bahasa Indonesia jika di Indonesia) dengan penyampaian melalui cerita merupakan pelajaran paling penting bagi anak-anak. Bayangkan, dalam 5 hari sekolah, kelas satu dan dua belajar Bahasa selama 7 jam. Untuk kelas tiga dan empat 6 jam. Sementara untuk kelas enam 5 jam.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa Finalandia, negara dengan kualitas pendidikan
terbaik di dunia menekankan pentingnya pelajaran bahasa di usia sekolah dasar?

Sederhana, karena bahasa adalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kaitan bahasa dengan pelajaran-pelajaran lain sangat erat, bahkan tanpa kecakapan berbahasa, anak-anak akan kesulitan memahami matematika. Karena manusia berpikir dengan bahasa dan bahasa membentuk pikiran seseorang. Jika anak-anak cakap berbahasa, mereka akan mampu menata pikiran, menyampaikan gagasan dan berkomunikasi dengan baik. Tujuan akhirnya, kecakapan berbahasa akan membuat transfer pengetahuan atau kegiatan pembelajaran akan semakin baik.

Kelemahan dalam pelajaran bahasa ini, dengan segala aspeknya (seperti komunikasi lisan, membaca efektif, menulis kreatif, dan literasi media) yang akhirnya menyebabkan nilai PISA (metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat global) sangat rendah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 - 15 tahun terakhir.

Di Indonesia, usaha pemerintah melalui kementrian pendidikan untuk memperbaiki hal tersebut sudah ada sejak lama. Saat ini, Ujian Nasional SD ditiadakan dan UN untuk tingkat sekolah yang lebih tinggi diganti menjadi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang berguna untuk mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa, dua kompetensi inti yang menjadi fokus tes PISA, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Perbaikan ini tentu membutuhkan proses yang mungkin akan panjang.

Mengharapkan perubahan dari institusi yang tingkat korupsinya termasuk yang paling besar, memang membuat frustasi. Namun usaha mendidik bukanlah usaha pemerintah semata. Sebagai praktisi homeschooling yang membaca nilai PISA itu, saya tergerak untuk mengingatkan kembali terutama pada diri saya untuk lebih peduli pada literasi anak. Maka dengan rendah hati, saya mengajak orang-orang yang peduli pada pendidikan anak untuk memulai gerakan membaca cerita. Dimulai dari diri sendiri, dari rumah.

Saya bahkan masih membacakan cerita atau buku untuk Nada padahal waktu itu ia sudah lancar membaca. Walaupun pada akhirnya karena tidak sabaran dan penasaran, ia akhirnya membaca sendiri. Sekarang, tidak ada yang bisa menghentikan kesenangannya membaca. Pada umur 8 tahun ia telah menamatkan 7 jilid novel Harry Potter. 

Selain menumbuhkan kesenangan pada bacaan, membuat anak-anak terbiasa paham dengan Bahasa dan segala seluk beluk Bahasa dari mulai majas, struktur, logika dan banyak hal lain tanpa harus membebani mereka dengan terori-teori kebahasaan, membacakan cerita juga bisa lebih mendekatkan anak dengan orang tua. 

Lebih dari itu, pelajaran penting lain termasuk pengembangan karakter bisa dilakukan. Saya percaya, cerita adalah alat mendidik yang paling efektif karena menarik dan bisa mempengaruhi dengan halus, tanpa berteriak atau menceramahi. Saya mendongeng untuk mengatakan bahwa orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat buruk, tapi yang menyesali perbuatan buruk dan punya keinginan untuk berubah. Saya bercerita untuk mengganti kalimat, “Membalas boleh dilakukan, namun jangan berlebihan.” atau “Tidak ada yang ingin berteman dengan pembohong.”

Saya biasanya memakai cerita Buaya, Kancil dan Kerbau untuk menumbuhkan karakter jujur. Beberapa waktu lalu, Aira (3 tahun) mengulang cerita tersebut dengan lancar. Membaca cerita sungguh kegiatan yang mudah tapi berdampak besar untuk perkembangan anak. Lagipula, tidak ada orang yang bisa menolak cerita. Milton Erickson ahli hypnosis itu pernah bilang, “Orang tidak menolak cerita. Orang bisa menolak saran atau nasihat, tetapi ia tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya."



Jumat, 03 April 2020

Merdeka Belajar dan Menghindari Bunuh Diri Masal

Beberapa bulan yang lalu, ketika pemerintah menyerukan #MerdekaBelajar, banyak orang tua dan juga guru gagal mencerna seruan itu. Jangankan untuk menerapkan, mendefinisikan belajar yang merdeka saja kebanyakan kita gagap.

Sederhananya, pendidikan yang merdeka adalah sistem belajar yang paling natural dan dipercaya yang paling berhasil untuk membuat anak belajar secara alamiah. Pemahaman disertai implementasi sistem ini tentu tidak mudah, Ki Hajar Dewantoro yang kita sebut Bapak Pendidikan Nasional saja tidak berhasil meyakinkan rekan-rekan sebangsanya tentang ini bahkan ketika beliau masih hidup.

Kebanyakan kita ragu bahkan takut tentang apakah bisa anak-anak belajar secara alamiah? Dapatkan mereka belajar secara sukarela tanpa paksaan? Dapatkah mereka belajar karena memang mereka butuh dan menyukainya?

Kita memang cenderung takut dengan hal-hal yang tidak kita pahami. Awalnya saya juga takut dan ragu, namun akhirnya takjub sendiri dengan kemampuan anak-anak yang belajar secara merdeka. Syaratnya mereka diberi kebebasan, stimulasi dan lingkungan pendidikan yang tepat. Ki Hajar mengibaratkan anak sebagai tanaman, dan para pendidik ibarat petani. Petani tidak bisa memperlakukan atau merawat tanaman padi seperti ia merawat tanaman jagung. Petani hanya memberi pupuk yang pas, merawat serta membuat lingkungan yang cocok dan nyaman sesuai jenis tanaman.

Gagasan Ki Hajar tentu sangat revolusioner pada zamannya, bahkan masih relevan sampai sekarang. Orang dewasa kadang bersikap naif dan ingin anak menguasai berbagai macam ilmu yang mereka anggap penting dan tidak jarang melupakan “jenis tanaman” apa anak tersebut. Anak hanya dianggap objek dan tidak pernah dimintai pendapat atau diamati kecenderungan naluri alami, kecerdasan dan bakatnya.

Pada prinsipnya, tidak ada anak yang tidak suka belajar. Belajar adalah naluri alami anak-anak. Orang dewasa yang membuat belajar menjadi kaku, membosankan dan tidak bermakna. Anak hanya diceramahi dan diukur keberhasilannya hanya dengan dasar bisa mengerjakan soal-soal.

#MerdekaBelajar pada saat karantina seperti sekarang menemukan momentumnya. Beberapa orang yang memahami hal ini telah melakukan jauh-jauh hari secara mandiri dengan homeschooling. Saya hanya bagian kecil dari kelompok itu. Saya tidak sedang mengajak semua orang untuk melakukan homeschooling, tapi keadaan yang membuat kita semua melakukan ini. Namun di tengah terror pandemi, kebanyakan kita kepayahan menjalankan konsep ini. Kepala sekolah menginstruksikan para guru untuk membuat segala macam tugas dan ceramah yang akan dijejalkan kepada anak-anak melalui alat-alat yang mereka baru tahu, yang menyiapkannya memakan banyak waktu dan membuat mereka tertekan. Anak-anak diangap belajar jika mereka duduk tenang, mendengarkan guru dari media-media jarak jauh itu, dan mengerjakan dengan cekatan soal-soal latihan. Anak-anak, sebagaimana kebanyakan mereka yang berbeda-beda karakter, mulai tertekan. Tuntutan orang tua kepada sekolah yang terlanjur salah kaprah semakin memperparah beban anak-anak. Orangtua juga ikut tertekan. Dan semua ini adalah cara yang ampuh untuk melakukan bunuh diri bersama.

