-:(الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك وتعالي/ ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء):-
Kamis, 31 Januari 2013
Minggu, 20 Januari 2013
Dia Yang Sempurna oleh Haruki Murakami (2)
*
Sekarang aku baru tahu bagaimana seharusnya aku menyapa gadis itu. Tentunya aku harus memberikan pidato panjang; terlalu panjang untuk kusampaikan dengan baik. Semua ide yang ada di kepalaku memang tidak ada yang praktis.
*
Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu delapan belas tahun; dan gadis itu enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu tampan, dan gadis itu tidak terlalu cantik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti pada umumnya cenderung kesepian. Namun mereka percaya sepenuh hati bahwa di dunia ini ada pasangan hidup yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya pada mukjizat. Dan bahwa mukjizat bukanlah hal yang mustahil.
Suatu hari, si pemuda dan gadis itu tak sengaja berjumpa di ujung jalan.
“Luar biasa,” ujar si pemuda. “Aku sudah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak mempercayai ini, tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”
“Dan kau,” balas gadis itu. “Kau adalah pemuda yang 100% sempurna untukku, persis seperti pemuda yang kubayangkan selama ini. Seperti mimpi rasanya.”
Mereka duduk di atas kursi taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah hidup mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tidak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan masing-masing yang 100% sempurna untuk mereka. Betapa indahnya menemukan dan ditemukan oleh pasangan yang 100% sempurna untuk kita. Sebuah mukjizat, sebuah pertanda.
Namun, saat mereka duduk dan berbincang, masih ada sedikit rasa ragu yang menggantung di dada: apa mungkin impian seseorang terkabul begitu saja dengan mudahnya?
Maka, ketika keduanya terdiam, si pemuda mengambil kesempatan untuk berkata kepada gadis itu: “Mari kita uji diri kita—sekali ini saja. Jika kita memang pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka di suatu saat, di suatu hari, kita pasti berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka kita akan menikah saat itu juga. Bagaimana?”
“Ya,” kata si gadis. “Itu yang harus kita lakukan.”
Kemudian mereka berpisah. Si gadis melangkah ke arah timur, sementara si pemuda ke arah barat.
Meski begitu, proses uji itu sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, karena mereka memang benar pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain—dan pertemuan awal mereka adalah sebuah mukjizat. Tapi mereka tak mungkin mengetahui semua ini di usia belia. Gelombang takdir yang dingin dan tak pandang bulu terus membuat mereka terombang-ambing tanpa akhir.
Pada suatu musim dingin, si pemuda dan si gadis menderita sakit flu yang terjangkit di mana-mana. Setelah dua minggu terkapar tanpa daya, mereka pun lupa terhadap tahun-tahun remaja mereka. Ketika mereka tersadar, ingatan mereka sama kosongnya seperti celengan baru.
Keduanya adalah individu yang cerdas dan ambisius; dan dengan usaha keras mereka berhasil membangun hidup mereka hingga menjadi sosok terpandang di masyarakat. Syukurlah, mereka juga menjadi warga yang taat peraturan dan tahu caranya naik kereta bawah tanah tanpa tersesat; yang sanggup mengirimkan surat dengan status kilat di kantor pos. Dan mereka juga sanggup jatuh cinta, terkadang cinta itu mengisi hati mereka sampai 75% atau bahkan 80%.
Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga; mendadak si pemuda telah berusia 32 tahun dan si gadis 30 tahun.
Di suatu pagi yang cerah di bulan April, dalam perjalanan untuk membeli secangkir kopi, si pemuda melangkah dari arah barat ke timur, sementara si gadis, dalam perjalanan ke kantor pos, melangkah dari arah timur ke barat. Keduanya menelusuri pinggiran jalan yang memanjang di sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo yang bernama Harajuku. Mereka saling melewati satu sama lain tepat di tengah jalan. Ingatan mereka kembali samar-samar dan untuk sesaat hati mereka bergetar. Masing-masing merasakan gemuruh yang mendesak dada. Dan mereka tahu:
Dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku.
Dia adalah pemuda yang 100% sempurna untukku.
Namun, sayang, gema ingatan mereka terlalu lemah; dan pikiran mereka tak lagi jernih seperti empat belas tahun lalu saat pertama kali berjumpa. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, mereka melewati satu sama lain begitu saja, hilang di tengah keramaian. Selamanya.
