Halaman

Jumat, 01 Juli 2022

Tangisan pada Suatu Pagi

Pada suatu pagi, perempuan itu menangis di depan saya. Di tangannya ada sebuah naskah buku. Entah pada halaman atau paragraf berapa ia menutup buku itu kemudian terisak. Tubuhnya terguncang, ia melepas kaca mata, beberapa kali mengusap air mata dan menekan hidungnya yang mulai berair dengan tisu. Dari tempat duduknya, dengan suara bergetar ia bilang, "Kalau aja cewek, udah gua peluk lu dari tadi,"

Sebagai kawan, secara naluri saya ingin memeluk untuk meredakan tangisnya. Namun karena norma, itu tidak bisa saya lakukan. 

Naskah buku yang barusan ia baca adalah naskah buku yang saya tulis tentang dirinya. Mungkin dia baru saja membaca bagian yang mengingatkan kembali akan luka di hati. Tujuan saya menulis cerita tentangnya adalah untuk membantu melewati masa-masa yang tidak mudah. Masa penuh tangis dan trauma. Secara singkat buku itu menceritakan tentang patah hati, penghianatan, masalah-masalah percintaan dan tentu saja usaha untuk kembali bangkit dari masa-masa kelam itu.

Saat ini ia kembali menangis karena kembali menghadapi masa-masa yang gelap. Bahkan lebih berat dari yang sebelumnya. Ia sedang menjalani hubungan beda agama dan berencana menikah. Ia bertanya, "Kalo gua nikah di gereja, lu mau dateng?"

"Dateng kalau memang diundang." Saya menjawab cepat.

Keluarga besar melarang pernikahan itu. Orang tuanya tidak merestui. Juga yang paling menyesakan dada, keluarga terdekatnya sudah menganggapnya tidak ada; dikucilkan, tidak dipedulikan, tidak dihargai. Terkadang jika mengingat apa yang sudah ia berikan pada keluarga, ia merasa semakin nelangsa. Karena balasan dari apa yang sudah ia perjuangkan untuk keluarga adalah mereka tidak mau memikirkan perasaannya, bersikap keras, bahkan enggan untuk sekedar berkata yang tidak menyakiti hati. Sampai ada yang mengatakan bahwa Almarhumah ibunya meninggal karena terlalu memikirkannya. Itu tuduhan yang menyakitkan. Dan makin akan banyak tuduhan atau mungkin fitnah lain jika sesuatu yang buruk kembali terjadi padanya. 

"Gua sempet mikir, apa ini kutukan ya?" ia melanjutkan. Entah karena benar ia ingin tahu jawabannya, atau mungkin hanya mengungkap apa yang ada di kepala. 

Pertanyaan itu mengingatkan saya akan film-film Disney tentang putri, penyihir dan pangeran penyelamat. Sebagai orang yang logis saya menjawab, “Gak tau. Gak bisa diverifikasi juga,”

Mungkin kamu menganggap apa yang ia lakukan keterlaluan, mencari masalah, berlebihan dan emosional. Ya, sebagian besar orang yang ia kenal juga berpikiran sama. Semua orang bebas bicara dan berpendapat. Semua orang bisa mengatakan bahwa orang lain yang tidak sepemahaman dengan mereka adalah salah. Namun berkata kasar, mengancam, mengutuk, memfitnah, menyakiti hati adalah tindakan yang punya konsekuensi yang terkadang sangat merusak. Ia sempat berpikir untuk mati atau dimatikan.

Saya ingat apa yang selalu diulang-ulang Ustad Adi Hidayat dalam ceramah ketika bercerita tentang Allah yang memerintahakan Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun dan berkata padanya dengan lemah lembut, “Anda tidak sesaleh Nabi Musa dan Harun. Orang yang anda anggap salah juga tidak seburuk Firaun. Tapi anda berkata padanya dengan perkataan yang kasar. Anda ini mencontoh siapa?”

"Gua udah kehilangan support system. Keluarga paling deket udah nganggap gua gak ada," katanya suatu saat.

Saya sayang padanya tapi tidak bisa menjanjikan apapun. 

"Apa yang membuat lu bertahan dengan kondisi ini?" Saya bertanya.

