Halaman

Senin, 01 Agustus 2011

Puasa Ramadhan Bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Pada bulan Ramadhan 1431 H (2010 M) tahun kemarin, istri saya tidak berpuasa karena sedang menyusui. Dalam keadaan normal, istri saya selalu berpuasa di bulan Ramadhan. Namun karena anjuran dokter kandungan yang khawatir puasa akan menghambat produksi ASI yang mengakibatkan tidak tercukupinya ASI untuk si bayi, maka istri saya tidak berpuasa. Apalagi ini anak pertama saya, jadi wajarlah jika saya dan istri sangat hati-hati sekali karena belum berpengalaman sebelumnya.
Dalam hal tidak puasa untuk wanita hamil dan menyusui karena khawatir terhadap dirinya atau bayi, para ulama sepakat memperbolehkannya.[1] Namun ntuk konsekwensinya, ada beberapa perbedaan pendapat antara mereka. Paling tidak ada 6 pendapat yang berbeda tentang hal ini:
1.     Wanita hamil yang tidak berpuasa hanya wajib menganti puasa dan tidak wajib membayar fidyah. Sedangkan wanita yang menyusui wajib menganti puasa dan membayar fidyah. Ini pendapat mazhab Maliki, al-Laits[2] dan pendapat imam Syafi’i dalam kitab al-Buwaithi.[3]
2.     Jika wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa karena khawatir terhadap anaknya saja, maka wajib baginya mengganti puasa di bulan lain dan membayar fidyah (memberi makan kepada fakir miskin dalam satu hari sebanyak satu mud (lebih dari 6 ons)). Ini pendapat mazhab Syafi’i,[4] Hambali[5] dan Mujahid.[6]
3.     Wanita hamil dan menyusui hanya berkewajiban membayar fidyah, tidak wajib mengganti. Ini pendapat Ibn ‘Abbas, Ibn Umar dan Sa’id bin Jubair dan al-Qasim bin Muhammad.[7]
4.     Wanita hamil dan menyusui hanya wajib mengganti dan tidak wajib membayar fidyah. Ini pendapat mazhab Hanafi,[8] Imam Syafi’i,[9] Auza’i, Zuhri, Sa’id bin Jubair dan lain-lain.[10]
5.     Wanita hamil dan menyusui tidak wajib mengganti dan tidak pula membayar fidyah. Ini pendapat mazhab Ibn Hazm al-Zahiri.[11]
6.     Memberi pilihan. Jika wanita hamil dan menyusui memilih fidyah, maka baginya cukup dengan fidyah dan tidak wajib mengganti. Sebaliknya, jika mereka memilih mengganti maka tidak wajib memberi fidyah. Ini pendapat Ishaq bin Rahwaih.[12]
Kesimpulan: tampak jelas bahwa pendapat yang kuat adalah pendapat yang mewajibkan mengganti puasa tanpa harus membayar fidyah. Ini dalam kondisi ketika wanita hamil dan menyusui mampu mengganti. Namun jika mereka tidak mampu, maka wajib membayar fidyah. Dan berpuasa akan selalu bermanfaat bagi yang mampu melaksanakan. Wallahua’lam bissowab.


[1] Lihat Imam asy-Syaukani, Nailul Author, Kitab ash-Shiyam, hal.297-8
[2] Abdur Razzaq, Mushannaf Abdur Razaq, jld. 10, hal. 223.
[3] Al-Mawardi, al-Hawi, jld. 3, hal. 437.
[4] an-Nawawi, al-Majmu’, jld. 6, hal. 267.
[5] Ibn Qudamah, al-Mughni, jld. 3, hal.139.
[6] Ibn Abdil Barr, al-Istizkar al-Jami’ li Madzahib Fuqaha’il Amshar, jld. 20, hal. 223.
[7] Ibn Abdil Barr, Op. Cit, jld. 10, hal. 221-222.
[8] Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Mukhtar, jld. 2, hal. 449.
[9] an-Nawawi, Raudhah ath-Thalibin, jld. 2, hal. 249.
[10] Ibn Abdil Barr, Loc. Cit.
[11] Ibn Hazm, al-Muhalla, jld. 4, hal. 410.
[12] Al-Bagwai, Syarh as-Sunnah, jld. 6, hal. 316.


