Halaman

Senin, 21 Januari 2019

Pernikahan: Prinsip dan Remeh-temeh yang Mengkhawatirkan

Pagi itu saya membuka pintu dan mendapati Ridwan sedang rebahan di ruang depan dengan wajah kusut. Sambil tersenyum saya bertanya sinis, “Kayaknya seneng banget hari ini lu, Wan?”

“Sialan lu!” ia balas menghardik.

Dalam kontrakan tiga sekat itu, Ridwan menempati sekat paling depan yang lebih kecil, sementara saya dan satu orang kawan lain menempati sekat tengah yang lebih lebar. Sekat ke tiga adalah dapur dan kamar mandi. 

Saya sedang bersiap-siap tidur ketika Ridwan lewat membawa handuk ke arah kamar mandi kemudian memulai percakapan, “Gua pindah tempat kerja, Mi.”

“Loh kenapa?” saya bertanya.

Lelaki 40 tahunan beranak dua itu menghembuskan nafas panjang seperti ingin membuang beban dan mencari kata-kata untuk memulai cerita. Tidak lama kemudian dia bercerita tentang perselingkuhannya dengan seorang wanita yang sudah bersuami yang diketahui istri dan perusahaan tempat ia bekerja. 

“Gimana ketauannya?”

“Bini gua baca SMS dari dia. Trus ngamuk. Semua kaca di rumah dipecahin. Piring, gelas, cermin, jendela, semuanya dah. Pusing dah gua, Mi.”

“Mmm..” saya tidak tahu harus merespon apa. Saya tidak punya kenalan tukang kaca, dan istri saya belum pernah memecahkan kaca sebanyak itu. Kalaupun terpaksa harus merespon mungkin yang keluar, “Belingnya ada yang nyolok mata lu gak Wan?”

Ia bercerita tentang istri yang menelpon selingkuhannya, tentang tempat-tempat yang digunakan, tentang berapa lama berselingkuh dan, “Dia ngaku kalo anaknya yang bontot itu anak gua Mi. Dia nuntut gue tanggung jawab.”

Kejadian itu sudah beberapa tahun berlalu, dan saat ini saya tidak tahu keberadaan dan kondisi Ridwan, apakah ia masih mempertahankan pernikahannya atau sudah cerai. Tapi saya punya satu kawan lagi yang saya ketahui perceraiannya setelah dua bulan menikah.

Rangga berumur 27 ketika ia mengatakan akan menikah tahun itu, saya ikut senang. Mantan kawan kerja saya itu pernah bercerita tentang proses perkenalan, tentang uang yang ia kumpulkan, juga tentang beberapa masalah dengan orang tua; penolakan orang tua, usaha mendekatkan pacarnya dengan orang tua, serta masalah remeh temeh lain. Saya mengatakan kepadanya itu masalah yang biasa dalam proses saling mengenal antara dua keluarga. Namun malang, saya tidak sempat hadir di hari pernikahan salah satu kawan paling supel yang saya kenal itu.

7 Januari 2017, itu hari pernikahan adik saya. Malam itu, kepala saya seperti ditindih batu karena mengantuk, padahal jam di tangan bahkan belum menunjukan pukul 9 malam. Sehari semalam saya hampir tidak tidur. 30 jam lebih. Saya menelpon Rangga yang sedari pagi saya tunggu kedatangannya. Tidak diangkat. Saya mengirim pesan, “Jadi dateng gak, Ga?”

Tidak lama ia menelpon. “Maaf banget, Bang.” Katanya dari sebrang telpon, “Rangga juga nikah, Bang.”

Seminggu sebelumnya, saya datang ke kost-nya untuk mengundang ke acara pernikahan adik saya. Ia berjanji akan hadir. Hal yang mengecewakan adalah bukan karena orang yang kita undang tidak datang, tapi ia tidak memberi kabar. 

Mendengar pernikahan Rangga yang mendadak itu membuat saya serba salah. Seminggu sebelumnya ia tidak memberi kabar sama sekali. Akhirnya saya bilang, “Oh, ya udah gak papa, Ga. Kirain mau dateng, kalo gak dateng, gua mau pulang nih.”

“Iya, Bang. Maaf banget ya, Bang. Ntar kita ngobrol-ngobrol lagi deh.”

“Iya, iya.” Saya mengakhiri telpon, “Jangan bunuh diri ya.” 

Ia membalas dengan tawa. 

Dua bulan setelah percakapan itu, ia bercerai.

Dua orang kawan saya itu punya masalah, orang-orang yang menikah punya masalah, saya punya masalah, masalahnya bisa berbeda-beda tapi itu ditemukan ketika memasuki gerbang dari fase kehidupan bernama pernikahan. Masalah seperti perselingkuhan, KDRT, punya atau tidak punya anak dan lain-lain yang biasanya diakhiri dengan perceraian atau kompromi. Anehnya, orang yang terlalu peduli dengan urusan orang lain malah menganggap orang yang tidak menikah adalah orang yang bermasalah. 

Pengalaman buruk pernikahan kawan-kawan membuat saya berhenti menyarankan orang lain untuk menikah. Maksudnya, saya tidak melarang orang lain untuk menikah, hanya saja menikah atau tidak menikah adalah urusan pribadi yang tidak perlu disarankan atau dilarang. Sedekat apapun saya dengan orang itu, keputusan menikah atau tidak menikah adalah keputusan yang pertimbangannya tidak selalu mudah. Pada kawan-kawan tertentu, ketika mereka mengabarkan tentang pernikahan biasanya saya juga bertanya; mengapa menikah?

Saya ingat seorang kawan, setelah menonton berita artis yang jadi PSK, bertanya, “Nai, kalo seandainya elu jadi pacarnya Varisa Anjela gimana?”

“Maksudnya gimana nih?”

“Ya, kaget gak?”

“Harusnya sih biasa aja ya. Karena gua rasa kepribadian seseorang bisa dinilai dari beberapa kali bertemu. Tinggal ia mau nerima atau ignore.”

“Maksud lu, pacarnya udah tau?”

“Pertanyaan itu sama dengan pertanyaan yang pernah lu tanya ke gua tentang apakah orang tua tahu kalau anaknya suka bohong? Ya pasti tahu lah. Anak gak mungkin tiba-tiba berbohong dan orang tua tiba-tiba kaget. Potensi kebohongan sudah ada jauh sebelumnya. Tinggal orang tua mau ngoreksi, introspeksi atau malah mengabaikan.” 

Dalam sebuah hubungan, terkadang orang mengabaikan hal-hal yang prinsip dan malah fokus dan mengkhawatirkan hal-hal yang remeh. Maka setiap saya memandangi dua mempelai di acara akad atau resepsi pernikahan, saya selalu mendoakan yang terbaik. Semoga setiap pasangan mendapat kebahagiaan.

Catatan: Nama dalam tulisan ini bukanlah nama sebenarnya.


Sabtu, 19 Januari 2019

Ia Tinggalkan Puisinya di Atas Sepeda

Anak itu menumpang sepeda,
“Mau kemana, Dik?” sopir bertanya,
“Ke barat, Kak.” Ia berkata.
“Pas kalau begitu. Aku mau ke langit.”

Ia berpegangan di kursi belakang, 
sopir mengayuh sepeda dengan tenang,
sambil bersenandung ia menghitung pohon, awan, jalan dan ilalang.

Mereka melewati banyak hutan juga kuburan, 
keluar masuk sambil bertanya pada kukang dan beruang,
pohon mana yang paling dekat dengan tawang.

Sampai di satu persimpangan, 
hujan turun dengan riang. Ia berdebat dengan supir 
tentang jalan mana yang akan diambil.

Ia turun dari atas sepeda melorotkan semua kenangan 
mengakhiri sedu sedan perjalanan
masa lalu dalam telaga jingga 
ketika sore hari hujan turun dan merobek lentera kertas.

Sopir terus mengayuh sepedanya ke langit,
mungkin ingin bertemu Tuhan. Anak itu merogoh saku
mencari selembar puisi yang sudah hilang,
mungkin tertinggal di kursi belakang.