"Karena gua tau masih ada yang lebih buruk kondisinya dari gua. Gua sering keliling jalan-jalan buat nenangin pikiran kalau lagi ada masalah. Gua liat orang-orang di jalan yang gak punya rumah, gua ngerasa masalah hidup gua bukan apa-apa. Gua merasa masalah gua kecil."

Sebagai manusia memang kita seharusnya merasa kecil dan lemah. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam yang akan datang. Kesombongan menjadikan manusia bertindak seakan-akan mereka adalah Tuhan yang mengetahui segalanya. Orang yang beragama dengan kesombongan sebenarnya sedang mematikan ruh religiusitas, menentang makna penghambaan pada Tuhan. Dalam penghambaan, kita kecil karena yang besar hanya Tuhan.

Gus Baha pernah bercerita tentang orang saleh yang Ujub dan orang yang durhaka namun tetap melakukan Salat, “Kita tidak pernah tahu. Bisa saja suatu saat mungkin Allah ridha dan menerima salatnya kemudian dia jadi Wali. Kita tidak pernah tahu kapan Allah ridha atau benci pada kita. Kita gak pernah tahu Allah meletakan ridhanya dimana dan murkanya dimana.”

Rahmat Allah ada pada tiap hal. Bahkan pelacur yang memberi minum anjing kehausan bisa masuk surga karena ridha Allah. Jadi manusia tidak diberi kesanggupan untuk mengetahui bagaimana akhir hidup mereka nanti. Jika kehidupan manusia diibaratkan hari, maka segala hal bisa saja terjadi sampai sore tiba. Bisa saja perempuan yang menangis pada pagi hari itu tersenyum di sore harinya. 

Saya selalu mendoakan itu.

Wallahu ‘alam. 

Kamis, 16 Juni 2022

Pesantren Inklusif dan Kolaboratif

Kawan saya seorang pengurus pesantren dalam sebuah status WA menuliskan kekhawatiran karena media banyak menyorot kasus kejahatan seksual di pesantren. Ia khawatir citra pesantren menjadi buruk di mata masyarakat. Ia juga menyinggung bahwa institusi pesantren dimana banyak terjadi kasus asusila adalah pesantren yang eksklusif dan secara kultural tidak merepresentasi pesantren pada umumnya.

Saya menanggapi dengan mengatakan bahwa kehawatiran masyarakat akan berpendapat bahwa pesantren adalah tempat yang selalu negatif adalah kehawatiran yang berlebihan. Kesimpulan yang populer di masyarakat pada akhirnya adalah pesantren sebagaimana lembaga lain, tidak selalu baik, tidak melulu buruk. Malah tuduhan bahwa pemberitaan di media yang menyebabkan citra pesantren buruk akan terkesan apologetik dan tidak menampakan wajah pesantren yang inklusif.

Saya setuju bahwa pesantren harus dikembalikan kepada wajah yang terbuka pada semua. Secara kultural, kebanyakan pesantren NU di Jawa Tengah atau Timur telah melakukan itu, dengan pembauran lingkungan pesantren dan masyarakat (kolaborasi), atau rumah kiyai yang selalu terbuka untuk siapa saja. Pesantren yang tidak punya kultur seperti itu, harus punya cara lain agar kepercayaan masyarakat pada pesantren tetap terjaga.

Saya ingat apa yang pernah dikatakan Kiyai Fakhruddin, ada dua hal yang membuat pesantren bertahan dan dipercaya; sistem dan figur. Beliau mencontohkan pesantren dengan sistem yang kuat itu seperti Gontor. Orang awam hampir tidak mengetahui siap kiyai pesantren Gontor, tapi Gontor sangat terkenal sebagai pesantren yang menghasilkan lulusan berkualitas. Sementara pesantren dengan figur yang kuat contohnya seperti kebanyakan pesantren yang dikenal karena kiyainya; pesantren Gus Dur, pesantren Gus Mus, pesantren Gus Baha dan lain-lain. Pesantren dengan sistem yang kuat lebih bertahan menghasilkan lulusan yang berkualitas selama sistem yang ada terjaga. Sementara pesantren dengan figur yang kuat biasanya akan menurun jika figurnya sudah tidak ada dan figure pengganti tidak sekuat pendahulunya.