Cerita yang sedih, bukan?
*
Ya, itu dia. Seharusnya itu yang kukatakan padanya.
Diambil dari sini
Dia Yang Sempurna oleh Haruki Murakami (1)
Suatu pagi yang cerah di bulan April, di pinggiran jalan sempit di Harajuku, sebuah area perbelanjaan di Tokyo, aku berjalan melewati seorang gadis yang 100% sempurna.
Sejujurnya, dia tidak terlalu cantik. Dia juga tidak terlalu menyolok. Pakaian yang dikenakannya tidak terlalu spesial. Dan rambutnya masih menyisakan jejak ranjang seolah tak disisir merata. Dia juga tidak terlalu muda—kuperkirakan usianya sekitar 30 tahun, dan sebenarnya tidak cocok dipanggil dengan kata ‘gadis’. Meski begitu, aku tahu saat melihatnya dari kejauhan 0.05 kilometer: bahwa dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku. Begitu aku melihatnya, ada gemuruh yang timbul di dadaku, lalu mulutku mendadak kering seperti padang pasir.
Mungkin Anda punya tipe gadis favorit—dan dia mungkin memiliki pergelangan kaki yang ramping, atau sepasang mata yang besar, atau jemari yang lentik, atau Anda menyukai seorang gadis yang selalu menghabiskan waktu lama sekali untuk bersantap, entah kenapa. Aku juga punya tipeku sendiri. Sesekali, saat aku ada di sebuah restoran, aku sering curi-curi pandang ke arah gadis yang duduk di meja sebelahku hanya gara-gara aku menyukai bentuk hidungnya.
Namun bagi seorang laki-laki yang hatinya telah kepincut, maka gadis yang 100% sempurna itu takkan ada tandingannya. Walau aku suka memperhatikan bentuk hidung orang, namun aku tidak ingat bentuk hidung gadis yang sempurna itu—atau apakah dia punya hidung sama sekali. Yang kuingat dengan pasti adalah gadis itu bukan gadis tercantik sedunia. Aneh, kan?
“Kemarin, di jalan, aku melewati seorang gadis yang 100% sempurna,” ujarku pada seseorang.
“Masa?” sahut orang itu. “Cantik?”
“Tidak juga.”
“Kalau gitu dia tipe kesukaanmu?”
“Entahlah. Aku bahkan tidak ingat terlalu banyak hal tentang dia—seperti bentuk matanya atau ukuran dadanya.”
“Aneh.”
“Aneh sekali.”
“Lantas,” tutur lawan bicaraku yang mulai bosan. “Apa yang kau lakukan? Menyapanya? Atau membuntutinya?”
“Tidak. Aku hanya numpang lewat di hadapannya.”
Gadis itu berjalan dari arah timur ke barat, sedangkan aku dari barat ke timur. Sungguh pagi yang cerah di bulan April.
Seandainya saja aku bisa menyapa dia. Aku hanya butuh setengah jam: untuk bertanya tentang siapa dia, lalu aku kan memberitahukan siapa aku, dan—yang sangat ingin kulakukan—menjelaskan kepadanya tentang betapa rumitnya cara kerja takdir untuk mempertemukan aku dan dia di pinggiran jalan di area Harajuku di sebuah pagi yang cerah di bulan April tahun 1981. Kejadian ini tentunya melibatkan banyak rahasia yang tidak kita ketahui; seperti jam antik yang dibuat saat perang dunia usai.
Setelah mengajaknya bicara, kami akan pergi makan siang bersama, lalu menonton film besutan Woody Allen di bioskop, dan dilanjutkan dengan acara minum-minum di bar hotel. Bila keberuntungan ada di pihakku, kami akan mengakhiri kebersamaan ini di atas ranjang.
Kemungkinan-kemungkinan yang belum terjamah itu mengetuk pintu hatiku.
Sekarang jarak di antara kami menyempit jadi 0.013 kilometer.
Bagaimana sebaiknya aku mendekati dia? Apa yang harus kukatakan?
“Selamat pagi, nona. Maukah kau menyisihkan waktu selama setengah jam untuk berbincang?”
Konyol. Aku terdengar seperti salesman asuransi.
“Permisi, apakah kau tahu tempat cuci baju yang buka sepanjang malam di sekitar sini?”
Tidak, sama saja konyolnya. Aku juga tidak bawa baju kotor. Siapa yang akan percaya?