Sebait yang terus menempel dalam ingatan sendirian,
“Bahagia ada dalam doa 
di hati yang telah selesai dengan dirinya,”

semoga ketika Tuhan membacanya
ia sedang tertidur pulas dan merdeka


Selasa, 01 Januari 2019

Mengunjungi Kawan Lama yang Sedang Bertarung dengan Kenangan dan Ingatan

Honda Jazz melaju membawa empat orang kelebihan lemak. Di jalan berlubang atau ketika melewati bumper yang tinggi, mobil itu berdecit sperti akan patah menjadi dua. 

“Apaan tuh, Zy?” Tanya saya ketika mendengar bunyi aneh dari bawah mobil, saya khawatir As roda mobil patah.

“Gak papa...” Jawab Ozy di balik kemudi santai, seakan dia mau bilang, “Mobil gua udah biasa buat ngangkut hewan kurban.”


Pukul setengah sembilan malam itu, saya, Edo, Deni dan Ozy sedang menuju ke rumah Cepy. Cepy adalah kawan semasa Aliyah. Saya pribadi tidak terlalu dekat dengan Cepy, tapi punya beberapa kenangan. Saya masih ingat ketika suatu siang di hari sekolah belasan tahun yang lalu, ia bercerita, “Jadi dulu nyokap gua suka dengerin radio. Ada penyiar yang paling dia suka, namanya Burhanudin Cepy. Makanya waktu gua lahir dinamain Cepy Burhanudin.”

Kunjungan ke rumah Cepy memang sudah kami rencanakan sejak beberapa minggu lalu. Cepy yang tiba-tiba aktif lagi di Facebook banyak menulis status yang membuat siapapun yang membaca mengerutkan dahi. Ia pernah menulis, “guwe lagi solat geblek untung galak kalo mesra ngecret gue”.
 
Orang yang terlalu serius mungkin akan mengaggap Cepy penyebar bid’ah, “Anda penyebar bid’ah! Solat itu sudah ada aturannya! Tidak boleh dirubah-rubah! Solat itu; Solat Wajib, Solat Sunnah, Solat Zuhur, Asar dan lain-lain! Tidak ada yang namanya Solat Geblek! Apa itu Solat Geblek! Bid’ah ente!!!”

Untung kawan-kawan Facebook Cepy tidak ada yang sefanatik itu.

“Gua curiga Cepy skizrofrenia ringan. Kayak di film A Beautiful Mind. Tau kan lu?” kata saya ke Edo di kursi depan. 

“Iya tau gua!” jawab Edo cepat sambil menghembuskan asap rokok, “skripsi gua kan bahas itu.”

“Nah!” saya merasa ada persamaan.

“Gua juga dulu pernah kena skizrofrenia.” Edo seperti bangga.

Saya tidak kaget Edo pernah punya penyakit jiwa. Bahkan saya curiga sejak lama otaknya hanya sebesar serpihan pilus yang kelindes truk pasir. Beberapa tahun yang lalu, ia pernah hilang entah kemana. Lenyap dan tidak bisa dihubungi sama sekali selama beberapa hari. Tidak ada yang tau bahkan orang-orang terdekatnya sekalipun. Sampai sekarang saya nggak bisa menemukan alasan lain selain karena otaknya menguap, diculik dedemit bukanlah alasan yang masuk akal. Wewe Gombel senior sekalipun akan berpikir dua kali untuk menculik laki-laki krisis identitas dengan perut buncit. 

“Dulu waktu masih kuliah kan gue suka sama cewe,” Edo melanjutkan, “cewek itu udah punya pacar. Tapi pada waktu-waktu tertentu, terutama kalo gua lagi sendirian, dia kayak dateng ke kosan gua, kita ngobrol, dan gua ngerasain itu nyata gitu.”

“Itumah emang khayalan lu aja yang liar.” Saya menganggapi.

“Sialan lu!” Edo sewot.

“Tapi ini Cepy kayaknya serius..” Deni buka suara. 

“Iya, lu ngerti kan, Gong?” saya bertanya retoris ke Deni Bagong, “Jadi Cepy kayak punya orang dalam pikirannya yang bener-bener nyata menurut dia. Kayak gua ngeliat lu sekarang ini. Senyata itu. Padahal orang itu gak ada.” 

Kepada saya, melalui Facebook Messenger, Cepy pernah mengaku telah menikah, punya istri walaupun tidak serumah.

“Iya, iya…” Deni manggut-manggut.

Dari kami, empat orang di dalam mobil, hanya saya dan Ozy yang pernah bertemu dengan Cepy dalam beberapa bulan terakhir, dan itu interaksi yang buruk. 

“Minggu lalu gua ke rumahnya, dia gak bisa diajak komunikasi sama sekali.” saya bercerita kepada Deni dan Edo, “Tapi waktu gua mau balik, gua udah di atas motor nih, motor gua udah nyalain, eh si Cepy manggil, ‘woy..!’, ya, gua balik lagilah ke rumah dia. Begitu turun dari motor, eh Cepy malah masuk ke dalem rumah. Pintunya ditutup. Dikunci. Aneh banget dah. Ya udah akhirnya gua balik.”

Pertemuan awal saya dengan Cepy memang konyol. Sore itu, ketika saya sampai, pintu rumah Cepy sedang terbuka, motor menghalangi di depan pintu seperti ingin dimasukan. Saya mengucap salam. Tidak ada yang menjawab. Saya mengulang beberapa kali masih tidak ada jawaban. Saya memberanikan diri melongok ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah tanpa jendela depan itu gelap. Di ruangan yang remang, saya masih bisa melihat sosok Cepy sedang berjongkok tidak jauh dari pintu. Memegangi hape yang sedang dicaz. 

“Cep! Ini Fahmi, Cep!” kata saya kemudian. Cepy tidak bergeming.

“Cep!” saya kembali memanggil. Tidak ada respon.

Akhirnya saya dan Kojel, kawan yang waktu itu menemani, mengobrol dan duduk di beranda rumah. Sekitar 15 menit kemudian Cepy keluar. Tanpa mengatakan sepatah kata, dengan pandangan kosong, ia memasukan motor ke dalam rumah, seakan tidak melihat keberadaan kami. Sebelumnya, Kojel yang tinggal tidak jauh dari rumah Cepy memang telah mewanti-wanti saya untuk tidak kaget dengan keadaan dan kelakuan Cepy. Hari itu saya pulang tanpa ada komunikasi dengan Cepy.

Maka malam itu, kami berniat langsung menyergap Cepy. Apapun yang terjadi, Cepy harus bisa kami ajak ke luar. Kendaraan semakin mendekati rumah Cepy, masuk gang sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil kecil. Dari dalam mobil, kami melihat Cepy sedang berjongkok di pinggir jalan di sebrang rumahnya. Ozy mencari parkiran, sementara saya, Edo dan Deni turun dan segera menghampiri Cepy yang masih belum sadar akan kedatangan kami. 

Singkat cerita, kami membawa Cepy ke luar. Kami mencari warung yang buka sampai larut malam. Sampai di sebuah angkringan, kami mendudukan Cepy di lesehan. Cepy berada di tengah, tubuh kurusnya diapit Edo dan Ozy. Di sana, sambil bercerita tentang apa yang menimpa dirinya, Edo menjejalkan telur punyuh ke mulut Cepy, seakan-akan ia anak kecil yang sulit makan. 

“Udah cerita cep.” Edo memulai introgasi.

“Cerita apa?” Cepy bingung.

“Semuanya. Dari awal.” Edo menepuk pundak Cepy, “Nih, Cep. Semua orang punya masalah. Lu tau masalah gua?” 

Tidak menunggu jawaban Cepy, Edo meneruskan, “Bini gua meninggal karena sakit. Ninggalin dua anak yang masih kecil. Lu bisa bayangin kondisi gua waktu itu? Stress gua waktu itu, depresi. Tapi Alhamdulillah sekarang gua bisa bangkit.“

“Santai aja, Cep.” Deni menyambung, “Kalo masalah gak punya duit, gak punya kerjaan, itumah masalah kecil. Masih banyak hal lain di hidup ini. Santai aja.”

