Halaman

Rabu, 26 Maret 2025

Pada Akhirnya, Kehilangan Bukan Tentang Menghapus atau Menggantikan

Saya baru saja mengunggah status foto senja ketika notifikasi itu muncul. Langit dalam gambar itu seperti terbakar perlahan—jingga dan ungu saling beradu sebelum akhirnya memudar menjadi gelap. Indah seperti jatuh cinta, tapi juga cepat berlalu meninggalkan rasa kehilangan.

Notifikasi itu berasal dari komentar Cey, gadis gempal yang selalu gelisah: "Bang Nelal, bikin novel lagi dongggg. Sekarang temanya cinta tapi nggak happy ending wkwk."

Jari saya berhenti di atas layar. Mata saya membaca ulang kata-kata itu, mencari sesuatu di balik candanya. Dalam pikiran saya: ada yang tidak beres, ia seperti berusaha menutupi sesuatu dengan canda.

Menulis tentang cinta yang berakhir tidak bahagia?

Saya mengetik balasan. "U abis putus, Cey?"

Tidak ada respons seketika. Tanda baca tiga titik muncul, menghilang, muncul lagi—seperti seseorang yang ragu-ragu sebelum berbicara.

Akhirnya:

"Iya, lagi huft."

Saya menghela napas pelan. Huft. Sebuah kata yang mewakili banyak hal.

"Serius?" saya meyakinkan.

"Seriussss."

Saya mencoba menelepon. Tidak diangkat. Lalu pesannya masuk lagi: "Batreku 6 persen, lagi hemat-hemat."

Sebuah screenshot menyusul, ikon persentase baterai dan wallpaper karakter chibi berambut hitam diikat, dengan beberapa helai mencuat. Matanya terpejam, mulut mengerucut, ekspresi cemberut dan kesal namun tetap imut. Gabungan antara humor dan ironi.

"U lagi di mana sekarang? Coba cerita dulu."

Jeda panjang. Saya bisa membayangkan Cey membaca pesan itu, menimbang apakah harus membiarkan saya masuk ke dalam ceritanya atau tetap menjaga jarak.

Akhirnya:

"Well, I don't really share such things huft. It's just (again) my unfortunate love story. Gitu deh, udah males ceritainnya aku wkwkwk."

Saya menghela napas.

Manusia punya kebiasaan aneh: menyederhanakan luka mereka sendiri.

"It's okay. It takes time. And maybe one day you just wake up, and it doesn’t feel as heavy anymore."

Kali ini balasannya cepat.

"Didn't hurt as much as I thought, actually. Sedih di hari H aja. Karena unfortunately, I didn't have time and chance buat mengasihani diri. I shared a bed with mom that day, the day after I had classes to teach. Gabisa sedih yang gimana-gimana since I gamau mata I ilang karena sembap wkwk."

Saya membaca ulang pesannya. Ada sesuatu yang janggal. Kesedihan itu tidak benar-benar hilang, hanya ditunda. Kehilangan memang kadang membebani dada dengan kepedihan yang nyaris tak tertanggungkan, kadang ia hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.

"Udah berapa hari sekarang?"

"Belum seminggu wkwk. Kamis malam."

Saya tersenyum kecil, meskipun tahu Cey mungkin tidak benar-benar tertawa.

"Iya, the world won’t stop for your sadness, and it never will haha. But if you keep running without facing it, one day it’ll hit harder when you least expect it."

Tidak ada balasan langsung. Saya bisa membayangkan Cey mendesah, membiarkan kata-kata saya tenggelam dalam pikirannya.

Lalu akhirnya:

"I know. Tapi yaudah begini dulu aja wkwkwk."

Saya berpikir sebentar kemudian membalas, "Plan: nggak ada plan. Eksekusi: yaudah begini dulu aja wkwk."

Tawa digital muncul di layar. Saya menghela napas. Bukan karena lega, tapi karena tahu ada sesuatu yang masih tersisa di sana, sesuatu yang tak bisa dihapus dengan candaan.

"Hope things fall into place for you, even if it’s ‘begini dulu aja’ for now."

