Halaman

Jumat, 28 Juli 2017

Drama, Fantasy dan Tidak Penting Lagi Apa Filmnya

“Trust me, women are expert in history of their romantic life!” Katamu mengakhiri perdebatan tentang film pertama yang kita tonton di bioskop. Aku percaya ingatanmu, selama itu tidak tentang dimana kamu meletakan kunci.

Cerita itu berakhir di jalanan London, lima tahun setelah kolera membunuh suaminya. Ini adalah adegan sebelum ia berpapasan dengan selingkuhan yang sekarang telah ia anggap seperti kotoran kucing. 

Kitty tampak anggun dengan gaun putih, menggandeng seorang anak laki-laki yang tidak pernah mengenal wajah ayahnya. Siang itu teduh, suasana khas jalan-jalan eropa, beku seperti lukisan kelabu dengan lanskap pucat. Hilir mudik orang-orang berjalan di trotoar, bergegas tanpa senyum sapa. Di depan toko bunga, wanita itu tertegun sejenak memandangi jejeran mawar.

“Konyol ya?” Kitty seperti berbicara sendiri, “Bunga-bunga ini akan mati dalam seminggu. Sangat tidak sebanding dengan harganya.”

Ia memandang bocah berusia lima tahun itu, yang punya nama sama dengan nama ayahnya, “Bagaimana menurutmu, Walter?” 

“Bunga-bunga itu bagus!”

“Oya?” Kitty dan Walter tersenyum.

“Ya, kamu benar.” Kitty menarik tangan mungil anak itu dan melanjutkan perjalanan. 

Seingatku, begitulah akhir The Painted Veil, film pertama yang kamu pinjamkan. Semasih ada Rental Odiva. Cerita pahit namun penuh makna tentang seorang istri yang berselingkuh dalam pernikahan cinta-bertepuk-sebelah-tangan. Film dengan percakapan penuh sinisme ini memberikan pelajaran berharga tentang perselingkuhan, cinta yang belum berkembang, kematian dan tentu saja penyesalan. Mei-tan-fu, daerah terpencil di pedalaman pegunungan China yang penuh wabah kolera, membuat pasangan suami istri itu mengenal diri dan masalah mereka lebih dalam.

Kita juga tahu film tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan namun dengan akhir yang lebih manis; The Tiger and the Snow. Tingkah kocak Attilio untuk menarik hati Vittoria, sampai kenekatan pergi ke Bhagdad untuk menyelamatkan wanita yang tidak akan menikahinya sampai ia melihat harimau di kota Roma berjalan di atas salju. Pada adegan akhir film, hati kita dibuat hangat mengenang ketulusan Attilio. Memang tidak diceritakan apakah Attilio dan Vittoria menikah (lagi), namun jangan khawatir, dalam dunia nyata mereka memang telah menjadi suami istri.

Tentang pernikahan, Ira & Abby memberikan kita pemahaman aneh yang aku istilahkan dengan menikah dalam ketidakmenikahan. Film ini memberi pertanyaan besar di benak setiap orang; mengapa menikah? Kata orang-orang dahulu, pernikahan adalah ujian pertama cinta. Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun belum teruji dalam rumah tangga. Bisa jadi mereka bercerai setelah menikah karena tidak bahagia atau cinta mereka surut. Kamu bisa bertanya kepada Brad Pitt tentang hal itu.

Di luar itu, Mae Braddock dalam Cinderella Man atau Jane Hawking dalam The Theory of Everything menampilkan kualitas karakter terbaik wanita dalam menjalani rumah tangga yang tidak selamanya berjalan seperti yang mereka angankan. Paling tidak, kedua istri tersebut tidak memutuskan bunuh diri seperti dalam The Road.

The Road; film paling murung yang pernah kita tonton. Kamu tahu, bencana alam dan kehidupan tanpa harapan dalam film itu lebih depresif dibanding seluruh lagu-lagu Adele dijadikan satu atau hidup dalam kepungan zombie pemakan otak. Dengan suasana kelabu dan dingin karena bencana alam yang entah apa, seorang ayah dengan anak laki-lakinya mencoba bertahan hidup. Dan pada akhirnya, kita mendapat kesan bahwa di tengah kehidupan yang suram, kelaparan dan tanpa harapan, pilihan untuk tetap menjadi baik semakin sulit. Betapapun sulitnya hidup, selalu ada pilihan untuk tetap menjadi baik. Namun, kita pasti sepakat, tentang menjadi baik, positif dan suka cita ditengah tekanan dan ketidakadilan, belum ada yang lebih berkesan dari Life is Beautiful.

Entah kamu sadari atau tidak, film dan buku-bukulah yang awalnya menyatukan kita. Aku suka Drama, dan kamu suka Fantasy. Itu hal yang kecil saja. Dengan sedikit paksaan, aku bisa menikmati Fantasy. Kita mengerti, dalam setiap hubungan akan selalu ada perbedaan, tapi selama itu tidak prinsip, hidup akan baik-baik saja. Untuk hal-hal tertentu, kita memang dituntut untuk menyukai hal yang tidak disuka. Seperti kamu tahu, akhirnya aku memilih novel Fantasi The Hobbit —yang cerita dalam versi film lebih aku suka— untuk penelitian skripsi.

