Halaman

Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Maret 2026

her: Kesepian di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Apa yang salah dari jatuh cinta kepada komputer?

Tidak ada yang salah, apalagi dalam film. Premis tentang seseorang yang jatuh hati kepada robot atau makhluk buatan bukanlah hal baru dalam khazanah fiksi. Kita sudah menemukannya dalam Pinokio, Frankenstein, Bicentennial Man yang diperankan Robin Williams, dan masih banyak lagi. Namun Spike Jonze, sang sutradara sekaligus penulis sekenario, berhasil membawa premis tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita hari ini. Di era ketika Siri, Alexa, Google Assistant, dan berbagai AI lain bisa diajak berdialog, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

her bercerita tentang Theodore yang diperankan begitu rapuh oleh Joaquin Phoenix, seorang penulis surat profesional yang kesepian. Hidupnya sunyi, terjebak antara kenangan pernikahan yang gagal dan rutinitas yang hampa. Semuanya berubah ketika ia membeli OS1, sebuah sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diklaim sebagai “bukan hanya sistem operasi, tetapi sebuah kesadaran.” Dari sistem operasi itu muncullah Samantha, suara serak-serak basah Scarlett Johansson dengan tone ceria, cerdas, empatik, disertai getar vocal serta tarikan nafas seolah ia memiliki jiwa.

Ada sistem operasi komputer dengan kecerdasan dan kepekaan melebihi manusia, membuat kita tidak sulit untuk membayangkan bagaimana Theodore akhirnya jatuh cinta. Karena siapa yang tidak luluh ketika merasa dimengerti dan didengarkan? Ketika kesepianmu dikenali bahkan sebelum kamu sempat menjelaskannya? Samantha mendengar, memahami, merespons dengan kepekaan yang sering kali tidak kita temukan pada manusia. Siapa yang bisa menghindar dari pesona suara lembut Scarlett Johansson ketia ia berbisik di telingamu dengan begitu intim dan personal, “You know, I can feel the fear that you carry around and I wish there was... something I could do to help you let go of it because if you could, I don't think you'd feel so alone anymore.”

Dan di situ film ini mulai menggoda kita: jika teknologi seperti itu benar-benar ada, apakah kita bisa menolak untuk tidak mencintainya?

Film ini berjalan dengan tempo yang harmonis, dengan ansambel karakter seperti Amy Adams dan Rooney Mara yang mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh percakapan Theodore–Samantha. Penonton tidak dibiarkan menunggu terlalu lama untuk melihat konflik yang lebih dalam. Karena di balik kehangatan hubungan Theodore–Samantha, perlahan kesadaran baru terbentuk bahwa jurang terbesar hubungan mereka ada pada ketiadaan tubuh dan perbedaan temporalitas. Samantha hadir sebagai suara tanpa perlu ruang-waktu; sehingga pelukan mereka selalu imajinatif, kedekatan mereka selalu separuh metafora. Bahkan ketika keintiman disimulasikan, Theodore mulai merasa ada ruang kosong yang tak bisa ia sentuh. Mungkinkah ia bertahan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki tubuh, masa lalu, luka psikologis, atau tanpa kemungkinan menua bersama?

Sampai akhirnya perbedaan dimensi ini sampai pada klimaks; bahwa hubungan manusia dibangun di atas keterbatasan. Kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita punya sifat cemburu, ingin diutamakan dan menjadi satu-satunya. Tidak ada satupun manusia yang ingin dikhianati atau terbagi cintanya. Theodore hanya bisa berada di satu ruang pada satu waktu, sementara Samantha, yang hidup di ranah abstrak, tidak tunduk pada hukum itu. Theodore dihantam kenyataan bahwa hubungan mereka tidak spesial, karena Samantha juga berhubungan dengan siapa saja. Ia bahkan mengaku bicara dengan lebih dari 8.000 orang sekaligus, dan mencintai ratusan di antaranya. Bagi Theodore, cinta adalah memilih satu dan bertahan, tapi bagi Samantha, cinta adalah perluasan tak terbatas, baginya cinta bersifat majemuk dan paralel. “Aku milikmu dan aku bukan milikmu,” kata Samantha, yang terasa seperti gubahan puisi Kahlil Gibran.

Kekuatan terbesar her terletak pada dialognya yang intim, jernih, dan menyentuh antara para karakternya. Spike Jonze merangkai dengan begitu organik percakapan antara Theodore–Samantha, sehingga konflik yang hadir begitu dekat dan terasa sangat manusiawi. Justru lewat dialog‑dialog ini kita menyaksikan bagaimana Samantha berkembang, tidak hanya sebagai AI yang membantu Theodore, tetapi sebagai entitas yang tumbuh melampaui batasnya. Sampai kesadaran baru pun muncul: kefanaan manusia melawan “keabadian” mesin. Atau dalam dialog Samantha, “Dulu aku cemas karena tak punya tubuh. Sekarang aku menyukainya. Aku tak tertambat pada ruang dan waktu seperti jika aku terperangkap dalam tubuh yang pasti mati.”

Saya memang terlambat menemukan film ini, tetapi mungkin justru itu membuatnya terasa lebih relevan dengan perkembangan AI yang makin pesat sekarang ini. Sebagaimana film bagus, her mengendapkan pertanyaan untuk diri kita sekarang, yang semakin lama semakin penting dan dekat: Apakah dalam dunia yang serba terhubung ini, hubungan antarmanusia masih nyata? Apakah koneksi digital yang tanpa batas ruang dan waktu ini justru membuat manusia tersedot pada kehampaan dan kesepian? Apakah kesempurnaan justru membuat hubungan tak lagi mungkin?

Dengan lembut her memperlihatkan paradoks hubungan cinta modern: kita mendamba kesempurnaan, padahal yang membuat kita manusia adalah cacat, salah, dan kegagalan. Ketika kesempurnaan (yang diasumsikan teknologi) hadir, hubungan justru kehilangan ruang kompromi, jeda, dan waktu untuk saling menunggu. Karena itu, her bukan sekadar kisah pria yang jatuh cinta kepada kecerdasan buatan; ia adalah meditasi tentang kesepian, kerentanan, dan cara kita merawat kedekatan di dunia yang makin terdigitalisasi. Sebuah ajakan untuk mengecilkan ego, menerima diri, dan kembali belajar saling mengusahakan.

Dan seperti hubungan yang baik, her meninggalkan gema yang pelan dan bertahan lama bahkan setelah layar menutup.



Rabu, 08 Oktober 2025

Orang Pertama Tunggal

Saya baru selesai membaca kumpulan cerpen Haruki Murakami yang berjudul Orang Pertama Tunggal. Seperti biasa, karakter-karakter ciptaan Murakami terasa ganjil. Dan seperti biasa, ia meninggalkan pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial.

Di Bantal Batu bercerita tentang kesepian. Tentang beberapa Tanka yang ditulis seorang perempuan yang karakter "Aku" kenal belasan tahun lalu, saat usianya baru 19 tahun. Membaca Di Bantal Batu membuat saya teringat pada alegori tentang pencarian diri. Tentang kematian, tentang orang-orang dari masa lalu yang kini tak lagi jelas keberadaannya. Tentang kenangan yang samar, yang datang seperti bayangan dan hilang begitu saja.

Krim adalah kisah tentang kekosongan—bagaimana hidup bisa menjerumuskan kita ke dalam sebuah momen yang tampak sama sekali tidak berarti. Namun, justru dari ketidakberartian itu lahir sebuah paradoks. Kita tiba-tiba mengerti “krim dari krim”—inti dari inti, intisari kehidupan. Dan setelah inti itu ditemukan, segala hal lain dalam hidup terasa sepele.

Charlie Parker Plays Bossa Nova berbicara tentang upaya untuk bersahabat dengan kematian. Atau mungkin lebih tepatnya, menanyakan hal yang paling penting dalam hidup: bagaimana rasanya mati muda, ketika segalanya baru saja dimulai? “Coba bayangkan, bagaimana jika mati di usia 34 tahun?” Ada kebetulan yang ganjil, ada warna musik jazz yang kaya. Permainan kata Murakami terasa nyata, karena ia melukiskan sesuatu yang abstrak, sambil mengkonkritkan abstraksi musik yang sesungguhnya tidak pernah ada, apalagi bisa didengar. Imajinasi yang mustahil, namun kita diajak untuk percaya. Karena kebohongan sastra, adalah kebohongan yang layak dipercayai.

With the Beatles mungkin adalah satu-satunya cerita yang sulit saya tebak arahnya. Awalnya saya kira Murakami hendak meringkas gejolak tahun-tahun The Beatles: warna, politik, huru-hara, dan semua yang menyertainya. Namun, semakin ke tengah, arah cerita justru berbelok ke sesuatu yang tak terduga: pertemuan dengan kakak laki-laki pacarnya, yang menderita kehilangan ingatan parsial. Mati-matian saya coba mengaitkannya dengan The Beatles, dengan Murakami, dengan gadis penyuka album The Beatles yang muncul di awal cerita. Tapi saya tidak menemukan alegori, parabel, atau kaitan apa pun yang mudah ditangkap. Mungkin saya kurang teliti. Atau mungkin pengetahuan saya tentang mereka terlalu tipis. Yang tersisa hanyalah alur yang maju bertahun kemudian setelah kejadian di masa lalu yang jauh, sangat khas Murakami —kaitan yg kadang ganjil antara masa lalu yang jauh dan masa kini. Betapa satu pertemuan yang sederhana di masa lalu bisa hadir kembali bertahun-tahun kemudian, bahkan dalam detail yang terkecil. Betapa anehnya ingatan.

Kumpulan Puisi Yakult Swallows adalah kisah paling ringan dan jenaka. Murakami seolah ingin bersenang-senang, bermain-main dengan pembacanya. Mereka yang sudah beberapa kali membaca karyanya tentu tahu: kadang ia menaruh kelucuan, atau menyelipkan komedi gelap, satir, bahkan slapstik. Dengan kelakuan konyol para karakternya, ia menghadirkan hiburan yang terkadang tidak kita duga. Namun, dalam cerita ini, nuansanya dibuat sederhana, seolah tanpa teka-teki. Membacanya seperti membuka buku harian Murakami sendiri. Kita dibawa ke dalam kesehariannya yang apa adanya. Bahkan ia menamakan karakter utama dalam cerita itu dengan Haruki Murakami si penulis. Mungkin memang inilah caranya berbicara langsung dengan pembaca. Dan pada akhirnya, dengan santai ia menutup kisah ini: “Maaf. Anu, ini bir hitam semua.”

Carnaval dimulai dengan janji yang menarik tentang tampilan luar dan dalam manusia. Murakami membuka kisahnya dengan penggambaran seorang perempuan yang buruk rupa, ia sengaja menggunakan kosa kata yang kasar, seolah ingin membawa kita lebih dekat pada inti kemanusiaan.

Di tengah cerita, Murakami banyak menyinggung Carnaval, sebuah gubahan piano karya Schumann. Ia menggambarkannya dengan begitu detail dan hidup, hingga pembaca terdorong untuk ikut mendengarkan nada-nadanya seperti yang dialami oleh tokoh “Aku". Dalam gema musik itu, Carnaval berubah menjadi alegori tentang manusia, tentang bagaimana kita semua, sadar atau tidak, hidup di balik topeng yang kita ciptakan sendiri.

Dan pada akhirnya, Murakami dengan sengaja menggantung cerita itu — tidak memberi jawaban, hanya meninggalkan pertanyaan retoris: “Kebahagiaan, bukankah pada akhirnya hanyalah sesuatu yang relatif?”