Cey membalas lebih cepat kali ini.

"Ahahaha udah cukup menginspirasi belum buat bikin novel?"

Saya terkekeh.

"Bisa aja sih. Cuma akan jadi cerita yang paling sulit gw tulis. Karena nyeritain orang yang nggak mau cerita 🤣🤣."

Tawa panjang memenuhi layar. Sejenak, terasa seperti percakapan biasa, seperti tidak ada apa-apa yang berubah.

Lalu, seperti sebuah Kesimpulan, Cey menulis, "I mean, everything's fine. Was fine. Lalu semua berubah semenjak negara api menyerang."

Saya kembali menatap kata-katanya.

Semua berubah tiba-tiba? Tidak ada yang berubah tiba-tiba, Cey. Kadang kita hanya tidak memperhatikan retakan-retakan kecil sampai akhirnya sesuatu runtuh. Atau kita menyalahkan sesuatu yang datang dari luar tanpa melihat ke dalam. Apakah semua baik-baik saja, lalu mendadak hancur? Atau ia telah lama rapuh, hanya menunggu waktu untuk jatuh?

Tapi berpikir seperti itu mungkin melelahkan, sehingga humor bisa jadi lebih mudah dan menjadi benteng terakhir orang-orang yang menolak terlihat rapuh.

Lama setelah percakapan itu berlalu, setelah layar ponsel kembali gelap, saya masih berpikir tentang kata-kata terakhirnya.

"U udah cerita ke Mimi?" tanya saya akhirnya, mengetik dalam keheningan yang terlalu panjang.

"Udah. Tapi aku juga nggak cerita yang detilnya. Cuma bilang udahan."

Ada jeda sebelum pesan berikutnya muncul.

"Jumat pagi pas lagi siap-siap tiba-tiba Mimi nanya hari Minggu aku dan cowo ini pelayanan nggak. Aku bilang engga. Gitu kan, terus Mimi bilang Mimi mau panggil. Terus aku kayak Aigoooo. Yaudah akhirnya aku bilang nggak usah, Mi. Udahan. Kapan? Semalem. Terus kurang lebihnya aku ceritain tapi nggak yang secerita itu juga. Terus Mimi, as expected, mau nanya-nanya terus kan. Tapi akunya udah males ngomongin orang itu lagi. Jadi aku bilang udah, Mi, I nggak mau bahas cowo itu lagi. Fin. Gitu akhir ceritanya."

Ibu memang sering bisa membaca apa yang terjadi pada anak-anaknya.

Saya membaca pesannya perlahan. Ketika seseorang memilih kata "Fin," itu berarti mereka sedang meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya benar-benar selesai.

Lalu, seolah ada sesuatu yang baru saja diputuskan di dalam dirinya, Cey mengetik lagi: "Yang sekarang sepertinya aku lebih tegar karena banyak yang konfirmasi buat udahan saja. Sampai stranger. Like totally stranger."

Saya mengangkat alis kemudian bertanya ragu, "Jadi yakin nggak akan balikan? Udah berapa tahun pacaran?"

Ada jeda sebentar sebelum jawabannya muncul.

"Pretty sure wkwk. Like forever. Been with him like for 29 years."

Saya mendengus kecil. Orang-orang suka melebih-lebihkan waktu, seolah angka yang lebih besar bisa membuat segalanya terasa lebih dramatis.

Padahal di tengah waktu yang terus bergerak, ada kemungkinan di suatu titik, entah direncanakan atau tidak, langkah dua orang yang terpisah bisa saja bertaut kembali. Pertemuan itu mungkin canggung di awal, dipenuhi pertanyaan yang enggan terucap. Atau justru terlalu akrab, seakan keakraban yang dulu tak pernah benar-benar hilang.

Namun pertemuan kembali bukan selalu membawa jawaban, sebagaimana perpisahan bukan selalu tentang kehilangan. Cepat atau lambat, waktu akan memberi bentuk baru pada yang tersisa. Bisa jadi luka yang sudah mengering, atau kenangan yang tak ingin diulang.

"U mau pindah gereja?"

