“Nggak semua orang bisa dihipnotis.” Istri saya berkomentar.
“Selama tidak dungu dan mengerti bahasa, semua orang bisa dihipnotis.” Saya menjelaskan.
“Waktu itu aku dihipnotis nggak berhasil.”
“Siapa bilang? Aku berhasil hipnotis kamu untuk nggak bisa dihipnotis.”
Istri saya tertawa karena menganggap saya bercanda. Andai dia tahu kalau dia juga saya hipnosis waktu nerima lamaran saya.
Penggunaan kata dan Bahasa yang tepat adalah perangkat yang diperlukan untuk menjangkau alam bawah sadar. Pakar hipnosis harus sangat cakap dalam berbahasa, guna mencari cara bagaimana menyentuh alam bawah sadar pasien. Bisa melalui metafora, tantangan, cerita, sinisme, mengacaukan pikiran untuk memfokuskannya dan lain-lain. Ada juga hipnosis terselubung yang bisa membuat orang menjalankan sugesti tanpa ia menyadari sedang dihipnosis. Namun sekali lagi, kunci dari semua itu ada di kemahiran berbahasa.
Anak-anak lebih mudah dihipnosis karena imajinasi mereka tinggi dan menyukai pengalaman baru. Nada (5 th) girang dan dengan penuh semangat mengatakan ke ibunya, “Bu, tangan kakak tadi jadi kayu.”
Memang sebelum itu, saya menghipnosis Nada dan mengatakan bahwa tangannya telah menjadi kayu. Pada kesempatan lain, saya membuat ia bisa merasakan tangannya terangkat ringan seperti ada tali yang menarik. Di kesempatan yang berbeda, hipnosis membuat ia melupakan angka empat. Ia menghitung seluruh jari tangannya berjumlah sebelas. Nada bergairah dengan pengalaman-pengalaman baru itu, tapi untuk pengalaman yang terakhir, tentu saja ibunya khawatir.
Saya tidak mempelajari hipnosis hanya untuk bersenang-senang. Saya menggunakan untuk mengurangi kram di urat leher ketika menyuruh anak-anak gosok gigi atau tidur siang. Saya juga menerapkan pada mereka untuk meringankan sesak nafas, tidak takut ketinggian, menjadi lebih percaya diri dan berbagai hal lain yang tak terbatas. Ya, saya menerapkan hipnosis dalam parenting. Anak-anak telah dianugrahi imajinasi yang tidak ada tandingannya, dan setelah mereka tahu bagaimana menggabungkan relaksasi dengan imajinasi, mereka akan memiliki bekal yang sangat berharga bagi kehidupan mereka.
Saya percaya bahwa seiring kemajuan ilmu pengetahuan, manusia menjadi semakin efisien. Ilmu pengetahuan berkembang, begitu juga ilmu pengetahuan tentang mengasuh anak. Ada banyak metode atau teori parenting yang saya dapat, entah dari buku, social media, seminar, workshop dan lain-lain. Namun, tidak jarang dengan berbagai macam informasi dan teori tentang parenting, membuat orang tua bingung. Tidak jarang teori-teori tersebut malah bertentangan. Lagipula, lebih mudah mengatakan teori-teori itu daripada melakukannya.
Belakangan saya ketahui bahwa mengasuh anak adalah seni. Kita tidak bisa hanya mencontoh apa yang ada dalam buku atau seminar. Jika apa yang dicontohkan dalam teori tidak bekerja, perlu ada modifikasi dan penyesuaian. Buku-buku parenting bukan manual book yang harus diterapkan dengan presisi dan kita berhadapan dengan mamalia kompleks dengan tingkat intelegensi yang tinggi, sehingga terkadang diperlukan penyesuaian tergantung keadaan. Hal itu juga membuat kita tidak mudah putus asa hanya karena satu cara tidak bisa diterapkan. Selama prinsip, nilai utama atau tujuannya sama, cara yang dilakukan boleh berbeda-beda. Cara yang beragam itulah yang dipelajari lewat pengalaman. Dan untuk yang satu itu saya tidak pernah merasa pintar.
Saya baru tiba di rumah ketika membaca pesan di grup WA yang mengajak kumpul di tempat Edogawa.
“Bentar ki. Gw nglurusin kaki dulu inih.” Saya membalas chating.
Pukul 13:30
“Begini nih Fahmi kalo maen ke tempat guah. Pake kolor doang.” Edo menyambut di depan pintu, “Mana kolor kagak pernah ganti dari jaman mondok lagi.”
Saya cuma nyengir. Perasaan saya nggak enak. Kolor akan jadi trademark saya hari ini, pikir saya kemudian.
Pukul 14:30
“Makan di tempat mancing aja.” Si gondrong Moses mengusulkan. Wartawan TV itu memang ngebet nyari tempat mancing di Bekasi.
