Halaman

Senin, 31 Desember 2012

2012 in Pics

1. Pintar Bahasa Inggris Via Media Sehari-hari




2. Safa Narajatidewi




3.  Mata-mata: 16 Skandal Spionase di Indonesia & Dunia



 
4. Desy and Nada


Malam Tahun Baru

Bro, lo kerja di malam tahun baru? Santai aja. Itu ibadah yang gajinya gede.

Bro, lo sendirian di malam tahun baru? Santai aja. Mereka yang rame-rame di luar sana juga diam-diam menyimpan kesendirian.

Bro, lo kesepian di malam tahun baru? Santai aja. Kesepian itu cuma omong kosong kalau hati lo senang.

Bro, lo di rumah aja di malem tahun baru? Santai aja. Kita doain semoga malam ini hujan lebat.

Sekian.

the first year of the rest of my life

No one can go back, but everyone can go forward.

And tomorrow, when the sun rises, all you have to say to yourselves is:
I am going to think of this day as the first day of my life.

I will look on the members of my family with surprise and amazement, glad to discover that they are by my side, silently sharing tha little understood thing called love.

I will pass a beggar, who will ask me for money.
I might give it to him or I might walk past thinking that he will only spend it on drink, and as I do, I will hear his insults and know that it is simply his way of communicating with me.

I will pass someone trying to destroy a bridge.
I might try to stop him or I might realise that he is doing it because he has no one waiting for him on the other side and this is his way of trying to fend off his own loneliness.

Instead of noting down things I’m unlikely to forget, I will write a poem.
Even if I have never written one before and even if I never do so again, I will at least know that I once had the courage to put my feelings into words.

I will keep smiling, because it pleases me to know that people think I am mad. My smile is my way of saying: ‘You can destroy my body, but not my soul.’

If it’s sunny tomorrow, I want to look at the sun properly for the first time.
If it’s cloudy, I want to watch to see in which direction the clouds are going. I always think that I don’t have time or don’t pay enough attention. Tomorrow, though, I will concentrate on the direction taken by the clouds or on the sun’s rays and the shadows they create.

Above my head exists a sky about which all humanity, over thousands of years, has woven a series of reasonable explanations.

Well, I will forget everything I learned about the stars and they will be transformed once more into angels or children or whatever I feel like believing at that moment.

For the first time, I will smile without feeling guilty, because joy is not a sin.
For the first time, I will avoid anything that makes me suffer, because suffering is not a virtue.
I am living this day as if it were my first and, while it lasts, I will discover things that I did not even know were there.

Even though I have walked past the same places countless times before and said ‘Good morning’ to the same people, today’s ‘Good morning’ will be different. It will not be a mere polite formula, but a form of blessing.

And if I’m alone when the night falls, I will go over to window, look up at the sky and feel certain that loneliness is a lie, because the Universe is there to keep me company.

And then I will have lived each hour of my day as if it were a constant surprise to me, to this ‘I’, who was not created by my father or my mother or by school, but by everything I have experienced up until now, and which I suddenly forgot in order to discover it all anew.

And even if this is to be my last day on Earth, I will enjoy it to the full, because I will live it with the innocence of a child, as if I were doing everything for the first time.

Taken from here

Jumat, 28 Desember 2012

Kau Tahu Kawan #4

Di Amerika, ada orang depresi yang nembakin orang lain terus bunuh diri. Di sini, ada ibu ngeracunin anak-anaknya kemudian bunuh diri. Kegetiran, kau tahu kawan, sama dimanapun.

Kamis, 27 Desember 2012

Menikahlah

Tulisan ini untuk mereka yang masih percaya pada pernikahan, untuk mereka yang percaya bahwa menikah itu bukan hanya urusan agama semata tapi juga kebutuhan batin. Saya tidak sedang ingin mendebat dan memaksakan pemikiran kepada orang-orang yang sudah punya pendirian. Saya hanya ingin berbagi perspektif saja.

Di sini, saya nggak akan menyebutkan manfaat pernikahan satu persatu. Silahkan digoogle saja, atau tanyakan ustad terdekat dan terjauh yang kamu kenal. Saya akan mulai ini dengan sebuah pertanyaan: Mana yang lebih baik, jika kamu dihadapkan pada dua pilihan ini?

  1. Menikah muda kemudian bercerai muda, atau
  2. Menjomblo sampai tua tanpa tahu kapan menikah
Memang kedua pilihan tersebut sama nggak enaknya, tapi jika nggak ada pilihan lain selain pilihan-pilihan di atas, maka saya memilih yang pertama. Ya, bagaimanapun, orang yang telah menikah lebih punya pengalaman bahwa mempertahankan pernikahan itu nggak mudah.

Mari bertukar pikiran tentang bagaimana seharusnya seseorang melihat pernikhan. Ini masalah bagaimana kita melihat pernikahan secara lebih jujur. Pernikahan adalah ikatan. Ia nggak seperti persahabatan yang berjalan begitu saja tanpa adanya akad terlebih dahulu. Ini yang menyebabkan pernikahan itu rentan sekaligus complicated. Karena itu, jika pernikahan terputus, maka untuk menyambungnya kembali biasanya lebih sulit ketimbang menyambung persahabatan yang sudah terputus misalnya.

Cobalah kita melihat pernikahan secara sederhana saja. Di satu sisi kita mengagungkannya, di sisi lain juga kita sadari kelemahan manusia untuk terus melulu sempurna. Dengan kerangka berpikir seperti ini, rasanya lebih mudah untuk merumuskan konsep pernikahan.

