Halaman

Senin, 30 Desember 2019

Pulang

Pagi di kota yang gelisah, ada selangit pulang dalam rindu ungu. Aku merindukanmu seperti kehangatan kamar bagi pendaki yang tersesat di rimba kata.

Kamu bangun di pagi yang sudah terang. Dari jendela kamu melihat burung-burung kecil berkicau. Semalam ketika langit menampakkan sisi paling gelap kamu masih terjaga.

Kamu adalah pulangku. Rumah dimana hati dan nyawaku berteduh. Ketika langit berwarna kusam dan dingin, aku pulang kepada aroma tubuhmu.

Rumah adalah bentuk pulang paling azali. Pernahkah kamu berjalan terlalu jauh, hingga tiba-tiba merindukan rumah dan segala yang ada di dalamnya? Atau gelisah dan sepi karena jalan pulang tertutup buram kaca jendela?

Tak ada orang yang tak punya pulang. Seorang pengembara juga butuh tenda, atau selembar kardus untuk tidur, atap adalah langit, tempat ia berkunjung ke pangkuan mimpi.

Kamu hanya perlu percaya pada perasaan yang mengaduk-aduk perut, yang mungkin saja kamu abaikan, tapi tidak bisa kamu sangkal. Karena dimana hatimu berada, disana pulangmu berada.

Setelah itu aku akan menulis kata-kata sederhana tentang sore yang tidak pernah kehabisan rona. Tentang kita yang berangkulan mendaki pulang di puncak senja.




selamat ulang tahun,
yang fana itu pergi
pulang abadi

Sabtu, 07 Desember 2019

Gitar di Tangan dan Kenangan yang Menunggu Dipanggil






Itu adalah perjalanan pertama saya dan keluarga ke Pulau Seribu. Awalnya saya tidak yakin bisa melakukan itu sendiri. Hampir saja rencana liburan ke Pulau Pari batal karena setelah dihitung, buat saya terlalu mahal. Istri saya bertanya retoris, “Is it worth?” Lebih lagi beberapa kawan tidak menyarankan pergi tanpa travel agent.

Jika memakai travel agent, untuk empat orang (saya, istri, Nada dan Safa. Aira karena masih 2 tahun jadi tidak dihitung) per kepala dikenakan Rp. 580.000,- s/d Rp. 560.000,-. Sebenarnya harga itu bisa turun, jika orangnya semakin banyak. Sayang (atau yang belakangan saya syukuri) beberapa kawan yang saya ajak tidak merespon.

Salah satu contoh paket wisata Pulau Pari menggunakan agent

Adalah postingan Vira di Instagram yang membuat saya akhirnya yakin untuk ke pulau seribu tanpa travel agent. Belakangan Vira juga menulis pengalamannya di sini. Untuk review lain Pulau Pari tanpa Agent juga bisa ke link ini

Berikut itinerary kami:


Transportasi

Ada beberapa cara menuju Muara Angke/Kali Adem. Kami memilih menggunakan taksi karena paling nyaman dan mudah. Dari rumah jam 5 sampai Muara Angke setengah 7 (sekitar 49 KM). Kalau memakai angkutan umum biayanya akan jauh lebih murah walaupun agak ribet dikit. Commuter Line / kereta api paling awal dari St. Bekasi pukul 5, sampai St. Kota Tua mungkin sekitar jam 7. Dari Kota ke Muara Angke bisa naik Trans Jakarta. Baliknya juga dengan transportasi umum yang sama.

Dari Muara Angke ke Pulau Pari menggunakan perahu Fery tradisional. Loket tiketnya ada di dekat parkiran. Berangkat pukul 8 pagi. Biayanya: dewasa Rp. 47.000,-, balita Rp. 27.000,-



Penginapan

Sebelum berangkat, saya menjelajah Pulau Pari menggunakan Google Street View. Dari sana saya tahu lokasi homestay yang paling dekat dengan pantai dan pemandangan bagus; Pari Solata Seaview Homestay.

Luas Pulau Pari dari ujung ke ujung hanya 2,5 KM

Bu Ludi adalah pemilik penginapan.

Pemandangan dari jendela penginapan

Pantai

Ada 2 pantai yang paling bagus, Pantai Bintang dan Pantai Pasir Perawan.





Gitar di pangkuan, biru di pandangan


Pantai Bintang, banyak bintang laut. Jangan diangkat dari dalam air, kasihan bisa mati atau stress.

Sunset di Pantai Pasir Perawan

Makanan

Jenis makanan cukup beragam. Kami mencoba sea food. Harga makanan sama seperti harga di Jakarta, reasonable. Ikannya segar, tapi nasinya agak keras.

Harga

Alat-alat snorkeling, memancing, sewa sepeda dan lain-lain juga reasonable. 



Waktu

Seluruh penjelasan waktu dan lain-lain yang dijelaskan adalah pada weekdays bukan weekends. Kemungkinan ada perubahan jika perjalanan dilakukan pada akhir pekan atau Sabtu-Minggu. Pemilihan waktu ini sangat menentukan kenyamanan. Weekdays cenderung sepi dan lebih murah. 