“Emang mao mancing dimana, Bang?” saya tanya ke tuan rumah.
“Danau Cibereum!” Edogawa mantap.
“Di GrandWis, Mi.” Suhayat menjelaskan setelah saya tanya dimana.
“Oh, KotWis! Deket dong!” kata saya. Suhayat bingung.
“Pake mobil lu aja, Ses! Kan ada bagasinya.” Furqon, si veteran perang Vietnam, mengusulkan.
Bagasi mobil dibuka, tas berisi kompor dan peralatan masak dimasukan. Tanpa banyak berdebat, tanpa banyak rencana, kami, 5 orang kawan mondok, masuk ke Corolla 88 dan meluncur ke arah timur Bantar Gebang. Misi kami hari itu: strike ikan gabus terbesar di Danau Cibereum!
Dalam perjalanan, kami bercanda dan mengenang keakraban yang terjeda. Kami lulus pesantren tahun 2003, itu artinya sudah 14 tahun kelulusan dari sekolah yang menyatukan kami, itu artinya sudah 14+1 tahun dari AADC pertama tayang, dan kami belum bisa move on dari Dian Sastro.
Saya menganggap pesantren kami sebagai pesantren NU non-formal, karena memang walaupun amalan-amalan di pesantren seperti tahlil, qunut, rawi-an saat Maulid, kitab-kitab yang dibaca dan lain-lain sangat NU, tapi Kiyai Muhajirin (Allah yarham) tidak pernah aktif atau ikut organisasi NU formal. Walaupun lagi, karena lebaran sering nggak bareng dengan pemerintah, sering kami malah dianggap Muhammadiyah. Saya nggak punya masalah dengan Muhammadiyah, kawan-kawan saya banyak yang Muhammadiyah bahkan Salafi dan kami bergaul dengan baik, tapi orang NU yang dianggap Muhamadiyah itu lucu. Sangat lucu. Sama lucunya dengan yang menganggap Ceban itu Goceng.
Pukul 15:30
Tiba di lokasi, kami berjalan beriringan. Moses dan Edo di depan, Furqon dan Suhayat mengikuti, sementara saya paling buncit.
Belum jauh kami berjalan, seekor bencong dengan betis CR7 datang dari arah berlawanan. Memang sebelumnya Hayat bilang kalau bencong di sini ganas-ganas, dan melihat makhluk yang kami hadapi sekarang membuktikan kalau Hayat memang pemerhati bencong kelas dunia.
Bencong mendekat dan mencolek Edo, kemudian melewati dan senyum ke Hayat dan Furqon.
“Pait, pait, pait,” kata saya dalam hati ketika bencong tinggal satu tebasan golok di hadapan. Sambil memainkan hape, saya pura-pura nggak peduli.
“Baaanggg,” kata si bencong dengan suara sengau ke arah saya, “Kok pake kolor sih…”
Refleks saya pegang kuat-kuat tali kolor.
Pukul 16:00
Setelah makan toge goreng, kami mencari spot yang bagus buat mancing. Moses sang pakar mancing menentukan lokasi. Lima buah joran dikeluarkan dan kami memancing.
Power Ranger; Zordon adalah yang mukanya paling lebar
Spesialis mancing janda
Spesialis mancing bencong
Cepak Kim Jong-un
Pakar bencong internasional
“Do, ayolah masak aer buat ngopi!” saya mengajak.
“Kopinya ketinggalan di mobil.” Kata Furqon sambil betulin kacamata.
“Pada pinter banget dah!” saya mulai misuh, “Ini tas isinya peralatan masak dibawa, trus kopi ditinggal di mobil?! Mo ngopi pake aer rawa lu pada! Mending bawa kopi aja, kita bisa minta aer panas sama tukang warung!” Saya sewot.
“Ngomong aja luh, Malih!” Edo membalas, “Udah lu ambil kopi di mobil sana. Sekalian ambilin rokok gue yang ketinggalan,”
Saya mau saja ambil kopi, tapi melihat kelakuan bencong yang kata Edo bisa striptis di batang bambu, saya nggak yakin bisa balik dengan selamat. Jadi ini bukan sekedar perkara mengambil kopi, tapi pertaruhan mempertahankan keperjakaan. Dan dengan kolor yang saya kenakan, saya akan jadi sasaran empuk setiap predator seksual.
Maka kami, lima orang berpendidikan tinggi ini, nggak ada yang mau menebus kebodohan membawa panci tanpa kopi, dengan mempertaruhkan kehormatan keluarga. Slogan kami hari itu; Mending nggak ngopi daripada pulang ngangkang!
Sambil mancing, kami berguyon tentang banyak hal. Kelucuan di kalangan santri memang tradisi. Sekeras apapun perdebatan kami di social media, ketika bertemu kami pasti tetap bercanda. Karena menurut kami, tidak ada masalah yang perlu terlalu serius diurusi sampai melupakan keakraban dan guyonan. Kami mewarisi kelucuan dari abang dan guru-guru kami.