Harus diakui pondok atau asrama sampai saat ini masih menjadi sistem pendidikan unggulan karena banyak alasan. Ki Hadjar menulis bahwa keunggulan sistem pondok adalah ia bisa mendidik murid dengan lebih sempurna karena guru dan murid setiap hari, siang dan malam, hidup bersama, bergaul, makan, juga bermain bersama-sama. Dengan begitu maka anak-anak tidak akan terpisah dengan “orangtua” mereka secara lahir dan batin, mereka hidup menurut pedagogik pengalaman yang nyata bukan hanya yang tertulis di buku-buku. Kehidupan pesantren itu setara dengan kehidupan keluarga atau bisa juga disebut miniatur kehidupan berbangsa. Anak-anak sehari-harinya terus merasa anak bangsa, terus merasa sadar akan kemanusiannya karena mereka senantiasa hidup dalam dunia kemanusiaan. Itu mungkin alasan mengapa dalam buku Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan, penjelasan tentang sistem pondok diletakan dalam Bab Pendidikan Keluarga.

Dalam tataran praktek tentu kita akui ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Bagaimanapun tidak ada instansi di dunia ini yang sempurna, termasuk juga instansi pondok pesantren. Pengakuan atas ketidaksempurnaan ini berguna untuk selanjutnya menjadi sarana untuk melakukan perbaikan. Pada tahun 2009, saya menulis Badung Kesarung, sebuah novel komedi tentang pengalaman saya di pesantren, yang selain merupakan manifestasi kebanggan saya sebagai lulusan pondok, juga merupakan kritik yang membangun demi terciptanya kebaikan bersama. Walaupun sebagian pihak tidak menanggapi secara konstruktif bahkan malah merasa disudutkan, saya menganggap mereka tidak memahami hakikat pesantren secara filosofis dan kultural yang telah ada dan menjadi budaya di Indonesia bahkan sebelum Islam.

Saya bukan pengurus pesantren, namun saya punya pandangan, bahwa untuk membuat pesantren yang inklusif, yang dirindukan para santri, yang pengurusnya merasa memiliki, adalah dengan merangkul sebanyak-banyaknya kemampuan. Baik kemampuan para santri, juga kemampuan para alumnus. Hal seperti itu, yang jika dilakukan dengan konsisten, akan secara otomatis meminimalisir segala macam hal negative. Di sini dibutuhkan kerendahan hati dari pengurus untuk terus membuka diri dan berkolaborasi.

Kolaborasi sendiri bukanlah hal yang asing dalam dunia pondok. Bahkan kemampuan bekerja sama yang merupakan salah satu dari 4 keterampilan pokok abad 21 ini (Critical Thinking, Communication, Creativity, dan Collaboration) di pondok dipraktekkan dengan lebih relevan dengan kehidupan nyata karena tidak hanya dilakukan dengan kawan sebaya namun juga lintas tingkatan kelas. Kolaborasi berarti bisa melihat kelebihan orang lain dengan pandangan positif, bukan menjadi pesaing tapi kawan untuk bekerjasama. Ia dapat menjadi sarana mengembangkan kemampuan, menyatukan kekuatan, saling belajar, menyelesaikan masalah dengan lebih mudah, juga membangun jaringan. Kesadaran akan makna ini yang seharusnya terus dikemukakan dan disadari oleh santri ataupun pengurus, agar pengawasan bisa dilakukan secara terpadu, bahkan membuat lembaga pondok atau asrama menjadi lembaga unggulan yang menurut Ki Hadjar Dewantara seharusnya diterapkan dalam jangkauan nasional.

Minggu, 12 Juni 2022

Puisi yang Membuat Menangis

Sudah dua kali Hasnia meminta saya membuat puisi. Puisi itu harus dibuat dengan kriteria yang ia buat sendiri dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

"Bikin supaya yang denger pada nangis ya, Bang," Hasnia meminta.

"Buat acara apa?"

"Graduation. Mau dipakai hari Jumat ini,"

"2 hari lagi? Kenapa mendadak?" Saya heran.

"Sebenernya udah dikasih tau dari 4 hari yang lalu,"

"Elu emang sengaja mao ngerjain gua!" Saya menutup kesal, yang ia balas dengan tawa.

Pada permintaan sebelumnya, ia membuat deadline yang lebih kejam. Saya sampai harus bergadang karena katanya puisi itu harus selesai malam ini untuk dipakai besok hari. Saya mau menolak, tapi dia bilang, “Deadlinenya besok. Aku gak tau lagi harus gimana?”

