Halaman

Minggu, 26 September 2021

Rapijali; Sebagus Perahu Kertas?

Ekspektasi yang terlalu tinggi bisa sepenuhnya menjadi alasan atas kekecewaan yang akan saya tulis pada review ini. Jika bukan karena Dee, Rapijali sudah saya tinggalkan pada bab ke 3.
 
Bab pertama dibuka canggung dengan janji akan konflik besar yang sayang tidak terbayar sampai akhir novel pertama, bahkan akhir novel ke dua. Alih-alih memberikan kepuasan setelah menutup halaman akhir, Rapijali meninggalkan pembaca dalam tanda tanya besar yang menyakitkan, semacam anak yang menanti janji ayah yang tidak pernah terlaksana.
 
Jika merupakan stategi yang akan diungkap pada buku ke 3, maka itu menjadi stategi bunuh diri. Saya khawatir Rapijali 3 akan bernasib seperti Maryamah Karpov - Andrea Hirata yang hadir hanya demi memenuhi penasaran dan kesenangan fanbase namun berakhir mengecewakan pembaca yang lebih serius.

Awalnya, ketika tahu cerita ini berdasar premis usang tentang Ping, seorang gadis prodigy musik yang berada di persimpangan jalan dalam meraih cita-cita, saya sama sekali tidak khawatir. Pengalaman Dee bisa membuat tema yang biasa saja menjadi menarik dalam sentuhan plot, setting dan dialog yang memikat. Saya tidak pernah meragukan kemampuannya dalam mengolah hal itu, namun sayang saya tidak menemukan itu paling tidak sampai paruh akhir novel pertama.

Di paruh awal, alur, adegan dan dialog tidak sepadat Perahu Kertas. Ini tentu pembanding yang sejajar daripada saya membandingkan dengan novellete Madre atau Filosofi Kopi. Saya seperti kehilangan magis dalam tulisan Dee karena ia menyajikan adegan yang boros, hambar dan tidak perlu. Tulisannya menjadi kering dengan beberapa karakter artifisial yang tidak dieksplorasi dengan baik, yang membunyikan dialog mandek dan kaku.

Mulai pada setengah akhir novel pertama dalam bab Juru Selamat, secara perlahan rangkaian kejanggalan adegan anak-anak remaja ala FTV yang memang sengaja dirancang, terbayar lunas. Walaupun setelah itu, kembali cerita menjadi minim elemen kejut dan sangat predictable. Baru pada pertengahan akhir buku ke dua saya merasa nyaman dengan para titular karakter. Karakter-karakter utama menjadi semakin believable dan hidup. Di sana kekuatan tulisan Dee seperti kembali, dengan gaya narasi serta elaborasi yang semakin padu. Memilih kosakata dan metafora untuk menggambarkan pendengaran lewat tulisan sungguh bukan perkara sederhana, bahkan mungkin lebih sulit dari deskripsi wewangian dalam Aroma Karsa. Di beberapa adegan ketika lagu-lagu dimainkan, saya membayangkan ini menjadi seperti lagu-lagu dalam Rectoverso yang bisa dinikmati di dunia nyata. Humor dan dialog yang merupakan keahlian Dee pada bagian ke dua ini juga semakin mengalir dan autentik, walaupun pada beberapa adegan masih terasa janggal dan terlalu dipaksakan.
 
Hal yang juga patut dipuji dalam karya ini adalah keberanian Dee untuk menggarap ceruk yang jarang dilirik oleh penulis populer Indonesia sebelumnya. Memasukan unsur politis pemilihan gubernur DKI Jakarta merupakan pertaruhan yang sangat beresiko. Walaupun tidak terlalu berhasil untuk memberi bekas yang mendalam, namun usaha melalui survey dan riset yang memadai itu patut diapresiasi.
 
