Halaman

Selasa, 07 April 2026

Hal Yang Saya Rekam dalam Ingatan dan Bukan Video Saat Mengingat Aira

Ada satu hal yang diam-diam membuat saya sering merasa berada di luar lingkaran para digital native: kebutuhan mereka untuk merekam hampir segalanya. Momen kecil, momen besar, bahkan momen apapun, seperti harus disimpan, kalau bisa, dalam bentuk video.

Saya datang dari generasi yang berbeda. Generasi yang tumbuh tanpa internet, tanpa smartphone, main di luar, nonton TV yang harus ditunggu jam tayangnya. Namun juga belajar pakai email, media sosial, dan teknologi saat sudah cukup dewasa untuk “mengerti perubahan”. Generasi yang lebih akrab dengan ingatan daripada penyimpanan. Para sosiolog menyebut kami Xennial (lahir antara 1977–1985). Lagi pula, ponsel saya sering penuh, alasan teknis yang pasti bukan utama. Sejak kecil, saya tidak pernah terbiasa mengabadikan hidup dengan kamera. Maka kebiasaan itu tidak tumbuh menjadi karakter.

Suatu malam, sepulang kerja, saya membuka pintu rumah dengan tubuh yang masih menyimpan lelah. Belum sempat saya melangkah masuk, suara Aira (8 tahun) meletup di depan saya.

Ia melompat kecil, menebarkan potongan-potongan kertas kecil, yang sebelumnya ia potong sendiri, ke udara sambil tertawa riang. Kertas itu berjatuhan pelan, seperti hujan slow motion. Di wajahnya, senyum lebar yang nyaris tidak muat di pipinya sendiri.

“Selamat datang!” katanya, dengan suara yang dibuat sedikit lebih tinggi.

Di kepalanya, sebuah topi chef putih —terlalu kecil untuk kepalanya— direkatkan di tengah kepala dengan solasi yang masih terlihat jelas di sisi-sisinya. Ia memegangi topi itu dengan gerakan cepat agar tidak jatuh, lalu membuka jalan kecil di depan pintu.

“Mau pesan apa?” tanyanya, sambil memegang notes kecil dan pensil, berperan seperti pelayan restoran.

Saya melangkah masuk. Di dinding dekat meja makan, ditempel huruf-huruf berwarna yang sya tahu ia gunting sendiri. Tulisan tangan yang belum rapi, tapi penuh usaha: selamat datang.

Rumah malam itu berubah menjadi sesuatu yang bukan sekadar tempat pulang, tapi panggung kecil tempat imajinasi seorang anak berakar dan mekar.

Saya berdiri sebentar, memperhatikan semuanya. Potongan kertas di lantai. Topi chef yang terlalu kecil. Mata yang menunggu respon. Dan anehnya, tidak ada satu detik pun dari kejadian itu yang saya pikirkan untuk direkam.

Tidak ada dorongan untuk mengambil ponsel. Tidak ada refleks untuk mengabadikan. Bahkan, keinginan itu tidak sempat lahir. Momen itu datang, tinggal, lalu menetap bukan di galeri, tapi di sesuatu yang lebih sunyi; hati.

Mungkin di situlah letak perbedaan yang sering tidak saya sadari. Bagi sebagian orang, kenangan terasa lebih nyata ketika bisa diputar ulang. Bagi saya, justru sebaliknya, ia menjadi lebih hidup ketika tidak bisa diulang.

Karena yang tidak direkam, sering kali tidak benar-benar hilang. Ia hanya memilih tempat tinggal yang berbeda. Dalam hal ini dalam ingatan dan tulisan saya.

Dan malam itu, saya tahu, kenangan itu tidak akan pernah saya tonton kembali, tapi juga tidak akan pernah selesai saya ingat.