Halaman

Selasa, 30 Desember 2025

ketika lampu-lampu mulai dipadamkan

rumah adalah ruang
tamu yang lengang ketika
lampu-lampu
mulai dipadamkan

tempat paling nyaman selalu masa lalu
jalan yang sering kamu lalui dulu
kini menjadi lorong gelap tanpa lantai
nostalgia tempat seseorang pernah tinggal
yang kamu pijak agar jatuh lebih dalam

kesedihan menenggelamkan paru-paru
dan segala hal di sekitarmu menjadi tidak berarti
saat kematian tidak memilih tanah
dan kefanaan tidak peduli perasaan

dunia adalah bajingan
dan ingatan itu jarak yang aneh:
dekat hingga menyakitkan,
jauh hingga mustahil disentuh
dalam kenangan seribu
tahun dan kemarin itu satu
waktu menggeram di langitlangit kamar

seperti kita tujuh puluh tahun yang lewat
atau sembilan puluh tahun mendatang
apakah hal yang tak kita ingat berarti tak ada?

suatu malam di tengah hutan aku memandangi bintang
memikirkan cahaya dari hal yang sudah padam
rembulan membuat bayangan berjalan lebih dulu dariku
desir angin mengulang namamu
dengan suara yang pelan

jalan yang pernah kita lalui
menghilang seperti jalan setapak
ditelan ilalang
aku mencarinya,
tapi hanya menemukan diriku
yang lebih muda dan bodoh

ruang waktu adalah rak buku di perpustakaan
yang kita tidak pernah cukup tinggi untuk meraihnya
di sana, wajahmu, wajahku,
wajah mereka yang pergi,
tersimpan dalam buku-buku
yang terkadang kita baca ulang

setiap kehilangan melesap satu kata
dari kosakata hidup kita,
membuat kalimat mana pun
terasa rengkah

bulan desember penuh hujan
dan sayangku,
akan selalu ada hujan di perjalanan
terkadang kita berlari menghindari gerimis
terkadang badai membuat kita
berteduh pada naungan peron kereta
dan kita terus menari bersama di tengahnya

malam ini udara di ruangan tetap hangat
bukan karena perapian,
tapi karena jiwa kita yang penuh,
karena nyala harapan yang ringkih
masih berbinar redup,
karena rasa takut masih membuat
jari-jariku gemetar

aku bersyukur,
dalam segala riuhsedan ini,
kita berada di
halaman yang sama



30 Des 2025

Selamat Hari Lahir,
yang fana adalah dunia, kamu semesta

Rabu, 22 Oktober 2025

Di Garum Kamu Tinggal, Ke Sana Kami Pulang

Untuk EDP


Aku membeli buku puisi yang ditulis oleh seseorang yang sudah tiada. Barangkali, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya membaca suara yang tak lagi punya tubuh. Aku duduk di beranda sore itu, membawa secangkir teh yang sudah mulai dingin, sambil memandang lalu lalang orang. Dunia selalu tampak sibuk, tanpa peduli ada yang sedang belajar hidup tanpa seseorang.

Sesekali aku membaca puisi itu dengan suara keras, hanya untuk mendengar rima dan getar suaraku sendiri yang tiba-tiba digampar kesedihan. Ia datang bukan dengan teriakan. Ia kabut yang tiba-tiba menempel di kaca jendela; diam dan membuat pandangan mata buram.

Meskipun sangat mencintai bunga, kamu tidak akan memerlukanya lagi saat tiada. Hingga ketika aku datang menjengukmu ke makam di Garum, aku tidak membawa bunga. Aku duduk di tepian, memandangi awan-awan di langit yang cerah, dan menikmati semangkuk es kacang merah atas namamu. Mencoba menghabiskan waktu dengan tanpa penyesalan.

Jika musim hujan tiba, aku akan menikmati secangkir jahe hangat di ujung meja bersama orang-orang kesayanganmu. Aku suka membayangkan aromanya tumpah ke udara, mencari jalan pulang menuju ruhmu yang tenang. Sambil menatap tetes gerimis yang menuruni kaca, bagai kenangan yang tidak tahu bagaimana cara untuk berhenti jatuh.