Persiapan Jika Bawa Anak Kecil

Salah satu alasan kami memilih Pulau Pari adalah karena jarak. Alasan logis karena kami membawa anak-anak bahkan balita yang belum pernah naik perahu.

Vira, yang bawa 4 anak, bahkan salah satunya masih usia 7 bulan, yang baru pertama kali ke Pulau Seribu, melakukan hal yang menurut saya lebih gila. Ia memilih pulau saat di depan loket karcis. Waktu ditanya penjual tiket kemana tujuannya, ia menyebut asal, “Pulau Tidung.”

Saya sempet tanya, “Apa yang buat lu yakin anak-anak akan baik-baik aja?”

“Iya gua yakin aja karena gua yakin 🤪🤣. Based on genetic. Emak bapaknya tangguh, jadi gua yakin anaknya juga, hahaha.”

Vira cerita tentang beberapa masalah yang pernah terjadi waktu mereka sekeluarga traveling. “Kalo ada masalah biasanya gimana? Atau yang buat jadi masalah itu sebenernya apa?” saya bertanya.

“Nikmatin. Dibawa fun aja. Yang buat jadi masalah kayaknya mental. Hidup ini panjang, beberapa jam doang gak ada apa-apanya.”

Ya, persiapan yang paling penting bawa anak-anak traveling adalah mental. Bersiap untuk hal yang paling buruk, kekompakan kedua orangtua, serta yang paling utama, menikmati dan berbahagia terhadap hal-hal yang terjadi, sesederhana apapun. Mungkin saja hal-hal yang sederhana itu yang akan diingat sepanjang hidup oleh anak-anak. Kenangan yang akan paling diingat anak-anak adalah kenangan yang bahagia, ingatan dimana orang tua mereka juga bahagia dalam kenangan itu. Jadi meletakan perasaan pada sebuah peristiwa itu penting, karena itu yang membuat ia tertanam dalam.

Sampai sekarang saya masih ingat peristiwa sederhana berjalan di samping bapak (Allah yarham) sewaktu kecil, padahal peristiwa itu sudah puluhan tahun berlalu. Perasaan tenang, aman, terlindungi, seperti terus merambati jiwa ketika mengingat itu, tapi saya lupa dimana, kapan, usia berapa itu terjadi. Ingatan akan hal itu redup seperti api pada pelita yang kehabisan minyak, namun perasaan di dalamnya masih bisa saya rasakan sampai sekarang, begitu cerah seperti terang pagi. Atau seperti mimpi indah yang terus menempel padamu setelah bangun. 

Dalam perjalanan pulang, Nada memandang ombak dan horizon dari jendela perahu. Matanya tidak berkedip, angin laut meniup sebagian rambut yang yang tertutup topi. Ia tidak bergerak, terpana menatap biru di luar jendela sampai beberapa waktu seperti tersihir. Mungkin kenangan tentang laut biru yang misterius itu akan ia ingat sepanjang hidup. 






Mungkin ingatan tentang laut itu akan terlupa, tapi dalam beberapa tahun kedepan hati saya masih akan dipenuhi perasaan hangat ketika melihat foto-foto tersebut. Salah satunya foto sunrise di depan penginapan. Matahari masih rendah di langit pagi, mengukir siluet emas anak-anak yang sedang mencari kerang. Sinar lembut itu terperangkap di topi kecil dan rambut, suara tawa mereka bercampur dengan angin dan ombak.







Waktu tidak pernah mundur ke belakang. Hari ini akan berakhir bahkan sebelum kita sadari. Seperti keindahan matahari senja yang hanya sekejap, begitu juga masa kanak-kanak.

Rabu, 25 September 2019

perjalanan

jalan ini amat ia kenal sepanjang hidup
selalu ia lewati pada pagi yang rindu
atau sore yang ungu di hari minggu

ia adalah seekor domba yang berjalan di atas rumput-rumput hijau
pada sabana stepa waktu
melintasi ilalang-ilalang kering kekuningan

seekor singa menyambut di depan istana
seringai dan kuku-kuku tajamnya memanggil,
"kesinilah sini domba gemuk yang enak dipeluk,"

ia memimpikan kehidupan yang mudah juga ramah
perasaan dirindukan dan kebahagiaan yang dibeli dengan uang
pergi ke hutan yang dalam, dimana ada gereja dari pualam
dan membayangkan ada yang lebih kekal dari kematian

ketika Pikiran kata dalam hati pada Sasi,
ia tidak risau
pikir yakin ia bukan kerbau, hati rasa ia dombau

hanya perbuatan lebih keras berkata daripada guruh
dan hanya ia tidak meyakinkan siapapun selain satu
dirinya yang gaduh

di jalan yang rusuhresah,
kaki tahu kemana akan melangkah

ia meninggalkan
senja yang temaram
di belakang warna yang sama dengan dingin dan bising

sementara rindu selalu cukup dengan
pulang dan kehangatan
tanpa peduli kemana laju akan berujung