Film-film Fantasy adalah yang terbanyak ditonton umat manusia sepanjang sejarah. Aku coba menerka mengapa. Mungkin begini, dalam dunia yang semakin rasional, pelepasan kepada yang magis menjadi keperluan. Fantasy memberikan ruang untuk menghibur dan menyelamatkan manusia modern dari realitas kehidupan yang serba rutin. Orang-orang butuh melihat hal-hal yang mustahil terjadi di dunia sehari-hari. Mereka butuh menikmati sesuatu yang fantastis; aneh, mistis, tidak bisa dipercaya, ganjil.

Aku lebih suka Realistic Drama karena banyak relefansinya dengan kehidupan seharai-hari. Drama, terutama yang bagus, memberiku perasaan telah hidup dalam kehidupan yang lain. Seperti novel, film yang bagus membuat kita serasa hidup pada banyak kesempatan yang berbeda.

Lagi-lagi perbedaan itu hal yang remeh saja. Apapun jenis filmnya, satu hal yang selalu dapat kita ambil; karakter. Kita bisa belajar melalui lika-liku pengalaman hidup mereka, terkapar tidak berdaya, hampir mati, menggigil ditikam kesepian, dihantam keputusasaan dan kehilangan harapan, dihadapkan dengan alam liar, binatang buas, manusia pemakan manusia, zombie.

Untuk yang terakhir, seperti kamu pasti lebih tahu bahwa zombie bukanlah masalah utama, tapi bagaimana orang-orang dalam kepungan zombie itu bersikap. Apakah zombie yang membuat mereka kejam? Dengan atau tanpa zombie, manusia-manusia baik akan selalu baik, sementara yang jahat akan jahat. Itulah karakter; satu hal yang tersisa dari seorang ketika semua yang ada padanya hilang.

Karakter tidak bisa berkembang dalam air telaga yang tenang. Hanya melalui gelombang dan riak arung jeram pengalaman jiwa diperkuat, ambisi terinspirasi, dan kesuksesan tercapai. Ia dibangun sedikit demi sedikit. Puncaknya, karakter dan keyakinan adalah warisan terbesar yang akan kita jaga untuk anak-anak kita kelak. Maka pada pengalaman dan cerita-cerita orang lain itu kita meminjam, hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan.

Ingatkah kamu pada malam-malam penuh mimpi buruk? Ketika hujan turun lambat dan panjang. Dalam ingatan-ingatan tentang segala hal yang menghantui tidurmu. Pada kehidupan yang paling buruk. Kehilangan orang-orang yang kau cintai. Mimpi kecelakaan pada anak-anak, atau dikejar-kejar buaya albino. Apakah itu menakutkanmu?

Ketakutan-ketakutan itu seperti Richard Parker, seekor harimau Benggala dalam Life of Pi, yang kehadirannya membuatmu waspada. Tanpa Richard Parker, Pi pasti mati kebosanan. Karena tidak menemukan ketegangan dan tujuan hidup. Ketakutan pada hewan buas itu membuat hidupnya punya ujung.

Akhirnya —karena memang semua punya akhir, hidup ini adalah tentang seberapa kuat hatimu mengikhlaskan beban. Kamu mengendalikan penuh reaksi yang kau berikan. Segala di luarmu tidak bisa kau kendalikan, maka untuk apa dirisaukan?

Aku selalu percaya pada pesona waktu, yang merekam segala debar jiwa, dan tidak pernah sumbang mengalunkan dirasah kisah. Kenang-kenanglah cerita manis kita pada waktu yang membeku di relung ingatan. Tentang senja, suara tawa, pelukan dan hal-hal yang tidak bisa diganti dengan uang.
Pada malam ketika kita keluar dari ruangan bioskop, selepas menonton film yang akan kita lupakan dua hari kemudian. Sambil berpegangan tangan kita kemudian berdebat tentang betapa buruknya beberapa adegan dan saling bertanya mengapa hal ini bisa begitu dan hal itu bisa begini. Sambil sekuat kewarasan aku menjawab segala pertanyaan dengan awalan seandainya.

Malam bergegas normal, anak-anak belum tidur. Mereka selalu senang menunggu kita pulang. Kamu menyebut itu kelebihan gula, aku menyebutnya cinta. Bersama mereka, hidup kita tidak pernah lagi sama. Aku merasa menjadi manusia yang lebih beres. Dan dalam dirimu, aku melihat kebaikan yang banyak.

Putri ke-tiga kita telah lahir bulan ini. Sekarang, setelah punya adik baru, Nada dan Safa tidur terpisah. Awalnya berat, terutama Safa, tapi pelan-pelan mereka senang. Bahkan keduanya girang sekali waktu dibelikan kasur baru. Padahal, kitapun sebenarnya kangen tidur bersama mereka lagi.

Pada beberapa waktu yang belum terlalu lama, ketika mereka mengompol karena terlalu senang dengan mainan yang baru mereka dapat, kita kesal. Tapi sekarang, dihadapan waktu yang terus berdetak, rumah beserta segala hiruk-pikuk hati di dalamnya begitu merindukan.