Kamis, 28 Juli 2011

Mencatat Beberapa Kenangan di Hari Jadi


Kamu tentu masih ingat kemana kita dulu berbulan madu?

Ya, ke tempat budeku di daerah terpencil yang tidak pernah sekalipun kita berkunjung ke sana. Berbekal secarik catatan yang berisi alamat dan angkutan umum yang akan kita tumpangi, kita berangkat pagi itu, dua tahun yang lalu.

Sebelum bercerita tentang budeku, aku ingin kamu mengingat-ngingat kembali waktu kita pertama kali berkenalan, jauh-jauh hari sebelum kita menikah.

Emmm. Biar aku juga ingat-ingat dulu. Saat itu aku sedang mencari-carimu, pada lembaran-lembaran buku yang kubaca berulang-ulang.

Agak sulit sebenarnya menemukanmu. Dan bukankah memang agak sulit memahami bahwa ada seseorang di dunia ini yang sedang kita cari yang juga mencari kita? Walaupun sebenarnya tidak perlu juga aku mencarimu, karena aku punya keyakinan yang amat sangat bahwa segala kejadian di bawah matahari ini telah tercatat di lauhilmahfudz beribu-ribu tahun sebelum kita tercipta. Jadi, tanpa dicaripunsebenarnya kamu bisa saja ditemukan. Sayangnya, tidak seorangpun tahu apa isi catatan agung itu. Sehingga manusia dibebankan tanggungjawab untuk berusaha.

Percayakah kamu akan takdir, sayang?

Aku percaya. Aku percaya kita telah ditakdirkan untuk bersama. Mungkin sebelumnya kamu pernah menyukai laki-laki lain, begitu juga aku pernah menyukai wanita lain. Namun apalah artinya semua itu sekarang selain hanya sebagai api-api kecil yang terkadang menyulut rasa cemburu kita. Selama api itu tidak membesar dan menghanguskan rumah jiwa yang telah kita bangun bersama, tidak lah perlu kita khawatir. Justru api-api kecil itu menghangatkan, bukan?

Semenjak aku muda, lebih muda dari sekarang, aku telah banyak membaca literatur tentang cinta. Aku pernah membaca Gibran:

Kalau kau sedang dalam cinta kau jangan mengatakan, “Tuhan ada dalam hatiku,” tetapi katakan, “Aku ada dalam hati Tuhan.”


Dan jangan sekali-kali berpikir bahwa bisa menentukan arah cinta, sebab cinta, jika kau dianggapnya berguna, akan menentukan arahmu.

Dulu aku tidak mengerti, sekarang pun tidak terlalu paham. Yang aku tahu, dulu waktu aku masih muda, lebih muda dari sekarang, aku berpikir bisa menentukan arah cinta. Menentukan kemana aku akan berlabuh. Aku mencari cinta yang, kata Gibran, tidak bisa dicari.


Saat itu aku masih muda, lebih muda dari sekarang. Pada suatu senja yang tidak tercatat, aku pergi ke sekolah. Seperti biasa, di sekolah aku biasa duduk di bangku manapun, karena bagiku semua bangku adalah sama. Dan dengan menganti-ganti tempat duduk membuat cara pandangku berbeda. Dan kali itu, aku duduk bersama seorang gadis. Waktu itu, mungkin kita memang suka satu sama lain, tapi malu dan tidak bisa mengungkapkannya. Karena beberapa hal, kita menjadi tahu bahwa tidak semua perasaan itu mudah dan perlu untuk diungkapkan.



Juga pada suatu senja yang lain (Kenapa selalu senja? Karena senja itu romantis mungkin), ketika aku masih muda, lebih muda dari sekarang, aku mengamati seorang gadis di bangku perpustakaan selama seratus dua puluh satu hari. Hanya memandangnya dari jauh tanpa berani menatapnya langsung. Tak punya kesanggupan lebih tepatnya.

Dan lagi-lagi pada suatu senja (ini yang terakhir), aku mencoba untuk berani mengungkapkan apa yang terlintas di hati pada seorang gadis dan… ditolak.

