Halaman

Sabtu, 28 Juli 2018

Pada Suatu Hari yang Biasa

Pada suatu siang—

Itu siang yang biasa di bulan April. Di langit siang mentari menyengat, lebih terik dari beberapa hari sebelumnya. Ia bergantung tepat di atas khatulistiwa, radiasinya bercampur dengan udara lembab dari timur. Kita berada di dalam kamar dengan pintu terbuka, ditemani suara ritmis kipas angin yang mengaburkan aroma ruangan dan membuat udara sedikit lebih sejuk. Di ruang tengah, anak-anak sedang bermain boneka. Kamu rebahan di atas kasur, dua bantal menjaga kepala. Aku memetik gitar, menyanyikan Thinking Out Loud. Kamu mengenakan daster yang telah luntur warnanya, sedang membuka ponsel, menyentuh dan sesekali menaik turunkan layar dengan ibu jari. 

“Ada hotel murah nih, Bang.” Kamu menyodorkan ponsel. 

Aku melihat dan membaca beberapa hal, “Boleh.”

Kamu memintaku untuk mengajukan cuti bahkan sebulan sebelum keberangkatan. Katamu kamu tak sabar menunggu untuk jalan-jalan.

Pada suatu malam—

Itu malam yang biasa di hari yang biasa. Anak-anak telah tertidur di dalam kamar. Jam di dinding mununjuk dua digit angka. Setiap ada suara motor yang mendekat pagar halaman, aku berharap itu kamu. Aku hampir tertidur ketika terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah, kemudian terdengar seseorang membuka pagar. Aku membuka pintu dan mendapati wajahmu yang sayu namun masih mencoba untuk tersenyum. 

Sup ayam dengan campuran kacang merah di panci telah dingin. Sambil membersihkan diri di kamar mandi, kamu bercerita tentang bis yang datang terlambat, motor yang hampir mogok dan murid-murid yang kurang ajar. Aku mendengarkan sambil memanaskan makan malam di atas kompor, sesekali merespon dengan gumaman dan pertanyaan.

Pada suatu sore—

Di atas kendaraan, di belakang punggungku, kamu menangis. Kesalahpahaman membuat kita berdebat, dan aku tahu telah keterlaluan. Aku mengarahkan sepion sebelah kiri untuk melihat dan menemukan matamu yang sembab, pundakmu berguncang. Lampu sen sebelah kiri berkedip dan kendaraan menepi. Aku menyesal, ingin meminta maaf tapi tidak ada suara yang bisa keluar, tercekat mandek di kerongkongan.

Pada suatu pagi—

Setelah mencuci beberapa piring kotor makan malam, aku menyiapkan sarapan kemudian membersihkan minyak yang menciprat dari atas kompor dan dinding dapur. Kamu tidak suka dapur yang berantakan dan kotor. 

Matahari bergelantung rendah di langit pagi. Anak-anak terbaring manis memeluk boneka kesayangan yang mereka mainkan sebelum terlelap. Kamu mengeluh tidak enak badan. Kamu masih meringkuk di dalam selimut coklat muda dengan rambut kusut ketika aku tawarkan untuk mengantar ke dokter. Kamu menolak, hanya minta ditemani dan dipijat menggunakan minyak angin beraroma campuran Jojoba, Zaitun dan Sereh. Cuma masuk angin, katamu. Walaupun akhirnya kamu protes bahwa pijatanku terlalu keras dan kasar. 

Pada suatu siang—

Itu siang yang biasa di hari yang biasa. Setelah membeli keperluan bulanan di sebuah supermarket, kita berkumpul di restoran bubur dan memilih tempat duduk di pojok ruangan. Aku meminggirkan troli belanja, kamu meminta kursi bayi kepada pelayan. Kamu terlihat bahagia, wajahmu terbias cahaya lampu neon jingga yang menggantung di langit-langit. 

Pelayan wanita dengan seragam merah berkerah hitam berdiri menunggu sambil bersiap mencatat pesanan. Kamu memesan Bubur Udang Telur Asin dan Pitan serta semangkuk besar bubur polos tanpa campuran, aku memesan Bubur Seafood. Di sebrang kursi kita telah bercengkrama satu keluarga muda dengan dua anak. Kamu bercerita tentang harga air mineral yang tiga kali lipat dari harga pada umumnya, tentang sahabatmu yang berubah, tentang drama korea yang baru saja kamu tonton, dan segala hal remeh lain. Aku mendengarkan. Katamu kamu senang berbagi hal-hal yang menarik dan menyenangkan denganku.

