Halaman

Senin, 31 Maret 2014

Tembakau, Kapitalisme dan Ilmu Pengetahuan

"Apa guna warna langit dan bunyi jengkerik? Apa guna sajak dan siul? Yang buruk dari kapitalisme adalah menyingkirkan hal-hal yang percuma.”

Goenawan Mohamad

Kipas angin kecil di atas kepala saya mengluarkan suara ritmis, meruapkan udara yang bercampur aroma ruangan. Kaca besar di hadapan menampilkan suasana sepi juga wajah yang tidak asing.

“Mau potong model apa, A?” kata pria di belakang saya dengan bahasa sunda.

“Potong pendek, Kang.” Saya memegang beberapa helai rambut, “dua senti lah!”

Sambil menyalahkan mesin, tukang cukur itu bercerita. Juga bertanya tentang banyak hal. Entah pada pertanyaan ke berapa ia seperti mendapatkan emosi terkuatnya. “Ooooh, si Aa kerja di sana!” kata dia memulai. Sumbunya seperti terbakar.

“Saya ahli kretek nih. Sudah puluhan tahun.” Katany masih dengan bahasa Kabayan. “Mungkin kalau dihitung-hitung sudah puluhan juta uang saya habis. Bisa buat beli motor lah. Pokoknya saya gak mau tahu, bilangin ke bos-nya si Aa. Kirimin hadiah ke saya sebagai pelanggan setianya.”

Sejujurnya saya mau jawab, “Gak segampang itu, Kang. Lagian salah sendiri. Gak ada yang maksa Akang buat ngerokok juga kan!”

Tapi tentunya jawaban itu nggak jadi terucap, karena saya sadar setiap saat dia bisa menancapkan guntingnya ke ubun-ubun saya.

Sepenggal kisah itu memunculkan lagi pertanyaan kecil di kepala saya sejak dulu, waktu saya masih sering nyari ikan Gapi di selokan. Pertanyaan filosofis tentang mengapa orang merokok. Jawaban paling awal yang saya temukan adalah untuk pergaulan, yang kemudian disusul dengan kecanduan.

Saat ini kita sangat akrab sekali dengan pendapat bahwa merokok adalah hal yang sia-sia, bodoh, merusak kesehatan, dan hanya menghabiskan uang. Pokoknya nggak berguna, kira-kira sama dengan nyuruh Limbad jadi khotib jum’at atau PKB benar-benar jadiin Roma Irama capres.

Sebenarnya, untuk kebanyakan orang yang bukan perokok seperti saya, mengatakan merokok adalah hal yang sia-sia, bodoh, merusak kesehatan, menghabiskan uang dan lain-lain adalah hal yang mudah. Namun pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah, apakah merokok yang merupakan aktifitas yang sering kita temui menjadi perkara yang begitu menyeramkan?

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan dalam blog kawan, review buku yang berjudul ”Muslihat Kapitalisme Global; Selingkuh Industri Farmasi dengan Perusahaan Rokok AS”. Seperti tertera jelas dalam judulnya, buku tersebut berisi tentang akal-akalan perusahaan asing (perusahaan farmasi dan rokok) untuk melakukan rekayasa guna menguasai pasar rokok Indonesia. Berikut kesimpulan saya setelah membaca buku tersebut.

Setiap orang tahu bahwa kesehatan adalah hal yang sangat berharga bagi semua orang. Dari isu kesehatan itulah kemudian kampanye anti-rokok bergulir. Memang secara garis besar, setiap isu yang mengusung kesehatan selalu mendapat ruang yang besar dalam masyarakat manapun. Terlebih ketika wacana tersebut diklaim ilmiah. Bahkan terkadang kita menelannya mentah mentah dan menerimanya tanpa kecurigaan.

Setiap orang melakukan sesuatu tentu karena niat, latar belakang atau kepentingan. Ikhlas karena Tuhan juga merupakan kepentingan bukan? Kepentingan untuk dirahmati Tuhan. Jadi semua orang punya niat dan kepentingan ketika melakukan sesuatu. Kalo kata Gus Dur, hanya orang mati yang nggak punya kepentingan.

