Halaman

Sabtu, 17 September 2011

Life is a Small Journey: A Contemplation

It was an ordinary morning. I got up and thanked for my health. I also thanked for everything that Allah had given in that morning. After finishing my ‘morning duty’, I opened the door. The air touched my face and made it fresher. In the garden, the wind blew the leaves on the trees. It looked like ‘morning waving’ for me. The sun shined through the leaves and made the abstract shadow on the floor while my neighbor hens were crowing. All of those conditions made the morning perfect.

Yup, it was a perfect ordinary morning. I was thinking to travel around. It was Sunday, the day that I called ‘the day when the conscience fights with the loneliness’.

I was talking to myself, “Where am I going to go?”

I didn’t decide exactly where I wanted to go. Let Allah lead my hands to ride my motorcycle to somewhere.

I checked everything on my motorcycle, so I hoped there was no troubles on the road. Then, I rode my motorcycle through the morning air. After passing Inkopol, I passed the Patriot Raya Street. It was an alternative street, very strategic to run a business. On the right and the left of the street there was a lot of motorcycle washing services, restaurants, mini markets, Warnets and so on.

Not so long, I arrived at Pasar Kranji Baru; dirty, broken and bad smell. I didn’t want to get in there, so I passed it through Pemuda Street to Pasar Kranji Ujung that was being renovated. I stopped at the traffics light. While waiting the lamp turned green, I whistled. There was a little transportation in that morning. The air was still clean to breathe. Every other time, I heard ojek man giving their ride to employees that got off the bus. They showed their tired faces.  The voice of people blended with the transportation sound. The condition was lively. It was the real life. It was not imitated reality.

The light turned green, and I continued my journey. I turned right and passed the Grand Mall Bekasi. I finally passed Jl. Jend. Sudirman. I still rode through happily on my bike until I got into GOR Bekasi traffic light. The street was like the capital letter of ‘T’ in enormous size. The light was red, and I looked around. On my left there was a gas station.  On my right, there was a couple on Honda Tiger; the girl at the back was holding the rider tightly.  Every other time they whispered and every other time they laugh. The little street singer with his little guitar was singing in a Koasi. Opposite it, there was a woman beggar that carried a baby. There was also an old woman beggar holding a plastic bowl where people put in the charity.

Hoooonnkk!!!. The sound of a horn car behind me realized that the light was green. It meant I had to go. I went straight with the shocking.

Finally I arrived in Bekasi train station. I arrived in a roundabout called Bulan Bulan. There used to be a cat fish statue in the middle of that roundabout. But some people burnt the statue few years ago.

There were many things I remembered from the place. For me, Bulan Bulan and the streets around it especially Jl. Ir. H. Djuanda is my childhood memory. It was the place where I spent my childhood and my teens. Not far from it there was a place named Proyek. It is a downtown area. From far away, you could see there were many shop rows on the right and the left street. They seemed to say: ‘Welcome to Bekasi! May you have a great and enjoyable journey!’

For me, the place around Bulan Bulan is the real Bekasi. The place where I used to go jogging in the morning, take a train, or only take a journey without purpose like right now. It was like enjoying life in the past time, life in the childhood. It was the period when I didn’t think about the big problems. I had been still afraid to do a sin or maybe I hadn’t thought about the sins yet.

On Jl. Ir. H. Djuanda also lies Pesantren Annida Al Islamy, the place where I had stayed for 6 years, the place where it had given me a deep impression, the place where I had improved, developed, studied and grown up until now, where the foundation of my mind was formed. 

Time became more melancholic when it passed, when it became past time and was remembered, when it was proudly told as a ‘pleasure time’ story to new friends.  The past time always reminds me there isn’t an eternity in the world. Everything has an end. Everything! No exception. It is really true that it is hard to realize that someday people around us will go away and disappear, that they cannot always be with us. Yeah, it is always like that. However, that is our life…

I had a thought that become a traveler is sometimes fun. I can go everywhere; go to the place where my physic and my mind fight against each other, meet many new friends without always be with them, without being afraid to became loneliness. I can live freely; can enjoy my whole life, a life without hate and sorrow.

But in fact, many people see the same people everyday. Until some people became a part of the other people. And like it or not, the other people seem more to know how the other people must act. And the fact is I am not such as the traveler. So I just have an ordinary life. But I know there are lots of things I proudly tell about my life, there are lots of people in my life that I love and admire —because they deserve it.