Pada suatu pagi—

Itu hari Minggu bulan Desember tahun 2015. Suasana masih redup ketika kita keluar rumah. Sinar surya menghangatkan pagi yang masih dingin. Hujan yang mengguyur sehari sebelumnya meruapkan aroma tanah. Kabut tipis di jalan mulai hilang, seiring lalu lalang kendaraan dan kegiatan yang mulai menggeliat. 

Di sebelah selatan, siluet punggung Gunung Gede yang masih berselimut kabut terlihat malu-malu. Sementara di belakang kita, samar-samar terlihat Gunung Salak yang kebiruan. Kita mengejar matahari. Angin dingin pagi melintasi padang sawah yang hijau kekuningan, menepuk-nepuk wajah, kemudian berlalu entah kemana. 

Suasana begitu jernih, tidak ada suara musik yang menyumbat telinga, tak banyak kendaraan yang melintas bersama atau berlawanan dengan arah kita. Diliputi semua itu, dari atas Revo, kita bercerita banyak hal tentang jembatan, sungai di bawah sungai, dan asal usul nama-nama tempat dan jalan. 

Pada suatu malam—

Itu malam yang biasa di hari yang biasa. Beberapa bulan sebelum kita menikah. Lampu penerang jalan berpendar memancarkan cahaya keemasan. Membuat gerimis seperti peri yang menitik dari tempat tak kasat mata. Di sebuah pom bensin, dalam naungan peron kita duduk bersisian berteduh mengunggu hujan reda. 

Sambil berbicara tentang banyak hal, ditengah air yang berderai, diam-diam aku berharap hujan berlangsung panjang. Aku suka udara dinginnya. Aku suka suara gemericiknya ketika menyentuh aspal yang hangat. Aku suka berada dekatmu. Aku tak risau dengan lembab di kepala yang bisa menyebabkan demam. Aku suka tangan kita yang bergandengan. 

Pada suatu pagi—

Suara bip mematikan AC di dinding. Setelah salat subuh, kita membagi tugas. Kamu membuat sarapan, mencuci piring dan menjemur pakaian. Aku menyuapi, memandikan dan mengajak Aira jalan-jalan. 

Nada merapihkan sajadah dan mukena kemudian membuat bintang pada jadwal hariannya. Bintang pertama untuk hari itu. Selesai dengan urusan sarapan, Safa meminta sekolah, bersikeras ingin tetap sekolah, walaupun kamu membiarkan jika ia tidak ingin masuk, karena sedang pilek. Kamu mengantar Safa ke sekolah sementara aku di rumah menemani Nada mengerjakan Reading Eggs dan membuat video kegiatan hari itu. Aira bermain bersama beberapa mainannya sambil berceloteh di dalam Playpen. Itu pagi sibuk yang biasa seperti pagi di hari-hari lain.

Pada suatu malam—

Itu malam yang biasa di hari yang biasa. Aku pulang dan mendapati rumah kosong. Kamu dan anak-anak sedang menginap. Langit mendung tanpa bintang mulai menurunkan gerimis. Tetes-tetes air terdengar tumpah ruah menghujam atap fiber. Bunyi tetes makin banyak dan makin banyak memenuhi atap, air mengucur turun ke halaman melalui cekungan genting kemudian mengalir menuju selokan. Sebagian menyerap masuk ke tanah kering pekarangan. Malam sunyi. Jalan-jalan sepi. Aku terduduk sendiri di dalam rumah memandangi jam di dinding sambil menunggu air di atas kompor mendidih. 

Rumah bukanlah rumah ketika tidak ada orang di dalamnya. Ia akan menjadi rumah jika kamu juga ada di sana. Tanpamu, ia hanya bangunan yang melindungi dari cuaca. Malam itu, ditemani rintik hujan di luar, seketika aku mengingat banyak hal. Kesendirian kadang membuatmu lebih mudah mengenang hal-hal yang telah lewat.

Aku ingat rasanya memegang tanganmu di tengah keramaian. Aku ingat caramu merajuk. Meruntuhkan pertahananku. Aku ingat leluconmu yang selalu bisa membuatku tertawa. Aku ingat lagu kita, yang sering kita nyanyikan dengan petikan gitar sumbang. Aku ingat percakapan panjang kita tentang rencana esok hari, film yang akan kita tonton setelah anak-anak tidur atau sekedar mengobrol tentang kegiatan seharian sambil kamu membersihkan jerawat di punggungku. Aku ingat tangismu ketika kita bertengkar, ketika kamu sakit, ketika anak-anak sakit, rumah kacau dan kamu tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku ingat tawamu serta bagaimana tawa itu membuatku juga bahagia. Kamu bahagia dan aku ada dalam kebahagiaan itu. Aku ingat banyak hal sampai akhirnya kita tiba di sini. 