Semua orang yang menikah menginginkan pernikahan mereka langgeng sampai akhir hayat, pasangan mereka setia, segala hal berjalan baik dan segala sesuatu yang ideal lainnya. Namun sekali lagi, nggak ada manusia yang sempurna.

Masalah pernihakan yang paling maksimal adalah ketika istri atau suami sudah memutuskan untuk bercerai. Maka dengan begitu, pernikahan selesai. Ya, jika kamu siap menikah, kamu pun harus siap untuk bercerai. Siap untuk menerima kondisi terburuk, seperti seorang pengusaha yang siap untuk gagal. Bukankah lawan dari pernikahan itu perceraian? Ini sunatullah. Maksud saya, ini seperti konsep timur dan barat, atas dan bawah atau laki-laki dan perempuan. Segala sesuatu punya lawanan dan lawan pernikahan adalah perceraian. Dalam pertandingan akan selalu ada yang menang dan kalah, bukan? Walaupun kesusksesan dan kemenangan adalah sebuah prestasi yang dituju. Walaupun lagi-lagi pernikahan itu sama sekali berbeda dengan pertandingan.

Ada orang yang punya keyakinan bahwa mereka siap menunggu berapa lama pun untuk mencari pasangan yang betul-betul mereka sukai. Pasangan yang betul-betul cocok. Pasangan yang sempurna yang padahal nggak bakal ada. Seperti kata Sean dalam Good Will Hunting, "You're not perfect, sport, and let me save you the suspense: this girl you've met, she's not perfect either. But the question is whether or not you're perfect for each other."

Pertanyaan selanjutnya adalah sampai berapa lama? Kecocokan seperti apa yang dicari? Dan apakah dengan begitu menjamin hubungan pernikahan akan langgeng?

Mari belajar kepada pendahulu-pendahulu kita. Mari kita merujuk pada Hadad Alwi, Ahmad Dani atau bahkan Aa Gym. Saya yakin —di luar alasan-alasan perceraian mereka, yang biasanya karena orang ketiga— awal mereka memutuskan untuk menikah adalah karena cinta, kecocokan dan ketulusan serta komitmen untuk membangun sebuah keluarga yang baik.

Ada juga orang yang nggak percaya kepada pernikahan. Mereka berargumen bahwa pernikahan sama dengan persahabatan. Mengapa persahabatan cenderung lebih langgeng dari pernikahan? Karena persahabatan dibangun tanpa akad terlebih dahulu. Seharusnya begitu jugalah pernikahan. Karenyanya, konsep pernikahan itu konyol. Sebagaimana konyol orang yang mau bersahabat tapi terlebih dahulu harus mengucapkan akad di depan penghulu.

Menurut saya menyamakan pernikahan dengan persahabatan adalah satu hal yang kurang tepat. Ya, berapa lamapun seorang bersahabat, apalagi sejenis, mereka nggak akan pernah memutuskan untuk hamil dan punya anak. Kalaupun mereka punya anak, dalam hubungan yang bukan pernikahan, bukankah dengan pernikahan menjadikan hubungan dalam keluarga yang mereka jalani lebih aman? Karena pernikahan itu mengikat dan memberi hak-hak kepada suami istri anak dan lain sebagainya yang tentunya telah diatur dalam undang-undang pernikahan.

Maka, jika kamu percaya kepada pernikahan, tunggu apa lagi? Menikahlah secepatnya.

Sedih

"Ada dua jenis manusia di dunia ini: mereka yang memilih untuk bersedih bersama-sama yang lain, dan mereka yang memilih untuk bersedih sendirian.” — Nicole Krauss
“Kamu tidak bisa mencegah dirimu dari kesedihan tanpa mencegah dirimu dari kebahagiaan” — Jonathan Safran Foer
"Jiwa yang sedih lebih cepat membunuhmu, bahkan sangat cepat, daripada kuman.” — John Steinbeck
"Kemarahan dan kesedihan sama-sama sulit dipikul" — Lian Hearn
"Orang yang paling lucu adalah orang yang paling sedih" — Confucius
"Kamu butuh sebuah alasan untuk sedih. Kamu tidak butuh alasan untuk bahagia.” — Louis Sachar

Sabtu, 22 Desember 2012

Bahagia

"Semua orang ingin hidup bahagia. Kadang-kadang kita sendiri yang mempersulit keadaan untuk menjadi bahagia"  — Clara Ng
“Waktu untuk berbahagia itu sekarang, tempat untuk berbahagia itu di sini, dan cara untuk berbahagia adalah dengan membuat orang lain bahagia.” —Taylor Coleridge

"Kita tidak bisa menjamin kesejahteraan kita, kecuali dengan menjamin kesejahteraan orang-orang lain juga. Jika anda bahagia, anda harus rela mengusahakan orang-orang lain agar bahagia pula." — Bertrand Russell 

"Ketika kau merasa letih dalam melakukan kebaikan maka sungguh keletihan akan segera sirna dan kebaikannya akan abadi. Sekiranya kau merasa bahagia melakukan dosa dan maksiat, ketahuilah bahwa kebahagiaannya akan segera sirna padahal dosa dan kemaksiatannya akan abadi." — Ali Bin Abi Thalib
"Sudah kukatakan padamu, Kawan, di negeri ini, mengharapkan bahagia datang dari pemerintah, agak sedikit riskan" — Andrea Hirata

"Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?" — Goenawan Mohamad
“Kamu sering lupa bahwa sebenarnya kamu bahagia.” —Joko Pinurbo