Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2026

Tentang Kebahagiaan di Dalam Dirimu

Pada suatu pagi sehabis salat subuh di sebuah pesantren, udara masih sejuk oleh embun ketika para santri duduk melingkar mengelilingi sang Kiyai. Hari itu, beliau membuka pelajaran Bab Shaum dengan sebuah kalimat yang membuat semua murid terdiam.

“Puasa itu seperti perjalanan mencari kebahagiaan sejati,” ucapnya pelan. “Ia mengajak kita menengok ke dalam diri. Tidak ada yang benar‑benar mengetahui makna puasa selain dirimu sendiri… dan Allah.”

Para santri saling menatap, mencoba menangkap makna kalimat itu. Lalu sang Kiyai mengalihkan pandangannya kepada salah satu murid yang duduk tegap di barisan depan.

“Ahsan,” katanya lembut, “apa yang membuatmu bahagia?”

Ahsan mengangkat wajahnya. “Jika saya mendapat nilai yang bagus, Guru,” jawabnya cepat, tanpa ragu.

Sang Kiyai tersenyum memuji.

“Itu baik,” katanya. “Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar. Jika kamu terlalu banyak memberi syarat untuk bisa bahagia; nilai harus bagus, harus dipuji, harus menang, maka kamu akan semakin mudah kecewa. Karena syarat-syarat itu berada di luar dirimu, dan karenanya… di luar kendalimu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid merenungkan kata-katanya.

“Semakin sedikit syarat yang kamu tetapkan untuk bahagia,” lanjutnya, “semakin mudah bahagia itu kamu temukan.”

Para santri terdiam. Ahsan menunduk, berpikir.

Sang Kiyai lalu menunjuk dada Ahsan, kemudian dada para santri bergiliran.

“Maka lihatlah kembali ke dalam dirimu. Kebahagiaan itu bukan barang langka. Ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Ia tidak akan habis diambil orang lain.”

Beliau menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih mantap: “Bahagia bukan perlombaan. Jika orang lain mendapatkannya, kamu tidak otomatis kehilangan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam urusan bahagia. Setiap orang bisa menempuh jalannya sendiri, tanpa perlu merebut atau menghabiskan jatah orang lain.”

Khalaqoh kembali hening. Tapi kini keheningan itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih penuh harapan.

Setelah para santri bergantian membaca kitab yang sedang mereka kaji, sang Kiyai lalu menutup pelajaran dengan sebuah jembatan pemahaman.

“Dan ketahuilah,” katanya, “rahasia puasa ada pada menahan diri. Ketika kamu menahan diri dari yang halal, kamu belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang masuk ke tubuhmu. Bukan dari makanan, bukan dari kenyamanan, bukan dari dunia luar. Puasa mengajakmu menyelam lebih dalam, menemukan bahwa sumber ketenangan dan kebahagiaan itu sudah ada di dalam hatimu sejak awal.”

Beliau tersenyum, seakan membiarkan cahaya kata-katanya meresap.

“Karena ketika kamu mampu bahagia hanya dengan kedekatan pada Allah, dan ketenangan dirimu sendiri… maka saat itulah hakikat puasa bekerja. Ia membebaskanmu dari ketergantungan pada dunia, dan mengembalikanmu pada sumber kebahagiaan yang paling murni.”

Para santri mengangguk perlahan, dan Ahsan merasa seolah ada pintu kecil yang terbuka dalam dirinya, pintu menuju kebahagiaan yang selama ini ia cari di luar, padahal letaknya begitu dekat.




Rabu, 26 Maret 2025

Pada Akhirnya, Kehilangan Bukan Tentang Menghapus atau Menggantikan

Saya baru saja mengunggah status foto senja ketika notifikasi itu muncul. Langit dalam gambar itu seperti terbakar perlahan—jingga dan ungu saling beradu sebelum akhirnya memudar menjadi gelap. Indah seperti jatuh cinta, tapi juga cepat berlalu meninggalkan rasa kehilangan.

Notifikasi itu berasal dari komentar Cey, gadis gempal yang selalu gelisah: "Bang Nelal, bikin novel lagi dongggg. Sekarang temanya cinta tapi nggak happy ending wkwk."

Jari saya berhenti di atas layar. Mata saya membaca ulang kata-kata itu, mencari sesuatu di balik candanya. Dalam pikiran saya: ada yang tidak beres, ia seperti berusaha menutupi sesuatu dengan canda.

Menulis tentang cinta yang berakhir tidak bahagia?

Saya mengetik balasan. "U abis putus, Cey?"

Tidak ada respons seketika. Tanda baca tiga titik muncul, menghilang, muncul lagi—seperti seseorang yang ragu-ragu sebelum berbicara.

Akhirnya:

"Iya, lagi huft."

Saya menghela napas pelan. Huft. Sebuah kata yang mewakili banyak hal.

"Serius?" saya meyakinkan.

"Seriussss."

Saya mencoba menelepon. Tidak diangkat. Lalu pesannya masuk lagi: "Batreku 6 persen, lagi hemat-hemat."

Sebuah screenshot menyusul, ikon persentase baterai dan wallpaper karakter chibi berambut hitam diikat, dengan beberapa helai mencuat. Matanya terpejam, mulut mengerucut, ekspresi cemberut dan kesal namun tetap imut. Gabungan antara humor dan ironi.

"U lagi di mana sekarang? Coba cerita dulu."

Jeda panjang. Saya bisa membayangkan Cey membaca pesan itu, menimbang apakah harus membiarkan saya masuk ke dalam ceritanya atau tetap menjaga jarak.

Akhirnya:

"Well, I don't really share such things huft. It's just (again) my unfortunate love story. Gitu deh, udah males ceritainnya aku wkwkwk."

Saya menghela napas.

Manusia punya kebiasaan aneh: menyederhanakan luka mereka sendiri.

"It's okay. It takes time. And maybe one day you just wake up, and it doesn’t feel as heavy anymore."

Kali ini balasannya cepat.

"Didn't hurt as much as I thought, actually. Sedih di hari H aja. Karena unfortunately, I didn't have time and chance buat mengasihani diri. I shared a bed with mom that day, the day after I had classes to teach. Gabisa sedih yang gimana-gimana since I gamau mata I ilang karena sembap wkwk."

Saya membaca ulang pesannya. Ada sesuatu yang janggal. Kesedihan itu tidak benar-benar hilang, hanya ditunda. Kehilangan memang kadang membebani dada dengan kepedihan yang nyaris tak tertanggungkan, kadang ia hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.

"Udah berapa hari sekarang?"

"Belum seminggu wkwk. Kamis malam."

Saya tersenyum kecil, meskipun tahu Cey mungkin tidak benar-benar tertawa.

"Iya, the world won’t stop for your sadness, and it never will haha. But if you keep running without facing it, one day it’ll hit harder when you least expect it."

Tidak ada balasan langsung. Saya bisa membayangkan Cey mendesah, membiarkan kata-kata saya tenggelam dalam pikirannya.

Lalu akhirnya:

"I know. Tapi yaudah begini dulu aja wkwkwk."

Saya berpikir sebentar kemudian membalas, "Plan: nggak ada plan. Eksekusi: yaudah begini dulu aja wkwk."

Tawa digital muncul di layar. Saya menghela napas. Bukan karena lega, tapi karena tahu ada sesuatu yang masih tersisa di sana, sesuatu yang tak bisa dihapus dengan candaan.

"Hope things fall into place for you, even if it’s ‘begini dulu aja’ for now."

Cey membalas lebih cepat kali ini.

"Ahahaha udah cukup menginspirasi belum buat bikin novel?"

Saya terkekeh.

"Bisa aja sih. Cuma akan jadi cerita yang paling sulit gw tulis. Karena nyeritain orang yang nggak mau cerita 🤣🤣."

Tawa panjang memenuhi layar. Sejenak, terasa seperti percakapan biasa, seperti tidak ada apa-apa yang berubah.

Lalu, seperti sebuah Kesimpulan, Cey menulis, "I mean, everything's fine. Was fine. Lalu semua berubah semenjak negara api menyerang."

Saya kembali menatap kata-katanya.

Semua berubah tiba-tiba? Tidak ada yang berubah tiba-tiba, Cey. Kadang kita hanya tidak memperhatikan retakan-retakan kecil sampai akhirnya sesuatu runtuh. Atau kita menyalahkan sesuatu yang datang dari luar tanpa melihat ke dalam. Apakah semua baik-baik saja, lalu mendadak hancur? Atau ia telah lama rapuh, hanya menunggu waktu untuk jatuh?

Tapi berpikir seperti itu mungkin melelahkan, sehingga humor bisa jadi lebih mudah dan menjadi benteng terakhir orang-orang yang menolak terlihat rapuh.

Lama setelah percakapan itu berlalu, setelah layar ponsel kembali gelap, saya masih berpikir tentang kata-kata terakhirnya.

"U udah cerita ke Mimi?" tanya saya akhirnya, mengetik dalam keheningan yang terlalu panjang.

"Udah. Tapi aku juga nggak cerita yang detilnya. Cuma bilang udahan."

Ada jeda sebelum pesan berikutnya muncul.

"Jumat pagi pas lagi siap-siap tiba-tiba Mimi nanya hari Minggu aku dan cowo ini pelayanan nggak. Aku bilang engga. Gitu kan, terus Mimi bilang Mimi mau panggil. Terus aku kayak Aigoooo. Yaudah akhirnya aku bilang nggak usah, Mi. Udahan. Kapan? Semalem. Terus kurang lebihnya aku ceritain tapi nggak yang secerita itu juga. Terus Mimi, as expected, mau nanya-nanya terus kan. Tapi akunya udah males ngomongin orang itu lagi. Jadi aku bilang udah, Mi, I nggak mau bahas cowo itu lagi. Fin. Gitu akhir ceritanya."

Ibu memang sering bisa membaca apa yang terjadi pada anak-anaknya.

Saya membaca pesannya perlahan. Ketika seseorang memilih kata "Fin," itu berarti mereka sedang meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya benar-benar selesai.

Lalu, seolah ada sesuatu yang baru saja diputuskan di dalam dirinya, Cey mengetik lagi: "Yang sekarang sepertinya aku lebih tegar karena banyak yang konfirmasi buat udahan saja. Sampai stranger. Like totally stranger."

Saya mengangkat alis kemudian bertanya ragu, "Jadi yakin nggak akan balikan? Udah berapa tahun pacaran?"

Ada jeda sebentar sebelum jawabannya muncul.

"Pretty sure wkwk. Like forever. Been with him like for 29 years."

Saya mendengus kecil. Orang-orang suka melebih-lebihkan waktu, seolah angka yang lebih besar bisa membuat segalanya terasa lebih dramatis.

Padahal di tengah waktu yang terus bergerak, ada kemungkinan di suatu titik, entah direncanakan atau tidak, langkah dua orang yang terpisah bisa saja bertaut kembali. Pertemuan itu mungkin canggung di awal, dipenuhi pertanyaan yang enggan terucap. Atau justru terlalu akrab, seakan keakraban yang dulu tak pernah benar-benar hilang.

Namun pertemuan kembali bukan selalu membawa jawaban, sebagaimana perpisahan bukan selalu tentang kehilangan. Cepat atau lambat, waktu akan memberi bentuk baru pada yang tersisa. Bisa jadi luka yang sudah mengering, atau kenangan yang tak ingin diulang.

"U mau pindah gereja?"

"Wish I could. Tapi kayaknya susah."

Saya berpikir sejenak sebelum mengetik.

"Iya sih. Pindah agama lebih gampang, Cey. Nanti gw ajarin bahasa Arab 🤣."

Balasan cepat.

Tawa.

Dan sejenak, semuanya terasa ringan.

Pada akhirnya, kehilangan bukan tentang menghapus atau menggantikan. Ia tentang refleksi dan mengambil pelajaran hidup dari katastrofe yang menyertainya. Ia tentang memahami diri sendiri, memahami orang lain dan menjadi lebih bijaksana. Untuk mencapainya, kita hanya perlu menunggu, bergerak, dan menerima bahwa segala sesuatu punya musimnya sendiri.

Saya menyudahi percakapan itu walaupun tahu, di balik layar, sesuatu masih tersisa. Sesuatu yang tidak bisa dihapus dengan candaan. Sesuatu yang akan tetap ada, bahkan setelah baterai ponsel mati.







Selasa, 31 Desember 2024

Children Of Heaven, Kisah Tentang Anak-Anak Masa Depan

Dari awal bertemu di Stasiun Bekasi, suasana sudah penuh kehangatan. Saya menggoda Alvaro, teman anak saya, Nada, “Cie yang mau ke Jepang!”