Rapijali memang akan sangat relevan dan mudah dinikmati oleh remaja. Menulis dunia musik dan panggung yang akrab ia geluti, dengan perlahan tapi pasti Dee mampu membawa tulisannya di buku ke 2 menjadi semakin menemukan ruang yang dengan apik dirajut secara emosional, dramatis dan kompleks. Dengan konflik percintaan yang pasti mudah mengait secara personal dengan pembaca remaja. Patah hati yang pilu, cinta diam-diam yang manis, pergulatan atas penghalang cinta seperti agama, strata sosial dan ekonomi, juga jarak yang sangat relevan dengan siapapun.
 
Kesalahan yang tidak bisa dipungkiri adalah Rapijali terlalu ringan bahkan cenderung bertele-tele dengan konflik yang terlalu melebar. Jika dibuat lebih rapat dan ketat seperti Perahu Kertas, ini akan menjadi karya yang jauh lebih sempurna. Tereksplorasi dengan baik seperti Supernova, meninggalkan ina-inu penulisan yang tidak penting, dengan dialog yang lebih selektif yang pada akhirnya membawa pembaca pada keakraban intens. Saya percaya, jika ditulis dalam versi yang lebih ringkas, Rapijali akan semakin rapih.



Senin, 20 September 2021

Kebenaran Absolut

Ketika menjelaskan QS 95:1-3, Habib Quraish menulis, “… kesemua ajaran agama tersebut bersumber dari satu sumber, prinsip-prinsip ajarannya sama. Hanya saja, disayangkan bahwa akibat berlalunya masa yang berkepanjangan dari kehadirannya dan masa kita kini akibat dari kelalaian atau campur tangan manusia, maka sedikit atau banyak telah terjadi penambahan, pengurangan atau bahkan penyimpangan dari ajaran asli yang dibawa oleh para Nabi itu.”

Itu tentu klaim yang bisa diuji dan diverifikasi baik oleh ilmuan atau sejarawan. Saya teringat penjelasan Gus Baha dalam sebuah pengajian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah adalah kebenaran mutlak, “Akal pasti dipaksa untuk menerima kebenaran. Kebenaran itu milik siapa saja dan akan mudah dipahami.”

“Nabi bersabda, “Man qaala la ilaha illa allah dakholal jannah, wa in zaana wa in saraqa.”, maksudnya Nabi ingin mengatakan bahwa Allah itu Tuhan adalah kebenaran yang sejati, sehingga siapapun yang mengatakannya itu sah. Absolutisme kebenaran itu tidak terganggu oleh kesalehan atau kefasikan. Karena itu kebenaran absolut, maka semua akan ngomong seperti itu.”
 
“Saya berkali-kali mencontohkan, rektor Al Azhar akan bilang 1+1=2, lonte ya akan bilang 2, koruptor, KPK ya akan bilang 2. Kebenaran akan selalu benar, siapapun yang mengatakannya.”

Menutup penjelasannya, Habib Quraish menulis, “Al-Quran berpesan kepada Nabi Muhammad saw. agar menyampaikan kepada penganut agama lain: Katakanlah Muhammad, "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua kemudian Dia akan memberi keputusan antara kita dengan benar dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui." Maha-benar Allah Tuhan Yang Mahaesa.”

Wallahu ‘alam.



Selasa, 27 Juli 2021

Anak-anak surga

mereka anak-anak panah
dilemparkan busur
kemudian melesat cepat

mereka anak-anak masa depan
berjalan ke hari esok
yang tidak terjangkau

mereka anak-anak surga
datang untuk mengabarkan
betapa hidup sangat singkat

mereka adalah ruh
naik ke tempat yang tinggi
meninggalkan raga yang fana

kita adalah ruh tanpa raga
yang mencari pulang
pada hal-hal yang menyenangkan

di sini aku menangisi kesementaraan
juga ingatan
juga kenangan


2021

Kefanaan Pada Detik Jam dan Ketabahan Pada Tanaman Tepi Jalan

Aku tidak tahu bagaimana cara seseorang meneruskan hidup setelah ditinggal orang yang sangat disayangi.

Hujan sudah selesai bersenang-senang ketika motor keluar dari tempat parkir. Jalanan basah, berkubang, langit menyisakan mendung seperti memberi nuansa untuk orang-orang yang sedang berduka malam itu.