Aku tahu, bunga tidak perlu tumbuh di antara kembang lain. Karena kamu sudah mekar di dalam jiwa setiap orang yang pernah mengenalmu. Di dalam mereka yang mencintaimu, kamu tumbuh tanpa tanah, tanpa musim, tanpa henti.

Terakhir kali aku mendengarmu berbicara, kamu mencari nama adikmu. Percayalah, ia akan baik-baik saja, walaupun ia perlu menangisi perpisahan yang tidak pernah tepat waktu, walaupun dunia yang berengsek ini tidak membiarkan pikirannya beristirahat barang sebentar, walaupun ia mengerti bahwa kehilangan yang sama sudah melukai banyak orang lain, walaupun tidak ada seorangpun yang akan bisa membayangkan apa yang seorang kakak pernah berikan untuk adiknya.

Kamu selalu lebih khawatir pada kesakitan adikmu daripada kepedihanmu sendiri. Kata-kata terakhirmu dalam telpon: “Aku baik-baik saja.” Ia tantrum mengulangi kata-katamu, sambil tubuhnya terguncang oleh isak yang tak sempat menjadi doa: mengapa kamu tidak jujur tentang penyakitmu? Mengapa kamu tidak sempat mengucapkan selamat tinggal? Mengapa kamu tidak membiarkannya melakukan sesuatu, sekecil apa pun itu, untukmu?

Waktu perlahan akan selalu bisa mencicil hutang penjelasan. Secara bertahap, ia akan belajar berkenalan dengan bentuk tak terlihat dari kepergianmu. Ia akan mulai kembali berkawan dengan kesedihan yang datang tiba-tiba, mengetuk pintu ketika pagi dan tidak pulang sampai malam. Menghayati segala tanya dengan awalan mengapa. Ia akan belajar bahwa yang paling menyakitkan dari luka kehilangan adalah bukan pada yang sudah ia lakukan, tapi pada yang belum. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menangis saja, tanpa ada yang bertanya mengapa.

Hidup menjadi tidak wajar setelah kehilangan lekas. Ada hari-hari ketika langit terasa terlalu rendah, dan lampu-lampu jalanan menyalakan ingatan yang meremukkan hati. Ada rumah kosong yang menyisakan perih kehampaan. Ada komentar di kolom Instagram yang tidak akan pernah terbalas. Ada suara yang masih melekat. Tidak ada lagi tangan yang bisa dijabat atau tubuh yang bisa dipeluk. Di tengah keanehan itu, ada kesadaran yang tetap: bahwa kematian tidak mengakhiri hubungan, dan cinta tidak tahu cara untuk mati.

Kami masih menyebut namamu, di antara sendok, piring, dan bising celoteh anak-anak, sambil sekali lagi menangisi kefanaan. Akan selalu ada kamar yang nyaman di hati kami untukmu. Di mana tidak ada badai atau malam atau rasa sakit yang dapat menjangkaumu lagi.

Saat ini, mungkin kamu sedang membaca puisi ini sambil tersenyum. Kelak kami akan mengerti, bahwa tidak ada yang benar-benar pergi. Akan tiba saatnya kami melihat wajahmu yang cantik lagi, di negeri tempat semua air mata akan terhapus dari hati, dan kehilangan tak lagi punya arti.


Garum, 22 Oktober 2025






Rabu, 08 Oktober 2025

Orang Pertama Tunggal

Saya baru selesai membaca kumpulan cerpen Haruki Murakami yang berjudul Orang Pertama Tunggal. Seperti biasa, karakter-karakter ciptaan Murakami terasa ganjil. Dan seperti biasa, ia meninggalkan pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial.

Di Bantal Batu bercerita tentang kesepian. Tentang beberapa Tanka yang ditulis seorang perempuan yang karakter "Aku" kenal belasan tahun lalu, saat usianya baru 19 tahun. Membaca Di Bantal Batu membuat saya teringat pada alegori tentang pencarian diri. Tentang kematian, tentang orang-orang dari masa lalu yang kini tak lagi jelas keberadaannya. Tentang kenangan yang samar, yang datang seperti bayangan dan hilang begitu saja.

