Halaman

Sabtu, 30 Desember 2023

Dalam Hutan

Hutan mengingat masa depan
dan masa lalu pada serat kulit-kulit kayu,
mencatat perjalanan waktu sejak
selaksa bintang yang jauh.

Dari jendela kereta yang sedang melaju, 
Lawu mengajariku menulis puisi. 
Ia membiarkanku tidak melakukan apapun 
selain memandang ke luar dan melamun.

Aku berharap bisa membencimu dengan 
alasan-alasan sebanyak daun-daun. 
Sampai kesadaran membuatku bersetuju 
dengan hutan, bahwa ia tidak meminta 
apapun kecuali kerelaan.

Bayangkan suatu hari yang haru aku 
menghilang ditelan halimun. 
Seberapa lama kamu akan menyadari? 
Seberapa besar kamu berusaha menghubungiku?

Akan ada perpisahan di masa depan
sebagaimana kita saling tidak 
mengenal di masa lalu. 
Daun-daun kering gugur 
dan pulang kepada pohon kehidupan. 
Akar-akar saling berbicara 
mengabarkan angan yang selalu dekat.

Apalah arti kita di tengah 
kemarin dan esok? 
Makhluk yang mengagumi 
denting minor piano, petikan gitar, 
tongeret, juga dingin angin yang menusuk.

Malam yang pendiam tiba di atas kota. 
Hutan dan kota yang gelisah seharusnya 
tidak bermusuhan, seperti kejujuran 
seharusnya tidak berpisah dengan 
jantung puisi karena kata-kata 
kadang berkhianat 
pada dirinya sendiri.

Kamu hutan malam ini, 
tempat cinta dengan warna 
yang lekas pudar memugar 
wajahnya kembali. 
Menuntun tangan sepi 
menuju puncak kesadaran.

Tanah mengucapkan salam perpisahan 
ketika musim dingin yang menggigilkan 
pucuk-pucuk akasia menarik kita 
menuju keabadian. 
Dalam kematian yang 
tidak lagi menakutkan.