Begitu juga halnya dengan kampanye global anti tembakau, pasti punya latar belakang dan niat. Pertanyaan selanjutnya adalah apa niatnya? Jawaban yang sederhana adalah untuk kesehatan seluruh umat manusia. Namun tentunya jawabah tersebut terlalu naïf jika melihat beberapa fakta yang dikemukakan dalam buku tersebut.

Ada beberapa ambiguitas dan keganjilan tentang kampanye anti tembakau atau rokok yang ada di Indonesia, juga di dunia. Ya, meski sering dikatakan bahwa tembakau mengandung senyawa yang berbahaya dan menyebabkan kanker, namun di sisi lain tembakau juga memiliki kandungan protein yang sanggup mencegah berbagai macam penyakit termasuk kanker. Sebagai contoh, ada ilmuan dari LIPI yang berhasil menggunakan tembakau sebagai protein Growth Colony Stimulating Factor (GCSF). Bahkan tembakau bisa menghasilkan tiga protein utama yaitu human serum albumin (HAS). Ada juga ilmuan yang menggunakan “teknologi pengasapan” tembakau yang telah direkayasa melalui teknologi bio-molekuler sebagai sistem pengobatan.

Banyak orang tentu juga tahu bahwa beberapa pemain bola tersohor dunia juga merokok. Fabien Barthez (Prancis, 1990-2007), bisa menghabiskan dua bungkus sehari. Begitu juga Wayne rooney (Inggris, 2002-sekarang) dan Mario Balotelli (Italia, 2006-sekarang). Bahkan pesepakbola yang pernah menjadi pemain terbaik dunia, Zinedine Zidane (Prancis, 1989-2006), menghabiskan satu setengah bungkus rokok dalam sehari.

Intinya, kebenaran ilmiah tentang zat yang ada dalam tembakau masih bisa diperdebatkan. Sayangnya, yang banyak tersebar luas dan digembor-gemborkan adalah keburukan dari tembakau. Perluasan tersebut salah satunya bersumber dari badan kesehatan dunia atau WHO.

Keganjilan selanjutnya adalah sponsor dibalik gerakan tersebut. Buku ini membahas dengan detail latar belakang Bloomberg Initiative, yang didirikan oleh Michael Bloomberg, yang merupakan donator terbesar dalam gerakan anti rokok di Indonesia, tidak semata-mata untuk misi suci mensejahterakan dan mensehatkan masyarakat dunia. Buku ini mengungkap sisi kesejarahan WHO yang sejak awal dirumuskan sebagai instrumen global dari kepentingan industri farmasi. Hasil riset dalam buku ini menjelaskan tentang proses konsolidasi perusahaan multinasional Amerika, khususnya perusahaan farmasi dan rokok. Mereka sanggup membangun sinergi dalam kepentingan masing-masing yang intinya mendapatkan pemasukan dan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Lalu bagaimana perusahaan farmasi bekerjasama dengan perusahaan rokok?

Begini, jika dilihat sekilas memang sepertinya kerjasama antara perusahaan rokok dan farmasi adalah sebuah kontradiksi: satu pihak melarang mengkonsumsi rokok, sementara satu pihak menjualnya. WHO yang dibelakangnya perusahaan farmasi melawan perusahaan rokok. Begitu yang sepertinya terlihat, namun buku ini menjelaskan sebaliknya.

Penjelasan mudahnya begini, ada mekanisme terstruktur sebagai berikut: melalui WHO, perusahaan multinasional farmasi (kapitalisme global) menetapkan semacam ketentuan standar produk internasional terhadap produk olahan tembakau (istilahnya FCTC, sekarang sedang di bahas di DPR) dan menjual produk NTC (Nicotine Replacement Therapy). Dengan begitu perusahaan-perusahaan rokok lokal menengah dan kecil akan kalah dan mati karena tidak sanggup memenuhi ketentuan sekema cukai tinggi, dan perusahaan rokok multinasional (kapitalisme global) masuk menguasai.