Kali ini, musim hujan masih datang terlambat, tapi pagi itu tiupan angin dingin dari Australia sampai juga ke dalam kamar. Dinginnya mengendap di sudut-sudut ruangan, menggigilkan jari-jari kaki. Kataku, “Kita merindu matahari ketika kedinginan.”

Siang hari lainnya hujan turun. Di ujung jendela buram itu, aku memandangi titik-titik air yang jatuh di halaman. Tempiasnya meninggalkan bercak hitam dan keropos di tepi jendela. Hujan selalu membuatku kangen akan matahari. Pada suatu musim kemarau ketika tidak ada pendingin ruangan. Pada terik yang mengeringkan kulit hingga gersangnya mendidihkan kepala. Pada sinar dan sepoy angin yang mengeringkan pakaian-pakaian di jemuran dalam beberapa jam.

Betapa mudah sebenarnya kita rindu pada hal-hal yang sederhana. Mungkin saja suatu hari nanti kenangan itu mengering, mengkerut seperti semangka yang terlalu lama terbuka, digantikan lupa dan uban yang memenuhi kepala. Jika saat itu tiba, aku ingin kamu tetap disini menemani. Menjadi musim panasku, yang mengeringkan sepasang kaus kaki basah dan meninggalkan rasa hangat di kalbu. Bersamamu, aku tak lagi merindu matahari.

Sabtu, 02 Juni 2018

Buka Puasa dan Tata Cara Menertawakan Kepahitan Hidup

“Gua punya usul,” kata saya di grup WA kelas, “abis acara buka, kita mampir ke tempat Bang Njay. Sekalian takziyah.”

Tepat hari ke delapan Ramadhan ini, guru kami semasa Aliyah, Haji Syamsuddin Bin Ma’ruf (Allah yarham) yang juga mertua dari kawan kami Zainuddin, berpulang ke rahmatullah. Maka usulan saya untuk mampir setelah acara buka bersama itu ditanggapi positif. Hanya ada satu kendala, rencana buka puasa itu terancam batal karena tuan rumah acara belum sekalipun komentar di grup.

“Elu cek sono, Lih.” Furqon memberi tanggapan, “Takutnya udah bau di rumah. Namanya idup dewekan.”

Ahmad Rifai Edogawa, duda anak dua yang rumahnya saya usulkan menjadi lokasi kumpul itu memang sama sekali tidak bisa dihubungi.

“Iya, dah.” Saya menanggapi, “Ntar sore coba gua saba.”

“Bae-bae kalo ngecek. Kalo kedapetan udah bau, jangan lu sentuh, nanti jadi tersangkanya lu!”

“Iya, iya. Ntar gua gedig dulu cantengannya, kalo kagak mingser gua tinggal.”

Sore itu, saya mendapati Edo sedang asik main game di rumahnya. Sambil menjelaskan bahwa hapenya sedang diservice, ia merespon enteng, “Gua mah silahkan aja kalo pada mau kumpul. Tapi pada bawa makanan sendiri yak. Lah di sini gua siapa yang masakin? Tapi kalo takjil doang mah gampang ntar gua sediain.”

“Iya. Ngarti gua.” Saya merespon, “Justru itu gua usulin acara di tempat lu.”

“Supaya banyak yang masakin ya?”

“Bukan. Supaya banyak yang ngatain.”

“Sue!”


Setelah mendapat konfirmasi dan menentukan hari, maka saya menyebarkan informasi penuh keprihatinan itu ke grup. Sehari sebelum acara, nomor telpon Edo masih tidak bisa dihubungi, dan tidak sebiji emotikonpun yang muncul dari dia. Anggota grup pesimis. Saya menghubungi Edo kembali menggunakan Fb Messenger.

Saya: Jadi besok anak-anak ketempat lu abis asar. Jan kemana-mana lu!
Edo: Lah serius? Ebusehhh. Gua mao kencan. Bener bener dah luh!
Saya: Gak usah kebanyakan acara dah. Tibang gowes ke alun-alun lu bilang kencan.
Edo: Emang sapa aja yang mao ke rumah?
Saya: Banyak dah. Udah pokoknya kencan batalin!
Edo: Iya dah gua batalin... Demi elu elu pade. Gagal maning dah guwah.
Saya: Berak sekebon!