"Wish I could. Tapi kayaknya susah."

Saya berpikir sejenak sebelum mengetik.

"Iya sih. Pindah agama lebih gampang, Cey. Nanti gw ajarin bahasa Arab 🤣."

Balasan cepat.

Tawa.

Dan sejenak, semuanya terasa ringan.

Pada akhirnya, kehilangan bukan tentang menghapus atau menggantikan. Ia tentang refleksi dan mengambil pelajaran hidup dari katastrofe yang menyertainya. Ia tentang memahami diri sendiri, memahami orang lain dan menjadi lebih bijaksana. Untuk mencapainya, kita hanya perlu menunggu, bergerak, dan menerima bahwa segala sesuatu punya musimnya sendiri.

Saya menyudahi percakapan itu walaupun tahu, di balik layar, sesuatu masih tersisa. Sesuatu yang tidak bisa dihapus dengan candaan. Sesuatu yang akan tetap ada, bahkan setelah baterai ponsel mati.







Senin, 24 Februari 2025

Lelaki yang Kalah oleh Sesuatu yang Tak Pernah Ia Tahu Bagaimana Menghadapinya

Suara Hana di ujung telepon terdengar berat, seperti menahan ombak yang mendesak keluar tapi dipaksa surut. "Hana boleh main ke rumah?" tanyanya dengan nada yang hati-hati. Ada sesuatu di balik suaranya, beban yang mungkin tidak bisa ia bagi lewat telepon.

Saya menyambutnya di depan rumah dengan riang. Ia berusaha meniru keriangan itu, tapi gagal menyembunyikan bayangan gelap di wajahnya. Mata Hana berbicara lain—ada mendung yang menggantung.

"Ayo masuk!" kata saya, membuka gerbang selebar mungkin.

Di dalam, ia duduk dengan punggung yang tertunduk, tangan menggenggam lutut seakan takut terhempas oleh kenyataan yang semakin tidak ia kuasai. Lima belas menit berlalu, suaranya mulai gemetar.

Lalu tangis itu pecah.

"Seto menceraikan Hana. Pake... surat yang dikirim gosend."

Saya terdiam. Ia bercerita tentang talak tiga. Dalam kepala saya; itu bukan keputusan yang bisa diralat dengan permintaan maaf. Itu adalah vonis yang tidak menyisakan ruang untuk penyesalan.

Pagi itu, Seto pergi bekerja seperti biasa, Hana bercerita. Namun, sore harinya bukan dia yang pulang, melainkan sepucuk surat. Keputusan yang datang tanpa peringatan, menyisakan keheningan yang lebih tajam dari kemarahan.

Sejak malam itu, Hana mencari ke mana-mana. Kantor, rumah orang tua Seto, teman-teman yang mungkin tahu sesuatu. Setiap telepon tak berjawab, setiap pintu yang diketuk hanya membawa kepastian bahwa Seto menghilang.

Lima malam berlalu sebelum akhirnya Seto kembali. Tapi ia tidak datang sendiri. Bersamanya, keluarga dan Pak RT menemani sebagai saksi. Di tangannya, surat cerai dengan tanda tangannya di atas materai—tidak lagi sekadar ancaman, melainkan kepastian.

Malam itu, Hana berulang kali meminta maaf, memohon dengan suara yang pecah di antara isakan. Tangannya mencengkeram lengan Seto, seolah masih ada cara untuk menahan yang sudah lepas. Tapi Seto tak bergeming. Tak ada suara keras amarah, tak ada dendam—hanya keputusan yang tak bisa diubah.

Di depan semua orang yang hadir, Seto meminta maaf pada keluarga Hana. Ia bilang bahwa dalam delapan tahun hubungan rumah tangga mereka, ia merasa telah gagal menjadi imam yang baik, ia merasa gagal mendidik Hana.

Hana terus memeluknya, berharap kehangatan bisa mengubah segalanya. Namun, benang layang-layang yang sedang terbang tinggi sudah digunting, ada keputusan yang, sekali diucapkan, tak bisa ada jalan kembali.