Anak-anak itu bukan mereka yang 1-2 tahun yang lalu yang masih mungil, mereka tetap manis, namun sudah bertambah dewasa. Sementara hidup kita bergerak maju dan semakin tua, bukan mundur seperti kehidupan Benjamin dalam The Curious Case of Benjamin Button. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit, mereka tumbuh dan melesat, karena mereka anak panah kehidupan, sementara kita busurnya. Busur harus melepaskan anak-anak panah jika ingin mereka melesat. Tentu sesuai waktu, dengan perlahan dan penuh ketenangan, agar tepat sasaran. Begitulah hidup ini semestinya dijalani, seperti alunan gamelan yang tenang, perlahan, penuh ritme dan jauh dari hingar-bingar. Seperti kehidupan sepasang kekasih dalam Before Midnight.

Demikianlah. Demikianlah kita belajar dari film-film yang pernah kita tonton. Kita akan melakukan itu lagi bersama. Tidak untuk 100 tahun kedepan, tapi sepanjang hidup kita.  

Kamis, 27 Juli 2017

Aira Fatimatuzzahra; Sebuah Nama untuk Dua Orang Nenek

Saya hanya tertawa ketika Safa (4 th), menyebut cabang bayi dalam kandungan ibunya sebagai Anak Baru.

Saya membayangkan Safa jadi pemeran antagonis di sinetron ABG labil RCTI. Dengan tampang sengak, dia akan merundung si Anak Baru, “Oh, jadi elo anak baru dari perut ibu?! Jangan sok kecentilan loe ye. Pokoknya ibu itu cuma sayang sama gueh, eloh nyusu air tajin dan tidur di kotak bayi ajaah,”

Sadis.

Nada (6 th), ketika pertama kali diberitahu akan punya adik lagi juga bertingkah lucu. Malam itu, di dalam kamar sebelum tidur, dia merespon kabar itu dengan mata berbinar dan senyum lebar, “Beneran, Bu?”

“Iya,” ibunya menjawab singkat.

Nada diam sebentar. Seperti berpikir. Tersenyum. Sedetik kemudian dia bertanya lagi, “Beneran, Bu?”

Lagi-lagi ibunya menjawab ya.

“Bayinya sekarang dimana?” Nada bertanya.

“Ada di dalam perut ibu,”

Nada kembali diam, senyum, dan bertanya lagi, “Beneran, Bu?”

Pertanyaan itu diulang beberapa kali. Sambil senyumnya makin merekah.
Jika saja kejadian itu direkam dan diunggah ke medsos, pasti akan viral bahkan sampai ditonton para Lemur di pedalaman Madagaskar.

Saya juga masih ingat ketika Nada dan Safa lahir. Saya masih bisa merasakan debaran ketika menunggu mereka di ruang tunggu Rumah Sakit. Ketika melihat mereka untuk pertama kali, rasanya seperti bertemu seseorang pada first blind date, dan orang yang kamu temui melebihi segala ekspektasimu. Rasanya hyjtwxcvbghtszmlqwpxfghtr. Ya, seperti itu.

Nada lahir 7 tahun yang lalu di RSUD Bekasi, yang ceritanya saya abadikan dalam Di Bawah Bendera Sarung. Sementara Safa lahir 2 tahun setelahnya. Pagi itu pukul 9. Istri saya dibawa masuk ke ruang operasi untuk di-Cesar. Saya menunggu di ruang tunggu sambil memperhatikan seorang ibu yang menggendong bayi kembar. Di kakinya gelendotan seorang anak laki-laki yang mungkin usianya 4-5 tahun. Meminta perhatian lebih dari ibunya yang sedang kerepotan menggendong dua bayi.

“Iya, nanti kalau sudah sampai rumah ya,” kata ibu tiga balita itu, “Kalau di sini mana ada yang jual?”

Anak yang dibujuk tetap merengek. Ibunya tetap sabar.

Saya membayangkan berada di posisi ibu itu. Tiga anak. Masih kecil-kecil. Semuanya minta diperhatikan. Pasti repot sekali. Seketika nyali saya ciut.

“Kembar ya, bu?” saya berbasa-basi ketika rengekan anaknya mereda.

“Iya, kembar tiga,” sang ibu menjawab sambil senyum, “yang satu ditinggal di rumah sama neneknya,”

Saya semakin ciut.

Alhamdulillah, putri ke tiga saya telah lahir. Kelahiran ini —sebagaimana setiap kelahiran anak-anak sebelumnya, membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Kami memanggilnya Aira Fatimatuzzahra, meminjam nama kedua neneknya dengan harapan nama itu membawa keberkahan dalam hidupnya. Karena rida dan kasih sayang mereka adalah hal yang selalu kami harapkan. Semoga Allah mengampuni dosa kedua orang tua kami dan selalu menjaga dan menyayangi mereka.

Akhirnya, hanya kepada Allah kami memohon pertolongan dan kekuatan. Meminta ampunan atas segala kesombongan dan keangkuhan.

Wahai Tuhan Maha Pemberi Petunjuk, Berikanlah pada hati kami kelapangan, keterbukaan untuk menerima segala kebaikan. Kuatkanlah kami untuk terus menemukan inspirasi untuk dapat mewujudkan segala keinginan kami.

Wahai Allah Yang Maha Sempurna, lengkapilah usaha kami yang selalu tidak pernah paripurna.
Wahai Allah yang Maha Pememberi Kesejahteraan, Anugrahkanlah kepada kami kemampuan untuk berbahagia dengan kebahagian orang lain. Jadikanlah kami jiwa-jiwa yang kaya dan berikanlah kami kemampuan menjadi kaya tanpa mengalahkan.

