Jumat, 15 Februari 2008. Ponselku berdering ketika langit siang di luar jendela ruang dosen berubah warna menjadi seperti tembaga dingin, setelah sebelumnya hujan rintik. Nomor asing berkedip di layar ponselku. Aku mengangkatnya karena entah kenapa jariku bergerak lebih cepat dari pikiranku.
“Ini Christine ya?” tanya suara di seberang.
Suara itu rendah, agak parau, seperti baru bangun dari tidur. Aku tidak mengenalinya. Putaran waktu sembilan belas tahun rupanya cukup untuk menghapus ingatan tentang timbre suara seseorang.
“Aku Reza,” katanya, setelah hening yang cukup lama. “Aku mendapat nomor ini dari Facebook.”
Ingatanku menggulung ke hari kemarin ketika aku menerima pertemanannya di Facebook. Ahmad Reza Saputra, nama yang membacanya saja membuat jantungku berdebar lebih cepat, nama yang seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam air tenang. Getarannya menyebar ke seluruh tubuhku. Cinta pertamaku.
Akhir Maret 1988, hari terakhir aku melihat Reza. Kami masih memakai seragam SD, masih senang menceritakan kembali kisah unyil kepada mereka yang tidak menontonnya di TVRI. Suara yang kudengar sekarang berbeda sama sekali.
“Aku besok akan pergi jauh,” katanya kemudian. “Apakah hari ini kita bisa bertemu?”
Kami sepakat untuk bertemu di gang tempat kami dulu sering bermain saat kecil. Tempat rumah kecil kami dulu saling berhadapan sebelum tanah itu digusur demi gedung-gedung kaca yang kini mengilap dingin di siang hari. Aku dan keluarga pindah ke Bekasi. Sementara Reza dan keluarganya ke Bogor. Setelah itu, kami seperti dua layang‑layang di langit yang benangnya putus dan masing‑masing terjatuh ke tanah yang asing.
“Pukul berapa kamu selesai mengajar?” tanyanya.
“Tiga sore,” jawabku. “Aku bisa sampai sana sekitar pukul empat.”
“Oke.” Ia menghela napas pelan, “Sampai jumpa nanti sore.”
Langit berangsur-angsur cerah sore itu, aku berjalan ke luar gedung kampus, menyusuri trotoar menuju halte Cawang. Beberapa menit kemudian, aku sudah duduk di bus Cibinong–Grogol yang tua dan goyah. Atapnya berderit setiap kali bus menikung, seperti ada seseorang yang berjalan perlahan di atasnya. Jendela di sebelahku memantulkan wajahku sendiri.
Bangunan-bangunan tinggi bergerak mundur. Papan iklan berganti dengan pohon-pohon trembesi yang merunduk melewati langit berdebu. Sementara itu pikiranku sibuk mengisi kekosongan tahun-tahun yang hilang. Berapa banyak hal yang telah terjadi pada kami sejak terakhir kali bertemu? Saat ini aku sudah menjadi dosen dan sudah mempunyai seorang anak. Berapa banyak perubahan selama kami menjalani kehidupan masing-masing? Dan yang lebih mengganggu, mengapa ia ingin bertemu denganku sekarang?
Setelah turun di halte Komdak, cahaya matahari tinggal garis tipis di ujung gedung-gedung. Udara sore membawa semacam ketegangan, seperti seseorang hendak bicara tapi menahan diri. Aku berjalan kaki menuju gang itu; Gang Aren —nama yang entah bagaimana tetap bertahan, tidak berubah.
Nama “Aren” masih tersisa, padahal sejak kecil pun aku tak pernah melihat pohon itu di sini. Mungkin nama itu milik sesuatu yang pernah ada jauh sebelum kami lahir, atau sesuatu yang memang tak pernah ada. Tentu gang itu tidak berubah, tapi aku menyadari bahwa cara pandangku terhadap gang itu yang telah berubah. Waktu kecil, gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil.
Aku duduk di satu-satunya bangku beton di dekat gang itu. Tidak lama dari ujung gang, seseorang berlari kecil ke arahku. Aku hampir tak mengenalinya.
Reza kini bertubuh tegap, bahunya lebar, rambutnya dipotong pendek dan sedikit berantakan. Ia mengenakan baju lengan panjang putih yang digulung, dipadukan dengan celana hitam dan tas slempang berwarna karung goni. Ada garis samar di rahangnya, namun ada satu hal yang masih sama, matanya: gelap, dalam, seakan menyimpan mendung yang sayu.
“Maaf buat janji mendadak gini,” katanya, sambil tersenyum. Senyum yang aku kagumi sejak dulu.
Kami duduk bersisian di bangku beton. Bangku yang dulu sering kami gunakan untuk menunggu kucing liar lewat atau melihat orang dewasa membicarakan hal yang tidak kami pahami. Angin sore membawa sisa kehangatan siang yang penuh polusi, bercampur aroma feromonik dari parfum dan keringat laki-laki yang seperti tidak pernah pergi dari kepalaku.
Retakan beton di bawah sepatu Reza dipenuhi pasir halus. Ia menggosoknya dengan ujung sol, seperti sedang mencoba menghapus sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa dihapus. Bertahun-tahun berlalu, aku sendiri tidak sanggup menghapus ingatan itu.
Aku memandangi tangannya. Tangan yang dulu kecil itu kini terlihat kokoh dipenuhi beberapa urat biru namun dengan jari-jari yang masih lentik seperti yang aku kenal bertahun-tahun lalu. Itu adalah tangan yang dulu menarikku menjauh dari lingkaran anak-anak laki-laki berseragam putih-merah yang mengitariku di sudut lapangan sepulang sekolah.