Saya dan istri mengenal Seto cukup baik. Kami pernah berbagi kantor, berbagi cerita tentang hidup. Saya tahu dia orang yang logis, tapi logika manusia sering tersandung oleh kelemahan yang tak pernah kita akui.

Hana mulai bercerita lebih jauh—tentang delapan tahun tanpa anak, mertua yang tak pernah puas, pertengkaran yang kian menumpuk menjadi bom waktu. Semua luka kecil itu akhirnya meledak bersama surat yang ia pegang sore itu.

Saya dan istri hanya bisa mendengarkan. Menjadi saksi bagi rasa sakit yang tak bisa kami perbaiki, atau mungkin juga ia perbaiki.

"Jadi, Hana maunya apa?" tanya saya pelan.

"Hana mau balikan," katanya, suaranya masih bergetar. "Hana akan berubah. Hana akan minta maaf."

Saya menarik napas panjang, berusaha memilih kata yang tidak menyayat harapannya. "Talak tiga itu... gak main-main, Han. Kalau rujuk, syaratnya rumit. Kadang yang paling baik itu biarin waktu yang nyembuhin."

Hana menunduk, menyadari bahwa kenyataan tak semudah harapan. Tangisnya sudah mereda, tapi matanya tetap basah oleh kerinduan yang tidak tahu ke mana harus berlabuh.

"Seto udah tiga bulan gak pulang," bisiknya pelan. "Hana kangen..." Tangis itu kembali pecah, lebih lirih.

"Gak papa nangis," kata saya menenangkan. "Gak papa kangen. Nangis dan kangen aja sepuasnya. Tapi jangan nyerah, apalagi membenci diri sendiri. Hidup harus terus berjalan."

Kata-kata itu mungkin terasa hampa di telinganya, karena saya tahu tidak ada yang bisa benar-benar menenangkan seseorang yang hatinya hancur.

Setelah benar-benar tenang, ia kembali bertanya, "Kok cowok bisa gitu ya?"

Saya ingin tertawa, bukan karena itu lucu, tapi karena seringnya saya mendengar pertanyaan itu. Seolah semua laki-laki punya cara yang sama untuk mengatasi masalah —pergi tiba-tiba, keputusan yang tidak bisa dibantah, ketidakpedulian yang menyamar sebagai pengakuan kegagalan.

Tapi saya juga tahu, ini bukan cuma tentang Seto. Ini tentang luka yang lebih dalam, luka yang tak pernah benar-benar punya satu wajah.

Seto mungkin bukan lelaki jahat. Ia hanya lelaki yang kalah oleh sesuatu yang tak pernah ia tahu bagaimana menghadapinya: kegagalan. Dan saya tahu, tidak ada yang lebih menakutkan bagi seorang lelaki selain perasaan bahwa ia telah gagal—gagal sebagai suami, gagal memenuhi harapan keluarga, gagal menjadi sesuatu yang ia janjikan dulu.

Saya menarik napas. "Han, bukan cuma cowok yang bisa gitu. Semua manusia bisa gitu."

Ia diam, menunggu penjelasan lebih panjang.

"Kita semua punya cara bertahan masing-masing. Ada yang bertahan dengan menghadapi, ada yang bertahan dengan lari. Ada yang memilih diam karena takut menyakiti, tapi justru akhirnya lebih menyakiti."

Hana diam, matanya kosong tapi saya tahu pikirannya penuh. Mungkin mencoba memahami. Mungkin ingin membantah.

Sejujurnya, saya tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: ditinggalkan karena seseorang tidak lagi mencintai kita, atau ditinggalkan karena seseorang terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ia tidak bisa memperjuangkan kita?

Dalam kesadaran yang mulai tumbuh, Hana bertanya realistis, "Jadi kalau ada temen-temen yang tanya, Hana jawab gimana?

Saya tahu ini bukan sekadar soal menjawab pertanyaan orang lain. Ini tentang bagaimana ia menghadapi dunia yang kini melihatnya berbeda. Tentang bagaimana menerima kenyataan bahwa, suka atau tidak, akan selalu ada tatapan iba, bisik-bisik di belakang, atau mungkin yang lebih sering; penghakiman.

