Halaman

Selasa, 16 Juli 2024

Hal-Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum dan Ketika Menulis Fiksi

Berikut di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dari peserta Webinar Langkah Mudah Menulis Fiksi yang diselenggarakan oleh STIBA-IEC JAKARTA pada 08 Juli 2024:

-------------------
Bagaimana dan harus mulai dari mana jika kita ingin memulai menulis? Karena saya merasa sedikit kesulitan saat ingin mencoba menulis padahal sudah memiliki alur cerita sendiri dikepala

Riyu Khaulah Effendi - STIBA IEC JAKARTA
--------------------
Bagaimana cara menulis cerita atau naskah film yang bagus?

Gabriel Arya Praba - STIBA IEC Jakarta
---------------------
Bagaimana memulai menulis dgn baik?

Diniawati Aliah - STTD Bekasi
----------------------
Bagaimana langkah menulis fiksi yg benar?

Esther Puspita Happy - STIBA IEC JAKARTA
----------------------
Bagaimana menulis buku fiksi yang baik dan benar?

Mohammad Ilham Rezeki - PT. Lestari
---------------------
Yang menjadi dasar pembuatan cerita fiksi itu apa?

Simbarwati - STIBA-IEC JAKARTA
---------------------
Apa yang penulis harus siapkan sebelum menulis buku fiksi?

Khorihah - STIBA-IEC Jakarta
---------------------
Cara menulis praktis?

Sekar Ayu - STIBA IEC
-----------------------

Halo, Kawan-kawan. Salam kenal! Karena pertanyaan-pertanyaan di atas relatif sama, maka saya akan menjawab secara gabungan.

Pada dasarnya, tidak ada rumus yang baik dan benar tentang bagaimana memulai menulis. Banyak penulis memberikan panduan praktis yang dapat dikuti untuk mulai menulis. Saya pribadi merumuskan 5 langkah sederhana untuk bisa dijadikan panduan untuk memulai menulis fiksi. Lima langkah tersebut adalah:
  1. Buat premis cerita
  2. Tentukan pembaca
  3. Buat kerangka cerita
  4. Lakukan editing saat buku sudah selesai
  5. Tetapkan target

Penjelasan lengkap tentang lima langkah tersebut ada dalam video ini. Selain itu, ada dua poin tambahan yang saya tulis di sini:
Saja juga menulis tentang mengapa kita perlu menulis fiksi.
 
Saya bisa menjamin, dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, kawan-kawan bisa menulis dengan lebih terarah dan efektif.

Disiplin; Kunci Utama Keberhasilan Menulis Buku

Segala sesuatu kecuali Tuhan memiliki batas, termasuk menulis. Menentukan awal dan akhir dalam menulis adalah hal yang wajar dan diperlukan. Tanpa batas, segala kegiatan akan kacau, karena tidak mungkin kita makan selama tiga jam atau mandi selama dua hari.

Beberapa kawan pernah meminta saya menulis cerita hidup mereka atau dari premis yang mereka miliki. Saya katakan, yang paling berat dari menulis adalah disiplin untuk duduk, meluangkan waktu, dan setia pada target. Sementara inspirasi, ide cerita, premis, serta pengetahuan tidak serta merta menjadikan seseorang menyelesaikan tulisan, apalagi menulis dengan baik.

Ada yang bilang menulis itu mudah, dan saya setuju. Tantangan sesungguhnya ada pada mengedit dan menjaga disiplin. Menulis mungkin mudah, tetapi menyelesaikan tulisan hingga menjadi sebuah buku memerlukan kedisiplinan. Banyak penulis pemula berhenti di tengah jalan karena kurangnya strategi dan tekad yang kuat.

Menulis membutuhkan strategi dan rencana. Buat kerangka karangan dengan rinci, tetapkan target harian, mingguan dan bulanan, dan mulai menulis berdasarkan rencana tersebut. Komitmen pada niat dan pilih waktu yang sesuai. Katakan pada diri sendiri, “Saya akan menulis 1000 kata per hari sebelum tidur.” Berikan konsekuensi pada diri sendiri jika tidak mencapai target, serta hadiah jika berhasil mencapainya.

Percayalah! Dengan disiplin, inspirasi akan datang dengan sendirinya. Jangan buang waktu menunggu inspirasi, mulailah menulis setiap hari, dan inspirasi akan menemukanmu. Seperti yang diungkapkan oleh para penulis hebat, kamu tidak duduk menunggu dewi inspirasi menyelesaikan tulisanmu, tetapi kamu tetap menulis setiap hari sehingga ketika inspirasi datang, kamu siap menangkapnya. Menulis dan disiplin setiap hari membuatmu seperti magnet yang menarik semua ide dan inspirasi.