Saya sengaja meninggikan suara, memastikan semua orang di sekitar mendengar. Alvaro hanya terkekeh kecil. Rambutnya yang berantakan mengingatkan saya pada karakter Ali dari novel serial Bumi - Tere Liye.

Alvaro Danish Sutanto bukan anak biasa. Dia baru saja memenangkan juara pertama kategori Roblox dalam National Coding Competition 2024, sebuah ajang bergengsi untuk siswa Indonesia berusia 8 hingga 16 tahun yang diadakan oleh Koding Next. Dengan usia yang baru 14 tahun, Alvaro berhasil menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Hadiahnya? Sebuah perjalanan edutrip ke Jepang, pengalaman yang bagi banyak orang adalah mimpi yang menjadi nyata.

Namun, ada nada ragu dalam ucapannya, “Belum tahu nih, Om. Jadi atau nggak.”

Mama Alvaro, yang berdiri di samping Alvaro, dengan cepat menjelaskan, “Soalnya Al belum pernah pergi sendirian, apalagi sampai ke luar negeri. Kalau orang tua mau nemenin, biayanya juga nggak sedikit.”

Hadiah perjalanan itu memang hanya untuk pemenang, tanpa mencakup biaya pendamping. Saya mendengar sekilas ada getaran kekhawatiran yang terasa di suaranya. Ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang keberanian melepas anak ke dunia yang jauh lebih besar, dunia yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya.

Alvaro tersenyum kecil, “Padahal aku berharapnya juara dua aja, Om. Dapat laptop, selesai urusan.” Kata-katanya terdengar sederhana, namun mengandung kejujuran yang menyentuh. Laptop itu akan diberikan untuk adik perempuannya, Alisha.

Adegan itu mengingatkan saya pada film Children of Heaven karya Majid Majidi, sebuah cerita menyentuh tentang Ali dan adiknya, Zahra, di tengah keterbatasan hidup mereka di Tehran, Iran. Suatu hari, Ali secara tidak sengaja kehilangan sepatu Zahra. Karena mereka tidak mampu membeli sepatu baru, mereka memutuskan untuk berbagi sepatu Ali. Mereka bergantian memakainya untuk pergi ke sekolah.

Ali kemudian mengetahui tentang sebuah lomba lari di sekolahnya yang menawarkan hadiah sepatu untuk juara ketiga. Dia memutuskan untuk ikut lomba tersebut dengan harapan bisa memenangkan sepatu baru untuk Zahra. Ali berlatih keras dan bertekad untuk mencapai tujuannya. Pada hari perlombaan, Ali berlari dengan sekuat tenaga. Namun, dia menghadapi dilema karena harus memastikan ia finis di posisi ketiga, bukan pertama atau kedua, untuk mendapatkan hadiah sepatu. Meskipun Ali berusaha keras untuk juara 3, dia akhirnya tetap finis di posisi pertama. Kemenangan yang manis sekaligus getir.

Sebagai orang tua, saya melihat kesamaan antara Alvaro dan Nada, anak saya. Mereka lahir dari keluarga sederhana, di mana setiap keberhasilan terasa seperti kemenangan besar, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keluarga. Terkadang saya bertanya-tanya, bagaimana jika saya memiliki uang satu triliun rupiah? Apakah segalanya akan menjadi lebih mudah? Namun, saya tahu uang tidak selalu menjamin kebahagiaan. Berita di televisi akhir-akhir ini mengajarkan kita bahwa keserakahan hanya membawa seseorang ke dalam lubang kesengsaraan yang lebih dalam. Itu menjadi pengingat nyata bahwa nilai-nilai yang sesungguhnya seperti pengorbanan, kejujuran, ketekunan juga kerja keras tidak bisa dibeli.

Sampai hari ini saya masih percaya bahwa bahwa anak-anak yang tumbuh dalam kesederhanaan akan memiliki karakter yang lebih kuat dan tangguh. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini belajar untuk menghargai apa yang mereka miliki, berjuang untuk apa yang mereka inginkan, dan tetap rendah hati ketika mereka mencapai puncak. Mereka belajar bahwa kebahagiaan bukanlah tentang memiliki segalanya, tetapi tentang berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain.

Dalam langkah Alvaro menuju Jepang, meski ragu dan penuh tantangan, saya melihat seorang anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh kasih dan bijaksana. Ia adalah pengingat bahwa anak-anak seperti dia adalah harapan untuk masa depan. Harapan yang akan membawa nilai-nilai terbaik dalam perjalanan mereka meraih mimpi yang bahkan mungkin tak terjangkau oleh imajinasi kita, para orang tua.

Senin, 30 Desember 2024

Menulis Hari Ini




Puluhan tahun lalu, sebelum era digital, saya pernah tinggal bersama nenek. Jika di rumah, selain membaca buku, sebagian besar waktu saya habiskan untuk mengobrol dengan beliau. Banyak yang ia ceritakan, tentang suami kedua yang hilang dibawa penjajah Belanda saat ia mengandung anak ketiga, tentang suami terakhir yang telah berpulang mendahului, tentang tetangga, atau tentang pikiran-pikiran acak lain. Dari sekian banyak obrolan, cerita yang paling sering ia bicarakan adalah tentang anak-anaknya: bapak, paman dan bibi saya, yang beberapa di antara mereka telah tinggal jauh di luar kota, di luar negeri, bahkan telah meninggal dunia. 

Ia sering fokus bercerita tentang kejadian tertentu yang ia anggap spesial. Ia bercerita seakan-akan itu pertama kali ia bercerita kepada saya, dengan gaya, intonasi, diksi, dan semangat yang selalu sama. Padahal, saya telah mendengar cerita itu berulang-ulang, dan sebenarnya ia pun tahu kalau ia telah menceritakan kepada saya berulang-ulang. Saya pikir begitulah derita menjadi tua, atau mungkin juga derita menjadi manusia; bahwa sebuah peristiwa dapat bertahan selamanya. 

Berbeda dengan generasi digital native yang tumbuh dengan media sosial sejak lahir, saya menyebut diri saya sebagai imigran yang sering merindukan kampung halaman tempat ingatan masa kecil sederhana dan sunyi tanpa gawai. Mungkin itu sebabnya saya lebih berpikir konservatif dan mengandalkan pengalaman sebelum era digital. Mungkin karena itu saya suka menulis kenangan, atau mungkin itu hanya menandakan kalau saya mulai seperti nenek saya. 

Era digital adalah era foto dan video, di mana kita sibuk merekam hingga lupa menikmati momen. Saya merasa di era media sosial banyak dari kita yang kehilangan jati diri. Itu adalah salah satu sebab mengapa saya menonaktifkan akun Instagram dan Facebook dalam beberapa tahun terakhir.

Bagaimanapun hebatnya digitalisasi, ia tidak bisa merekam perasaan. Foto dan video tidak bisa menangkap konteks dan semua hal yang di luar frame. Apa yang ada di sana tidak utuh, serta menyisakan ruang hampa yang tidak bisa diisi dengan like, follower, ketenaran, atau uang. 

Walaupun tidak sempurna, saya berusaha mengisi jeda dalam ruang kosong itu dengan menulis. Bagi saya, menulis adalah kegiatan sepi tanpa hingar bingar. Sebagian besar proses menulis saya habiskan dengan diam, membaca, dan merenung. Saat buku diterbitkan, mungkin ada gegap gempita sebentar, tetapi dalam proses menulis, hanya ada diri sendiri dan keresahan. 

Sejak dulu menulis membantu saya dalam banyak hal. Mungkin itu yang membuat saya tetap waras. Dulu, saya menulis diary untuk mencurahkan perasaan saat sedih, kangen, merasa tidak dicintai, atau merasa bodoh, sementara tidak ada yang bisa mendengarkan. 

Sampai sekarang saya masih tetap menulis. Mungkin saya akan menulis selamanya, atau mungkin hanya sampai besok pagi, saat tidak ada lagi yang ingin saya sampaikan, tapi tentu bukan hari ini. 

Hari ini adalah hari yang biasa, dan kebanyakan hari adalah hari biasa, bukan hari ulang tahun, bukan hari perayaan, bukan hari liburan. Kebanyakan hari adalah hari-hari biasa, maka saya menulis tentang hari-hari yang biasa. Tentang hari ini yang akan kita lalui sebentar lagi, tentang hari kemarin yang kita kenang, juga tentang esok yang bisa jadi ada, bisa jadi tidak. 

Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah kumpulan surat dan puisi yang saya buat untuk istri saya sejak sebelum kami menikah. Saya tidak pernah menganggap hubungan kami adalah hubungan ideal apalagi sempurna, karena memang sampai kapan pun tidak akan ada hubungan seperti itu. Saya menulis ini untuk mengevaluasi diri, untuk memperingati pertambahan usia, atau mengingat hal yang sudah lewat. Pada awalnya saya tidak berharap surat dan puisi ini dibaca selain oleh istri, karena sebagian isinya sangat pribadi. Tapi sejujurnya, tulisan-tulisan ini bukan hanya tentang saya atau istri, tapi juga tentang hubungan dengan banyak orang. 

Cerita satu orang adalah cerita semua orang. Hubungan satu orang dapat berkaitan dengan hubungan banyak orang. Hari yang kita jalani adalah hari yang sama seperti hari-hari yang dijalani semua orang di seluruh dunia. Setiap kita selalu pada kondisi memperbaiki komunikasi dengan orang lain. Siapa pun kita, selama menjadi manusia, kita punya perasaan yang sama. Kita sama-sama manusia rapuh yang kacau, yang sedang belajar menerima rasa sakit.


Buku bisa dipesan di sini

Sabtu, 20 Juli 2024

Bagaimana Mendapat Ide dan Inspirasi Saat Buntu?

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

---------------------------

Bagaimana cara mendapatkan ide lagi jika lagi buntu ide?

Gloria Erfrans - STIBA IEC JAKARTA

----------------------------

bagaimana solusinya jika kita kehabisan ide untuk menulis?

Anza Mafiratika - STIBA IEC Jakarta

---------------------------  

Bagaimana cara memulai menulis dalam menentukan ide?

Adjeng Nurul Rahma - STIBA-IEC JAKARTA

----------------------------

bagaimana cara mudah mendapatkan inspirasi untuk menulis fiksi?

Chika Nur Nazra - STIBA IEC Jakarta

----------------------------  

Bagaimana cara membangun minat dalam menulis agar selalu terjaga mood dalam menulis?

Asri Jannah Wati - UNINDRA

----------------------------  

cara nya mengembangkan kreatifitas dalam menulis?

AFIFAH APRIYANTI HASANAH - SMK NURUL ISLAM


Halo, Kawan-kawan. Salam kenal! Karena pertanyaan-pertanyaan di atas relatif sama, maka saya akan menjawab secara gabungan.

Asumsi saya dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah penulis belum memiliki ide sama sekali saat ingin menulis, bukan karena mengalami writer’s block di tengah-tengah menulis cerita.

Saya pribadi menulis karena dua hal: pertama, ketika diminta menulis dengan tema yang sudah ditentukan; dan kedua, ketika mendapat ide dari pengalaman dan keresahan.

Pada kondisi pertama, biasanya saya melakukan penelitian dan membaca banyak referensi yang berkaitan dengan tema atau genre yang akan saya tulis. Saya juga melakukan brainstorming dengan menuliskan semua ide yang muncul di kepala, tanpa menyaring atau menghakimi.

Sementara pada kondisi kedua, saya sering mendapatkan ide yang masih sangat mentah dan belum solid. Misalnya, saya hanya punya pesan yang ingin saya sampaikan (moral of the story), atau tokoh dengan karakter yang kuat, sebuah adegan, atau dialog. Ide semacam ini bisa muncul ketika menonton, membaca, berinteraksi dengan teman, mendengarkan lirik lagu, dan sebagainya. Setelah ide muncul, saya biasanya langsung menulis, meskipun belum tahu apakah itu akan menjadi puisi, cerpen, novel, atau hanya tetap tersimpan.

Menurut saya, hal-hal tersebut juga bisa dilakukan ketika kita sama sekali tidak punya ide. Kegiatan-kegiatan ini dapat memicu kreativitas dan memunculkan ide untuk cerita. Kata kuncinya adalah paksakan. Ide dan kreativitas akan datang jika kita memaksa diri dan disiplin untuk mencarinya. Misalnya, dengan menulis bebas, menuliskan apa saja yang muncul di pikiran selama beberapa menit tanpa berhenti. Ini bisa membantu memunculkan ide yang tidak terduga. Selain itu, bertanya pada diri sendiri seperti, “Apa yang ingin saya sampaikan?”, “Apa yang saya pedulikan?”, atau “Apa yang membuat saya penasaran?” juga bisa membantu.