Tibalah hari yang dinanti. Minggu, 27 May 2018, bertepatan dengan 11 Ramadhan 1439. Acara buka puasa bersama yang normal biasanya paling tidak dihadiri minimal lima orang, tapi sore itu normal menjadi kata yang jauh dari kami. Sampai azan magrib berkumandang, yang kumpul hanya tiga orang; saya, tuan rumah dan Deni Bagong. Bahkan untuk main Ludo pun masih kurang satu orang.

“Gong, si Moses udah sampe mana?” saya bertanya ke Deni.

“Tau tuh, keujanan katanya.”

Melalui pesan WA, Moses menjawab, “Masih di Toll.” Padahal waktu menunjukan pukul 18:19.

Maghrib sudah setengah jam berlalu dan masih kami bertiga yang bercengkrama. Di grup WA, Hayat masih membujuk kawan-kawan untuk datang. Padahal ia sendiri belum ada di lokasi.

Azan Isya berkumandang ketika Furqon dan Hayat datang. Sementara Fauzy mengkonfirmasi akan datang ba’da Isya. Sampai pukul 19:00, sudah lima orang datang. Perut baru diisi es buah dan gorengan. Rencana mencari tempat makan di sekitar rumah duda terancam batal.

“Share Loc dong. Gua salah kayaknya nih.” Moses meminta di WA.

Sambil membagi lokasi, tuan rumah merespon sewot, “Etdah.. wartawan oon juga sih luh! PeA.”

“Di google kagak ada Bantargebang soalnya.” Moses membela diri, “Awan aja nyasar kalo disuruh ke sini.” Ia bingung karena selama di jalan hujan turun deras, tapi begitu masuk Bekasi seakan-akan ia masuk ke dimensi lain. Tidak ada setetes airpun turun.

“Pan elu pernah kemari, Maliiih!” Edo makin sewot.

“Iye. Maklum belom buka.”

Saya punya kecurigaan lain. Mungkin Moses menderita rabun ayam, kondisi dimana seekor ayam belum pulang waktu maghrib karena nyasar ke kandang lain.

Hampir jam sembilan malam Moses sampai, setelah beberapa menit sebelumnya Fauzy. Kami menyambut Moses. Dengan wajah kelaparan dan kepala plontos, ia keluar dari Corolla 88.

“Lu dulu waktu mondok, disuruh pilih botak apa keluar, lu pilih keluar. Sekarang aja luh botak.” Saya menyerang.

Moses nyengir pasrah, “Ya mo gimana lagi. Yang nyuruh Tuhan ini mah.”

Wartawan TV itu memang habis ketiban pulung karena dapat tugas meliput di Riyadh, Arab Saudi. Dibantu Dubes RI, ia kemudian melaksanakan umroh.

“Untung Tuhan gak ngasih pilihan ya?” Edo berkomentar, “Coba dikasih pilihan lagi; lu mo botak apa keluar luh?”

“Lah ribed, Do!” kata saya, “Kalo keluar pondok mah gampang. Lah kalo disuruh keluar dari kekuasaan Tuhan, mo keluar kemana? Bekasi?”

Seperti biasa, ketika kumpul dengan kawan-kawan lama, kami mengingat-ingat kembali dosa-dosa masa lalu. Moses yang dikeluarin dari pesantren beberapa bulan sebelum kelulusan. Furqon yang diberhentiin dari sekolah karena kasus pacaran. Dan dosa-dosa kami yang lain yang kalau ditulis di sini bisa mengundang banyak istigfar. Bersyukur Allah masih menutupi keburukan-keburukan itu.

Selain mengingat aib masa lalu, kami membahas banyak hal dari mulai Final Champion, BIN, silogisme Rocky Gerung dan selebihnya menghina satu sama lain. Tidak ada satupun diantara kami yang sempurna, maka penghinaan akan langsung dibalas penghinaan lain. Tinggal mencari celah yang pas. Sekali ada celah, semua menghajar tanpa ampun. Hanya ada satu aturan main; harus lucu.

“Lu sebenernya penulis apa bukan sih? Gua jadi curiga.” Furqon mendapat celah ketika saya tidak mengetahui satu hal, “Emang penulis harus bego begitu ya?”

