Iblis sedang berbicara kepada teman-temannya ketika seorang pemuda berjalan di depan mereka. Mereka menyaksikan ia lewat untuk kemudian membungkuk dan mengambil sesuatu.
“Apa yang dia temukan?” tanya salah satu teman Iblis.
“Sepotong Kebenaran.” jawab Iblis.
Teman-teman Iblis terlihat sangat khawatir. Semua hal telah mereka lakukan untuk menjerumuskan manusia, tapi dengan sepotong Kebenaran yang ditemukan pemuda itu, ia bisa terselamatkan. Tapi Iblis tetap bergeming, menatap jauh ke ufuk.
“Apakah kamu tidak khawatir?” kata salah satu temannya, “Dia menemukan sepotong Kebenaran!”
“Saya tidak khawatir.” jawab Iblis.
“Apakah kau tahu apa yang akan ia lakukan dengan sepotong kebenaran itu?” kata temannya yang lain.
“Seperti biasa, dia akan membuat agama baru. Dan dia akan berhasil menjauhkan manusia dari Kebenaran.”
Diambil dan diterjemahkan dari http://paulocoelhoblog।com/
-:(الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك وتعالي/ ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء):-
Kamis, 22 September 2011
Selasa, 20 September 2011
Menulis Untukmu
kau ingin aku menulis dalam alur pantun, sebuah gurindam, soneta, kwatrin atau prosa...
baiklah, ingin aku menulis apa
cinta?
Sapardi telah indah bicara cinta
pada alurliur puisi
tuhan?
Sutarji telah dalam menulis tuhan
pada baitbait sajak
social problem?
Oh, Jokpin telah arif membahasnya
pada alir syair
lalu
apa yang bisa kutulis
menulis indah temaram senja
di ujung garis pantai ketika burungburung pulang
dengan perut kenyang
menulis lindap subuh yang jauh
dengan selintas garis putih fajar
ketika kelelawar malam berhambur untuk tidur
atau
kau ingin aku menulis
keabadian pada sebutir pasir
dan surga pada sekuntum bunga liar
semua telah kutulis
untukmu
Bekasi, 4 Maret 2007
baiklah, ingin aku menulis apa
cinta?
Sapardi telah indah bicara cinta
pada alurliur puisi
tuhan?
Sutarji telah dalam menulis tuhan
pada baitbait sajak
social problem?
Oh, Jokpin telah arif membahasnya
pada alir syair
lalu
apa yang bisa kutulis
menulis indah temaram senja
di ujung garis pantai ketika burungburung pulang
dengan perut kenyang
menulis lindap subuh yang jauh
dengan selintas garis putih fajar
ketika kelelawar malam berhambur untuk tidur
atau
kau ingin aku menulis
keabadian pada sebutir pasir
dan surga pada sekuntum bunga liar
semua telah kutulis
untukmu
Bekasi, 4 Maret 2007
Dunia Abu-abu
Seperti tak pernah mengenal apa itu pelangi
Semua tak bersuara
Semua tak berasa
Meski penuh lebam dan luka
aku takkan menyerah menemukan pintu pulang
dimana aku dapat kembali menemukan warna dan rasa
Yang pernah aku dapatkan darimu
Semua tak bersuara
Semua tak berasa
Meski penuh lebam dan luka
aku takkan menyerah menemukan pintu pulang
dimana aku dapat kembali menemukan warna dan rasa
Yang pernah aku dapatkan darimu
May 2, 2009
Written by Diah Resmisari
Sabtu, 17 September 2011
Life is a Small Journey: A Contemplation
It was an ordinary morning. I got up and thanked for my health. I also thanked for everything that Allah had given in that morning. After finishing my ‘morning duty’, I opened the door. The air touched my face and made it fresher. In the garden, the wind blew the leaves on the trees. It looked like ‘morning waving’ for me. The sun shined through the leaves and made the abstract shadow on the floor while my neighbor hens were crowing. All of those conditions made the morning perfect.
Yup, it was a perfect ordinary morning. I was thinking to travel around. It was Sunday, the day that I called ‘the day when the conscience fights with the loneliness’.
I was talking to myself, “Where am I going to go?”
I didn’t decide exactly where I wanted to go. Let Allah lead my hands to ride my motorcycle to somewhere.