Intinya, tetap memaksa untuk menulis! Menulis bahwa kita sedang tidak punya ide lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Dengan memaksa jari kita untuk menulis, otak kita akan mencari cara agar mendapatkan ide. Terkadang ide itu tidak datang seketika saat kita menulis, tapi datang saat kita sedang beristirahat, menjauh dari aktivitas menulis. Tapi itu terjadi karena kita memancing ide dengan cara memaksakan untuk menulis.

Jadi, paksakanlah untuk menulis! Luangkan waktu untuk menulis apa pun sebebas-bebasnya. Setelah pemaksaan itu, lakukan kegiatan lain seperti bepergian, mencoba hobi baru, atau bertemu orang baru. Pada akhirnya, otak akan kembali memunculkan ide untuk menulis.

Sekali lagi paksakan untuk menulis!

Semoga ini menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Menulis Dengan Bantuan AI (Artificial Intelligent)

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

--------------------------

Berikut beberapa pertanyaan yang bisa diajukan dalam kegiatan webinar menulis, disesuaikan dengan topik dan target audiens: *Untuk webinar umum tentang menulis:* * *Apa saja kiat-kiat untuk memulai menulis dan mengatasi rasa takut untuk menulis?* * *Bagaimana cara menemukan ide menulis yang menarik dan orisinal?* * *Teknik apa yang bisa digunakan untuk membuat tulisan lebih menarik dan mudah dipahami?* * *Bagaimana cara menyusun struktur tulisan yang baik dan efektif?* * *Strategi apa yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas tulisan?* * *Bagaimana cara mengatasi kesulitan dalam menulis, seperti kesulitan menemukan kata yang tepat atau kesulitan merangkai kalimat?* * *Bagaimana cara mempromosikan tulisan dan mendapatkan pembaca?* * *Bagaimana cara menulis untuk berbagai platform, seperti blog, media sosial, dan website?* * *Apa saja sumber referensi yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis?* * *Bagaimana cara menulis dengan gaya yang khas dan mudah dikenali?* *Untuk webinar khusus tentang jenis tulisan tertentu:* * *Bagaimana cara menulis artikel opini yang persuasif?* * *Teknik apa yang bisa digunakan untuk menulis cerpen yang menarik dan penuh konflik?* * *Bagaimana cara menulis puisi yang bermakna dan menyentuh hati?* * *Strategi apa yang bisa digunakan untuk menulis novel yang memikat dan penuh alur?* * *Bagaimana cara menulis skenario film yang menarik dan dramatis?* * *Bagaimana cara menulis esai yang argumentatif dan kritis?* * *Bagaimana cara menulis laporan ilmiah yang akurat dan mudah dipahami?* * *Teknik apa yang bisa digunakan untuk menulis pidato yang inspiratif dan memotivasi?* *Untuk webinar yang fokus pada aspek tertentu dari menulis:* * *Bagaimana cara menggunakan bahasa yang efektif dan tepat sasaran dalam menulis?* * *Bagaimana cara menulis dengan gaya yang formal dan profesional?* * **BagaiApakah ada kesalahan umum yang sering dilakukan oleh penulis pemula?

Wildatul Aluf Barokah - STIBA IEC JAKARTA

Halo Wilda, salam kenal!

Meski kamu menggunakan AI secara sembarangan, saya tetap senang karena pertanyaanmu memberi saya bahan tulisan.

Sejatinya AI, mesin atau aplikasi apapun dirancang untuk memudahkan manusia. Alat-alat seperti sempoa, kalkulator, komputer sampai AI adalah mesin yang bisa digunakan untuk menunjang segala kegiatan atau profesi kita sehari-hari, termasuk juga dalam hal menulis.

Sebagai penulis saya tidak khawatir dengan keberadaan AI, bahkan bisa memanfaatkannya dengan baik. Apakah AI bisa diberi perintah untuk membuat premis cerita? Tentu bisa. Membuat kerangka karangan, bahkan sampai membuat seluruh novel juga bisa. Namun, jika kamu menggunakannya secara ceroboh seperti cara kamu memberi pertanyaan di atas, maka AI sama sekali tidak berguna. Sama tidak bergunanya seperti komputer yang diberikan kepada Lemur Madagaskar.

Saya pribadi menggunakan AI untuk brainstorming, mengembangkan ide dan plot, mengedit tulisan, melakukan penelitian, atau sekedar bertanya tentang banyak hal. AI buat saya tidak ubahnya kawan yang tidak pernah rewel dan selalu menjawab apapun pertanyaan dan permintaan saya. Oleh karena itu, saya tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu di atas, karena tentu AI akan mudah sekali memberi jawaban yang kamu cari.

Salam.

Baca atulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Buku Anak, Copywriting, Cover Buku Sampai Fanfiksi

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

--------------------------

Fiksi yang cocok utk anak usia dini?

Siti Chusnul Chotimah, S.Pd - TKIT Al Muqorrobin
 
Hallo, Unun. Sudah lama ya, kita gak ketemu. Semoga sehat-sehat ya.

Saya pribadi biasanya melihat ulasan dan rekomendasi dari orang lain sebelum memilih bahan bacaan untuk anak. Dan ini yang paling penting, saya sudah membaca buku tersebut sebelum memberikannya atau membacakannya kepada anak saya. Tingkat kesulitan bacaan juga penting diperhatikan, karena setiap anak berbeda dalam kecerdasan literasi, yang tidak selalu berkaitan dengan usia. Oleh karena itu, orang tua harus jeli melihat kemampuan anak dalam membaca dan memahami cerita.

Selain itu, saya juga mempertimbangkan ilustrasi. Buku dengan ilustrasi menarik bisa membantu menjaga perhatian anak, terutama untuk anak yang lebih kecil.

Berikut rekomendasi buku-buku yang disukai anak-anak saya:
  • Winnie the Pooh
  • Serial Camille oleh Aline de Petingne dan Nancy Delvaux
  • Serial Tini oleh Marcel Marlier
  • My First Qur'an Story oleh Tasaro GK
  • Serial Bumi oleh Tere Liye
Anak-anak saya juga suka membaca dari Room to Read (literacycloud.org) yang menyediakan cerita dalam berbagai bahasa dan tingkatan.

--------------------------

Would you share about copy writing?
Arlina Yuaninta - CIMB Niaga

Hai, Lin. Serius nanya ini nih? Hahaha
 
Saya pribadi belum pernah menjadi Copywriter jadi saya tidak tahu bagaimana mekanisme dan cara kerjanya, tapi saya akan coba menjawab sesuai pengetahuan saya.

Copywriting adalah istilah untuk sebuah pekerjaan menulis yang bertujuan untuk mempromosikan dan menjual produk atau layanan. Dalam dunia pemasaran, kata “Copy” merujuk pada teks yang digunakan untuk mempromosikan/menjual produk atau layanan. Sementara orang yang melakukannya disebut Copywriter, atau jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi Penulis Naskah Iklan.

Dalam dunia perbankan mungkin juga ada pekerjaan menjadi Copywriter ini, tapi sekali lagi saya tidak tahu bagaimana mekanisme pekerjaan ini dan ada di departemen apa. Kemungkinan salah satu tugasnya adalah membuat tulisan dalam berbagai bentuk media seperti iklan, brosur, situs web, email, dan media sosial. Tentu Copywriter tidak hanya sekadar menulis teks yang kaku, tetapi juga harus memahami audiens, memenuhi aspek-aspek persuasi, dan mengetahui tentang produk atau layanan yang ditawarkan.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.

-----------------------------

Bagaimana tips membuat sampul buku untuk pemula?

Azora Ainuni - STIBA-IEC

Halo Azora, salam kenal!

Wah, jika pertanyaanmu tentang cover buku, saya berasumsi kamu sudah punya naskah yang siap diterbitkan. Keren!

Saya pernah menerbitkan buku baik secara mandiri melalui Penerbit Indie atau juga secara profesional melalui Penerbit Mayor. Jika naskahmu diterima oleh Penerbit Mayor, tidak perlu khawatir soal cover buku karena tim penerbit yang akan mengurusnya. Namun, jika kamu menerbitkan melalui Penerbit Indie, ada beberapa pilihan: bisa dibuatkan oleh pihak penerbit atau membuatnya sendiri.

Saya pribadi memilih membuat cover buku sendiri saat menerbitkan melalui Penerbit Indie, agar lebih bebas berekspresi. Aplikasi yang biasa saya gunakan untuk membuat cover buku adalah Canva. Aplikasi ini cocok untuk pemula yang ingin berkreasi membuat cover buku sendiri karena mudah digunakan dan menawarkan banyak pilihan serta contoh.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.

----------------------------------

Mungkin pertanyaan ini bukan mengenai menulis fiksi, namun masih berkaitan dengan fiksi. Di dalam fiksi ada fanfiksi, di mana karya fiksi tersebut ditulis oleh penggemar dengan menggunakan karakter yang sudah terkenal sebagai karakter di karya fanfiksi tersebut. Sekarang ini banyak sekali fanfiksi, walau sebenarnya dari sepuluh tahun lalupun sudah ada. Namun, sekarang ini tidak sedikit author-author fanfiksi yang mempublish fanfiksinya sebagai buku, bahkan tidak sedikit juga yang mengadaptasi fanfiksi tersebut menjadi sebuah film atau series. Pertanyaan saya adalah, apakah legal untuk mempublish sebuah karya fanfiksi bahkan mengkomersilkan karya tersebut? Bagaimana soal copyright dari karakter terkenal yang dipakai?
Dinda Cherril Julian Rahim - STIBA-IEC Jakarta

Halo Dinda, salam kenal!

Ya, mempublikasikan karya fanfiksi apalagi sampai mengkomersilkannya punya akibat hukum yang signifikan, karena ini terkait dengan hak cipta. Artinya, menggunakan tokoh dalam karya fiksi (karakter dalam buku, film, atau komik) dalam karya fanfiksi tanpa izin pemilik hak cipta dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta yang bisa dikenakan denda, atau bahkan tuntutan pidana.

Benar apa yang kamu ceritakan bahwa sejak beberapa tahun belakangan ini, ada beberapa karya fanfiksi yang dipublikasikan baik melalui media tulisan atau video. Ada yang legal tapi tidak sedikit juga yang ilegal. Jika kamu ingin melakukan hal serupa, saya sarankan untuk melihat lisensi fanwork yang ada pada karya tersebut. Beberapa pemilik hak cipta, seperti penulis atau penerbit, mungkin mengizinkan pembuatan dan distribusi karya fanfiksi selama tidak dikomersilkan. Mereka mungkin memberikan panduan atau batasan spesifik terkait penggunaan karya mereka dalam fanfiksi. Kamu bisa mencari izin eksplisit dari pemilik hak cipta atau memilih untuk mendistribusikan karya mereka secara gratis di platform yang mengizinkan karya fanfiksi, seperti Archive of Our Own (AO3) atau Wattpad.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Tentang Teknik Menulis

Berikut di bawah ini adala beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

------------------------------------

apakah para penulis menggunakan teknik agar para pembaca mempunyai ketertarikan tersendiri dari buku tersebut?

Ahmad Ruslan - STIBA-IEC JAKARTA

Hallo Ruslan, salam kenal!

Ya, tentu saja para penulis sering menggunakan berbagai teknik untuk menarik dan mempertahankan minat pembaca. Seperti dalam olah raga, teknik perlu diasah agar semakin mahir. Dan sebagaimana olah raga, teknik bisa dipelajari dan ditingkatkan. Ini adalah bagian penting dari keterampilan menulis.

Beberapa penulis seperti Pidi Baiq bahkan membuat teknik dan style tersendiri dalam tulisannya. Dilan contohnya, secara premis novel itu sederhana, namun dalam teknik penulisan, Pidi menitikberatkan pada pengembangan karakter yang kuat dan unik dengan dialog yang lucu dan romantis. Karakter Dilan, anak remaja usia belasan yang sudah punya idealisme dan mental tidak seperti kebanyakan anak muda di usianya tentu membuat pembaca tertarik. Teknik penulisan yang unik tersebut juga dilakukan Pidi ketika menulis seri Drunken Monster. Kalimatnya ringan dan diselingi dengan bahasa lisan, membuat karyanya menarik perhatian pembaca.

