Halaman

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Desember 2025

ketika lampu-lampu mulai dipadamkan

rumah adalah ruang
tamu yang lengang ketika
lampu-lampu
mulai dipadamkan

tempat paling nyaman selalu masa lalu
jalan yang sering kamu lalui dulu
kini menjadi lorong gelap tanpa lantai
nostalgia tempat seseorang pernah tinggal
yang kamu pijak agar jatuh lebih dalam

kesedihan menenggelamkan paru-paru
dan segala hal di sekitarmu menjadi tidak berarti
saat kematian tidak memilih tanah
dan kefanaan tidak peduli perasaan

dunia adalah bajingan
dan ingatan itu jarak yang aneh:
dekat hingga menyakitkan,
jauh hingga mustahil disentuh
dalam kenangan seribu
tahun dan kemarin itu satu
waktu menggeram di langitlangit kamar

seperti kita tujuh puluh tahun yang lewat
atau sembilan puluh tahun mendatang
apakah hal yang tak kita ingat berarti tak ada?

suatu malam di tengah hutan aku memandangi bintang
memikirkan cahaya dari hal yang sudah padam
rembulan membuat bayangan berjalan lebih dulu dariku
desir angin mengulang namamu
dengan suara yang pelan

jalan yang pernah kita lalui
menghilang seperti jalan setapak
ditelan ilalang
aku mencarinya,
tapi hanya menemukan diriku
yang lebih muda dan bodoh

ruang waktu adalah rak buku di perpustakaan
yang kita tidak pernah cukup tinggi untuk meraihnya
di sana, wajahmu, wajahku,
wajah mereka yang pergi,
tersimpan dalam buku-buku
yang terkadang kita baca ulang

setiap kehilangan melesap satu kata
dari kosakata hidup kita,
membuat kalimat mana pun
terasa rengkah

bulan desember penuh hujan
dan sayangku,
akan selalu ada hujan di perjalanan
terkadang kita berlari menghindari gerimis
terkadang badai membuat kita
berteduh pada naungan peron kereta
dan kita terus menari bersama di tengahnya

malam ini udara di ruangan tetap hangat
bukan karena perapian,
tapi karena jiwa kita yang penuh,
karena nyala harapan yang ringkih
masih berbinar redup,
karena rasa takut masih membuat
jari-jariku gemetar

aku bersyukur,
dalam segala riuhsedan ini,
kita berada di
halaman yang sama



30 Des 2025

Selamat Hari Lahir,
yang fana adalah dunia, kamu semesta

Rabu, 22 Oktober 2025

Di Garum Kamu Tinggal, Ke Sana Kami Pulang

Untuk EDP


Aku membeli buku puisi yang ditulis oleh seseorang yang sudah tiada. Barangkali, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya membaca suara yang tak lagi punya tubuh. Aku duduk di beranda sore itu, membawa secangkir teh yang sudah mulai dingin, sambil memandang lalu lalang orang. Dunia selalu tampak sibuk, tanpa peduli ada yang sedang belajar hidup tanpa seseorang.

Sesekali aku membaca puisi itu dengan suara keras, hanya untuk mendengar rima dan getar suaraku sendiri yang tiba-tiba digampar kesedihan. Ia datang bukan dengan teriakan. Ia kabut yang tiba-tiba menempel di kaca jendela; diam dan membuat pandangan mata buram.

Meskipun sangat mencintai bunga, kamu tidak akan memerlukanya lagi saat tiada. Hingga ketika aku datang menjengukmu ke makam di Garum, aku tidak membawa bunga. Aku duduk di tepian, memandangi awan-awan di langit yang cerah, dan menikmati semangkuk es kacang merah atas namamu. Mencoba menghabiskan waktu dengan tanpa penyesalan.

Jika musim hujan tiba, aku akan menikmati secangkir jahe hangat di ujung meja bersama orang-orang kesayanganmu. Aku suka membayangkan aromanya tumpah ke udara, mencari jalan pulang menuju ruhmu yang tenang. Sambil menatap tetes gerimis yang menuruni kaca, bagai kenangan yang tidak tahu bagaimana cara untuk berhenti jatuh.

Aku tahu, bunga tidak perlu tumbuh di antara kembang lain. Karena kamu sudah mekar di dalam jiwa setiap orang yang pernah mengenalmu. Di dalam mereka yang mencintaimu, kamu tumbuh tanpa tanah, tanpa musim, tanpa henti.

Terakhir kali aku mendengarmu berbicara, kamu mencari nama adikmu. Percayalah, ia akan baik-baik saja, walaupun ia perlu menangisi perpisahan yang tidak pernah tepat waktu, walaupun dunia yang berengsek ini tidak membiarkan pikirannya beristirahat barang sebentar, walaupun ia mengerti bahwa kehilangan yang sama sudah melukai banyak orang lain, walaupun tidak ada seorangpun yang akan bisa membayangkan apa yang seorang kakak pernah berikan untuk adiknya.

Kamu selalu lebih khawatir pada kesakitan adikmu daripada kepedihanmu sendiri. Kata-kata terakhirmu dalam telpon: “Aku baik-baik saja.” Ia tantrum mengulangi kata-katamu, sambil tubuhnya terguncang oleh isak yang tak sempat menjadi doa: mengapa kamu tidak jujur tentang penyakitmu? Mengapa kamu tidak sempat mengucapkan selamat tinggal? Mengapa kamu tidak membiarkannya melakukan sesuatu, sekecil apa pun itu, untukmu?