Pada permintaan kali ini dia bilang, “Kepada siapa lagi aku minta tolong bikin puisi selain Abang yang pandai merangkai kata-kata nan puitis indah.”

Antara geli, iba dan ingin menoyor kepalanya, akhirnya saya buatkan puisi-puisi itu. Saya tidak tahu apakah jika dibaca, puisi itu bisa membuat orang yang mendengar menangis. Tapi saya kira ada banyak hal yang bisa membuat orang menangis selain karena mendengar puisi. Diantaranya karena mendengarkan lagu-lagu Adele saat putus cinta, atau mengetahui kabar kematian orang yang kamu sayangi, atau tidak hadir di pernikahan kawan dekatmu karena kamu pikir dia berdosa.

Soneta dari Masa Depan

Ayah dan ibu,

Terimakasih karena memberiku motifasi, sehingga aku menjadi pribadi yang percaya diri.
Terimakasih atas segala pujian tulus, sehingga aku terbiasa menghargai.
Terimakasih karena aku tidak banyak disalahkan, sehingga aku berani menjadi diri sendiri.
Terimakasih telah memberiku rasa aman, sehingga aku terlatih untuk mempercayai orang lain dan mengendalikan diri.

Terimakasih karena membersarkanku dalam kejujuran, sehingga aku terbiasa melihat kebenaran.
Terimakasih karena menerimaku apa adanya, sehingga aku belajar menyayangi semua insan.
Terimakasih telah betah mendengarkan kebawelanku, sehingga aku belajar tumbuh dengan kesabaran.
Terimakasih telah merawatku dalam keramahan, sehingga aku bisa melihat bahwa sungguh indah kehidupan.


Ayah dan ibu,

Maafkan aku atas mainan yang berantakan di lantai, pakaian dan piring-piring kotor, coretan-coretan di dinding, pintu juga jendela.
Maafkan aku karena selalu menaiki punggung atau bergelendot di kaki sambil cerewet bertanya tentang apa saja saat tubuhmu lelah sepulang kerja.
Maafkan aku karena mengurangi jam tidur malammu dengan tangisan, ompol serta kemanjaan sampai pagi tiba.
Maafkan aku karena pernah menjadi sebab atas duka hatimu dan menjadi sumber atas air matamu dengan kata-kata yang membantah dan keras suara.
 
Maafkan aku karena tidak sanggup mengganti tangismu di tengah malam karena berdoa pada Tuhan untuk kesehatanku juga kebahagiaan.
Maafkan aku atas kata maaf yang tidak akan pernah sempurna karena tidak ada kata yang bisa cukup mewakili ungkapan.
Maafkan aku karena tidak mungkin bisa membalas kasih sayangmu dengan uang yang aku kumpulkan walau sebanyak daun-daun di hutan.
Maafkan aku karena kata maaf yang terlambat kuucap, semoga Tuhan memberikan kasih sayang dan ampunan.


Ayah dan ibu,

Inilah aku. Aku putra-putri kehidupan yang menulis surat ini dari masa depan.
Semakin tumbuh dewasa, semakin aku sadar bahwa ayah-ibu adalah hal terbaik yang pernah Tuhan hadirkan.


2022


Terinspirasi dari puisi: Children Learn What They Live oleh Dorothy Low Nolte

Senin, 23 Mei 2022

Maktub, Pul!

Premier League baru berjalan 7 pertandingan. Dini hari itu, sambil makan nasi goreng pinggir jalan, saya dan Qoffal menonton Chelsea vs Southampton. Seperti biasa Qoffal bertanya tentang prediksi juara musim ini.

"Merah memang bagus musim ini, tapi yang juara tetep biru." kata saya.

"Biru ada banyak, bang. Biru yang mana nih? Chelsea, City, Everton?"

Tiga yang Qoffal sebutkan memang sedang bagus di awal musim, terutama Chelsea yang baru saja juara Champion. Tapi pertanyaan Qoffal seperti memposisikan saya sebagai cenayang atau mafia judi yang bisa membaca detail dari skor sampai poin yang akan didapat di akhir musim.

"Memang begitu cara kerja prediksi, bung!" jawab saya, "Tidak boleh terlalu jelas."

Ya, rahasia langit memang tidak pernah benar-benar eksplisit, penuh metafora yang tidak terang.