Jika pikiranmu buntu, tingkatkan pengetahuan tentang teknik menulis. Motivasi diri dan cari inspirasi dengan membaca, menonton, bertanya, dan meneliti. Dewi Lestari pernah bilang, “Ketabahan kita mendobrak writer’s block bisa jadi penentu apakah kita akan berhasil menjadi penulis atau sekadar orang yang berangan-angan menjadi penulis. You decide!”

Catatan: tulisan ini dibuat untuk melengkapi materi yang sebelumnya disampaikan di

Jumat, 12 Juli 2024

Menulis dan Mengedit: Dilarang Makan sambil Buang Kotoran

Jangan menulis sekaligus mengedit. Menulis dan mengedit adalah dua kegiatan yang tidak boleh disatukan. Saya mengibaratkan menulis seperti makan, sementara mengedit seperti buang kotoran. Sebagai orang waras, kita tentu tidak pernah melakukan keduanya secara bersamaan.

Ketika menulis, saran saya adalah menulislah dengan buruk dan cepat. Saya sdang tidak sinis ketika menyatakan itu. Saya sendiri sering kali menulis draft pertama dengan banyak kekurangan. Logika yang melompat-lompat, dialog yang tidak punya konteks dan miskin deskripsi, tanda baca yang diabaikan, dan paragraf yang tidak koheren bahkan saya menulis adegan apapun yang sedang saya pikirkan walaupun mungkin itu adalah adegan di tengah atau akhir cerita. Orang yang tidak pernah menulis buruk bisa jadi ia bukanlah penulis. Dan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa.

Menulislah cepat, secepat kita berbicara. Untuk apa berlama-lama menulis draft pertama? Jangan buang waktu menulis terlalu lama karena mungkin kamu harus menulis ulang atau bahkan membuang sebagian besar dari tulisan tersebut. Buatlah kesempatan menulis menjadi kesempatan untuk menuangkan segala ide yang ada di kepala, tanpa disibukkan dengan hal teknis. Keluarkan segala kreativitas dan jangan dulu berpikir tentang aturan.

Menulis membutuhkan aliran ide yang bebas dan kreatif, sedangkan mengedit memerlukan pemikiran kritis dan analitis. Menggabungkan kedua aktivitas ini secara bersamaan bisa menghambat proses kreatif menulis karena perhatian terpecah antara menghasilkan konten dan memperbaikinya. Dengan memisahkan tahap menulis dan mengedit, penulis dapat lebih fokus dan efektif dalam kedua tugas tersebut.

Setelah menulis dengan buruk dan cepat, lakukanlah editing dengan baik. Editing sebaiknya dilakukan setelah bukumu selesai ditulis. Karena menurut saya cerita yang baik adalah cerita yang selesai. Seelsaikan tulisan sesuai target, baru kemudian lakukan editing.

Setelah selesai menulis, kita sering kali terlalu dekat dengan karya kita untuk memiliki objektivitas. Langkah yang perlu dilakukan adalah mengendapkan tulisan tersebut, memberi waktu untuk diri kita menjadi lebih objektif dan tidak emosional, kemudian membaca kembali buku dari awal hingga akhir. Dengan cara ini, kita bisa mendapatkan perspektif baru, melihat lubang-lubang yang perlu diisi, bab yang perlu ditulis ulang, dan bagian yang harus dibuang sepenuhnya.

Ketika mengedit, di sinilah penulis mulai menerapkan pemikiran yang kritis. Ia harus memastikan bahwa alur cerita, karakter, dan detail lainnya konsisten dan koheren sepanjang tulisan. Memeriksa tata bahasa, ejaan, dan tanda baca, serta memastikan gaya penulisan sesuai dengan tujuan dan pembaca yang disasar. Menghapus kata-kata atau kalimat yang tidak perlu dan memastikan ide-ide disampaikan dengan jelas. Mengevaluasi struktur keseluruhan tulisan untuk memastikan logika dan kelancaran alur.

Menulislah dengan buruk dan cepat, kemudian lakukan editing dengan baik dan penuh kesungguhan, agar tulisanmu mencapai potensi terbaiknya.

Catatan: tulisan ini dibuat untuk melengkapi materi yang sebelumnya disampaikan di

Kamis, 11 Juli 2024

Mengapa Kita Perlu Menulis Fiksi?

Saya punya sebuah hipotesis yang menarik: seluruh sendi kehidupan manusia digerakkan oleh cerita.

Mari kita uji hipotesis ini.

Sejak kecil, kita sudah menyukai cerita. Kita pasti pernah melihat anak-anak yang anteng mendengarkan dongeng, membaca komik, atau menonton kartun di YouTube. Dari sini, terlihat bahwa cerita memiliki daya tarik yang kuat sejak usia dini.