Wahai Allah Pemilik Masa Depan, cukupilah masa depan kami. Cukupilah kami yang tak punya penghasilan tetap, karena yang tetap hanya pemberian-Mu.

Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun, maafkanlah segala dosaku dan keluargaku, ampunilah segala kehilafan kami yang tak kunjung selesai.

Wahai Allah yang Maha Penyayang, Jadikanlah kami dan anak keturunan kami orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ilhamkan kepada kami untuk tetap mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugrahkan kepada kami dan kepada anak keturunan kami. Sungguh kami bertaubat kepada-Mu dan sungguh kami adalah termasuk golongan yang berserah diri.

Sabtu, 24 Juni 2017

Buku Baru di Hari Baru

Desember 2015, saya dan seorang kawan, penulis yang sangat berbakat, Vira Luthfia Annisa, membuat proposal menulis keroyokan dengan tema Parenthood.

Singkat cerita, kami mendapatkan beberapa penulis yang siap untuk berkontribusi. Pertengahan tahun 2016, proposal tersebut kami tawarkan ke sebuah penerbit, namun ditolak. Penolakan itu mungkin karena kami hanya mengajukan proposal dan belum berbentuk naskah utuh, pikir saya waktu itu.
Kami kemudian membuat target untuk merampungkan proyek bersama ini, sayang banyak dari kami yang karena kesibukan dan lain hal, tidak memenuhi target yang diharapkan.

“Gue optimis naskah kita akan terbit, Vir!” begitu saya bilang ke Vira. Naskah saya pernah ditolak puluhan penerbit, jadi pesimis dengan ide yang akan ditulis menjadi buku adalah hal yang di luar bayangan saya.

Oktober 2016, saya mendapat WA dari Vira tentang perlombaan menulis yang diadakan oleh Penerbit Lingkar Antarnusa. Entah bagaimana, ide dan ketentuan menulis yang dilombakan sangat mirip dengan proposal yang pernah kami buat. Saking miripnya, sempat terbersit di benak saya bahwa mungkin ada yang membocorkan proposal kami ke penerbit tersebut. Tentu itu pikiran yang tidak membawa saya kemana-mana. Maka saya mengembangkan pikiran yang lebih positif bahwa saat kamu menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bersatu membantu meraihnya.

Saya mengirimkan 6 tulisan, namun hanya dua yang terpilih. Sementara Vira, dari 5 tulisan yang dikirim, semuanya terpilih. Jadi mengerti kan kenapa di awal tulisan saya sebut ia berbakat?




Ps:
  • Buku ini diterbitkan dengan metode print on demand, diterbitkan berdasarkan pemesanan. Karena itu, mohon maaf, buku ini tidak tersedia di toko buku.
  • Keuntungannya, buku ini bisa dibeli dengan cara yang lebih mudah dan kekinian, tanpa repot-repot pergi ke toko buku. Bisa dipesan melalui: inbox FB Lomba Nulis, e-mail: katabercerita@gmail.com, WA: 087739057244.
  • Harga Buku: Rp 50.000,- Spesifikasi: ISBN: 978-602-6688-01-9, Jumlah halaman: 224, Halaman kertas isi: bookpaper 57 gsm, Kertas sampul: ivory 260 gsm.
  • Please share the note

Jumat, 26 Mei 2017

Apa yang Tidak Saya Ceritakan Kepada Nada Ketika Saya Bercerita Tentang Kematian

Sudah dua kali saya masuk ke lubang kubur.

Dalam Islam, penguburan jenazah adalah hal yang begitu dekat dan cepat. Seorang anak bisa memandikan, mengkafani, mensalati dan turun ke liang kubur untuk mengazani jenazah orang tua mereka. Itu hal yang biasa dan lumrah terjadi.

“Langsung tidur ya. Bapak mau jemput ibu dulu. Kalau besok bangun pagi, bapak ajak ke makam Mbah.” Nada gelendotan di tangan saya malam itu. Dari sorot matanya, saya tahu 10 menit lagi ia akan tertidur. Pada hari yang biasa, untuk membuat cepat naik ke kasur, saya akan menghipnosisnya, atau menceritakan dongeng yang saya buat sendiri tentang Unyil yang terkurung sendirian di gudang belakang sekolah, atau bercerita tentang seorang anak yang bisa mendengar dengan mata.

Lima hari sebelumnya, dari Fikri saya tahu bahwa ibu meminta saya untuk menamai nisan bapak. Saya mengajak Adil, adik saya yang lain, tapi anak yatim itu sulit sekali dibangunkan, seperti ada Papeda lengket yang menyumpal kedua matanya setiap pagi.

Dan di sinilah saya bersama Nada, di depan nisan putih, membawa dua kaleng cat.

“Ini kuburan siapa, pak?” pertanyaan pertama Nada beberapa saat setelah kami masuk ke komplek pemakaman keluarga itu.

“Kuburan Empi,” Empi adalah sebutan orang Betawi untuk ibu dari nenek/kakek.

“Kok kuburannya enggak di sebelah sana?”

“Iya, supaya gak terlalu dekat dengan jalan. Lagian kan di sini masih luas?”

“Kalo itu kuburan siapa?”

“Kuburan suami Empi.”