Siang itu, matahari menggantung tepat di atas tiang bendera. Aku berdiri kaku sambil memeluk buku tulis bergambar kelinci. Seorang anak lelaki menarik kepangku.
“Eh, lihat nih, orang Cina!” katanya sambil tertawa. Tangannya mendorong pundakku, tidak terlalu keras, tapi cukup membuatku mundur dua langkah.
“Orang Kristen dia!” sahut yang lain. Tawa mereka pecah seperti petasan kecil.
Aku menunduk. Ujung sepatu hitamku berdebu. Salah satu dari mereka menyenggol buku tulisku hingga jatuh. Sampulnya terlipat. Aku ingin mengambilnya, tapi sepatu mereka lebih dulu menginjak sudutnya.
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan gerombolan anak itu.
“Balikin!” Suara Reza kecil tapi tegas. Ia berdiri di sampingku, napasnya memburu. Pipi kirinya masih berbekas kapur karena hari itu ia jadi petugas piket.
Anak yang paling besar menoleh. “Ngapain lo belain dia?”
Reza tidak menjawab. Ia membungkuk, mengambil bukuku, meniup debu di sampulnya, lalu menyerahkannya kembali padaku. Tangannya gemetar sedikit, tapi matanya tidak berpaling.
“Nanti gua laporin Bu Siti lo!” katanya.
Kalimat itu terdengar aneh keluar dari mulut anak kelas tiga yang kurus dan sering lupa membawa penggaris. Tapi tidak ada yang tertawa. Mereka hanya saling pandang, lalu bubar pelan-pelan.
Sejak hari itu, ia selalu berjalan di sisi kiriku ketika bel pulang berbunyi.
Seharusnya, memulai kehangatan itu lagi sekarang bukan hal yang sulit, namun semakin dewasa kita semakin pintar menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Kami mengobrol sebentar. Awalnya canggung, tetapi kemudian perlahan-lahan semua kenangan masa kecil itu muncul kembali seperti potongan puzzle yang menemukan tempatnya.
Di gang itu, kami mengingat masa ketika masih anak-anak: bermain kejar-kejaran di antara pot bunga, melihat kupu-kupu beterbangan di atas rumpun pandan, atau sekadar duduk di tepi got sambil membicarakan hal-hal yang terlalu besar untuk kami pahami waktu itu. Dulu, ia pernah bilang kalau suatu hari nanti kita bisa mewujudkan semua mimpi kita, dan menjadikan dunia menjadi lebih baik.
“Aku dapat beasiswa ke Australia. Besok berangkat,” katanya sambil menatap garis-garis retak di lantai beton. “Mungkin lama.”
Aku menunggu ia menjelaskan lebih jauh, tapi ia tidak. Ia tidak pernah suka menjelaskan sesuatu terlalu panjang. Seperti dulu, ia lebih suka membiarkan kalimatnya menggantung, memberi ruang bagi dunia untuk mengisinya sendiri.
Kami berbicara selama dua jam. Tentang pekerjaanku, tentang pekerjaannya, tentang anakku yang sedang belajar piano, sedikit tentang suamiku, juga tentang perjalanan-perjalanan kecil yang ia lakukan sendiri setiap akhir pekan. Kadang ia tertawa, kadang ia diam lama sebelum menjawab. Dalam diam itu, aku merasa seperti sedang duduk di samping seseorang yang sudah mengalami terlalu banyak hal sendirian. Kematian ibunya, kegagalan asmara, dan sekarang kepergiannya ke tempat yang jauh.
Lampu-lampu rumah satu per satu menyala. Bayangan benda-benda memanjang di tanah.
Aku menyebut nama suamiku, dan bilang sebentar lagi ia akan menjemput. Kalimat itu keluar dengan wajar, seperti fakta sehari-hari yang tidak perlu penjelasan. Reza mengangguk, tidak ada yang patah di wajahnya, hanya sesuatu yang mengendap.
Ketika waktunya pulang, ia berdiri lebih dulu. Tangannya merapikan tali tas selempang yang sebenarnya sudah rapi. Ia menatapku lama sambil tersenyumnya tipis. Seperti seseorang yang sedang memastikan bahwa momen ini benar-benar ada, bukan sekadar mimpi sewaktu tidur siang.
“Kalau aku kembali,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara motor yang melintas, “aku ingin bertemu lagi.”
Ia berjalan menyusuri gang dengan langkah yang mantap, seperti dulu ketika ia berdiri di depanku di lapangan sekolah. Bahunya tetap tegak. Ia tidak menoleh. Lampu-lampu gang menyala redup, satu per satu, dan tubuhnya perlahan menyatu dengan bayangan tembok yang lembap. Aku tidak memanggilnya.
Aku berdiri sendirian di ujung gang itu. Udara malam turun pelan-pelan, membawa bau tanah basah dan aroma gorengan dari ujung jalan. Untuk sesaat, waktu seperti terlipat. Entah karena usia, atau karena ada bagian dalam diriku yang tetap tinggal di tahun 1988 dan menolak tumbuh. Aku melihat dua anak kecil berdiri berhadapan di gang yang sama. Mereka belum tahu tentang pindah rumah, tentang kota-kota baru, tentang perbedaan keyakinan, tentang orang-orang lain yang kelak akan dipanggil “suami” dan “istri.”
Dulu gang itu terasa lebih lebar. Sekarang, gang itu tampak mengecil.
* Terinspirasi dari Hyehwadong (Ssangmundong), lagu OST Reply 1988