Halaman

Rabu, 15 September 2010

dan tentang anak manusia

Pada sebuah musim kemarau, dengan kegalauan yang tak terucap dari balik kelopak matanya, anak itu datang. Bersama sepi ia berjinjit melewati sungai dangkal yang penuh batu-batu besar. Tangannya menggengam segumpal tanah dari makam ayahnya yang baru seminggu kemarin dikubur di Tanah Kusir.

Semilir angin menyambut tangan-tangan sepi sambil berlarian di sela-sela rambutnya yang penuh debu, sesekali ia menggoyang-goyangkannya dan mengembalikannya ke tempat semula, sesekali membuat style baru. Mereka seperti ingin berjibaku, menuju sebuah tempat dimana kematian bersemayam diam.

Mereka telah sampai.

Gincu jingga yang dipoleskan ibunya kemarin telah pudar, berganti warna pucat dan terkelupas. Kemeja putih pemberian ibunya pun lusuh dan kotor seperti menyimpan selaksa derita duka perjalanan, salah satu kantungnya robek berjuntai.

Ia telah lama sampai.

“aku telah sampai.” Si anak berucap lirih hampir tak terdengar.

Sambil menatap yang bersemayam diam ia meneruskan, “aku telah sampai pada pilihan-pilihan yang telah kau pilihkan dan kupilih. Sekarang telah bercampur deru debar dera diam desah dunguku dengan dupa dahsyatmu. Ada apa denganmu dan keegoisanmu?”

Tak ada jawaban. Sepi berteriak ngilu menghentikan riak-riak aliran sungai.

“aku bosan berdebat denganmu, kau dan diammu cukup membuatku frustasi. Tidak akan pernah kulupa pertemuan pertama kita pada lipatan waktu yang tak tercatat, pada masa dimana aku hanyalah satu dari ratusan juta embrio hidup, tujuh ratus tahun sebelum jagad raya ini tercipta. Tentu kau ingat itu, bukan?.

Sunyi.

Gumpalan-gumpalan awan hitam pada langit-langit senja berderak-derak.

“kalau berani satu lawan satu. Pasukamu terlalu banyak, begitu tangguh untuk kukalahkan. Kalau berani satu-satu, tanpa senjata, tanpa waktu, tanpa wasit, tanpa aturan, tangan kosong. Kalau berani satu! Apa kau berani?”

Semilir angin menggoyang-goyangkan rambut si anak. Masih tak ada jawaban.

Si anak serta merta melempar bongkahan tanah yang digengamnya, kematian menyalak galak diantara sepi, angin dan senja yang bersorak. Ia bangkit kemudian balas memukul meninggalkan luka di pelipis mata si anak. Tendangan telak juga mendarat tepat di perut buncit kematian dan membuatnya terpental berkilo-kilo meter.

Terus dan terus. Entah berapa banyak mereka mendaratkan pukulan dan tendangan masing-masing. Entah berapa lama mereka melakukannya. Berjibakujibakuberjibaku. Meninggalkan memar-memar ungu. Sampai tanpa sadar mereka sadar bahwa kematian adalah si anak dan si anak adalah kematian itu sendiri.

Keduanya mati.

Gerombolan awan menutup langit-langit senja itu, menjadikannya lindap paripurna.

Tetes hujan awal musim telah jatuh. Basah.

Senja mati.

Sepi pelan berkata “maut telah hadir dalam hidup, membenih, tumbuh dan kemudian memagut habis diri.”

Hujan makin riang.


Bekasi, September 2007

Rabu, 01 September 2010

kamu

andai kau semudah sudah
atau segampang bilang
tentu aku tidak perlu peluru
juga tak butuh peluh
untuk bisa mengertimu


Bekasi, September 2008

Senin, 26 Juli 2010

Anak saya adalah ...

Ketika istri saya berada pada ‘bukaan tujuh’, dokter memberikan instruksi kepada para bidan, “Kalo sampe jam 3 bayinya belum bisa keluar, harus operasi.”

Tapi,

lima menit sebelum jam tiga sore bayi itu dilahirkan dengan normal.

Kejadiannya memang gak semulus dengan apa yang barusan saya tulis. Sebagaimana kita ketahui bahwa melahirkan adalah perjuangan antara hidup dan mati, kawan! Bukan seperti membuang ingus yang menyumbat hidung. Atau seperti muntah karena masuk angin. Atau makan nasi uduk di pagi hari. Bukan! Sama sekali bukan!