“Kalo yang itu?”

“Kuburan kembaran Empi.”

“Emang Empi punya kembaran?”

Ia cerewet dan terus bertanya. Ada 235 pertanyaan. Setiap sepuluh pertanyaan, diakhiri dengan kalimat, “Pak ayo kita pulang, lama banget sih, banyak semut nih,”

Semakin lama, pertanyaan-pertanyaan itu semakin sulit, sementara saya berkonsentrasi agar tidak salah menulis.

Langit belum bersinar sempurna. Seekor tikus berjalan melintasi pemakaman.

“Oh, nanti di sini berarti kuburan nenek ya?” Nada menunjuk tanah di samping makam yang sedang saya tulis.

“Belum tentu. Tergantung yang meninggal duluan,”

“Oh, Husna ya?”

Husna adalah sepupu Nada yang berumur 2 tahun. Saya tidak tahu apa yang ada di kepala anak umur 6 tahun tentang kematian. Dan saya pun tidak akan membacakan Sutardji, “dari hari ke hari / bunuh diri pelan-pelan // dari tahun ke tahun / bertimbun luka di badan // maut menabungKu / segobang-segobang”

Apa yang orang tahu dari kematian dan kehidupan setelahnya, ibarat setetes air dari jarum yang dicelupkan ke air laut, dibandingkan dengan air samudra. Tidak ada orang yang tahu kapan kematian mereka. Dan Ramadhan, tidak pernah gagal untuk selalu mengingatkan kita pada orang-orang yang telah mangkat.

Sementara kehidupan, yang merupakan kawan karib kematian, bukanlah sahabat yang bisa diandalkan. Kehidupan ini seperti Richard Parker, seekor harimau Benggala dalam Life of Pi. Betapapun Pi menganggap Richard Parker sebagai kawan seperjalanan, harimau itu tidak peduli. Pada akhirnya, Pi memahami arti dari seluruh kehidupan ajaib yang ia jalani, “I suppose in the end, the whole of life becomes an act of letting go, but what always hurts the most is not taking a moment to say goodbye.”

“Kok kuburan Embah ada begininya sih?” sambil tanganya membuat bentuk seperti gundukan, “Kok kuburan Empi rata? Kenapa?”

“Itu yang kecil kuburan siapa?”

“Pak ayo kita pulang, lama banget sih, banyak semut nih,”

Kamis, 23 Maret 2017

101 Seni Mengasuh

“Nggak semua orang bisa dihipnotis.” Istri saya berkomentar.

“Selama tidak dungu dan mengerti bahasa, semua orang bisa dihipnotis.” Saya menjelaskan.

“Waktu itu aku dihipnotis nggak berhasil.”

“Siapa bilang? Aku berhasil hipnotis kamu untuk nggak bisa dihipnotis.”

Istri saya tertawa karena menganggap saya bercanda. Andai dia tahu kalau dia juga saya hipnosis waktu nerima lamaran saya.

Penggunaan kata dan Bahasa yang tepat adalah perangkat yang diperlukan untuk menjangkau alam bawah sadar. Pakar hipnosis harus sangat cakap dalam berbahasa, guna mencari cara bagaimana menyentuh alam bawah sadar pasien. Bisa melalui metafora, tantangan, cerita, sinisme, mengacaukan pikiran untuk memfokuskannya dan lain-lain. Ada juga hipnosis terselubung yang bisa membuat orang menjalankan sugesti tanpa ia menyadari sedang dihipnosis. Namun sekali lagi, kunci dari semua itu ada di kemahiran berbahasa.
Anak-anak lebih mudah dihipnosis karena imajinasi mereka tinggi dan menyukai pengalaman baru. Nada (5 th) girang dan dengan penuh semangat mengatakan ke ibunya, “Bu, tangan kakak tadi jadi kayu.”

Memang sebelum itu, saya menghipnosis Nada dan mengatakan bahwa tangannya telah menjadi kayu. Pada kesempatan lain, saya membuat ia bisa merasakan tangannya terangkat ringan seperti ada tali yang menarik. Di kesempatan yang berbeda, hipnosis membuat ia melupakan angka empat. Ia menghitung seluruh jari tangannya berjumlah sebelas. Nada bergairah dengan pengalaman-pengalaman baru itu, tapi untuk pengalaman yang terakhir, tentu saja ibunya khawatir.

Saya tidak mempelajari hipnosis hanya untuk bersenang-senang. Saya menggunakan untuk mengurangi kram di urat leher ketika menyuruh anak-anak gosok gigi atau tidur siang. Saya juga menerapkan pada mereka untuk meringankan sesak nafas, tidak takut ketinggian, menjadi lebih percaya diri dan berbagai hal lain yang tak terbatas. Ya, saya menerapkan hipnosis dalam parenting. Anak-anak telah dianugrahi imajinasi yang tidak ada tandingannya, dan setelah mereka tahu bagaimana menggabungkan relaksasi dengan imajinasi, mereka akan memiliki bekal yang sangat berharga bagi kehidupan mereka.

Saya percaya bahwa seiring kemajuan ilmu pengetahuan, manusia menjadi semakin efisien. Ilmu pengetahuan berkembang, begitu juga ilmu pengetahuan tentang mengasuh anak. Ada banyak metode atau teori parenting yang saya dapat, entah dari buku, social media, seminar, workshop dan lain-lain. Namun, tidak jarang dengan berbagai macam informasi dan teori tentang parenting, membuat orang tua bingung. Tidak jarang teori-teori tersebut malah bertentangan. Lagipula, lebih mudah mengatakan teori-teori itu daripada melakukannya.