Ia takut akan label yang kini melekat padanya. Janda. Kata yang bagi banyak orang masih terdengar seperti cap, bukan sekadar status.

"Sebaiknya jujur," kata saya akhirnya. "Tapi gak harus cerita semuanya. Cerita ke yang Hana percaya aja."

Ia mengangguk, meski masih tampak ragu. Seakan sedang menguji apakah kata-kata saya cukup untuk meredakan beban yang menggumpal di dadanya.

Saya tidak tahu apakah ada cara benar untuk merespons kehilangan seperti ini. Tapi mungkin, seperti luka lain dalam hidup, ia hanya perlu waktu—waktu untuk menerima, waktu untuk menyusun ulang dirinya, waktu untuk menyadari bahwa 'gagal' bukan akhir dari segalanya.

Di luar, angin bertiup pelan, membawa suara azan magrib yang mengalun bersahutan. Dunia tetap berjalan, seperti tak ada yang terjadi. Bumi tetap berputar, matahari tetap terbit dan tenggelam. Sementara di sini, di dalam rumah kecil ini, ada hati yang remuk tanpa ada yang tahu.

Satu hal yang saya tahu adalah bahwa setiap orang membawa luka masing-masing yang kadang tidak terlihat: perceraian, kehilangan anak, dipecat dari pekerjaan, atau hidup tanpa pasangan—semua adalah medan perang batin yang tak pernah bisa dibandingkan. Dari luar, orang-orang tampak baik-baik saja, tersenyum dan bercanda. Tapi di dalam, mereka berperang melawan trauma.

Sampai akhirnya setiap manusia sadar bahwa segala cobaan adalah pengingat betapa kecil dan rapuhnya mereka. Bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki, karena pada akhirnya semua akan kembali pada-Nya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kamis, 06 Februari 2025

Kembang Api Kebahagiaan

"Berapa duit habis buat petasan, ya?" gumam beberapa jamaah, pandangan mereka terpaku ke langit yang terus bergemuruh. Kembang api mekar di udara, memercikkan cahaya yang riuh, menyulap malam di atas masjid menjadi panggung meriah selepas salawat kepada Rasulullah dibacakan. Ledakan terakhir seolah menyatu dengan suara hujan yang turun perlahan, membasuh kubah masjid, lalu mengalir dari atap ke tanah yang semula kering.

Kiai mengenang kejadian di masjid beberapa saat lalu. Njay, yang tahu betul situasinya, berkomentar pelan, "Saya jadi nggak enak, Kiai. Soalnya makanan buat acara ini cuma sekadarnya."

Kiai tersenyum lembut, seolah mengendapkan setiap kata sebelum mengucapkannya. "Kesenangan orang beda-beda," ujar Kiai akhirnya, suaranya pelan tapi penuh makna. "Ada yang senang nyumbang makanan, ada yang senang nyumbang petasan. Petasan itu bukti senangnya dia sama acara ini. Itu buroqnya dia."

Kami yang mendengar jawaban itu terdiam, berusaha menangkap maksud Kiai. Buroq—kendaraan cahaya dalam kisah Isra Miraj, membawa Rasulullah melintasi langit dalam perjalanan spiritual yang agung. Kini metafora itu menjelma dalam kembang api yang tadi menyala, menjadi simbol kegembiraan manusia yang mungkin tampak sederhana, tapi punya makna dalam cara masing-masing.

Hujan semakin deras, namun dalam hati kami ada sesuatu yang menghangat—sebuah pemahaman baru bahwa setiap bentuk syukur punya caranya sendiri untuk sampai ke langit.

Allahumma shalli 'ala Muhammad



Minggu, 05 Januari 2025

Mengapa Pendidik Perlu Menulis?

Menjawab pertanyaan mengapa pendidik perlu menulis sebenarnya sangat mudah. Bahkan, jika pertanyaan ini diajukan kepada profesi lain, jawabannya juga sama mudahnya. Namun, saya ingin menunda jawaban tersebut hingga akhir tulisan. Sebab, pada awal ini, saya lebih tertarik membahas alasan-alasan yang sering saya dengar mengapa banyak pendidik tidak menulis.

