Halaman

Rabu, 22 Februari 2017

Sekolah Menjadi Orangtua

“Bapak, sepeda kakak dipinjem Bunga. Kakak mau main lagi.” Nada mengadu lagi tentang Bunga, tentu bukan nama sebenarnya.

“Ya sudah bilang sana.” Kata saya dari dapur. Nada memang kurang berani dengan Bunga, kawan di lingkungan rumah yang usianya lebih muda 2-3 tahun. Setiap kali Bunga meminjam sepeda, Nada selalu memberikan.

“Dia nggak mau dengerin. Bapak aja yang ngomong.”

“Itukan temen kamu, sepeda kamu, ya kamu yang ngomong. Kakak memang mau ngomong sama temen bapak, padahal bapak yang punya perlu?”

Nada diam.

Permainan logika itu terkadang berhasil. Tapi anak-anak selalu punya cara untuk merengek.
“Ya sudah. Menurut kakak bapak harus gimana?” Tanya saya.

“Bilangin Bunga suruh balikin sepedanya.”

“Bunga kan bukan anak bapak. Bukan tanggung jawab bapak dong. Bunga itu tanggung jawab orangtuanya.” Nada mendengarkan, saya melanjutkan, “Sekarang gini aja. Kakak bilang ke mamahnya Bunga, minta Bunga balikin sepedanya. Lagian memang kamu nggak liat bapak lagi cuci piring?”

Nada masih merajuk. Dengan masih membelakanginya, saya tetap merespon dengan jawaban terakhir.

Entah bagaimana caranya, beberapa menit kemudian, ketika saya melihat Nada di depan rumah, ia telah memainkan sepedanya lagi.
 
Edward de Bono dalam bukunya Children Solve Problems, melakukan percobaan dengan memberikan 9 tugas kepada anak-anak untuk diselesaikan. Setiap tugas dipilih dengan teliti dengan mengukur karakter yang berbeda-beda dari anak-anak. Kesimpulan dari buku tersebut adalah anak-anak bisa memecahkan masalah dengan sangat mudah. Cara mereka mengatasi masalah memang terkadang tidak praktis, tetapi cara-cara itu didapat dari kemahiran, semangat, dan imajinasi yang mengagumkan yang pantas membuat iri banyak orang dewasa.

Sebagai orang dewasa, saya banyak belajar dari mereka. Selain banyak membaca dari berbagai sumber tentang parenting, belajar dari pengalaman, belajar dari kesalahan dan belajar sambil melakukan adalah hal yang menjadi kemestian. Dan jika menjadi orang tua ada sekolahnya, maka pasti anak-anak yang menjadi sang maha guru.

Rabu, 15 Februari 2017

La La Land; Sebuah Dunia Tanpa Tinky Winky

Sebastian: What do you mean you don't like jazz? 
Mia: It just means that when I listen to it, I don't like it. 


Kenapa La La Land? Kenapa tidak? The Telegraph, The Guardian, The Times, dan Cine-Vue.Com memberikan bintang lima untuk film ini. Menyapu bersih 7 piala dari 7 nominasi Di Golden Globe, dan menjadikannya sebagai film pertama yang membawa pulang piala terbanyak sepanjang ajang itu. Sampai Januari, sudah 196 penghargaan dan nominasi yang diterima film ini, sementara Academy Awards baru akan diselenggarakan akhir Februari nanti. Ya, mungkin penghargaan yang tidak akan dimenangkan film ini hanyalah Piala FFI.

Ini film tentang mimpi, atau meminjam kata-kata Mia, “Here's to the ones who dream / Foolish as they may seem. / Here's to the hearts that ache. / Here's to the mess we make.” Dan diakhir cerita, saya menangkap Perahu Kertas Dee, tapi dengan penutup yang pahit.

Saya masuk 15 menit setelah studio dibuka. Di menit ketika Ema Stone membuka jaket dan terlihat tumpahan kopi di kemeja putihnya. Setelah itu, alur berjalan pelan dan cenderung membosankan, tanpa ada sub plot yang membuat kejutan-kejutan. Menurut saya wajar, karena ini film musikal, waktu yang ada mesti diberikan untuk lagu dan tari. Tentu jika tema, alur yang lebih kompleks disertai nyanyian dan joget, saya mengharapkan film ini akan sepanjang Kuch Kuch Hota Hai.

Poros film ini hanya pada dua tokoh Sebastian dan Mia. Dunia di dalam film ala Broadway ini adalah tempat dimana bicara dan gerak diekspresikan secara wajar dan alami melalui lagu dan tari, dimana kenyataan bisa seperti hayalan. Di zaman emoji menggantikan ekpresi, yang terkadang palsu, lagu dan tarian adalah antitesis kepura-puraan. Pada beberapa adegan, kita disajikan kegugupan, debar dan ketertarikan yang manis. Kita terbawa sendu ketika Sebastian berjalan di sepanjang dermaga, bersiul, kemudian lirih bernyanyi City of Stars dengan nada rendah.


City of stars Are you shining just for me? 
City of stars There's so much that I can't see 
Who knows? Is this the start of something wonderful and new? 
Or one more dream that I cannot make true?  

Tentang menari, saya kaku, sementara tentang Jazz, saya tidak tahu. Saya suka menari di tempat dan kalangan tertentu. Saya menari ketika atau setelah mandi, sementara saya bernyanyi ketika ngantuk coba merubuhkan saya dari atas kendaraan. Saya tidak peduli apakah tarian Justin Bieber atau Gangnam Style banyak disukai. Saya juga tidak peduli apakah benar bahwa orang yang suka menari punya kecenderungan untuk jadi lebih spriritual dan luwes dalam pergaulan. Yang saya tahu, saya joget-joget ketika senang.

Tentang Jazz saya lebih norak lagi. Satu-satunya Jazz yang saya suka adalah Raisa. Bukan karena Raisa adalah penyanyi Jazz, tapi karena Raisa adalah Raisa. Ya, keterangan yang nggak ada gunanya. Saya baru paham mengapa musisi Jazz benci genre disko, ketika perempuan yang saya ajak nonton mengatakannya. Dan benar saja, karena dialog Mia dan Sebastian, dengan lucu menjelaskan itu.

Sebastian: Alright, I remember you. And yes, I'll admit that when we met, I was a little curt.  
Mia: You were "curt?"  
Sebastian: Alright, I was an asshole. I can admit that! But requesting "I Ran" from a serious musician? Too far! 

Sebagai film bergenre drama komedi, nuansa komedik (dengan adegan-adegan kebetulan ala FTV) dan joke dalam film ini halus. Pada beberapa adegan bahkan hanya saya yang tertawa keras dalam satu studio. Lagi-lagi, perempuan yang saya ajak nonton mengingatkan sebelum penjual popcorn datang menegur.

Di atas semua, seperti Begin Again semua lagu dalam film ini begitu ear-worms.

Sebastian: Well, no one likes jazz, not even you!   
Mia: I do like jazz now because of you!

Selasa, 31 Januari 2017

Dengarlah Nyanyian Angin

Untuk D.

Kita berjalan melintasi pintu-pintu waktu yang berbaris panjang seperti cakrawala di tengah laut biru. Di ujung senja jingga itu, cintaku, akan ada burung-burung putih yang pulang dengan perut kenyang. Dan rembulan muda yang sendu seperti sepasang kekasih yang bersitatap dalam rindu ungu.

Tahun-tahun perenggut semua hal tidak pernah melongok dari jendela-jendela yang tertutup rapat antara buku-buku sejarah yang usang dan rumput-rumput hijau yang terinjak.

Kamu menyebut itu kebaikan yang selalu utuh, hikmah yang penuh, kebenaran yang menyeluruh dalam pekikan riuh hulubalang.

Tuhan ada dalam kedamaian hati yang berkelindan dengan warna kelabu yang berubah merah seperti sinar matahari hangat di tengadah telapak tangan, ketika sujud tidak cukup untuk manampung maut rindu dan sajakmu yang berdendang di tiup nyiur resah angin malam.

Sabtu, 14 Januari 2017

Berdiskusi dengan Guyub

Saya berencana bertemu seorang kawan untuk menyumbang buku, dan kami memutuskan bertemu di sebuah restoran cepat saji.

Desember siang itu cuaca terik, sudah beberapa hari tidak turun hujan. Di saat banyak orang mengharapkan hujan, saya berharap Dora bernyanyi, “hujan-hujan pergilah datang lagi lain hari,”
 
“Tadi waktu aku mau kesini tiba-tiba ujan gede,” kata kawan saya memulai percakapan.

Dora mengecewakan saya.

“Iya? Tapi hujannya nggak rata. Setelah tol timur tadi baru gue liat jalanan becek.” Saya merespon, tidak lama setelah meletakan kardus buku di bawah meja.

“Hujannya juga cuma sebentar sih.”

“Semoga di rumah nggak ujan. Ada tukang yang lagi ngecor soalnya.”

Seperti biasa, percakapan berlanjut dengan menanyakan kabar, kegiatan, dan hal-hal sederhana lain. Kawan saya kemudian bercerita tentang kesalahpahaman ibunya tentang buku-buku yang ingin saya sumbangkan. Beliau mengira saya akan menyumbangkan buku-buku yang saya tulis, yang menurutnya kurang cocok.

“Aku bilang, ‘Yang disumbangin itu buku-buku yang dipunya Nailal, Mi! Bukan buku-buku karangan Nailal!’” kawan saya menirukan cara dia menjelaskan kepada ibunya. Saya membalas dengan tawa.

Tentu saja saya tidak berniat menyumbangkan buku-buku yang saya tulis. Selain karena tidak banyak, saya juga sadar bahwa sumbangan ini untuk panti asuhan Kristiani, jadi tidak mungkin saya memasukan buku-buku yang bernuansa Islam. Saya masih waras untuk tidak menyumbangkan buku “Haji dan Umrah Bersama M. Quraish Shihab: Uraian Manasik, Hukum, Hikmah, & Panduan Meraih Haji Mabrur” kepada mereka.

Kami membicarakan banyak hal, termasuk intoleransi yang menguat akhir-akhir ini. Ia bercerita tentang berdebatan di media sosial yang semakin riuh, semakin membuat jengah. Debat antara kawan, baik yang seagama juga yang berbeda. Banyak bertebaran berita hoax. Pelarangan ibadah di Sabuga dan lain-lain. Saya sempat kaget ketika ia bercerita bahwa di sekolah tempat ia mengajar, panitia bahkan sampai mengganti nama Perayaan Natal menjadi Thanksgiving.

Pahit sekali.

Saya membayangkan berada di posisinya. Menjadi golongan yang sedikit. Membayangkan menjadi muslim di negara yang warganya telah terjangkit Islamophobia. Membayangkan rumah ibadah kami dilarang berdiri. Membayangkan bertahan atas diskriminasi dan ejekan di jalan-jalan kota.

Entah mengapa, setelah mendengar curhatannya, sebagai seorang muslim, golongan yang terbanyak, saya jadi merasa bersalah. Untuk membesarkan hatinya, saya sarankan ia untuk tidak berdebat di media sosial. Selain berguna untuk menjaga tempurung kepala tidak mengkerut, berdebat dengan orang-orang yang kalap, ngotot dan gemar menyebar fitnah, juga tidak akan membawa kita kemana-mana.

Saya senang bertukar pikiran dan berdebat. Sebuah berkah karena sejak mondok saya punya teman-teman debat yang bagus. Kita tahu, lawan berdebat yang baik membuat perdebatan berkualitas. Itu adalah masa-masa dimana kami suka menguji mental dengan berbicara di depan orang banyak dan berkata-kata besar. Kelak berbekal pengalaman itu, saya berani mendebat siapapun yang tidak sependapat. Hanya satu orang yang tidak pernah menang saya debat; istri saya. Kalaupun saya menang, ia menangis. Dan saya menjadi makhluk paling brengsek di seluruh tata surya.

Ada banyak kawan debat yang saya kagumi, salah satunya Ahmad Rifa’i. Dalam satu forum diskusi berisi beberapa angkatan di atas kami, ia pernah berkata dengan jernih, “Saya nggak peduli dengan pelakunya. Saya membayangkan jika yang menjadi korban adalah keluarga saya, maka saya akan menuntut. Siapapun pelakunya, pembunuhan sembarangan seperti itu sama dengan membunuh manusia seluruhnya.”

Tahun 2011, saat itu Fa’i dan saya kelas satu Aliyah, ia mengemukakan pendapat pribadi itu di depan para senior, ketika kami sedang membahas Al-Qaeda dengan aksi 9/11 di WTC. Bagi saya yang terbiasa mendapat cekokan hafalan dan khutbah, mengemukakan pendapat pribadi di depan orang banyak adalah tindakan yang baru. Dan sesuatu yang baru adalah keren! Apalagi di depan para senior, apalagi pendapatnya bersebrangan. Sejak saat itu saya mengaguminya.

Dari Ahmad Rifai saya belajar keadilan. Bahwa keadilan adalah asas dasar seorang muslim ketika bertindak. Bahwa kita dilarang berbuat zalim bahkan kepada orang yang kita benci. Bahwa berbuat adil itu lebih dekat dengan ketakwaan.

Kawan yang lain adalah Zainuddin. Ia moderator perdebatan yang sangat kritis dan sangat menghargai perbedaan. Saya berkawan baik dengannya sejak kelas satu Tsanawiyah, dan yang paling saya ingat dari Njay adalah ia tidak pernah membeda-bedakan teman. Dia berkawan dengan siapa saja, yang pintar, yang kurang pintar, yang banyak uang, yang kurang, yang gaul, yang kuper, introvert, extrovert. Kepada siapa saja tanpa pernah membeda-bedakan latar belakang mereka. Supel mungkin kata yang tepat menggambarkan dirinya. Dari Njay saya belajar tentang menghargai perbedaan, ketulusan menolong dan kesetiakawanan.

Muhammad Yahya, atau Kiyai, atau Gus, atau Aki-aki, atau Engkong juga adalah kawan bertukar pikiran yang sangat saya hormati karena kaya bahan bacaan. Dia yang paling cemerlang diantara kami sekelas. Tidak ada orang yang pernah menyaingi rankingnya. Dia dikenal dan disayang oleh semua guru. Kepadanya kami bertanya pelajaran-pelajaran yang belum kami pahami.

Dalam diskusi, ia lebih sering menjawab tidak tahu. Ia sering mauquf (belum menentukan pilihan, menunda pendapat) terutama pada masalah yang kontroversial. Ia sangat hati-hati dalam berpendapat. Salah satu tanda kedalaman ilmunya. Sebagaimana Imam Syafi’i yang pernah menceritakan bahwa Imam Malik ketika diajukan 50 pertanyaan tentang agama, hanya menjawab 10 pertanyaan, selebihnya ia menjawab tidak tahu.

Dari Kiyai Yahya saya belajar tentang tawadhu, tabayyun dan berprasangka baik. Untuk berhati-hati terhadap informasi yang beredar, mencari kejelasan suatu masalah hingga terungkap dengan jelas kondisi yang sebenarnya dengan pemahaman yang mendalam.

Begitulah saya senang berdiskusi, begitulah saya mengagumi dan mengambil pelajaran dari kawan-kawan berdebat saya, tapi berdebat di media sosial adalah hal yang lain. Menurut saya banyak orang yang tidak tahu adab di sana, atau paling tidak melupakannya. Mereka yang hanya diwakili oleh sebaris nama dengan “@”, merasa seakan-akan tidak dikenali dan bebas melakukan apapun. Orang dengan mudah mencaci “ndasmu!” kepada ulama yang santun. Orang dengan enteng menyebar berita bohong tanpa merasa harus meminta maaf jika terbukti. Ada istilah yang populer di tengah-tengah aktifis penangkal berita dusta, “Apa yang lebih cepat dari kecepatan cahaya? Orang bodoh yang menyebar berita hoax.”

Akhlak yang baik; itulah yang hilang dari kita. Saya ingat, semasa mondok, sebelum jauh-jauh mengkaji Bulughul Maram, Alfiyah, Ilmu Mantiq, Falak dan pelajaran-pelajaran tinggi lainnya, kami belajar Akhlaqu Lilbanin dan Ta’lim Muta’alim. Kami belajar tentang akhlak. Santri diajarkan berakhlak baik kepada semua orang; pembantu, orang yang lebih tua, yang lebih muda, guru, binatang, tanaman dan lain-lain. Saya tidak sedang membanggakan anak pondok, tapi menekankan pentingnnya beretika kepada setiap orang. Sebagaimana Gus Mus bilang, “Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri dialah Santri.”

Sejatinya begitulah tujuan nabi Muhammad diutus ke muka bumi, liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlak mulia. Maka jika ingin berdiskusi, marilah berdiskusi dengan ilmu dan akhlak. Dengan logika sebagai dasar, dan mengerti ketentuan dalam pengambilan dalil. Dengan adil, menghargai perbedaan, tabayyun, tawadhu dan berprasangka baik. Itulah akhlak standar seorang muslim.

Argumen yang bagus adalah argumen logis yang didukung pendapat ulama ahli ilmu wa al-ma'rifat yang tsiqah. Bukan asal kutip dari tulisan yang tidak jelas penulisnya. Menyerang pribadi bukanlah argumen. Biasanya mereka yang tidak bisa membalas argumen sering malah menyerang pribadi dan berasumsi. Dari mulai kurang iman, munafik, kafir, dan lain-lain. Menuduh lebih mudah daripada menyusun bantahan bukan? Dan berdebat dengan orang-orang seperti itu hanya akan membuat otak melorot sampai mata kaki.

Perbedaan seharusnya disikapi dengan santai dan tenang. Bagi saya, tidak masalah berbeda pendapat atau mendebat, asalkan dengan argumen disertai dengan sopan santun, bukan seenaknya saja tanpa hormat. Itulah mengapa saya agak malas berdiskusi di media sosial. Tidak ada tone, intonasi, timing, suasana dan lain sebagainya yang bisa kita temukan ketika berdiskusi langsung. Selain itu, saya juga belajar bahwa tidak semua hal bisa diperdebatkan. Tidak semua orang bisa secara dewasa diajak berdebat. Agama juga telah mengatur koridor perdebatan.

Saya mendorong semua orang untuk bisa merayakan perbedaan. Bukankah berbeda pendapat itu rahmat? Maka kenapa kita senang memaksakan kehendak dan pemikiran kepada orang yang tak sejalan? Kita tidak bisa memaksa seluruh manusia menjadi orang-orang yang beriman. Apakah kita sedang berpikir bahwa kuantitas itu lebih penting dari kualitas? Jika populasi mayoritas semata-mata dijadikan ukuran makhluk yang menang, maka sudah lama dunia dikuasai kecoak.

Tidak mengakui perbedaan dan memaksa semua orang untuk sependapat bukan hanya menentang hukum alam, namun juga menentang kehendak Tuhan.

Berdiskusi dan berdebat dengan cara yang baik (terbaik) menurut saya adalah hal yang bagus untuk melatih nalar, kelapangan hati dan kesabaran, paling tidak membuat saya semakin haus ilmu, rajin membaca dan membeli buku. Sejujurnya saya enggan menyumbangkan buku-buku yang saya punya. Buku-buku yang saya kumpulkan sejak mondok, dibeli dari menyisihkan uang jajan yang memang sedikit. Andai saja saya punya rumah yang lebih besar untuk menampung mereka.

“Kalo ada buku yang nggak sesuai, dibalikin aja gak papa.” Kata saya mengakhiri percakapan di tempat parkir. Kawan saya yang rendah hati itu mengiyakan.

Hari beringsut sore ketika saya beranjak, beberapa bagian langit terlihat rendah dan kelabu, sebagian lagi terang. Ditengah perjalanan pulang, ketika banyak orang mengharapkan hujan turun, saya masih berharap sebaliknya. Semoga tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Wallahu a’lam bissowab.

Jumat, 30 Desember 2016

hari ini puisi sedang cuti

Katamu, 
sekarang puisi yang rendah hati sudah menjadi api 

Ada yang mengira membaca puisi, 
padahal frustasi 

Adalah puisi inti ibadah, 
penuh harap ia bermunajat dalam sujud yang khidmat

Saat malam datang, aku ingin puisi mengingatmu,
menghembuskan angin sejuk dan keheningan,
yang merindumu sedingin hujan, 
pada akhir kemarau panjang 

Maka aku menyusun puisi setinggi Everest,
buat dikirim padamu,
karena batas adalah langit 

Dan pada suatu pagi, ketika puisi pergi,
ia mengajakmu berdandan,
memugar awan di wajahmu yang temaram 

Jika nanti malam aku bermimpi,
aku ingin jadi puisi yang panjang untuk malam,
untuk kata, untuk langit juga untuk kau 





Selamat ulang tahun,
Yang fana itu kata, kamu puisi

Jumat, 09 Desember 2016

Pulang

Pulang favorit saya: jalanan lancar, mendung, sejuk. Sampai rumah disambut anak-anak; bercanda, bermain, ngobrol. Makanan enak, semua sehat. Mau tidur hujan turun, berderai tidak besar, atap tidak bocor.

Minggu, 6 Desember 2015, bukan pulang favorit saya. Malam itu, sepanjang jalan hujan turun. Sampai rumah nggak ada orang. Di kamar saya tidur ditemani diri sendiri dengan perasaan ditindih sepi.

Pagi hari, selepas subuh, istri saya telpon, minta segera ke rumah ibu, karena bapak sakit.
Sampai sana, bapak sudah tidak sadarkan diri. Dan 30 menit kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Hari itu, selepas salat asar, jenazah dikuburkan.

Itu salah satu hari tersingkat dalam hidup saya. Beberapa orang bilang, "Baru kemarin sore saya lihat Pak haji lewat depan rumah."

Andai semua orang datang dan pulang beramai-ramai, mungkin tidak ada yang merasa ditinggalkan. Sayang, dunia bukan tempat istimewa. Pram pernah menulis bahwa hidup ini bukan seperti pasarmalam, “Di dunia ini manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi.”

Hari itu memang bukan pulang yang saya suka, tapi saya yakin itu adalah kepulangan yang terbaik untuk bapak.

Selasa, 16 Agustus 2016

Tidak Ada yang Benar-benar Siap Menghadapi Kematian yang Tiba-tiba

“Kok hapeku nggak ada ya? Kamu liat gak?” tanya saya ke istri.

“Nggak.” Kata istri saya yang sedang mencuci pakaian.

Saya sadar hape tidak ada di tempat biasa saya letakan ketika mau pergi beli sayur. Biasanya saya mencatat apa yang mau dibeli di note hape. Setelah mencari di beberapa tempat lain dan nihil, akhirnya saya pergi ke tukang sayur tanpa hape.

Pulang dari tukang sayur, saya tidur. Antara setengah tertidur dan terjaga, terdengar suara dari arah dapur.

“BAANGG! YA AMPUN, BANG! ASTAGFIRULAH HALADZIM! HAPE ABANG KECUCI!”

Saya lompat dari atas kasur dan mendapati istri saya memegang hape yang basah.

“Maaf ya, Bang.” Kata istri saya.

Tanpa melepas pandangan dari almarhum hape, saya mengambilnya. Saya menerawang kejadian sebelumnya. Pagi itu, setelah sampai rumah, saya mencopot celana jeans dan meletakannya di samping mesin cuci. Beberapa menit kemudian istri saya mencucinya bersama pakaian-pakaian lain, tanpa sadar bahwa hape saya, yang masih ada di kantong celana, ikut tergiling.

Nokia 300 adalah hape yang terakhir kali dipakai almarhum bapak, dan sekarang saya pakai beserta nomor telpon dan segala isinya. Di dalamnya masih ada kontak kawan-kawan bapak, beberapa SMS, panggilan telpon keluar dan masuk juga foto-foto. Kata orang, hape adalah bagian dari diri manusia masa kini. Saya tidak mau terdengar terlalu melankolis tentang benda ini, tapi memang inilah benda yang terakhir kali dipegang almarhum bapak sebelum meninggal.

Pagi itu, bapak bangun dengan kepala berat, sambil tiduran dia menelpon atasannya minta izin tidak masuk kerja. Setelah menelpon, bapak tidak sadarkan diri, bahkan hape masih tertempel di kupingnya. Sampai akhirnya beliau meninggal di dalam kendaraan menuju rumah sakit.

Tidak ada yang lebih mengagetkan daripada kematian yang tiba-tiba. Sheila on 7 bilang, “kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan.” Hukum itu berlaku bagi siapa saja, tidak peduli mengerti ataupun tidak. Berengsek benar memang.

Setelah saya preteli, keringkan dengan handuk dan hair dryer, hape itu saya kubur dalam beras. Hari ini sudah terhitung lima hari, tapi saya belum berani menghidupkan kembali. Memang ada kemungkinan hape itu masih bisa nyala, tapi ada kemungkinan juga tidak. Untuk kemungkinan yang terakhir, saya merasa belum siap. Karena bagaimanapun, tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian yang tiba-tiba.