Sejak saat itu aku tidak percaya lagi dengan konsep Soul Mates, atau cinta pada pandangan pertama. Tapi aku mulai percaya bahwa jika beruntung, mungkin aku akan bertemu seseorang yang tepat. Bukan karena dia sempurna untukku, atau aku sempurna untuknya, tapi karena kita bisa saling memahami kekurangan masing-masing. Seorang sahabat yang mengisi, yang berbagi.

Dan ketika bertemumu, aku merasa beruntung. Segalanya yang telah kulewati bersama gadis-gadis itu menjadi fiksi. Aku kembali menapaki bumi yang selam ini aku tinggalkan. Aku mencoba melewati batas ketakutanku dan membiarkan cinta menentukan arahnya sendiri.

Oh ya… Balik lagi ke bulan madu kita. Ah, rasanya bukan Bulan, hanya beberapa hari, tiga hari mungkin. Tapi tidak enak juga kalau disebut hari madu, karena seirama dengan istri madu.

Banyak hal yang kita dapat dari perjalanan seribu satu rasa itu. Pelajaran saling mempercayai, nasihat-nasihat berumah tangga juga bersilaturahmi dengan keluarga.

Apa kamu masih ingat ketika kita tersesat dengan sukses? Tentu itu bukan salahku, karena aku telah mewanti-wanti Pak Supir agar menurunkan kita di Cibogo desa Brujulkulon. Dan dengan tanpa merasa bersalah dia menurunkan kita satu desa setelahnya.

Apa yang kamu rasakan saat itu? Apakah sama dengan yang kurasa?... entah kenapa, aku merasa beruntung bisa tersesat bersamamu. Dan aku hanya bisa mengatakan terimakasih telah mau tersesat bersamaku.



Kamu tahu sayang, budeku itu janda tanpa anak. Suaminya meninggal bertahun-tahun yang lalu dan dia hanya tinggal sendirian. Jauh dari keluarga juga orang tua. Kehidupan yang mungkin banyak orang jauhi. Menjalani kehidupan di masa tua seorang diri. Jenis kehidupan yang jika kau meninggal hari ini maka keluargamu akan datang keesokan paginya. Hanya bertemu dengan nisan dan kuburmu yang masih basah.

Apakah kita akan seperti itu? Atau kita akan bersama menjalani hidup ini sampai tua? Sampai mati?...

Aku mencintaimu. Tapi… apakah itu abadi? Apakah kita akan selalu bersama seperti harapan para kekasih yang sedang dimabuk cinta?

Aku menyerahkan hatiku. Tapi… bisakah kau memilikinya? Bisakah aku mengambil hatimu dan meletakannya di tempat kosong dalam dadaku —karena hatiku telah kuberikan padamu?

Aku menikahimu. Tapi… bisakah aku mengikuti kemanapun kau pergi? Bisakah aku selalu mengawasimu seperti halnya tuhan yang selalu mengawasi ciptaannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu tersekat di kerongkongan atau menggantung di udara tanpa ada yang bisa menjawab.

Aku bisa saja menulis janji setia sampai mati di sini agar semua orang tahu. Namun, apagunanya bagimu, juga bagiku, selain hanya memperlihatkan keangkuhan. Apa gunanya janji-janji yang pasti di tengah-tengah ketidakpastian dunia, selain hanya memperlihatkan kedunguan.

Ma’af jika aku terlalu banyak menulis kata-kata yang realis. Karena sejujurnya, aku hanya menulis yang terlintas di hati.

Untuk saat ini, berdirilah sejajar di dekatku, sayang. Tapi jangan terlalu dekat, karena tiang-tiang rumah pun tegak terpisah-pisah, pohon-pohon di hutan pun tumbuh tidak saling membayangi.



Seperti dawai-dawai sitar yang terpisah-pisah, kita akan menciptakan alunan musik yang indah. Semoga.

Senin, 28 Maret 2011

Menakar Liberalisme

Seorang sahabat mulai berdoa, “Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Tuhan seluruh agama.”

“Ah, kamu liberalis ya? Tuhan seluruh agama.” Kata saya mengulang kata-kata terakhirnya.

“Entahlah, aku hanya menterjemahkan Rabbul ‘Alamiin, Tuhan seru sekalian alam.”

“Maksudnya?”

“Ya, jika Allah adalah Tuhan seru sekalian alam, maka Allah adalah Tuhan seluruh makhluk; tumbuhan, hewan, jin dan umat manusia dari segala golongan, suku, bangsa maupun agama.”