Aku sendirian di atas kendaraan. Sungguh ingin sendirian. Bukan karena tidak ingin bersamamu. Aku sering membayangkan berkendara denganmu ke tempat-tempat yang belum kita kunjungi. Duduk menonton temaram senja di ujung garis cakrawala sambil bercerita tentang kita. Tapi di masa yang semakin bergegas ini aku juga rindu diam, berpikir, melamun. Mengulang-ulang kata dalam kepala sampai ia kehilangan makna. Sepanjang jalan memikirkan banyak hal termasuk kesedihan, kesendirian dan kematian. Sampai pertanyaan yang tidak aku tahu jawabnya itu datang.

Semua orang seperti ingin bergegas. Pekerjaan ingin bergegas. Informasi yang datang bergegas. Pertanyaan minta dijawab bergegas. Tidak sempat memberi jeda untuk pikiran memilih, sementara tangan dan lisan terlalu cepat bertindak. Bergegas. Bergegas. Bergegas. Aku mengulang kata itu dalam kepala sampai luntur maknanya.

Aku memikirkan kesedihan. Mengapa banyak orang yang menghindari bersedih? Apakah kesedihan harus menjadi lawan kebahagiaan? Sebagaimana cinta menjadi lawan benci? Bukankah kamu bilang lawan cinta bukan benci, tapi ketidakpedulian? Jadi lawan bahagia seharusnya bukanlah sedih tapi ketidaksadaran.

Mengapa bahagia menjadi begitu penting? Menjadi komoditas yang dikejar, apapun syarat yang diminta, walau menyulitkan. Asal bahagia atau yang penting bahagia. Seakan-akan sedih adalah hal yang tabu dan harus dijauhi. Selama ini kita mungkin beranggapan bahwa jika seseorang tidak bahagia maka ada yang tidak beres. Kita diajari bahwa kesedihan itu tidak boleh dibiarkan dan harus dihindari. Tapi bukankah kita bisa bersedih dan pada saat yang sama baik-baik saja? Atau bersedih dan pada saat yang sama bahagia? Bukankah seseorang bisa bahagia dengan apapun yang terjadi?

Menerima kesedihan itu wajar dan manusiawi, karena bagaimanapun kesedihan sebagaiman kebahagiaan tidak akan bertahan selamanya. Katamu ia momen yang berganti-ganti yang harus disadari. Maka hal yang lebih penting adalah kesadaran akan momen. Kesadaran akan saat ini.

Ketika berhenti di perempatan yang sudah sepi dengan pengendara, aku menyingsing ujung lengan jaket untuk melihat jam, pukul 20:28. Lampu lalu lintas menyala merah. Orang-orang diam menunggu di atas kendaraan yang membunyikan suara mesin dan meruapkan aroma monoksida. Dingin angin malam berhembus menerpa wajah pedagang karpet yang berjalan di sisi jalan memanggul bawaan. Ia berjalan menghindari kendaraan dan menginjak tanaman perdu dengan bunga kuning kecil di tepi trotoar. Bunga itu bergoyang dan tetap berdiri tidak peduli. Aku menyadari saat ini; kefanaan pada detik jam dan ketabahan pada tanaman tepi jalan.

Kemudian pertanyaan itu masuk; apa itu bahagia? Kemudian kesadaran itu datang bertanya, apa itu sedih? Apakah penjual karpet yang tidak satupun dagangannya laku sampai larut malam itu bersedih? Bukankah sedih bagi orang yang percaya pada ketentuan Tuhan itu konyol?

Hari ini kita banyak kehilangan. Guru-guru, orang tua, anak-anak surga, atau kawan yang tidak bisa lagi kita genggam tangannya. Ke mana mereka? Apakah mereka masih ada dan bisa kita rasakan, atau mereka merasakan kita? Mudah saja kita sadar bahwa kita ada. Descartes bilang aku berpikir maka aku ada. Tapi apakah suatu hari nanti kita akan tahu bahwa kita tidak ada?