Mungkin aku harus jujur. “Selamat pagi. Kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”
Tidak, dia takkan percaya. Atau bila dia percaya, dia mungkin takkan mau berbincang denganku. Maaf, dia akan berkata padaku, aku mungkin gadis yang 100% sempurna untukmu, tapi kau bukan pemuda yang 100% sempurna untukku. Bisa saja kan? Dan jika aku berada dalam situasi itu, hatiku pasti hancur. Aku takkan pernah bisa mengatasinya. Usiaku 32 tahun—dan di usia sepertiku seharusnya aku bisa menerima penolakan dengan dada lapang.
Kami melewati sebuah toko bunga. Udara pagi berembus ringan dan membelai kulitku dengan kehangatan. Lapisan aspal di bawah kakiku tampak lembap dan aku mencium sekelebat wangi bunga. Aku tidak berani menyapa gadis itu. Ia mengenakan sebuah sweater berwarna putih dan di tangan kanannya ada secarik amplop putih yang hanya butuh perangko saja untuk diposkan. Jadi: gadis itu sudah menulis surat untuk seseorang, mungkin menghabiskan waktu semalaman menulisnya, apalagi melihat matanya yang berat karena kantuk. Di dalam amplop itu mungkin saja terselip seluruh rahasia hidupnya.
Aku mengambil beberapa langkah ke depan, lalu membalikkan badan: gadis itu menghilang di tengah keramaian.
Sejujurnya, dia tidak terlalu cantik. Dia juga tidak terlalu menyolok. Pakaian yang dikenakannya tidak terlalu spesial. Dan rambutnya masih menyisakan jejak ranjang seolah tak disisir merata. Dia juga tidak terlalu muda—kuperkirakan usianya sekitar 30 tahun, dan sebenarnya tidak cocok dipanggil dengan kata ‘gadis’. Meski begitu, aku tahu saat melihatnya dari kejauhan 0.05 kilometer: bahwa dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku. Begitu aku melihatnya, ada gemuruh yang timbul di dadaku, lalu mulutku mendadak kering seperti padang pasir.
Mungkin Anda punya tipe gadis favorit—dan dia mungkin memiliki pergelangan kaki yang ramping, atau sepasang mata yang besar, atau jemari yang lentik, atau Anda menyukai seorang gadis yang selalu menghabiskan waktu lama sekali untuk bersantap, entah kenapa. Aku juga punya tipeku sendiri. Sesekali, saat aku ada di sebuah restoran, aku sering curi-curi pandang ke arah gadis yang duduk di meja sebelahku hanya gara-gara aku menyukai bentuk hidungnya.
Namun bagi seorang laki-laki yang hatinya telah kepincut, maka gadis yang 100% sempurna itu takkan ada tandingannya. Walau aku suka memperhatikan bentuk hidung orang, namun aku tidak ingat bentuk hidung gadis yang sempurna itu—atau apakah dia punya hidung sama sekali. Yang kuingat dengan pasti adalah gadis itu bukan gadis tercantik sedunia. Aneh, kan?
“Kemarin, di jalan, aku melewati seorang gadis yang 100% sempurna,” ujarku pada seseorang.
“Masa?” sahut orang itu. “Cantik?”
“Tidak juga.”
“Kalau gitu dia tipe kesukaanmu?”
“Entahlah. Aku bahkan tidak ingat terlalu banyak hal tentang dia—seperti bentuk matanya atau ukuran dadanya.”
“Aneh.”
“Aneh sekali.”
“Lantas,” tutur lawan bicaraku yang mulai bosan. “Apa yang kau lakukan? Menyapanya? Atau membuntutinya?”
“Tidak. Aku hanya numpang lewat di hadapannya.”
Gadis itu berjalan dari arah timur ke barat, sedangkan aku dari barat ke timur. Sungguh pagi yang cerah di bulan April.
Seandainya saja aku bisa menyapa dia. Aku hanya butuh setengah jam: untuk bertanya tentang siapa dia, lalu aku kan memberitahukan siapa aku, dan—yang sangat ingin kulakukan—menjelaskan kepadanya tentang betapa rumitnya cara kerja takdir untuk mempertemukan aku dan dia di pinggiran jalan di area Harajuku di sebuah pagi yang cerah di bulan April tahun 1981. Kejadian ini tentunya melibatkan banyak rahasia yang tidak kita ketahui; seperti jam antik yang dibuat saat perang dunia usai.
