Halaman

Selasa, 15 Februari 2011

Writing is Thinking; Survive to Keep Writing

Why do we have to write?

I simply answer “because we need”. Whatever your job is, whatever your talent is, whatever your hobbies are, you need to express your idea; clear, systematical and strong. You need to write.

In my opinion, writing is a sort of thinking. It is the way for you to exercise in order to have better opinion. Writing is not easy if you just only try it once or twice and after that you wish for a miracle comes and perfect your writing. It is also not as difficult as you thought if you know how to do it, however. Just as the other skills that need determination in the beginning and perseverance to the end, so does writing.

However, in the reality, writing seems difficult because some people did not generally have enough or appropriate lesson of this skill in the schools as needed. And when they realize about the importance of writing, they could become an impatient person. Other people start it passionately but with not much preparation, and after a while they get the feeling of pessimism and lack of talent. But remember, writing needs consistence, perseverance, and passion to survive.

I think, almost everything can be written. But whether or not the person wants and has courage to write is all that matters. If the lack of idea becomes the reason of not being able to write, to me that is just a silly reason. In actual fact, our heads have thousands and even millions of ideas waiting to be written.

If someone asks me to write something, I will start with the strongest feeling that I have in that moment, once more, the strongest feeling. For example:
Today I’m having the writer’s block. Maybe there are some reasons that block the ideas in my mind to appear yet… and so on… and so on…”

After that I will correlate something that I am writing with the theme.

Maybe for some people this technique sounds funny and cannot be realized. For example, if your strongest feeling at that time is hunger but the theme is about independence, so what is relationship between hungers and independence? Nothing.

But that is the way how the brain works; to relate one to another. This is the theory brought by A.S. Laksana in his book Creative Writing. He wrote that you can push your idea out by taking three words randomly and then you put them in a paragraph or more.

In writing, it is usual if you find the first draft you write is very messy. The text becomes broken text. It might not become an enjoyable text or it sometimes does not focus. But for me, it is no problem. For a starter, it is better than nothing. Even one of the famous writers once said that 80 present of his first draft is shit.

And to finish writing, we need to write fast. Why do we need to write fast? It is because it can keep our mood, writing mood. For me, fast writing can save my mood. It also can produce a humble and honest writing. Fast writing, to me, is the same as fast speaking. If the others can understand to what we are talking then they will understand to what we are writing as well. And to make writing as understandable as speaking, we need to write fast.

Why can we speak fast? It is because we know something that we want to tell and how to tell it. We also can speak fast because we don’t need to think hard to find the ‘magic’ words. We just speak to express our ideas clearly. It also happens in fast writing.

And the last but not least, write without editing! Yes, don’t combine these two different things; writing and editing. Separate them. So write fast and badly just like you speak! Don’t mind about errors and thee perfect ending because there is still one more step to make it better; editing.

Finally, writing needs a clear minds, determination, and perseverance.

Minggu, 02 Januari 2011

Waktu

“Aku sibuk, pak. Tidak ada waktu.” Kata seorang murid kepada gurunya.

“Bukankah dengan bicara seperti itu kamu menganiaya waktu, Nak?! Waktu itu selalu hadir, hanya saja kamu tidak mau menemuinya.”

Minggu, 19 Desember 2010

Cerita Sarjana

Saya menyetop taxi dan melaju ke arah Jakarta, ke Balai Sudirman. Bersama ibu dan bapak, ingin menghadiri acara wisuda. Wis Udah. Acara perayaan peng-ahir-an study.

Setelah masuk gedung, bapak dan ibu duduk. Saya bingung. Saya tidak tahu harus ngapain lagi, harusnya kemarin saya ikut gladiresik. Harusnya saya punya lebih banyak teman di gedung itu, untuk sekedar bertanya.

Ah, ada panitia di sana. Saya bisa tanya sekalian ngobrol dan berkenalan. Hai, panitia ya? Kalo nomor satu tiga tujuh barisnya dimana ya? Saya bertanya ke seorang panitia. Cewek. Oh, iya di sini, dia menjawab.

Permulaan yang bagus. Makasi ya, saya berucap. Kok gak ada name tag-nya? Namanya siapa? Saya bertanya lagi. Hana, dia menjawab. Dan percakapan selanjutnya adalah:

Saya: semester berapa?
Hana: semester satu.
Saya: oh, baru ya.
Hana: iya.

Kemudian percakapan jeda beberapa lama…. Mungkin beberapa jam. Mungkin beberapa bulan. Iseng-iseng saya buat percakapan lagi. Percakapan iseng-iseng.