“Tapi tidak berarti semua agama sama kan?”

“Ah, kamu ini. Saya kan mengatakan Allah Tuhan seluruh agama.”

Selasa, 15 Februari 2011

Writing is Thinking; Survive to Keep Writing

Why do we have to write?

I simply answer “because we need”. Whatever your job is, whatever your talent is, whatever your hobbies are, you need to express your idea; clear, systematical and strong. You need to write.

In my opinion, writing is a sort of thinking. It is the way for you to exercise in order to have better opinion. Writing is not easy if you just only try it once or twice and after that you wish for a miracle comes and perfect your writing. It is also not as difficult as you thought if you know how to do it, however. Just as the other skills that need determination in the beginning and perseverance to the end, so does writing.

However, in the reality, writing seems difficult because some people did not generally have enough or appropriate lesson of this skill in the schools as needed. And when they realize about the importance of writing, they could become an impatient person. Other people start it passionately but with not much preparation, and after a while they get the feeling of pessimism and lack of talent. But remember, writing needs consistence, perseverance, and passion to survive.

I think, almost everything can be written. But whether or not the person wants and has courage to write is all that matters. If the lack of idea becomes the reason of not being able to write, to me that is just a silly reason. In actual fact, our heads have thousands and even millions of ideas waiting to be written.

If someone asks me to write something, I will start with the strongest feeling that I have in that moment, once more, the strongest feeling. For example:
“Today I’m having the writer’s block. Maybe there are some reasons that block the ideas in my mind to appear yet… and so on… and so on…”

After that I will correlate something that I am writing with the theme.

Maybe for some people this technique sounds funny and cannot be realized. For example, if your strongest feeling at that time is hunger but the theme is about independence, so what is relationship between hungers and independence? Nothing.

But that is the way how the brain works; to relate one to another. This is the theory brought by A.S. Laksana in his book Creative Writing. He wrote that you can push your idea out by taking three words randomly and then you put them in a paragraph or more.

In writing, it is usual if you find the first draft you write is very messy. The text becomes broken text. It might not become an enjoyable text or it sometimes does not focus. But for me, it is no problem. For a starter, it is better than nothing. Even one of the famous writers once said that 80 present of his first draft is shit.

And to finish writing, we need to write fast. Why do we need to write fast? It is because it can keep our mood, writing mood. For me, fast writing can save my mood. It also can produce a humble and honest writing. Fast writing, to me, is the same as fast speaking. If the others can understand to what we are talking then they will understand to what we are writing as well. And to make writing as understandable as speaking, we need to write fast.

Why can we speak fast? It is because we know something that we want to tell and how to tell it. We also can speak fast because we don’t need to think hard to find the ‘magic’ words. We just speak to express our ideas clearly. It also happens in fast writing.

And the last but not least, write without editing! Yes, don’t combine these two different things; writing and editing. Separate them. So write fast and badly just like you speak! Don’t mind about errors and thee perfect ending because there is still one more step to make it better; editing.

Finally, writing needs a clear minds, determination, and perseverance.

Minggu, 02 Januari 2011

Waktu

“Aku sibuk, pak. Tidak ada waktu.” Kata seorang murid kepada gurunya.

“Bukankah dengan bicara seperti itu kamu menganiaya waktu, Nak?! Waktu itu selalu hadir, hanya saja kamu tidak mau menemuinya.”

Minggu, 19 Desember 2010

Cerita Sarjana

Saya menyetop taxi dan melaju ke arah Jakarta, ke Balai Sudirman. Bersama ibu dan bapak, ingin menghadiri acara wisuda. Wis Udah. Acara perayaan peng-ahir-an study.

Setelah masuk gedung, bapak dan ibu duduk. Saya bingung. Saya tidak tahu harus ngapain lagi, harusnya kemarin saya ikut gladiresik. Harusnya saya punya lebih banyak teman di gedung itu, untuk sekedar bertanya.

Ah, ada panitia di sana. Saya bisa tanya sekalian ngobrol dan berkenalan. Hai, panitia ya? Kalo nomor satu tiga tujuh barisnya dimana ya? Saya bertanya ke seorang panitia. Cewek. Oh, iya di sini, dia menjawab.