Pengakuan Monyet Shinagawa adalah satu-satunya cerpen dalam kumpulan ini yang sudah pernah saya baca sebelumnya. Kisahnya sederhana, runtut, dan cenderung populer. Namun sekali lagi, kita menjumpai gaya khas Murakami yang memadukan realitas dengan sesuatu yang samar, antara yang nyata dan yang mustahil. Makna serta pesan yang ingin disampaikan pun relatif mudah dicerna oleh pembaca kebanyakan.

Meski tidak seringan Kumpulan Puisi Yakult Swallows, cerita tentang seekor monyet yang bisa berbicara terasa ringan dan menarik. Ia membuat kita penasaran, menebak-nebak alegori macam apa yang ingin diungkap Murakami kali ini. Di akhir kisah, kita disodorkan tema yang sungguh universal; tentang cinta. Tentang perasaan yang murni, yang ironisnya justru dialami oleh seekor monyet. Apakah ini dasar dari istilah Cinta Monyet? Entahlah. Tapi barangkali, Murakami hanya ingin menunjukkan bahwa cinta, betapapun ganjil bentuknya, selalu lahir dari kerinduan akan diakui, dimengerti, dan diterima.

Sementara itu, Orang Pertama Tunggal, cerpen yang menjadi judul utama kumpulan ini, hadir sebagai penutup. Sekali lagi, sebagaimana kita lihat, hampir semua karyanya bisa dibaca sebagai alegori, meski ia jarang menulis alegori secara eksplisit. Dunia Murakami adalah di mana realitas dan mimpi menumpuk, dan di sanalah alegori bersembunyi. Begitu juga terjadi dalam cerita ini. Di sini, simbolisme mencapai puncaknya: kejadian ajaib, suasana ganjil, dan kondisi supranatural berpadu menjadi ruang refleksi antara mimpi dan kesadaran. Realisme magis dan surealisme kembali hadir, bukan sekadar gaya, tetapi cara Murakami menjelaskan yang tak bisa dijelaskan.

Begitulah akhirnya saya membaca kembali cerpen-cerpen Murakami, setelah sebelumnya menelusuri Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan. Dengan bahasa yang sederhana namun puitis, ia menulis tentang kesepian, kehampaan, dan cinta yang bersembunyi di antara hal-hal kecil: pertemuan kembali dengan seseorang dari masa lalu, sepotong musik jazz atau gubahan piano, atau seekor monyet yang berbicara. Semua tampak absurd, tapi justru di situlah kehidupan menemukan maknanya.

Murakami, seperti selalu, tidak menawarkan jawaban. Ia hanya membuka ruang sunyi agar pembaca bisa mendengar gema dirinya sendiri. Barangkali itu inti dari seluruh kisah dalam Orang Pertama Tunggal; bahwa pada akhirnya, kita semua hanyalah suara yang mencoba menjelaskan kesepian dengan bahasa yang tak pernah cukup.






Selasa, 31 Desember 2024

Children Of Heaven, Kisah Tentang Anak-Anak Masa Depan

Dari awal bertemu di Stasiun Bekasi, suasana sudah penuh kehangatan. Saya menggoda Alvaro, teman anak saya, Nada, “Cie yang mau ke Jepang!”

Saya sengaja meninggikan suara, memastikan semua orang di sekitar mendengar. Alvaro hanya terkekeh kecil. Rambutnya yang berantakan mengingatkan saya pada karakter Ali dari novel serial Bumi - Tere Liye.

Alvaro Danish Sutanto bukan anak biasa. Dia baru saja memenangkan juara pertama kategori Roblox dalam National Coding Competition 2024, sebuah ajang bergengsi untuk siswa Indonesia berusia 8 hingga 16 tahun yang diadakan oleh Koding Next. Dengan usia yang baru 14 tahun, Alvaro berhasil menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Hadiahnya? Sebuah perjalanan edutrip ke Jepang, pengalaman yang bagi banyak orang adalah mimpi yang menjadi nyata.

Namun, ada nada ragu dalam ucapannya, “Belum tahu nih, Om. Jadi atau nggak.”

Mama Alvaro, yang berdiri di samping Alvaro, dengan cepat menjelaskan, “Soalnya Al belum pernah pergi sendirian, apalagi sampai ke luar negeri. Kalau orang tua mau nemenin, biayanya juga nggak sedikit.”

Hadiah perjalanan itu memang hanya untuk pemenang, tanpa mencakup biaya pendamping. Saya mendengar sekilas ada getaran kekhawatiran yang terasa di suaranya. Ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang keberanian melepas anak ke dunia yang jauh lebih besar, dunia yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya.

Alvaro tersenyum kecil, “Padahal aku berharapnya juara dua aja, Om. Dapat laptop, selesai urusan.” Kata-katanya terdengar sederhana, namun mengandung kejujuran yang menyentuh. Laptop itu akan diberikan untuk adik perempuannya, Alisha.

Adegan itu mengingatkan saya pada film Children of Heaven karya Majid Majidi, sebuah cerita menyentuh tentang Ali dan adiknya, Zahra, di tengah keterbatasan hidup mereka di Tehran, Iran. Suatu hari, Ali secara tidak sengaja kehilangan sepatu Zahra. Karena mereka tidak mampu membeli sepatu baru, mereka memutuskan untuk berbagi sepatu Ali. Mereka bergantian memakainya untuk pergi ke sekolah.

Ali kemudian mengetahui tentang sebuah lomba lari di sekolahnya yang menawarkan hadiah sepatu untuk juara ketiga. Dia memutuskan untuk ikut lomba tersebut dengan harapan bisa memenangkan sepatu baru untuk Zahra. Ali berlatih keras dan bertekad untuk mencapai tujuannya. Pada hari perlombaan, Ali berlari dengan sekuat tenaga. Namun, dia menghadapi dilema karena harus memastikan ia finis di posisi ketiga, bukan pertama atau kedua, untuk mendapatkan hadiah sepatu. Meskipun Ali berusaha keras untuk juara 3, dia akhirnya tetap finis di posisi pertama. Kemenangan yang manis sekaligus getir.

Sebagai orang tua, saya melihat kesamaan antara Alvaro dan Nada, anak saya. Mereka lahir dari keluarga sederhana, di mana setiap keberhasilan terasa seperti kemenangan besar, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keluarga. Terkadang saya bertanya-tanya, bagaimana jika saya memiliki uang satu triliun rupiah? Apakah segalanya akan menjadi lebih mudah? Namun, saya tahu uang tidak selalu menjamin kebahagiaan. Berita di televisi akhir-akhir ini mengajarkan kita bahwa keserakahan hanya membawa seseorang ke dalam lubang kesengsaraan yang lebih dalam. Itu menjadi pengingat nyata bahwa nilai-nilai yang sesungguhnya seperti pengorbanan, kejujuran, ketekunan juga kerja keras tidak bisa dibeli.

Sampai hari ini saya masih percaya bahwa bahwa anak-anak yang tumbuh dalam kesederhanaan akan memiliki karakter yang lebih kuat dan tangguh. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini belajar untuk menghargai apa yang mereka miliki, berjuang untuk apa yang mereka inginkan, dan tetap rendah hati ketika mereka mencapai puncak. Mereka belajar bahwa kebahagiaan bukanlah tentang memiliki segalanya, tetapi tentang berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain.

Dalam langkah Alvaro menuju Jepang, meski ragu dan penuh tantangan, saya melihat seorang anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh kasih dan bijaksana. Ia adalah pengingat bahwa anak-anak seperti dia adalah harapan untuk masa depan. Harapan yang akan membawa nilai-nilai terbaik dalam perjalanan mereka meraih mimpi yang bahkan mungkin tak terjangkau oleh imajinasi kita, para orang tua.

Senin, 30 Desember 2024

Menulis Hari Ini




Puluhan tahun lalu, sebelum era digital, saya pernah tinggal bersama nenek. Jika di rumah, selain membaca buku, sebagian besar waktu saya habiskan untuk mengobrol dengan beliau. Banyak yang ia ceritakan, tentang suami kedua yang hilang dibawa penjajah Belanda saat ia mengandung anak ketiga, tentang suami terakhir yang telah berpulang mendahului, tentang tetangga, atau tentang pikiran-pikiran acak lain. Dari sekian banyak obrolan, cerita yang paling sering ia bicarakan adalah tentang anak-anaknya: bapak, paman dan bibi saya, yang beberapa di antara mereka telah tinggal jauh di luar kota, di luar negeri, bahkan telah meninggal dunia. 

Ia sering fokus bercerita tentang kejadian tertentu yang ia anggap spesial. Ia bercerita seakan-akan itu pertama kali ia bercerita kepada saya, dengan gaya, intonasi, diksi, dan semangat yang selalu sama. Padahal, saya telah mendengar cerita itu berulang-ulang, dan sebenarnya ia pun tahu kalau ia telah menceritakan kepada saya berulang-ulang. Saya pikir begitulah derita menjadi tua, atau mungkin juga derita menjadi manusia; bahwa sebuah peristiwa dapat bertahan selamanya. 

Berbeda dengan generasi digital native yang tumbuh dengan media sosial sejak lahir, saya menyebut diri saya sebagai imigran yang sering merindukan kampung halaman tempat ingatan masa kecil sederhana dan sunyi tanpa gawai. Mungkin itu sebabnya saya lebih berpikir konservatif dan mengandalkan pengalaman sebelum era digital. Mungkin karena itu saya suka menulis kenangan, atau mungkin itu hanya menandakan kalau saya mulai seperti nenek saya. 

Era digital adalah era foto dan video, di mana kita sibuk merekam hingga lupa menikmati momen. Saya merasa di era media sosial banyak dari kita yang kehilangan jati diri. Itu adalah salah satu sebab mengapa saya menonaktifkan akun Instagram dan Facebook dalam beberapa tahun terakhir.

Bagaimanapun hebatnya digitalisasi, ia tidak bisa merekam perasaan. Foto dan video tidak bisa menangkap konteks dan semua hal yang di luar frame. Apa yang ada di sana tidak utuh, serta menyisakan ruang hampa yang tidak bisa diisi dengan like, follower, ketenaran, atau uang. 

Walaupun tidak sempurna, saya berusaha mengisi jeda dalam ruang kosong itu dengan menulis. Bagi saya, menulis adalah kegiatan sepi tanpa hingar bingar. Sebagian besar proses menulis saya habiskan dengan diam, membaca, dan merenung. Saat buku diterbitkan, mungkin ada gegap gempita sebentar, tetapi dalam proses menulis, hanya ada diri sendiri dan keresahan. 

Sejak dulu menulis membantu saya dalam banyak hal. Mungkin itu yang membuat saya tetap waras. Dulu, saya menulis diary untuk mencurahkan perasaan saat sedih, kangen, merasa tidak dicintai, atau merasa bodoh, sementara tidak ada yang bisa mendengarkan. 

Sampai sekarang saya masih tetap menulis. Mungkin saya akan menulis selamanya, atau mungkin hanya sampai besok pagi, saat tidak ada lagi yang ingin saya sampaikan, tapi tentu bukan hari ini. 

Hari ini adalah hari yang biasa, dan kebanyakan hari adalah hari biasa, bukan hari ulang tahun, bukan hari perayaan, bukan hari liburan. Kebanyakan hari adalah hari-hari biasa, maka saya menulis tentang hari-hari yang biasa. Tentang hari ini yang akan kita lalui sebentar lagi, tentang hari kemarin yang kita kenang, juga tentang esok yang bisa jadi ada, bisa jadi tidak. 

Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah kumpulan surat dan puisi yang saya buat untuk istri saya sejak sebelum kami menikah. Saya tidak pernah menganggap hubungan kami adalah hubungan ideal apalagi sempurna, karena memang sampai kapan pun tidak akan ada hubungan seperti itu. Saya menulis ini untuk mengevaluasi diri, untuk memperingati pertambahan usia, atau mengingat hal yang sudah lewat. Pada awalnya saya tidak berharap surat dan puisi ini dibaca selain oleh istri, karena sebagian isinya sangat pribadi. Tapi sejujurnya, tulisan-tulisan ini bukan hanya tentang saya atau istri, tapi juga tentang hubungan dengan banyak orang. 

Cerita satu orang adalah cerita semua orang. Hubungan satu orang dapat berkaitan dengan hubungan banyak orang. Hari yang kita jalani adalah hari yang sama seperti hari-hari yang dijalani semua orang di seluruh dunia. Setiap kita selalu pada kondisi memperbaiki komunikasi dengan orang lain. Siapa pun kita, selama menjadi manusia, kita punya perasaan yang sama. Kita sama-sama manusia rapuh yang kacau, yang sedang belajar menerima rasa sakit.


Buku bisa dipesan di sini

Selasa, 01 Oktober 2024

Menikmati Hidangan dari Rasulullah


Pada pukul 01.30 dini hari, tiba-tiba saya terbangun dari tidur dengan mata seterang lampu 100 watt. Rasa kantuk hilang seketika. Saya mengucapkan selawat kepada Rasulullah Saw. sebanyak tiga kali, mengambil wudu, lalu salat. Kemudian, saya membangunkan istri untuk menceritakan mimpi yang baru saja saya alami.

Satu setengah jam sebelumnya, ketika masih membaca beberapa referensi untuk bahan menulis buku ini, saya tersentak melihat jam dinding telah menunjukkan pukul 00.00. Padahal esok paginya saya harus bangun dini hari untuk kerja. Saya langsung matikan lampu kamar dan berusaha untuk memejamkan mata. Dalam tidur yang sebentar itulah saya mimpi berjumpa dengan K.H. Fakhruddin Ahmad Baihaqi.

Dalam mimpi itu, saya tengah berkunjung ke sebuah rumah. Di dalamnya, tampak K.H. Fakhruddin tengah duduk bersila bersama beberapa orang. Saya mengucapkan salam lalu mendekat. Setelah saya cukup dekat, ia berdiri dan mengajak saya ke ruangan lain. Di ruangan itu tampak sebuah nampan berisi nasi kebuli di atas meja. K.H. Fakhruddin mempersilakan saya untuk makan. Nahas, belum sempat saya menyuap nasi kebuli yang tampaknya amat lezat itu, saya terbangun.

K.H. Fakhruddin yang saya mimpikan itu adalah kiai muda yang turut mengasuh saya ketika mondok di Pesantren Annida Al-Islamy di Bekasi. la sempat mengajari saya ilmu nahu dan mustalah al-hadis. Saya sungguh tidak memahami arti dan maksud mimpi tersebut. Mungkin lantaran saya pernah diajari olehnya akan hadis-hadis Rasulullah Saw. Mungkin karena adanya ikatan batin antara guru dan murid. Mungkin pula mimpi hanyalah bunga tidur. Segala kemungkinan lain juga punya peluang yang sama, akan tetapi saya percaya mimpi tersebut membawa pertanda baik.

Beberapa waktu berselang, saya berkunjung ke pesantren K.H. Fakhruddin. Kunjungan ini sengaja saya lakukan untuk bertanya perihal mimpi yang pernah saya alami. Setelah mendengarkan cerita mengenai mimpi itu, ia mengatakan bahwa pada malam saat saya bermimpi itu adalah malam terakhir sebelum ia berangkat umrah dan berziarah ke makam Rasulullah Saw. la juga mengomentari bahwa hidangan yang saya lihat dalam mimpi itu bisa jadi pertanda baik, sebab dalam bahasa Arab hidangan adalah "al-Maidah", dan nama ini menjadi salah satu nama surah dalam Al-Qur'an.

Saya mengamini apa yang disampaikan K.H. Fakhruddin. Sejak pertama kali masuk pesantren pada usia 12 tahun hingga hari ini rasa kagum saya kepadanya memang tidak pernah luntur. Saya mengagumi keikhlasan, ilmu, dan dedikasi yang ditunjukkannya dalam mendidik murid-muridnya. Kami para santri dilatih untuk selalu menghormati dan menjadikan guru sebagai mentor dan inspirasi. Dengan begitu, ilmu yang disampaikan para guru mudah-mudahan dapat cepat meresap dan seterusnya bermanfaat. Begitulah, dalam bahasa yang agak puitis, hubungan kami sebagai murid dengan K.H. Fakhruddin terwakili dalam senandung syair, "Man ana man ana laulaakum, kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum (Siapa gerangan diriku, siapakah diriku kalau tanpa bimbingan kalian [guru]. Bagaimana aku tidak mencintai kalian, dan bagaimana aku tak menginginkan tuk bersama kalian?)"

Dengan penuh kerendahan hati, saya mempersembahkan buku yang ada di tangan pembaca ini untuk guru kami, K.H. Fakhruddin, mattanallahu fi tuuli hayatihi (semoga Allah senantiasa memberikan kesenangan kepada kita dengan kehadiran beliau sepanjang hayat kita). Tidak lupa, saya juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bang Andriansyah Syihabuddin selaku editor Emir yang selalu memberikan ide dan saran untuk perbaikan naskah buku ini.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat KSKK Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI atas panduan yang menjadi dasar penyusunan buku ini. Juga, semua guru, kawan, dan semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tak langsung memberikan inspirasi dan kontribusi berarti dalam penyusunan materi buku ini beserta projek-projek penguatan karakter di dalamnya. Semoga buku ini menjadi sumber energi kreatif dan panduan yang bermanfaat dalam memperkokoh karakter generasi bangsa ke depan.

Akhir kata, penyusun yang daif dan faqir ini memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam buku ini. Semua semata-mata berasal dari diri penyusun pribadi. Hanya kepada Allah yang Mahasuci kita mengembalikan segala urusan. Karena itu pula, semua saran dan kritik akan penyusun tampung untuk perbaikan buku ini pada masa yang akan datang.

Selamat menikmati hidangan ilmu pengetahuan dan hikmah dari hadis Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajmain.




Jumat, 18 November 2022

Sri Asih, Seperti Mengetahui Rahasia yang Sudah Diobral

Dugaan saya terbukti, Sri Asih tidak sebagus pendahulunya Gundala. Jika saja layar bioskop seperti layar Netflix tentu saya lebih memilih untuk menonton kembali Gundala untuk yang ke 3 kali.

Berbeda dari Gundala yang dibuka dengan 15 menit awal yang memikat dan menurut saya adalah pembukaan terbaik film superhero yang pernah saya tonton, Sri Asih dibuka dengan canggung dan menyisakan banyak pertanyaan di benak penonton.

Sejak awal saya sudah ragu dengan aspek visual, karena triler yang dirilis sebelumnya sangat meragukan, apalagi ditambah jadwal tayang yang mundur dari semestinya. Melalui Twitter Space, Upi sang sutradara mengumumkan, "Kita tidak pengin mengecewakan. Di sisi lain saya merasa masih ada hal lain yang masih harus dipoles lagi. Saya berpikir antusiasme tinggi kayaknya harus dibayar sebanding dengan menonton filmnya nanti,". Walaupun statement itu membuncahkan sedikit harapan agar ada perbaikan, saya tetap masuk ke dalam bioskop pada hari pertama penayangan dengan ekspektasi rendah.

Tidak bisa ditutupi, urusan visual serta koreografi Sri Asih sangat kedodoran, dengan penjahat kacungan dungu dan CGI kasar yang klimaksnya pada adegan kemunculan Nani Wijaya dengan bentuk kepala tidak proporsional seperti sobekan koran yang ditempelkan begitu saja. Aspek komedi juga menjadi bagian yang terkesan dipaksa. Bukan memberikan komedi brilian yang memanfaatkan mimik dan dialog seperti dalam My Stupid Boss, Upi menghadirkan komedi tempelan dengan dialog yang boros dan tidak relevan.

Hal yang paling merusak adalah unsur mistery yang disusun sejak awal terbaca dengan mudah pada pertengahan awal film karena kemunculan terlalu banyak clue, mengakibatkan set-up yang dibangun sepanjang cerita, dengan tujuan membongkar Villain yang diniatkan menjadi twist pengejut, terasa sia-sia seperti mengetahui rahasia yang sudah diobral.

Seperti Wonder Women yang sangat cocok diperankan oleh Gal Gadot, satu-satunya hal yang sungguh menghibur adalah Pevita Pearce. Semata-mata karena ia adalah Pevita Pearce.



Jumat, 26 Agustus 2022

Dua Film Thailand dan Satu Serial yang Hampir Thailand

Slamet merekomendasikan dua buah film thailand (Fast & Feel Love dan Happy Old Year) ketika di saat yang hampir bersamaan Kucey meminta saya menonton serial drama Korea berjudul Voice.

Fast & Feel Love dan Happy Old Year adalah dua film thailand yang disutradarai oleh Nawapol Thamrongrattanarit (jangan minta saya membaca apalagi menghapal nama itu), yang mengangkat isu hubungan cinta yang kandas.

"Lu emang suka film drama kayak gitu?" Tanya saya ke Slamet.

"Suka sih, Sir." Jawabnya cepat. Saat ini ia berusia 26 tahun, sudah lulus kuliah dan masih bekerja. Sewaktu SMP, ia pernah menjadi murid saya, maka ia tetap memanggil saya Sir. Sebagai egalitarian, saya tidak keberatan ia memanggil saya apapun dan saya sudah terbiasa memanggilnya sama seperti saya memanggil kawan-kawan lain.

"Relate sama kehidupan lu?" Saya tertawa.

"Sial!" ia kesal, "Bisa jadi. Kadang ya ngebayangin aja ntar kalo kejadian di gua gimana gitu,"

"Lu mo putus sama Refin?" Saya menggodanya.

"Astagaa!" Slamet kaget, "Nggak, Sir. Gak kepikiran putus. Lagi baik-baik aja."



Fast & Feel Love disajikan dalam nuansa komedi yang kuat namun tidak slapstik dan murahan, bahkan di beberapa adegan saya menangkap kesan satir dan gelap. Sinematografi dan pengambilan gambar di buat modern dengan warna pastel yang teduh, melengkapi adegan dan beberapa karakter yang sangat jelas sekali sedang memparodikan filem populer terkenal, bahkan sampai ke taraf Meta Comedy. Drama yang dimasukan, yang menjadi magnet kelucuan film ini memang terkesan lebay, namun disaat yang sama tetap memberikan bekas yang dalam.

Film ini bercerita tentang Kao, seorang juara dunia olahraga susun gelas yang dicampakkan oleh pacarnya dan harus belajar keterampilan dasar orang dewasa agar bisa hidup sendiri dan mengurus diri sendiri. Di akhir cerita, penonton terbawa emosi dengan resolusi yang menggantung namun juga dibuat senang akan perkembangan karakter Kao yang tumbuh menjadi manusia dewasa. Seperti kebanyakan kita yang tumbuh seiring dengan masalah serta orang-orang yang datang dan pergi di kehidupan, yang membuat kita menjadi lebih dewasa atau malah sadar bahwa kita terlambat dewasa.