“Bukan begitu, Kong.” Deni menambahkan, “Dia kan nulis pake gugel. Bocah singit juga bisa keliatan pinter kalo gitu mah.”

Saya pasrah. Intelektualitas saya luluh lantah dihadapan mereka. Edo sang duda, Fauzy sang jomblo mendapat serangan yang lebih kejam. Dalam hal menertawakan diri sendiri, kami tidak punya tandingan. Mungkin begitu cara kami bertahan melewati kepahitan dan kesengsaraan hidup. Dengan cara menerimanya, karena sadar akan keterbatasan diri untuk melawan, tentu tanpa kehilangan semangat hidup.

Jam sembilan malam, kami tujuh orang yang sudah berkumpul memutuskan menunda makan malam dan berangkat ke tempat Njay untuk takziyah.

“Udah ajak aja Al sama Wafa.” saran saya ke Edo, setelah sebelumnya ia bilang gak mau ikut karena alasan tidak ada yang menjaga anak-anak.

“Al, pake celana sana.” kata saya kepada Al, anak laki-laki Edo yang berumur 5 tahun yang tidak pakai celana. Ia berjoget kegirangan, menggoyang-goyang tititnya. Saya menepuk jidat, tahu kalau Gernuk jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Kami sedang bersiap-siap melangkah keluar ketika dari kejauhan datang seorang gempal dengan jenggot yang tumbuh brutal sampai ke leher; Fachrurrozy.

Setengah sepuluh malam, kami baru tiba di lokasi. Kematian orang dekat tidak pernah mudah. Tidak jarang kepergian yang tiba-tiba itu meninggalkan tanggungjawab yang belum tersiapkan. “Berat aja rasanya gantiin Abi, Mi.” Njay curhat, waktu saya tanya keadaannya, “Ane belom siap. Akhlak mertua mah udah terkenal baik di sini. Lah ane?”

Sebagai seorang kawan, saya menyemangatinya. Saya pernah merasakan kondisi itu. Keadaan yang awalnya berat, namun perlahan akan berlalu seiring bergulirnya waktu. Dalam pengalaman saya, ada kesamaan antara kematian dan kelahiran, yaitu membuat orang yang dekat dengannya menjadi lebih baik. Kami menjadi tahu batasan, mengerti bagaimana seharusnya bersikap, menjadi lebih peka dalam berhubungan dengan orang atau hal-hal lain, atau dalam bahasa yang lebih sederhana kami lebih memperhatikan akhlak.

Untuk menyempurnakan akhlak mulia, itulah tujuan diutusnya baginda nabi Muhammad. Itulah tujuan ber-Islam. Maka kami akan terus berada pada kondisi itu, dalam istilah populer yang banyak digunakan sekarang, ber-Hijrah. Berproses untuk menjadi semakin baik, atau yang dalam istilah Moses, “Menjadi musafir pencari ‘ya’ berbekal ‘tidak’.”

Begitulah kami mengenal bahwa ber-Islam adalah sebuah proses, bukan instan. Kami mengalaminya bertahun-tahun yang lalu sejak masuk pesantren dan entah akan berakhir kapan. Tantangan bagi perubahan instan dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lain adalah kesulitan untuk bertahan. Sementara hijrah sejatinya adalah sebuah lintasan hidup yang panjang dan bukan hasil akhir. Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan akan wafat dalam keadaan baik, maka batas ujungnya adalah akhirat bukan dunia. Ujungnya adalah akhlak mulia.

Acara ditempat Njay diakhiri dengan doa kepada guru-guru, kawan-kawan yang telah tiada, dan kebaikan bagi diri kami di dunia dan akhirat.

Kami kembali ke rumah Edo, dan baru pukul satu dini hari selesai makan malam. Saya berdiri, memakai jaket dan siap-siap pulang.

“Lu mo ngapain?” Tanya tuan rumah.

“Pulang lah, gak enak ama bini. Lu enak gak punya bini.” sebelumnya saya bilang ke istri bahwa saya akan pulang jam 11.

“Jadi lebih enak gak punya bini maksud lu?” Edo menohok, mendapat celah.

Brengsek, kata saya dalam hati.

“Emang cuma lu doang kali yang punya bini.” timpal yang lain. Sekali lagi menggempur.

“Apa lu mao didoain gak punya bini biar enak?” semua menghajar tanpa ampun.

Saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, kembali terduduk lesu, “Bagian ini nyerah dah gua.” kata saya pasrah.

Suara tawa sahut menyahut.

Hampir setengah tiga pagi saya sampai di rumah. Subuh tinggal beberapa jam lagi.