“Apa ya?” Cepy ragu-ragu.

“Gini deh, elu ngerasa baik-baik aja nggak sekarang?” Edo kembali bertanya.

Cepy diam. Matanya menerawang. Bersiap-siap untuk bercerita, “Nih, misalkan kehidupan gue ada sepuluh. Tapi gue nggak inget semuanya. Ada satu, dua…” Cepi menunjukan dua jari, “nah, tiga, empat, lima nih ilang. Yang ada enam, tujuh sampai sepuluh. Suatu hari tiba tiba tiga-empat-lima nih muncul lagi.”

Saya mencoba mencerna apa yang digambarkan Cepy. Penjelasannya memang membingungkan, tapi tidak seburuk Ajudan Pribadi atau Vickynisasi.

“Jadi ingatan tentang lu udah nikah itu pernah ilang, terus sekarang muncul lagi?” tanya Edo.

“Nah itu!” Cepy menyetujui.

“Cep,” kata saya menanggapi, “apa yang membuat lu yakin, kalo kenangan-kenangan yang elu sebutin itu beneran terjadi?”

“Ya, karena ada aja dalem...” Cepy tidak menyelesaikan kalimatnya. Seperti kehilangan kata yang mau disebut. Ia membuat gestur supaya saya menebak apa yang ia ingin katakan. 

“Ada di dalem...” Cepy mengulang, memberi isyarat di depan wajah.

“Apaan, Cep?” Deni bingung, “Muka?”

Cepy menggeleng, “Bukan...”

“Pikiran?” Edo menebak.

Cepy kembali menggeleng, “Dikit lagi...” 

“Khayalan?” saya menebak.

“Bukan.. nih ini nih!” Cepi memeberikan gestur tangan memutar-mutar di kepala.

“Kepala?”

“Nah itu…”

Cep, Cep! Kepala dan pikiran kan maksudnya sama aja, kata saya dalam hati. Kesulitan Cepy dalam mengatakan sesuatu mengingatkan saya pada karakter Naoko dalam novel Norwegian Wood, yang diakhir cerita mati gantung diri di hutan. 

“Jadi kenapa waktu itu, waktu Fahmi dateng, elu gak ngomong? Malah ditutupin pintu. Elu tau kan waktu itu Fahmi dateng?” Edo mencecar.

“Ya, kalo itu, gua minta maaf.” Cepy mengaku.

“Gak papa, Cep. Gua gak sakit hati sama sekali.” Saya menanggapi, “Gua paham waktu itu lu lagi kumat.”

Cepy kembali diam. Lagi-lagi matanya menerawang. Tubuh kurusnya dibungkus kaos kusam yang kegombrongan. Rambut ikalnya tidak terawat. Cepy yang saya kenal dulu adalah anak yang rapih, tapi malam itu ia terlihat seperti tidak peduli pada kebersihan dan penampilan diri.

“Gini Cep,” saya melanjutkan, “Apa yang lu alami itu namanya Skizrofrenia. Penyakit yang bikin pikiran lu kacau. Berprilaku aneh. Sulit ngebedain kenyataan dengan pikiran lu sendiri. Jadi apa yang lu bilang ingatan yang muncul lagi di dalam kepala lu itu sebenernya gak ada. Cuma waham, halusinasi, delusi.”

“Enggak.” Cepy membantah, “Itu ingatan gua yang kembali.”

“Oke, Cep.” Edo kembali menyela, “Tadi kan lu bilang, elu baru inget kalo dulu waktu SD udah nikah sama Riandini Dafirta disaksiin Abah Ikik. Sekarang gua tanya, masuk akal gak lu waktu SD nikah? Trus orang-orang yang lu sebutin sekarang itu mana? Ada gak temen-temen SD lu yang tau sama orang-orang itu?”

“Ya, tapi itu ada di ingetan gua. Di pikiran gua.” Cepy kekeuh.

“Itu, Cep. Semua itu gak ada. Cuma hayalan lu doang. Memang terasa seperti nyata, tapi sebenernya nggak.” Saya makin membombardir dengan argumen. 

Ozy yang sedari tadi makan nasi kucing, akhirnya menengahi perdebatan yang sepertinya tanpa ujung, “Udah gini aja sekarang. Nikmatin aja nih yang ada di depan. Yang nyata. Sate nih nyata, telor punyuh nih nyata, gorengan nih nyata. Makan aja abisin, minum, ketawa-ketawa. Santai aja dulu. Gak usah dipikirin yang begituan mah.”

Saya memahami Ozy ingin mengingatkan bahwa Cepy saat ini memang bisa diajak ngobrol dan sadar, tapi itu belum cukup untuk membuat dirinya bisa diajak berbicara serius. Ini tak ubahnya seperti memberitahu ikan yang tidak pernah keluar dari dalam air tentang daratan. 

Obrolan kami dengan Cepy sebenernya tidak melulu serius. Banyak guyon dan canda seperti biasa ketika kami kumpul. Mengenang masa lalu. Mengingat-ingat kenangan-kenangan waktu masih sekolah.

“Lu kalo urusan cewek serahin ke Deni.” Saya menepuk pundak Deni.

“Gimana, Den?” Cepy yang sebenarnya masih jomblo penasaran.

“Lu mau yang gimana, Cep?” Deni berbasa-basi, “Kalo prinsip gua ama cewe gini Cep, sebagai lelaki walaupun tampang pas-pasan tapi kalo cewek mau yang paling cakep.”

“Ngomong aja ama sandal jepit, Gong!” saya bersungut-sungut.

“Lah, Mi. Beneran. Namanya juga keinginan. Boleh dong yang paling bagus?”

“Iya, ya.” Saya menggaruk-garuk kepala. Dian Sastro sama Raisa udah nikah, kata saya dalam hati. Tinggal Chelsea Islan nih kesempatan terakhir.

Tidak terasa sudah tiga jam lebih kami mengobrol banyak hal. Ozy banyak menceritakan bagaimana dia dulu pernah terpuruk tidak punya kerja. Deni menawarkan Cepy untuk bekerja di tempatnya bekerja. Saya menyarankan Cepy untuk banyak beraktifitas di luar rumah. Untuk pergi ke masjid setiap kali mendengar azan. Cepy harus sadar bahwa ia menderita penyakit, dan orang-orang sekitarnya harus bisa membantu mendukungnya untuk bisa sembuh. Saya yakin Cepy berada di keluarga yang mengerti. Di tengah keluarga yang kurang pengetahuan, apa yang dialami Cepy akan dianggap gangguan jin dan berakhir dipasungan. 

Saya ingat dialog Dr. Rosen dalam A Beautiful Mind, film biografi yang mengisahkan Jon Nash, ahli matematika peraih Nobel, yang menderita gangguan skizofrenia paranoida, “Bayangkan jika kamu tiba-tiba sadar bahwa orang-orang, tempat, dan peristiwa-peristiwa penting dalam hidupmu tidak terlupa, bukan juga hilang, tapi lebih parah, tidak pernah ada. What kind of hell would that be?” Cepy pernah menulis hal yang senada, “Jikalaulah ingatan masa lalu itu salah, mengapa ada di kepala, apakah mimpi, terasa bukan mimpi, bukan pula khayalan, jikalaulah benar ingatan masa lalu itu mengapa terpisah kemana?”

“Kalo ada apa-apa telpon gua, Cep.” Deni memasukan nomor telponnya ke hape Cepy. 

Kami mengantar Cepy ke rumahnya, berbicara sebentar kemudian pamit untuk pulang. Edo memeluk Cepy dan mendoakan yang terbaik. Manusia tidak bisa memilih masalah yang akan dihadapi, tapi Tuhan menjanjikan akan memberikan masalah sesuai kemampuan manusia. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika saya mengalami apa yang dialami Edo, Ozy, Deni atau Cepy. Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa memastikan masa depan. 