This is small, but valuable.

Kau ada

Pada selembar pagi
cobalah pergi ke kebun belakang
dimana suara burung dan alam merdu terdengar

sesekali cobalah bangun pada tengah malam
ketika degup jantungmu jernih berdebar

bukan untuk apa
tapi tuk pikir dan renungi
bahwa Kau ada

Bekasi, 6 September 2007



Jumat, 16 September 2011

Agama dan Kebebasan Berpikir

Pernah ada seorang temen yang SMS ngasih tau tentang sebuah acara di sebuah stasiun TV yang diduga bermuatan misionaris nasrani. Dia menulis dalam SMS: Hati-hati karena acara itu bisa menghipnotis. Tolong sebarkan ke teman-teman yang lain.
Saya jawab SMS-nya, “ah masa?”
“Iya bener. Kata temen gue, temennya dia pernah ada yang masuk kristen. Dia sedih banget. Karena itu temen baiknya.”
“Oh… kalo ketemu temen lo salam dari gue ya. Bilangin jangan sedih.”
“Iya.”
“Bilangin juga. Tuhan aja punya anak satu-satunya masuk kristen gak sedih, masa dia sedih si…  Hehehe…”
….
Gak ada jawaban.
Secara garis besar, begitulah keberagamaan kita. Segalanya dicurigai. Tapi daripada berdebat dengan orang lain, saya lebih seneng berdiskusi dengan diri sendiri. Dalam tulisan ini, tentunya.
A: Apa lo udah sangat yakin dengan kepercayaan lo yang sekarang?
B: Sedang dalam keadaan. Berproses. Keimanan dalam diri gue bisa bertambah, berkurang atau hilang. Sekarang gue sedang berproses.
A: Lo sering mempertanyakan keimanan sendiri? Apa ngak takut kalo nanti iman lo beralih?
B: Iman yang rapuh adalah iman yang gak pernah digoncangkan, kawan!
A: Ah, lo bisa bilang gitu kan karena lulusan pondok. Basic agama lo udah kuat.
B: Gak juga. Banyak juga temen-temen gue sesama anak pondok yang punya basic keilmuan agama yang sama tapi bersikap lebih ekstrem. Itu semua tergantung sejauh mana kita mampu membuka hati dan pikiran untuk objektif memandang masalah. Ini bukan masalah anak pondok atau bukan. Ini masalah keyakinan dan perbedaan pendapat.
A: Trus, lo nyaman berpikir kayak gitu?
B: Ya, gue ngerasa lebih santai dan rileks menghadapi segala caci maki. Paling gak itu yang gue rasain.
A: Ah, lo liberalis! Jenis orang-orang yang berpikir semaunya. Tanpa batas. Gak tau apa kalo pikiran itu ada batasnya?!
B: Oh, come on! Jangan emosi gitu dong. Dalam Islam batasan perbedaan itu sangat jelas, kita ngak akan menyembah apa yang mereka sembah dan mereka pun ngak akan menyembah apa yang kita sembah. Akidah kita berbeda. Agama kita dan agama mereka berbeda. Mari hormati perbedaan itu. Dan sebatas itulah pikiran gue.


Nb: Keberagamaan adalah sikap. Ia bukan hanya sebatas pikiran. Lebih jauh ia adalah pikiran yang menyikap menjadi sebuah perbuatan ril. Bukan sekedar omongkosong tanpa realisasi. Keyakinan harus diterjemahkan ke dalam sebuah aktifitas bukan hanya jadi bahan debat. Keimanan harus membumi bukan melangit. Merealitas menjadi perbuatan-perbuatan baik.

Sabtu, 10 September 2011

Kaus Baru Nada



Waktu lebaran kemarin Nada, anak perempuan saya, punya kaus baru berwanrna jingga bertuliskan ‘Mom’s Little Champion’. Nggak ada yang terlalu istimewa atau aneh dengan tulisan itu. Hanya saja, apakah setiap anak harus jadi juara?