Dari awal kehamilan istri, saya sering membaca artikel tantang kelahiran normal. Idealnya suami-istri yang akan punya anak adalah seperti ini.

Suami : mah, nanti mau lahir dimana?

Istri : ah, dimana aja yang penting ditemenin papah.
Suami : di dukun beranak mau?
Istri : boleh!
(dan mereka ke dukun beranak dan melahirkan tujuh anak kembar)

Namun dalam dunia saya, kejadian yang seharusnya mudah itu menjadi:

Saya : bu, mau lahir dimana?
Istri : di bidan deket rumah aja, pak! Biar lebih murah dan deket.
(saya dan istri pergi ke bidan)
Bidan-deket-rumah : wah! Ini ada miom yang menyumbat jalan lahir. Harus di oprasi!

Dunia memang gak selalu seperti yang kita inginkan.

Atas saran bidan kami dirujuk ke rumah sakit. Sampai di RSUD (tentu dengan pertimbangan biaya yang paling murah dari rumah sakit lainnya), kami masuk ruang tunggu. Saya berharap anak Perempuan kami (berdasarkan hasil USG) lahir sehat. Saya juga terus saja berdo’a semoga istri saya masih bisa melahirkan normal. Walaupun saya juga takut jika do’a saya tidak dikabulkan tuhan karena saya banyak maksiat.

Tapi.. sebagai orang yang lebih pintar dari anak TK nol kecil saya tidak kehabisan akal. Saya tahu orang yang doanya selalu dikabulkan tuhan. Ibu. Saya akan meminta ibu untuk mendoakan. “Do’a ibu” Sebagaimana yang sering kita lihat di belakang truk-truk pengangkut pasir.

Saya menghubungi ibu untuk menemani persalinan.

Dalam bayangan saya:

saya masuk ruang persalinan. Di luar ruangan ibu saya berdo’a. Ia mendengar tangisan dari dalam ruangan dan berseru, “Alhamdulillah, cucuku sudah lahir!”

Oke.

Itu idealnya.

Dalam kenyataannya:

istri saya masih pembukaan satu. Ibu saya masuk ruangan.

Saya : do’ain semoga lahirnya lancar ya, bu!
Ibu : iya!

Beberapa menit kemudian....

Ibu : ibu keluar dulu ya, Mi!
Saya : kenapa?
Ibu : gak tahan mau pingsan kalo diruangan AC.

Dan kejadian selanjutnya adalah ibu pingsan di ruangan tunggu.

....

Idealnya lagi, di saat-saat kritis seperti itu suami berada disamping istri dan memberikan kata-kata semangat, “Ayo, mah! Kamu bisa. Ini cuma seperti kebelet boker karena kamu terlalu banyak makan anak gajah!”

Namun kenyataannya dalam dunia saya, pada saat istri ‘bukaan-delapan’, saya diminta keluar. Istri saya terus menangis. Menggapai-gapai. Dan memanggil nama saya, “Jangan tinggalkan aku sendiri! Jangan tinggalkan aku sendiri! ”

Oke. Oke.

Itu terlalu lebay.

Yang jelas kejadiannya menegangkan. Lebih menegangkan dari naik tornado di dufan. Saya lebih memilih naik tornado-dufan gratis bareng temen-temen lama sekalian reunian daripada terus mendengar istri saya teriak kesakitan (ya iya lah!).

Saya diminta keluar ruangan dan menunggu dengan cemas.

Nah! Pada saat menegangkan itulah, kawan! Secara kebetulan saya bertemu bidan-deket-rumah-yang-memberi-rujukan-ke-RS sedang jalan-jalan di RS itu. Sebenernya saya sempat berpikir, ‘apa begini gaya hidup para bidan? Jalan-jalan ke RS pada waktu luang? Seperti para koruptor yang jalan-jalan ke Singapur untuk berjudi?’ (memang analoginya gak nyambung, tapi yang muncul cuma itu).

Fokus!

Serius!

Bidan-deket-rumah ternyata punya banyak kenalan si RS itu dan diperbolehkan masuk ke ruangan bersalin. Bagitu keluar, senyumnya mengembang. Senyumnya mengingatkan saya pada orang yang dapat hadiah undian satu milyar dari Pepsodent. Dengan senyum itu ia berkata, “Selamat ya... anaknya sudah lahir normal. Laki-laki. Ganteng.”

Saya kaget!

‘Normal-laki-laki’ ada di luar ekspektasi saya.

Tapi saya senang.