Pekan ke 32, liga menyisakan 6 pertandingan, City dan Perpul ada di puncak dengan selisih 1 poin. Qoffal VC dan bertanya tentang hal yang sama, "Prediksi gimana, bung?"

"Masih sama prediksi gua di awal musim; biru yang juara." Saya menjawab cepat.

"Serius bang? Sampe akhir musim terus selisih 1 poin?"

"Kemungkinan besar."

Kemudian kami berdiskusi tentang kekurangan Perpul musim ini. Saya bilang musim ini Si Merah punya kedalaman squad yang baik. Mungkin terbaik sepanjang sejarah sepak bola modern. Tapi mental yang akan membedakan.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa Salah dkk. tidak punya mental juara. Hanya mereka bagus di waktu yang Salah. Bukan, bukan Mo. Salah. Maksud saya ini sama saja ada seseorang yang sedang mengejar karier di bidang jurnalistik dan ingin menjadi yang terbaik, tapi sezaman dengan Najwa Shihab. Bukan dia tidak bagus, hanya ia bagus di waktu yang salah. Bukan, bukan Mo. Salah.

Kita perlu melihat mental De Bruyne dkk. yang bertanding sehari setelah pertandingan Perpul. Secara mental mereka pasti lebih tertekan, tapi mereka tetap bermain baik. Sampai liga menyisakan 4 pertandingan, selisih masih 1 poin. 

Rotasi di tubuh Perpul tidak membuat pasukan Klopp bermain buruk. Perpul terus melaju dengan kemenangan demi kemenangan. Qoffal menyebut timnya tim terbaik dari yang terbaik. Saya mengiyakan. Ingat, saya bukan fans kardus, dari awal saya tidak meragukan. Ditambah tidak ada badai cedera, mereka akan berjaya sampai akhir musim. Liverpudlian tinggal melakukan mubahalah agar pasukan Pep terpelesat. Saya membalas, "Tim terbaik dari terbaik yang ngarepin tim lain kepeleset itu ibarat orang ngaku kaya tapi ngarepin sedekah 🤣🤣🤣"

Itu metafora yang sulit disangkal.

Pertandingan menyisakan 3 match. Qoffal masih bertanya kemungkinan lain. Berharap ada clue yang berbeda. Saya bilang, "Yang tertulis akan tetap tertulis."

Pertandingan akhir dilangsungkan bersamaan. Perpul vs Wolves, City vs Aston. Qoffal sepertinya sudah pasrah, walaupun saya tahu fans nekat seperti dia masih berharap akan sejarah 4 trofi dalam semusim yang gilang gemilang.

Half time. Perpul seri. City kalah 1-0 atas Aston. Poin sama, hanya selisih gol. City masih di puncak. Menit 69 Coutinho memperbesar kemenangan untuk Aston yang saat itu dinahkodai Gerrard menjadi 2-0. Inilah waktu dimana Liverpudlian di seluruh dunia percaya bahwa Gerrard dan Coutinho adalah bagian penting atas akan terciptanya sejarah quadruple untuk klub Inggris yang tidak mungkin terulang bahkan mungkin dalam 100 tahun yang akan datang. Perpul hanya butuh satu gol, dan semuanya selesai. Namun asa itu dikandaskan, karena dalam waktu 6 menit, yaitu di menit 76, 78 dan 81, Gundogan dan Rodri membalikan keadaan. City menang. Hasil akhir City menang 3-2. Perpul menang 3-1. Kemenangan Perpul percuma karena City tetap juara dengan selisih 1 poin.

Qoffal bilang musim ini mirip musim 18/19. Ya, sejarah memang berulang. Pada orang sakit hati itu disebut trauma 🤣.

Jadi begitulah.

Maktub, Pul! 🤣



Selasa, 26 April 2022

Midnight Mass; Merasakan Langsung Keajaiban



Apa tanggapanmu ketika melihat langsung ada orang yang bisa melakukan hal ajaib? Misalnya menyembuhkan orang lumpuh atau buta dengan seketika, berada di tempat berbeda dalam satu waktu, mengetahui lokasi benda hilang, menaklukan binatang buas dan lain-lain.