Ada orang sombong yang beranggapan bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi pada mereka. Sungguh mereka hanya orang-orang yang terlalu kerdil untuk kehidupan. Kehidupan itu sangat besar dan inti atau kesejatian hidup ada di dalam diri. Kebanyakan kita tidak sadar pada apa yang terjadi di dalam. Menghamba pada banyaknya viewer dan like. Menaruh harapan terlalu besar pada perhatian orang lain. Mensyaratkan banyak hal pada kebahagiaan. Banyak melihat kelebihan orang lain dan tidak pernah merasa puas. Puncak dari semuanya adalah hantaman depresi karena penolakan, kehilangan, dan perasaan ditinggalkan. Mungkin itu yang dialami Cepy ketika dihadapkan pada kematian ibunya. Entahlah. Tidak ada yang cukup memahami selain Cepy sendiri. Karena pada akhirnya, semua manusia akan sampai pada ujung pertarungan. Pertarungan terakhir untuk mengenal diri sendiri, melawan kesendirian, kehampaan, dan kesepian, bukan pada hingar-bingar yang ada di luar.

Saya berkendara pulang melewati lahan persawahan. Di atas motor, udara dini hari menepuk-nepuk wajah, bintang timur terang bersinar di langit gelap. Saya mendongak ke atas dan beberapa saat merasa kecil dan sendiri.

Hampir jam satu dini hari saya sampai rumah. Setelah membersihkan diri dan salat isa, saya berbaring di tempat tidur. Ayam jantan tetangga berkokok bersahutan. Saya butuh pelukan.

Minggu, 30 Desember 2018

Merah itu Kita

Kita duduk di beranda depan rumah menunggu azan magrib. Kamu mengunyah sebatang cokelat yang hampir meleleh, aku meneguk secangkir puisi. Kamu bercerita tentang pertama kali bertemu, ketika kita masih hijau, tangan waktu mengikat hati, membuatnya harubiru. Di sebrang jalan, lalu lalang warna-warni manusia menyapa. Mereka yang kuning oleh kunyit, hitam oleh parang, yang dengan terpaksa meminum susu berwarna nila. “Kelir mereka tidak membuatku khawatir,” aku berkomentar. Langit setuju dan berangsur-angsur senja, awan gemawan putih berakhir disergap jingga yang baka. “Apakah besok kita akan melihat langit pagi biru menjadi ungu?” tanyamu. “Tak tahu. Tapi yakinlah sekarang, yang merah padamu, berdarah padaku.” kataku menutup hari.




Selamat ulang tahun,
yang fana itu pelangi,
langit sore abadi

Sabtu, 17 November 2018

Ki Hadjar, Hakikat Pendidikan dan Merancang Jalan Kebahagiaan

Istri saya, waktu SD dulu, pernah stress dan tidak percaya diri karena mendapat nilai 70. Saya pribadi tidak bisa membayangkan stress karena nilai pada usia tersebut; usia dimana saya masih suka mencoret-coret tembok dan makan krayon.


Suatu malam kawan saya Petra mengirim sebuah puisi berbahasa inggris dan 5 pertanyaan terkait dengan puisi itu. Saya menjawab semua pertanyaan dari buku kelas 4 SD milik murid privat Petra itu dengan mudah. Ia setuju dengan semua jawaban saya karena sesuai dengan apa yang ia ajarkan. Ia mengaku hanya butuh second opinion dari soal yang telah diberi nilai itu, karena 2 dari 5 pertanyaan itu disalahkan oleh sang guru sekolah.

“Maminya ngamuk nih, gak terima anaknya dikasih nilai 60. Besok katanya mau dateng ke sekolah buat ketemu sama gurunya.” Petra menjelaskan.

“Kasian gurunya.” Kata saya.

“Anaknya yang lebih kasian. Diomelin sama maminya sampe nangis sesenggukan. Dihukum suruh cuci piring.”

“Kalau maminya yakin jawaban anaknya salah, buat apa dateng ke sekolah?”

“Kayaknya dia belum yakin.”

“Kalau belum yakin salah, kenapa anaknya diomelin dan dihukum? Saya gagal paham.”

“Nah itu dia.”

“So, we agree on one thing here.” Saya mengakhiri.

Ada pertanyaan yang terus mengusik setelah kejadian itu; Apa hakikat dan tujuan pendidikan sebenarnya?

… mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Itu bukan kata saya. Itu saya kutip dari buku Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama - Pendidikan, halaman 20, paragraf terakhir sebelah kiri bawah. Selengkapnya silahkan baca sendiri. Saya sangat menyarankan guru atau siapapun yang ingin mengerti tentang pendidikan untuk membacanya. Buku yang berisi kumpulan tulisan Ki Hadjar itu sangat penting jika ingin mengerti tentang pendidkan. Sayangnya, setiap guru yang saya tanya, belum pernah membacanya. Tahu pun tidak.

Kumpulan tulisan setebal 500-an halaman tersebut disusun menjadi 8 bab inti. Dari mulai Pendidikan Nasional, Politik Pendidikan, Pendidikan Anak-anak, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Keluarga, Ilmu Jiwa, Ilmu Adab dan terakhir Bahasa. Sebagai anak pondok, cukup menarik memperhatikan dalam buku itu juga dibahas sistem pondok atau asrama sebagai sistem nasional yang telah ada sejak lama dan sesuai dengan budaya Indonesia. Membaca seluruh isinya saya seperti disajikan pemikiran pendidikan modern. Apa yang beliau tulis adalah apa yang dipraktekan di Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Dalam sesi wawancara, seorang guru di Finlandia menjelaskan bahwa mereka berusaha mengajarkan anak didik untuk bisa berpikir mandiri dan kritis terhadap apa yang mereka pelajari. Seorang guru lain berkata, “We try to teach them to be happy person, to respect others and respect themself.”
Kemudian ia ditanya, “Jadi anda sangat fokus dengan kebahagiaan?”

“Ya, sangat.” Sang guru menjawab.

“What the hell do you teach?”

“I teach Math.”

“Jadi sebagai seorang guru Matematika, anda mengatakan bahwa hal yang paling utama yang anda inginkan terhadap murid-murid ketika mereka lulus adalah mereka bisa bahagia dan memperoleh kehidupan yang bahagia?”

“Ya betul.”

“Dan anda adalah guru Matematika.”

Mentri pendidikan Finlandia mengatakan bahwa anak-anak murid di sana tidak diberikan PR agar mereka punya banyak waktu untuk mejadi anak-anak, untuk menikmati hidup karena mereka hanya punya waktu sedikit untuk menjadi anak-anak. Kepala Sekolah dari sekolah yang punya jam belajar paling sedikit di belahan Barat Bumi itu mengatakan bahwa otak peserta didik harus santai, karena jika murid hanya “belajar”, “belajar” dan “belajar”, maka mereka akan berhenti berpikir, dan itu pekerjaan yang tidak berguna. Anak-anak harusnya punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal lain setelah sekolah, seperti bermain, berkumpul bersama keluarga, olah raga, bermain musik, membaca. Guru di negara dimana murid-muridnya mendapat nilai terbaik itu mengatakan bahwa nilai bukanlah tujuan utama, tapi memperoleh kebahagiaan. Orang dengan pemikiran pendidikan yang sempit akan kepayahan menerima konsep ini.

Finlandia percaya bahwa banyak hal yang bisa membuat bahagia karena kebahagiaan adalah sumberdaya yang tak terbatas. Ia ada dimana-mana dan berlimpah. Untuk menjadi bahagia kita tidak butuh merebutnya dari orang lain. Kita tidak perlu berebut kebahagian karena ia bukanlah kompetisi yang jika seseorang sudah dapat, maka orang lain akan kehilangan. Jika mereka menang maka kamu kalah. Tidak seperti itu. Bahagia bukan tentang mengambil semuanya dan tidak menyisakan untuk orang lain. Kita bisa menempuh cara masing-masing untuk bahagia.