Salah satu keluhan yang kerap muncul di kelas menulis adalah: “Mengapa saya tidak punya ide untuk menulis?” Sejujurnya, saya sulit menjawab pertanyaan ini karena menurut saya, pertanyaan tersebut tidak logis. Setiap orang yang mampu berpikir pasti memiliki ide, apalagi seorang pendidik yang setiap hari menghadapi berbagai situasi di kelas. Jika ide dipahami sebagai gagasan, keresahan, atau sesuatu yang ingin dibagikan, maka sulit membayangkan seorang pendidik tidak memilikinya. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Bagaimana cara memilih ide yang tepat untuk dituliskan?”

Cara yang sering saya lakukan adalah brainstorming. Tulis semua ide yang muncul di kepala tanpa menyaringnya. Proses ini bisa dilakukan sendiri, bersama rekan, atau bahkan dengan bantuan AI. Jangan takut jika ide tersebut terasa terlalu besar, terlalu kecil, mentah, atau belum sempurna. Kuncinya adalah membebaskan diri dari tekanan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna sejak awal. Setelah itu, pilihlah ide yang paling menarik atau paling relevan dengan kebutuhan. Fokus pada topik yang dekat dengan pengalaman atau minat pribadi. Menulis dari hati tentang sesuatu yang kita kuasai akan membuat prosesnya lebih menyenangkan.

Sebaliknya, beberapa pendidik mengeluhkan, “Saya punya banyak ide, tapi kenapa sulit untuk menuangkan ke dalam tulisan?” Solusinya sederhana: menulis buruklah! Bukan, ini bukan sinisme. Menulis buruk berarti membebaskan diri dari rasa takut salah. Kesulitan menuangkan ide dalam tulisan sering terjadi karena ketakutan kita akan menulis buruk, typo, tidak terstruktur dan lain-lain. Jangan takut menulis buruk, karena kita masih punya waktu untuk memoles tulisan itu menjadi lebih baik. Jangan takut menulis buruk, karena penulis yang tidak pernah menulis buruk biasanya tidak pernah menghasilkan apa-apa. Menulislah buruk dan cepat, karena itu akan menyelamatkan kita pada dua hal yang tidak perlu; membuang waktu dan mood yang jelek.

Beberapa guru yang sadar akan pentingnya menulis kemudian bertanya, “Sebagai pendidik, apa yang sebaiknya saya tulis?”

Sebagai pendidik, salah satu sumber tulisan terbaik adalah pengalaman di kelas. Kisah-kisah tentang menghadapi siswa yang sulit, strategi mengatasi anak pemalu, atau keberhasilan siswa yang menginspirasi adalah contoh topik yang sangat bernilai. Selain itu, pendidik dapat menulis tentang metode pengajaran yang inovatif, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, atau hasil penelitian pendidikan.

Tulisan-tulisan ini tidak hanya bermanfaat bagi guru lain, tetapi juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi siswa, orang tua, dan bahkan pembuat kebijakan. Kita hidup dalam ekosistem pendidikan, di mana pengambil keputusan sering tidak memahami dinamika di dalam kelas, tulisan pendidik bisa menjadi jembatan penting untuk menjelaskan tantangan dan peluang yang nyata.

Saya mengerti bahwa pendidikan merupakan bidang yang kompleks, sehingga sulit dirangkum dalam penjelasan singkat dalam tulisan. Tidak heran jika sebagian pendidik merasa ragu atau kurang percaya diri untuk menulis. Namun, setiap guru sejatinya telah menulis, baik dalam bentuk rencana pembelajaran (lesson plan), catatan evaluasi, maupun komunikasi dengan siswa dan orang tua. Oleh karena itu, suka atau tidak, kita harus sama-sama mengakui bahwa semua pendidik adalah penulis.

"Tapi sebagai guru yang sibuk dengan kegiatan mengajar, bagaimana cara efektif mengatur waktu agar tetap bisa menulis?"