Krim adalah kisah tentang kekosongan—bagaimana hidup bisa menjerumuskan kita ke dalam sebuah momen yang tampak sama sekali tidak berarti. Namun, justru dari ketidakberartian itu lahir sebuah paradoks. Kita tiba-tiba mengerti “krim dari krim”—inti dari inti, intisari kehidupan. Dan setelah inti itu ditemukan, segala hal lain dalam hidup terasa sepele.

Charlie Parker Plays Bossa Nova berbicara tentang upaya untuk bersahabat dengan kematian. Atau mungkin lebih tepatnya, menanyakan hal yang paling penting dalam hidup: bagaimana rasanya mati muda, ketika segalanya baru saja dimulai? “Coba bayangkan, bagaimana jika mati di usia 34 tahun?” Ada kebetulan yang ganjil, ada warna musik jazz yang kaya. Permainan kata Murakami terasa nyata, karena ia melukiskan sesuatu yang abstrak, sambil mengkonkritkan abstraksi musik yang sesungguhnya tidak pernah ada, apalagi bisa didengar. Imajinasi yang mustahil, namun kita diajak untuk percaya. Karena kebohongan sastra, adalah kebohongan yang layak dipercayai.

With the Beatles mungkin adalah satu-satunya cerita yang sulit saya tebak arahnya. Awalnya saya kira Murakami hendak meringkas gejolak tahun-tahun The Beatles: warna, politik, huru-hara, dan semua yang menyertainya. Namun, semakin ke tengah, arah cerita justru berbelok ke sesuatu yang tak terduga: pertemuan dengan kakak laki-laki pacarnya, yang menderita kehilangan ingatan parsial. Mati-matian saya coba mengaitkannya dengan The Beatles, dengan Murakami, dengan gadis penyuka album The Beatles yang muncul di awal cerita. Tapi saya tidak menemukan alegori, parabel, atau kaitan apa pun yang mudah ditangkap. Mungkin saya kurang teliti. Atau mungkin pengetahuan saya tentang mereka terlalu tipis. Yang tersisa hanyalah alur yang maju bertahun kemudian setelah kejadian di masa lalu yang jauh, sangat khas Murakami —kaitan yg kadang ganjil antara masa lalu yang jauh dan masa kini. Betapa satu pertemuan yang sederhana di masa lalu bisa hadir kembali bertahun-tahun kemudian, bahkan dalam detail yang terkecil. Betapa anehnya ingatan.

Kumpulan Puisi Yakult Swallows adalah kisah paling ringan dan jenaka. Murakami seolah ingin bersenang-senang, bermain-main dengan pembacanya. Mereka yang sudah beberapa kali membaca karyanya tentu tahu: kadang ia menaruh kelucuan, atau menyelipkan komedi gelap, satir, bahkan slapstik. Dengan kelakuan konyol para karakternya, ia menghadirkan hiburan yang terkadang tidak kita duga. Namun, dalam cerita ini, nuansanya dibuat sederhana, seolah tanpa teka-teki. Membacanya seperti membuka buku harian Murakami sendiri. Kita dibawa ke dalam kesehariannya yang apa adanya. Bahkan ia menamakan karakter utama dalam cerita itu dengan Haruki Murakami si penulis. Mungkin memang inilah caranya berbicara langsung dengan pembaca. Dan pada akhirnya, dengan santai ia menutup kisah ini: “Maaf. Anu, ini bir hitam semua.”

Carnaval dimulai dengan janji yang menarik tentang tampilan luar dan dalam manusia. Murakami membuka kisahnya dengan penggambaran seorang perempuan yang buruk rupa, ia sengaja menggunakan kosa kata yang kasar, seolah ingin membawa kita lebih dekat pada inti kemanusiaan.

Di tengah cerita, Murakami banyak menyinggung Carnaval, sebuah gubahan piano karya Schumann. Ia menggambarkannya dengan begitu detail dan hidup, hingga pembaca terdorong untuk ikut mendengarkan nada-nadanya seperti yang dialami oleh tokoh “Aku". Dalam gema musik itu, Carnaval berubah menjadi alegori tentang manusia, tentang bagaimana kita semua, sadar atau tidak, hidup di balik topeng yang kita ciptakan sendiri.

