Halaman

Kamis, 08 Juli 2010

Sajak kodok

seekor kodok masuk
ke rumah ketika hujan
di dalam rumah ia berlompatan
lompat ke meja, kursi dan
dinding

kodok memang akan tetap
menjadi kodok
walaupun masuk ke rumah

aku ingin membunuh kodok menjijikan itu
tapi
tentu sang kodok mengajak teman-temannya
untuk balas dendam
membuatku teriak ketakutan

dan aku berpendapat, kejadian itu terlalu
berlebihan


Juli 2008


Rabu, 02 Juni 2010

hanya mencoba jujur

pada topeng yang mana lagi
kita menyembunyikan luka pada wajah

memar yang dalam
hitam

berapa topeng yang kita pakai untuk
bertemu macam-macam topeng yang lain
pada sebuah panggung topeng dunia

pada pikiran-pikiran
yang berkelebat di balik topeng-topeng

dan melepaskan
adalah cara jujur untuk bicara pada diri sendiri
juga pada tuhan



Bekasi, Juni 2008


Kamis, 15 April 2010

Menjadi Daun

Pada sebatang akasia hijau di sebuah sudut lereng pegunungan tumbuh sebatang tunas daun. Kecil dan merah. Sungai jernih nan sejuk tertidur dibawahnya membunyikan lagu alam yang paling subtil.

Suatu waktu, di tengah badai, daun yang mulai tumbuh besar dan kehijauan itu jatuh dalam pelukan bapak sungai. Mengalir dibawa takdir. Pasrah mengikuti lika-liku atau kelak-kelok arus yang seperti tak pernah selesai juga yang tak pernah sampai.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Suatu pagi di bulan juni, arus meninggalkannya pada sebuah batu besar. Menempel tak berdaya dibakar, terik matahari. Di atas batu, bertengger seekor bangau yang mengangkat sebelah kakinya. Sayup-sayup ia mendengar sang bangau bicara seakan pada dirinya sendiri, atau mungkin juga ia bicara padanya. “Aku ini hewan binal, dari kumpulannya terbuang kekal. Aku mau renggut sekuntum milenium lagi.”

Aha, bangau tua itu sedang membaca puisi rupanya, pikir daun. Daun mengenal puisi itu namun belum sempat memahaminya. Lebih tepatnya, ia dan puisi itu belum mau membuka diri masing-masing. Berpura-pura acuh.

“Apa yang kau lakukan pak bangau?” tanya daun. Pak bangau tidak memperhatikan pertanyaannya, sepertinya sedang berpikir dalam. Lama mereka diam. Sampai pak bangau gantian bertanya, “apa yang aku lakukan?! Kau tahu apa yang kulakukan ketika aku sedang mengangkat sebelah kakiku yang kanan?”

Kenapa ia membalikan pertanyaann itu padaku, pikir daun heran. Daun diterpa angin, menyerah.

“Aku tidak lupa untuk menurunkan sebelah kakiku yang kiri.” kata pak bangau yakin.

Setelah beberapa hari mempelajari cuaca di sekelilingnya, daun yang telah menjadi kering itu tertiup angin dan mengambang pada aliran sungai lagi.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Dalam perjalanan itu, ia bertemu seekor buaya lapar. Ia ditelan. Tertelan mungkin. Pada lambung buaya, ia melihat seekor rusa yang juga ikut tertelan. Ditelan mungkin. “buaya tidak pernah kenyang!” kata rusa, “kemarin ia menelan, ibuku, kakekku. Dan sekarang, aku.”

Daun tak banyak bicara. Disaat itu ia belajar untuk mendengarkan.

“kenapa ia tidak pergi ke laut yang punya ikan beraneka warna?” lanjut rusa berbelang kaki, “ia bisa makan sepuasnya tanpa harus hawatir kehabisan ragam.”

Irisan tajam belati tiba-tiba mengoyak lambung buaya ketika itu. Sinar matahari kembali masuk. Rusa dikeluarkan. Dan menjadi begitu bisu.