Dewi Lestari, dengan plot dan dialog yang memikat dalam Perahu Kertas, Madre, dan Filosofi Kopi, menciptakan kejutan, konflik, dan ketegangan yang membuat ceritanya hidup dan menarik. Sementara deskripsi dalam novel-novel Haruki Murakami juga membuat pembaca membayangkan setting dan kejadian dalam cerita, sehingga mereka merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut.

Ayu Utami juga punya teknik membuka cerita dengan kalimat atau paragraf pembuka yang kuat dan menarik. Saya kutipkan kalimat pembuka dari Bilangan Fu, “Taruhan. Kau pasti enggan percaya jika kubilang padaku ada sebuah toples selai berisi sepotong ruas kelingking.”

Semua teknik yang digunakan oleh penulis-penulis yang saya sebutkan di atas bertujuan untuk membuat cerita lebih hidup dan menarik bagi pembaca. Ada beberapa teknik lain seperti Show, Don't Tell, atau kebalikannya Tell, Don’t Show, teknik membangun Suspense, Flashback, In Medias Res (Memulai cerita di tengah aksi), Cliffhanger (Mengakhiri bab atau cerita dengan situasi yang menggantung) dan lain sebagainya. Menggabungkan teknik-teknik ini dapat menambah kedalaman dan kompleksitas pada ceritamu, membuatnya lebih menarik bagi pembaca.

Seperti seorang pemain sepak bola yang mempelajari berbagai teknik, penulis juga perlu mengasah keterampilan dalam menulis. Seperti pemain yang tahu kapan harus mengoper, dribbling, berlari, atau melakukan tackle, penulis juga harus memahami kapan menggunakan teknik ‘tell don’t show’ atau ‘show don’t tell’, serta bagaimana menempatkan dialog, kapan ia deskriptif, kapan ia harus mendramatisir cerita. Semua ini dapat diperoleh melalui latihan, intuisi, dan membaca karya-karya lain.

Teknik bisa dipelajari, tetapi tanpa praktek akan percuma. Pengetahuan tentang teknik menulis tanpa praktik itu sama saja dengan belajar teknik berenang dari buku atau video tanpa pernah berlatih di kolam renang. Kunci utamanya adalah praktek. Jika penulis terbiasa menggunakan berbagai teknik, dengan waktu, ia akan mengembangkan gaya penulisan yang unik dan bahkan menciptakan tekniknya sendiri.

Semoga itu menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Tentang Pemilihan Kata

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

----------------------------

Bagaimana cara mudah dalam pemilihan kata dalam cerita fiksi atau non fiksi, supaya pembaca lebih mudah paham tetapi tetap memilik bobot pada kalimat?

Wendy Aulia Vita Sary - STIE Indonesia Jakarta


Halo Wendy, salam kenal!

Saya sering menggunakan kamus sinonim untuk mencari kata atau diksi yang sesuai. Situs web yang sering saya gunakan adalah persamaankata.com. Penggunaan sinonim sangat berguna agar kata yang digunakan lebih bervariasi, sehingga pembaca tidak bosan. Namun, perlu diperhatikan bahwa sinonim harus sesuai dengan konteks, mudah dipahami, dan tidak mengubah makna keseluruhan kalimat.

Saya selalu menulis dengan kalimat yang sederhana dan jelas. Jika ada dua kata yang sama maknanya, saya pasti memilih kata yang lebih sederhana. Mengapa? Karena saya memikirkan pembaca. Pembaca, pada usia berapapun, tentu menginginkan deskripsi yang jelas dan sederhana agar mereka dapat membayangkan adegan atau karakter dengan lebih baik. Saya juga selalu menghindari penggunaan kata-kata yang tidak perlu atau berlebihan. Hal ini membantu menjaga kalimat tetap padat. Kata kuncinya: jika bisa dibuat lebih sederhana dan jelas, mengapa dibuat rumit dan bertele-tele?

Dalam konteks dan nuansa tertentu, saya juga menggunakan gaya bahasa atau majas. Tujuannya tetap agar pembaca mudah mengerti namun dapat menambah kedalaman makna pada kalimat. Contoh, daripada menulis “gadis itu sangat sedih dengan kematian ibunya,” bisa diganti dengan simile atau metafora seperti “Ibu seperti sinar matahari dalam dunia gadis itu. Kematian ibu pada sore yang mendung, menjadikan duka bagai sumur gelap yang tidak sanggup ia pijak dasarnya.”

Hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan majas adalah memperhatikan ritme agar tidak membuat kalimat terasa canggung atau tersendat. Salah satu cara mengukur hal tersebut adalah dengan membacanya kembali dengan suara keras, atau meminta pendapat dari teman untuk mendapatkan masukan dan penilaian.

Semoga itu menjawab pertanyaan.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Tentang Konflik Cerita

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

----------------------------------------  

Bagaimana cara menentukan konflik utama yang akan menjadi pusat cerita?

Molldy Monia Milene - STIBA IEC

Hallo Molldy, salam kenal!

Untuk merekayasa konflik yang kompleks dan menarik, ada beberapa teknik yang bisa digunakan. Secara umum, konflik dapat dibagi menjadi dua: konflik internal dan konflik eksternal.

Konflik internal melibatkan pikiran dan perasaan karakter, termasuk konflik psikologis, moral, dan eksistensial. Sementara itu, konflik eksternal bisa berasal dari berbagai sumber seperti konflik dengan karakter lain, masyarakat, alam, teknologi, atau waktu.

Saya sering mencontohkan film Into the Wild untuk menggambarkan seluruh konflik itu. Dalam film tersebut, Christopher McCandless, seorang mahasiswa berprestasi lulusan Universitas Emory, menolak kehidupan konvensional dengan menghancurkan kartu kredit dan identitasnya. Ia melakukan perjalanan lintas negara, menumpang kendaraan orang lain, dan memperkenalkan dirinya sebagai Alexander Supertramp. Chris juga menyumbangkan hampir seluruh tabungannya kepada Oxfam, sementara ia tidak memberitahu keluarganya dan menolak berhubungan dengan mereka setelah pergi.

Chris kemudian mengarungi Sungai Colorado, mengabaikan peringatan penjaga taman, dan sampai di Meksiko. Ia juga menggunakan kereta barang menuju Los Angeles, tetapi merasa “rusak” oleh peradaban modern dan memutuskan untuk pergi lagi. Akhirnya, Chris terpaksa menumpang mobil setelah dipukuli oleh petugas stasiun kereta api.

Di Slab City, Chris bertemu Tracy Tatro, seorang gadis remaja yang tertarik padanya, meskipun Chris menolak karena Tracy masih di bawah umur. Kemudian, Chris berjalan sendirian ke daerah terpencil di Alaska. Di “The Magic Bus,” kehidupan Chris semakin sulit, dan ia mengambil keputusan yang buruk. Dalam keadaan putus asa, Chris bahkan harus mengumpulkan dan memakan akar tanaman. Akhirnya, Chris jatuh sakit dan perlahan-lahan sekarat karena kelaparan, hingga mayatnya ditemukan oleh para pemburu rusa.

Dalam film yang diambil dari kisah nyata itu, hampir seluruh konflik ada, dari mulai konflik dalam pikiran dan perasaan karakter tentang kehidupan matrealistis dan ketidakadilan, konflik eksistensial tentang pencarian jati diri dan tujuan hidup, konflik moral karena ia menyukai gadis yang masih di bawah umur, konflik dengan orangtua yang terlalu memaksa, dengan masyarakat yang ia anggap tidak ideal dan bobrok, dengan alam yang akhirnya menyebabkan kematiannya di dalam bis rongsok di lokasi yang jauh dari peradaban.

Secara keseluruhan konflik dalam cerita itu memang kompleks, namun konflik-konflik tersebut adalah tantangan dari tujuan utama karakter, yaitu pencarian jati diri sebagai manusia dan pencarian kebahagiaan. Di akhir cerita, Chris menemukan tujuan hidup dan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan saat berbagi dengan orang lain.

Begitulah membuat konflik yang bagus, konflik yang tidak hanya berfokus pada satu hal tapi menghadirkan berbagai tantangan yang menguji karakter baik dari dalam maupun luar. Cara membuat karakter menghadapi semua itu adalah dengan menjadikannya manusia, sebenar-benarnya manusia. Berikan karakter semua potensi yang ada pada manusia, dengan segala kerapuhan dan kelemahan, dengan begitu karakter akan menghadapi konflik yang realistis dan cukup membuatnya nelangsa.

Semoga itu dapat menjawab pertanyaan.  

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Selasa, 16 Juli 2024

Tentang Kerangka Cerita

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

--------------------------

Apa tips dan trick agar karya kita bisa menarik tidak hanya untuk penulis tetapi juga untuk pembaca? Untuk penulis pemula apakah membuat kerangka tulisan itu penting atau menulis saja sesuai imaginasi yg ada, untuk menulis karya yang bisa diminati pembaca?

Handini Aprillia Ros - STIBA IEC Jakarta


Hallo Handini, salam kenal!

Untuk menarik pembaca, bayangkan kamu sedang menceritakan atau membacakan ceritamu di depan teman. Dengan begitu, kamu akan lebih peka terhadap hal-hal yang menghibur atau membosankan. Selanjutnya, bacalah kembali tulisan atau cerita yang menarik perhatianmu dan teliti mengapa cerita tersebut bisa membuatmu tertarik, kemudian tiru dan adaptasi sesuai dengan ceritamu.

Apakah kerangka cerita penting?

Tentu saja, kerangka cerita sangat penting karena penulis harus memiliki rencana yang dituangkan dalam kerangka. Namun, berdasarkan pengalaman saya, kerangka cerita bisa berkembang ke arah yang tidak terduga, dengan karakter seolah menemukan jalan mereka sendiri. George R.R. Martin, penulis novel fenomenal A Song of Ice and Fire, menjelaskan hal ini dengan baik: “Menurut saya, ada dua tipe penulis, arsitek dan tukang kebun. Arsitek merencanakan segalanya jauh-jauh hari, seperti seorang arsitek yang membangun rumah. Mereka tahu berapa banyak ruangan yang akan ada di dalam rumah, jenis atap apa yang akan dibangun, di mana kabel-kabel akan dipasang, dan jenis pipa yang digunakan. Mereka telah merancang dan mencetak semuanya bahkan sebelum mereka memasang batu pertama. Para tukang kebun menggali lubang, memasukkan benih, dan menyiraminya. Mereka tahu benih apa itu, apakah benih fantasi atau misteri. Namun saat tanaman tumbuh, mereka tidak tahu berapa banyak cabang yang akan dimilikinya. Mereka mengetahuinya seiring pertumbuhannya. Dan saya lebih merupakan seorang tukang kebun daripada seorang arsitek."

Pada dasarnya, kerangka tetap diperlukan untuk memberikan struktur cerita, namun dalam penerapannya bisa fleksibel. Masing-masing penulis punya kebiasaan masing-masing. Tanya pada dirimu sendiri; apakah kerangka cerita menggangu kelancaran menulis atau sebaliknya jika tidak ada kerangka kamu bingung karena tidak ada pedoman?
 
Masing-masing penulis punya kecenderungan, jika kamu tipe spontan, menulislah dulu tanpa berpikir tentang kerangka cerita atau struktur. Kemungkinan hasilnya akan berantakan. Tapi jangan khawatir, karena itu bisa dirapikan dengan struktur. Masukan ceritamu dalam kerangka cerita kemudian tambal lubang-lubang yang kurang.

Kamu juga bisa membaca tentang menulis dan mengedit lewat tulisan ini.

----------------------------

Proses kreatif seperti apa untuk membuat cerita panjang?
Rezki Andayan - STIBA-IEC
 
Halo Rezki, salam kenal!

Asumsi saya dari pertanyaan kamu adalah bahwa kamu sudah punya cerita pendek dan ingin mengembangkannya menjadi lebih panjang, mungkin dari cerpen atau novelette menjadi novel.

Ada beberapa hal yang bisa saya sarankan dan bisa dimulai dengan mengembangkan kerangka cerita. Kerangka cerita dapat membantumu melihat berbagai kemungkinan pengembangan cerita. Ajukan pertanyaan seperti, “Bagaimana jika karakter melakukan ini?” atau “Bagaimana kalau terjadi begitu?”

Dengan kerangka, kamu juga bisa menambahkan konflik. Perkenalkan lebih banyak konflik untuk karakter utama. Jika cerita hanya memiliki satu halangan, tambahkan lebih banyak. Perluas titik-titik penting seperti pencapaian dan kejatuhan karakter. Tambahkan latar belakang para karakter. Pikirkan tentang motivasi, tujuan, dan bagaimana mereka akan berkembang sepanjang cerita.