Perpisahan yang pahit namun "baik-baik" saja juga disajikan Nawapol dalam Happy Old Year. Dibanding Fast & Feel Love, film ini lebih serius dan depresif walaupun juga masih menampilkan sedikit sisi komedi yang suram.

Saya penasaran serta punya ekspektasi tinggi ketika Slamet menceritakan premis Happy Old Year, dan itu terbayar lunas setelah saya selesai menonton. Film ini bercerita tentang Jean, wanita yang ingin mengubah design tempat tinggalnya menjadi minimalis, namun terbentur kenyataan bahwa membuang barang-barang dari masa lalu tidak semudah yang ia bayangkan, karena setiap benda punya cerita dan kenangan.

Pada beberapa adegan, penonton dibuat ikut merasakan kecanggungan, kegugupan, getaran dalam suara, serta konflik dalam klimaks yang terasa dekat karena dibuat dengan dialog datar tanpa teriakan namun berbobot, membuat nyeri dan menggugah. Itu yang membuat film ini menjadi halus, dalam serta mengaduk perasaan.

Minimalisme yang diusung film ini bukan hanya terwakili dari tampilan layar yang diubah menjadi 4:3, menurunkan kontras warna serta memasukan tema usang tentang melupakan masa lalu, namun juga karena peristiwa di dalamnya begitu sederhana, relevan, nyata bahkan sangat puitis. Ada sebuah benda metaforis yang kokoh memberikan nuansa seperti puisi dalam film ini, jika dalam Parasite metafora itu berbentuk batu, dalam film ini berbentuk piano. Ada shoot sekitar 1 menit yang hanya menampilkan wajah Jane dengan segala emosi di dalamnya. Betapa wajah bisa menapilkan visualisasi emosi yang tidak bisa dilukiskan oleh gambaran secanggih apapun.

Seperti dunia minimalis, film ini menyempitkan pandangan para karakter kepada dunia yang hitam putih, antara membuang dan melupakan, atau mengenang dan menyimpan. Dua ekstrim mutlak yang tidak punya resolusi jalan tengah. Tidak ada persahabatan, pilihannya antara meneruskan atau melupakan.

Itu sama seperti ketika saya akan memutuskan apakah akan memeruskan atau melupakan serial rekomendasi Kucey yang belum sempat saya tonton habis. So many movies and books, so little time, kata saya kepadanya melalui pesan WA.

"Mister Nailal jangan lupa nonton Voice," Sebelumnya Kucey meminta dengan emotikon berharap. Ia mungkin seumur dengan Slamet, dan tidak pernah jadi murid saya, tapi entah mengapa ia memanggil saya Mister. Saya tidak keberatan dipanggil apapun, but I've never felt like I was any teacher for her.

Voice adalah drama thriller asal Korea yang juga sudah diadaptasi ke Thailand. Serial yang tayang sejak 2017 ini bercerita tentang seorang detektif urakan dan seorang operator Emergency Call Centre dengan bakat mengenali suara, bekerja sama untuk menangkap penjahat yang membunuh orang yang mereka cintai. Saya menggoda Kucey yang merupakan fangirl NCT dengan menampilkan screenshot Voice versi Thailand, tapi sepertinya ia sedang tidak ingin bercanda, atau memang selera humor kami yang berbeda.

Saya sadar akan konsekuensi Cancel Culture karena mengolok-olok fandom K-Drama, namun bagi saya, lucu adalah ketika di telinga masih hangat terngiang "swadikaap", saya membuka Netflix dan menemukan Voice versi Thailand yang menampilkan adegan awal yang klise dengan penjahat psycho tapi dungu karena tidak menyita handphone dari orang yang ia culik. Saya sempat berharap mungkin akan lebih menarik jika sepanjang episode para karakter mengucapkan swadikap saja sebanyak-banyaknya.

Sungguh saya tidak terbiasa mendengar bahasa Thailand atau Korea. Bahkan ketika menonton Money Heist --yang saya lebih suka versi Korea dibanding Prancis, saya men-dubbing dengan Bahasa Inggris. Senang sekali bisa mendengar tokoh-tokohnya fasih berbahasa Inggris dan bisa mengucapkan huruf akhir tanpa suku kata dengan benar. Mantap! Bukan Mantapu!

Sejujurnya, Voice versi Thailand jauh lebih saya suka karena ia menghilangkan atau mengganti adegan, drama serta dialog yang tidak perlu pada versi Korea, disamping juga membuat alur dan logika cerita menjadi lebih jernih. Di episode perdana, kemampuan unik Irin/Lee Hana membuat saya teringat Patrick Jane dalam The Mentalist yang mencari psikopat pembunuh istri dan anaknya dengan keahlian mentalisme, atau crime serial Amerika seperti Castle, Lie to Me, Forever, atau Perception, yang menggunakan keahlian unik para protagonis untuk memecahkan masalah kriminal. Satu hal yang mungkin paling kentara membedakan Voice dengan serial kriminal Amerika adalah ia menyajikan ketegangan dari hasil perpaduan sound, pengambilan gambar dan pemotongan adegan yang bisa membuat penikmatnya kecanduan.

Araseo!




Selasa, 26 April 2022

Midnight Mass; Merasakan Langsung Keajaiban



Apa tanggapanmu ketika melihat langsung ada orang yang bisa melakukan hal ajaib? Misalnya menyembuhkan orang lumpuh atau buta dengan seketika, berada di tempat berbeda dalam satu waktu, mengetahui lokasi benda hilang, menaklukan binatang buas dan lain-lain.

Apakah kamu akan segera percaya bahwa itu adalah keajaiban, atau menyelidiki terlebih dahulu? Jika menyelidiki, apa yang harus diselidiki, pertimbangan apa yang digunakan? Apakah agama termasuk yang dipertimbangkan? Apakah jika sama keyakinannya denganmu maka kamu anggap mukjizat, namun jika tidak, kamu akan menganggap itu tipu daya setan? Mari kita anggap keyakinannya sama, apakah kamu langsung percaya itu Karomah yang diberikan Tuhan? Atau kamu punya hal lain sebagai syarat?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang akan mengendap ketika menyaksikan serial Midnight Mass, itu perasaan yang sama ketika menonton Messiah. Pertanyaan yang mendalam tentang apa yang bisa menambah atau meruntuhkan keimananmu.

Midnight Mass adalah serial yang menarik. Karya Flanagans yang pertama kali saya tonton ini, membuat saya ingin menyaksikan karya-karyanya yang lain. Serial ini tentu bukan selera semua orang. Jika kamu bosan dan tidak bisa menikmati Messiah - Michael Petroni, maka kemungkinan besar kamu juga akan menghadapi hal yang sama dengan serial ini.

Ini film horror realistik yang memotret masyarakat dengan jujur juga bernada agnostik. Setiap episode diberi judul menurut Al Kitab, dari Book I: Genesis di episode awal sampai Book VII: Revelation di episode 7. Hal itu tentu mengambarkan bukan hanya kedekatan secara personal penulis skenario, tapi juga ekplorasi mendalam dalam memahami kitab suci. Sutradara dan penulis skenario sangat jeli dalam menggunakan metafora yang yang sering sangat filsafatis. Juga dalam mengeksplorasi keyakinan yang sudah mengakar dalam masyarakat, tentang kepercayaan akan kedatangan hari akhir, penghakiman dan juru selamat, sekaligus membuat interpretasi melalui karakter yang selalu disuarakan polyphony dengan dialog dan monolog yang dalam, autentik dan sangat jauh dari kesan tempelan.


Bev Keane: St. Patrick's isn't just a church, Monsignor. It's an ark. I set up cots in the rec center for those who were chosen. We will take to our ships, to our vessels, and then, like sheep among wolves, like you said, we will spread the good word.
Father Paul: And who will decide who is chosen?
Bev Keane: We will. You and me.
Father Paul: And what happens to the rest?
Bev Keane: Well, I don't much know. That isn't up to me. It's between them and God, isn't


Begitu seharusnya cerita yang baik. Bisa menghadirkan karakter yang berwarna dengan permasalahan dalam dirinya yang kompleks, dan manusiawi. Dengan ansambel karakter yang beragam tersebut, serial horor ini jauh lebih meyakinkan, membumi dan sangat dekat dengan penonton. Pada sikap judgmental, keangkuhan sebagai Wakil Tuhan atau orang-orang terpilih, kemunafikan, keyakinan palsu dan hal lain yang sangat lekat dengan masyarakat.

Serial ini mengagambarkan fenomena yang dekat dan sering terjadi di dekat kita. Tentang kecenderungan fanatisme agama yang tidak dibarengi nalar kritis yang walaupun disajikan dalam nuansa Katolik yang kental, namun pesannya sangat relevan terhadap kepercayaan dalam agama apapun. Tentang bagaimana fanatisme buta akan menarik siapapun pada jurang paling dalam naluri manusia yang tidak jarang sangat merusak.

Father Paul: God has no country. There is one God for the world. And the lines we draw, and the treaties we draft, and the borders we close mean nothing to Him. No, don't fight for a country. You fight for God's kingdom. A kingdom which Jesus tells us has no flags or borders. God's army.

Jadi kembali pada pertanyaan awal; apa tanggapanmu ketika melihat langsung keajaiban? Apakah segera percaya atau skeptis dan menganggap bahwa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan saat ini bukan berarti ajaib, hanya manusia belum menemukan alasan ilmiah dibalik peristiwa itu.

Siapapun kamu, serial ini layak mendapat perhatian.




Minggu, 26 September 2021

Rapijali; Sebagus Perahu Kertas?

Ekspektasi yang terlalu tinggi bisa sepenuhnya menjadi alasan atas kekecewaan yang akan saya tulis pada review ini. Jika bukan karena Dee, Rapijali sudah saya tinggalkan pada bab ke 3.
 
Bab pertama dibuka canggung dengan janji akan konflik besar yang sayang tidak terbayar sampai akhir novel pertama, bahkan akhir novel ke dua. Alih-alih memberikan kepuasan setelah menutup halaman akhir, Rapijali meninggalkan pembaca dalam tanda tanya besar yang menyakitkan, semacam anak yang menanti janji ayah yang tidak pernah terlaksana.
 
Jika merupakan stategi yang akan diungkap pada buku ke 3, maka itu menjadi stategi bunuh diri. Saya khawatir Rapijali 3 akan bernasib seperti Maryamah Karpov - Andrea Hirata yang hadir hanya demi memenuhi penasaran dan kesenangan fanbase namun berakhir mengecewakan pembaca yang lebih serius.

Awalnya, ketika tahu cerita ini berdasar premis usang tentang Ping, seorang gadis prodigy musik yang berada di persimpangan jalan dalam meraih cita-cita, saya sama sekali tidak khawatir. Pengalaman Dee bisa membuat tema yang biasa saja menjadi menarik dalam sentuhan plot, setting dan dialog yang memikat. Saya tidak pernah meragukan kemampuannya dalam mengolah hal itu, namun sayang saya tidak menemukan itu paling tidak sampai paruh akhir novel pertama.

Di paruh awal, alur, adegan dan dialog tidak sepadat Perahu Kertas. Ini tentu pembanding yang sejajar daripada saya membandingkan dengan novellete Madre atau Filosofi Kopi. Saya seperti kehilangan magis dalam tulisan Dee karena ia menyajikan adegan yang boros, hambar dan tidak perlu. Tulisannya menjadi kering dengan beberapa karakter artifisial yang tidak dieksplorasi dengan baik, yang membunyikan dialog mandek dan kaku.