Permulaan yang bagus. Makasi ya, saya berucap. Kok gak ada name tag-nya? Namanya siapa? Saya bertanya lagi. Hana, dia menjawab. Dan percakapan selanjutnya adalah:

Saya: semester berapa?
Hana: semester satu.
Saya: oh, baru ya.
Hana: iya.

Kemudian percakapan jeda beberapa lama…. Mungkin beberapa jam. Mungkin beberapa bulan. Iseng-iseng saya buat percakapan lagi. Percakapan iseng-iseng.

Saya: hana, ya?
Hana: iya tadikan udah kenalan.
Saya: ngak. Maksud saya, nama kamu kok familiar ya? Saya pernah liat foto kamu juga. Dimanaaa gituh. Di mading kayaknya.
Hana: masa sih? *sambil mesem-mesem. Ngingat-ngingat foto apa yang dia tempel di mading*
Saya: iya mading kampus. Ada tulisannya juga.
Hana: ah, enggak.
Saya: iya saya ingat. Tulisannya apa ya?…. wanted, kalo gak salah.
Hana: hahaha…

Acara berlangsung sesuai jadwal. Ah, seharusnya begini setiap acara, tertib waktu. Ada pidato ilmiah dari seorang profesor doktor. Ah, pasti bayarannya mahal. Benar-benar menghipnotis. Saya melihat beberapa teman setengah tertidur. Gak percuma professor itu dibayar mahal. Istri saya SMS di tengah acara, “Lagi apa?”. Saya jawab, “Lagi mau tidur.”

Pidato professor mengingatkan saya pada Hoeda Manis, penulis yang produktif itu. Buku terbarunya akan segera terbit, Learning is Easy, terbitan Elex Media Komputindo (oh ya, kalo kebetulan kamu baca tulisan ini Hoed, berarti kita impas ya. Dan aku tunggu kiriman bukunya. Hehe… ). Kalo penulis lain butuh popularitas dari fesbuk, Hoeda ngak. Mungkin dia berpikir fesbuk terlalu bising. Dia tipe penulis yang menulis karena ingin menulis. Karena senang. Aku adalah jasad kosong yang menyusuri jalan, dan menulis membuatku merasa memiliki jiwa, katanya pada setiap orang.

Oh, kenapa saya tiba-tiba ingat dia? Ya, mungkin karena pidato profesor itu mirip dengan pendapat Hoeda tentang pendidikan dan pembelajaran. Dia menulis: Jangan pernah meyakini sedetikpun bahwa sekolah dan pendidikan formal adalah satu-satunya cara pembelajaran. Sekolah dan pendidikan formal adalah semacam ‘pemaksa’ agar kita mau belajar. Orang-orang kebanyakan menilai kita sebagai orang yang belajar apabila kita bersekolah, dan mereka akan menilai kita sebagai seorang yang tidak belajar bila tidak sekolah. Atau dengan kata lain, kita akan menjadi pintar bila sekolah dan akan menjadi bodoh jika tidak sekolah.

Ya, sepertinya memang pemahaman itu yang dari dulu kita pegang, kawan. Bahwa sekolah adalah satu-satunya sarana pembelajaran. Sehingga sadar atau tidak kita menjadikannya sebagai ‘gengsi pendidikan’. Kita menjadikan pendidikan formal menjadi suatu gengsi. Mendapat nilai bagus menjadi sebuah gengsi. Kita kuliah, karena ingin meningkatkan gengsi —walaupun ada sebagian yang melakukannya dengan ogah-ogahan atau asal-asalan. Kita memiliki status yang jelas sebagai mahasiswa. Sebagai orang yang sedang belajar. Sebagai orang yang berpendidikan.

Dan ketika kita telah lulus dan punya title, kita pun masih ingin melanjutkan sekolah lagi. Apakah itu berarti kita kecanduan sekolah? Mungkin. Ivan Illich mengatakan bahwa sekolah dan segala bentuk pendidikan formal pada akhirnya tidak mencerdaskan siswa, melainkan hanya menciptakan ketergantungan atau perasaan kecanduan yang neurotic.

Sudah waktunya bagi kita untuk menyadari bahwa sekolah dan segala bentuk pendidikan formal hanyalah bagian kecil dari ruang lingkup pendidikan yang maha luas bernama kehidupan. Sekolah itu penting, tapi belajarlah yang terpenting. Belajar itu wajib, tapi sekolah sunah. Intinya tidak apa tidak sekolah, tapi tidak boleh tidak belajar.