Senin, 23 September 2019

Teknik Mendapatkan Cinta Sejati; Sebuah Usaha Menyelaraskan Pikiran dan Perasaan

Teknik Mendapatkan Cinta Sejati adalaha salah satu judul cerpen dalam kumpulan cerpen Murjangkung oleh A.S. Laksana

Teknik Mendapatkan Cinta Sejati oleh A.S. Laksana selalu membuka perspektif baru setiap kali saya baca ulang. Saya percaya bahwa karya sastra yang baik seharusnya memang seperti itu. Ini pengalaman yang sama dengan ketika saya membaca ulang The Alchemist - Paulo Coelho. Pemahaman akan sebuah karya berkembang seiring dengan bertambahnya pengalaman pembaca terhadap dunia di sekelilingnya, yang terkadang tidak dimaksudkan oleh pengarang ketika pertama kali menuliskannya.

Cerita-cerita Mas Sulak —begitu kami memanggilnya— sering melekat dalam benak, membuat saya terperangah dan berpikir. Dalam TMCS, kelihaian dalam menyalurkan kepekaan artistik terhadap detail dan pengalaman individu, tanpa mengekor karya sastra koran yang cenderung sendu dan murung, telah membuat cerita ini menjadi bukan saja enak dinikmati tapi juga kaya perspektif. Salah satu keunggulan lain dari pengarang adalah ia selalu menghadirkan karakter dengan profesi yang tidak umum.

Ada dua karakter utama dalam cerpen ini, yaitu Seto dan Sasi. Kakak beradik berbeda umur 14 tahun. Seto 16 tahun waktu Sasi berumur 2 tahun. Suatu hari --Sasi berumur 19 tahun, ketika orangtua mereka sedang pulang kampung untuk mengurus warisan, Sasi curhat kepada Seto tentang pacarnya; seorang laki-laki beristri.

Sasi sangat menyayangi laki-laki itu sekaligus membencinya. Seto, seorang guru, yang digambarkan oleh narator selalu sinis kepada Sasi tidak pernah serius menanggapi. Seto menganggap membenci orang yang dicintai adalah sebuah keruwetan dan tidak logis. Ia malah menyarankan Sasi untuk pindah agama.

“Jadi kau sungguh-sungguh akan pindah agama jika kau harus membenci orang yang sangat kau cintai?”

Demi Tuhan yang mahatahu akan isi hati dan urusan administrasi, itu bukan pertanyaan. Itu keruwetan.

Membenci orang yang sangat dicintai adalah keruwetan. Lebih parah lagi, itu abnormal. Sudah beberapa waktu Seto menyadari bahwa hidup membutuhkan kewarasan dan aturan yang jelas. Jika seseorang sepatutnya dibenci, bencilah ia sebaik-baiknya. Jika seseorang sepatutnya dicintai, cintailah ia sebaik-baiknya. Ini sama dengan hal-hal umum yang lain: jika kau lapar, makanlah. Orang tidak harus berlari maraton pada saat ia lapar. Ibumu tak akan menyuruhmu minum saat kau mengantuk.

Pada awal pembacaan, saya terserap pada logika Seto terhadap agama dan perpindahan agama dalam gambaran yang santai bahkan cenderung guyon. Dengan sederhana, saya mendapat pesan yang jelas; “Jika kamu merasa seseorang bukan ditakdirkan untukmu, maka cari saja orang lain yang kau takdirkan sendiri untukmu.”

Dalam pembacaan selanjutnya, kesan itu diobrak-abrik atau paling tidak dikerdilkan. Saya menemukan kualitas cemerlang dari pengarang untuk memberikan simbol yang halus pada dua karakter utama. Pada pembacaan kali ini saya mendapati bahwa Seto melambangkan manusia pikiran sementara Sasi menyimbolkan manusia perasaan. Pikiran dan perasaan ini sangat kuat dari set-up sampai seperempat akhir cerita ini.

Pindah agama yang dimaksud Seto adalah pindah dari kepercayaan yang satu kepada kepercayaan yang lain, dari kebaikan yang satu kepada kebaikan yang lain. Seto mencontohkan pada peristiwa ketika ia suka kepada seorang gadis, tapi ia terlalu takut atau yakin kalau cintanya akan ditolak. Keyakinan bercampur ketakutan itu ia tegaskan kembali dengan pindah agama.

Ia bahkan belum tentu ditolak, tapi kepengecutan dan dominasi logika mengantarnya untuk menilai semua potensi, termasuk potensi cintanya akan ditolak, maka jalan pikiran membuatnya berpindah agama agar ia tidak terlalu sedih dengan penolakan, atau yang ia pikir penolakan. Sederhana, runtut, logis, lurus, jernih.