Kamu juga bisa menambahkan elemen faktual seperti sejarah, sosial atau fakta ilmu pengetahuan. Dan yang terakhir namun tidak kalah penting, lihat dan baca kembali buku atau film yang kamu sukai. Pelajari alur dan konflik yang ada di sana, lalu tiru dan adaptasi sesuai dengan ceritamu.

Untuk lebih detail tentang cara membuat kerangka cerita yang menarik, kamu bisa menyimak contoh dan panduan di sini.

Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Hal-Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum dan Ketika Menulis Fiksi

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

-------------------
Bagaimana dan harus mulai dari mana jika kita ingin memulai menulis? Karena saya merasa sedikit kesulitan saat ingin mencoba menulis padahal sudah memiliki alur cerita sendiri dikepala

Riyu Khaulah Effendi - STIBA IEC JAKARTA
--------------------
Bagaimana cara menulis cerita atau naskah film yang bagus?

Gabriel Arya Praba - STIBA IEC Jakarta
---------------------
Bagaimana memulai menulis dgn baik?

Diniawati Aliah - STTD Bekasi
----------------------
Bagaimana langkah menulis fiksi yg benar?

Esther Puspita Happy - STIBA IEC JAKARTA
----------------------
Bagaimana menulis buku fiksi yang baik dan benar?

Mohammad Ilham Rezeki - PT. Lestari
---------------------
Yang menjadi dasar pembuatan cerita fiksi itu apa?

Simbarwati - STIBA-IEC JAKARTA
---------------------
Apa yang penulis harus siapkan sebelum menulis buku fiksi?

Khorihah - STIBA-IEC Jakarta
---------------------
Cara menulis praktis?

Sekar Ayu - STIBA IEC
-----------------------

Halo, Kawan-kawan. Salam kenal! Karena pertanyaan-pertanyaan di atas relatif sama, maka saya akan menjawab secara gabungan.

Pada dasarnya, tidak ada rumus yang baik dan benar tentang bagaimana memulai menulis. Banyak penulis memberikan panduan praktis yang dapat dikuti untuk mulai menulis. Saya pribadi merumuskan 5 langkah sederhana untuk bisa dijadikan panduan untuk memulai menulis fiksi. Lima langkah tersebut adalah:
  1. Buat premis cerita
  2. Tentukan pembaca
  3. Buat kerangka cerita
  4. Lakukan editing saat buku sudah selesai
  5. Tetapkan target

Penjelasan lengkap tentang lima langkah tersebut ada dalam video ini. Selain itu, ada dua poin tambahan yang saya tulis di sini:
Saja juga menulis tentang mengapa kita perlu menulis fiksi.
 
Saya bisa menjamin, dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, kawan-kawan bisa menulis dengan lebih terarah dan efektif.

Disiplin; Kunci Utama Keberhasilan Menulis Buku

Segala sesuatu kecuali Tuhan memiliki batas, termasuk menulis. Menentukan awal dan akhir dalam menulis adalah hal yang wajar dan diperlukan. Tanpa batas, segala kegiatan akan kacau, karena tidak mungkin kita makan selama tiga jam atau mandi selama dua hari.

Beberapa kawan pernah meminta saya menulis cerita hidup mereka atau dari premis yang mereka miliki. Saya katakan, yang paling berat dari menulis adalah disiplin untuk duduk, meluangkan waktu, dan setia pada target. Sementara inspirasi, ide cerita, premis, serta pengetahuan tidak serta merta menjadikan seseorang menyelesaikan tulisan, apalagi menulis dengan baik.

Ada yang bilang menulis itu mudah, dan saya setuju. Tantangan sesungguhnya ada pada mengedit dan menjaga disiplin. Menulis mungkin mudah, tetapi menyelesaikan tulisan hingga menjadi sebuah buku memerlukan kedisiplinan. Banyak penulis pemula berhenti di tengah jalan karena kurangnya strategi dan tekad yang kuat.

Menulis membutuhkan strategi dan rencana. Buat kerangka karangan dengan rinci, tetapkan target harian, mingguan dan bulanan, dan mulai menulis berdasarkan rencana tersebut. Komitmen pada niat dan pilih waktu yang sesuai. Katakan pada diri sendiri, “Saya akan menulis 1000 kata per hari sebelum tidur.” Berikan konsekuensi pada diri sendiri jika tidak mencapai target, serta hadiah jika berhasil mencapainya.

Percayalah! Dengan disiplin, inspirasi akan datang dengan sendirinya. Jangan buang waktu menunggu inspirasi, mulailah menulis setiap hari, dan inspirasi akan menemukanmu. Seperti yang diungkapkan oleh para penulis hebat, kamu tidak duduk menunggu dewi inspirasi menyelesaikan tulisanmu, tetapi kamu tetap menulis setiap hari sehingga ketika inspirasi datang, kamu siap menangkapnya. Menulis dan disiplin setiap hari membuatmu seperti magnet yang menarik semua ide dan inspirasi.

Jika pikiranmu buntu, tingkatkan pengetahuan tentang teknik menulis. Motivasi diri dan cari inspirasi dengan membaca, menonton, bertanya, dan meneliti. Dewi Lestari pernah bilang, “Ketabahan kita mendobrak writer’s block bisa jadi penentu apakah kita akan berhasil menjadi penulis atau sekadar orang yang berangan-angan menjadi penulis. You decide!”

Catatan: tulisan ini dibuat untuk melengkapi materi yang sebelumnya disampaikan di

Jumat, 12 Juli 2024

Menulis dan Mengedit: Dilarang Makan sambil Buang Kotoran

Jangan menulis sekaligus mengedit. Menulis dan mengedit adalah dua kegiatan yang tidak boleh disatukan. Saya mengibaratkan menulis seperti makan, sementara mengedit seperti buang kotoran. Sebagai orang waras, kita tentu tidak pernah melakukan keduanya secara bersamaan.

Ketika menulis, saran saya adalah menulislah dengan buruk dan cepat. Saya sdang tidak sinis ketika menyatakan itu. Saya sendiri sering kali menulis draft pertama dengan banyak kekurangan. Logika yang melompat-lompat, dialog yang tidak punya konteks dan miskin deskripsi, tanda baca yang diabaikan, dan paragraf yang tidak koheren bahkan saya menulis adegan apapun yang sedang saya pikirkan walaupun mungkin itu adalah adegan di tengah atau akhir cerita. Orang yang tidak pernah menulis buruk bisa jadi ia bukanlah penulis. Dan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa.

Menulislah cepat, secepat kita berbicara. Untuk apa berlama-lama menulis draft pertama? Jangan buang waktu menulis terlalu lama karena mungkin kamu harus menulis ulang atau bahkan membuang sebagian besar dari tulisan tersebut. Buatlah kesempatan menulis menjadi kesempatan untuk menuangkan segala ide yang ada di kepala, tanpa disibukkan dengan hal teknis. Keluarkan segala kreativitas dan jangan dulu berpikir tentang aturan.

Menulis membutuhkan aliran ide yang bebas dan kreatif, sedangkan mengedit memerlukan pemikiran kritis dan analitis. Menggabungkan kedua aktivitas ini secara bersamaan bisa menghambat proses kreatif menulis karena perhatian terpecah antara menghasilkan konten dan memperbaikinya. Dengan memisahkan tahap menulis dan mengedit, penulis dapat lebih fokus dan efektif dalam kedua tugas tersebut.

Setelah menulis dengan buruk dan cepat, lakukanlah editing dengan baik. Editing sebaiknya dilakukan setelah bukumu selesai ditulis. Karena menurut saya cerita yang baik adalah cerita yang selesai. Seelsaikan tulisan sesuai target, baru kemudian lakukan editing.

Setelah selesai menulis, kita sering kali terlalu dekat dengan karya kita untuk memiliki objektivitas. Langkah yang perlu dilakukan adalah mengendapkan tulisan tersebut, memberi waktu untuk diri kita menjadi lebih objektif dan tidak emosional, kemudian membaca kembali buku dari awal hingga akhir. Dengan cara ini, kita bisa mendapatkan perspektif baru, melihat lubang-lubang yang perlu diisi, bab yang perlu ditulis ulang, dan bagian yang harus dibuang sepenuhnya.

Ketika mengedit, di sinilah penulis mulai menerapkan pemikiran yang kritis. Ia harus memastikan bahwa alur cerita, karakter, dan detail lainnya konsisten dan koheren sepanjang tulisan. Memeriksa tata bahasa, ejaan, dan tanda baca, serta memastikan gaya penulisan sesuai dengan tujuan dan pembaca yang disasar. Menghapus kata-kata atau kalimat yang tidak perlu dan memastikan ide-ide disampaikan dengan jelas. Mengevaluasi struktur keseluruhan tulisan untuk memastikan logika dan kelancaran alur.

Menulislah dengan buruk dan cepat, kemudian lakukan editing dengan baik dan penuh kesungguhan, agar tulisanmu mencapai potensi terbaiknya.

Catatan: tulisan ini dibuat untuk melengkapi materi yang sebelumnya disampaikan di

Kamis, 11 Juli 2024

Mengapa Kita Perlu Menulis Fiksi?

Saya punya sebuah hipotesis yang menarik: seluruh sendi kehidupan manusia digerakkan oleh cerita.

Mari kita uji hipotesis ini.

Sejak kecil, kita sudah menyukai cerita. Kita pasti pernah melihat anak-anak yang anteng mendengarkan dongeng, membaca komik, atau menonton kartun di YouTube. Dari sini, terlihat bahwa cerita memiliki daya tarik yang kuat sejak usia dini.

Ketika kita tumbuh menjadi remaja dan dewasa, minat kita terhadap cerita tidak berkurang. Kita masih suka bercerita atau mendengarkan cerita, baik kepada teman, orang tua, pasangan, maupun anak. Sebagian besar percakapan kita terdiri dari cerita: cerita tentang kegiatan sehari-hari, pengalaman menyenangkan, menyedihkan, dikhianati, atau dilukai. Jadi, cerita tetap menjadi elemen penting dalam interaksi sosial kita.

Selain itu, sebagian besar hidup kita didominasi oleh cerita. Kita bisa menghabiskan berjam-jam memandangi ponsel untuk menonton film, serial, drama Korea, Netflix, atau YouTube. Ini menunjukkan betapa besar peran cerita dalam mengisi waktu dan memberikan hiburan untuk manusia.

Apa lagi yang menjadi penggerak utama kehidupan? Keyakinan atau Agama?

Mari kita buka kitab suci. Sebagian besar isinya adalah cerita. Baik Al-Quran, Alkitab, Weda, Mahabharata, maupun Tripitaka, semuanya mengandung kisah atau cerita yang mendominasi isi kandungannya. Dalam hal ini, cerita menjadi medium penting untuk menyampaikan nilai-nilai dan ajaran.

Fiksi sebagaimana kita tahu adalah cerita rekaan yang berasal dari imajinasi, bukan berdasarkan fakta ilmiah atau fakta sejarah yang ketat. Tapi mengapa cerita bisa sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan manusia?

Dalam konteks sastra, cerita fiksi adalah prosa naratif yang imajinatif namun masuk akal dan mengandung kebenaran. Jadi fiksi (fiction) dalam pembahasan ini, bukanlah lawan dari fakta (fact) atau kebenaran (truth). Karena dalam fiksi, kebenaran itu bersifat logis, berdasarkan sebab akibat, atau mengandung hikmah.

Saya teringat pada Tyrion Lannister dalam serial Game of Thrones. Dalam episode terakhir, setelah perang besar yang menelan banyak korban, dia bertanya secara retoris kepada semua perwakilan klan yang tersisa, “Apa yang dapat menyatukan manusia? Pasukan? Emas? Bendera?”

Tyrion menjawab pertanyaannya sendiri, “Stories. There's nothing in the world more powerful than a good story. Nothing can stop it.”

“Cerita. Di dunia ini tidak ada yang lebih kuat dari cerita yang bagus. Tidak ada yang bisa menghentikannya.”

Melihat betapa kuatnya pengaruh cerita, tidak heran jika pemerintah sejak zaman kerajaan, kolonialisme, hingga zaman sekarang menggunakan cerita untuk mempengaruhi masyarakat. Dahulu, dongeng seperti Roro Kidul, Roro Jonggrang, dan Malin Kundang diciptakan secara sadar agar masyarakat bertindak sesuai harapan. Bahkan cerita-cerita tersebut melintasi zaman dan abad yang panjang sehingga sampai hari ini, ia masih berpengaruh untuk menggerakan manusia.

