Halaman

Senin, 23 Februari 2026

Sakit Sedih Nomor Sebelas

Suatu malam saya bertanya pada Aira (8 tahun), “Apa yang membuat kamu paling sedih?”

Aira terdiam sebentar, lalu menjawab dengan yakin, “Waktu Bude meninggal.”

Mendengar itu, ingatan saya langsung kembali ke hari itu—19 Oktober 2025. Malam itu kami mendapat kabar bahwa kakak ipar saya meninggal secara mendadak. Sementara itu, Aira sudah tertidur pulas dengan senyum di wajahnya karena keesokan paginya, 20 Oktober, ia akan mengikuti study tour bersama teman‑teman sekolahnya.

Kami belum memesan tiket kereta untuk pergi ke Blitar, tempat kakak ipar dan mertua saya tinggal. Dan saya tidak tega merusak kebahagiaan Aira secara tiba‑tiba, apalagi kami masih mempertimbangkan apakah ia perlu ikut atau tidak. Pada akhirnya saya dan istri memutuskan untuk mengajaknya, karena Aira belum pernah dititip ke neneknya dalam waktu lama dan kami tidak tahu akan berada di Blitar berapa hari. Akhirnya kami membeli tiga tiket kereta untuk keberangkatan malam itu: untuk saya, istri, dan Aira.

Pagi harinya saya mengantar Aira ke sekolah. Ia tetap ceria seperti biasa ketika ada kegiatan study tour. Saya belum memberi tahu apa pun tentang kabar duka itu, dan Aira pun tidak menanyakan mengapa mata ibunya sembab dan wajahnya murung sejak pagi.

Ketika saya menjemputnya siang hari, ia masih penuh semangat menceritakan kegiatan pagi itu. Dalam perjalanan pulang, di atas motor, setelah ia selesai bercerita, saya mulai membuka percakapan.

“Aira nanti malem kita berangkat nengokin Oma ya?”

“Oma?” Aira tampak bingung. “Nenek kali!”

“Bukan. Oma,” saya mengulang.

Aira yang duduk di depan menengok ke arah saya. “Ke Blitar? Bapak jangan bercanda!”

“Serius,” jawab saya.

“Beneran?”

“Iya.”

“Nanti malem berangkat?”

“Iya.”

“Yeay!” Aira girang.

Selama perjalanan di kereta, Aira masih ceria. Bahkan ketika kami tiba di rumah duka, ia masih belum tahu bahwa Budenya telah meninggal. Yang ia tahu, Bude sedang dirawat di rumah sakit. Jadi ketika masuk, ia hanya bertanya ringan, “Bude di mana?”

Baru ketika saya mengajaknya ke makam Budenya, semuanya terungkap. Di sanalah Aira menangis—tangis paling pilu yang pernah saya dengar darinya. Ia sampai harus saya gendong ketika berjalan kembali dari makam karena kakinya lemas.

Saya melanjutkan percakapan yang kami mulai sebelumnya.

“Kalau dibuat level satu sampai sepuluh, kesedihan waktu Bude meninggal itu nomor berapa?”

Aira berpikir sebentar lalu menjawab, “Nomor delapan.”

Kemudian ia menambahkan dengan suara lirih namun yakin, “Kalau sedih nomor sepuluh itu… kalau Bapak atau Ibu yang meninggal.”

“Oh…” saya menjawab pelan. Lalu saya bertanya lagi, “Kalau Moli nomor berapa?”

Moli adalah kucing betina tua yang sudah ada sejak sebelum Aira lahir, dan sangat ia sayangi.

“Nomor sebelas,” kata Aira mantap.