Aku ingin sepi dan menulis puisi paling sedih untuk orang-orang yang pergi, tapi yang masuk dalam kepala adalah pertanyaan-pertanyaan yang kadang tidak kutemukan jawabnya. Aku tidak sanggup meneruskan membayangkan kamu atau anak-anak tidak ada. Bisakah kita belajar kezuhudan pada sekuntum bunga di tepi jalan? Yang tetap menawan tanpa peduli pada terik siang atau curah hujan?

Aku masih tidak tahu jawaban bagaimana cara seseorang meneruskan hidup setelah ditinggal orang yang sangat disayangi, namun aku cukup tahu bagaimana hidup dengan orang-orang yang masih peduli. Hidup dengan saling memperbaiki diri. Hidup dengan saling mempercayai. Di luar kita adalah orang yang sama, di dalam sana kita berbeda dari 12 atau 7 tahun yang lalu. Mungkin kita tumbuh menjadi lebih bisa mengikhlaskan beban, mudah bersyukur dan bijaksana.

Satu belokan lagi aku sampai padamu. Malam ini seperti biasa kita akan berpelukan dan tanpa sadar sudah terlelap tenang. Entah pada saat susah atau senang.



Jumat, 02 Juli 2021

Hidup di Dunia itu Mudah

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha pernah bilang, “Saya dididik bapak, kalau ada santri nakal, saya biarkan. Karena dia bahagia dengan kealiman gak bisa. Bahagia lewat kekayaan, gak bisa. Bahagia punya istri cantik, gak bisa. Lalu kebahagiaan orang awam itu apa?”

“Makanya kalau saya lihat Rukhin pakia celana pendek, gak pakai baju, ngerokok kesana-kemari. Memang sudah seharusnya begitu. Udah gak usah dimarahi. Gak usah bilang itu gak pantes. Gak usah.”

“Kiyai punya banyak kebahagiaan. Orang awam kebahagiannya ngerokok di depan rumah, gak pakai baju, sambil ngeliatin orang lewat. Udah seneng mereka.”

“Jangan ngerusak kebahagiaan orang lain. Gak usah dikomentari hidup gak tertib, hidup gak sehat. Kamu bisa hidup sehat itu karena punya tabungan. Sedangkan mereka tidak punya. Anggap saja, warohmati wasiat kulli syai. Rahmat Allah bisa untuk siapa saja.”

“Paham ya? Saya minta hiduplah dengan mudah. Jangan dibuat rumit. Karena kalau kamu tidak menganggap hidup di dunia itu mudah, faqod asbaha saahiton ‘alallah. Jadi kalau ada orang yang di pagi hari bangun tidur pusing mikirin dunia, berarti dia membenci Allah. Kamu mau jadi orang yang membenci Allah?”

Wallahu ‘alam.

Minggu, 13 Juni 2021

K-Pop dan Kesehatan Mental

Menurut Riskesdas Kementerian RI tahun 2018, gangguan mental emosional di Indonesia ada 6,1% atau 11.315.500 orang. Itu jumlah yang besar dan semakin bertambah besar dengan adanya pandemi ini.

Setelah 5 bulan pandemi, survei PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) mendapatkan angka gejala cemas menjadi 65%, depresi 62% dan ptsd (gangguan stress pasca trauma) 75%. Sementara survei CESD Unpad setelah 6 bulan pandemik mendapatkan gejala depresi 47%, stres akut dan ptsd 35,51%.

Sayangnya, hanya 9% dari jumlah tersebut yang diobati secara medik. Stigma negatif terhadap seseorang dengan masalah mental menjadi salah satu masalah utama sulitnya penanganan isu depresi dan gangguan mental ini.

Hal yang sering disalahpahami kebanyakan kita adalah menganggap gangguan jiwa adalah hina dan aib. Itu kesalahan umum yang sering kita temui di seluruh dunia. Di Korea Selatan contohnya, 78% orangtua menganggap orang yang depresi adalah orang lemah. Di Indonesia, gangguan jiwa sering dikaitkan dengan kurang iman, kurang ikhlas, azab, karma, pengaruh ilmu kebatinan, ngelmu tanpa guru, gangguan jin, tumbal pesugihan dan lain-lain.