Daun dikeluarkan.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Perjalanan selanjutnya ia bertemu pemancing ikan. Daun kering telah belajar sopan santun dan mengatakan permisi ketika lewat di depan pemancing. Mau kemana kamu? Kata pemancing. Dari mana kamu? Tanyanya lagi. Siapa kamu? Apa maumu? Kenapa tubuhmu? Bagaimana nasibmu? Berapa umurmu? Bertubi-tubi.

Air sungai tetap mengalir. Disaat seperti apapun.

Ia belum sempat menjawab.

Dan akhirnya –memang akan selalu ada akhirnya— suatu sore yang cerah, ia sampai pada pelukan kakek tua samudra, bergolak-golak terbawa gelombang.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Suatu saat, pikirnya, jika ada yang bertanya lagi dari mana aku, aku akan menjawab.

“aku berasal dari sebatang akasia pada sudut lereng pegunungan dimana dibawahnya mengalir sungai.”

Tapi tidak akan ada lagi yang bertanya.



Bekasi, April 2008

Jumat, 05 Maret 2010

Pada Sebuah Puisi

aku kembali lagi ke dalam buai puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

mencemooh hampir mengejek
meremehkan segala yang dianggap akbar
-uang-popularitas-jabatan-kesombongan-dendam-ketidakberdayaan

aku kembali lagi ke dalam renung puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

mengindahi halhal kecil
yang ditutup tabir rutinitas

aku kembali lagi ke dalam elok puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

maukah ikut bersamaku menjadi burung
terbang bebas pada lanskap senja
maukah ikut bersamaku menjadi kabut
pada segenggam gelap subuh

maukah ikut bersamaku menjadi embun
di daun
atau
ingin tetap berpilu perih dengan cinta
yang kau sembunyikan sendiri

Akhirnya, aku kembali lagi ke dalam lorong sunyi puisi
mencari pelepasan atau sekedar rindu

maukah ikut
bersamaku


Bekasi, 5 Maret 2007


Jumat, 01 Januari 2010

Seperti Sebatang Bambu

Aku akan kembali bertahan,
demi sujar kata
yang sebentar lagi akan kau ucapkan

Seperti sebatang bambu,
yang menanti kecupan
hangat senja
setelah badai seharian

Aku akan kembali bertahan,
demi sekotak janji
yang sejenak lagi akan kau lupakan

Seperti sebatang bambu,
yang menanti pelukan
hangat pagi
setelah badai semalam

Jumat, 27 November 2009

Ketika Kau Tertidur

Aku lupa kapan pertama kali mengenalmu.

Lagi-lagi pada lipatan waktu yang tak tercatat. Mungkin ketika para kurcaci waktu melindungimu dari sihir perempuan gila yang ingin supaya kau musnah.

Dan kau pun hanya tertidur.

Dalam balutan sutra hijau dan tersenyum. Tidur yang paling indah yang pernah kau sajikan. Sampai datang seorang pangeran yang terobsesi dengan petualangan.

Dan kau pun hanya tertidur.

Diam.

Pangeran tampan pergi meninggalkanmu di tengah hutan, karena tak tahu yang mesti ia lakukan. “Tidurnya menyisakan perih.” Katanya kepada para hulubalang sambil ngeloyor pulang.

Dan kau pun hanya tertidur.

Ketika malam menyelimutimu dengan kedamaian, dan gerimis mulai membasahi sutra hijau yang kau kenakan.

Dan kau pun hanya tertidur.

Ketika musim terus berganti dan para pangeran berlalulalang bahkan tanpa memandang. Burung-burung akhirnya membuat sarang di rambutmu yang ikal dan hangat. Laba-laba memintal benang di wajahmu. Dan kurcaci waktu hanya diam termagu.

Dan kau pun hanya tertidur.

Sampai datang satu musim lagi. Suatu musim yang ia melupakanmu dan kamu melupakannya. Di musim yang teduh tanpa hujan. Panas tanpa kekeringan. Musim yang paling sempurna yang pernah dibuat tuhan. Semua berbahagia kecuali kamu. Karena kamu masih tertidur.

Dan kaupun hanya tertidur.

Sampai suatu hari dimana para musim enggan tuk menyapamu lagi. Setelah hewan-hewan hutan tidak lagi peduli. Dan para pangeran mati. Dan panggung sepi. Dan drama telah selesai.