Nilai tidak pernah menjadi tujuan utama pendidikan. Kecerdasan, banyaknya pengetahuan dan kepintaran bukan juga tujuan melainkan alat. Ki Hadjar menulis, “Pengetahuan, kepandaian janganlah dianggap maksud atau tujuan, tetapi alat, perkakas, lain tidak. Bunganya yang kelak akan jadi buah, itulah yang harus kita utamakan. Buahnya pendidikan yaitu matangnya jiwa, yang akan dapat mewujudkan hidup dan penghidupan yang tertib dan suci dan manfaat bagi orang lain.” Buah-buah pendidikan itulah yang jadi tujuan, menjadi hasil yang bisa dipetik dikemudian hari. 

Saya tidak mengatakan bahwa nilai tidak penting, tapi dalam 3 komponen proyeksi pendidikan abad 21, nilai tidak lagi menjadi sesuatu yang ada di atas kertas. 3 komponen tersebut adalah Karakter (yang bisa dibagi dua; Karakter Moral seperti iman, taqwa, jujur, rendah hati dll. dan Karakter Kinerja seperti ulet, kerjakeras, tangguh, tepat waktu dll.), Kompetensi (berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif), dan Literasi atau Keterbukaan Wawasan (wawasan baca, budaya, teknologi dan keuangan). Komponen-komponen tersebut terkadang tidak bisa dinilai dengan bentuk angka, tapi karya, portofolio dan pembuktian di kehidupan nyata. Ditambah lagi perkiraan World Economic Forum (WEF) bahwa 65% anak-anak SD saat ini akan bekerja di bidang yang belum ada sekarang. Jadi mengagung-agungkan nilai di atas kertas tidak akan relevan lagi pada masa yang akan datang.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa ijazah dan pendidikan formal tidak penting, profesi seperti dokter dan ustadz misalnya, memerlukan pendidikan formal yang jelas, membutuhkan ketersambungan sanad keilmuan yang sahih, namun marilah kita kembali fokus pada tujuan pendidikan, sehingga pemahaman dan rancangan pendidikan akan mengacu pada tujuan tersebut.
Harus juga dipahami bahwa mendidik adalah merancang masa depan, tentang menyiapkan generasi baru, maka tanggungjawab melakukan itu bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Itulah mengapa edukasi pendidikan kepada orang tua menjadi penting. Saya selalu menyarankan kepada kawan-kawan yang mengurusi sekolah untuk bisa memberikan edukasi pendidikan kepada orang tua murid. Sehingga kondisi guru dan orang tua murid menjadi selaras. 

Memang sulit mengubah paradigma pendidikan masa lalu yang usang. Prinsip dalam memberi hukuman contohnya, seringkali tidak menjadikan anak insaf. Saya pernah menemui beberapa guru dan orang tua yang melupakan prinsip dasarnya. Satu dari tiga syarat hukuman yang perlu dipegang adalah ia harus selaras dengan kesalahannya. Jika anak datang terlambat, maka hukumannya adalah pulang lebih lama. Bukan malah hukuman yang tidak ada kaitannya, seperti mempermalukan di depan siswa lain, membersihkan kelas (yang memang merupakan kewajibannya) atau menulis “aku tidak akan datang terlambat” sebanyak seribu kali. Itu siksaan yang mengakibatkan anak merasa tidak dicintai. Bahkan Ki Hadjar percaya bahwa dalam pendidikan modern, pendidikan yang merdeka, hukuman dan ganjaran harus dihilangkan atau sebisa mungkin dihindari. Agar anak melakukan atau tidak melakukan sesuatu bukan karena mengharap ganjaran atau takut pada hukuman —sekali lagi saya menyarankan untuk membaca Ki Hadjar.

Hakikat pendidikan yang sebenarnya bukanlah membentuk, tapi menumbuhkan. Jika kita membayangkan anak-anak adalah benih tanaman, maka ketika masih menjadi benih tentu belum terlihat batang, akar, daun atau hal-hal lain yang bisa dilihat pada tanaman. Sehebat apapun biji, tidak akan memperlihatkan seluruh komponen tanaman. Nanti ketika sudah tumbuh berkembang barulah terlihat. Kadangkala kita melihat dan memperlakukan benih seperti kita melihat dan memperlakukan tanaman yang sudah besar. Kita menginginkan benih ini mempunya semuanya seperti tanaman. Kita ingin melihat anak-anak mempunyai hal-hal yang belum kelihatan.

Benih yang baik memerlukan lahan yang subur dan iklim yang sesuai. Rekayasa untuk membuat lingkungan baik untuk tumbuhnya anak didik itulah lahan pendidikan, baik di sekolah, di rumah dan lingkungan. Ki Hadjar mengibaratkan pendidik itu seperti petani, petani hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat mengemburkan dan membuat tanah subur untuk tanaman, namun walaupun begitu ia tidak dapat mengganti kodrat tanaman padi. Misalnya ia tidak bisa menjadikan padi tumbuh seperti jagung, ia juga tidak bisa memeliharanya seperti memelihara tanaman kedelai. Petani harus takluk pada kodrat padi. Ia dapat memperbaiki keadaannya, membuatnya menjadi tanaman yang lebih bagus daripada tanaman yang tidak dipelihara, tapi tetap tidak mengganti kodrat tanaman tersebut. Begitulah seharusnya pendidikan itu. 

Tentu kita tidak bisa semata-mata mencontoh Finlandia hanya dari segi sedikitnya jam belajar, menghilangkan PR dan Ujian Nasional. Ada hal yang lebih mendasar yang menjadikan sistem pendidikan di sana berhasil; kemandirian guru yang besar, proses belajar yang berbasis siswa dan sistem penilaian dengan tujuan mengembangkan kompetensi siswa. Jangan dilupakan juga bahwa kemandirian, saling percaya dan motivasi untuk mencapai kompetensi adalah budaya yang sudah mengakar di Finlandia, itulah fondasi yang menjadikan sistem pendidikan di sana sukses. Itulah juga yang dibahas oleh Ki Hadjar, keterkaitan sistem pendidikan dengan budaya dan karakteristik bangsa.
 
Asas pendidikan yang mendasar seperti itu mesti dihayati oleh pendidik. Saya pribadi dan istri memilih homeschooling salah satunya karena kami melihat banyak prinsip-prinsip yang diusung oleh Ki Hadjar tidak dilakukan. Saya tidak menyalahkan sistem pendidikan yang ada, karena arah pendidikan di Indonesia menurut saya sudah tepat. Hanya dibutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk menuju ke ideal, dan kami merasa tidak punya waktu selama itu untuk menunggu. 

Pertanyaan selanjurnya adalah apakah dengan menjadi praktisi homeschooling, mengetahui beberapa teknik dan teori pendidikan, kami menjadi orang tua yang ideal?

Sama sekali tidak. Saya belajar bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak saya, tidak juga istri saya. Sebagai orang tua, kami terkadang merasa baik, terkadang juga merasa begitu buruk.
Ada sebagian orang tua mengangap pola asuh mereka adalah pola asuh terbaik, sambil menduga pola asuh lainnya inferior. Kita menilai diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan mitos orang tua sempurna yang tidak pernah ada. Tidak ada orang tua yang sempurna, yang ada adalah orang tua yang terus belajar. Belajar untuk lebih mencintai dan menghargai anak-anaknya. Karena cinta adalah ruh pendidik.

Children Learn What They Live oleh Dorothy Low Nolte *

Jika anak banyak dicela, dia akan terbiasa menyalahkan.
Jika anak banyak dimusuhi, dia belajar menjadi pemberontak.
Jika anak hidup dalam ketakutan, dia selalu merasa cemas dalam hidupnya.
Jika anak sering dikasihani, dia belajar meratapi nasibnya.
Jika anak dibesarkan dalam olok-olok, dia akan menjadi seorang pemalu.
Jika anak dikelilingi rasa iri, dia tak akan puas dengan apapun yang dimilikinya.
Jika anak dibesarkan dalam pengertian, dia akan rumbuh menjadi penyabar.
Jika anak senantiasa diberi dorongan, dia akan berkembang dengan percaya diri.
Jika anak dipuji, dia akan terbiasa menghargai orang lain.
Jika anak diterima dalam lingkungannya, dia akan belajar menyayangi.
Jika anak tidak banyak dipersalahkan, dia akan senang menjadi diri sendiri.
Jika anak dibesarkan dalam kejujuran, dia akan terbiasa melihat kebenaran.
Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, dia akan besar dalam nilai keadilan.
Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, dia akan mengendalikan diri dan mempercayai orang lain.
Jika anak tumbuh dalam keramahan, dia akan melihat bahwa dunia itu sungguh indah.