Ya, secara pribadi saya mengenal beberapa kawan guru yang sangat sibuk. Saya juga mengerti bahwa mendidik adalah profesi yang menuntut banyak waktu, sehingga menemukan waktu untuk menulis bisa menjadi tantangan, tetapi bukan hal yang mustahil. Kata kuncinya adalah menjadikan menulis menjadi prioritas. Kita sering menjadikan menulis sebagai iseng-iseng atau hobi waktu senggang, sehingga mengerjakannya tidak menjadi prioritas. Anggap saja menulis itu sebagai hal yang wajib seperti salat. Sehingga ketika ada hal yang kita pikirkan, ide mengajar, keresahan dan lain sebagainya, kita akan lebih fokus dan merasa wajib untuk menulisnya.

Menjadikan menulis sebagai kebiasaan harian, seperti menyisihkan 10 menit untuk membuat jurnal, bisa menjadi langkah awal yang sederhana. Kesibukan setiap orang berbeda-beda, sehingga waktu yang sesuai untuk menulis pada setiap orang juga berbeda-beda. Bereksperimenlah dengan waktu-waktu berbeda untuk melihat saat paling produktif dan kreatif. Teknik seperti Pomodoro, di mana kita menulis selama 25 menit lalu beristirahat selama 5 menit, juga bisa membantu meningkatkan fokus dan produktivitas. Hal yang utama adalah menemukan waktu yang paling cocok dan membuatnya menjadi bagian dari rutinitas harian.

"Ya, saya mulai terpacu untuk menulis dan sejujurnya saya ingin menjadi penulis buku, tapi saya merasa tidak berbakat dalam menulis."

Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia tidak berbakat dalam menulis? Karena sejak kecil ia tidak suka menulis? Atau karena baginya menulis itu membosankan dan sama sekali tidak menyenangkan? Atau karena ia penah mencoba beberapa kali membuat tulisan tapi ternyata tidak bagus atau gagal? 

Karena alasan-alasan itu kemudian seseorang menyimpulkan bahwa ia tidak berbakat menulis.

Oke, sekarang bayangkan jika logika yang sama diterapkan pada membaca. Apakah sebagai guru, ketika kita melihat anak yang kesulitan membaca, yang mengatakan bahwa membaca tidak menyenangkan, bahwa ia pernah mencoba beberapa kali membaca dan tidak menyukainya, kita akan menyerah? Kemudian kita katakan kepadanya ia bukan anak yang berbakat membaca. Kemudian kita tidak memotivasinya, tidak pernah mencoba mencari cara agar membaca lebih menyenangkan, menyingkirkan semua buku serta tugas membaca yang menantang selama-lamanya karena kita telah melabeli bahwa ia tidak berbakat membaca. Sebagai orang tua atau guru, tentu kita tidak akan melakukan itu kan? Lalu mengapa terkadang kita melabeli bahkan pada diri kita sendiri hal yang sama dalam hal menulis?

Menulis sering dianggap sebagai bakat langka yang diwariskan, padahal tidak demikian. Merasa tidak berbakat menulis adalah hal yang biasa, tetapi keterampilan ini dapat diasah. Beberapa waktu lalu saya kembali membaca tulisan-tulisan dalam diary yang saya tulis bertahun-tahun yang lalu, dan saya menyimpulkan bahawa tulisan saya buruk dan saya tidak berbakat menulis. Untungnya, dulu guru saya tidak pernah bilang itu, melainkan ia bilang kalau saya adalah pencerita yang baik, sehingga saya percaya saja bahwa saya pandai bercerita, bahwa saya pandai menulis. Sekarang saya sudah menulis belasan buku, dan saya selalu ingat apa yang pernah dikatakan Ernest Hemingway, “It's none of their business that you have to learn how to write. Let them think you were born that way.”

"Lalu bagaimana cara menulis dengan baik?"

Ada empat langkah untuk memandu proses menulis dengan baik: percaya, memahami, membuatnya menyenangkan, dan berlatih dengan efektif.