SMS saya kirim ke penjuru nusantara untuk mengabarkan kabar gembira itu. Saya senang. Sekali lagi saya senang.

Lima menit kemudian saya masuk ruangan dan mengazankan ‘anak-laki-laki’ itu. Saya menghampiri istri dan menanyakan nama untuk sang bayi. Istri saya menyebut nama perempuan. Saya mengusulkan nama laki-laki. Kami berdebat.

Saya : anak kita bukannya laki-laki?
Istri : perempuan. Tanya aja sama bidannya (bidan rumah sakit).

Tentu saja istri saya yang benar.

Dan kepercayaan saya pada bidan-senyum-satu-milyar-Pepsodent itu menurun drastis!

RSUD adalah contoh yang paling tepat untuk menggambarkan betapa buruknya tabiat PNS di negeri ini. Banyak orang mati disana bukan karena penyakit, tapi karena pelayanannya. Pelayanannya bisa membuat orang sehat jadi sakit dan orang sakit jadi sekarat. Saya membayangkan ada pasien korban tabrak lari, mungkin mereka akan merespon:

Pasien : Tolong! Saya sekarat! *sambil memegang kepalanya yang berlumuran kecap! Eh, darah!*
Perawat : tunggu dulu ya, pak! Pasien kita banyak nih. *sambil pedicur*
Pasien : saya sekaraaattt... *darahnya sudah membasahi lantai*
Perawat : sabar ya... namanya juga ditabrak kontener, pasti sakit lah. Biasa itu. Masih kuat kan?
Pasien : ^^^^^^^^--------------------

Intinya: RSUD adalah senjata pembunuh masal yang sedang dicari Amerika.

Saya dan istri sudah tidak betah dan ingin pulang. Kami menginap di sana semalam dan pagi hari betul saya mengurus biaya persalinan. Namun karena bagian administrasi baru buka jam 10, jadi terpaksa saya menunggu. Jam 10 teng. Saya ke bagian administrasi. Dan apa yang saya dapati, kawan? Saya menunggu admin menulis perincian biaya selama 3 jam!

Dan setelah bulak balik konfirmasi, saya bertanya:

Saya : Biayanya kok terhitung dua hari ya? Saya kan di sini cuma sehari semalam?
Admin : ini kan sudah lewat dari jam 12 siang, jadi terhitung dua hari.
Saya : saya kan mengurus ini dari jam 10 pagi?
Admin : kan nulisnya lama *dengan tanpa merasa bersalah dan sambil nelpon urusan kondangan*

Beeeehhh!
Sepertinya, meledakan petasan di depan mejanya akan bisa membuat saya senang.

Saya membayar lunas biaya administrasi dan pulang. Saya cuma takut mati berlari kalo lama-lama di sana.

Satu hal yang membuat saya dan istri terus senang setelah pulang dari RS, anak kami lahir sehat. Dan... ini pelajaran yang paling penting yang saya dapat, kawan!

“Dunia memang gak selalu seperti apa yang kita harapkan, namun dengan keluarga dan kawan dekat yang selalu tulus membantu, segalanya jadi lebih mudah dijalani.”

Dan selamat datang di dunia-yang-gak-selalu-seperti-apa-yang-kita-harapkan ini, selamat datang bayi lima-menit-sebelum-sesar, selamat datang lima-menit-menjadi-laki-laki, selamat datang: anda telah memasuki perbatasan Provinsi Jawa Barat, selamat datang Nada Narendradhitta.

Selasa, 20 Juli 2010

namamu pada sebuah situs

begitu sentimentil
menemukan sebuah situs
jutaan tahun

mengingatkan pada kepurbaan
pada zaman dimana tuhan masih mengutus nabinabi
kepada percakapan musafiraun
di tepi pantai yang paling diam

pada sebuah malam
yang mengenangnya membuatmu luruh

ketika
kau ingat
kita pernah begitu dekat


Bekasi, 20 Juli 2007


Kamis, 08 Juli 2010

Sajak kodok

seekor kodok masuk
ke rumah ketika hujan
di dalam rumah ia berlompatan
lompat ke meja, kursi dan
dinding

kodok memang akan tetap
menjadi kodok
walaupun masuk ke rumah

aku ingin membunuh kodok menjijikan itu
tapi
tentu sang kodok mengajak teman-temannya
untuk balas dendam
membuatku teriak ketakutan