* terjemahan puisi oleh Aar Sumardiono dalam buku 55 Prinsip & Gagasan Homeshooling

Rabu, 17 Oktober 2018

Kebohongan dan Urgensi Pendidikan Karakter

Suatu hari Nada menghampiri saya dan bertanya, “Pak, kok temen-temen aku banyak yang bohong sih?”

Jawaban dari pertanyaan itu tidak pernah sederhana.


Sore itu, Nada dan Safa melanggar janji untuk mengaji, saya berbicara kepada mereka di dalam kamar, “Kalian tahu apa yang bapak bangga pada kalian? Apa yang bapak senangi dari kalian?” saya bertanya retoris, untuk memuji kebaikan-kebaikan, untuk lebih dahulu melihat kelebihan mereka.

“Kalian tidak pernah berbohong ke bapak.” Kata saya kemudian, “Bapak tidak khawatir kalau kalian belum bisa membaca atau berhitung, bapak hanya khawatir kalau kalian berbohong dan tidak bertanggungjawab.”

Nada dan Safa diam. Menunduk. Saya tahu itu gestur tanda menyesal.

“Kalian lebih suka berteman dengan orang yang tidak menepati janji atau menepati janji?” kali ini saya tidak beretorika. Mereka diam. Saya mengulangi pertanyaan.

“Yang menepati janji.” Safa menjawab lebih dulu.

“Nada, apa kamu senang kalau bapak melanggar janji untuk membelikan raket padahal bintang kamu sudah seratus?”

“Nggak.” Nada menjawab.

“Karena kalian salah, apa kalian mau dihukum?” tanya saya lagi.

“Nggak.” Kata Nada.

“Nggak.” Jawab Safa.

“Oke. Kalian sudah tahu apa yang kalian lakukan itu tidak baik. Bapak kasih waktu kalian untuk berpikir. Sekarang kalian nggak boleh keluar kamar sebelum kalian menyadari itu dan mau menerima hukuman dengan rela sebagai konsekuensi.”

Saya bangkit meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Sebelum saya membuka pintu, Safa memanggil, “Pak.”

“Iya?” kata saya, berharap Safa telah menyadari kesalahannya.

“Konsewensi apa?” tanya Safa lugu.

“Kon-seK-uen-si, bukan konsewensi. Konsekuensi itu akibat.” Saya beralih ke Nada, “Kak, tolong jelasin.”

Saya keluar kamar sambil menahan tawa. Sayup-sayup saya mendengar Nada, “Ih Safa, kan waktu itu udah dijelasin bapak...”

Beberapa menit kemudian mereka keluar dan bilang kalau mereka siap untuk diberi hukuman.
Setelah kejadian itu, setelah saya memuji dan mengapresiasi kejujuranya, Nada bertanya mengapa ada beberapa temannya yang suka berbohong, maka saya tahu konteks pertanyaan itu. 

“Anak-anak itu suka ikut-ikutan, kak.” saya memulai penjelasan dengan sederhana, “Bisa jadi mereka berbohong karena mencontoh dari orang dewasa.”

Nada kemudian menceritakan kasus kebohongan beberapa teman-temannya. Saya mendengarkan. Lumayan banyak yang ia ceritakan. Salah satunya ia bercerita tentang Bunga, bukan nama sebenarnya, yang berbohong kepada dia tentang kawan yang lain.

“Eh, Nada,” kata Bunga menghampiri Nada, “Masa aku tadi mau main ke rumah Mawar gak boleh masuk. Harus jawab pertanyaan dulu, ‘siapa nama kepala sekolah Mawar?’”

“Aneh banget.” Nada merespon, “Ya, jawab aja gak tahu. Kan kamu gak sekolah di sana.”
“Iya aneh ya?” Jawab Bunga.

Bunga kemudian pergi ke rumah Mawar dan tidak lama kembali menemui Nada. Ia memberikan secarik kertas kepada Nada, “Ini ada surat dari Mawar. Jawab langsung di situ aja.”

Nada membuka kertas yang di dalamanya ada tulisan, “Nada, kenapa kamu jelek-jelekin sekolah aku?”

“Aku nggak ngerti.” Nada bingung, “Maksudnya apa sih?”

Setelah dikonfrontasi, kemudian diketahui bahwa Bungalah yang mengatakan ke Mawar bahwa Nada menjelek-jelekan sekolahnya, Mawar pun sebenarnya tidak pernah menanyakan tentang siapa kepala sekolahnya kepada Bunga. Nada dan Mawar difitnah dan diadudomba oleh Bunga. Ya, itu kejadian nyata, walaupun terkesan seperti rekayasa di acara Rumah Uya.

Saya pernah mendengar cerita dari istri bahwa beberapa kawan Nada di sekitar perumahan berbohong atau mengajak Nada berbohong. Pernah suatu hari seorang kawan Nada bilang, ketika ditanya apakah berpuasa atau tidak, “Puasa. Tapi jangan bilang bundaku ya kalau aku minum.”

Kembali ke pertanyaan Nada di awal tulisan ini; mengapa anak-anak berbohong?

Saya adalah orang yang tidak percaya bahwa berbohong adalah naluri alamiah anak-anak. Maksud saya, saya percaya pada konsep bahwa kodrat awal anak-anak adalah berkarakter baik. Anak bukanlah kertas kosong, telah ada pada diri setiap bayi pokok kebaikan. Adalah naluri mereka untuk punya akhlak yang baik. Itulah yang disebut agama sebagai fitrah. Setiap anak dilahirkan sesuai fitrah, lingkungan yang menjadikan karakter terbaik mereka luntur. Maka saya tidak percaya ada anak yang naluri alamiahnya berbohong dan suka memfitnah. 

Ada banyak alasan mengapa anak-anak suka berbohong. Saya lebih senang melihat dari sisi baik terlebih dahulu. Anak-anak berbohong bisa jadi karena daya imajinasi yang tinggi, melindungi teman, untuk mendapatkan keinginannya, ingin diperhatikan dan dipuji, mendapatkan pengakuan, menutupi kekurangan pada dirinya, tuntutan orangtua yang terlalu tinggi, meniru orangtua atau tayangan televisi, atau takut dihukum.

Mari kita melihat kebohongan anak pada ruangan yang lebih luas, melalui kacamata pendidikan. Jika diteliti lebih dalam, kita bisa melihat ada pola asuh yang keliru pada pendidikan anak. Inti dari pendidikan adalah menumbuhkan potensi karakter. Dan itu harus dimulai dari sejak dini. Pendidikan karakter pada anak adalah hal yang paling utama, lebih penting dari hanya sekedar mengejar nilai-nilai akademik. Mengutip Aristoteles, "Educating the mind without educating the heart is no education at all."

Kunci pendidikan karakter adalah pada kata “menumbuhkan”. Para pendidik yang mengerti tidak menyebut “pembentukan karakter”, atau “penanaman karakter” tapi “penumbuhan karakter”, karena pada hakikatnya karakternya sudah ada, tinggal ditumbuhkan. Bukan menaruh hal-hal yang di luar diri mereka, tapi menumbuhkan apa yang telah ada pada mereka. Istilah populernya inside-out bukan outside-in. 

Karakter baik adalah fitrah yang telah ada pada anak-anak, maka seharusnya penumbuhan karakter itu tidak terlalu sulit. Kesalahan yang kerap terjadi pada pendidikan karakter anak usia 0-6 tahun adalah banyak orang tua menggunakan pendekatan behavioris. Padahal pendekatan itu dilakukan ketika anak beranjak dewasa. Pada anak usia dini, adab dan akhlak adalah keteladanan orang tua. Harapan yang dituju adalah anak-anak menyukai, terkesan, terpesona dengan adab yang baik. Anak-anak harus banyak melihat keindahan adab orang tua dalam berprilaku. Belum saatnya anak-anak dibebankan untuk harus “mempunyai” akhlak yang baik di masa ini. 