Percayalah menulis itu keterampilan yang bisa dipelajari sebagaimana keterampilan lain seperti membaca dan bicara. Keyakinan seorang bahwa ia bisa menulis dapat mengubah mentalnya. Keyakinan menciptakan reaksi berantai: keberanian, usaha ekstra, dan kesuksesan. Semua kita mungkin pernah dan akan menghadapi kesulitan menulis pada suatu saat, tetapi keyakinan membantu kita bertahan.

Pahami bahwa menulis bukanlah beban. Menulis adalah sarana untuk membantu pendidik mengasah kemampuan refleksi, meningkatkan pemahaman diri, serta memperkuat keterampilan kognitif dan sosial-emosional. Aktivitas ini juga meningkatkan empati, karena pendidik dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi oleh siswa.

Pahami topik yang akan ditulis dengan baik, pahami juga struktur tulisan, lakukan penelitian mendalam, dan buat kerangka tulisan yang sesuai. Setelah menyelesaikan draf pertama, baca kembali tulisan itu kemudian perbaiki kesalahan tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat. Pastikan argumen jelas dan didukung dengan fakta. Jangan ragu untuk merevisi dan mengedit tulisan agar lebih baik.

Menulis adalah aktivitas yang menenangkan di tengah kesibukan dan ketidakteraturan dalam pekerjaan serta kehidupan. Bagi saya, waktu menulis adalah saat yang paling menyenangkan dan tenang di hari yang penuh dengan berbagai tugas. Sayangnya, banyak dari kita yang sejak kecil mengalami menulis sebagai sesuatu yang menegangkan, akibat proses pendidikan yang memaksa dan tidak membebaskan. Ubahlah mindset dari menulis adalah beban tugas yang harus diselesaikan, menjadi menulis sebagai sarana untuk berekspresi dan mengendalikan diri.

Latihan yang menarik dan menyenangkan sangat penting untuk menjaga motivasi. Latihan dan ketekunan adalah kunci untuk menulis dengan baik, bukan bakat yang tinggi. Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan ditingkatkan dengan latihan.

Mulailah dari hal kecil seperti menulis catatan harian atau refleksi singkat. Baca lebih banyak buku untuk memperkaya kosa kata dan gaya menulis. Minta umpan balik dari teman sejawat atau bergabung dengan komunitas menulis. Yang terpenting, nikmati prosesnya dan jangan takut melakukan kesalahan—kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Percayalah! Dengan tekad dan latihan, siapapun bisa mengembangkan keterampilan menulis dan mencapai impian menjadi penulis buku.

Jadi kembali ke pertanyaan awal, “Mengapa pendidik perlu menulis?”

Karena menulis adalah salah satu keterampilan utama yang dibutuhkan di masa depan, dan karena itu semua siswa didik perlu menguasainya. Cara yang paling efisien untuk menekankan keterampilan ini adalah pendidik meneladankan pentingnya menulis kepada siswa didik. Guru yang menulis bersama muridnya mengajarkan bahwa menulis adalah bagian penting dari pembelajaran dan kehidupan.

Karena tulisan pendidik, baik berupa refleksi, laporan, atau rencana aksi, dapat menjadi rujukan berharga dalam kolaborasi dengan rekan guru, orang tua, dan pihak lain. Kritik, diskusi, dan inkuiri yang muncul dari tulisan guru membuka peluang untuk merancang langkah bersama yang lebih efektif.

Ayo jadikan menulis sebagai bagian dari identitas pendidik. Adagium arab menyatakan bahwa konsistensi lebih berharga dari seribu karomah, sementara guru saya pernah bilang, “Jika kamu tidak tahu, maka belajar. Jika kamu tahu, maka ajarkan.” Hal itulah yang harus dilakukan secara konsisten sepanjang hidup; belajar dan mengajar. 

Sebaik-baiknya pelajar sepanjang hayat adalah juga penulis sepanjang hayat. Dengan menulis, pendidik tidak hanya meneladankan nilai belajar tanpa henti, tetapi juga membuka pintu bagi perbaikan yang lebih luas demi kepentingan siswa dan masa depan pendidikan.

Wallahu 'Alam Bissawab