Bahkan cerita dapat menumbuhkan kecerdasan dan kreativitas, terutama untuk anak-anak. Cerita dapat meningkatkan kemampuan berimajinasi dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh informasi faktual saja. Sementara tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, tapi imajinasi. Einstein pernah bilang, "Jika anda mau anak-anak anda cerdas, bacakan kepada mereka dongeng. Jika anda mau anak-anak anda lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng."

Kembali ke pertanyaan dalam judul tulisan ini: mengapa kita perlu menulis fiksi?

Karena seluruh sendi kehidupan manusia digerakkan oleh cerita.





Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Rabu, 31 Mei 2023

Dua Kisah Patah Hati dalam Satu Malam

Shel tidak tahu bagaimana cara melupakan Hans.

Slam tidak tahu bagaimana cara memutuskan Reyf.

Ini adalah dua kisah patah hati yang rumit, bukan karena semata-mata kondisinya sulit, namun karena ada dua pasang hati yang rentan remuk.

Setelah rencana pernikahannya gagal --yang sudah saya prediksi dalam tulisan ini--, Shel sadar mulai menyukai Hans, seseorang yang sudah bertunangan.

"Emang lu gak ada kandidat lain?" saya merespon sambil tertawa.

"Gak ada, A Nelal," Shel menjawab.

"Masa?" saya sangsi, karena dengan kemampuan dan track record Shel, saya percaya dia bisa menghubungi salah satu dari puluhan mantan dan menjalin hubungan kembali, atau mencari yang lain yang benar-benar baru.

"Beneran. Hans itu tulus banget," Shel memberikan alasan mengapa saat ini ia benar-benar yakin. Shel memberikan beberapa contoh, ia mengatakan Hans berbeda dari semua laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya. Menurut Shel, he is the one. Masalahnya hanya satu, Hans sudah bertunangan dengan seseorang yang saat ini sedang tinggal jauh, dan merasa berat untuk memutuskan pertunangan itu.

Dari cerita Shel, saya mengerti Hans juga menyukai Shel, sementara Shel merasa Hans seharusnya tidak menikah dengan tunangan karena hubungan Hans dan tunangan adalah hubungan yang transaksional, tidak ada cinta yang tulus. Hans mempertahankan pertunangan semata-mata karena dua keluarga sudah saling mengenal dan Hans tidak mau merusak semua.

Di hari yang sama, Slam menghubungi saya bercerita tentang hubungan dengan Reyf yang seperti tanpa ujung. Mereka sudah menjalin hubungan selama 10 tahun dan tidak sekalipun Slam dikenalkan secara resmi sebagai pacar oleh Reyf kepada orang tua Reyf. Bahkan Slam menjemput Reyf untuk pergi bukan di rumahnya, tapi jauh dari gang rumah, sehingga tetangga atau orang tuanya tidak tahu. Menurut Reyf, belum saatnya Slam dikenalkan kepada orang tuanya karena Slam belum mapan. Awalnya Slam pikir itu alasan yang masuk akal, namun ia sadar kemudian bahwa kemapanan tidak bisa diukur dan ia akan merasa pada kondisi tidak pernah mapan. Slam merasa Reyf tidak punya kemandirian dan keberanian, ia merasa orangtua Reyf masih menganggap Reyf anak kecil. Sementara Slam sudah berumur 27 dan ia sudah merasa cukup dengan hubungan seperti itu dan ingin mengakhirinya.

"Saya mo ke Semarang, mau mutusin langsung Reyf." Dalam 4 tahun terakhir ini mereka menjalani LDR, Slam di Bekasi sementara Reyf kuliah di Semarang. Sebagai gantle man Slam merasa harus mengatakan keputusan itu langsung.

"Jadi alasannya karena Reyf gak punya independensi dalam hubungan ini?" saya bertanya.

"Bukan cuma itu sih. Saya ngerasa hubungan ini makin lama makin toxic." Slam memperlihatkan 274 pesan WhatsApp yang belum dibaca Slam dari Reyf, "Ada saran, Sir?"

"Gua netral. Gak mendukung lu untuk terus mempertahankan hubungan ini atau putus. Semua pertimbangan dan keputusan ada di lu.” Saya memberi saran, “Gua prediksi Reyf gak mau putus, tapi gua mendukung lu mengatakan langsung apa yang jadi ganjalan selama ini, alasan mengapa mau putus. Selanjutnya biar waktu yang akan menentukan."

"Oke, sir. Gua udah susun argumen yang akan gua omongin nanti,"

Sudah beberapa bulan berlalu setelah percakapan-percakapan itu.

Shel bercerita bahwa ada Orang Pintar yang mengatakan bahwa Hans telah diguna-guna oleh tunangannya, sehingga walaupun mereka LDR selama beberapa tahun ini dan banyak masalah yang terjadi, Hans masih tidak mau memutuskan tunangan.

Sejujurnya saya tidak bisa menanggapi hal yang tidak bisa diverifikasi. Bagi saya, sebelum ada bukti, itu hanya akan menjadi omong kosong. Bukan berarti saya menafikan ada hal gaib, mungkin saja apa yang diungkap Orang Pintar itu benar, tapi menelan begitu saja keterangan seseorang tanpa ada pikiran kritis dengan kesimpulan logis, hanya karena semata-mata itu adalah hal gaib yang tidak bisa dipikirkan, adalah tindakan yang bodoh. Itu alasan mengapa masih ada saja orang, bahkan yang berpendidikan tinggi, yang masih tertipu dengan dukun pengganda uang. Karena mereka tidak meletakan pikiran yang kritis terhadap hal-hal yang gaib atau spiritual.

Dalam kasus Shel, pikiran kritis itu bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana, apa yang membuat Shel percaya pada Orang Pintar itu? Apa alasan ia bisa dipercaya? Apakah ada bukti ia mengetahui hal yang hanya diketahui Shel dan Hans? Apakah Orang Pintar itu punya motif ingin dianggap sakti, uang, atau ada motif lain? Dan yang terakhir, jika ia menafsirkan sesuatu, apakah yang diungkapkan adalah sepesifik, sebagian atau umum? Pikiran kritis seperti itu yang harus selalu ada, terlebih ketika orang itu mengatasnamakan agama dan syariat. Ayu Utami menyebut itu spiritualisme kritis, keterbukaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.

Saya berkesimpulan, masalah yang terjadi pada Shel adalah karena ia salah berpikir. Ia terlalu banyak menyalahkan orang atau hal lain yang di luar dirinya. Jika ia tidak mengubah cara berpikirnya, masalah yang sama akan kembali terualang. Siapapun kita, ada hukum yang tidak tertulis berbunyi masalah yang kita hadapi akan terus berulang sampai kita belajar sesuatu darinya. Itu terjadi pada saya, Shel, Slam atau siapa saja.

Dalam kasus Slam, ia sempat bingung dengan perasaan yang ada saat ini, karena ia merasa sudah tidak merasakan hal yang sama ketika dulu ia pertama kali mengenal Reyf. Apakah ini love, lust atau care? Ia bertanya.

“Definisi cinta pada tiap orang itu berubah-ubah.” kata saya, “Lu tanya ke gua 10 tahun yang lalu, sekarang, dan 10 tahun yang akan datang akan beda jawabannya. Karena perasaan memang berubah, bisa berkembang juga layu.”

Ya, saya mengerti bahwa seberapa mesra dan menggebu suatu hubungan di awal, gairahnya akan memudar dan sebaiknya ada perasaan lain untuk menggantikan. Begitulah faktanya. Itu sama dengan fakta bahwa kita tidak perlu berganti teman jika kita sadar bahwa teman memang berubah.



HARI ini saya tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan Shel dan Hans. Terakhir kali bicara dengan Shel ia minta didoakan semoga ia jadi dengan Hans. Saya berdoa semoga ia sehat dan bahagia dengan apapun rencan Tuhan. Ia bersikeras mau didoakan supaya jadian dan menikah dengan Hans. Saya tetap mendoakan semoga ia sehat dan bahagia.

Sementara dugaan saya benar, Reyf tidak bersedia putus dengan Slam dan setelah Slam mempertimbangkan beberapa kondisi, akhirnya ia ingin mempertahankan hubungan dengan Reyf.

“Tapi sekarang Reyf jadi insecure. Saya harus yakinin dia lebih dari sebelumnya.” Slam menjelaskan. Saya kira itu adalah hal yang akan ia temui berulang-ulang dalam hubungan apapun.

Saya selalu pada kondisi tidak mengerti dan selalu belajar tentang perasaan, juga patah hati. Patah hati tidak pernah mudah. Semua orang sadar bahwa pada suatu waktu, cepat atau lambat, mereka akan tiba pada kenyataan bahwa mereka akan mengalami patah hati. Kesadaran seperti itu harusnya membuat kita tidak terlalu marah atau emosional. Jika kamu siap menghadapi, memang itu tidak akan membuatmu marah. Hanya akan membuatmu merasa sakit. Sangat sakit. Mungkin kamu berpikir bisa membayangkan sakitnya, tapi kamu salah. 

Ya, bagaimanapun sakit hati adalah sebuah keniscayaan. Wanita bisa menyakiti laki-laki dan juga sebaliknya. Setiap orang, baik yang kamu kenal ataupun tidak, bisa saja menyakitimu, kamu hanya perlu mencari orang yang benar-benar layak untuk menyakitimu. 

Sampai sekarang saya masih belajar untuk mencintai, untuk mencari dan menemukan arti cinta. Elizabeth Gilbert yang berkeliling dunia, mencari penghiburan setelah perceraian yang sulit itu menulis dalam memoar Eat, Pray, Love, “Orang-orang berpikir Soul Mate adalah pasangan yang sempurna, dan itulah yang diinginkan semua orang. Tapi Soul Mate sejati adalah sebuah cermin yang menunjukkan segala hal yang menghambatmu, orang yang membawa ke dalam dirimu sendiri hingga membuatmu mengubah hidupmu sendiri.”

“Soul Mate sejati mungkin adalah orang paling penting yang pernah kamu temui, karena mereka meruntuhkan pertahanan jiwamu dan membuatmu terbangun. Tapi untuk hidup dengan Soul Mate selamanya? Jangan. Terlalu menyakitkan. Soul Mate, mereka datang ke dalam hidup hanya untuk mengungkapkan lapisan lain dari dirimu, dan kemudian pergi.”

“Tujuan Soul Mate adalah untuk mengguncangmu, merobek sedikit egomu, menunjukkan kesulitan dan obsesimu, membuka hatimu sehingga cahaya baru bisa masuk, membuatmu begitu putus asa dan lepas kendali sehingga kamu harus mengubah hidupmu, lalu memperkenalkanmu dengan guru spiritualmu...”

Pengalaman seseorang dengan perasaan adalah pengalaman pribadi yang sangat intens, siapapun tidak bisa ikut campur. Karena kehilangan, sebagaimana cinta dan patah hati, memang tidak pernah sederhana.

Minggu, 19 Februari 2023

59 dan Semakin Akrab dengan Kematian

Suatu malam Safa (10 thn) menghitung umur Embahnya ketika ia meninggal berdasarkan tahun yang tercatat di nisan.

"59. Bener gak bapak?" Ia bertanya.

"Betul." saya menjawab cepat.

"Masih muda ya?" Safa berkesimpulan, karena sebelumnya saya bercerita bahwa Empi Safa (sebutan untuk ibu dari nenek) berumur 81 tahun ketika meninggal. Saya baru sadar, bahwa satu-satunya cara seorang berumur 50 tahun dianggap muda adalah ketika ia meninggal.

Beberapa waktu lalu, saya menjadi wali pernikahan Ica, salah satu adik perempuan saya. Itu kali ke dua saya melakukannya --setelah sebelumnya saya juga menjadi wali nikah Titis, dan pada keduanya saya sama-sama menangis. Manusia bisa emosional karena meletakan perasaan pada satu hal. Suatu peristiwa bisa membuat satu orang senang sementara orang lain biasa saja, begitu juga satu peristiwa bisa membuat satu orang sedih sementara orang lain biasa saja.