Dan pada akhirnya, Murakami dengan sengaja menggantung cerita itu — tidak memberi jawaban, hanya meninggalkan pertanyaan retoris: “Kebahagiaan, bukankah pada akhirnya hanyalah sesuatu yang relatif?”

Pengakuan Monyet Shinagawa adalah satu-satunya cerpen dalam kumpulan ini yang sudah pernah saya baca sebelumnya. Kisahnya sederhana, runtut, dan cenderung populer. Namun sekali lagi, kita menjumpai gaya khas Murakami yang memadukan realitas dengan sesuatu yang samar, antara yang nyata dan yang mustahil. Makna serta pesan yang ingin disampaikan pun relatif mudah dicerna oleh pembaca kebanyakan.

Meski tidak seringan Kumpulan Puisi Yakult Swallows, cerita tentang seekor monyet yang bisa berbicara terasa ringan dan menarik. Ia membuat kita penasaran, menebak-nebak alegori macam apa yang ingin diungkap Murakami kali ini. Di akhir kisah, kita disodorkan tema yang sungguh universal; tentang cinta. Tentang perasaan yang murni, yang ironisnya justru dialami oleh seekor monyet. Apakah ini dasar dari istilah Cinta Monyet? Entahlah. Tapi barangkali, Murakami hanya ingin menunjukkan bahwa cinta, betapapun ganjil bentuknya, selalu lahir dari kerinduan akan diakui, dimengerti, dan diterima.

Sementara itu, Orang Pertama Tunggal, cerpen yang menjadi judul utama kumpulan ini, hadir sebagai penutup. Sekali lagi, sebagaimana kita lihat, hampir semua karyanya bisa dibaca sebagai alegori, meski ia jarang menulis alegori secara eksplisit. Dunia Murakami adalah di mana realitas dan mimpi menumpuk, dan di sanalah alegori bersembunyi. Begitu juga terjadi dalam cerita ini. Di sini, simbolisme mencapai puncaknya: kejadian ajaib, suasana ganjil, dan kondisi supranatural berpadu menjadi ruang refleksi antara mimpi dan kesadaran. Realisme magis dan surealisme kembali hadir, bukan sekadar gaya, tetapi cara Murakami menjelaskan yang tak bisa dijelaskan.

Begitulah akhirnya saya membaca kembali cerpen-cerpen Murakami, setelah sebelumnya menelusuri Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan. Dengan bahasa yang sederhana namun puitis, ia menulis tentang kesepian, kehampaan, dan cinta yang bersembunyi di antara hal-hal kecil: pertemuan kembali dengan seseorang dari masa lalu, sepotong musik jazz atau gubahan piano, atau seekor monyet yang berbicara. Semua tampak absurd, tapi justru di situlah kehidupan menemukan maknanya.

Murakami, seperti selalu, tidak menawarkan jawaban. Ia hanya membuka ruang sunyi agar pembaca bisa mendengar gema dirinya sendiri. Barangkali itu inti dari seluruh kisah dalam Orang Pertama Tunggal; bahwa pada akhirnya, kita semua hanyalah suara yang mencoba menjelaskan kesepian dengan bahasa yang tak pernah cukup.






Selasa, 07 Oktober 2025

Kita Membenci Orang Lain Hanya Karena Mereka Bukan Keluarga

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, "Cara berpikir Abu Al-Hasan As-Sadili itu begini: kebencian kita terhadap orang lain sering kali muncul hanya karena mereka bukan bagian dari keluarga kita. Coba kalau itu keluarga kita, pasti kita akan berpikir ulang.”

"Contohnya, kamu membenci seseorang karena dia tidak salat, mesti sebabnya karena dua: pertama, karena dia tidak salat, dan kedua, karena dia bukan anak kamu. Kalau itu anak kamu, kamu pasti akan beristighfar berhari-hari untuk dimaafkan Allah. Tapi kalau orang lain, kamu langsung menghakimi. Jadi pertanyaannya: apakah kamu membenci karena dia tidak salat, atau karena plus dia bukan anak kamu?”