Saya masih ingat ketika seorang guru mengubah nama kawan kami Abdurahman menjadi Omen, atau kisah abang kelas yang kesetrum karena menggantung celana dalam basah di kabel, atau kelakuan iseng mengeluarkan paksa kawan yang lagi mandi dari kamar mandi dengan tanpa pakaian. Maka saya mengabadikan kelucuan-kelucuan di pesantren itu —dengan cara menertawakan diri sendiri— dalam Badung Kesarung dan Di Bawah Bendera Sarung.
Sehabis ngaji santri doyan nongkrong sambil ngopi, atau terkadang sambil main poker. Membicarakan banyak hal dari mulai bola, negara sampai Qoul Qodim dan Jadid Imam Syafi’i. Dengan kondisi komunal semacam itu, maka melucu dan berguyon dengan hal-hal sekitar kami yang terkadang rumit menjadi kemampuan yang melekat.
Zaman sekarang, saya cenderung risih dengan santri yang kusut, runyam dan setiap posting ngajak bacok-bacokan. Ditambah lagi lupa adab dan akhlak. Kurang ngopi, istilah kami.
Pernah saya menulis status lucu-lucuan mempertanyakan apakah Tuhan punya akun di media sosial sehingga banyak yang berdoa di sana. Saya berharap status itu dapat komen, “Tuhan udah nggak mainan fesbuk, akhi. Sekarang pindah ke IG. Kalo mau add Malaikat Izroil aja nih. wkwkwkwk”. Tidak saya sangka, komentar-komentar atas status itu terlalu serius. Ada yang nulis, “Mau ngingetin aja takut lo lupa. Tuhan memang ada dimana-mana.”
Tentu saja saya mengerti tentang doktrin bahwa Tuhan ada dimana-mana, bahkan lebih dekat dari urat leher, tapi membayangkan Tuhan punya akun fesbuk itu lucu. Kalau mau serius, saya bisa saja membalas komentar-komentar itu dengan penjelasan Mujassimah Musyabbihah, tapi jawaban itu akan terasa seperti kanebo kering; kaku.
Saya paham nggak semua orang mengerti saya sedang bercanda, apalagi itu isu sensitif. Maka sekarang saya sudah insaf dan jarang nulis status guyonan yang sensitif seperti itu lagi. Saya nggak mau lagi bercanda bahwa Tuhan itu seorang pria 40 tahun yang tinggal di Dusun Krajan. Dia bisa terserang flu bahkan Ambeien.
Kelucuan dan menertawakan diri sendiri itu tingkat yang paling tinggi dari pengetahuan. Orang yang mengerti tidak akan merasa tersakiti dengan guyonan. Orang yang penuh pemahamannya, memberi jarak dan melihat dari jauh setiap masalah agar akal sehat bisa mencerna. Mengutip Charlie Chaplin, “Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot.” Atau dalam bahasa yang lebih ringkas tragedy + time = comedy.
Sedikit lebih panjang, Gus Dur menulis, “Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.”
Tentu kami nggak terus-terusan guyon, kami mengerti batasan. Kami mengerti terlalu banyak tertawa mematikan hati, tapi terlalu sedikit tertawa juga bisa membuat hati cepat terkena serangan jantung.
Pukul 16:00
Sampai hari remang, kami nggak mendapat ikan seekorpun, tapi pemandangan, suasana dan keakraban hari itu sangat kami nikmati.
“Kurang bahagia gue blom narik ikan.” Kata si gondrong.
“Tadi kolornya Fahmi bukannya lu tarik?” Edo bales.
“Bah, belut listrik itu mah! Lu enak udah dicubit bencong.”
Matahari hampir tenggelam, langit bersemburat warna jingga dengan siluet gunung salak di kejauhan. Danau, langit, pelangi, gunung dan senja bersatu menampilkan gambaran alam paling subtil yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bayang-bayang segala sesuatu memanjang mengingatkan saya akan sajak Sapardi.
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang. Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
“Apa yang diajarkan orang tua kepada anak-anak mereka yang homeschooling?” suatu hari kawan saya, seorang guru, bertanya.
“Apa saja yang mereka suka. Sesuai visi-misi yang dipunya orang tua.”
“Berarti sama dengan anak-anak yang putus sekolah dong?”
Saya kemudian menjelaskan panjang lebar bahwa homeschooling berbeda dengan putus sekolah. Pada dasarnya, homeschooling sama dengan sekolah, sama-sama legal dan diakui negara. Adapun perbedaannya terletak apada penerapan.