Menurut saya tidak masuk akal jika ada yang ingin memindahkan sekolah ke rumah dengan target belajar seperti di sekolah. Tidak adil bagi guru, orangtua juga anak-anak. Dalam proses homeschooling yang sesungguhnya saja, ada masa penyesuaian yang bahkan bisa memakan waktu yang tidak sebentar. Sebab kondisi di rumah berbeda dengan sekolah, dan orang tua bukanlah guru. 

Hal awal yang fundamental yang mesti dilakukan saat ini adalah menurunkan ekspektasi. Dalam kondisi darurat seperti sekarang, kita tidak bisa mengharapkan hasil atau pola seperti kondisi normal. Mari pikirkan kembali tentang visi pendidikan, tentang hal-hal yang mesti dimiliki anak dalam hidup mereka yang masih panjang. Setelah itu, mari kita berdiskusi tentang pemahaman, strategi belajar, dan pengelolaan aktifitas belajar berbasis keluarga masing-masing.

Mengapa harus sesuai dengan konteks keluarga masing-masing? Karena itu adalah hal utama dan paling mendasar dalam melakukan homeschooling. Dimana belajar tidak bisa dipisahkan dari kehidupan keluarga, tapi disatukan dan dimanfaatkan. Jadi keberhasilah homeschooling adalah menyatukan pembelajaran anak dengan budaya dan keseharian dalam keluarga.

Mari kita berbicara pada tatanan yang lebih praktis. Memanfaatkan budaya keluarga berarti mengenali kebiasaan baik dalam keluarga dan keahlian orangtua. Orangtua yang senang mendengarkan musik, menggunakan lagu dan dan instrumen musik sebagai media belajar. Orangtua yang suka membaca, akan mudah menularkan kesukaan pada literasi atau menjadikan literasi sebagai alat belajar anak. Begitupun orang tua yang memiliki keahlian bercocok-tanam, berolahraga, menonton, menulis dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang disukai orang tua dan keluarga itu itu bisa dikembangkan menjadi kegiatan dan alat belajar dalam proses belajar anak. Itulah yang dimaksud mengintegrasikan dan tidak memisahkan antara keseharian dan kehidupan keluarga dengan proses belajar.

Anak-anak bisa belajar melalui hal-hal yang ada pada keseharian mereka, melalui hal-hal yang ada di lingkungan keluarga dan rumah. Belajar Matematika bisa menggunakan batu yang mereka temukan di halaman atau menggunakan mainan mereka. Memperhatikan belalang yang hinggap di daun, kemudian mengamati cara ia makan dan berkembang biak juga bisa dijadikan sarana untuk belajar. Bahkan mengobrol pun bisa dijadikan sarana belajar. Obrolan anak dan orangtua terhadap satu hal merupakan proses belajar dengan kualitas tinggi. Disitulah keterampilan orangtua dalam membangun percakapan yang nyaman dan produktif diuji.

Homeschooling memberikan kebebasan kepada setiap keluarga untuk mengurusi pendidikan anak-anak mereka. Karena bebas dan tidak baku, maka ada juga model homeschooling yang mencontoh sekolah formal, atau school-at-home. Namun seringkali bentuk itu tidak efektif dan rumit. Karena sejatinya homeschooling memang berbeda dengan sekolah. Jadi jangan membayangkan homeschooling berarti anak-anak harus belajar secara online. Bukan berarti saya mengharamkan belajar online, tapi hanya menyandarkan pendidikan pada hal tersebut, sehingga menganggap jika tidak melakukan itu berarti anak-anak tidak belajar, adalah sesuatu yang salah.

Untuk itu, pemahaman orang tua tentang belajar harus diperluas, dan keterampilan merawat anak-anak perlu ditingkatkan. Orangtua yang baik adalah orang tua yang belajar. Begitulah seharusnya orang tua punya kesadaran pribadi untuk mengupgrade pemahaman mereka dalam melihat belajar dan pendidikan. Saat ini sudah ada banyak cara yang bisa ditempuh, tinggal ada kemauan. 

Memperluas makna belajar berarti kita tidak lagi mengejar target kurikulum. Memperluas makna belajar berarti kita bisa melihat berbagai alternatif kegiatan belajar dan tidak memaksakan diri pada pandangan kaku bahwa belajar adalah mengerjakan mata pelajaran dan mengejar nilai ujian dan rapor. 

Anak tekun pada sesuatu atau hobi seperti membaca, menggambar, bermain sepeda dan lain-lain, juga merupakan belajar; belajar mengenal diri sendiri (learn to be). Menjawab pertanyaan dan keingintahuan anak dengan serius kemudian membuatnya menjadi project juga merupakan belajar; belajar memahami (learn to know). Anak-anak melakukan hal-hal keseharian seperti memasak, mencuci pakaian, menjahit, memperbaiki mainan yang rusak juga merupakan belajar; belajar keterampilan (learn to do). Anak-anak bermain dengan kawan-kawannya, berinteraksi dengan kakek-nenek, sepupu, keponakan dan bisa mencari solusi atas masalah-masalah sosial yang mereka hadapi juga merupakan belajar; belajar hidup bersama (learn to live together). Pada masa ketika tempat kegiatan hanya di rumah, pilihan kita untuk mencari sumber belajar memang menjadi terbatas. Namun pilihan itu bisa diperluas ketika kita memperluas pemahaman akan makna belajar.

Ketika saya menulis ini di depan laptop, Safa (7 tahun) bertanya, “Pak, kura-kura bisa segede apa?”

Saya berhenti mengetik kemudian mengajak Safa ke rak buku. Sambil menurunkan beberapa buku, saya mengajak, “Ayo kita cari di ensiklopedia.”

“Aku kan belum bisa baca?”

“Nanti bapak yang bacain. Sekarang kamu cari aja yang ada gambar kura-kura atau penyu.”

Begitulah proses belajar dimulai. Belajar melalui pertanyaan dan rasa penasaran. Saya tidak pernah menghawatirkan keterlambatan membaca Safa. Saya juga tidak pernah membandingkan Safa dengan Nada kakaknya (9 tahun) yang kemampuan membacanya pesat. Apakah karena kemampuan literasi Nada lebih bagus dari Safa berarti Nada lebih cerdas? Ya dalam satu hal, tapi keceradasan anak-anak itu bermacam-macam dan berbeda satu dengan yang lain. Mereka punya keunikan yang layak diamati dan dikembangkan. Kuncinya adalah fokus pada kelebihan dan tidak terlalu khawatir dengan kekurangan.

Pada kasus Safa, kita bisa mulai mengapresiasi kelebihannya. Inisiatif bertanya dan usaha mencaritahu sendiri di ensiklopedia adalah hal yang harus diapresiasi. Safa mengenal batasan bahwa ia belum lancar membaca itu juga hal yang bisa diapresiasi. Ia belajar mengenal batas dan kemampuan diri, tidak takut bertanya, tau bagaimana menjawab keingintahuan, menghargai kegelisahan diri dan pada akhirnya menjadiakan semua itu kegiatan belajar yang produktif. Ia membuka dan mencari informasi di ensiklopedia, menandai hal-hal penting yang menjadi tujuan, tidak terdistraksi dengan hal-hal lain, mencari kertas dan pensil untuk menggambar, mendengarkan penjelasan, kagum dengan fakta-fakta yang ada, menurut saya itu adalah proses belajar yang lebih bermakna dan akan selalu diingat. Safa menggali keingintahuannya sendiri, membutuhkan itu, menginginkan itu, bukan hanya disuapi informasi yang ia tidak inginkan. Lebih dari itu ia dilatih untuk bisa menjadi Pembelajar Mandiri.