Setelah mengajaknya bicara, kami akan pergi makan siang bersama, lalu menonton film besutan Woody Allen di bioskop, dan dilanjutkan dengan acara minum-minum di bar hotel. Bila keberuntungan ada di pihakku, kami akan mengakhiri kebersamaan ini di atas ranjang.
Kemungkinan-kemungkinan yang belum terjamah itu mengetuk pintu hatiku.
Sekarang jarak di antara kami menyempit jadi 0.013 kilometer.
Bagaimana sebaiknya aku mendekati dia? Apa yang harus kukatakan?
“Selamat pagi, nona. Maukah kau menyisihkan waktu selama setengah jam untuk berbincang?”
Konyol. Aku terdengar seperti salesman asuransi.
“Permisi, apakah kau tahu tempat cuci baju yang buka sepanjang malam di sekitar sini?”
Tidak, sama saja konyolnya. Aku juga tidak bawa baju kotor. Siapa yang akan percaya?
Mungkin aku harus jujur. “Selamat pagi. Kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”
Tidak, dia takkan percaya. Atau bila dia percaya, dia mungkin takkan mau berbincang denganku. Maaf, dia akan berkata padaku, aku mungkin gadis yang 100% sempurna untukmu, tapi kau bukan pemuda yang 100% sempurna untukku. Bisa saja kan? Dan jika aku berada dalam situasi itu, hatiku pasti hancur. Aku takkan pernah bisa mengatasinya. Usiaku 32 tahun—dan di usia sepertiku seharusnya aku bisa menerima penolakan dengan dada lapang.
Kami melewati sebuah toko bunga. Udara pagi berembus ringan dan membelai kulitku dengan kehangatan. Lapisan aspal di bawah kakiku tampak lembap dan aku mencium sekelebat wangi bunga. Aku tidak berani menyapa gadis itu. Ia mengenakan sebuah sweater berwarna putih dan di tangan kanannya ada secarik amplop putih yang hanya butuh perangko saja untuk diposkan. Jadi: gadis itu sudah menulis surat untuk seseorang, mungkin menghabiskan waktu semalaman menulisnya, apalagi melihat matanya yang berat karena kantuk. Di dalam amplop itu mungkin saja terselip seluruh rahasia hidupnya.
Aku mengambil beberapa langkah ke depan, lalu membalikkan badan: gadis itu menghilang di tengah keramaian.
*
Senin, 31 Desember 2012
2012 in Pics
1. Pintar Bahasa Inggris Via Media Sehari-hari
2. Safa Narajatidewi
3. Mata-mata: 16 Skandal Spionase di Indonesia & Dunia
4. Desy and Nada
2. Safa Narajatidewi
3. Mata-mata: 16 Skandal Spionase di Indonesia & Dunia
Malam Tahun Baru
Bro, lo kerja di malam tahun baru? Santai aja. Itu ibadah yang gajinya gede.
Bro, lo sendirian di malam tahun baru? Santai aja. Mereka yang rame-rame di luar sana juga diam-diam menyimpan kesendirian.
Bro, lo kesepian di malam tahun baru? Santai aja. Kesepian itu cuma omong kosong kalau hati lo senang.
Bro, lo di rumah aja di malem tahun baru? Santai aja. Kita doain semoga malam ini hujan lebat.
Sekian.
Bro, lo sendirian di malam tahun baru? Santai aja. Mereka yang rame-rame di luar sana juga diam-diam menyimpan kesendirian.
Bro, lo kesepian di malam tahun baru? Santai aja. Kesepian itu cuma omong kosong kalau hati lo senang.
Bro, lo di rumah aja di malem tahun baru? Santai aja. Kita doain semoga malam ini hujan lebat.
Sekian.
the first year of the rest of my life
No one can go back, but everyone can go forward.
And tomorrow, when the sun rises, all you have to say to yourselves is:
I am going to think of this day as the first day of my life.
I will look on the members of my family with surprise and amazement, glad to discover that they are by my side, silently sharing tha little understood thing called love.
I will pass a beggar, who will ask me for money.
I might give it to him or I might walk past thinking that he will only spend it on drink, and as I do, I will hear his insults and know that it is simply his way of communicating with me.
I will pass someone trying to destroy a bridge.
I might try to stop him or I might realise that he is doing it because he has no one waiting for him on the other side and this is his way of trying to fend off his own loneliness.