Sekolah ibarat membeli baju yang sudah jadi, sementara homeschooling ibarat membuat pakaian di butik. Jika kita membeli pakaian yang sudah jadi, maka kita memilih berdasarkan pilihan yang sudah ada. Dimana model, warna, ukuran sudah ada standarnya. Tapi jika kita membuat pakaian di butik, maka kita yang menentukan model yang sesuai untuk kita. Jadi homeschooling adalah tentang apa yang kita butuhkan, harapkan dan menjadi visi dari pembelajaran.
Seperti kawan saya, yang merupakan seorang guru, banyak diantara kita yang belum mengerti tentang homeschooling. Oleh karena itu saya menganggap perlu untuk menulisnya di sini.
Ada tiga hal yang saya dan istri sepakati menjadi visi paling tidak dalam enam tahun ke depan untuk anak kami, yang akan menjadi panduan menjalankan homeschooling. Visi tersebut adalah untuk menjadikan anak memiliki akidah dan akhlak yang kuat, mengetahui bakat dan minat dan bahagia menekuninya, serta bisa hidup secara mandiri, bermartabat, mulia guna menjadi perawat bumi.
Dari visi tersebut, lahirlah tiga misi yang kami kami akan ajarkan dan pelajari bersama.
Menanamkan akidah dan akhlak
Mencari minat dan bakat
Mengajarkan life skill
Turunan dari misi itu sangat variatif dan teknis. Seperti bagaimana cara mengajarkan akidah dan akhlak seperti Luqmanul Hakim mengajarkan pada anaknya. Dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Dengan metode bercerita, mengunjungi berbagai tempat, bermain dan banyak hal lainnya. Begitu juga tentang cara mengetahui minat dan bakat anak, juga life skill agar anak-anak bisa mandiri.
Dalam hal ini, seperti yang saya tulis sebelumnya, bukan hanya anak-anak yang belajar, lebih-lebih orang tua juga harus lebih mengerti. Maka orang tua dan anak sama-sama belajar. Apakah sulit? Tidak, terutama bagi yang senang belajar. Banyak buku, tulisan, pengalaman, tutorial, video, penelitian yang membahas tentang pendidikan modern yang bisa kita contoh.
Saya tidak pernah menganggap homeschooling sebagai sesuatu yang istimewa, sehingga menganggap sekolah sebagai sesuatu yang buruk. Tidak sama sekali. Keduanya, baik homeschooling ataupun sekolah adalah alat untuk meraih tujuan pendidikan. Keduanya merupakan pilihan masing-masing orang tua yang sama-sama sah, sehingga tidak sepantasnya dipertentangkan.
Sungguh pada awalnya, saya tidak keberatan jika anak-anak dimasukan ke SD Negeri, tapi istri saya kemudian bilang, “Caraku mengajar lebih bagus daripada mereka.”
Saya tahu ia tidak sedang menyombongkan diri, hanya mengungkap fakta. Istri saya adalah pengajar dan pendidik, ia punya beberapa penghargaan dibidang pengajaran. Ia juga merupakan pemegang gelar master di bidang pendidikan. Bukan juga berarti istri saya mampu menghandel seluruh apa yang ada dalam visi-misi kami. Adakalanya kami berperan menjadi guru, kepala sekolah dan juga fasilitator. Sehingga, orang tua pelaku homeschooling tidak mesti berlatar belakang pendidik. Semua orang tua dengan latar belakang yang berbeda-beda bisa memilih untuk menjalankannya.
Lalu apa yang diperlukan?
Saat ini homeschooling memang sedang ngetren dan saya percaya beberapa tahun mendatang sekolah rumah menjadi sebuah gerakan yang semakin hidup. Ada sekian banyak komunitas yang ada di sekitar kita. Namun demikian, jangan jadikan homeschooling sebagai ajang main-main atau hanya ikutan tren, karena ia merupakan keputusan penting bagi anak dan keluarga. Sehingga bagi yang menginginkan homeschooling, seharusnya punya alasan yang cukup kuat agar bisa menjadi penyemangat dan daya tahan dalam menjalaninya. Yang terakhir, tentu saja, mempelajari homeschooling dan mencari jawaban dari masalah-masalah pendidikan rumah, baik melalui bacaan maupun bertemu dengan praktisi homeschooling yang lebih berpengalaman.
“Bapak, sepeda kakak dipinjem Bunga. Kakak mau main lagi.” Nada mengadu lagi tentang Bunga, tentu bukan nama sebenarnya.
“Ya sudah bilang sana.” Kata saya dari dapur. Nada memang kurang berani dengan Bunga, kawan di lingkungan rumah yang usianya lebih muda 2-3 tahun. Setiap kali Bunga meminjam sepeda, Nada selalu memberikan.
“Dia nggak mau dengerin. Bapak aja yang ngomong.”
“Itukan temen kamu, sepeda kamu, ya kamu yang ngomong. Kakak memang mau ngomong sama temen bapak, padahal bapak yang punya perlu?”