Bapak tidak pernah menikahkan semua anak perempuannya, sementara 3 anak saya adalah perempuan. Saya tidak tahu apakah saya akan menikahkan anak-anak perempuan saya, atau seperti bapak, saya akan meninggal di usia 59 tanpa sempat melakukannya. Jika ikut umur bapak, maka sisa hidup saya adalah 21 tahun. Jika diibratkan batrai HP maka saat ini sisa batrai saya adalah 41,39%. Saat saya berusia 59, Nada, anak tertua saya akan berumur 32, dan bisa jadi ia sudah menikah, bisa jadi juga belum. 

Sudah 7 tahun berlalu sejak bapak wafat dan saya tidak tahu apa perasaan Ica ketika mengucapkan permohonan restu pernikahan tanpa kehadiran beliau. Saya pernah membaca buku harian bapak setelah beliau wafat, yang salah satunya menceritakan tentang Ica. Sebuah catatan tentang betapa senangnya beliau karena Ica pernah memberi uang di saat ia membutuhkannya. Membaca catatan harian dari orang yang telah tiada, entah catatan sekecil apapun, memang sering membuat haru. Apalagi hubungan anak perempuan dan ayahnya selalu menjadi hubungan yang spesial. Kehilangan hubungan itu bukan hal yang mudah, baik untuk diri anak atau sebaliknya.    

Seperti film A Man Called Otto, setiap orang mungkin pernah atau akan tiba pada satu titik kehidupan, dimana mereka ditinggalkan oleh orang-orang tersayang. Terkadang trauma atau sakit dari kehilangan tersebut tidak bisa diatasi dengan sederhana. Ditinggalkan memang tidak pernah mudah, manusia akan selalu membutuhkan orang lain untuk sembuh. Film itu seperti mengingatkan kita untuk memberi kesadaran pada hal-hal kecil di sekeliling agar mampu bangkit dari keterpurukan. 

Saya yakin Ica sudah menemukan orang lain untuk membantunya sembuh. Mengingat hal itu, saya tidak lagi mengkhawatirkan apakah nanti saya akan sempat manjadi wali nikah untuk anak-anak saya atau tidak, karena umur tentu bukan urusan manusia untuk menentukan. Cepat atau lambat, hidup manusia pasti akan habis dan hanya menyisakan kenangan bagi manusia lain. Karena usia hidup manusia tidak seperti batrai HP yang bisa di recharge, maka untuk mengantisipasi atau mengirit batrai, yang perlu dilakukan adalah menggunakan aplikasi lebih efisien dan selektif, tidak banyak membuka aplikasi yang kurang bermanfaat apalagi yang cepat menghabiskan energi. Manusia seharusnya bisa memilih akan memfokuskan hidupnya pada orang-orang dekat yang memang pantas untuk diperjuangkan.

Saat ini saya hanya akan mulai memfokuskan energi untuk masa kini, untuk memberi perhatian pada hal-hal kecil di sekeliling, menabung kenangan untuk orang-orang yang layak. 










Sabtu, 05 November 2022

Kepada Para Penggemar K-Pop di Seluruh Dunia

Satu hal yang saya mengerti adalah saya tidak punya masalah dengan para penggemar K-Pop, jika saja mereka tidak banyak drama dan emosional. Suatu waktu saya pernah diminta penggemar K-Pop untuk mendengar lagu-lagu dari boygrup favoritnya. Saya melakukan permintaan itu namun sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan. Mungkin bukan selera saya, maybe I am not into the pop culture. Apa yang terjadi kemudian? Dia tidak lagi membalas WA saya. Entah apa alasan sebenarnya.

Para penggemar K-Pop juga sering meminta orang lain untuk tidak melakukan stereotyping dengan menganggap semua boygrup melakukan operasi plastik, bergaya hidup hedonistik, lipsync, mementingkan tampilan fisik dan lain-lain. Padahal tanpa sadar ada juga mereka yang melakukan stereotyping kepada yang bukan penggemar K-Pop. Tanpa sadar sebagian mereka menganggap orang yang tidak menyukai K-Pop adalah orang-orang yang tidak tercerahkan atau haters. Hanya ada dua pilihan itu. Mereka menganggap orang-orang yang tidak suka dengan boygrup mereka adalah orang-orang yang tidak bisa melihat kebenaran dan keindahan. Karena bagaimana mungkin idola mereka tidak disukai?

Saya tidak menyangkal banyak hal baik yang dilakukan Idol dan penggemar K-Pop, itu fakta yang harus diakui. Para idol dapat menggerakkan fans untuk mengumpulkan dana sumbangan, mengangkat isu-isu sosial, memotifasi banyak orang, membantu penggemar dalam melalui masa-masa sulit, dekat dengan para penggemar di media sosial. Bahkan fandom besar K-Pop mungkin bisa disandingkan dengan penganut agama, sementara Idol bisa disandingkan dengan agama dalam fungsi motifasi, inspirasi, memberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Ya, tidak bisa dipungkiri K-Pop adalah agama baru.

Pada dasarnya saya tidak punya masalah dengan Idol kalian. Mau Idol kalian berprestasi, terpuruk, bunuh diri, dipenjara, putus cinta, kucingnya melahirkan atau urusan pribadi lain sungguh saya tidak peduli. Saya hanya peduli dengan karya mereka. Jika karya dari Idolmu bagus, maka saya akan dengarkan, jika menurut saya tidak bagus, maka jangan paksa saya untuk suka. Maka satu-satunya masalah saya adalah dengan kalian para Stan ekstrimis. Kalian yang menjalin hubungan Parasosial yang menyebalkan, yang rela mendukung dan membela Idol dengan cara apapun, bahkan bertindak berlebihan. Jika memang kalian penganut ekstrim seperti itu, kalian sudah tidak asik.

Hwaiting!

Minggu, 30 Oktober 2022

Kebutuhan akan Tuhan

Seorang kawan yang anaknya akan masuk kuliah bercerita bahwa saat ini ia ingin mendorong anaknya untuk lebih dekat dan butuh ibadah kepada Tuhan.
 
Saya bertanya mengapa ia menyimpulkan anak gadisnya tidak dekat kepada Tuhan? Ia menjawab, "Aku sering banget lihat Fita lebih ngedahuluin kerjaan sekolahnya daripada salat. Atau menunda-nunda ibadah karena melakukan hal lain."

"Jadi tanda orang sudah terpenuhi kebutuhan kepada Tuhan itu apa?" saya bertanya.

"Ya, dia jadi lebih giat ibadah. Tidak menunda-nunda dan gak perlu diingatkan untuk melakukan kewajiban kepada Tuhan."

Saya bisa memahami kesimpulan kawan saya, karena sebagai manusia, kita hanya bisa menilai dari apa yang terlihat, nahnu nahkumu bidzawahir wallahu yatawalla sarair, kita hanya menghukum apa yang tampak, dan Allah menentukan apa yang tersembunyi di dalam hati. Sehingga ukuran saleh di mata manusia adalah terlihat saleh, terlihat rajin ibadah, terlihat rajin sedekah dan lain-lain.

"Tapi bukannya banyak amalan yang terlihat amalan akhirat, padahal itu amalan dunia, atau kebalikannya, amalan yang terlihat sebagai amalan dunia, padahal dimata Tuhan itu amalan akhirat?" saya bertanya tentang hadits nabi.

Ia tidak berkomentar, seperti menyetujui bahwa benar amalan dunia ataupun akhirat bukan ditentukan berdasar bentuk amalannya, tapi ditentukan oleh niat. Pada dasarnya banyak ulama yang tidak setuju ada pemisahan amalan dunia dan akhirat. Saya juga khawatir terhadap pemisahan amalan dunia dan akhirat berdasar bentuk amalan akan menyebabkan kerancuan berpikir. Agama tidak pernah memisahkan kedua amalan tersebut. Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan. Apapun yang dikerjakan di dunia, akan mendapat ganjaran di akhirat.

Jadi menyatakan bahwa orang yang terlihat tidak banyak "ibadah" sebagai orang yang kurang butuh terhadap Tuhan tidak sepenuhnya benar. Karena ibadah bukan hanya semata-mata ibadah uluhiyah atau ibadah individual saja, bahkan ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual.

"Fita sekarang kuliah di Jogja dan sekalian aku pondokin di Afkaruna. Aku berharap dengan mondok, dia bisa lebih dekat kepada Tuhan. Tapi sekarang dia malah sibuk banget sama urusan kuliah. Aku baru tahu kalau ternyata kuliah Arsitek itu memang harus keliling mencari lokasi untuk pengamatan." Kawan saya kembali menjelaskan.

Tidak ada yang salah dari harapan kawan saya agar anaknya lebih dekat kepada Tuhan dengan giat salat, puasa, mengaji dan ibadah individual lain, tapi bukankah mencari ilmu, selama niat dan tujuannya untuk kebaikan, juga bisa sebagai sarana dekat kepada Tuhan? Rasulullah bersabda, “Mencari ilmu satu saat adalah lebih baik daripada salat satu malam, dan mencari ilmu satu hari adalah lebih baik daripada puasa tiga bulan” (HR. Ad-Dailami).

Saya pribadi juga mungkin pernah mengalami keresahan yang dialami kawan saya. Karena berdialog dengan anak adalah inti dari pendidikan Homeschooling, biasanya saya memulai dari pertanyaan atau keingintahuan anak. Saya senang mendengar, menjawab dan berdialog tentang keresahan anak-anak saya, karena selain itu menandakan keaktifan anak dalam belajar, keresahan dan pertanyaan adalah sarana untuk menjelaskan konsep. Anak-anak memahami dan mengingat konsep lebih baik ketika mereka belajar langsung dari pengalaman pribadi yang relevan. Keingintahuan atau kegelisahan adalah pengalaman yang paling real pada anak. Dalam hal ibadah misalnya, Nada waktu berusia 10 tahun pernah bertanya, kenapa kita harus beribadah kepada Allah? Itu adalah pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan komperhensif. Karena apa guna ibadah tanpa pemahaman apalagi kesadaran?

Menurut saya, menjelaskan konsep dalam ibadah individual itu perlu, namun menjelaskan bahwa kesalehan sosial juga merupakan bentuk ibadah juga penting. Bukankah orang-orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah seperti pejuang di jalan Allah, dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus puasa? (HR. Bukhari & Muslim). Pada hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Maukah engkau aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada salat, puasa, dan sedekah? (para sahabat menjawab, tentu). Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar” (HR. Abu Dawud & Ibn Hibban). Selain itu, Rasulullah menegaskan bahwa ibadah individual tidak akan bermakna bila pelakunya melanggar norma-norma kesalehan sosial, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, dan tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”. Sedangkan dalam Al-Quran, orang-orang yang salat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin, riya dalam amal perbuatan, dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang-orang lemah (Surat Al-Ma’un).

Saya banyak berdiskusi dengan kawan saya tentang pendidikan dan anak, apalagi saat ini Nada, yang saat ini berumur 12 tahun, akan tinggal terpisah dari orangtua, untuk mencari pengalaman hidup di pesantren. Sebelum memutuskan ke pesantren, Nada punya banyak kehawatiran

"Banyakin quality time bersama," Kawan saya menasehati saya untuk lebih banyak waktu berkualitas bersama Nada. Itu nasehat yang bagus dan berguna untuk orangtua di masa apapun. No meaningful learning occurs without a meaningful relationship, right?

Sampai sekarang saya masih terus belajar untuk mendengarkan, baik kepada kawan-kawan, istri bahkan anak. Saya sadar, terkadang saya melihat anak sebagaimana saya melihat diri sendiri di masa lalu. Saya melihat semua keburukan dan khawatir terjadi pengulangan atas semua yang menimpa di masa lalu. Padahal belum tentu yang orangtua anggap penting dianggap penting juga oleh anak. Dengan mendengarkan, orangtua belajar untuk mengetahui apa yang dirasakan penting oleh anak. Karena anak-anak, seperti juga orang dewasa, butuh didengarkan, dan mungkin pada beberapa keadaan melebihi kebutuhannya akan Tuhan. Seperti yang pernah ditulis Ralph G. Nichols, “The most basic of all human needs is the need to understand and be understood. The best way to understand people is to listen to them.”

Wallahu 'alam

Rabu, 17 Agustus 2022

Lebih Baik Ikan Julung-Julung di Tangan Daripada Ikan Kakap tapi Lepas

Saya tiba ketika mereka bertiga sedang asik menyiapkan berbagai piranti pancing yang akan dibawa.

Kami sepakat untuk memancing dan menjadikan rumah Oechil sebagai basecamp. Kami berangkat menggunakan dua motor. Edo dan Deni di satu motor kemudian Oechil dan saya di motor yang lain. Perjalanan berlangsung normal sampai Oechil mengajak melewati galangan tambak.