Waktu perlahan akan selalu bisa mencicil hutang penjelasan. Secara bertahap, ia akan belajar berkenalan dengan bentuk tak terlihat dari kepergianmu. Ia akan mulai kembali berkawan dengan kesedihan yang datang tiba-tiba, mengetuk pintu ketika pagi dan tidak pulang sampai malam. Menghayati segala tanya dengan awalan mengapa. Ia akan belajar bahwa yang paling menyakitkan dari luka kehilangan adalah bukan pada yang sudah ia lakukan, tapi pada yang belum. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menangis saja, tanpa ada yang bertanya mengapa.

Hidup menjadi tidak wajar setelah kehilangan lekas. Ada hari-hari ketika langit terasa terlalu rendah, dan lampu-lampu jalanan menyalakan ingatan yang meremukkan hati. Ada rumah kosong yang menyisakan perih kehampaan. Ada komentar di kolom Instagram yang tidak akan pernah terbalas. Ada suara yang masih melekat. Tidak ada lagi tangan yang bisa dijabat atau tubuh yang bisa dipeluk. Di tengah keanehan itu, ada kesadaran yang tetap: bahwa kematian tidak mengakhiri hubungan, dan cinta tidak tahu cara untuk mati.

Kami masih menyebut namamu, di antara sendok, piring, dan bising celoteh anak-anak, sambil sekali lagi menangisi kefanaan. Akan selalu ada kamar yang nyaman di hati kami untukmu. Di mana tidak ada badai atau malam atau rasa sakit yang dapat menjangkaumu lagi.

Saat ini, mungkin kamu sedang membaca puisi ini sambil tersenyum. Kelak kami akan mengerti, bahwa tidak ada yang benar-benar pergi. Akan tiba saatnya kami melihat wajahmu yang cantik lagi, di negeri tempat semua air mata akan terhapus dari hati, dan kehilangan tak lagi punya arti.


Garum, 22 Oktober 2025






Selasa, 15 Juli 2025

Jendela yang Tetap Terbuka

Kamu pernah menangis
untuk mencicipi air matamu sendiri.

Mungkin saat itu,
kamu ingin membuktikan
bahwa sedih memang punya rasa
dan hati bisa melarutkan rahasia
dengan cara yang tak pernah diajarkan
siapa-siapa.

Sebab ada pengetahuan
yang hanya bisa dipelajari
oleh tubuh yang jauh dari rumah
,
oleh kangen yang menetes
dari jendela kamar,
diam-diam,
seperti doa
yang tak sempat diucapkan.

Mungkin tangismu jatuh
seperti hujan kecil
di halaman yang tak kamu pilih.
Menstruasi pertamamu datang
seperti surat tak bernama,
dan tubuhmu mulai bicara
dalam bahasa baru
yang sedang kamu cari maknanya.

Kemudian rumah ini,
meski tampak sunyi tanpamu,
tidak sedang meninggalkanmu.
Ia hanya bergeser sedikit,
memberimu ruang untuk jatuh
dan belajar bangkit sendiri.

Agar ketika akar rindu
menjulur cukup panjang,
kita bisa duduk di beranda,
membiarkan teh kehilangan hangatnya
dan senja berjalan pelan 
seperti tak mau malam.

Tak perlu kata-kata,
cukup tatapan yang tak lagi menuntut.
Seperti dua musim yang tak mengenal
angka tapi tahu caranya tiba,
seperti jendela tua yang tak pernah terkunci 
karena sedang menunggu seseorang pulang.

Hingga jika suatu hari nanti
dunia menutup pintunya,
dan hujan terlalu enggan untuk reda,
kemarilah mendekat:

karena aku adalah jendela itu,
yang walaupun terus menua
akan tetap selalu terbuka.



Rabu, 11 Juni 2025

Hujan yang Tak Jadi Puisi

Kepada SDD


Hujan turun di luar jendela,
tapi tak ada yang basah di dalam diriku.
Barangkali karena aku sudah menjemur air mata
terlalu lama di halaman sosial media.

Aku ingin menulis tentang hujan
sebagai sesuatu yang datang tanpa maksud.
Tapi puisiku terlalu sadar diri,
terlalu sering bercermin
di layar yang tak pernah patah hati.

Dulu, hujan adalah surat tak sampai.
Kini, ia jadi notifikasi cuaca.
Kita tak lagi menunggu reda,
karena sudah terbiasa berlari
dari satu urusan ke pelarian lain.

Aku rindu mencintai seseorang
tanpa perlu riuh dalam caption.
Aku rindu kata-kata
yang tak ingin jadi puisi,
cukup jadi perasaan
yang diam-diam mengendap
di dasar cangkir kopi.

Kau tahu,
dulu aku menulis puisi
dari yang tak bisa kukatakan pada siapa-siapa.
Tapi hujan kali ini gagal menjadi metafora.
Ia turun begitu saja,
tanpa makna, tanpa nyawa,
seperti pertanyaan basa-basi
dari orang yang hanya ingin terlihat peduli.