I checked everything on my motorcycle, so I hoped there was no troubles on the road. Then, I rode my motorcycle through the morning air. After passing Inkopol, I passed the Patriot Raya Street. It was an alternative street, very strategic to run a business. On the right and the left of the street there was a lot of motorcycle washing services, restaurants, mini markets, Warnets and so on.
Not so long, I arrived at Pasar Kranji Baru; dirty, broken and bad smell. I didn’t want to get in there, so I passed it through Pemuda Street to Pasar Kranji Ujung that was being renovated. I stopped at the traffics light. While waiting the lamp turned green, I whistled. There was a little transportation in that morning. The air was still clean to breathe. Every other time, I heard ojek man giving their ride to employees that got off the bus. They showed their tired faces. The voice of people blended with the transportation sound. The condition was lively. It was the real life. It was not imitated reality.
The light turned green, and I continued my journey. I turned right and passed the Grand Mall Bekasi. I finally passed Jl. Jend. Sudirman. I still rode through happily on my bike until I got into GOR Bekasi traffic light. The street was like the capital letter of ‘T’ in enormous size. The light was red, and I looked around. On my left there was a gas station. On my right, there was a couple on Honda Tiger; the girl at the back was holding the rider tightly. Every other time they whispered and every other time they laugh. The little street singer with his little guitar was singing in a Koasi. Opposite it, there was a woman beggar that carried a baby. There was also an old woman beggar holding a plastic bowl where people put in the charity.
Hoooonnkk!!!. The sound of a horn car behind me realized that the light was green. It meant I had to go. I went straight with the shocking.
Finally I arrived in Bekasi train station. I arrived in a roundabout called Bulan Bulan. There used to be a cat fish statue in the middle of that roundabout. But some people burnt the statue few years ago.
There were many things I remembered from the place. For me, Bulan Bulan and the streets around it especially Jl. Ir. H. Djuanda is my childhood memory. It was the place where I spent my childhood and my teens. Not far from it there was a place named Proyek. It is a downtown area. From far away, you could see there were many shop rows on the right and the left street. They seemed to say: ‘Welcome to Bekasi! May you have a great and enjoyable journey!’
For me, the place around Bulan Bulan is the real Bekasi. The place where I used to go jogging in the morning, take a train, or only take a journey without purpose like right now. It was like enjoying life in the past time, life in the childhood. It was the period when I didn’t think about the big problems. I had been still afraid to do a sin or maybe I hadn’t thought about the sins yet.
On Jl. Ir. H. Djuanda also lies Pesantren Annida Al Islamy, the place where I had stayed for 6 years, the place where it had given me a deep impression, the place where I had improved, developed, studied and grown up until now, where the foundation of my mind was formed.
Time became more melancholic when it passed, when it became past time and was remembered, when it was proudly told as a ‘pleasure time’ story to new friends. The past time always reminds me there isn’t an eternity in the world. Everything has an end. Everything! No exception. It is really true that it is hard to realize that someday people around us will go away and disappear, that they cannot always be with us. Yeah, it is always like that. However, that is our life…
I had a thought that become a traveler is sometimes fun. I can go everywhere; go to the place where my physic and my mind fight against each other, meet many new friends without always be with them, without being afraid to became loneliness. I can live freely; can enjoy my whole life, a life without hate and sorrow.
But in fact, many people see the same people everyday. Until some people became a part of the other people. And like it or not, the other people seem more to know how the other people must act. And the fact is I am not such as the traveler. So I just have an ordinary life. But I know there are lots of things I proudly tell about my life, there are lots of people in my life that I love and admire —because they deserve it.
This is small, but valuable.
Kau ada
Pada selembar pagi
cobalah pergi ke kebun belakang
dimana suara burung dan alam merdu terdengar
sesekali cobalah bangun pada tengah malam
ketika degup jantungmu jernih berdebar
bukan untuk apa
tapi tuk pikir dan renungi
bahwa Kau ada
Bekasi, 6 September 2007
cobalah pergi ke kebun belakang
dimana suara burung dan alam merdu terdengar
sesekali cobalah bangun pada tengah malam
ketika degup jantungmu jernih berdebar
bukan untuk apa
tapi tuk pikir dan renungi
bahwa Kau ada
Bekasi, 6 September 2007
Jumat, 16 September 2011
Agama dan Kebebasan Berpikir
Pernah ada seorang temen yang SMS ngasih tau tentang sebuah acara di sebuah stasiun TV yang diduga bermuatan misionaris nasrani. Dia menulis dalam SMS: Hati-hati karena acara itu bisa menghipnotis. Tolong sebarkan ke teman-teman yang lain.