Apakah kamu akan segera percaya bahwa itu adalah keajaiban, atau menyelidiki terlebih dahulu? Jika menyelidiki, apa yang harus diselidiki, pertimbangan apa yang digunakan? Apakah agama termasuk yang dipertimbangkan? Apakah jika sama keyakinannya denganmu maka kamu anggap mukjizat, namun jika tidak, kamu akan menganggap itu tipu daya setan? Mari kita anggap keyakinannya sama, apakah kamu langsung percaya itu Karomah yang diberikan Tuhan? Atau kamu punya hal lain sebagai syarat?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang akan mengendap ketika menyaksikan serial Midnight Mass, itu perasaan yang sama ketika menonton Messiah. Pertanyaan yang mendalam tentang apa yang bisa menambah atau meruntuhkan keimananmu.

Midnight Mass adalah serial yang menarik. Karya Flanagans yang pertama kali saya tonton ini, membuat saya ingin menyaksikan karya-karyanya yang lain. Serial ini tentu bukan selera semua orang. Jika kamu bosan dan tidak bisa menikmati Messiah - Michael Petroni, maka kemungkinan besar kamu juga akan menghadapi hal yang sama dengan serial ini.

Ini film horror realistik yang memotret masyarakat dengan jujur juga bernada agnostik. Setiap episode diberi judul menurut Al Kitab, dari Book I: Genesis di episode awal sampai Book VII: Revelation di episode 7. Hal itu tentu mengambarkan bukan hanya kedekatan secara personal penulis skenario, tapi juga ekplorasi mendalam dalam memahami kitab suci. Sutradara dan penulis skenario sangat jeli dalam menggunakan metafora yang yang sering sangat filsafatis. Juga dalam mengeksplorasi keyakinan yang sudah mengakar dalam masyarakat, tentang kepercayaan akan kedatangan hari akhir, penghakiman dan juru selamat, sekaligus membuat interpretasi melalui karakter yang selalu disuarakan polyphony dengan dialog dan monolog yang dalam, autentik dan sangat jauh dari kesan tempelan.


Bev Keane: St. Patrick's isn't just a church, Monsignor. It's an ark. I set up cots in the rec center for those who were chosen. We will take to our ships, to our vessels, and then, like sheep among wolves, like you said, we will spread the good word.
Father Paul: And who will decide who is chosen?
Bev Keane: We will. You and me.
Father Paul: And what happens to the rest?
Bev Keane: Well, I don't much know. That isn't up to me. It's between them and God, isn't


Begitu seharusnya cerita yang baik. Bisa menghadirkan karakter yang berwarna dengan permasalahan dalam dirinya yang kompleks, dan manusiawi. Dengan ansambel karakter yang beragam tersebut, serial horor ini jauh lebih meyakinkan, membumi dan sangat dekat dengan penonton. Pada sikap judgmental, keangkuhan sebagai Wakil Tuhan atau orang-orang terpilih, kemunafikan, keyakinan palsu dan hal lain yang sangat lekat dengan masyarakat.

Serial ini mengagambarkan fenomena yang dekat dan sering terjadi di dekat kita. Tentang kecenderungan fanatisme agama yang tidak dibarengi nalar kritis yang walaupun disajikan dalam nuansa Katolik yang kental, namun pesannya sangat relevan terhadap kepercayaan dalam agama apapun. Tentang bagaimana fanatisme buta akan menarik siapapun pada jurang paling dalam naluri manusia yang tidak jarang sangat merusak.

Father Paul: God has no country. There is one God for the world. And the lines we draw, and the treaties we draft, and the borders we close mean nothing to Him. No, don't fight for a country. You fight for God's kingdom. A kingdom which Jesus tells us has no flags or borders. God's army.

Jadi kembali pada pertanyaan awal; apa tanggapanmu ketika melihat langsung keajaiban? Apakah segera percaya atau skeptis dan menganggap bahwa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan saat ini bukan berarti ajaib, hanya manusia belum menemukan alasan ilmiah dibalik peristiwa itu.

Siapapun kamu, serial ini layak mendapat perhatian.




Sabtu, 16 April 2022

Potret Senja



Setiap orang punya senja
yang dinikmati sendiri-sendiri.

Angkasa yang sama bisa dilihat
dua orang dengan mata berbeda.

Bisa saja kamu menikmati langit sendiri,
dan aku sibuk dengan urusanku di sini.
Atau sore datang dan kamu menghilang.

Maka aku ingin mengabadikan jingga
yang kamu lewatkan dengan
menyimpannya ke dalam botol-botol kristal,
dan meletakannya di bawah kasur
untuk menemanimu tidur.


2022