Hal ini kemudian menggelitik, dan membuat saya manggut-manggut. Ada benarnya juga ya, pikir saya. Sekarang begini, apakah melalui larangan mengkonsumsi rokok, para perokok menjadi takut? Jawabannya belum tentu. Dalam tagline terbaru bahkan kalimatnya menjadi semakin sangar; merokok membunuhmu. Padahal kalimat tersebut nggak jauh beda dengan; cinta ini membunuhku. Sama halnya dengan nama Loki yang unyu di The Avenger, slogan itu nggak membuat takut.

Itu juga mungkin yang paling tidak menjadikan asumsi tentang alasan WHO tidak langsung “mengharamkan rokok”, menjadikannya seperti narkotika. Kalau memang membahayakan kesehatan bahkan sampai bisa membunuh, bukankah itu sama dengan narkoba? Atau slogan sangar itu memang nggak dimaksudkan untuk melarang?

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa mereka mengincar industri ini? Apakah industri ini penting?

Industri kretek di Indonesia telah ada bahkan sebelum negara ini lahir. Rokok (terutama kretek), dan tembakau adalah komoditi ekonomi yang sangat besar di negeri ini. Dari mulai bahan baku mentah sampai konsumen tersedia dalam jumlah yang berlimpah. Intinya, Indonesia benar-benar mandiri dalam industri ini.

Pada 2011, pendapatan negara dari cukai rokok bisa mencapai Rp. 62, 759 trilyun (6 % APBN 2011). Hal tersebut membuktikan bahwa ini adalah industri yang besar, bahkan mengalahkan industri pertambangan yang hanya menyumbangkan Rp. 13, 77 trilyun. Tidak sampai sepertiga dari yang disumbangkan kretek terhadap APBN.

Dan akhirnya, untuk mengakhiri tulisan ini ada satu pertanyaan yang tersisa; buku ini ditulis untuk apa? Apakah untuk menganjurkan merokok, atau untuk melarang peredaran rokok sama sekali. Supaya kue yang menjadi biang penyebab perebutan ini “dihabisi” sekalian.

Menurut saya, buku ini tidak menganjurkan keduanya. Melalui tulisan ini saja juga tidak bermaksud menganjurkan orang lain untuk merokok, hanya ingin berbagi perspektif, menyampaikan isi dari buku tersebut bahwa kampanye anti tembakau itu punya kepentingan yang nggak sederhana.

Buku ini ingin mengatakan bahwa rokok (terutama kretek), dan tembakau adalah komoditi ekonomi yang sangat besar di Indonesia. Bahkan orang Indonesia telah mengenalnya selama ratusan tahun. Sementara rongrongan yang menjelaskan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan baru berlangsung akhir-akhir ini. Ke-angker-an rokok pun dijadikan strategi untuk masuknya perusahan rokok asing ke Indonesia. Sehingga bisa diasumsikan bahwa kapitalisme global ingin merebut pasar Indonesia berikut segala-galanya dari hulu sampai hilir. Begitulah memang cara kerja kapitalisme, serakah.

Buku ini sepertinya ingin menjelaskan bahwa kita sedang dijajah oleh perusahaan asing. Sejak dulu kapitalisme memang telah menjadi faktor utama di balik penindasan dan kekuasaan sistem kolonial. Dan sekarang, mereka menggunakan ilmu pengetahuan dan organisasi untuk merekayasa guna mencapai keinginan mereka. Seperti kata @noffret, “Sejarah ditulis oleh pemenang, katanya. Sekarang, aku mulai khawatir, bahwa pengetahuan pun ditulis oleh para pemenang.”



Sabtu, 21 Desember 2013

Polisi Baik vs Polisi Jahat

Suatu hari, ketika kendaraan terhenti karena lampu merah, dengan jari menunjuk seseorang berseragam dari dalam mobil, Nada bertanya, “Pak itu polisi baik atau jahat?”

Mata saya segera tertuju ke seorang Polantas yang sedang mengatur lalu lintas di persimpangan jalan itu. Dari kaca jendela, polisi itu terlihat tegap diterpa sinar matahari siang.