Belakangan saya ketahui bahwa mengasuh anak adalah seni. Kita tidak bisa hanya mencontoh apa yang ada dalam buku atau seminar. Jika apa yang dicontohkan dalam teori tidak bekerja, perlu ada modifikasi dan penyesuaian. Buku-buku parenting bukan manual book yang harus diterapkan dengan presisi dan kita berhadapan dengan mamalia kompleks dengan tingkat intelegensi yang tinggi, sehingga terkadang diperlukan penyesuaian tergantung keadaan. Hal itu juga membuat kita tidak mudah putus asa hanya karena satu cara tidak bisa diterapkan. Selama prinsip, nilai utama atau tujuannya sama, cara yang dilakukan boleh berbeda-beda. Cara yang beragam itulah yang dipelajari lewat pengalaman. Dan untuk yang satu itu saya tidak pernah merasa pintar.

Karena Ikan Bukanlah Tujuan, yang Utama Adalah Kolornya

Pukul 13:15

Saya baru tiba di rumah ketika membaca pesan di grup WA yang mengajak kumpul di tempat Edogawa.

“Bentar ki. Gw nglurusin kaki dulu inih.” Saya membalas chating.

Pukul 13:30 

“Begini nih Fahmi kalo maen ke tempat guah. Pake kolor doang.” Edo menyambut di depan pintu, “Mana kolor kagak pernah ganti dari jaman mondok lagi.”

Saya cuma nyengir. Perasaan saya nggak enak. Kolor akan jadi trademark saya hari ini, pikir saya kemudian.

Pukul 14:30 

“Makan di tempat mancing aja.” Si gondrong Moses mengusulkan. Wartawan TV itu memang ngebet nyari tempat mancing di Bekasi.

“Emang mao mancing dimana, Bang?” saya tanya ke tuan rumah.

“Danau Cibereum!” Edogawa mantap.

“Di GrandWis, Mi.” Suhayat menjelaskan setelah saya tanya dimana.

“Oh, KotWis! Deket dong!” kata saya. Suhayat bingung.

“Pake mobil lu aja, Ses! Kan ada bagasinya.” Furqon, si veteran perang Vietnam, mengusulkan.
Bagasi mobil dibuka, tas berisi kompor dan peralatan masak dimasukan. Tanpa banyak berdebat, tanpa banyak rencana, kami, 5 orang kawan mondok, masuk ke Corolla 88 dan meluncur ke arah timur Bantar Gebang. Misi kami hari itu: strike ikan gabus terbesar di Danau Cibereum!

Dalam perjalanan, kami bercanda dan mengenang keakraban yang terjeda. Kami lulus pesantren tahun 2003, itu artinya sudah 14 tahun kelulusan dari sekolah yang menyatukan kami, itu artinya sudah 14+1 tahun dari AADC pertama tayang, dan kami belum bisa move on dari Dian Sastro.

Saya menganggap pesantren kami sebagai pesantren NU non-formal, karena memang walaupun amalan-amalan di pesantren seperti tahlil, qunut, rawi-an saat Maulid, kitab-kitab yang dibaca dan lain-lain sangat NU, tapi Kiyai Muhajirin (Allah yarham) tidak pernah aktif atau ikut organisasi NU formal. Walaupun lagi, karena lebaran sering nggak bareng dengan pemerintah, sering kami malah dianggap Muhammadiyah. Saya nggak punya masalah dengan Muhammadiyah, kawan-kawan saya banyak yang Muhammadiyah bahkan Salafi dan kami bergaul dengan baik, tapi orang NU yang dianggap Muhamadiyah itu lucu. Sangat lucu. Sama lucunya dengan yang menganggap Ceban itu Goceng.

Pukul 15:30

Tiba di lokasi, kami berjalan beriringan. Moses dan Edo di depan, Furqon dan Suhayat mengikuti, sementara saya paling buncit.

Belum jauh kami berjalan, seekor bencong dengan betis CR7 datang dari arah berlawanan. Memang sebelumnya Hayat bilang kalau bencong di sini ganas-ganas, dan melihat makhluk yang kami hadapi sekarang membuktikan kalau Hayat memang pemerhati bencong kelas dunia.

Bencong mendekat dan mencolek Edo, kemudian melewati dan senyum ke Hayat dan Furqon.

“Pait, pait, pait,” kata saya dalam hati ketika bencong tinggal satu tebasan golok di hadapan. Sambil memainkan hape, saya pura-pura nggak peduli.

“Baaanggg,” kata si bencong dengan suara sengau ke arah saya, “Kok pake kolor sih…”

Refleks saya pegang kuat-kuat tali kolor.

Pukul 16:00

Setelah makan toge goreng, kami mencari spot yang bagus buat mancing. Moses sang pakar mancing menentukan lokasi. Lima buah joran dikeluarkan dan kami memancing.

Power Ranger; Zordon adalah yang mukanya paling lebar
Spesialis mancing janda

Spesialis mancing bencong

Cepak Kim Jong-un

Pakar bencong internasional

“Do, ayolah masak aer buat ngopi!” saya mengajak.