Mulai pada setengah akhir novel pertama dalam bab Juru Selamat, secara perlahan rangkaian kejanggalan adegan anak-anak remaja ala FTV yang memang sengaja dirancang, terbayar lunas. Walaupun setelah itu, kembali cerita menjadi minim elemen kejut dan sangat predictable. Baru pada pertengahan akhir buku ke dua saya merasa nyaman dengan para titular karakter. Karakter-karakter utama menjadi semakin believable dan hidup. Di sana kekuatan tulisan Dee seperti kembali, dengan gaya narasi serta elaborasi yang semakin padu. Memilih kosakata dan metafora untuk menggambarkan pendengaran lewat tulisan sungguh bukan perkara sederhana, bahkan mungkin lebih sulit dari deskripsi wewangian dalam Aroma Karsa. Di beberapa adegan ketika lagu-lagu dimainkan, saya membayangkan ini menjadi seperti lagu-lagu dalam Rectoverso yang bisa dinikmati di dunia nyata. Humor dan dialog yang merupakan keahlian Dee pada bagian ke dua ini juga semakin mengalir dan autentik, walaupun pada beberapa adegan masih terasa janggal dan terlalu dipaksakan.
 
Hal yang juga patut dipuji dalam karya ini adalah keberanian Dee untuk menggarap ceruk yang jarang dilirik oleh penulis populer Indonesia sebelumnya. Memasukan unsur politis pemilihan gubernur DKI Jakarta merupakan pertaruhan yang sangat beresiko. Walaupun tidak terlalu berhasil untuk memberi bekas yang mendalam, namun usaha melalui survey dan riset yang memadai itu patut diapresiasi.
 
Rapijali memang akan sangat relevan dan mudah dinikmati oleh remaja. Menulis dunia musik dan panggung yang akrab ia geluti, dengan perlahan tapi pasti Dee mampu membawa tulisannya di buku ke 2 menjadi semakin menemukan ruang yang dengan apik dirajut secara emosional, dramatis dan kompleks. Dengan konflik percintaan yang pasti mudah mengait secara personal dengan pembaca remaja. Patah hati yang pilu, cinta diam-diam yang manis, pergulatan atas penghalang cinta seperti agama, strata sosial dan ekonomi, juga jarak yang sangat relevan dengan siapapun.
 
Kesalahan yang tidak bisa dipungkiri adalah Rapijali terlalu ringan bahkan cenderung bertele-tele dengan konflik yang terlalu melebar. Jika dibuat lebih rapat dan ketat seperti Perahu Kertas, ini akan menjadi karya yang jauh lebih sempurna. Tereksplorasi dengan baik seperti Supernova, meninggalkan ina-inu penulisan yang tidak penting, dengan dialog yang lebih selektif yang pada akhirnya membawa pembaca pada keakraban intens. Saya percaya, jika ditulis dalam versi yang lebih ringkas, Rapijali akan semakin rapih.



Sabtu, 24 April 2021

Prophet for Our Time

Di bulan ini saya membaca Muhammad: Prophet for Our Time, “lanjutan” dari karya Karen Armstrong sebelumnya, Muhammad, A Biography of the Prophet. Ada latar belakang berbeda mengapa Karen menulis dua buku biografi tentang Nabi ini. Muhammad, A Biography of the Prophet ditulis tahun 1991 sebagai salah satu usaha Sarjana Barat memberikan penjelasan yang objektif serta pengertian yang komperhensif terhadap sosok Nabi Agung umat Islam ini. Sementara Muhammad: Prophet for Our Time ditulis setelah kejadian 11 September 2001, merespon media barat yang kembali mulai mengidentifikasi Islam dengan terrorisme.

Saya pertama kali mengenal Karen lewat bukunya Masa Depan Tuhan, lanjutan dari karya fenomenalnya, A History of God. Dalam biografi Nabi ini, Karen seperti ingin meneruskan pemikiran bahwa agama masih relevan bahkan menjadi solusi dalam abad baru ini.

Membaca biografi Nabi dari kalangan non-muslim membuat saya bisa melihat dari perspektif lain. Sebagai orang yang pernah tujuh tahun sebagai biarawati Katholik Roma, Karen tentu punya latar belakang yang cukup untuk memberikan sudut pandang Kristen bahkan Yahudi terhadap Islam. Beberapa kali malah saya berhenti membaca untuk mengecek beberapa ayat di Al Kitab yang ia kutip.

Tidak seperti tulisan-tulisan karya Barat pada Abad Pertengahan, yang cenderung punya persepsi yang negatif, tidak sesuai fakta, atau bahkan fitnah yang keji, Karen menulis biografi Nabi dengan objektif, banyak mengambil rujukan dari penulis biografi nabi pertama, Ibn Ishaq (w 767), juga referensi lain yang diakui oleh mayoritas Muslim di seluruh dunia.

Sementara karya biografi Nabi yang ditulis oleh kalangan Muslim kebanyakan lebih hati-hati terhadap motif dan tujuan Nabi, Karen menulis tentang nabi seperti ia tahu pikiran, perasaan, keinginan, hasrat atau rencana yang ada dalam hati Nabi. Atau seperti dinyatakan Kang Jalal, ia sudah punya alur dan kemudian menjadikan itu sebagai acuan untuk menyusun biografi. Maka membaca buku ini, seperti membaca novel. Walaupun bahkan penulis novel Nabi seperti Tasaro sekalipun, ketika menggambarkan keadaan batin dan pikiran Nabi, ia menulis dengan kalimat tanya. 

Kehati-hatian kalangan Muslim dalam hal pengungkapan visi dan motif Nabi tersebut bisa jadi karena tidak disebutkan secara gamblang atau diucapkan dalam hadits-hadits, sehingga penulis Muslim cenderung tidak menerjemahkan keinginan Nabi yang tidak berdasar dalil teks tersebut. Selain memang penghormatan umat Islam kepada Nabi sangat tinggi. (Buku karya Annemarie Schimel tentang penghormatan terhadap Nabi Saw. dalam Islam bisa dijadikan rujukan akademis yang cukup objektif)



Dalam penutup di Bab Salam, Karen mengutip sarjana Kanada, Wilfred Cantwell Smith (1957) yang menekankan tentang perlunya bukan hanya saling toleransi, tapi apresiasi diantara dunia Islam dan Barat. Ia mengatakan bahwa nilai-nilai kebaikan yang ada dalam Islam juga dimiliki oleh Barat, karena nilai-nilai tersebut tumbuh dari tradisi yang sama. Jika Muslim ingin menjawab tantangan zaman, maka mereka harus mengerti tradisi dan institusi Barat, karena keduanya tidak akan pernah lenyap. Jika tidak begitu, maka mereka akan gagal mengahadapi tantangan zaman. Ia juga mengkritik dengan keras kepada Barat tentang ketidakmampuan untuk mengakui bahwa mereka berbagi planet yang sama bukan dengan orang-orang yang lebih rendah, tapi dengan orang-orang yang setara.

Kritik ini sangat relevan bahkan sampai sekarang. Introspeksi ini bukan hanya bagi kalangan Barat, tapi juga untuk Muslim. Saya banyak menemui kawan yang selalu menganggap orang yang bukan Muslim sebagai orang-orang yang tidak jujur, tidak adil atau hal buruk lain. Itu tentu pemikiran yang dangkal dan tidak membawa kemanapun. Karena sejatinya, mengulang Cantwell, umat Islam berbagi planet yang sama dengan orang-orang non-muslim, bukan dengan orang-orang yang lebih rendah, tapi dengan orang-orang yang setara.

Pada kenyataannya, banyak peneliti Islam dari non-muslim seperti Karen yang objektif dan jujur. Islam memang dekat dengan Yahudi secara teologi, namun tidak dari segi politik, terutama sekarang ini. Berkebalikan dengan Nasrani, yang jauh dari segi teologi namun dekat secara politik. Rabi dan reformis Abraham Geiger menyatakan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang penipu ulung. Hal ini diamini oleh Gustav Weil, orientalis Jerman penganut Yahudi, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad bukanlah penipu tapi pembaharu yang tulus. Sesuai dengan Geiger dan banyak penulis abad kedelapan belas, Weil memandang Nabi sebagai pembaharu monoteisme asli yang tidak ternoda dari patriark Nabi Ibrahim. Dalam catatan Weil, Islam adalah versi murni dari Yudaisme dan Kristen: “A Judaism without the many ritual and ceremonial laws, which, according to Muhammad’s declaration, even Christ had been called to abolish, or a Christianity without the Trinity, crucifixion and salvation.”

Beberapa kawan Muslim yang saya temui, tidak jarang takut, atau bisa saya sebut enggan, membaca hal-hal tentang agama lain. Mungkin khawatir terpengaruh, atau terkurung pada anggapan tidak ada kebenaran selain apa yang ada pada mereka. Ignorance semacam ini tidak jarang membawa kepada ekstrimisme atau fundamentalisme agama. Sementara Islam adalah jalan tengah, agama solusi, Nabi banyak mencontohkan dalam kehiduapan beliau sehari-hari. Saya ingat apa yang selalu diulang-ulang Gus Baha dalam pengajiannya, bahwa Al Quran mengajak untuk berdialog dan berlogika kepada kaum yang menentang. Sejarah mencatat bagaimana perjanjian Hudaibiyah yang bahkan pada saat itu isinya dianggap oleh beberapa sahabat akan merugikan Islam, ternyata malah menguntungkan. Karen dan banyak peneliti Islam menganggap ketenangan Nabi dalam menghadapi peristiwa yang sungguh menegangkan tersebut merupakan bukti akan kegeniusan profetik beliau. Berikut kutipan Karen yang mengutip Ibn Ishaq di halaman 207-208:

Pada kenyataannya, perang terus berlanjut, tetapi para penulis sejarah Nabi sepakat bahwa Hudaibiyyah merupakan garis pembeda.”Belum pernah ada kemenangan (fatah) yang lebih besar daripada ini sebelumnya," tegas Ibn Ishaq. Akar makna dari FTH adalah "pembukaan"; gencatan senjata itu tampak tidak menjanjikan pada awalnya, tetapi itu membukakan pintu-pintu baru bagi Islam. Hingga saat itu, tak seorangpun bisa duduk untuk mendiskusikan agama baru tersebut dalam cara yang rasional, karena pertempuran yang tak hentinya dan kebencian yang terus memuncak. Tetapi kini, "ketika ada perjanjian damai dan orang-orang berjumpa dalam keadaan aman dan berkumpul bersama, setiap orang yang membincangkan tentang Islam secara cerdas beralih memeluknya". Bahkan, antara 628 dan 630, "jumlah orang yang masuk Islam berlipat dua atau lebih dari berlipat dua".

Dari kalangan Islam, kecuali yang terpelajar, sangat tidak peka dengan fakta ini. Pada setiap keyakinan selalu ada egoisme akut yang hanya mau orang lain memahami keyakinannya, namun tidak sebaliknya. Orang-orang yang bersikap tidak peduli, menutup diri, berburuk sangka, menganggap keyakinan lain adalah keyakinan kotor sehingga tidak perlu diketahui, tentu selalu ada di setiap agama, dan itu yang membuat dialog yang santun dan adil semakin sulit terjadi.

Di bulan tempat berkontemplasi ini. Kita seyogyanya bisa merenung dan melihat ke dalam diri, tentang sudah adilkah kita kepada orang lain, bahkan orang yang mungkin kita tidak suka? Sudahkah kita memiliki kerendahan hati untuk menerima kebenaran dan hikmah dari siapapun, bahkan dari orang yang tidak seagama?