Saya jawab SMS-nya, “ah masa?”“Iya bener. Kata temen gue, temennya dia pernah ada yang masuk kristen. Dia sedih banget. Karena itu temen baiknya.”“Oh… kalo ketemu temen lo salam dari gue ya. Bilangin jangan sedih.”“Iya.”“Bilangin juga. Tuhan aja punya anak satu-satunya masuk kristen gak sedih, masa dia sedih si… Hehehe…”….
Gak ada jawaban.
Secara garis besar, begitulah keberagamaan kita. Segalanya dicurigai. Tapi daripada berdebat dengan orang lain, saya lebih seneng berdiskusi dengan diri sendiri. Dalam tulisan ini, tentunya.
A: Apa lo udah sangat yakin dengan kepercayaan lo yang sekarang?
B: Sedang dalam keadaan. Berproses. Keimanan dalam diri gue bisa bertambah, berkurang atau hilang. Sekarang gue sedang berproses.
A: Lo sering mempertanyakan keimanan sendiri? Apa ngak takut kalo nanti iman lo beralih?
B: Iman yang rapuh adalah iman yang gak pernah digoncangkan, kawan!
A: Ah, lo bisa bilang gitu kan karena lulusan pondok. Basic agama lo udah kuat.
B: Gak juga. Banyak juga temen-temen gue sesama anak pondok yang punya basic keilmuan agama yang sama tapi bersikap lebih ekstrem. Itu semua tergantung sejauh mana kita mampu membuka hati dan pikiran untuk objektif memandang masalah. Ini bukan masalah anak pondok atau bukan. Ini masalah keyakinan dan perbedaan pendapat.
A: Trus, lo nyaman berpikir kayak gitu?
B: Ya, gue ngerasa lebih santai dan rileks menghadapi segala caci maki. Paling gak itu yang gue rasain.
A: Ah, lo liberalis! Jenis orang-orang yang berpikir semaunya. Tanpa batas. Gak tau apa kalo pikiran itu ada batasnya?!
B: Oh, come on! Jangan emosi gitu dong. Dalam Islam batasan perbedaan itu sangat jelas, kita ngak akan menyembah apa yang mereka sembah dan mereka pun ngak akan menyembah apa yang kita sembah. Akidah kita berbeda. Agama kita dan agama mereka berbeda. Mari hormati perbedaan itu. Dan sebatas itulah pikiran gue.
Nb: Keberagamaan adalah sikap. Ia bukan hanya sebatas pikiran. Lebih jauh ia adalah pikiran yang menyikap menjadi sebuah perbuatan ril. Bukan sekedar omongkosong tanpa realisasi. Keyakinan harus diterjemahkan ke dalam sebuah aktifitas bukan hanya jadi bahan debat. Keimanan harus membumi bukan melangit. Merealitas menjadi perbuatan-perbuatan baik.
Sabtu, 10 September 2011
Kaus Baru Nada
Waktu lebaran kemarin Nada, anak perempuan saya, punya kaus baru berwanrna jingga bertuliskan ‘Mom’s Little Champion’. Nggak ada yang terlalu istimewa atau aneh dengan tulisan itu. Hanya saja, apakah setiap anak harus jadi juara?
Ah, untuk anak umur tiga belas bulan seperti Nada, mungkin belum ngerti apa maksud tulisan di kausnya. Beruntunglah dia karena nggak terbebani dengan predikat sebagai ‘Sang Juara’, entah juara apa. Lagipula, bagi istri saya, segala kelakuan Nada, apapun itu, adalah juara. Waktu ia menangis keras, dia menjadi ‘juara menangis’. Waktu ia menggigit ketika digendong, dia menjadi ‘juara menggigit’. Waktu ia menghabiskan bubur dalam mangkok, ia juara. Waktu ia bisa menunjuk dimana letak hidungnya, ia juara. Waktu ia baru bisa berjalan, ia juara. Bahkan waktu ia pup setiap hari, ia juara. Dan jika ingin diteruskan masih akan ada banyak lagi juara-juara aneh lainnya. Juara-juara yang nggak akan diberikan untuk orang dewasa seperti kita.