Ah, untuk anak umur tiga belas bulan seperti Nada, mungkin belum ngerti apa maksud tulisan di kausnya. Beruntunglah dia karena nggak terbebani dengan predikat sebagai ‘Sang Juara’, entah juara apa. Lagipula, bagi istri saya, segala kelakuan Nada, apapun itu, adalah juara. Waktu ia menangis keras, dia menjadi ‘juara menangis’. Waktu ia menggigit ketika digendong, dia menjadi ‘juara menggigit’. Waktu ia menghabiskan bubur dalam mangkok, ia juara. Waktu ia bisa menunjuk dimana letak hidungnya, ia juara. Waktu ia baru bisa berjalan, ia juara. Bahkan waktu ia pup setiap hari, ia juara. Dan jika ingin diteruskan masih akan ada banyak lagi juara-juara aneh lainnya. Juara-juara yang nggak akan diberikan untuk orang dewasa seperti kita.

Masa anak-anak adalah masa dimana orang tua bisa memakaikan pakaian berjenis apapun atau bertuliskan apapun. Sekonyol apa pun, senorak apa pun, sengejreng apapun, si anak nggak akan merasa keberatan. Jelas saja, mereka kan memang belum bisa menilai. Biasanya para orang tua hanya punya satu acuan teknis untuk menilai; lucu. Saya pun sering memakaikan celana dalam sebagai topi untuk anak saya. Sekali lagi, si anak nggak akan merasa keberatan. Bahkan mungkin ia akan senang, karena ia banyak melihat senyuman, banyak mendengar pujian, banyak merasakan ciuman.

Saya berharap dia benar-benar menjadi juara. Saya ingin slogan itu dibawa sampai dewasa.  Dia akan selalu menjadi anak manis yang penurut. Rajin belajar. Pintar. Itu harapan saya, namun keinginan terkadang nggak sesuai dengan kenyataan. Mungkin saja seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia, akan ada banyak perubahan pada anak saya. Mungkin ia akan mulai bisa menilai warna apa yang cocok untuknya, model apa yang sedang trend, jenis musik apa yang ia sukai. Mungkin ia mulai nggak belajar dengan serius. Mendapatkan bebrapa nilai jelek di sekolah.

Dan, ayo lah… kita tentu sudah tahu bahwa menjadi juara itu nggak mudah. Juara itu hanya satu, sementara yang menjadi peserta ada puluhan bahkan ratusan orang. Bukankah itu berat. Bayangkan jika semua orang menginginkan untuk jadi juara. Bayangkan jika seluruh orang tua menginginkan anaknya juara, menargetkan mereka untuk jadi juara. Mendorong mereka untuk jadi juara kelas, untuk jadi juara Matematika, juara piano, balet, Bahasa Inggris dan lain-lain seperti idealnya banyak orang tua inginkan. Bayangkan jika semua orang tua menginginkan anak mereka menjadi juara, sementara yang berhak menjadi juara hanya satu.

Dan mari kita jujur. Berapa banyak diantara kita yang menyontek ketika ujian karena takut nilai jelek. Berapa banyak diantara kita yang rela mengeluarkan uang banyak hanya karena ingin masuk sekolah favorit. Berapa banyak yang ingin menjadi juara dengan cara curang. Bukankah itu hanya menjadikan kita sebagai manusia yang culas. Semua itu penyebabnya hanya semata-mata karena tekanan sosial yang meletakan prestasi belajar di sekolah di atas segala-galanya. (Maklumi saja ya, saya menjadi sinis begini karena pengalaman nggak pernah jadi juara. Hahahaha…)

Bisakah kita, ketika mereka telah dewasa nanti, menanamkan di diri kita sendiri –bukan pada mereka— slogan ‘Mom’s Little Champion’ tanpa ada tendensi untuk membebani mereka dengan predikat itu. Bisakah kita secara sederhana menyematkan juara pada setiap tindakan baik mereka seperti yang biasa kita lakukan ketika mereka kecil?

Aduh, kenapa saya ini? Kenapa berpikir terlalu jauh? Untuk memahami ucapan saja anak saya belum bisa, kenapa perlu berpikir sejauh itu. Maaf, maafkan penulis iseng yang mengajak berpikir terlalu jauh ini.

Mungkin kaus-kaus itu dicetak hanya untuk lucu-lucuan saja, tanpa punya tendensi apapun. Tanpa usaha mendoktrin. Seperti slogan: Mom’s Little Angel atau When I Grow Up I Want to be Just Like Dad. Ya, mungkin saja slogan-slogan itu nggak bermasud terlalu jauh. Nggak bermaksud menjejalkan pemikiran-pemikiran normatif yang seharusnya mereka miliki ketika dewasa. Mungkin saja. Kaus hanyalah kaus.