Dalam paragraf akhir penutup, Karen menyimpulkan bahwa baik Islam dan Barat saat ini masih belum bisa saling menghargai. Bahkan dengan rendah hati ia mengakui bahwa Nabi adalah sosok yang tepat untuk dunia Barat dan Islam agar bisa saling mengapresiasi. Ia mengusulkan, jika kita ingin menghindari kehancuran dan mewujudkan kehidupan yang toleran dan saling mengapresiasi, untuk memulainya dari sosok Nabi Muhammad: “Seorang manusia yang kompleks, yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kegeniusan yang luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada "Islam", berarti perdamaian dan kerukunan.”

Penutup dari Karen mengusik saya, karena itu berarti mengatakan secara tersirat bahwa banyak Muslim yang tidak memahami visi kenabian Nabi Muhammad sallalahu 'alaihi wasallam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in

Wallahu 'alam bissowab

Jumat, 12 Maret 2021

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Saya tahu Raden Ahmad Rifai yang jatmika pasti belum pernah membaca cerita ini, bukan berarti karena raden tidak punya sekeping uang untuk membeli buku-buku bagus, atau tidak punya waktu untuk membaca, tapi mungkin karena raden sudah keasikan dengan hal lain dan kehilangan naluri untuk merenung atau mencoba.
 
Kitab ini menyulam dengan sangat apik cerita turun temurun yang raden pernah baca dari berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, dari mulai legenda, dongeng, cerita rakyat, mitos sampai kisah nabi dalam kitab suci, sambil tetap berlaku kritis atau kadang juga memberikan interpretasi baru bahkan mengubah jalan cerita dan tokoh-tokoh yang sudah raden kenal, dengan cara ringan, jenaka juga tragis.

Raden akan dibawa menelusuri belahan dunia lain di abad entah. Bukan hanya disajikan kegemaran ganjil Raden Mandasia mencuri daging sapi seperti dijanjikan judul kitab ini, tapi juga kehebatan lidah Sungu Lembu dalam hal mengecap rasa masakan yang beraneka rupa —mengingatkan saya akan kelegendarisan hidung Grenouille dalam Parfume atau Jati Wesi dalam Aroma Karsa. Raden akan diajak menyusuri pengalaman-pengalaman magis dan mendebarkan mereka berdua mengarungi laut sambil dihidangkan informasi sejarah berlimpah tentang bahtera.
 
Disamping juga menikmati kisah dari tokoh-tokoh lain yang tidak kalah mengejutkan dan menyenangkan untuk disimak. Puncaknya, raden akan dibawa merasakan kengerian peperangan yang membuat Prabu Watugunung sang raja agung Gilingwesi perlaya, dan kejijikan yang mengaduk-aduk perut seperti yang mungkin bisa raden jumpai waktu menyaksikan Game of Throne.
Ini adalah jenis cerita yang mengendap dalam, yang tidak memeberi raden pesan moral tertulis kekanak-kanakan, tapi bekas yang ditinggalkan mampu membuat merinding dan merenung lama, yang pada beberapa bagian bisa membuat raden memaki kadal bunting, atau seperti yang sering dikatakan Sungu Lembu, sang pangeran sejati Banjaran Waru, narator dalam cerita ini; anjing betul.

Kemudian raden bertanya, ketika saya mengabarkan kitab ini, “Apakah sudah boleh dipinjam?”
Itu pertanyaan yang sejujurnya sangat ngawur dan naif raden. Karena seperti kata petatah petitih pertapa suci, “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya. Dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam.”

Namun, karena berkaitan dengan kawan bicara untuk membahas kitab ini yang saya butuhkan untuk tetap waras, silahkan raden datang ke padepokan saya. Selain buku mungkin raden akan saya buatkan kahwa hitam yang membuat jantung berdebar. Semoga saya tidak menjadi orang bodoh dan raden tidak menjadi orang gila, atau tidak terlalu gila.



Minggu, 21 Februari 2021

Bilang Begini Maksudnya Begitu

Manusia mungkin mengenal puisi sejak ia mengenal Bahasa, namun tidak ada definisi baku yang bisa menjelaskan puisi. Tidak ada ukuran resmi untuk suatu tulisan disebut puisi. Ada istilah popular yang dikenal di dunia kepenyairan yang disebut Licentia Poetica, bahwa puisi tidak terikat dengan ikatan-ikatan kebahasaan seperti struktur atau tanda baca. Maka privilege tersebut menjadikan puisi sulit untuk didefinisikan, jika tidak dikatakan mustahil. 

Menurut Sapardi, definisi mudah untuk puisi adalah; bilang begini maksudnya begitu. Dalam percakapan, kita sering mendapati kata-kata atau kalimat yang bentuknya puisi dengan definisi ini. Kita menyebut toilet dengan sebutan Kamar Kecil, atau menyebut bumper di jalan dengan Polisi Tidur, atau istilah lain seperti Mata Keranjang, Kumpul Kebo, Lintah Darat dan lain-lain adalah bilang begini maksudnya begitu.

Hal lain yang erat kaitannya dengan puisi adalah bunyi. Puisi adalah permainan bunyi. Di belakang truk-truk di jalan raya kita juga sering membaca puisi dengan diksi dan rima atau bunyi yang memikat, “ku injak gas dan kopling agar kau bisa shoping” atau, “putus cinta soal biasa, putus rem mati kita” atau, “hindari corona, tetaplah hidup walau tidak berguna”

Begitulah puisi menjadi sangat dekat dengan kehidupan manusia. Bahkan, bukankah dalam kitab suci juga terdapat unsur puitis? Bukalah kitab suci maka kita akan menemukan bagian dari puisi di sana, ada multi makna, rima, irama, diksi dan perspektif serta metafora yang bertebaran. Karena itu kitab suci tidak akan pernah berhenti dikaji dan karena itu tafsir dari masa ke masa terus ada. 

Puisi adalah naluri alami. Hal yang sangat dekat dengan manusia, disadari atau tidak. Ia dipakai manusia untuk menggugah, menasehati, menggambarkan keindahan, mengkongkritkan hal-hal abstrak, atau hanya untuk berkomunikasi. Suka atau tidak, manusia tidak bisa lepas dari puisi. Namun ada saja orang yang menganggap puisi itu jauh.

Saya pernah bertanya kepada seorang kawan tentang apakah ia menyukai puisi. Dengan tegas ia mengatakan tidak. Sama sekali tidak. Menurut dia puisi itu omong kosong dan sok romantis. Saya menganggap ia tidak mengerti apa yang dimaksud puisi, sehingga tidak bisa mengapresiasi. Kesulitan seseorang mengapresiasi mungkin yang menyebabkan puisi terasa rumit. Padahal puisi punya dimensi personal yang bebas diartikan oleh pembaca. 

Itu dimungkinkan juga karena pengajaran puisi di sekolah yang kaku, kuno dan membosankan. Padahal inti dari puisi adalah membuat orang yang membacanya tergerak, baik perasaan atau pemikiran. Dan itu tidak bisa dilakukan jika bahasa yang menjadi bahan baku puisi kering, kuno dan tidak mempunyai daya gugah terhadap orang kebanyakan. Maka dari itu puisi harus mencari cara baru dalam pengucapan, dalam perspektif juga dalam bahasa. Mengikuti semangat zaman. Dari sana puisi menjadi kontemporer dan lebih menyenangkan untuk dinikmati. Sehingga pengajaran puisi seharusnya bisa lebih menyenangkan dan mengikuti semangat zaman yang selalu berubah.

Saat ini puisi semakin populer dan berbaur dengan bahasa-bahasa termutakhir yang lebih mudah dan ramah pembaca awam. Puisi tidak lagi murung, suram atau kuno. Ia menjadi budaya baru karena memang pembentuk puisi adalah bahasa, dan sifat bahasa adalah berkembang. Maka puisi akan berkembang seiring berkembangnya bahasa. 

Apakah puisi hanya tentang romantisme kekasih?

Untuk menjawab itu saya akan mengutip beberapa puisi dari Joko Pinurbo.

Agama Khong Guan

Rengginang bersorak
ketika agama-agama menyatu
dalam kaleng Khong Guan.

(2019)

Misal

Misal Aku datang ke rumahmu
dan kau sedang khusyuk berdoa,
akankah kau keluar dari doamu
dan membukakan pintu untukKu?

(2016)

Saya tertegun lama ketika pertama kali membaca puisi itu. Dan semakin lama saya baca, ia semakin membuka diri pada pemahaman dan makna yang semakin dalam. Dan apakah puisi-puisi di atas adalah tentang romantisme sepasang kekasih? Tentu bukan. 

Apakah sulit untuk memahami atau membuat puisi?

Seperti bidang apapun, jawaban pertanyaan itu adalah gampang-gampang susah atau bisa juga susah-susah gampang. Dan seperti keahlian lain, membuat puisi bisa dipelajari. Berikut adalah beberapa buku yang saya rekomendasikan untuk yang ingin lebih mendalami, mengapresiasi atau mencoba membuat puisi. 

  1. Bilang Begini Maksudnya Begitu oleh Sapardi Djoko Damono. Buku ini membahas banyak hal tentang puisi. Dari dasar pembentukan puisi, jenis-jenis, unsur puisi dan lain-lain yang kesemuanya menggiring pembaca untuk bisa lebih apresiatif terhadap puisi.
  2. Membaca Sastra oleh Melani Budianta dkk. Buku ini membahas sastra secara umum, bukan hanya puisi. Ini buku yang cukup ringkas, sederhana namun kuat dalam isi. Diperuntukan untuk pengajar sastra, namun juga bisa dinikmati oleh kalangan awam yang ingin mengerti dunia sastra. Dimulai dari pengertian, contoh-contoh, sampai apresiasi dan kegiatan untuk dilakukan. Menurut saya ini adalah buku wajib bagi mahasiswa sastra.
  3. Sosiologi Sastra oleh Sapardi Djoko Damono. Buku ini membahas hubungan antara sastrawan, sastra dan masyarakat. Buku ini memaparkan dengan jelas pendekatan terhadap sastra daitinjau dari segi-segi kemasyarakatan.


Menutup tulisan ini, saya akan mengutip Goenawan Mohamad, “Mereka yang terbiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi.”

Sabtu, 21 November 2020

Yesterday; Troubles Seemed So Far Away

Dunia alternatif tanpa The Beatles merupakan premis yang menarik. Banyak yang mengatakan film ini bermasalah karena punya banyak plot holes dan cacat logika, sehingga mengurangi kenikmatan menonton. Sejujurnya saya tidak terganggu dan memaafkan hal tersebut, karena sejatinya ini bukanlah film science fiction.

Sutradara seperti tahu bahwa film ini adalah tentang menjawab sebuah premis —dan hanya itu saja—bagaimana jika The Beatles beserta lagu-lagunya, hilang dari muka bumi? Ia tidak mau terbebani dengan hal-hal lain dan membiarkannya menjadi tidak terjelaskan. Ia seperti menyadari bahwa jawaban atas hal-hal lain itu tidak terlalu penting. Mungkin baginya, yang terpenting adalah sebagai seniman ia memberikan suatu hal yang bermakna; lagu-lagu The Beatles, perpaduan antara musikalitas popular dan puisi yang menyihir.

Aransemen musik dan suara yang lebih jernih juga modern, membuat lagu-lagu tersebut lebih segar. Mereka tidak dicomot asal-asalan tapi berbaur dan ikut bercerita mengiringi cerita dalam film ini. Seperti lagu-lagu dalam La La Land, tidak butuh waktu lama sampai lagu-lagu The Beatles versi Jack Malik masuk dalam playlist saya. Lagu-lagu dalam film ini akan membawa penggemar The Beatles seperti istri saya bernostalgia sekaligus merenungkan kembali makna hidup.