Acara berakhir sesuai jadwal. Orang tua saya memilih menunggu di luar. Saya berfoto-foto dengan beberapa fans. Setelah berfoto, saya menyelinap ke luar gedung. Menyelinap dari kerumunan. Sendirian. Di luar telah menunggu kedua orang tua saya. Saya bersalaman dan mengucap terimakasih.

Kita naek angkot aja pak pulangnya, kata saya ke bapak. Oke, kata beliau. Ya, kehidupan telah mengajarkan saya untuk mengirit, kawan. Selamat menjadi sarjana. Selamat belajar. Selamat mencari makan, kawan.

Sabtu, 18 Desember 2010

Hanya untuk Membantu Mengingat Kembali, Maka Saya Perlu Menulis

Hari ini saya ngeliat buku jurnal. Di dalemnya ada kalender dari tahun 2007 sampe 2017. Saya sejenak ngeliat catetan-catetan dari tahun 2007 sampe 2010. Kesimpulan di kepala saya satu; perasaan baru kemaren saya disunat.

Rasanya saya hanya hidup hari ini aja. Hari-hari sebelumnya hanya ingatan, hanya sebentuk memori di kepala. Saya selalu ngebayangin otak manusia adalah sebuah CPU, yang punya memori dan kapasitas. Andaikan memori itu dicabut, kmungkinan saya gak akan inget hari kemarin. Dan hilanglah konsep waktu kemarin dan akan datang. Waktu itu gak ada, yang ada hanya saat ini.

Itulah guna catatan, untuk membantu memori di kepala saya mengingat-ingat. Jadi kalo memori di kepala saya konslet, saya akan meminta orang lain untuk mengingatkan tentang catatan-catatan ini: 2 April 2007, pertama kali saya masuk kerja. Saya dapet banyak temen, juga pacar. Saya mengumpulkan uang dan bisa beli laptop di bulan Nopember tanggal 2, 2008. Awal Juli 2009 buku pertama terbit. Dan tanggal 28 juli pada tahun yang sama —satu hari sebelum saya berusia 24— saya menikahi wanita yang saya suka. Tahun berikutnya lagi, tanggal 15 Maret, saya bisa kredit rumah. Enam  Juli 2010, anak pertama saya lahir. Dan sepertinya baru kemarin saya diwisuda, 16 Desember 2010. Dan saya ngerasa seperti sedang bermain The Sims.

Memang urutannya agak ngaco. Kalo manusia ‘normal’ lulus kuliah, kerja trus nikah. Saya; kerja, nikah, punya anak baru lulus kuliah. Mungkin seperti itulah hidup dalam pandangan saya; menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Ya, saya bisa menceritakan empat tahun hidup hanya dalam satu paragraf. Adapun sisa hari-hari dan bulan-bulan yang gak saya certain adalah tugas rutin hidup; bangun jam lima, kerja, pulang jam tujuh malam, nonton TV, makan, ngobrol, tidur. Akhir bulan gajian. Hari libur jalan-jalan. Kalo dapet 100 miliar keliling eropa.

Menarik memperhatikan saya tidur dalam satu hari, yang mungkin kira-kira 6 jam. Berarti, setidaknya 1/3 dari satu hari hidup saya dihabiskan untuk tidur. Dan berarti, dalam umur saya yang sekarang kira-kira 8 tahun saya habiskan untuk tidur. Dan berarti, saya hampir sama dengan Ashabul Kahfi. Begitupun kalo saya hitung waktu saya nonton TV, makan, mandi, terjebak macet dalam satu hari. Mungkin sekitar 3 tahunan saya habiskan untuk itu. Belum lagi dikurangi masa kanak-kanak, masa yang juga dilewati dalam keadaan yang hampir gak sadar. Dan kalo mao diterusin, masih akan ada banyak lagi pengurangan-pengurangan yang lain. Jadi kesimpulannya, yang tersisa dari hidup saya ini hanyalah beberapa tahun. Dan sadar atau nggak, saya pun mengurang.

Dan apa nilai penting hidup dalam ‘kependekan’ ini.