Ketika kita tumbuh menjadi remaja dan dewasa, minat kita terhadap cerita tidak berkurang. Kita masih suka bercerita atau mendengarkan cerita, baik kepada teman, orang tua, pasangan, maupun anak. Sebagian besar percakapan kita terdiri dari cerita: cerita tentang kegiatan sehari-hari, pengalaman menyenangkan, menyedihkan, dikhianati, atau dilukai. Jadi, cerita tetap menjadi elemen penting dalam interaksi sosial kita.

Selain itu, sebagian besar hidup kita didominasi oleh cerita. Kita bisa menghabiskan berjam-jam memandangi ponsel untuk menonton film, serial, drama Korea, Netflix, atau YouTube. Ini menunjukkan betapa besar peran cerita dalam mengisi waktu dan memberikan hiburan untuk manusia.

Apa lagi yang menjadi penggerak utama kehidupan? Keyakinan atau Agama?

Mari kita buka kitab suci. Sebagian besar isinya adalah cerita. Baik Al-Quran, Alkitab, Weda, Mahabharata, maupun Tripitaka, semuanya mengandung kisah atau cerita yang mendominasi isi kandungannya. Dalam hal ini, cerita menjadi medium penting untuk menyampaikan nilai-nilai dan ajaran.

Fiksi sebagaimana kita tahu adalah cerita rekaan yang berasal dari imajinasi, bukan berdasarkan fakta ilmiah atau fakta sejarah yang ketat. Tapi mengapa cerita bisa sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan manusia?

Dalam konteks sastra, cerita fiksi adalah prosa naratif yang imajinatif namun masuk akal dan mengandung kebenaran. Jadi fiksi (fiction) dalam pembahasan ini, bukanlah lawan dari fakta (fact) atau kebenaran (truth). Karena dalam fiksi, kebenaran itu bersifat logis, berdasarkan sebab akibat, atau mengandung hikmah.

Saya teringat pada Tyrion Lannister dalam serial Game of Thrones. Dalam episode terakhir, setelah perang besar yang menelan banyak korban, dia bertanya secara retoris kepada semua perwakilan klan yang tersisa, “Apa yang dapat menyatukan manusia? Pasukan? Emas? Bendera?”

Tyrion menjawab pertanyaannya sendiri, “Stories. There's nothing in the world more powerful than a good story. Nothing can stop it.”

“Cerita. Di dunia ini tidak ada yang lebih kuat dari cerita yang bagus. Tidak ada yang bisa menghentikannya.”

Melihat betapa kuatnya pengaruh cerita, tidak heran jika pemerintah sejak zaman kerajaan, kolonialisme, hingga zaman sekarang menggunakan cerita untuk mempengaruhi masyarakat. Dahulu, dongeng seperti Roro Kidul, Roro Jonggrang, dan Malin Kundang diciptakan secara sadar agar masyarakat bertindak sesuai harapan. Bahkan cerita-cerita tersebut melintasi zaman dan abad yang panjang sehingga sampai hari ini, ia masih berpengaruh untuk menggerakan manusia.

Bahkan cerita dapat menumbuhkan kecerdasan dan kreativitas, terutama untuk anak-anak. Cerita dapat meningkatkan kemampuan berimajinasi dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh informasi faktual saja. Sementara tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan, tapi imajinasi. Einstein pernah bilang, "Jika anda mau anak-anak anda cerdas, bacakan kepada mereka dongeng. Jika anda mau anak-anak anda lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng."

Kembali ke pertanyaan dalam judul tulisan ini: mengapa kita perlu menulis fiksi?

Karena seluruh sendi kehidupan manusia digerakkan oleh cerita.





Baca tulisan lain dengan tema menulis di sini Di Bawah Bendera Sarung: Menulis

Kamis, 02 Mei 2024

Recharge

Kami datang ke rumah Kiyai membawa macam-macam keluhan permasalahan hidup. Anak sakit, bisnis bangkrut, atasan zalim, kendaraan rusak, kebutuhan melambung, uang menipis, hati tidak tenang.

Guru yang mengerti keluhan kami memberikan doa yang konon pernah dibaca oleh nabi Adam:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِي وَعَلَانِيَّتِي فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِي

Ya Allah, sungguh Engkau tahu apa yang tersembunyi dan tampak dariku, karena itu terimalah penyesalanku.

وَتَعْلَمُ حَاجَتِي فَأَعْطِنِي سُؤَلِي

Engkau tahu kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku.

وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي

Engkau tahu apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي

Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang menyentuh kalbuku

ويَقِيْنَا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي

dan keyakinan yang benar sehingga aku tahu bahwa tidak akan menimpaku kecuali telah Engkau tetapkan atasku.