Pada usia ini, ada orang tua yang membentak, bersuara kasar bahkan melotot kepada anak untuk berlaku baik, untuk tidak menaiki meja atau salat misalnya. Maksud hati mendidik akhlak baik tapi yang dipertontonkan ke anak adalah ketidaksopanan dalam berbicara. Anak-anak tidak bisa menerima ambiguitas ini.

Pada usia ini anak-anak seharusnya cinta kepada kebaikan sehingga mereka bisa rela dan senang hati melakukan itu di kemudian hari. Sulit rasanya mengajarkan anak untuk menghargai orang lain, namun mereka sering menonton pertengkaran kedua orang tua mereka. Sulit rasanya menyuruh anak-anak untuk jujur jika mereka tidak melihat contoh bahkan malah diperlihatkan prilaku/tontonan yang sebaliknya. 

Dalam kasus berbohong, anak-anak sudah bisa berbohong sejak berusia tiga atau empat tahun. Anak usia balita belum terlalu mengerti bahwa berbohong adalah sesuatu yang salah. Mereka juga belum bisa membedakan secara tegas antara imajinasi dan kenyataan. 

Selain mengedepankan teladan, pada usia ini belum diperlukan hukuman. Jangankan hukuman, menegur atau mengoreksi pun bisa menyebabkan mereka merasa malu, apalagi di depan orang lain. Untuk membantu anak belajar nilai-nilai atau berkata jujur, berilah respon yang tepat. Misalkan ketika anak berbohong agar tidak terkena masalah, para pakar mendorong untuk bias mempertimbangkan respon ini: “Ibu tahu kalau kamu merasa tidak enak gara-gara memecahkan gelas. Bantu Ibu mengelap air yang tumpah, dan lain kali kita memakai gelas plastik aja, ya?” Ini akan membuat anak merasa yakin bahwa tidak akan ada gunanya berbohong.

Adab dan akhlak sebagai aturan dan kesepakatan baru bisa diterapkan pada usia 7-10 tahun. Pada tahap ini saya menggunakan jadwal dan bintang sebagai apreseasi. Itulah sebabnya saya memberi hukuman kepada Nada. Karena untuk anak seumur Nada (8 tahun), salah satu alat bantu untuk menumbuhkan akhlak adalah melalui pendekatan behavioris; yaitu aturan dan kesepakatan. Nada telah mempunyai jadwal yang jika diikuti akan diberi apresiasi. Ia akan mendapat bintang yang di akhir minggu bisa ditukar dengan uang, dan di akhir bulan bisa ditukar dengan hal yang ia inginkan.

Nah, ketika ada aturan akhlak yang dilanggar seperti tidak menepati janji maka hukumannya bisa peniadaan apresiasi atau hal lain yang ada kaitannya dengan penyebab ia melanggar janji. Dalam kasus Nada ketika itu, ia melanggar janji karena terlalu asik menonton film. Maka hukumannya ia tidak bisa menonton film selama 3 bulan ke depan. Penetapan batas akhir hukuman juga merupakan hal penting agar tidak menyebabkan hukuman itu berlaku selamanya atau dilupakan beberapa minggu kemudian. 

Untuk menumbuhkan karakter baik diperlukan pembiasaan. “Pembiasaan” adalah kata kunci selanjutnya dalam penumbuhan karakter, namun harus juga dilihat tahapannya. Ini adalah tentang penerapan yang benar pada waktu yang tepat. Mengabaikan tahapan dalam pendidikan akhlak hanya akan menumbuhkan sikap antipati di kemudian hari. Saya teringat kisah anak yang semasa kecil penurut, rajin salat, banyak hafal ayat-ayat Al Quran, namun ketika beranjak remaja dan dewasa perbuatan-perbuatan baik itu hilang, tidak dilakukan bahkan bertolak belakang. Karena mereka dipaksa melalui tahapan yang belum semestinya. 

Sejujurnya saya sempat khawatir jika Nada berkawan dengan Bunga yang suka berbohong dan memfitnah. Namun di sisi lain saya tidak ingin mensterilisasi Nada dengan lingkungan atau teman-teman yang tidak ideal. Itu tidak pernah menjadi alasan kami melakukan homeschooling. Malah melalui homeschooling kami berharap bisa menerapkan pendidikan yang lebih autentik, bebas dan sesuai kebutuhan. Mendekatkan anak didik pada dunia yang sebenarnya, yang terkadang tidak ideal.

Malam itu, di sela-sela membaca ensiklopedia, saya bertanya ke Nada, “Kamu masih mau berteman dengan Bunga?”

“Masih.” Jawab Nada cepat.

Apa Nada tidak sakit hati dengan sikap Bunga? Saya bertanya-tanya dalam hati. Apa ia menerima sikap itu sebagai sesuatu yang wajar? Apakah dia akan mencontoh perbuatan Bunga? 

“Kamu masih percaya sama Bunga?” saya penasaran.

“Nggak.” Kata Nada, “Aku juga gak gampang percaya sama temen-temenku yang lain.”

Saya diam, tidak menambahkan apapun. Saya tahu Nada telah mendapat pelajaran berharga dari peristiwa itu. Tinggal saya merenung tentang pelajaran apa yang bisa saya dapat.


Sabtu, 28 Juli 2018

Pada Suatu Hari yang Biasa

Pada suatu siang—

Itu siang yang biasa di bulan April. Di langit siang mentari menyengat, lebih terik dari beberapa hari sebelumnya. Ia bergantung tepat di atas khatulistiwa, radiasinya bercampur dengan udara lembab dari timur. Kita berada di dalam kamar dengan pintu terbuka, ditemani suara ritmis kipas angin yang mengaburkan aroma ruangan dan membuat udara sedikit lebih sejuk. Di ruang tengah, anak-anak sedang bermain boneka. Kamu rebahan di atas kasur, dua bantal menjaga kepala. Aku memetik gitar, menyanyikan Thinking Out Loud. Kamu mengenakan daster yang telah luntur warnanya, sedang membuka ponsel, menyentuh dan sesekali menaik turunkan layar dengan ibu jari. 

“Ada hotel murah nih, Bang.” Kamu menyodorkan ponsel. 

Aku melihat dan membaca beberapa hal, “Boleh.”

Kamu memintaku untuk mengajukan cuti bahkan sebulan sebelum keberangkatan. Katamu kamu tak sabar menunggu untuk jalan-jalan.

Pada suatu malam—

Itu malam yang biasa di hari yang biasa. Anak-anak telah tertidur di dalam kamar. Jam di dinding mununjuk dua digit angka. Setiap ada suara motor yang mendekat pagar halaman, aku berharap itu kamu. Aku hampir tertidur ketika terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah, kemudian terdengar seseorang membuka pagar. Aku membuka pintu dan mendapati wajahmu yang sayu namun masih mencoba untuk tersenyum. 

Sup ayam dengan campuran kacang merah di panci telah dingin. Sambil membersihkan diri di kamar mandi, kamu bercerita tentang bis yang datang terlambat, motor yang hampir mogok dan murid-murid yang kurang ajar. Aku mendengarkan sambil memanaskan makan malam di atas kompor, sesekali merespon dengan gumaman dan pertanyaan.

Pada suatu sore—

Di atas kendaraan, di belakang punggungku, kamu menangis. Kesalahpahaman membuat kita berdebat, dan aku tahu telah keterlaluan. Aku mengarahkan sepion sebelah kiri untuk melihat dan menemukan matamu yang sembab, pundakmu berguncang. Lampu sen sebelah kiri berkedip dan kendaraan menepi. Aku menyesal, ingin meminta maaf tapi tidak ada suara yang bisa keluar, tercekat mandek di kerongkongan.