dan aku berpendapat, kejadian itu terlalu
berlebihan


Juli 2008


Rabu, 02 Juni 2010

hanya mencoba jujur

pada topeng yang mana lagi
kita menyembunyikan luka pada wajah

memar yang dalam
hitam

berapa topeng yang kita pakai untuk
bertemu macam-macam topeng yang lain
pada sebuah panggung topeng dunia

pada pikiran-pikiran
yang berkelebat di balik topeng-topeng

dan melepaskan
adalah cara jujur untuk bicara pada diri sendiri
juga pada tuhan



Bekasi, Juni 2008


Kamis, 15 April 2010

Menjadi Daun

Pada sebatang akasia hijau di sebuah sudut lereng pegunungan tumbuh sebatang tunas daun. Kecil dan merah. Sungai jernih nan sejuk tertidur dibawahnya membunyikan lagu alam yang paling subtil.

Suatu waktu, di tengah badai, daun yang mulai tumbuh besar dan kehijauan itu jatuh dalam pelukan bapak sungai. Mengalir dibawa takdir. Pasrah mengikuti lika-liku atau kelak-kelok arus yang seperti tak pernah selesai juga yang tak pernah sampai.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Suatu pagi di bulan juni, arus meninggalkannya pada sebuah batu besar. Menempel tak berdaya dibakar, terik matahari. Di atas batu, bertengger seekor bangau yang mengangkat sebelah kakinya. Sayup-sayup ia mendengar sang bangau bicara seakan pada dirinya sendiri, atau mungkin juga ia bicara padanya. “Aku ini hewan binal, dari kumpulannya terbuang kekal. Aku mau renggut sekuntum milenium lagi.”

Aha, bangau tua itu sedang membaca puisi rupanya, pikir daun. Daun mengenal puisi itu namun belum sempat memahaminya. Lebih tepatnya, ia dan puisi itu belum mau membuka diri masing-masing. Berpura-pura acuh.

“Apa yang kau lakukan pak bangau?” tanya daun. Pak bangau tidak memperhatikan pertanyaannya, sepertinya sedang berpikir dalam. Lama mereka diam. Sampai pak bangau gantian bertanya, “apa yang aku lakukan?! Kau tahu apa yang kulakukan ketika aku sedang mengangkat sebelah kakiku yang kanan?”

Kenapa ia membalikan pertanyaann itu padaku, pikir daun heran. Daun diterpa angin, menyerah.

“Aku tidak lupa untuk menurunkan sebelah kakiku yang kiri.” kata pak bangau yakin.

Setelah beberapa hari mempelajari cuaca di sekelilingnya, daun yang telah menjadi kering itu tertiup angin dan mengambang pada aliran sungai lagi.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Dalam perjalanan itu, ia bertemu seekor buaya lapar. Ia ditelan. Tertelan mungkin. Pada lambung buaya, ia melihat seekor rusa yang juga ikut tertelan. Ditelan mungkin. “buaya tidak pernah kenyang!” kata rusa, “kemarin ia menelan, ibuku, kakekku. Dan sekarang, aku.”

Daun tak banyak bicara. Disaat itu ia belajar untuk mendengarkan.

“kenapa ia tidak pergi ke laut yang punya ikan beraneka warna?” lanjut rusa berbelang kaki, “ia bisa makan sepuasnya tanpa harus hawatir kehabisan ragam.”

Irisan tajam belati tiba-tiba mengoyak lambung buaya ketika itu. Sinar matahari kembali masuk. Rusa dikeluarkan. Dan menjadi begitu bisu.

Daun dikeluarkan.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Perjalanan selanjutnya ia bertemu pemancing ikan. Daun kering telah belajar sopan santun dan mengatakan permisi ketika lewat di depan pemancing. Mau kemana kamu? Kata pemancing. Dari mana kamu? Tanyanya lagi. Siapa kamu? Apa maumu? Kenapa tubuhmu? Bagaimana nasibmu? Berapa umurmu? Bertubi-tubi.

Air sungai tetap mengalir. Disaat seperti apapun.

Ia belum sempat menjawab.

Dan akhirnya –memang akan selalu ada akhirnya— suatu sore yang cerah, ia sampai pada pelukan kakek tua samudra, bergolak-golak terbawa gelombang.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Suatu saat, pikirnya, jika ada yang bertanya lagi dari mana aku, aku akan menjawab.

“aku berasal dari sebatang akasia pada sudut lereng pegunungan dimana dibawahnya mengalir sungai.”

Tapi tidak akan ada lagi yang bertanya.



Bekasi, April 2008