Karena bagaimanapun, kita nggak bias memaksa anak kita untuk bilang bahwa orang tua mereka adalah yang terbaik di dunia, jika memang mereka nggak merasakannya?

Sabtu, 13 Agustus 2011

Ini Hari Libur

Hari ini saya bisa berleha-leha di kasur sambil membaca buku. Kegiatan favorit yang jarang sekali saya lakukan akhir-akhir ini. Di hari libur seperti ini, enak sekali berleha-leha, kawan. Memanjakan diri. Mandi siang hari. Menghibur diri dengan melakukan kegiatan sekehendak hati.


Hari ini saya libur karena menunggu sampai tempat kerja saya direnovasi. Dan waktu tiga hari libur ini tentu saya akan manfaatkan sekenyang-kenyangnya. Sebenarnya bisa saja saya menonton TV untuk mengabiskan liburan ini, apalagi beritanya juga cukup seru: kepulangan Nazarudin, buron yang sedang dicari interpol, dari Colombia. Tapi saya memilih sinis terhadap berita itu. Kejadian memulangkan koruptor atau yang sejenisnya setelah kabur ke negeri orang bukan terjadi kali ini saja. Tentu kita masih ingat Gayus Tambunan yang dijemput dari Singapura kemudian dibui. Dan beberapa hari setelahnya ia malah berjudi di Makau. Hah! Ada-ada saja kelakuan para penjahat kita!


Makanya, begitu ada berita tentang tertangkapnya Nazarudin dan pemulangannya yang konon menghabiskan 4 milyar itu, saya tidak tertarik lagi, apatis mungkin. Jengah dengan kelakuan para politikus negeri ini. Gampang sekali buat mereka pergi ke luar negeri bahkan mengajak anak istri. Buat kita rakyat jelata hanya bisa menonton saja. Sambil sesekali mengutuki.


Apa sebenarnya yang terjadi pada sebagian besar penguasa negeri ini? Saya yakin mereka mengerti bahwa korupsi itu merugikan orang lain, mencuri, berdosa. Saya yakin sekali mereka mengerti, mereka paham. Tapi di negeri ini pemahaman tidak berbanding lurus dengan perbuatan. Berapa banyak orang yang mengerti merokok itu menggangu kesehatan tapi tetap saja merokok. Dalam kasus rokok mungkin banyak orang berdalih kecanduan. Tapi, begitu jugakah dengan korupsi?


Saya bisa menebak apa yang akan terjadi dengan kasus Nazarudin: tidak ketahuan ujung pangkalnya, menghilang digantikan episode-episode lain yang lebih seru. Begitulah jika menonton televisi. Informasi-informasi yang diberikan kadang malah membuat pesimis. Program-program lainnya pun tidak kalah memuakkan. Tayangan yang itu-itu saja. Lawakan Sule yang slapstick dan itu-itu saja. Gaya joget cuci-bilas-jemur ala penonton Dahsyat yang itu-itu saja. Juga waktu sahur yang banyak diisi lawakan yang itu-itu saja dan sumpah gak lucu. Ya, mungkin begitulah sistem kapitalisme berlaku, dimana konsumen yang menjadi penggeraknya. Maka, di hari libur ini saya memilih untuk membaca buku.


Emm, tapi kenapa juga saya harus membenci tayangan TV ya? Bukankah karena tayangan TV yang seperti itu jadi saya memilih untuk membaca buku? Bukankah itu berarti baik? Bukankah jika tayangan TV bagus saya tidak punya kesempatan untuk membaca beberapa buku yang belum sempat dibaca? Bukankah itu berarti baik?


Bagi saya, dan kawan-kawan penggila buku yang lain, membaca buku adalah surga dunia! Sehingga waktu luang untuk bisa membaca buku dengan khusuk tidak bisa tergantikan dengan apapun. Emm, mungkin yang bisa menggantikannya hanya jalan-jalan keliling eropa gratis. (lebay)


Ini tak ubahnya dengan orang yang mempunyai hobi-hobi yang lain seperti bermain sepak bola, travelling atau memancing. Mereka yang gila dengan hobinya rela melakukan apapun untuk pemenuhan atas hobi-hobi itu. Tapi hobi juga bisa dijadikan pekerjaan. Dan beruntunglah bagi yang pekerjaannya adalah hobinya. Karena berarti mereka bisa mengerjakan apa yang mereka suka dan sekaligus mendapat penghasilan. Pasti menyenangkan.