Kalau nanti reda,
aku tidak akan keluar menatap langit.
Aku akan tetap di sini,
memunguti diam yang tercecer
di panggung sepi.




Tidak Ada Hujan Bulan Juni

Untuk SDD

/i/

Hari ini, hujan bulan Juni
tak lagi menjadi rahasia langit,
tapi gemuruh cengeng di layar ponsel.
Bukan pada daun-daun yang kuyup,
melainkan pada riuh notifikasi
yang tak mengenal larut.


/ii/

Dulu, ketabahan adalah
isyarat bisu,
berupa rintik rindu
pada pohon bunga,
tanah kering menelan
seluruh peluh sampai akar
dan lumut penuh.
Kini, gerimis berganti ramai derai
kubangan di jalan, hati palsu
di ujung emoji,
dan suara tawamu
tenggelam di antara
suara ping yang lebih cepat
dari sepi.

Dulu, kebijakan menjelma
rona pipi malu,
menghapusi jejak kaki
yang ragu di jalan itu.
Kini, diganti ujung jari
yang yakin menggali makna
dari algoritma.
Kita tak lagi berjalan
menuju satu sama lain,
melainkan berlari ke situs
yang tahu segalanya
kecuali rasa.

Dulu, kearifan adalah bunyi sunyi,
yang dibiarkan tak terucap
agar diserap akar bebunga.
Tak ada lagi kata-kata
yang ditanam diam-diam
agar tumbuh jadi makna.
Kini, setiap luka dipetik
sebelum matang,
dipajang dalam etalase
dengan tagar yang haus
tepuk tangan.


/iii/

Kamu akan bersetuju
denganku kali ini,
untuk masih memilih
menyimpan namamu
di antara jeda dan napas,
yang masih menghapus pesan
dengan telunjuk gemetar,
yang tahu bahwa kerinduan
adalah bahasa yang paling jujur
saat tak diucapkan.

Dan cinta,
seperti awan yang gagal jadi hujan
pada kemarau di bulan Juni,
selalu lebih ramah dengan masa lalu,
daripada deras suara ricik
dalam kepalamu.








Senin, 30 Desember 2024

52 Keping Waktu Saat Bersamamu

  1. Keriput di sudut luar matamu ketika tersenyum.
  2. Ketika kamu memelukku saat malam yang dingin.
  3. Caramu berusaha memahami perasaanku.
  4. Wangi parfum yang bercampur aroma tubuhmu.
  5. Ketika kamu tetap sabar saat Aira tantrum.
  6. Ketika kamu jujur dan langsung saat menginginkan sesuatu.
  7. Ketika kamu mendengarkan opiniku dengan penuh perhatian.
  8. Saat kamu memanggilku, “Abang sayang,”
  9. Ketika kamu mengusap lembut lenganku untuk membangunkanku di pagi hari.
  10. Aroma asam keringatmu.
  11. Ketika kamu menanamkan kebaikan dan integritas pada anak-anak.
  12. Ketangguhanmu saat melahirkan Nada.
  13. Antusiasmemu terhadap BTS.
  14. Caramu tetap tenang saat menghadapi situasi sulit.
  15. Ketika kamu mengirim pesan, "Aku kangen".
  16. Caramu mensyukuri hal-hal yang sederhana.
  17. Ketika kamu berbagi rahasia terdalammu denganku.
  18. Caramu mendengarkan cerita tentang hari yang berat di kantor.
  19. Ketika kamu memelukku dari belakang saat membonceng motor.
  20. Caramu merencanakan hadiah dan kejutan untukku.
  21. Ketika kamu memasak sup tim ikan favoritku.
  22. Caramu merawat dirimu sendiri.
  23. Ketika kamu menemaniku menonton langit pagi di puncak gunung Prau.
  24. Caramu menghargai usahaku.
  25. Ketika kamu berani menjadi diri sendiri.
  26. Caramu mengajarkan anak-anak untuk bersyukur dan menghargai hal-hal kecil dalam hidup.
  27. Dedikasimu saat menyiapkan presentasi kuliah.
  28. Caramu mendukung impian dan minat anak-anak.
  29. Ketika kamu merawatku saat aku sakit.
  30. Kerja kerasmu saat mendaki Gede Pangrango.
  31. Caramu mengingat detail kecil tentang diriku.
  32. Semangatmu ketika menceritakan sesuatu yang sedang kamu sukai.
  33. Ketulusanmu saat memberi hadiah kepada tetangga yang baru melahirkan.
  34. Ketika kamu tidak bosan untuk membacakan buku cerita sebelum tidur untuk anak-anak.
  35. Kecerdasanmu saat berbagi pengetahuan baru yang kamu pelajari.
  36. Ketika kamu membukakan pintu dan tersenyum saat aku pulang kerja.
  37. Caramu yang lucu saat berbicara dengan Moli.
  38. Kebaikan hati saat kamu menyedekahkan uang kepada pengamen jalanan.
  39. Caramu berbagi cerita saat kita duduk bersama di ruang tengah sambil makan camilan.
  40. Saat kamu mengecup tanganku sebelum aku pergi bekerja.
  41. Caramu berterima kasih atas bantuan kecil yang aku berikan.
  42. Pelukanmu saat menenangkan anak-anak ketika mereka menangis.
  43. Ketika kamu selalu membuat rumah kita terasa nyaman.
  44. Kepedulianmu saat kamu mengunjungi teman yang sedang sakit.
  45. Saat kamu membantu Safa mengerjakan pekerjaan sekolah dengan telaten.
  46. Saat kita berdiskusi tentang cara memperbaiki hubungan.
  47. Ketika kamu menyanyikan lagu favoritmu ditemani permainan gitarku.
  48. Caramu menghormati Mamah dan Ibu.
  49. Caramu merayakan pencapaian-pencapaian kecil anak-anak dengan antusias.
  50. Kecintaanmu pada petualangan dan perjalanan.
  51. Ketika kamu memaafkan saat aku melakukan kesalahan.
  52. Ketika kamu mencintaiku dengan segala kelebihan dan kekuranganku.