“Itu polisi baik atau jahat, Pak?” Nada mengulangi.

“Polisi baik. Itu mau bantu supaya orang tertib berlalu lintas.” Jawab saya beserta penjelasan yang nggak diminta. Anak seumur Nada memang suka bertanya tentang apapun. Nggak hanya itu, sering juga ia bertanya bagaimana atau kenapa itu bisa terjadi. Jadi tentu saya merasa perlu memberikan penjelasan yang mudah dicerna kepala kecilnya. Lagipula, darimana dia mendapat istilah polisi baik dan polisi jahat? Apa mungkin karena ada darah polisi mengalir dalam dirinya? Kebetulan almarhum kakeknya adalah polisi.

Berdasarkan survey, dibandingkan beberapa lembaga lain, polisi Indonesia memang ada di level korupsi paling tinggi, jadi nggak mengherankan juga pertanyaan itu diajukan. Walaupun seharusnya keluar dari orang sekaliber Anis Baswedan ketika menjadi panelis untuk debat presiden, bukan anak usia tiga tahun kepada bapaknya yang sering golput.

Mobil melaju seirama dengan berubahnya lampu lalu lintas menjadi hijau. Nggak beberapa lama, kami bertemu dengan persimpangan dan lampu lalu lintas lagi. Nada menanyakan pertanyaan yang sama ketika ia melihat seseorang dengan seragam, “Kalo itu polisi baik atau jahat?”

“Baik juga.” Kata saya singkat.

“Polisi jahatnya mana, Pak?” Nada lanjut bertanya.

Pertanyaan yang bahkan SBY-pun akan bingung jawabnya. Namun gue harus menjawab, supaya dia dapat kepuasan dan nggak nanya tentang polisi lagi. Paling nggak untuk perjalanan saat itu. “Polisi jahatnya ada di penjara.” Saya menjawab sekenanya.

“Penjara itu apa?” Nada bertanya, tapi terdengar seperti Aristoteles yang mengucapkan.

Dan kali itu, sepertinya saya harus menjelma menjadi Plato, “Penjara itu tempat orang-orang taubat, supaya dapat ampunan.” Begitu saya bilang.

Nada sepertinya puas dengan jawaban itu, atau mungkin juga sedang berpikir mencari pertanyaan filosofis lain. Perjalanan berlanjut. Dan sialnya, polisi terlihat lagi. Nada bertanya pertanyaan polisi baik dan jahat lagi. Dan saya pura-pura mati.

Kali itu saya berpikir sebentar, mencari jawaban pamungkas. “Itu polisi baik atau jahat, Pak?” Nada kembali mencoba membunuh saya.

Dengan yakin saya menjawab, “Semua polisi itu baik, Kak. Semua polisi.” saya menekankan kata-kata terakhir. Kemudian melanjutkan, “Sampai ada yang membuktikan kebalikannya.”

Nada sepertinya puas dengan jawaban itu, atau mungkin juga sedang berpikir mencari pertanyaan filosofis lain.







Minggu, 15 Desember 2013

Polisi Baik, Polisi Jahat

Suatu hari, ketika kendaraan terhenti karena lampu merah, dengan jari menunjuk seseorang berseragam dari dalam mobil, Nada bertanya, “Pak itu polisi baik atau jahat?”

Mata gue segera tertuju ke seorang Polantas yang sedang mengatur lalu lintas di persimpangan jalan itu. Dari kaca jendela, polisi itu terlihat tegap diterpa sinar matahari siang. “Itu polisi baik atau jahat, Pak?” Nada mengulangi.

“Polisi baik. Itu mau bantu supaya orang tertib berlalu lintas.” Jawab gue beserta penjelasan yang nggak diminta. Anak seumur Nada memang suka bertanya tentang apapun. Nggak hanya itu, sering juga ia bertanya bagaimana atau kenapa itu bisa terjadi. Jadi tentu gue merasa perlu memberikan penjelasan yang mudah dicerna kepala kecilnya. Lagipula, darimana dia mendapat istilah polisi baik dan polisi jahat? Apa mungkin karena ada darah polisi mengalir dalam dirinya? Kebetulan almarhum kakeknya adalah polisi.