Ngomong-ngomong soal hobi, apa hobi para pejabat kita ya? Ah, jangan-jangan hobi mereka sebelum jadi pejabat adalah korupsi, karena kelihatannya mereka menikmati sekali. Dan kalau begitu mereka mendapat tiga keuntungan: 1. Melakukan hobi, 2. Mendapat penghasilan. 3. Mendapatkan uang melimpah.


Senin, 01 Agustus 2011

Puasa Ramadhan Bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Pada bulan Ramadhan 1431 H (2010 M) tahun kemarin, istri saya tidak berpuasa karena sedang menyusui. Dalam keadaan normal, istri saya selalu berpuasa di bulan Ramadhan. Namun karena anjuran dokter kandungan yang khawatir puasa akan menghambat produksi ASI yang mengakibatkan tidak tercukupinya ASI untuk si bayi, maka istri saya tidak berpuasa. Apalagi ini anak pertama saya, jadi wajarlah jika saya dan istri sangat hati-hati sekali karena belum berpengalaman sebelumnya.
Dalam hal tidak puasa untuk wanita hamil dan menyusui karena khawatir terhadap dirinya atau bayi, para ulama sepakat memperbolehkannya.[1] Namun ntuk konsekwensinya, ada beberapa perbedaan pendapat antara mereka. Paling tidak ada 6 pendapat yang berbeda tentang hal ini:
1.     Wanita hamil yang tidak berpuasa hanya wajib menganti puasa dan tidak wajib membayar fidyah. Sedangkan wanita yang menyusui wajib menganti puasa dan membayar fidyah. Ini pendapat mazhab Maliki, al-Laits[2] dan pendapat imam Syafi’i dalam kitab al-Buwaithi.[3]
2.     Jika wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa karena khawatir terhadap anaknya saja, maka wajib baginya mengganti puasa di bulan lain dan membayar fidyah (memberi makan kepada fakir miskin dalam satu hari sebanyak satu mud (lebih dari 6 ons)). Ini pendapat mazhab Syafi’i,[4] Hambali[5] dan Mujahid.[6]
3.     Wanita hamil dan menyusui hanya berkewajiban membayar fidyah, tidak wajib mengganti. Ini pendapat Ibn ‘Abbas, Ibn Umar dan Sa’id bin Jubair dan al-Qasim bin Muhammad.[7]
4.     Wanita hamil dan menyusui hanya wajib mengganti dan tidak wajib membayar fidyah. Ini pendapat mazhab Hanafi,[8] Imam Syafi’i,[9] Auza’i, Zuhri, Sa’id bin Jubair dan lain-lain.[10]
5.     Wanita hamil dan menyusui tidak wajib mengganti dan tidak pula membayar fidyah. Ini pendapat mazhab Ibn Hazm al-Zahiri.[11]
6.     Memberi pilihan. Jika wanita hamil dan menyusui memilih fidyah, maka baginya cukup dengan fidyah dan tidak wajib mengganti. Sebaliknya, jika mereka memilih mengganti maka tidak wajib memberi fidyah. Ini pendapat Ishaq bin Rahwaih.[12]
Kesimpulan: tampak jelas bahwa pendapat yang kuat adalah pendapat yang mewajibkan mengganti puasa tanpa harus membayar fidyah. Ini dalam kondisi ketika wanita hamil dan menyusui mampu mengganti. Namun jika mereka tidak mampu, maka wajib membayar fidyah. Dan berpuasa akan selalu bermanfaat bagi yang mampu melaksanakan. Wallahua’lam bissowab.