“Begitulah cara berpikir Abu Al-Hasan. Kebencian terhadap maksiat itu wajar, kita semua pasti membenci maksiat. Tapi sering kali kita tidak adil dalam menyikapinya. Satu orang kita laknat, sementara yang lain kita doakan. Ujung-ujungnya, ada unsur kepentingan pribadi.”

“Kalau yang melakukan maksiat itu ada hubungannya dengan kita, misalnya keluarga atau orang dekat, kita mendoakannya agar diampuni. Tapi kalau tidak ada hubungan, kita langsung menghakimi dan mencela. Ini jelas tidak adil.”

Jumat, 03 Oktober 2025

Tuhan yang Memberi Makan Saat Kamu Lapar

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah menjelaskan, "Sebetulnya dalam banyak hal, hal-hal yang keseharian itu lebih prinsip ketimbang ide kita tentang hal-hal besar."

"Saya beri contoh, Allah itu Tuhan yang maha kuasa yang menguasai alam raya ini. Kadang-kadang menjelaskan dirinya itu hanya alladzi atamahum min ju*. Saya ini Tuhan yang memberi makan kamu saat kamu lapar, saat kalian lapar. Jadi untuk beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, kepada Allah, kamu yakin yang memberi makan kamu itu Tuhan."

"Apapun kecewanya kamu terhadap tetangga, terhadap negara, terhadap mertua, terhadap istri, itu kecewa kamu gak akan mati. Tapi kalau gak makan itu mati. Sehingga Allah mensifati dirinya kadang pakai keseharian. Alladzi atamahum min ju. Tuhan itu siapa? Yang memberi makan kamu ketika lapar."

"Tapi kamu untuk syukur tuh nunggu punya istri cantik, neriman, gampang diatur, membolehkan poligami. Terus empat istri itu nerima semua, loyal semua. Itu sombong betul. Mau syukur saja kok repotnya seperti itu."


---
*
الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ 

"Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut." — QS. Quraisy (106): 4

Sabtu, 19 Juli 2025

Rice Cooker Rusak dan Hal-hal yang Tidak Pernah Selesai

Pagi itu, aku terbangun setelah dua kali menekan tombol snooze alarm di ponsel.

Kamu dan anak-anak masih tidur, lelap dalam selimut yang sudah tidak seperti semalam. Aku melangkah pelan ke luar kamar, meneguk segelas air sambil duduk mengumpulkan nyawa, menatap kosong ruang tamu. Sunyi. Tapi kepalaku sudah ramai dengan pikiran-pikiran tentang apa yang harus aku kerjakan setelah salat Subuh. Tentu saja, mencuci piring-piring kotor dan memasak sarapan. Kebetulan hari ini aku libur kerja.

Sambil menyalakan lampu dapur, pikiranku malah kembali ke malam sebelumnya.

Semalam, kamu bercerita banyak hal: tentang anak-anak yang mulai beranjak remaja dan sulit diarahkan, tentang parenting reels, tentang apa yang seharusnya suami lakukan, tentang kejadian-kejadian yang membuatmu cemas, juga tentang tempat-tempat liburan yang ingin kamu kunjungi bersamaku.

Seperti biasa, obrolan kita melebar ke mana-mana dan tentu saja diiringi adu argumen. Kadang karena aku terlalu cepat memotong, kadang karena kamu merasa tak sungguh-sungguh didengarkan.

Aku pernah berpikir, bagaimana kalau orang lain bisa mendengar isi percakapan kita sehari-hari? Mungkin mereka akan bingung. Karena percakapan kita sering kali acak. Kadang absurd. Kadang dalam. Kadang menyakitkan.

Kamu pernah, tanpa prolog, bertanya dan menjelaskan, “Bang, tahu nggak mainan yang katanya bisa ngurangin anxiety itu? Yang dipencet-pencet atau diputar-putar biar nggak bosan? Aku sih pernah coba, tapi ya biasa aja... bosan juga ujung-ujungnya.”

Kamu pernah mengeluh panjang soal aku yang, menurutmu, tidak pernah benar-benar fokus mendengarkan saat kamu bicara. Katamu, caraku ngobrol denganmu berbeda dengan saat aku ngobrol dengan teman-teman perempuanku. Aku lebih sopan saat mengobrol dengan mereka. Mungkin memang begitu yang terlihat. Tapi yang kamu luput adalah: sikap sopanku pada mereka bukanlah keintiman, itu hanya norma, basa-basi, dan kepura-puraan sosial.