Saya: hana, ya?
Hana: iya tadikan udah kenalan.
Saya: ngak. Maksud saya, nama kamu kok familiar ya? Saya pernah liat foto kamu juga. Dimanaaa gituh. Di mading kayaknya.
Hana: masa sih? *sambil mesem-mesem. Ngingat-ngingat foto apa yang dia tempel di mading*
Saya: iya mading kampus. Ada tulisannya juga.
Hana: ah, enggak.
Saya: iya saya ingat. Tulisannya apa ya?…. wanted, kalo gak salah.
Hana: hahaha…

Acara berlangsung sesuai jadwal. Ah, seharusnya begini setiap acara, tertib waktu. Ada pidato ilmiah dari seorang profesor doktor. Ah, pasti bayarannya mahal. Benar-benar menghipnotis. Saya melihat beberapa teman setengah tertidur. Gak percuma professor itu dibayar mahal. Istri saya SMS di tengah acara, “Lagi apa?”. Saya jawab, “Lagi mau tidur.”

Pidato professor mengingatkan saya pada Hoeda Manis, penulis yang produktif itu. Buku terbarunya akan segera terbit, Learning is Easy, terbitan Elex Media Komputindo (oh ya, kalo kebetulan kamu baca tulisan ini Hoed, berarti kita impas ya. Dan aku tunggu kiriman bukunya. Hehe… ). Kalo penulis lain butuh popularitas dari fesbuk, Hoeda ngak. Mungkin dia berpikir fesbuk terlalu bising. Dia tipe penulis yang menulis karena ingin menulis. Karena senang. Aku adalah jasad kosong yang menyusuri jalan, dan menulis membuatku merasa memiliki jiwa, katanya pada setiap orang.

Oh, kenapa saya tiba-tiba ingat dia? Ya, mungkin karena pidato profesor itu mirip dengan pendapat Hoeda tentang pendidikan dan pembelajaran. Dia menulis: Jangan pernah meyakini sedetikpun bahwa sekolah dan pendidikan formal adalah satu-satunya cara pembelajaran. Sekolah dan pendidikan formal adalah semacam ‘pemaksa’ agar kita mau belajar. Orang-orang kebanyakan menilai kita sebagai orang yang belajar apabila kita bersekolah, dan mereka akan menilai kita sebagai seorang yang tidak belajar bila tidak sekolah. Atau dengan kata lain, kita akan menjadi pintar bila sekolah dan akan menjadi bodoh jika tidak sekolah.

Ya, sepertinya memang pemahaman itu yang dari dulu kita pegang, kawan. Bahwa sekolah adalah satu-satunya sarana pembelajaran. Sehingga sadar atau tidak kita menjadikannya sebagai ‘gengsi pendidikan’. Kita menjadikan pendidikan formal menjadi suatu gengsi. Mendapat nilai bagus menjadi sebuah gengsi. Kita kuliah, karena ingin meningkatkan gengsi —walaupun ada sebagian yang melakukannya dengan ogah-ogahan atau asal-asalan. Kita memiliki status yang jelas sebagai mahasiswa. Sebagai orang yang sedang belajar. Sebagai orang yang berpendidikan.

Dan ketika kita telah lulus dan punya title, kita pun masih ingin melanjutkan sekolah lagi. Apakah itu berarti kita kecanduan sekolah? Mungkin. Ivan Illich mengatakan bahwa sekolah dan segala bentuk pendidikan formal pada akhirnya tidak mencerdaskan siswa, melainkan hanya menciptakan ketergantungan atau perasaan kecanduan yang neurotic.

Sudah waktunya bagi kita untuk menyadari bahwa sekolah dan segala bentuk pendidikan formal hanyalah bagian kecil dari ruang lingkup pendidikan yang maha luas bernama kehidupan. Sekolah itu penting, tapi belajarlah yang terpenting. Belajar itu wajib, tapi sekolah sunah. Intinya tidak apa tidak sekolah, tapi tidak boleh tidak belajar.

Acara berakhir sesuai jadwal. Orang tua saya memilih menunggu di luar. Saya berfoto-foto dengan beberapa fans. Setelah berfoto, saya menyelinap ke luar gedung. Menyelinap dari kerumunan. Sendirian. Di luar telah menunggu kedua orang tua saya. Saya bersalaman dan mengucap terimakasih.

Kita naek angkot aja pak pulangnya, kata saya ke bapak. Oke, kata beliau. Ya, kehidupan telah mengajarkan saya untuk mengirit, kawan. Selamat menjadi sarjana. Selamat belajar. Selamat mencari makan, kawan.

Sabtu, 18 Desember 2010

Hanya untuk Membantu Mengingat Kembali, Maka Saya Perlu Menulis

Hari ini saya ngeliat buku jurnal. Di dalemnya ada kalender dari tahun 2007 sampe 2017. Saya sejenak ngeliat catetan-catetan dari tahun 2007 sampe 2010. Kesimpulan di kepala saya satu; perasaan baru kemaren saya disunat.