Minggu, 27 Mei 2018

Final Champion 2018

Saya tidak pernah mendapati Qoffal Shoghir optimis menangapi setiap pertandingan Liverpool. Ia selalu berada antara takut dan harap. Sekalinya optimis, ia padukan dengan tawadu yang terdengar ripuh.

Bahkan pada suatu kesempatan, ia mengharapkan LFC mendapat hasil remis supaya finis di 4 besar dan tahun depan bisa ikut UCL lagi. Mungkin itu terdengar biasa, tapi saya melihat ada ketidakyakinan bahwa tahun ini LFC akan juara Champion.

Wajar orang-orang bilang sepak bola seperti agama. Paling tidak, seperti agama, ia membuncahkan harapan. Andai saja harapan bisa diatur, tapi sering kali ia tersusun dari hal yang menyelinap pelan-pelan dalam ketidaksadaran. Siapa yang menyangka LFC akhirnya sampai final? Ketika itulah kekalahan menjadi sangat menyakitkan, karena ia menyalahi harapan. Pada yang tak punya harapan, kekalahan menjadi hal yang ringan.

Beberapa kali Qoffal bertanya tentang prediksi. Saya sebagai bukan penganut yang tekun, seringkali hanya menjadikan pertanyaannya jadi bahan olok-olokan. Saya pernah bilang bahwa yang dibutuhkan Liperpul sekarang adalah sejarawan.

Penganut agama sepakbola yang tekun tahu kapan terakhir kali gol tendangan salto di final Champion, dan sekian banyak ingatan terhadap pencapai-pencapain, bahkan yang paling langka. Mereka bisa berujar dengan percaya diri, “Suratman adalah pemain muslim kedua yang memberikan assist menggunakan sundulan menggunakan kepala bagian kiri, terakhir kali itu dilakukan Bambang tahun 1882.”

Itulah keimanan yang sebenarnya. Juga kegilaan.

Hari ini Si Merah kalah. Qoffal dan seluruh Liverpudlian sepertinya akan kembali berkubang pada kenangan dan kesedihan dalam waktu yang tidak sebentar, karena murtad dari klub kesayangan juga bukan hal yang mudah. Maka pagi ini kita bisa berbagi, jika kamu merasa hidupmu berat, ingatlah wajah-wajah murung dalam kekalahan kali ini. Dan kita mengerti bahwa ternyata ada yang lebih tabah dari Hujan Bulan Juni.

Senin, 07 Mei 2018

Ihwal Kenaikan Isa Almasih

Kepercayaan umat Kristen akan kenaikan Isa Almasih juga diyakini oleh umat Islam, walaupun terdapat perbedaan prinsipil antara kepercayaan kedua umat ini. Perbedaan tersebut antara lain adalah keyakinan umat Kristen menyatakan bahwa Isa a.s. dibiarkan Tuhan untuk disalib sehingga akhirnyawafat di tiang salib, sedangkan umat Islam berkeyakinan penuh, sesuai dengan pen egasan Al-Quran: ...mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka (QS 4: 157).

...tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS 4: 158).

Dan kalimat “Allah telah mengangkat Isa” umat Islam percaya dengan benar bahwa beliau telah diangkat dan “naik” ke sisi Tuhan. Hanya saja sebagian umat memahami redaksi tersebut secan harfiah sehingga mereka percaya bahwa Isa belum mati dan hingga kini masih hidup di langit dan satu ketika akan turun ke bumi untuk meluruskan kekeliruan-kekeliruan umatnya. Pemahaman di atas dinilai oleh sebagian pakar Al-Quran dan hadis sebagai tidak mepunyai dasar yang kuat.

Kalimat Allah mengangkat Isa dipahami dalam pengertian majazi, yakni Allah mengangkat derajatnya ke sisi-Nya. Bahwa hadis-hadis yang berbicara tentang turunnya ke bumi nanti, kesemuanya tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Apalagi sumbernya adalah dua orang, yaitu Ka’ab Al-Ahbar dan Wahab bin Munabih, dua orang yang pemah menganut ajaran Kristen sehingga tidak mustahil apa yang disampaikan merupakan sisa kepercayaan lamanya.