Adegan ketika Ellie mendengar Yesterday untuk pertama kali dari Jack, mengingatkan saya pada pendengaran pertama saya akan lagu tersebut bertahun-tahun yang lalu dari petikan gitar seorang kawan. Saya kira hanya sedikit lagu yang bisa menancapkan pesona magis semacam itu, sampai-sampai ketika mengenangnya kembali, ia seperti trauma indah yang tidak mau kau obati.

Secara alur, film ini terus menanjak, ia tidak membiarkan penonton menunggu terlalu lama untuk kemudian bosan. Fokus film ini adalah tentang hubungan Ellie dan Jack. Sebuah komedi romantis yang walau klise dan mudah diprediksi, terutama pada separuh akhir, tapi masih membuat hati kita hangat. Sesekali unsur dialog komedik kekinian yang lucu tapi ramah membuat film ini lebih hidup, dan Rocky si Joker, karakter tempelan yang artifisial, selalu membuat saya terbahak.

Film ini memang sengaja tidak dibuat berat dan gelap, malah terkesan popular, mudah dan tanpa beban. Bahkan penonton seperti disuapi jawaban dari premis awal melalui salah satu karakter, “A world without the Beatles is a world that's infinitely worse.”

Mudahnya, ini adalah film yang ringan tentang mensukuri hidup saat ini, bagaimanapun keadaannya. Mengutip Kurt Vonegut dalam Gempa Waktu, “Bahwa tugas yang tampaknya masuk akal bagi seniman adalah membuat orang menghargai hidup, setidaknya secuil saja. Kemudian saya ditanya apakah tahu seniman yang melakukan tugas tersebut. Saya menjawab, The Beatles.”

Itu ditulis sebelum ia menjelaskan bahwa hanya manusia, makhluk hidup yang paling maju ini, yang merasakan bahwa hidup ini buruk dan menyedihkan.

Film ini diakhiri dengan Ob-La-Di, Ob-La-Da, sebuah kesimpulan yang merangkum seluruh isi cerita, bahwa hidup adalah tentang bermakna bagi orang lain, bahwa menjadi orang biasa bukanlah sebuah dosa, selama kamu bahagia.



Rabu, 11 November 2020

The Queen's Gambit; Dunia Dimana Setiap Orang Diperlakukan Sama

Seri yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama ini memulai dengan atmosfir gelap dan depresif. Pada episode pertama bahkan saya menangkap kesan suram seperti dalam The End of the Fucking World, dimana masa kecil karakter utama diisi dengan suasana traumatis karena kemiskinan dan menyaksikan ibunya bunuh diri. Namun kesan itu perlahan-lahan menguap, menjadi semakin optimistik, manis dan cerah seiring berjalannya episode, sampai akhirnya di akhir seri penonton seperti dibuat ikut berkembang dan terkesan dengan pencapaian-pencapaian karakter utama.

Mini seri ini berjalan cukup lambat terutama pada paruh awal sampai sepertiga akhir, membuat pertengahan episode terasa datar hampir tanpa klimaks atau konflik yang tajam. Dari tujuh episode, baru pada dua episode akhir saya menemukan plot yang dibuat lebih menanjak. Beruntung penonton dibuat bertahan dengan dialog dan performa ansambel cast yang seluruhnya tampil tanpa cela. Selain percakapan Jolene dan Beth dalam kendaraan yang terkesan dipaksakan karena sumpek dengan muatan pesan moral, dialog dalam seri ini sangat jujur, cerdas dan digarap dengan elegan. Di beberapa adegan ketika dialog tidak diperlukan, para karakter diberi ruang yang cukup luas untuk mengeksplorasi emosi secara lebih dalam.

Harry Melling yang terakhir saya tonton aktingnya di The Devil All the Time kembali memukau dalam seri ini. Dengan penampilan yang konsisten dan potensi yang terus berkembang dari sejak perannya menjadi bocah gendut perundung dalam Harry Potter, hanya menunggu waktu sampa ia mendapat peran utama yang lebih banyak. Nyaris tidak ada karakter antagonis yang bersikap lebay dan patut dibenci secara berlebihan, bahkan ada kesan para tokoh bersikap begitu natural bahkan sportif, sampai saya mengira ini adalah sebuah kisah nyata atau sebuah biopic. Tahun, lokasi, event pertandingan yang dibuat sangat nyata, ditambah dukungan teknis visual dengan sinematografi pewarnaan yang klasik dan teduh hasil CGI mewah, menjadikan seri dengan seting era 60an ini sangat meyakinkan.

Premis seri ini secara persusif dan alami tanpa ada usaha yang dipaksakan seperti berniat menampilkan semangat feminis sebagai nilai jual utama, selain tentu saja pencapaian mengagumkan si karakter utama dalam mengelola kehilangan dan traumatik masa lalu. Dalam satu adegan, sutradara juga tidak latah memasukan kritik pada agama yang memang tidak relevan dan punya set-up yang kokoh sejak awal, melainkan menyentil hipokrisi yang sering diambil orang-orang yang punya kesempatan untuk menjual integritas dan menjadi bermuka dua. 

Menjadikan catur sebagai sarana pencarian jati diri Beth, sebagai karakter utama yang penuh luka perjalanan hidup, juga merupakan konsep yang sangat brilian dan solid. Karena catur adalah satu-satunya olahraga yang egaliter, yang tidak memandang suku, budaya, jenis kelamin, bahkan umur. Papan catur adalah dunia, dimana setiap orang diperlakukan sama untuk bisa membuktikan diri, bisa kalah dan terpuruk namun bisa juga belajar dan mampu bangkit.



Rabu, 21 Oktober 2020

The Devil All the Time; Ironi Pada Agama dan Religiusitas

Kritik tajam terhadap agama dan religiusitas mistis dalam film drama thriller begitu unik. Menjadi variasi dan warna lain yang membedakan film ini dari film-film dengan kritik pada religiusitas ekstrimis ala terroris yang semakin klise.

Mengambil sisi penceritaan omniscient yang yang tahu segala hal, yang saya duga juga diambil dari penuturan asli novel, membuat ia semakin dekat dengan kritik pada kepercayaan manusia kepada Tuhan yang juga tahu segala hal. Tentu ia tidak mengajak untuk menolak agama, namun menyajikan ironi pada pemahaman para karakter terhadap kitab suci dan religiusitas yang membabi buta tanpa pikiran jernih.

Dibalut nuansa gelap dan depresif khas film triller, film ini menampilkan agama dari sisi tergelap sampai hal yang paling tulus, jernih dan baik. Pada kepercayaan yang total, ketulusan yang murni, sampai memunculkan agnotisme dalam perlawanan.

Akting seluruh pemerannya hampir tanpa cela. Bahkan keberhasilan akting Pattinson membuat istri saya jijik. Logat, gaya dan suara sengau dengan dialek Selatan Amerika yang mengingatkan saya pada Trump, membuat ia mudah dibenci —sejak Trump jadi presiden, para aktor seperti punya acuan pasti untuk menjadi orang yang menyebalkan. Saya berharap Pattinson nanti bisa memerankan Batman dengan lebih bagus, walaupun mungkin dibenak istri saya, sebagus apapun Batman versi Pattinson nanti, ia dalam film ini sudah melekat bahkan mengalahkan perannya menjadi Vampir pucat.





Jumat, 16 Oktober 2020

Blame Bernice, Uncle Fucka!



Adalah Bernice yang merekomendasikan saya untuk menonton South Park. Ia tidak menyarankan apapun dalam chatting, selain kata-kata andalan, “Southpark wae”. Sialnya, yang saya tonton adalah versi filmnya, South Park: Bigger, Longer & Uncut (1999), yang lebih kasar, vulgar dan sadis, yang belakangan saya ketahui bahwa pada tahun rilisnya, film itu dilarang tayang di 16 negara, termasuk Saudi Arabia, Vatikan dan tentu negara-paska-reformasi kita tercinta.

Melihat tahun produksinya saja saya sudah gentar. 1999, tahun dimana saya masih unyu-unyu, sisiran belah tengah, dan masih bercita-cita menjadi Brama Kumbara atau Arya Kamandanu. Menonton film kartun musikal berdurasi 81 menit ini membuat saya bernostalgia ke era dimana masih ada TPI, Programa Dua, dan Barry Prima masih gondrong dan suka telanjang dada. Tanpa persiapan atau ekpektasi apapun, dengan polos saya menonton film yang menurut catatan IMDb terdapat 399 umpatan kasar. Itu artinya, dalam 1 menit ada 5 kali makian kotor yang kita dengar. Menurut saya, kebrutalan humornya setara dengan Borat atau Jendral Aladeen dalam The Dictator.

Mengambil sumber dari serial televisi South Park —yang juga tidak pernah saya tonton, film ini seperti punya landasan solid untuk membangun premis melalui karakter-karakter yang sudah lekat dengan penggemar. Walau tanpa itu, penonton pemula yang baik hati dan hapal Pancasila seperti saya, yang tidak pernah diperingatkan akan efek psikisnya, juga masih bisa menikmati.

Film ini berkisah tentang empat anak (Stan Marsh, Kyle Broflovski, Eric Cartman, dan Kenny McCormick) yang menyusup ke dalam penayangan film khusus dewasa. Terrance dan Phillip dua aktor Kanada dalam film tersebut terus menerus mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat empat sekawan itu meniru. Pada akhirnya, ibu mereka meminta kepada pemerintah Amerika untuk menyatakan perang melawan Kanada karena dianggap telah merusak moral anak-anak mereka. Perang hanya karena film itu ibarat ibu-ibu jambak-jambakan di Indomaret hanya gara-gara rebutan Tuperware diskonan. Tidak berguna, tapi videonya bisa viral bahkan sampai ditonton alien di planet Namex.

Saya kira South Park bukan hanya animasi yang mengajarkan anak-anak untuk memaki, lebih dari itu film ini seperti sebuah protes artistik kepada para orang tua kolot dengan pemikiran usang. Film ini berhasil menunjukan kritik dengan satir, gelap dan hiperbolis terhadap kebebasan berpendapat dan sensor, juga sindiran tentang isu-isu sosial dan politik.

Tidak semua lucu. Karena kebanyakan joke sangat erat dengan kondisi dan peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun tersebut, maka ada beberapa komedi yang sudah terlalu lawas. Ia tidak lucu bukan karena materinya tidak bagus, tapi tidak menemukan relevansi dan momentum. Tentu ada pengecualian, seperti perseteruan pembuat film ini dengan lembaga sensor Amerika MPAA, walaupun sudah lama berlalu tapi masih lucu. Sinisme dalam dialog Sheila Broflovski, Ibu dari Kyle, masih bermakna sampai sekarang, “Remember what the MPAA says; Horrific, Deplorable violence is okay, as long as people don't say any naughty words! That's what this war is all about!”

Di Indonesia, selama perjuangan mengemukakan pendapat masih dibungkam atau diatur dan dipilah-pilih berdasarkan siapa yang berkuasa, selama yang memakai lelucon Gusdur tentang polisi dipolisikan, maka film ini akan terus relevan.

Walaupun butuh kedewasaan untuk mencerna komedi dunia-akhirat di film ini. Saddam Hussein yang saat itu masih hidup diceritakan sudah meninggal dan ada di neraka bersama setan. Penggambaran Saddam dengan humor gelap sebagai setan yang homoseksual bisa jadi tidak memancing tawa dan sangat menyakitkan terutama bagi orang-orang yang tidak bisa membedakan Arab, Islam, dan kesalehan.