Dan kaupun masih tertidur.

Menyunggingkan senyum kemarin yang telah bercampur kegetiran abab mulut. Matamu terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan memandangku tajam.

Bangkit dan mendekati,

penonton barisan depan yang tak pernah sedetikpun matanya terpejam.


Bekasi, 27 Nopember 2009

Kamis, 12 November 2009

Ambiguitas Sastra dan Tanggungjawab Sosial

Pernah ada seorang sahabat yang mengirim SMS yang menjelaskan bahwa novel BaRung (Badung Kesarung) adalah sebuah rekayasa, adalah sebuah pembohongan publik.

Awalnya, ketika menerima SMS itu, saya luar biasa tidak terima dan ingin sekali memberikan pembelaan saat itu juga. Namun, kemudian saya sadari bahwa pembelaan itu hanya akan semakin memperlihatkan kepicikan saya. Karena dalam hal ini, pembaca selalu benar. Merekalah yang menilai. Penulis tidak berhak turut campur untuk menilai karyanya sendiri. Kalaupun pembaca menilai novel itu sebagai novel sampah, penulis seharusnya menerimanya dengan legawa.

Dalam kasus saya, ada pro dan kontra. Ada yang senang dengan novel itu ada juga yang tidak. Memang novel ini tidak seheboh Da Vinci Code-nya Dan Brown. Atau Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur–nya Muhiddin M. Dahlan. Atau bahkan seperti Satanic Verse-nya Salman Rusdie. Saya pun tidak berniat untuk membuat kontroversi besar seperti mereka. Sama sekali tidak.

Tulisan ini saya tulis karena saya merasa punya tanggungjawab untuk menjelaskan apa yang telah saya tulis. Saya akan mendahuluinya dengan menjelaskan tentang apa yang mendasari saya menulis novel.

Novel sebagai salah satu bagian dari sastra muncul telah lama sekali. Ide pertama tentang novel di Eropa dimulai oleh Rebelais dan Cervantes. Rebelais melahirkan Gargantua and Pantagruel sementara Cervantes mengarang Don Quixote (Kundera, The Art of the Novel; 1988). Menurut Kundera, sastra memiliki satu spirit, yaitu ambiguitas, maka musuh utamanya adalah agelaste. Agelaste adalah bahasa Yunani yang artinya orang-orang yang tidak bisa tertawa dan tidak punya sense of humor. Kaum agelaste adalah yang berpendirian bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang jelas, sehingga semua orang niscaya akan berpikir tentang hal yang sama, tentang kebenaran yang tunggal. Kaum agelaste yakin bahwa pengetahuan mereka tentang diri mereka sama persis dengan diri mereka.

Memang dalam keseharian, kita selalu menghindari ambiguitas. Kita selalu menghindari makna ganda dalam berbicara. Itu semua agar pendengar menangkap dengan jelas apa yang kita bicarakan. Agar tidak ada kesalahpahaman. Lebih dari itu, agar pendapat yang kita sampaikan bisa lebih diterima dengan mudah. Saya pun setuju dengan itu.

Namun, dalam lingkup yang lebih luas lagi, ketika pikiran-pikiran manusia saling bertentangan, kita menyadari bahwa dunia berisi berbagai macam pendapat yang mustahil disatukan. Begitulah ambiguitas dalam novel. Ambiguitas ini seakan-akan ingin mengatakan bahwa kebenaran itu relatif. Oleh karenanya, maka karakter novel seharusnya selalu bersifat polifonik. Ia menampung banyak suara yang datang serempak, saling mendahului dan berlapis-lapis, dengan tidak ada kata putus tentang suara siapa yang benar.

Nah, berdasar pada pemahaman bahwa novel itu ambigu, dan berangkat dari sebuah tema yang sungguh sederhana bahwa kebebasan butuh konsekuensi yang besar, maka saya menulis novel ini.