Tulisan ini tidak bermaksud menyelesaikan atau memenangkan satu kepercayaan menyangkut kenaikan Isa atas kepercayaan yang lain, tetapi kita ingin menarik pelajaran dari apa yang menjadi kepercayaan tersebut yaitu antan lain bahwa Tuhan tidak pemah meninggalkan siapa pun yang berjuang demi kebaikan dan kebenaran. Ringkasnya, Dia tidak menyia-nyiakan usaha-baik seseorang. Kalaupun seandainya yang bersangkutan tidak memetik buah usahanya dalam kehidupan dunia ini, pasti ia akan menikmati hasilnya kelak di sisi Tuhan.

Kenaikan Almasih, walaupun dengan pengertian yang berbeda-beda, menunjukkan bahwa betapa kuat dan kuasa suatu kekuatan fisik untuk menundukkan atau melenyapkan kebenaran dan pemuka-pemukanya, namun hasil akhir yang diperoleh adalah kemenangan dan kebenaran itu jua.

Almasih, walaupun telah disalib atas perintah atau persetujuan Penguasa (menurut kepercayaan Kristen), atau diselamatkan Tuhan dan diangkat kesisi-Nya (menurut kepercayaan Islam) pada akhirnya memperoleh kedudukan istimewa. Dan ujung-ujungnya -terlepas dari penilaian terhadap suatu keyakinan- seperti kata Pascal, ahli matematika, filosof dan sastrawan Prancis (1623-1662 M): “Almasih telah mencapai puncak kejayaan. Bukankah ilmuwan, pemimpin perang dan negarawan pada tunduk bertekuk-lutut walaupun beliau tidak menggunakan kekuatan fisik sedikit pun?”

Sebagai Muslim kita percaya kepada Almasih, utusan dan hamba Allah yang tidak sesaat pun ditinggalkan oleh-Nya. Kepercayaan ini tak dapat ditawar-tawar, sehingga benar kata Syaikh Muhammad Abduh: “Seorang Muslim tidak dinamai Muslim sebelum la menjadi masihi” dalam arti meyakini Almasih sebagai rasul atau utusan Tuhan tidak ubahnya seperti rasul-rasul lain walaupun beliau dilahirkan tanpa ayah.

Salam sejahtera semoga tercurah kepada Almasih pada hari kelahirannya, hari wafatnya dan hari beliau dibangkitkan kelak. []

------------------------------------------------------------------------

Diambil dari buku Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan (Mizan, 1994), karangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Rabu, 25 April 2018

Agama Sepakbola

Saya mengerti mengapa Ahmad Rifai menjadi Juventini. Usianya 11 tahun ketika Juve meraih tiga juara Eropa. Dan pada masa itu, anak-anak kecil di belahan dunia manapun akan menjulurkan lidah untuk merayakan gol seperti Del Piero.

Saya bisa memahami itu, tapi saya gagal memahami Qoffal Shoghir, bocah yang tinggal belasan ribu kilometer dari Anfield, yang terakhir kali mendapati tim kesayangannya juara liga adalah bersamaan ketika ia brojol. Jadi selama itu, sampai sekarang umurnya 29, ia belum pernah sekalipun melihat klub itu juara liga. Entah doktrin jenis apa yang pernah ia terima. Mungkin sejenis doktrin utopis bahwa “Khilafah Islamiyah” akan bangkit.

Fakta itu selalu jadi bahan empuk ejekan saya. Bahkan beberapa tahun lalu, ketika Gerrard memutuskan gantung sepatu, sambil mengembalikan flash disk berbentuk jersey Suarez, saya pernah bilang ke Qoffal, "Yang dibutuhkan liperpul itu membeli seorang legend. Kebetulan Iwan Fals sedang bebas transfer."

Jadi saya masih belum memahami, ketika kemarin siang ia bertanya prediksi Liperpul vs Roma. Saya membalas melalui pesan WA, "Saya ikut Qowaidul Championiyah aja, Bung! Kaidah ke 165, ‘Siapa yg mengalahkan Barca, dia juara.’"

Dia membalas dan menuduh bahwa itu Qoidah Aglabiyah, sambil mengirim foto sedang berdoa untuk kemenangan The Reds di depan makam Gusdur. Cara pencitraan murahan yang cuma bikin saya pengen.

"Dengan cara itu, Persikaji Kranji pun bisa treble winner Liga Eropa, Bang." Saya membalas sinis. Kemudian menambahkan, "Berdoa juga supaya dapet wasit yang kartu merah Pep lagi."

Ia membalas cepat, "Kartu merah Pep akibat kelakuannya sendiri!"

Apa salah Pep? Waktu itu ia hanya berteriak, "WASIT GOBLOK!!!"

Kalaupun salah, kesalahannya semata-mata hanya karena ia tidak tahu bahwa wasit itu pernah dua tahun tinggal di Teluk Pucung dan fasih berbahasa Bekasi.

Dini hari tadi, Si Merah menang dengan selisih tiga gol di kandang. Di statusnya Qoffal masih was-was, takut dibalas Roma di Stadio Olimpico. Mengingatkan saya pada konsep Khouf dan Roja para sufi, sebelum akhirnya mencapai puncak Mahabbah.

Bagi tim yang selalu hampir juara, lolos setiap babak itu selalu bagai keajaiban yang terus memompa adrenalin. Dan dalam hal apapun, kesetiaan selalu punya ujian. Sekarang saya mulai sedikit memahami bahwa ujian keimanan seorang Livepudlian ada bukan pada saat timnya menang, tapi harapan ketika hampir menang.

Senin, 09 April 2018

Kutukan Seorang Penulis

Novelett yang baru saja terbit ini bermula dari curhatan seorang kawan. Terinspirasi dari kisah nyata.

Pada dasarnya, saya senang mendengar, melihat atau membaca kisah. Hampir semua kisah, baik nyata atau fiksi. Sebagian kisah menjadi pengingat dan pelajaran, sebagian yang lain terlupa, sebagian lagi mengendap menunggu panggilan untuk hadir kembali suatu saat.

Setiap orang punya kutukannya masing-masing, dan kutukan kepada saya bernama empati. Baru akhir-akhir ini saya menyadari, setelah mengingat dan merenung kembali tentang sikap saya terhadap berbagai hal. Butuh waktu yang cukup lama sampai saya sadar.

Pernah suatu hari, saya mengajukan komplain gaji. Kepada Admin saya ingin mengatakan unek-unek saya. Telpon diangkat, dan Admin mengatakan bahwa ia telah menginput kompalin saya dengan benar. Seharusnya saya marah ketika itu, karena apapun alasannya, sudah sangat lama kekurangan gaji saya tidak dibayarkan. Tapi bukan marah yang keluar, setelah mendengar penjelasan Admin, saya malah menjadi kasihan.

Saya tidak sedang membanggakan diri dan menganggap diri saya cerdas secara emosi. Seperti yang saya katakan, ini semacam kutukan. Sesuatu yang mau tidak mau dipunyai seseorang. Sikap yang begitu saja mengalir dalam darah. Mungkin itu sebabnya saya menghayati apa yang pernah Ernest Hemingway bilang, "When people talk, listen completely. Most people never listen." Pada bagian yang lain ia menulis, “As a writer, you should not judge, you should understand.”

Terimakasih untuk pembaca awal naskah ini; Petra Naftalia, Ahmad Rifai, Multianur Pasaribu dan my favorite person on earth, Diah Resmisari.

Novelette ini diterbitkan secara indie karena saya tidak menemukan penerbit mayor yang menerbitkan genre novellete.







Note:

Kamis, 05 April 2018

You’ll Never Muslim Alone

Dini hari tadi Qoffal Shoghir mengirimkan pesan WA yang sekaligus membangunkan saya untuk sahur. Salam 3 vs 0, ia menulis. Emotikon nyengir di akhir pesannya terasa tulus dan spesial.

Sehari sebelumnya, ia bertanya tentang prediksi Liverpool vs City. Saya jawab, “Sejak dipegang Pep, City semakin menakutkan, Bung. Perlu 12 Salah untuk menang. Itupun dengan catatan wasitnya dari Indonesia. Wkwk”

Ia membalas cepat, “Kamfret ente, Bang!”

Bukan. Dia tidak menjawab itu. Kesombongan bagi Liverpudlian lebih banyak menyisakan pedih. Maka ia menjawab dengan tawadhu tapi sayang ambigu, “Saya juga sih pesimis, tapi pesimis gak boleh sebelum ikhtiar.”

Saya mengambil Mafhum Mukholafah dari kalimat itu menjadi, “Kamu boleh pesimis setelah ikhtiar.”

Bagaimanapun kemenangan tetaplah kemenangan. Mari dirayakan sejenak. Kabarnya, untuk merayakan, Qoffal akan bersedekah dan mengusap beberapa kepala anak yatim. Dan jika tahun ini Si Kuping Besar bisa diangkat, kabarnya ia dan beberapa Liverpudlian yang mualaf akan percaya dengan datangnya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwah, tentu selama yang menjadi Kholifah adalah Mohamed Salah.

#YoullNeverMuslimAlone