Gangguan jiwa/mental adalah penyakit biasa yang dapat menimpa siapa saja. Sama dengan penyakit fisik lain seperti migren atau flu. Berbeda dengan penyakit fisik yang cenderung mudah dikenali, orang biasanya tidak sadar sedang mengalami gangguan. Beberapa contoh gejala gangguan mental adalah: delusi, halusinasi, suasana hati yang berubah-ubah dalam periode tertentu, perasaan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, perasaan cemas dan takut yang berlebihan dan terus menerus, gangguan makan karena merasa takut berat badan bertambah atau makan dalam jumlah banyak, perubahan pola tidur, seperti mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, serta gangguan pernapasan dan kaki gelisah saat tidur dan lain-lain.

Gejala yang dialami beragam, tapi cara mengatasinya cenderung sama, yaitu perubahan gaya hidup dan dukungan dari lingkungan terdekat. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko serangan gangguan mental, salah satunya yaitu tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi, contohnya mendengarkan K-Pop.

Di tengah pandemi ini, lagu-lagu K-Pop menjadi salah satu penolong orang-orang dengan gangguan mental itu. Dalam sebuah wawancara di acara konser BTS di London, beberapa Army (penggemar BTS) ditanya tetang mengapa mereka suka BTS, dan berikut adalah beberapa komentar:

“Karena pesan yang mereka bawa. Bahwa sayangi dirimu apa adanya.”

“Lagu-lagunya memberikan hal positif, terutama pada saat aku terpuruk.”

“Aku suka karena mereka tidak takut untuk bicara tentang depresi, kecemasan dan mencintai diri sendiri. Dan aku pikir kita perlu banyak hal seperti itu saat ini.”

Komentar lebih panjang ditulis oleh Rani Neutill, seorang professor berumur 43 tahun dari universitas Harvard, “For me, what has been most important is that BTS is my salve. I am not embarrassed to be a fangirl. If I saw them live, I would scream along with all the Gen-Zers. They are an antidepressant during this time of isolation, bringing me up from depressive lows. For a few hours a day after binging their videos, my anxiety is quelled as they allow me into their colorful, musical world. BTS has given me what we can't have during the pandemic: a sense of closeness.”

Saya tidak sedang mengeneralisasi dan mengatakan bahwa semua fans K-Pop mengalami gangguan mental emosional sehingga butuh pengobatan, sama sekali tidak. Mereka sama saja dengan kita, manusia yang punya unsur ketertarikan, latar belakang atau tujuan yang kadang sulit dianalisa. Karena bagaimanapun fans dan industri K-Pop punya problematika yang tidak sederhana.

Sebagian fans memang mengaku bahwa lagu-lagu K-Pop yang positif membuat mereka lebih menerima dan menyayangi diri mereka sendiri, mereka merasa lebih diterima dan dihargai, seperti komentar-komentar yang saya kutip di atas. Namun di sisi lain, industri K-Pop dikenal kerap memberikan tuntutan tinggi kepada para idol. Sejumlah agensi bahkan melarang bintang K-Pop untuk terlibat asmara agar tidak membuat fans kecewa. Para fans memberi tekanan terhadap idolanya mulai dari penampilan fisik, cara bersikap, cara berpakaian, cara hidup, bahkan cara berbicara. Semua harus sempurna. Mereka melakukan cyberbullying kepada siapapun yang “mengganggu” idola mereka, bahkan mereka melakukan cyberbullying kepada idola yang mereka anggap memiliki “cacat”. Tidak heran beberapa idol K-Pop sendiri mengaku mengalami gangguan mental, ada yang bertahan bahkan membuat lagu yang mengangkat isu kesehatan mental, ada juga yang hancur dan bunuh diri.