Pada pembacaan lain, perpindahan agama ini menyodorkan perspektif terhadap beratnya beban yang mesti dipikul perasaan untuk beralih. Bahwa sulit lepas dari cinta tersebut sama sulitnya dengan berpindah agama. Ingat, dominasi agama adalah perasaan. Jika kamu sanggup meninggalkan cinta yang menggiurkan itu, maka itu seperti berpindah dari sesuatu hal ke sesuatu yang lebih baik, “pindah agama” dalam ungkapan cerpen ini, atau “hijrah” dalam term yang popular sekarang.

Manusia perasaan dalam diri Sasi lebih rumit. Pergolakan perasaan yang tidak mungkin dipahami oleh manusia pikiran. Sasi sebenarnya tahu yang ia lakukan tidak baik, dan ia tahu apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukan, namun lagi-lagi perasaan punya logikanya sendiri yang tidak dipahami oleh logika pikiran.

Si kerbau melanjutkan, “Sebenarnya aku sendiri sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tapi kau kakakku, aku ingin tahu pendapatmu. Ayah bilang ia orang yang tidak baik. Apakah aku keliru mencintai orang yang tidak baik?”

“Lakukan saja yang harus kaulakukan,” kata Seto, sedikit melunak.

“Sebenarnya aku rela menjadi istri kedua,” kata adiknya, “tetapi agamanya tidak membolehkan ia beristri dua.”

Kurasa di sinilah letak persoalannya. Seto kembali mengeras. Baru saja si kerbau membuatnya bungkam dan agak terharu ketika mengatakan, “Kau kakakku, kan?” Tetapi sebentar kemudian anak itu sudah mengeluarkan pernyataan yang terdengar bebal.

“Oh, adikku yang mahacerdas,” kata Seto. “Kau tak pantas bilang begitu.Yang harus rela mestinya istri bajingan itu.”

“Kau kakakku, kenapa selalu menyalahkan aku?”

Kali ini Seto tahu tak ada gunanya meluruskan orang yang tidak paham salah-benar. Ia bahkan menyesali jawaban pindah agama yang kemarin ia sampaikan sambil lalu. Sekarang si kerbau terus mencecar apakah ia perlu pindah agama.

Pada sepertiga akhir, pengarang melalui narrator dengan tajam menyindir orang-orang yang beragama tapi tidak menggunakan pikiran, atau tidak melakukan ajaran agamanya. Orang yang mendakwahkan agama tetapi melanggar ajaran yang ia sampaikan, orang yang antara perbuatan dan perkataan tidak sejalan.

“Jadi orang bisa menyelesaikan masalah dengan cara pindah agama?” tanya adiknya.

“Kau bahkan tidak perlu beragama,” kata Seto. Dalam hati ia melanjutkan, “Apa gunanya agama bagi seekor kerbau?”
Lebih jauh, pada seperempat akhir pembaca diberikan gambaran akan rapuhnya pikiran dan menangnya perasaan. Sasi yang menjaga Seto. Karena dalam perasaan terdapat kasih sayang, pengampunan, ketulusan, keikhlasan dan lain sebagainya yang mungkin tidak bisa dipikirkan oleh Seto si pikiran. Kasih sayang adik untuk menjaga kakaknya yang sedang sakit sampai mengorbankan kuliahnya adalah cinta sejati yang menjadi unsur utama yang menjadi judul cerpen ini. Menjawab pertanyaan mendasar; apa sebenarnya cinta sejati itu? Cinta yang selaras antara pikiran dan perasaan. Jenis cinta yang dipersatukan Tuhan sehingga tidak ada seorangpun bisa memisahkan. 

Tidak diceritakan dalam cerpen itu bagaimana hubungan Sasi dengan orang yang ia cintai, tidak juga diceritakan bagaimana Seto akhirnya mendapatkan kekasih yang mungkin seagama, karena memang bukan itu tujuan cerita ini. Cerita ini adalah tentang bagaimana Seto dan Sasi saling menjaga. Bagaimana pikiran dan perasaan seharusnya seimbang.

Penjelasan tentang Logic dan Emotion atau Logical Brain dan Emotional Brain dari beberapa ahli tidak akan saya paparkan di sini karena akan panjang dan rumit. Di situlah pentingnya seni. Sejatinya, sastra sebagai bagian dari seni bisa menjadi salah satu sarana untuk menjelaskan sesuatu yang rumit menjadi mudah. Akhirnya, cerpen ini seperti ingin mengatakan bahwa pikiran dan perasaan adalah dua hal berharga pada diri manusia yang harus dijaga. Orang bisa seketika mati karena beban pikiran dan perasaan, apalagi ketika ia tahu cara menikmati racun serangga. Karena berat pikir dan rasa lebih membunuh daripada berat tubuh.

Minggu, 18 Agustus 2019

Naturalis

Saya tidak terlalu mengerti apa kriteria penilaian sehingga selulus TK Safa diberi peringkat Kecerdasan Naturalis. Mungkin karena lebih sering dan senang bermain di luar kelas. Bahkan saya atau ibunya sering sengaja untuk terlambat menjemput Safa dari sekolah karena tahu ia tidak mau pulang buru-buru, ia senang bermain di lingkungan sekolah yang banyak pohon. Maka ketika beberapa hari yang lalu Safa dan kakaknya masuk UGD karena keracunan biji jarak, kami tidak terlalu kaget kalau ternyata Safa biang keladinya.