Oechil yang mengendalikan motor, berhenti di tengah galangan, "Diem, Mi. Jangan bergerak."

"Bangsat Lu, Chil!" saya memaki, mematung tegang karena kami berjalan di atas tanah selebar jengkalan tangan.

Oechil membalas dengan tawa.

Jika tiba-tiba motor mati, maka tidak akan ada pijakan lain untuk kaki dan kami akan tercebur bersama. Atau sedikit saja saya yang duduk di kursi belakang melakukan gerakan tiba-tiba, motor bisa tidak stabil dan kami berdua bisa berakhir penuh lumpur. Sebenarnya saya tidak terlalu khawatir, karena toh itu motor Oechil dan kalaupun jatuh, kami jatuh berdua. Saya lebih mengkhawatirkan Si Buncit Edo dan Deni yang mengikuti di belakang dengan wajah pucat, tidak bisa turun untuk menuntun motor, apalagi putar balik.

Hari itu saya tidak jadi menonton dua ekor kerbau gupak di lumpur.

Kami tiba di warung tepi muara untuk naik perahu. Di sampan menuju spot pemancingan, kami melewati deretan tanaman bakau, dan beberapa tanaman perdu. Saya mengamati pucuk dedaunan berharap menemukan hewan liar seperti monyet atau burung, tapi nihil. Saya mengalihkan pandangan ke sudut-sudut tepian muara berharap menemukan buaya.

"Masih ada buaya di sini, Chil?" Saya bertanya ke penguasa lokasi.

"Hus, jangan disebut!" Oechil melarang.

"Beneran ketemu, lu!" Deni Bagong menimpali.

"Orang sini nyebutnya Penganten." Edo lebih informatif dan solutif.

"Ohh," Saya pikir mengganti kata buaya dengan Penganten akan lucu dan malah semakin menyakiti hati buaya. Apa yang lebih menghinakan buaya yang hidup penuh kebebasan selain disamakan dengan kata yang arti sebenarnya adalah orang yang meninggalkan masa lajang karena memilih menghadapi masalah hidup yang belum pernah mereka hadapi?

Saya membayangkan ada orang yang lari terengah-engah menyelamatkan diri karena kawannya baru saja dimakan buaya, dan melapor ke orang-orang di warung kopi di sekitar muara. "Bang, tolong, Bang! Kawan saya dimakan Penganten!"

Tidak ada yang lebih lucu dibanding orang mati karena dimakan Penganten. Apalagi Penganten Sunat.

"Kalo gua nyebutnya Crocodile, kira-kira buayanya paham gak?" Saya usil bertanya.

Bagong dan Edo hanya melihat saya dengan tatapan dasar-bocah-bego!.

Kami sampai spot memancing di ujung muara waktu asar, kemudian segera mempersiapkan alat-alat pancing. Deni mulai merangkai dan meminjami saya salah satu alat pancingnya. Ia mengajari saya cara membuat kombinasi dan simpul yang mengikat senar ke kail dan kili-kili.

Kami akan Ngoncer atau memancing menggunakan umpan hidup, sementara hanya Oechil sendiri yang kali itu ingin mencoba teknik Casting menggunakna umpan tiruan. Namun sebagai tuan rumah, Oechil tetap meminta anak buahnya untuk menyiapkan udang. Edo mengeluarkan aerator portable untuk diletakan di tempat umpan agar udang tetap hidup bahkan sampai esok hari. Ya, hari itu kami akan menginap dan memancing sepanjang sore, malam dan esok pagi.

Saya mengamati mereka bertiga yang sedang asik menyiapkan alat yang beberapa baru saya lihat kali itu. Sudah lama sekali saya tidak memancing. Dulu ketika SD, saya sering memancing ikan di sawah dengan hanya bermodal joran bambu yang saya buat seadanya, senar yang mengikat pumbul dan kail menggunakan teknik simpul sekedarnya, tanpa reel, timah, stopper, kincringan, apalagi starlight.

Berbeda dengan memancing dengan cara modern, memancing dengan cara tradisional menurut saya lebih mendebarkan. Joran lebih ringan dan tipis, sehingga kedutan dan hentakan yang terasa karena ikan memakan umpan lebih menggetarkan sanubari. Ya, saya tahu itu lebay. Namun itu adalah pengalaman ekstase yang membuat ketagihan dan betah memancing berjam-jam.

Itu kali pertama saya memancing di muara dan sepertinya Edo meremehkan saya.

"Tau gak lu ini apa namanya?" Edo sombong, memperlihatkan box berisi piranti pancing. Deni bercerita bawa Edo baru membeli reel, dan joran yang ia punya adalah hasil pemberian kawan kami Moses Si Dewa Mancing, makanya dia agak sombong.

Tapi dia sombong kepada orang yang salah, karena tidak menunggu lama sampai saya strike pertama. Ikan Lundu. Kecil. Ya, sekecil apapun strike tetap strike.



Ikan Lele laut atau disebut juga Ikan Lundu atau Keting rata-rata beracun. Duri punggung atas dan dua sirip dada dapat menimbulkan luka yang menyakitkan bahkan fatal.

Samin, pekerja di tambak bahkan bercerita kalau obat satu-satunya adalah suntikan dokter. Namun jika mau bertahan, rancunnya mungkin akan hilang dalam 24 jam. Dalam waktu-waktu tersebut, menangislah sekeras-kerasnya karena hanya itu yang dapat mengurangi panas bisanya.

"Memang yang penting itu bukan alat, tapi skill. Itu yang membedakan antara Angler profesional dan amatir!" saya membalas kesombongan Edo sambil tertawa.

"Keberuntungan pemula!" Edo merespon seperti enggan mengakui pencapaian saya.

Tidak lama kemudian, saya strike ikan kedua, "Kalau sekali itu keberuntungan pemula. Kalau dua kali apa namanya, Bung?"

Edo manyun karena ia belum dapat ikan seekorpun. Bahkan sampai keesokan paginya ia masih Boncos. Ia hanya mendapat dua ikan kecil sesaat sebelum kami pulang pada siang hari. Entah ikan apa. Mungkin Julung-Julung.

"Ada kaidah, apa yang terjadi sekali tidak akan terjadi dua kali. Tapi apa yang terjadi dua kali akan terjadi untuk ketiga kali." kata saya sambil melemparkan kembali umpan.

"Gua suka gaya lu!" Edo nyengir.

Benar saja, saya mendapat ikan lagi setelah itu.

Menit berjalan lambat. Itu Malam Satu Suro, dan menurut saya sama saja seperti malam-malam sebelum itu. Sama seperti fakta bahwa itu hari ulang tahun saya, dan menurut saya sama saja seperti hari-hari sebelum itu. Hari pertemuan, hari perpisahan, bagi orang lain akan terasa sama saja, karena yang membuat itu spesial adalah perasaan.

Malam itu angkasa penuh bintang. Deni bilang kalau suasananya tenang seperti suasana malam di gunung. Tentu ada bedanya, di gunung, di ketinggian tertentu, tidak akan ada nyamuk, sementara nyamuk muara sungguh gila.

Makin malam, suasana makin sepi, nyamuk makin hilang, hanya gemericik air dan suara percakapan kami. Sambil makan Timbel yang sudah disiapkan istri Oechil, kami mengenang masa lalu. Masa-masa di pesantren ketika kebahagiaan kami lebih sederhana; diajak makan Timbel kawan yang baru dijenguk orang tua. Sementara masalah terberat kami juga lebih sederhana; kebagian jadwal Muhadloroh.

Sekarang kami semua sudah berkeluarga. Masalah berganti, yang dulu kami anggap masalah kecil sekarang jadi besar, begitu juga masalah yang dulu kami anggap besar sekarang jadi kecil. Urusan salah meletakan handuk sehabis mandi atau sendal sehabis keluar rumah bisa menjadi masalah besar bagi yang sudah berkeluarga.

"Gua mah bingung. Ada aja orang yang bilang, 'enak banget hidup lu mah, Te'" Deni Bagong, RT yang malam itu seharusnya mengurus pawai obor tapi malah kabur mancing, memulai cerita. "Lah mo gimana lagi, kata gua. Elu hidup banyak duit, laki-bini kerja, masih ada bisnis sampingan, lah harusnya mah lebih enak hidup lu daripada gua. Lah gua bayar pajak mobil aja harus jual motor."

Edogawa lebih suram. Ia mengundurkan diri dari pekerjaan tetapnya sebagai guru dan sepertinya juga kehilangan selera untuk kembali menjadi kacung. Saat ini perkejaannya mengojek, namun pekerjaan utama tetap sama; berkhayal.

Oechil tidak banyak bercerita malam itu. Dari kami bertiga, ia satu-satunya yang sangat fokus memancing. Ia bahkan tidak tidur semalaman dan strike 3 Monster Keting seukuran lengan orang dewasa. Saya terlonjak dari tidur-ayam ketika pukul 2 dini hari ia mencabuti patil Keting beracun menggunakan tang.

Oechil tidak bercerita tentang kepahitan hidupnya, bukan karena tidak punya, tapi karena memang ia tidak mau cerita. Menurut saya semua orang punya masalah, maka saya tidak mengerti mengapa ada orang yang menginginkan kehidupan orang lain. Tidak ada orang yang sempurna, dan kehidupan orang lain selalu terlihat lebih baik. Seperti kata pepatah, rumput tetangga lebih hijau daripada rambut tetangga.

"Gua bingung sama Edo!" Deni bercerita ke saya waktu kami hanya berdua, "Mo gua cariin kerja, tapi mo kerja apa? Gua takut dia gak cocok. Lu tau sendiri bocahnya kayak gitu."

"Elu bukan orang pertama yang curhat ini ke gua, Gong!" Saya cekikikan. "Apa yang buat lu yakin dia lagi susah dan butuh kerja?"

"Ya lu bayangin aja, gua pernah ngojek, Mi. Paling berapa sih penghasilannya? Dia sarjana loh!"

Saya mau mengulang pepatah rumput tetangga, tapi takut tidak lucu, "Kita kan ngeliatnya dari luar, Gong. Siapa tau dia lebih bahagia sekarang. Gua sih ngeliatnya begitu, tapi gua yakin setiap orang akan tiba pada kata cukup. Biarin aja sekarang dia nikmatin hari-harinya."

Masalah hidup akan datang silih berganti. Tahun-tahun yang angkuh terus berjalan maju meninggalkan umur yang angkanya terus membesar, tanpa peduli manusia-manusia yang tidak siap. Saya belajar, seharusnya saya lebih peduli pada apa yang ada dalam diri sendiri daripada mengkhawatirkan apa yang ada di luar. Kita tidak bisa mengontrol apa yang ada di luar, tapi kita bisa mengendalikan pikiran sendiri.

Pikiran dan intensi adalah yang terpenting. Pada tataran praktis, itu sebab orang mengganti Buaya menjadi Penganten. Saya tahu pergantian nama itu untuk mengakali law of attraction. Hukum atau konsep yang menyatakan bahwa pemikiran positif akan berdampak positif bagi kehidupan seseorang, begitu juga pemikiran negatif. Walaupun menurut saya dampak yang ditimbulkan adalah dampak psikologis, sugesti atau plasebo semata.

Tidak akan ada orang yang melarangmu untuk berpikir bahawa hidupmu sulit, pekerjaanmu selalu menyusahkan, dan kehidupanmu penuh kesengsaraan. Sama juga tidak ada yang melarangmu untuk berpikir bahwa kehidupanmu baik-baik saja, dan kamu bahagia apapun keadaanmu.

"Mi, strike, Mi!" Deni memecahkan lamunan saya. Ujung joran yang dipasang starlight bergoyang-goyang. Saya mengangkat joran dan mulai menggulung reel. Gulungan terasa berat, joran semakin melengkung. Ini pasti Monster, kata saya dalam hati. Tarikan semakin kuat, gulungan reel semakin berat, joran makin melengkung. Saya bertarung, menarik joran sekuat tenaga, tapi tiba-tiba gulungan terasa ringan dan makin ringan. Senar putus dan ikan besar Mocel.

Kata para pemancing, hidup itu seperti memancing, kadang mendapat ikan besar, kadang kecil, kadang terlepas, jadi harusnya kita bisa bersyukur. Seperti pribahasa, lebih baik ikan julung-julung di tangan daripada ikan kakap tapi lepas. Sementara masalah hidup itu seperti Racun Lundu, jika mau bertahan, rancunnya mungkin akan hilang, dan dalam waktu-waktu tersebut, menangislah sekeras-kerasnya karena hanya itu yang dapat mengurangi panas bisanya.