وَ رَضِنِي بِمَا قَسَمْتَ لِي

Ya Allah berikanlah rasa rela terhadap apa yang Engkau berikan untuk diriku.


Kami tertegun dengan doa yang dijazahkan dari guru kami itu, yang beliau dapatkan ketika membaca Kitab Ihya di hadapan Maha Guru kami. Sebuah doa tentang pentingnya keridhaan terhadap apa yang telah diberikan Tuhan, kerelaan kepada apa yang telah ditetapkan Allah, dan menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya karena usaha manusia bagaimanapun kerasnya tidak akan luput dari pengetahuan Allah. Ia Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan. Maka pasrahlah.

Kami datang ke rumah guru kami membawa macam-macam keluhan permasalahan hidup, dan pulang membawa energi kehidupan yang kembali terisi.




Sumber doa: Muḥammad al-Ghazālī, Iḥyāʾ ʿulūm al-Dīn, Jilid 2. Jeddah: Dar al-Minhaj, 2011, h. 417.


Sabtu, 27 April 2024

kau adalah kopi, aku pahit hitammu

dalam namamu ada kopi
dalam matamu ada senja
dalam sarungmu ada celana
dalam wajahmu ada Jogja

kopi terbaik itu kini jadi ampas
menyisakan pahit yang
tak hilang ditelan malam

meninggalkan negara yang lugu
meninggalkan bahasa indonesia
yang riang dan lucu

cangkir-cangkir liat terbakar,
"Sampai tanah jadi abu,
aku masih mau racun rindu,"

"Tidak usah cengeng!
Hari ini abadi,
dan kedai kopi 
buka sampai pagi!"



2024

Minggu, 21 April 2024

Sinar yang Jatuh di atas Sebuah Rumah

Sudah dua kali Mualim Sarim datang ke rumah itu. Kali ini ia berharap bisa bertemu seseorang yang mungkin bisa menjadi petunjuk dari mimpinya. Namun sayang, kali itu lagi-lagi ia tidak bertemu orang yang ia inginkan.

Haji Sadeli, kakek yang tinggal di rumah itu tahu bahwa Mualim sedang mencari cucunya yang saat ini sedang menuntut ilmu di pesantren.

Ketika liburan sekolah tiba, sang cucu pulang ke rumah. Sang kakek menyarankan cucunya untuk mengunjungi Mualim, "Kakek merasa tidak enak, sudah dua kali orang tua itu ke rumah untuk mencarimu,"

Sang cucu pergi ke rumah Mualim, dan menunggu giliran karena tamu yang datang seperti tidak ada hentinya. Setelah tiba giliran, Mualim bertanya, "Ente siapa?"

"Saya Fakhrudin, Guru."

Wajar Mualim bertanya, karena mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya. Melihat Mualim tidak bereaksi dan seperti bingung, Fakhrudin melanjutkan, "Saya Fakhrudin dari Kampung Srengseng, cucunya Haji Sadeli,"

"Ooh, Masya Allah, ente Fakhrudin! Sini sini!" Air muka Mualim berubah senang, ia mengajak anak muda itu naik untuk duduk di bale tempat ia duduk. Tidak lama kemudian Mualim memberikan sebuah kitab Mantiq (Ilmu Logika) karya Syeikh Muhammad Muhajirin, "Coba ente baca dan terjemahin!"

Fakhrudin menuruti permintaan Mualim, ia membaca kitab arab gundul itu dengan mantap dan lancar, sambil tidak henti Mualim mengucap syukur kepada Allah, Alhamdulilah, Alhamdulilah.

Fakhrudin pulang ke rumah dengan perasaan heran, mengapa sang pemuka agama, tokoh masyarakat terkemuka yang sering dikunjungi banyak orang itu malah ingin bertemu dengannya. Ia bertanya kepada Kakek yang kemudian bercerita, "Mualim pernah mengalami pengelihatan bahwa ada cahaya terang yang bersumber dari tempat Kiyai Muhajirin yang turun ke rumah kita. Ia bertanya dan kakek menjelaskan kalau memang kamu sedang menuntut ilmu di pesantren Kiyai Jirin."

Subhanallah, ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah diberikan kepada orang yang Ia kehendaki. Belasan tahun kemudian, anak muda itu mendirikan pesantren yang saat ini berkembang makin pesat. Ia adalah salah satu guru terbaik yang pernah saya kenal. Saya bersyukur mengenalnya sampai sekarang. Semoga Allah memanjangkan umur beliau dan kami para muridnya mendapat kemanfaatan yang banyak. Mattaanallahu fi tuli hayatihi.