Nada diam.
Permainan logika itu terkadang berhasil. Tapi anak-anak selalu punya cara untuk merengek.
“Ya sudah. Menurut kakak bapak harus gimana?” Tanya saya.
“Bilangin Bunga suruh balikin sepedanya.”
“Bunga kan bukan anak bapak. Bukan tanggung jawab bapak dong. Bunga itu tanggung jawab orangtuanya.” Nada mendengarkan, saya melanjutkan, “Sekarang gini aja. Kakak bilang ke mamahnya Bunga, minta Bunga balikin sepedanya. Lagian memang kamu nggak liat bapak lagi cuci piring?”
Nada masih merajuk. Dengan masih membelakanginya, saya tetap merespon dengan jawaban terakhir.
Entah bagaimana caranya, beberapa menit kemudian, ketika saya melihat Nada di depan rumah, ia telah memainkan sepedanya lagi.
Edward de Bono dalam bukunya Children Solve Problems, melakukan percobaan dengan memberikan 9 tugas kepada anak-anak untuk diselesaikan. Setiap tugas dipilih dengan teliti dengan mengukur karakter yang berbeda-beda dari anak-anak. Kesimpulan dari buku tersebut adalah anak-anak bisa memecahkan masalah dengan sangat mudah. Cara mereka mengatasi masalah memang terkadang tidak praktis, tetapi cara-cara itu didapat dari kemahiran, semangat, dan imajinasi yang mengagumkan yang pantas membuat iri banyak orang dewasa.
Sebagai orang dewasa, saya banyak belajar dari mereka. Selain banyak membaca dari berbagai sumber tentang parenting, belajar dari pengalaman, belajar dari kesalahan dan belajar sambil melakukan adalah hal yang menjadi kemestian. Dan jika menjadi orang tua ada sekolahnya, maka pasti anak-anak yang menjadi sang maha guru.
Sebastian: What do you mean you don't like jazz? Mia: It just means that when I listen to it, I don't like it.
Kenapa La La Land?
Kenapa tidak?
The Telegraph, The Guardian, The Times, dan Cine-Vue.Com memberikan bintang lima untuk film ini. Menyapu bersih 7 piala dari 7 nominasi Di Golden Globe, dan menjadikannya sebagai film pertama yang membawa pulang piala terbanyak sepanjang ajang itu. Sampai Januari, sudah 196 penghargaan dan nominasi yang diterima film ini, sementara Academy Awards baru akan diselenggarakan akhir Februari nanti. Ya, mungkin penghargaan yang tidak akan dimenangkan film ini hanyalah Piala FFI.
Ini film tentang mimpi, atau meminjam kata-kata Mia, “Here's to the ones who dream / Foolish as they may seem. / Here's to the hearts that ache. / Here's to the mess we make.” Dan diakhir cerita, saya menangkap Perahu Kertas Dee, tapi dengan penutup yang pahit.
Saya masuk 15 menit setelah studio dibuka. Di menit ketika Ema Stone membuka jaket dan terlihat tumpahan kopi di kemeja putihnya. Setelah itu, alur berjalan pelan dan cenderung membosankan, tanpa ada sub plot yang membuat kejutan-kejutan. Menurut saya wajar, karena ini film musikal, waktu yang ada mesti diberikan untuk lagu dan tari. Tentu jika tema, alur yang lebih kompleks disertai nyanyian dan joget, saya mengharapkan film ini akan sepanjang Kuch Kuch Hota Hai.
Poros film ini hanya pada dua tokoh Sebastian dan Mia. Dunia di dalam film ala Broadway ini adalah tempat dimana bicara dan gerak diekspresikan secara wajar dan alami melalui lagu dan tari, dimana kenyataan bisa seperti hayalan. Di zaman emoji menggantikan ekpresi, yang terkadang palsu, lagu dan tarian adalah antitesis kepura-puraan. Pada beberapa adegan, kita disajikan kegugupan, debar dan ketertarikan yang manis. Kita terbawa sendu ketika Sebastian berjalan di sepanjang dermaga, bersiul, kemudian lirih bernyanyi City of Stars dengan nada rendah.
City of stars Are you shining just for me?
City of stars There's so much that I can't see
Who knows? Is this the start of something wonderful and new?
Or one more dream that I cannot make true?
Tentang menari, saya kaku, sementara tentang Jazz, saya tidak tahu. Saya suka menari di tempat dan kalangan tertentu. Saya menari ketika atau setelah mandi, sementara saya bernyanyi ketika ngantuk coba merubuhkan saya dari atas kendaraan. Saya tidak peduli apakah tarian Justin Bieber atau Gangnam Style banyak disukai. Saya juga tidak peduli apakah benar bahwa orang yang suka menari punya kecenderungan untuk jadi lebih spriritual dan luwes dalam pergaulan. Yang saya tahu, saya joget-joget ketika senang.