Dulu Safa pernah menangis tanpa alasan, hanya untuk merasakan air matanya sendiri. Ia berhenti menangis, menyeka air di sudut mata menggunakan ujung telunjuk, kemudian menjilatnya. Setelah itu ia meneruskan menangis, berhenti untuk menyeka air mata kemudian menjilatnya lagi.

Apakah Naturalis ada kaitannya dengan eksperimen dan besarnya keingintahuan? Saya tidak tahu. Yang saya mengerti adalah semua orang pernah kecil dan punya rasa ingin tahu yang berbeda-beda terhadap sesuatu. Sewaktu kecil saya sering bermain dengan biji jarak, entah untuk diadu, sebagai biji congklak, atau hal-hal lain, tapi tidak untuk dimakan. Apakah “Naturalisme” yang membuat Safa punya kesimpulan untuk memasukan benda seperti kotoran tikus itu ke dalam mulut?

Sebagai orang tua saya hanya khawatir ketika besar ia akan menjadi pawang hewan, keluar masuk hutan dan mati dimakan buaya. Istri saya punya kehawatiran lain, karena Safa santai dan tidak menurut waktu pertama kali disuruh berhenti memakan biji beracun itu, mungkin ia khawatir kalau Safa kelak menjadi Charles Darwin. Oke itu berlebihan.

Setiap anak punya keunikan masing-masing, kecerdasan yang berbeda-beda. Terkadang kompleks dan butuh seumur hidup untuk orang tua sadar dan mensyukuri anugerah itu.

#homeschoolingsafa #portofoliosafa

Sabtu, 17 Agustus 2019

Cerita Nada dan Safa

August 20, 2017

Bendera merah putih kami hilang. Saya dan istri sudah mencari kemana-mana bahkan sejak sebelum bulan Agustus, tapi nihil. Bendera di bulan kemerdekaan sangat penting di pasang di setiap rumah, istri saya bilang supaya kami tidak disangka komunis.

“Komunis itu apa pak?” Safa bertanya.

“Komunis itu hantu.” Saya menjawab seenaknya.

Safa yang mulai kritis kembali mencecar pertanyaan. Saya menjawab dengan istilah-istilah yang semakin tidak ia pahami; separatisme, hedonisme, arbirtrase internasional. Safa yang sadar akan keruwetan bapaknya hanya garuk-garuk kepala dan kembali main sepeda.

Dua hari sebelum 17 Agustus, bendera masih tidak ditemukan, istri saya akhirnya membeli bendera baru. Tentu warnanya merah dan putih, mau yang mana lagi? Tapi ternyata Safa tidak terlalu senang, ia bilang, “Aku maunya bendera warna-warni!”

Sebagai bapak yang bijak, saya menepuk halus pundaknya dan kami berdiskusi panjang tentang arti hidup dan hal-hal lain, pokoknya sampai ia lupa tentang bendera.


June 24, 2017

Respon anak-anak sehabis dikasih angpau lebaran:

Nada (7th): Trimakasih

Bee (5th): Ih, uang isinya

Safa (5th): Bu, ini emang uang beneran?


April 11, 2017

Safa: Bapak, dedek mau jadi dokter spesialis kandungan.

Saya: Iya, kamu boleh jadi apa aja yang kamu mau.

Safa: Boleh beli es krim?

Saya: Nggak!


April 11, 2017

Saya sedang buru-buru ingin pergi dan mencari dompet yang sebelumnya diletakan di atas meja.

“Dompet dimana ya?” kata saya ke seisi rumah.

“Dedek tau.” Safa menjawab, “Ayo ikut!” katanya sambil memberi gestur tangan minta diikuti.

Saya berjalan di belakangnya menuju tempat mainan. Ah, dompet saya dibuat mainan, pikir saya kemudian. Bersiap-siap memberi khutbah tentang meminta ijin sebelum menggunakan barang orang lain, mentaati orang tua dan tentang Malin Kundang.

Belum sempat saya ceramahi, dia bilang, “Ini dia!” sambil ngasih dompet kertas buatannya.

Saya mau sewot, tetapi ketawa.


April 10, 2017

Nada: Bapak tau gak nama neneknya Akila? Kakak tau!

Saya: Nggak.

Nada: Huruf awalnya B.

Saya: Bunga?

Nada: Salah.

Saya: Burahan. Badu. Budi.

Nada: Salah. Salah. Salah. Nyerah gak?

Saya: Nyerah.

Nada: Bu Endang!


September 6, 2016

“Kok Allah Maha Tahu?” Tanya Safa saat saya menyuapi makan.

Saya tahu itu pertanyaan pengalihan isu.

Anak-anak adalah makhluk yang bisa menelan apapun ke dalam temboloknya selain sayur. Memang nggak semua anak, tapi Safa adalah juaranya.