Berdasarkan survey, dibandingkan beberapa lembaga lain, polisi Indonesia memang ada di level korupsi paling tinggi, jadi nggak mengherankan juga pertanyaan itu diajukan. Walaupun seharusnya keluar dari orang sekaliber Anis Baswedan ketika menjadi panelis untuk debat presiden, bukan anak usia tiga tahun kepada bapaknya yang sering golput.

Mobil melaju seirama dengan berubahnya lampu lalu lintas menjadi hijau. Nggak beberapa lama, kami bertemu dengan persimpangan dan lampu lalu lintas lagi. Nada menanyakan pertanyaan yang sama ketika ia melihat seseorang dengan seragam, “Kalo itu polisi baik atau jahat?”

“Baik juga.” Kata gue singkat.

“Polisi jahatnya mana, Pak?” Nada lanjut bertanya. Pertanyaan yang bahkan SBY-pun akan bingung jawabnya. Namun gue harus menjawab, supaya dia dapat kepuasan dan nggak nanya tentang polisi lagi. Paling nggak untuk perjalanan saat itu.

“Polisi jahatnya ada di penjara.” Gue menjawab sekenanya.

“Penjara itu apa?” Nada bertanya, tapi terdengar seperti Aristoteles yang mengucapkan.

Dan kali itu, sepertinya gue harus menjelma menjadi Plato, “Penjara itu tempat orang-orang taubat, supaya dapat ampunan.” Begitu gue bilang.

Nada sepertinya puas dengan jawaban itu, atau mungkin juga sedang berpikir mencari pertanyaan filosofis lain.

Perjalanan berlanjut. Dan sialnya, polisi terlihat lagi. Nada bertanya pertanyaan polisi baik dan jahat lagi. Dan gue pura-pura pingsan.

Kali itu gue berpikir sebentar, mencari jawaban pamungkas. “Itu polisi baik atau jahat, Pak?” Nada kembali mencoba membunuh gue.

Dengan yakin gue menjawab, “Semua polisi itu baik, Kak. Semua polisi.” Gue menekankan kata-kata terakhir. Kemudian melanjutkan, “Sampai ada yang membuktikan kebalikannya.”

Nada sepertinya puas dengan jawaban itu, atau mungkin juga sedang berpikir mencari pertanyaan filosofis lain.

Rabu, 27 November 2013

Keresahan di Media Sosial

Media sosial sekarang ini membuat seseorang memiliki pertemanan yang luas. Salah satu media sosial yang paling besar di gunakan oleh orang Indonesia adalah Facebook. Namun tidak semua orang Indonesia suka dengan media sosial itu, kawan saya memilih untuk mendeaktifasi akun FB-nya bebrapa tahun lalu dan tidak mengaktifkannya sampai sekarang. Ia beralasan karena FB cenderung membuatnya iri dan tidak bersukur.

Mendeaktifasi FB tentu saja pilihan pribadinya. Pilihan tersebut didasarkan atas keresahannya ketika bergaul di sana, namun keresahan yang ia hadapi bisa jadi merupakan keresahan kita juga.

Dalam sebuah tulisan, kawan saya menulis bahwa ia sudah merasa cukup membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia merasa sudah cukup mendefinisikan dirinya berdasarkan berapa banyak yang me-like atau berkomentar pada status yang ia buat. Ia merasa sudah cukup percaya bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau.

Ia berpendapat bahwa hubungan di sana tidak punya makna yang mendalam. Hubungan yang berkisar tentang apa yang ia punya, apa yang kawan-kawannya punya, apa yang dilakukan dan segala pencapaian hidup. Intinya, semakin lama ia bergaul di sana, semakin besar rasa frustasinya.

Ia sadar dengan memutuskan hubungannya, ia tidak akan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun sebanyak ketika ia aktif di sana. Namun ia juga bersukur bahwa ada kawan-kawannya yang lain yang benar-benar tulus, tanpa perlu diingatkan FB. Tanpa FB ia juga merasa hidupnya bebasa dari drama yang tidak perlu. Ia merasa bahwa dengan melihat satu posting, bisa memunculkan rasa negatif, penasaran dan kemudian memicu gosip.