Rasanya saya hanya hidup hari ini aja. Hari-hari sebelumnya hanya ingatan, hanya sebentuk memori di kepala. Saya selalu ngebayangin otak manusia adalah sebuah CPU, yang punya memori dan kapasitas. Andaikan memori itu dicabut, kmungkinan saya gak akan inget hari kemarin. Dan hilanglah konsep waktu kemarin dan akan datang. Waktu itu gak ada, yang ada hanya saat ini.

Itulah guna catatan, untuk membantu memori di kepala saya mengingat-ingat. Jadi kalo memori di kepala saya konslet, saya akan meminta orang lain untuk mengingatkan tentang catatan-catatan ini: 2 April 2007, pertama kali saya masuk kerja. Saya dapet banyak temen, juga pacar. Saya mengumpulkan uang dan bisa beli laptop di bulan Nopember tanggal 2, 2008. Awal Juli 2009 buku pertama terbit. Dan tanggal 28 juli pada tahun yang sama —satu hari sebelum saya berusia 24— saya menikahi wanita yang saya suka. Tahun berikutnya lagi, tanggal 15 Maret, saya bisa kredit rumah. Enam  Juli 2010, anak pertama saya lahir. Dan sepertinya baru kemarin saya diwisuda, 16 Desember 2010. Dan saya ngerasa seperti sedang bermain The Sims.

Memang urutannya agak ngaco. Kalo manusia ‘normal’ lulus kuliah, kerja trus nikah. Saya; kerja, nikah, punya anak baru lulus kuliah. Mungkin seperti itulah hidup dalam pandangan saya; menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Ya, saya bisa menceritakan empat tahun hidup hanya dalam satu paragraf. Adapun sisa hari-hari dan bulan-bulan yang gak saya certain adalah tugas rutin hidup; bangun jam lima, kerja, pulang jam tujuh malam, nonton TV, makan, ngobrol, tidur. Akhir bulan gajian. Hari libur jalan-jalan. Kalo dapet 100 miliar keliling eropa.

Menarik memperhatikan saya tidur dalam satu hari, yang mungkin kira-kira 6 jam. Berarti, setidaknya 1/3 dari satu hari hidup saya dihabiskan untuk tidur. Dan berarti, dalam umur saya yang sekarang kira-kira 8 tahun saya habiskan untuk tidur. Dan berarti, saya hampir sama dengan Ashabul Kahfi. Begitupun kalo saya hitung waktu saya nonton TV, makan, mandi, terjebak macet dalam satu hari. Mungkin sekitar 3 tahunan saya habiskan untuk itu. Belum lagi dikurangi masa kanak-kanak, masa yang juga dilewati dalam keadaan yang hampir gak sadar. Dan kalo mao diterusin, masih akan ada banyak lagi pengurangan-pengurangan yang lain. Jadi kesimpulannya, yang tersisa dari hidup saya ini hanyalah beberapa tahun. Dan sadar atau nggak, saya pun mengurang.

Dan apa nilai penting hidup dalam ‘kependekan’ ini.

Senin, 04 Oktober 2010

kecoak dan tempat sampah; sebuah kisah

Sebuah tempat sampah tergeletak retak di dapur. Seekor kecoa sedang mencari-cari kepalanya yang dua hari lalu hilang.

Kecoak memulai percakapan, “hai tempat sampah, kau tahu dimana kepalaku?”

Dapur itu sangat hening. Jika ada selembar rambut jatuh, suaranya akan terdengar menggelegar dan mengagetkan seisi rumah.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu; aku tidak tahu kalau kau punya kepala.” Jawab tempat sampah retak sejujurnya, atau mungkin sebohongnya.

“Ya, kemarin ada manusia iseng menginginkan kepalaku untuk dijadikan koleksi,”

“lalu?” potong tempat sampah penasaran.

“ya lalu aku mencari-cari tempat dimana ia menyimpan kepalaku, atau mungkin juga kepala-kepala binatang-binatang lain. Apakah manusia pernah bercerita dimana ia menyimpannya padamu?”

“Loh, bagaimana mungkin tanpa kepala kau masih hidup?” tanya tempat sampah tanpa menghiraukan pertanyaan kecoak.

“Tuhan masih mau menangguhkan umurku seminggu. Tapi setelah satu minggu itu aku akan mati.” jelas kecoak.

“Kenapa mati?” tanya tempat sampah lugu, atau mungkin dungu.

“Karena tanpa kepala aku nggak bisa makan, bodoh!” jawab kecoak serius, atau mungkin sinis, atau mungkin ingin melucu.

Dapur itu masih hening. Bahkan jika ada selembar rambut jatuh, suaranya akan terdengar menggelegar dan mengagetkan seisi rumah.