Novel ini bergenere komedi dan diberikan label pelit (personal literature) oleh Bukune sebagai penerbit. Kemungkinan besar banyak yang memahami bahwa isi di dalamnya adalah kisah nyata sang pengarang. Padahal, sudah saya jelaskan dalam pembukaan di novel itu bahwa tidak semua cerita di dalamnya kisah nyata yang pernah saya alami. Ini penting saya jelaskan karena tidak sedikit sahabat-pembaca yang menilai novel ini sebagai autobiografi.

Saya setuju dengan ungkapan, “pengarang mati setelah karyanya selesai”, yang mengindikasikan kemandirian sebuah karya. Bahwa sebuah karya, setelah selesai dibuat, menjadi sesuatu yang ‘lain’ dari penulis. Memang ada bagian dari penulis, tapi hanya sebagian. Tidak ada identifikasi bahwa penulis adalah karya atau karya adalah penulis. Analogi ini seperti hubungan ibu dan anak. Lebih dari itu, pembaca menjadi bebas mengartikan sebuah karya tanpa takut berlainan dengan apa yang dimaksud oleh penulis. Karena dalam karya itu penulis sudah tidak ada, ia telah mati.

Disamping itu, saya juga setuju bahwa tulisan (cerita dalam hal ini) dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembaca. Bahkan bisa sampai merubah cara seseorang menilai sesuatu. Maka ketika itu terjadi, mau tidak mau penulis menjadi bagian tak terpisahkan dari pengaruh itu. Pendapat ini tentu tidak bertentangan dengan pemahaman ‘pengarang mati setelah karyanya selesai’, karena seperti yang diteorikan oleh M.H.Abrams (The Mirror and The Lamp: Romantic Theory and The Critical Tradition; 1953), pada dasarnya karya sastra menampilkan empat sisi: pengarang, masyarakat (universe), teks karya dan pembaca.

Dalam kasus saya,
Citra Mufthi, sahabat-pembaca, pernah berkomentar....

G0od!
Q dah bLi bkux, bGuz bgt dEch!
Q iKt saLud! Dgn bku nie,, q bsa l0l0z dr pKsaAn 0rtuq bwt msUkin q ke pSntren, jd q bSa bukTiIn law msUk pSntren g' mNjamin saNtri yg bÆk,,
he... :-) thAnkZ!

Saya menanggapi kalimat ‘masuk pesantren gak menjamin santri yang baik.’ dengan satu kesadaran bahwa tidak ada yang salah dengan kalimat itu.

Begini, ada
survey yang menyatakan bahwa anggota DPR adalah anggota dewan yang paling tidak dipercayai masyarakat. Banyak terjadinya korupsi, kolusi, perzinahan dan lain sebagainya. Sampai pernah diabadikan dalam lagu Slank. Dalam masyarakat luas sudah termaindset bahwa anggota DPR buruk. Namun, beberapa pakar politik yang tahu ada beberapa anggota DPR yang masih bersih, mengatakan “gak semua anggota DPR buruk, masih ada mereka yang baik.”. Di tengah orang-orang yang buruk itu masih ada orang-orang baik. Simpelnya: banyak orang buruk sedikit orang baik.

Nah, kebalikannya dari itu, pondok pesantren telah termaindset dalam kepala masyarakat sebagai tempat berkumpulnya orang-orang baik. Lulusan ponpes adalah orang-orang yang dihormati. Namun seperti institusi lainya yang punya cela, begitu juga pesantren. Sehingga timbulah ungkapan “gak semua anak pondok baik, ada juga yang buruk.” artinya masih banyak yang baik daripada yang buruk. Lagipula, di belahan dunia mana yang terdapat orang baik seluruhnya?

Kemudian jika ada sahabat-pembaca yang memutuskan untuk tidak mau masuk pesantren, menurut hemat saya itu semata-mata karena pilihan mereka untuk tidak mau masuk pesantren. Bukan karena pemahaman bahwa ‘gak semua anak pondok itu baik’, karena sekali lagi itu adalah kesimpulan yang wajar. Sehingga saya berkesimpulan bahwa novel itu bukan sebab tapi hanya pemicu.

Dan dengan ini, mudah-mudahan saya telah menyelesaikan tanggungjawab saya untuk menjelaskan; kepada para sahabat-pembaca juga terutama kepada Allah.


Your Humble Writer

Nailal Fahmi