Pada suatu pagi—

Setelah mencuci beberapa piring kotor makan malam, aku menyiapkan sarapan kemudian membersihkan minyak yang menciprat dari atas kompor dan dinding dapur. Kamu tidak suka dapur yang berantakan dan kotor. 

Matahari bergelantung rendah di langit pagi. Anak-anak terbaring manis memeluk boneka kesayangan yang mereka mainkan sebelum terlelap. Kamu mengeluh tidak enak badan. Kamu masih meringkuk di dalam selimut coklat muda dengan rambut kusut ketika aku tawarkan untuk mengantar ke dokter. Kamu menolak, hanya minta ditemani dan dipijat menggunakan minyak angin beraroma campuran Jojoba, Zaitun dan Sereh. Cuma masuk angin, katamu. Walaupun akhirnya kamu protes bahwa pijatanku terlalu keras dan kasar. 

Pada suatu siang—

Itu siang yang biasa di hari yang biasa. Setelah membeli keperluan bulanan di sebuah supermarket, kita berkumpul di restoran bubur dan memilih tempat duduk di pojok ruangan. Aku meminggirkan troli belanja, kamu meminta kursi bayi kepada pelayan. Kamu terlihat bahagia, wajahmu terbias cahaya lampu neon jingga yang menggantung di langit-langit. 

Pelayan wanita dengan seragam merah berkerah hitam berdiri menunggu sambil bersiap mencatat pesanan. Kamu memesan Bubur Udang Telur Asin dan Pitan serta semangkuk besar bubur polos tanpa campuran, aku memesan Bubur Seafood. Di sebrang kursi kita telah bercengkrama satu keluarga muda dengan dua anak. Kamu bercerita tentang harga air mineral yang tiga kali lipat dari harga pada umumnya, tentang sahabatmu yang berubah, tentang drama korea yang baru saja kamu tonton, dan segala hal remeh lain. Aku mendengarkan. Katamu kamu senang berbagi hal-hal yang menarik dan menyenangkan denganku.

Pada suatu pagi—

Itu hari Minggu bulan Desember tahun 2015. Suasana masih redup ketika kita keluar rumah. Sinar surya menghangatkan pagi yang masih dingin. Hujan yang mengguyur sehari sebelumnya meruapkan aroma tanah. Kabut tipis di jalan mulai hilang, seiring lalu lalang kendaraan dan kegiatan yang mulai menggeliat. 

Di sebelah selatan, siluet punggung Gunung Gede yang masih berselimut kabut terlihat malu-malu. Sementara di belakang kita, samar-samar terlihat Gunung Salak yang kebiruan. Kita mengejar matahari. Angin dingin pagi melintasi padang sawah yang hijau kekuningan, menepuk-nepuk wajah, kemudian berlalu entah kemana. 

Suasana begitu jernih, tidak ada suara musik yang menyumbat telinga, tak banyak kendaraan yang melintas bersama atau berlawanan dengan arah kita. Diliputi semua itu, dari atas Revo, kita bercerita banyak hal tentang jembatan, sungai di bawah sungai, dan asal usul nama-nama tempat dan jalan. 

Pada suatu malam—

Itu malam yang biasa di hari yang biasa. Beberapa bulan sebelum kita menikah. Lampu penerang jalan berpendar memancarkan cahaya keemasan. Membuat gerimis seperti peri yang menitik dari tempat tak kasat mata. Di sebuah pom bensin, dalam naungan peron kita duduk bersisian berteduh mengunggu hujan reda. 

Sambil berbicara tentang banyak hal, ditengah air yang berderai, diam-diam aku berharap hujan berlangsung panjang. Aku suka udara dinginnya. Aku suka suara gemericiknya ketika menyentuh aspal yang hangat. Aku suka berada dekatmu. Aku tak risau dengan lembab di kepala yang bisa menyebabkan demam. Aku suka tangan kita yang bergandengan. 

Pada suatu pagi—

Suara bip mematikan AC di dinding. Setelah salat subuh, kita membagi tugas. Kamu membuat sarapan, mencuci piring dan menjemur pakaian. Aku menyuapi, memandikan dan mengajak Aira jalan-jalan. 

Nada merapihkan sajadah dan mukena kemudian membuat bintang pada jadwal hariannya. Bintang pertama untuk hari itu. Selesai dengan urusan sarapan, Safa meminta sekolah, bersikeras ingin tetap sekolah, walaupun kamu membiarkan jika ia tidak ingin masuk, karena sedang pilek. Kamu mengantar Safa ke sekolah sementara aku di rumah menemani Nada mengerjakan Reading Eggs dan membuat video kegiatan hari itu. Aira bermain bersama beberapa mainannya sambil berceloteh di dalam Playpen. Itu pagi sibuk yang biasa seperti pagi di hari-hari lain.

Pada suatu malam—

Itu malam yang biasa di hari yang biasa. Aku pulang dan mendapati rumah kosong. Kamu dan anak-anak sedang menginap. Langit mendung tanpa bintang mulai menurunkan gerimis. Tetes-tetes air terdengar tumpah ruah menghujam atap fiber. Bunyi tetes makin banyak dan makin banyak memenuhi atap, air mengucur turun ke halaman melalui cekungan genting kemudian mengalir menuju selokan. Sebagian menyerap masuk ke tanah kering pekarangan. Malam sunyi. Jalan-jalan sepi. Aku terduduk sendiri di dalam rumah memandangi jam di dinding sambil menunggu air di atas kompor mendidih. 

Rumah bukanlah rumah ketika tidak ada orang di dalamnya. Ia akan menjadi rumah jika kamu juga ada di sana. Tanpamu, ia hanya bangunan yang melindungi dari cuaca. Malam itu, ditemani rintik hujan di luar, seketika aku mengingat banyak hal. Kesendirian kadang membuatmu lebih mudah mengenang hal-hal yang telah lewat.

Aku ingat rasanya memegang tanganmu di tengah keramaian. Aku ingat caramu merajuk. Meruntuhkan pertahananku. Aku ingat leluconmu yang selalu bisa membuatku tertawa. Aku ingat lagu kita, yang sering kita nyanyikan dengan petikan gitar sumbang. Aku ingat percakapan panjang kita tentang rencana esok hari, film yang akan kita tonton setelah anak-anak tidur atau sekedar mengobrol tentang kegiatan seharian sambil kamu membersihkan jerawat di punggungku. Aku ingat tangismu ketika kita bertengkar, ketika kamu sakit, ketika anak-anak sakit, rumah kacau dan kamu tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku ingat tawamu serta bagaimana tawa itu membuatku juga bahagia. Kamu bahagia dan aku ada dalam kebahagiaan itu. Aku ingat banyak hal sampai akhirnya kita tiba di sini. 

Kali ini, musim hujan masih datang terlambat, tapi pagi itu tiupan angin dingin dari Australia sampai juga ke dalam kamar. Dinginnya mengendap di sudut-sudut ruangan, menggigilkan jari-jari kaki. Kataku, “Kita merindu matahari ketika kedinginan.”

Siang hari lainnya hujan turun. Di ujung jendela buram itu, aku memandangi titik-titik air yang jatuh di halaman. Tempiasnya meninggalkan bercak hitam dan keropos di tepi jendela. Hujan selalu membuatku kangen akan matahari. Pada suatu musim kemarau ketika tidak ada pendingin ruangan. Pada terik yang mengeringkan kulit hingga gersangnya mendidihkan kepala. Pada sinar dan sepoy angin yang mengeringkan pakaian-pakaian di jemuran dalam beberapa jam.

Betapa mudah sebenarnya kita rindu pada hal-hal yang sederhana. Mungkin saja suatu hari nanti kenangan itu mengering, mengkerut seperti semangka yang terlalu lama terbuka, digantikan lupa dan uban yang memenuhi kepala. Jika saat itu tiba, aku ingin kamu tetap disini menemani. Menjadi musim panasku, yang mengeringkan sepasang kaus kaki basah dan meninggalkan rasa hangat di kalbu. Bersamamu, aku tak lagi merindu matahari.