Instead of noting down things I’m unlikely to forget, I will write a poem.
Even if I have never written one before and even if I never do so again, I will at least know that I once had the courage to put my feelings into words.
I will keep smiling, because it pleases me to know that people think I am mad. My smile is my way of saying: ‘You can destroy my body, but not my soul.’
If it’s sunny tomorrow, I want to look at the sun properly for the first time.
If it’s cloudy, I want to watch to see in which direction the clouds are going. I always think that I don’t have time or don’t pay enough attention. Tomorrow, though, I will concentrate on the direction taken by the clouds or on the sun’s rays and the shadows they create.
Above my head exists a sky about which all humanity, over thousands of years, has woven a series of reasonable explanations.
Well, I will forget everything I learned about the stars and they will be transformed once more into angels or children or whatever I feel like believing at that moment.
For the first time, I will smile without feeling guilty, because joy is not a sin.
For the first time, I will avoid anything that makes me suffer, because suffering is not a virtue.
I am living this day as if it were my first and, while it lasts, I will discover things that I did not even know were there.
Even though I have walked past the same places countless times before and said ‘Good morning’ to the same people, today’s ‘Good morning’ will be different. It will not be a mere polite formula, but a form of blessing.
And if I’m alone when the night falls, I will go over to window, look up at the sky and feel certain that loneliness is a lie, because the Universe is there to keep me company.
And then I will have lived each hour of my day as if it were a constant surprise to me, to this ‘I’, who was not created by my father or my mother or by school, but by everything I have experienced up until now, and which I suddenly forgot in order to discover it all anew.
And even if this is to be my last day on Earth, I will enjoy it to the full, because I will live it with the innocence of a child, as if I were doing everything for the first time.
Taken from here
And tomorrow, when the sun rises, all you have to say to yourselves is:
I am going to think of this day as the first day of my life.
I will look on the members of my family with surprise and amazement, glad to discover that they are by my side, silently sharing tha little understood thing called love.
I will pass a beggar, who will ask me for money.
I might give it to him or I might walk past thinking that he will only spend it on drink, and as I do, I will hear his insults and know that it is simply his way of communicating with me.
I will pass someone trying to destroy a bridge.
I might try to stop him or I might realise that he is doing it because he has no one waiting for him on the other side and this is his way of trying to fend off his own loneliness.
Instead of noting down things I’m unlikely to forget, I will write a poem.
Even if I have never written one before and even if I never do so again, I will at least know that I once had the courage to put my feelings into words.
I will keep smiling, because it pleases me to know that people think I am mad. My smile is my way of saying: ‘You can destroy my body, but not my soul.’
If it’s sunny tomorrow, I want to look at the sun properly for the first time.
If it’s cloudy, I want to watch to see in which direction the clouds are going. I always think that I don’t have time or don’t pay enough attention. Tomorrow, though, I will concentrate on the direction taken by the clouds or on the sun’s rays and the shadows they create.
Above my head exists a sky about which all humanity, over thousands of years, has woven a series of reasonable explanations.
Well, I will forget everything I learned about the stars and they will be transformed once more into angels or children or whatever I feel like believing at that moment.
For the first time, I will smile without feeling guilty, because joy is not a sin.
For the first time, I will avoid anything that makes me suffer, because suffering is not a virtue.
I am living this day as if it were my first and, while it lasts, I will discover things that I did not even know were there.
Even though I have walked past the same places countless times before and said ‘Good morning’ to the same people, today’s ‘Good morning’ will be different. It will not be a mere polite formula, but a form of blessing.
And if I’m alone when the night falls, I will go over to window, look up at the sky and feel certain that loneliness is a lie, because the Universe is there to keep me company.
And then I will have lived each hour of my day as if it were a constant surprise to me, to this ‘I’, who was not created by my father or my mother or by school, but by everything I have experienced up until now, and which I suddenly forgot in order to discover it all anew.
And even if this is to be my last day on Earth, I will enjoy it to the full, because I will live it with the innocence of a child, as if I were doing everything for the first time.
Taken from here
Jumat, 28 Desember 2012
Kau Tahu Kawan #4
Di Amerika, ada orang depresi yang nembakin orang lain terus bunuh diri. Di sini, ada ibu ngeracunin anak-anaknya kemudian bunuh diri. Kegetiran, kau tahu kawan, sama dimanapun.
Langganan:
Postingan (Atom)



