Halaman

Minggu, 30 Oktober 2022

Kebutuhan akan Tuhan

Seorang kawan yang anaknya akan masuk kuliah bercerita bahwa saat ini ia ingin mendorong anaknya untuk lebih dekat dan butuh ibadah kepada Tuhan.
 
Saya bertanya mengapa ia menyimpulkan anak gadisnya tidak dekat kepada Tuhan? Ia menjawab, "Aku sering banget lihat Fita lebih ngedahuluin kerjaan sekolahnya daripada salat. Atau menunda-nunda ibadah karena melakukan hal lain."

"Jadi tanda orang sudah terpenuhi kebutuhan kepada Tuhan itu apa?" saya bertanya.

"Ya, dia jadi lebih giat ibadah. Tidak menunda-nunda dan gak perlu diingatkan untuk melakukan kewajiban kepada Tuhan."

Saya bisa memahami kesimpulan kawan saya, karena sebagai manusia, kita hanya bisa menilai dari apa yang terlihat, nahnu nahkumu bidzawahir wallahu yatawalla sarair, kita hanya menghukum apa yang tampak, dan Allah menentukan apa yang tersembunyi di dalam hati. Sehingga ukuran saleh di mata manusia adalah terlihat saleh, terlihat rajin ibadah, terlihat rajin sedekah dan lain-lain.

"Tapi bukannya banyak amalan yang terlihat amalan akhirat, padahal itu amalan dunia, atau kebalikannya, amalan yang terlihat sebagai amalan dunia, padahal dimata Tuhan itu amalan akhirat?" saya bertanya tentang hadits nabi.

Ia tidak berkomentar, seperti menyetujui bahwa benar amalan dunia ataupun akhirat bukan ditentukan berdasar bentuk amalannya, tapi ditentukan oleh niat. Pada dasarnya banyak ulama yang tidak setuju ada pemisahan amalan dunia dan akhirat. Saya juga khawatir terhadap pemisahan amalan dunia dan akhirat berdasar bentuk amalan akan menyebabkan kerancuan berpikir. Agama tidak pernah memisahkan kedua amalan tersebut. Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan. Apapun yang dikerjakan di dunia, akan mendapat ganjaran di akhirat.

Jadi menyatakan bahwa orang yang terlihat tidak banyak "ibadah" sebagai orang yang kurang butuh terhadap Tuhan tidak sepenuhnya benar. Karena ibadah bukan hanya semata-mata ibadah uluhiyah atau ibadah individual saja, bahkan ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual.

"Fita sekarang kuliah di Jogja dan sekalian aku pondokin di Afkaruna. Aku berharap dengan mondok, dia bisa lebih dekat kepada Tuhan. Tapi sekarang dia malah sibuk banget sama urusan kuliah. Aku baru tahu kalau ternyata kuliah Arsitek itu memang harus keliling mencari lokasi untuk pengamatan." Kawan saya kembali menjelaskan.

Tidak ada yang salah dari harapan kawan saya agar anaknya lebih dekat kepada Tuhan dengan giat salat, puasa, mengaji dan ibadah individual lain, tapi bukankah mencari ilmu, selama niat dan tujuannya untuk kebaikan, juga bisa sebagai sarana dekat kepada Tuhan? Rasulullah bersabda, “Mencari ilmu satu saat adalah lebih baik daripada salat satu malam, dan mencari ilmu satu hari adalah lebih baik daripada puasa tiga bulan” (HR. Ad-Dailami).

Saya pribadi juga mungkin pernah mengalami keresahan yang dialami kawan saya. Karena berdialog dengan anak adalah inti dari pendidikan Homeschooling, biasanya saya memulai dari pertanyaan atau keingintahuan anak. Saya senang mendengar, menjawab dan berdialog tentang keresahan anak-anak saya, karena selain itu menandakan keaktifan anak dalam belajar, keresahan dan pertanyaan adalah sarana untuk menjelaskan konsep. Anak-anak memahami dan mengingat konsep lebih baik ketika mereka belajar langsung dari pengalaman pribadi yang relevan. Keingintahuan atau kegelisahan adalah pengalaman yang paling real pada anak. Dalam hal ibadah misalnya, Nada waktu berusia 10 tahun pernah bertanya, kenapa kita harus beribadah kepada Allah? Itu adalah pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan komperhensif. Karena apa guna ibadah tanpa pemahaman apalagi kesadaran?

Menurut saya, menjelaskan konsep dalam ibadah individual itu perlu, namun menjelaskan bahwa kesalehan sosial juga merupakan bentuk ibadah juga penting. Bukankah orang-orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah seperti pejuang di jalan Allah, dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus puasa? (HR. Bukhari & Muslim). Pada hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Maukah engkau aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada salat, puasa, dan sedekah? (para sahabat menjawab, tentu). Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar” (HR. Abu Dawud & Ibn Hibban). Selain itu, Rasulullah menegaskan bahwa ibadah individual tidak akan bermakna bila pelakunya melanggar norma-norma kesalehan sosial, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, dan tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”. Sedangkan dalam Al-Quran, orang-orang yang salat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin, riya dalam amal perbuatan, dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang-orang lemah (Surat Al-Ma’un).

Saya banyak berdiskusi dengan kawan saya tentang pendidikan dan anak, apalagi saat ini Nada, yang saat ini berumur 12 tahun, akan tinggal terpisah dari orangtua, untuk mencari pengalaman hidup di pesantren. Sebelum memutuskan ke pesantren, Nada punya banyak kehawatiran

"Banyakin quality time bersama," Kawan saya menasehati saya untuk lebih banyak waktu berkualitas bersama Nada. Itu nasehat yang bagus dan berguna untuk orangtua di masa apapun. No meaningful learning occurs without a meaningful relationship, right?

Sampai sekarang saya masih terus belajar untuk mendengarkan, baik kepada kawan-kawan, istri bahkan anak. Saya sadar, terkadang saya melihat anak sebagaimana saya melihat diri sendiri di masa lalu. Saya melihat semua keburukan dan khawatir terjadi pengulangan atas semua yang menimpa di masa lalu. Padahal belum tentu yang orangtua anggap penting dianggap penting juga oleh anak. Dengan mendengarkan, orangtua belajar untuk mengetahui apa yang dirasakan penting oleh anak. Karena anak-anak, seperti juga orang dewasa, butuh didengarkan, dan mungkin pada beberapa keadaan melebihi kebutuhannya akan Tuhan. Seperti yang pernah ditulis Ralph G. Nichols, “The most basic of all human needs is the need to understand and be understood. The best way to understand people is to listen to them.”

Wallahu 'alam