“Kopinya ketinggalan di mobil.” Kata Furqon sambil betulin kacamata.

“Pada pinter banget dah!” saya mulai misuh, “Ini tas isinya peralatan masak dibawa, trus kopi ditinggal di mobil?! Mo ngopi pake aer rawa lu pada! Mending bawa kopi aja, kita bisa minta aer panas sama tukang warung!” Saya sewot.

“Ngomong aja luh, Malih!” Edo membalas, “Udah lu ambil kopi di mobil sana. Sekalian ambilin rokok gue yang ketinggalan,”

Saya mau saja ambil kopi, tapi melihat kelakuan bencong yang kata Edo bisa striptis di batang bambu, saya nggak yakin bisa balik dengan selamat. Jadi ini bukan sekedar perkara mengambil kopi, tapi pertaruhan mempertahankan keperjakaan. Dan dengan kolor yang saya kenakan, saya akan jadi sasaran empuk setiap predator seksual.

Maka kami, lima orang berpendidikan tinggi ini, nggak ada yang mau menebus kebodohan membawa panci tanpa kopi, dengan mempertaruhkan kehormatan keluarga. Slogan kami hari itu; Mending nggak ngopi daripada pulang ngangkang!

Sambil mancing, kami berguyon tentang banyak hal. Kelucuan di kalangan santri memang tradisi. Sekeras apapun perdebatan kami di social media, ketika bertemu kami pasti tetap bercanda. Karena menurut kami, tidak ada masalah yang perlu terlalu serius diurusi sampai melupakan keakraban dan guyonan. Kami mewarisi kelucuan dari abang dan guru-guru kami.

Saya masih ingat ketika seorang guru mengubah nama kawan kami Abdurahman menjadi Omen, atau kisah abang kelas yang kesetrum karena menggantung celana dalam basah di kabel, atau kelakuan iseng mengeluarkan paksa kawan yang lagi mandi dari kamar mandi dengan tanpa pakaian. Maka saya mengabadikan kelucuan-kelucuan di pesantren itu —dengan cara menertawakan diri sendiri— dalam Badung Kesarung dan Di Bawah Bendera Sarung.

Sehabis ngaji santri doyan nongkrong sambil ngopi, atau terkadang sambil main poker. Membicarakan banyak hal dari mulai bola, negara sampai Qoul Qodim dan Jadid Imam Syafi’i. Dengan kondisi komunal semacam itu, maka melucu dan berguyon dengan hal-hal sekitar kami yang terkadang rumit menjadi kemampuan yang melekat.

Zaman sekarang, saya cenderung risih dengan santri yang kusut, runyam dan setiap posting ngajak bacok-bacokan. Ditambah lagi lupa adab dan akhlak. Kurang ngopi, istilah kami.

Pernah saya menulis status lucu-lucuan mempertanyakan apakah Tuhan punya akun di media sosial sehingga banyak yang berdoa di sana. Saya berharap status itu dapat komen, “Tuhan udah nggak mainan fesbuk, akhi. Sekarang pindah ke IG. Kalo mau add Malaikat Izroil aja nih. wkwkwkwk”. Tidak saya sangka, komentar-komentar atas status itu terlalu serius. Ada yang nulis, “Mau ngingetin aja takut lo lupa. Tuhan memang ada dimana-mana.”

Tentu saja saya mengerti tentang doktrin bahwa Tuhan ada dimana-mana, bahkan lebih dekat dari urat leher, tapi membayangkan Tuhan punya akun fesbuk itu lucu. Kalau mau serius, saya bisa saja membalas komentar-komentar itu dengan penjelasan Mujassimah Musyabbihah, tapi jawaban itu akan terasa seperti kanebo kering; kaku.

Saya paham nggak semua orang mengerti saya sedang bercanda, apalagi itu isu sensitif. Maka sekarang saya sudah insaf dan jarang nulis status guyonan yang sensitif seperti itu lagi. Saya nggak mau lagi bercanda bahwa Tuhan itu seorang pria 40 tahun yang tinggal di Dusun Krajan. Dia bisa terserang flu bahkan Ambeien.

Kelucuan dan menertawakan diri sendiri itu tingkat yang paling tinggi dari pengetahuan. Orang yang mengerti tidak akan merasa tersakiti dengan guyonan. Orang yang penuh pemahamannya, memberi jarak dan melihat dari jauh setiap masalah agar akal sehat bisa mencerna. Mengutip Charlie Chaplin, “Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot.” Atau dalam bahasa yang lebih ringkas tragedy + time = comedy.

Sedikit lebih panjang, Gus Dur menulis, “Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.”

Tentu kami nggak terus-terusan guyon, kami mengerti batasan. Kami mengerti terlalu banyak tertawa mematikan hati, tapi terlalu sedikit tertawa juga bisa membuat hati cepat terkena serangan jantung.

Pukul 16:00

Sampai hari remang, kami nggak mendapat ikan seekorpun, tapi pemandangan, suasana dan keakraban hari itu sangat kami nikmati.

“Kurang bahagia gue blom narik ikan.” Kata si gondrong.

“Tadi kolornya Fahmi bukannya lu tarik?” Edo bales.

“Bah, belut listrik itu mah! Lu enak udah dicubit bencong.”