Tentang Jazz saya lebih norak lagi. Satu-satunya Jazz yang saya suka adalah Raisa. Bukan karena Raisa adalah penyanyi Jazz, tapi karena Raisa adalah Raisa. Ya, keterangan yang nggak ada gunanya. Saya baru paham mengapa musisi Jazz benci genre disko, ketika perempuan yang saya ajak nonton mengatakannya. Dan benar saja, karena dialog Mia dan Sebastian, dengan lucu menjelaskan itu.
Sebastian: Alright, I remember you. And yes, I'll admit that when we met, I was a little curt.
Mia: You were "curt?"
Sebastian: Alright, I was an asshole. I can admit that! But requesting "I Ran" from a serious musician? Too far!
Sebagai film bergenre drama komedi, nuansa komedik (dengan adegan-adegan kebetulan ala FTV) dan joke dalam film ini halus. Pada beberapa adegan bahkan hanya saya yang tertawa keras dalam satu studio. Lagi-lagi, perempuan yang saya ajak nonton mengingatkan sebelum penjual popcorn datang menegur.
Di atas semua, seperti Begin Again semua lagu dalam film ini begitu ear-worms.
Kita berjalan melintasi pintu-pintu waktu yang berbaris panjang seperti cakrawala di tengah laut biru. Di ujung senja jingga itu, cintaku, akan ada burung-burung putih yang pulang dengan perut kenyang. Dan rembulan muda yang sendu seperti sepasang kekasih yang bersitatap dalam rindu ungu.
Tahun-tahun perenggut semua hal tidak pernah melongok dari jendela-jendela yang tertutup rapat antara buku-buku sejarah yang usang dan rumput-rumput hijau yang terinjak.
Kamu menyebut itu kebaikan yang selalu utuh, hikmah yang penuh, kebenaran yang menyeluruh dalam pekikan riuh hulubalang.
Tuhan ada dalam kedamaian hati yang berkelindan dengan warna kelabu yang berubah merah seperti sinar matahari hangat di tengadah telapak tangan, ketika sujud tidak cukup untuk manampung maut rindu dan sajakmu yang berdendang di tiup nyiur resah angin malam.
Saya berencana bertemu seorang kawan untuk menyumbang buku, dan kami memutuskan bertemu di sebuah restoran cepat saji.
Desember siang itu cuaca terik, sudah beberapa hari tidak turun hujan. Di saat banyak orang mengharapkan hujan, saya berharap Dora bernyanyi, “hujan-hujan pergilah datang lagi lain hari,”
“Tadi waktu aku mau kesini tiba-tiba ujan gede,” kata kawan saya memulai percakapan.
Dora mengecewakan saya.
“Iya? Tapi hujannya nggak rata. Setelah tol timur tadi baru gue liat jalanan becek.” Saya merespon, tidak lama setelah meletakan kardus buku di bawah meja.
“Hujannya juga cuma sebentar sih.”
“Semoga di rumah nggak ujan. Ada tukang yang lagi ngecor soalnya.”
Seperti biasa, percakapan berlanjut dengan menanyakan kabar, kegiatan, dan hal-hal sederhana lain. Kawan saya kemudian bercerita tentang kesalahpahaman ibunya tentang buku-buku yang ingin saya sumbangkan. Beliau mengira saya akan menyumbangkan buku-buku yang saya tulis, yang menurutnya kurang cocok.
“Aku bilang, ‘Yang disumbangin itu buku-buku yang dipunya Nailal, Mi! Bukan buku-buku karangan Nailal!’” kawan saya menirukan cara dia menjelaskan kepada ibunya. Saya membalas dengan tawa.
Tentu saja saya tidak berniat menyumbangkan buku-buku yang saya tulis. Selain karena tidak banyak, saya juga sadar bahwa sumbangan ini untuk panti asuhan Kristiani, jadi tidak mungkin saya memasukan buku-buku yang bernuansa Islam. Saya masih waras untuk tidak menyumbangkan buku “Haji dan Umrah Bersama M. Quraish Shihab: Uraian Manasik, Hukum, Hikmah, & Panduan Meraih Haji Mabrur” kepada mereka.
Kami membicarakan banyak hal, termasuk intoleransi yang menguat akhir-akhir ini. Ia bercerita tentang berdebatan di media sosial yang semakin riuh, semakin membuat jengah. Debat antara kawan, baik yang seagama juga yang berbeda. Banyak bertebaran berita hoax. Pelarangan ibadah di Sabuga dan lain-lain. Saya sempat kaget ketika ia bercerita bahwa di sekolah tempat ia mengajar, panitia bahkan sampai mengganti nama Perayaan Natal menjadi Thanksgiving.
Pahit sekali.