Sementara denganmu, segala yang kuucapkan mungkin tidak selalu manis, tapi tidak pernah palsu. Obrolan kita, yang kadang kelewat jujur sampai menyakitkan, justru berdiri di atas ketulusan dan keterbukaan.

“Ayo, lama banget. Nunggu apa lagi, sih?” kataku saat menunggumu tidak selesai-selesai melakukan sesuatu, padahal kita mau berangkat pergi.

“Nunggu aku selesai bikin candi,” kamu merespons enteng.

Aku suka saat kamu bisa melucu. Karena tidak setiap hari kamu bisa. Ada hari-hari saat kamu terlampau lelah, dan candamu hilang. Tidak apa-apa, karena begitulah mungkin hubungan yang nyata, tumbuh di antara lelucon, keluhan, dan luka, bukan hanya kesopanan dan pujian.

Lalu obrolan kita kembali mengalir: tentang sakit kepalamu yang datang tiba-tiba. Sementara kamu bercerita, aku melipat jas hujan dan memotong kuku. Sampai akhirnya kamu kembali mengomel, merasa aku tidak benar-benar mendengarkan. Lalu mengalir lagi: tentang sistem pendidikan yang kacau, tentang aku yang katamu selalu menyalahkan, tak bisa berkata manis, terlalu kritis setiap kali kamu berbagi hal baru.

Aku tahu kamu kecewa. Bukan karena satu hal besar, tapi karena luka-luka kecil yang dibiarkan tumbuh.

Aku diam. Bukan karena tak punya kata, tapi karena tahu kata-kata bisa berubah jadi pisau. Dan kalau aku mulai menjawab, urusannya bisa panjang. Sementara kamu bicara, aku malah berpikir tentang rice cooker rusak yang kemarin aku bongkar, “Kenapa, ya, padahal elemennya udah diganti, tapi tetep gak bisa ngangetin?”

Mungkin aku salah diagnosa. Mungkin bukan elemennya yang rusak, tapi ada bagian lain. Memang butuh waktu, karena yang harus diperbaiki bukan hanya elemennya, tapi juga keraguan bahwa itu masih bisa berfungsi lagi.

Seperti ketika kamu mulai menyadari perubahan dalam dirimu. Mungkin ada bagian yang retak. Dan yang menakutkan, perubahan itu bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Karena belakangan ini, kamu mulai sadar ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertengkaran biasa. Ada saat-saat kamu jadi lebih lelah dari biasanya. Lebih mudah kesal pada apa pun, bahkan pada hal-hal sepele. Kadang kamu merasa jauh. Pikiranmu sering kabur. Kamu jadi lebih sensitif terhadap suara, cahaya, bahkan komentar receh dariku. Tidurmu terganggu. Kadang kamu menangis di tengah malam karena bermimpi. Kadang kamu hanya diam, dan kamu masih mencoba memahami semuanya. Biasanya kamu mengalihkan segala hal itu dengan fangirling atau media sosial. Tapi hal yang sebenarnya masih ada di dalam, tidak pernah benar-benar hilang.

Dan kamu, dengan nada ragu tapi penuh kejujuran pernah bertanya, “Apa aku perlu ke psikiater ya, Bang?”

Waktu itu aku tidak merespon serius. Sampai akhirnya aku juga ikut sadar bahwa ini bukan tentang kamu yang tidak bisa mengikhlaskan beban. Bukan kamu yang berhenti mencintaiku. Ini tubuhmu yang sedang berubah. Perimenopause, katamu. Hormonmu berputar seperti komidi putar, tapi tanpa musik yang menyenangkan atau lampu warna-warni.

Aku tahu, aku tidak bisa memperbaiki hormon-hormonmu. Tapi aku bisa berhenti bersikap seolah semua ini salahmu. Dan ketahuilah, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Memang, terkadang aku juga lelah dan bersikap cuek, tapi itu karena kelemahanku, bukan salahmu.