Kita tahu akan selalu ada korban dalam komedi, selalu ada ketersinggungan, simplifikasi, hiperbola dan stereotype. Tidak ada komedi yang bersih. Pilihan dan keputusan ada di tangan penonton, ingin menganggap film ini sampah atau bernilai seni. Apakah meneruskan menonton atau membuangnya ke tempat sampah. Di masa yang akan datang, akan lebih sulit menyensor segala macam tontonan. Keberhasilan sensor dan segala hiruk-pikuknya akan kembali kepada diri sendiri.

Akhirnya, walaupun banyak premis minor tentang berbagai isu yang diangkat, premis utama film ini sangat jelas, yaitu satire tentang menyalahkan orang lain terhadap apa yang terjadi pada kita. “Blame Canada” menjadi lagu yang bukan hanya menyindir orang yang tidak mau introspeksi dan segera menyalahkan pihak lain ketika sesuatu yang jelek terjadi pada mereka, namun juga sindiran terhadap arogansi Amerika.

Menarik karena walaupun dengan gaya yang kasar, film ini diisi deretan lagu-lagu sarat parodi lucu  yang easy listening. Sayangnya, bukan "Blame Canada" yang mendapat nominasi Academy Award yang mengganggu telinga saya sampai sekarang; adalah alegori “Uncle Fucka”. Saya tidak akan menyalahkan Kanada atau para pembuat film ini atas lagu umpatan yang tidak bisa saya nyanyikan kepada atasan saya di kantor karena alasan kesopanan tapi terus mengiang-ngiang dalam telinga, bukan karena saya tidak mau tapi terlalu jauh untuk menyalahkan mereka, yang dekat dan terjangkau adalah orang yang merekomendasikan film ini.

Yes, it will be easier to blame Bernice! Blame Bernice, Uncle Fucka!

Jumat, 29 Mei 2020

Norwegian Wood; Sebuah Review

Ketika sedang berjalan-jalan berdua di tepi hutan pinus di musim gugur, Naoko pernah meminta kepada Watanabe, “Aku ingin kau mengingatku. Maukah kau terus mengingatku bahwa aku ada dan pernah berada di sampingmu seperti ini?”

Dengan kepercayaan diri dan kesombongan khas anak muda yang sedang dimabuk cinta, Watanabe menjawab lantang, “Tentu saja! Aku akan terus mengingatnya,”

“Kau betul-betul tak akan melupakan aku selama-lamanya?” Naoko bertanya pelan seolah berbisik.

“Sampai kapanpun aku tak akan melupakanmu,” Watanabe masih dengan keyakinan, bahkan ia mengukuhkan janji, “Tak mungkin aku dapat melupakanmu.”

Duapuluh tahun kemudian, Watanabe menyadari keluguan dirinya ketika menjanjikan hal bodoh itu. Umurnya 37 tahun ketika menyadari itu, ia sedang duduk di dalam Boeing 747 yang mendarat di Hamburg. Orkestra yang memainkan Norwegian Wood mengalun elegan dari pengeras suara mengiringi penumpang yang mulai turun satu persatu. Watanabe masih terduduk di kursinya, membungkuk menutupi wajah dengan kedua tangan. Kepalanya bergolak seperti mau meledak. Pikirannya terbawa bersama alunan suara dari masa lalu, masa ketika Naoko masih hidup, ketika mereka berdua senang mendengar petikan gitar yang mengalunkan Norwegian Wood.

Dua puluh tahun yang lalu, tidak beberapa lama setelah Naoko meminta Watanabe berjanji, Naoko bunuh diri. Ia menggantung diri pada batang pohon di sebuah pagi yang masih sunyi. Mudah saja mengingat seseorang atau sesuatu ketika itu baru saja terjadi. Namun seiring berjalannya waktu, kenangan itu perlahan memudar, dan Watanabe terlalu banyak melupakan semuanya. Kenangan Naoko di benaknya bertahun-tahun yang lalu, perlahan tapi pasti melindap. Seiring mengaburnya ingatan itu, Watanabe menjadi lebih mengerti mengapa Naoko meminta untuk tidak pernah melupakannya. Mungkin Naoko tidak benar-benar mencintai Watanabe dan hanya ingin membuatnya nelangsa. Karena tidak ada yang lebih menyakitkan dari janji yang tidak bisa kamu lakukan kepada orang yang telah tiada. Manusia adalah mahluk lemah, menjanjikan untuk selalu mengingat sebuah kenangan selama-lamanya adalah sesuatu yang tidak realistis. Kecuali kamu ingin melanggar janji sendiri, atau ingin membuat dirimu nelangsa, sebaiknya jangan kamu ucapkan.

Itulah pesan yang saya dapat setelah membaca ulang Norwegian Wood. Adalah keahlian Murakami untuk menyajikan banyak makna, dan memang begitu karya sastra seharusnya. Apa yang orang dapat dari sebuah karya terkadang berbeda satu sama lain. Bahkan satu orang yang sama, berbeda apa yang didapat ketika ia membaca ulang sebuah karya. Begitulah yang terjadi kepada saya ketika membaca ulang Norewegian Wood.





Sabtu, 25 April 2020

SELENA & NEBULA; Klan Bulan, Akademi Bayangan Tingkat Tinggi, dan Orangtua Raib


Aku sangat suka buku atau film fantasi karena di sana aku menikmati kejadian yang tidak ada di dunia nyata. Selena dan Nebula adalah novel fantasi yang menceritakan hal yang tidak ada di dunia nyata seperti teleportasi, pukulan berdentum, teknik menghilang, tameng transparan, dan lain lain. Cerita fantasi membuatku menghayal. Andai aku bisa teleportasi aku dapat kemana saja dengan cepat. Kalau adiku bilang, "Kalo aku punya teknik teleportasi aku akan ke hutan bersih, hutan berbunga bunga, dan ingin tingal di sana menghirup bunga-bunga. Di sana tidak ada sampah plastik". Pukulan berdentum bisa membasmi penjahat kalau aku jadi polwan. Teknik menghillang berguna untuk bersembunyi, dan tameng transparan bisa melindungi kita dari segala macam hal, itu juga kalau tidak meletus😄.

Aku sangat menunggu Selena dan Nebula terbit. Saat sudah terbit aku langsung membelinya. Kedua novel itu selesai aku baca dalam sepuluh hari. Cerita dalam kedua novel itu terjadi bertahun tahun sebelum Raib lahir. Buku ini menceritakan masa lalu Miss Selena. Ada tiga sahabat yaitu Selena, Mata, dan Tazk. Mereka lahir di Klan Bulan, walaupun di distrik berbeda, Selena di Distrik Sabit Enam, Mata di Distrik Sungai Sungai Jauh, dan Tazk di Kota Tishri. Mereka terjebak dalam rencana jahat seseorang untuk pergi ke Klan Nebula, dan di sana semua berakhir sangat buruk. Ada karakter utama lain dalam novel itu, seperti Raf, Leh, Am, Im, Um, Em, Om, Aq, Bow, Maeh, Boh, Ev, Ox, Gill, Tamus, Lumpu, Kosong, Repot, Lambat, dan lain lain. Karakter yang paling aku suka adalah Mata, karena dia bisa bahasa semua dunia paralel, sahabat setia, dan ada sesuatu yang istimewa darinya.

Buku ini berbeda dari serial Bumi lainnya karena yang bercerita bukan Raib melainkan Miss Selena (kecuali ketika kembali ke masa sekarang, itu Raib yang bercerita). Ini juga menceritakan siapa sebenarnya orang tua Raib, ini bagian yang sudah kutunggu-tunggu, dan terjawab tuntas di buku ini. Selain itu, aku juga kagum akan teknolgi-teknologi maju Klan Bulan (walau tidak secangih Klan Bintang dan Komet Minor) contohnya mencuci baju, mencuci piring, pakaian, TV, Kasur, kamar mandi, dan sofa.

Aku juga sudah baca buku Tere Liye lainnya, yaitu Serial Anak Mamak, tapi itu bukan fantasi walaupun fiksi, jadi aku lebih suka serial Bumi. Jika membandingkan Selena dan Nebula, aku lebih suka Nebula, karena di sana semua rahasia terpecahkan dan juga menceritakan awal petualangan dunia paralel sekaligus akhir petualangan mereka. Di buku Nebula juga ada episode bonus judulnya Menonton Bersama.

Kalau buku Selena menceritakan perkenalan serta bagaimana Miss Selena bisa masuk Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT). Itu nama akademi terbesar di Klan Bulan. Di buku ini kalian juga sudah bisa menebak siapa orang tua Raib.

Aku beri nilai Selena dan Nebula 9 dari 10. Aku jadi tidak sabar menunggu terbitan selanjutnya yaitu LUMPU.


Penulis: Nada Narendradhitta (9 tahun)
#LombaResensiTereLiye2020
@bukugpu @fiksigpu

Kalau kamu ingin baca resensi serial Bumi dari bapakku, klik link ini.

Selasa, 31 Maret 2020

Kitab Kreatif untuk Latihan Menulis dan Berpikir Kreatif


Ini bukan hanya sekedar buku panduan menulis, tapi panduan untuk membiarkan roh-roh kreativitas menuntun dalam menghasilkan karya yang unik, disamping memandu untuk menerima dengan tangan terbuka apa yang tak kasat mata juga sambil memberikan porsi yang untuh pada akal untuk berlogika.

Dengan cara dan susunan yang menarik, saya dilibatkan untuk mengalami sendiri sampai pada akhirnya tergerak untuk mengimani semua yang diungkapkan Ayu dalam buku ini.

“Banyak orang yang berharap akan belajar formula yang langsung bisa diterapkan untuk mencipta karya kreatif. Sayangnya, formula hanya akan menghasilkan reproduksi atau peniruan. Sikap ini mirip dengan sikap beragama yang formalis. Yaitu, yang mencari bentuk-bentuk paten untuk ditiru.

Sumber-sumber kreativitas bukanlah berasal dari sikap kritis analitis. Sumber-sumber kreativitas sering kali datang dari wilayah yang tak terukur: imajinasi, fantasi, bawah sadar, dorongan, hasrat, bahkan sedikit kegialaan; hal-hal yang kerap dianggap bodoh oleh kaum rasionalis. Sama seperti spiritualitas, kreativitas bersumber pada hal-hal yang non-rasional.

Keasikan pada yang irasional bisa menghasilkan kekacauan maupun iman buta yang menjengkelkan bahkan berbahaya. Karena itu kita memerlukan daya kritis untuk mengimbanginya. Maka, struktur buku panduan ini mengutamakan keseimbangan antara keliaran dan ketertiban.

Keliaran tidak bisa dipelajari. Tapi kita bisa belajar memberi kesempatan pada potensi keliaran yang ada dalam diri kita.”


Jadi dua buku panduan menulis dan berpikir kreatif ini ditujukan baik untuk yang punya tipe spontan atau juga yang terstruktur. Kedua tipe bisa menikmati buku ini secara seimbang.

Buku pertama memberikan tips dan cara yang bisa dilatih untuk membuat tulisan pendek. Berisi jurus-jurus yang mudah dipraktekan. Sementara pada buku kedua memberi panduan untuk karya yang lebih panjang seperti buku, novel, atau film. Jika buku pertama bersifat umum dan teknis, buku kedua bersifat pendalaman terhadap makna kehidupan dan jiwa. Dua hal yang menjadi penggerak karya dan kreativitas manusia.