Gambar awal. Karena sudah malam, saya mengajak meneruskan dan membuat grafis yang lebih bagus besok pagi.
Salah satu tujuan penting homeschooling adalah menyiapkan anak-anak untuk bisa menjadi Pembelajar Mandiri. Anak perlu belajar bagaimana mencari ilmu sendiri. Karena ilmu pengetahuan berkembang, orangtua cepat atau lambat akan dikalahkan anak-anak mereka dalam hal ilmu dan kemampuan. Maka penting anak-anak untuk tahu cara memenuhi hasrat keingintahuan dan belajar mereka.

Untuk menyiapkan anak-anak menjadi Pembelajar Mandiri ada dua kunci utama, budaya belajar dan keterampilan belajar (learning culture and learning skills). Masa-masa pandemi ini tidak bisa diprediksi, tapi sepertinya tidak akan tiba-tiba hilang besok pagi. Maka disaat seperti ini kita bisa mendorong anak-anak untuk bisa melakukan manjemen diri. Itu salah satu keterampilan belajar dimana anak mengenal tujuan belajar, mengeksekusi, dan melakukan refleksi atas proses dan hasilnya. Memang memakan waktu yang tidak sebentar dan instan, tapi hasilnya akan sepadan.

Melalui tulisan singkat ini, saya mengajak dan mengingatkan terutama kepada diri saya sendiri juga kepada semua orang yang peduli pada pendidikan anak, untuk melihat masa-masa di rumah ini sebagai masa-masa pembelajaran. Karena anak-anak lebih banyak belajar dari mencontoh. Mereka tidak hanya ingin mendengar nasihat kosong, mereka lebih meneladani contoh dari keseharian yang mereka alami. Pengasuhan bukanlah perlombaan mencari kebanggaan dan anak bukanlah sarana untuk memuaskan ego orangtua.

Semoga kita bisa mengasuh dan mendampingi anak agar bisa tumbuh sesuai dengan keunikan masing-masing. Semoga kita sekeluarga senantiasa diberi kesehatan.

Rabu, 29 Januari 2020

Pertanyaan Keimanan

“Sebelum ada Allah itu ada apa?” Safa bertanya beberapa saat sebelum tidur. Matanya terlihat lelah, tapi pertanyaan yang ia tujukan ke saya itu tajam dan butuh penjelasan.

Pertanyaan itu melambungkan saya pada ingatan masa kecil. Saya ingat waktu MI (Madrasah Ibtidaiyah), mungkin umur 7 atau 8 tahun, saya membayangkan suatu saat akan mati dan masuk surga. Tentu saja, karena saya anak baik, pikir saya waktu itu. Kemudian saya hidup di surga selama-lamanya. Dan tiba-tiba pertanyaan itu muncul; berapa lama selama-lamanya?

Pertanyaan itu menghantui saya kecil selama berhari-hari. Dalam tidur yang sendirian, saya menatap langit-langit yang berlubang dengan perasaan resah. Seakan-akan lubang itu ada di dalam dada. Ruang kosong yang dalam dan gelap. Tentu saya belum bisa melukiskan perasaan yang berkecamuk saat itu seperti sekarang. Jika bisa digambarkan mungkin yang berkecamuk itu seperti: seberapa lama selama-lamanya? Bukankah dunia ini sudah membosankan? Jadi buat apa keabadian? Kemudian ada apa setelah selama-lamanya? Kekosongan?

Saya berpikir sejenak menimbang jawaban untuk Safa, “Allah itu yang awal dan yang akhir. Tidak ada sesuatu sebelum Allah.”

Safa terdiam, bola matanya naik kemudian berkomentar, “Aku nggak ngerti.”

“Allah itu bukan seperti manusia yang lahir, hidup, kemudian mati. Allah itu tidak dilahirkan, Allah ada tanpa kelahiran, dan juga tidak punya akhir.”

Safa tidak bereaksi, saya kemudian meneruskan, “Lihat, jari bapak ada berapa?” saya menunjukan 5 jari.

“Ada lima.” Safa menjawab.

“Apa jari sebelum telunjuk?”

“Jempol”

“Apa jari setelah telunjuk?”

“Tengah”

“Apa jari sebelum jempol?”

“Gak ada”

“Ya, begitulah Tuhan. Tidak ada sesuatu sebelum Allah. Dan Allah adalah yang pertama tanpa permulaan. Satu-satunya. Tempat bergantung segala sesuatu. Tidak lahir dan melahirkan. Tidak ada sesuatupun seperti Allah.”

Saya menerjemahkan surat Al-Ikhlas. Tentang contoh lima jari, itu pelajaran Tauhid yang saya dapat waktu kelas 1 Tsanawiyah. Saya tidak tahu apakah Safa yang baru berumur tujuh tahun mengerti pembahasan teologi seperti ini.

Pertanyaan seperti ini juga pernah ditanyakan Nada waktu seumur Safa. Nada pernah bertanya pada ibunya, “Bu, apakah keyakinan kita benar?”

Saya percaya setiap orang yang jujur pada diri sendiri pasti akan sampai pada pertanyaan itu. Pada saya pertanyaan itu muncul ketika berumur 14 atau 15 tahun. Sekitar kelas 3 Tsanawiyah. Krisis keimanan di usia-usia itu memang sering terjadi. Pencarian akan kebenaran pada usia itu menggebu. Tapi untuk anak usia 7 tahun, saya agak terkejut.

Jika pertanyaan itu diajukan setelah Nada dewasa, mungkin saya akan mengajaknya melakukan perbandingan agama-agama. Membandingkan nabi atau pembawa agama. Membandingkan kitab suci. Membandingkan ajaran. Dan membandingkan penganut. Mungkin juga saya akan mengajak membaca The Road to Mecca – Leopold Weiss yang menginspirasi Dr. Jonathan Brown. Atau berdiskusi tentang trilogy Even Angel Ask - Jeffrey Lang, seorang atheis yang menemukan Islam lewat Al Quran. Saya tidak tahu apakah buku-buku itu masih akan relevan dengan pencariannya, atau dia akan menemukan keyakinan sendiri melalu pencarian sendiri. Saya percaya setiap zaman punya tantangan sendiri dan setiap orang punya pencarian masing-masing. Satu hal yang akan terus sama, bahwa kejujuran, kerendahhatian, usaha mencari kebenaran dan pertolongan Allah, akan membawa siapapun menemukan keyakinan yang sejati.

“Allah itu bentuknya apa?” Safa masih di atas Kasur. Matanya terlihat ngantuk tapi belum mau tidur.

“Allah itu tidak berbentuk apapun yang seperti makhluk. Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Allah.”

Safa mendengarkan. Saya melanjutkan, “Allah Maha Pengasih. Maha Penyayang. Dan Allah juga dekat. Lebih dekat dari urat leher kita. Ia Maha Mengetahui. Mengetahui apa yang lalu, yang akan datang dan apa yang terjadi saat ini bahkan yang ada di hati kita.”

Safa masih diam. Saya bertanya balik, “Menurut kamu, Allah itu bentuknya seperti apa?”

“Bulet.”

“Oke.” Saya tidak menyanggah, malah bertanya, “Allah baik ga?”

“Baik.”

“Kenapa baik?”

“Karena memberi kita makan.”

Malam itu Safa minta lampu kamar tidak dimatikan karena ia takut gelap. Ia minta lampu dimatikan nanti kalau dia sudah tidur. Saya tetap mematikan lampu tapi menemani di kasurnya. Saya memeluk Safa sampai ia tertidur. Sampai saya tertidur. Saya bangun tengah malam dengan tangan kram dan besoknya sebelah tangan saya pegal seharian.

Minggu, 18 Agustus 2019

Naturalis

Saya tidak terlalu mengerti apa kriteria penilaian sehingga selulus TK Safa diberi peringkat Kecerdasan Naturalis. Mungkin karena lebih sering dan senang bermain di luar kelas. Bahkan saya atau ibunya sering sengaja untuk terlambat menjemput Safa dari sekolah karena tahu ia tidak mau pulang buru-buru, ia senang bermain di lingkungan sekolah yang banyak pohon. Maka ketika beberapa hari yang lalu Safa dan kakaknya masuk UGD karena keracunan biji jarak, kami tidak terlalu kaget kalau ternyata Safa biang keladinya.

Dulu Safa pernah menangis tanpa alasan, hanya untuk merasakan air matanya sendiri. Ia berhenti menangis, menyeka air di sudut mata menggunakan ujung telunjuk, kemudian menjilatnya. Setelah itu ia meneruskan menangis, berhenti untuk menyeka air mata kemudian menjilatnya lagi.

Apakah Naturalis ada kaitannya dengan eksperimen dan besarnya keingintahuan? Saya tidak tahu. Yang saya mengerti adalah semua orang pernah kecil dan punya rasa ingin tahu yang berbeda-beda terhadap sesuatu. Sewaktu kecil saya sering bermain dengan biji jarak, entah untuk diadu, sebagai biji congklak, atau hal-hal lain, tapi tidak untuk dimakan. Apakah “Naturalisme” yang membuat Safa punya kesimpulan untuk memasukan benda seperti kotoran tikus itu ke dalam mulut?

Sebagai orang tua saya hanya khawatir ketika besar ia akan menjadi pawang hewan, keluar masuk hutan dan mati dimakan buaya. Istri saya punya kehawatiran lain, karena Safa santai dan tidak menurut waktu pertama kali disuruh berhenti memakan biji beracun itu, mungkin ia khawatir kalau Safa kelak menjadi Charles Darwin. Oke itu berlebihan.

Setiap anak punya keunikan masing-masing, kecerdasan yang berbeda-beda. Terkadang kompleks dan butuh seumur hidup untuk orang tua sadar dan mensyukuri anugerah itu.

#homeschoolingsafa #portofoliosafa

Sabtu, 17 Agustus 2019

Cerita Nada dan Safa

August 20, 2017

Bendera merah putih kami hilang. Saya dan istri sudah mencari kemana-mana bahkan sejak sebelum bulan Agustus, tapi nihil. Bendera di bulan kemerdekaan sangat penting di pasang di setiap rumah, istri saya bilang supaya kami tidak disangka komunis.

“Komunis itu apa pak?” Safa bertanya.

“Komunis itu hantu.” Saya menjawab seenaknya.

Safa yang mulai kritis kembali mencecar pertanyaan. Saya menjawab dengan istilah-istilah yang semakin tidak ia pahami; separatisme, hedonisme, arbirtrase internasional. Safa yang sadar akan keruwetan bapaknya hanya garuk-garuk kepala dan kembali main sepeda.

Dua hari sebelum 17 Agustus, bendera masih tidak ditemukan, istri saya akhirnya membeli bendera baru. Tentu warnanya merah dan putih, mau yang mana lagi? Tapi ternyata Safa tidak terlalu senang, ia bilang, “Aku maunya bendera warna-warni!”

Sebagai bapak yang bijak, saya menepuk halus pundaknya dan kami berdiskusi panjang tentang arti hidup dan hal-hal lain, pokoknya sampai ia lupa tentang bendera.


June 24, 2017

Respon anak-anak sehabis dikasih angpau lebaran:

Nada (7th): Trimakasih

Bee (5th): Ih, uang isinya

Safa (5th): Bu, ini emang uang beneran?


April 11, 2017

Safa: Bapak, dedek mau jadi dokter spesialis kandungan.

Saya: Iya, kamu boleh jadi apa aja yang kamu mau.

Safa: Boleh beli es krim?

Saya: Nggak!


April 11, 2017

Saya sedang buru-buru ingin pergi dan mencari dompet yang sebelumnya diletakan di atas meja.

“Dompet dimana ya?” kata saya ke seisi rumah.

“Dedek tau.” Safa menjawab, “Ayo ikut!” katanya sambil memberi gestur tangan minta diikuti.

Saya berjalan di belakangnya menuju tempat mainan. Ah, dompet saya dibuat mainan, pikir saya kemudian. Bersiap-siap memberi khutbah tentang meminta ijin sebelum menggunakan barang orang lain, mentaati orang tua dan tentang Malin Kundang.

Belum sempat saya ceramahi, dia bilang, “Ini dia!” sambil ngasih dompet kertas buatannya.

Saya mau sewot, tetapi ketawa.


April 10, 2017

Nada: Bapak tau gak nama neneknya Akila? Kakak tau!

Saya: Nggak.

Nada: Huruf awalnya B.

Saya: Bunga?

Nada: Salah.

Saya: Burahan. Badu. Budi.

Nada: Salah. Salah. Salah. Nyerah gak?

Saya: Nyerah.

Nada: Bu Endang!


September 6, 2016

“Kok Allah Maha Tahu?” Tanya Safa saat saya menyuapi makan.

Saya tahu itu pertanyaan pengalihan isu.

Anak-anak adalah makhluk yang bisa menelan apapun ke dalam temboloknya selain sayur. Memang nggak semua anak, tapi Safa adalah juaranya.

Kalau saya sedang nggak banyak kerjaan, biasanya saya tunggu ia mengunyah habis makanan yang sudah ada di dalam mulut. Tapi lebih sering, karena kurang sabar dan lapar, saya memakan semua sayur yang ada di piring.

Karena saya tahu itu pertanyaan iseng, maka saya diam.

Akhirnya Safa membuat kesimpulan, “Supaya bisa jagain kita ya?”

Saya manggut-manggut.

Saya takjub dengan keahliannya menahan makanan di dalam mulut, di ujung mulut lebih tepatnya.

“Kenapa sih nggak dimasukin ke tengah mulut makanannya?” Tanya istri saya ke Safa.

“Nanti ketelen.” Jawab Safa.

Allah Kariim.


September 4, 2016

Di kursi panjang sedang duduk dua orang tamu. Mereka sedang berbincang-bincang ketika Nada dengan suara lirih berbisik ke ibunya, “Kok bau kentut ya, bu?”

Serta merta Nada mencurigai Safa yang juga berada di ruangan itu, “Dedek kentut ya? Kan malu ada tamu."

“Ya udah jangan berisik.” Kata Safa dengan suara yang sama lirih, “dihirup aja nih kayak gini, biar cepet ilang.”

Safa menghisap nafas panjang.


September 3, 2016
Nada dan Safa sedang menggambar pemandangan dalam laut.

"Kok ikan ada pusernya? kata Safa ke kakaknya.

"Iya, ini putri duyung." Nada menjelaskan.

"Dede juga mau tambahin puser ah." Safa membuat bulatan kecil pada gambar yang ia buat.

Nada yang merasa aneh dengan gambar itu berkomentar, "Kok ikan paus ada pusernya?"

Dengan yakin Safa bilang, "Iyalah! Kan lagi telanjang!"


August 2, 2016

Bagi anak-anak, menangis tidak serta merta menandakan kesedihan, bisa juga keingintahuan.

Safa punya kebiasaan unik akhir-akhir ini; menangis hampir tanpa alasan. Sebenarnya ada; untuk merasakan air matanya sendiri.

Ia berhenti menangis, menyeka air di sudut mata menggunakan ujung telunjuk, kemudian menjilatnya. Setelah itu ia meneruskan menangis, berhenti untuk menyeka air mata kemudian menjilatnya lagi.

Kegiatan impulsif ini mengingatkan saya pada perkataan Dr. Seuss, “Don't cry because it's over, cry because it can be tasted.”

Kira-kira seperti itulah.


July 23, 2016

“Mungkin rusanya lagi pada lebaran.” Kata istri saya ke Safa dan Nada, ketika kami melewati taman yang biasanya ramai oleh rusa. Nada mungkin sudah mengerti guyonan ibunya, tapi Safa, saya nggak yakin.

Pagi itu Safa ikut salat Ied dan itu kali pertama ia ikut salat hari raya. Pagi-pagi benar ia sudah dibangunkan, dan sambil dipakaikan gaun baru, ibunya bilang, “Ini hari lebaran.”

Begitulah yang ia pahami kemudian, bahwa lebaran adalah salat ied dan salat ied adalah lebaran. Sesederhana itu. Maka ketika ibunya bilang bahwa para rusa mungkin sedang lebaran, ia menanggapinya dengan sangat serius.

“Memang rusa bisa berdiri?” kata Safa, “Nanti solatnya gimana?”

Butuh beberapa detik untuk saya berpikir dan akhirnya terbahak.

Sejak saat itu, salat di masjid tidak lagi sama. Setiap tasyahud akhir dan salam, saya selalu khawatir di samping saya telah duduk seekor rusa.


July 21, 2016

Saya dan Safa pergi ke minimarket untuk beli eskrim, dengan uang lebaran Safa. Di pintu kaca masuk minimarket, Safa menunjuk beberapa gambar, sambil bilang, “Ini helem dicoret. Ini foto dicoret.”

Sedikit bingung dengan satu buah gambar lagi, ia bertanya, “Ini apa, Pak? Kok gak dicoret?”

“Itu CCTV.”

“CTV itu apa?”

“Kamera. Tuh liat, di atas sana kameranya.” Kata saya menunjuk benda bulat di langit-langit, “Ayo kita dadah ke kamera.”

Kami dadah ke kamera.

“Kamera itu untuk memantau. Memperhatikan orang. Salah satunya supaya kalau ada yang mencuri ketahuan.” Saya menambah penjelasan.

Hari berikutnya, ketika pergi ke minimarket yang berbeda, sambil menunggu saya mengantri di kasir, dengan pede Safa menjelaskan hal serupa kepada Nada, kakaknya, “Ini gak boleh peke helem. Ini gak boleh foto.”

Ada satu gambar lagi yang ternyata tidak ia lihat sebelumnya, jaket dan tas dicoret. Masih dengan kepedean tingkat dewa, ia lantang bilang, “Ini gak boleh pake baju.”

Sedetik kemudian dia sadar ada yang nggak beres.

“Eh, bukan deh.” Katanya kemudian.

Tapi terlambat.

Gerombolan anak laki-laki, mungkin SD, yang sedang memperhatikan mereka sudah cekikikan.

Saya segera menggendong Safa keluar, takut ia benar-benar buka baju untuk menjaga harga diri.


July 12, 2016

Beberapa kejailan dan komentar Safa (4 tahun) yang masih bisa saya ingat.

Malam itu lampu kamar sudah dipadamkan. Nada, Safa dan istri saya bersiap tidur. Nada minta diantar ke kamar mandi untuk pipis. Istri saya bilang, biasanya kakak berani, ayo sana sendiri. Nada tetap merengek minta diantar, sementara ibunya tetap membujuk dia untuk berani.

“Ayo kak, dedek anterin.” Suara Safa antusias. Biasanya ia tulus mau menemani kakaknya, disamping juga memanfaatkan kesempatan keluar kamar untuk mengulur-ngulur waktu tidur.

Suasana baik-baik saja sampai tiba-tiba Nada berteriak menangis dari dalam kamar mandi disusul suara cekikikan Safa.

Ibunya melompat dari tempat tidur ingin melihat keadaan dan mendapati Safa berdiri di depan kamar mandi, telah mematikan lampu kamar mandi dari luar.

Ibunya marah. Safa tetap cekikikan.

*

Pada malam yang lain, saya kebagian menemani Nada dan Safa di tempat tidur, sementara ibunya sedang di luar kamar untuk satu urusan. Lampu sudah dipadamkan. Tiba-tiba Safa keluar kamar menghampiri ibunya.

Ketika masuk ke dalam kamar, ia bilang, “Kakak, dedek dikasih obat dong sama ibu!”

Kakaknya keluar kamar.

“Ibu kakak juga mau minum obat!” Nada menganggap yang dimaksud obat oleh Safa adalah multivitamin yang biasanya mereka minum. Tapi dia salah.

“Kakak mau minum Trombopop?” kata ibunya. Trombopop adalah obat oles untuk meredakan bengkak, memar, atau lebam. Beberapa menit sebelumnya Safa memang kejedot tembok.

Nada masuk kamar dengan wajah kesal dikerjai.

Safa cekikikan. Saya ikut cekikikan.

*

Di hari yang lain, Nada minta dijelaskan tentang robot. Saya menjelaskan dengan mudah, “Robot itu mesin yang bisa membantu manusia, bisa yang masih diawasi manusia atau yang bekerja sendiri. Jadi kipas angin itu robot, kulkas itu robot, ricecooker itu robot. Apa lagi?”

“Jam.” Nada menjawab.

“Betul.”

“Radio.” Nada lagi.

“Betul.”

“Motor.”

“Iya.”

Tiba-tiba Safa menyela, “Cing Titis!”

Saya dan Nada saling berpandangan sambil mengernyitkan dahi.

“Apasih dedek. Masa Cing Titis robot?” Nada berkomentar.

Safa tetap nggak ngerti apa kesalahnnya.

Rabu, 17 April 2019

Nyoblos

Kemarin pagi, saya mengantar Safa sekolah.
"Hari ini masuk, besok libur deh." Kata Safa senang.
"Besok libur kenapa, teh?" Tanya saya.
"Karna mau nyoblos!" Safa bersemangat. Yakin.
"Nyoboos itu apa?"
"Iiihhh, nyoblos! Masa bapak gak tau!" Safa memasang muka heran, seakan-akan saya manusia goa yang tidak tau peradaban.
"Bapak tau. Cuma mau ngetes kamu aja. Emang nyoblos apa?"
"Eeee." Safa berpikir sejenak, "nggak tau!"
Dasar anak manusia goa!


Sore ini, sepulang kerja, saya bertanya hal yang sama, "Jadi udah tau nyoblos itu apa, teh?"
"Nyoblos itu memilih Jokowi!" Safa masih menjawab yakin. Itu kualitas yang hanya bisa ditandingi Aira, adiknya yang berumur 20 bulan.
"Bukannya memilih presiden?" Saya menggoyahkan keyakinannya.
"Eh, iya ding."

Sore itu ditutup dengan Safa melahap spageti dengan kecap. Enak kayak mie goreng, katanya.

Sabtu, 16 Desember 2017

Festival Dongeng Internasional 2017

Minggu pagi itu saya tidak berencana pergi kemanapun, sampai istri saya menyarankan untuk mengajak anak-anak ke sebuah acara di Perpustakaan Nasional RI.

Harusnya hari itu kami menjenguk seorang kawan yang baru selesai operasi, tapi karena istri saya radang ternggorokan, rencana itu batal. Saya sedang leyeh-leyeh di kasur ketika istri saya memberitahu bahwa ada Festival Dongeng Internasional di Jakarta.

“Ajak anak-anak ke sana gih, Bang!” ia menyarankan.

“Sekarang?”

“Iya. Ini hari terakhir.”

Setelah menimbang beberapa alat transportasi, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan ojek dan kereta. Pukul 09:00 pagi, bekal makan siang disiapkan. Untuk orang yang bepergian tanpa membawa anak, perjalanan mendadak apalagi hanya ke Jakarta dari Bekasi adalah hal yang bisa dilakukan sambil juggling. Namun tidak begitu pergi dengan dua anak kecil. Bersama anak-anak, kejadian sederhana seperti menyiapkan bekal – memakai baju – menyiapkan kendaraan – pergi – sampai tujuan – bersenang-senang akan menjadi kegiatan yang membangkitkan keinginan masa lalu untuk melakukan vasektomi.

Hari itu kebetulan saya dan keluarga menginap di tempat Mamah —panggilan saya untuk mertua, jadi saya membawa anak-anak pulang untuk mengambil baju dan sepatu. Semua yang harus saya ambil di rumah saya catat di HP. Kartu Multitrip KAI, tiket langganan KRL Jabodetabek, menjadi barang yang saya catat paling awal. Sesampai di rumah, kegaduhan dimulai.

Nada: Pak, tolong kancingin baju dong!

Saya: Bentar ya, bapak lagi ngorder ojek dulu. Dari tadi gak bisa-bisa nih.

Safa: Aku pake rok ini aja ya, pak?

Saya: Jangan. Pake celana panjang aja biar gampang.

Safa: Pak, kakak mukul aku tuh.

Saya: Jangan berantem dong. Kita kan mau pergi.

Nada: Ih siapa yang mukul? Kamu tuh yang mukul.

Safa: Kamu!

Nada: Kamu!

Safa: Kamu!

Nada: Kamu!

Safa: Kamu!

Nada: Kamu!

Kepala saya pecah.

Safa merajuk ingin dilayani. Nada bersikap seperti kakak yang tegas bahkan sedikit kejam. Saya sedang mengisi air minum di botol ketika istri saya mengirim pesan bahwa telur yang saya goreng lupa dimasukan ke dalam kantung bekal.

Setelah beberapa keributan itu, akhirnya saya dapat sinyal dan bisa memesan ojek. Di tengah jalan menuju stasiun, saya ingat kalau Kartu Multitrip kereta tertinggal di rumah. Bodoh! Saya mengutuk diri sendiri.

Stasiun Bekasi Timur Minggu pagi itu sepi. Saya membeli tiket dan menunggu kereta. 10 menit menunggu, kereta datang. Kami menelusuri gerbong kereta yang lebih lenggang tapi sia-sia. Semua gerbong penuh sumpek berisi manusia-manusia ikan asin. Pihak stasiun mengumumkan melalui pengeras suara untuk tidak memaksa masuk ke dalam kereta, lebih baik menunggu kereta selanjutnya. Saya menuruti, tanpa saran itupun, secara naluri tidak mungkin saya mengajak anak-anak masuk ke dalam kereta yang berjubel Prajurit Spartan.

Saya bertanya kepada keamanan stasiun, dijawab bahwa kereta selanjutnya akan datang satu jam lagi. Saat itu, jam di tangan menunjukan pukul 11:40.

Saya memandangi anak-anak, “Keretanya penuh. Kita naik kereta yang selanjutnya aja ya? Satu jam lagi. Bagaimana menurut kalian?”

Nada yang sudah mengerti tentang jam mengangguk, “Iya. Gak papa.”

Safa sepertinya clueless dan tidak menjawab apapun.

“Gimana kalau kita buka bekal kita di sini?” saran saya ke anak-anak.

Istri saya, begitu tahu harus menunggu satu jam untuk kereta selanjurnya, misuh-misuh di WA. Saya mematikan paket data.

Setelah menghabiskan bekal makan siang dan membunuh waktu sambil bermain tebak-tebakan, kereta datang. Pukul 13:15 kami masuk ke gerbong. Anak-anak masih terlihat excited dan senang, saya berhasil menjaga mood mereka. Itu yang paling penting, yang lainnnya bisa diatur.

Pukul 14:15 tiba di St. Pasar Senen setelah sebelumnya transit di St. Jatinegara. Segera saya memesan ojek untuk menuju lokasi. 15 menit kemudian kami sampai di Perpustakaan Nasional Ri di Jl. Salemba Raya. Tanpa bertanya ke satpam yang tidak jauh dari gerbang, saya mengajak anak-anak masuk ke gedung perpustakaan yang jaraknya sekitar 100 meter dari gerbang utama. Sepanjang jalan ke gedung, saya mencari petunjuk yang semestinya ada, tapi nihil. Agak aneh untuk acara internasional. Sesampainya di depan pintu gedung perpustakaan, pintu tertutup rapat. Saya baru sadar kalau salah tempat setelah kembali lagi ke gerbang utama dan bertanya ke satpam. Ternyata lokasi acara tersebut di Jalan Medan Merdeka Selatan, tepat di sebelah Balai Kota DKI. Oh, kebodohan macam apa lagi ini.

Acara dijadwalkan berlangsung dari pukul 08:30 sampai dengan 17:00 dan kami baru tiba pukul 15:00. Enam jam waktu yang saya habiskan dalam perjalanan, meladeni buruknya sinyal, kegaduhan bersama anak-anak dan kebodohan yang saya buat sendiri. Dengan waktu yang sama menggunakan pesawat, kami tentu sudah mendarat di Raja Ampat.

Kami sudah sangat terlambat, tapi acara kolaborasi dongeng internasional, dimana menampilkan seluruh pendongeng internasional yang hadir dalam festival itu, baru akan dimulai. Dibuka oleh Kak Aio sang Direktur Festival Dongeng Indonesia, ia mendongeng tentang monyet dan kelinci, yang inti kisahnya adalah tentang menghormati perbedaan. Dilanjutkan oleh Hori Yoshimi & J2net dari Jepang yang mencoba bercerita menggunakan bahasa Indonesia, cerita Doraemon, memperkenalkan karakter Doraemon, anak-anak senang terutama ketika mereka diajak bernyanyi lagu Doraemon versi Indonesia. Arthi Anand Navaneeth dari India melanjutkan dengan cerita tentang seekor gajah bernama Gajapati Gulapati yang terkena flu. Tanya Batt dari Selandia Baru bercerita tentang Kue Jahe yang dikejar-kejar banyak makhluk untuk dimakan, yang unik adalah ia mendongeng dengan menggunakan lagu, sambil bernyanyi, atau nge-rap. Seung Ah Kim dari Korea Selatan bercerita tentang bayi yang suka menangis dan harimau, yang pada akhir cerita ia kaitkan dengan awal mula ia senang mendongeng. Uncle Fat dari Taiwan selanjutnya bercerita tentang gadis kecil yang cantik dan melon, ia mengajak semua pengunjung berinteraksi dengan ceritanya, setiap kali ia bercerita, beberapa bagian penonton bersorak. Dan yang terakhir, Craig Jenkins dari Inggris Raya, bercerita tentang Raja Mustache, ia yang paling lucu dari semua pendongeng, penonton sangat terhibur. Ada seorang pendongeng yang tidak ikut sesi dongeng kolaborasi tersebut; Kiran Shah dari Singapura.