Para fans K-Pop, baik yang merasa tertolong akan masalah mental atau mereka yang melakukan perisakan kepada orang lain (bisa jadi mereka adalah orang yang sama), adalah golongan yang besar, punya keterikatan emosional yang sangat dalam dan sehingga sangat mudah digerakan hampir ke arah manapun. Sambil bercanda istri saya bilang, “Kalau ada capres yang menggandeng BTS untuk kampanye, atau hanya menyebut BTS bagus dalam kampanyenya, sudah pasti akan dipilih Army!”

Sekali lagi ini bukan perkara sederhana. Sehingga beberapa waktu lalu, ketika ada komentar bahwa memesan sebegitu banyak BTS Meal di McD dan membuat Ojol berkerumun adalah perbuatan dungu, saya menganggap ia tidak utuh dalam melihat masalah dan tidak punya argumen yang memadai. Banyak yang memesan BTS Meal bukan penyebab kerumunan, tapi karena tidak ada keseriusan dari pihak penjual untuk mengatur. Menyalahkan pembeli karena berkerumun adalah seperti menyalahkan anak kecil —yang belum punya penghasilan dan masih dalam tanggungjawab orang tua— atas alasan terlalu banyak main gadget. Keterikatan emosional yang mendalam para fans tidak bisa serampangan dianggap dungu, apalagi ketika mereka melakukan hal yang legal.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengulangi fakta sederhana bahwa banyak orang yang punya gangguan mental tidak sadar mereka sedang mengalaminya. Pertanyaannya kemudian adalah apakah mereka adalah kita? Jika bukan, apakah kita menjadi golongan yang memperburuk atau yang bisa membantu mereka?



Jumat, 28 Mei 2021

Mengenang Guru yang Penyayang

Sekitar 19 tahun yang lalu, Kiyai Syarif masuk kelas kami untuk mengajar Musthalah Hadits. Pada pertemuan pertama itu, saya dan kawan-kawan sekelas diberikan sebuah Hadits Musalsal bil Awwaliyah (Hadist yang setiap perawi saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan, keadaan atau perbuatan. Untuk Hadits yang kami terima dari Kiyai Syarif ini bentuknya bil Awwaliyah, yaitu keadaan dimana seorang guru pertamakali mengajarkan muridnya Hadits)

Beliau membacakan sanad hadits tersebut secara lengkap, yang tersambung hingga rasulullah, dengan suara lembut, penuh ketenangan dan kewibawaan, sampai tiba pada Matan, “Qaala rasulullahi sallallahu alaihi wasallam: Ar-rãhimün yarhamuhumur Rahmãn Tabaraka Wataala. Irhamuu man fil ardhi yarhamkum man fissamã'”

Artinya adalah, “Para penyayang akan selalu disayangi oleh Sang Maha Penyayang. Sayangilah mereka yang ada di bumi, maka kalian akan disayangi oleh mereka yang ada di langit.”

Beberapa saat setelah beliau selesai membacakan sabda rasul, kawan kami Kazay Zainudin Ajah masuk kelas. Setelah meminta maaf karena ada urusan di pondok yang membuat telat masuk kelas, Njay duduk di kursinya, di baris paling depan, di sebelah saya duduk.
 
"Yah, ente ketinggalan." Kiyai Syarif berkomentar.
 
"Iya, nanti saya tanya sama temen, Kiyai," Njay menjawab dengan polos.
 
Kiyai Syarif tersenyum, "Gak bisa ditanya ke temen ente."
 
Njay seperti bingung, karena belum mendapat penjelasan bahwa yang barusan disampaikan adalah Hadits Musalsal bil Awwaliyah.
 
Dengan wajah yang selalu berseri, Kiyai Syarif mengulang membacakan hadits tersebut dengan kelembutan dan ketenangan yang sama persis dengan ketika pertama kali dibacakan kepada kami, hanya untuk satu orang muridnya yang terlambat masuk kelas.

Begitulah beliau kami kenang sebagai seorang penyayang, disayangi murid-muridnya dan semoga Allah beserta malaikat-malaikat yang ada di langit menyayangi beliau.

Al Fatihah.