Halaman

Sabtu, 22 Juli 2023

Belajar dan Menulis Adalah Jalan Guru Kita

Kutipan mukadimah Kiyai Fachruddin pada Majlis Mudzakaroh Santri Annida:

Kita tidak pernah berniat untuk berhenti menjadi Santri. Jadi terserah orang mau memanggil kita apa di luar sana, tapi di Ma’had kita tetap memposisikan diri kita sebagai Santri, sebagai Mustafid. Sehingga kita masih masuk pada apa yang pernah disabdakan nabi, “Man salaka thariiqan yaltamisu fiihi ilman sahhalallohu thoriiqon ilal jannah. Barang siapa menempuh jalan untuk menimba ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Kiyai Mahfud pernah biang ke saya, “Udah, Din! Kita mah ngeramein kitab Kiyai aja. Lah kalo bukan kita yang baca siapa lagi?”

Jadi ayo kita baca kitab-kitab karangan Syaikhuna. Baca aja. Sebagaimana Kiyai sering membaca ayat, “Fa izaa qaraanaahu fattabi' qur aanah tsumma Alaina bayanah. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.”

Baca aja kitab-kitab Syaikhuna. Sementara tentang pemahaman nanti biar Allah yang buka, yang penting hati kita futuh, terbuka, ikhlas. “Robbisrohli sodri wayassirli amri wahlul ‘uqdatammillisaani yafkahul kauli. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”


Membaca karya-karya Saikhuna selain adalah jalan untuk memahami pikiran-pikiran beliau, juga adalah cara untuk kita berdialog dengan beliau secara ruh bi ruh.

Dulu, waktu baru-baru mendirikan pondok, Kiyai dituduh anti maulid. Beliau jawab, “Kalo lu udah baca kitab ini (maksudnya kitab Muhammad Rasulullah), baru lu tau maulidan siapa gua sama mereka?”

Jadi kalau dikritik, dituduh, dicibir, difitnah, beliau dengan kealimannya menjawab dengan karya. Thoriqoh Saikhuna yang berat selain ngaji itu adalah ngarang kitab. Nulis.

Mudah-mudahan ada generasi sepeninggal Saikhuna yang cinta menulis. Sebab saya pernah denger Saikhuna bilang, “Gua kalo ngarang kitab sekarang (maksudnya Misbahu Dzulam), mungkin bisa lebih tebel dari itu.”

Mungkin karena dulu ada keterbatasan dalam referensi, karena zaman itu maroji atau masodir kurang. Berbeda dengan zaman sekarang dimana kita bisa mendapatkan referensi dengan mudah. Artinya beliau masih punya semangat untuk membuat karya yang lebih besar lagi. Karena di zaman sekarang ini, semuanya sudah tersedia dengan mudah.

Saya memahami kata-kata itu sebagai cemeti dari Saikhuna, kalau beliau yang pada zaman akses untuk mencari maroji sulit saja bisa mengarang kitab, seharusnya di zaman akses semakin mudah ini kita sebagai muridnya bisa lebih baik.


Catatan: kutipan ini saya paraphrase dan ringkas. Untuk mendengar lengkap, silahkan merujuk ke MUDZAKAROH - "KITAB MUHAMMAD" KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD MUHAJIRIN AMSAR - YouTube