“Kenapa manusia itu begitu jahat? Apa kau punya salah?” Tempat sampah empati.

“Tentu ada!” jawab kecoak datar. Juga ingin membuat celah pertanyaan.

“Apa?” tempat sampah retak bertanya bingung.

“Kesalahanku adalah karena aku dilahirkan sebagai kecoa tak berkepala.” Kecoak puas.

“...” tempat sampah mengangguk diam. Dalam hatinya ada pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan; sejak kapan kecoak tidak punya kepala.

Dapur itu mulai menggeliat.

“Terimakasih tempat sampahku yang baik!” kata kecoak menutup puisinya.


Bekasi, 4 Oktober 2007

Rabu, 29 September 2010

puisi

aku ingin buat puisi sesederhana pelangi
untuk kupersembahkan
pada hujan

aku ingin buat puisi seindah bebunga
untuk kupersembahkan
pada lelebah

aku ingin buat puisi sedalam gelap
untuk kupersembahkan
pada laut

aku ingin buat puisi setinggi gunung
untuk kupersembahkan
pada langit

aku ingin buat puisi sewujud-Mu
untuk kupersembahkan
pada-Mu

puisiku berderai
walau takkan pernah sampai

Bekasi, 29 September 2008








Rabu, 15 September 2010

dan tentang anak manusia

Pada sebuah musim kemarau, dengan kegalauan yang tak terucap dari balik kelopak matanya, anak itu datang. Bersama sepi ia berjinjit melewati sungai dangkal yang penuh batu-batu besar. Tangannya menggengam segumpal tanah dari makam ayahnya yang baru seminggu kemarin dikubur di Tanah Kusir.

Semilir angin menyambut tangan-tangan sepi sambil berlarian di sela-sela rambutnya yang penuh debu, sesekali ia menggoyang-goyangkannya dan mengembalikannya ke tempat semula, sesekali membuat style baru. Mereka seperti ingin berjibaku, menuju sebuah tempat dimana kematian bersemayam diam.

Mereka telah sampai.

Gincu jingga yang dipoleskan ibunya kemarin telah pudar, berganti warna pucat dan terkelupas. Kemeja putih pemberian ibunya pun lusuh dan kotor seperti menyimpan selaksa derita duka perjalanan, salah satu kantungnya robek berjuntai.

Ia telah lama sampai.

“aku telah sampai.” Si anak berucap lirih hampir tak terdengar.

Sambil menatap yang bersemayam diam ia meneruskan, “aku telah sampai pada pilihan-pilihan yang telah kau pilihkan dan kupilih. Sekarang telah bercampur deru debar dera diam desah dunguku dengan dupa dahsyatmu. Ada apa denganmu dan keegoisanmu?”

Tak ada jawaban. Sepi berteriak ngilu menghentikan riak-riak aliran sungai.

“aku bosan berdebat denganmu, kau dan diammu cukup membuatku frustasi. Tidak akan pernah kulupa pertemuan pertama kita pada lipatan waktu yang tak tercatat, pada masa dimana aku hanyalah satu dari ratusan juta embrio hidup, tujuh ratus tahun sebelum jagad raya ini tercipta. Tentu kau ingat itu, bukan?.

Sunyi.

Gumpalan-gumpalan awan hitam pada langit-langit senja berderak-derak.

“kalau berani satu lawan satu. Pasukamu terlalu banyak, begitu tangguh untuk kukalahkan. Kalau berani satu-satu, tanpa senjata, tanpa waktu, tanpa wasit, tanpa aturan, tangan kosong. Kalau berani satu! Apa kau berani?”

Semilir angin menggoyang-goyangkan rambut si anak. Masih tak ada jawaban.

Si anak serta merta melempar bongkahan tanah yang digengamnya, kematian menyalak galak diantara sepi, angin dan senja yang bersorak. Ia bangkit kemudian balas memukul meninggalkan luka di pelipis mata si anak. Tendangan telak juga mendarat tepat di perut buncit kematian dan membuatnya terpental berkilo-kilo meter.

Terus dan terus. Entah berapa banyak mereka mendaratkan pukulan dan tendangan masing-masing. Entah berapa lama mereka melakukannya. Berjibakujibakuberjibaku. Meninggalkan memar-memar ungu. Sampai tanpa sadar mereka sadar bahwa kematian adalah si anak dan si anak adalah kematian itu sendiri.

Keduanya mati.

Gerombolan awan menutup langit-langit senja itu, menjadikannya lindap paripurna.

Tetes hujan awal musim telah jatuh. Basah.

Senja mati.

Sepi pelan berkata “maut telah hadir dalam hidup, membenih, tumbuh dan kemudian memagut habis diri.”

Hujan makin riang.


Bekasi, September 2007