Saya membayangkan berada di posisinya. Menjadi golongan yang sedikit. Membayangkan menjadi muslim di negara yang warganya telah terjangkit Islamophobia. Membayangkan rumah ibadah kami dilarang berdiri. Membayangkan bertahan atas diskriminasi dan ejekan di jalan-jalan kota.
Entah mengapa, setelah mendengar curhatannya, sebagai seorang muslim, golongan yang terbanyak, saya jadi merasa bersalah. Untuk membesarkan hatinya, saya sarankan ia untuk tidak berdebat di media sosial. Selain berguna untuk menjaga tempurung kepala tidak mengkerut, berdebat dengan orang-orang yang kalap, ngotot dan gemar menyebar fitnah, juga tidak akan membawa kita kemana-mana.
Saya senang bertukar pikiran dan berdebat. Sebuah berkah karena sejak mondok saya punya teman-teman debat yang bagus. Kita tahu, lawan berdebat yang baik membuat perdebatan berkualitas. Itu adalah masa-masa dimana kami suka menguji mental dengan berbicara di depan orang banyak dan berkata-kata besar. Kelak berbekal pengalaman itu, saya berani mendebat siapapun yang tidak sependapat. Hanya satu orang yang tidak pernah menang saya debat; istri saya. Kalaupun saya menang, ia menangis. Dan saya menjadi makhluk paling brengsek di seluruh tata surya.
Ada banyak kawan debat yang saya kagumi, salah satunya Ahmad Rifa’i. Dalam satu forum diskusi berisi beberapa angkatan di atas kami, ia pernah berkata dengan jernih, “Saya nggak peduli dengan pelakunya. Saya membayangkan jika yang menjadi korban adalah keluarga saya, maka saya akan menuntut. Siapapun pelakunya, pembunuhan sembarangan seperti itu sama dengan membunuh manusia seluruhnya.”
Tahun 2011, saat itu Fa’i dan saya kelas satu Aliyah, ia mengemukakan pendapat pribadi itu di depan para senior, ketika kami sedang membahas Al-Qaeda dengan aksi 9/11 di WTC. Bagi saya yang terbiasa mendapat cekokan hafalan dan khutbah, mengemukakan pendapat pribadi di depan orang banyak adalah tindakan yang baru. Dan sesuatu yang baru adalah keren! Apalagi di depan para senior, apalagi pendapatnya bersebrangan. Sejak saat itu saya mengaguminya.
Dari Ahmad Rifai saya belajar keadilan. Bahwa keadilan adalah asas dasar seorang muslim ketika bertindak. Bahwa kita dilarang berbuat zalim bahkan kepada orang yang kita benci. Bahwa berbuat adil itu lebih dekat dengan ketakwaan.
Kawan yang lain adalah Zainuddin. Ia moderator perdebatan yang sangat kritis dan sangat menghargai perbedaan. Saya berkawan baik dengannya sejak kelas satu Tsanawiyah, dan yang paling saya ingat dari Njay adalah ia tidak pernah membeda-bedakan teman. Dia berkawan dengan siapa saja, yang pintar, yang kurang pintar, yang banyak uang, yang kurang, yang gaul, yang kuper, introvert, extrovert. Kepada siapa saja tanpa pernah membeda-bedakan latar belakang mereka. Supel mungkin kata yang tepat menggambarkan dirinya. Dari Njay saya belajar tentang menghargai perbedaan, ketulusan menolong dan kesetiakawanan.
Muhammad Yahya, atau Kiyai, atau Gus, atau Aki-aki, atau Engkong juga adalah kawan bertukar pikiran yang sangat saya hormati karena kaya bahan bacaan. Dia yang paling cemerlang diantara kami sekelas. Tidak ada orang yang pernah menyaingi rankingnya. Dia dikenal dan disayang oleh semua guru. Kepadanya kami bertanya pelajaran-pelajaran yang belum kami pahami.
Dalam diskusi, ia lebih sering menjawab tidak tahu. Ia sering mauquf (belum menentukan pilihan, menunda pendapat) terutama pada masalah yang kontroversial. Ia sangat hati-hati dalam berpendapat. Salah satu tanda kedalaman ilmunya. Sebagaimana Imam Syafi’i yang pernah menceritakan bahwa Imam Malik ketika diajukan 50 pertanyaan tentang agama, hanya menjawab 10 pertanyaan, selebihnya ia menjawab tidak tahu.
Dari Kiyai Yahya saya belajar tentang tawadhu, tabayyun dan berprasangka baik. Untuk berhati-hati terhadap informasi yang beredar, mencari kejelasan suatu masalah hingga terungkap dengan jelas kondisi yang sebenarnya dengan pemahaman yang mendalam.