Sabtu, 27 April 2024

kau adalah kopi, aku pahit hitammu

dalam namamu ada kopi
dalam matamu ada senja
dalam sarungmu ada celana
dalam wajahmu ada Jogja

kopi terbaik itu kini jadi ampas
menyisakan pahit yang
tak hilang ditelan malam

meninggalkan negara yang lugu
meninggalkan bahasa indonesia
yang riang dan lucu

cangkir-cangkir liat terbakar,
"Sampai tanah jadi abu,
aku masih mau racun rindu,"

"Tidak usah cengeng!
Hari ini abadi,
dan kedai kopi 
buka sampai pagi!"



2024

Senin, 11 Maret 2024

Di Mana Ramadhan Tinggal?

Di mana Ramadhan tinggal
ketika hari-hari sudah tanggal?
Apakah ia punya rumah
yang bisa kita kunjungi?
Dan apakah ia punya keluarga?

Apakah ia tidur memakai piyama
dengan lampu dimatikan?
Apakah ia punya handphone
yang selalu ia gunakan untuk ibadah?

Apakah ia punya kekasih yang ia rindukan
sama seperti kamu yang saat ini sedang
merindukanku?

Apakah ia bisa marah?
Apakah ia bisa sedih?
Apakah ia bisa bahagia?

Dan apakah ia pernah nakal?
Apakah ia pernah tidak salat?
Apakah ia pernah berbohong?
Apakah ia pernah melakukan ibadah
bukan karena ikhlas kepada Tuhan?

Apakah ia pernah iri dengki?
Apakah ia pernah takabur?
Apakah ia pernah merasa saleh?
Apakah ia pernah membicarakan
keburukan orang lain?

Hari ini aku mengikutinya pulang
untuk mencari tahu di mana rumahnya.
Aku ragu mengetuk pintu,
takut ia tidak mengenali
karena aku tidak sama seperti
terakhir kali bertemu dengannya.

2024

Sabtu, 09 Maret 2024

Sekolah yang Ujian Setiap Hari

Ayo-ayo ke sekolah setiap hari,
Duduk di kursi mendengarkan guru,
Aku dan kamu berbaris di Senin pagi,
Upacara bendera di bawah langit biru.

Ibu guru dengan bakat berteriak,
"Sudahkah kamu
menyiapkan ujian hari ini?"
Anak-anak menjawab kocak, 
"Hari minggu bisakah kita libur bernapas?"

Kita akan libur besok saat
melihat dunia adalah selembar peta, 
dan puisi menjadi hari kemarin 
yang tidak bisa kau jangkau jauhnya.

Ujian hari ini sederhana,
ibu guru meninggalkan
buah apel di atas meja.

Seorang anak terjatuh
tersandung kursi menangis
dan berdarah.

Di akhir hari sekolah,
kamu senang akhirnya bisa pulang.
Menyusuri jalan sambil melompat-lompat 
dengan tas di pundak.

Tidak lupa bermain sebentar
di taman belakang sekolah memetik
jambu air yang lebih banyak rontok buahnya.

Guru-guru juga pulang
bahkan saat hari masih hujan.
Mereka juga manusia yang
punya rumah dan pakaian kotor.

Anak-anak yang belum
pulang sekolah menangis.
Setelah itu hening,
pada sore yang gerimis
di bulan Juni yang juga hening.


2024

Selasa, 13 Februari 2024

Anak-anak Matahari

Parasmu kemerahan memantulkan langit sore saat kaki-kaki kecil mentari redup di ujung ufuk. Lensa menangkap angkasa tempat dua pasang mata tidak pernah bersetuju akan makna yang sama.

Sepasang mata melihat jalanan serta trotoar kota yang jauh dari tempat kelahiran dimana ibu adalah abu kenangan. Sementara yang lain melihat malam perlahan-lahan menghapus separuh penyesalan masa lalu dalam album ingatan.

Di hadapan wajah langit kita hanya anak-anak matahari; debu yang diajari mengeja luka dan puisi.

Kota dan angkasa tidak peduli dengan perasaan siapa-siapa. Ia hanya menampilkan realitas yang keras kepala, juga cinta yang dapat kau nikmati tapi mustahil kau miliki.

Jingga serupa warna angan dan sepi merona di sepasang matamu; semesta yang tidak bisa ku jangkau luasnya.

Aku tidak bisa lagi membedakan mana angan dan sakit, duka dan rindu, atau mereka memang lahir dari rahim yang sama?

Akhirnya matahari beranjak pulang meninggalkan bayang memanjang dan harapan adalah satu-satunya penghibur di ujung hari esok.

Sehabis itu gelap.
Sehabis itu dingin.



Sabtu, 30 Desember 2023

Dalam Hutan

Hutan mengingat masa depan
dan masa lalu pada serat kulit-kulit kayu,
mencatat perjalanan waktu sejak
selaksa bintang yang jauh.

Dari jendela kereta yang sedang melaju, 
Lawu mengajariku menulis puisi. 
Ia membiarkanku tidak melakukan apapun 
selain memandang ke luar dan melamun.

Aku berharap bisa membencimu dengan 
alasan-alasan sebanyak daun-daun. 
Sampai kesadaran membuatku bersetuju 
dengan hutan, bahwa ia tidak meminta 
apapun kecuali kerelaan.

Bayangkan suatu hari yang haru aku 
menghilang ditelan halimun. 
Seberapa lama kamu akan menyadari? 
Seberapa besar kamu berusaha menghubungiku?

Akan ada perpisahan di masa depan
sebagaimana kita saling tidak 
mengenal di masa lalu. 
Daun-daun kering gugur 
dan pulang kepada pohon kehidupan. 
Akar-akar saling berbicara 
mengabarkan angan yang selalu dekat.

Apalah arti kita di tengah 
kemarin dan esok? 
Makhluk yang mengagumi 
denting minor piano, petikan gitar, 
tongeret, juga dingin angin yang menusuk.

Malam yang pendiam tiba di atas kota. 
Hutan dan kota yang gelisah seharusnya 
tidak bermusuhan, seperti kejujuran 
seharusnya tidak berpisah dengan 
jantung puisi karena kata-kata 
kadang berkhianat 
pada dirinya sendiri.

Kamu hutan malam ini, 
tempat cinta dengan warna 
yang lekas pudar memugar 
wajahnya kembali. 
Menuntun tangan sepi 
menuju puncak kesadaran.

Tanah mengucapkan salam perpisahan 
ketika musim dingin yang menggigilkan 
pucuk-pucuk akasia menarik kita 
menuju keabadian. 
Dalam kematian yang 
tidak lagi menakutkan.













Senin, 02 Oktober 2023

laki-laki yang duduk di tepi jendela sambil sekali lagi menonton masa lalu di langit biru

hari kemarin lewat dan
mengetuk pintu depan

laki-laki itu turun dari jendela
berlari membuka pintu
sebelum ia menemukan
halaman kosong

ia berharap ada kejutan atau
bisa mengubah warna awan


(2023)

Jumat, 28 Juli 2023

Kamu Adalah Mata, Aku Airmatamu

Kita berjalan menuju rak buku-buku puisi. Kamu terpaku pada sebuah buku kemudian bertanya, "Ini maksudnya apa, Bang?"

Kamu memegang sebuah buku Joko Pinurbo berjudul "Malam ini aku akan tidur di matamu: sehimpun puisi pilihan". Aku mengamatimu dan tersenyum, mencari tanda di wajahmu untuk tahu apakah pertanyaan itu bercanda atau serius.

Kamu memberi pertanyaan lebih spesifik, "Kenapa mata? Maksudnya apa?"

Setelah menangkap rona serius di wajahmu, aku menjawab, "Mata adalah metafora dari jiwa manusia, kebijaksanaan, juga rahasia. Maka dari itu kita sering mendengar orang bilang mata tidak pernah berdusta. Jokpin pernah menulis puisi berjudul Kepada Puisi. Hanya ada satu bait, 'Kau adalah mata, aku airmatamu'. Mata juga menggambarkan sumber, inti atau pusat, makanya ada istilah mata pencarian, mata air, mata batin, mata pedang."

"Terus kenapa tidur?" Kamu bertanya lagi.

"Ya karena tidur itu nyaman. Tidur itu analogi dari kenyamanan. Aku akan Tidur di Matamu, Maksudnya si Aku-lirik nyaman dan ingin bersatu jiwanya dengan sumber, rahasia, ketulusan 'mu'."

Kamu diam. Sekali lagi aku melirik wajahmu, mencoba menangkap respon yang tidak kamu ucapkan. "Kalau kenapa malam, ya karena malam itu cocok dengan kata tidur, dan malam itu menggambarkan kesyahduan."

Kamu masih diam. Sepertinya puas dengan jawaban yang kamu dengar kemudian melihat buku-buku lain. Aku juga diam terpaku memandangi buku-buku puisi yang ditulis bahkan ratusan tahun yang lalu.

Puisi bagi manusia adalah keseharian. Seperti bernafas, ia adalah salah satu hal paling alami yang ada dalam kehidupan manusia, sebuah takdir karena manusia bisa bicara. Mau tidak mau, sadar atau tidak, naluri alami manusia adalah berpuisi. Mengungkap atau menyatakan sesuatu dengan perumpamaan, perbandingan, diksi yang kuat, irama dan lain-lain. Sehingga, segala konotasi dalam puisi diupayakan bukan untuk membuat bingung atau berteka-teki, tapi lebih dari itu adalah supaya bisa memberi kita makna dan kesadaran lebih dalam. Untuk mecipta hal tersebut, penyair harus menggali kesadaran dalam dirinya sendiri. Melongok dan mengunjungi jiwanya sendiri. Manusia sejatinya adalah jiwa. Kita adalah jiwa tanpa fisik.

Kamu tahu, aku selalu ingat Pablo Neruda dalam pengantar 100 Soneta Cinta, ketika menulis puisi untukmu. Ketika menuliskan puisi-puisi itu, aku sebenarnya menderita karena harus melepas jiwaku dari penjara fisik ini. Percayalah itu tindakan yang membuat nelangsa, mendukakan, menikam dan melukai tanpa henti, seperti kamu mengupas kulit sendiri untuk menampakkan daging merah dengan urat yang berdenyut dan darah yang bercucuran. Namun kamu tahu, kesenangan setelah mengungkapkan, menuliskan kemudian mempersembahkan padamu sungguh lebih tinggi dari langit.

Suatu waktu aku mengunjungi diriku kemudian menghadapi kesakitan. Mendapati semua yang kulihat adalah cermin, aku tidak bisa bersembunyi. Kejujuran datang dan aku tidak bisa menghilang. Aku mencari hal yang paling kurasa sakit. Ketika aku berhasil menyakitimu, aku kira itu akan melegakan, ternyata sakitnya kembali padaku berkali-kali. Aku sakit ketika menyakitimu.

Dalam Perbandingan, aku menulis:

//Aku memandang dunia dari balik rupamu. Aku tidak ingin derita, tapi kamu adalah mata dan aku air matamu. Aku tidak ingin perih, tapi aku adalah darah dari luka goresmu. Aku tidak ingin murka, tapi kamu adalah api dan aku adalah nyala. Bagaimana cara memisahkan diriku dari dirimu?//

Sering aku tidak menemukan diksi yang tepat, atau kesulitan mencari imaji atau irama. Kadang ada bait yang kutulis cepat, ada yang butuh berbulan-bulan bahkan tahunan. Kebanyakan tidak bisa kukendalikan. Ini seperti ilham atau wahyu, yang datang semaunya.

Pada satu waktu, setelah tahunan dan puluhan kali membaca Sapardi, aku teringat Aku Ingin, kemudian ada yang menelusup masuk:

//aku mencintaimu dengan sederhana/seperti kamu mencintai langit ketika sore tiba///

Setelah itu bait-bait yang lain meluncur begitu saja seperti datang dari alam bawah sadar. Kejadiannya begitu singkat dan terngiang di kepala, seperti:

//Meminta cinta kepada peluk adalah sesuatu yang fatal akibatnya, karena ia tidak tahu cara untuk berdusta.//

Atau, 

//Embun yang jatuh ke bumi/tak pernah marah kepada langit/karena ia tahu kepadanya/ia akan kembali.///

Aku tahu tidak akan bisa sehebat Pablo, membuat soneta-soneta dari kayu kemudian memberi mereka bunyi dari benda yang kusam dan murni itu. Berjalan di hutan atau di pantai, di tepi telaga yang tersembunyi, di keluasan bersalut abu, mengumpulkan potongan-potongan kulit pohon, potongan-potongan kayu yang takluk pada air dan cuaca buruk. Kemudian, dari bilah-bilah yang telah aus, kapak, parang, dan pisau, ia memancangkan tiang-tiang kayu cinta, dan dengan empat belas papan masing-masing ia bangun rumah-rumah kecil, tempat mata istri yang ia puja dan kepadanya ia bernyanyi, bisa hidup di sana. Aku hanya ingin melakukan hal yang serupa, tapi tentu tidak bisa disandingkan. 

Aku tahu terkadang kamu bertarung dengan pikiranmu sendiri, mencoba mencari cara agar orang lain dapat mengerti yang ada di dalam, sementara bahasa tidak dapat sepenuhnya diandalkan. Aku juga menghadapi hal yang sama, namun aku beruntung karena ditolong puisi, yang tidak terikat dengan aturan-aturan bahasa bahkan terkadang mengejek mereka. Bayangkan bahasa tanpa pusi, ia akan menjadi kering dan miskin. Dengan puisi aku berharap bisa mengerti apa yang ada dalam dirimu dan juga sebaliknya, kamu memahami apa yang ada dalam jiwaku. Seperti puisi Jokpin, aku ingin jiwaku bersatu dengan jiwamu. Aku yang tertidur dalam matamu. 

Aku berharap puisi-puisiku dapat mewakili yang tidak dapat diutarakan kata, walau tidak sempurna. Terima kasih telah menugaskan puisi untuk masuk ke dalamku, memberinya kehidupan, yang kemudian lahir semata karena kamu memberinya nyawa.

Kamis, 06 Juli 2023

Setetes Nada di Ujung Daun

Matamu adalah embun
berkilau diterpa arunika.
Kemudian hujan jatuh cinta
padamu sampai menahan
derai lepas menerpa bumi.

Aku mencintaimu seperti
langit yang tak berpintu.
Seperti udara yang
muskil dipenjara.
Seperti energi yang
kekal mencari.
Jika cinta punya lengan,
ia tak akan pernah lepas
memelukmu dalam ingatan.

Pada sebuah jalan
banjir kenyataan
yang meruah dan brengsek ini,
kamu akan bertemu
sepasang kucing candramawa
bernama rumah dan waktu.
Kelak kamu akan mengerti keduanya,
juga memahami mengapa seseorang
bisa bahagia pada penderitaan
yang ia pilih sendiri.

Burung-burung berkicau
dari atas ranting. 
Angin bertiup lewat
dahan-dahan bambu
kemudian membunyikan genta
nada alam yang paling asing.
Setelah itu hening.

Embun yang jatuh ke bumi
tak pernah marah kepada langit
karena ia tahu kepadanya
ia akan kembali.

Kepada kangen.
Kepada rindu.





Minggu, 08 Januari 2023

Menemani Mentari Pagi Membuat Segalanya Punya Warna

Untuk D.

1.
Di sebuah sibuk kita bertemu. Hari-harimu terbentuk dari hari kerja berwarna ungu. Hari-hariku terbentuk dari hari rusli yang berwarna metal.

Awan memilih warna kelabu saat tanah belum selesai mengurai aroma hujan. Udara berwarna es, wajah waktu pucat kelaparan menunggu detik jam, kamu tidak peduli dan tetap sehangat selamat malam.

Warna adalah bahasa yang tidak kuasa berdusta. Hutan berwarna daun pinus, laut berwarna lazuardi, rumah dan jalan adalah haru biru.

2.
Nila telah bercampur putih sebelanga kemudian menjadikannya memar, namun di luar itu jiwanya tetap urat kayu Cedar, di luar itu masih ada sunyi, mimpi dan hal-hal yang hanya bisa disimpan dalam hati.

Mungkin ia perlu minum puisi serindu sekali. Lebih nikmat sambil memandangi langit sore berwarna aruna, atau rintik hujan berwarna dahan, agar tahu bahwa dunia itu sewarna bianglala, tempat keabadian menjelma warna sebutir pasir atau keindahan pada warna sekuntum bunga liar.

Ketika ia meneguk puisi berwarna burgundi dalam sepi, Jogja berwarna tanah sehabis gerimis, dan awan yang menyembunyikan langit tetap memilih warna redup.

3.
Semesta adalah kanvas putih tempat perasaan membuat segala peristiwa punya warna, juga trauma. Ia mewarnai di luar dirinya dan mewarnai sesuatu di dalam dirinya dengan warna yang berbeda.

Tempat paling nyaman yang ia punya adalah masa lalu, ruang waktu tempat menyimpan ingatan, penyesalan, jatuh cinta, suara hati juga puisi-puisi yang belum selesai dicari.

Puisi yang datang dengan banyak mata memberinya sebuah cahaya, dan ia mengerti mengapa cahaya sebagai mata yang mengungkap warna sebenarnya manusia hanya menjadi hitam jika ia tetap terpejam.

4.
Keinginannya sederhana; punya rumah berwarna putih dengan halaman depan menghadap sore, agar ia bisa pulang pada suatu senja dan sempat bercakap-cakap dengan jingga di atas teras.

Jika tidak hujan, ia selalu senang akan rumah dengan jendela besar, untuk menonton malam yang agung menelan semua warna kecuali kerlap-kerlip cahaya mimpi.

Pada sebuah mimpi ia berhadapan dengan cermin dimana ia memandangi wajahnya sendiri juga wajah orang-orang yang telah pergi. Manusia kehilangan satu warna setiap orang yang ia cintai tiada, seperti malam kelam yang menelan ribuan cahaya kemudian menjadikannya gulita.

5.
Pelangi datang setelah gerimis pulang. Mereka bertemu di persimpangan jalan menuju alun-alun sambil mengamati malam yang perlahan-lahan turun.

Dalam pesta yang hingar bingar, hati tahu suara mana yang harus didengar. Malam memberinya sebuah kado yang di dalamnya ada rasa yang dibungkus kertas tortila dengan pita merah muda.

Di kepalanya ada kicau merdu burung nuri di belakang warna yang sama dengan rindu dan kehangatan. Ia tidak khawatir akan pulang sendirian karena sunyi selalu menemani sambil bernyanyi, "Yang fana adalah pelangi, langit sore abadi."

Pagi merekah bagai bunga Kamboja, mentari bersinar hangat kemudian membuat segalanya punya warna. Punya warna.









Jumat, 30 Desember 2022

Peluk

Hutan hijau mulai senyap. Daun-daun pohon diam tengadah pada langit. Malam numpang tidur di kepalaku sambil membawa gerombolan kata-kata.

Di sebuah persimpangan jalan hujan turun rintih-rintih. Di bawah sinar lampu jalan ia menitis bagaikan ribuan jarum runcing yang menusuk aspal kemudian pecah. Orang-orang menarik sleting jaket dan memasukan tangan ke kantung, kamu tidak peduli dan tetap hangat seperti tahun baru.

Setiap usaha yang melarangku dekat denganmu akan siasia karena aku adalah ingatan yang tidak pernah sudah memelukmu dengan segala bahasa. Sampai tiba masa ketika segala sesuatu bisa bicara kecuali kata.

Pelukan adalah nama lain puisi, sepasang lengan yang mendekap tubuh penuh kecemasan, tempat kata-kata istirahat dan tubuh menari mencari makna.

Meminta cinta kepada peluk adalah sesuatu yang fatal akibatnya, karena ia tidak tahu cara untuk berdusta.

Kepada peluk kamu berpesan,
“Jika nanti malam aku sudah lelap,
tidak perlu meminta ijin untuk memeluk,”

Angin bertiup menggoyang dedaunan, berlarian di sela ranting-ranting kemudian menabrak dahan, sayup-sayup membisikan kabar tentang masa lalu dan masa depan.

Sehabis itu sepi.

Kamu tahu: masa lalu dan masa depan adalah hutan belantara yang hanya bisa kamu rasakan degupnya dalam dada.

Malam tenggelam. Di jendela kamu lihat pagi lebih cerah dari biasa.

Dan kamu mengerti mengapa tubuh adalah bahasa yang tidak pernah gagal mengungkap kita.


2022



Minggu, 20 November 2022

Ini Budi

di papan tulis
Ibu Guru menulis
Ini Budi

Semua murid membaca
Ini Budi

Ibu Guru menulis
Budi pergi ke sekolah

Semua murid membaca
Budi pergi ke sekolah

Ibu Guru menulis
Budi tidak sejahtera

Semua murid diam
dan diam-diam bersedih

Ibu Guru tersenyum
dan tetap tegar


2022

Minggu, 12 Juni 2022

Soneta dari Masa Depan

Ayah dan ibu,

Terimakasih karena memberiku motifasi, sehingga aku menjadi pribadi yang percaya diri.
Terimakasih atas segala pujian tulus, sehingga aku terbiasa menghargai.
Terimakasih karena aku tidak banyak disalahkan, sehingga aku berani menjadi diri sendiri.
Terimakasih telah memberiku rasa aman, sehingga aku terlatih untuk mempercayai orang lain dan mengendalikan diri.

Terimakasih karena membersarkanku dalam kejujuran, sehingga aku terbiasa melihat kebenaran.
Terimakasih karena menerimaku apa adanya, sehingga aku belajar menyayangi semua insan.
Terimakasih telah betah mendengarkan kebawelanku, sehingga aku belajar tumbuh dengan kesabaran.
Terimakasih telah merawatku dalam keramahan, sehingga aku bisa melihat bahwa sungguh indah kehidupan.


Ayah dan ibu,

Maafkan aku atas mainan yang berantakan di lantai, pakaian dan piring-piring kotor, coretan-coretan di dinding, pintu juga jendela.
Maafkan aku karena selalu menaiki punggung atau bergelendot di kaki sambil cerewet bertanya tentang apa saja saat tubuhmu lelah sepulang kerja.
Maafkan aku karena mengurangi jam tidur malammu dengan tangisan, ompol serta kemanjaan sampai pagi tiba.
Maafkan aku karena pernah menjadi sebab atas duka hatimu dan menjadi sumber atas air matamu dengan kata-kata yang membantah dan keras suara.
 
Maafkan aku karena tidak sanggup mengganti tangismu di tengah malam karena berdoa pada Tuhan untuk kesehatanku juga kebahagiaan.
Maafkan aku atas kata maaf yang tidak akan pernah sempurna karena tidak ada kata yang bisa cukup mewakili ungkapan.
Maafkan aku karena tidak mungkin bisa membalas kasih sayangmu dengan uang yang aku kumpulkan walau sebanyak daun-daun di hutan.
Maafkan aku karena kata maaf yang terlambat kuucap, semoga Tuhan memberikan kasih sayang dan ampunan.


Ayah dan ibu,

Inilah aku. Aku putra-putri kehidupan yang menulis surat ini dari masa depan.
Semakin tumbuh dewasa, semakin aku sadar bahwa ayah-ibu adalah hal terbaik yang pernah Tuhan hadirkan.


2022


Terinspirasi dari puisi: Children Learn What They Live oleh Dorothy Low Nolte

Sabtu, 16 April 2022

Potret Senja



Setiap orang punya senja
yang dinikmati sendiri-sendiri.

Angkasa yang sama bisa dilihat
dua orang dengan mata berbeda.

Bisa saja kamu menikmati langit sendiri,
dan aku sibuk dengan urusanku di sini.
Atau sore datang dan kamu menghilang.

Maka aku ingin mengabadikan jingga
yang kamu lewatkan dengan
menyimpannya ke dalam botol-botol kristal,
dan meletakannya di bawah kasur
untuk menemanimu tidur.


2022



Rabu, 09 Maret 2022

Rara

Untuk AF

Aku merindu sedetik setelah kepergianmu
Suara tawa dan merajuk memenuhi ruang tidur

Aku tidak ingin tumbuh dewasa dan
menyaksikan kaki dan tangan bicara sendiri-sendiri

Aku masih ingin mendengar buku-buku bercerita,
bernyanyi, berbohong, bermain teka-teki

Aku masih ingin membuat cerita bergambar,
menganggu kakak dan cemburu

Aku ingin tetap jadi anak-anak,
jatuh cinta dan kembali merindu

Aku tertidur dalam pelukmu dan
mendengar sebuah suara ketika mata setengah terjaga,
"Rara adalah udara. Aku mencintaimu sampai akhir usia."

2022