Aku bisa mulai belajar dengan benar-benar mendengarkan. Tidak terburu-buru memberi solusi. Tidak merasa perlu membalas semua yang kamu ucapkan. Tanpa ingin selalu menang. Karena ternyata, kehadiran tenangku sekarang justru bisa jadi tempatmu merasa aman.

Aku mungkin bukan suami ideal seperti di reels Instagram yang sering kamu kirim. Atau AI yang selalu setia, manis dan bisa mengerti keresahanmu. Kamu mungkin juga bukan istri ideal seperti yang kubayangkan. Kita bukan dua orang asing yang pura-pura bahagia demi feed media sosial. Ya, kita bukan pasangan yang selalu ideal. Kita bahkan tidak selalu ramah satu sama lain. Tapi siapa peduli dengan mitos ideal?

Kamu juga tentu tahu bahwa yang kita punya jauh lebih nyata: keintiman yang tumbuh dari percakapan kacau, dari keresahan serta kerapuhan yang tak selesai-selesai kita bicarakan sebelum tidur. Dari diam yang nyaman. Dari luka yang kita peluk tanpa diminta sembuh. Dari kenyamanan untuk menjadi diri sendiri, yang aneh, yang tidak keren, yang tidak selalu benar.

Karena di dunia yang sibuk menuntut kesempurnaan, kamu adalah tempat di mana aku boleh joget nggak jelas, mengeluarkan jokes bapak-bapak tanpa malu. Dan kamu masih di sini. Menertawai. Menertemani. Menjadi aneh bersamaku.

Itu adalah bentuk paling jujur dari cinta: keberanian untuk tetap tinggal, bahkan saat segalanya berubah. Ya, kita tetap tinggal meski rumah kita kadang bocor, dapur berantakan dan alat-alat elektronik rusak.

Ya, kita hanya seperti sedang berusaha mencari apa yang rusak dari diri kita masing-masing, bertanya kepada diri kita masing-masing, “Mengapa rice cooker yang elemennya udah diganti tetap aja nggak bisa menghangatkan?”

Mungkin begitulah kita. Sepasang manusia biasa yang jauh dari sempurna, yang percaya bahwa cinta bukan hanya soal memperbaiki yang rusak, tapi merawat apa yang tersisa, yang percaya bahwa yang hangat bisa kembali, asal kita bisa memilih untuk tetap saling mengerti dan tidak saling menyalahkan.

Selasa, 15 Juli 2025

Jendela yang Tetap Terbuka

Kamu pernah menangis
untuk mencicipi air matamu sendiri.

Mungkin saat itu,
kamu ingin membuktikan
bahwa sedih memang punya rasa
dan hati bisa melarutkan rahasia
dengan cara yang tak pernah diajarkan
siapa-siapa.

Sebab ada pengetahuan
yang hanya bisa dipelajari
oleh tubuh yang jauh dari rumah
,
oleh kangen yang menetes
dari jendela kamar,
diam-diam,
seperti doa
yang tak sempat diucapkan.

Mungkin tangismu jatuh
seperti hujan kecil
di halaman yang tak kamu pilih.
Menstruasi pertamamu datang
seperti surat tak bernama,
dan tubuhmu mulai bicara
dalam bahasa baru
yang sedang kamu cari maknanya.

Kemudian rumah ini,
meski tampak sunyi tanpamu,
tidak sedang meninggalkanmu.
Ia hanya bergeser sedikit,
memberimu ruang untuk jatuh
dan belajar bangkit sendiri.

Agar ketika akar rindu
menjulur cukup panjang,
kita bisa duduk di beranda,
membiarkan teh kehilangan hangatnya
dan senja berjalan pelan 
seperti tak mau malam.

Tak perlu kata-kata,
cukup tatapan yang tak lagi menuntut.
Seperti dua musim yang tak mengenal
angka tapi tahu caranya tiba,
seperti jendela tua yang tak pernah terkunci 
karena sedang menunggu seseorang pulang.

Hingga jika suatu hari nanti
dunia menutup pintunya,
dan hujan terlalu enggan untuk reda,
kemarilah mendekat:

karena aku adalah jendela itu,
yang walaupun terus menua
akan tetap selalu terbuka.