Kalau saya sedang nggak banyak kerjaan, biasanya saya tunggu ia mengunyah habis makanan yang sudah ada di dalam mulut. Tapi lebih sering, karena kurang sabar dan lapar, saya memakan semua sayur yang ada di piring.

Karena saya tahu itu pertanyaan iseng, maka saya diam.

Akhirnya Safa membuat kesimpulan, “Supaya bisa jagain kita ya?”

Saya manggut-manggut.

Saya takjub dengan keahliannya menahan makanan di dalam mulut, di ujung mulut lebih tepatnya.

“Kenapa sih nggak dimasukin ke tengah mulut makanannya?” Tanya istri saya ke Safa.

“Nanti ketelen.” Jawab Safa.

Allah Kariim.


September 4, 2016

Di kursi panjang sedang duduk dua orang tamu. Mereka sedang berbincang-bincang ketika Nada dengan suara lirih berbisik ke ibunya, “Kok bau kentut ya, bu?”

Serta merta Nada mencurigai Safa yang juga berada di ruangan itu, “Dedek kentut ya? Kan malu ada tamu."

“Ya udah jangan berisik.” Kata Safa dengan suara yang sama lirih, “dihirup aja nih kayak gini, biar cepet ilang.”

Safa menghisap nafas panjang.


September 3, 2016
Nada dan Safa sedang menggambar pemandangan dalam laut.

"Kok ikan ada pusernya? kata Safa ke kakaknya.

"Iya, ini putri duyung." Nada menjelaskan.

"Dede juga mau tambahin puser ah." Safa membuat bulatan kecil pada gambar yang ia buat.

Nada yang merasa aneh dengan gambar itu berkomentar, "Kok ikan paus ada pusernya?"

Dengan yakin Safa bilang, "Iyalah! Kan lagi telanjang!"


August 2, 2016

Bagi anak-anak, menangis tidak serta merta menandakan kesedihan, bisa juga keingintahuan.

Safa punya kebiasaan unik akhir-akhir ini; menangis hampir tanpa alasan. Sebenarnya ada; untuk merasakan air matanya sendiri.

Ia berhenti menangis, menyeka air di sudut mata menggunakan ujung telunjuk, kemudian menjilatnya. Setelah itu ia meneruskan menangis, berhenti untuk menyeka air mata kemudian menjilatnya lagi.

Kegiatan impulsif ini mengingatkan saya pada perkataan Dr. Seuss, “Don't cry because it's over, cry because it can be tasted.”

Kira-kira seperti itulah.


July 23, 2016

“Mungkin rusanya lagi pada lebaran.” Kata istri saya ke Safa dan Nada, ketika kami melewati taman yang biasanya ramai oleh rusa. Nada mungkin sudah mengerti guyonan ibunya, tapi Safa, saya nggak yakin.

Pagi itu Safa ikut salat Ied dan itu kali pertama ia ikut salat hari raya. Pagi-pagi benar ia sudah dibangunkan, dan sambil dipakaikan gaun baru, ibunya bilang, “Ini hari lebaran.”

Begitulah yang ia pahami kemudian, bahwa lebaran adalah salat ied dan salat ied adalah lebaran. Sesederhana itu. Maka ketika ibunya bilang bahwa para rusa mungkin sedang lebaran, ia menanggapinya dengan sangat serius.

“Memang rusa bisa berdiri?” kata Safa, “Nanti solatnya gimana?”

Butuh beberapa detik untuk saya berpikir dan akhirnya terbahak.

Sejak saat itu, salat di masjid tidak lagi sama. Setiap tasyahud akhir dan salam, saya selalu khawatir di samping saya telah duduk seekor rusa.


July 21, 2016

Saya dan Safa pergi ke minimarket untuk beli eskrim, dengan uang lebaran Safa. Di pintu kaca masuk minimarket, Safa menunjuk beberapa gambar, sambil bilang, “Ini helem dicoret. Ini foto dicoret.”

Sedikit bingung dengan satu buah gambar lagi, ia bertanya, “Ini apa, Pak? Kok gak dicoret?”

“Itu CCTV.”

“CTV itu apa?”

“Kamera. Tuh liat, di atas sana kameranya.” Kata saya menunjuk benda bulat di langit-langit, “Ayo kita dadah ke kamera.”

Kami dadah ke kamera.

“Kamera itu untuk memantau. Memperhatikan orang. Salah satunya supaya kalau ada yang mencuri ketahuan.” Saya menambah penjelasan.

Hari berikutnya, ketika pergi ke minimarket yang berbeda, sambil menunggu saya mengantri di kasir, dengan pede Safa menjelaskan hal serupa kepada Nada, kakaknya, “Ini gak boleh peke helem. Ini gak boleh foto.”

Ada satu gambar lagi yang ternyata tidak ia lihat sebelumnya, jaket dan tas dicoret. Masih dengan kepedean tingkat dewa, ia lantang bilang, “Ini gak boleh pake baju.”

Sedetik kemudian dia sadar ada yang nggak beres.

“Eh, bukan deh.” Katanya kemudian.

Tapi terlambat.