Masa anak-anak adalah masa dimana orang tua bisa memakaikan pakaian berjenis apapun atau bertuliskan apapun. Sekonyol apa pun, senorak apa pun, sengejreng apapun, si anak nggak akan merasa keberatan. Jelas saja, mereka kan memang belum bisa menilai. Biasanya para orang tua hanya punya satu acuan teknis untuk menilai; lucu. Saya pun sering memakaikan celana dalam sebagai topi untuk anak saya. Sekali lagi, si anak nggak akan merasa keberatan. Bahkan mungkin ia akan senang, karena ia banyak melihat senyuman, banyak mendengar pujian, banyak merasakan ciuman.
Saya berharap dia benar-benar menjadi juara. Saya ingin slogan itu dibawa sampai dewasa. Dia akan selalu menjadi anak manis yang penurut. Rajin belajar. Pintar. Itu harapan saya, namun keinginan terkadang nggak sesuai dengan kenyataan. Mungkin saja seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia, akan ada banyak perubahan pada anak saya. Mungkin ia akan mulai bisa menilai warna apa yang cocok untuknya, model apa yang sedang trend, jenis musik apa yang ia sukai. Mungkin ia mulai nggak belajar dengan serius. Mendapatkan bebrapa nilai jelek di sekolah.
Dan, ayo lah… kita tentu sudah tahu bahwa menjadi juara itu nggak mudah. Juara itu hanya satu, sementara yang menjadi peserta ada puluhan bahkan ratusan orang. Bukankah itu berat. Bayangkan jika semua orang menginginkan untuk jadi juara. Bayangkan jika seluruh orang tua menginginkan anaknya juara, menargetkan mereka untuk jadi juara. Mendorong mereka untuk jadi juara kelas, untuk jadi juara Matematika, juara piano, balet, Bahasa Inggris dan lain-lain seperti idealnya banyak orang tua inginkan. Bayangkan jika semua orang tua menginginkan anak mereka menjadi juara, sementara yang berhak menjadi juara hanya satu.
Dan mari kita jujur. Berapa banyak diantara kita yang menyontek ketika ujian karena takut nilai jelek. Berapa banyak diantara kita yang rela mengeluarkan uang banyak hanya karena ingin masuk sekolah favorit. Berapa banyak yang ingin menjadi juara dengan cara curang. Bukankah itu hanya menjadikan kita sebagai manusia yang culas. Semua itu penyebabnya hanya semata-mata karena tekanan sosial yang meletakan prestasi belajar di sekolah di atas segala-galanya. (Maklumi saja ya, saya menjadi sinis begini karena pengalaman nggak pernah jadi juara. Hahahaha…)
Bisakah kita, ketika mereka telah dewasa nanti, menanamkan di diri kita sendiri –bukan pada mereka— slogan ‘Mom’s Little Champion’ tanpa ada tendensi untuk membebani mereka dengan predikat itu. Bisakah kita secara sederhana menyematkan juara pada setiap tindakan baik mereka seperti yang biasa kita lakukan ketika mereka kecil?
Aduh, kenapa saya ini? Kenapa berpikir terlalu jauh? Untuk memahami ucapan saja anak saya belum bisa, kenapa perlu berpikir sejauh itu. Maaf, maafkan penulis iseng yang mengajak berpikir terlalu jauh ini.
Mungkin kaus-kaus itu dicetak hanya untuk lucu-lucuan saja, tanpa punya tendensi apapun. Tanpa usaha mendoktrin. Seperti slogan: Mom’s Little Angel atau When I Grow Up I Want to be Just Like Dad. Ya, mungkin saja slogan-slogan itu nggak bermasud terlalu jauh. Nggak bermaksud menjejalkan pemikiran-pemikiran normatif yang seharusnya mereka miliki ketika dewasa. Mungkin saja. Kaus hanyalah kaus.
Karena bagaimanapun, kita nggak bias memaksa anak kita untuk bilang bahwa orang tua mereka adalah yang terbaik di dunia, jika memang mereka nggak merasakannya?
Langganan:
Postingan (Atom)