Dan inti dari intinya adalah, FB terkadang membuatnya lupa bersyukur. Karena tiap kali melihat posting orang lain (ada yang sedang keliling Eropa, beli rumah baru, bayi-bayi lucu, lulus sekolah di luar negeri, reuni yang seru, dan lain-lain yang menerangkan bahwa mereka punya hidup yang luar biasa), ia sering merasa iri dan cemburu.

Itulah keresahannya, atau bisa jadi merupakan keresahan kita juga. Bukankah media sosial pada umumnya adalah sarana yang sangat potensial seseorang untuk pamer?

Membaca keresahannya, saya jadi teringat sebuah kisah sahabat pada zaman nabi. Pada suatu hari tatkala Nabi Muhammad SAW sedang duduk dan berbincang – bincang bersama para sahabatnya di masjid, tiba – tiba Nabi SAW bersabda, “Sebentar lagi seorang penghuni surga akan datang kemari”

Mendengar ucapan Rasullulah SAW tersebut, semua pandangan para sahabat tertuju ke pintu masjid. Mereka menduga penghuni surga itu tentu seorang yang luar biasa.

Tidak lama kemudian masuklah ke dalam masjid seseorang yang wajahnya masih basah dengan air wudu, sambil menjinjing alas kaki. Apa gerangan keistimewaan orang itu, sehingga Rasullulah SAW menjamin masuk surga? Anehnya tidak seorang pun dari sahabat Nabi SAW yang mau bertanya, walaupun sebenarnya mereka ingin mengetahui jawabannya.

Keesokan harinya, yaitu hari kedua dan ketiga, kejadian seperti di atas berulang kembali. Pada hari kedua dan ketiga Nabi SAW tetap bersabda bahwa orang itu calon penghuni surga. Abdullah ibnu Umar (sahabat Nabi SAW) penasaran. Beliau ingin melihat langsung apa yang dilakukan oleh calon penghuni surga itu sehari-harinya. Abdullah ibnu Umar mendatangi rumah calon penghuni surga itu, dan beliau minta izin utnuk tinggal di rumah orang itu selama tiga hari tiga malam.

Selama tiga hari tiga malam Abdullah ibnu Umar memerhatikan, mengamati bahkan mengintip apa saja yang diperbuat oleh calon penghuni surga itu. Memang ibadah wajib selalu dikerjakan oleh penghuni surga itu, tetapi ibadah khusus seperti malam dan puasa sunah tampaknya penghuni surga itu tidak mengerjakannya. Hanya saja kalau terbangun dari tidurnya ia menyebut nama Allah (zikir) di tempat tidurnya, tetapi itu hanya sejenak saja, dan tidurnya pun berlanjut.

Pada siang hari si penghuni surga itu bekerja dengan tekun. Ia ke pasar, sebagaimana halnya orang lainnya yang pergi ke pasar. “Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau aku tidak sempat melihatnya apa yang dilakukan penghuni surga itu. Aku harus berterus terang kepadanya” demikian ucapab Abdullah ibnu Umar dalam hatinya.

“Apakah yang Anda perbuat sehingga Anda mendapat jaminan surga?” tanya Abdullah.

“Apa yang Anda lihat itulah” jawab penghuni surga.

Dengan kecewa Abdullah ibnu Umar bermaksud kembali saja ke rumahnya, tetapi tiba – tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata, “Apa yang Anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi yaitu saya tidak pernah iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Tidak pernah pula saya melakukan penipuan dalam segala kegiatan saya” [i]

----------------------------------------------------------------------

[i] Kisah dikutip dari buku Lentera Hati - M. Quraish Shihab



Kau Tahu Kawan #9

Sesuatu yang menimpamu sekali, tidak akan menimpamu untuk kali yang ke dua. Tapi sesuatu yang menimpamu untuk yang ke dua akan menimpamu untuk yang ke tiga.