Gerombolan anak laki-laki, mungkin SD, yang sedang memperhatikan mereka sudah cekikikan.

Saya segera menggendong Safa keluar, takut ia benar-benar buka baju untuk menjaga harga diri.


July 12, 2016

Beberapa kejailan dan komentar Safa (4 tahun) yang masih bisa saya ingat.

Malam itu lampu kamar sudah dipadamkan. Nada, Safa dan istri saya bersiap tidur. Nada minta diantar ke kamar mandi untuk pipis. Istri saya bilang, biasanya kakak berani, ayo sana sendiri. Nada tetap merengek minta diantar, sementara ibunya tetap membujuk dia untuk berani.

“Ayo kak, dedek anterin.” Suara Safa antusias. Biasanya ia tulus mau menemani kakaknya, disamping juga memanfaatkan kesempatan keluar kamar untuk mengulur-ngulur waktu tidur.

Suasana baik-baik saja sampai tiba-tiba Nada berteriak menangis dari dalam kamar mandi disusul suara cekikikan Safa.

Ibunya melompat dari tempat tidur ingin melihat keadaan dan mendapati Safa berdiri di depan kamar mandi, telah mematikan lampu kamar mandi dari luar.

Ibunya marah. Safa tetap cekikikan.

*

Pada malam yang lain, saya kebagian menemani Nada dan Safa di tempat tidur, sementara ibunya sedang di luar kamar untuk satu urusan. Lampu sudah dipadamkan. Tiba-tiba Safa keluar kamar menghampiri ibunya.

Ketika masuk ke dalam kamar, ia bilang, “Kakak, dedek dikasih obat dong sama ibu!”

Kakaknya keluar kamar.

“Ibu kakak juga mau minum obat!” Nada menganggap yang dimaksud obat oleh Safa adalah multivitamin yang biasanya mereka minum. Tapi dia salah.

“Kakak mau minum Trombopop?” kata ibunya. Trombopop adalah obat oles untuk meredakan bengkak, memar, atau lebam. Beberapa menit sebelumnya Safa memang kejedot tembok.

Nada masuk kamar dengan wajah kesal dikerjai.

Safa cekikikan. Saya ikut cekikikan.

*

Di hari yang lain, Nada minta dijelaskan tentang robot. Saya menjelaskan dengan mudah, “Robot itu mesin yang bisa membantu manusia, bisa yang masih diawasi manusia atau yang bekerja sendiri. Jadi kipas angin itu robot, kulkas itu robot, ricecooker itu robot. Apa lagi?”

“Jam.” Nada menjawab.

“Betul.”

“Radio.” Nada lagi.

“Betul.”

“Motor.”

“Iya.”

Tiba-tiba Safa menyela, “Cing Titis!”

Saya dan Nada saling berpandangan sambil mengernyitkan dahi.

“Apasih dedek. Masa Cing Titis robot?” Nada berkomentar.

Safa tetap nggak ngerti apa kesalahnnya.

Minggu, 28 Juli 2019

Sebuah Cerita yang Baik untuk Dikenang

Kamu tahu apa yang paling ditakuti seorang penulis?

Kehilangan tangannya.

Tanganku patah dan sedang dalam masa penyembuhan ketika menulis ini. Aku memaksakan menulis dengan sebelah tangan, sebuah cerita tentang kita. Atau yang aku anggap begitu.

Suatu ketika, setelah beberapa minggu dipenjara karena menghianati Daenerys, dengan borgol di tangan, Tyrion didesak berbicara tentang siapa yang pantas menjadi raja atau ratu selanjutnya.

“I have nothing to do but think this past few weeks.” Katanya dengan suara berat, “About our bloody history. About the mistakes that we’ve made.”

Tyrion memandang Grey Worm yang segera memalingkan muka seperti muak dengan segala yang akan keluar dari mulut Tyrion.

“What’s unite people?” Tyrion bertanya retoris sambil berjalan lambat, “Armies? Gold? Flags?”
Ia menggeleng pelan kemudian menjawab sendiri, “Stories. There's nothing in the world more powerful than a good story. Nothing can stop it.”

Begitulah aku menyukai cerita yang bagus, dan GOT adalah salah satu cerita yang bisa kita suka bersama.

Telah banyak kisah yang kita nikmati bersama. Beberapa waktu yang belum lama, kita berada di dalam sebuah teater. Layar lebar di depan kita menampilkan credit title bersamaan dengan lampu-lampu di langit-langit yang perlahan-lahan menerang. Aku berdiri dan bertepuk tangan.

“Jangan malu-maluin, bang,” kamu berbisik sambil memegang lenganku. Menyadari banyak orang yang memperhatikan, aku menurut dan melemahkan tepukan tangan.

“Ayo, gak usah ditungguin. Gak bakal ada adegan tambahannya.” kamu menarik tanganku ke arah pintu keluar. Aku tahu itu, sebelumnya di loket karcis aku membaca, “Tidak ada Adegan Post-Credits di Avengers: Endgame!”