Matahari hampir tenggelam, langit bersemburat warna jingga dengan siluet gunung salak di kejauhan. Danau, langit, pelangi, gunung dan senja bersatu menampilkan gambaran alam paling subtil yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bayang-bayang segala sesuatu memanjang mengingatkan saya akan sajak Sapardi.

Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami 
yang telah menciptakan bayang-bayang. Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar 
tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.

Senin, 13 Maret 2017

Homeschooling

“Apa yang diajarkan orang tua kepada anak-anak mereka yang homeschooling?” suatu hari kawan saya, seorang guru, bertanya.

“Apa saja yang mereka suka. Sesuai visi-misi yang dipunya orang tua.”

“Berarti sama dengan anak-anak yang putus sekolah dong?”

Saya kemudian menjelaskan panjang lebar bahwa homeschooling berbeda dengan putus sekolah. Pada dasarnya, homeschooling sama dengan sekolah, sama-sama legal dan diakui negara. Adapun perbedaannya terletak apada penerapan.

Sekolah ibarat membeli baju yang sudah jadi, sementara homeschooling ibarat membuat pakaian di butik. Jika kita membeli pakaian yang sudah jadi, maka kita memilih berdasarkan pilihan yang sudah ada. Dimana model, warna, ukuran sudah ada standarnya. Tapi jika kita membuat pakaian di butik, maka kita yang menentukan model yang sesuai untuk kita. Jadi homeschooling adalah tentang apa yang kita butuhkan, harapkan dan menjadi visi dari pembelajaran.

Seperti kawan saya, yang merupakan seorang guru, banyak diantara kita yang belum mengerti tentang homeschooling. Oleh karena itu saya menganggap perlu untuk menulisnya di sini.

Ada tiga hal yang saya dan istri sepakati menjadi visi paling tidak dalam enam tahun ke depan untuk anak kami, yang akan menjadi panduan menjalankan homeschooling. Visi tersebut adalah untuk menjadikan anak memiliki akidah dan akhlak yang kuat, mengetahui bakat dan minat dan bahagia menekuninya, serta bisa hidup secara mandiri, bermartabat, mulia guna menjadi perawat bumi.

Dari visi tersebut, lahirlah tiga misi yang kami kami akan ajarkan dan pelajari bersama.
  1. Menanamkan akidah dan akhlak
  2. Mencari minat dan bakat
  3. Mengajarkan life skill
Turunan dari misi itu sangat variatif dan teknis. Seperti bagaimana cara mengajarkan akidah dan akhlak seperti Luqmanul Hakim mengajarkan pada anaknya. Dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Dengan metode bercerita, mengunjungi berbagai tempat, bermain dan banyak hal lainnya. Begitu juga tentang cara mengetahui minat dan bakat anak, juga life skill agar anak-anak bisa mandiri.

Dalam hal ini, seperti yang saya tulis sebelumnya, bukan hanya anak-anak yang belajar, lebih-lebih orang tua juga harus lebih mengerti. Maka orang tua dan anak sama-sama belajar. Apakah sulit? Tidak, terutama bagi yang senang belajar. Banyak buku, tulisan, pengalaman, tutorial, video, penelitian yang membahas tentang pendidikan modern yang bisa kita contoh.

Saya tidak pernah menganggap homeschooling sebagai sesuatu yang istimewa, sehingga menganggap sekolah sebagai sesuatu yang buruk. Tidak sama sekali. Keduanya, baik homeschooling ataupun sekolah adalah alat untuk meraih tujuan pendidikan. Keduanya merupakan pilihan masing-masing orang tua yang sama-sama sah, sehingga tidak sepantasnya dipertentangkan.

Sungguh pada awalnya, saya tidak keberatan jika anak-anak dimasukan ke SD Negeri, tapi istri saya kemudian bilang, “Caraku mengajar lebih bagus daripada mereka.”

Saya tahu ia tidak sedang menyombongkan diri, hanya mengungkap fakta. Istri saya adalah pengajar dan pendidik, ia punya beberapa penghargaan dibidang pengajaran. Ia juga merupakan pemegang gelar master di bidang pendidikan. Bukan juga berarti istri saya mampu menghandel seluruh apa yang ada dalam visi-misi kami. Adakalanya kami berperan menjadi guru, kepala sekolah dan juga fasilitator. Sehingga, orang tua pelaku homeschooling tidak mesti berlatar belakang pendidik. Semua orang tua dengan latar belakang yang berbeda-beda bisa memilih untuk menjalankannya.

Lalu apa yang diperlukan?

Saat ini homeschooling memang sedang ngetren dan saya percaya beberapa tahun mendatang sekolah rumah menjadi sebuah gerakan yang semakin hidup. Ada sekian banyak komunitas yang ada di sekitar kita. Namun demikian, jangan jadikan homeschooling sebagai ajang main-main atau hanya ikutan tren, karena ia merupakan keputusan penting bagi anak dan keluarga. Sehingga bagi yang menginginkan homeschooling, seharusnya punya alasan yang cukup kuat agar bisa menjadi penyemangat dan daya tahan dalam menjalaninya. Yang terakhir, tentu saja, mempelajari homeschooling dan mencari jawaban dari masalah-masalah pendidikan rumah, baik melalui bacaan maupun bertemu dengan praktisi homeschooling yang lebih berpengalaman.