Begitulah saya senang berdiskusi, begitulah saya mengagumi dan mengambil pelajaran dari kawan-kawan berdebat saya, tapi berdebat di media sosial adalah hal yang lain. Menurut saya banyak orang yang tidak tahu adab di sana, atau paling tidak melupakannya. Mereka yang hanya diwakili oleh sebaris nama dengan “@”, merasa seakan-akan tidak dikenali dan bebas melakukan apapun. Orang dengan mudah mencaci “ndasmu!” kepada ulama yang santun. Orang dengan enteng menyebar berita bohong tanpa merasa harus meminta maaf jika terbukti. Ada istilah yang populer di tengah-tengah aktifis penangkal berita dusta, “Apa yang lebih cepat dari kecepatan cahaya? Orang bodoh yang menyebar berita hoax.”
Akhlak yang baik; itulah yang hilang dari kita. Saya ingat, semasa mondok, sebelum jauh-jauh mengkaji Bulughul Maram, Alfiyah, Ilmu Mantiq, Falak dan pelajaran-pelajaran tinggi lainnya, kami belajar Akhlaqu Lilbanindan Ta’lim Muta’alim. Kami belajar tentang akhlak. Santri diajarkan berakhlak baik kepada semua orang; pembantu, orang yang lebih tua, yang lebih muda, guru, binatang, tanaman dan lain-lain. Saya tidak sedang membanggakan anak pondok, tapi menekankan pentingnnya beretika kepada setiap orang. Sebagaimana Gus Mus bilang, “Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri dialah Santri.”
Sejatinya begitulah tujuan nabi Muhammad diutus ke muka bumi, liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlak mulia. Maka jika ingin berdiskusi, marilah berdiskusi dengan ilmu dan akhlak. Dengan logika sebagai dasar, dan mengerti ketentuan dalam pengambilan dalil. Dengan adil, menghargai perbedaan, tabayyun, tawadhu dan berprasangka baik. Itulah akhlak standar seorang muslim.
Argumen yang bagus adalah argumen logis yang didukung pendapat ulama ahli ilmu wa al-ma'rifatyang tsiqah. Bukan asal kutip dari tulisan yang tidak jelas penulisnya. Menyerang pribadi bukanlah argumen. Biasanya mereka yang tidak bisa membalas argumen sering malah menyerang pribadi dan berasumsi. Dari mulai kurang iman, munafik, kafir, dan lain-lain. Menuduh lebih mudah daripada menyusun bantahan bukan? Dan berdebat dengan orang-orang seperti itu hanya akan membuat otak melorot sampai mata kaki.
Perbedaan seharusnya disikapi dengan santai dan tenang. Bagi saya, tidak masalah berbeda pendapat atau mendebat, asalkan dengan argumen disertai dengan sopan santun, bukan seenaknya saja tanpa hormat. Itulah mengapa saya agak malas berdiskusi di media sosial. Tidak ada tone, intonasi, timing, suasana dan lain sebagainya yang bisa kita temukan ketika berdiskusi langsung. Selain itu, saya juga belajar bahwa tidak semua hal bisa diperdebatkan. Tidak semua orang bisa secara dewasa diajak berdebat. Agama juga telah mengatur koridor perdebatan.
Saya mendorong semua orang untuk bisa merayakan perbedaan. Bukankah berbeda pendapat itu rahmat? Maka kenapa kita senang memaksakan kehendak dan pemikiran kepada orang yang tak sejalan? Kita tidak bisa memaksa seluruh manusia menjadi orang-orang yang beriman. Apakah kita sedang berpikir bahwa kuantitas itu lebih penting dari kualitas? Jika populasi mayoritas semata-mata dijadikan ukuran makhluk yang menang, maka sudah lama dunia dikuasai kecoak.
Tidak mengakui perbedaan dan memaksa semua orang untuk sependapat bukan hanya menentang hukum alam, namun juga menentang kehendak Tuhan.
Berdiskusi dan berdebat dengan cara yang baik (terbaik) menurut saya adalah hal yang bagus untuk melatih nalar, kelapangan hati dan kesabaran, paling tidak membuat saya semakin haus ilmu, rajin membaca dan membeli buku. Sejujurnya saya enggan menyumbangkan buku-buku yang saya punya. Buku-buku yang saya kumpulkan sejak mondok, dibeli dari menyisihkan uang jajan yang memang sedikit. Andai saja saya punya rumah yang lebih besar untuk menampung mereka.
“Kalo ada buku yang nggak sesuai, dibalikin aja gak papa.” Kata saya mengakhiri percakapan di tempat parkir. Kawan saya yang rendah hati itu mengiyakan.
Hari beringsut sore ketika saya beranjak, beberapa bagian langit terlihat rendah dan kelabu, sebagian lagi terang. Ditengah perjalanan pulang, ketika banyak orang mengharapkan hujan turun, saya masih berharap sebaliknya. Semoga tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan.