Halaman

Minggu, 17 Mei 2026

Membaca dan Menulis untuk Penguatan Karakter dan Spiritualitas (3)

Ini adalah materi yang saya sampaikan kepada murid kelas 7 dan 8 MTs Annida Al Islamy Bekasi, pada 16 Mei 2026 dalam rangka Hari Buku Nasional.

Karena terlalu panjang, saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Untuk membaca bagian sebelumnya silahkan klik link ini.

Bagian Ketiga

Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya: menulis.

Jika sebelumnya kita bicara tentang membaca sebagai cara mengisi kepala, maka menulis adalah cara mengeluarkan isi kepala itu supaya lebih rapi. Dan saya akan mulai dari satu hal penting: Menulis itu bukan bakat. Menulis adalah keterampilan.

Artinya, kemampuan menulis sama seperti keterampilan lain di dunia ini; sama seperti sepak bola, basket, futsal, badminton, bahkan bermain gitar. Semua hal itu membutuhkan proses latihan untuk menguasai keterampilannya, dan terus diasah agar menjadi semakin baik. Jadi, jika ada yang bilang, “Kalau mau jadi penulis yang bagus, ya udah, nulis aja terus,” menurut saya, pendapat itu setengah benar.

Latihan memang penting, tapi latihan tanpa tahu teknik akan membuat kita berkutat di tempat yang sama. Sekarang coba kalian bayangkan, ada orang yang main sepak bola setiap hari, tapi tidak pernah diajari passing, positioning, atau cara menendang yang benar. Mungkin dia akan lebih kuat larinya, tapi permainannya belum tentu berkembang. Menulis juga begitu. Semakin sering menulis memang semakin baik, tapi kalau ditambah teknik, perkembangannya bisa jauh lebih cepat. 

Dan kalau boleh jujur, saya termasuk yang setuju dan berharap pelajaran menulis itu diajarkan lebih serius di sekolah. Karena kemampuan menulis sebenarnya bukan hanya tentang membuat cerpen atau puisi. Menulis adalah latihan berpikir. Saat menulis, otak kita dipaksa bekerja secara menyeluruh: mengingat informasi, memilih kata, menyusun argumen, menganalisa, dan menarik kesimpulan. Semua proses berpikir digunakan sekaligus. Jadi, menulis itu sangat baik untuk melatih otak, karena saat menulis kita sebenarnya sedang “mengangkat beban” menggunakan pikiran. Otak bekerja seperti otot, semakin sering dilatih, semakin kuat dan terampil. Seperti otot kaki yang menjadi lebih kuat karena rutin digunakan untuk berjalan atau berlari, pikiran juga akan semakin tajam, kreatif, dan terlatih ketika kita membiasakan diri menulis.

Ini sekaligus menjawab pertanyaan Fahri di awal: “Apa manfaat menulis? Dan prospeknya ke depan bagaimana?”

Menurut saya, jadi apapun kalian nanti, kemampuan menulis akan tetap berguna. Dokter yang menulis akan menjadi dokter yang lebih baik. Guru yang menulis akan menjadi guru yang lebih baik dari guru yang tidak menulis, karena ia lebih mampu menyampaikan pelajaran dengan jelas dan efektif. Bahkan content creator, YouTuber, podcaster—semuanya tetap butuh menulis. Karena sebelum video dibuat, biasanya ada ide yang ditulis dulu. Sebelum film dibuat, ada skenario.

Hari ini kita akan belajar dua teknik dasar menulis yang sederhana.
  1. Teknik membuat premis.
  2. Teknik membuat majas atau gaya bahasa.

PREMIS

Premis yang dimaksud di sini bukan premis dalam pelajaran logika atau kalau di Annida dikenal dengan pelajaran Mantiq. Bukan premis mayor (Mukodimah Kubro), premis minor (Mukodimah Sugro), lalu kesimpulan (Natijah/Conclusion). Bukan itu, tapi yang dimaksud di sini adalah premis cerita.

Secara sederhana, premis bisa disebut fondasi cerita. Semua cerita punya premis, baik cerpen, novel, film, komik atau anime. Bahkan sinetron azab Indosiar yang pemerannya mati disambar petir CGI juga punya premis.

Premis biasanya terdiri dari tiga hal:
Karakter + Tujuan + Rintangan
  • Karakter = siapa tokohnya.
  • Tujuan = apa yang dia inginkan.
  • Rintangan = apa yang menghalangi dia.
Contoh:

Seorang anak perempuan kelas 3 SMP ingin pergi ke sekolah untuk menghadiri acara kelulusan, tapi bajunya terciprat lumpur di jalan dan ia harus mencari cara supaya tidak terlambat.