16:30 acara selesai dilanjutkan dengan sesi foto. 17:40 kami pulang. Kami beruntung, karena dari waktu yang sangat singkat itu bisa mendengarkan hampir seluruh pendongeng internasional yang hadir.

Ada hal yang lebih menyenangkan untuk saya; melihat anak-anak menikmati semua dongeng yang mereka dengarkan. Di dalam kendaraan pulang, anak-anak antusias mendengarkan saya mengulang semua cerita.

“Gimana? Apa kalian senang dengan acara tadi?” saya bertanya kepada Nada dan Safa.

“Senang!” mereka menjawab hampir bersamaan.

“Cerita apa yang paling kalian suka?”

“Emm.. Gajapati Gulapati.” Kata Nada.

“Kalo aku, Raja Mustache sama bayi yang suka nangis.” Safa memilih dua.

“Eh, aku juga suka Raja Mustache deh. Sama lagu Doraemon.” Nada menambahkan.

Saya percaya, dongeng adalah alat mendidik yang paling efektif karena menarik dan bisa mempengaruhi dengan halus, tanpa berteriak atau menceramahi. Saya mendongeng untuk mengatakan bahwa orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat buruk, tapi yang menyesali perbuatan buruk dan punya keinginan untuk berubah. Saya bercerita untuk mengganti kalimat, “Membalas boleh dilakukan, namun jangan berlebihan.” atau “Tidak ada yang ingin berteman dengan pembohong.”

Dengan dongeng saya tidak perlu memberatkan diri untuk menyampaikan moral of the story; pelajaran yang dapat diambil dari sebuah cerita, karena anak-anak dengan sendirinya memahami. Bahkan mereka mengerti tentang ironi dan sinisme dalam cerita. Di atas itu semua, dongeng yang baik selalu punya cara untuk mengendap di benak setiap orang. Setiap anak.

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” - Albert Einstein


Kamis, 27 Juli 2017

Aira Fatimatuzzahra; Sebuah Nama untuk Dua Orang Nenek

Saya hanya tertawa ketika Safa (4 th), menyebut cabang bayi dalam kandungan ibunya sebagai Anak Baru.

Saya membayangkan Safa jadi pemeran antagonis di sinetron ABG labil RCTI. Dengan tampang sengak, dia akan merundung si Anak Baru, “Oh, jadi elo anak baru dari perut ibu?! Jangan sok kecentilan loe ye. Pokoknya ibu itu cuma sayang sama gueh, eloh nyusu air tajin dan tidur di kotak bayi ajaah,”

Sadis.

Nada (6 th), ketika pertama kali diberitahu akan punya adik lagi juga bertingkah lucu. Malam itu, di dalam kamar sebelum tidur, dia merespon kabar itu dengan mata berbinar dan senyum lebar, “Beneran, Bu?”

“Iya,” ibunya menjawab singkat.

Nada diam sebentar. Seperti berpikir. Tersenyum. Sedetik kemudian dia bertanya lagi, “Beneran, Bu?”

Lagi-lagi ibunya menjawab ya.

“Bayinya sekarang dimana?” Nada bertanya.

“Ada di dalam perut ibu,”

Nada kembali diam, senyum, dan bertanya lagi, “Beneran, Bu?”

Pertanyaan itu diulang beberapa kali. Sambil senyumnya makin merekah.
Jika saja kejadian itu direkam dan diunggah ke medsos, pasti akan viral bahkan sampai ditonton para Lemur di pedalaman Madagaskar.

Saya juga masih ingat ketika Nada dan Safa lahir. Saya masih bisa merasakan debaran ketika menunggu mereka di ruang tunggu Rumah Sakit. Ketika melihat mereka untuk pertama kali, rasanya seperti bertemu seseorang pada first blind date, dan orang yang kamu temui melebihi segala ekspektasimu. Rasanya hyjtwxcvbghtszmlqwpxfghtr. Ya, seperti itu.

Nada lahir 7 tahun yang lalu di RSUD Bekasi, yang ceritanya saya abadikan dalam Di Bawah Bendera Sarung. Sementara Safa lahir 2 tahun setelahnya. Pagi itu pukul 9. Istri saya dibawa masuk ke ruang operasi untuk di-Cesar. Saya menunggu di ruang tunggu sambil memperhatikan seorang ibu yang menggendong bayi kembar. Di kakinya gelendotan seorang anak laki-laki yang mungkin usianya 4-5 tahun. Meminta perhatian lebih dari ibunya yang sedang kerepotan menggendong dua bayi.

“Iya, nanti kalau sudah sampai rumah ya,” kata ibu tiga balita itu, “Kalau di sini mana ada yang jual?”

Anak yang dibujuk tetap merengek. Ibunya tetap sabar.

Saya membayangkan berada di posisi ibu itu. Tiga anak. Masih kecil-kecil. Semuanya minta diperhatikan. Pasti repot sekali. Seketika nyali saya ciut.

“Kembar ya, bu?” saya berbasa-basi ketika rengekan anaknya mereda.

“Iya, kembar tiga,” sang ibu menjawab sambil senyum, “yang satu ditinggal di rumah sama neneknya,”

Saya semakin ciut.

Alhamdulillah, putri ke tiga saya telah lahir. Kelahiran ini —sebagaimana setiap kelahiran anak-anak sebelumnya, membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Kami memanggilnya Aira Fatimatuzzahra, meminjam nama kedua neneknya dengan harapan nama itu membawa keberkahan dalam hidupnya. Karena rida dan kasih sayang mereka adalah hal yang selalu kami harapkan. Semoga Allah mengampuni dosa kedua orang tua kami dan selalu menjaga dan menyayangi mereka.

Akhirnya, hanya kepada Allah kami memohon pertolongan dan kekuatan. Meminta ampunan atas segala kesombongan dan keangkuhan.

Wahai Tuhan Maha Pemberi Petunjuk, Berikanlah pada hati kami kelapangan, keterbukaan untuk menerima segala kebaikan. Kuatkanlah kami untuk terus menemukan inspirasi untuk dapat mewujudkan segala keinginan kami.

Wahai Allah Yang Maha Sempurna, lengkapilah usaha kami yang selalu tidak pernah paripurna.
Wahai Allah yang Maha Pememberi Kesejahteraan, Anugrahkanlah kepada kami kemampuan untuk berbahagia dengan kebahagian orang lain. Jadikanlah kami jiwa-jiwa yang kaya dan berikanlah kami kemampuan menjadi kaya tanpa mengalahkan.

Wahai Allah Pemilik Masa Depan, cukupilah masa depan kami. Cukupilah kami yang tak punya penghasilan tetap, karena yang tetap hanya pemberian-Mu.

Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun, maafkanlah segala dosaku dan keluargaku, ampunilah segala kehilafan kami yang tak kunjung selesai.

Wahai Allah yang Maha Penyayang, Jadikanlah kami dan anak keturunan kami orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ilhamkan kepada kami untuk tetap mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugrahkan kepada kami dan kepada anak keturunan kami. Sungguh kami bertaubat kepada-Mu dan sungguh kami adalah termasuk golongan yang berserah diri.

Sabtu, 23 Juli 2016

Kancil, Perundungan dan Belajar Menjadi Orangtua

Satu hari tantrum Safa kambuh. Ia berteriak sambil menangis minta mandi di halaman depan. Dengan Nada, Saya sudah pernah menghadapi tantrum sejenis ini, jadi saya punya pengalaman untuk mengatasinya.

