Halaman

Rabu, 15 April 2026

Manusia: Bahkan Ketika Dalam Keadaan Baik Saja Masih Membawa Keburukan

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah menjelaskan hakikat manusia dengan mengutip Kitab Al-Hikam. Menurut beliau, kitab tersebut menerangkan bahwa manusia adalah makhluk yang bahkan ketika berada dalam kondisi baik sekalipun, masih membawa unsur keburukan—apalagi saat sedang berada dalam keadaan buruk.

Untuk menjelaskan hal itu, Gus Baha memberi contoh sederhana, “Misalnya, jenengan punya toko yang laris manis. Itu prestasi atau bukan?” tanya beliau kepada hadirin.

“Prestasi,” jawab hadirin serempak.

Gus Baha lalu melanjutkan, “Sekarang coba tanyakan ke toko sebelah.”

Hadirin pun tertawa. Gus Baha ikut tersenyum, lalu menambahkan, “Atau ketika Anda naik pangkat, itu memang baik. Tapi coba tanyakan kepada orang yang Anda langkahi.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa dalam ilmu sosial, hampir selalu ada masalah yang menyertai setiap capaian. Tidak ada kebaikan sosial yang benar-benar bersih tanpa konsekuensi.

Gus Baha lalu berkisah, “Pernah ada orang bertanya kepada saya, ‘Gus, doakan saya supaya jadi orang kaya raya. Nanti saya akan merawat seribu anak yatim.’ Saya jawab, ‘Dasar orang kaya bodoh.’”

“Kok bisa, Gus?” Gus Baha menirukan pertanyaan orang tersebut, “Karena kalau Allah mengabulkan doa itu, berarti harus ada seribu bapak yang meninggal terlebih dahulu agar anak-anak itu menjadi yatim.”

Hadirin pun tertawa, mencerna logika yang disampaikan. Gus Baha tersenyum, lalu melanjutkan, “Begitu juga orang yang berdoa, ‘Ya Allah, jadikan saya kaya supaya bisa merawat seratus miliar orang miskin.’ Itu sama saja dengan mendoakan agar ada seratus miliar orang dimiskinkan terlebih dahulu. Ada unsur buruknya atau tidak?”

“Ada,” jawab hadirin serempak.

Gus Baha pun menutup dengan penegasan yang dalam, “Maka asal urusan sosial itu, pasti memiliki sisi gelap yang menyertainya. Karena itu, semua amal sosial semata tidak mungkin cukup untuk membawa kita ke surga. Yang benar-benar bisa mengantarkan kita ke surga abadi hanyalah fadhl—karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.”