Dan menariknya, hampir semua cerita besar di dunia dibangun dengan pola sederhana seperti itu. Berikut adalah contoh premis dari beberapa cerita yang mungkin sudah kalian kenal:

Novel Bumi - Tere Liye

Raib, anak perempuan yang punya kemampuan menghilang, ingin mengetahui jati dirinya. Tapi ia dimanfaatkan oleh Tamus, makhluk dari dunia lain yang punya rencana jahat.

One Piece - Eiichiro Oda

Monkey D. Luffy, seorang anak muda yang bercita-cita menjadi Raja Bajak Laut, ingin menemukan harta karun legendaris bernama One Piece. Tapi ia harus menghadapi lautan berbahaya, bajak laut kuat, dan Pemerintah Dunia yang menghalangi perjalanannya.

Film Agak Laen

Empat sahabat ingin mencari uang lewat bisnis rumah hantu, tapi tanpa sengaja malah menyebabkan kematian seorang politisi.

Nah, sekarang pertanyaannya: kenapa premis penting?

Karena premis membantu kita memahami inti cerita. Premis itu seperti pondasi rumah. Kalau pondasinya jelas dan kokoh, bangunannya lebih mudah dibuat. Selain itu, premis membantu kita menjelaskan ide ke orang lain dengan cepat. Kadang orang punya ide cerita bagus di kepala, tapi kesulitan menjelaskannya. Begitu diringkas menjadi premis, ceritanya langsung terasa lebih jelas.

Setelah punya premis, kemudian bagaimana? 

Bisa dilanjutkan dengan membuat plot atau alur.

Kalau premis tadi kita ibaratkan sebagai fondasi rumah, maka plot adalah blueprint atau gambar bangunannya. Dengan plot, kita menjadi tahu: cerita ini dimulai dari mana, bagaimana konflik berkembang, di mana puncaknya, dan akan dibawa ke mana pada akhirnya. Bangunan yang punya blueprint akan lebih mudah dibangun. Walaupun nanti di tengah jalan ada perubahan, itu tidak masalah.

Kadang saat menulis kita menemukan ide baru. Kadang ada adegan yang ternyata tidak efektif. Kadang ada tokoh yang ternyata lebih menarik daripada yang direncanakan. Itu wajar. Sama seperti tukang bangunan yang kadang mengubah letak jendela atau memperlebar dapur ketika proses pembangunan berlangsung. Selama blueprint utamanya masih jelas, bangunannya tetap bisa berdiri dengan baik.

Plot paling sederhana biasanya terdiri dari beberapa bagian: pembukaan, muncul masalah, konflik makin besar, puncak konflik, lalu penyelesaian.

Tentu dalam dunia menulis ada banyak teknik lain yang sebenarnya menarik sekali untuk dipelajari. Misalnya Show, Don’t Tell, yaitu teknik memperlihatkan emosi atau keadaan tanpa menjelaskannya secara langsung.

Daripada menulis: Dia sangat bahagia.

Kita bisa menulis: Senyumnya tak berhenti, bahkan saat tidak ada siapa pun di sekitarnya.

Pembaca jadi ikut merasakan kebahagiannya tanpa perlu diberi tahu secara langsung. Bahkan tanpa menggunakan kata "bahagia" dalam kalimat itu.

Ada juga teknik membangun dialog yang natural, membuat karakter yang hidup, foreshadowing atau memberi petunjuk tersembunyi, pacing atau mengatur tempo cerita, sudut pandang, simbolisme, membangun konflik, hingga cara menulis akhir cerita yang memuaskan.

Sayangnya semua itu tidak mungkin dibahas tuntas dalam workshop singkat hari ini. Karena belajar menulis itu mirip belajar memainkan alat musik. Workshop bisa menunjukkan nadanya, tapi keahlian sesungguhnya lahir dari keterampilan yang terus diasah, dan latihan yang terus diulang.

Jadi, setelah pulang dari sini, jangan tunggu menjadi hebat terlebih dahulu untuk mulai menulis. Menulislah tanpa ragu. Karena tulisan pertama memang buruk. Tulisan kedua masih terasa aneh. Tulisan ketiga mulai membaik. Dan tanpa sadar, beberapa tahun kemudian, kalian akan membaca tulisan lama kalian sambil bilang, "Wah, ternyata kemampuan menulisku sekarang sudah jauh berkembang.”

Untuk membaca kelanjutannya, silahkan klik link ini.