Sepertinya sudah lama sekali aku tidak standing applause di bioskop, terakhir kali aku melakukannya ketika kita belum saling kenal, ketika selesai menonton Quickie Express. Bukan karena tidak ada film yang bagus setelah itu, tapi karena aku jarang ke bioskop. Maksudnya, kita jarang ke bioskop. Rasanya aneh pergi ke sana tanpamu.

Jika dipikir-pikir, hubungan ini membuat beberapa hal terasa aneh. Betapa tidur, menonton, makan dan hal-hal lain yang biasa kita lakukan sendiri sebelumnya seperti terasa aneh jika kita lakukan sendiri sekarang.

Ada beberapa film yang memberikan kita kisah yang bagus, baik yang kita tonton bersama di dalam kamar setelah anak-anak tidur dengan laptop kecilmu atau di ruang sinema yang megah dengan popcorn yang mahal.

Diskusi setelah menonton memang sekarang ini menjadi pelepasan yang paling mudah. Namun ada sesuatu yang hilang, pembicaraan kita tentang buku. Suatu malam, aku tidak tahu harus bicara pada siapa tentang Aroma Karsa yang baru selesai kubaca. Aku bicara padamu tentang itu tapi kamu seperti tidak tertarik. Karena yang ingin aku bicarakan adalah perbandingan Madre, Perahu Kertas atau Filosofi Kopi. Buku-buku yang mungkin kamu belum baca semuanya.

Aku mengerti. Itu mungkin seperti ketika kamu sangat ingin berdiskusi tentang Reply 1997 dan 1988, tapi aku tidak kuat bahkan sekedar untuk menonton habis episode pertamanya. Aku mencoba dan sejujurnya tersiksa dengan bising suara para pemeran. Bagiku soundtrack dan suara karakter memberi kepuasan sendiri.

Aku suka beberapa soundtrack The Good Doctor versi Amerika, juga God Friended Me, juga seluruh logat British karakter GOT. Ser Davos dengan aksen flee bottom yang empuk di telinga. Atau Jon Snow yang berbicara menggunakan suara tenggorokan yang berat dengan sedikit desis diakhir tiap kalimat seperti berbisik. Atau bunyi Bahasa Valerian yang penuh huruf vokal dan R yang jelas dan bertenaga. Suara Varys atau Littlefinger akan mudah kita kenali walau dengan menutup mata.

Game of Throne itu unik. Jika dalam Avenger kita bisa dengan mudah menunjuk siapa pahlawan dan siapa penjahat —walaupun dalam beberapa adegan kita disajikan sisi humanis Thanos, dalam GOT batasan antara apa yang sekarang kita sebut kejahatan dan kebaikan menjadi sumir, karena menjelma menjadi penuh interpretasi. Karena memang serial itu tidak dimaksudkan untuk mengisnpirasi dan menyuapi kita tentang norma-norma, tapi lebih dalam, ia menumbuhkan kesadaran dan membuat kita bertanya kepada diri sendiri.

Kamu ingat saat King Slayer rela kehilangan tangan ketika menyelamatkan Brienne Tarth? Memang awalnya ia tidak tahu pergelangan tangan kanannya akan ditebas, tapi ia tidak pernah menyesal mendapatkan hal itu demi melindungi Brienne. Padahal tangan bagi kesatria adalah hal terpenting setelah kehormatan. Apa pertanyaan terdalam pada dirimu sendiri? Pertanyaanku adalah, apakah demi cinta seorang sanggup mengorbankan hal yang paling berharga?

Cerita-cerita itu hanya tinggal cerita. Apa yang mengendap dan mengusik kesadaran kita adalah hal lain yang lebih penting. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti cinta, ketakutan terbesar, pengorbanan, kebahagiaan dan hal-hal yang walaupun besar tapi sangat sederhana dan bisa kita temukan contohnya dalam keseharian.

Konon cinta bisa membuat bahagia, mengaduk perut dan membuat jantungmu seperti berlari karena semangat. Di sisi lain ia membuatmu rapuh seperti batang pohon yang getas dimakan usia, karena ketakutan akan kehilangan orang-orang yang kamu cintai. Ia juga butuh selaksa pengorbanan. Maka terimakasih untuk segala pengorbanan waktumu untuk merawatku, untuk bangun dan memasak sarapan dan bekal makan siang, untuk ketelatenan menjaga dan membersamai anak-anak, untuk segala doa yang kamu panjatkan demi keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan kita. Terimakasih untuk setiap pelukan, perhatian dan semua ketulusan.

Sepanjang hidup, kita akan terus melatih diri untuk mengerti. Saling belajar dan memahami kerumitan pikiran masing-masing. Memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan-kesalahan kecil, kekecewaan sendiri-sendiri. Mungkin aku akan menghadapi hal yang paling kutakuti. Mungkin kamu akan menghadapi hal yang paling kamu takuti. Karena begitulah cara kehidupan menguji kita. Jangan cemas, selama kita bersama, cerita kita akan menjadi kisah terbaik yang kelak akan kita kenang.