[1] Lihat Imam asy-Syaukani, Nailul Author, Kitab ash-Shiyam, hal.297-8
[2] Abdur Razzaq, Mushannaf Abdur Razaq, jld. 10, hal. 223.
[3] Al-Mawardi, al-Hawi, jld. 3, hal. 437.
[4] an-Nawawi, al-Majmu’, jld. 6, hal. 267.
[5] Ibn Qudamah, al-Mughni, jld. 3, hal.139.
[6] Ibn Abdil Barr, al-Istizkar al-Jami’ li Madzahib Fuqaha’il Amshar, jld. 20, hal. 223.
[7] Ibn Abdil Barr, Op. Cit, jld. 10, hal. 221-222.
[8] Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Mukhtar, jld. 2, hal. 449.
[9] an-Nawawi, Raudhah ath-Thalibin, jld. 2, hal. 249.
[10] Ibn Abdil Barr, Loc. Cit.
[11] Ibn Hazm, al-Muhalla, jld. 4, hal. 410.
[12] Al-Bagwai, Syarh as-Sunnah, jld. 6, hal. 316.


Kamis, 28 Juli 2011

Mencatat Beberapa Kenangan di Hari Jadi


Kamu tentu masih ingat kemana kita dulu berbulan madu?

Ya, ke tempat budeku di daerah terpencil yang tidak pernah sekalipun kita berkunjung ke sana. Berbekal secarik catatan yang berisi alamat dan angkutan umum yang akan kita tumpangi, kita berangkat pagi itu, dua tahun yang lalu.

Sebelum bercerita tentang budeku, aku ingin kamu mengingat-ngingat kembali waktu kita pertama kali berkenalan, jauh-jauh hari sebelum kita menikah.

Emmm. Biar aku juga ingat-ingat dulu. Saat itu aku sedang mencari-carimu, pada lembaran-lembaran buku yang kubaca berulang-ulang.

Agak sulit sebenarnya menemukanmu. Dan bukankah memang agak sulit memahami bahwa ada seseorang di dunia ini yang sedang kita cari yang juga mencari kita? Walaupun sebenarnya tidak perlu juga aku mencarimu, karena aku punya keyakinan yang amat sangat bahwa segala kejadian di bawah matahari ini telah tercatat di lauhilmahfudz beribu-ribu tahun sebelum kita tercipta. Jadi, tanpa dicaripunsebenarnya kamu bisa saja ditemukan. Sayangnya, tidak seorangpun tahu apa isi catatan agung itu. Sehingga manusia dibebankan tanggungjawab untuk berusaha.

Percayakah kamu akan takdir, sayang?

Aku percaya. Aku percaya kita telah ditakdirkan untuk bersama. Mungkin sebelumnya kamu pernah menyukai laki-laki lain, begitu juga aku pernah menyukai wanita lain. Namun apalah artinya semua itu sekarang selain hanya sebagai api-api kecil yang terkadang menyulut rasa cemburu kita. Selama api itu tidak membesar dan menghanguskan rumah jiwa yang telah kita bangun bersama, tidak lah perlu kita khawatir. Justru api-api kecil itu menghangatkan, bukan?

Semenjak aku muda, lebih muda dari sekarang, aku telah banyak membaca literatur tentang cinta. Aku pernah membaca Gibran:

Kalau kau sedang dalam cinta kau jangan mengatakan, “Tuhan ada dalam hatiku,” tetapi katakan, “Aku ada dalam hati Tuhan.”


Dan jangan sekali-kali berpikir bahwa bisa menentukan arah cinta, sebab cinta, jika kau dianggapnya berguna, akan menentukan arahmu.

Dulu aku tidak mengerti, sekarang pun tidak terlalu paham. Yang aku tahu, dulu waktu aku masih muda, lebih muda dari sekarang, aku berpikir bisa menentukan arah cinta. Menentukan kemana aku akan berlabuh. Aku mencari cinta yang, kata Gibran, tidak bisa dicari.


Saat itu aku masih muda, lebih muda dari sekarang. Pada suatu senja yang tidak tercatat, aku pergi ke sekolah. Seperti biasa, di sekolah aku biasa duduk di bangku manapun, karena bagiku semua bangku adalah sama. Dan dengan menganti-ganti tempat duduk membuat cara pandangku berbeda. Dan kali itu, aku duduk bersama seorang gadis. Waktu itu, mungkin kita memang suka satu sama lain, tapi malu dan tidak bisa mengungkapkannya. Karena beberapa hal, kita menjadi tahu bahwa tidak semua perasaan itu mudah dan perlu untuk diungkapkan.