Saya dekati Safa kemudian berbisik di telinganya, “Safa dengarkan bapak. Mari kita buat semuanya jelas. Bapak akan mendengarkan Safa selama Safa mau mendengarkan bapak.”

Safa berhenti menangis.

“Kita kerjasama.” Kata saya kemudian, “Safa bisa diajak kerjasama?”

Dia mengangguk.

Saya membolehkannya mandi di halaman depan, seperti kemauannya. Sambil menyaratkan, “Kalau bapak bilang sudah, kita sepakat untuk berhenti. Oke?”

“Oke.” Ia menjawab jelas.

Setelah waktunya cukup, saya minta Safa untuk handukan. Dia sudah mendekat untuk dihanduki tapi kemudian mengejek saya dan berlari kembali ke halaman depan.

Saya tidak kaget dengan kelakuan itu.

Nada pernah melakukan hal yang lebih parah. Ia menangis sambil berteriak di depan sebuah mal besar di Jakarta. Hari itu kami pulang dari menghadiri sebuah acara di sana, dan sedang menunggu kendaraan yang akan menjemput. Saya dan istri sudah lelah, begitu juga Nada. Ia mungkin hanya ingin mencari perhatian, dan berhasil menarik perhatian kami, bahkan perhatian semua pengunjung mal dan para satpam.

Kabar baiknya, itulah tantrum terakhir Nada. Sudah hampir lima bulan sejak peristiwa itu dan sampai sekarang, ia tidak pernah melakukannya lagi. Saya tahu Nada sangat menyesal dengan kejadian itu. Sampai sekarang, ia tidak lagi berteriak untuk meminta apapun.

Banyak orang tua yang tidak sabar dan melakukan jalan pintas dengan membentak bahkan memukul. Saya dan istri tidak pernah memukul anak kami. Dan tentu kami tidak akan membiarkan orang dewasa manapun melakukannya dengan sengaja, dengan alasan apapun. Walaupun begitu kami bukan orang tua yang sempurna. Pertama kali tantrum, saya pernah membentak Nada. Itu meredakannya untuk sesaat, dan membuat saya menyesal untuk selama-lamanya.

Zaman telah berubah. Cara mendidik juga berubah. Ilmu pengetahuan berkembang, begitu juga ilmu pengetahuan tentang mendidik anak. Kita tidak bisa hidup dengan terus meyakini bahwa bumi ini datar seperti piring, ketika banyak bukti menyatakan bahwa bumi ini bulat. Membentak, memukul, mempermalukan, melecehkan, merundung adalah cara mendidik yang seharusnya ditinggalkan.

Banyak orang yang kemudian bernostalgia tentang masa kecil mereka yang diperlakukan kasar oleh orang tua juga oleh guru di sekolah, dan ternyata sekarang mereka hidup baik-baik saja, bahkan sukses. Jika demikian, kekerasan pada anak tidaklah masalah.

Apakah memang begitu?

Saya tidak bisa menjawabnya dengan hitam-putih, karena manusia adalah mahluk yang kompleks. Namun, penelitian membuktikan bahwa usia anak-anak adalah usia dimana trauma ditanam. Seiring bergulirnya waktu, memang ada anak-anak yang bisa terlepas dari trauma tersebut saat dewasa, tapi juga ada anak-anak yang tidak. Penelitian membuktikan bahwa kekerasan pada anak akan menimbulkan luka psikologis yang berkepanjangan.

Karena tidak tahu anak yang mana yang bisa bertahan dan anak yang mana yang tidak, maka sebaiknya mendidik dengan cara kekerasan pada anak-anak ditiadakan. Mengikuti Qowaidul Fiqh; Ad-Dhararu Yuzalu, kemudharatan/kerugian itu harus dihilangkan. Lagipula, “balas dendam” untuk memperlakukan kasar anak karena pernah diperlakukan kasar adalah sejenis lingkaran setan yang harus diputus.

Menanggapi kasus guru yang melakukan kekerasan kepada muridnya, pendapat kita kemudian terbelah. Pro dan kontra. Saya pribadi tidak akan terima jika ada guru yang memukul anak saya. Namun saya juga tidak akan melaporkannya langsung ke kantor polisi, karena saya tahu di sekolah, juga di website Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, ada cara untuk melaporkan tindakan pelanggaran seperti itu.

Melaporkan tindakan guru tersebut langsung ke pihak berwajib menandakan orang tua ingin lepas tangan dari pendidikan anak, dari keterlibatan di sekolah, dari komite orang tua di sekolah. Kita tentu tidak mau jika nanti anak kita ketahuan berbuat kriminal di sekolah seperti mencuri, sekolah tidak memanggil orang tua tapi langsung melaporkan ke kantor polisi (saya akui analogi ini tidak apple to apple).

Di lain pihak, membela guru tersebut dengan membabi buta adalah juga tindakan yang berlebihan. Ditambah lagi kekalapan dengan melakukan cyber bullying (bahkan oleh media nasional) kepada si anak, dengan menyebar foto meme si anak yang sedang merokok. Atau menyebarkan berita fitnah tentang tidak diterimanya anak itu di beberapa sekolah.

Melakukan kekerasan kepada murid adalah pelanggaran. Itu yang tertulis dalam undang-undang. UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak, pasal 54 menyatakan: Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak Kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. Jadi bagaimanapun, perbuatan itu salah.

Semua anak pernah nakal. Presiden Jokowi pernah, bahkan presiden Obama sering menghisap ganja waktu muda. Saya nggak bermaksud supaya anak-anak ikut teriak “sate”, “nasi goreng”, dan nyimeng seperti Obama. Bukan, bukan itu maksudnya. Maksud saya, setiap anak punya “kancil” dalam diri mereka. Masalahnya, orang dewasalah yang menyebabkan “kancil” di diri anak-anak menjadi semakin besar dengan cara menanganinya dengan tindakan kekerasan. Anak-anak adalah peniru yang baik.

Saya sadar bahwa tidak ada orang tua atau guru yang sempurna. Sebagai orang tua, saya terkadang merasa baik, terkadang juga merasa begitu buruk. Saya beberapa kali berteriak dan membentak anak saya. Apakah saya bangga? Tidak sama sekali. Bahkan setelah amarah saya reda, saya merasa bersalah. Saya berteriak kepada anak saya dengan alasan yang sangat sepele. Saya merasa menjadi orang tua yang paling arogan.

Saya mengerti bahwa orang tua tidak boleh membentak, membanding-bandingkan, mengkritik, memukul, mengancam dan lain-lain. Seharusnya orang tua memberikan dorongan, pujian, dukungan, penerimaan, pengakuan, solusi dan lain-lain. Kita tahu, teori dan aturan-aturan mengasuh anak itu hal yang paling mudah dikatakan tapi paling sulit dilakukan. Belum lagi jika melihat latar belakang metode parenting. Antara barat atau timur, Muslim atau bukan, kota atau desa, dan lain-lain.
Ada sebagian orang tua mengangap pola asuh mereka adalah pola asuh yang terbaik, sambil menganggap pola asuh selainnya tidak lebih baik. Kita menilai diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan mitos orang tua sempurna yang padahal tidak pernah ada.

Tidak ada orang tua yang sempurna, yang ada adalah orang tua yang terus belajar. Belajar untuk lebih mencintai dan menghargai anak-anaknya. Di situlah kerendahan hati untuk mengakui kesalahan diperlukan. Karena bagaimana mungkin seorang bisa memperbaiki kesalahan tanpa tahu apa kesalahannya? Jadi, mari kita akui kesalahan kita, membuka diri terhadap kesalahan itu, kemudian mau belajar untuk memperbaiki.

Wallahu ‘alam.