Juga pada suatu senja yang lain (Kenapa selalu senja? Karena senja itu romantis mungkin), ketika aku masih muda, lebih muda dari sekarang, aku mengamati seorang gadis di bangku perpustakaan selama seratus dua puluh satu hari. Hanya memandangnya dari jauh tanpa berani menatapnya langsung. Tak punya kesanggupan lebih tepatnya.

Dan lagi-lagi pada suatu senja (ini yang terakhir), aku mencoba untuk berani mengungkapkan apa yang terlintas di hati pada seorang gadis dan… ditolak.

Sejak saat itu aku tidak percaya lagi dengan konsep Soul Mates, atau cinta pada pandangan pertama. Tapi aku mulai percaya bahwa jika beruntung, mungkin aku akan bertemu seseorang yang tepat. Bukan karena dia sempurna untukku, atau aku sempurna untuknya, tapi karena kita bisa saling memahami kekurangan masing-masing. Seorang sahabat yang mengisi, yang berbagi.

Dan ketika bertemumu, aku merasa beruntung. Segalanya yang telah kulewati bersama gadis-gadis itu menjadi fiksi. Aku kembali menapaki bumi yang selam ini aku tinggalkan. Aku mencoba melewati batas ketakutanku dan membiarkan cinta menentukan arahnya sendiri.

Oh ya… Balik lagi ke bulan madu kita. Ah, rasanya bukan Bulan, hanya beberapa hari, tiga hari mungkin. Tapi tidak enak juga kalau disebut hari madu, karena seirama dengan istri madu.

Banyak hal yang kita dapat dari perjalanan seribu satu rasa itu. Pelajaran saling mempercayai, nasihat-nasihat berumah tangga juga bersilaturahmi dengan keluarga.

Apa kamu masih ingat ketika kita tersesat dengan sukses? Tentu itu bukan salahku, karena aku telah mewanti-wanti Pak Supir agar menurunkan kita di Cibogo desa Brujulkulon. Dan dengan tanpa merasa bersalah dia menurunkan kita satu desa setelahnya.

Apa yang kamu rasakan saat itu? Apakah sama dengan yang kurasa?... entah kenapa, aku merasa beruntung bisa tersesat bersamamu. Dan aku hanya bisa mengatakan terimakasih telah mau tersesat bersamaku.



Kamu tahu sayang, budeku itu janda tanpa anak. Suaminya meninggal bertahun-tahun yang lalu dan dia hanya tinggal sendirian. Jauh dari keluarga juga orang tua. Kehidupan yang mungkin banyak orang jauhi. Menjalani kehidupan di masa tua seorang diri. Jenis kehidupan yang jika kau meninggal hari ini maka keluargamu akan datang keesokan paginya. Hanya bertemu dengan nisan dan kuburmu yang masih basah.

Apakah kita akan seperti itu? Atau kita akan bersama menjalani hidup ini sampai tua? Sampai mati?...

Aku mencintaimu. Tapi… apakah itu abadi? Apakah kita akan selalu bersama seperti harapan para kekasih yang sedang dimabuk cinta?

Aku menyerahkan hatiku. Tapi… bisakah kau memilikinya? Bisakah aku mengambil hatimu dan meletakannya di tempat kosong dalam dadaku —karena hatiku telah kuberikan padamu?

Aku menikahimu. Tapi… bisakah aku mengikuti kemanapun kau pergi? Bisakah aku selalu mengawasimu seperti halnya tuhan yang selalu mengawasi ciptaannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu tersekat di kerongkongan atau menggantung di udara tanpa ada yang bisa menjawab.

Aku bisa saja menulis janji setia sampai mati di sini agar semua orang tahu. Namun, apagunanya bagimu, juga bagiku, selain hanya memperlihatkan keangkuhan. Apa gunanya janji-janji yang pasti di tengah-tengah ketidakpastian dunia, selain hanya memperlihatkan kedunguan.

Ma’af jika aku terlalu banyak menulis kata-kata yang realis. Karena sejujurnya, aku hanya menulis yang terlintas di hati.

Untuk saat ini, berdirilah sejajar di dekatku, sayang. Tapi jangan terlalu dekat, karena tiang-tiang rumah pun tegak terpisah-pisah, pohon-pohon di hutan pun tumbuh tidak saling membayangi.



Seperti dawai-dawai sitar yang terpisah-pisah, kita akan menciptakan alunan musik yang indah. Semoga.